• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL. Oleh : FLORENSHIA NIM :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL. Oleh : FLORENSHIA NIM :"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL

TINJAUAN YURIDIS GANTI KERUGIAN ATAS HAK MILIK DALAM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM DI

KECAMATAN MEDANG DERAS

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum

Oleh : FLORENSHIA NIM : 130200374

Email : [email protected]

Dosen Pembimbing : Affan Mukti, S.H.,M.Hum.

Prof. Dr. M. Yamin, S.H., M.S., C.N

DEPARTEMEN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM AGRARIA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2016

(2)

i

TINJAUAN YURIDIS GANTI KERUGIAN ATAS HAK MILIK DALAM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM DI

KECAMATAN MEDANG DERAS Florenshia 1)

Affan Mukti,S.H.,M.hum **) Prof.Dr.M.Yamin.,S.H.,M.hum***)

ABSTRAK

Tanah mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, hal tersebut dikarenakan semua kegiatan atau aktivitas manusia pada dasarnya berhubungan dengan tanah. Dalam hal pemerintah memerlukan tanah untuk kepentingan umum, Pemerintah menghadapi banyak masalah karena disini menyangkut dua kepentingan yaitu kepentingan Pemerintah yang berhadapan dengan kepentingan rakyat. Mengacu pada pasal 33 ayat 3 UUD 1945 maka pemerintah berhak untuk mengelola tanah tersebut untuk kepentingan umum. Pada masa sekarang ini adalah sangat sulit melakukan pembangunan untuk kepentingan umum di atas tanah Negara, dan sebagai jalan keluar yang ditempuh adalah dengan mengambil tanah- tanah hak. Kegiatan “mengambil” tanah (oleh pemerintah dalam rangka pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum) inilah yang kemudian disebut dengan pengadaan tanah dan dalam pelaksanaannya diberikanlah ganti kerugian sesuai dengan UU No. 2 Tahun 2012 dan Pasal 18 UUPA.

Permasalahan yang diajukan dalam pembahasan skripsi ini adalah mengenai pengadaan tanah beserta pengaturannya, kepentingan umum serta bagaimanakah pelaksanaan pemberian ganti kerugian yang dilaksanakan di tengah masyarakat dan apakah itu sesuai dengan peraturan yang ada atau tidak.

Untuk memperoleh data penelitian yang akurat, digunakan metode penelitian yang mengarah pada yuridis nomatif. Dari data primer dan sekunder yang dikumpulkan kemudian dianalisa dengan mempergunakan analisa kualitatif dan disampaikan dengan metode deskriptif analisis, serta metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan melalui studi kepustakaan dan wawancara.

Setelah dilakukan pembahasan dan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilakukan untuk kepentingan negara ataupun kepentingan swasta dengan catatan bahwa memang membawa kesejahteraan umum atau tidak merugikan masyarakat sebagai pihak yang tanahnya diambil haknya. Dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum ini juga diberikan ganti kerugian yang dapat berupa uang ataupun pemukiman kembali dan diberikan dengan tahapan-tahapan yang sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan dan yang paling terpenting adalah diadakannya musyawarah yang adil sehingga tidak ada unsur “paksaan” dalam pemberian ganti kerugian karena pada prakteknya sering terjadi ketidakadilan yang dirasa oleh masyarakat atas pemberian ganti kerugian oleh pemerintah.

Kata Kunci : Pengadaan Tanah, Kepentingan Umum, Pemberian Ganti Kerugian

1 Mahasiswa/I Fakultas Hukum Universitas Sumatera utara

** Dosen Pembimbing I

*** Dosen Pembimbing II

(3)

ii ABSTRACT

Land has an important role in human life, it is because all human activity or activities are basically related to land. In the event that the government requires land for public purposes, the Government is facing a lot of problems because here involves two interests are the interests of the Government are dealing with people's interests. Referring to Article 33, paragraph 3 of the 1945 Constitution, the government has the right to manage the land for the public interest. At the present time it is very difficult to do a development in the public interest above the ground state, and as a way out that is achieved is by taking lands rights. The

"taking" of land (by the government in the implementation of development for public interest) is then called by the land acquisition and implementation diberikanlah compensation in accordance with Act No. 2 of 2012 and Article 18 of the BAL.

Issues raised in the discussion of this thesis is about the land acquisition and the settings, the general interest and how the implementation of the compensation payment is carried out in the community and whether it was in accordance with existing regulations or not.

To obtain an accurate research data, research method that leads to juridical nomatif. From primary and secondary data were collected and analyzed by using qualitative analysis and presented with descriptive method of analysis, as well as data collection method used is through literature study and interviews.

After discussion and research, it can be concluded that the provision of land for public purposes in the interests of the state or private interests with a note that it is bringing the general welfare or harm the public as the party whose lands were appropriated rights. In the procurement of land for public purposes are also given compensation which can be either money or resettlement and provided with the stages set out in legislation and the most important is the holding deliberations fair so that there is no element of "coercion" in compensation payment because in practice it often happens injustice felt by the community for the provision of compensation by the government.

Keywords: Land Acquisition, Public Interest, Giving Compensation

(4)

iii DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i ABSTRACT ... ii DAFTAR ISI ... iii BAB I – PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Permasalahan ... 2 C. Penelitian ... 2

BAB II – PEMBAHASAN

A. Tinjauan Umum Ganti Rugi ... 5 B. Bentuk dan Dasar Ganti Rugi dalam Pengadaan Tanah ... 6 C. Cara Penetapan yang Berhak Mendapatkan Ganti Rugi ... 7 D. Pelaksanaan Pemberian Ganti Kerugian atas Hak Milik di Kecamatan

Medang Deras Kabupaten Batubara... .. 9

BAB III - KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 12 B. Saran ... 13

DAFTAR PUSTAKA

(5)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan salah satu cita cita dari masyarakat indonesia, maka pembangunan tersebut diarahkan untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat. 2 Dalam pengertian lain, pembangunan nasional dapat diartikan merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan dan meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional. Dimana kemakmuran tersebut dapat dicapai melalui pembangunan baik fisik maupun non fisik, langsung atau tidak langsung, serta memerlukan tanah sebagai wadah dari kegiatan pembangunan tersebut. Kebutuhan akan tanah dalam masa-masa sekarang sangat meningkat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Hal ini terjadi dikarenakan pada umumnya, hampir semua sektor dan bidang pembangunan memerlukan tanah sebagai sarana dan penopang utamanya dalam melaksanakan proyek-proyek pembangunan tersebut dan untuk memenuhi pelaksanaannya tersebut maka pemerintah mengadakan atau menyediakan tanah berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 atau dikenal dengan UUPA , dengan kebijakan-kebijakan seperti pencabutan, pembebasan dan pelepasan hak-hak atas tanah3 yang pada mulanya telah dimiliki masyarakat secara pribadi maupun golongan.

Dalam hal pemerintah memerlukan tanah untuk kepentingan umum, Pemerintah menghadapi banyak masalah karena disini menyangkut dua kepentingan yaitu kepentingan Pemerintah yang berhadapan dengan kepentingan rakyat. Hal tersebut sering terjadi biasanya disebabkan oleh faktor tarik menarik kepentingan yang ada di dalam masyarakat, untuk menentukan siapa yang paling berhak dalam memanfaatkan fungsi tanah demi kepentingan masing-masing

2 Lihat, “Rencana pembangunan Lima Tahun Kelima 1989/1990-1993/1994”

,Republik Indonesia, hal 17

3 Istilah pencabutan dikenal dalam UUPA No.5 Tahun 1960, istilah pembebasan dikenal dalam PMDN No.15 Tahun 1975. Sedangkan istilah pelepasan hak-hak atas tanag dikenal dalam Keppres No. 55 Tahun 1993.

(6)

2

kelompok marjinal, kelompok pengusaha atau pemilik modal dan kelompok struktur pemerintah.

Undang-Undang Dasar 1945 telah memberikan landasan sebagaimana dalam Pasal 33 ayat (3) Bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dari ketentuan dasar ini dapat diketahui bahwa kemakmuran masyarakatlah yang menjadi tujuan utama dalam pemanfaatan fungsi bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaturan mengenai pengadaan tanah dan perkembangannya?

2. Apakah yang menjadi kriteria dan pengertian dari kepentingan umum dalam pengadaan tanah?

3. Bagaimanakah proses pemberian ganti kerugian yang dilaksanakan dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum?

C. Metode Penelitian

Metode Penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari : 1. Sifat/Materi Penelitian

Sifat/materi penelitian yang dipergunakan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini adalah bersifat deskriptif analisis yang mengarah pada penelitian yuridis normatif empiris yang merupakan suatu penelitian yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan yang tertulis atau bahan yang hukum yang lain.4

4Bambang Sungguno. Metodologi Penelitian Hukum. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007 . hal.41.

(7)

3 2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini yaitu menggunakan data sekunder adalah data dari penelitian kepustakaan di mana dalam data sekunder terdiri dari 2(dua) bahan hukum, yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, serta bahan hukum tersier (bahan hukum tambahan), sebagai berikut :

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ada kaitannya dengan permasalahan yang dibahas terdiri dari :

1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Perturan Dasar Pokok – Pokok Agraria

2. Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum

3. Perpres Nomor 30 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

4. Keppres No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti : hasil – hasil penelitian, hasil wawancara, serta pengembalian bahan hukum khususnya mengenai pemberian ganti kerugian atas hak milik dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum penunjang mencakup :

Bahan – bahan yang memberi petunjuk – petunjuk maupun penjelasan terhadap hukum primer dan sekunder

Bahan – bahan primer, sekunder, tersier (penunjang) di luar bidang hukum seperti kamus, ensiklopedia, majalah, koran, makalah, dan sebagainya yang berkaitan dengan permasalahan.

(8)

4 3. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini dibagi atas 2 (dua) cara, yaitu :

a. Studi Kepustakaan

Pengumpulan data yang diperoleh dengan membaca dan mempelajari peraturan perundang-undangan dan literatur kemudian diklasifikasikan berdasarkan prioritas sehubungan dengan permasalahan yang dibahas.

b. Wawancara (interview)

Proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dengan mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi – informasi atau keterangan – keterangan.5

4. Analisis Data

Untuk mengolah data yang didapatkan dari penelusuran kepustakaan, studi dokumen, dan penelitian lapangan maka hasil penelitian ini menggunakan analisa data kualitatif yang merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan membuat kesimoulan sehingga dapat dijadikan contoh dan patokan dari topik pembahasan dalam penulisan skripsi ini dan mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain 6.

5 Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. H, Metodologi Penelitian, Bumi Aksara, Jakarta, 2004, hal.83.

6 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung, 2012, hal.89.

(9)

5

BAB II PEMBAHASAN

PEMBERIAN GANTI KERUGIAN ATAS PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM

A. Tinjauan Umum Ganti Rugi

Menurut KUHPerdata tinjauan tentang ganti rugi meliputi persoalan yang menyangkut, apa yang dimaksud dengan ganti rugi itu, bilamana ganti rugi itu timbul dan apa yang ukuran dari ganti rugi itu serta bagaimana peraturannya dalam undang-undang. Dalam Pasal 1243 KUHPerdata dirumuskan :

Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui tenggang waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan ketentuan tersebut, bahwa ganti kerugian itu adalah karena tidak terpenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan apabila debitur setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalamn tenggang waktu yang telah dilampaukannya. Artinya ganti rugi itu adalah kerugian yang timbul karena debitur melakukan wanprestasi, kerugian itu wajib diganti oleh debitur terhitung sejak ia dinyatakan lalai.

Pasal 1 butir 11 Perpress No. 36 Tahun 2005 merumuskan ganti rugi adalah penggantian terhadap kerugian baik bersifat fisik dan/atau nonfisik sebagai akibat pengadaan tanah kepada yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah yang dapat memberikan kelangsungan hidup yang lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah. Dan hal ini juga merupakan asas universal sebagaimana telah dituangkan antara lain dalam

75

(10)

6

Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 1973, Keppres No 53 Tahun 1989, Inpres No. 9 Tahun 1993, dan Keppres No. 55 Tahun 1993.

Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ganti rugi adalah merupakan suatu imbalan suatu imbalan yang diterima oleh pemegang hak atas tanah sebagai pengganti dari nilai tanah termasuk yang ada di atasnya, terhadap tanah yang telah dilepas atau diserahkan. Dengan adanya pemberian ganti rugi ini, maka pemegang hak atas tanah akan kehilangan hak atas tanah dan bangunan yang ada di atasnya tersebut.

B. Bentuk dan Dasar Ganti Rugi dalam Pengadaan Tanah 1. Bentuk Ganti Rugi

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Pasal 74 , bentuk ganti rugi dapat berupa;

a. uang;

b. tanahpengganti;

c. permukiman kembali;

d. kepemilikansaham;atau

e. bentuk lain yang disetujui oleh kedua belah pihak.

Dalam Pasal 15 ayat (1a) sebagaimana mana tersebut maka penuliskan menguraikan pendapat John Salindeho mengenai pengertian harga dasar dan harga umum setempat atas tanah yang terkena pembebasan hak atas tanah.7

Boleh dikata harga umum yaitu setempat atau harga pasaran adalah hasil rata-rata harga penjualan pada suatu waktu tertentu, sedangkan tempat berarti suatu wilayah/lokasi didalam suatu kabupaten/kota dapat saja bervariasi menurut keadaan tanah, harga dasar yang tumbuh dari dan berakar pada harga umum setempat, ditinjau harga umum tahun berjalan.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu kiranya dikemukakan pendapat Boedi Harsono yaitu bahwa hak milik atas tanah yang diperlukan itu dilepaskan oleh pemiliknya setelah ia menerima uang ganti kerugian dari pihak yang mengadakan pembebasan, ganti rugi tersebut sudah barang tentu sama

7John Salindeho, Op cit. Hal. 61

(11)

7

dengan harga tanah sebenarnya. 8 Jadi jelas bahwa pengertian uang ganti itu sama dengan harga tanah.

Dari uraian tersebut yang menjadi subtansi ganti rugi harus didasarkan diantaranya :

a. didasarkan pada produk hukum putusan yang bersifat mengatur.

b. ganti rugi baru dapat dibayarkan setelah diperoleh hasil keputusanfinal musyawarah.

c. mencakup bidang tanah, bangunan serta tanaman yang dihitung berdasarkan tolok- ukur yang telah disepakati.

d. wujud ganti rugi: uang dan/atau tanah pengganti dan/atau pemukiman kembali, gabungan atau bentuk lain yang disepakati para pihak.

C. Cara penetapan dan Yang Berhak Menerima Ganti Rugi 1. Cara Penetapan Ganti Rugi

Menurut Keppres No. 55 Tahun 1993, cara penentuan ganti rugi pelepasan hak atas tanah berbeda dengan yang diatur dalam PMDN No. 15 Tahun 1975.

Pasal 15 Keppres No. 55 Tahun 1993, menegaskan bahwa dasar dan cara perhitungan ganti rugi ditetapkan atas dasar :

a. Harga tanah yang didasarkan atas nilai nyata atau sebenrnya, dengan memperhatikan nilai jual obyek Pajak Bumi dan Bangunan yang terakhir untuk tanah yang bersangkutan;

b. Nilai jual bangunan yang ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab di bidang bangunan;

c. Nilai jual tanaman yang ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab di bidang pertanian.

Selanjutnya dalam Pasal 16 Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1994 ditentukan pula :

8Boedi Harsono, Op.cit, Hal.66.

(12)

8

(1) Panitia memberikan penjelasan kepada kedua belah pihak sebagai bahan musyawarah untuk mufakat, terutama mengenai ganti rugi harus memperhatikan hal-hal berikut :

a. Nilai tanah berdasarkan nilai nyata atau sebenarnya dengan memperhatikan Nilai Jual Obyek Pajak Bumi dan Bangunan (NJOP) tahun terakhir untuk tanah yang bersangkutan;

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga tanah;

1) Lokasi tanah 2) Jenis hak atas tanah 3) Status penguasaan tanah;

4) Peruntukan tanah;

5) Kesesuaian penggunaan tanah dengan rencana tata ruang wilayah;

6) Prasarana yang tersedia;

7) Fasilitas dan utilitas;

8) Lingkungan;

9) Lain-lain yang mempengaruhi harga tanah

c. Nilai taksiran bangunan, tanaman, benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah;

(2) Pemegang hak atas tanah dan pemilik bangunan, tanaman dan/atau benda-benda lain yang terkait dengan tanah yang bersangkutan atau wakil yang ditunjuk menyampaikan keinginannya mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi;

(3) Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah menyampaikan tanggapan terhadap keinginan pemegang hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dengan mengacu kepada unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1);

(4) Ganti rugi diupayakan dalam bentuk yang tidak menyebabkan perubahan terhadap pola hidup masyarakat dengan mempertimbangkan kemungkinan dilaksanakannya alih pemukiman ke lokasi yang sesuai.

(13)

9 2. Kriteria Pemberian Ganti Rugi

Yang berhak menerima ganti rugi bukan hanya pemilik yang melepaskan atau menyerahkan hak atas tanah melainkan juga pemilik bangunan, tanaman, dan /atau benda-benda lain yang terkait dengan tanah yang bersangkutan. Karena di dalam masyarakat bisa saja pemilik tanah sekaligus sebagai pemilik bangunan dan tanaman dan bisa juga pemilik tanah berbeda dengan pemilik bangunan maupun tanaman serta benda- benda yang di atasnya.

Di samping itu, fakta juga menunjukkan bahwa keberadaan orang- orang ini diakui oleh aparat pemerintah setempat, yaitu dengan cara mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk bagi mereka. Keberadaan mereka ini sudah sepatutnya mendapatkan apresiasi yang layak dan bukan sebaliknya dinyatakan sebagai penyerobot tanah, dan kemudian mengeleminir hak-hak yang seharusnya mereka peroleh. Pemberian uang santunan nantinya akan dapat digunakan untuk membeli tanah dan mengurus sertifikat atas tanah yang dimiliknya tersebut. Jika pemberian uang santunan tidak memadai, maka otomatis pengadaan tanah bagi pembangunan kepentingan umum menyebabkan mereka menjadi korban pembangunan yang mengatasnamakan kepentingan umum.

D. Pelaksanaan Pemberian Ganti Kerugian atas Hak Milik di Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara

9 Dalam proses pelaksanaan pelebaran jalan rel di Kecamatan Medang Deras ini didahului dengan sosialisasi program yang dilakukan pada awal bulan Mei 2015 dan dilakukan musyawarah sebanyak 5 (lima) kali di Kantor Pertanahan Kecamatan Medang Deras yang dihadiri oleh Panitia pengadaan Tanah dan para warga yang tanahnya akan dilakukan pengadaan tanah. Dalam proses musyawarah tersebut, semuanya berlangsung dengan baik dalam artian tidak adanya intimidasi atau paksaan dari pihak yang membutuhkan tanah. Dari satu musyawarah ke musyawarah yang lain maka dilakukan tawar-menawar

9 Perpres No. 36/2006 Pasal 1 ayat (10)


(14)

10

harga antar pihak dan ditetapkan sebesar 2.000.000 rupiah sampai dengan 2.800.000 rupiah dimana patokan harga tersebut tergantung dengan kelengkapan dan keabsahan surat, hak atas tanah dan lokasi tanah tersebut.

Mengenai hak atas tanah, maka yang memegang hak guna usaha dan hak pakai mendapatkan ganti kerugian sebesar 2.400.000 rupiah jika lokasi tanahnya berada di pinggiran jalan raya dan 2.000.000 untuk tanah yang berada di bagian belakang. Untuk pemegang hak milik maka diberikan ganti kerugian sebesar 2.800.000 rupiah jika lokasi tanahnya berada di pinggiran jalan raya dan 2.400.000 untuk tanah yang berada di bagian belakang.

Dalam musyawarah tersebut tidak terjadi banyak ketidaksepahaman dikarenakan menurut responden harga yang ditetapkan telah diatas harga pasar atau harga standard tanah sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyetujui besaran ganti rugi tersebut. Adapun yang menjadi beberapa masalah dalam pemberian ganti kerugian dalam proyek Pelebaran Jalur Kereta Api (PJKA) ini adalah sebagai berikut :

1. Adanya kesalahan tafsiran harga terhadap tanah yang dimiliki narasumber.

Kesalahan tafsiran harga ini dikarenakan kesalahan pengukuran oleh panita pengadaan tanah sehingga pemberian ganti kerugian terhadap narasumber belum terlaksanakan disaat beberapa masyarakat lain telah menerima besaran ganti kerugian tersebut. Namun, PT.KAI telah menjanjikan pemberian ganti kerugian yang akan diberikan setelah pendataan ulang oleh panitia pengadaan tanah setempat.

2. Dana yang tidak langsung dikeluarkan kepada seluruh masyarakat dikarenakan dana yang terlambat diberikan oleh pemimpin PT.KAI.

3. Pendataan yang memakan waktu lama dikarenakan ketidak lengkapan surat-surat yang dimiliki masyarakat Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batu Bara.10

Sehingga dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan demi kepentingan umum di Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batu Bara khususnya dalam proses musyawarah dan pemberian ganti kerugiannya tidak terdapat banyak

10Wawancara dengan M.Mujianto, tanggal 01 September 2016, di Kecamatan Medang Deras.

(15)

11

masalah yang berarti dikarenakan besaran ganti kerugian yang sudah sesuai dengan tarif harga dasar tanah tersebut hanya saja beberapa keterlambatan yang masih bisa di tolerir oleh masyarakat dimana seluruh proses pemberian ganti kerugian yang dilaksanakan telah sesuai dan sejalan dengan yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan.

Menurut keterangan narasumber, para pihak yang telah mendapatkan ganti kerugian tersebut tidak diberikan berita acara, hanya berupa tanda terima bukti penerimaan ganti kerugian yang diberikan oleh pihak Panitia Pengadaan Tanah.

Hal ini bertentangan dengan ketentuan pemberian ganti kerugian dalam Perpres No. 71 Tahun 2012 dalam Pasal 83 bahwa pemberian ganti kerugian harus dimuat dalam berita acara pemberian ganti kerugian yang memuat tentang daftar Pihak yang Berhak penerima Ganti Kerugian, bentuk dan besarnya Ganti Kerugian yang telah diberikan, daftar dan bukti pembayaran/kwitansi dan berita acara Pelepasan hak atas tanah atau penyerahan tanah dimana dengan tidak adanya berita acara tersebut maka akan menimbulkan masalah di kemudian hari walaupun tidak ada dirasa permasalahan yang konkrit pada saat ini di tengah masyarakat.

Adapula lancarnya pelaksanaan pemberian ganti kerugian ini disebabkan oleh peran aktif dari masyarakat yang bersedia hadir dalam sosialisasi baik secara langsung atau diwakili kuasanya dan dalam berjalannya musyawarah tersebut tidak ada yang memberikan tekanan sepihak sehingga semuanya berjalan dengan tertib dan adanya kerja sama antar pihak.11

11 Ibid.

(16)

12 BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Pengadaan tanah merupakan suatu kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah dimana pengaturan hukum tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum di Indonesia telah mengalami proses perkembangan sejak unifikasi Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 dan dilakukan dengan cara yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975. Dalam pelaksanaannya maka dibentuk Panitia Pengadaan Tanah yang tugas utamanya adalah mengadakan penelitian atas tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda lain yang ada di atas tanah, , mengadakan penelitian mengenai status hukum tanah dan menetapkan besarnya ganti rugi atas tanah.

2. Frasa “kepentingan umum” tidak mempunyai pengertian atau batasan yang jelas sehingga terdapat beberapa pandangan yang memberikan penjelasan tentang itu dan salah satunya Parlindungan memberikan catatan bahwa kepentingan umum adalah kepentingan seluruh lapisan masyarakat, tentunya berdampak untuk kepentingan masyarakat luas dan tidak terbatas pada pemerintah saja, sedangkan dalam kaitannya dengan pencabutan hak, diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 1961.

3. Dalam Penetapan Ganti Kerugian dilakukan dengan cara musyawarah antara Instansi Pemerintah melalui Tim Pengelola Kegiatan dengan masyarakat dengan Penetapan besarnya nilai ganti kerugian dilakukan oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanahberdasarkan hasil penilaian jasa penilai atau penilai publik dan dalam prakteknya di Kecamatan Medang Deras setelah dilakukan wawancara dengan salah satu masyarakat yang tinggal disana telah dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang ada dimana pemberian ganti kerugian dianggap layak walaupun terjadi beberapa kesalahan yang dilakukan oleh pihak PT.KAI.

(17)

13 B. Saran

1. Perlunya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pengertian dan pengaturan pengadaan tanah sehingga jika suatu saat tanahnya akan dibebaskan atau dilakukan pengadaan tanah maka masyarakat tidak kesulitan dalam menangani surat-surat hak atas tanah khususnya hak milik.

2. Kepada pemerintah agar lebih tegas dalam menentukan kriteria atau batasan-batasan kepentingan umum dalam peraturan perundang-undangan sehingga tidak terjadi berbagai penafsiran mengenai kepentingan umum yang pada masa-masa ini menjadi kabur sehingga sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan.

3. Kepada pihak Panitia Pengadaan Tanah agar memberikan informasi dan memberikan penyuluhan terhadap masyarakat yang masih belum mengerti mengenai prosedur dalam pengadaan tanah khususnya dalam proses pemberian ganti kerugian agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

(18)

14

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku :

Bakri,Muhammad, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara (Paradigma Baru Untuk Reformasi Agraria), Yogyakarta: Citra Media, 2007

Hasan,Tholahah Pertanahan dalam perspektif Agama Islam dan Budaya Muslim, STPN , Yogyakarta, 1999.

Harsono,Boedi, Aspek-Aspek Yuridis Penyediaan Tanah Dalam Rangka Pembangunan Nasional ( Makalah : 1990

Harsono, Boedi , Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang- Undang Pokok Agraria, Isi Dan Pelaksanaanya, Djambatan, Jakarta, 1997.

Kalo,Syafruddin Reformasi Peraturan Dan Kebijakan Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, Perpustakaan Digital, Universitas Sumatera Utara, 2004.

Kalo,Syafruddin Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Pustaka Bangsa Press Jakarta, 2004,

Kosnoe, Moh, Catatan-Catatan terhadap Hukum Adat Dewasa Ini, Airlangga University Press, Surabaya, 1979.

Ibrahim,Sofyan, Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Dilihat Dari Aspek Yuridis Sosiologis, Hukum, Volume 5 Nomor 1, Februari 2000-1-152 Limbong, Bernhard, Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, (Jakarta :

Margaretha Pustaka, 2011)

Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. H, Metodologi Penelitian, Bumi Aksara, Jakarta, 2004

Nasroen,M, Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Pasaman , Jakarta,1957.

Parlindungan,A.P , Konvensi Hak-hak atas Tanah, Jakarta : Mandar Maju, 1990 Parlindungan , A.P, Pencabutan dan Pembebasan Hak atas Tanah Suatu Studi

Perbandingan, Mandar Maju, Bandung, 1993.

Roosadijo, Marmin M, Tinjauan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda- Benda Yang ada di Atasnya, Ghalia Indonesia , Jakarta , 1979.

(19)

15

Salle, Aminuddin, dkk. Hukum Agraria, AS Publishing, Makassar, 2010

Salindeho,John, Masalah Tanah Dalam Pembangunan, Sinar Grafika, Jakarta, 1988., hal.126.

Santoso,Urip. Hukum Agraria & hak-hak atas Tanah, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008.

Sitorus,Oloan dkk, Pelepasan atau Penyerahan Hak Sebagai Cara Pengadaan Tanah , Dasa Media Utama, Jakarta, 1995.

Sitorus,Oloan dan Dayat Limbong, Pengadaan tanah untuk Kepentingan Umum, Mitra Kebijakan Tanah Indonesia,Yogyakarta, 2004.

Soemardjono, Maria S.W, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan Implementasi, Kompas, Jakarta, 2001.

Suandra,I Wayan, Hukum Pertanahan Indonesia, Cetakan Kedua, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1994.

Subekti,R, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta, 1984.

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung, 2012

Sumarjono, Maria S.W, Tanah Dalam Prefektif Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Bukum Kompas, Jakarta, 2008

Sungguno,Bambang, Metodologi Penelitian Hukum. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007

Wignjosoebroto,Soetandyo,“Hukum, Paradigma Metode dan Dinamika Masalahnya” , ELSAM dan HUMA , Jakarta, 2002

Wignjosoebroto, Soetandyo, “Pembebasan Tanah” , Suara Pembaharuan, Jakarta, 1991.

B. Undang-Undang :

Republik Indonesia, 1961. Undang-Undang No. 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan atas Hak-Hak atas Tanah dan Benda – Benda yang ada di atasnya, Sekretariat Negara, Jakarta.

Republik Indonesia, 1992. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, Sekretariat Negara, Jakarta.

(20)

16

Republik Indonesia, 2012. Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Sekretariat Negara, Jakarta.

Republik Indonesia, 1994. Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN No. 1 Tahun 1994, Sekretariat Negara, Jakarta.

Republik Indonesia, 1999. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Sekretariat Negara, Jakarta.

Republik Indonesia, 1993. Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

Referensi

Dokumen terkait

Pokja Bidang Konstruksi 3 ULP Kabupaten Klaten akan melaksanakan [Pelelangan Umum/Pemilihan Langsung] dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan konstruksi secara

MADUKORO BLOK AA -

Pokja Bidang Konstruksi 3 ULP Kabupaten Klaten akan melaksanakan [Pelelangan Umum/Pemilihan Langsung] dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan konstruksi secara

pembahasan halaman 2 sampai hal 8 tentang pembaharuan kurikulum lama ke kurikulum baru dapat disimpulkan bahwa pembaharuan kurikulum Mentoring AIK didasarkan pada lima

Penyelenggaraan Tugas dan Wewenang Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 342) sebagaimana telah

Pelayanan dasar sendiri merupakan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga negara yang meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum dan tata ruang, perumahan

Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar itu biasa dikenal dengan sebutan prestasi rendah/kurang ( under achiever ).Anak ini tergolong memiliki IQ tinggi tetapi

Hasil penelitian ini adalah aplikasi multimedia sebagai media pembelajaran Grafika Komputer pada materi Kurva bagi mahasiswa Program Studi Teknik Informatika di