* Corresponding author
E-mail address: [email protected]
Pengaruh Padat Tebar Belut Sawah (Monopterus albus) yang Dipelihara
dalam Media Lumpur Terhadap Pertumbuhan Dan Kelulushidupan
The Effect of Stocking Density of Eel (Monopterus albus) Reared In Mud
Media on Growth And Survival
Abdul Rahman Siregar1*, Niken Ayu Pamukas2, dan Iskandar Putra2
1) Mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau 2) Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau
INFORMASIARTIKEL Diterima: 20 Januari 21 Distujui: 17 Februari 21 Keywords: Monopterus albus ABSTRACT
This study aims to know the effect of stocking density of eel (Monopterus albus) reared in mud media on growth and survival. The research was carried out in March 3, 2020 - April 12, 2020 at the Fish Hatchery Unit, Faculty of Fisheries and Marine, Riau University. The test animals in this study were rice field eels (Monopterus albus) with a size of 14 cm - 16 cm, as many as 252 animals were spread into 12 buckets. Using experimental method of completely randomized design (RAL), one factor with four treatments and three replications. The treatments were different stocking density P1 = 200 ind/m3, P2 = 300 ind/m3, P3 = 400 ind/m3, P4 = 500 ind/m3. The results showed that of eel (Monopterus albus) stocking density reared in mud media had a significant effect (P <0.05) on absolute weight growth, specific growth rate, feed conversion ratio but had no significant effect on survival (SR). The best treatment was at stocking density P1 200 ind/m3 with an absolute weight yield of 6.96 g, absolute length 8.96 cm, specific growth rate 2.35%, feed conversion ratio (FCR) 1.23, and survival (SR). 80.55%. The range of water quality during the study, namely, temperature 27-29.9ºC, pH 6-7, dissolved oxygen 6.17.4 mg / L, and ammonia ranged from 0.03-0.06 mg / L.
1. PENDAHULUAN
Belut sawah (Monopterus albus) merupakan salah satu komoditas potensial budidaya karena memiliki permintaan pasar yang tinggi terutama pasar ekspor. Permintaan belut yang terus meningkat dikhawatirkan dapat mengurangi populasi belut di alam, karena belut yang ada di pasaran merupakan belut hasil tangkapan. Selain itu, penangkapan belut hanya dapat dilakukan pada musim hujan sehingga suplai belut tidak dapat dilakukan secara kontinyu. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan budidaya belut. Budidaya belut yang dilakukan selama ini belum intensif sehingga produksi masih rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi adalah dengan usaha pembenihan secara intensif melalui peningkatan padat tebar (Effendi et al., 2006).
Budidaya perikanan intensif menggunakan padat penebaran dan dosis pakan yang tinggi. Peningkatan kepadatan akan diikuti dengan peningkatan hasil jika dalam keadaan lingkungan yang baik dan pakan yang cukup. Padat tebar ikan dan pertukaran air akan sangat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup dan efisiensi pakan (Sidik et al., 2002)
Padat penebaran berhubungan dengan produksi dan pertumbuhan ikan. Peningkatan kepadatan akan diikuti dengan penurunan pertumbuhan dan pada kepadatan tertentu pertumbuhan akan berhenti. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, peningkatan kepadatan harus disesuaikan dengan daya dukung. Faktor- faktor yang mempengaruhi antara lain adalah kualitas air, pakan dan ukuran ikan. Pada keadaan lingkungan yang baik dan pakan yang mencukupi, peningkatan kepadatan akan disertai dengan peningkatan hasil (produksi). (Hepher dan Pruginin, 1981).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar belut sawah (Monopterus albus) yang dipelihara dalam media lumpur terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 03 Maret 2020 – 12 April 2020 yang bertempat di UPT Pembenihan Ikan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau, Jl. Bina Widya KM 12.5, Panam, Pekanbaru, Riau
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor 4 taraf perlakuan dengan 3 kali ulangan. Adapun perlakuan pada penelitian ini yaitu P1 = Pemeliharaan dengan padat tebar 200 ekor/m3, P2 = Pemeliharaan dengan padat tebar 300 ekor/m3, P3 = Pemeliharaan dengan padat tebar 400 ekor/m3, P4 = Pemeliharaan dengan padat tebar 500 ekor/m3
Parameter yang diukur dalam penelitian ini meliputi pertumbuhan bobot mutlak (Wm), Pertumbuhan Panjang Mutlak (Lm), Laju Pertumbukan Spesifik (LPS), Tingkat Kelulushidupan (SR), Rasio Konversi Pakan (FCR) dan kualitas air. Data yang telah diperoleh ditabulasikan dan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS yang meliputi Analisis Ragam (ANAVA), digunakan untuk menentukan apakah perlakuan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak (g), pertumbuhan panjang mutlak (cm), laju pertumbuhan spesifik (%/hari), rasio konversi pakan dan kelulushidupan benih (%). Apabila uji statistic menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan dilakukan uji lanjut Stuni Newman Keuls. Data kualitas air ditampilkan dalam bentuk tabel dan dideskriptif.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan bobot mutlak, Pertumbuhan Panjang Mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS), dan Konversi pakan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil dari setiap parameter yang diukur yaitu bobot mutlak berkisar antara 3,68-6,96 g, panjang mutlak 3,85-8,96 cm, laju pertumbuhan spesifik 1,38-2,35%/ hari, dan rasio konversi pakan (FCR) 1,23-1,83. Lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengukuran pertumbuhan belut sawah (Monopterus albus)
Parameter Perlakuan
Keterangan : Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05).
Pemeliharaan dengan padat tebar 200 ekor/m3 (P1) menghasilkan laju pertumbuhan tertinggi pada belut sawah yang dipelihara dalam media lumpur, yaitu bobot mutlak 6,96 g, panjang mutlak 8,96 cm, laju pertumbuhan spesifik 2,35%, konversi pakan 1,23. Sedangkan pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan padat tebar 500 ekor/m3 (P4) yaitu bobot mutlak 3,68 g, panjang mutlak 3,85 cm, laju pertumbuhan spesifik 1,38% dan konversi pakan 1,83. Hal ini menunjukkan bahwa padat tebar 200 ekor/m3 (P1) merupakan padat tebar optimal yang mampu meningkatkan pertumbuhan belut sawah. Hasil analisis variansi (ANOVA) menunjukkan bahwa pemeliharaan belut dengan padat tebar 200 ekor/m3 (P1) memberikan pengaruh antar perlakuan (p<0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik dan rasio konversi pakan. Uji lanjut Student Newman Keuls (SNK) menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan tiap perlakuan terhadap parameter yang diamati.
Pertumbuhan bobot dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang diberikan dan diadaptasi dengan lingkungan yang baru. Bobot individu belut sawah meningkat seiring dengan waktu pemeliharaan dan pertumbuhan bobot tubuh, ini menggambarkan bahwa ketersediaan pakan dalam wadah pemeliharaan mampu dimanfaatkan untuk proses pertumbuhan yang secara nyata dapat meningkatkan pertumbuhan ikan. Pertumbuhan panjang ikan pastinya berbanding lurus dengan pertumbuhan bobot ikan, hal ini menyebabkan panjang mutlak tertinggi diperoleh pada P1 karena bobot mutlak tertinggi juga diperoleh pada P1.
Perlakuan P1 (200 ekor/m3) memberikan laju pertumbuhan bobot mutlak tertinggi yaitu 6,69 g. Hal ini diduga karena perlakuan padat tebar tersebut merupakan padat tebar yang optimal dimana belut mendapatkan ruang gerak yang luas, rendahnya kompetisi mendapatkan makanan serta ketersediaan pakan yang cukup sehingga pakan dapat dicerna dengan baik dan dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan belut. Hasil dari penelitian ini lebih baik dari penelitian terdahulu Alit (2009) dimana pertambahan berat badan dan panjang mutlak belut terbaik sebesar 0,56 g dan 0,81 cm terdapat pada padat tebar 32 ekor/m3.
Adanya perbedaan hasil akhir penelitian disebabkan oleh beberapa faktor seperti ukuran awal belut, wadah serta media pemeliharaan yang digunakan. Pertumbuhan bobot mutlak terendah terdapat pada P4 (500 ekor/m3) yaitu sebesar 3,68 g, Hal ini disebabkan oleh padat tebar yang digunakan 500 ekor/m3) diduga terlalu padat dan kurang efektif sehingga menyebabkan terjadinya kompetisi dalam mendapatkan pakan sehigga menyebabkan pertumbuhan belut akan terhambat. Pertambahan berat yang semakin menurun pada tingginya padat tebar disebabkan adanya kompetisi antara individu untuk mendapatkan makanan. Semakin padat penebaran individu dalam satuan luas maka kompetisi akan semakin ketat.
Perlakuan P1 (200 ekor/m3) memberikan laju pertumbuhan spesifik tertinggi yaitu 1,08%, Hal ini diduga karena.padat tebar yang diberikan masih tergolong optimal dan belut dapat memanfaatkan pakan dengan baik untuk pertumbuhan. Apabila jumlah organisme melebihi batas kapasitas suatu wadah, maka organisme tersebut akan kehilangan berat hal ini terjadi karena adanya kompetisi antar
P1 P2 P3 P4
Bobot Mutlak (g) 6,96±0,49d 5,65±0,36c 4,62±0,25b 3,68±0,14a
Panjang Mutlak (cm) 8,96±0,69c 7,33±0,13b 4,79±0,76a 3,85±0,46a
LPS (%/hari) 2,35±0,29c 1,92±0,25b 1,72±0,16a 1,38±0,09a
untuk mendapatkan makanan, ruang gerak maupun oksigen. Selain itu persaingan dalam hal makanan sangat penting karena kompetisi untuk memperoleh makanan lebih tinggi pada padat tebar yang lebih tinggi dibandingkan dengan padat tebar yang lebih rendah (Riani dan Ernawati, 2004). Nilai konversi pakan terendah diperoleh pada perlakuan padat tebar P1 (200 ekor/m3) yaitu sebesar 1,23 artinya untuk menghasilkan 1 kg daging dibutuhkan pakan sebanyak 1,23 kg pakan. Nilai ini lebih rendah bila dibandingkan dengan penelitian (Mashuri et al., 2012) bahwa belut sawah memiliki rasio konversi pakan sebesar 2,23. Rendahnya nilai FCR pada penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh padat tebar yang rendah dapat menekan biaya pakan yang dikeluarkan dalam budidaya belut. Padat tebar 200 ekor/m3 merupakan padat tebar yang optimal karena rasio konversi pakan dalam penelitian ini jauh baik dibandingkan dengan rasio konversi pakan pada perlakuan padat tebar tertinggi.
Kelulushidupan Belut Sawah
Kelulushidupan belut sawah yang dipelihara pada dengan padat tebar berbeda tidak memberikan pengaruh antar perlakuan (p>0,05). kelulushidupan berkisar antara 66,66- 80,55%, P1 memberikan tingkat kelulushidupan tertinggi, yaitu 80,55% dan terendah pada P4 yaitu 66,66%. Lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1.
Kelulushidupan menentukan keberhasilan dalam melakukan pemeliharaan belut. Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa kelulushidupan belut sawah mempunyai rentang dimana pada perlakuan padat tebar P1 (200 ekor/m3) sebesar 80,55%, P2 (300 ekor/m3 ) 75,92%, P3 (400 ekor/m3 ) dan P4 (500 ekor/m3) sebesar 66,66%. Kelulushidupan setiap perlakuan dikatakan cukup baik sama halnya dengan penelitian sebelumnya oleh Husen (2015) kelulushidupan belut mencapai 96,33%.
Berdasarkan hasil penelitian angka kelulushidupan terbaik diperoleh pada perlakuan padat tebar P1 (200 ekor/m3) dengan nilai 80,55% dibandingkan dengan perlakuan padat tebar tertinggi yaitu P4 (500 ekor/m3) yaitu sebesar 66,66%. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan padat tebar P1 (200 ekor/m3) belut memiliki ruang gerak yang luas, rendahnya kompetisi mendapatkan makanan serta ketersediaan pakan yang cukup sehingga pakan dapat dicerna dengan baik dan dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan.
Kualitas Air
Kualitas air memegang peranan penting sebagai pendukung kehidupan belut. Beberapa parameter kualitas air yang diukur pada wadah pemeliharaan selama penelitian memiliki nilai yang relative sama karena berasal dari sumber yang sama air media lumpur yang digunakan sebagai media pemeliharaan. Parameter kualitas air yang diamati selama penelitian meliputi suhu, pH, dan DO. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2. Pengukuran Kualitas Air Pada Setiap Perlakuan Perlakuan Parameter P1 P2 P3 P4 Standar Baku Suhu (ºC) 27,0-29,6 27,1-29,8 27,1-28,8 27,1-29,8 23-26 pH 6-7 5-7 6-7 5-7 5-7 DO (mg/L) 6,4-6,9 6,3-7,3 6,4-7,2 6,2-7,4 6,2-7,4 Amoniak(mg/L) 0,04-0,05 0,03-0,05 0,04-0,05 0,04-0,05 0,03-0,05
Suhu yang diperoleh selama penelitian berkisar antara 27,0–29,9 ºC. Menurut Alit (2009), menyatakan bahwa belut dapat hidup pada kisaran suhu antara 22ºC – 28ºC. Dari pernyataan tersebut suhu air media 27ºC layak bagi kehidupan belut mengingat belut sawah juga termasuk jenis tersebut. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Kordi (2013), yang menyatakan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan ikan. Belut hidup dan tumbuh dengan baik pada suhu 25ºC– 32ºC.
Derajat keasaman (pH) selama pemeliharaan 5 – 7. Menurut Kordi (2013),belut sawah (Monopterus albus/Fluta alba) hidup pada pH 6 –7. Nilai pH dibawah 4 atau di atas 11 menyebabkan kematian pada ikan. Berdasarkan pernyataan ini maka nilai pH 5,8 – 7.0 selama penelitian memenuhi persyaratan untuk kehidupan belut sawah.
Kandungan oksigen terlarut untuk setiap perlakuan selama penelitian berkisar antara 6,2 – 7,2 mg/l. Sedangkan menurut Kep. Men. KLH No.02/Men. KLH/I/988 tentang pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan menetapkan, bahwa kandungan oksigen terlarut yang diperbolehkan untuk badan air golongan c (perikanan) adalah lebih besar dari 3 mg/l. Dari ketentuan tersebut kandungan oksigen terlarut air media penelitian berada pada kategori sesuai dan optimal dari persyaratan yang diperbolehkan.
Kandungan amoniak dalam air media untuk setiap perlakuan selama penelitian berkisar antara 0,03 – 0,05 mg/L. Menurut Kep. Men. KLH No.02/Men. KLH/I/988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan, menetapkan kandungan amoniak yang diperbolehkan untuk badan air golongan C (perikanan) adalah 0,06 mg/l
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh belut sawah yang dipelihara pada media lumpur terhadap pertumbuhan bobot, panjang mutlak,laju pertumbuhan spesifik, konversi pakan dan kelulushidupan belut sawah. Perlakuan terbaik diperoleh pada P1 yaitu pemeliharaan dengan padat tebar 200 ekor/m3 dimana menghasilkan bobot mutlak 6,96 g, panjang mutlak 8,96 cm, laju pertumbuhan spesifik 2,35%, rasio konversi pakan (FCR) 1,23, dan kelulushidupan (SR) 80,55%. Kisaran kualitas air selama penelitian pada semua perlakuan yaitu, suhu 27– 29,9ºC, pH 6–7, oksigen terlarut 6,1– 7,4 mg/L dan amoniak berkisar antara 0,03–0,06mg/L.
Adapun saran pada penelitian ini yaitu, pemeliharaan belut sawah dapat dilakukan dengan jumlah padat tebar yang optimal dengan pemberian jumlah pakan 5% yang dipelihara dalam media lumpur. Untuk penelitian lanjutan dapat dilakukan pemeliharaan belut dengan media yang berbeda dengan kepadatan belut yang optimal sehingga produksi belut jadi meningkat
5. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu penulis dalam melakukan penelitian dan penilisan artike ini, serta kepada jurusan budidaya perairan fakultas perikanan dan kelautan universitas riau yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikan sarjana perikanan
6. DAFTAR PUSTAKA
Alit, I.G.K., 2009. Pengaruh Padat Penebaran terhadap Pertambahan Berat dan Panjang Badan Belut Sawah. Bali: Udayana Kampus Bukit Jimbaran. Jurnal Biologi XIII (1): 25 – 28 Volume XIII no.1
Effendie, I., H.J. Bugri dan Widanarni. 2006. Pengaruh Padat Penebaran terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Ukuran 2 cm. Jurnal Akuakultur Indonesia, 5(2):127-135.
Hepher, B., dan Y. Pruginin. 1981. Commercial fish farming with special reference to fish culture in Israel. John Willey and Sons, New York. 261 hal.
Husen Y. 2015. Kinerja Produksi Ikan Belut Sawah Monopterus albus Pada Ketinggian Air Pemeliharaan Berbeda. Skripsi. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Keputusan Mentri Kesehatan Lingkungan Hidup. No. 02/ Men KLH/I/998. Tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan.
Kordi, M.G.H., 2013. Budidaya Belut di Pekarangan, Lahan Sempit, Lahan Kritis dan Minim Air. Sulawesi Selatan.
Kordi, M.G.H. 2014. Budi Daya Belut di Media Air Secara Organik. Penerbit Lily Publisher. Yogyakarta.
Mashuri, M., S. Sumarjan, dan Z. Abidin, 2012. Pengaruh Jenis Pakan yang BerbedaTerhadap Belut Sawah (Monopterus albus zuieuw). Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No 1.
Riani, E dan Y. Ernawati. 2004. Hubungan Perubahan Jenis Kelamin dan Ukuran Tubuh Ikan Belut Sawah (Monopterus albus). Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. Jilid 11, No.2:139-144.