• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PEMANFAATAN BIOTEKNOLOGI JERAMI. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PEMANFAATAN BIOTEKNOLOGI JERAMI. pdf"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PEMANFAATAN BIOTEKNOLOGIJERAMI PADI

UNTUK PAKAN TERNAK SAPI POTONG

AN ANALYSIS OF THE USE OF RICE STRAW BIOTECNNOLOGY

FOR BEEF CATTLE FEED

Dr. Ir. Ida Bagus Made Agung Dwjatenaya, M.Si

Koordinator Tim Peneliti Balitbang dan Dosen Faperta Unikarta Tenggarong Email :[email protected]

ABSTRACT

This reaseach is aimed at the utilization of rice straw for feeding beef cattle, increasing the availability of nutrients for the ration can be utilized by cattle, and gain added value from the cattle by utilizing rice straw. The design of the research uses design deskriptive-quantitative. To know the quality of rice straw was conducted using a nutrient analysis laboratory to know the content of the cattle feed.

Some of the findings in the research is giving feed to beef cattle met the standards nutrients to be able to the increase in performans condition of body optimal namely where as middle for beef cattle (Bali Cattle), rice straw fermented technological innovation for beef cattle to be worthy technically, so can be recommended in areas that have similar agroekosistem condition, and beef cattle busness profitable bay R-C ratio larger than one (R/C > 1), and also to the beef cattle business to obtained profit as much as Rp 9,850.00/head/day The utilization of rice straw through fermentation as livestock feed ruminants can reduce the amount of waste agricultural production and as alternative that could resolved problems concerning feed during dry season. Therefore, be recommended several things here for farmers can use to optimally rice straw to cultivated as feed cattle through the fermentation of biotechnology, for the government to the technology of biotechnology through rice straw fermentation have to keep in socialized it on public especially the livestock and farmers which generally have the knowledge that is low on the rice straw fermentation

Keywords: biotechnology, rice straw,, beef cattle

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk pemanfaatan pakan dari jeramipadi melalui teknologi fermentasi untuk sapi potong, meningkatkan ketersediaan nutrien ransum untuk dapat dimanfaatkan oleh ternak sapi, dan memperoleh nilai tambah asal sapi dengan memanfaatkan jerami padi. Rancangan penelitian menggunakan rancangan deskriptif-kuantitatif. Untuk mengetahui kualitas jerami dilakukan analisis dengan menggunakan metode analisis laboratorium, khususnyauntuk mengetahui kandungan nutrisi pakan ternak tersebut.

Beberapa temuan dalam penelitian ini adalah pemberian pakan untuk penggemukan sapi yang memenuhi standar nutrisi terbukti mampu memberikan kenaikan performans kondisi tubuh yang optimal yaitu sedang untuk sapi potong (Sapi Bali), inovasi teknologi fermentasi jerami padi untuk penggemukan sapi layak secara teknis, sehingga dapat direkomendasikan pada wilayah yang memiliki kondisi agroekosistem yang serupa, dan usaha penggemukan sapi potong menguntungkan dengan R-C rasio lebih besar dari satu. Selanjutnya juga tampak usaha penggemukan mendapatkan keuntungan sebesar Rp.9.850/ekor/hari.

(2)

PENDAHULUAN

Pertanian memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia, yaitu menjadi sektor strategis untuk bidang pembangunan. Pertanian juga mempunyai peran penting sebagai sumber utama kehidupan dan pendapatan masyarakat, penghasil bahan mentah dan bahan baku industri pengolahan, penyedia lapangan kerja dan lapangan usaha, sumber penghasil devisa negara, serta merupakan salah satu unsur pelestarian lingkungan hidup.Pertanian secara keseluruhan sangat penting karena menyediakan berbagai produk yang dibutuhkan seluruh penduduk dan menghasilkan komoditas ekspor.Peternakan sapi potong merupakan bagian dari pertanian dalam arti luas, yang juga sangat memegang peranan strategis bagi pembangunan.

Pembangunan peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian sebagaimana yang tercantum dalam arah dan kebijakan pembangunan nasional. Pembangunan peternakan bertujuan untuk meningkatkan produksi dan populasi ternak dalam rangka memenuhi kebutuhan daging nasional dan mengurangi impor. Laju permintaan daging sapi yang terus meningkat setiap tahun, tidak dapat diimbangi dengan kecepatan produksi dari dalam negeri. Untuk menutupi kesenjangan tersebut, maka pemerintah Indonesia melalui Instansi terkait melakukan kebijakan pengadaan daging dan ternak bakalan sapi dari luar negeri termasuk pemerintah Provinsi Kalimantan Timur saat ini juga melakukan kebijakan tersebut (Marthur, 2006; Disnak Prov Kaltim, 2014). Ternak

ruminansia besar (khususnya sapi) memiliki kemampuan untuk dapat mensuplai permintaan akan daging di Provinsi Kalimantan Timur, namun hal tersebut belum dapat diimbangi dengan laju tumbuh-kembang ternak ruminansia besar yang masih rendah di tingkat petani ternak. Pola pemeliharaan yang masih bersifat sambilan, rendahnya laju produksi dan reproduksi ternak karena rendahnya tingkat daya dukung lingkungan (pakan dan kesehatan), diduga menjadi penyebab hal tersebut.

(3)

Sebagaimana diamanatkan UU No 12 Tahun 2012 tentang Pangan, khususnya Pasal 12 ayat (2) yang berbunyi Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas Ketersediaan Pangan di daerah dan pengembangan Produksi Pangan Lokal di daerah dan ayat (4) yang berbunyi Penyediaan Pangan diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan dan konsumsi Pangan bagi masyarakat. Lebih lanjut BAB VI pasal 59 ditegaskan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban meningkatkan pemenuhan kuantitas dan kualitas konsumsi. Sebagaimana diungkapkan di di atas, sapi potong adalah sumber pangan bagi masyarakat, termasuk masyarakat Kutai Kartanegara. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa permintaan daging sapi di Kabupaten Kutai Kartanegara mengalami peningkatan yang signifikan. Tetapi, di sisi lain pertumbuhan produksi (sisi penawaran) tidak sebanding dengan peningkatan permintaan. Oleh sebab itu, persolan pengadaan daging sapi selalu mengalami hambatan setiap tahunnya. Kondisi ini tentu akan berpengaruh pada kinerja Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, dan secara politis pun mengalami masalah.

Data menunjukkan bahwa Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan lumbung beras di Kalimantan Timur. Produksi padi sawah memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi padi kabupaten. Rata-rata selama 5 tahun produktivitas padi sawah 5,04 ton/ha,

dengan rata-rata produksi 195.555 ton dan rata-rata luas panen 38.253,2 ha, sedangkan rata-rata selama 5 tahun produktivitas padi ladang 2,97 ton/ha dengan rata-rata produksi 16.918,57 ton dan rata-rata luas panen 5.635 ha (BPS Kaltim 2012). Sebagai konsekuensi makin meningkatnya luas tanam padi, maka makin meningkat pula produk samping tanaman padi yang dapat menimbulkan problem lingkungan dan perlu diantisipasi. Salah satu cara pemecahannya adalah dengan memanfaatkan ternak ( Corley, 2003), khususnya ternak ruminansia sebagai pabrik hidup yang dapat memanfaatkan produk samping tersebut sebagai pakan, sekaligus dapat dijadikan mesin hidup sebagai sumber bahan pupuk organik.

(4)

yang mampu memicu pertumbuhan mikroba rumen pencerna serat seperti bahan pakan sumber protein.

Upaya pemanfaatan jerami padi sebagai produk yang bernilai tambah, yakni dengan memanfaatkan teknologi bioteknologi. Bioteknologi telah mengalami perkembangan sangat pesat. Di beberapa Negara maju, bioteknologi mendapatkan perhatian serius dan dikembangkan secara intensif dengan harapan dapat memberi solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi manusia pada saat ini, maupun di masa yang akan datang. Berbagai macam batasan dan pengertian dikemukakan oleh para ahli (Nurcahyo, 2011). Melalui pemanfaatan teknologi bioteknologi akan diperoleh tambahan manfaat dari jerami ini, yang pada dasarnya jerami tidak dimanfaatkan oleh peternak di Kabupaten Kutai Kartanegara. Usahatani ternak sapi potong dengan menggunakan pakan jerami melalui bioteknologi permentasi ini apakah menguntungkan atau tidak dianalisis berdasarkan analisis rasio penerimaan dan pengeluaran (R-C rasio) Soekartawi (1995). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bioteknologi jerami melalui fermentasi memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa fermentasiYunilas (2009). Penelitian lain yang berhubungan dengan bioteknologi jerami dan sapi potong sebagaimana dilakukan oleh Bamualim, dkk (2008); Suharto (2004); dan Purbowati, dkk (2005).

Kajian teoritis dan emperis menunjukkan bahwa bioteknologi jerami melalui fermentasi memiliki kandungan nutrusi yang lebih tinggi. Akan tetapi, masalah di masyarakat menunjukkan bahwa peternak belum lazim menggunakan pakan ternak jerami melalui fermentasi ini. Atas dasar pemikiran teoritis dan kajian empiris, maka disusun suatu kegiatan tentang Kajian Pemanfaatan Bioteknologi Hijauan Makanan Ternak Sapi Potong . Harapan bahwa pemberian bahan pakan inkonvensional asal tanaman padi mampu memenuhi kebutuhan ternak sapi potong akan nutrien dan sebagai konsekuensinya penampilan ternak sapi potong akan lebih baik.

(5)

Selama ini produk samping tanaman padi seperti jerami padi hanya dikembalikan ke lahan sawah untuk menambah unsur hara tanah. Ketersedian bahan pakan hijauan untuk ternak di wilayah Kutai Kartanegara memang cukup tersedia, tetapi di saat memasuki musim kemarau terjadi keterbatasan jumlah hijauan makanan ternak sangat dirasakan bagi petani ternak, untuk mengatsi permasalahan itu upaya yang dapat dilakukan adalah memamfaatkan limbah-limbah pertanian seperti jerami padi untuk diproses dengan teknologi bioteknologi secara permentasi. Berdasarkan urain tersebut selanjutnya dapat dirumuskan masalah sebagai berikut (1) bagaimanakah pemanfaatan pakan yang seluruhnya tersusun dari produk samping tanaman padi untuk sapi potong?, (2) bagaimanakah meningkatkan ketersediaan nutrien ransum untuk dapat dimanfaatkan oleh ternak sapi?, dan bagaimanakah hasil pemanfaat teknologi bioteknologi dari jerami, kaitannya dengan nilai tambah atau keuntungan usaha ternak sapi potong?

Tujuan yang hendak dicapai dalam rangka memanfaatkan jerami padi sebagai bahan pakan ternak menggunakan teknologi bioteknologi melalui fermentasi adalah (1) pemanfaatan pakan yang seluruhnya tersusun dari jerami padi untuk sapi potong. (2) meningkatkan ketersediaan nutrien ransum untuk dapat dimanfaatkan oleh ternak sapi, dan (3) memperoleh nilai tambah asal sapi

dengan memanfaatkan produk samping tanaman padi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif-kuantitatif. Pada penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan data-data kuantitatif yang telah diperoleh dari hasil analisis laboratorium dan pengukuran di lapangan.Penelitian dilaksanakan di kelompok tani ternak sapi potong milik petani di Desa Loh Sumber Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Penetapan lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive). Kajian pemanfataan bioteknologi jerami padi untuk sapi potong ini dilaksanakan selama enam bulan terhitung sejak Februari sampai Juli 2014.

Parameter kualitas pakan yang akan dianalisis di Laboratorium meliputi kandungan zat makanan yang meliputi kadar air, abu, SK, PK, lemak, P, K dan BETN. Sedangkan parameter kondisi ternak yang diukur adalah skor kondisi tubuh sapi. Adapun parameter kondisi petani responden meliputi kondisi sosial, ekonomi dan persepsi petani responden bersangkutan khususnya terkait pendidikan, umur, dan jumlah keluarga peternak. Keuntungan usahatani ternak sapi potong dianalisis melalui perhitungan R-C rasio.

(6)

pakan tersebut, terdiri atas: Jerami padi, dedak halus, bakteriEfective Microorganism4 (EM4) sebagai starter, asam-asam organik (asam format, asam sulfat, dan asam klorida/asam propionate), molase (gula pasir/gula merah), dan menir. Adapun peralatan yang diperlukan dalam pembuatan pakan ternak tersebut, antara lain terpal plastik, kantong plastik, drum penampungan, timbangan, termometer, dan alat-alat laboratorium.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mengambil jerami dari lokasi sekitar tempat penelitian.Setelah jerami dikumpulkan selanjutnya ditimbang sesuai kebutuhan untuk pembuatan makanan ternak. Untuk dedak halus diperoleh dari penggilingan padi yang ada disekitar lokasi penelitian. Sedangkan gula merah/gula pasir dan urea dibeli dari toko/warung masyarakat. Adapun EM4 dan asam-asam seperti asam format, asam sulfat, dan asam klorida/asam propionate dibeli dari toko pertanian atau toko kimia yang menjual bahan-bahan dimaksud.

Adapun langkah-langkah pembuatan pakan ternak sapi melalui fermentasi, adalah sebagai berikut:

a. Teknis pembuatan jerami padi secara terbuka (aerob) sebagai berikut:

1. Mengumpulkan jerami padi hasil panen dengan kadar air 60 persen sebanyak satu ton, selanjutnya siapkan mikroba (EM4) sebanyak enam liter dan pupuk urea sebanyak enam kg serta air 20 liter.

2. Jerami padi dihampar dengan dibuat ketebalan 20 30 cm lalu disirami larutan EM4 dan pupuk urea dan dibuat sampai ketinggian satu meter. 3. fermentasi dilakukan secara aerob

atau diletakkan dibawah atap yang ternaungi. Proses fermentasi akan berlangsung selama 3 minggu dan setelah itu jerami padi fermentasi siap digunakan sebagai pakan ternak. b. Teknik pembuatan jerami padi fermentasi

secara tertutup (anaerob) sebagai berikut::

1. Mengumpulkan jerami padi hasil panen dengan kadar air 60 persen sebanyak satu ton, dan siapkan mikroba (EM4) sebanyak enam liter dan pupuk urea sebanyak enam kg serta air 20 liter, selanjutnya siapkan drum kapasitas 200 liter dan plastik drum.

2. Jerami padi dicacah dengan panjang sekitar 10 cm, kemudian dimasukkan kedalam drum yang sudah dilapisi oleh plastik drum dengan ketebalan 20 30 cm lalu disirami larutan EM4 dan pupuk urea dan dibuat sampai ketinggian drum sambil sekali-kali diinjak-injak agar cacahan jerami menjadi padat dan sedikit rongga udaranya dan bila sudah penuh ditutup rapat dengan plastiknya dan ditindih dengan pemberat ban bekas.

(7)

yang ternaungi. Proses fermentasi akan berlangsung selama tiga minggu dan setelah itu jerami padi fermentasi siap digunakan sebagai pakan ternak.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Peternak Sapi Potong

Kelompok Tani Cipta Usaha Desa Sumber Sari Kecamatan Loa Kulu memiliki anggota sebanyak 62 orang. Sebanyak 38 orang anggota memelihara ternak sapi potong dan sisanya sejumlah 24 orang memelihara ternak untuk pembibitan. Sebagaimana umumnya masyarakat petani di perdesaan Indonesia, tingkat pendidikan peternak kelompok tani Cipta Usaha Desa Sumber Sari masih didominasi oleh tingkat pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Pendidikan peternak pada wilayah penelitianyang menyelesaikan jenjang pendidikan Sekolah Dasar sebanyak 47,4 persen dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP sederajat) sebanyak 31,6 persen

Berdasarkan umur peternak pada wilayah penelitianterdapat juga kelompok umur yang dominan, yakni pada kelompok umur 45--54 tahun sebanyak 31,6 persen. Umur peternak tergolong pada umur produktif, dan terdapat 13,2 persen peternak berumur 55 tahun ke atas. Umur peternak rata-rata 42,89 tahun, umur termuda adalah 23 tahun, sedangkan umur peternak tertua adalah 74 tahun. Walaupun terdapat umur peternak 55 tahun ke atas, bagi peternak tidak menjadi

hambatan karena kegiatan pemeliharaan ternak terutama sebagian besar pakan terletak dekat dengan pemukiman.

Deskripsi Faktor Produksi Usaha Ternak Sapi Potong

Pemerintah telah bekerja keras untuk membangun sektor pertanian. Berbagai pendekatan pembangunan sektor pertanian telah dicoba, seperti pembangunan pertanian terpadu, pembangunan pertanian berwawasan lingkungan, dan pembangunan pertanian berwawasan agroindustri. Kalau diperhatikan secara saksama, maka upaya pendekatan pembangunan pertanian pada dasarnya berupaya untuktetap menjaga dan memerhatikan prinsipkeunggulan komparatif sehingga produk pertanian mampu berkompetisi serta meningkatkan

keterampilan petani. Dengan

demikian,keterampilan petani yang meningkat akan meningkatkan produktivitas pertanian. Pendekatan pembangunan pertanian juga berupaya agar sarana produksi cukup tersedia dengan harga yang terjangkaupada saat diperlukan, menyediakan dan meningkatkan fasilitas kredit bagi petani, serta penyediaan infrastruktur dan institusi/kelembagaan.

(8)

usaha-usaha yang berskala kecil sehingga usaha-usahatani lebih cenderung pada usahatani subsisten. Faktor eksternal yang memengaruhi pertanian Indonesia, seperti aktivitas ekonomi regional dan dunia, kebijakan produksi dan perdagangan di setiap negara, kebijakan ekonomi makro internasional, baik kesepakatan-kesepakatan perdagangan regional maupun dunia (Saragih, 2000).

Berbagai faktor yang memengaruhi pertanian Indonesia membuat berbagai upaya yang harus ditempuh untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya sektor pertanian. Salah satu upaya pembangunan pertanian termasuk pada sektor peternakan adalah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, yakni bioteknologi fermenatasi jerami sebagai pakan ternak. Pakan ternak jerami yang terfermentasi merupakan salah satu faktor produksi yang perlu dipertimbangkan oleh peternak untuk dimanfaatkan. Sebagaimana dikemukakan Mubyarto (1985) secara konvensional faktor produksi meliputi tanah, tenaga kerja, modal, dan enterprneurship. Faktor produksi, juga dikelompokkan ke dalam faktor produksi tetap dan faktor produksi tidak tetap. Faktor produksi yang digunakan dalam usaha ternak sapi potong terdiri dari faktor produksi tidak tetap dan faktor produksi tetap. Faktor produksi tidak tetap antara lain tenaga kerja, obat hewan, tali dan dedak sedangkan faktor produksi tetap meliputi nilai kandang dan nilai sapi potong yang dipelihara.

Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi baik dari segi jumlahnya, kualitas dan juga macam tenaga kerja. Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja. Tenaga kerja dalam usahatani sapi potong biasanya adalah tenaga kerja yang berasal dari keluarga, yaitu kepala keluarga dan dibantu oleh anggota keluarga. Rata-rata jumlah anggota keluarga sebanyak 2,74 orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam usaha ternak sapi potong masih mengandalkan tenaga kerja keluarga.

Usaha ternak sapi potong sebagian besar digunakan tenaga kerja pria, hal ini disebabkan oleh pengaruh kultur yang menempatkan tenaga kerja wanita sebagai ibu rumah tangga. Jumlah penggunaan tenaga kerja dihitungdengan menggunakan standar satuan hari orang kerja (HOK). Adapun ketentuan yang digunakan 1 HOK senilai dengan bekerja selama 8 jam dalam satu hari per orang. Pada usaha peternakan sapi potong curahan waktu kerja adalah untuk mencari pakan ternak dan selebihnya adalah untuk merawat ternak dan membersihkan kandang.

(9)

sangat bervariasi, tetapi pada umumnya adalah obat cacing dan beberapa jenis vitamin ternak. Obat cacing berfungsi untuk membasmi parasit ternak yang mengganggu pertumbuhan sapi potong sedangkan vitamin berguna untuk memacu pertumbuhan dan menjaga agar kondisi sapi potong selalu sehat. Pada usaha ternak sapi potong tali berfungsi untuk memudahkan peternak untuk mengendalikan ternak (handling). Tali yang digunakan sangat bervariasi baik diameter maupun panjangnya, biasanya disesuaikan dengan umur dan ukuran ternak. Semakin bertambah umurnya dan semakin besar ukuran sapi potong, maka diameter tali yang digunakan semakin besar dan tali yang dibutuhkan juga semakin panjang. Dedak adalah pakan tambahan yang diberikan pada sapi potong untuk memacu pertumbuhan sapi potong. Dedak merupakan hasil samping dari usahatani padi biasanya diberikan pada sapi potong pada waktu peternak panen padi. Selain itu, ternak juga diberi makan garam.

Hasil Keragaan Teknologi

Performans ternak selama tiga bulan pada sapi-sapi perlakuan dan tanpa perlakuan sesuai teknologi introduksi dijelaskan berikut ini. Performans sapi yang digemukkan dengan teknologi introduksi di kelompok tani ternak Cipta Usaha Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara memberikan rata-rata skor kondisi tubuhnya selama tiga bulan adalah sedang, yaitu tubuh sapi dianggap berkondisi

sedang karena hanya sebagian dari tulang rusuk (kurang dari enam buah, hanya empat sampai lima buah tampak membayang dibalik kulit). Hal ini sama dengan skor kondisi tubuh sapi yang dipelihara petani dengan menggunakan hijauan pakan unggul dan lokal sebagai sumber nutrisi ternak. Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas jerami padi fermentasi sama dengan kualitas hijauan pakan unggul (rumput gajah) sebagai sumber hijauan pakan ternak.

Jumlah rata-rata pakan perhari yang dikonsumsi sapi Bali adalah 10 kg kg jerami fementasi dan 12 kg rumput lokal. Soeparno (1998) dan Tillman et al. (1998) melaporkan bahwa faktor genetis dan asupan nutrisi sangat mempengaruhi terhadap kecepatan pertumbuhan ternak. Sapi Bali yang secara genetis memiliki kemampuan untuk memanfaatkan hijauan pakan yang berkualitas rendah sampai sedang dengan baik (Tillman et al.,1998 dan Aryogi et al.,2005). Oleh karena itu, dalam usaha sapi kereman perlu teknologi pemberian pakan sesuai kebutuhan (adequate), sehingga dapat menghindari terjadinya pemborosan biaya produksi pakan sekaligus dapat meningkatkan konversi pakan yang dideposisi dalam daging sapi (Prawirodigdoet al.,2004).

(10)

karena tingkat konsumsi ransum pada sapi di Indonesia cukup beragam. (Anggraeny et al., 2005; Wijono dan Mariyono, 2005; dan Nuschati et al., 2005).

Analisis Usaha Ternak Sapi Potong

Hasil samping tanaman pangan dan perkebunan sebenarnya bukan limbah, tetapi sumberdaya yang sangat potensial untuk dikembangkan dan kekayaan alam Indonesia masih sangat mampu menyediakan itu semua. Hampir di sebagian besar daratan Indonesia, hasil samping tanaman pangan dan perkebunan mudah ditemukan, memilki jumlah yang banyak dan memiliki nilai ekonomis rendah. Hasil intensifikasi tanaman pangan tidakmenghasilkan pangan yang lebih banyak, tetapijuga menghasilkan limbah berserat yangmelimpah sehingga integrasi antara tanamanpangan dengan ternak merupakan suatualternatif untuk mencukupi kebutuhan pakanyang murah. Demikian pula, jerami padi yang dihasilkan di Desa Sumber Sari Kecamatan Loa Kulu belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, melalui penelitian ini diharapkan peternak dengan menambah sedikit perlakuan yakni melalui bioteknologi fermentasi dapat memanfaatkan jerami untuk pakan ternak secara optimal.

Kelemahan yang ada pada potensi tersebut adalah, ketidaklaziman peternak untuk menggunakan sebagai bahan pakan, kurang palatable dan memiliki kandungan nutrisi rendah (protein dan energi). Berbagai

upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas limbah pertanian, baik dengan cara fisik, kimia maupun biologis. Cara-cara tersebut biasanya, selain mahal juga hasilnya kurang memuaskan. Cara fisik memerlukan investasi yang mahal dan secara kimiawi meninggalkan residu yang mempunyai efek buruk sedangkan dengan cara biologis memerlukan peralatan yang mahal (harus anaerob) dan hasilnya kurang disukai ternak (bau amonia yang menyengat). Cara baru yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak adalah fermentasi. Untuk itu, melalui kajian bioteknologi fermentasi jerami padi ini diharapkan petani terbiasa melaksanakannya, sehingga jerami yang begitu banyak dihasilkan tidak dibakar saja.

(11)

selanjutnya dianalisis juga ternak sapi potong yang diberikan pakan tanpa pakan jerami padi yang terfermentasi atau pakan yang berasal dari tanaman rumput setempat. Sebagaimana hasil pengamatan performans sapi peliharaan petani dengan diberikan pakan jerami yang terfermentasi, tampak bahwa hasilnya tidak berbeda jauh dengan ternak yang diberikan pakan rumput unggul setempat.

Analisis usahatani ternak sapi potong yang dikaji ini, akan memberikan gambaran apakah usahatani tersebut memberikan keuntunganatau denga kata lain apakah usahatani berjalan secara efisien. Untuk itu, maka dilaksanakan analisis rasio penerimaan dan pengeluaran (R-C rasio). Efisiensi menurut Soekartawi (1995), merupakan gambaran perbandingan terbaik antara suatu usaha dan hasil yang dicapai. Efisien tidaknya suatu usaha ditentukan oleh besar kecilnya hasil yang diperoleh dari usaha tersebut serta besar kecilnya biaya yang diperlukan untuk memperoleh hasil tersebut. Tingkat efisiensi suatu usaha biasa ditentukan dengan menghitung rasio penerimaan dan pengeluaran (R-C rasio) yaitu imbangan antara hasil usaha dengan total biaya produksinya.

Penerimaan usaha ternak sapi potong berdasarkan harga berlaku pada saat penelitian adalah sebesar Rp 12.500.000,00 per ekor. Biaya yang dikeluarkan per ekor terdiri dari biaya tetap sebesar Rp1.451.555,56 dan baiaya variabel sebesar

Rp 9.618.167,71. Dengan demikian, besarnya biaya keseluruhan adalah sebesar Rp 11.069.723,26. Berdasarkan rumus R/C diperoleh besarnya R-C rasio sebesar 1,13, hal ini mengandung makna bahwa usaha ternak dengan menggunakan pakan jerami padi yang terfermentasi berjalan secara efisien dan menguntungkan

Selain dianalisis apakah usaha ternak sapi potong pada penelitian ini berjalan secara efisien atau menguntungkan, juga diteliti apakah secara finansial usaha tersebut layak untuk dilaksanakan. Kelayakan finansial penggemukan sapi potong dari hasil kegiatan ini dihitung berdasarkan nilai tambah performans skor kondisi tubuh dan estimasi kenaikan berat badan ternak yang dikonversi dengan harga jual saat ini. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penggemukan sapi dengan introduksi pakan fermentasi yang direkomendasikan cukup layak dilakukan.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

(12)

program aplikatif bagi peningkatan nilai usaha ternak sapi potong.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan sebagaimana dijelaskan berikut ini.

1. Pemberian pakan untuk penggemukan sapi yang memenuhi standar nutrisi terbukti mampu memberikan kenaikan performans kondisi tubuh yang optimal yaitu sedang untuk sapi potong (sapi Bali).

2. Inovasi teknologi bioteknologi melalui fermentasi jerami padi untuk penggemukan sapi ini layak secara

teknis, sehingga dapat

direkomendasikan pada wilayah yang memiliki kondisi agroekosistem yang serupa.

3. Usaha penggemukan sapi potong menguntungkan dengan R-C rasio lebih besar dari satu. Selanjutnya juga tampak usaha penggemukan mendapatkan keuntungan sebesar Rp.9.850/ekor/hari

Pemanfaatan jerami padi melalui fermentasi sebagai pakan ternak ruminansia dapat mengurangi jumlah produksi limbah pertanian dan sebagai alternatif yang bisa memecahkan persoalan mengenai pakan saat musim kemarau. Untuk itu, dapat direkomendasikan beberapa hal terutama bagi pemangku kepentingan. Beberapa hal yang dapat direkomendasikan dari hasil penelitian dijelaskan sebagai berikut ini.

1. Bagi petani agar dapat memanfaatkan secara optimal jerami padi untuk diolah sebagai pakan ternak melalui bioteknologi fermentasi, sehingga jerami tidak dibakar percuma.

2. Bagi pemerintah terutama instansi terkait agar teknologi bioteknologi melalui fermentasi jerami padi harus terus disosialisasikan pada masyarakat khususnya peternak dan petani yang umumnya memiliki pengetahuan yang rendah tentang fermentasi jerami padi.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, P and H. C. Knipscheer. 1989. Conducting On-Farm Animal Research: Procedures and Economic Analysis. Morrilton, Arkansas, USA:Winrock International Institute for Agricultural Development and International Development Research Center.

Bamualim, Abdullah M., A. Thalib, Y.N. Anggraeni, dan Maroyono. 2008. Teknologi Peternakan Sapi Berwawasan Lingkungan. Wartazoa. Vol.18 No.3. Th 2008.

BPS Kaltim, 2012. Produksi Pertanian Kabupaten Kutai Kartanegara. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Samarinda: BPS Kaltim.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. 2012. Undang Undang Republik Indonesia Tentang Pangan. Jakarta: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Nurcahyo, Heru. 2011. Bioteknologi. (Diktat).

(13)

Purbowati, E., W.S. Dilaga dan N.S.N. Aliyah. 2005. Penampilan Produksi Sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin Jantan Dengan Pakan Konsentrat dan Jerami Padi Fermentasi. Proceeding Seminar Nasional AINI V. Malang: Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) dan Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.

Saragih, Bungaran. 2000. Agribsinis Sebagai Landasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Dalam Era Millenium Baru. Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan. Vol. 2, No.1/Feb 2000, 1-9.

Sasaki, M. 1992.The Advancement of Livestock Production with Special Reference to Feed Resources Development in the Tropics -Current Situation and Future Prospects. In. Utilization of Feed Resources in Relation to Utilization and Physiology of Ruminants in theTropics. Tropical Agric. Research Series. 25. pp. 67-76.

Soekartawi, 1995. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta

Suharto., M. 2004. Dukungan Teknologi Pakan Dalam Usaha Sapi Potong Berbasis Sumber Daya Lokal. Lokakarya Nasional Sapi Potong. Surakarta.

Umar, Sayed. 2009. Potensi Perkebunan Kelapa Sawit Sebagai Pusat Pengembangan Sapi Potong Dalam Merevitalisasi dan Mengakselerasi Pembangunan Peternakan Berkelanjutan. (Pidato Pengukuhan Guru Besar). Medan: Universitas Sumatra Utara. Yunilas. 2009. Bioteknologi Jerami Padi

Melalui Fermentasi Sebagai Bahan Pakan Ternak Ruminansia. (Karya Ilmiah) Medan: Departemen Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Sumatera Utara.

Referensi

Dokumen terkait