SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PESTISIDA PEMBASMI HAMA TANAMAN PADI DENGAN
METODE WEIGHTED PRODUCT (WP)
SKRIPSI
PAULITA TURNIP 151401069
PROGRAM STUDI S-1 ILMU KOMPUTER
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2020
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PESTISIDA PEMBASMI HAMA TANAMAN PADI DENGAN
METODE WEIGHTED PRODUCT (WP)
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh ijazah Sarjana Ilmu Komputer
PAULITA TURNIP 151401069
PROGRAM STUDI S-1 ILMU KOMPUTER
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
PERNYATAAN
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PESTISIDA PEMBASMI HAMA TANAMAN PADI DENGAN
METODE WEIGHTED PRODUCT (WP)
SKRIPSI
Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing telah disebutkan sumbernya.
Medan, Februari 2020
Paulita Turnip 151401069
PENGHARGAAN
Segala puji bagi Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Pestisida Pembasmi Hama Tanaman Padi Dengan Metode Weighted Product (WP)”.
Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komputer di Program Studi S1 Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Sumatera Utara.
Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu penyelesaian skripsi ini baik dari dukungan doa, pemikiran, kerjasama, dan semangat. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Opim Salim Sitompul, M.Sc. selaku Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Poltak Sihombing, M.Kom. selaku Ketua Program Studi S-1 Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak M. Andri Budiman ST, M.Comp. Sc, MEM selaku Dosen Pembimbing Akademik.
5. Ibu Dr. Maya Silvi Lydia, B.Sc., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan banyak motivasi, saran dan masukan hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Bapak Prof. Dr. Muhammad Zarlis, M.Sc selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, saran, masukan dan dukungan kepada penulis dalam pengerjaan skripsi ini.
7. Seluruh tenaga pengajar dan pegawai Program Studi S1 Ilmu Komputer Fasilkom-TI USU .
8. Orangtua yang telah memberikan motivasi, dukungan, doa, dan nasihat kepada saya selama menjalani masa perkuliahan hingga penyusunan skripsi selesai.
9. Abang saya Edward Teddy Chandra Turnip, kakak-kakak saya Juniati Fransiska Turnip dan Kristina Odetta Turnip juga kembaran saya Paulinus Turnip yang telah memberi dukungan doa dan semangat kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Kepada abangda Masfor Napitupulu yang saya kasihi yang selalu memberikan dukungan doa, semangat dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini.
11. Sahabat saya Lasmi Lumban Siantar dan Nursaulina Ambarita yang selalu memberikan semangat dan dukungan doa menyelesaikan skripsi ini.
12. Teman-teman seperjuangan skripsi khususnya Ulfa Natalia Siahaan, Tresia Agustina Simanjuntak, Vellyna Angelicha Sitorus, Maulida Sari, Delyana Siagian, Salfira Anggraeni, Nurheppya, Yunita Rachmawati Siregar, Aidila Adha Prayudi, Ririn Riski Ananda dan Siti Alif Tifanny Sagala yang saling optimis dan berbagi ilmu, semangat dan hiburan serta selalu mendukung dalam menyelesaikan skripsi ini.
13. Teman – teman kuliah Ilmu Komputer Stambuk 2015 khususnya untuk KOM C yang telah banyak memberikan motivasi dan semangat dalam masa perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini.
14. Keluarga besar Komunitas Mahasiswa Kristen S1 Ilmu Komputer (KMKI) yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
15. Teman – teman Orang Muda Katolik (OMK) yang telah memberikan banyak motivasi doa dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
16. Dan semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak bisa disebutkan satu- persatu.
Semoga Tuhan Yang Mahas Esa memberi kelimpahan berkat kepada semua pihak yang telah memberi doa, semangat, dukungan, dan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis, pendidikan, masyarakat, organisasi atau negara.
Medan, Februari 2020 Penulis,
Paulita Turnip
ABSTRAK
Tanaman padi (Oryza Sativa L) merupakan salah satu tanaman pangan yang menjadi bahan makanan pokok terhadap setengah penduduk dunia yang berperan sebagai penyokong pangan masyarakat. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan dalam produktivitas tanaman padi yaitu adanya serangan hama pada tanaman padi. Oleh karena itu, para petani harus memperhatikan peningkatan produktivitas tanaman padi dan harus teliti dalam menentukan pestisida yang akan digunakan dalam mencegah hama pada tanaman padi. Untuk menentukan pestisida yang dibutuhkan, dapat digunakan metode weighted product (wp).
Metode weighted product (wp) akan memberikan keputusan rekomendasi alternatif berdasarkan pestisida yang dibutuhkan oleh petani. Setelah dilakukan beberapa kali uji coba pada kasus pembasmi hama tanaman padi menggunakan metode weighted product (wp), diurutkan lima keputusan rekomendasi yang mendekati nilai preferensi vektor v terhadap rating kecocokan bobot. Dari beberapa kali uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusan rekomendasi alternatif terbaik dipengaruhi oleh besarnya nilai preferensi vektor v. Semakin besar nilai preferensi vektor v terhadap alternatif pestisida, maka semakin optimal alternatif pestisida terbaik yang dipilih.
Kata Kunci : Tanaman Padi, Oryza Sativa L, Hama, Pestisida, Weighted Product.
DECISION SUPPORT SYSTEM DETERMINING RICE PEST PESTICIDES USING WEIGHTED PRODUCT METHOD
ABSTRACT
Rice (Oryza Sativa L) is one of the main food crops for half of the world's population that represents people's food proponent. One factor that causes a decrease in rice crop productivity is the presence of pest attacks on rice plants.
Therefore, farmers must pay attention to increasing the productivity of rice plants and must be careful in determining the pesticides that will be used to prevent pests in rice plants. To determine the needed pesticide, the weighted product (wp) method can be used. Weighted product (wp) method will provide alternative recommendation decisions based on pesticides required by farmers. After several trials in the case of rice pest extermination using the weighted product (wp) method, five decision decisions are ordered that approach the vector v preference value to the weight match rating. From several trials, it can be concluded that the best alternative recommendation decision is influenced by the quantity of the vector preference value v. The greater the preference value of v vectors against pesticide alternatives, the more optimal the best alternative pesticides were chosen.
Key Word : Rice plant, Oryza Sativa L, Pest, Pesticide, Weighted Product.
DAFTAR ISI
Halaman
Persetujuan ... ii
Pernyataan ... iii
Penghargaan ... iv
Abstrak ... vi
Abstract ... vii
Daftar Isi ... viii
Daftar Tabel ... xi
Daftar Gambar ... xii
Daftar Lampiran ... xiv
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Batasan Masalah ... 4
1.4 Tujuan Penelitian ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
1.6 Metodologi Penelitian ... 5
1.7 Sistematika Penelitian ... 5
Bab 2 Landasan Teori 2.1 Sistem ... 7
2.2 Sistem Pendukung Keputusan... 7
2.2.1 Jenis-Jenis Keputusan ... 8
2.2.2 Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan ... 9
2.2.3 Komponen Sistem Pendukung Keputusan ... 11
2.3 Metode Weighted Product (WP) ... 13
2.4 Tanaman Padi... 16
2.5 Hama ... 17
2.5.1 Hama – Hama Tanaman Padi ... 17
2.6 Pestisida ... 19
2.6.1 Jenis – Jenis Pestisida ... 20
2.6.2 Pencampuran Pestisida ... 21
2.6.3 Teknik Aplikasi Pestisida ... 21
2.6.4 Dosis Pestisida ... 22
2.6.5 Konsentrasi Pestisida ... 22
2.6.6 Faktor Penggunaan Pestisida ... 22
Bab 3 Analisis dan Perancangan 3.1 Analisis Sistem... 24
3.1.1 Analisis Masalah ... 24
3.1.2 Analisis Kebutuhan ... 25
3.1.2.1 Kebutuhan Fungsional ... 26
3.1.2.2 Kebutuhan Non-Fungsional ... 26
3.1.3 Analisis Proses ... 27
3.1.3.1 Perbaikan Bobot atau Normalisasi Bobot W ... 33
3.2 General Arsitektur ... 44
3.3 Pemodelan Sistem ... 45
3.3.1 Use Case Diagram ... 46
3.3.2 Activity Diagram ... 54
3.3.3 Sequence Diagram ... 57
3.4 Flowchart ... 58
3.5 Perancangan Antarmuka (Interface) ... 59
3.5.1 Antarmuka PestisidaKu ... 60
3.5.2 Antarmuka Penentuan Pestisida... 60
3.5.3 Antarmuka Data Pestisida ... 61
3.5.4 Antarmuka Tentang ... 62
Bab 4 Implementasi dan Pengujian Sistem 4.1 Implementasi Sistem ... 64
4.1.1 Halaman PestisidaKu ... 64
4.1.2 Halaman Penentuan Pestisida ... 65
4.1.3 Halaman Data Pestisida ... 66
4.1.4 Menu Tentang ... 69 4.2 Pengujian Sistem ... 70
4.2.1 Pengujian Penentuan Pestisida Pembasmi Hama
Tanaman Padi ... 71
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan ... 86 5.2 Saran ... 86
Daftar Pustaka ... 87
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1
Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Tabel 3.8
Tabel 3.9 Tabel 3.10 Tabel 3.11 Tabel 3.12 Tabel 3.13 Tabel 3.14 Tabel 3.15 Tabel 3.16 Tabel 3.17 Tabel 3.18
Data Uji Alternatif Kriteria yang Ditentukan
Kriteria dan Sub Kriteria Pestisida Bobot Kriteria Bahan Aktif
Bobot Kriteria Harga
Bobot Kriteria Daya Tahan Simpan Bobot Kriteria Hama Yang Dibasmi Rating Kecocokan dari Setiap Alternatif Pada Setiap Kriteria
Hasil Perankingan Rekomendasi
Narative Use Case Open Aplikasi PestisidaKu Narative Use Case Menu Penentuan Pestisida Narative Use Case Menu Data Pestisida Narative Use Case Menu Tentang Narative Use Case Menu Keluar
Narative Use Case Pilih Kriteria Pestisida Narative Use Case Button Proses
Narative Use Case Tambah Data Narative Use Case Informasi Detail
27 29 29 30 30 31 31 31
42 47 48 49 50 50 51 52 52 53
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 Analisis Masalah 25
Gambar 3.2 General Arsitektur Sistem 45
Gambar 3.3 Use Case Diagram 46
Gambar 3.4 Activity Diagram Penentuan Pestisida 54
Gambar 3.5 Activity Diagram Data Pestisida 55
Gambar 3.6 Activity Diagram Tentang 56
Gambar 3.7 Activity Diagram Keluar 56
Gambar 3.8 Sequence Diagram Penentuan Pestisida 57
Gambar 3.9 Flowchart Metode Weighted Product (WP) 58
Gambar 3.10 Flowchart Sistem 59
Gambar 3.11 Antarmuka PestisidaKu 60
Gambar 3.12 Antarmuka Penentuan Pestisida 61
Gambar 3.13 Antarmuka Data Pestisida 62
Gambar 3.14 Antarmuka Tentang 63
Gambar 4.1 Halaman PestisidaKu 65
Gambar 4.2 Halaman Penentuan Pestisida 66
Gambar 4.3 Halaman Data Pestisida 67
Gambar 4.4 Tampilan Informasi Pestisida 68
Gambar 4.5 Tampilan Tambah Data Pestisida 69
Gambar 4.6 Halaman Tentang 70
Gambar 4.7 Pengujian I Inputan Kriteria Pestisida oleh User 71 Gambar 4.8 Hasil Pengujian I berupa Rekomendasi Alternatif Pestisida 72
Gambar 4.9 Informasi Detail Hasil Pengujian I 73
Gambar 4.10 Pengujian II Inputan Kriteria Pestisida oleh User 74 Gambar 4.11 Hasil Pengujian II berupa Rekomendasi Alternatif Pestisida 75
Gambar 4.12 Informasi Detail Hasil Pengujian II 76
Gambar 4.13 Pengujian III Inputan Kriteria Pestisida oleh User 77 Gambar 4.14 Hasil Pengujian III berupa Rekomendasi Alternatif Pestisida 78
Gambar 4.15 Informasi Detail Hasil Pengujian III 79 Gambar 4.16 Pengujian IV Inputan Kriteria Pestisida oleh User 80 Gambar 4.17 Hasil Pengujian IV berupa Rekomendasi Alternatif Pestisida 81
Gambar 4.18 Informasi Detail Hasil Pengujian IV 82
Gambar 4.19 Pengujian V Inputan Kriteria Pestisida oleh User 83 Gambar 4.20 Hasil Pengujian V berupa Rekomendasi Alternatif Pestisida 84
Gambar 4.21 Informasi Detail Hasil Pengujian V 85
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Listing Program ... A-1 Lampiran 2. Daftar Riwayat Hidup ... B-1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanaman padi (Oryza sativa L.) tanaman pangan yang telah menjadi bahan makanan pokok terhadap setengah penduduk dunia. Di Indonesia, padi menjadi salah satu sumber bahan makanan utama yang berperan dalam menyokong pangan masyarakat (Anggraini, et al., 2013). Namun di zaman milenial sekarang ini, semakin jarang ditemui area lahan pertanian, terutama didaerah perkotaan. Dimana lahan pertanian itu sendiri sudah banyak di alihkan menjadi lahan pabrik-pabrik bahkan menjadi lahan bangunan perumahan.
Berkurangnya area lahan pertanian justru semakin membuat para petani menjadi khawatir akan hasil produksi padi yang kemungkinan mengalami penurunan dikarenakan lahan pertanian yang semakin terancam, sehingga untuk meminimalisirkan kemungkinan terhadap penurunan hasil produksi padi, perlu dijaga keberadaannya setiap saat.
Seperti yang kita ketahui, dalam berbagai macam upaya peningkatan produktivitas padi, adanya serangan hama pada tanaman padi masih menjadi salah satu faktor kendalanya.. Hama utama yang menyerang tanaman padi diantaranya adalah wereng coklat dan penggerek batang padi (Usyati, et al., 2018). Pada periode tahun 2000-2005, luas lahan padi yang diserang hama wereng coklat mencapai 20.000 hektar per tahun (Kartohardjono 2011).
Beberapa hama lainnya, seperti tikus, wereng hijau, ulat grayak, lembing batu, pelipat daun, walang sangit, wereng punggung putih, dan lainnya, juga berpotensi merusak peningkatan produktivitas padi (Effendi, 2009). Dalam hal ini para petani harus mampu menyatukan antara upaya peningkatan produksi dengan upaya mengendalikan hama agar populasi hama tidak terus berkembang ke tingkat yang merugikan pertumbuhan tanaman padi. Petani juga harus memperhatikan bahwa hama menjadi salah satu kendala yang mungkin sangat mengganggu dalam usaha pertanian. Bahwa serangan
hama pada tanaman padi dapat datang secara mendadak dan bersifat eksplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang relatif singkat seluruh tanaman seringkali dapat gugur serta gagal panen dapat terjadi. Dalam menjalankan kegiatan usaha tani, setiap langkah keputusan yang dipilih petani harus memperhatikan dua manfaat, disamping dapat meningkatkan produksi tanaman juga dapat menekan perkembangan populasi hama.
Dalam bidang pertanian pestisida cukup berperan dalam sarana membunuh hama tanaman padi. Hal ini disebabkan oleh pestisida yang menunjukkan hasil yang mengagumkan dalam efektifitas dan efisiensinya mengendalikan hama daripada cara-cara pengendalian sebelumnya. Pestisida ternyata sangat efektif, praktis dalam membantu mengatasi masalah hama padi. Pestisida juga dengan cepat mengurangi populasi hama, hingga meluasnya serangan hama dapat ditekan maupun dicegah. Sehingga memperoleh keberhasilan yang besar bagi petani dalam bidang pertanian padi (Arif, 2015).
Dari berbagai jenis pestisida, yang banyak tersebar di pasaran dan memiliki keunggulan masing-masing produk yang ditawarkan kepada petani, sehingga para petani harus lebih teliti dan memahami dalam memilih pestisida yang akan digunakan dalam mencegah hama padi. Karena banyak sekali kriteria yang harus dilihat dari banyaknya produk pestisida yang saat ini beredar dipasaran serta keunggulannya yang sangat bersaing, membuat para petani bingung dalam menentukan pemilihan pestisida yang baik dan benar. Maka dari itu petani harus sangat selektif dan paham akan pestisida yang akan digunakan agar hasil sesuai dengan yang di harapkan. Sehingga kualitas dari produk tersebut dapat tercapai dalam keberhasilan peningkatan produktivitas padi (Sianturi, et al., 2018).
Metode WASPAS adalah mencari prioritas pilihan yang paling sesuai dengan menggunakan pembobotan. Metode WASPAS digunakan untuk memecahkan berbagai masalah seperti pembuatan keputusan, evaluasi, dan seterusnya. Pada penelitian Sianturi, et al., (2018) melakukan penelitian terhadap pemilihan pestisida terbaik dalam mencegah hama pada tanaman padi menggunakan metode WASPAS. Hasil penelitian yang mereka peroleh mampu menunjukkan bahwa salah satu alternatif input merupakan prioritas dari keputusan. Namun kelemahan penelitian yang mereka lakukan membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama tergantung dengan kriteria yang di tetapkan.
Selanjutnya pada penelitian terdahulu dalam pemilihan pestisida terbaik untuk perawatan daun pada tanaman cabe dilakukan oleh Mesran dengan mengimplementasikan metode Promethee II. Mereka menentukan beberapa kriteria yang
dijadikan sebagai bahan perhitungan pada perankingan jenis pestisida yang terbaik.
Kriteria-kriteria yang digunakan yaitu harga, penggunaan, daya tahan simpan, dan cara kerja. Sehingga dapat diperoleh rangking lengkap dari alternatifnya. Dalam metode ini, perbandingan dua alternatif dilakukan untuk menghitung fungsi preferensi untuk setiap kriteria (Mesran, et al., 2018).
Metode Weighted Product (WP) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah Multi Attribute Decision Making (MADM) yang menggunakan perkalian untuk menghubungkan rating atribut, dimana rating setiap atribut harus dipangkatkan dulu dengan bobot atribut yang bersangkutan. Multi Attribute Decision Making (MADM) untuk menyelesaikan kasus-kasus dimana data terdiri atas banyak atribut kepentingan terdiri dari metode Simple Additive Weighting Method (SAW), Weighted Product (WP), ELECTRE, TOPSIS, dan Analytic Hierarchy Process (AHP).
Dari masalah yang dihadapi tersebut dan berdasarkan hasil penelitian terdahulu, maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai sistem pendukung keputusan dengan menggunakan metode Weighted Product (WP). Penelitian yang akan dilakukan nanti bertujuan membantu penghasil keputusan dalam membuat suatu keputusan yang akan dirancang untuk meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Dengan menggunakan metode Weighted Product (WP) didasarkan pada beberapa atribut dalam pengambil keputusan pestisida dengan cara perkalian untuk menghubungkan rating atribut. Dimana rating setiap atribut harus dipangkatkan terlebih dahulu dengan bobot atribut yang bersangkutan (Nurjannah, et al., 2015). Metode ini terdapat variabel Cost dan Benefit, sebagai solusi alternatif pilihan yang berguna untuk menentukan kriteria yang berpengaruh terhadap keputusan dengan tingkat akurasi waktu yang lebih efektif dan menghasilkan rating keputusan dalam penseleksian alternatif terbaik guna mencapai hasil yang optimal.
Oleh karena itu, penulis ingin melakukan penelitian dengan mengambil topik pembahasan yang berjudul “Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Pestisida Pembasmi Hama Tanaman Padi dengan Metode Weighted Product (WP)”.
1.2. Rumusan Masalah
Sulitnya menentukan pestisida jenis insektisida yang baik dan benar untuk membasmi hama tanaman padi melalui kriteria keunggulan: bahan aktif, harga, daya tahan simpan dan hama yang dibasmi.
1.3. Batasan Masalah
Batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Metode Weighted Product (WP) sebagai algoritma pengambilan keputusan penentuan pestisida pembasmi hama tanaman padi.
2. Dalam pengambilan keputusan jenis pestisida yang digunakan adalah insektisida dengan kriteria penilaian dibatasi empat kriteria, yakni bahan aktif, harga, daya tahan simpan pestisida, dan hama yang dibasmi.
3. Aplikasi yang dibangun berbasis android dan dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman java.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menerapkan metode weighted product (wp) dalam penentuan pestisida pembasmi hama tanaman padi.
2. Mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi metode weighted product (wp) dalam peningkatan produktivitas padi melalui hasil keputusan alternatif produk pestisida.
3. Untuk memenuhi syarat kelulusan program Strata-1 (S-1) Ilmu Komputer.
1.5. Manfaat Penelitian
Tugas akhir ini diharapkan akan mampu menerapkan sebuah sistem yang dapat menentukan pestisida pembasmi hama tanaman padi melalui kriteria-kriteria setiap bobot dan nilai rating kecocokan melalui data yang diinputkan untuk mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi metode weighted product (wp) dalam proses perancangan pendukung keputusan.
1.6. Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Studi Pustaka
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan referensi yang didapat dari jurnal penelitian, buku, artikel ilmiah, paper dan makalah yang berasal dari berbagai sumber yang berhubungan dengan Sistem Pendukung Keputusan, metode Weighted Product (WP) dan Penentuan Pestisida Pembasmi Hama Tanaman Padi.
2. Analisis dan Perancangan
Pada tahap ini dilakukan proses analisis kebutuhan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini dengan melakukan perancangan diagram alir (flowchart), UML dan diagram ishikawa.
3. Implementasi Sistem
Pada tahap ini dilakukan pengkodean (coding) dalam bahasa pemrograman java.
4. Pengujian Sistem
Pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibangun.
5. Dokumentasi Sistem
Pada tahap ini dilakukan pendokumentasian mulai dari tahapan analisa hingga pengujian sistem dalam format penulisan berbentuk skripsi.
1.7. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi 5 (lima) bab yaitu:
BAB 1 PENDAHULUAN Berisi penjelasan tentang
latar belakang penelitian yang akan
dilakukan dengan judul “Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Pestisida Pembasmi Hama Tanaman Padi Dengan Metode Weighted Product (WP)”, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta metodologi dan sistematika penelitian.
BAB 2 LANDASAN TEORI
Pada bab ini membahas beberaoa teori yang mendukung penelitian ini, yang berisi penjelasan umum tentang, teori Sistem Pendukung Keputusan,
metode Weighted Product (WP), dan Pestisida Pembasmi Hama Tanaman Padi.
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
Berisi tentang analisis mengenai permasalahan dalam pembuatan sistem serta menjelaskan tentang rancangan struktur program serta merancang interface dari sistem yang akan dibangun.
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
Pada bab ini membahas implementasi sistem yang telah dibangun dan pengujian untuk melihat perangkat lunak yang dibuat berhasil dijalankan atau tidak serta untuk menemukan kesalahan (error) dan debug program.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan dari keseluruhan penelitian dan saran berdasarkan hasil pengujian yang diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan selanjutnya.
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. Sistem
Sistem merupakan kumpulan sub-sub elemen yang saling berkaitan satu sama lain untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk mencapai tujuan tertentu.
2.2. Sistem Pendukung Keputusan
Teori pengambilan keputusan dikembangkan di Carnegie institute of Technology pada tahun 1950. Pengambilan Keputusan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan memilih alternatif terbaik diantara beberapa alternatif yang ada. Pengambil keputusan akan memilih alternatif terbaik yang bersesuaian dengan tujuan atau sasaran (Diana, 2018:17).
Sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem yang ditujukan untuk mendukung manajemen penggambilan keputusan yang tidak ditekankan untuk membuat keputusan.
Dengan sekumpulan kemampuan untuk mengolah data atau informasi yang diperlukan dalam mengambil keputusan, sistem hanya berfungsi sebagai alat bantu manajemen (Eniyati, et al., 2010).
Konsep Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS) pertama sekali diperkenalkan oleh Michael S.Scoot Martoon pada awal tahun 1970-an dengan istilah Manager Decision Support System. Sistem Pendukung Keputusan biasanya dibangun untuk mendukung solusi atas suatu masalah atau peluang. Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan (SPK) digunakan dalam pengambilan keputusan. Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan menggunakan CBIS (Computer Based Information Systems) yang interaktif, fleksibel, dan dapat diadaptasi, yang dikembangkan untuk mendukung pemikiran pengambilan keputusan yang tidak terstruktur.
Decision Support System And Intelligent Systems mendefinisikan sistem pendukung keputusan sebagai sistem berbasis komputer yang mengakumulasi informasi dari
berbagai sumber dalam bentuk yang terorganisir, dianalisis, dan difasilitasi yang mendasari penggunaan model tertentu (Budiharjo, et al., 2017). Sistem pendukung keputusan terdiri atas tiga komponen yang saling berinteraksi yaitu sistem bahasa (mekanisme untuk berkomunikasi antara pengguna dengan komponen sistem pendukung keputusan lain), sistem pengetahuan (repositori pengetahuan domain masalah pada sistem pendukung keputusan atau sebagai data maupun prosedur), dan sistem pemrosesan masalah (hubungan antara dua komponen lainnya, terdiri dari satu atau lebih kapabilitas manipulasi masalah umum yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan).
Menurut Simon ada empat fase dalam proses Pengambilan Keputusan yaitu sebagai berikut :
1. Intelligence
Tahap ini adalah proses penelusuran dan pendeteksian dari ruang lingkup masalah dengan proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan kemudian diuji untuk mengidentifikasi masalah.
2. Design
Tahap ini merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis tindakan alternatif yang bisa dilakukan. Menguji kelayakan solusi juga termasuk ke dalam tahap ini.
3. Choice
Tahap ini merupakan proses pemilihan di antara berbagai tindakan alternatif yang mungkin dijalankan. Setelah dilakukan pemilihan, hasilnya kemudian diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.
4. Implementation
Tahap implementasi merupakan bagian kegiatan pelaksanaan suatu tindakan setelah kegiatan intellegence, design, dan choice.
2.2.1. Jenis-Jenis Keputusan
Jenis-jenis keputusan dibedakan menjadi tiga macam yaitu (Pratiwi, 2016) : 1. Keputusan Terstruktur
Keputusan terstruktur adalah keputusan yang berhubungan dengan masalah yang telah diketahui sebelumnya. Proses pengambilan keputusan seperti ini biasanya
ini dapat dikatakan sebagai suatu proses jawaban secara otomatis pada kebijakan yang sudah ditentukan sebelumnya dan proses pengambilan keputusanpun bersifat rutin dan terjadwal.
2. Keputusan Semi Terstruktur
Keputusan semi terstruktur (semistructured decision) ditandai dengan prosedur- prosedur yang tidak lengkap untuk mengambil keputusan dan adanya kebutuhan untuk membuat penilaian serta pertimbangan subjektif sebagai pelengkap analisis data yang formal.
3. Keputusan Tak Terstruktur
Keputusan tak terstruktur adalah keputusan yang berhubungan dengan berbagai masalah baru. Biasanya, keputusan tidak terstruktur juga berhubungan dengan masalah yang cukup sulit, karena banyaknya parameter yang tidak atau belum diketahui. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan ini, biasanya intuisi dan pengalaman seorang pelaku organisasi akan sangat membantu.
2.2.2. Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan
Pada dasarnya, sistem pendukung keputusan (SPK) merupakan pengembangan lebih lanjut dari Sistem Informasi Manajemen Terkomputasi (Computerized Manajement Information System). SPK dirancang sedemikian rupa sehingga bersifat interaktif, ini dimaksudkan untuk memudahkan integrasi antara berbagai komponen dalam proses pendukung keputusan seperti kebijakan, prosedur, teknik analisis, serta pengalaman dan wawasan manajerial demi suatu kerangka keputusan yang fleksibel.
Karakteristik dari sistem pendukung keputusan yaitu:
1. Sistem yang berbasis komputer.
2. Dipergunakan untuk mengambil keputusan.
3. Memecahkan masalah-masalah yang rumit yang tidak dapat dikalkulasikan secara manual.
4. Melalui cara simulasi yang interaktif.
5. Memiliki kemampuan what-if analysis dan goal seeking analysis.
6. Komponen utamanya berupa data dan model analisis.
Berikut ini adalah beberapa karakteristik yang menjadi perbedaan antara sistem pendukung keputusan (SPK) dengan sistem informasi lain.
1. SPK dirancang untuk membantu pengambilan keputusan dalam memecahkan masalah yang bersifat semi terstruktur atau tidak terstruktur dengan menambahkan kebijaksanaan manusia dan informasi komputerisasi.
2. Pada proses pengolahannya, sistem pendukung keputusan mengombinasikan penggunaan model-model analisis dengan teknik pemasukkan data konvensional serta fungsi-fungsi pencari atau pemeriksa informasi.
3. Sistem pendukung keputusan dapat dioperasikan dengan mudah oleh orang-orang yang tidak memiliki dasar kemampuan pengoperasian komputer yang tinggi.
Pendekatan yang digunakan biasanya adalah model interaktif.
4. Sistem pendukung keputusan dibuat dengan menekankan aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga mudah disesuaikan dengan berbagai perubahan lingkungan yang terjadi dan kebutuhan pengguna.
Sistem pendukung keputusan memberikan manfaat atau keuntungan bagi pemakainya, keuntungan yang dimaksud diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sistem pendukung keputusan memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data/informasi bagi pemakainya.
2. Sistem pendukung keputusan menghemat waktu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur.
3. Sistem pendukung keputusan dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.
4. Walaupun SPK mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan dalam memahami persoalannya, namun ia dapat menjadi stimulan bagi pendukung keputusan dalam memahami masalahnya. Hal ini disebabkan oleh sistem pendukung keputusan mampu menyajikan alternatif.
2.2.3. Komponen Sistem Pendukung Keputusan
Sistem Pendukung Keputusan terdiri dari tiga komponen yaitu sebagai berikut:
1. Manajemen Data (Data Management)
Manajemen Data (Data Management) termasuk database mengandung data yang dibutuhkan oleh software disebut Database Management Systems (DBMS).
Beberapa perbedaan antara database SPK dan database Non-SPK. Pada database SPK sumber data SPK lebih ”kaya” dari pada sumber data non-SPK. Dimana data proses pengambilan keputusan harus berasal dari luar dan dari dalam. Proses ekstraksi dan pengambilan berasal dari sumber data yang sangat besar. Dibutuhkan proses ekstraksi terhadap Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dan Database Management Systems (DBMS) yang harus cukup fleksibel dalam pengelolaannya agar memungkinkan terjadi proses pengurangan dan penambahan secara cepat.
Kemampuan dari manajemen database diringkas sebagai berikut:
a. Kemampuan mengkombinasikan dalam berbagai variasi data melalui ekstraksi dan pengambilan data.
b. Kemampuan dalam menambahkan sumber data secara mudah dan cepat.
c. Kemampuan menggambarkan struktur data logikal sesuai dengan pengertian untuk mengetahui apa yang tersedia dan dapat menentukan kebutuhan pengurangan dan penambahan.
d. Kemampuan menangani data secara personal sehingga dapat mencoba berbagai alternatif pertimbangan personal.
e. Kemampuan dalam mengolah berbagai variasi data.
2. Manajemen Model (Model Management)
Dalam Manajemen Model melibatkan statistikal, model finansial, management science, atau berbagai model kuantitatif lainnya, sehingga dapat memberikan sistem untuk kemampuan analitis dan manajemen software yang diperlukan.
Manajemen model (model management) dalam Sistem Pendukung Keputusan dapat memungkinkan untuk menganalisa secara utuh dalam pengambilan keputusan dengan mengembangkan dan membandingkan alternatif solusi. Mengintegrasi akses
data dilakukan dengan menambahkan model-model keputusan ke dalam Sistem Informasi dengan menggunakan database sebagai mekanisme proses integrasi dan komunikasi merupakan salah satu keunggulan SPK.
Manajemen model dalam Sistem Pendukung Keputusan memiliki kemampuan:
a. Kemampuan dalam menciptakan model-model baru secara mudah dan cepat.
b. Kemampuan mengintegrasikan dan mengakses model-model keputusan.
Kemampuan tersebut bertujuan untuk mengelola basis model dengan fungsi manajemen database dan manajemen yang analog (seperti mekanisme untuk meyimpan, membuat dialog, menghubungkan, dan mengakses model).
3. Subsistem Dialog (Dialog Subsystem)
Subsistem dialog (Dialog Subsystem) dibangun untuk memenuhi mekanisme control dan kebutuhan representasi selama proses analisa dalam Sistem Pendukung Keputusan (SPK). Fleksibilitas dan kekuatan karakteristik Sisten Pendukung Keputusan (SPK) timbul dari kemampuan interaksi antara pemakai dan sistem, yang dinamakan dengan subsistem dialog. Sistem perangkat lunak dan pemakai terminal merupakan sekumpulan komponen yang terlibat dalam berbagai susbsistem dialog untuk mewujudkan komunikasi anatara sisten dengan user. Komponen tersebut akan menampilkan masukkan dari pemakai ke dalam Sistem Pendukung Keputusan dan menerima keluaran sistem bagi pemakai.
Subsistem dialog memiliki tiga bagian, yaitu :
a. Bahasa Aksi ( The Action Language) merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemakai dalam berkomunikasi dengan sistem. Bahwa tindakan ini meliputi berbagai pemilihan seperti panel-panel sentuh, joystick, papan ketik (keyboard), perintah suara dan lain sebagainya.
b. Bahasa Tampilan ( The Display of Presentation Language) merupakan keluaran yang dihasilkan oleh suatu Sistem Pendukung Keputusan (SPK) kedalam bentuk tampilan yang akan memudahkan user dalam mengetahui keluaran sistem terhadap masukan yang dilakukan. Bahasa tampilan meliputi pilihan seperti layar tampilan, grafik, printer, warna, plotter, keluaran suara dan lain sebagainya.
c. Bahasa Pengetahuan (Knowledge Base Language) yaitu meliputi apa yang diketahui oleh pemakai yang bertujuan pemakaian sistem bisa lebih efektif.
Basis pengetahuan bisa berada pada kartu referensi atau petunjuk, dalam pikiran pemakai, dalam buku manual, dan lain sebagainya.
Kemampuan yang dimiliki oleh Sisten Pendukukng Keputusan (SPK) untuk mendukung dialog pemakai meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Kemampuan dalam menangani berbagai variasi dialog, untuk mengkombinasi berbagai gaya dialog berdasarkan dengan pilihan pemakai.
2. Kemampuan mengkombinasikan tindakan pemakai dengan berbagai peralatan masukan.
3. Kemampuan dalam menampilkan data dengan berbagai variasi format dan peralatan keluaran.
4. Kemampuan untuk memberikan dukungan yang fleksibel dalam mengetahui basis pengetahuan.
2.3 Metode Weighted Product (WP)
Metode weighted product merupakan bagian dari konsep Multi Criteria Decision Making (MCDM), merupakan teknik pengambilan keputusan dari beberapa pilihan alternatif yang ada. Metode ini memerlukan proses normalisasi pada perhitungannya. Dengan menggunakan metode Weighted Product (WP), diharapkan dapat dikembangkan software sistem pendukung keputusan yang dapat digunakan oleh suatu instansi (Sari, 2018: 57).
Weighted Product menggunakan teknik perkalian dalam menghubungkan rating atribut. Dimana rating dalam setiap atribut harus dipangkatkan dahulu dengan atribut bobot yang bersangkutan (Nurjannah, et al., 2015). Pemilihan metode Weighted Product (WP) berdasarkan kemampuan dalam memberikan solusi optimal kedalam sistem pemeringkatan. Metode weighted product didasarkan atas kompleksitas komputasi yang tidak terlalu sulit, sehingga dalam menghasilkan perhitungan dibutuhkan waktu dalam relatif singkat (Ahmadi dan Wiyanti, 2014). Metode Weighted Product membantu juga untuk mengambil keputusan dalam penentuan pestisida pembasmi hama, akan tetapi perhitungan menggunakan metode Weighted Product ini hanya menghasilkan nilai terbesar yang akhirnya akan terpilih sebagai rekomendasi alternatif yang terbaik.
Perhitungan dengan metode ini akan sesuai apabila alternatif yang terpilih telah
memenuhi kriteria ditentukan. Bobot untuk atribut berfungsi sebagai proses perkalian terhadap pangkat positif, sementara bobot cost (biaya) berfungsi sebagai pangkat negatif.
(Sari, et al., 2009).
Berikut adalah ciri khas perhitungan metode WP :
a. Metode weighted product (WP) menggunakan perkalian untuk menghubungkan rating atribut, dimana rating setiap atribut harus dipangkatkan dulu dengan bobot atribut yang bersangkutan.
b. Proses ini sama halnya dengan proses normalisasi.
c. Preferensi untuk alternatif Ai
Langkah-langkah penyelesaian masalah menggunakan metode Weighted Product : 1. Normalisasi atau Perbaikan Bobot
𝑊𝑗 = 𝑊𝑗
∑ 𝑊𝑗… … … (1)
Normalisasi atau perbaikan bobot menghasilkan nilai Wj = 1, dimana j = 1, 2, ..., n adalah banyak alternatif dan ∑Wj adalah keseluruhan jumlah nilai bobot.
2. Menentukan Nilai Vektor S
Dilakukan dengan cara mengalikan seluruh kriteria dengan alternatif hasil normalisasi atau perbaikan bobot (Wj). dimana kriteria keuntungan (benefit) yang berpangkat positif dan kriteria biaya (cost) yang berpangkat negatif untuk.
𝑆𝑖 = ∏ 𝑋𝑖𝑗𝑊𝑗
𝑛 𝑗=1
… … … (2) dimana :
S : Preferensi alternatif dianalogikan vektor S X : Nilai kriteria
W : Bobot kriteria i : Alternatif j : Kriteria
n : Banyaknya kriteria
3. Menentukan Nilai Vektor V
Mencari alternatif terbaik dilakukan dengan persamaan berikut:
𝑉𝑖 = ∏𝑛𝑗=1𝑋𝑖𝑗𝑊𝑗
∏𝑛𝑗=1𝑋𝑖𝑗 ∗ 𝑊𝑗 … … … (3) dimana :
V : Preferensi alternatif dianalogikan vektor V X : Nilai kriteria
W : Bobot kriteria i : Alternatif j : Kriteria
n : Banyaknya kriteria
* : Banyaknya kriteria yang telah dinilai pada vektor S
Nilai Vi menyatakan bahwa alternatif Ai yang terpilih adalah yang terbesar . Langkah-langkah perhitungan metode weighted product (wp) sebagai berikut:
1. Mengalikan seluruh atribut terhadap alternatif dengan W (bobot) sebagai atribut keuntungan untuk pangkat positif dan atribut biaya untuk bernilai negatif.
2. Hasil perkalian dijumlahkan untuk mengetahui hasil nilai pada setiap alternatif 3. Membagi nilai Vektor V terhadap setiap alternatif dengan nilai total dari semua
nilai alternatif
4. Diurutan alternatif terbaik berdasarkan nilai vektor v terbesar yang akan menjadi keputusan (Putra Jaya, 2013).
Adapun kelebihan dan kekurangan weighted product sebagai berikut:
Kelebihan Metode Weighted Product (WP) :
1. Mempercepat proses perangkingan dan perhitungan nilai kriteria terhadap alternatif.
2. Mempermudah user dalam memberikan bobot terhadap kriteria yang memiliki nilai hampir sama.
3. Digunakan untuk keputusan multidimensiona dan pengambilan keputusan single.
4. Digunakan untuk menyelesaikan pengambilan keputusan secara praktis, karena konsepnya mudah dipahami dan sederhana.
Kelemahan Weighted Product (WP) :
1. Dalam pengambilan keputusan tidak banyak user menggunakan metode ini.
2. Metode ini termasuk metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik.
2.4. Tanaman Padi
Dalam bahasa latin, padi disebut dengan "Oryza sativa", adalah salah satu tanaman terpenting (Yulianto, et al., 2015). Padi merupakan sumber utama bagi penduduk dunia salah satunya adalah penduduk Indonesia. Padi adalah genus yang meliputi lebih dari dua puluh lima spesies yang tersebar di daerah sub tropik dan daerah tropik seperti Afrika, Amerika, Asia dan Australia.
Tanaman sehat adalah apabila setiap organ dapat melaksanakan fungsi sesuai dengan potensi genetiknya. Tanaman padi memiliki potensi genetik yang dapat terekspresikan dengan baik jika kebutuhan fisiologi terpenuhi dari lingkungannya (Nuryanto, 2018). Di negara berkembang, salah satunya negara Indonesia telah menimbulkan dampak yang luas terhadap perubahan jenis, tingkat serangan, perkembangan, dan laju penyebaran penyakit tanaman. Dilaporkan Puluhan penyakit yang mengancam tanaman pangan budidaya padi.
Oleh sebab itu, dalam pengelolaan penyakit tanaman padi dapat dilakukan dengan menjaga stabilitas pestisida dan stabilitas pangan dari berbagai ancaman hama, karena penyakit tanaman padi dapat berkembang dari waktu ke waktu yang berpotensi mengancam pertumbuhan tanaman padi dan menyebabkan gagal panen. Masalah yang mungkin dihadapi pada budidaya tanaman padi semakin beragam. Akibatnya, usaha tani dalam mencari keuntungan mengalami penurunan karena harus dikurangi dengan biaya pengendalian hama penyakit yang semakin tinggi dan produksi kualitas pun menurun sehingga mengalami kekalahan bersaing di pasar.
Yang terpenting dalam penge-lolaan penyakit tanaman yaitu dengan menjaga stabilitas pangan, karena penyakit tanaman padi dapat terus menerus berkembang dari waktu ke waktu yang berpotensi sebagai ancaman pertumbuhan yang menyebabkan gagal panen. Oleh sebab itu, teknologi yang sudah berkembang dikalangan petani sangat memerlukan perbaikan terhadap perkembangan masalah yang telah mengancam dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan sumber daya, termasuk penyakit tanaman padi yang masih berkembang.
Melindungi tanaman padi dari gangguan penyakit merupakan usaha yang tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan ekosistem pertanian padi. Produksi padi memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan pangan, sehingga yang berkaitan dengan kegiatan perlindungan tanaman harus lebih ditingkatkan lagi sistem produksi (Prasetyo, 2015). Keberhasilan penyakit tanaman padi dan pengendalian hama berperan penting menyangga stabilitas produksi.
2.5. Hama
Serangga hama adalah organisme pada tanaman yang menimbulkan kerusakan dan menurunkan kuantitas maupun kualitasnya sehingga menyebabkan kerugian ekonomi bagi manusia.
Dalam upaya peningkatan produktivitas padi, masih terdapat kendala diantaranya adalah adanya serangan hama. Hama termasuk organisme utama yang menyerang tanaman padi diantaranya adalah wereng coklat dan penggerek batang padi. Beberapa hama yang memiliki potensi dalam merusak tanaman padi adalah wereng hijau, lembing batu, wereng punggung putih, walang sangit, ulat grayak dan pelipat daun (Effendi, 2009). Kehilangan hasil produksi pertanian karena serangan memilliki rata-rata OPT
±30% dari potensi hasil, dan kehilangan hasil karena hama sekitar 20-25% (Untung, 2010). Untuk menekan serangan hama, beberapa teknik pengendalian diterapkan, diantaranya: penggunaan pestisida yang tepat guna sebagai cara untuk menahan peningkatan populasi hama pada tanaman padi.
Pengendalian penyakit dan hama tanaman dapat dilakukan dengan mengandalkan komponen pengendalian yang digunakan dengan cara yang efisien dan efektif (Damayanti, et al., 2015).
2.5.1. Hama – Hama Tanaman Padi
Berikut ini adalah beberapa contoh dari pada hama tanaman padi :
1. Wereng Coklat salah satu hama utama pada tanaman padi di Indonesia. Hama dapat menimbulkan berbagai kerusakan ringan sampai berat mulai dari fase tumbuh, sejak fase bibit, anakan, sampai fase masak susu (pengisian). Selain dari itu, hama juga merupakan penyebab penyakit virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Gejala hama
ini dapat terlihat dari daun-daun yang menguning, kemudian tanaman mengering dengan cepat atau seperti terbakar (Yulianto, et al., 2015).
2. Wereng Hijau salah satu hama utama terhadap tanaman padi di Indonesia. Hama tersebut menjadi penyebab penyakit tungro, yang merupakan penyakit virus yang terpenting di Indonesia. Kemampuan hama tersebut menjadi salah satu penghambat dalam pertanian padi yang tergantung pada penyakit virus tungro. Hama tersebut banyak ditemui didalam sistem ekosistem sawah irigasi teknis dan tadah hujan. Hama tersebut tidak menyukai pelepah, menghisap cairan dari dalam daun bagian pinggir, ataupun daun-daun bagian tengah. Hama tersebut menyebabkan penurunan jumlah anakan, daun-daun padi berwarna kuning sampai kuning oranye dan pertumbuhan tanaman yang terhambat (memendek). Pemupukan unsur nitrogen yang tinggi juga sangat memicu perkembangan hama ini (Yulianto, et al., 2015).
3. Wereng Padi Loreng. Hama ini disebut wereng padi bersayap zig-zag atau wereng padi loreng karena pada sayap seperti ada zig-zag sekitar 3,5-4 mm. Nimfanya merupakan penular virus yang baik.
4. Walang Sangit. Salah satu hama yang umum merusak padi pada fase pemasakan.
Mekanismenya yaitu menghisap dan merusak butiran gabah. Apabila diganggu, serangga akan mengeluarkan bau untuk mempertahankan dirinya. Selain itu bau yang dikeluarkan dapat juga digunakan untuk menarik walang sangit dari spesies yang sama. Kerusakan yang menyebabkan beras mengapur dan berubah warna, serta gabah menjadi hampa (Yulianto, et al., 2015).
5. Pengorok Daun (Leaf Minners) memakan jaringan daun yang terdapat diantara bawah dan atas daun, dengan membuat terowongan. Di Indonesia pengorok daun menjadi hama penting yaitu Nymphola depunctalis (hama putih) yang menyerang daun padi mulai dipersemaian hingga di lapang. Daun yang telah dikorok akhirnya menjadi putih, yang tertinggal hanya kerangka daunnya saja, ngengatnya juga bau dan berwarna putih dengan bagian sayapnya terdapat benang-benang coklat, sehingga disebut hama putih (Tjahjadi, 2012: 70).
6. Lembing Hijau dikenal juga dengan nama kepik hijau. Tanaman inang hama ini salah satunya adalah tanaman padi. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu penanaman serentak, pergiliran tanaman dan sebelum pengendalian dengan menggunakan insektisida dilakukan pengamatan secara intensif.
7. Penggerek Batang Putih (Tryporiza Innotata), larva menyerang bibit dan tanaman dewasa.
8. Penggerek Batang Kuning (Tryporiza Incertulas), ngengat betina dapat bertelur 200- 300 telur, 4-5 hari kemudian menetas, larva berwarna kuning, ngengat berwarna kuning, ngengat jantannya berwarna cokelat abu-abu dan berukuran lebih kecil daripada betinanya.
9. Penggerek Batang Bergaris (Chillo supressalis), larva berkepala kuning, berwarna abu-abu dan ada garis ungu di sepanjang tubuhnya.
10. Penggerek Batang Merah (Sesamia inferens), larva berwarna jingga/ungu menggerek tanaman muda dan tua.
11. Penggerek Batang Padi dapat menimbulkan gejala sundep, jika menyerang tanaman padi pada masa vegetatif (yang belum berbunga). Pucuk batang padi akan berwarna kuning, menjadi kering dan muda dicabut. Jika batang padi digerek pada masa generatif (waktu tanaman berbunga), maka bulir padi menjadi hampa disebut gejala beluk (Tjahjadi, 2012: 69).
12. Tikus mempunyai sifat-sifat yang khusus sehingga merupakan hama yang cukup penting pada tanaman padi. Tikus menyerang tanaman pada bagian tengah petak sawah. Tanda-tanda adanya serangan: ada liang tikus, ada tikus, ada kotoran tikus, dan adanya potongan-potongan padi dirusak tikus (Tjahjadi, 2012: 65).
2.6. Pestisida
Secara harfiah, ‘pestisida’ pembunuh hama (pest: hama dan cide: membunuh). Salah satu masalah yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia adalah penggunaan pestisida.
Penggunaan pestisida sangat identik dengan bidang pertanian. Mula-mula cara sederhana yang dilakukan manusia dalam membunuh hama yaitu dengan cara mekanik dan fisik sebagai bentuk pertahanan alami manusia. Namun semakin luasnya daerah pertanian dan pertambahannya penduduk dunia maka cara-cara sederhana tak mampu membendung keganasan hama dan peningkatan populasi. Dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, kemudian dikembangkan cara pengendalian yang lebih efektif dibandingkan dengan metode mekanik dan fisik, yaitu dengan konsep pengendalian hama pada penggunaan pestisida.
Pestisida digunakan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman agar keberadaannya tidak berpotensi merusak peningkatan
produktivitas padi dan tidak menyebabkan kerugian bagi para petani. Disamping perannya yang penting, ternyata penggunaan pestisida berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi pengguna, konsumen, dan lingkungan. Oleh sebab itu penggunaan pestisida dalam pembasmian hama dan penyakit pada tanaman padi hendaknya diusahakan dengan seminimal dan sebijak mungkin dengan cara yang sangat hati-hati, efesien, efektif, dan tepat guna. Di mana aplikasi pestisida harus menerapkan prinsip 5T antara lain tepat jenis, tepat sasaran, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu.
2.6.1. Jenis – Jenis Pestisida
Ada berbagai jenis pestisida dan fungsinya, masing-masing dimaksudkan untuk efektif terhadap hama tertentu. Istilah “-cide” berasal dari kata latin “to kill” :
1. Algaecides digunakan untuk membunuh dan / atau memperlambat pertumbuhan alga.
2. Antimicrobials mengendalikan kuman dan mikroba seperti bakteri dan virus.
3. Biopesticides terbuat dari makhluk hidup, berasal dari makhluk hidup, atau ditemukan di alam.
4. Desiccants digunakan untuk mengeringkan jaringan tanaman hidup.
5. Defoliants menyebabkan tanaman menjatuhkan daunnya.
6. Disinfectants mengendalikan kuman dan mikroba seperti bakteri dan virus.
7. Fungicides digunakan untuk mengendalikan masalah jamur seperti jamur, jamur, dan karat.
8. Herbicides membunuh atau menghambat pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan, alias gulma.
9. Illegal and Counterfeit Pesticides diimpor atau dijual secara ilegal.
10. Insecticides digunakan untuk mengendalikan serangga.
11. Insect Growth Regulators mengganggu pertumbuhan dan reproduksi serangga.
12. Minimum Risk Regulators dikecualikan dari pendaftaran EPA, tetapi banyak negara mengharuskan mereka untuk terdaftar.
13. Miticides mengendalikan tungau yang memakan tanaman dan hewan. Tungau bukanlah serangga, tepatnya.
14. Molluscicides dirancang untuk mengendalikan siput, siput, dan moluska lainnya.
15. Mothballs adalah insektisida yang digunakan untuk membunuh hama kain dengan pengasapan dalam wadah tertutup.
16. Natural and Biological Pesticides mengendalikan hama menggunakan benda-benda yang ditemukan di alam, atau versi buatan manusia yang ditemukan di alam.
17. Ovicides digunakan untuk mengendalikan tungau dan telur serangga.
18. Pheromones adalah bahan kimia aktif biologis yang digunakan untuk mengganggu perilaku kawin mereka atau menarik serangga. Rasio bahan kimia dalam campuran sering spesifik spesies.
19. Plant Growth Regulators digunakan untuk mengubah pertumbuhan tanaman. Misalnya, mereka dapat menyebabkan atau menunda pembungaan.
20. Repellents dirancang untuk mengusir hama yang tidak diinginkan, sering dengan rasa atau bau.
21. Rodenticides digunakan untuk membunuh tikus seperti tikus, tikus, dan akan menghubungkan.
22. Synergists membuat pestisida tertentu lebih efektif, tetapi mereka tidak efektif ketika digunakan sendiri.
23. Wood Preservatives digunakan untuk membuat kayu tahan terhadap serangga, jamur dan hama lainnya
2.6.2. Pencampuran Pestisida
Cara pencampuran Pestisida dapat diketahui dengan membaca label pada botol pestisida Pencampuran pestisida dalam aplikasinya (tank mix) dapat dilakukan apabila:
1. Sasarannya berbeda.
2. Tidak menimbulkan efek buruk ketika pestisida dicampurkan.
3. Pencampuran dilakukan dengan bertujuan untuk menimbulkan efikasi pestisida atau sinergisme.
4. Pencampuran, khususnya pada fungisida atau herbisida dapat dilakukan untuk memperluas spektrum pengendaliannya.
5. Pencampuran juga dapat dilakukan apabila bertujuan dalam memecahkan organisme tanaman pengganggu yang sudah resisten atau untuk mencegah/menunda resistensi.
2.6.3. Teknik Aplikasi Pestisida
Dalam melakukan teknik aplikasi pestisida ada beberapa metode aplikasi yang dapat digunakan, yaitu sebagai berikut:
1. Penyemprotan (spraying)
Cara ini dilakukan untuk formulasi pestisida yang mudah larut dalam air.
2. Penaburan (broad casting)
Cara ini dilakukan untuk pestisida yang berjenis granula (butiran).
3. Penghembusan (dusting)
Cara ini dilakukan untuk pestisida yang mempunyai bentuk seperti debu.
4. Pencelupan (diping)
Cara ini dilakukan untuk mengendalikan hama penyakit pada bibit, cangkok, atau stek.
5. Penyiraman di sekitar akar tanaman.
2.6.4. Dosis Pestisida
Dosis adalah jumlah yang diaplikasikan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman dalam setiap satuan luas bidang, misalnya berapa kilogram pestisida per hektar, liter produk pestisida per hektar dan sebagainya. Untuk fumigasi ruangan, dosis adalah jumlah fumigan yang diaplikasikan untuk setiap satuan volume ruang sasaran (liter/m3 ,gram/m3 ). Dosis dapat dinyatakan dalam dosis produk atau dosis bahan aktif. Kadar bahan aktif produk umumnya dapat diperkirakan dari angka-angka yang terdapat dalam nama dagangnya. Kandungan bahan aktif juga dicantumkan dalam label pestisida bersangkutan atau pada petunjuk penggunaan yang menyertainya.
2.6.5. Konsentrasi Pestisida
Konsentrasi penyemprotan adalah jumlah pestisida yang dicampurkan dalam satu liter air (atau bahan pengencer lainnya ) untuk mengendalikan organisme tanaman pengganggu tertentu. Konsentrasi dinyatakan dalam milliliter (ml,cc), produk perliter air (produk cair), gram produk per literair (produk cair), atau persen (produk padat atau cair).
2.6.6. Faktor Penggunaan Pestisida
Berikut beberapa faktor dalam penggunaan pestisida : 1. Faktor Cuaca
Faktor cuaca adalah salah satu yang menjadi salah satu pertimbangan dalam penggunaan pestisida. Dalam cuaca terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
a. Gerakan udara b. Presipitasi
c. Kelembapan udara d. Suhu udara
2. Gunakan Pestisida bila benar-benar diperlukan.
3. Gunakan pestisida yang diperuntukkan bagi organisme pengganggu tanaman sasaran yang diizinkan untuk tanaman yang dimaksud.
4. Sedapat mungkin gunakan pestisida yang spesifik untuk sasaran tertentu, selektif dan seminimal mungkin merugikan organisme nontarget.
5. Gunakan pestisida yang tidak persisten agar mudah diurai.
6. Gunakan pestisida dengan takaran penggunaan sesuai dengan rekomendasi. Bila mungkin, gunakan pestisida yang takarannya rendah, agar tidak terlalu berat membebani lingkungan.
7. Aplikasikan pestisida dengan volume aplikasi secukupnya.
8. Jangan menyemprot bila hari akan hujan karena pestisida akan tercuci air hujan dan mencemari lingukungan.
9. Jangan mencampur pestisida, mencuci alat-alat aplikasi dan mencuci pakaian kerja yang terkontaminasi diair yang mengalir.
10. Jangan membuang sisa pestisida disembarang tempat.
11. Perhatikan kemana arah angin dan juga jangan menyemprot bila angin terlalu kuat.
12. Gunakan droplet ukuran sedang untuk segala keperluan penyemprotan. Bila perlu gunakan ukuran droplet sangat halus dan aplikasikan dengan ekstra hati-hati.
13. Jangan membuang bekas kemasan pestisida disembarang tempat.
14. Wadah berupa kertas/karton dan plastik sebaiknya dibakar.
15. Wadah berupa gelas sebaiknya dipecah dan dikubur ditempat yang aman.
16. Kemasan dari kaleng sebaiknya dilubangi, dihancurkan, dan dikubur ditempat yang aman.
BAB 3
ANALISIS DAN PERANCANGAN
3.1. Analisis Sistem
Analisis Sistem merupakan teknik pemecahan informasi untuk menguraikan sebuah sistem menjadi beberapa bagian komponen yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan yang ada serta mengetahui syarat-syarat yang diperlukan oleh sistem. Analisis sistem mempunyai tiga fase dalam mendeskripsikan pengembangannya yaitu, analisis masalah, analisis kebutuhan dan analisis proses.
Adapun tujuan dari analisis masalah adalah untuk memahami dan mempelajari bidang masalah dengan pemahaman yang cukup baik secara menyeluruh dengan menganalisis masalah, kesempatan, dan batasan (Whitten et al, 2004). Sedangkan tujuan dari analisis kebutuhan adalah untuk menjelaskan fungsi-fungsi yang mampu dikerjakan oleh sistem, baik kebutuhan fungsional maupun kebutuhan non-fungsional.
3.1.1. Analisis Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang akan diselesaikan oleh sistem adalah bagaimana penentuan pestisida dalam membasmi hama tanaman padi. Masalah yang ada didefiniskan menggunakan diagram Ishikawa. Diagram Ishikawa untuk permasalahan pada penelitian ini dapat diperhatikan pada gambar 3.1.
Gambar 3.1. Analisis Masalah
Diagram Ishikawa seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.1. Gambar tersebut menunjukkan permasalahan utama yang terletak pada bagian kepala ikan yaitu penentuan pestisida tanaman padi. Terdapat penyebab permasalahan yang dikelompokkan menjadi 4 bagian yaitu metode, mesin, manusia dan material. Pada bagian metode dijelaskan bagaimana proses itu dilakukan. Bagian mesin menjelaskan peralatan mesin yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Bagian manusia menjelaskan masalah apa saja yang diterima pengguna dalam menjalankan sebuah proses serta orang-orang yang terlibat dengan proses tersebut. Dan pada bagian material dijelaskan bahan utama yang diperlukan dalam menjalankan proses.
3.1.2. Analisis Kebutuhan (Requirements Analysis)
Setelah diketahui penyebab dari permasalahan yang ada, dilakukan analisis kebutuhan sistem untuk mengetahui apa-apa saja yang diperlukan dalam pembuatan sistem ini sehingga dapat memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Dalam proses ini, terdapat dua bagian analisis kebutuhan yaitu kebutuhan fungsional dan non fungsional.
Kebutuhan fungsional merupakan hal atau proses apa yang harus disediakan dan dapat dikerjakan oleh sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sementara kebutuhan non-fungsional merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan performa dari suatu sistem agar diperoleh kinerja sistem yang baik. Analisis kebutuhan sistem ini dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu:
3.1.2.1. Kebutuhan Fungsional
Merupakan sebuah deskripsi dari aktivitas yang menyatakan kemampuan fungsional atau perilaku dari sebuah sistem. Kebutuhan fungsional ini diantaranya adalah input, output, process dan stored data. Adapun kebutuhan fungsional pada sistem ini yaitu :
1. Sistem dapat melakukan proses penentuan pestisida dengan menggunakan metode weighted product berdasarkan kriteria yang diinputkan oleh user berupa bahan aktif, harga, daya tahan simpan dan hama yang dibasmi.
2. Sistem dapat menyimpan data pestisida yang akan digunakan untuk penentuan pestisida dalam SQLite Database.
3. Sistem dapat menampilkan lima hasil rekomendasi alternatif setelah menjalankan proses penentuan pestisida tersebut.
3.1.2.2. Kebutuhan Non-Fungsional
Kebutuhan non-fungsional merupakan sebuah deskripsi dari sistem berupa fitur, karakteristik, batasan dan standarisasi yang mengidentifikasi sebuah sistem harus memuaskan (kualitas sistem). Adapun kebutuhan non fungsional dari sistem ini yaitu :
1. User Friendly
Sistem yang dibuat memiliki tampilan interface yang dapat dengan mudah dipelajari dan digunakan oleh pengguna.
2. Efektif dan Efisien
Sistem dirancang agar dapat berjalan dengan baik tanpa membebani kinerja dari komputer yang akan dijalankan.
3. Performa
Aplikasi dapat berjalan relatif cepat dalam menentukan pestisida pembasmi hama tanaman padi
4. Hemat Biaya
Sistem yang dibangun tidak memerlukan perangkat tambahan sehingga tidak memerlukan biaya yang besar.
3.1.3. Analisis Proses
Pengujian dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui apakah hasil perhitungan metode weighted product (wp) pada sistem sama dengan hasil perhitungan yang dilakukan secara manual. Pengujian dilakukan menggunakan data yang sama pada sistem. Diberikan data uji berupa 50 (lima puluh) alternatif yang akan menjadi hasil rekomendasi keputusan, 4 (empat) kriteria pestisida dan rating kecocokan dari setiap alternatif pada setiap kriteria.
Adapun kriteria, alternatif dan rating kecocokan dari setiap alternatif terhadap kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Alternatif
Adapun 50 (lima puluh) data uji alternatif dalam pengambilan keputusan dapat dilihat pada Tabel 3.1. berikut.
Tabel 3.1. Data Uji Alternatif
Alternatif Deskripsi
A1 Abuki 50 SL
A2 Acqura 500 EC
A3 Actara 25 WG
A4 Agadi 50 SC
A5 Agent 50 SC
A6 Agricarb 500 EC
A7 Agrovin 0,5 GR
A8 Ajin 70 WP
A9 Amfipron 0,3 GR
A10 Aneto 0,5 GR
A11 Apronil 50 SC
A12 Amabas 500 EC
A13 Alphadine 6 GR
A14 Alena 200 SL
A15 Alamo 350 SC
A16 Alfamex 18 EC
A17 Ajar 450 SL
A18 Aspril 100 SC
A19 Astermida 10 WP
A20 Avidor 200 SL
A21 Badik 18 EC
A22 Bajaj 450 SL
A23 Balistic
A24 Betador 10 WP
A25 Blazz 450 SL
A26 Borrex 500 SL
A27 Centrador 10 WP
A28 E-TO 400 SL
A29 Gaucho 350 FS
A30 Neptune 25 WP
A31 Nuprid 70 WG
A32 Obr 25 WP
A33 Panindo 10 WP
A34 Regent 80 WG
A35 Samber 50 SL
A36 Sidabas 500EC
A37 Sidatan 410 SL
A38 Stembor 0,5 GR
A39 Topdor 10 WP
A40 Topida 25 WP
A41 Topnil 50 SC
A42 Triactive 500 SL
A43 Tsubame 18 EC
A44 Viligon 10 WP
A45 Vista 400 SL
A46 V-Pro 50 EC
A47 Wingran 0,5 GR
A48 Winyard 70 WP
A49 Wiper 50 EC
A50 Zychate 25 WP
2. Kriteria
Proses perhitungan dimulai dengan menentukan kriteria – kriteria pestisida yang dijadikan titik acuan untuk pengambilan keputusan. Dimana pada sistem ini ada lima kriteria dasar yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan, yaitu:
- C1 : Bahan Aktif - C2 : Harga
- C3 : Daya Tahan Simpan - C4 : Hama yang Dibasmi
Selanjutnya pengambil keputusan memberi bobot preferensi dari setiap kriteria sebagai: W=(1,3,2,3) dengan masing-masing atributnya (keuntungan/benefit atau biaya/cost). Dimana atribut cost berbanding terbalik sedangkan atribut benefit berbanding lurus dengan antara bobot dengan kriterianya. Tabel 3.2. berikut menyatakan bobot kriteria yang ditentukan:
Tabel 3.2. Bobot Kriteria yang ditentukan
Kriteria Deskripsi Bobot Atribut
C1 Bahan Aktif 1 Benefit
C2 Harga 3 Cost
C3 Daya Tahan Simpan 2 Benefit
C4 Hama Yang Dibasmi 3 Benefit
Setelah itu secara detail kriteria dan sub kriteria pestisida dapat dilihat pada Tabel 3.3.
berikut.
Tabel 3.3. Kriteria dan Sub Kriteria Pestisida
No Kriteria Sub Kriteria
1 Bahan Aktif 1 Bahan Aktif
2 Harga
Rp. 10.000 – Rp. 25.000 Rp. 25.000 – Rp. 40.000 Rp. 40.000 – Rp. 55.000 Rp. 55.000 – Rp. 70.000
Rp. 70.000 – Rp. 85.000
3 Daya Tahan Simpan
1 Tahun 1 sampai 2 Tahun 2 sampai 3 Tahun 3 sampai 4 Tahun lebih dari 4 Tahun
4 Hama Yang Dibasmi
1 Hama 2 Hama 3 Hama 4 Hama lebih dari 5 Hama
Setelah kriteria dan sub kriteria ditentukan, selanjutnya menentukan pembobotan dari setiap kriteria. Dapat dilihat pada Tabel 3.4, Tabel 3.5, Tabel 3.6 dan Tabel 3.7.
berikut.
Tabel 3.4. Bobot Kriteria Bahan Aktif
Kriteria Kriteria Penilaian / Bobot Kriteria
1 Bahan Aktif 1
Tabel 3.5. Bobot Kriteria Harga
Kriteria Kriteria Penilaian / Bobot Kriteria
Rp. 10.000 – Rp. 25.000 5
Rp. 25.000 – Rp. 40.000 4
Rp. 40.000 – Rp. 55.000 3
Rp. 55.000 – Rp. 70.000 2
Rp. 70.000 – Rp. 85.000 1
Tabel 3.6. Bobot Kriteria Daya Tahan Simpan
Kriteria Kriteria Penilaian / Bobot Kriteria
1 Tahun 1
1 sampai 2 Tahun 2
2 sampai 3 Tahun 3
3 sampai 4 Tahun 4
lebih dari 4 Tahun 5
Tabel 3.7. Bobot Kriteria Hama Yang Dibasmi
Kriteria Kriteria Penilaian / Bobot Kriteria
1 Hama 1
2 Hama 2
3 Hama 3
4 Hama 4
Lebih dari 5 Hama 5
3. Rating Kecocokan
Rating kecocokan alternatif pada setiap kriteria dapat diperhatikan pada Tabel 3.8.
berikut :
Tabel 3.8. Rating Kecocokan Alternatif Pada Setiap Kriteria
Alternatif Kriteria
C1 C2 C3 C4
Abuki 50 SL 1 1 2 3
Acqura 500 EC 1 2 3 1
Actara 25 WG 1 3 2 2
Agadi 50 SC 1 2 3 2
Agent 50 SC 1 3 4 2
Agricarb 500 EC 1 4 2 2