• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panduan Pengguna Untuk Sektor Kelapa Sawit. Indonesia 2050 Pathway Calculator

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Panduan Pengguna Untuk Sektor Kelapa Sawit. Indonesia 2050 Pathway Calculator"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Panduan Pengguna Untuk Sektor Kelapa Sawit

Indonesia 2050 Pathway Calculator

(2)

1

Daftar Isi

1. Ikhtisar Sektor Kelapa Sawit Indonesia ... 3

2. Asumsi ... 7

3. Metodologi ... 9

4. Hasil Pemodelan ... 11

5. Referensi ... 13

(3)

2

Daftar Tabel

Tabel 1. Tren produktivitas kelapa sawit Indonesia ... 6

Tabel 2. Perbandingan kandungan karbon di atas tanah untuk kelapa sawit dan tutupan lahan lain ... 8

Daftar Gambar Gambar 2. Pembagian tutupan lahan Indonesia dan Malaysia ... 3

Gambar 3. Tren perubahan luas areal kelapa sawit Indonesia ... 4

Gambar 4. Tren total produksi kelapa sawit Indonesia (sumber: PUSDATIN 2014, hal. 12) ... 5

Gambar 5. Produktivitas kelapa sawit dunia ... 7

Gambar 6. Proyeksi Luas Perkebunan Kelapa Sawit hingga tahun 2050 ... 11

Gambar 7. Proyeksi Produktivitas Kelapa Sawit hingga tahun 2050 ... 11

(4)

3

1. Ikhtisar Sektor Kelapa Sawit Indonesia

Sektor kelapa sawit Indonesia telah berkembang pesat selama tiga dekade terakhir dan perkembangan ini seringkali dikaitkan dengan pembukaan tutupan hutan dan peningkatan emisi.

Mengingat tren perkembangan ini tampaknya masih akan bertahan pada masa yang akan datang, oleh karena itu, proyeksi perkembangan sektor kelapa sawit perlu diperhatikan sebagai suatu bentuk antisipasi terhadap peningkatan emisi. Menurut Wicke dkk (2011, hal 201), luasan lahan kelapa sawit cenderung bertambah dalam tiga dekade dari tahun 1975-2005 dimana perluasan lahan untuk kelapa sawit pada tiga dekade tersebut cenderung diperoleh dari konversi area hutan (Gambar 1). Kecenderungan pembukaan tutupan hutan ini tentunya sangat berpengaruh pada potensi pengurangan emisi Indonesia dari sektor kelapa sawit.

Gambar 1. Pembagian tutupan lahan Indonesia dan Malaysia (sumber: Wicke dkk 2011, hal. 201)

Pada saat yang bersamaan, data dari PUSDATIN pertanian menunjukkan bahwa dalam 30 tahun

terakhir sektor kelapa sawit Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan baik dalam tiga

aspek yaitu luas total lahan yang digunakan, total produksi CPO (Crude Palm Oil), maupun tingkat

produktivitas. Pertama, dalam rentang waktu tiga dekade tersebut, lonjakan peningkatan luas lahan

kelapa sawit paling pesat baru terjadi sejak satu dekade terakhir, lebih dari dua kali lipat, dari sekitar

(5)

4 4 juta hektar pada tahun 2000 menjadi sekitar 9000 hektar pada tahun 2011 (Gambar 2). Kedua, selama tiga dekade terakhir tersebut pula, terjadi pula peningkatan signifikan produksi CPO Indonesia, yang terdiri dari produksi Perkebunan Besar Negara (PBN), Perkebunan Besar Swasta (PBS), dan Perkebunan Rakyat (PR), dari ratusan ribu ton pada tahun 80an hingga mencapai sekitar 28 juta ton pada tahun 2013 (Gambar 3). Kemudian, mengacu pada data dari World Growth (2011), Indonesia sudah menjadi produsen minyak kelapa sawit yang cukup besar sejak dua puluh tahun yang lalu tetapi baru sekitar tahun 2006 negara ini berhasil melampaui Malaysia untuk menjadi produsen terbesar dunia (hal. 6-7).

Gambar 2. Tren perubahan luas areal kelapa sawit Indonesia

(sumber: PUSDATIN 2013a, hal. 1)

(6)

5 Gambar 3. Tren total produksi kelapa sawit Indonesia

(sumber: PUSDATIN 2014, hal. 12)

(7)

6 Tabel 1. Tren produktivitas kelapa sawit Indonesia

Sumber: PUSDATIN 2014, hal. 55

Ketiga, bersamaan dengan peningkatan luas total lahan yang digunakan dan total produksi CPO,

produktivitas kelapa sawit Indonesia cenderung meningkat pula. Tabel 1 diatas menunjukan bahwa

luas Tanaman Menghasilkan (TM) Indonesia saat ini adalah sekitar 70% dari total luas tanam yang

telah ditunjukkan dalam Gambar 2. Selain itu, tabel di atas juga menunjukkan bahwa tingkat

produktivitas kelapa sawit Indonesia terus meningkat dengan angka rata-rata saat ini sekitar 3,8

ton/ha. Meskipun demikian, Kongsager & Reenberg (2012) menunjukkan bahwa, walau Indonesia

adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tingkat produktivitasnya masih lebih rendah

daripada China, Colombia, atau Malaysia (Gambar 4). Mereka juga mengatakan bahwa rata-rata

(8)

7 produktivitas sekitar 5,5 ton/ha sudah dapat dicapai oleh beberapa perkebunan swasta di Malaysia (hal. 12). Selanjutnya, mereka mengindikasikan bahwa pemanfaatan minyak inti sawit dapat meningkatkan produktivitas hingga 0,5 ton/ha (hal. 12). Selain itu, mereka juga menunjukkan bahwa beberapa uji coba pembiakan telah berhasil menghasilkan hingga 10 ton/ha, sebuah kemajuan yang cukup signifikan mengingat bahwa secara teoretis produktivitas maksimum kelapa sawit adalah 18 ton/ha (hal. 12). Kesemua ini menunjukkan bahwa masih banyak ruang untuk perbaikan dalam hal produktivitas kelapa sawit Indonesia tanpa harus mengakibatkan perluasan lahan yang eksesif.

Gambar 4. Produktivitas kelapa sawit dunia (sumber: Kongsager & Reenberg 2012, hal. 12)

2. Asumsi

Berdasarkan tren perkembangan sektor kelapa sawit yang telah dipaparkan diatas, maka dapat dilihat bahwa sektor ini kemungkinan besar masih akan berkembang pesat pada masa yang akan datang. Kesimpulan serupa juga dikemukakan dalam dua stakeholder consultation yang telah dilakukan untuk sektor kelapa sawit dalam proses pembuatan model I2050PC ini. Walaupun para pemangku kebijakan cenderung setuju bahwa total luas yang diperlukan akan terus meningkat, mereka mengatakan bahwa tren perkembangan ini kedepannya akan lebih landai dibandingkan apa yang terjadi ketika lonjakan besar satu dekade terakhir sebelum tahun 2010.

Pada saat yang bersamaan, para pemangku kebijakan juga sangat tertarik dengan pembahasan

potensi pengembangan produktivitas kelapa sawit. Menurut paparan mereka pada kedua

stakeholder consultations yang diadakan, Indonesia dapat saja mengejar produktivitas Malaysia saat

ini, tapi untuk mencapai nilai yang lebih tinggi mungkin akan lebih susah. Walau demikian, para

pemangku kebijakan cukup setuju dengan temuan-temuan studi literatur yang ada dimana hasil

(9)

8 manajemen perkebunan sawit intensif dapat saja mencapai peningkatan lebih dari 100%

dibandingkn nilai saat ini. Oleh karena itu, level empat pilihan produktivitas akan dianggap sebagai best possible scenario dimana rata-rata nasional produktivitas minyak sawit Indonesia mencapai 8 ton/ha.

Untuk kandungan karbon di atas tanah (AGC), dipergunakan nilai rata-rata yang diajukan oleh BAPPENAS (2015) yaitu sebesar 63 ton/ha. Nilai ini dipilih karena masih serupa dengan rentang AGC yang diajukan oleh literatur-literatur lain seperti Agus dkk (2013) dan Carre dkk (2010). Sebagai acuan, bisa dilihat perbadingan nilai AGC yang dipilih dengan nilai AGC dari Agus dkk (2013) yang disajikan di Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan kandungan karbon di atas tanah untuk kelapa sawit dan tutupan lahan lain

Sumber: Agus dkk 2013

(10)

9

3. Metodologi

Dengan pertimbangan ease of use dan user-friendliness, maka emisi dari sektor kelapa sawit akan dihitung berdasarkan peningkatan stok karbon yang terkandung. Oleh karena itu, persamaan yang akan digunakan adalah:

Emisi = Luas Area x Kandungan Karbon atau E = A x AGC

dimana E = Emisi (dalam ton CO

2eq

)

A = Luas Area (dalam hektar atau ha)

AGC = Kandungan karbon diatas tanah (dalam ton CO

2eq

per hektar).

Berdasarkan latar belakang dan asumsi yang telah dijabarkan diatas, maka pemodelan sektor kelapa sawit dalam I2050PC dibagi menjadi dua tuas (lever): satu untuk luas lahan dan satu untuk produktivitas. Walau perhitungan kontribusi emisi dari sektor kelapa sawit hanya akan dipengaruhi tuas luas, tuas produktivitas juga akan dipresentasikan ke pengguna. Hal ini untuk mengakomodasi pengguna yang menginginkan trajektori peningkatan luas yang paling minimal namun tetap ingin terus meningkatkan total produksi minyak kelapa sawitnya, sehingga skenario tersebut dapat direalisasikan melalui tuas produktivitas. Maka dari itu, pemodelan kedua tuas untuk sektor kelapa sawit akan dilakukan sebagai berikut:

Luas Perkebunan Kelapa Sawit

Level 1

Level 1 mengasumsikan luas perkebunan kelapa sawit bertambah hingga mencapai 20 juta ha pada tahun 2050. Walau terdengar sangat besar, hal ini sangat mungkin terjadi bila laju pertumbuhan luas perkebunan kelapa sawit dua dekade terakhir terus meningkat hingga tahun 2050.

Level 2

Level 2 mengasumsikan luas perkebunan kelapa sawit bertambah hingga mencapai 18 juta ha pada tahun 2050. Hal ini dapat terjadi apabila terdapat pengaruh internasional dan nasional. Pengaruh internasional adalah permintaan pasar global cenderung melandai. Pengaruh nasional adalah penerapan kebijakan-kebijakan nasional seperti insentif untuk intensifikasi produktivitas kelapa sawit ataupun penentuan batasan pembukaan lahan hutan baru.

Level 3

(11)

10 Level 3 mengasumsikan luas perkebunan kelapa sawit bertambah hingga mencapai 16 juta ha pada tahun 2050. Hal ini dapat dicapai bila kebijakan-kebijakan pembukaan lahan baru benar-benar diperketat bersamaan dengan persyaratan rotasi peremajaan yang eksplisit bagi semua perkebunan kelapa sawit.

Level 4

Level 4 mengasumsikan luas perkebunan kelapa sawit hanya bertambah hingga mencapai 14 juta ha pada tahun 2050. Hal ini dapat dicapai bila regulasi pembukaan lahan benar-benar diperketat, program-program KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) diperkuat, serta kebijakan dan dukungan untuk peremajaan perkebunan disalurkan secara merata.

Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit

Level 1

Level 1 mengasumsikan produktivitas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2050 masih sama dengan tahun dasar 2011 yaitu 3,5 ton/ha. Hal ini dapat terjadi apabila pengelolaa pekebunan kelapa sawit pada tingkat nasional tidak mengalami perbaikan yang berarti. Tanpa adanya kebijakan-kebijakan yang mendorong perbaikan produktivitas nasional secara terarah, produktivitas kelapa sawit nasional tidak akan banyak berubah.

Level 2

Level 2 mengasumsikan produktivitas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2050 mengalami peningkatan hingga 4,2 ton/ha. Hal ini dapat dicapai melalui beberapa kebijakan yang mendukung perbaikan pengelolaan perkebunan rakyat seperti penyuluhan dan bantuan peremajaan.

Level 3

Level 3 mengasumsikan produktivitas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2050 telah mencapai 5,6 ton/ha. Hal ini dapat dicapai melalui dukungan pemerintahan yang jelas terhadap sektor kelapa sawit seperti insentif dan bantuan peremajaan untuk PR dan PBN.

Level 4

Level 4 mengasumsikan terjadinya peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit pada tahun

2050 hingga mencapai 8 ton/ha dengan cara memberikan bantuan input pertanian lebih besar ke PR

(12)

11 dan PBN serta dukungan akses infrastruktur pengangkutan dan pemrosesan TBS (Tandan Buah Segar).

4. Hasil Pemodelan

Dari paparan iktisar, asumsi yang dipergunakan, dan metodologi di atas, maka diperoleh hasil pemodelan dalam bentuk proyeksi luas perkebunan kelapa sawit dan produktivitas kelapa sawit Indonesia hingga tahun 2050 yang disajikan pada Gambar 5 & 6.

Gambar 5. Proyeksi Luas Perkebunan Kelapa Sawit hingga tahun 2050 (sumber: Penulis)

Gambar 6. Proyeksi Produktivitas Kelapa Sawit hingga tahun 2050 (sumber: Penulis)

Level 1 (2050) 20 juta ha Level 2 (2050)

18 juta ha Level 3 (2050)

16 juta ha Level 4 (2050)

14 juta ha

5.0 7.5 10.0 12.5 15.0 17.5 20.0

1990 2000 2010 2020 2030 2040 2050

Lu a s (j u ta h a )

Luas Perkebunan Kelapa Sawit

Level 1 (2050) 3.5 ton/ha Level 2 (2050)

4.2 ton/ha Level 3 (2050)

5.6 ton/ha Level 4 (2050)

8 ton/ha

2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00

1990 2000 2010 2020 2030 2040 2050

P ro d u k ti v it a s (t o n /h a )

Produktivitas Kelapa Sawit

(13)

12 Selanjutnya, proyeksi potensi kontribusi emisi sektor kelapa sawit Indonesia untuk masing-masing level dapat dihitung sebagai berikut:

Level 1

Pembukaan lahan kelapa sawit hingga 20 juta ha mengakibatkan peningkatan emisi sekitar 1,412 miliar ton CO

2eq

.

Level 2

Pembukaan lahan kelapa sawit hingga 18 juta ha mengakibatkan peningkatan emisi sekitar 1,152 miliar ton CO

2eq

.

Level 3

Pembukaan lahan kelapa sawit hingga 16 juta ha mengakibatkan peningkatan emisi sekitar 887,1 juta ton CO

2eq

.

Level 4

Pembukaan lahan kelapa sawit hingga 14 juta ha mengakibatkan peningkatan emisi sekitar 622,3 juta ton CO

2eq

.

Walaupun angka potensi emisi dari semua level menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan,

perlu diingat bahwa jangkauan keempat level yang dipresentasikan jauh lebih rendah dibandingkan

apa yang mungkin terjadi. Dari level-level tersebut, kita bisa membuka opsi-opsi kemungkinan

berbagai skenario pengendalian emisi dari sektor perkebunan kelapa sawit yang dapat digunakan

sebagai dasar pengambilan keputusan oleh berbagai aktor, mulai dari tingkatan global hingga lokal.

(14)

13

5. Referensi

Agus, F, Henson, IE, Sahardjo, BH, Haris, N, van Noordwijk, M & Killeen, TJ 2013, “Review of Emission Factors for Assessment of CO

2

Emission From Land Use Change to Oil Palm in Southeast Asia”, Reports from the Technical Panels of the 2

nd

Greenhouse Gas Working Group of the Roundtable on Sustainable Palm Oil, hal. 7-28.

BAPPENAS (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional) 2015, “Pembentukan BAU Baseline Bidang Berbasis Lahan”, Sekretariat RAN-GRK, diunduh 30 Maret 2015,

<http://www.sekretariat-rangrk.org/english/home/9-uncategorised/173-baulahan>.

Carre, F, Hiederer, R, Blujdea, V & Koeble, R 2010, Background Guide for the Calculation of Land Carbon Stocks in the Biofuels Sustainability Scheme – Drawing on the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories, Office for Official Publications of the European Communities, Luxembourg.

Kongsager, R & Reenberg, A 2012, Contemporary land-use transitions: The global oil palm expansion, GLP Report No. 4, GLP-IPO, Copenhagen.

PUSDATIN (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian) 2013, “Kelapa Sawit”, Informasi Ringkas Komoditas Perkebunan, No. 01/01/I, 7 Januari 2013, diunduh 28 Januari 2015,

<http://pusdatin.setjen.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/A1_Jan_Klp_Sawit.pdf>.

Wicke, B, Sikkema, R, Dornbug, V & Faaij, A 2011, “Exploring land use changes and the role of palm oil production in Indonesia and Malaysia”, Land Use Policy, no. 28, hal. 193-206.

World Growth 2011, The Economic Benefit of Palm Oil to Indonesia, World Growth, Arlington.

Gambar

Gambar 1. Pembagian tutupan lahan Indonesia dan Malaysia  (sumber: Wicke dkk 2011, hal
Gambar 2. Tren perubahan luas areal kelapa sawit Indonesia  (sumber: PUSDATIN 2013a, hal
Gambar 4. Produktivitas kelapa sawit dunia  (sumber: Kongsager &amp; Reenberg 2012, hal
Tabel 2. Perbandingan kandungan karbon di atas tanah untuk kelapa sawit dan tutupan lahan lain
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sementara itu, data dari BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan bahwa terdapat indikasi permasalahan dalam metodologi penentuan dan penghitungan luas lahan

Dengan acuan bahwa penggunaan satu unit pesawat baru dapat menghemat konsumsi energi hingga 15% (berdasarkan hasil Pertemuan Stakeholder Consultation , September 2014), maka

Cangkang kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak-kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60 % dari produksi minyak.. Tempurung buah kelapa sawit

Selain itu, terlihat bahwa upaya reboisasi Indonesia, khususnya pada tahun 2010, 2011, dan 2012, tidak berdampak banyak terhadap luas lahan kritis di Indonesia (BPS,

Tutupan lahan di Indonesia dapat dikategorikan sebagai berikut: hutan perawan (virgin forest), hutan produksi, hutan rawa, hutan bakau, dan hutan tanaman industri. 10-14)

Untuk pembangkit PLTG di luar Pulau Jawa yang masih beroperasi hingga 2050, diasumsikan berasal dari PLTG yang telah ada, di antaranya adalah yang telah terpasang di Kalimantan

Level 1 menggambarkan produksi gas bumi yang terus mengalami penurunan dari produksi saat ini, sementara pada level 4 menggambarkan produksi yang mengalami peningkatan

Rantai nilai untuk minyak kelapa sawit juga cukup kompleks, panjang dan beragam dengan melibatkan pengembang minyak kelapa sawit baik petani kecil maupun perkebunan perusahaan, pedagang