• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karyawan Kontrak : Bulanan : 9 Harian : 16 Borongan : 43 Total : 68 Total jumlah seluruh karyawan 154

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Karyawan Kontrak : Bulanan : 9 Harian : 16 Borongan : 43 Total : 68 Total jumlah seluruh karyawan 154"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

2.1.1.2. Tenaga Kerja Awal tahun 2003 :

Karyawan tetap : Bulanan : 13 Harian : 32 Borongan : 42 Total jumlah seluruh karyawan 87 Per 1 November 2003 :

Karyawan tetap : Bulanan : 12 Harian : 32 Borongan : 42 Total : 86

Karyawan Kontrak : Bulanan : 9 Harian : 16 Borongan : 43 Total : 68 Total jumlah seluruh karyawan 154

2.1.2. The Product

Perusahaan Selamat Biskuit Indonesia pada saat ini memiliki tiga divisi Produksi yaitu : Wafer S tick, Flat Wafer, dan Biskuit.

2.1.2.1. Divisi Wafer Stick

Kapasitas terpasang 1 oven adalah 1000 kg per hari (24 jam produksi) terdapat 4 unit oven.

Macam-macam produk Wafer Stick adalah :

• Wafer Stick Millenium Chocolate 350gr

(5)

Gambar 2.3. Wafer Millenium Chocolate ± 350gr

• Wafer Stick Millenium Warna/i 350gr

Gambar 2.4. Wafer Stick Millenium Warna/i ± 350gr

• Wafer Stick Citra Chocolate 650gr

• Wafer Stick Citra Warna/i 650gr

• Wafer Stick Poppy Chocolate 650gr

• Wafer Stick Wf.Roll Chocolate 600gr

• Wafer Stick Wf.Roll Warna/i 600gr

• Wafer Stick Laris Manis Chocolate 600gr

(6)

Gambar 2.5. Wafer Stick Laris Manis Chocolate 600gr

• Wafer Stick Laris Manis Warna/i 600gr

Gambar 2.6. Wafer Stick Laris Manis Warna/i 600gr

• Point Wafer Stick Jiro Mocca + Milk 40gr

(7)

Gambar 2.7. Point Wafer Stick Jiro Mocca + Milk 40gr

• Hom Pim Pah Wafer Stick Choco Milk 40gr

Gambar 2.8. Hom Pim Pah Wafer Stick Choco Milk 40gr

2.1.2.2. Divisi Flat Wafer

Kapasitas terpasang 1 oven adalah 3000 kg per hari (24 jam produksi) terdapat 3 unit oven.

Macam- macam produk Flat Wafer adalah:

• Duta Wafer Chocolate Cream 30gr

(8)

Gambar 2.9. Duta Wafer Chocolate Cream 30gr

• Duta Wafer Chocolate Cream 40 bks polos

• Duta Wafer Strawberry Cream 40 bks polos

• Duta Wafer Es. Teler Cream 40 bks polos

• Duta Wafer Chocolate Cream 135gr

• Duta Wafer Es. Teler Cream 135gr

• Duta Wafer Chocolate Cream 120gr

Gambar 2.10. Duta Wafer Chocolate Cream 120gr

(9)

• Duta Wafer Coconut Cream 120gr

Gambar 2.11. Duta Milk Wafer Coconut Cream 120gr

• Duta Wafer Tutty Fruity Cream 120gr

Gambar 2.12. Duta Wafer Tutty Fruity Cream 120gr

• Duta Wafer Lychee Cream 120gr

Gambar 2.13. Duta Milk Wafer Cream Lychee 120gr

(10)

• Duta Wafer Sweet Vanila 120gr

Gambar 2.14. Duta Milk Wafer Cream Sweet Vanila 120gr

• Duta Wafer Chocolate Cream 600gr

2.1.2.3. Divisi Biskuit

Kapasitas terpasang 1 oven adalah 5000 kg per hari (24 jam produksi) terdapat 1 unit oven.

Macam-macam produk Biskuit adalah:

• Duta Marie Susu 60 roll @ 40gr

• Duta Marie Coklat 60 roll @ 40gr

• Duta Marie Cappucino 60 roll @ 40gr

• Duta Marie Susu 90 roll @ 40gr

• Duta Marie Coklat 90 roll @ 40gr

• Duta Marie Cappucino 90 roll @ 40gr

• Duta Cone Milky Sweet Crack. 250gr

• Duta Square Milky Sweet Crack 250gr

• Duta Banana Biscuit 350gr

• Duta Coconut Biscuit 350gr

• Duta Durian Biscuit 350gr

• Duta Lemon Biscuit 350gr

• Point Marie Susu 60 roll @ 40gr

(11)

• Point Marie Coklat 60 roll @ 40gr

Gambar 2.15. Point Marie Susu 60 roll @ 40gr, Point Marie Coklat 60 roll @ 40 gr dan Duta Marie Susu 60 roll @ 40gr

• Point Crispy Crack.Chicken BBQ 20gr

Gambar 2.16. Point Crispy Crack.Chicken BBQ 20gr

• Point Gabin Butter 130gr

• Point Gabin Susu 135gr

(12)

Gambar 2.17. Gabin Point Susu 135gr

• U&ME Choco Cream 230gr

• Choco Cream (renteng)

2.1.2.4. Produk campuran Wafer Stick, Flat Wafer, Biscuit Macam- macamnya adalah:

• Wafer, Wafer Stick, Biskuit Kaleng 4kg

• Wafer, Wafer Stick, Biskuit Kiloan

Tabel 2.2. Daftar Harga Produk Selamat Biskuit Indonesia

Harga No

Nama Barang

Size per k arton Isi Per Kar

ton Bks Kar ton 1. Duta Wf. Chocolate Cream 30gr 6 pak x 10 bks @

30gr

60 400 24,000

2. Duta Wf. Chocolate Cream 40 bks polos

4 pak x 10 bks 40 900 36,000

3. Duta Wf. Strawberry Cream 40 bks polos

4 pak x 10 bks 40 900 36,000

4. Duta Wf. Es Teler Cream 40 bks polos

4 pak x 10 bks 40 900 36,000

5. Duta Wf. Chocolate Cream 135gr 3 pak x 10 bks @ 135gr

30 1,650 49,500

6. Duta Wf. Es Teler Cream 135gr 3 pak x 10 bks 30 1,650 49,500

(13)

135gr

7. Duta Wf. Chocolate Cream 120gr 30 bks @120gr 30 1,650 49,500 8. Duta Wf. Coconut Cream 120gr 30 bks@120gr 30 1,650 49,500 9. Duta Wf. Tutty Fruity Cream

120gr

30 bks@120 gr 30 1,650 49,500

10. Duta Wf. Lychee Cream 120gr 30 bks @120gr 30 1,650 49,500 11. Duta Wf. Sweet Vanilla 120gr 30bks@120gr 30 1,650 49,500 12. Duta Wf.. Chocolate Cream

600gr

6Tin@ 600gr 6 11,750 70,500

13. Duta Marie Susu 60 roll @ 40gr 6 pak x 10 roll @ 40gr

60 400 24,000

14. Duta Marie Coklat 60 roll @ 40gr 6 pak x 10 roll @ 40gr

60 400 24,000

15. Duta Marie Cappucino 60 roll @ 40gr

6 pak x 10 roll @ 40gr

60 400 24,000

16. Duta Marie Susu 90 roll @ 40gr 9 pak x 10 roll @ 40gr

90 400 36,000

17. Duta Marie Coklat 90 roll @ 40gr 9 pak x 10 roll @ 40gr

90 400 36,000

18. Duta Marie Cappucino 90 roll @ 40gr

9 pak x 10 roll @ 40gr

90 400 36,000

19. Duta Cone Milky Sweet Crack.

250gr

1 bal x 18 bks @ 250gr

18 2,056 37,000

20. Duta Square Milky Sweet Crack.

250gr

1 bal x 18 bks @ 250gr

18 2,056 37,000

21. Duta Banana Biscuit 350gr 6 tin x 350gr 6 7,500 45,000 22. Duta Coconut Biscuit 350gr 6 tin x 350gr 6 7,500 45,000 23. Duta Durian Biscuit 350gr 6 tin x 350hr 6 7,500 45,000 24. Duta Lemon Biscuit 350gr 6 tin x 350gr 6 7,500 45,000 25. Hom Pim Pah Wf. Stik Choco

Milk 40gr

5 pak x 10 bks @ 40gr

50 400 20,000

26. Point Marie Susu 60 roll @ 40gr 6 pak x 10 roll @ 60 400 24,000

(14)

40gr 27. Point Marie Coklat 60 roll @

40gr

6 pak x 10 roll @ 40gr

60 400 24,000

28. Point Crispy Crack. Chicken BBQ 20gr

60 bks x 20gr 60 400 24,000

29. Point Wf. Stik Jiro Mocca+Milk 40gr

5 pak x 10 bks @ 40gr

50 400 20,000

30. Point Gabin Butter 130gr 30 x 130gr 30 1,633 49,000 31. Point Gabin Susu 135gr 30 x 135gr 30 1,800 54,000 32. U&ME Choco Cream 230gr 21 x 230gr 21 3,300 69,300 33. Wf. Stik Millenium Chocolate

350gr

12 toples x 350gr 12 3,558 42,700

34. Wf. Stik Millenium Warna/i 350gr

12 toples x 350gr 12 3,558 42,700

35. Wf. Stik Citra Chocolate 350gr 6 toples x 650gr 6 6,725 40,350 36. Wf. Stik Citra Warna/i 350gr 6 toples x 650gr 6 6,725 40,350 37. Wf. Stik Poppy Chocolate 650gr 6 toples x 650gr 6 6,725 40,350 38. Wf. Stik Poppy Warna/i 650gr 6 toples x 650gr 6 6,725 40,350 39. Wf. Stik Wf. Roll Chocolate

600gr

6 toples x 600gr 6 6,250 37,500

40. Wf. Stik Wf. Roll Warna/i 600gr 6 toples x 600gr 6 6,250 37,500 41. Wf. Stik Laris Manis Chocolate

600gr

6 toples x 600gr 6 6,250 37,500

42. Wf. Stik Laris Manis Warna/i 600gr

6 toples x 600gr 6 6,250 37,500

43. Wafer, Wafer Stik, Biscuit Blek 4kg

1 kaleng x 4kg 4 kg 11,500 46,000

44. Wafer, Wafer Stik, Biscuit Kiloan 1 bal = 3kg 3 kg 7,000 21,000 45. Choco Cream (renteng) 1 bal x 20 renteng

(1 renteng = 10bks)

400 100 40,000

Sumber : PT. Selamat Biskuit Indonesia, Jl. Jenggolo 62 Sidoarjo,12 November 2003

(15)

2.1.3. The Market

2.1.3.1. Omzet Penjualan 2003

Tabel 2.3. Data pertumbuhan omzet penjualan dan tenaga kerja

* dalam juta rupiah

Januari Februari Maret April Mei

130.6 97.5 125.5 150.5 122.8

Juni Juli Agustus September Oktober

194.9 335 293.1 325.9 357.5

Sumber : PT. Selamat Biskuit Indonesia, Jl. Jenggolo 62 Sidoarjo,12 November 2003

Perusahaan Selamat Biskuit Indonesia seperti Perusahaan di Indonesia pada umumnya, turut merasakan dampak negatif dari krisis moneter berkepanjangan yang terjadi sekarang ini. Namun, menginjak pertengahan tahun 2003 mulai tampak hasil perbaikan dari pengelolaan manajemen baru berupa meningkatnya omzet penjualan seiring perbaikan kualitas yang telah dicapai.

Dari data di atas dapat diketahui bahwa jumlah omzet penjualan mulai pertengahan tahun 2003 mengalami peningkatan yang cukup signifikan walaupun ada juga yang mengalami penurunan. Namun, prosentasenya lebih banyak mengalami peningkatan.

2.1.4. The Customer

2.1.4.1.Target Audience Primer

Target audience adalah pasar sasaran (sasaran yang dituju atau sasaran yang ditentukan dan dipilih oleh produsen sesuai dengan konsep segmentasi pasar).

a. Geografis

Masyarakat yang menjadi target audience primer dari produk ‘Point’ ini adalah masyarakat perkotaan khususnya daerah Surabaya dan sekitarnya.

(16)

a. Demografis

• Masyarakat yang diharapkan adalah remaja mulai usia 12 – 30 tahun

• Semua jenis kelamin yaitu laki- laki dan perempuan

• Berpendidikan dari SD sampai Mahasiswa, dan pekerja atau karyawan dengan penghasilan antara Rp 500.000 – Rp 1.000.000

• Berasal dari kalangan menengah ke bawah dan menengah (golongan SES: C dan D)

b. Psikografis

• Masyarakat yang menyukai biskuit dalam kemasan bungkusan

• Suka rasa coklat yang banyak

• Suka harga yang lebih murah dari produk yang sejenis

• Suka berteman dan mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan

• Aktif dan ceria dalam menikmati dan menyegarkan suasana

• Mampu berpikir ekonomis dan efisien

• Ingin mencoba hal- hal yang inovatif dari lama menjadi lebih baru dan lebih baik

d. Behaviouristis

Dalam kelompok VALS termasuk dalam tipe masyarakat5:

Experiencers—yaitu kelompok masyarakat yang memiliki jiwa muda dan memiliki banyak energi yang dicurahkan dengan banyaknya kegiatan fisik dan aktivitas sosial yaitu masyarakat yang mengutamakan pekerjaan dalam kehidupannya, mengikuti keorganisasian serta kegiatan sosial.

Strivers—yaitu kelo mpok masyarakat yang sangat mengutamakan gaya ketika mereka berusaha keras untuk menirukan konsumen dalam kelompok lain yang lebih banyak sumber dayanya.

5 Philip Kotler dan Gary Amstrong, Dasar-dasar Pemasaran. Ed. 1. Jakarta : PT. Prenhallindo, 1997.

hal. 152.

(17)

2.1.4.2. Target Audience Sekunder

Target Audience Sekunder dari produk ‘Point’ PT. Selamat Biskuit Indonesia adalah :

a. Geografis

• Masyarakat yang tinggal di pinggiran kota dan termasuk masyarakat yang tinggal di kota-kota kecil yang terletak di Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan daerah perkotaan di luar pulau.

b. Demografis

• Masyarakat yang berusia di luar usia 12 sampai 30 tahun

• Masyarakat yang memiliki pendidikan di luar SD sampai Mahasiswa khususnya ibu- ibu rumah tangga yang membeli kebutuhan sehari- hari keluarganya dan memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

• Masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai swasta, wiraswasta dengan penghasilan antara Rp 900.000 sampai Rp 3.000.000

• Berasal dari golongan menengah keatas (golongan SES: B)

• Diutamakan jenis kelamin laki- laki c. Psikografis

• Masyarakat yang menyukai wafer stick dengan harga yang sesuai tetapi memperhatikan mutu dan kualitas produk

• Masyarakat yang pintar dan mandiri tetapi memiliki selera dan inovatif dalam memilih produk

• Mementingkan harga diri dan tanggap terhadap perubahan

• Masyarakat yang lebih memilih kemasan dari suatu produk daripada produk yang ditawarkan

d. Behaviouristis

Dalam kelompok VALS termasuk dalam tipe masyarakat :

(18)

Believers−Masyarakat yang mempunyai pendapatan lebih dari cukup serta menyukai makanan dengan merek terkenal. Kehidupan mereka terpusat pada keluarga, agama, masyarakat, da n bangsa.6

Masyarakat yang memiliki tingkah laku mandiri dan smart

2.2. Identifikasi Kompetitor 2.2.1. Gery dari Garuda Food

Gambar 2.18. Produk Gery kemasan 18gr dari Garuda Food Dibawah naungan hukum : DEP. KES.RI. NO. MD : 862213013425.

Diproduksi oleh : PT. GARUDA FOOD PUTRA PUTRI JAYA, GRESIK-INDONESIA

Gery yang diproduksi oleh PT. Garuda Food Putra Putri Jaya merupakan produk yang baru karena muncul pada tahun 2004 ini. Walaupun masih terbilang produk yang sangat baru namun, dari segi kualitas Gery sudah cukup baik karena dari segi harganya yang sangat terjangkau dan rasanya yang enak. Gery sendiri telah melakukan promosi agar mampu menjadi reminder di benak masyarakat karena munc ul dengan brand baru mengingat produk dari Garuda Food sendiri sangat banyak karena itulah perlu dilakukan promosi agar dapat lebih dikenal oleh masyarakat. Dari kemasannya sendiri terlihat bahwa target audience dari Gery tersebut adalah anak-anak karena ilustrasi dari kemasan tersebut yang lucu dan warna kemasannya yang ceria sehingga mampu

6 Ibid, Philip Kotler, hal. 152.

(19)

menarik perhatian target audience sebagai produk baru. Garuda Food sendiri merupakan perusahaan makanan yang sudah lama dan menghasilkan bermacam- macam produk makanan, minuman maupun sabun cuci untuk keperluan rumah tangga. Sebagai contoh produk makanan ringan yang setingkat dan sangat dikenal masyarakat dari Garuda Food yaitu kacang atom cap ‘Garuda’ dengan kemasan yang menarik yang menembus pasar anak-anak, remaja hingga dewasa pada khususnya ditambah dengan keunggulannya mengutamakan kesehatan yaitu non-kolestrol sehingga dapat dikonsumsi oleh orang yang terkena kolestrol.

Produk Gery sendiri tampil dengan rasa yang berbentuk stick dengan menonjolkan kualitas dan rasa karena rasa coklat krimnya yang cukup banyak dalam setiap stiknya dibanding kompetitornya yang sekelas.

Target audience

- Demografis : Masyarakat dari kalangan menengah ke bawah (SES: C dan D ), memiliki pendidikan minimal SD (Sekolah Dasar). Dari segi jenis kelamin target audience yang dituju oleh ‘Gery’ adala h laki- laki dan perempuan.

- Psikografis : Masyarakat yang menyukai wafer stick sebagai camilan dan pada waktu santai dengan harga yang murah tapi rasanya enak.

- Geografis : Masyarakat yang berasal dari daerah perkotaan.

- Behaviouristis : Masyarakat yang suka mengkonsumsi wafer stick sebagai makanan camilan yang harus tersedia di rumah sebagai pengisi waktu luang ataupun santai bersama keluarga dan orang-orang yang dekat.

(20)

2.2.2. Mio-Mio Stick dari Orang Tua

Gambar 2.19. Produk Mio-Mio Stick kemasan 18gr dari Orang Tua Dibawah naungan hukum : DEP. KES.RI. NO. MD : 627110019583.

Diproduksi oleh PT. ULTRA PRIMA ABADI, KARAWANG - INDONESIA

Produk Mio -Mio Stick sendiri juga dikategorikan sebagai produk baru hanya, untuk produk Mio-Mio Stick ini spesifikasinya terbagi empat yaitu terdiri atas wafer stick , flat wafer, biskuit, dan jelly dalam kemasan bungkusan dengan rasa yang sama yaitu coklat.

Mio-Mio Stick sendiri belum melakukan promosi karena produk dari PT.

ULTRA PRIMA ABADI ini terdiri dari bermacam- macam baik produk makanan, minuman, sampai sabun cuci untuk kebutuhan rumah tangga sehingga dana yang ada digunakan untuk peningkatan penjualan maupun pembenahan manajemen yang lebih baik dengan cara yang lebih efektif tanpa harus menggunakan media promosi.

Target audience

- Demografis : Masyarakat dari kalangan menengah ke bawah (SES: C dan D) memiliki pendidikan minimal SD (Sekolah Dasar). Dari segi jenis kelamin target audience yang dituju oleh ‘Mio -Mio Stick’ ini adalah laki- laki dan perempuan.

(21)

- Psikografis : Masyarakat yang menyukai wafer stick sebagai camilan dengan harga yang sangat murah dan rasa coklat yang pas.

- Geografis : Masyarakat yang berasal dari daerah perkotaan.

- Behaviouristis : Masyarakat yang suka mengkonsumsi wafer stick sebagai makanan camilan secara teratur di saat santai atau senggang.

2.2.3. Stikko Fingers dari Arnott’s

Gambar 2.20. Produk Stikko Fingers dari Arnott’s

Dibawah naungan hukum : DEP. KES.RI. NO. MD : 627110516033 Diproduksi oleh PT. ARNOTT’S INDONESIA, BEKASI - INDONESIA

Stikko mempunyai peluang untuk dikenal sesuai dengan target audience yang dikehendakinya karena selain nama brand yang sudah terkenal dibidangnya selain itu juga, banyak dikenal masyarakat karena rasanya yang enak. Selain itu, Stikko juga memberikan ”50% More Cream” tambahan cream pada produknya. Stikko meningkatkan mutu dan kualitas melalui saran dan kritik dari konsumen yang dikirimkan kealamat instansi yang telah dicantumkan sehingga Arnott’s selaku produsen dapat lebih maju dan inovatif dalam meningkatkan produknya.

Tampilan visual Stikko terlihat cukup mahal dan eksklusif, tetapi dari segi harga relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat luas. Gambar kemasan Stikko yang disajikan cukup menggugah selera dengan tertera kelengkapan informasi gizi yang terkandung, komposisi juga tertera informasi kadaluarsa dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab sehingga mampu menarik perhatian konsumen. Brand

(22)

yang cukup dikenal masyarakat luas dengan berbagai macam produk makanan Arnott’s sangat berpotensi menembus pasar internasional kecuali Australia dan New Zealand karena telah tercantum pada kemasan bagian belakang. Yang menjadi ancaman adalah apabila stikko tetap mengandalkan rasa dan hanya gambar visual saja pada kemasan luarnya, maka keberadaannya pada target pasar yang ada lama kelamaan akan tergeser posisinya dengan produk yang mau berinovasi dengan bentuk kemasan yang beda. karena kemasan bukan hanya berfungsi sebagai wadah saja tetapi, juga mempunya nilai lebih dan nilai guna sebagai media promosi untuk meningkatkan penjualan.

Target audience

- Demografis : Masyarakat dari kalangan menengah sampai menengah keatas (SES: B dan C ), memiliki pendidikan minimal SMP (Sekolah Menengah Pertama). Dari segi jenis kelamin target audience yang dituju oleh ‘Stikko’

adalah laki- laki dan perempuan.

- Psikografis : Masyarakat yang menyukai wafer stick Stikko karena mereknya yang terkenal dan harganya yang terjangkau.

- Geografis : Masyarakat yang berasal dari daerah perkotaan.

- Behaviouristis : Masyarakat yang suka mengkonsumsi wafer stick karena asumsi masyarakat sebagai brand yang terkenal dan kemasannya yang menarik

2.3. Metode Pengumpulan Data 2.3.1. Kuesioner

Macam- macam atau bentuk dari pertanyaan kuesioner adalah sebagai berikut:

1) Pertanyaan terbuka (Open-ended Question) 2) Pertanyaan tertutup (Close-ended Question)

3) Pertanyaan terbuka dan tertutup (Open and close-ended Questions) 4) Pertanyaan pilihan berganda (Multiple choice Question)

5) Pertanyaan yang bertipe isian (Questionnaire)

(23)

Metode pengumpulan data dengan cara penyebaran kuesioner disebut sebagai metode angket.

Metode angket memiliki beberapa kelebihan apabila digunakan dengan semestinya secara umum, yaitu:

- Metode angket membutuhkan biaya yang relatif murah

- Metode ini akan sangat dirasakan dapat mempermudah pengumpulan data, jika responden yang diinginkan datanya terpencar-pencar

- Kalaupun metode ini menggunakan petugas lapangan pengumpul data, hanya terbatas pada fungsi menyebarkan dan menghimpun angket yang telah diisi atau dijawab oleh responden. Kemampuan teknis dalam menggali dan atau mencatat data seperti metode lain tidak dibutuhkan disini.7

2.3.2. Data Responden

Tabel 2.4. Data Responden

No. Nama Usia

(thn)

Pekerjaan Alamat P/L

1. Muthmainnah 17 Pelajar Putat Gede Timur I P

2. Mely 18 Mahasiswa Dinoyo Tangsi P

3. Dian. P 18 Mahasiswa Ngagel Dadi P

4. Daniel 18 Mahasiswa Dinoyo L

5. Erick 18 Mahasiswa Klimbungan III/12 L

6. Dini Natalia. P 18 Mahasiswa Cipto Menanggal P

7. Lia 19 Mahasiswa Dinoyo Lor P

8. Ayriawaty 19 Mahasiswa SDPS II/7 P

9. Chen Yie 19 Mahasiswa Pandugo 151 P

10. Veronica 19 Mahasiswa Putro Agung P

11. Iluh Martina 20 Mahasiswa Candi Lontar P

12. Aditya 20 Mahasiswa Karah Indah M-11A L

7 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial . Surabaya: Airlangga University Press, 2001. hal. 132.

(24)

13. Yenny 20 Mahasiswa Kahuripan 15 P 14. Andre 20 Mahasiswa Ngagel Wasana VIII/1 L

15. Fandy 20 Mahasiswa Crocodile IV/10 L

16. Arie 21 Mahasiswa Raya Pradah Indah 28 L

17. Surya 21 Mahasiswa Leo 30 L

18. Yulita 21 Mahasiswa DPS V/76 P

19. Chandra Shangjaya 21 Mahasiswa DPT IV/42 L

20. Yuni 21 Mahasiswa Margorejo Indah

Permai V/12

P

21. Siska 22 Mahasiswa Dian Istana FII/37 P

22. Susanti 22 Mahasiswa Darmo Indah Sari I P

23. Margaretha 23 Mahasiswa Tropodo 12 P

24. David 24 Mahasiswa Pantai Mentari L

25. Paulus. G. Tjahjono 19 Mahasiswa Doho Dalam 49 C -D L

26. Hansen 20 Mahasiswa DPU I/20 L

27. Velia 21 Mahasiswa Sutorejo Prima.Utara IX/16

P 28. Ani Trisnawati 20 Pramuniaga Nginden V/36 P 29. Vivi Novianti 20 Swasta Dukuh Kupang Timur

XVIII/79

P 30. Anita 22 Wiraswasta Vila Bukit Indah A8/8 P

31. Rachel 22 Designer Kupang Gunung V

Raya no.34

P

32. Nanik 22 SPG Gubeng P

33. Wewe 23 Swasta Pecindilan L

34. Deni. T 23 Swasta Putat Gede Barat III/2 L

35. Melianawati 24 Guru RDPS 59 P

36. Yani 25 Wiraswasta Kalibokor 65 P

37. Mustakhur 25 Swasta Bulu Jaya L

38. Paulus 26 Swasta Tanjung Sari Baru II/18 L 39. Albert Sanjaya 27 Wiraswasta Kendangsari II/69 L

40. Nico 27 Swasta Kutisari Indah Utara L

(25)

41. Yurid 30 Security Lontar Indah L

42. Sulistiyorini 31 IRT Rokan Kalimir 7A P

43. Sulistiyani 33 IRT Kutei Kalimir 23A P

44. Suliati 42 Swasta Ds. Setro Menganti P

45. Fhinny 26 Swasta Putat Gede Timur P

46. Irawati 45 IRT Darmo Harapan Indah P

47. Yanti 46 IRT Demak Jaya II/28 P

48. Sisca 30 Swasta Darmo Harapan Indah P

49. Indrawati 45 IRT Indragiri 41 P

50. Sugiyono Ardjaka 45 Dosen MT. Heryond XIX/4 L

2.3.3. Analisa Hasil Kuesioner

Dari hasil kuesioner yang telah disebar tersebut, akan dianalisa sehingga pengumpulan data yang dilakukan dengan cara kuesioner dapat memperkuat data yang telah didapat. Adapun analisa dari hasil kuesioner tersebut adalah :

1. Jenis Kelamin

Tabel 2.5. Analisa Kuesioner 1

Options Frekuensi Persentase

a. Laki- laki 25 50%

b. Perempuan 25 50%

Asumsi :

Responden dari pembagian kuesioner ini sama rata, hal ini ditunjukkan denga n jumlah responden laki-laki dan perempuan yang sama yaitu 50%.

2. Usia

Tabel 2.6. Analisa Kuesioner 2

Options Frekuensi Persentase

a. 15 – 30 43 86%

(26)

b. 31 – 40 2 4%

c. 41 – 50 4 8%

d. >50 1 2%

Asumsi :

Sebagian besar responden berusia 15-30 tahun, hal ini terlihat dengan jumlah persentase sebesar 86%.

3. Pekerjaan

Tabel 2.7. Analisa Hasil Kuesioner 3

Options Frekuensi Persentase

a. Wiraswasta 3 6%

b. Swasta 9 18%

c. Ibu Rumah Tangga 5 10%

d. Mahasiswa 26 52%

e. Lain- lain 7 14%

Asumsi :

Sebagian besar pekerjaan responden adalah mahasiswa dengan jumlah persentase yang cukup besar yaitu sebesar 52%.

4. Apakah anda menyukai biskuit jenis wafer stick?

Tabel 2.8. Analisa Hasil Kuesioner 4

Options Frekuensi Persentase

a. Ya 45 90%

b. Tidak 5 10%

Asumsi:

Sebagian besar respoden menyukai wafer stick, hal ini terlihat dengan jumlah kuesioner yang telah disebar dan persentase yang terkumpul sebesar 90%.

(27)

5. Seberapa sering anda mengkonsumsi biskuit jenis wafer stick ? Tabel 2.9. Analisa Hasil Kues ioner 5

Options Frekuensi Persentase

a. Sering (hampir setiap hari) 6 12%

b. Jarang (seminggu sekali) 27 54%

c. Jarang sekali (sebulan sekali) 17 34%

Asumsi :

Sebanyak 54% responden jarang mengkonsumsi wafer stick.

6. Wafer stick merek apa yang sering anda konsumsi?

Tabel 2.10. Analisa hasil Kuesioner 6

Options Frekuensi Persentase

a. Stikko dari Arnott’s 40 80%

b. Gery dari Garuda Food 7 14%

c. Yoiki dari PT. Manihara Asri 2 4%

d. Point ‘Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia 1 2%

Asumsi :

Dari hasil persentase sebanyak 80% responden menyukai Stikko dari Arnott’s.

7. Dimana biasanya anda membeli wafer stick?

Tabel 2.11. Analisa hasil Kuesioner 7

Options Frekuensi Persentase

a. Supermarket 28 56%

b. Mini Market 13 26%

c. Pusat Grosir 1 2%

d. Toko Kelontong 8 16%

Asumsi :

Sebagian besar responden membeli wafer stick di supermarket, yaitu sebanyak 56%.

(28)

8. Apa yang menjadi pertimbangan anda dalam membeli wafer stick?

Tabel 2.12. Analisa hasil Kuesioner 8

Options Frekuensi Persentase

a. Rasa 39 78%

b. Jenis 2 4%

c. Ukuran/ berat 1 2%

d. Harga 6 12%

e. Merek 0 0

f. Bentuk kemasan 0 0

g. Gambar menarik 1 2%

h. Lain-lain 3 6%

Asumsi :

Sebagian besar rasa menjadi pertimbangan utama responden dalam membeli wafer stick yaitu sebanyak 78%.

9. Apakah anda mengetahui wafer stick merek ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia?

Tabel 2.13. Analisa hasil Kuesioner 9

Options Frekuensi Persentase

a. Ya 8 16%

b. Tidak 42 84%

Asumsi :

Sebagian besar responden tidak mengetahui wafer stick merek ‘Point Jiro’ yaitu sebanyak 84%.

10. Darimana anda mengetahui wafer stick merek ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia?

Tabel 2.14. Analisa hasil Kuesioner 10

Options Frekuensi Persentase

(29)

a. Supermarket 5 45,45%

b. Mini Market 3 27,27%

c. Pusat Grosir 1 9,09%

d. Toko Kelontong 2 18,18%

Asumsi :

Sebanyak 45,45% responden mengetahui wafer stick merek ‘Point Jiro’ dari supermarket.

11. Pada waktu anda membeli produk wafer stick apa yang menarik dari kemasan tersebut?

Tabel 2.15. Analisa hasil Kuesioner 11

Options Frekuensi Persentase

a. Ilustrasi (gambar) 27 57,44%

b. warna 18 38,29%

c. Tipografi 2 4,25%

Asumsi :

Sebanyak 57,44% responden mengatakan bahwa pada saat membeli, yang menarik dari kemasan wafer stick adalah dari ilustrasi (gambar).

12. Dari pilihan di bawah ini kemasan wafer stick mana yang menarik menurut anda?

Tabel 2.16. Analisa hasil Kuesioner 12

Options Frekuensi Persentase

a. Stikko dari Arnott’s 40 80%

b. Gery dari Garuda Food 6 12%

c. Yoiki dari PT. Manihara Asri 2 4%

d. Point ‘Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia 2 4%

Asumsi :

Kemasan Stikko dari Arnott’s merupakan kemasan yang menarik menurut responden yaitu sebanyak 80%.

(30)

13. Menurut anda produk ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia ini cocok tidak dikategor ikan sebagai produk wafer stick, dari segi tingkat keterbacaan (brand name/ merek)?

Tabel 2.17. Analisa Hasil Kuesioner 13

Options Frekuensi Persentase

a. Sangat terbaca 14 34,14%

b. Terbaca 24 58,53%

c. Kurang terbaca 2 4,87%

d. Tidak terbaca 1 2,43%

Asumsi :

Sebanyak 58,53% responden mengatakan kemasan ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia terbaca.

14. Menurut anda produk ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia ini cocok tidak dikategorikan sebagai produk wafer stick, dari segi ilustrasi (gambar)?

Tabel 2.18. Analisa Hasil Kuesioner 14

Options Frekuensi Persentase

a. Sangat sesuai 4 9,09%

b. Sesuai 26 59,09%

c. Kurang sesuai 14 31,81%

d. Tidak sesuai 0 0

Asumsi :

Sebanyak 59,09% dari segi ilustrasi untuk kemasan wafer stick merek ‘Point Jiro’

dari PT. Selamat Biskuit Indonesia sesuai.

15. Menurut anda produk ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia ini cocok tidak dikategorikan sebagai produk wafer stick, dari segi warna?

Tabel 2.19. Analisa Hasil Kuesioner 15

(31)

Options Frekuensi Persentase

a. Sangat sesuai 4 10,52%

b. Sesuai 21 55,26%

c. Kurang sesuai 12 31,57%

d. Tidak sesuai 1 2,63%

Asumsi :

Sebanyak 31,57% menurut responden warna kemasan wafer stick produk ‘Point Jiro’

dari PT. Selamat Biskuit Indonesia kurang sesuai sebagai kemasan.

16. Menurut anda produk ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia ini cocok tidak dikategorikan sebagai produk wafer stick, dari segi tempat kemasan?

Tabel 2.20. Analisa hasil Kuesioner 16

Options Frekuensi Persentase

a. Sangat menarik 2 5%

b. Menarik 20 50%

c. Kurang menarik 16 40%

d. Tidak menarik 2 5%

Asumsi :

Sebanyak 50% responden mengatakan bahwa kemasan wafer stick dari produk ‘Point Jiro’ adalah menarik.

17. Bonus/hadiah apa yang anda inginkan dari produk merek ‘Point Jiro’ ini?

Tabel 2.21. Analisa Hasil Kuesioner 17

Options Frekuensi Persentase

a. Undian berhadiah 20 40%

b. Sticker 9 18%

c. Gelas/mug 15 30%

d. Produk ‘Point Jiro’ merek lain 6 12%

Asumsi :

(32)

Sebagian besar responden menginginkan bonus/ hadiah undian berhadiah dengan persentase sebanyak 40% dari hasil kuesioner yang disebar.

18. Bentuk kemasan apa yang anda sukai?

Tabel 2.22. Analisa Hasil Kuesioner 18

Options Frekuensi Persentase

a. Bulat (tabung) 18 41,66%

b. Kubus 10 35,71%

c. Balok 20 64,28%

Asumsi:

Sebagian besar responden menyukai kemasan berbentuk balok dengan persentase sebesar 64,28%.

19. Bagaimana harga dari wafer stick merek ‘Point Jiro’ dari PT. Selamat Biskuit Indonesia?

Tabel Analisa 2.23. Analisa Hasil Kuesioner 19

Options Frekuensi Persentase

a. Mahal 4 9,09%

b. Cukup murah 28 63,63%

c. Murah 12 27,27%

Asumsi :

Sebagian besar responden mengatakan bahwa wafer stick ‘Point Jiro’ cukup murah dengan persentase sebesar 63,63%.

20. Apa yang menjadi pertimbangan anda dalam memilih kemasan tersebut?

Tabel 2.24. Analisa Hasil Kuesioner 20

Options Frekuensi Persentase

a. Bentuk 12 21,81%

b. Gambar 13 23,63%

(33)

c. warna (serasi/ kontras) 14 25,45%

d. Huruf/ tipografi 2 22,72%

e. Kelengkapan informasi gizi & komposisi 10 18,18%

f. Lain- lain 4 7,27%

Asumsi :

Sebanyak 25,45% responden mempunyai pertimbangan dalam memilih kemasan adalah dari segi warna karena merupakan faktor yang paling utama.

21. Menurut anda gambar yang menarik untuk kemasan adalah?

Tabel 2.25. Analisa Hasil Kuesioner 21

Options Frekuensi Persentase

a. Ilustrasi (gambar kartun) 28 56%

b. Gambar realis 10 20%

c. Foto Produk 12 24%

Asumsi :

Sebagian besar responden mengatakan bahwa gambar yang menarik untuk sebuah kemasan adalah ilustrasi (gambar kartun) yaitu dengan persentase sebanyak 56%.

22. Warna kemasan wafer stick rasa coklat yang menarik menurut anda adalah?

Tabel 2.26. Analisa Hasil Kuesioner 22

Options Frekuensi Persentase

a. Coklat 32 64%

b. Merah 8 16%

c. Orange 4 8%

d. Kuning 6 12%

Asumsi :

Dari hasil kuesioner yang disebar sebagian besar responden mengatakan bahwa warna kemasan yang sesuai adalah coklat dengan persentase sebanyak 64%.

(34)

23. Dari media di bawah ini mana yang paling sering anda lihat (dengar) dan menarik?

Tabel 2.27. Analisa Hasil Kuesioner

Options Frekuensi Persentase

a. Televisi 36 72%

b. Surat kabar 2 4%

c. majalah 2 4%

d. Tabloid 0 0

e. Papan Reklame 6 12%

f. Radio 4 8%

Asumsi :

Sebagian besar responden menyukai media televisi yaitu dengan presentase sebanyak 72%.

24. Surat kabar (koran) apa yang paling sering anda baca?

Tabel 2.28. Analisa Hasil Kuesioner 25

Options Frekuensi Persentase

a. Jawa Pos 41 82%

b. Surya 3 6%

c. Kompas 3 6%

d. Memo 1 2%

e. Lain- lain 2 4%

Asumsi:

Sebagian besar responden menyukai membaca surat kabar Jawa Pos dengan persentase sebanyak 82%.

25. Tabloid apa yang paling sering anda baca?

Tabel 2.29. Analisa Hasil Kuesioner 26

Options Frekuensi Persentase

(35)

a. Citra 4 8%

b. Nova 11 22%

c. Nyata 21 42%

d. Wanita Indonesia 1 2%

e. Lain- lain 13 26%

Asums i :

Sebagian besar responden menyukai membaca tabloid Nyata dengan presentase sebesar 42%.

26. Majalah apa yang paling sering anda baca?

Tabel 2.30. Analisa Hasil Kuesioner 27

Options Frekuensi Persentase

a. Majalah anak-anak 6 12%

b. Majalah Remaja 27 54%

c. Majalah Dewasa 17 34%

Asumsi :

Sebagian besar responden menyukai membaca majalah remaja dengan persentase sebesar 54%.

2.4. Wawancara

Wawancara (interview) adalah suatu cara pengumpulan data dengan menanyakan langsung kepada informan atau pihak yang kompeten dalam suatu permasalahan.8

Seperti halnya metode pengumpulan data melalui kuesioner, metode pengumpulan data melalui wawancarapun mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dari wawancara adalah sebagai berikut :

- Dengan wawancara, hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara kualitatif dan memiliki nilai jual yang tinggi

8 Darmadi Durianto, Sugiarto, dan Tony Sijintak, Strategi Menaklukkan Pasar Melalaui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001. hal. 15.

(36)

- Semua kesalahpahaman dapat dihindari

- Pertanyaan yang disiapkan dapat dijawab informan dengan penjelasan tambahan - Setiap pertanyaan dapat dikembangkan lebih lanjut9

Selain beberapa kelebihan dari wawancara tersebut, wawancara juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu :

- Data atau informasi yang dikumpulkan akan terbatas

- Bila harus dilakukan dalam suatu wilayah yang luas akan memakan biaya dan waktu yang cukup ba nyak

- Terkadang wawancara tidak dapat dilakukan karena responden tidak bersedia untuk diwawancarai10

Beberapa faktor yang memegang peranan penting dalam keberhasilan memperoleh data yang akurat adalah :

- Pewawancara - Responden

- Letterview guide (daftar pertanyaan)

- Interaksi antara pewawancara dan responden11

Tujuan dari wawancara kepada pihak PT. Selamat Biskuit Indonesia ini adalah : - Mengetahui data-data dari perusahaan PT. Selamat Biskuit Indonesia sebagai

brand yang diangkat dalam perancangan komunikasi visua l promosi ini

- Mengetahui data lainnya yang diperlukan dalam perancangan komunikasi visual promosi ini

2.5. Analisa SWOT

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppurtunities, Threatness). Evaluasi terhadap keseluruhan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman disebut analisis SWOT.12

9 Ibid, hal. 15.

10 Ibid, hal. 15-16.

11 Ibid, hal. 16.

(37)

Adapun analisis SWOT dari produk wafer stick ‘Point’ Jiro dan kompetitornya meliputi :

1. Strenghts

Tabel 2.31. Kekuatan (Strenghts) ‘Point Jiro’ dan kompetitornya

‘Point Jiro’ Gery Mio-Mio Stick Stikko

− Jumlah gram dari produk ‘Point’

lebih banyak

− Lebih ekonomis karena harganya lebih murah

− Sistem distribusi yang cukup kuat

− Macam produk dan variasi rasa yang dikeluarkan cukup banyak sehingga lebih bervariatif

− Harganya sesuai dengan produk yang ditawarkan

− Jumlah gram dan harga sesuai

− Ditujukan untuk anak-anak

− Dapat dijangkau oleh semua kalangan

− Rasanya yang enak dan praktis untuk dibawa kemana-mana

− Memiliki macam produk dan variasi rasa

− Harganya sesuai dengan produk yang ditawarkan

− Jumlah gram dan harga sesuai

− Ditujukan untuk anak-anak

− Dapat dijangkau oleh semua kalangan

− Rasanya yang enak dan praktis untuk dibawa kemana - mana

− Harganya sesuai dengan produk yang ditawarkan

− Jumlah gram lebih banyak daripada Gery dan Mio-Mio stick

− Sarana promosi yang cukup baik

− Coklat krimnya lebih terasa dan memiliki rasa yang enak

− Mempunyai beberapa variasi rasa

− Harga yang ditawarkan sesuai dengan produk

12 Philip Kotler, Op.cit, hal. 88-91.

(38)

2. Weakness

Tabel 2.32. Kelemahan (Weakness) ‘Point Jiro’ dan kompetitornya

‘Point Jiro’ Gery Mio-Mio Stick Stikko

− Tidak pernah melakukan kegiatan promosi sehingga tidak semua

masyarakat tahu

− Kemasannya kurang menarik

− Stiknya mudah patah sehingga saat sampai ke tangan konsumen mudah hancur

− Krim dari rasa yang ditawarkan sangat kurang sehingga kurang terasa di mulut

− Promosi hanya dilakukan untuk beberapa produk sehingga kurang dikenal oleh masyarakat

− Kemasannya hanya cocok ditujukan untuk anak-anak sehingga tidak sesuai untuk orang dewasa

− Sarana promosi yang kurang sehingga kurang dikenal oleh masyarakat

− Sistem distribusi yang dimiliki belum terlalu baik, karena masih belum dapat menjangkau masyarakat secara merata

− Stiknya yang terlalu kecil

− Harganya cukup mahal sehingga kurang dapat dijangkau oleh masyarakat kalangan menengah kebawah

(39)

3. Opportunities

Tabel 2.33. Peluang (Oppurtunities) ‘Point Jiro’ dan kompetitornya

‘Point Jiro’ Gery Mio-Mio Stick Stikko

− Harganya yang murah sehingga lebih diminati masyarakat

− Dapat bergerak ke pasar nasional

− Dapat memba- ngun brand awareness dan citra produk merek ‘Point’ di benak konsumen- nya dengan kemasan yang baru dan tampil beda

− Adanya variasi rasa dan produk dari ‘Point’

− Berasal dari perusahaan yang menghasilkan produk dan memiliki brand awareness sehingga cukup dikenal oleh masyarakat

− Sarana distribusi- nya cukup kuat

− Produk yang ditawarkan banyak variasi rasa dan jenisnya

− Harganya dapat terjangkau oleh semua kalangan

− Berasal dari perusahaan yang menghasilkan produk dan memiliki brand awareness sehingga cukup dikenal oleh masyarakat

− Sarana distri- businya cukup kuat

− Produk yang ditawarkan banyak variasi rasa dan jenisnya

− Harganya dapat terjangkau oleh semua kalangan

− Rasa krim coklatnya yang enak dan lezat sehingga lebih disukai

masyarakat

− Sarana promosinya yang baik sehingga banyak masyarakat yang

mengetahui produk ini

− Sarana distribusinya bagus

(40)

4. Threats

Tabel 2.34. Ancaman (Threats) ‘Point Jiro’ dan kompetitornya

‘Point Jiro’ Gery Mio-Mio Stick Stikko

− Banyaknya kompetitor yang bermunculan dan telah beriklan

− Tidak adanya promosi sehingga membuat produk

‘Point’

tenggelam dari kompetitornya

− Tidak adanya rasa coklat sehingga tidak adanya ciri khas akan produk

‘Point’ dengan kompetitor

− Banyaknya kompetitor yang lain dengan harga yang lebih murah

− Keingintahuan masyarakat untuk dapat mencoba produk lain

− Produk sejenis yang melakukan kegiatan promosi periklanan dengan gencar

− Banyaknya kompetitor yang lain dengan harga yang lebih murah

− Keingintahuan masyarakat untuk dapat mencoba produk lain

− Produk sejenis yang melakukan kegiatan

promosi periklanan denga n gencar

− Banyaknya kompetitor yang lain dengan harga yang lebih murah

− Keingintahuan masyarakat untuk dapat mencoba produk lain

− Banyaknya produk sejenis yang melakukan kegiatan promosi periklanan dengan gencar dan mudah didapat

2.6. Analisis Data

2.6.1 Tinjauan Teoritis Analisis

Dalam proses menganalisis data, dibutuhkan kajian teoritis yang berhubungan dengan obyek perancangan untuk memperoleh kesimpulan hasil analisis data yang nantinya digunakan untuk merumuskan masalah dan pemecahannya. Dalam proses pengenalan analisis data perlu adanya posisoning terhadap suatu perusahaan agar

(41)

mampu meningkatkan suatu produk, perusahaan ataupun merek agar menjadi brand awareness kedalam benak masyarakat dari PT. Selamat Biskuit Indonesia.

Positioning itu sendiri memiliki pengertian sebagai suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk, merek, perusahaan, individu, atau apa saja dalam alam pikiran mereka yang dianggap sebagai sasaran atau konsumennya. Upaya ini dianggap perlu karena situasi masyarakat atau pasar konsumen sudah over communicated.13

Menurut pakar positioning, Al Ries dan Jack Trout, “Positioning is not what you do to the product, it is what you do the mind.”. Pola berpikir yang diterapkan dalam konsep ini adalah outside-in, sebagai kebanyakan dari cara berpikir inside-out pada seller’s market. Cara ini menuntut obyektivitas yang tinggi dalam melihat pangsa pasar, termasuk kemauan mengakui posisi dan keunggulan sang pemimpin pasar di mata konsumen. Betapapun suatu produk memiliki keunggulan teknis dan harga yang lebih murah, tidak ada gunanya bersaing dengan pemimpin pasar secara langsung. Sebaliknya, posisi pemimpin pasar tersebut, dengan segala atributnya, harus menjadi referensi terpenting dalm menentukan strategi pemasaran produsen lainnya.14

Menurut Kotler, setidaknya ada tiga langkah dala m melakukan positioning, yaitu mengenali keunggulan-keunggulan yang mungkin dapat ditampilkan dalam hubungan dengan pesaing, memilih keunggulan-keunggulan yang paling kuat atau menonjol, dan menyampaikan keunggulan itu secara efektif kepada target pasar.

Tidak semua keunggulan merupakan indikator yang bisa ditampilkan ke pasar, tetapi harus diseleksi. Sebuah keunggulan yang patut ditampilkan harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu penting, berbeda, unggul dibanding pesaing, dapat dikomunikasikan, tidak mudah ditiru, terjangkau dan menguntungkan. Kotler juga menyatakan bahwa ada beberapa kesalahan positioning yang sedapat mungkin harus dihindari, seperti:

13 Philip Kotler, Op. cit, hal. 157.

14 Ibid, hal. 158.

(42)

1. Underpositioning, dimana si konsumen tidak mengenali kekhususan produk yang dikomunikasikan.

2. Overpositioning, dimana konsumen mempunyai gambaran yang terlalu sempit mengenai suatu atribut.

3. Confiused Positioning, konsumen tidak yakin dengan citra produk karena terlalu banyak janji yang diberikan atau positioning terlalu sering berubah.

4. Doubtful Positioning, konsumen merasa ragu dengan janji produk tersebut seperti produk, harga dan hasilnya.15

Menurut Kotler, untuk mengembangkan komunikasi yang efektif, diperlukan suatu program dengan sekitar 8 langkah, yaitu :

1. Mengindentifikasi target audience

Dalam tahap ini, merupakan tahap penentuan target audience. Target audience bisa merupakan individu, kelompok masayarakat khusus atau umum. Bila perusahaan telah melakukan segmentasi dan targeting, maka segmen itulah yang menjadi target audience.

2. Menentukan tujuan komunikasi

Setelah mengetahui target audience dan ciri-cirinya, maka kemudian dapat menentukan tanggapan apa yang dikehendaki. Perusahaan harus menentukan tujuan komunikasinya, apakah untuk menciptakan kesadaran, pengetahuan, kesukaan, pilihan, keyakinan atau pembelian.

3. Merancang pesan

Kemudian prusahaan harus menyusun pesan yang efektif. Idealnya suatu pesan harus mampu menarik perhatian (attention), menarik (interest), membengkitkan keinginan (desire), menumbuhkan keyakinan atau rasa percaya (conviction) dan menghasilkan tindakan (action), yang kesemuanya dikenal sebagai metode AIDCA.

15 Rambat Lupiyadi, Manajemen Pemasaran dan Jasa: Teori dan Praktek . Jakarta: PT Salemba Emban Patria,2001, hal. 40.

(43)

4. Menyeleksi saluran komunikasi

Perusahaan harus menyeleksi saluran-saluran komunikasi yang efisien untuk membawakan pesan. Saluran komunikasi itu bisa berupa komunikasi personal ataupun nonpersonal.

5. Menetapkan jumlah anggaran promosi

Menetapkan anggaran sangatlah penting karena untuk menentukan menggunakan media apa, juga tergantung pada anggaran yang tersedia. Ataukah perusahaan berorientasi pada pencapaian sasaran promosi yang akan digunakan, apakah melalui advertising, personal selling, sales promotion, atau public relation, dan lain-lain (atau bauran dari berbagai perangkat tersebut)

6. Mengukur hasil- hasil promosi

Setelah melaksanakan rencana promosi, perusahaan harus mengukur dampaknyapada target audience, apakah mereka mengenal atau mengingat pesan- pesan yang diberikan. Berapa kali melihat pesan tersebut, apa saja yng masih diingat dan bagaimana sikap mereka terhadap produk atau jasa tersebut, dan lain- lain.

7. Mengelola dan mengkoordinasi proses komunikasi

Karena jangkauan komunikasi yang luas dari alat dan pesan komunikasi yang tersedia untuk mencapai target audience, maka alat dan pesan komunikasi perlu dikoordinasikan, karena jika tidak, pesan-pesan itu akan menjadi lesu pada saat produk tersedia, pesan kurang konsisten atau tidak efektif lagi. Untuk itu, perusahaan-perusahaan mengarah pada penerapan konsep komunikasi pemasaran yang terkoordinasi.16

2.6.2 Sejarah Kemasan

Sejak jaman dahulu kemasan sudah menjadi hal yang penting bagi manusia terutama ketika mereka mencari bahan yang dapat melindungi hasil perburuannya atau makanannya agar awet hingga waktu yang cukup lama. Mereka menggunakan dedaunan dari pohon, menenun keranjang dan kulit hewan untuk menyimpan

16 Ibid, hal. 111-112.

(44)

makanannya. Sisa-sisa dari tembikar berupa periuk atau cawan dari kulit hewan telah banyak membantu penemu-penemu dunia untuk mempelajari kehidupan purbakala nenek moyang. Tetapi kemasan tersebut sangat tidak higienis karena di jaman nenek moyang kemasan hanya digunakan untuk menempatkan makanan hasil perburuan.17

Kemasan merupakan suatu konsep fungsional sebatas untuk melindungi barang atau mempermudah barang untuk dibawa dan masih terkesan seadanya seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju dan semakin kompleks, barulah terjadi penambahan nilai-nilai fungsional, terutama pada abad sekarang dimana produsen saling berlomba merebut perhatian konsumen.18

Seperti kita ketahui bahwa perkembangan kemasan sekarang ini merupakan hasil dari proses pengembangan yang panjang. Dimana pembinaan tersebut merupakan produk dari penelitian yang berlanjut yang ditujukan untuk menemukan metode yang lebih baik dari pengemasan barang yang kita gunakan, termasuk makanan untuk menjamin perlindungan yang terbaik. Hingga sekarang kemasan masih berkembang di berbagai negara dan hampir semua kebutuhan ataupun produk yang kita beli, terjual dalam kemasan. Dimana semua kemasan tersebut berguna untuk memelihara produk tersebut agar selalu fresh dan tidak terkontaminasi oleh udara sekitarnya dan mencegah kerusakan. Karena makanan yang telah dikemas akan menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pabrik yang memproduksinya hingga tiba ke mulut konsumen. Dalam perjalanan jauh tersebut, makanan tersebut dapat jatuh atau basah terkena hujan. Karena itu, dibutuhkan sebuah kemasan yang mampu memberikan perlindungan terbaik untuk makanan didalamnya agar sampai ke tangan konsumen dengan kondisi yang baik.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, ilmu pengetahuan dan peradaban manusia, kemasan turut mengalami perubahan nilai fungsionalnya. Revolusi Industri memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan tatanan hidup manusia ke arah yang lebih modern, telah pula mengubah teknologi kemasan hingga mencakup aspek yang lebih luas lagi. Bahkan kini, kemasan tidak hanya sekedar mengemas produk

17 The History of Packaging, http://www.european.be/basics/unnderstand/und2 history 1, page 1 of 2.

18 Iwan Wirya, Kemasan yang Menjual. Jakarta: PT. Gramedia,1999. hal. 1.

(45)

melainkan telah berperan penting dalam mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk di dalamnya.

Sampai sekarang masih banyak pengusaha Indonesia yang memandang keberadaan kemasan sebagai ‘ongkos’ bukannya sebagai investasi jangka panjang.

Kemasan memiliki beberapa potensi handal dalam meningkatkan penjualan produk, antara lain :

2. Kemasan berperan penting dalam membentuk persepsi konsumen atas sebuah produk

3. Kemasan berperan dalam mengkomunikasikan citra dari sebuah merek dan contoh produk

4. Kemasan mampu mengkomunikasikan janji tentang kualitas, rasa, dan kenikmatan, sehingga konsumen bisa mengukur produk dalam kemasan sesuai dengan harapannya

5. Kemasan bukan hanya sekedar wadah dari suatu produk namun juga sebagai bagian integral penyampaian pesan dari produk

6. Kemasan sangat berperan penting dalam membangun identitas sebuah merek, agar konsumen memiliki awareness terhadap merek tersebut.

Kemasan yang handal tidak cukup apabila hanya didukung oleh peran fungsionalnya, namun juga harus didukung secara emosional, yaitu dimana kemasan berperan dalam mendorong minat konsumen untuk membeli produk atas dasar pertimbangan daya tarik kemasan. Dalam hal ini, proses pengambilan keputusan kons umen terbentuk atas dasar desakan perasaannya yang kuat terhadap kemasan. Hal yang paling penting dalam sebuah kemasan identitas kemasan (packaging identity) itu sendiri. Identitas kemasan yang baik adalah kemasan yang dapat mengangkat atau menterjemahkan nilai- nilai yang ada dalam produk tersebut dan dapat menyampaikan kekuatan emosionalnya.19

19 Philip Kotler, Op. cit , hal. 476.

(46)

Menurut Philip Kotler, kemasan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan bahan, yaitu :20

a) Kemasan primer

Kemasan primer adalah kemasan yang melindungi/bersentuhan dengan produk secara langsung. Contohnya : Kemasan botol kaca produk parfum.

b) Kemasan sekunder

Kemasan sekunder merupakan kemasan yang membungkus kemasan primer.

Contohnya : Kemasan karton yang membungkus kemasan botol kaca produk parfum.

c) Kemasan Pengiriman adalah kemasan yang melindungi sejumlah kemasan sekunder dalam proses/pendistribusian produk tersebut. Contohnya : kemasan kardus yang berisi beberapa kemasan karton produk parfum.

2.6.3. Definisi Desain Kemasan

Selama berabad-abad, kemasan merupakan suatu konsep fungsional sebatas untuk melindungi barang atau mempermudah barang untuk dibawa dan masih terkesan seadanya. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju dan semakin kompleks, barulah terjadi penambahan nilai- nilai fungsional, terutama pada saat ini dimana persaingan dalam dunia usaha semakin tajam dan kalangan produsen saling berlomba merebut perhatian calon konsumen.21

Menurut Sigid (1992), kemasan adalah kegiatan penempatan produk ke dalam wadah (kontainer), tempat isi, atau sejenis yang terbuat dari timah, kayu, kertas, gelas, besi, plastik, selulose transparan, kain, karton, atau material lainnya yang dilakukan oleh produsen atau pemasar untuk disampaikan kepada konsumen.22

Ada perbedaan pengertian antara kata pengemasan dan kemasan. Pengemasan mencakup keseluruhan konsep termasuk kemasan langsung, bagian luar, pembungkus, merek, pemajangan, pelayanan, interior/exterior, dan bagian yang

20 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Jakarta : PT. Prenhallindo. 1998

21 Iwan Wirya, Op. cit, hal. 1.

22 Soehardi Sigid, Pemasaran Praktis (Yogyakarta: BPFE, 1992). hal. 32.

(47)

keseluruhannya berperan dalam pemasaran, baik untuk produk konsumsi, produk industrial, maupun produk jasa.23

Kemasan tidak sama dengan pengemasan sekalipun sering diartikan sama.

Pengemasan mencakup keseluruhan konsep termasuk kemasan langsung, bagian luar, pembungkus dan lain-lainnya, dan bagian yang keseluruhannya berperan dalam pemasaran dan pemajangan. Sebuah kemasan yang baik tidak akan menjual produk apapun jika pengemasannya buruk. Sebuah kemasan yang buruk bisa memberikan citra yang jelek terhadap suatu produk yang sangat baik, bagaimanapun baiknya pemikiran atas konsep pengemasannya.24

Saat ini, kemasan merupakan bagian yang penting dalam pemasaran bahkan untuk beberapa dekade awal dimana kemasan mulai digunakan oleh manusia, fungsi kemasan terbatas pada melindungi barang atau mempermudah barang untuk dibawa.

Akan tetapi perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks turut mempengaruhi fungsi kemasan itu sendiri.

2.6.4 Daya Tarik Kemasan

Daya tarik sebuah kemasan sangat penting artinya karena akan mempengaruhi tindakan konsumen baik secara sadar maupun tidak sadar. Daya tarik pada kemasan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu daya tarik visual dan daya tarik praktis.

2.6.4.1. Daya tarik visual

Daya tarik visual mengacu pada penampilan kemasan atau label suatu produk, yang mencakup warna, bentuk, merek, ilustrasi, teks, serta tata letak.

Seluruhnya dikombinasikan untuk menciptakan suatu kesan menyeluruh untuk memberikan mutu daya tarik visual secara optimal. Daya tarik visual berhubungan dengan faktor emosi dan psikologis yang terletak pada bawah sadar manusia, desain yang baik memiliki efek positif yang sebagian besar tak disadari karena konsumen umumnya tidak menyadari bahwa mereka dipengaruhi oleh desain dan mereka tidak

23 Ibid, hal. 4.

24 E.P. Danger, Memilih Warna Kemasan . Jakarta: PT Bustaka Binaman Presindo, 1992. hal.19

(48)

menganalisis setiap unsur.25 Tidak menutup kemungkinan bahwa sering terjadi konsumen membeli barang yang tidak lebih baik dari produk lain bahkan dalam harga yang lebih mahal dikarenakan penampilan kemasan tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa daya tarik visual kemasan memegang peranan yang besar dalam mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk.

2.6.4.2. Daya tarik praktis

Daya tarik praktis merupakan efektivitas dan efisiensi suatu kemasan yang ditujukan kepada konsumen maupun distributor/pengecer. Berikut ini adalah daya tarik praktis kemasan :26

a. Kemasan yang menjamin dalam melindungi produk

b. Kemasan yang mudah dibuka atau ditutup kembali untuk disimpan

c. Kemasan dengan porsi ya ng sesuai untuk produk makanan/minuman, atau dengan alternatif volume untuk pembelian eceran

d. Kemasan yang dapat digunakan kembali

e. Kemasan harus memudahkan pemakai untuk menghabiskan atau mengambil isinya dan mengisinya kembali untuk jenis produk yang dapat diisi ulang

f. Dan lain-lain berdasarkan pertimbangan kebutuhan dan sifat produk itu sendiri.

2.6.5. Elemen-elemen Visual Kemasan

Suatu kemasan akan terlihat lebih menarik jika hasil akhir yang didapa t mampu menimbulkan kesan positif dalam benak konsumennya. Hal itu tidak lepas dari adanya elemen-elemen visual yang mendukung. Adapun elemen-elemen visual tersebut adalah :

2.6.5.1. Bentuk

Bentuk kemasan merupakan pendukung utama yang membantu terciptanya seluruh daya tarik visual. Namun tidak ada prinsip baku yang menentukan bentuk

25 Iwan Wirya, Op. cit , hal. 15.

26 Ibid, Iwan Wirya, hal. 12.

(49)

fisik dari sebuah kemasan karena ini biasanya ditentukan oleh sifat produknya, pertimbangan mekanis, kondisi penjualan, pertimbangan pemajangan, dan oleh cara penggunaan kemasan tersebut. Berikut adalah pentingnya bentuk dalam kemasan : - Bentuk yang sederhana lebih disukai daripada bentuk yang rumit, karena

konsumen cenderung melihat bentuk dari segi kepraktisannya

- Suatu bentuk yang teratur akan memiliki daya tarik lebih, bentuk yang tidak teratur ada kalanya manjur pada kondisi tertentu, tapi pada umumnya orang lebih menyukai sesuatu yang sederhana

- Suatu bentuk harus seimbang, bentuk yang tidak seimbang tidak akan menyenangkan

- Bentuk bujur sangkar lebih disukai daripada persegi panjang, karena merupakan proporsi bentuk yang paling seimbang. Tapi hal ini tergantung juga pada kondisi produknya

- Bentuk yang cembung lebih disukai daripada bentuk yang cekung, karena produk akan terlihat lebih padat atau lebih banyak isinya

- Bentuk bulat lebih disukai oleh wanita, dan mereka lebih menyukai bentuk lingkaran daripada segitiga, sebaliknya bentuk bersiku lebih disukai oleh pria dan dianggap lebih jantan. Tapi tergantung juga pada kondisi produknya

- Bentuk seharusnya mudah terlihat dan tidak berdistorsi bila dipandang dari jauh.

Terjadi ilusi optik pada desain tertentu yang mengakibatkan bentuk kelihatan tidak sesuai dengan bentuk yang sebenarnya.

2.6.5.2. Warna

Warna dapat diartikan sebagai suatu mutu cahaya yang dipantulkan dari suatu obyek ke mata manusia. Saat cahaya yang dipantulkan benda ke mata, kerucut- kerucut warna pada retina beraksi, kemudian timbul gejala warna pada obyek-obyek yang dilihat sehingga dapat mengubah persepsi manusia. Oleh karena itulah warna menjadi unsur penting dalam desain kemasan.27

27 Ibid, Iwan Wirya, hal. 26.

(50)

Akibat daya pengaruh yang ditimbulkannya, warna juga bisa diuraikan sebagai bahasa jiwa dan rasa terhadap sebuah kondisi yang berlangsung. Hal ini dapat terjadi karena warna memiliki karakteristik sifat yang secara tegas mempengaruhi psikis seseotang, serta dapat memberikan berbagai inspirasi yang membangkitkan reaksi emosi. Seperti uraian dibawah ini :28

Merah Muda

Asumsi yang ditimbulkan : feminin, lembut, lunak, cantik, dan romantis.

Krem

Asumsi yang ditimbulkan : lembut, klasik, eksklusif, netral, hangat, manis Kuning Muda

Asumsi yang ditimbulkan : gembira, cerah, hangat, lembut, cantik, manis.

Hijau Muda

Asumsi yang ditimbulkan : segar, gembira, ceria, musim semi, pertumbuhan.

Merah

Asumsi yang ditimbulkan : energik, perkasa, dinamis, aktif, panas, musim panas.

Orange

Asumsi yang ditimbulkan : riang, populer, keras, terang, panas, bersemangat.

Kuning

Asumsi yang ditimbulkan : hangat, menarik, gembira, energik, pergantian musim.

Hijau

Asumsi yang ditimbulkan : klasik, sejuk, keduniawian, eksklusif, tenang.

Biru Muda

Asumsi yang ditimbulkan : tenang, bersih, sejuk, damai, lembut, santai.

Ungu Muda

Asumsi yang ditimbulkan : klasik, sejuk, sederhana, berkualitas, membosankan.

Putih

Asumsi yang ditimbulkan : terang, murni, bersih, suci, klasik, kemilau, duka.

Perak

Asumsi yang ditimbulkan : eksklusif/ kesan mahal, elegan, klasik, sejuk.

28 Mas Dian, Pengaruh Warna dalam Feng Shui, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. 2002.

(51)

Biru

Asumsi yang ditimbulkan : klasik, kuat, percaya diri, tenang, profesional.

Ungu/ Violet

Asumsi ya ng ditimbulkan : manis, cantik, eksotis, hangat, lembut, tropis.

Coklat

Asumsi yang ditimbulkan : maskulin, kaya, pertahanan, hangat, kebergantungan.

Hitam

Asumsi yang ditimbulkan : klasik, elegan, mistis, kuat, keras, seksi, dinamis.

Emas

Asums i yang ditimbulkan : energik, perkasa, dinamis, aktif, panas, musim panas.

Warna mempunyai sejumlah kegunaan praktis dalam seluruh aplikasi grafis, selain dari nilai dekorasinya. Berikut adalah kegunaan warna menurut E.P. Danger :

- Pengkodean, pemberian kode dan identifikasi, dapat membedakan rasa, bau, dll.

- Proteksi dari cahaya, warna dapat digunakan untuk melindungi isi dari efek cahaya yang merusak.

- Keterbacaan, merupakan faktor penting karena konsumen tidak mau bersusah payah membaca sebuah kemasan terutama jika kemasan diletakkan di rak pajang suatu supermarket dimana ratusan produk lain turut bersaing.

- Pengendalian temperatur, warna yang terang cenderung memantulkan panas dari sebuah benda dan menjaga bagian dalam kemasan tetap sejuk, ini juga meruapakan salah satu cara yang bermanfaat untuk melindungi isi suatu kemasan.

2.6.5.3. Logo

Logo adalah simbol yang digunakan untuk menyampaikan pentingnya citra usaha suatu perusahaan swasta maupun perusahaan umum, atau dapat juga menunjukkan kegiatan dan fungsi perusahaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, logo harus didesain unik untuk menunjukkan kejelasan, keseimbangan, kelayakan, keindahan, dan kesederhanaan. Kejelasan dan kesederhanaan merupakan unsur penting karena mereka yang membacanya tidak boleh dib ingungkan oleh desain dari

(52)

logo tersebut. Keseimbangan adalah penting karena gambar proporsional dan seimbang akan enak untuk dilihat. Selain itu, logo juga harus mampu menunjukkan kesesuaian dengan transaksi dan fungsi perusahaan.29

Logo perusahaan atau organisasi merupakan suatu desain yang spesifik, baik berupa simbol dan pola gambar, atau huruf tertulis yang menggambarkan citra perusahaan. Logo bisa berupa sebuah tipe tunggal dari diagram yang terdiri atas satu, dua, atau tiga huruf yang mewakili suatu bisnis, perusahaan atau organisasi swasta.

Logogram adalah simbol atau karakter yang digunakan untuk menyampaikan suatu kata yang menggambarkan bidang usaha dari suatu bisnis, perusahaan, atau organisasi swasta. Kata logo dapat diartikan sebagai logo, logotype (logo dengan huruf), atau logogram (logo dengan gambar) yang digunakan untuk mempromosikan produk atau jasa dari suatu perusahaan. Sama halnya seperti logo, merek dagang juga dapat berupa suatu huruf atau simbol, namun digunakan untuk melukiskan hubungan antara barang dengan merek dan pemilik merek dagang tersebut selama berlangsungnya perdagangan.

Merek dagang dan logo perusahaan dapat memainkan peranan penting untuk meningkatkan daya tarik kemasan. Beberapa faktor yang biasanya dipertimbangkan dalam menetapkan suatu rupa merek dagang atau logo perusahaan adalah :

1. Sejarah (heraldic) 2. Identitas atau kekhasan 3. Asosiatif

4. Artistik 5. Komunikatif 6. Simbolik 7. Impresif

Selain itu, suatu merek dagang sebaiknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Mengandung keaslian

2. Mudah dibaca atau diucapkan 3. Menggugah

29 Evelyn Lip, Logo,Merek Dagang dan Feng Shui: Jakarta, 1995, hal 1-3.

(53)

4. Cocok dengan produknya 5. Mudah diingat

6. Sederhana dan ringkas

7. Mudah disispkan pada media mana pun

8. Tidak mengandung konotasi yang kurang menyenangkan 9. Cocok untuk ekspor

10. Tidak sulit digambarkan30

Karena logo dibuat dan ditunjukkan kepada masyarakat luas yaitu konsumen dan calon konsumen, oleh karena itu dalam membuat logo ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar logo itu dapat diterima oleh masyarakat, menurut David. E.

Carter, logo yang baik harus memiliki syarat sebagai berikut : 1. Original

Memiliki kekhasan yang unik dan tersendiri 2. Simple

Sederhana, mudah ditangkap dan dimengerti dalam waktu yang singkat 3. Easily Memorable

Cukup mudah diingat karena keunikan dan kekhasan bahkan dalam waktu yang sangat singkat

4. Easily associated with the company

Mudah diasosiasikan dengan jenis usaha dan citra perusahaan 5. Easily applied in all media

Mudah diaplikasikan pada berbagai media pendukung logo itu ditampilkan Selain terdapat syarat-syarat logo yang baik, David E. Carter juga merumuskan beberapa hal yang harus dihindari dalam membuat suatu logo, antara lain :

a. Garis terlalu tipis

b. Tergantung pada warna untuk berhasil

c. Menggunakan inisial yang mendekati abstrak pada huruf pertama d. Tidak sesuai dengan jenis usaha nya

30 Iwan Wirya, Op. cit , hal. 30-31.

(54)

e. Proposi yang salah f. Terlalu ramai

g. Bentuk huruf yang tidak sesuai dengan syarat h. Kurang imajinasi

i. Logo dibuat secara asal-asalan31

2.6.5.4. Tipografi

Dalam dunia tipografi pun terdapat kecenderungan mode yang kecepatan berlalunya hampir mirip dengan dunia mode pakaian wanita. Teks pada kemasan sebaiknya menggunakan tipografi konvensional, agar tidak cepat pudar oleh mode.

Tipe huruf yang ada sekarang meliputi jumlah ribuan, tapi untuk mempermudah dalam memilih dari sekian banyak jenis huruf tersebut, maka sebagai patokan huruf- huruf dapat digolongkan menjadi 6 golongan, yaitu :

1. Romawi gaya lama (old style woman). Sampai kini banyak ahli huruf berpendapat bahwa huruf romawi jenis ini merupakan huruf yang terindah, bertolak dari aksara Romawi permulaan, dua keluarga huruf dari sekian banyak yang tergolong ke dalam Romawi gaya lama ialah Calson dan Garamond.

2. Romawi modern (modern romans). Salah satu wajah huruf yang paling terkenal dari golongan Romawi adalah Bodoni, yang memiliki banyak variasi ukuran dan ketebalan.

3. Romawi Peralihan (transitional romans). Memiliki ciri-ciri peralihan dari gaya lama ke modern, Baskerville yang termasuk ke dalam golongan Romawi demikian, misalnya menampilkan kesan lebih ringan daripada gaya lama, tetapi tidak terlampau mekanis bila dibanding dengan yang modern. Ditto Times Roman juga tergolong dalam Romawi peralihan.

4. Tanpa kait (sans-serif). Ada yang berpendapat tidak adanya horisontalisasi yang terbubuhkan oleh kait, selain menimbulkan kesan monoton, juga menyulitka n mata pembaca dalam menyambungkan huruf demi huruf. Tetapi beberapa jenis

31 David. E. Carter. 2002. Diktat kuliah mengenai teori logo. Jurusan Desain komunikasi Visual.

Universitas Kristen Petra, Surabaya, Indonesia.

Gambar

Gambar 2.3. Wafer Millenium Chocolate ± 350gr
Gambar 2.9. Duta Wafer Chocolate Cream 30gr
Gambar 2.14. Duta Milk Wafer Cream Sweet Vanila 120gr
Tabel 2.2. Daftar Harga Produk Selamat Biskuit Indonesia
+7

Referensi

Dokumen terkait

pada kinerja seorang karyawan. Lingkungan kerja yang menyenangkan bagi pegawai melalui peningkatan hubungan yang harmonis dengan atasan, rekan kerja, maupun bawahan, serta

Dalam prakteknya metode wawancara dapat dilaksanakan bersama-sama dengan observasi (Sugiono, 2009: 232) (dalam waktu yang sama atau bergantian). Hasil wawancara

The causes of floods turning into disaster in Dar es salaam (which are hypothesized as the causes for the persistence of flooding disaster in Dar es salaam)is treated as

1) Gambar rencana kerja memuat lay-out, denah, potongan memanjang dan potongan melintang. 2) Spesifikasi teknis disusun mengikuti pedoman/standar yang sesuai dengan

Dengan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan, Sikap, Lingkungan Keluarga, dan Motivasi Terhadap Minat Berwirausaha” (Studi Kasus

Magnesium (Mg) saat ini merupakan salah satu jenis logam ringan yang dianggap sebagai salah satu kandidat potensial material hydrogen storage karena, secara teoritis,

KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1)  FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA Shinta T. Effendy 1 , Rahmat M. Samik­Ibrahim 2