• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Sikap Remaja Cyber Bullying di SMA "X" Karawang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Sikap Remaja Cyber Bullying di SMA "X" Karawang."

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

Penelitian ini berjudul “Studi Deskriptif Mengenai Sikap Remaja Kelas XI terhadap

Cyber-Bullying di SMA “X” Karawang “. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan

gambaran sikap terhadap aksi cyber-bullying pada remaja kelas XI di SMA”X” Karawang

melalui tiga komponen sikap yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Populasi dari penelitian ini

berjumlah 69 orang.

Alat ukur yang digunakan dalan penelitian ini adalah alat ukur yang dirancang oleh peneliti

berdasarkan teori sikap yang dikemukakan oleh Krech, Crutchfield, dan Ballachey (1986).

Berdasarkan uji validitas dengan menggunakan Rank Spearman dan uji reliabilitas

mengggunakan rumus Alpha Cronbach dengan program SPSS 21.0 for Windows diperoleh 26

item valid dengan validitas berkisar antara 0,306 – 0,606, dan reliabilitas alat ukur sebesar

0,750 yang artinya alat ukur memiliki reliabilitas yang tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa 83,06% anak kelas XI di SMA “X”

Karawang memiliki sikap yang negatif terhadap aksi cyber-bullying. Hal ini menunjukkan bahwa

anak kelas XI menolak, menentang, dan menghindari segala bentuk aksi cyber-bullying di media

sosial.

Saran yang diajukan untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan penelitian lebih lanjut

mengenai bagaimana lingkungan sekitar dan kebiasaan para responden ketika berada di media

sosial mengingat hasil penelitian menunjukkan sikap negatif tidak konsisten dengan perilaku

(2)

ii Universitas Kristen Maranatha

Abstract

The title of research is “ A Descriptive Study About Attitude Towards Cyber-Bullying in 11

Grade of “X” Senior High School “. The aim is to investigate the attitude toward cyber-bullying

in 11 grade of “X” Senior High School through three components of attitude, which are

cognitive, affective, and conative. The population of the research is 59 students.

The instrument in this research is designed by researcher based on the theories of Attitude by

Krech, Crutchfield, and Ballachey (1986). Based on Rank Spearman’s validity test and Alpha Cronbach’s reliability test formulas with SPSS 21.0 for windows program, the research

discovered 26 valid item with the validity range from 0,306 – 0,606 and reliability around 0,750

which means that the instrument has high reliability.

Based on the result, researcher concludes that most of the respondents have negative attitude to

cyber bullying. It shows that students resist, oppose, and avoid every cyber bullying in social

media.

The suggestion to the next research is to do further research is do the further research about how

the circle around and respondent’s habit when in the social media consider the result was show

(3)

Daftar Isi

Halaman Judul

Lembar Pengesahan ...

Abstrak ... i

Abstract ... ii

Pernyataan Orisinalitas Laporan Penelitian ... iii

Pernyataan Publikasi Laporan Penelitian ... iv

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi... viii

Daftar Tabel ... xiii

Daftar Bagan ... iv

Daftar Lampiran ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1

Latar Belakang Masalah ... 1

1.2

Identifikasi Masalah ... 8

1.3

Maksud dan Tujuan Penelitian ... 8

1.3.1

Maksud Penelitian ... 8

1.3.2

Tujuan Penelitian ... 8

1.4

Kegunaan Penelitian ... 9

(4)

ix Universitas Kristen Maranatha

1.4.2

Kegunaan Praktis ... 9

1.5

Kerangka Pikir ... 10

1.6

Skema Kerangka Pikir ... 18

1.7

Asumsi Penelitian ... 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 20

2.1 Sikap ... 20

2.1.1 Definisi Sikap ... 20

2.1.2 Ciri-ciri Sikap ... 20

2.1.3 Objek Sikap ... 21

2.1.4 Komponen-komponen Sikap ... 21

2.1.5 Karakteristik Komponen Sikap ... 22

2.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap ... 25

2.2 Cyber Bullying ... 29

2.2.1 Definisi Cyber Bullying ... 29

2.2.2 Jenis-jenis Cyber Bullying ... 32

2.2.3 Penyebab terjadinya Cyber Bullying ... 33

2.2.4 Peran-peran yang ada dalam Cyber Bullying ... 35

2.2.5 Tipe Cyber Bullying ... 36

2.2.6 Perspektif Psikologi Sosial ... 37

(5)

2.3.1 Definisi Masa Remaja ... 39

2.3.2 Karakteristik Masa Remaja ... 40

2.3.2 Perspektif Psikologi Perkembangan ... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 44

3.1 Rancangan Penelitian ... 44

3.2 Bagan Rancangan Penelitian ... 44

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 45

3.3.1 Variabel Penelitian ... 45

3.3.2 Definisi Operasional ... 45

3.4 Alat Ukur ... 46

3.4.1 Alat Ukur Sikap ... 46

3.4.2 Sistem Penilaian Alat Ukur ... 47

3.4.3 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukut ... 50

3.4.3.1 Validitas Alat Ukur ... 50

3.4.3.2 Reliabilitas Alat Ukur ... 52

3.5 Data Sosiodemografis ... 53

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian ... 53

3.6.1 Populasi Sasaran ... 53

3.6.2 Karakteristik Populasi ... 53

(6)

xi Universitas Kristen Maranatha

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 55

4.1 Gambaran Umum Responden ... 55

4.1.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55

4.1.2. Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 56

4.1.3 Gambaran Responden Berdasarkan Kelas ... 56

4.1.4 Gambaran Responden Berdasarkan Keaktifan di Media Sosial

... 57

4.1.5 Gambaran Responden Berdasarkan Penghyatan terhadap Media

Sosial ... 57

4.1.6 Gambaran Responden Berdasarkan Perhatian Orang Tua

terhadap kegiatan Responden di Media Sosial ... 58

4.1.7 Gambaran Responden Berdasarkan Intensitas Waktu di Media

Sosial ... 58

4.1.8 Gambaran Responden Berdasarkan Kegiatan di Sosial Media

... 59

4.1.9 Tabel Pengaruh Data Sosiodemografis terhadap Sikap ... 59

(7)

4.2.1 Gambaran Sikap Terhadap Cyber-Bullying ... 60

4.2.2 Tabel Pengaruh antara Sikap dengan Aspek-Aspek Sikap ... 61

4.2.2.1 Tabel Pengaruh antara Sikap terhadap Cyber-bullying dengan

Aspek Kognitif ... 61

4.2.2.2 Tabel Pengaruh antara Sikap terhadap Cyber-bullying dengan

Aspek Afektif ... 61

4.2.2.3 Tabel Pengaruh antara Sikap terhadap Cyber-bullying dengan

Aspek Konatif ... 62

4.3 Pembahasan ... 62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 66

5.2 Saran ... 67

5.2.1 Saran Teoritis ... 67

5.2.2 Saran Praktis ... 67

DAFTAR PUSTAKA ...

(8)

xiii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Gambaran Alat Ukur ... 42

Tabel 3.2 Bobot Alat Ukur... 42

Tabel 3.2 Kriteria Reliabilitas Guilford ... 47

Tabel 4.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 50

Tabel 4.2. Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 51

Tabel 4.3 Gambaran Responden Berdasarkan Kelas ... 51

Tabel 4.4 Gambaran Responden Berdasarkan Keaktifan di Media Sosial ... 52

Tabel 4.5 Gambaran Responden Berdasarkan Penghyatan terhadap Media Sosial ... 52

Tabel 4.6 Gambaran Responden Berdasarkan Perhatian Orang Tua terhadap Media Sosial ... 53

Tabel 4.7 Gambaran Responden Berdasarkan Intensitas Waktu di Media Sosial ... 53

Tabel 4.8 Gambaran Responden Berdasarkan Kegiatan di Sosial Media ... 54

Tabel 4.9 Tabel Pengaruh Data Sosiodemografis terhadap Sikap ... 54

Tabel 4.10 Gambaran Hasil Penelitian ... 55

Tabel 4.11 Tabel Pengaruh Sikap Terhadap Cyber Bullying dengan Komponen Kognitif ... 56

Tabel 4.12 Tabel Pengaruh Sikap Terhadap Cyber Bullying dengan Komponen Afektif ... 56

(9)

DAFTAR BAGAN

(10)

xv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A Kuesioner

Lampiran B Kisi-Kisi

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pada zaman yang serba modern dan canggih ini, kurikulum menuntut para remaja yang masih duduk di bangku sekolah untuk lebih aktif dalam pelajaran, sehingga memiliki pengetahuan umum yang lebih luas sebelum atau sesudah guru menerangkan di kelas. Kurikulum yang ada tersebut membutuhkan referensi-referensi buku, artikel, atau jurnal-jurnal yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran para siswa. Untuk memudahkan proses, para siswa menggunakan internet untuk memeroleh wawasan baru selain untuk menunjang materi-materi pelajaran yang tengah menjadi subjek pelajarannya.

Internet adalah semua jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar sistem global Transmission Control Protocol / Internet Protocol (TCP/IP) sebagai protokol pertukaran paket untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia, pada tahun 1972 e-mail diperkenalkan. Penggunaan e-mail dapat memermudah para peneliti untuk mengirimkan data dan informasi (Darma dkk, 2009:2). Semua orang, tidak terkecuali remaja, dapat berselancar mencari informasi, data atau materi-materi pelajaran secara mudah melalui internet.

(12)

2

Universitas Kristen Maranatha

tahun 2017 dan di tahun 2018 menjadi 123 juta orang (kompas.com November 2014). Kenaikan ini akan semakin bertambah banyak seiring dengan bergantinya zaman karena manusia tidak akan berhenti membuat inovasi-inovasi baru.

Sebagian besar pengguna internet di Indonesia ternyata berusia muda. Hasil penelitian Yahoo dan Taylor Nelson Sofres (TNS) Indonesia menunjukkan bahwa, pengakses terbesar di Indonesia adalah mereka yang berusia antara 15-19 tahun. Hasil survey ini menyebutkan bahwa sebanyak 64 persen adalah anak muda, dari 2.000 responden yang mengikuti survey. Sementara pada peringkat kedua ditempati oleh pengguna berusia 20- 24 tahun dengan prosentase 42 persen dan urutan terakhir ditempati usia 45-50 tahun. (Kompas.com penelitian oleh Yahoo dan TNS).

Munculnya internet merupakan salah satu penemuan yang berharga, karena dengan menggunakan internet seseorang bisa mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan, dan dapat berkomunikasi dengan siapapun walaupun berjarak jauh. Seiring berjalannya waktu, akses internet menjadi semakin mudah. Kemyataan ini didukung pula dengan banyaknya tempat-tempat berfasilitas wi-fi serta kartu provider yang menawarkan paket internet lewat handphone dengan harga yang terjangkau. Jadi, individu dapat mengakses situs-situs apapun, termasuk media social, dengan mudah.

(13)

sosial di kalangan remaja juga membawa dampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah bullying. Bullying dalam bahasa Indonesia berarti mengintimidasi atau mengganggu orang yang lemah baik, secara individu ataupun secara berkelompok. Menurut Kim (2006) dalam Adilla (2009:57) bullying dapat dilakukan secara verbal, psikologis dan fisik.

Sebagian besar dari kita hanya menggetahui bullying yang dilakukan secara langung atau bertemu langsung dengan target (sebutan untuk seorang korban)

bullying menggunakan kontak fisilk maupun verbal. Namun sekarang ini,

bullying tidak hanya terjadi dikehidupan nyata saja, bullying sekarang juga terjadi

di dunia internet atau cyber. Bullying yang terjadi di internet atau cyber dijuluki dengan cyberbullying. Cyberbullying sama dengan bullying yang terjadi pada umumnya, yaitu sama-sama mengintimidasi atau mengganggu orang yang lemah yang pada umumnya banyak terjadi di media sosial.

Perbedaan antara cyberbullying dengan bullying adalah tempat seorang pem-bully atau mobbing (julukan untuk satu kelompok pem-pem-bully) melakukan intimidasi, ancaman, pelecehan, dll terhadap target. Cyberbullying adalah kejadian ketika seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler dalam jangka waktu minimal 1 bulan dan dilakukan secara terus menerus.

Cyberbullying dianggap valid bila pelaku dan korban berusia di bawah 18

(14)

4

Universitas Kristen Maranatha

terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, kasus yang terjadi akan dikategorikan sebagai cybercrime atau cyberstalking (sering juga disebut cyber

harassment) (Potret-Online.com, 12 Agustus 2013). Namun, apabila anak tersebut

belum mencapai 18 tahun, ini termasuk dalam perkara anak nakal. Menurut Undang-Undang nomor 3 tahun 1997 tentang peradilan anak menyebutkan bahwa, orang yang dalam perkara anak nakal adalah anak yang telah mencapai umur delapan tahun tetapi belum mencapai 18 tahun dan belum menikah.

Cyberbullying lebih mudah dilakukan dibandingkan kekerasan konvensional

karena pelaku tidak perlu berhadapan muka dengan orang lain yang menjadi targetnya. Korban yang terkena cyberbullying juga jarang yang melaporkan kepada pihak yang berwajib, sehingga banyak orang tua yang tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka terkena bullying di dunia maya.

Para peneliti melakukan analisis terhadap 4.500 remaja, dan anak-anak menyatakan memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lain yang hanya dipukuli atau diejek. (inet.detik.com, 24 September 2010). Bentuk-bentuk cyberbullying yang banyak terjadi adalah mengganti foto account seseorang, menghina seseorang, dan membajak account seseorang dengan mengganti password.

(15)

Sebelum yang bersangkutan melakukan bunuh diri, Todd merekam video berdurasi Sembilan menit tentang dirinya sambil memegang kertas bertuliskan “Saya tidak memiliki siapapun. Saya membutuhkan seseorang.” Berita ini sempat

menjadi bahan pembicaraan viral di pelbagai media massa dan berita televisi. Sedangkan kasus yang ada di Indonesia yang baru-baru ini terjadi adalah Sonya Depari yang mengaku sebagai anak Jenderal ketika diberhentikan oleh Polwan saat sedang melakukan konvoi. Sonya Depari memaki-maki Polwan tersebut dan mengancam untuk menurunkan jabatannya. pengguna internet yang kesal dengan sikap arogan Sonya langsung menyindir sikap Sonya di media sosial. hal ini mengakibatkan ayah kandung Sonya meninggal karena stroke

karena tidak kuat dengan perilaku putrinya

( http://news.liputan6.com/read/2478919/top-3-duka-sonya-yang-mengaku-anak-jenderal )

Bagaimana seseorang menyadari dan bereaksi terhadap suatu tindakan yang terjadi di lingkungannya tergantung dari sikap yang dimiliki oleh individu bersangkutan. Kaum remaja pelajar SMA mengetahui adanya tindakan-tindakan

cyber bullying di media sosial, dapat menentukan pilihan penting untuk bertindak,

yaitu ikut “menonton” aksi cyber bullying yang terjadi di media sosial, atau bisa juga “berdiri” untuk orang yang dijadikan korban tersebut atau membuat pembelaan untuk orang yang lebih lemah.

(16)

6

Universitas Kristen Maranatha

perasaan-perasaan emosional dan kecenderungan bertindak untuk mendukung atau menentang suatu objek sosial (Krech, Crituchfield, & Ballachey, 1986). Bagaimana remaja menghindari dari tindakan cyber bullying baik sebagai pelaku maupun korban, berkaitan dengan sikap remaja terhadap aksi tersebut. Jika remaja mampu mengenali dan memahami bagaimana aksi cyber bullying terjadi, kemungkinan besar remaja dapat terhindar dari aksi cyber bullying tersebut. Apa yang dipikirkan oleh remaja saat melakukan cyber bullying tersebut, bagaimana perasaan remaja yang melihat korban bullying serta bagaimana kecenderungan berperilaku remaja melakukan tindakan cyber bullying akan menentukan sikap remaja terhadap aksi cyber bullying.

Contoh sikap cyber bullying yang mudah terjadi di kalangan murid SMA adalah flaming atau bullying yang bersifat frontal dan bersifat memaki-maki secara langsung. Flaming dengan mudah ditemukan di media sosial para pekerja seni ibukota terkenal terutama yang mengandung foto-foto seperti instagram. Buruknya pemberitaan mengenai pekerja seni ini membuat masyarakat mencapnya negatif. Remaja yang melihat tindakan cyber bullying dapat meliaht

(17)

Remaja rentan terkena dampak cyber bullying karena remaja berada dalam tahap perkembangan peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Tahap perkembangan remaja mengharuskan individu menemukan identitas diri, cenderung memberontak atas peraturan dan menjadi kurang dekat kepada orangtua. Keadeaan-keadaan ini membuat remaja rentan terhadap cyber bullying karena banyak yang tidak bercerita kepada orangtuanya mengenai apa yang terjadi atas dirinya. Begitu pula fakta bahwa orangtua yang sibuk bekerja membuat remaja menikmati fasilitas yang diinginkannya, termasuk kemudahan mengakses media sosial sebagai teman terbaru.

Di SMA “X” Karawang aksi cyber bullying juga terjadi. Sebagian besar

siswa masih belum mengetahui bahwa yang dilakukannya itu adalah suatu tindakan yang merugikan orang lain. Siswa kelas XI berada di tahap baru beranjak dari kehidupan tahun pertama di sekolah yang masih mencari teman-teman baru di lingkungan sekolah yang baru, dan juga belum menemukan beban tambahan yang biasanya ada di tahun terakhir di SMU seperti menentukan akan kuliah atau bekerja setelah lulus sekolah.

Penggunaan media sosial di kalangan remaja kelas XI juga cukup beragam karena media sosial digunakan untuk bertukar informasi dan juga saling berkomunikasi dengan teman-teman lain dalam kegiatan belajar. Dari wawancara awal peneliti dengan guru BP SMA “X” Karawang, pernah ada kejadian cyber

bullying yang menyangkut murid SMA dan murid SMP yang berada dalam satu

(18)

8

Universitas Kristen Maranatha

membentuk grup obrolan pribadi yang bertujuan menjelek-jelekkan dirinya. Pihak orangtua yang mengetahui hal ini menyerahkan pemecahan masalahnya kepada pihak sekolah karena orangtua yang berada jauh dengan sang anak

Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana sikap terhadap aksi cyber bullying pada remaja kelas di SMA “X” Karawang.

1.2Identifikasi Masalah

Seperti apakah gambaran sikap anak kelas XI terhadap aksi cyber bullying di SMA “X” Karawang

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Untuk memeroleh gambaran sikap anak kelasXI terhadap aksi cyber bullying di SMA “X” Karawang.

1.3.2 Tujuan Penelitian

(19)

1.4Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoretis

1) Untuk memberi masukan bagi bidang psikologi sosial, dan psikologi pendidikan khususnya dalam upaya menghindari aksi cyber bulliying 2) Untuk memberi bahan pertimbangan dan masukan kepada peneliti lain

yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut, khususnya bidang psikologi sosial mengenai aksi cyber bulliying

1.4.2 Kegunaan Praktis

1) Memberikan informasi kepada remaja di SMA “X” Karawang mengenai gambaran sikap terhadap cyber bullying sehingga diharapkan remaja dapat memiliki sikap negatif terhadap aksi cyber bullying

2) Memberikan informasi kepada kepala sekolah dan guru BP mengenai presentasi penyebaran sikap positif dan negatif pada remaja di SMA “X” Karawang terhadap aksi cyber bullying sehingga hal tersebut dapat dicegah

3) Memberikan informasi kepada orangtua murid mengenai bahaya cyber

bullying terhadap perkembangan remaja sehingga orangtua dapat

(20)

10

Universitas Kristen Maranatha

1.5Kerangka Pemikiran

Sikap merupakan suatu sistem yang relatif menetap mencakup evaluasi positif atau negatif, perasaan-perasaan emosional dan kecenderungan bertindak untuk mendukung atau menentang suatu objek sosial (Krech, Crutchfield, &Ballachey, 1986). Dalam hal ini yang menjadi objek sosial adalah cyber

bullying. Sikap remaja terhadap cyber bullying dapat positif atau negatif. Hal

tersebut dipengaruhi oleh tiga aspek sikap, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif merupakan bagaimana pengetahuan, pemahaman remaja mengenai cyber bullying. Komponen ini meliputi kualitas-kualitas suka (favorable) atau tidak suka (unfavorable), diinginkan atau tidak diinginkan, “baik” atau “buruk” berdasarkan penilaian atau beliefs remaja tentang cara

memberikan respon terhadap cyber bullying.

(21)

aksi cyber bullying dan menganggapnay wajar terjadi. Lain halnya dengan remaja yang memiliki kognisi negatif, dirinya memiliki pemahaman serta keyakinan bahwa aksi aksi cyber bullying dapat memberikan dampak buruk terhadap orang lain.

Komponen afektif merujuk pada perasaan-perasaan subjek terhadap aksi aksi cyber bullying. Remaja yang memiliki komponen afektif yang positif terhadap aksi cyber bullying akan cenderung memiliki perasaan-perasaan atau emosi seperti perasaan senang dan puas ketika melihat target menjadi menderita. Ia merasa senang jika orang lain tertindas dan tak berdaya dengan aksi cyber

bullying. Sedangkan remaja yang memiliki komponen afektif yang negatif

terhadap aksi cyber bullying akan cenderung menghindari cyber bullying dan memiliki perasaan-perasaan atau emosi seperti sedih dan kecewa. Remaja cenderung menghindari cyber bullying dan tidak ingin melakukannya pada siapapun, karena ia merasakan bahwa menjadi korban cyber bullying itu tidak menyenangkan.

(22)

12

Universitas Kristen Maranatha

verbal. Selain itu remaja akan menentang setiap cyber bullying yang terjadi di media sosial.

Cyber bullying adalah perilaku agresif, intens, berulang yang dilakukan

oleh individu dan perorangan dengan menggunakan bentuk-bentuk pemanfaatan teknologi dan elektronik sebagai media untuk menyerang orang tertentu (Hinduja & Patchin (2009), dan Smith, dkk (2008)). Cyber bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan yang menyerang psikis seseorang dan berakibat memengaruhi fisik korban atau orang lain yang keadaannya (fisik maupun psikologis) lebih lemah.

Berdasarkan jenisnya, cyber bullying dibagi menjadi tujuh jenis, yaitu

Flaming, Harassment, Denigration, Impersonation, Outing dan Trickery,

Exclusion, dan Cyber stalking. Flaming adalah bullying yang bersifat frontal dan

memaki-maki secara langsung. Selain berupa provokasi, mengejek, ataupun penghinaan yang menyinggung pengguna sosial media lainnya, flaming juga dapat memanas-maasi suatu keadaan sehingga terjadi perdebatan. Jika flaming terus terjadi, akan membuat kegaduhan di sosial media maupun memicu keributan di dunia nyata.

Harassment adalah pengiriman pesan secara berulang-ulang dan ditujukan

untuk menganggu. Harassment merupakan contoh tindakan yang menggambarkan bagaimana orang yang terus-menerus mengejar orang lain secara

(23)

Harassment berbentuk pelecehan dan bermaksud memberi pelajaran kepada

korban, dan umumnya pelaku harassment ini berkeingin membalas dendam.

Denigration adalah perusakan nama baik dan reputasi seseorang.

Denigration dapat pula berupa upaya seseorang yang menyebarkan kabar bohong

yang bertujuan merusak reputasi orang lain. Selain itu ada pula kemungkinan bahwa ada orang lain yang telah menggunakan foto seseorang untuk melakukan tindakan yang tidak wajar di sosial media.

Impersonation adalah memerlakukan diri sendiri seolah-olah sebagai orang

lain untuk kemudian menyalahgunakan nama orang tersebut, digunakan untuk mengirim dan menanmpilkan kata-kata atau hal-hal buruk agar seolah-olah orang yang digunakan namanya tersebutlah yang berbuat salah. Situasi ini terjadi tatkala orang lain berpura-pura atau bertindak seakan-akan dirinya adalah sosok yang di

bully. Pelaku melakukan proses pencurian identitas online dari korban, dengan

cara pelaku melakukan tindakan atas nama korban untuk kemudian berkomunikasi kepada pihak-pihak yang dikenal olehnya. Efeknya, teman-teman korban membenci korban karena mengira perilaku itu muncul darinya, padahal si korban tak tahu apa-apa.

Outing adalah menyebarkan rahasia seseorang. Tindakan ini dapat juga

(24)

14

Universitas Kristen Maranatha

dalam hal ini korban dipancing untuk mengucapkan hal-hal buruk mengenai orang lain (biasanya agar dirinya merasa diterima oleh pelaku bully yang populer). Pembicaraan dinyatakan oleh pelaku sebagai rahasia ternyata disebarkan kepada orang-orang yang disebut dalam pembicaraan itu sehingga mereka semua membenci korban

Exclusion adalah mengeluarkan seseorang dari suatu kelompok online lalu

memojokkan dan menjauhkannya. Ini adalah contoh perilaku atau upaya dari seseorang untuk mengucilkan atau mengecualikan seseorang lainnya untuk bergabung ke dalam suatu komunitas atau golongan dengan alasan yang diskriminatif. Selain itu dapat pula berupa memblokir seseorang agar tidak bisa mengirim e-mail atau pesan kepada orang lain, atau menolak seseorang untuk masuk ke dalam kelompok sosial media. Akibatnya, korban menjadi tertinggal banyak informasi, pembicaraan di antara teman sekelompoknya.

Cyber stalking adalah menganggu, mencemarkan nama baik orang secara

intens sehingga menimbulkan ketakutan besar bagi korban. Biasanya cyber

stalking dilakukan oleh orang dewasa untuk kepentingan tertentu dan

dikategorikan sebagai kriminalitas.

Dalam aksi ini, setiap remaja memiliki perannya masing-masing yaitu

bully, asisten bully, reinfocer, defender, dan outsider. Bully yaitu siswa yang

dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan aktif terlibat bullying. Asisten

bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung bergantung

(25)

terjadi, ikut menyaksikan, menertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya. Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantu korban, sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga. Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli

(26)

16

Universitas Kristen Maranatha

Perubahan sosio-emosional meliputi perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Perubahan sosiso-emosional yang dialami oleh remaja berkaitan dengan komponen afektif remaja. Dalam hal ini remaja dapat menyukai atau tidak menyukai suatu hal karena adanya pengaruh hubungan dengan teman sebaya mapupun peruabahan emosi yang sedang dialaminya.

Perubahan sosial dapat diartikan sebagai bagaimana seseorang memandang dan berpikie mengenai dunia sosial mereka, orang-orang yang mereka amati dan yang berinteraksi dengan mereka, hubungan dengan orng-orang tersebut, kelompok tempat mereka bergabung, dan bagaimana mereka berpikir mengenai diri mereka sendiri dengan orang lain. Perubahan sosial remaja berkaitan dengan komponen konatif remaja yaitu kecenderungan remaja melakukan cyber bullying berdasarkan hasil pengamatan melalui lingkungan sekitarnya. Perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi perilaku remaja dalam lingkungannya. Kecenderungan remaja dalam merespon terhadap suatu objek sosial dapat dilihat dari sikapnya.

(27)

adalah hal yang negatif, merasa kecewa dengan tindakan cyber bullying,dan cenderung untuk tidak melakukan perilaku cyber bullying.

Sebagai kelengkapan data, selain mengukur sikap juga akan dilakukan penjaringan data sosial demografik yang terdiri atas jenis kelamin, usia, kelas, tingkat keaktifan, penghayatan terhadap media sosial , lama menggunakan internet per hari, , peran dan dukungan orang tua, fungsi media sosial bagi remaja, kegiatan di media sosial mengganggu atau tidak untuk memeroleh pemahaman dari remaja mengenai cyber bullying

(28)

18

Universitas Kristen Maranatha

1.6Skema Kerangka Pikir

Sikap terhadap cyber

bullying

Data Sosio Demografik

Positif

Negatif

Komponen Sikap Kognitif

Afektif Konatif Remaja kelas XI di

(29)

1.7Asumsi

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diasumsikan bahwa:

1) Sikap remaja di kelas XI di SMA “X” Karawang terhadap aksi cyber bullying dapat positif atau negatif

(30)

66

Universitas Kristen Maranatha BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik simpulan mengenai sikap responden terhadap aksi cyber bullying sebagai berikut:

1) Sebagian besar responden (83.63%) memiliki sikap negatif artinya responden memiliki sikap yang tidak mendukung cyber bullying, merasa sedih dengan adanya tindakan cyber bullying, dan memahami bahwa cyber bullying merupakan hal yang tidak baik dilakukan.

2) Responden dengan sikap negatif, umumnya menunjukkan sikap negative juga apabila dilihat dari aspek-aspek kognitif, afektif, dan konatifnya terhadap

cyber bullying.

(31)

5.2 Saran

Mencermati hasil penelitian yang di atas, saran yang dapat disampaikan adalah:

5.2.1 Saran Teoretis

1) Untuk peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian dengan variabel yang sama sebaiknya meminta informasi langsung kepada responden mengenai bagaimana lingkungan sekitar dan kebiasaan para responden ketika berada di media sosial.

2) Untuk peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan subjek yang sama harap melakukan penelitian lanjutan melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap penelitian ini karena mengingat hasil penelitian yaitu sikap negatif yang ditampilkan responden dengan perilaku yang sesungguhnya ditampilkan tidak konsisten,

5.2.2 Saran Praktis.

(32)

68

Universitas Kristen Maranatha

2) Disarankan kepada anak kelas XI di SMA “X” Karawang untuk mengembangkan sikap negatif terhadap aksi cyber-bullying dan mewujudkannya menjadi perilaku konsisten juga yaitu melaporkan kepada guru apabila melihat adanya aksi cyber-bullying terutama menyangkut pribadi para siswa. Hal tersebut bertujuan agar anak kelas XI yang lain yang mendukung aksi bullying dapat ikut serta menentang aksi

cyber-bullying.

(33)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SIKAP REMAJA KELAS XI

TERHADAP CYBER BULLYING DI SMA “X” KARAWANG

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh seminar Skripsi di Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Maranatha Bandung

Disusun oleh :

Agnes Ayuliana

NRP: 0830117

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA FAKULTAS PSIKOLOGI

(34)
(35)
(36)
(37)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “STUDI DESKRIPTIF MENGENAI

SIKAP REMAJA KELAS XI TERHADAP CYBER BULLYING DI SMA “X” KARAWANG” ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan kelulusan mata kuliah tersebut di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Kota Bandung.

Dengan keterbatasan , pengetahuan, informasi, dan pengalaman yang dimiliki peneliti, peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata-kata yang sempurna, karena itu baik kritik maupun saran yang bersifat membangun dan menambah pengetahuan bagi peneliti yang sangat berguna di masa yang akan datang.

Dalam penulisan skripsi ini peneliti banyak mendapat bantuan dan dukungan dalam menyusunnya, karena itu melalui kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :

1. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Dr. Irene P. Edwina, M.Si., Psikolog

2. Dosen wali Missiliana R. M.Si yang mendukung penulis selama menjalani perkuliahan 3. Dosen pembimbing utama Dra. Ria Wardani, M.Si., Psikolog yang telah banyak

meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, pengarahan, dan masukan untuk membimbing peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

(38)

5. Kepala Sekolah dan guru BP SMA “X” Karawang yang telah memberikan waktu dan kesempatan kepada penulis untuk mendapatkan informasi mengenai data yang diperlukan dalam penyusunan Skripsi ini.

6. Para siswa-siswi kelas XI SMA ”X” Karawang yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk memberi informasi kepada penulis.

7. Papa dan mama tercinta yang selalu memberikan dorongan , semangat, dan mendoakanku selama proses menyusun skripsi ini.

8. Kepada adik-adiku yang selalu memberikan semangat dan perhatiannya pada peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman – teman angkatan 2008 Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha yang telah banyak membantu memberikan masukan dan informasi untuk menyelesaikan skripsi ini.

10.Kepada Aureline S.T; S.Kom, Prihartini Mega S.E. Metta Dewi, Natalia Hanyoto Zulfikar Tarigan, Darwin Pories karena telah menyemangati dan menemani dalam pembuatan skripsi ini

Akhir kata , semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan berkatnya pada semua pihak yang telah membantu peneliti dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang memerlukan.

Bandung , 2016

(39)

DAFTAR PUSTAKA

- Darma et al. (2009) Buku Pintar Menguasai Multimedia.Jakarta: Mediakita.

- Feist, J. e Feist, G. J. (2008). Theories of Personality ;McGraw – Hill Book Company

- Hinduja, S., Patchin, J.W( 2009). Bullying Beyond the Schoolyard: Preventing and

Responding to Cyberbullying. Thousand Oaks, CA; Sage Publications (Corwin Press)

- Hurlock, E.B. (1990). Developmental psychology :a lifespan approach. Boston :McGraw-Hill.

- Kowalski, Robin M., Limber Susan P., Agatston, Patricia W. (2012). Cyberbullying :

bullying in the Digital Age ( 2�� Edition). English; Wiley-Blackwell\

- Krech, Crutchfield, Ballanchey.1986.Individual in Society : A Textbook of Social

Psychology. Auckland : McGraw – Hill Book Company

- Kumar, Ranjit (1999). Research Methodology; A Step-by Step Guide For Beginners. London, Thousand Oaks, New Delhi; Sage Publications, Ltd

- McWalters, Malcolm. 1990. Understanding Psychology. Australia: McGraw-Hill Book Company

- Olweus, D. (1993). Bullying at School: What we know and what we can do. Oxford: Blackwell

- Santrock, John.W. 2003. Life Span Development, 13th Edition 1. New York : McGraw-Hill Companies, Inc

- Santrock, John.W. 2011. Life Span Development, 13th Edition 1. New York : McGraw-Hill Companies, Inc

- Smith, P.K., Mahdavi, J., Carvalho, M., Fisgher., Russell, S. and Tippett, N. (2008),

Cyberbullying: its nature and impact in secondary school pupils. Journal of Child

Psychology and Psychiatry, 49: 376-385

- Willard, Nancy E. (2007). Cyber bullying and Cyberthreats: Responding to the

(40)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

- Chrissa, Syela. 2013. “Studi Deskriptif mengenai Sikap terhadap Bullying di SMA “X”

Bandung”. Bandung : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha

- Kartika, Risna. 2014. “EFEKTIVITAS ASSERTIVE TRAINING DALAM MENANGANI KORBAN CYBERBULLYING : Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 5 Bandung Tahun Pelajaran 2013/2014” .Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia

-

https://www.academia.edu/10078242/BULLYING_faktor-faktor_penyebab_bullying_dan_solusi_mengatasi_bullying

- http://parent.binus.ac.id/ArtikelDetail.aspx?id=Mt8ZL7hN%2BOp5M%2FXdo8D%2Fc

A%3D%3D

- http://aneukceria.blogspot.co.id/2015/12/cyber-bullying-membunuh-secara-perlahan.html

-

http://idkita.or.id/2014/10/01/memahami-cyberbullying-dan-cyberstalking-secara-sederhana/

- http://abduljalil.web.ugm.ac.id/2015/02/12/cyberbullying/

- www.kompas.com

- www. Potret-Online.com

- www.detik.com

- http://news.liputan6.com/read/2478919/top-3-duka-sonya-yang-mengaku-anak-jenderal

Referensi

Dokumen terkait

yang dijatuhkan kepada anak-anak dibawah umur yang melakukan pembunuhan yaitu bagi anak yang berumur 10 (sepuluh) sampai 14 (empat belas) tahun maka akan

Puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT senantiasa kita panjatkan atas segala rahmat,hidayah dan karunia-Nya yang telah memberikan kelancaran kepada kita dalam

Sehubungan dengan hal tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN KEPUASAN NASABAH TERHADAP LOYALITAS

Kesimpulannya adalah bahwa PT TELKOM, Tbk terdapat pengaruh yang signifikan antara CSR terhadap Citra Perusahaan, artinya bahwa kegiatan CSR yang dilakukan

Uji heteroskedastisitas menunjukkan variable independen dalam model, yakni return pasar, size (SMB) dan book-to-market value (HML) tidak ada yang signifikan pada

Majelis Hakim menentukan 3 (tiga) peserta yang memperoleh nilai tertinggi sebagai finalis, kecuali pada bidang Musabaqah Khaththil Quran, Fahmil Qur’an, Debat Bahasa

Pada penelitian ini architecture framework yang digunakan adalah TOGAF ADM yang terdiri dari 9 fase, namun pada peneletian ini fase-fase yang dilakukan hanya