• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pembangunan Ekonomi Islam Menuj

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Strategi Pembangunan Ekonomi Islam Menuj"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Strategi Pembangunan Ekonomi Islam Menuju

Terwujudnya Masyarakat yang Adil dan Sejahtera

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Moneter Islam

Dosen Pengampu : Yuli Utami SE, M.Si

Disusun Oleh:

ALFI LESTARI

(20120430190)

Fakultas Ekonomi

Jurusan Ekonomi Keuangan dan Perbankan Islam

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(2)

STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI ISLAM MENUJU TERWUJUDNYA MASYARAKAT YANG ADIL DAN SEJAHTERA

A. PENDAHULUAN

Indonesia sebagai salah satu negara sedang berkembang dengan penduduk yang homogen, dengan berbagai suku, budaya dan agama yang berbeda. Namun sebagian besar masyarakat Indonesia memeluk Agama Islam. Walaupun sebagian besar masyarakat Indonesia muslim, sistem ekonomi yang di anut Indonesia bukanlah sistem ekonomi islam. Indonesia menganut sistem ekonomi yang di dasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan idil yang berorientasi pada isi Pancasila dan Pembukaan UU alinea ke empat yang menjadi tujuan bangsa Indonesia yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan kebangsaan Indonesia. Jika dilihat dari isi alinea ke empat dalam pembukaan undang-undang sudah mencakup tujuan sistem pembangunan yang islam walaupun tidak di dasarkan dengan Al-Qur’an dan Hadist, hanya saja bangsa Indonesia tidak menjalankan isi dari alinea ke empat tersebut. Saat ini Indonesia sudah menjadi negara yang pergerakannya terbatas karena di batasi oleh negara luar. Terlebih lagi ketika Indonesia telah menjalin hubungan dengan negara seperti Amerika, maka mereka secara tidak langsung dan tanpa di sadari telah terperangkap dalam sistem ekonomi yang kapitalis dan liberal yang dalam pelaksanaannya sudah tidak perduli akan dampaknya bagi masyarakat, yang terbayang hanyalah untuk mencapai kepuasan dan keuntungan yang maksimum.

Dalam sistem ekonomi Indonesia ditujukan untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia, hanya saja pada realisasinya masih saja terjadi ketidakadilan ekonomi ditengah masyarakat, seperti halnya semakin tingginya kesenjangan sosial antar masyarakat miskin dan kaya, kurang tegasnya hukum yang berlaku di Indonesia sehingga yang selalu dirugikan adalah masyarakat kecil, sementara para Koruptor bebas berkeliaran di Indonesia bahkan hingga keluar negeri.

(3)

B. PEMBAHASAN

1. Strategi Ekonomi Pembangunan Dalam Perspektif Konvensional

Menurut Dr. Umar Chapra ilmu ekonomi konvensional yang mendominasi pemikiran ekonomi modern yang menjadi sebuah disiplin ilmu yang maju dan terdepan. Terbukti dengan majunya negara-negara yang menerapkan konsep ekonomi pembangunan konvensional, seperti Amerika Serikat. Dampak yang mengagumkan dari peningkatan perkembangan di negara-negara industri Barat adalah tersedianya sumber kajian yang substansial untuk membantu program riset meraka, sehingga wajar jika negara-negara yang menganut sistem konvensional lebih maju dari segi teknologi dan ilmu pengetahuan. Tentu hal ini berbeda halnya dengan ilmu ekonomi islam, sebab sebagian besar negara islam adalah negara miskin sehingga dalam membiayai dana riset sulit yang menyebabkan negara islam sedikit tertinggal.

Ada dua himpunan tujuan yang berbeda pembangunan dalam pembangunan ekonomi konvensional yaitu tujuan positif dan tujuan normatif. Tujuan positif berhubungan erat dengan usaha realisasi secara efisien dan adil dalam proses alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas. Sementara tujuan normatif berhubungan dengan usaha pencapaian secara universal tujuan sosial ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan lain-lain.

Pembangunan ekonomi telah melewati 3 fase yang berbeda. Fase pertama adalah ekonomi pembangunan kuno yang dikembangkan oleh para ekonom klasik yang mencoba menjelaskan pertumbuhan ekonomi jangka panjang dalam sistem ekonomi liberal kapitalisme laissez faire. Fase kedua, ekonomi pembangunan dimulai setelah perang dunia ke II ketika sejumlah negara dari “dunia ke tiga” merdeka dan pembangunan mulai mendapat perhatian. Fase terkahir, ditandai dengan melemahnya strategi keynesian dari sosialis di Barat pada dasa warsa tahun 1970-an dan pada masa ini terjadi sebuah kebangkitan ekonomi liberalisme klasik dan ekonomi neoklasik.

Ada beberapa sistem ekonomi yang berlaku pada pembangunan ekonomi dalam perspektif konvensional yaitu:

a) Sistem Ekonomi Kapitalis

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi pada abad ke 16, asal usul lembaga kapitalis bisa di lihat pada zaman kuno. Benih kapitalisme itu kemudian mulai berkembang ketika di Inggris muncul industri sandang. Pada tahun 1970-1914, kapitalisme sampai pada masa yang di sebut dengan kapitalisme klasik dimana fokus pembangunan bukan lagi pada perdagangan melainkan pada industri yaitu ketika terjadi revolusi industri. Revolusi industri merupakan periode peralihan dari dominasi modal perdagangan di atas modal industri ke arah dominasi modal industri atau modal perdagangan.

(4)

institusi yang ada dalam suatu sistem, misalnya berkaitan dengan perusahaan atau individu yang terlibat di dalamnya. Perbedaan antara sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme akan nampak jelas jika kita melihat latar belakang institusi. Institusi kapitalisme dilatar belakangi oleh kekuatan falsafah liberalisme, individualisme, rasionalisme, materialisme dan humanisme. Sementara dalam kapitalisme filsafat liberalisme melatarbelakangi perilaku para pelaku ekonominya.Dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan materi untuk kehidupan dunia di lakukan dengan memberikan kebebasan pada individu karena kebebasan itu dianggap sebagai kodrat, bawaan, sifat dasar manusia. Karena sifat penciptaan manusia tidak lepas dari kebebasan maka setiap manusia mempunyai hak individu yang menempati posisi paling dasar.

Adapun beberapa sendi-sendi kapitalisme yaitu sebagai berikut : 1. Penjaminan akan hak milik perseorangan

2. Mementingkan dirinya sendiri (Self interest) 3. Pemberian kebebasan penuh

4. Persaingan bebas (free competition) 5. Harga sebagai penentu (Price system)

6. Campur tangan pemerintah minimal

Campur tangan yang masih dilakukan oleh pemerintah secara garis besar hanyalah meliputi :

a. Pengaturan atas industri yang memonopoli pasar b. Mempermudah naik turunnya harga

c. Menentukan besarnya hutang

Bila diperinci lebih lanjut peran pemerintah meliputi hal-hal berikut:

a. Mengupayakan adanya ketertiban dan keamanan dalam masyarakat b. Menetapkan hak-hak atas harta kekayaan

c. Mengusahakan dan mendorong agar setiap perjanjian ditaati oleh pihak yang melakukannya

d. Menjaga agar persaingan tetap berlangsung tanpa hambatan e. Mengeluarkan mata uang

f. Menetapkan standar-standar ukuran g. Mengumpulkan dana melalui perpajakan

h. Menyelesaikan segala pertentangan antar berbagai pihak

Ada beberapa keunggulan dari sistem kapitalisme yaitu sebagai berikut:

(5)

sebagai produsen dan konsumen sesuai dengan yang dikehendakinya sendiri, memungkinkan kegairahan dalam hidup.

b. Berkaitan dengan hal diatas, maka setiap orang mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan sesuai dengan kemauan, keinginan, bakat, pendidikan, dan keahlian masing-masing orang. Hal ini mendorong kemajuan ekonomi dan teknologi yang maju. Karena rangsangan kebebasan dan keuntungan yang bisa di raih secara pribadi , maka penemuan baru dalam konstruksi, transportasi, elektronik, perbankan dan lainnya akan disarakan manfaatnya.

Dibalik keunggulan yang dimiliki sistem kapitalisme, adapun kekurangannya adalah sebagai berikut:

a. Pemusatan kekuatan pasar

Perkembangan kapitalisme menyebabkan pasar tidak lagi dikuasai oleh banyak penjual, melainkan dikuasai oleh satu pengusaha (monopoli) atau beberapa (oligopoli).

b. Terjadinya ketidak seimbangan sosial

Karena dorongan untuk mendapatkan keuntungan prifat yang maksimal maka berbagai pembangunan dilakukan oleh swasta, tetapi terbatas pada barang-barang ekonomi yaitu barang yang bisa diperjual belikan.

c. Terjadinya permasalahan dalam pemerataan (Equity)

Dalam kapitalisme liberalisme imbalan diberikan pada kepada pihak-pihak yang memberikan sumbangannya dalam proses produksi yaitu pemilik kapital, tenaga kerja, pemilik tanah. Oleh karena itu, adalah wajar apabila orang tidak menguasai faktor produksi maka ia juga akan mendapatkan pendapatan yang rendah.

b) Sistem Ekonomi Sosialisme

Pemberian kebebasan sepenuhnya pada mekanisme pasar ternyata banyak membawa kemakmuran bangsa. Kapitalisme memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan ekonomi. Namun ia sekaligus juga pada akhirnya memunculkan kemelaratan sebagian besar masyarakat. Pada awal abad 20 terjaadi kelesuan ekonomi dunia diwarnai oleh maraknya pengangguran yang berkelanjutan yang membawa kepada stagnasi berat atau depresi ekonomi.

Dalam sistem ekonomi sosialis pengaturan ekonomi tidak diserahkan kepada negara atau komunitas. Penggunaan cara yang berbeda itu dipengaruhi oleh filosopi dasar yang mereka gunakan untuk melakukan aktifitas. Filosofi mereka dalam kaitannya dengan peran individu dan negara ditentukan sesuai dengan falsafah dasar yang digunakan yaitu organisme dan kolektifisme.

Untuk itu maka institusi yang sesuai dengan falsafah organisme sosialisme dan kolektifisme adalah sebagai berikut:

a. Pemilikan negara atas barang barang kapital (faktor produksi)

(6)

SOSIALISME INDONESIA

Masalah ideologi berupa pendirian susunan perekonomian yang sesuai dengan asas tolong menolong tidak lain dimaksudkan untuk membangun perekonomian rakyat, sekaligus untuk menangkal berbagai faktor eksogen yang sering menekannya.

Hal itu secara tegas dicantumkan dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 33:

1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan

2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara

3) Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran.

Penjelasan pasal 33 UUD 1945 memberikan petunjuk adanya tiga pihak yang berkepentingan dalam perekonomian Indonesia yaitu Koperasi, Negara dan Swasta. Dengan penjelasan bahwa “bangun usaha yang sesuai dengan itu ialah koperasi, bangsa Indonesia, secara eksplisit telah mengatakan bahwa sistem yang sesuai dengan asas kekeluargaan adalah koperasi.

Dengan memahami posisi dan peran dari koperasi, orang per orang dan negara kiranya pelaku ekonomi dan batasan wilayah operasionalnya adalah sebagai berikut:

1. Koperasi merupakan satu-satunya bentuk perusahaan yang beroperasi dalam wilayah cabang produksi yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak. Agar jalannya bisa sesuai dengan tujuan kemakmuran rakyat maka pemerintah akan menguasai sektor ini.

2. Orang per orang akan beroperasi dalam wilayah cabang produksi yang tidak penting bagi negara dan tidak menguasai hajat hidup orang banyak. Karena skala usahanya pada umumnya kecil maka wilayah ini tidak di kuasai oleh negara.

3. Negara bisa berperan dalam wilayah cabang-cabang produksi yang penting bagi negara.

2. Strategi Ekonomi Pembangunan dalam Perspektif Islam a. Sistem dan Sifat Ekonomi Pembangunan Islam Secara Umum

(7)

ada di tangannya adalah amanah. Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab kepada harta yang dititipkan Allah dan akan mendapatkan balasan atas apa yang diperbuat di dunia selama hidupnya (Qs.Al-baqarah : 30). Salah satu tujuan yang harus dicapai oleh para Rasul Allah adalah keadilan (Qs.Al-Hadid : 25).

Ada dua komponen pertama dalam islam yang harus di jalankan yaitu aqidah dan akhlak, bersifat konstan. Keduanya tidak mengalami perubahan apapun dengan berbedanya waktu dan tempat. Sedangkan Syari’ah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat, yang berbeda-beda sesuai dengan masa Rasul masing-masing. Oleh karena itu, Syari’ah islam sebagai suatu Syari’ah yang dibawa oleh Rasul terakhir yang mempunyai keunikan tersendiri. Syari’ah tidak hanya bersifat universal tetapi juga universal. Komprehensif berarti Syari’ah islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) dan sosial (muamalah). Ibadah diperlukan untuk menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Khaliqnya. Ibadah juga merupakan sarana untuk mengingatkan sarana untuk mengingatkan secara kontinyu tugas manusia sebagai khalifah-Nya dimuka bumi ini. Adapun muamalah diturunkan untuk menjadi rules of the game atau aturan main manusia dalam kehidupan sosial. Sementara universal, bermakna Syari’ah islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai hari akhir nanti. Universalitas ini tampak jelas terutama pada bidang muamalah. Selain mempunyai cakupan luas dan fleksibel, muamalah tidak membeda-bedakan muslim dan non-muslim.

Sifat muamalah ini dimungkin karena islam mengenal hal yang diistilahkan dengan tsawabit wa mutaghayyirat. Dalam sektor ekonomi misalnya, yang merupakan prinsip adalah larangan riba, sistem bagi hasil, pengembalian keuntungan, pengenaan zakat dan lain-lain.

Dalam usaha pengembangan ekonomi islam, harus tetap berlandaskan atas beberapa falsafah yang sesuai dengan kaidahnya sebagai sebuah alat untuk membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi islam kini sudah diterapkan diberbagai belahan dunia, yang menerakannya justru negara yang notabenanya bukan negara islam seperti Swiss, Australia dan berbagai negara maju lainnya. Keunggulan sistem ekonomi islam terletak pada prinsip yang mendasarinya yaitu spirit dan moral, yang tidak ada pada sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Hal tersebut dapat dilihat dari rumusan sistem ekonomi islam berikut ini:

(8)

untuk memberikan kepuasan manusia dan melakukannya sebagai kewajiban kepada Allah dan masyarakat.

b. Memiliki kaarakteristik utama sebagai ilmu ekonomi yaitu 1) Fungsi yang universal dan komprehensif yaitu agama yang mengatur kehidupan manusia meliputi semua aspek kehidupan, 2) Bersifat normal positif, dimana ekonomi islam dalam aplikasi dan implementasinya haruslah bersandar dengan norma aturan islam, ini merupakan necessary condition

dan sufficient condition bagi keberadaan ekonomi islam, 3) Bersifat dinamis artinya ilmu ekonomi tidak bebas nilai, ia terikat dengan kondisi dimana dia diterapkan sebagai sistem.

c. Memiliki tujuan keadilan dan kesejahteraan yang lengkap

Kesejahteraan dalam konsep dunia modern (konvensional) adalah suatu kondisi dimana seseornag dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan sandang, pangan dan papan serta untuk melanjutkan pendidikan dan memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga memiliki status sosial yang mengantarkan mereka pada status yang sama dengan masyarakat yang lainnya. Sementara kesejahteraan dalam pandangan islam harus mampu mewujudkan lima tujuan Syari’ah itu sendiri yaitu keimanan, jiwa, akal, keturunan dan harta. Dalam Islam tujuan akhir dari perwujudan kesejahteraan di dunia adalah untuk mencpai kesejahteraan akhirat.

Islam mempunyai pandangan yang jelas mengenai harta dan kegiatan ekonomi. Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

 Pertama, pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yangada dimuka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya.

 Kedua, status harta yang dimiliki manusia adalah :

- Harta sebagai amanah dari Allah, manusia hanyalah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada.

- Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkin manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan. Manusia memiliki kecendrungan yang kuat untuk memiliki, menikmati dan menguasai harta.

- Harta sebagai ujian keimanan. Hal ini terutama menyangkut bagaimana cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan islam atau tidak (Qs.Al Anfal : 28)

- Harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan perintah-Nya dan melaksanakan mu’amalah diantara sesama manusia, melalui kegiatan zakat, infaq dan shadaqah. (Qs. At Taubah : 41, Ali Imran : 133)

(9)

 Keempat, dilarang mencari harta, berusaha atau bekerja yang dapat melupakan kematian (Q.S. At Takatsur : 1-2), melupakan dzikrullah (tidak ingat kepada Allah dengan segala ketentuan-Nya, Q.S. Al Munafiqun : 9), melupakan shalat dan Zakat (Q.S An Nur : 37) dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja (Q.S. Al Hasyr: 7).

 Kelima, dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba (Q.S. Al Baqarah :273-281), perjudian, berjual beli barang yang dilarang atau haram (Q.S.Al Maidah : 90-91), mencuri, merampok, penggasaban (Q.S Al Maidah 38), curang dalam takaran dan timbangan (Q.S. Al Muthaffifin : 1-6), melalui cara-cara yang bathil dan merugikan (Q.S. Al Baqarah : 188), dan melalui suap menyuap (H.R. Imam Ahmad).

Nilai-nilai Sistem Perekonomian Islam

1. Perekonomian masyarakat luas, bukan hanya masayrakat muslim, akan menjadi baik bila menggunakan kerangka kerja atau acuan norma-norma islami

Banyak ayat Al-qur’an yang menyerukan penggunaan kerangka kerja perekonomian islam diantaranya:

Q.S. Al-Baqarah : 60 yang artinya :

Makan dan minumlah dari rizki yang diberikan Allah dan janganlah berkeliaran dimuka bumi ini dengan berbuat kerusakan

Q.S. Al-Baqarah : 168 yang artinya :

“ Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu”

Rambu-rambu dari ayat diatas diantaranya; carilah yang halal lagi baik, tidak menggunakan cara bathil, tidak berlebih-lebihan atau melampaui batas, tidak mendzalimi maupun di dzalimi, menjauhkan diri dari unsur riba, maisir dan gharar, serta tidak melupakan tanggung jawab sosial berupa zakat, infak dan sedekah.

Seorang muslim yang baik adalah mereka yang memperhatikan faktor dunia dan akhirat secara seimbang. Penyeimbangan aspek dunia dan akhirat tersebut merupakan karakter unik sistem ekonomi islam. Perpaduan unsur spritual dan material ini tidak di jumpai dalam sistem ekonomi lainnya, baik kapitalisme dan sosialis.

2. Keadilan dan Persaudaraan Menyeluruh

(10)

sayang bagai satu keluarga. Sebuah persaudaraan yang universal dan tak di ikat batas geografis. Perlakuan yang adil akan membawa kesejahteraan, karena kesejahteraan sangat bergantung pada diberlakukannya hukum Allah dan dihilangkannya ketidakadilan. Peringatan akan ketidakadilan dan eksploitasi ini dimasksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan umum sebagai tujuan utama islam.

3. Keadilan Distribusi Pendapatan

Kesenjangan pendapatan dan kekayaan alam yang dalam masyarakat berlawanan dengan semangat serta komitmen islam terhadap persaudaraan dan keadilan sosial-ekonomi.

Kesenjangan harus dihapuskan atau diatasi dengan menggunakan cara yang ditekankan islam. Diantaranya dengan :

Pertama

- Menghapuskan monopoli, kecuali oleh pemerintah untuk bidang-bidang tertentu

- Menjamin hak dan kesempatan senua pihak untuk aktif dalam proses ekonomi, baik produksi, distribusi, sirkulasi maupun konsumsi.

- Menjamin basic needs fulfillment (pemenuhan kebutuhan dasar) setiap anggota masyarakat.

- Melaksanakan amanah “at takaaful al ijtimai” atau social economic security insurance dimana yang mampu menanggung dan membantu yang tidak mampu.

Kedua

Islam membenarkan seseorang memiliki kekayaan lebih dari yang lain sepanjang kekayaan tersebut diperoleh secara benar dan yang bersangkutan tekah menunaikan kewajibannya bagi kesejahteraan masyarakat, baik dalam bentuk zakat maupun amal kebajikan lain seperti infaq dan sadaqoh.

4. Kebebasan Individu dalam Konteks Kesejahteraan Sosial

Islam mengakui pandangan universal bahwa kebebasan individu bersinggungan atau bahkan di batasi oleh kebebasan individu orang lain. Menyangkut masalah hak individu dalam kaitannya dengan masyarakat, para sarjana muslim sepakat pada prinsip-prinsip sebagai berikut :

 Kepentingan masyarakat yang lebih luas harus di dahulukan dari kepentingan individu

 Melepas kesulitan harus di prioritaskan dibanding memberi manfaat, meskipun kedua-duanya sama merupakan tujuan Syari’ah

(11)

manfaat yang lebih kecil dapat dikorbankan untuk medapatkan manfaat yang lebih besar.

b. Elemen-Elemen Strategis Penting dalam Mencapai Kesejahteraaan

Dalam buku Dr. Umar Chapra dijelaskan ada 4 elemen strategi yang harus dilaksanakan jika ingin mencapai tujuan-tujuan pembangunan ekonomi islam:

1) Penyaringan yang merata atas klaim yang berlebihan

Selain mekanisme harga menawarkan moral sebagai filter untuk mengubah skala preferensi manusia supaya mengikuti prioritas-prioritas sosial.

2) Memotivasi individu untuk melayani kepentingan sosial seiring dengan filter moral meskipun ketika berbuat demikian merugikan kepentingan dirinya sendiri. Maslahat individu dapat dipenuhi kecuali dengan berperilaku yang tidak merugikan orang lain. Gagasan mengenai pertanggung jawaban di depan Allah dapat menjadi motivasi kuat bagi individu untuk mematuhi nilai moral dan mencegah mereka mengikuti nafsu melebihi batas norma, sosial dan kesejahteraan.

3) Restrukturisasi Sosioekonomi yang bertujuan untuk menciptakan suatu situasi yang kondusif bagi penerapan nilai-nilai tersebut.

4) Suatu peran pemerintah yang berorientasi untuk tujuan yang positif dan kuat. Artinya pemerintah dituntut untuk berperan positif dan aktif dalam memantau dan menyelesaikan masalah yang timbul pada masalah sosial maupun ekonomi, dalam hal ini pemerintah boleh campur tangan dengan catatan tidak menggunakan kewenangan yang dimiliki untuk mendzalimi masyarakat. Dalam menentukan kebijakan, pemerintah harus menerapkan sistem ekonomi Syari’ah agar tercipta maslahah dalam kehidupan bermasyarakat.

Dr. Umar Chapra selain menjelaskan mengenai bagaimana elemen-elemen strategi penting dalam mencapai kesejahteraan, maka disini juga akan di bahas apa saja tahapan yang harus dilalui dalam mengembangkan ekonomi islam yaitu sebagai berikut :

a. Menanamkan kesadaran Syari’ah, ketika setiap manusia sudah menanamkan pemahan syari’ah dalam hidupnya maka manusia tidak akan melanggar apa saja yang telah di atur dalam Aturan Allah, baik dalam menjalankan ibadah maupun dalam hal bermua’malah.

(12)

c. Meningkat kekayaan masyarakat paham Syari’ah, kenapa masyarakat paham Syari’ah perlu kaya ? karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan hambanya untuk giat bekerja, dan berusaha menggapai kekayaan dengan cara bermu’amalah bukan dengan cara yang bathil, sehingga ketika mendapatkan harta yang lebih mereka memiliki kewajiban untuk membagi sebagian harta yang mereka miliki dengan zakat, infak dan sedekah kepada masyarakat yang miskin dan dhuafa.

d. Apabila ketiga tahapan sudah tercapai, maka aspek pembangunan lainnya tidak bisa diabaikan seperti pembangunan hukum dan keadilan. Ketika dalam suatu bangsa sudah tercipta masyarakat yang paham akan Syari’ah maka dalam negara tersebut tidak akan ada kesenjangan sosial dan ketidakadilan karena dalam mengatur kehidupan masyarakatnya telah diterapkan sistem ekonomi Syari’ah yang tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat.

e. Tahap terakhir yaitu menegakkan pemerintahan yang kuat, jika dalam suatu negara sudah tercipta masyarakat yang paham dengan syari’ah serta sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem ekonomi islam, maka dibutuhkan pemerintah yang kuat dan tegas dalam menegakkan hukum sehingga kata ketidakadilan tersebut terhapus dan tidak ada masyarakat kecil yang terdzalimi.

c. Perkembangan Sistem Ekonomi Islam di Indonesia

Indonesia di kenal sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar ke 4 di dunia, maka seharusnya tidak sulit bagi Indonesia dalam menerapkan sistem ekonomi Syari’ah. Namun faktanya tidak, ini disebabkan karena pemerintahan serta masyrakat muslim di Indonesia tidak mau dan mampu menyadarkan diri mereka sendiri untuk beralih ke paham Syari’ah. Selain hal tersebut, yang menjadi penyebabnya adalah karena Indonesia telah terlalu lama menganut sistem ekonomi konvensional yang membebaskan semua pelaku usahanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperdulikan halal dan haram untuk mendapatkan sebesar mungkin.

Indonesia lebih lama mengenal sistem ekonomi konvensional sejak zaman penjajahan Belanda, dimana di satu sisi Belanda mendoktrin bahwa ekonomi islam dapat menghambat, mengancam, dan mengubah pemikiran rakyat Indonesia dalam melakukan kegiatan ekonomi, padahal ketika itu pihak Belanda melakukan sistem monopoli yang jelas hukumnya haram.

Penerapan sistem ekonomi Syari’ah di Indonesia bisa dijadikan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah umat islam yang saat ini masih mengalami masalah krisis ekonomi. Kendala para pemerintah dan pengusaha dalam menerapkan sistem ekonomi Syari’ah karena kurang paham akan konsep Syari’ah dan masih banyak pengusaha yang lebih mementingkan keuntungan yang sebesar-besarnya daripada kemaslahatan umat.

(13)

serta mampu memberikan kesemmmpatan seluas-luasnya kepada setiap pemeluk usaha. Perbedaan sistem ekonomi Syari’ah dengan sistem ekonomi biasa yaitu sistem ekonomi Syari’ah dalam memperoleh margin dengan cara bagi hasil berbeda dengan sistem ekonomi liberal maupun sosial yang cenderung memperoleh keuntungan sebesar-besarnya tanpa melihat aspek dari konsumennya.

Indonesia baru merasakan praktek ekonomi Syari’ah sejak munculnya Bank Muamalat dan Bank Perkreditan Rakyat pada tahun 1992, sebagai bank Syari’ah pertama yang berdiri. Namun dari segi hukum belum ada yang mendukung perbankan Syari’ah sebelum dikeluarkan aturan UU No.10 Tahun 1998 yang menyebabkan pergerakan perbankan Syari’ah sedikit lambat.

Pergerakan sistem ekonomi Syari’ah di Indonesia masih lambat tidak seperti perkembangan perbanksn Syari’ah di Malaysia, karena di Malaysia pemerintah mendukung sepenuhnya serta menyediakan keperluan dari perkembangan perbankan Syari’ah itu sendiri sementara di Indonesia tidak. Perkembangan ini dikelompokkan menjadi perkembangna industri keuangan Syari’ah dan perkembangan ekonomi Syari’ah non keunagan. Perkembangan industri keuangan sayraiah relatif dapat dilihat dan diukur perkembangannya melalui data-data keungan yang ada, sedangkan yang non keuangan perlu penelitian yang lebih dalam untuk menelitinya.

a.

Di sektor perbankan, hingga saat ini sudah ada tiga Bank Umum Syari’ah (BUS), 21 unit usaha Syari’ah bank konvensional, 528 kantor cabang (termasuk Kantor Cabang Pembantu (KCP), Unit Pelayanan Syari’ah (UPS), dan Kantor Kas (KK)), dan 105 Bank Pengkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS). Aset perbankan Syari’ah per Maret 2007 lebih dari Rp. 28 triliun dengan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) hampir mencapai 22 Triliun. Meskipun asset perbankan Syari’ah baru mencapai 1,63 persen dan dana pihak ketiga yang dihimpun baru mencapai 1,64% dari total asset perbankan nasional (per Februari 2007), namun pertumbuhannya cukup pesat dan menjanjikan. Diproyeksikan, pada tahun 2008, share industri perbankan Syari’ah diharapkan mencapai 5 persen dari total industri perbankan nasional.

b.

Di sektor pasar modal, produk keuangan Syari’ah seperti reksa dana dan obligasi Syari’ah juga terus meningkat. Sekarang ini terdapat 20 reksa dana Syari’ah dengan jumlah dana kelola 638,8 miliar rupiah. Jumlah obligasi Syari’ah sekarang ini mencapai 17 buah dengan nilai emisi mencapai 2,209 triliun rupiah.

(14)

dari total nilai perdagangan saham. Peranan pemerintah yang sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku keuangan Syari’ah di Indonesia adalah penerbitan Undang-undang Perbankan Syari’ah dan Undang-undang Surat Berharga Negara Syari’ah (SBSN).

d.

Di sektor asuransi, hingga Agustus 2006 ini sudah lebih 30 perusahaan yang menawarkan produk asuransi dan reasuransi Syari’ah. Namun, market share asuransi Syari’ah belum baru sekitar 1% dari pasar asuransi nasional. Di bidang multifinance pun semakin berkembang dengan meningkatnya minat beberapa perusahaan multifinance dengan pembiayaan secara Syari’ah. Angka-angka ini diharapkan semakin meningkat seiiring dengan meningkatnya permintaan dan tingkat imbalan (rate of return) dari masing-masing produk keuangan Syari’ah.

e.

Di sektor mikro, perkembangannya cukup menggembirakan. Lembaga keuangan mikro Syari’ah seperti Baitul Mal wa Tamwil (BMT) terus bertambah, demikian juga dengan aset dan pembiayaan yang disalurkan. Sekarang sedang dikembangkan produk-produk keuangan mikro lain semisal micro-insurance dan mungkin micro-mutual-fund (reksa dana mikro). dilihat dari sisi non keuangan.

f.

Industri keuangan Syari’ah adalah salah satu bagian dari bangunan ekonomi Syari’ah. Sama halnya dengan ekonomi konvensional, bangunan ekonomi Syari’ah juga mengenal aspek makro maupun mikro ekonomi. Namun, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana masyarakat dapat berperilaku ekonomi secara Syari’ah seperti dalam hal perilaku konsumsi, giving behavior (kedermawanan), dan sebagainya. Perilaku bisnis dari para pengusaha Muslim pun termasuk dalam sasaran gerakan ekonomi Syari’ah di Indonesia.

Perkembangannya memang masih lambat, namun dari sisi non-keuangan dalam kegiatan ekonomi semakin berkembang. Hal ini di tandai dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku konsumsi yang islami, tingakt kedermawan yang semakin meningkat ditandai oleh meningkatnya dana zakat, infak, waqaf dan sedekah yang berhasil dihimpun oleh badan dan lembaga pengelola dana tersebut.

Dalam perkembangan perbankan Syari’ah di Inodnesia ada lima masalah dan tantangan yang sering di hadapi ekonomi islam saat ini yaitu :

Pertama, masih kurangnya pakar ekonomi yang berkualitas yang menguasai ilmu-ilmu ekonomi modern dan ilmu-ilmu Syari’ah secara integratif.

Kedua, ujian atas kredibilitas sistem ekonomi dan sistem keuangan Syari’ah.

Ketiga, perangkat peraturan, hukum dan kebijakan, baik dalam skala nasional maupun internasional masih belum memadai.

(15)

dalam bidang ini, sehingga Sumber daya insani di bidang ekonomi dan keuangan Syari’ah masih terbatas dan belum memiliki pengetahuan ekonomi Syari’ah yang memadai.

Kelima, peran pemerintah baik eksekutif maupun legislatif, masih rendah terhadap pengembangan ekonomi Syari’ah, karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan mereka tetang ekonomi islam.

Diatas telah dijelaskan secara umum masalah dan tantangan ekonomi islam di Indonesia, yang menjadi pendongkrak perkembangan ekonomi islam salah satunya adalah perbankan Syari’ah, namun perbankan Syari’ah di indonesi mengalami beberapa kendala dalam perkembangannya yaitu sebagai berikut :

Permodalan, modal yang tidak cukup menyebabkan terhambatnya pembangunan perbankan Syari’ah. Adapun kesulitan dalam pemenuhan permodalan ini antara lain disebabkan karena :

- Belum adanya keyakinan yang kuat pada pihak pemilik dana akan prospek dan masa depan keberhasilan Bank Syari’ah, sehingga ditakutkan dana yang ditempatkan akan hilang.

- Masih kuatnya perhitunangan bisnis keduniawian pada pemilik dana sehingga ada rasa keberatan jika harus menempatkan sebagian dananya pada Bank Syari’ah sebagai modal.

- Ketentuan terbaru tentang permodalan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang relatif cukup tinggi.

Peraturan Perbankan, ketentuan-ketentuan perbankan yang ada kiranya masih perlu disesuaikan untuk memenuhi ketentuan syari’ah agar Bank Syari’ah dapatberoperasi secara relatif dan efisien, adapun ketentuan tersebut aadalah sebagai berikut:

- Instrumen yang diperlukan untuk mengatasi masalah liquiditas

- Instrumen moneter yang sesuai dengan prinsip sya’riah untuk keperluan pelaksanaan tugas bank sentral

- Standar akuntansi,audit dan laporan

- Ketentuan yang mengatur prinsip kehati-hatian dsb.

Sumber Daya Manusia, pengembangan SDM dibidang perbankan Syari’ah sangat diperlukan karena keberhasilan pengembangan bank syari’ah pada level mikro sangat ditentukan oleh kualitas manajemen dan tingkat pengetahuan serta ketrampilan pengelola bank. SDM dalam perbankan syari’ah memerlukan persyaratan pengetahuan yang luas dibidang perbankan, memahami implementasi prinsip-prinsip syari’ah dalam praktek perbankan serta mempunyai komitmen kuat untuk menerapkannya secara konsisten.

(16)

Sosialisasi, Sosialisasi yang telah dilakukan dalam rangka memberikan informasi yang lengkap dan besar mengenai kegiatan usaha perbankan syari’ah kepada masyarakat luas belum dilakukan secara maksimal. Tanggungjawab kegiatan sosialisasi ini tidak hanya dipundak para bankir syari’ah sebagai pelaksana operasional bank sehari-hari, tetapi tanggungjawab semua pihak yang mengaku Islam secara baik secara perorangan, kelompok maupun instansi yang meliputi unsur alim ulama, penguasa negara/pemerintahan, cendekiawan, dll.

Piranti Moneter, Piranti Moneter yang pada saat ini masih mengacu pada sistem bunga sehingga belum bisa memenuhi dan mendukung kebijakan moneter dan kegiatan usaha bank syari’ah, seperti kelebihan/kekurangan dana yang terjadi pada Bank Syari’ah ataupun pasar uang antar bank syari’ah dengan tetap memperhatikan prinsip syari’ah.

Jaringan kantor, Pengembangan jaringan kantor Bank Syari’ah diperlukan dalam rangka perluasan jangkauan pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu kurangnya jumlah Bank Syari’ah yanga ada juga menghambat perkembangan kerjasama antar Bank Syari’ah. Jumlah jaringan kantor bank yang luas juga akan meningkatkan efisiensi usaha serta meningkatkan kompetisi ke arah peningkatan kulaitas pelayanan dan mendorong inovasi produk dan jasa perbankan syari’ah.

Pelayanan, semua Bank Konvensional berlomba-lomba untuk senantiasa memperhatikan dan meningkatkan pelayanan kepada nasabah, tidak telepas dalam hal ini Bank Syari’ah yang dalam operasionalnya juga memberikan jasa tentunya unsur pelayanan yang baik dan islami hahrus diperhatikan dan senantiasa ditingkatkan. Tentunya hal ini harus didukung oleh adanya SDM yang cukup handal dibidangnya. Kesan kotor, miskin dan tampil ala kadarnya yang selama ini melekat pada “Islam” harus dihilangkan.

3. Perbedaan Sistem Ekonomi Islam dengan Sistem Ekonomi yang lainnya

(17)

1) Masalah Pokok Perekonomian

Menurut sistem ekonomi kapitalis, permasalan ekonomi yang sesungguhnya adalah kelangkaan (Scarcity) barang dan jasa. Hal ini karena setiap manusia mempunyai kebutuhan yang beranekaragam dan jumlahnya tidak terbatas (Sukirno, 2002). Sistem ekonomi kapitalis menetapkan permasalahan ekonomi tersebut akan muncul pada setiap individu, masyarakat atau negara untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Pemecahan masalah ini dengan menitikberatkan pada aspek produksi barang dan jasa agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Berbeda halnya dengan sistem ekonomi islam menetapkan bahwa permasalahn ekonomi adalah masalah rusaknya distribusi kekayaan ditengah masyarakat. Menurut islam, pandangan sistem ekonomi kapitalis yang menyamakan antara keinginan (Want) dan kebutuhan (need) adalah tidak tepat dan tidak sesuai dengan fakta. Keinginan manusia memang tidak terbatas dan cenderung untuk terus bertambah dari waktu ke waktu. Sementara kebutuhan manusia ada kebutuhan yang sifatnya pelengkap yakni berupa kebutuhan sekunder dan tersier.

2) Konsep Kepemilikan Harta Kekayaan dan Pengelolaannya

Terdapat beberapa perbedaan pandangan terhadap kepemilikan harta kekayaan berdasarkan ekonomi islam dan ekonomi konvensional. Pertama,

perbedaannya terletak pada konsep kepemilikan harta, kepemilikan harta dalam sistem sosialis dibatasi dari segi jumlah atau kuantitas, namun dibebaskan dari segi kualitas memperoleh harta yang dimiliki. Sedangkan menurut pandangan kapitalis jumlah kepemilikan harta individu berikut cara memperolehnya tidak dibatasi, yakni di perbolehkan dengan cara apapun selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Sedangkan menurut ekonomi islam kepemilikan harta dari segi kuantitas tidak dibatasi namun dibatasi dengan cara-cara tertentu dalam memperolehnya apakah halal atau haram.

Kedua, perbedaan dalam hal konsep pengelolaan kepemilikan harta baik dari segi nafkah maupun upaya pengembangan kepemilikan. Menurut sistem ekonomi kapitalis dan sosialis, harta yang telah dimiliki dapat dipergunakan ataupun dikembangkan secara bebas tanpa memperhatikan aspek halal dan haram serta bahayanya bagi masyarakat.

(18)

Pandangan ekonomi islam dalam hal distribusi kekayaan ditengah masyarakat, selain mengandalkan mekanisme ekonomi yang wajar juga mengandalkan mekanisme non ekonomi. Mekanisme yang diterapkan dalam sistem ekonomi islam dalam distribusi ada dua yaitu 1) mekanisme ekonomi dan 2) mekanisme non ekonomi. Mekanisme ekonomi adalah mekanisme utama yang ditempuh oleh sistem ekonomi islam untuk mengatasi persoalan distribusi kekayaan. Mekanisme ekonomi yang ditempuh dalam rangka mewujudkan distribusi kekayaan diantara manusia yang seadil-adilnya, yaitu dengan cara berikut ini:

 Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab kepemilikan dalam kepemilkan individu.

 Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan kepemilikan melalui kegiatan investasi.

 Larangan menimbun harta walaupun telah dikeluarkan zakatnya.

 Mengatasi peredaran kekayaan di satu daerah tertentu saja dengan menggalakkan berbagai kegiatan ekonomi dan mendorong pusat-pusat pertumbuhan.

 Larangan kegiatan monopoli, serta berbagai penipuan yang dapat mendistorsi pasar.

 Larangan kegiatan monopoli, serta berbagai penipuan yang dapat mendistorsi pasar

 Larangan judi, riba, korupsi, pemberian suap dan hadiah kepada penguasa.

 Pemanfaatan secara optimal hasil dari sumber daya alam milik umum yang dikelola negara seperti hasil hutan, barang tambang, minyak, listrik, air dan lainnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak demi kesejahteran masyarakat.

C. PENUTUP

(19)

DAFTAR PUSTAKA

 Hudiyanto .(2002). Kapitalisme Sosialisme,Yogyakarta: PPE UMY

 Antonio, Muhammad Syafi’i. (1999). BANK SYARI’AH bagi Bankir & Praktisi Keuangan,Jakarta: TAZKIA INSTITUTE

 Chapra, M.Umer, (2000), Sistemm Moneter Islam, Jakarta: Gema Insani Press

 Sukirno, S. ( 2002). Pengantar Teori MikroEkonomi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 Muhammad.(2004). Ekonomi Mikro dalam Perspektif Islam. Yogyakarta : BPFE

 Idwal Ilma, “Pemikiran Umar Chapra”. Kamis, 26 September 2013. (Diakses tanggal 30 Maret 2015, 05.12 am)

 Linda Rasyidah, “Strategi dan Kebijakan Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia”. Minggu, 16 oktober 2011. (Diakses tanggal 29 Maret 2015 04.15 am)

 Rizki Rahmadi, “Perkembangan Perbankan Syari’ah di Indonesia”. 1 Juni 2012.(Diakses tanggal 31 Maret 2015 05.24)

 Nuraini Setiawati.” Pelaksanaan Ekonomi Syariah Menuju Terwujudnya Masayarakat Yang Adil dan Sejahtera”. 11 Desember 2008.(Diakses tanggal 29 Maret 2015 04.10 am)

Referensi

Dokumen terkait

(A) tenaga kerja yang sedang bekerja (B) tenaga kerja yang sudah dipekerjakan (C) penduduk usia kerja yang terdiri atas. penduduk yang sudah bekerja dan yang sedang

Pengaruh agama terhadap golongan masyarakatpun jika dilihat dari karakter masing- masing golongan pekerjaan tidak akan berbeda jauh dengan pengaruh agama terhadap

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan

Dalam konteks Indonesia, perbedaan ini dapat dilihat dari terbentuknya negara Indonesia, dimana penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama, sehingga

Bukan hanya keadaan siswa yang berbeda latar belakang suku, agama, ras, budaya, dan Bahasa namun juga demikian dengan guru dan karyawan di SMA Nasional 3 Bahasa Putera

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan jumlah penduduk + 1.401.827 jiwa data tahun 2016 yang terdiri dari berbagai Suku dan Agama. Jumlah penduduk di Provinsi

Pemakain istilah pembangunan ekonomi pada umumnya seringkali ditujukan untuk negara-negara sedang berkembang sedang istilah pertumbuhan ekonomi lebih sering ditujukan

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan jumlah penduduk + 1.401.827 jiwa data tahun 2016 yang terdiri dari berbagai Suku dan Agama. Jumlah penduduk di Provinsi