• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hari Depan Bangsa Indonesia di Tangan Pe (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hari Depan Bangsa Indonesia di Tangan Pe (1)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Hari Depan Bangsa Indonesia di Tangan Intelektual Muda

1

Polemik Kebudayaan, Keniscayaan Identitas, dan Literasi

Rony K. Pratama2

“Youth is happy because it has the capacity to see beauty. Anyone who keeps the ability to see beauty never grows old”—Franz Kafka

I

Kebangkitan bangsa Indonesia di tengah tampuk revolusi fisik tiada terlepas dari geliat para intelektual muda. Bermula dari asuhan guru bangsa, Tjokroaminoto (1882-1934), intelektual muda di kepulauan Nusantara—sebelum nama Indonesia belum digagas—muncul: Soekarno, Semaun, Musso, Kartosuwiryo, Darsono, maupun Tan Malaka. Dari tangan kreatif merekalah gagasan ihwal keindonesiaan mengemuka.3

Nama Indonesia dipilih sebagai representasi kolektif satu bangsa yang menjamah lokalitas Jawa, Minangkabau, Madura, Sunda, Dayak, Asmat, dan lain sebagainya. Meski pelbagai bangsa-bangsa di bawah naungan nasion Indonesia bersatu menjadi satu kesatuan, ia tak berarti melebur sehingga mereduksi nilai-nilai kearifan lokal bawaannya, melainkan bertransformasi menjadi multi-lokalitas kebudayaan.

Kenyataan demikian mustahil terwujud tanpa semangat kebangkitan nasional oleh intelektual muda. Para pendiri bangsa memulai menganyam hari depan bangsa Indonesia melalui arena diskusi di ruang-ruang akademik. Perbenturan ideologi pun merupakan suatu keniscayaan yang tak terelakan. Perdebatan tiada akhir demi merumuskan strategi ke depan telah dimulai oleh Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) dengan diktum terkenalnya, yakni “polemik kebudayaan”.4

Alisjahbana merumuskan kebudayaan Indonesia harus berkiblat pada barat. Hal itu dikarenakan semangat pembaharuan yang dinarasikan oleh barat cenderung membawa pada modernitas. Apalagi, sejak bayonet revolusi industri di Eropa ditegakan dengan lantang: peradaban ilmu pengetauan dunia seolah-olah diberpusar dari sana. Sementara itu, oposisi yang berseberangan dengan Alisjahbana menyatakan bahwa hari depan bangsa Indonesia harus berpijak pada lokalitas kebudayaan sendiri.5 Tokoh sentral yang tak senada dengan Alisjahbana itu bernama Sanoesi Pane (1905-1968).

1

Dibentangkan dalam diskusi pemuda “Indonesia-Malaysia” pada kegiatan Sit-in Mahasiswa Universiti Putra Malaysia (UPM) di UNY tanggal 18 Januari 2016 sesi pertama.

2

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2015. Alamat surat elektronik (Surel)/e-mail: [email protected], FB: Rony K. Pratama.

3

Tarling N. 1999. The History of Southeast Asia. UK: Cambridge University Press.

4

Istilah Polemik Kebudayaan itu dipopulerkan oleh Achdiat K. Mihardja. Lebih lanjut lihat: Burton, Raffel. 1968. Development of Indonesia Poetry. Albany: State University of New York.

5

(2)

Sebetulnya, di antara dua tokoh dalam “polemik kebudayaan” tersebut memiliki iktikad yang sama, yakni membangun Indonesia lebih bermartabat. Meski mereka bertolak belakang dalam hal konsep, niat baik demi nasib bangsa Indonesia di hari depan itulah yang menginspirasi intelektual muda setelahnya dalam mengonstruksi identitas baru nasion Indonesia melalui dimensi pendidikan, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.

Kalau dikaji lebih komprehensif perihal pergulatan konsep di pelbagai dimensi yang ada di Indonesia, dua hal yang dijadikan “polemik kebudayaan” oleh Alisjahbana dan Pane— disadari atau tidak—mempengaruhi pola berpikir intelektual muda hingga tahun 2016. Dikotomi “modern” dan “tradisional” telah mengakar di benak setiap intelektual muda di Indonesia. Hal demikian berpengaruh pada praktik berdialektika intelektual muda di gelanggang akademik maupun berorganisasi di lapangan.

II

Intelektual muda di Indonesia setidaknya dapat dikategorikan ke dalam tiga karakteristik khas sebagai berikut. Pertama, intelektual muda yang memiliki pandangan progresif dengan menempatkan idealisme barat sebagai tujuan. Intelektual muda semacam ini membuka cakrawala kognitifnya pada pelbagai referensi barat. Tatkala berada di dalam komunitas atau organisasi, ia tanpa sadar membawa simbol atau idiom barat seperti modernitas, kapitalisme, hak azasi manusia, sekulerisme, dan lain sebagainya di dalam wacana percakapannya kepada khalayak—baik berupa lisan maupun tertulis. Dengan gaya pembawaan seperti itu, ia memiliki gagasan “renaisans” Indonesia yang berkemajuan melalui paradigma dan metode pemecahan masalah ala barat.

Golongan intelektual muda yang menjunjung barat sebagai arus utama peradaban tanpa berpijak pada identitas dirinya, secara tidak langsung dikritik oleh Edward W. Said6 sebagai rasa inferioritas yang serba rendah diri. Dalam konteks ini, bukan berarti Said merendahkan perilaku intelektual muda yang menjunjung tinggi nilai barat sebagai kemunduran atau ahistoris. Namun, Said mengultimatum intelektual muda yang bersikap inferior terhadap barat akan terus dibayangi oleh rasa subordinat—“kaki tangan” barat.

Berbeda dengan kecenderungan pertama. Pada karakteristik kedua, intelektual muda membangun sikap progresifnya dengan pijakan nilai-nilai tradisional. Pelbagai kearifan lokal yang menjadi identitasnya direvitalisasi kembali demi konstruksi jawaban atas tantangan hari depan. Intelektual muda yang memiliki sikap demikian cenderung eksklusif terhadap dunia luar. Ia membentengi dirinya dari pengaruh luar melalui sikap arkaisme.

Cakrawala nilai tradisional yang dipercaya sanggup menjawab tantangan zaman dinarasikan kembali oleh intelektual muda melalui praktik di sosial kemasyarakatan. Model paradigma semacam ini biasanya digelorakan oleh intelektual muda dengan pengkultusan masa lampau. Peristiwa heroik berabad-abad lampau terus direlevansikan pada jagat kehidupan mutakhir. Oleh karena itu, bagi intelektual muda yang mengikuti jalan tersebut, masa kini dan lampau saling berkelindan satu sama lain sehingga tak ada batas diametral di antaranya. Hal itu hanya dibedakan oleh rentang waktu yang berbeda.

6

(3)

Dari karakteristik intelektual muda pada kategori pertama dan kedua, komparasi di antaranya berimplikasi pada karakteristik ketiga. Pembeda karakteristik ketiga dibandingkan lainnya terletak pada sikap dinamis terhadap penyikapan sesuatu. Sebagaimana karakteristik pertama dan kedua yang bersifat statis, kekhasan intelektual muda pada kategori ketiga bersifat dinamis sehingga dikotomi “modern” dan “tradisional” dikolaborasikan menjadi satu kesatuan. Atas tindakan tersebut, muncul sikap fleksibel dalam menghadapi sesuatu.

Intelektual muda yang memiliki kebijaksanaan dalam pengkolaborasian nilai-nilai modern dan tradisional biasanya menggunakan metode berpikir barat yang sarat empirisme. Sedangkan pada praktik di lapangan, ia juga mengaktualisasikan sikap afektif dalam pemecahan masalah. Dimensi afeksi inilah yang menjadi kekhasan bangsa “timur” dalam melakukan sesuatu.

Arah gerak intelektual muda pada kategori ketiga ini biasanya berpijak pada paradigma “think globally act locally” sehingga ia tak khawatir dengan arus kebudayaan global yang mendoktrin kepribadiannya, karena internalisasi lokal-tradisional leluhurnya telah dihayati secara komprehensif. Paradigma demikian dapat diejawantahkan ke dalam dimensi pelbagai dimensi—termasuk pendidikan.

III

Hari depan bangsa Indonesia juga dibangun oleh kecerdasan literasi atau kompetensi keberaksaraan. Sesuai dengan kompetisi global, pendidikan literasi yang menaungi kemampuan membaca dan menulis terus dihela. Demi turut mengikuti wacana global dalam konteks pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menggalakan pendidikan untuk semua bagi setiap generasi muda di pelbagai pelosok. Sabang sampai Merauke menjadi saksi historis pendidikan literasi yang menjamah ke pelosok tanah air. Upaya demikian merupakan komitmen mayor dalam mewujudkan benih-benih intelektual muda masa depan.

Walau pemerintah Indonesia menggiatkan pendidikan literasi dari tahun ke tahun, fakta empiris menujukan tingkat literasi pelajar Indonesia masih rendah. Program internasional dalam bidang pendidikan bernama Programme for International Student

Assessment (PISA) meriset kemampuan matematika, membaca (literasi), dan sains pelajar di

dunia. Hasil survei tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-69.7 Sedangkan di posisi pertama, ditempati oleh Singapura dan peringkat berikutnya: Hongkong, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Fakta membuktikan, bahwa perolehan peringkat lima terbaik berada di kawasan Asia.

Kenyataan demikian tak membuat putus asa pendidikan Indonesia Namun, berangkat dari survei tersebut, pendidikan Indonesia akan terus berbenah ke arah perbaikan. Di sinilah peran intelektual muda. Banyak komunitas maupun organisasi kampus yang dikelola oleh intelektual muda melakukan “gerakan literasi nasional” melalui aktivitas pengabdian di masyarakat. Pengabdian tersebut berbentuk program pendirian taman baca (perpustakaan dusun) yang mengoleksi bahan bacaan masyarakat.

7

(4)

Gerakan nyata dari para intelektual muda inilah yang berdampak pada kemaslahatan sosial. Banyak masyarakat di setiap wilayah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) sangat mengapresiasi tindakan positif tersebut. Intelektual muda melakukan gerakan nyata itu tanpa mengharapkan pamrih. Niat mereka mulia, yakni demi kemajuan pendidikan literasi di Indonesia.

Sebetulnya parameter rendah atau tidaknya tingkat kemampuan literasi pelajar Indonesia tidaklah menjadi persoalan substansial—apabila dilihat dari perspektif historis. Pasalnya, nenek moyang bangsa Indonesia di kepulauan Nusantara pada masa lampau telah mengajarkan pendidikan sastra lisan. Pada masa itu tradisi tulis-menulis belumlah menggejala di lingkup masyarakat. Oleh karena itu, proses transfer ilmu pengetahuan pada masa itu ditempuh melalui cerita lisan. Ekspresi lisan pun dideklamasikan begitu indahnya. Hal itu semata-mata karena bangsa Nusantara telah memposisikan estetika (keindahan) dalam kehidupannya.

Tak heran apabila pelajar Indonesia cenderung mentradisikan penyampaian gagasan secara lisan daripada tulis, karena pada hakikatnya tradisi lisan telah mengakar kuat beratus tahun lampau: sejak imperium Majapahit berjaya di wilayah khatulistiwa. Sementara tradisi tulis yang dewasa ini telah menjadi penanda kemodernan atau pun kemajuan telah digunakan oleh bangsa barat sejak kekalahannya di negeri Yerusalem pada Perang Salib.

Berawal dari periode monumental itulah bangsa barat menulis ulang sejarahnya demi terwujudnya pusaran peradaban yang bersinar di dataran Eropa. Bukankah sebelum kejayaan Eropa, bangsa-bangsa di Asia Tenggara—termasuk Indonesia dan Malaysia—sudah mengibarkan peradaban majunya? Namun, kenapa sekarang cenderung Asia Tenggara takluk pada Eropa? Intelektual muda, bergeraklah![]

Referensi

Dokumen terkait