''
··�•
•
MENTERI .DALAM NEGERI REa\JUBUK INDONESIA
BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA RAPAT a.:ERJA KOMISI II DPR-Rl
RUU TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004
JAKARTA1 23 JANUARI 2008
ARSIP
DPR RI
MENTERI DALAM N.EGERI REPUBLIK INDONESIA
BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA RAPAT l(ERJA KOMISI II DPR-RI
RUU TENTANG PERUBAIIAN I(EDUA ATAS ·uNDANG
UNDANG NOMOR 32 TAIIUN 2004 RABU, 23 JANUARI 2008
Assalamu 'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Salani Sejahtera untuk kita se111ua.
Yth. J(etua dan Wakil J(etua l(o1nisi II DPR RI,
Yth. Anggota l(omisi II DPR RI dan hadirin yang saya hormati.
Pertama-tan1a mari kita pa_njatkan puji dan syukur ke hadirat Allqh SWT, karena pada hari ini kif a dapat hadir dalam Rapat Kerja Komisi II DPR-RI, dengan agenda tanggapan Pen1erintah terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Non1or 32 Tahun 2004 tentang Pen1erintahan Daerah.
Kehadiran kami dalam rangka n✓1evvakili Presiden RI berdasarkan surat Menteri Sekretaris Negara llomor : B- 677/MSesneg/D-4/12/2007 tanggal 28 Desember 2007 perihal Ran·cangan Undang-Undang .: terztang Perub4han Kedua. Atas Undang-Undang. Nomor 32 .Tah�tn 2004 ientang Penierintahan Daerah, untuk membaha� Rancangan Undang-Undang tersebut bersan1a DPR-RI.
ARSIP
DPR RI
Berdasarkan drqfi Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan J(edua . Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dari DPR-RI yang telah kami terima, bahwa DPR-RI telah menyusun rnateri perubahan atas Pasal 56 ayat (2), Pasal 59 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai hasil Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-V/2007. Selain materi perubahan yang diamanatkan oleh Putusan Jvlahkan1ah Konstitusi tersebut, DPR-RI telah nienyusun Pasal-Pasal perubahan lainnya yang merupakan implikasi dai"i perubahan Pasal 56 ayat (2), Pasal 59 ayat (I), ayat (2) dan ayat (3)lJndang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, yaitu berkaitan dengan persyaratan untuk niaju sebagai calon perseorangan, dukungan lJ1asyarcikat, serta ja1ninan dala111 bentuk uang bagi ca/on perseorangan dan tatacara verifikasi KPUD terhadap dukungan yang diberikan n1asyarakat kepada calon perseorangan.
Sebagaimana draft Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Non1or 32 Tahun 2004 tentang Pen1erintahan Daerah dari DPR-RI, Pemerintah telah 1nempersiapkan tanggapan atas Rancangan Undang-Undang tersebut, yang sekaligus Pemerintah n1engusulkan beberapa materi perubahan Undang-Undang Nonzor 32 Tahun 2004, yaitu : pengisian kekosongan jabatan_ Wakil Kepala Daerah, peninjauan kenibali jadwal Pilkada Bulan Desember 2008 dan perluasan integrasi Pemilu Gubernur dengan Pemilu Bupati/Walikota, Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah incumbent yang akan dicalonkan kembali harus mengundurkan diri dan pe1nberlakuan perubahan kedua Undang-Undang No,nor 32 Tahun 2004 (Ketentuan Peralihan).
Pimpinan dan Anggota I(omisi II DPR-RI yang kami liormati, Berkenaan dengqn pokok-pokok substansi perubahan kedua UU No. 32 Tahun 2004 yang diusulkan .oleh Pen1erintah, bersama ini kami paparkan dalani bentuk matriks sandingan RUU Usu/ DPR dan Usu! Penierintah sebagai berikzU:
ARSIP
DPR RI
_,,-·-.
1. Ca/011 Perseorangan.
a. Definisi Calon Perseorangan
RUU DPR-RI ,nengusulkan definisi ca/on perseorangan adalah pasangan calon yang diajukan oleh sejunzlq,h orang.
Pemerintah mengusulkan perubahan definisi ca/on perseorangan adalah calon peserta Pemilu l(epala Daerah yang dalam pencalonannya tidak diusulkan oleh Partai Politik atau gabungan Partai J-•olitik, n1,elainkan berdiri sendiri untuk n1engajukan dirinya dalam. pencalonan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
b. Jumlah Dukungan Pendu_duk untuk Pemilihan Gubernur.
R UU DP R-RI mengusulkan jumlah dukungan penduduk untuk pemilihan Gubernur dda 7 (tujuh) tingkat, yaitu:
1) Jumlah penduduks/d 1 juta, perlu dukungan 15 % 2) Jumlah penduduk 1 sld 3 juta, perlu dukungan 13 �&
3) Jumlah penduduk 3 s/d 5 juta, perlu dukungan 11 % 4) Jumlah penduduk 5 s/d 7 juta, perlu dukungan 9 % 5) Jumlah penduduk 7 s/d_9 juta, perlu dukungan 7 % 6) Jumlah penduduk 9 s/d 12 juta, perlu dukungan 5 %
7) Jumlah penduduk lebih dari 12 juta, perlu dukungan 3 % Sedangkan Pemerintah mengusulkan jumlah dukungan penduduk untuk pemilihan Gubernur cukup 4 (empaO tingkat, yaitu:
1) Jumlah penduduk s/d 2 juta, perlu dukungan 6,5 % 2) Jumlah penduduk 2 juta s/d 6 juta, perlu dukungan 5 % 3) Jumlah penduduk 6 Juta s/d 12 juta, perlu dukungan 4 % 4) Ju,nlah penduduk lebih dari 12 juta, perlu dukungan 3 %
Usulan pemerintah tersebut didasarkan pertimbangan bahwa besaran maksimal dukungan penduduk maksimal 6, 5% dari }um/ah penduduk, karena jumlah dukungan cal on oleh Partai . Politik dan /atau gabungan partai politik
15% dari jumlali suara sah
sejatinya nilainya setara dengan6,5% dari ju11ilah penduduk,
dengan penjelasan sebagai berikut:ARSIP
DPR RI
1) Jumlah suara sah adalah sania denganjumlah orang-orang yang mempunyai hak pilih dan datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) 1nenggunakan hale pilihnya
(mencoblos) dengan benar.
2) Junilah orang-orang yang mempunyai hak pilih � (setara) 60% dari ju,nlah penduduk
3) Orang-orang yang mempunyai hale pilih dan datang ke TPS
== Tingkat partisipasi (73%) _
4) Dengan demikian 15% dari jumlah suara yang sah adalah setara dengan 15% x 60% x 73% darijumlah penduduk
=
6,5%
Selain itujika usulan dukungan 15% dari DPR RI direalisir, maka justru akan- memberi peluang besar bagi calon perseorangan untuk memenangkan Pilkada, karena secara riil calon perseorangan telah 1nampu 1nenggalang dukungan
=
15% dari jumlah penduduk setara dengan 15% : (60% x 73%) dari jumlah suara sah = 34% dari junzlah suara sah.
Sedangkan untuk pembagian dukungan secara bertingkat, pen1erintah berpendapat cukup 4 tingkat dengan pertimbangan untuk kepraktisan dan 5 � 1 O_ Tahun ke depan ju1nlah provinsi yang penduduknya dibawah 1 juta akan makin berkurang dan bahkan menjadi tidak ada, karena selain pertambahan penduduk dan ada kecenderungan perpindahan penduduk ke tempat-tempat daerah otonom baru tern1,asuk Provinsi.
Dengan usulan pemerintah tersebut maka komposisi jumlah dukungan ca/on perseorangan dalan1, Pemilihan Gubernur sebagai-berikut:
1) Jun1,/ah penduduk s/d 2 juta, perlu dukungan 6,5 % sebanyak 8 ( delapan) Provinsi terdiri dari : Provinsi Bangka Belitung, ·Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat, l(epulauan Riau, Bengkulu, dan Maluku.
2) Junzlah penduduk 2 juta s/d 6 juta, perlu dukungan 5 % sebanyak 16 Provinsi terdiri dari Provinsi Kalteng, Kalbar,
ARSIP
DPR RI
Sultera, Papua, Ja,nbi, Kaltinz, sulteng, Sulut, DIY, Bali, J(alsel, NAD, Riau, Su,nbar, 1VTB, dan NTT
3) Jumlah periduduk 6 juta s/d 12 juta, perlu dukungan 4 % sebanyak 5 Provinsi terdiri dari Provinsi Sun1sel, Lampung, Sulsel, Banten, dan DK.I Jakarta.
4) Jumlah penduduk lebih dari 12 juta, perlu dukun'gan 3 % sebanyak 4 Provinsi terdiri dari Provinsi Sun1atera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Tilnur.
c. Jumlah Dukungan
Bupati/Walikota. Penduduk untuk Pemilihan RUU DPR-RI n1engusulkan jumlah dukungan penduduk untuk pemilihan Bupati/Walikota ada 7 (tujuh) tingkat, yaitu :
I) Jumlah penduduks/d 100.000, perlu dukungan 15 %
2) Jun1lah penduduk 100. 000 s/d 200. 000, perlu dukungan 13 3) Junzlah penduduk 200.000 s/d 300.000, perlu dukungan 11% 4) Junzlah penduduk 300.000 s/d 400.000, perfu dukungan 9 %. % 5) Jun1lah penduduk 400.000 s/d 500.000, perlu dukungan 7 % 6) Jumlah penduduk 500.000 s/d 1.000.000, perlu dukungan 5 7) Jumlah penduduk lebih dari 1. 000. 000, perlu dukungan 3%
%.
Sedangkan Pe,nerinta.h mengusulkan jiunlah dukungan penduduk untuk pemilihan Bupati/Walikota cukup 4 (empat) . tingkat, yaitu
1) Jumlah penduduksld 250.000, perlu dukungan 6,5 %
2) Jumlah penduduk 250.000 s/d 500.000, perlu dukungan 5 % 3) Jun1,lah penduduk500; 000 s/d 1 juta, perlu dukungan 4 % . 4) Jumlah penduduk lebih dari 1 juta, perlu dukungan 3 %
Pertimbangan usulan pen1erintah tersebut sama dengan pertimbangan 'pada jun1lah dukungan dalam Pemilihan Gubernur dengan besaran 1naksilnal 6, 5 % dan untuk pembagian dukungan secara bertingkat, pe,nerintah
ARSIP
DPR RI
berpendapat cukup 4 tingkat dengan pertbnbangan untuk kepraktisan.
d. Bentuk dukungan penduduk kepada pasangan Ca/on Perseorangan
RUU DPR-RJ mengusulkan surat dukungan di atas segel atau n1aterai dan dilarnpiri fotocopy J(TP atau identitas diri lainnya.
Sedangkan usulan pe1nerintah, untuk identitas lain diganti surat keterangan kependudukan, dala,n rangka tertib adm inistras i.
e. Uang Jaminan untuk Pe.milihan Gubernur, Bupati/Walikota RUU DPR-RJ rnengusulkan adanya uang ja,ninan untuk pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota.
1) Untuk pen1ilihan Gubernur dari calon perseorangan sebesar:
• Jumlah penduduk s/d 1 juta, sebesar Rp. 200 juta.
• Jumlah penduduk 1 sld 3 juta, sebesar Rp. 400 juta.
• Jumlah penduduk 3 sld 5 juta, sebesar Rp. 600 juta.
• Jumlah penduduk 5 sld 7 juta, sebesar Rp. BOO juta.
• Jumlahpenduduk 7 s/d 9 juta, sebesar Rp. 1 milyar.
• Jumlah penduduk 9 s/d 12juta, sebesar Rp. 1)2 milyar.
• Jumlah penduduk lebih dari 12 juta, sebesar Rp. 1,4 milyar.
2) Untuk pemilihan Bupati/Walikota dari ca/on perseorangan sebesar:
• Jumlah penduduk s/d 100. 000, sebesar Rp. 50 juta.
• Jumlah penduduk 100. 000 sld 200. 000, sebesar Rp. 100 juta.
• Jumlah penduduk 200�000 s/d 300.000, sebesar Rp. 150 juta.
• Jumlah penduduk 300.000 s/d 400.000, sebesar Rp. 200 juta.
ARSIP
DPR RI
• Ju,nlah penduduk 400.000 s/d 500.000, sebesar Rp. 250 juta.
• Jumlah penduduk 500. 000 s/d 1 juta, sebesar Rp. 300 juta.
• Ju,nlah penduduk lebih dari ljuta, sebesar Rp. 350.000 juta.
Sedangkan pe1nerintah mengusulkan ca/on perseorangan tidak n1e1nerlukan deposit (uang jaminan), karena sesuai dengan prinsip equality, bahwa per�yaratan nzelalui Parpol atau gabungan Parpol tanpa ada syarat deposit.
f· Harmonisasi Ju,nlah Pasangan Calon Perseorangan dengan Usulan Parpol/Gabungan Parpol.
RUU DPR-RI tidak n1engusulkan adanya hannonisasilkeseimbangan ju1nlah pasangan ca/on perseorangan dengan usulan pasangan ca/on dari Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, sehingga Pemerintah memandang perlu untuk n1engusulkan hannonisasi tersebut sebagai berikut
• Apabila dari Parpol/gabungan Parpol 1 pasangan, maka calon perseorangan 1 pasangan (50% berbanding 50%).
• Apabila dari Parpol/gabungan Parpol 2 pasangan, n1aka calon perseorangan 1 pasangan (66, 7% berbanding 33,3%).
• Apabila dari Parpol/gabungan Parpol 3 pasangan, maka calon perseorangan 2 pasangan (60% berbanding 40%).
• Apabila dari Parpollgabungan Parpol 4 pasangan, niaka calon perseorangan 2 pasangan (66, 7% berbanding 33,3%).
• Apabila dari Parpollgabungan Parpol 5 pasangan, maka calon perseorangan 3 pasangan (62,5% berbanding 36,5%).
• Apabila dari Parpol/gabungan Parpol 6 pasangan, maka calon perseorangan ·3 pasangan (66,,7% berbanding 33,3%).
ARSIP
DPR RI
Pertilnbangan atas usu_lan perlunya hannonisasil keseimbangan jumlah pasangan calon perseorangan dengan jun1lah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik,
adalah mengacu pada konsep politik dalam suksesi kepe,nimpinan nasional sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 6A ayat (2) UUD Negara RI Tahun 1945 bahwa pasangan calon Presiden dan· Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pen1ilihan umum. Dalam pada itu suksesi kepe,nilnpinan di tingkat daerah yang merupakan jenjang suksesi di baltvah nasionalj idealnya selaras dengan sistem ·yang dianut secara nasional.
Namun realitas menunjukkan bahwa pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik dan latau gabungan partai politik dipandang masih be/uni men1enuhi harapan rnasyarakat, sehingga munculnya pasangan calon perseorangan hendaknya untuk fflendorong parpol dalam mengusung para pasangan calon akan lebih berkualitas, sesuai harapan masyarakat.
Namun demikian munculnya pasangan calon perseorangan jangan sampai lebih do,ninan dari pada pasangan calon ,nelalui partai politik, karena akan nzengkaburkan keselarasan konsep politik dalam suksesi kepemirnpinan nasional. Untuk itulah pemerintah mengusulkan konsep politik dalan,z suksesi kepemimpinan daerah hendaknya tidak nienjadi bertolak belakang dengan konsep politik suksesi kepe1nin1pinan
· nasional, sehingga fitngsi dari ,nunculnya pasangan calon perseorangan adalah sebagai stimulus dan penyein1bang agar pasangan calon yang nzuncul dapat memenuhi harapan rakyat.
g. Ketentuan Pidana
RUU DPR-RI mengusulkan ketentuan pidana,_ bahwa setiap orang dengan sengaja memberikan keterangan tidak benar atau menggunakan identitas palsu sebagai persyaratan nzendukung calon perseorangan yang mengakibatkan calon kehilangan haknya · untuk mencalonkan diancam pidana
ARSIP
DPR RI
penjara 7 sampai dengan 12 hari dan I atau denda Rp.
600.000 sampai dengan Rp. 6 juta.
. Pen1erintah 111engusulkan perubahanyaitu "Setiap orang yang dengan sengaja mernberikan keterangan tidak benar atau 1nenggunakan identitas diri palsu untuk mendukung bakal calon perseorangan diancam dengan pidana penjara 7 sampai dengan 12 hari dan I atau dengan Rp. 600. 000 sanipai dengan 6 juta ".
Pertimbangan pemerintah atas usu/an tersebut, bahwa sanksi tersebut hendaknya . dikenakan kepada setiap orang yang memberikan keterangan yang tidak benar atau ,nenggunakan identitas diri palsu untuk mendukung
bakal
pasangan calon perseorangan, baik itu akc,,n n1engakibatkan bakal calon/calon kehilangan haknya tnaupun tidak kehilangan haknya, agar ,nasyarakat setiap orang tidak berspekulasi untuk melakukan pelanggaran dimaksud.h. Pe,nberlakuan Calon Perseorangan di Aceh dan Papua.
RUU DPR-RI mengusulkan agar ketentuan mengenai calon perseorangan tidak diberlakukan di Aceh clan Papua,
sebagain1ana dian1anatkan dengan Undang-Undang lVomor 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua dan Undang-Undang No,nor 11 Tahun 2006 tentang pe1nerintahan Aceh.
Pen2erintah berpendapat agar ketentuan n1engenai calon perseorangan ini diberlakukan juga di Aceh dan Papua. Hal ini din1aksudkan untuk memberikan kese,npatan yang san1a bagi setiap warga Negara Indonesia dimana saja berada untuk ikut serta dalan1 pemerintahan. Kondisi 1nasyarakat Aceh dan Papua yang diatur dala,n Pasal 256 UU No. 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh hanya untuk pertama kali Pilkada Aceh, ··yaitu Tahun 2006 dan untuk selanjutnya mengikuti UU No .. 32 Tahun 2004. Sedangkan untuk Papua dalan1, Pilkada saat ini fuga ,nengikuti ketentuan yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 dan PP No. 6 Tahun 2005
ARSIP
DPR RI
tentang Pen1ilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pe,nberhentian l(epala Daerah dan Wak;/ Kepala Daerah.
2. Pengisian /(ekos<!ngan Wakil J(epala Daerah.
RUU DPR-RI tidak 1nengusulkan adanya pengaturan tentang pengisian kekosongan Walcil Kep·aza daerah, na,nun Pemerintah n1en1andang perlu untuk mengusulkan penatnbahan ayat (4) dan ayat (5) dalam Pasal 26 UU No. 32 TH 2004, yaitu mengisi kekosonganjabatan Wakil l(epala Daerah karena:
a. Menggantikan KDH yg meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melaksanakan ke·wajiban selan1a 6 bu/an terus n11enerus.
b. Meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat n1,elaksanakan kewajiban sela1na 6 bu/an terus menerus.
Pertimbangan pen1erintah 1nengusulkan adanya pengaturan untuk pengisian kekosongan Wald/ Kepala Daerah berkenaan dengan kebutuhan mendesak adanya kekosongan hukum bagi pengisian Wakil Kepala Daerah yang kosong dimaksud adalah:
a. untuk kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah, yaitu terkait dengan tugas wakil kepala daerah sebagaimana yang dia,nanatkan dalam UU No. 32 Tahun 2004, seperti mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, 1nenindaklanjuti laporan dan/atau te,nuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya - dan lingkungan hidup, serta mewakili tugas
tugas Kepala Daerah jika berhalangan.
b. mengakhiri pro dan kontra terhadap pengisian Wakil Kepala Daerah yang dapat menimbulkan konflik horizontal
c. Menghindari konflik SARA akibat kebutuhan pimpinan daerah (Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah) yang harus berlatar belakang agama yang berbeda.
Perlu diketahui bahwa sampai dengan saat ini terdapat 8 Wakil l(epala Daerah yang kosong, karena menggantikan Kepala
ARSIP
DPR RI
Daerah yang n1.eninggal atau berhenti/1neninggal dunia yang me,nerlukan payung hukum. untuk mengisinya.
3. Peninjauan l(enibali Jadwal Pilkada Bulan Dese111ber 2008 dan Perluasan lntegrasi Peniilu Gubernur deng'!n Pe111ilu B upati/W alikota.
RUU DPR-RI .tidak rnengusulkan adanya pengaturan tentang peninjauan ken1bali jadwal Pilkada B·ulan Desen1ber 2008,
namun dalam rang/ca untuk n1engamankan agenda nasional Pe,nilu DPR, DPD dan DPRD serta untuk efisiensi dan efektivitas Pemilu Kepala daerah, Pemerintah memandang perlu mengusulkan juga untuk 1nen1ajukan Pen1ilu Kepala Daerah yang akan dilaksanakan pada bulan Desember 2008 dapat diakomodir dalam perubahan kedua Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, dengan usulan sebagai berikut:
• Kepala Daerah yang 1nasa jabatan berakhir bulan Januari sld Juli 2009 pelaksanaan Pen/zilu J(epala Daerah pada bulan dan Tahun yang tidak 1nengganggu Penzilu DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden.
• Gubernur dan Bupati/VValikota yang berakhir 1nasa jabatan pada Tahun yang san1a atau berdekatan, Pelaksanaan Pe,nilu
Kepala Daerah dilaksanakan pada hari yang san1a.
Hal ini dilnaksudkan untuk mengamankan/n1ensukseskan agenda Nasional, yaitu Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD yang sangat kon1pleks serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
Sebagaimana diketahui bahwa tahapan Pen1ilu DPR, DPD, dan DPRD sudah dimulai pada. bulan September 2008 dan pemungutan suaranya pada awalApril 2009, sehingga jika ada Pilkada bu/an Desember 2008, berarti tugas KPUD selain n1enyiapkan Pemilu DPR, DPD, dan DPRD, juga harus l'nelaksanakan Pilkada, belum lagi kalau sa,npai ada Pilkada putaran kedua.
Selain itu juga untuk efisiensi dan efektifitas, pewlilihan Gubernur dan Bupati/Walikota yang berdekatan atau pada
ARSIP
DPR RI
Tahun yg san1.a, pen1ungutan suara,�ya dapat dilaksanakan pada hari yang sama. s_ebagailnana diketahui bahwa pada Tahun 2008 terdapat Pilkada Gubernur sebanyak 13 Gubernur, sehingga jika pelaksanaakan Pilkada Gubernu dpt diperluas tdk hanya kepada Kabupaten/Kota yang n1e1npunyai selisih vvaktu 30 hari, ,naka dana APED yang akan dihemat cukup besar. Lebih-lebih bagi NTT yang 1nen1iliki APED terbatas, telah mengusulkan penyatuan Pilkada Gubernur dengan seluruh Kabupaten/Kota yg akan melaksanakan Pilkada pada Tahun 2008.
4. Kepala Daerali/wakil J(epala Daerah Incunibent yang akan Dicalonkan J(eyzbali Ha_rus Mengundurkan Diri.
Eerkenaan dengan adanya aspirasi ,nasyarakat yang menghendaki Kepala Daerah/vvakil Kepala Daerah yang n1encalonkan ken1.bali sebagai Kepala Daerah/VVakil Kepala Daerah harus mengundurkan diri agar pelaksanaan Penlilu Kepala Daerah dapat berjalan lebih denzokratis, fairness, dan berbagai ekses akibat pengaruh jabatan dapat di,ninimalisir, maka Pemerintah n1.engusulkan untuk materi int juga dapat diakomodir dalanz perubahan kedua Undang-Undang _No,nor 32 Tahun 2004, dengan usu/an penan1.bahan persyaratan calon Kepala Daerah dan rVakil Kepala Daerah dalam Pasal 58 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dengan tan1bahan huruf q "Bagi J(epala Daerah/Wakil J(epala Daerah yang nzasih menduduki jabatan mengundurkan diri sejak mendaftar ,,_
5.
Pe,nberlakukan Perubahan J(edua Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 (l(etentuan Peralihan)
RUU DPR-RI tidak . mengusulkan ketentuan peralihan yang terkait dengan daerah-daerah yang sedang melaksanakan Pilkada.
Untuk memberikan pedon1.an yang jelas bagi daerah-daerah yang sedang melaksanakan Pilkada, pada saat diberlakukannya perubahan Kedua Undang-Undang Non1or 32 Tahun 2004,
Pemerintah mengusulkan pada ketentuan peralihan sebagai berikut : Pelaksanaan Pe1nilu .Kepala daerah yang telah
ARSIP
DPR RI
berlangsung 2 (dua) bulan sebelun-z tahapan pendaftaran Pasangan ca/on pada saat Undang-Undang ini berlaku, tetap berpedoman pada Undang-Undang No,nor 32 Tahun 2004.
Pi111pinan dan /-lnggota J(o111isi II DPR-RI dan Hadirin yang ka,ni honnati.
Melihat konstelasi waktu penyelesaiannya dan dengan nze,naharni substansi ,nateri R UU sebagailnana diuraikan diatas _ maka pada rapat_ kerja hari ini perkenankan ka,ni n1,enya1npaikan saran dan pendapat mengenai mekanisn1.e pe1nbahasan RUU tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai berikut :
1. Kiranya dapat disepakati terlebih dahulu substansi dan Pasal
Pasal Undang-Undang Non1or 32 Tahun 2004 yang akan dilakukan perubahan.
2. Selanjutnya pembahasan perubahan atas Pasal 56 ayat (2), Pasal 59 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang No1nor 32 Tahun 2004 dan implikasi terhadap Pasal-pasal lainnya.
3. Pada tahapan berikutnya dapat dibahas pasal-pasal yang merupakan pengaturan baru atau merupakan pengen1bangan dan penyempurnaan dari peraturan yang telah ada sebelun2nya.
Den1ikian saran kanzi menienai 1nekanisn1e pe,nbahasan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pe,nerintahan Daerah yang bersifat ko�iprehensifdan tuntas sehingga dapat kita selesaikan dengan ·waktu yang tidak terlalu lan1a, dengan tidak mengurangi kualitas produk yang akan dihasilkan dan tetap me,nperhatikan norma-norma penyusunan perundang-undangan sebagaimana telah ditentukan.