10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Penelitian Terdahulu.Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebelumnya guna sebagai bahan kajian dan perbandingan.Adapun hasil-hasil penelitian yang dijadikan perbandingan merupakan penelitian yang memiliki topik seputar pengaruh penggunaan media sosial terhadap pengungkapan diri (self disclosure).
Nama Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian Widiyana
Ningsih (2015)
Self disclosure pada media sosial (studi deskriptif pada media sosial anonim LegaTalk)
penggunaan media sosial LegaTalk menjadikan pengguna lebih nyaman untuk menjadi diri sendiri dan menyebabkan pengguna lebih terbuka
Perbedaan :
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh widiyana ningsih dan peneliti adalah metode penelian, objek, subjek dan tujuan penelitainya.
Persamaan :
Tema besar dari penelitian yang disusun oleh Widiyana Nigsih memiliki kemiripan yaitu sama-sama meneliti tentang Self-Disclosure pada media sosial.
Nama Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian
11 Andrian
Mailoor, J.J.
Senduk, dan J.W.Londa (2017)
Judul Pengaruh
Penggunaan Media Sosial Snapchat Terhadap Pengungkapan Diri Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Sam Ratulangi
Adanya hubungan antara variabel penggunaan media sosial Snapchat terhadap pengungkapan diri mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Sam Ratulangi
Perbedaan :
Adalah pada penelitian ini penggunaan media sosial yang di teliti, indikator yang digunakan untuk mencari hasil dan juga , perbedaan dapat dilihat dari pemilihan teori peneliti sebelumnya menggukan teori new media sedangkan peneliti menggunakan teori uses and gratification. Perbedaan juga dapat dilihat pada subjek dan objek penelitian.
Persamaan :
Persamaannya terletak pada tema yang dia angkat yaitu sama-sama meneliti tentang pengaruh penggunaan media sosial.
Nama Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian Ratih Dwi
Kusumaningtyas (2013)
Peran Media Sosial Online (Facebook) Sebagai Saluran Self Disclosure Remaja Putri
facebok memiliki peran yang luar biasa sebagai saluran self disclosure remaja putri di Surabaya karena mampu memperlihatkan sisi lain penggunanya yang tidak terlihat di dunia nyata
Perbedaan : Perbedaan penelitian ini dibandiing penelitian yang peneliti lakukan adalah di metode penelitian ratih menggunakan metode penelitian
12 kualilatif sedangkan peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif perbedaan juga bisa dilihat dari media sosial yang Ratih teliti, dia memilih media sosial online facebook sedangkan peneliti instagram stories dan live video instagram.
Persamaan:
Persamaannya peneliti sama-sama mengangkat tema pengungkapan diri dengan media sosial.
Nama Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian Amanda Pangisti
(2017)
Pengaruh Terpaan Instagram Stories Terhadap Self Disclosure Remaja Dalam Berbagi Momen (Studi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi)
Dalam penelitian yang dilakukan oleh amanda pangisti hasil penelitian menyebutkan bahwa terpaan instagram stories memiliki proposi pengaruh terhadap Self Disclosure remaja dalam berbagi momen sebesar 52,6% dan sisanya sebesar 47,4% di pengaruhi oleh variable lain yang tidak di teliti. Dalam penelitian tersebut menyebutkan bahwa hipotesis yang di ajukan dalam penelitian tersebut terbukti yaitu terdapat pengaruh terpaan media sosial instagram stories terhadapa self disclosure remaja dalam berbagi momen siswa kelas
13 XI Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi.
Perbedaan:
Yang berbeda dari penelitian ini terdapat pada rumusan masalah, subjek yang di pilih untuk di jadikan penelitian, serta instrumen penelitian yang berbeda.
Persamaan :
Penelitian ini sama-sama memilih remaja sebagai subjek penelitain, memilih media sosial instagram stories, dan mencari pengaruhnya.
Nama Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian Mutiara ayu Oktavianti
(2018)
Instagram Srories Sebagai Media Self Disclosure
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UINSA
Hasil dari penelitian ini adalah bentuk self disclosure mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel adalah a. Terbuka, b. Tersembunyi, c. Gelap, tujuan dari self disclosure
mahasiswa Ilmu
Komunikasi UIN Sunan Ampel adalah a. Untuk menjernihkan diri, b.
Aktualisasi diri c. Ajang pamer dan dampak dari self disclosure mahasislwa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel adalah berupa dampak positif dan dampak negatif yaitu dampak positif yang ditimbulkan adalah dapat
14 memotivasi seseorang dan merubah diri seseorang untuk menjadi lebih baik.
Sedangkan dampak negatifnya adalah dapat menggagu orang lain dan dapat menggangu dan menjadikan mereka merasa tidaknyaman dengan keterbukaan yang disampaikan.
Perbedaan :
Perbedaan dalam penelitian ini adalah oktaivianti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan konstruktif sedangkan peneliti menggunakan metode kuantitatif format ekplanasi. Subjek penelitain peneliti menggunakan mahasiswa universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2019 sebagai subjek penelitian sedangkan oktavianti menggunkan mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel sebagai subjek penelitian.
Persamaan :
Persamaan penelitian ini adalah sama-sama meneliti self disclousure di media sosial instagram dan menggunakan teori yang sama yaitu jendela johari.
Nama Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian
Vincensia Ririn Indriyani (2018)
Pengungkapan Diri Siswa Di Media Sosial Instagram (Studi Deskriptif Terhadap Siswa Kelas Xi Sma Negeri 2
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebanyak 50 (28,57%) responden memiliki pengungkapan diri yang tinggi, sebanyak 96
15 Kuningan Tahun
Ajaran 2017/2018)
(54,86%) responden memiliki
pengungkapan diri yang sedang, sebanyak 29 (16,57%) responden memiliki
pengungkapan diri yang rendah, dan tidak ada responden yang memiliki
pengungkapan diri yang sangat tinggi dan yang sangat rendah.
Kesimpulannya bahwa pengungkapan diri sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Kuningan tahun ajaran 2017/2018 termasuk tinggi atau negatif.
Perbedaan:
Perbedaan dalam penelitian ini terletak pada subjek penelitian indrirani menggunakn subjek Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Kuningan Tahun Ajaran 2017/2018 sedangkan peneliti menggunkan mahasiswa universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2019 sebagai subjek penelitian
Persamaan:
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan skala yang sama dengan yang digunakan oleh indriyani yaitu skala yang disusun berdasarkan aspek-saspek pengungkapan diri yaitu ketepan,motivasi,waktu dan kedalaman.
16 1. Komunikasi dan Definisinya
Komunikasi adalah, alat yang digunakan untuk mengungkapkan keinginan atau sesuatu yang ingin di utarakan baik secara verbal ataupun non- verbal. Manusia bisa mengungkapkan apapun melalui komunikasi, termasuk istilah komunikasi itu sendiri. Seperti yang telah kita ketahui bahwa begitu banyak ahli yang berpendapat tentang definisi komunikasi salah satunya, seperti yang dikataka oleh Bernard Barelson dan Gery A. Steiner dalam Deddy Mulyana. (2003:62 ) beliau mengungkapkan bahwa “komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosional, ketrampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya.
Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi”1. Theodore M. Newcomb mengungkapan bahwa “setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima (Deddy Mulyana, 2003:62 ).”2
Berbeda dengan definisi diatas Harold Lasswell (1948) memiliki cara pandang tersendiri mengenei definisi komunikasi, beliau menggambarkan definisi komunikasi, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, who say what in which channel to whom with what effect? Atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?, beliau
1 Deddy Mulyana. 2003. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hal. 62
2Ibid. Hal. 62
17 melihat bahwa proses komunikasi selalu memiliki efek atau pengaruh (John Fiske. 2012:49)3
Dari definisi yang diatas dapat ditarik kesipulan bahwa komunikasi merupakan suatu proses transmisi suatu informasi seseorang untuk mengutarakan keinginan, kebutuhan, emosi atau maksud tertentu, baik itu secara langsung maupun tersirat yang diharapkan dapat menimbukan efek bagi penerimanya.
2. Luas Bidang Komunikasi
Disiplin Ilmu Komunikasi sudah ada sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, tak bisa dipungkiri lagi seberapa luas bidang komunikasi dari dulu sampai sekarang. Disiplin moderen memuat tujuh bidang utama komunikasi dalam riset dan pengajaran yaitu:
1. Komunikasi intrapersonal.
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi dengan diri sendiri.
Komunikasi ini adalah komunikasi yang dilakukan dalam diri individu kepada dirinya sendiri tanpa diketahui orang lain. Contohnya saja pada saat kita berfikir.
2. Komunikasi interpersonal.
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi antar individu.
Pada saat kita berinteraksi dengan orang lain maka itulah yang disebut dengan komunikasi interpersonal.
3 John Fiske. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Edisi ke 3. Diterjemahkan oleh: Hapsari Dwiningtyas. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hal. 49.
18 3. Komunikasi kelompok.
Entah itu kelompok besar ataupun kecil komunikasi kelompok sangatlah penting guna untuk menjaga keamanan dan untuk mengindari konflik baikitu konflik yang terjadi didalam kelompok atau diluar kelompok.
4. Komunikasi organisasi.
Komunikasi dalam organisasi pada saat ini sangat penting dan sedang berkembang. Para professional bisa mendapatkan keberhasilan yang gemilang karena terjalinnya komunikasi yang baik.
5. Komunikasi publik.
Komunikasi publik membantu kita dalam kemampuan ketrampilan berbicara didepan umum.
6. Komunikasi antar budaya.
Komunikasi antar budaya adalah fokus riset, pengajaran, dan penelitian yang semakin penting. Walaupun komunikasi antar budaya bukanlah studi ilmu baru namun kepentingannya makin terasa beberapa tahun belakangan ini.
7. Media massa dan media sosial.
Pada era yang semakin berkembang seperti sekarang ini media massa, dan media sosial menjadi fokus para peneliti karena merupakan produk baru dalam ranah Ilmu Komunikasi. Media sosial dan media massa memiliki pengaruh terhadap nilai-nilai budaya oleh karena itu peneliti berlomba- lomba untuk menelitinya.4
4Julia T Wood (2). Op. Cit. Julia T Wood (2). Hal.12-17
19 Bila kita lihat diatas komunikasi memilik bidang ilmu yang sangat luas semua elemen dalam kehidupan kita membutukan komunikasi untuk menjalankannya, oleh karena itu dari dulu hingga sekarang komunikasi tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita karena komunikasi memeliki peran yang sangat besar dalam kehidupan kita.
3. Komunikasi Sebagai Alat Untuk Memenuhi Kebutuhan
Tujuan kita berkomunikasi adalah untuk mengembangkan identitas, membangun hubungan sosial, atau berkomunikasi dengan orang lain yang dapat membantu masalah kita. Pada saat kita mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan komunikasi dapat menjadi alat untuk menyampaikan pesan bahwa kita memliki masalah, pesan disini bisa berupa pesan verbal atau non-verbal. Abraham Maslow (1967) dalam Julia T Wood (2011:13-16) mengusulkan gagasan bahwa tujuan manusia berkomunikasi adalah untuk memenuhi kebutuhan. Ide ini merupakan pengebangan dari gagasan Schutz.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum kita fokus kebetuhan lain yang lebih abstrak. Berikut adalah susunan dari tingkat paling rendah sampai paling tinggi sebagai berikut:
1. Kebutuhan fisiologi.
Kebutuhan fisiologi adalah kebutuhan paling dasar, manusia butuh untuk bertahan hidup dan ketrampilan berkomunikasi membantu manusia untuk memenuhunya. Dari bayi hingga beranjak dewasa, manusia tetap bergantung pada kemampuan berkomuniasi untuk bertahan dan berkembang.
20 2. Kebutuhan rasa aman.
Terdiri dari kebuthan- kebutuhan akan jasmani, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
3. Kebutuhan untuk memiliki.
Level ketiga dari hierarki Maslow adalah kebutuhan untuk memiliki dan bersosialaisasi. Kita semua butuh orang lain untuk menikmati kehidupan, nyaman dalam lingkungan kerja, dan cocok didalam kelompok sosial.
4. Kebutuhan untuk mendapatkan harga diri.
Kebutuhan ini melibatkan penghargaan terhadap nilai pribadi yang kita anut serta mampu menghormati nilai yang di yakini oleh orang lain.
5. Kebutuhan aktualisasi diri.
Menurut Maslow, aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia yang paling abstrak. Aktualisasi diri di definisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dari semua bakat, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas, sesuai dengan potensi seseorang.5
4. Media Sosial
Media sosial terdiri dari 2 kata yaitu, media yang berarti alat komunikasi dan sosial yang menurut Tonnies merajuk pada komunitas.
Pengertian dasar tentang media dan sosial diatas tidak semata-mata bisa mendefinisikan arti dari media sosial sendiri banyak ahli telah mendefinisikan arti tentang media sosial seperti, Mandibergh (2012) menjelaskan bahwa
5Julia T Wood (1). Ibid. Hal. 13-16
21 Media sosial sebagai media yang mewadai kerja sama di antara pengguna yang menghasilkan konten (user generated content).6
Berbeda lagi definisi yang di utarakan oleh Shirky (2008) yaitu beliau menganggap Media sosial dan perangkat lunak sosial merupakan alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna untuk berbagi (to share), bekerja sama (to co-operate) diantara pengguna dan melakukan tindakan secara kolektif yang semuanya berasal di luar kerangka institusional maupun organisasi. 7 Ada lagi menurut Boyd (2009) Menjelaskan bahwa media sosial sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komuniktas untuk berkumpul berbagi, berkomunikasi, dan dalam kasus tertentu saling berkaloborasi atau bermain.8
Dari definisi yang di atas disimpulkan bahwa media sosial adalah medium di internet yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi, berbagi, komunikasi dengan pengguna lainnya, serta mempresentasikan dirinya dan membuat ikatan sosial secara virtual.
5. Karakteristik Media Sosial
Media sosial adalah salah satu platform yang muncul dari media siber, namun media sosial memiliki karakteristik yang berbeda dengan media siber.
Ada batasan-batasan dan ciri khusus yang hanya di miliki oleh media sosial yaitu :
6 Rulli Nasrullah. Op.cit. Hal.11
7 Ibid.
8Ibid.
22 1. Jaringan (network).
Media sosial terbentuk dari struktur sosial yang terbangun di dalam jaringan atau internet. Jaringan diantara penggunanya di bentuk oleh media sosial dimana penggunanya saling kenal ataupun tidak.
2. Informasi (information).
Informasi menjadi perwujutan yang paling penting dari media sosial, sebab media sosia memiliki perbedan tersendiri bila dibandingkan dengan media–
media lainnya di internet, pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya, memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan informasi.
3. Arsip (archive).
Arsip mengubah cara menghasilkan, mengakses hingga menaruh informasi.
4. Interaksi (interactifity).
Interaksi merupakan, karakter dasar dari media sosial berbentuk jaringan penggunaan dimana jaringan ini tidak hanya sekedar memperluas hubungan pertemana atau pengikut di internet semata, namun juga harus dibangun dengan interaksi antar pengguna tersebut.
5. Simulasi sosial (simulation of society).
Media sosial memiliki karakter sebagai medium berlangsungnya masyarakat (society) di dunia virtual.
6. Konten oleh penguna (user- generated content).
Konten oleh penguna (user- generated content) tern ini menunjukkan bahwa media sosial konten sepenuhnya, milik dan berdasarkan kontribusi pengguna atau pemilik akun. UCG merupakan relasi simbolis dalam budaya
23 media baru yang memberikan kesempatan dan keleluwasaan pengguna untuk berpartisipasi.
7. Penyebar (Shere/sharing).
Penyebar atau sharing merupaka karakter lain dari media sosial. Medium ini tidakhanya menghasilkan konten yang dibangun dan dikonsumsi penggunanya, tapi didistribusikan sekaligus dikembangkan oleh penggunanya.9
6. Definisi Instagram
Instagram adalah aplikasi yang diciptakan oleh perusahaan Burbn, Inc.
pada 6 Oktober 2010.Merupakan aplikasi berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, video, menerapkan filter digital, dan membaginya ke berbagai layanan jejaring sosial. Perusaaan Burbn, Inc.
merupakan purasahaan teknologi star-up yang berfokus pada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam.
Nama Instagram sendiri terdiri dari dua kata yaitu kata “insta” yang berasal dari kata “instan”, seperti kamera polaroid yang pada masanya di sebut dengan sebutan “foto instan” dimana Instagram sendiri juga bisa menampilkan foto-foto secara instan seperti kamera polaroid di dalam tampilannya.
Dan kata kedua yaitu “gram” yang berasal dari kata “telegram” yang cara kerjanya untuk mengirim informasi kepada orang lain dengan cepat, Instagram sendiri dapat mengungggah foto atau video dengan jejaring internet, sehingga informasi bisa disampaikan danditerima dengan cepat.10
9Rulli Nasrullah. Ibid. Hal .16
10dari https://id.wikipedia.org/wiki/Instagram. Loc. Cit.
24 7. Teori Uses And Gratification
Teori Uses And Gratification adalah teori yang dikenalkan oleh Harbert Blumer dan Elihu Katz pada tahun 1974. Teori ini menekankan bahwa pengguna dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Khalayak atau pengguna media tidak terpengaruh dengan media namun khalayaklah yang memegang kendali untuk memlih media yang digunakan, guna untuk mendapat kepuasan. Dalam teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut serta pengguna media aktif dalam proses komunikasi.11
Uses and gratification meneliti asal mula kebutuhan manusia secara psikologi dan sosial. Dalam model ini dirancang untuk menggambarkan proses penerimaan dalam komunikasi massa dan menjelaskan penggunaan media oleh individu atau kelompok-kelompok individu dengan asumsi penggunaan media massa akan memenuhi sebagian kebutuhannya. Katz, Blummer, & Gerivitch menjelaskan tentang asumsi dasar dari teori Uses and gratification, yaitu:
1. Khalayak daianggap aktif , dalam artian khalayak memilik peran penting dari penggunaan media dan diyakini memeiliki tujuan.
2. Dalam proses komunikasi khalayak memiliki insiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media. Artinya khalayak memiliki kendali untuk memilik media mana yang bisa yang digunakan untuk memuaskan kebutuhannya.
11 Ardianto Elvinaro,dkk,. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Hal. 73.
25 3. Media harus menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki oleh khalayak. Karena media harus bersaing dengan media–media yang lain.
4. Tujuan pemilihan media disimpulkan dari data yang diberikan oleh anggota khalayak artinya, khalayak dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.
5. Penelian tentang arti kultural dari media harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak.12
Asumsi dasar dari penelitian ini, berdasarkan oleh teori penggunaan dan kepuasan adalah individu yang menggunakan media sosial Instagram karena adanya kepuasan yang di dapatkan pengguna padasaat menggunakan media yang dia gunakan , selain itu pengguna sadar penuhnya terhadap ketertarikan , motif dan penggunaan medi tersebut.
8. Definisi Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)
Pada saat kita melakukan interaksi kepada orang lain, apa respon yang akan diberikan oleh orang lain terhadap kita? apakah ada penolakan atau penerimaan, bagaimana orang lain mengetahui tentang kita dan bagaimana kita ingin tahu tentang diri kita akan ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapakan dirinya. Pengungkapn diri atau self disclosure adalah dimana kita memberi informasi kepada orang lain tentang diri kita. Seperti yang di katankan oleh Wrightsman, (1987), Pengungkapan diri atau self-disclosure adalah proses menghadirkan diri yang diwujudkan dalam kegiatan membagai perasaan dan informasi dengan orang lain.13
12 Ardianto Elvinaro, dkk,. Ibid. Hal. 74.
13Tri Dayakisni dan Hudaniah. Loc. Cit.Hal. 73
26 Menurut Marton, Pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi yang ada didalam pengungkapan diri ini bersifat deskriptif yaitu individu mengungkapakan atau menggambarkan fakta tentang dirinya, yang mungkin belum diketahui oleh orang lain dan evaluatif artinya individu mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya seperti, apa yang disukai dan apa yang tidak.14
Rakhmat (2012), menuliskan bahwa dengan membuka diri akan manjadikan konsep diri menjadi lebih dekat dengan kenyataan.15 Pada saat konsep diri kita sesuai dengan pengalaman yang kita peroleh, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman- pengalaman dan gagasan-gagasan baru, lebih cenderung akan menghindari sifat yang definsif, dan lebih cermat memandang diri kita dan orang lain.
9. Aspek-Aspek Pengungkapan Diri (Self- Disclosure)
Altman & Taylor (Ifdil & Zarian, 2013) mengemukakan 5 aspek self disclosure yaitu:
1. Ketepatan
Ketepatan mengacu pada apakah individu mengungkapkan informasi pribadinya sesuai dengan situasi atau keadaan yang sedang ia hadapi dan apakah individu yang bersangkutan terlibat atau tidak (sekarang dan di sini)
14Taylor,Selly E dkk. 2009. Psikologi Sosial. Edisi ke 12. Diterjemahkan oleh: Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana Prenadamedia Grup. Hal.28.
15 Jalaluddin Rakhmat. 2012. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hal.105.
27 dalam sebuah peristiwa, sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat dalam menggunakan media sosial. Misalnya, individu mengupload foto liburan dengan teman-teman saat mereka liburan bersama.
Pengungkapan diri tepat berarti individu menyadari dan bertanggung jawab atas risiko yang akan ia dapatkan ketika ia mengungkapkan diri di media sosial dengan cara yang tidak sesuai dengan norma-norma penggunaan media sosial. Misalnya, individu menyadari jika ia mengupload foto yang menyinggung SARA maka ia akan mendapatkan kritikan atau respons negatif dari pengguna media sosial lain. Pengungkapan diri yang positif akan menimbulkan reaksi yang positif dari partisipan atau pendengar.
Contohnya apabila individu mengupload foto tentang dirinya dengan menggunakan kata-kata motivasi di media sosial, ia akan mendapatkan reaksi yang positif dari pengguna media sosial lain. Namun sebaliknya pengungkapan diri tidak tepat berarti individu tidak mengungkapkan informasi pribadinya sesuai dengan situasi atau keadaan yang sedang ia hadapi dan individu tidak terlibat dalam sebuah peristiwa (di sini dan sekarang). Misalnya individu mengupload foto saat ia sedang liburan padahal ia sedang bekerja.
2. Motivasi
Motivasi berkaitan dengan apa yang mendorong orang untuk mengungkapkan dirinya kepada orang lain. Dorongan yang bersangkutan berasal dari dalam diri dan dari luar. Dorongan dari dalam berkaitan dengan apa yang menjadi keinginan atau tujuan orang melakukan self disclosure.
Misalnya, individu mengupload sebuah foto di media sosial tentang bakat
28 yang dimilikinya karena ia ingin orang-orang tahu tentang bakatnya.
Sedangkan dorongan dari luar berasal dari lingkungan keluarga, sekolah, dan pekerjaan. Misalnya, individu mengupload foto tentang kebersamaannya bersama teman-teman di media sosial karena diminta oleh teman- temannya itu.
3. Waktu
Lamanya waktu yang digunakan orang saat bersama dengan orang lain akan cenderung meningkatkan kemungkinan terjadinya self disclosure. Waktu yang tepat untuk mengungkapkan diri adalah saat individu sudah berteman/kenal sejak lama dengan orang lain. Sedangkan waktu yang kurang tepat untuk mengungkapkan diri adalah saat individu baru kenal atau bahkan tidak kenal dengan orang lain kemudian ia mengungkapkan masalah pribadinya kepada orang tersebut. Jika individu dalam keadaan kurang/tidak baik seperti sedang sakit atau sedih, ia cenderung kurang terbuka dengan orang lain. Jika individu dalam keadaan baik seperti sedang sehat dan bahagia, ia akan cenderung terbuka dengan orang lain.
4. Keintensifan
Keintensifan seseorang dalam pengungkapan diri (self disclosure) tergantung pada siapa seseorang akan mengungkapkan diri apakah itu teman dekat , orang tua, teman baru, atau orang yang baru dikenal. dalam penelitian ini yang dimaksud dengan ke intensifan adalah seberapa intens kah seseorang akan melakukan pengungkapan diri di media sosial yaitu instagram.
29 5. Kedalaman
Kedalaman terbagi atas dua dimensi yakni self disclosure yang dangkal dan self disclosure yang dalam. Self disclosure yang dangkal biasanya terjadi pada orang yang baru dikenal atau semua orang. Kepada orang yang bersangkutan biasanya diceritakan aspek-aspek geografis tentang diri misalnya nama, daerah asal dan alamat. Self disclosure yang dalam, dilakukan terhadap orang- orang yang memiliki kedekatan hubungan (intimacy). Orang akan menginformasikan dirinya secara mendalam (pembicaraan lebih intim) kepada orang yang betul-betul ia percaya dan akrab dengan dirinya, misalnya orang tua, teman dekat, teman sejenis dan pacar. Kedalaman yang ideal terjadi bila individu dapat membedakan topik- topik (isi pembicaraan) apa saja yang sesuai untuk dibicarakan kepada orang lain dan orang-orang terdekat. Topik-topik seputar kesehatan, pekerjaan, pendidikan, minat atau hal-hal umum lainnya dapat dibicaran kepada orang yang baru dikenal atau semua orang. Tetapi topik-topik yang menyangkut masalah pribadi atau hal-hal intim seperti masalah seks hanya dibicarakan kepada terdekat seperti orang tua dan sahabat. Kedalaman yang tidak ideal terjadi bila individu mengungkapkan dirinya tanpa memandang kepada siapa ia mengungkapkan diri. Misalnya individu mengungkapkan hal-hal pribadi seperti seksualitas kepada semua orang di media sosial.
10. Faktor Pengungkaan Diri (Self-Disclosure)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan diri (Self- Disclosure) Dalam bukunya Devito mengidetifikasikan beberapa faktor yang mempengaruhi pengungkapan diri yaitu sebagai berikut:
30 1. Besar kelompok.
Besar kecilnya jumlah kelompok memiki peranan penting dalah pengungkapan diri, semakin besar kelompok maka akan kecil kemungkinan seseorang melakukan pengungkapan diri sebaliknya semakin kecil kelompok maka semakin besar tingkat terjadinya pengungkapan diri. Diad (kelompok yang terdiri dari dua orang ) adalah lingkungan yang paling cocok untuk melakukan pengungkapan diri, hal ini dikarenakan dengan satu pendengar, pihak yang melakakukan pengungkapan diri dapat mencermati tanggapan yang di berikan oleh si pendengar.
2. Perasaan menyukai.
Derlega dkk., (1987) mengatakan Akan mudah bagi kita untuk mengungkapkan apa yang ada di fikiran kita atau membuka diri kita ke orang yang kita sukai dan sebaliknya akan sulit melakukan pembukaan diri kepada orang yang kita tidak sukai.
3. Efek diadik.
Berg dan Archer (1983) mengungapkan bahwa seseorang akan lebih nyaman dan akrab bila pengungkapan diri dilakukan sebagai tanggapan atas pengungkapan diri orang lain. Efek diadik ini membuat seseorang yang hendak mengungkapan diri merasa aman, nyaman, dan nyatanya dapat memperkuat perilaku pengungkapn diri kita lsendiri.
4. Kompetensi.
Orang yang kompeten lebih banyak dalam melakukan pengungkapan diri hal ini dikarenakan orang yang kompeten memeliki rasa percaya diri yang tinggi di bandingkan orang yang tidak kompeten.
31 5. Kepribadian.
Kepribadian memiliki peranan yang penting bagi seseorang untuk melakukan pengungkapan diri orang–orang yang pandai bergaul (sociable) dan ekstrover akan melakukan pengungungkapan diri lebih banyak di banding orang-orangyang memiliki kepribadian kurang mudah bergaul atau introver.
6. Topik.
Kita akan cenderung mudah melakukan pengungkapan diri apa bila menyangkut topic tertentu dari pada topic yang lain. Biasanya kita akan lebih cepat membuka diri apa bila topic yang di bicarakan berisi informasi yang baik ketimbang dengan informasi yang tidak baik.
7. Jenis kelamin.
Faktor terpenting dalam mengungkapkan diri adalah jenis kelamin.
Umumnya, pria lebih kurang terbuka dari pada wanita. Judy pearson (1980) berpendapt bahwa peran seks –lah (sex role) dan bukan jenis kelamin dalam arti biologis yang menyebabkan perbedaan dalam hal pengungkapn diri.
11. Fungsi Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)
Pengungkaan diri memiliki fungsi yang Menurut Derlega dan Grzelak ada lima fungsi pengungkapan diri, yaitu:
1. Ekspresi (expression).
Adalah fungsi dimana kita mengekspresikan perasaan kita, apa yang kita rasakan seperti, perasaan senang atau sedih terhadap sesuatu semisal pekerjaan, atau apapun itu kepada orang lain. Untuk membuang kekesalan biasanya kita bercerita pada sahabat atau seseorang terdekat kita. Dengan
32 pengungkapan diri semacam ini kita dapat kesempatan untuk mengekspresikan perasaan kita.
2. Penjernihan diri (self-Clarification).
Dengan saling berbagi rasa seperti menceritakan perasaan dan masalah yang sedang kita hadapi kepada orang lain, kita berharap agar dapat memperoleh penjelasan dan pemahaman orang lain akan masalah yang kita hadapi sehingga pikiran kita akan menjadi lebih jernih dan kita dapat melihat duduk persoalannya dengan lebih baik.
3. Keabsahan sosial (Social Validation).
Adalah dimana kita mendapat informasi yang bermanfaat tentang kebenaran pandangan kita. Sehingga kita dapat memperoleh dukungan atau sebaliknya.
4. Kendali sosial (social control).
Seseorang dapat mengemukakan atau menyembunyikan informasi tentang keadaan dirinya yang dimaksud untukmengadakan control sosial, misalnya orang akan mengatakan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan baik tentang dirinya.
5. Perkembangan hubungan (relationship development).
Saling berbagi rasa dan informasi tentang diri kita pada orang lain serta saling mempercayai merupakan saran yang paling penting dalam usaha merintis sesuatu hubungan sehingga akan semakin meningkatkan derajat keakraban. 16
16Tri Dayakisni dan Hudaniah. Op. Cit. Hal. 75
33 12. Tingkatan Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)
Dalam proses hubungan interpersonal terdapat tingkatanyang berbeda dalam pengun gkapan diri. Menurut Powell tingkatan-tingkatan pengungkapan diri dalam komunikasi yaitu:
1. Basa-basi.
Taraf ini adalah tarah yang paling lemah dan dangkal karena tidak ada jalinan antar pribadi, bisa dibilang hanya sekedar menyapa untuk bentuk kesopanan. Contohnya kita hanya sekedar menyapa saja agar terlihat sopan dan baik dihadapan orang lain.
2. Membicarakan orang lain.
Dalam komunikasi ini bukan pengungkapan diri yang terjadi namun lebih kepada topik membicarakan orang lain. Dalam hal ini focus kita bukan pada apa yang ingin kita ungkapkan namun lebih kepada apa yang terjadi kepada orang lain. Contohnya kita menggosipkan hal yang terjadi pada tetangga kita atau teman kita.
3. Menyatakan gagasan atau pendapat.
Individu mulai mengungkapkan pemikiran atau pendapat mereka pada individu lain.
4. Perasaan.
Setiap individu memiliki gagasan atau pendapat yang sama tetapi perasaan atau emosi yang menyertainya berbeda-beda.
5. Hubungan puncak.
34 Pengungkapan diri dilakukan secara mendalam, individu yang menjalin hubungan antar pribadi dapat menghayati perasaan yang dia alami individu lainnya.17
Tingkatan yang terjadi pada saat kita melakukan pengunkapan diri tergantung pada kita, mau sebesar apa kita terbuka kepada orang lain.
Tingkatan-tingkatan yang di utarakan oleh Powell (dalam Supratikma, 1995) menggambarkan bagaimana kita bisa terbuka kepada orang lain atau sebesar apa kita bisa terbuka dengan orang lain.
13. Bahaya Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)
Meskipun pengungkapan diri dapat memperkuat rasa suka dan mengembangkan hubungan, ia juga mengandung resiko Derlega (1984).
Mengungkapakan diri bisa saja memberi tahu orang tentang kelemahan kita dan itu membuat kita berada di kondisi yang rawan. Beberapa faktor yang terjadi saat mengungkapkan diri antara lain:
1. Pengabaian.
Terjadi pada saat orang lain tidak peduli tentang pengungkapan diri yang kita lakukan.
2. Penolakan.
Informasi yang kita berikan kepada orang lain bisa saja menumbulkan penolakan sosial.
3. Hilangnya kontrol.
Informasi yang kita berikan kepada orang lain akan dijadikan alat untuk mengontrol kita. Misal kita memiliki rahasia yang kelam dan orang lain
17Tri Dayakisni dan Hudaniah. Ibid. Hal. 74.
35 memanfaatkan rahasia tersebut sebagai alat untuk mengancam sekaligus mengontrol kita.
4. Penghianatan.
Ketika kita mengungkapkan informasi atau rahasia secara personal kepada teman dekat, kita berasumsi bahwa rahasia tersebut tidak akan dibocorkan namun sayangnya orang itu berhianat.18
14. Jendela Johari
Jendela johari adalah model yang digunakan untuk mengklarifikasi informasi yang mempengaruhi konsep diri kita, yang diciptakan oleh Joseph Lutf dan Harry Ingham (Luft, 1969). Dalam Jendela Johari di ungkapkan tingkat keterbukaan dan tingkat kesadaran tentang diri kita. Dalam Jendala Johari terdapat empat bagian yang digambarkan berupa segi empat dengan garis tengah yang membelah jendela menjadi empat bagian. Sebelah atas jendela menunjukkan aspek diri kita yang diketahui orang lain (public self).
Dibagian bawah adalah aspek diri yang tidak diketetahui orang lain (private self). Berikut ini adalah jendela johari19 :
Publik
(diketahui orang lain) Privat
(tidak diketahui orang lain)
Gambar 2. 1 Jendela Johari 1
Jendela bagian kiri adalah aspek yang kita ketahui, dan sebelah kanan adalah aspek diri yang tidak kita ketahui.
18Taylor, Selly E dkk,.Op. Cit. hal .334.
19Jalaludin Rakhmat . Op.Cit. Hal. 106.
36 Diri yang kita
ketahui
Diri yang tidak kita ketahui
Gambar 2. 2 Jendela Johari 2
Bila jendela-jendela tersebut digabungkan maka, kita akan membuat Jendela Johari yang lengkap yang akan membentuk empat kamar-kamar jendela yaitu kamar pertama yaitu kamar yang “terbuka” (open), kamar yang kedua adalah kamar yang “buta” (blind), yang ketiga adalah kamar yang
“tersembunyi” (hidden) dan kamar terakhir adalah kamar yang “tidak dikenal”
(unknow)
Kita ketahui
Tidak kita ketahui
Terbuka Buta Publik
tersembunyi
Tidak dikenal
privat
Gambar 2. 3 Jendela Johari 3
Penjelasan tentang Jendela johari:
1. Area Terbuka (open).
Informasi dalam area ini diketahui oleh orang lain. Misalnya, informasi mengenei nama dan alamat.
2. Area Buta (blind).
37 Informasi di area ini diketahi oleh orang lain namun tidak disadari oleh diri kita sendiri. Contohnya, orang lain menyadari kecemasan yang kita alami tapi tidak kita rasakan atau diri kita sendiri tidak menyadarinya.
3. Area Tersembunyi (hidden).
Kita memliki informasi di area ini namun kita tidak memberitahu informasi tersebut kepada orang lain. Contohnya kelemahan-kelemahan kita yang tidak boleh orang lain tahu karena bisa menyebabkan kerugian bagi diri kita sendiri dan mengancam keselamatan kita sendiri.
4. Area Tidak dikenal (unknow).
Area ini berisi informasi yang tidak diketahui, baik oleh diri sendiri ataupun orang lain.20
15. Tujuang Pengungkapan Diri di Media Sosial.
Tujuh kategori tujuan pengungkapan diri di media sosial (Bazarova dan Choi (2014)).
2. Klarifikasi Identitas
Klarifikasi identitas dianggap sebagai tujuan intrapersonal dan terjadi ketika seseorang mencari untuk menyampaikan identitas pribadi seseorang kepada orang lain
3. Pengembangan Relasional
Pengembangan relasional adalah sebagai salah satu motivator utama untuk pengungkapan diri. Motivator ini berputar mengembangkan dan memelihara persahabatan, hubungan keluarga atau hubungan kencan.
20 Julia T Wood (1). Op. Cit Hal .60.
38 4. Validasi Sosial
Validasi sosial adalah upaya untuk meminta persetujuan dan dukungan dari orang lain
5. Kontrol Sosial Dan Perolehan Sumber Daya
Kontrol sosial dan perolehan sumber daya terjadi ketika seseorang mencoba entah bagaimana memperoleh manfaat melalui pengungkapan diri mereka, atau untuk mengontrol hasil sosial dalam kelompok teman dan keluarga mereka.
6. Ekspresi Diri Dan Kelegaan Kesusahan
Ekspresi diri dan kelegaan dari kesusahan memungkinkan seseorang untuk melepaskan emosi melalui suatu bentuk ekspresi diri.
7. Berbagi Informasi Untuk Memberi Manfaat Kepada Orang Lain
Berbagi informasi untuk keuntungan orang lain berasal dari keinginan untuk berbagi informasi dengan orang lain yang mungkin bersifat pribadi, atau mungkin muncul dari keinginan untuk membiarkan orang lain melakukan sesuatu yang telah ditemukan oleh komunikator
8. Penyimpanan Informasi Dan Hiburan
Penyimpanan informasi melibatkan pengungkapan pengalaman kehidupan sehari-hari untuk tujuan merekam informasi pribadi sehingga dapat mengaksesnya atau merefleksikannya di kemudian hari.
16. Batasan penlitian
Penelitian ini difokuskan untuk mencari tahu adakah penggunaan media sosial Instagram terhadap pengungkapan diri mahasiswa di media
39 sosial Instagram Angkatan 2019 jurusan ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah malang.
17. Hipotesis Penelitian
Ho: Tidak Ada pengaruh penggunaan media sosial Instagram terhadap pengungkapan diri (Self Disclosure) pada mahasisiwa Ilmu Komunikasi angkatan 2019 Universitas Muhammadiyah
Ha: Adanya pengaruh penggunaan media sosial Instagram terhadap pengungkapan diri (Self Disclosure) pada mahasisiwa Ilmu Komunikasi angkatan 2019 Universitas Muhammadiyah Malang.