• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Presidensial yang Efektif ser

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sistem Presidensial yang Efektif ser "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Sistem Presidensial yang

Efektif

Oleh :

(2)

Pengertian

Sistem presidensial (presidensial), merupakan

(3)

Menurut Rod Hague, pemerintahan presidensiil terdiri

dari 3 unsur yaitu:

Presiden yang dipilih rakyat memimpin pemerintahan dan

mengangkat pejabat- pejabat pemerintahan yang terkait.

Presiden dengan dewan perwakilan memiliki masa

jabatan yang tetap, tidak bisa saling menjatuhkan.

Tidak ada status yang tumpang tindih antara badan

eksekutif dan badan legislatif. Dalam sistem presidensial,

presiden memiliki posisi yang relatif kuat dan tidak dapat

dijatuhkan karena rendah subjektif seperti rendahnya

(4)

Ciri-ciri pemerintahan presidensial yaitu :

Dikepalai oleh seorang presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus

kepala negara.

Kekuasaan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasi rakyat

dan dipilih langsung oleh mereka atau melalui badan perwakilan rakyat.

Presiden memiliki hak prerogratif (hak istimewa) untuk mengangkat dan

memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan

non-departemen.

Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasaan eksekutif

(bukankepada kekuasaan legislatif).

Kekuasaan eksekutif tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan

legislatif.

(5)

Dilema Sistem Presidensial dan Multipartai di

Indonesia

Secara kelembagaan, Indonesia tidak murni menganut sistem presidensial. Di satu sisi, presiden

memiliki otoritas dan kekuasaan cukup substansial. Di sisi lain, dalam membuat dan

mengimplementasikan kebijakan-kebijakan, presiden masih sangat bergantung kepada parlemen.

Sistem presidensial kita memang dibangun di atas bayang-banyang sistem parlementer sehingga

perlu penataan ulang. Sistem multipartai secara teori sulit cocok dengan dengan sisitem presidensial

Undang-Undang Dasar (UUD) secara substansial juga cenderung mendorong sistem parlementer.

Dengan demikian sistem pemerintahan di Indonesia dikatakan menganut sistem presidensial semi parlementer.

Berbagai studi menunjukkan, paduan sistem presidensial dengan multipartai memang

problematik. Juan Linz dan Arturo Velenzuela (1994) berpendapat, sistem presidensial yang diterapkan di atas struktur politik multipartai (presidensial-multipartai) cenderung melahirkan konflik antara lembaga presiden dan parlemen serta menghadirkan demokrasi yang tidak stabil.

Pandangan ini diperkuat Scott Mainwaring dan Matthew Soberg Shugart (1997) bahwa

(6)

Penyederhanaan Sistem Kepartaian;

Antara Solusi dan Polemik Baru

Untuk mencapai sistem presidensial yang murni, setidaknya partai yang

bertarung dalam pemilu harus berjumlah kurang dari 10 partai, sebab partai

dalam jumlah yang banyak tidak akan pernah mampu memenuhi 50 persen

plus satu "Presidential Threshold" dan akhirnya harus berkoalisi

Upaya semacam ini bisa lebih mungkin dilakukan kalau threshold yang

diberlakukan di atas kisaran 10 persen atau bahkan 15 persen. Namun,

upaya semacam ini sering dianggap tidak ramah terhadap demokrasi karena

mengabaikan fakta tentang kemajemukan masyarakat yang memang kuat di

Indonesia sehingga tingkat keterwakilan politik sangat berkurang.

Permasalahan semacam itu semakin mengemuka karena, secara politik,

Indonesia pasca-Orde Baru memang telah mengarah pada situasi

(7)

5 Paket Strategi Penyederhanaan Sistem Parlemen

Pertama

, menerapkan sistem pemilu distrik (plurality/majority system) atau sistem

campuran (mixed member proportional). Penerapan sistem distrik, tepatnya sistem

First Past The Post (FPTP)—satu wakil dipilih dari setiap daerah pemilihan—

berdasarkan pengalaman beberapa negara terbukti ampuh mengurangi jumlah

partai.

Kedua

, memperkecil besaran daerah pemilihan (district magnitude). Strategi

memperkecil daerah pemilihan (dapil) secara evolutif juga akan menjadi katalisator

menuju penyederhanaan parpol. Semakin kecil besaran dapil dan semakin sedikit

jumlah kursi yang diperebutkan, semakin kecil pula peluang bagi partai gurem

mendapatkan kursi.

Ketiga

, menaikkan ambang batas kursi di parlemen (parliamentary threshold).

Peningkatan angka parliamentary threshold di Pemilu 2014 juga akan semakin

menyederhanakan parlemen. Jika parliamentary threshold diterapkan secara

konsisten, jumlah parpol akan terus berkurang secara alamiah sampai dengan

jumlah yang ideal, sekitar lima partai di parlemen. Keempat, selanjutnya perlu

penyederhanaan jumlah fraksi melalui pengetatan persyaratan ambang batas

(8)

Kelima

, tahapan selanjutnya, jika fraksi di parlemen masih lebih dari dua, fraksi di

DPR perlu direkayasa dan ”dipaksa” secara konstitusional menjadi dua blok politik

melalui regulasi koalisi permanen. Model dua kekuatan politik inilah strategi kita

menuju sistem ”dwipartai” di parlemen, yaitu hanya ada dua blok koalisi besar

permanen di parlemen: pendukung pemerintah dan di luar pemerintahan.

Tujuan utama menyederhanakan polarisasi kekuatan politik di parlemen menjadi

”dwipartai” agar proses politik lebih efisien dan stabil. Di luar itu pemerintahan

juga perlu didukung personalitas serta gaya kepemimpinan presiden yang kuat.

Dengan konstruksi presidensial seperti ini, harapannya proporsi energi politik

presiden untuk mengurus kesejahteraan rakyat jauh lebih besar ketimbang

disibukkan urusan bernegosiasi dengan partai, dengan begitu demokrasi akan lebih

(9)

Daftar Pustaka

Kerentanan Presidensial-Multipartai

, Hanta Yuda AR,

Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute. Kompas, 28

Juli 2010.

Sistem Presidensial, Bermasalah?

Kacung Marijan Guru

Besar FISIP Universitas Airlangga.

Kompas.com

, 28 Juli

2010.

Multipartai dalam sistem presidensial,

Budi

Setiawanto.

Antaranews.com

, 18 November 2013.

Sistem presidensial murni masih sulit diwujudkan

,

Referensi

Dokumen terkait