Sistem Presidensial yang
Efektif
Oleh :
Pengertian
•
Sistem presidensial (presidensial), merupakan
Menurut Rod Hague, pemerintahan presidensiil terdiri
dari 3 unsur yaitu:
•
Presiden yang dipilih rakyat memimpin pemerintahan dan
mengangkat pejabat- pejabat pemerintahan yang terkait.
•
Presiden dengan dewan perwakilan memiliki masa
jabatan yang tetap, tidak bisa saling menjatuhkan.
•
Tidak ada status yang tumpang tindih antara badan
eksekutif dan badan legislatif. Dalam sistem presidensial,
presiden memiliki posisi yang relatif kuat dan tidak dapat
dijatuhkan karena rendah subjektif seperti rendahnya
Ciri-ciri pemerintahan presidensial yaitu :
•
Dikepalai oleh seorang presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus
kepala negara.
•
Kekuasaan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasi rakyat
dan dipilih langsung oleh mereka atau melalui badan perwakilan rakyat.
•
Presiden memiliki hak prerogratif (hak istimewa) untuk mengangkat dan
memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan
non-departemen.
•
Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasaan eksekutif
(bukankepada kekuasaan legislatif).
•
Kekuasaan eksekutif tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan
legislatif.
Dilema Sistem Presidensial dan Multipartai di
Indonesia
• Secara kelembagaan, Indonesia tidak murni menganut sistem presidensial. Di satu sisi, presiden
memiliki otoritas dan kekuasaan cukup substansial. Di sisi lain, dalam membuat dan
mengimplementasikan kebijakan-kebijakan, presiden masih sangat bergantung kepada parlemen.
• Sistem presidensial kita memang dibangun di atas bayang-banyang sistem parlementer sehingga
perlu penataan ulang. Sistem multipartai secara teori sulit cocok dengan dengan sisitem presidensial
• Undang-Undang Dasar (UUD) secara substansial juga cenderung mendorong sistem parlementer.
Dengan demikian sistem pemerintahan di Indonesia dikatakan menganut sistem presidensial semi parlementer.
• Berbagai studi menunjukkan, paduan sistem presidensial dengan multipartai memang
problematik. Juan Linz dan Arturo Velenzuela (1994) berpendapat, sistem presidensial yang diterapkan di atas struktur politik multipartai (presidensial-multipartai) cenderung melahirkan konflik antara lembaga presiden dan parlemen serta menghadirkan demokrasi yang tidak stabil.
• Pandangan ini diperkuat Scott Mainwaring dan Matthew Soberg Shugart (1997) bahwa