Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
36
KETERLAMBATAN BIAYA PEMBAYARAN PENGURUSAN KAPAL PADA PT PENASCOP MARITIM INDONESIA
CABANG SAMARINDA
Maulita 1) M. Adham 2) Arditiya 3) Diah Rizki Permatasari4)
1)Staf Pengajar Jurusan Kemaritiman
2)Staf Pengajar Jurusan Kemaritiman
3)Staf Pengajar Jurusan Kemaritiman
4)Mahasiswa Jurusan Kemaritiman
E-mail : [email protected] ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda dan hal yang melatar belakangi penulis dalam mengangkat judul ini ialah karena mengingat tugas penulis selama praktek tidak lepas dari melakukan pembayaran negara bukan pajak, ditambah lagi dengan adanya studi kasus mengenai keterlambatan pembayaran negara bukan pajak yang terjadi di PT Penascop maka penulis ingin mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya keterlambatan pembayaran dan sanksi apa yang diterima bila melakukan keterlambatan pembayaran. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian sesuai dengan judul yang telah diambil serta telah menyimpulkan bahwa terjadinya keterlambatan biaya pembayaran negara bukan pajak khususnya jasa alih muat dikarenakan pihak shipper yang terlambat mengirimkan dana ke perusahaan dan sanksi yang diterima karena telah melakukan pelanggaran adalah dengan membayar denda sebesar 2%
dari jumlah yang tertuang di nota jasa alih muat tersebut.
Kata kunci: keterlambatan, sanksi
PENDAHULUAN Latar belakang
Indonesia adalah negara yang dikenal sebagai negara maritim yang sebagian besar luas wilayahnya merupakan perairan dan terdiri atas pulau – pulau yang kurang lebih berjumlah 17.000 pulau yang menghubungkan antar pulau satu dengan pulau lainnya. Oleh sebab itu sarana transportasi laut sangat penting untuk menghubungkan pulau - pulau yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu sarana transportasi laut adalah angkutan laut yang berupa kapal. Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang dilaut.
Angkutan kapal laut merupakan usaha perusahaan pelayaran yang bergerak dalam bidang penyediaan jasa angkutan laut. Jasa angkutan laut meliputi jasa angkutan penumpang dan muatan barang. Dalam pengangkutan barang, kapal sangatlah
unggul karena transportasi laut ini dapat mengangkut muatan dalam jumlah yang sangat besar dengan berbagai macam muatan tergantung dengan tipe kapal laut itu sendiri.
Perusahaan pelayaran sendiri mempunyai peranan yang sangat penting bagi dunia pelayaran. Karena apabila suatu kapal berlabuh disuatu pelabuhan maka kapal tersebut memerlukan pelayanan dan mempunyai berbagai keperluan yang harus dipenuhi. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut perusahaan pelayaran yang tidak mempunyai cabang di suatu pelabuhan akan menunjuk perusahaan pelayaran lain yang berada di pelabuhan tersebut sebagai agen. Perusahaan pelayaran bertanggung jawab atas suatu kapal yang di tanganinya. Suatu perusahaan pelayaran mengoprasikan kapal-kapalnya dari pelabuhan satu ke pelabuhan lainya, sehingga perusahaan pelayaran harus
Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
37
mengurusi kapal yang dioperasikan pada saat di pelabuhan yang disinggahinya. Kegiatan mengurus semua keperluan kapal mulai dari awal kedatangan kapal, pada saat berlabuh, proses pemuatan hingga waktu keberangkatan. Dalam pengurusan kapal tidak hanya berfokus kepada perusahaan agen karena pengurusan satu kapal dapat melibatkan banyak pihak misalnya pihak pemilik kapal, pemilik barang, shipper, surveyor, pemilik floating crane dan lain – lain.
Petugas (Instansi Pemerintah) yang berhubungan atau terkait dengan kegiatan/aktivitas keluar masuknya kapal dipelabuhan yang diselenggarakan perusahaan pelayaran adalah:
1. Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
2. Kantor Bea dan Cukai.
3. Kantor Imigrasi Pelabuhan.
4. Kantor Kesehatan Pelabuhan.
Dalam pengurusan kedatangan dan keberangkatan kapal baik kapal penumpang maupun kapal barang harus mengikuti ketentuan setiap petugas (Instansi Pemerintah) diatas. Dalam setiap pengurusan dokumen memerlukan biaya.
Biaya - biaya yang di keluarkan akan masuk kedalam kas negara yaitu Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Biaya PNBP, khususnya untuk pembayaran jasa labuh, jasa alih muat, jasa sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) mempunyai cara bayar yang berbeda yaitu dengan menggunakan billing dan mempunyai batas waktu pembayaran selama 1 minggu. Jika melewati waktu yang telah ditetapkan akan dikenakan sanksi yaitu dikeluarkannya Nota Denda dengan perkalian 2% dari nota yang harus di bayarkan. Oleh karena itu sangat penting bagi setiap perusahaan pelayaran menyiapkan biaya/dana untuk pengurusan operasional kapalnya dan membayarnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan menghindari keterlambatan pembayaran.
Biaya - biaya yang mungkin akan dikeluarkan dalam setiap pengurusan kapal ialah :
1. Bukti Pembayaran Jasa Kepelabuhanan (PUJK).
2. Bukti Pembayaran Jasa Perkapalan.
3. Bukti Pembayaran Jasa Kenavigasian.
4. Bukti Pembayaran Jasa Vessel Traffic Service (VTS).
5. Bukti Pembayaran Jasa Alih Muat.
6. Bukti Pembayaran Log Book.
Hal - hal tersebut melatarbelakangi dalam pemilihan judul dengan perusahaan PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda sebagai objek pengamatan.
Sehingga dipilih judul “Keterlambatan Biaya Pembayaran Pengurusan Kapal Pada PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda (Studi Kasus: Pembayaran Denda Jasa Alih Muat MV Kanoura)”
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian adalah:
1. Apa yang menyebabkan keterlambatan dalam pembayaran Jasa Alih Muat MV Kanoura?
2. Sanksi apa yang diberikan bila perusahaan pelayaran terlambat membayar?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang menyebabkan keterlambatan pembayaran Jasa Alih Muat MV Kanoura.
2. Untuk mengetahui sanksi apa yang diberikan bila perusahaan pelayaran terlambat membayar.
Batasan Masalah
Dari rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya diperoleh gambaran permasalahan yang ada di perusahaan. Agar penulisan tugas akhir ini tidak menyimpang dari tujuan yang semula direncanakan, sehingga mempermudah mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka perlu memberi batasan masalah secara jelas dan terfokus pada Keterlambatan Biaya Pembayaran Pengurusan Kapal Pada PT
Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
38
Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda (Studi Kasus: Pembayaran Denda Jasa Alih Muat MV Kanoura)”
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Biaya
Biaya (cost) adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi.
Ekuivalen kas adalah sumber non kas yang dapat ditukar dengan barang atau jasa yang diinginkan.
Biaya Operasional
Setelah diketahui pengertian biaya atau cost, maka kita juga dapat mengetahui pengertian dari biaya operasional merupakan seluruh pengorbanan yang dkeluarkan oleh perusahaan untuk mendanai kegiatan operasionalperusahaan demi mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan didalam pengelolaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar, perusahaan swasta maupun perusaan pemerintah, yang mengejar laba atau tidak
setiap harinya selalu
berhadapan dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
Masalah biaya operasional pada suatu perusahaan hanya dapat dipecahkan secara memuaskan bila perusahaan tersebut mempunyai pengetahuan tentang biaya yang berkaitan denganya. Oleh karena itu penyediaan data - data sangat penting sebagai alat informasi dalam pengambilan kebijakan dan keputusan oleh manajer perusahaan.
Manfaat Data Biaya Operasional
Data beban biaya tersebut berhubungan dengan masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Beban biaya yang dikumpulkan sesuai dengan yang digolongkan atau klasifikasi yang diinginkan, kemudian disajikan dan di analisa, akan sangat bermanfaat bagi manajemen. Data tersebut dapat di manfaatkan oleh manajemen untuk
berbagai tujuan. Manfaat dari data biaya Operasional antara lain sebagai berikut:
1. Untuk tujuan-tujuan Pengawasan 2. Membantu Dalam Penentuan Harga 3. Untuk Menghitung Rugi Laba Periodik 4. Untuk Pengendalian Beban
5. Untuk Pengambilan Keputusan
Pengawasan Biaya Operasional
Pengawasan merupakan fungsi terakhir yang harus dilaksanakan dalam manajemen. Dengan pengawasan dapat diketahui tentang hasil yang telah dicapai.
Cara yang dilakukan adalah dengan membandingkan segala sesuatu yang dijalankan dengan standar atau rencananya, serta melakukan perbaikan bilamana terjadi penyimpangan dapat merugikan perusahaan. Selain itu fungsi pengawasan mempunyai hubungan yang erat dengan perencanaan, karena suatu perencanaan yang telah ditetapkan dapat dinilai setelah dilakukan pengawasan, sehingga baik tidaknya pengawasan dari perencanaan akan dapat diketahui dengan adanya pengawasan tersebut.
Tujuan Pengawasan Biaya Operasional Tujuan utama pengawasan biaya operasional adalah mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan yang sesuai dengan yang dianggarkan sebelumnya. Untuk dapat merealisasikan tujuan utama tersebut maka pengawasan biaya operasional pada tahap pertama bertujuan agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi-instruksi yang di keluarkan. Tahap berikutnya untuk mengetahui kelemahan serta kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan rencana operasi. Pengawasan biaya operasional yang benar-benar efektif bila dapat merealisasikan tujuan sistem pengawasan biaya operasional, setidaknya harus dapat dengan segera melaporkan adanya deviasi dari rencana operasi. Suatu sistem pengawasan biaya operasional yang efektif harus dapat segera melaporkan penyimpangannya, sehingga berdasarkan penyimpangan tersebut dapat diambil tindakan untuk pelaksanaan selanjutnya
Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
39
agar pelaksanaan dapat sesuai atau mendekati apa yang direncanakan sebelumnya.
Pengawasan biaya operasional memiliki manfaat bagi suatu organisasi perusahaan yaitu:
1. Dapat dengan sesegera mungkin melaporkan penyimpangan biaya operasional.
2. Dapat menjamin diadakannya tindakan korektif.
Pengertian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Menurut Pasal 1 angka 1 UU Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP adalah:
1. Seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari PNBP penerimaan perpajakan.
2. Penerimaan Uang Jasa Kepelabuhanan yang selanjutnya disebut PUJK adalah penerimaan yang diperoleh atas pelayanan jasa kapal, jasa barang, jasa pelayanan alat dan jasa kepelabuhanan lainnya di pelabuhan yang belum diusahakan secara komersial, pelabuhan yang diusahakan secara komersial, pendapatan konsesi.
3. Penerimaan Uang Perkapalan dan Kepelautan yang selanjutnya disebut PUPK adalah penerimaan yang diperoleh atas pelayanan jasa bidang perkapalan dan kepelautan, jasa pengawasan barang berbahaya, jasa pengawasan kapal asing, pengawasan kapal asing dan penerbitan sertifikat keamanan kapal internasional.
4. Kompensasi/kontribusi, terminal untuk kepentingan sendiri dan terminal khusus serta segala penerimaan uang yang berasal dari perizinan yang dikeluarkan oleh Direktorat Kepelabuhanan dan irektorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai.
5. Penerimaan Jasa Kenavigasian adalah penerimaan yang diperoleh atas jasa penggunaan fasilitas Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) atau Uang Rambu, jasa sewa fasilitas
galangan navigasi, jasa Telekomunikasi Pelayaran, jasa salvage dan pekerjaan bawah air, jasa penggunaan perairan, jasa pemeriksaan kesehatan dan penilaian lingkungan kerja pelayaran, dan pemberian izin kewenangan perusahaan yang melakukan perbaikan dan perawatan peralatan keselamatan pelayaran serta jasa pengawasan kegiatan pengangkatan kerangka kapal oleh pihak ketiga.
6. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, menyetor, menatausaha dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka
pelaksanaan APBN pada
Kantor/Satuan Kerja Kementerian Negara/ Lembaga.
7. Target Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah perkiraan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang akan diterima dalam satu tahun anggaran.
8. Pengguna Jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa PNBP di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
9. Sistem Informasi Penerimaan Negara Bukan Pajak Online yang selanjutnya disebut SIMPONI adalah sistem informasi yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Anggaran, yang meliputi Sistem Perencanaan PNBP, Sistem Billing dan Sistem Pelaporan PNBP.
10. Kode Billing adalah kode identifikasi yang diterbitkan oleh Sistem Billing atas suatu jenis bayaran / setoran yang akan dilakukan Wajib Bayar / Wajib Setor.
Keterlambatan Pembayaran
Dalam kasus keterlambatan pembayaran bisa dikenakan denda/sanksi.
Denda keterlambatan adalah sanksi yang dikenakan kepada penyedia barang atau jasa oleh pejabat pembuat komitmen dalam hal keterlambatan pelaksanaan pekerjaan. Keterlambatan pembayaran
Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
40
sendiri adalah merupakan hal yang sangat fatal dan sangat disayangkan untuk terjadi mengingat tujuan perusahaan adalah meminimalisirkan pengeluaran dan mengefisienkan waktu.
Kerangka Berfikir
Pengurusan kedatangan dan keberangkatan kapal baik kapal penumpang maupun kapal barang harus mengikuti ketentuan setiap petugas (Instansi Pemerintah). Setiap pengurusan dokumen memerlukan biaya. Biaya-biaya yang di keluarkan akan masuk ke dalam kas negara yaitu Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Biaya PNBP, khususnya untuk pembayaran jasa labuh, jasa alih muat, jasa sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) mempunyai cara bayar yang berbeda yaitu dengan menggunakan billing an mempunyai batas waktu pembayaran selama 1 minggu.
Jika melewati waktu yang telah ditetapkan akan dikenakan sanksi yaitu dikeluarkannya Nota Denda dengan perkalian 2% dari nota yang harus dibayarkan. Oleh karena itu sangat penting bagi setiap perusahaan pelayaran menyiapkan biaya/dana untuk pengurusan operasional kapalnya dan membayarnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan menghindari keterlambatan pembayaran. Oleh sebab itu diperlukannya penelitian untuk mengetahui sebab terjadinya keterlambatan dalam pembiayaan agar dapat mengantisipasinya.
Definisi Operasional
Agar lebih memudahkan pengertian tentang maksud dan tujuan penelitian dalam kaitannya dengan topik yang dibahas, maka pada bagian ini penulis akan menguraikan suatu rumusan atau definisi operasional mengenai beberapa indikator yang digunakan untuk menjelaskan yang diteliti dan dibahas seperti berikut:
Biaya merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan pihak perusahaan demi kepentingan dan kelancaran perusahaandalam rangka menghasilkan laba yang merupakan tujuan utama perusahaan.
Setiap perusahaan pelayaran sudah memperkirakan biaya yang harus di
keluarkan dalam pengurusan kapalnya dari mulai tiba hingga berangkat kepelabuhan selanjutnya agar setiap pekerjaan dilakukan secara benar untuk mencapai penyelesaian suatu pekerjaan yang diharapkan, seperti perusahaan PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda.
Teknik Pengumpulan Data 1. Studi Lapangan
Penelitian yang langsung dilakukan ke objek penelitian yang diteliti guna memperoleh data, terdiri dari:
a. Observasi
Yaitu cara pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung mengenai hal yang terjadi dalam objek yang akan diteliti. Penulis melihat dan langsung terlibat dalam pengurusan pembayaran biaya- biaya yang diperlukan atau dibayarkan dalam pengurusan kapal asing pada PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda.
b. Dokumentasi
Yaitu mengumpulkan dokumen serta arsip - arsip yang berkaitan tentang keterlambatan Biaya Pembayaran Jasa Alih Muat pada PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda sebagai bahan untuk penulisan laporan tugas akhir sesuai dengan izin yang diberikan pihak perusahaan.
2. Studi Pustaka
Penulisan dalam metode ini mencari informasi dengan cara mengumpulkan data dengan membuka google dan mengutip teori dari buku-buku serta peraturan pemerintahan yang berhubungan dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengumpulan data dan permasalahan yang ditemukan,
selanjutnya akan dibahas kasus
Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
41
keterlambatan pembayaran Jasa Alih Muat MV Kanoura. Adapun alur proses keagenan hingga permasalahan yang terjadi dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1.
Seperti yang dapat kita lihat pada alur keagenan, langkah pertama yang dilakukan keagenan dalam mengageni kapalnya adalah membuat surat Pembertitahuan Rencana Kedatangan Kapal atau Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) kepada pihak – pihak Instansi Pemerintah yang terkait. Kemudian saat kapal MV Kanoura datang dan berlabuh di Muara Berau, maka Pihak Perusahaan Keagenan, Kantor Bea dan Cukai, dan Kantor kesehatan Pelabuhan melakukan pemeriksaan dokumen dan keadaan kapal (Checking). Setelah di lakukannya pemeriksaan di atas kapal maka dokumen akan dibawa ke kantor PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda untuk dibuatkan memorandum dan dimasukkan ke KSOP sebagai tanda Clearance In. Memorandum di buat untuk dapat mengetahui dimana tempat terbitnya sertifikat kapal serta tanggal dibuat dan
tanggal berlakunya sertifikat tersebut.
Selanjutnya PT Penascop terus memantau perkembangan kapal yang diageninya apakah sudah mulai memuat atau masih menunggu tongkang yang membawa muatan. Pada studi kasus ini MV Kanoura memuat muatan batubara sebanyak 60.500 MT. Saat kapal sudah mulai memuat, keagenan akan membuatkan surai izin Bongkar Muat Barang Berbahaya (BMBB) yang disertai Stowage Plan dan Surat Rencana Kegiatan Bongkar Muat (RKBM) yang sebelumnya telah dibuat oleh pihak PBM PT Tirta Sarana Borneo. Pembayaran jasa akan mulai dilakukan dari jasa Vessel Traffic Services (VTS), Jasa labuh, Jasa Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) dan Jasa Log Book.
Untuk pembuatan Jasa Alih Muat pihak perusahaan agen akan memastikan terlebih dahulu jumlah muatan yang pasti, karena jika jumlah muatan diatas kapal berbeda dengan yang ada di nota jasa dapat menyebabkan perselisihan pembayaran.
Jika jumlah muatan telah dipastikan dan telah dikonfirmasi oleh pihak kapal barulah Jasa Alih muat akan dibuat. Tetapi untuk pembayaran PNBP Jasa Labuh, Jasa Alih Muat Dan Jasa SBNP menggunakan billing pembayaran yang dikarenakan jumlah pembayaran jasa tersebut sangat besar, oleh karena itu untuk memudahkan pembayaran pihak Syahbandar membuatkan billing pembayaran yang nantinya akan langsung dibayarkan ke bank oleh pihak perusahaan.
Saat kapal telah selesai memuat dan semua pembayaran telah dibayarkan serta dokumen – dokumen persyaratan telah lengkap maka akan dilakukan Proses Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB)/Clearance Out. Tetapi dalam kasus penelitian ini PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda melakukan keterlambatan pembayaran jasa alih muat sehingga pihak perusahaan tidak bisa langsung memproses clearance out. Pihak Kantor Syahbandar akan membuatkan billing pembayaran kedua dan beserta nota denda. Pihak perusahaan keagenan harus menyelesaikan pembayaran jasa alih muat dan membayar denda terlebih dahulu untuk
Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
42
bisa memproses Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB)/Clearance Out.
Pembahasan
1. Penyebab Keterlambatan Pembayaran Jasa Alih Muat MV Kanoura. Adapun penyebab terjadinya keterlambatan pembayaran pada Studi Kasus MV Kanoura ini disebabkan oleh keterlambatan pengiriman dana dari pihak shipper (PT Krida Makmur Bersama) kepada perusahaan keagenan PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda. Billing tagihan pertama yang dikeluarkan oleh pihak Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan atas Jasa Alih Muat + Jasa PBM dengan jumlah total pembayaran Rp.
79.196.315. Billing tagihan Jasa Alih Muat ini memiliki batas waktu pembayaran selama 1 minggu dari tanggal 16/04/18-23/04/18. Namun hingga pada tanggal jatuh tempo pembayaran PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda belum melakukan pembayaran juga sehingga diterbitkan lah billing tagihan kedua.
Billing tagihan kedua ini sama seperti dengan billing tagihan pertama dan mempunyai batas pembayaran selama 1 minggu juga dari tanggal 24/04/18- 01/05/18. Pada kasus ini PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda langsung melakukan pembayaran pada hari itu juga setelah dikeluarkannya billing tagihan kedua Jasa Alih Muat.
2. Sanksi yang Diberikan Terhadap Perusahaan
Karena keterlambatan pembayaran PNBP Jasa Alih Muat ini, maka sanksi yang diberikan Pihak Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan adalah mengenakan sanksi/denda kepada Perusahaan Pelayaran PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda sebesar 2% dari jumah nota yang harus dibayarkan pada jasa alih muat. Nota denda ini hanya dikeluarkan apabila ada perusahaan pelayaran yang telah melanggar peraturan. Nota ini dibuat berdasarkan dengan kode billing yang ada di billing tagihan.
Nota Denda
(Jumlah Nota Tagihan x 2%) Rp. 79,196,315 x 2% = Rp. 1,583,927 Jadi, jumlah sanksi yang harus dibayarkan PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda kepada pihak kantor syahbandar dan otoritas pelabuhan adalah sebesar Rp. 1.583.927 Berikut adalah perhitungan yang ada di Nota Jasa Alih Muat pada gambar di atas Nota Jasa Alih Muat Jasa Batubara Jasa Barang:
Jumlah Muatan (MT) x 1300 Jasa PBM :
Jumlah Muatan (MT) x 903 x 1%
Jasa Barang Jasa PBM
: 60500 MT x 1300 : 60500 MT x 903 x 1%
= Rp. 78,650,000
= Rp. 546,315 + 79,196,315
Pada kasus keterlambatan pembayaran PNBP Jasa Alih Muat MV Kanoura, PT Penascop langsung membayarnya di hari billing kedua dan nota denda diterbitkan, karena mengingat kapal telah selesai memuat atau complete loading dan harus segera memproses Surat Persetujuan Berlayar (SPB)/Clearance Out.
Keterlambatan pembayaran ini berdampak pada proses pengurusan dokumen kapal yang lainnya yang harus diurus juga karena di PT Penascop tidak hanya mengurusi 1 kapal saja. Kerugian yang di timbulkan juga adalah perusahaan dirugikan atas pengenaan denda yang harus mengeluarkan dana lebih untuk membayar denda.
KESIMPULAN Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pembahasan tersebut, setelah penulis mempelajari serta menguraikan masalah tentang Keterlambatan Biaya Pembayaran Pengurusan Kapal Pada PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda dalam Studi Kasus : Pembayaran Denda PNBP Jasa Alih Muat MV Kanoura, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Penyebab Keterlambatan Pembayaran PNBP Jasa Alih Muat MV Kanoura terjadi karena PT Penascop Maritim Indonesia Cabang Samarinda menunggu pengiriman dana dari
Maulita, Jurnal Maritim, Vol.10 No. 1 Juni 2019. ISSN: 2086-1419
43
pihak Shipper (PT Krida Makmur Bersama).
2. Sanksi yang diberikan oleh Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Samarinda adalah dengan membayar denda sebesar 2% dari jumlah yang tertuang di Nota Jasa Alih Muat.
DAFTAR RUJUKAN
Lestari, Wiwik, & Permana, Bagus Dhyka. (2007). Akuntansi biaya.
PTRajaGrafindo Persada. Depok Soewedo, Hananto. (2010). Manajemen
Perusahaan Pelayaran. Rajawali Pers. Jakarta
Terry, George, R. (2000). Dasar-dasar Manajemen. PT Bumi Aksara.
Jakarta
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2016 Tenang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementian Perhubungan.
Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor:
KU.404/2/11/DJPL-15 Tentang Cara Penerimaan, Penyetoran, Penggunaan Dan Pelaporan Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 Tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.
https://www.trigonalmedia.com/2015/03 /pengertian-biaya-menurut-para- ahli.html (10 Februari 2018).
http://www.landasanteori.com/20 15/07/pengertian-
biaya.operasional-makalah.html (10 Februari 2018).
http://perkapalanid.blogspot.co.id/2017/0 2/pengertian-syahbandar-dan- fungsinya.html (10 Februari 2018).
https://www.apaarti.com/keterlambatan.
html (8 Mei 2018).