• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rysta Dwi Lystyanna,Dwi Nurjayanti,Nindy Yunitasari STIKES BUANA HUSADA PONOROGO ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rysta Dwi Lystyanna,Dwi Nurjayanti,Nindy Yunitasari STIKES BUANA HUSADA PONOROGO ABSTRAK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PERILAKU STIMULASI TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH (36-72 BULAN) DI KELOMPOK BERMAIN

TUNAS BANGSA SIDOHARJO KECAMATAN JAMBON KABUPATEN PONOROGO

Rysta Dwi Lystyanna,Dwi Nurjayanti,Nindy Yunitasari STIKES BUANA HUSADA PONOROGO

ABSTRAK

Stimulus perkembangan merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak usia 0-6 tahun agar berkembang secara optimal (Sulistyawati,2014). Anak yang mendapatkan stimulasi yang terarah dan teratur maka akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau tidak mendapat stimulasi. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui hubungan perilaku stimulasi dengan perkembangan anak usia prasekolah (36-72 bulan) di Kelompok Bermain Tunas Banga Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo.

Desain Penelitian studi korelational dengan metode cross sectional. Populasi penelitian semua orang tua anak dan anak prasekolah (3-6 Tahun) di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Teknik penggambilan sampel adalah total sampling, jumlah sampel sebanyak 24 sampel orang tua dan anak. Variabel independent adalah Perilaku stimulasi, sedangkan variabel dependent adalah Perkembangan anak prasekolah. Uji statistik Spearman Rank.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruhnya 23 responden orang tua (95,8%) memiliki perilaku stimulasi baik dan hampir seluruhnya 21 responden anak usia prasekolah (87,5%) memiliki perkembangan tinggi. Berdasarkan hasil uji statistik Spearman Rank didapatkan hasil ρ = 0,005 < 0,05 dengan tingkat korelasi 0,552, maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan Perilaku Stimulasi Dengan Perkembangan Anak Usia Prasekolah (36-72 bulan) di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan Perilaku stimulasi yang baik dan sesuai dengan usia anak dapat mempengaruhi perkembangan anak sehingga perkembangan anak bisa optimal.

Kata Kunci: Perilaku Stimulasi, Perkembangan, Anak Usia Prasekolah ABSTRACT

Stimulus development is an activity to stimulate the basic ability of children aged 0-6 years to develop optimally (Sulistyawati,2014). Children who get stimulation that is directed and regularly will be faster developed compared with children who lack or not get stimulation. The purpose of this research is to know the relationship of stimulation behavior with the development of preschool age children (36-72 months) in Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Jambon District of Ponorogo.

Research design Corelational study with cross sectional method. The study population of all parents of children and preschoolers (36-72 months) in Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Jambon District of Ponorogo. Sampling technique is total sampling, total sample counted 24 sample of parents and children. Independent variable is the behavior of stimulation, while the dependent variable is the development of preschool children. Spearman Rank statistical test.

The results showed that almost all 23 respondents (95.8%) had good stimulation behavior and almost 21 respondents of preschool age (87.5%) had high development. Based on Spearman Rank statistical test results obtained ρ = 0.005 <0.05 with a correlation level of 0.552, then Ho is rejected and Ha accepted means there is a relationship Behavior Stimulation With Preschool Development (36-72 months) in Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Jambon District of Ponorogo.

Based on the results of research that has been done Behavior of good stimulation and in accordance with the age of children can affect the development of children so that the child's development can be optimal.

Keywords: Stimulation Behavior, Development, children of preschool age

PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya, antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin. Upaya ini dimulai dari perilaku orang tua dalam memberikan stimulasi terhadap

tumbuh kembang anak. Perilaku stimulasi menurut Soetjiningsih (2012) merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Anak merupakan aset berharga bagi bangsa Indonesia, masa depan masyarakat dan generasi penerus bangsa, dengan demikian dibutuhkan anak dengan kualitas yang baik dan sehat untuk

(2)

mencapai masa depan. Upaya untuk mendapatkan kualitas anak yang baik dan sehat harus dipastikan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak harus berjalan dengan baik, selain itu upaya pemeliharaan kesehatan anak juga harus ditekankan karena untuk mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian anak dimasa yang akan datang (Kemenkes RI, 2015).

Dasarnya anak memiliki pola perkembangan yang normal, dimana merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berhubungan. Faktor tersebut yaitu faktor genetik, faktor lingkungan dan faktor hormon yang dapat berfungsi sebagai penghambat atau pengoptimalan perkembangan anak, serta memberikan ciri tersendiri pada setiap anak. Menurut Hidayat (2008) faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai atau tidaknya potensi yang sudah dimiliki, faktor lingkungan dapat meliputi lingkungan prenatal (lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (lingkungan setelah bayi lahir).

Periode prasekolah adalah periode antara 36-72 bulan, yang merupakan periode kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan fisik terus menjadi jauh lebih lambat dari tahun sebelumnya sedangkan perkembangan akan terjadi peningkatan pada kognitif, bahasa, dan psikososial (Kyle & Susan, 2015). Sehingga padaperiode prasekolah diperlukan pemantauan yang ketat terhadap stimulasi yang diberikan dengan tingkat perkembangan anak, hal ini dapat digunakan sebagai cara untuk menciptakan anak yang cerdas dan sehat.

Menurut data UNICEF pada tahun 2011 didapatkan masih tingginya angka kejadian gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia balita khususnya gangguan perkembangan motorik yaitu sebesar (27,5%) atau 3 juta anak mengalami gangguan. Data Nasional menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2010, terdapat 11,5% anak balita di Indonesia mengalami kelainan pertumbuhan dan perkembangan. Hasil dari Pemeriksaan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) anak balita dan anak prasekolah sejumlah 3.657.353 anak yang mengalami masalah keterlambatan tumbuh kembang di Jawa Timur pada tahun 2010 sebesar 2.321542 (63,48%) cenderung menurun dibandingkan pada tahun 2009 sebesar 64,03%, namun hal tersebut masih dibawah target 80% (Dinkes Provinsi Jatim, 2011).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo pada bulan Januari sampai dengan September tahun 2016, didapatkan jumlah anak usia prasekolah sebesar 390 laki- laki dan 344 perempuan. Dari hasil pemeriksaan DDTK pada anak usia prasekolah didapatkan hasil anak yang mengalami penyimpangan, yaitu pada Trimester I sebesar 14 anak laki-laki dan 13 anak perempuan, Trimester II sebesar 14 anak

laki-laki dan 5 anak perempuan serta pada Trimester ke III terdapat 6 anak laki-laki dan 10 anak perempuan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 5 November 2016 yang dilakukan di Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo terdapat tempat Kelompok Bermain yang dibangun pada tahun 2014 yang lalu.

Dimana terdapat 24 anak yang berusia 36-72 bulan dan terdapat 3 anak berusia 6 tahun lebih yang terdaftar sebagai peserta didik. Kegiatan yang dilakukan antara lain, menyanyi, percakapan, mewarnai, melipat, colase, serta olahraga. Hasil wawancara dengan kepala sekolah didapatkan bahwa kondisi perkembangan anak di Kelompok Bermain tersebut tergolong baik, hanya saja ada 29,16%

anak mengalami keterlambatan dalam aspek bahasa serta 50% anak mengalami keterlambatan perkembangan pada aspek personal sosial.

Soetjiningsih (2012) menjelaskan bahwa dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang bermanfaat agar potensi anak berkembang, sehingga anak perlu mendapat perhatian.

Stimulasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Selain itu, menilai perkembangan anak sangat diperlukan terutama pada anak usia prasekolah, karena pada usia prasekolah perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan dan anak sudah mulai mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah serta tampak sekali kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat serta mereka membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang tuanya (Hidayat, 2012).

Peran perawat sebagai promotor kesehatan dalam hal ini digunakan untuk membantu melakukan penjaringan (screening) dengan jalan deteksi dini perkembangan anak usia prasekolah dengan menggunakan tes DDST II. Sehingga akan tercapai perkembangan anak yang optimal.

Berdasarkan pada latar belakang diatas maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut: “Adakah Hubungan Perilaku Stimulasi Terhadap Perkembangan Anak Usia Prasekolah (36-72 bulan) Di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo?”

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan perilaku stimulasi terhadap perkembangan anak usia prasekolah (36-72 bulan) di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian ini adalah studi korelational dengan metode cross sectional yang bertujuan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko yaitu perilaku stimulasi

(3)

dengan efek perkembangan anak usia prasekolah di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo, dengan cara pendekatan observasional atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat yang bersamaan (point time approach).

Variabel penelitian ini terdiri dari variabel independent yaitu perilaku stimulasi dan variabel dependent yaitu perkembangan anak prasekolah.

Populasi penelitian adalah semua orang tua anak dan anak usia prasekolah (36-72 bulan) di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo dengan jumlah 24 pasang orang tua dan anak usia prasekolah. Teknik penggambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling sehingga jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 24 pasang orang tua dan anak.

Penelitian dilakukan di Kelompok Bermain Tunas Bangsa di Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo dan dilaksanakan pada tanggal 07 maret 2017. Penelitian ini menggunakan jenis instrument kuesioner dan lembar observasi perkembangan DDST II.

Kuesioner untuk usia 36-48 bulan terdiri dari 19 item. Kuesioner untuk usia 48-60 bulan terdiri dari 16 item. Kuesioner untuk usia 60-72 bulan terdiri dari 18 item. Setelah data terkumpul kemudian data diolah dengan menggunakan Uji statistik Spearman Rank dengan taraf signifikan 0,05.

HASIL PENELITIAN Data Umum

Data umum dalam penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristeik responden orang tua dan anak usia prasekolah. Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Karakteristik orang tua berdasarkan usia di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Tahun 2017 disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Orang Tua Berdasarkan Usia

No Usia

Frekuensi Jumlah

(n)

Persentase (%) 1. < 25 Tahun 12 50

2. 25-35 Tahun 11 46

3. > 35 Tahun 1 4

Jumlah 24 100

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 24 orang tua diketahui setengahnya yaitu 12 orang tua (50%) berusia 25 tahun.

Karakteristik orang tua berdasarkan pendidikan di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Tahun 2017 disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik Orang Tua Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan

Frekuensi Jumlah

(n)

Persentase (%)

1. Tidak Sekolah 4 17

2. SD 13 54

3. SMP 7 29

4. SMA 0 0

Jumlah 24 100

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 24 orang tua diketahui setengahnya yaitu 13 orang tua (54%) berpendidikan SD.

Karakteristik orang tua berdasarkan status pekerjaan di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Tahun 2017 disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Karakteristik Orang Tua Berdasarkan Status Pekerjaan

No Status Pekerjaan

Frekuensi Jumlah

(n)

Persentase (%)

1. Bekerja 10 42

2. Tidak Bekerja 14 58

Jumlah 24 100

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 3. Menunjukkna bahwa dari 24 orang tua diketahui sebagian besar yaitu 14 orang tua (58%) tidak bekerja.

Karakteristik anak usia prasekolah berdasarkan usia di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Tahun 2017 disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Karakteristik Anak Usia Prasekolah Berdarakan Usia

No Usia

Frekuensi Jumlah

(n)

Persentase (%)

1. 36-48 bulan 5 21

2. 48-60 bulan 8 33

3. 60-72 bulan 11 46

Jumlah 24 100

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 24 anak usia prasekolah diketahui hampir setengahnya yaitu 11 anak (46%) berusia 60-72 bulan.

(4)

Karakteristik anak usia prasekolah berdasarkan jenis kelamin di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Tahun 2017 disajikan pada tabel 5.

Tabel 5. Karakteristik Anak Usia Prasekolah Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin

Frekuensi Jumlah

(n)

Persentase (%)

1. Laki-laki 11 46

2. Perempuan 13 54

Jumlah 24 100

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 24 anak usia prasekolah diketahui hampir sebagian besar yaitu 13 anak (54%) berjenis kelamin perempuan.

Data Khusus

Data khusus dalam penelitian ini bertujuan untuk menggetahui hubungan perilaku stimulasi terhadap perkembangan anak usia praekolah di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Perilaku stimulasi Orang Tua di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Tahun 2017 disajikan pada tabel 6.

Tabel 6. Perilaku Stimulasi Orang Tua No Perilaku

Frekuensi Jumlah

(n)

Persentase (%)

1. Baik 23 95,8

2. Tidak Baik 1 4,2

Jumlah 24 100

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 6 menunjukkan bahwa dari 24 orang tua diketahui hampir seluruhnya yaitu 23 orang tua (95,8%) memiliki perilaku baik.

Perkembangan anak usia prasekolah di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Tahun 2017 disajikan pada tabel 7.

Tabel 7. Perkembangan Anak Usia Prasekolah

No Perkembangan

Frekuensi Jumlah

(n)

Persentase (%)

1. Tinggi 21 87,5

2. Sedang 3 12,5

3. Rendah 0 0

Jumlah 24 100

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 7 menunjukkan bahwa dari 24 anak usia prasekolah diketahui hampir seluruhnya yaitu 21 anak (87,5%) memiliki perkembangan tinggi.

Distribusi tabulasi silang antara perilaku orang tua dengan perkembangan anak di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kaupaten Ponorogo disajikan pada tebel 8.

Tabel 8. Tabulasi Silang Perilaku Stimulasi Terhadap Perkembangan Anak Usia Prasekolah

Perilaku Perkembangan

Total Cukup Sedang Tinggi

N % N % N % N %

Baik 0 0 2 8,3 21 87,5 23 95,8 Tidak

Baik 0 0 1 4,2 0 0 1 4,2

Total 0 0 3 12,5 21 87,5 24 100 Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Tabel 8 menunjukkan bahwa dari 24 responden diketahui hampir seluruhnya yaitu 21 responden (87,5%) memiliki perilaku stimulasi baik dengan perkembangan anak tinggi.

Hasil uji statistic Spearman Rank hubungan perilaku stimulasi terhadap perkembangan anak usia prasekolah di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo disajikan pada tabel 9.

Tabel 9. Hasil Uji Statistik Spearman Rank Correlations

Perilaku Perkembangan Spe

arm an’s rho

Perila ku

Pearson

Correlation 1.000 .552**

Sig. (2-tailed) .005

N 24 24

Perke mban gan

Pearson

Correlation .552** 1.000 Sig. (2-tailed) .005

N 24 24

Ρ 0.005

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Sumber: Data Primer, diolah tahun 2017

Berdasarkan tabel 9 menunjukkan bahwa hasi uji statistik didapatkan nilai signifikan (ρ) antara variabel perilaku stimulasi dengan perkembangan anak sebesar 0,005 dimana ρ=

0,005 < 0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima, artinya penelitian ini ada hubungan antara perilaku stimulasi yang diberikan oleh orang tua dengan perkembangan anak di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo pada tahun 2017. Kemudian dari hasil Correlation

(5)

Coeficient juga diperoleh nilai 0,552 yang artinya korelasi memiliki keeratan yang kuat dimana semakin baik perilaku stimulasi yang diberikan orang tua maka semakin baik perkembangan anak.

PEMBAHASAN

Perilaku Stimulasi Di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo

Hasil penelitian perilaku stimulus di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo yang tersedia pada tabel 6 bahwa dari 24 responden hampir seluruhnya yaitu 23 responden orang tua (95,8%) memiliki perilaku stimulasi baik dan sebagian kecil yaitu 1 responden orang tua (4,2%) memiliki perilaku tidak baik. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan SD dan hampir setengahnya berpendidikan SMP serta didapatkan juga hasil karakteristik responden orang tua menurut status pekerjaan bahwa sebagian besar responden tidak bekerja dan hampir setengahnya bekerja.

Menurut Notoatmodjo (2010) penilaian atau pengukuran perilaku ada 2 cara yaitu secara langsung yang dapat dilakukan dengan cara mengobservasi secara langsung tindakan dari individu dan cara tidak langsung yaitu dengan menggunakan metode mengingat kembali (recall). Perilaku stimulasi merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak, dimana stimulasi dapat diberikan oleh ibu, ayah, pengasuh anak, anggota keluarga, bahkan teman sebaya (Sulistyawati, 2014).

Status pekerjaan ibu atau pengasuh utama anak yang tidak bekerja dapat mempengaruhi perkembangan anak, hal ini dikarenakan ibu dapat memberikan perilaku stimulasi yang lebih dengan waktu yang cukup untuk anak, sehingga kebutuhan anak akan stimulasi lebih terpenuhi dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal. Selain itu tidak menutup kemungkinan bahwa ibu yang bekerja dapat mempengaruhi perkembangan anak yang optimal, hal ini dikarenakan dengan pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer ataupun kebutugan sekunder (Soetjiningsih, 2012). Selain itu perilaku juga dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya adalah pendidikan, karena perilaku dapat dibentuk dengan adanya suatu pengindraan individu yang diterima melalui suatu pendidikan menurut Benyamin bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2010).

Berdasarkan pendidikan dan status pekerjaan yang dimiliki orang tua maka diharapkan dapat menambah pengetahuan orang tua untuk mengetahui cara berperilaku yang baik serta memberikan stimulasi yang baik dengan

mendapatkan informasi dari majalah, tabloid, TV atau media yang lainnya serta dapat memberikan waktu yang cukup dalam memberikan srimulasi kepada anak. Selain itu dengan pendidikan yang baik maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara membimbing atau mengasuh anak dengan baik, menjaga kesehatan, serta pendidikannya.

Perkembangan Anak Usia Prasekolah di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo

Hasil penelitian perkembangan anak usia prasekolah di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo yang tersedia pada tabel 7 bahwa dari 24 responden sebagian kecil 3 responden (12,5%) memiliki perkembangan sedang dan sebagian besar yaitu 21 responden (87,5%) memiliki perkembangan yang tinggi sesuai dengan usia anak.

Perkembangan menurut Whalley dan Wong (dalam Hidayat, 2012) merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh, kematangan dan belajar.

Penilaian perkembangan anak pada penelitian ini menggunakan DDST II yaitu suatu metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, tes ini bukan merupakan tes diagnostik atau tes IQ sehingga tidak dapat meramalkan kemampuan intelektual dan adaptif atau perkembangan anak di masa yang akan datang.

Selain itu tes ini juga tidak digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar, gangguan bahasa, gangguan emosional, substitusi evaluasi diagnostik, serta pemeriksaan fisik anak. Tes ini lebih mengarah pada perbandingan kemampuan atau perkembangan anak dengan kemampuan anak lain yang seumuran (Sulistyawati, 2014).

Peneliti melakukan observasi secara langsung kepada anak dengan menggunakan DDST II yang melibatkan empat aspek perkembangan, yaitu motorik halus, motorik kasar, bahasa dan personal sosial.

Hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa ketika dilakukan observasi perkembangan dengan menggunakan DDST II di dapatkan sebagian anak merasa malu kepada orang yang baru dikenal, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pemenuhan kebutuhan pada diri anak, yang termasuk didalamnya adalah bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Menurut Hidayat (2008) bermain merupakan salah satu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif serta mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa. Dengan bermain atau melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar diharapkan dapat meningkatkan perkembangan anak sesuai dengan kebutuhan. Selain itu dengan penilaian perkembangan menggunakan DDST II diharapakan orang tua mampu

(6)

memberikan suatu tindakan yang dapat membantu anak dalam memenuhi kebutuhan akan tumbuh kembang anak.

Hubungan Perilaku Stimulasi Terhadap Perkembangan Anak Usia Prasekolah Di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo

Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa dari 24 responden sebagian besar memiliki perilaku stimulasi baik dengan perkembangan anak tinggi sebanyak 21 responden (95,8%), sebagian kecil responden memiliki perilaku stimulasi baik dengan perkembangan anak sedang sebanyak 2 responden (4,2%) dan sebagian kecil lagi memiliki perilaku stimulasi tidak baik dengan perkembangan sedang yaitu sebanyak 1 responden (4,2%). Penelitian ini juga memperoleh data distribusi frekuensi anak berdasarkan usia anak, hampir setengahnya berusia 60-72 bulan sebanyak 11 responden (45,8%) dan usia 48-60 bulan sebanyak 7 responden (29,2%) serta sebagian kecil berusia 36-48 bulan yaitu 3 responden (12,5%). Selain itu berdasarkan jenis kelamin anak sebagian besar anak berjenis kelamin perempuan yaitu 13 responden (54%) dan hampir setenggahnya berjenis kelamin laki-laki yaitu 11 responden (46%). Hasil uji statistik Spearman Rank didapatkan nilai korelasi 0,552 dan nilai signifikan (ρ) antara variabel perilaku stimulasi dengan perkembangan anak sebesar 0,005 dimana ρ=

0,005 < 0.05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu ada hubungan antara perilaku stimulasi yang diberikan oleh orang tua dengan perkembangan anak usia prasekolah (36-72 bulan) di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo Tahun 2017.

Menurut analisa peneliti, anak yang mendapat stimulasi baik maka tumbuh kembangnya akan semakin baik dan cepat.

Pemberian stimulasi merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perkembangan seseorang, terbukti bahwa perkembangan yang didasari oleh stimulasi akan lebih cepat terlatih dari pada perkembangan yang tidak didasari oleh stimulasi (Soedjatmiko, 2008). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Eko Widiantoro (2013) menyatakan bahwa semakin sering orang tua, anggota keluarga memberikan stimulasi kepada anaknya maka perkembangan anak akan semakin berkembang normal.

Menurut Titi (1993) dalam Soetjiningsih (2012) kebutuhan anak dalam tumbuh kembang secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar yaitu asuh, asih dan asah. Stimulasi juga mempunyai fungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak, karena stimulasi merupakan bagaian dari kebutuan dasar anak yaitu asah. Dengan mengasah kemampuan anak secara terus menerus maka kemampuan anak akan semakin meningkat.

Berdasarkan pada jenis kelamin anak, bahwa anak perempuan memiliki pertumbuhan dan perkembangannya dapat cepat meningkat, hal ini sesuai teori yang diberikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI, 2005) dalam Sunarsih (2010) bahwa anak perempuan pada usia 0-13 tahun lebih cepat dalam tumbuh kembangnya dikarenakan perempuan memiliki keseimbangan hormon pada usia tersebut sedangkan pada anak laki-laki memiliki waktu yang cepat dalam tumbuh kembangnya pada usia 10-19 tahun. Proses tumbuh kembang pada anak menurut Hidayat (2012) memiliki siklus yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi beberapa faktor yaitu seperti faktor herediter, faktor hormonal, faktor lingkungan seperti lingkungan prenatal, natal serta postnatal. Dari penelitian ini lingkugan postnatal yaitu stimulasi merupakan hal terpenting dalam tumbuh kembang anak, stimulasi pada anak dapat diberikan melalui bermain. Pada usia prasekolah anak cenderung identik dengan masa bermain dan perkembangan anak cenderung diasah sesuai kebutuhannya.

Kepada orang tua diharapkan selalu mendampingi anak pada usia prasekolah dalam melakukan aktifitas kesehariannya dan diharapkan kepada orang tua untuk dapat memberikan stimulasi dengan menggunakan mainan sederhana tanpa mengesampingkan unsur pendidikan dalam setiap mainan yang diberikan kepada anak.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan hasil dan pembahasan diatas, penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perilaku stimulasi yang baik bisa mempengaruhi pada perkembangan anak usia prasekolah.

Saran

Saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan perilaku stimulasi dan perkembangan anak usia prasekolah adalah:

para orang tua diharapkan selalu memberikan rangsangan atau stimulasi tumbuh kembang yang baik kepada anaknya dengan didasari rasa cinta serta kasih sayang dan orang tua bisa memberi stimulasi melalui permainan yang memiliki unsur pendidikan yang sesuai dengan tahapan perkembangan. Diharapkan bagi tenaga pengajar di Kelompok Bermain Tunas Bangsa Sidoharjo dapat meningkatkan stimulasi pada anak-anak dan meningkatkan perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangan. Selain itu agar tenaga pengajar dapat memberikan masukan kepada orang tua agar dapat memahami dan mengaplikasikan tentang cara meningkatkan perkembangan anak sesuai dengan tahap usia perkembangan.

(7)

Bagi profesi keperawatan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan sekaligus informasi untuk meningkatkan perilaku dengan stimulasi yang adekuat, selain itu juga untuk meningkatkan perkembangan anak, terutama bagi tenaga kesehatan dan profesi keperawatan anak khususnya mengenai perilaku stimulasi terhadap perkembangan anak usia prasekolah (36-72 bulan) dan peneliti lain hasil ini bisa dijadikan masukan, pedoman dan informasi yang bermanfaat untuk penelitian selanjutnya, khusunya untuk penelitian tentang perilaku stimulasi dan perkembangan anak serta perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor- faktor lain yang berhubungan dengan perilaku stimulasi dan perkembangan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2005. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Hidayat A. 2012. Pengantar ilmu keperawatan anak 1. Jakarta: salemba medika.

Hidayat. 2008. Pengantar ilmu kesehatan anak.

Jakarta: salemba medika.

http://eprints.umpo.ac.id/1956/2/BAB%20I.pdf [Diakses 08 November 2016 jam 13.00 WIB].

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2015.

Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta:

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Kyle & Susan Carman. 2015. Buku ajar keperawatan pediatric volume 1 edisi 2.

Jakarta: EGC.

Notoadmodjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan.

Jakarta: Rineka Cipta.

Soedjatmiko. 2008. Tumbuh Kembang Anak.

Jakarta: EGC.

Soetjiningsih. 2012. Tumbuh kembang anak.

Jakarta: EGC.

Sulistyawati. 2014. Deteksi Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Salemba Medika.

Sunarsih. 2010. Hubungan Antara Pemberian Stimulasi Dini Oleh Ibu Dengan Perkembangam Balita Di Taman Balita Muthia Sido Arum, Sleman Yogyakarta.

[internet]. Bersumber dari http://journal.respati.ac.id [Diakses pada 10 November 2016 07.30 WIB]

Widiantoro, E. 2013. Pemberian Stimulus Terhadap Perkembangan Anak Usia 3-5

tahun, Vol.6, No.1 [internet]. Bersumber dari http://download.portalgaruda.org/article.php

?article=128823&val=360 [Diakses pada 10 November 07.44 WIB].

(8)

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kepada Allah SWT karena dengan ridho dan karuniaNya lah peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul “Proses Komunikasi Interpersonal

Tujuan penulisan ini adalah untuk membuat aplikasi yang diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada pengguna untuk membaca Surat Yaasiin dengan praktis tanpa harus membawa buku

Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Biologi dan mengatasi berbagai kelemahan dan kekurangan yang terdapat pada proses belajar

Hal tersebut menunjukan bahwa adanya pengaruh yang diberikan oleh minat berkunjung sebagai variabel mediator terhadap variabel efektivitas iklan online dengan

Dengan melihat dengan melihat aspek yang sudah termuat dalam prinsip 5C tersebut, yaitu bank sebagia kreditur akan melihat apakah calon nasabah memilik chacacter (karakter) yang baik

Kombinasi perlakuan 2,4-D 0,3 mg/l + Benzyl Adenin 0,1 mg/l merupakan perlakuan terbaik yang dapat menghasilkan struktur kalus yang lebih remah, warna putih kekuningan dan

game pengenalan warna ini. Dapat dilihat FSM yang digunakan pada penelitian ini dalam gambar 2. FSM ini menampilkan alur program yang dibuat. FSM dimulai

Tahapan penelitian mulai dari pengolahan peta, pengumpulan data di dilapangan berdasarkan karakteristik lahan (table 1), analisisa contoh tanah di laboratorium, dan