21
ISSN : 1907-8455 PERNIKAHAN DI KALANGAN M AHASISW A S-1
Galuhprit t a Anisaningt yas1)* ) dan Yuliant i Dw i Ast ut i2)* * )
1,2)
Progr am St udi Psikologi Fakult as Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universit as Islam Indonesia
* ) dengan fokus pada mot ivasi menikah, fakt or-fakt or yang m enyebabkan t erbent uk at au t erakt ualisasinya mot ivasi t ersebut dan bagaimana kehidupan m ereka set elah per nikahan. Responden dalam penelit ian ini berjumlah t iga orang dengan karakt erist ik mahasisw i S1, ber st at us sebagai mahasisw a akt if, berusia 18-22 t ahun, t elah m enikah dan t inggal bersama suami sert a t idak bercerai sam pai saat penelit ian ini dilakukan.M et ode pengam bilan dat a yang digunakan adalah w aw ancara dengan menggunakan
int erview guide sebagai panduan dalam percakapan. M et ode analisis dat a dalam penelit ian ini adalah
analisis kualit at if, dengan langkah-langkah ber upa w aw ancara, t ranskrip verbat im, pem buat an t ema-t ema yang kem udian akan dilanjuema-t kan dengan memasukkan ke dalam sub kaema-t egori dan kaema-t egori unema-t uk mem per oleh model pernikahan di kalangan mahasisw a S1. Berdasarkan hasil penelit ian, disim pulkan bahw a secara um um responden menikah di saat masih kuliah karena m emiliki mot ivasi yang kuat unt uk menikah yang didukung oleh fakt or-fakt or sepert i dukungan dan r est u dari orangt ua sert a keyakinan pada diri sendiri unt uk m enjalani pernikahan sam bil kuliah. Secara um um, kehidupan pernikahan mahasisw a yang m enikah di saat masih kuliah dalam keadaan baik m eskipun m ereka mengalami kesulit an dalam m engat ur w akt u ant ara kuliah dan rumah t angga dan kadangkala kehidupan pernikahan diw arnai dengan konflik-konf lik kecil.
Kat a kunci: mot ivasi, pernikahan, kehi dupan per nikahan
M ARRIAGE AM ONG UNDERGRADUATE STUDENTS model of marriage among undergraduat e st udent s. Based on t he r esult s, it is concluded t hat i n general t he respondent s w ere married w hile t hey w er e st ill in college because t hey had a st rong mot ivat ion for being married and also support ed by f act ors such as t he support and blessing of t he par ent s as w ell as confidence in t heir self t o live a marriage w hile in college. In general, t heir mar riage life in good condit ion, alt hough t hey have diff icult y in managi ng t he t im e bet w een college-family and t heir marriage life t hat somet imes t inged w it h minor conflict s.
ISSN : 1907-8455 Pendahuluan
Per nikahan adalah sat u pokok yang t erpent ing unt uk hidup dalam per gaulan yang
sempur na yang diridhoi Allah SWT dan dari sanalah t erw ujudnya r umah t angga bahagia yang
menelurkan keluarga sejaht era. Kesejaht eraan hidup lahir bat in menjadi idaman set iap
keluarga dan it ulah yang menjadi pokok keut amaan hidup (Salim, 1980). Pernikahan juga
diat ur dalam Undang-undang pem er int ahan yang dijelaskan pada pasal 1 Undang-Undang
1/ 1974 bahw a pernikahan adalah suat u ikat an lahir bat in ant ara seorang pria dan w anit a
sebagai suami dan ist ri dengan t ujuan m embent uk keluarga yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ket uhanan Yang M aha Esa. Pernikahan m erupakan unsur pent ing dalam
kehidupan bangsa. Tujuan per nikahan it u sendiri adalah mendapat kan kebahagiaan, cint a
kasih, kepuasan dan ket urunan (M unandar, 2001).
M enurut sebagian besar ulama fiqh, hukum menikah t erkait dengan kondisi kesiapan
mempelai. M enikah hukumnya bisa sunnah, w ajib, makr uh dan bahkan bisa pula haram. Ibn
Daqiq al-‘Id menjelaskan bahw a nikah menjadi w ajib ket ika seseorang m erasa sangat
t er gant ung unt uk m enikah. Jika t idak dilakukan, ia bisa t erj erumus pada per zinaan. Nikah juga
bisa haram, ket ika per nikahan m enjadi ajang penist aan t erhadap ist ri at aupun suami, baik
dalam hal naf kah lahir maupun bat in. M enjadi sunnah, jika ia t idak t ergant ung t erhadap
menikah, t et api bisa mendat angkan manfaat baginya. Jika menikah t idak mendat angkan
manfaat , maka hukumnya just r u m enjadi makruh (w w w .noped.net ). Lain halnya Abdussalam
(2006) yang m enjelaskan mampu menikah yang diart ikan oleh masyarakat sebagai siap secara
fisik dan mat eri. Param et er lahiriah lebih sering menjadi t olak ukur, t er masuk kesiapan
pekerjaan mapan, pendapat an yang cukup, rumah dan kemampuan m enghidupi keluarga.
M enikah at au m em persiapkan diri unt uk menikah m erupakan t ugas perkembangan masa
remaja akhir at au dew asa aw al, yakni ant ara usia 18 sampai 22 t ahun. Yang dimaksud dengan
t ugas perkembangan adalah segala sesuat u yang harus dicapai oleh individu pada suat u t ahap
perkembangan (Adhim, 2002). Kehidupan psikososial dew asa aw al/ muda semakin kompl eks
dibandingkan dengan masa remaja karena selain bekerja, mer eka akan m emasuki kehidupan
pernikahan, membent uk keluarga baru, mem elihara anak-anak dan t et ap harus
memperhat ikan orang t ua (Dar iyo, 2003).
Papalia dan Olds (Adhim, 2002) mengemukakan usia t erbaik unt uk menikah bagi
per empuan adalah 19-25 t ahun, sedangkan laki-laki usia 20-25 t ahun. Rent ang usia 18 sampai
22 t ahun m erupakan usia seseorang yang m emasuki at au berada pada jenjang pendidikan di
perguruan t inggi yait u st rat a 1 (S1). Hoffman dkk (Adhim, 2002) m enulis sat u bahasan khusus
t ent ang m enikah pada usia dew asa muda (young adult hood), yakni dari usia 18 t ahun sampai
sekit ar 24 t ahun. Angka st at ist ik di Amerika menunjukkan 34,6% per empuan pada usia 20-24
t ahun dan 21,4% laki-laki dengan usia yang sama melakukan pernikahan, sement ara mer eka
masih m enempuh st udi di perguruan t inggi. Sebagian besar golongan dew asa aw al/ muda
sedang at au t elah m enyel esaikan pendidikan sampai t araf universit as dan kemudian m er eka
merasa segera memasuki jenjang karier dalam pekerjaannya.
M enikah selagi masih m enjalani kuliah sepert inya saat ini sedang m enjadi t rend di kalangan
ISSN : 1907-8455 memut uskan unt uk m enikah di saat masih kuliah. Bagi m ereka, menikah saat masih kuliah
dianggap keput usan yang t ak berdasar. Di lain pihak, hasil penelit ian sosial yang dipublikasikan
cukup m engusik kekhaw at iran para orangt ua. M ereka khaw at ir anak-anak m ereka masuk
dalam 20% dari 1.000 remaja yang pernah m elakukan seks bebas. M enurut sebuah penelit ian
di Bandung (Pikiran Rakyat , 08/ 08/ 04), 21-30% r emaja Indonesia di kot a besar pernah
melakukan seks pranikah m enurut hasil survey yang dikut ip BKKBN. Jika anak mereka masuk
dalam bilangan 20% it u, maka pendidikan dan masa depannya t erancam kar ena t erpaksa
menikahkannya disebabkan “ kecelakaan” . M aka t idak heran kalau dalam penelit ian yang
sama, 90% dari remaja put ri yang hamil pranikah memilih jalan aborsi demi “ menyelamat kan”
masa depannya. Lagi-lagi, langkah “ penyelamat an” yang dilakukan it u sarat dengan mot if
mat erialist ik dan prest ise sosial. M emang sulit mengasumsikan pasangan remaja yang
mayorit as masih belum mandiri secara ekonomis it u mampu m enjalani hidup rumah t angga
secara normal (w w w .endonesa.net / ut t y/ 2008/ 20/ 09/ dibalik-t
rend-nikah-dini-di-kalangan-remaja-m uslim-perkot aan).
Sebuah sit us int ernet (problemat ikarem aja.blogspot .com/ 2007/ 12/ muslimah-ant ar
a-siap-ingin-menikah) m enuliskan bahw a unt uk m engambil keput usan menikah diper lukan
persiapan-persiapan yang mendalam, seper t i:
Per t ama, kesiapan pemikiran yang m encakup: a). Kemat angan Visi Keislaman; Hal ini
dimaksudkan, agar pasangan suami ist ri mempunyai frame yang sama m engenai Islam sebagai
dasar rumah t angga, agar rumah t angga benar-benar ber nilai ibadah, t idak hanya sebagai
pem uas kebut uhan biologis saja. b). M emiliki kemat angan visi kepribadian; Disamping
beragama secara kult ural, banyak juga orang yang landasan keislamannya di bangun oleh
em osi. Jika hal ini t erjadi dalam rumah t angga, bisa m enjadi sebab t imbulnya kegagalan
seseorang dalam berumah t angga.
Kedua, kesiapan psikologis. Kemat angan psikologis yang dimaksud adalah kemat angan at au
kesiapan t ert ent u secara psikis, unt uk menghadapi berbagai t ant angan yang akan dihadapi
selama hidup berumah t angga.
Ket iga, kemat angan fisik. Ada beber apa hal yang m enjadi persyarat an mut lak dalam sebuah
perkaw inan menurut Islam, yang berkait an dengan fisik, ant ar a lain: a). Seorang laki-laki at au
w anit a yang akan m enikah harus yakin bahw a alat -alat repr oduksinya berfungsi dengan baik.
Karena salah sat u sebab perceraian yang diperbolehkan dalam Islam adalah karena alat
repr oduksi pasangannya t idak berfungsi dengan baik. b). Usia; Hal juga harus disadari, bahw a
secara fisik benar-benar sudah siap menikah. It ulah m engapa sebabnya seorang w anit a
dianjurkan unt uk t idak menikah dalam usia yang masih dini. c). Kesehat an; Ket ika seseorang
memut uskan unt uk m enikah, hal yang juga harus diperhat ikan adalah seput ar kesehat an
t er masuk pada kondisi fisik dan kesehat an calon pasangan. Dan juga perlu diket ahui kesehat an
keluarga calon pasangan, hal ini dimungkinkan t er dapat nya suat u penyakit t ert ent u yang
merupakan penyakit ket ur unan.
Keempat , kesiapan ekonomi. Perkaw inan juga mer upakan kerja ekonomi, t idak hanya
cukup dengan cint a. Bukan berart i seseorang harus m at erialist is. Namun hal ekonomi kadang
ISSN : 1907-8455
Per t anyaannya adalah apakah seorang mahasisw a yang masih duduk di bangku kuliah dan
berusia muda sudah m emiliki semua hal yang diperlukan dalam sebuah pernikahan? Begit u
banyak per masalahan yang bisa t erjadi dalam sebuah pernikahan apalagi pelaku pernikahan ini
adalah seorang mahasisw a yang not abene belum menyelesaikan kuliahnya. Per masalahan
yang dialami salah sat unya adalah per ceraian. Berdasarkan dat a sejak Januari hingga Agust us
2007, t ercat at 117 kasus perceraian usia muda di Kot a Bandung akibat hubungan rumah
t angga yang t idak harmonis. Bahkan, 90% kasus perceraian dilakukan pasangan suami ist ri usia
muda (w w w .bapeda-jabar.go.id.bapeda_design_inf ormasi). Selain masalah per ceraian, saat ini
yang banyak diperbincangkan adalah “ m enikah muda sebagai ladang kanker” . HPV (human
papilloma virus) dapat menginfeksi semua orang karena HPV dapat m enyebar m elalui
hubungan seksual (w w w .kompas.com-2008-01-31-saat nya-mencegah-kanker-serviks).
Berbeda dengan persoalan klasik manusia yait u masalah ekonomi yang lebih sering m enjadi
fakt or ut ama permasalahan dalam pernikahan t erlebih pernikahan t ersebut dilakukan pada
saat masih menjalani perkuliahan.
Berdasarkan dat a-dat a dan fakt a yang t elah disebut kan di at as, t r end menikah ket ika masih
kuliah ini sangat m enarik unt uk dit elit i, oleh karena it u penelit i ingin m enget ahui apa mot ivasi
unt uk m enikah pada saat masih kuliah, fakt or-fakt or apa saja yang m endukung t erbent uknya
at au t erakt ualisasinya mot ivasi t ersebut dan bagaimana kehidupan set elah pernikahan.
Hurlock (Zein dan Suryani, 2005) m emberi pengert ian pernikahan at au perkaw inan adalah
suat u penyat uan jiw a dan raga dua manusia berlaw anan jenis dalam suat u ikat an yang suci
dan mulia di baw ah lindungan hukum dan Tuhan Yang M aha Esa. Pendapat Herning
(M unandar, 2001) m engat akan bahw a pernikahan adalah suat u ikat an ant ara pria dan w anit a
yang permanen, dit ent ukan oleh kebudayaan dengan t ujuan m endapat kan kebahagiaan.
Ket ert arikan bersifat persahabat an dan dit andai oleh perasaan bersat u dan saling memiliki.
M enurut Adhim (2002) rent ang usia menikah dalam art i menikah di usia kuliah jenjang
st rat a 1 (S1) yang sesuai dengan masa perkembangannya adalah ket ika meninggalkan remaja
akhir dan memasuki dew asa aw al yait u 18 sampai 22 t ahun.
Berdasarkan beberapa pengert ian di at as, penelit i menyimpulkan bahw a penger t ian
pernikahan adalah ikat an lahir bat in ant ara pria dan w anit a melalui suat u penyat uan jiw a dan
raga unt uk mendapat kan kebahagiaan dan kesem pat an unt uk m endapat kan ket urunan.
Sedangkan pengert ian pernikahan di kalangan mahasisw a st rat a (S1) adalah pernikahan yang
dilakukan pada rent ang usia 18 sampai 22 t ahun yang juga diat ur dalam Undang-Undang
sendiri. M enerima t anggungjaw ab emosianal dan keuangan bagi diri sendiri; b).Penggabungan
keluarga m elalui pernikahan at au memiliki pasangan baru. Individu mempunyai komit m en
pada sist em baru; c). M enjadi orangt ua dan keluarga dengan anak. Kemampuan m enerima
ISSN : 1907-8455 fleksibilit as bat as-bat as keluarga m encakup kemandirian anak dan kelemahan kakek-nenek; e).
Kehidupan pada keluarga t engah baya. M enerima keluar dan masuknya anggot a ke dalam
sist em keluar ga; f). Keluarga pada kehidupan lanjut . M enerima per geseran peran ant ar
generasi; g). M enyiapkan diri unt uk kemat ian diri sendiri. M eninjau hidup dan int egrasi
M ahasisw a st rat a 1 (S1) sudah at au sedang melalui fase pert ama yait u meninggalkan
rumah dan menjadi orang dew asa yang hidup sendiri (leaving home and becoming a single
adult). Fase per t ama ini melibat kan pelepasan (launching) yait u proses dimana orang muda
menjadi orang dew asa dan keluar dari keluarga asalnya. Periode pelepasan adalah w akt u bagi
kaum m uda dan orang dew asa muda unuk mer umuskan t ujuan hidupnya, unt uk m embangun
ident it as dan m enjadi lebih mandiri sebelum bergabung dengan orang lain unt uk membent uk
sebuah keluarga baru (Cart er dan M cGoldr ick dalam Sant rock, 2002)
Pasangan baru (new couple) adalah fase kedua dari siklus kehidupan keluarga, di mana dua
individu dari dua keluarga yang berbeda bersat u unt uk membent uk sat u sist em keluarga yang
baru. Fase ini tidak hanya melibat kan pembangunan sat u sist em pernikahan baru, t et api juga
penyusunan kembali hubungan dengan keluarga jauh dan t eman-t eman unt uk melibat kan
pasangan.
M enjadi orangt ua dan keluarga dengan anak (becoming parent s and a family w it h children)
adalah fase ket iga dalam siklus kehidupan keluarga. M emasuki fase ini menunt ut orang
dew asa unt uk maju sat u generasi dan m enjadi pemberi kasih sayang unt uk generasi yang lebih
muda. Unt uk dapat melalui f ase ini m enunt ut komit m en w akt u sebagai orangt ua, memahami
peran sebagai orangt ua dan m enyesuaikan diri dengan perubahan perkembangan pada anak
(Sant rock, 2002)
kehidupan pernikahan membut uhkan pemahaman dan penyesuaian diri baik dengan
kehadiran pasangan, keluarga baru, anak, beban/ t anggungjaw ab sert a konflik dalam
pernikahan.
Berdasarkan uraian dan t eori di at as, maka dapat diajukan beberapa per t anyaan penelit ian,
sepert i: 1).Apa mot ivasi seseor ang unt uk m enikah diusia muda/ diusia kuliah? 2). Fakt or-fakt or
apa saja yang m endukung dari t erbent uknya dan t erakt ualisasinya mot ivasi t ersebut ? 3).
Bagaimana kehidupan set elah pernikahan?
M etode
Penelit ian ini dilakukakn secara kualit at if dengan m enggunakan w aw ancara pada t iga orang
ISSN : 1907-8455
Dat a yang diperoleh dari hasil w aw ancar a, cat at an lapangan, dan dokument asi,
dikoordinasikan ke dalam kat egori, m enjabarkannya ke dalam unit -unit , m elakukan sint esa,
menyusun ke dalam pola, m emilih mana yang pent ing dan akan dipelajari dan m embuat
kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2007).
Hasil Penelitian
Berdasarkan penelit ian yang t elah dilakukan, maka diperoleh gambaran/ model m engenai
pernikahan pada responden I, II, III sepert i t ert era berikut ini :
ISSN : 1907-8455
ISSN : 1907-8455 Pembahasan
Berdasarkan gambaran model pernikahan di kalangan mahasisw a S1 t ersebut dapat
dijelaskan bahw a t erbent uknya mot ivasi dimulai dari adanya keinginan yang kuat sehingga
memacu seseorang unt uk mew ujudkan keinginan t er sebut . Dalam hal ini keinginan responden
adalah unt uk menikah meskipun usia masih t erbilang muda dan masih duduk dibangku kuliah.
Keinginan at au kemauan adalah sesuat u yang keluar dari diri seseorang unt uk diw ujudkan.
Keinginan responden unt uk m enikah didukung oleh perasaan yakin kepada calon suami dan
juga yakin pada pernikahan yang akan dijalankan. Selanjut nya diikut i dengan kemurnian dari
dalam diri yang dapat diart ikan bahw a keinginan m enikah benar-benar bersumber dari dalam
diri dan t idak ada paksaan dar i pihak lain. Ket ika seseorang mempunyai keinginan yang kuat ,
maka seseorang it u akan t ermot ivasi unt uk mew ujudkan keinginannya. Unt uk m ew ujudkan
mot ivasinya, maka harus ada kekuat an dari dalam diri maupun dari luar diri unt uk
mer ealisasikannya. Hal it u dapat dijelaskan dengan adanya dorongan. Dorongan yang
dimaksud adalah w ujud dari proses maupun usaha dan kekuat an dari dalam dir i unt uk
mew ujudkan keinginan. Dorongan yang paling besar yait u ket akut an t erhadap dosa yang yang
akan dit er ima bila t idak mengakhiri pacaran yang sudah lama t erjalin. Selain it u responden
juga ingin menjaga agama. M enjalankan pernikahan ingin mengikut i syariat beragama dan
sesuai dengan t unt unan agama. Dorongan unt uk membahagiakan kedua orangt ua juga
menghiasi keinginan m er eka unt uk menikah. M em bahagiakan orangt ua juga ikut m enjadi
daf t ar pent ing bagi responden unt uk m enempuh j alan menikah diusia muda/ usia kuliah.
Disamping it u, kecocockan dengan suami pun m enjadi dorongan bagi keinginan responden
unt uk mant ap melangkah kejejang pernikahan. M endapat kan rest u at au perset ujuan unt uk
menikah dari orangt ua juga akan semakin m enguat kan langkah para responden unt uk
menikah. Rest u orangt ua menjadi salah sat u pendukung yang ut ama kar ena bagi m er eka r est u
orangt ua adalah yang t erpent ing. Para r esponden yakin bahw a dengan m engambil keput usan
unt uk menikah adalah pilihan yang t epat bagi hidup meski harus melew at i rint angan yang
mungkin dihadapi ket ika menikah nant inya.
Keinginan responden unt uk m enikah direalisasikan ke dalam mot ivasi yang akan m embant u
mew ujudkan keinginan responden unt uk m enikah. Set elah mew ujudkan keinginan dan
didorong dengan adanya mot ivasi, maka proses selanjut nya masuk ke dunia pernikahan. Unt uk
bisa menikah, t ent unya harus sesuai dengan perset uj uan orangt ua. Dari dat a yang diperoleh,
semua r esponden m endapat perset ujuan dari orangt ua masing-masing dan juga perset ujuan
dari pihak mert ua. Selain it u, ket ika hendak menikah orangt ua responden membuat
perjanjian/ t aw ar menaw ar unt uk m emast ikan kelangsungan kehidupan pernikahan anak
mer eka. Orangt ua memberikan janji unt uk t et ap membiayai uang kuliah sampai dengan
selesai. Selain it u orangt ua juga ingin agar kuliah t et ap dijalankan dan diselesaikan dengan baik
meskipun sudah menikah.
Ket ika individu t elah melaksanakan pernikahan, secara ot omat is akan memasuki kehidupan
pernikahan dengan segala hal yang menghiasi pernikahan t ersebut . Dari model di at as dapat
dijelaskan bahw a dengan m emasuki pernikahan akan ada t anggungjaw ab bar u yang m enyer t ai
ISSN : 1907-8455 mengharapkan kebahagiaan dan ikat an pernikahan yang langgeng. Akan t et api, sebuah
pernikahan menunt ut adanya penyesuaian diri t erhadap t unt ut an peran dan t anggungjaw ab
baru dari kedua pasangan. Dengan adanya t anggungjaw ab, maka responden dan individu
lainnya akan mendapat pembelajaran dalam hidup ber umah t angga. Selain it u, para r esponden
menjadi semakin dew asa dalam m enyikapi hidup. Responden t et ap berusaha memanage
w akt u agar dapat menyeimbangkan w akt u ant ara rumah t angga dan kuliah. Dalam
menjalankan kuliah, anak responden yang masih bayi sering dit inggal bersama suami,
pem bant u maupun dengan orangt ua. Kehidupan per nikahan respondenpun t idak lepas dari
peran orangt ua dalam memberikan kemudahan. Sepert i halnya m emberikan bant uan ekonomi
unt uk m em enuhi kebut uhan hidup buah hat i m ereka dalam menjalani kehidupan rumah
t angga.
M enjalani kehidupan pernikahan pada akhirnya ber muara pada harapan/ t ujuan. Sem ua
responden m enginginkan unt uk menjadi keluarga yang saking maw adah w arohmah. Sebuah
pengharapan unt uk kehidupan yang lebih baik bagi diri, suami, anak dan keluarga dikemudian
hari. Harapan mereka yang juga ingin diw ujudkan adalah unt uk mendapat kesuksesan dalam
perkuliahan mengingat para r esponden masih menjadi mahasisw a akt if yang duduk dibangku
perkuliahan dan m empunyai keinginan unt uk seger a menyelesaikan kuliah dengan nilai yang
memuaskan/ baik.
M enikah di usia muda at aupun di usia yang masih produkt if unt uk belajar m emang menuai
banyak r esiko, t erlebih unt uk perempuan. Tet api menikah adalah aw al unt uk m enempa
kedew asaan dan t anggungjaw ab sebagai seorang isrt i at aupun suami. Bagaimana m enjadikan
kehidupan pernikahan sebagai berkah yang akan membaw a nikmat di akhirat dan limpahan
pahala sert a ridho dari Alloh SWT bagi yang m enikah dan berusaha unt uk m enjadikan
pernikahan it u sebagai jalan unt uk mengasah dan menambah pot ensi diri.
Kesimpulan
Unt uk mem perj elas hasil penelit ian, maka disimpulkan bahw a mot ivasi t er sebut muncul
karena adanya dorongan yang kuat unt uk mencapai keinginan at au t ujuan yait u sebuah
pernikahan yang pada akhirnya akan ber muara pada harapan bagi kehidupan pernikahan
nant inya. Dimulai dari keinginan yang kuat sehingga memacu seseorang unt uk m ew ujudkan
keinginan t ersebut , maka muncullah mot ivasi. M ot i vasi m enikah diant aranya adalah t akut
akan dosa, menjaga agama, ingin m embahagiakan orangt ua, sudah merasa yakin dengan
pasangan maupun keput usan menikah sert a yakin bahw a dengan menikah adalah pilihan t epat
bagi hidup.
M ot ivasi menikah t erakt ualisasi karena didukung oleh fakt or-fakt or dari dalam diri
maupun luar diri. Begit u juga dengan mot ivasi m enikah. Berbagai hal dari dalam maupun dari
luar diri responden mempengaruhi jalan mereka. Fakt or-fakt or yang mendukung t erbent uk
at au t erakt ualisasinya mot ivasi t ersebut diant aranya adalah berasal dari dalam diri, yait u
keinginan unt uk menikah di usia muda. Dengan keinginan yang kuat maka akan m endorong
ISSN : 1907-8455
Jika penjelasan di at as adalah fakt or dari dalam diri, lain halnya dengan f akt or-fakt or dari
luar diri. Hal ini t erlihat dari perset ujuan orangt ua dan mert ua. Dukungan yang sangat kuat
dari orangt ua m embuat r esponden semakin kuat unt uk m elaksanakan pernikahan. Selain it u,
dukungan yang diberikan juga t erlihat dari pihak keluarga lainnya, meskipun masih t erdapat
pro dan kont ra namun kekuat an yang diberikan oleh orangt ualah yang paling berart i bagi para
responden. Orangt ua juga t idak sert a m er t a m elepaskan buah hat i mereka m enjalankan
dan mer t ua t er hadap responden dan suaminya sangat membant u m er eka dalam pemenuhan
kebut uhan dan dalam m encapai cit a-cit a. Sebelum m enikah semua orangt ua r esponden
berjanji akan t et ap m embiayai kuliah buah hat i m er eka sampai lulus kuliah. Hal ini juga yang
membuat para pelaku nikah diusia muda/ usia kuliah bert ekad unt uk bisa membukt ikan kepada
orangt ua bahw a dengan menikah akan menambah prest asi belajar dan mampu m emper oleh
nilai yang m emuaskan/ baik. Selain it u nasehat dar i orangt ua at aupun mer t ua juga m enjadi
pem belajaran bagi responden unt uk mengukuhkan kehidupan rumah t angga.
Daftar Pust aka
Abdussalam, Y. 2006. Trilogi Kuliah M akrif at , Bert anya Tuhan Tent ang Jodoh. Yogyakart a : M edia Insani
Adhim, M . F. 2002. Indahnya Pernikahan Dini. Jakart a : Gema Insani Press
Azhari, A. 2004. Psikologi Umum Dan Perkembangan. Jakart a : PT. M izan Publika
Dariyo, A. 2003. Psikologi per kembangan Dew asa M uda. Jakart a : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Desmit a. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT. Remaja Rosdakar ya
M unandar , S. C. U. 2001. Psikologi Perkembangan Pribadi dari Bayi Sam pai Lanjut Usia. Jakart a : Universit as Indonesia (UI-Press)
Salim, H. H. 1980. M emilih Jodoh. Bandung : PT. Alma’arif
Sant rock, J.W. 2002. Life-Span Development (Perkembangan M asa Hidup). Edisi Kelima Jilid Dua. Jakart a : Erlangga
Sugiyono. 2007. M et ode Penelit ian Kuant it at if Kualit at if dan R& D. Bandung: Alf abet a.
ISSN : 1907-8455
ht t p:/ / problemat ikaremaja.blogspot .com/ 2007/ 12.ht m
w w w .noped.net
w w w .endonesa.net / ut t y/ 2008/ 20/ 09/ dibalik-t rend-nikah-dini-di-kalangan-rem aja-m uslim-perkot aan
w w w .bapeda-jabar.go.id.bapeda_design_inf ormasi