PENILAIAN RISIKO BIAYA KONTRAK LUMPSUM DAN KONTRAK
UNIT PRICE MELALUI IMPLEMENTASI METODE AHP
(STUDI KASUS KONTRAKTOR DI KAB. TANAH DATAR)
ARTIKEL
Fhuji Thursina Efrijal
NPM. 1210018312003
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS BUNG HATTA
PENILAIAN RISIKO BIAYA KONTRAK LUMPSUM DAN KONTRAK UNIT PRICE MELALUI IMPLEMENTASI METODE AHP
(STUDI KASUS KONTRAKTOR DI KAB. TANAH DATAR)
Fhuji Thursina Efrijal, Nasfryzal Carlo dan Yusrizal Bakar
Program Studi Teknik Sipil, Program Pasca Sarjana Universitas Bunghatta
E-mail: [email protected]
ABSTRACT
For implementation of construction project, a contract is a standard bond between the project owner as a service user (owner) with implementers/ contractor as service provider. The contract verify form of cooperation, both in terms of technical, financial, time and in terms of law. The contract lumpsum and unit price contract have advantages and disadvantages of each that need to be considered for the contractor to determine the action to take on project major. Due to the influence of the research sites, social, cultural, and geographical conditions that would affect the risk of service providers through a lump sum contract and the unit price contract, the study aims to review the criteria for the risk undertaken by the research Suputra and Wirantha (2009) using the Analytic Hierarchy Process (AHP), with the expert choice software. The data collection is done by distributing questionnaires to the experts that are experienced and have knowledge of the issues contract lump sum contract unit price in the district Tanah Datar. Based on the result of the risk analysis, obtained 10 criteria that factor- significant risk factor about lumpsum contract and unit price contract, with the result of the risk priority order, the contract lumpsum obtained is the different with field site conditions specified in the contract has a value of 0,1829 or a weight 18,29%, while in the unit contract unit price showed less procurement of additional work (change orders) with a weight of 0,1608 or 16,08%. Therefore, be expected contractors to understand the types of contract before starting work.
Key work: Analytic Hirarcy Process (AHP), Expert Choice, Lumpsum Contract, Unit Price Contract
ABSTRAK
Pada pelaksanaan proyek konstruksi, kontrak merupakan ikatan baku antara pemilik proyek
selaku pengguna jasa (owner) dengan pelaksana/kontraktor selaku penyedia jasa. Kontrak
menjabarkan bentuk kerjasama, baik dalam hal teknik, finansial, waktu maupun dari segi hukum.
Kontrak lumpsum dan kontrak unit price memiliki kelebihan dan kekurangan masing- masing
yang perlu dijadikan bahan pertimbangan bagi kontraktor untuk menentukan tindakan dalam mengambil pekerjaan proyek. Dikarenakan adanya pengaruh lokasi penelitian, sosial, budaya, maupun kondisi geografis yang akan mempengaruhi risiko penyedia jasa melalui kontrak
lumpsum dan kontrak unit price, maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali kriteria risiko yang dilakukan oleh penelitian Suputra dan Wirantha (2009) menggunakan metode
terhadap masalah kontrak lumpsum dan kontrak unit price di Kab. Tanah Datar. Berdasarkan hasil analisis risiko tersebut, diperoleh bobot yang berbeda dengan penelitian terdahulu. Urutan
skala prioritas risiko pada kontrak lumpsum didapatkan kriteria risiko yaitu perbedaan kondisi
site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak dengan bobot sebesar 0,1829 (18,29%),
sedangkan pada kontrak unit price didapatkan kriteria pengadaan pekerjaan tambah kurang
(change order) dengan nilai bobot sebesar 0,1608 (16,08%). Disarankan kepada kontraktor untuk lebih memperhatikan kriteria risiko sebelum menentukan kontrak pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Kata kunci: Analytic Hierarchy Process (AHP), Expert Choice, Kontrak Lumpsum, Kontrak
Unit Price
PENDAHULUAN
Pemerintah Kabupaten Tanah
Datar setiap tahunnya mempergunakan
bidang jasa konstruksi untuk
pembangunan infrastruktur seperti
pembangunan gedung, jalan, irigasi, dll. Dengan pelaku bidang usaha adalah
kontraktor- kontraktor yang telah
berpengalaman dalam bidang konstruksi. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, kontrak merupakan ikatan baku antara pemilik proyek selaku pengguna jasa (owner) dengan pelaksana/kontraktor selaku penyedia jasa.
Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti- peneliti yang membahas kriteria- kriteria risiko yang berhubungan dengan sistem kontrak
lumpsum dan kontrak unit price. Adanya
perbedaan ini kemungkinan besar
dipengaruhi oleh lokasi penelitian,
sosial, budaya dan kondisi geografis
dimana penelitian itu dilakukan.
Menurut Gillin dalam Khrisna (2012), menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup
yang telah diterima, baik karena
perubahan kondisi geografis,
kebudayaan, dinamika dan komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di
dalam masyarakat. Berdasarkan hal
tersebut ada kemungkinan jika suatu penelitian dilakukan ditempat yang
berbeda akan menghasilkan kriteria risiko yang berbeda pula.
Untuk mengetahui kriteria risiko yang mempunyai pengaruh signifikan, serta mengetahui kriteria yang menjadi
skala prioritas terhadap kontrak lumpsum
dan kontrak unit price, digunakan
metode Analytical Hirarchy Process
(AHP) dengan menggunakan alat bantu
expert choice.
Menurut Wikipedia (02 Maret 2014), kata proyek berasal dari bahasa latin projectum, dari kata kerja proicere yang artinya "untuk membuang sesuatu ke depan". Kata awalnya berasal dari kata pro-, yang menunjukkan sesuatu yang mendahului tindakan dari bagian berikutnya dari suatu kata dalam suatu waktu(paraleldengan
bahasa Yunani πρό) dan kata iacere yang
artinya "melemparkan". Sehingga kata "proyek" sebenarnya berarti "sesuatu yang datang sebelum apa pun yang terjadi". Dalam bahasa Indonesia, kata proyek merupakan serapan dengan cara
penerjemahan dari bahasa asing project.
Menurut Budi Santoso dalam Somantri (2005), manajemen proyek
adalah kegiatan merencanakan,
mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan sumber daya organisasi perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu, dalam waktu tertentu, untuk
Manajemen proyek mempergunakan personil perusahaan untuk ditempatkan pada tugas tertentu dalam proyek.
Menurut Wulfram I. Ervianto dalam Somantri (2005), manajemen proyek adalah semua perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian, dan
koordinasi suatu proyek dari awal (gagasan) sampai selesainya proyek
untuk menjamin biaya proyek
dilaksanakan tepat waktu, tepat biaya dan tepat mutu.
Jadi manajemen proyek itu adalah
suatu kegiatan yang ada proses
perencanaanya, untuk mengarahkan
suatu sumber daya dan mendapatkan gagasan untuk menjamin pelaksanaan proyek tepat waktu, biaya dan mutu.
Menurut Asiyanto (2005), dalam
perspektif kontraktor risiko adalah
kemungkinan terjadinya sesuatu
keadaan/peristiwa/kejadian dalam proses kegiatan usaha, yang dapat berdampak negatif terhadap pencapaian sasaran usaha yang telah ditetapkan.
Secara umum risiko dapat
diklasifikasikan menurut berbagai sudut pandang yang tergantung dari kebutuhan dalam penanganannya (Rahayu, 2001) :
1) Risiko murni dan risiko spekulatif
(Pure risk and speculative risk)
Dimana risiko murni dianggap
sebagai suatu ketidakpastian yang dikaitkan dengan adanya suatu luaran (outcome) yaitu kerugian. Contoh risiko murni kecelakaan kerja di proyek. Karena itu risiko murni dikenal dengan nama risiko statis. Risiko spekulatif mengandung dua keluaran yaitu kerugian (loss) dan keuntungan (gain). Risiko spekulatif
dikenal sebagai risiko dinamis.
Contoh risiko spekulatif pada
perusahaan asuransi jika risiko yang dijamin terjadi maka pihak asuransi
akan mengalami kerugian karena
harus menanggung uang
pertanggungan sebesar nilai kerugian yang terjadi tetapi bila risiko yang dijamin tidak terjadi maka perusahaan akan meperoleh keuntungan.
2) Risiko terhadap benda dan manusia,
dimana risiko terhadap benda adalah risiko yang menimpa benda seperti rumah terbakar sedangkan risiko terhadap manusia adalah risiko yang menimpa manusia seperti risiko hari tua, kematian dsb.
3) Risiko fundamental dan risiko khusus
(fundamental risk and particular risk). Risiko fundamental adalah risiko yang kemungkinannya dapat timbul pada hampir sebagian besar anggota
masyarakat dan tidak dapat
disalahkan pada seseorang atau
beberapa orang sebagai penyebabnya, contoh risiko fundamental: bencana alam, peperangan. Risiko khusus adalah risiko yang bersumber dari
peristiwaperistiwa yang mandiri
dimana sifat dari risiko ini adalah tidak selalu bersifat bencana, bisa dikendalikan atau umumnya dapat diasuransikan.
Jenis risiko pada pelaksanaan proyek konstruksi beragam, namun tidak
semua risiko-risiko tersebut perlu
diprediksi dan diperhatikan untuk
memulai suatu proyek karena hal itu akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pihak-pihak didalam proyek kontruksi perlu untuk memberi prioritas pada risiko-risiko yang penting yang akan memberikan pengaruh terhadap
keuntungan proyek. Risiko-risiko
tersebut adalah (Wideman, 1992):
• External, tidak dapat diprediksi (tidak
a)Perubahan peraturan
perundangundangan, b)Bencana
alam: badai, banjir, gempa bumi, c) Akibat kejadian pengrusakan dan sabotase, d)Pengaruh lingkungan dan sosial, sebagai akibat dari proyek, e)Kegagalan penyelesaian proyek
• External, dapat diprediksi (tetapi
tidak dapat dikontrol):
a)Resiko pasar, b)Operasional
(setelah proyek selesai), c)Pengaruh
lingkungan, d)Pengaruh sosial,
e)Perubahan mata uang, f)Inflasi, g)Pajak
• Internal, non-teknik (tetapi umumnya
dapat dikontrol):
a)Manajemen, b)Jadwal yang
terlambat, c)Pertambahan biaya,
d)Cash flow, e)Potensi kehilangan atas manfaat dan keuntungan
• Teknik (dapat dikontrol):
a)Perubahan teknologi,
b)Risiko-risiko spesifikasi atas teknologi
proyek, c)Desain
• Hukum, timbulnya kesulitan akibat
dari :
a)Lisensi, b)Hak paten, c)Gugatan dari luar, d)Gugatan dari dalam, e) Hal-hal tak terduga
METODOLOGI PENELITIAN Pengumpulan Data
Untuk mencapai tujuan penelitian,
diperlukan beberapa instrument
penelitian baik dalam pengumpulan data maupun pengolahan atau analisa data. Adapun instrument yang digunakan sebagai berikut :
a. Studi Literatur
Kajian literatur ini akan diketahui kriteria- kriteria risiko yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kontrak
lumpsum dan kontrak unit price sebagai
bahan pembanding untuk penelitian
selanjutnya. Kriteria- kriteria ini
kemudian dijadikan kuisioner untuk dilakukan penyebaran kepada pihak-pihak yang terkait langsung dengan permasalahan yang ada.
b. Populasi dan Sampel
Populasi sasarannya adalah
kontraktor yang merupakan pihak-pihak
yang terlibat langsung dalam
penyelenggaraan proyek konstruksi di Kabupaten Tanah Datar. Sedangkan penentuan sampel penelitian digunakan
teknik Malhotra (1993) yaitu
memberikan panduan ukuran sampel yang diambil dapat ditentukan dengan cara mengalikan jumlah variabel dengan 5, atau 5x jumlah variabel. Dengan demikian jika jumlah variabel yang diamati berjumlah 20, maka sampel minimalnya adalah 5 x 20 = 100. Dengan berpedoman kepada Malhotra,
maka penulis mengambil jumlah
responden (pakar) minimal yang
digunakan adalah 50 responden, karena jumlah variabel yang dimiliki ada 10.
c. Kuisioner
Penyebaran kuisioner dilakukan dengan menentukan berapa sampling responden yang menjadi pakar yang telah berpengalaman dan mempunyai pengetahuan dalam masalah tersebut yaitu direktur, site manager, pelaksana
lapangan, PPK dan PPTK. Data
Setelah diketahui kriteria- kriteria yang memiliki pengaruh signifikan pada masing- masing jenis kontrak, maka tahap selanjutnya adalah tahap menganalisis data dengan menggunakan
metode Analytc Hierarcy Process
(AHP), merupakan suatu cara untuk
mempercepat pengambilan keputusan dalam suatu susunan hirarki. Untuk itu digunakan alat bantu yang dinamakan
expert choice, yaitu untuk menentukan bobot dari kriteria risiko dan skala prioritas dari masing- masing kontrak tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah melakukan tahap- tahap
seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, maka didapatkan hasil
nilai bobot kriteria dari kontrak
lumpsum dan kontrak unit price yaitu tergambar dalam gambar 1 dan 2 dibawah ini:
Gambar 1. Grafik Bobot Kriteria Kontrak Lumpsum
Gambar 1. Grafik Bobot Kriteria Kontrak Unit Price
Berdasarkan grafik di atas
didapatkan nilai CR sebesar 0,0448 atau
4,48% untuk kontrak lumpsum, dan
Berdasarkan hasil yang
didapatkan dari proses pengolahan data, digambarkan bahwa nilai bobot yang paling besar berada pada posisi X1 yaitu perbedaan kondisi site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak, dengan nilai bobot sebesar 0,1829 atau
18,29% untuk kontrak lumpsum. Hal ini
disebabkan karena perubahan atau perpindahan lokasi yang disebabkan oleh masalah sosial seperti pada saat
Skala Definisi Keterangan (misalkan) 1 Sama-sama
disukai/penting
Elemen 1 dan 2 sama-sama disukai/penting.
3 Cukup
disukai/penting
Elemen 1 cukup disukai/- penting dibanding elemen 2.
5 Lebih
disukai/penting
Elemen 1 lebih disukai/- penting dibanding elemen 2.
7 Sangat disukai/penting
Elemen 1 sangat disukai/- penting dibanding elemen 2.
9 Mutlak disukai/penting
Elemen 1 mutlak disukai/- penting dibanding elemen
Asumsi yang masuk akal
Perbedaan kondisi site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak (X1) .147 Pengadaan pekerjaan tambah kurang (change order) (X2) .167 Lingkup kerja yang tidak lengkap, tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi, misalny... .157 Sifat proyek dalam lingkup kerja yang masih baru atau belum pernah dilaksanakan seb... .137 Perubahan, penundaan schedule pekerjaan atas permintaan atau interupsi owner (X5) .108 Kelemahan dalam pengendalian penerimaan pembayaran, misalnya pembayaran peke... .088 Kenaikan harga-harga di pasar (X7) .068 Pekerjaan ulang (rework) yang disebabkan oleh perubahan desain (X8) .050 Kelebihan jumlah material yang didatangkan (waste) lebih besar dari perkiraan (X9) .043 Perubahan ruang lingkup pekerjaan (X10) .036 Inconsistency = 0.08
Perbedaan kondisi site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak (X1) .183 Pengadaan pekerjaan tambah kurang (change order) (X2) .165 Lingkup kerja yang tidak lengkap, tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi, misalny... .131 Sifat proyek dalam lingkup kerja yang masih baru atau belum pernah dilaksanakan seb... .118 Perubahan, penundaan schedule pekerjaan atas permintaan atau interupsi owner (X5) .093 Kelemahan dalam pengendalian penerimaan pembayaran, misalnya pembayaran peke... .077 Kenaikan harga-harga di pasar (X7) .065 Pekerjaan ulang (rework) yang disebabkan oleh perubahan desain (X8) .061 Kelebihan jumlah material yang didatangkan (waste) lebih besar dari perkiraan (X9) .059 Perubahan ruang lingkup pekerjaan (X10) .047 Inconsistency = 0.04
kesulitan dalam pembebasan lahan. Dikabupaten Tanah Datar kepemilikan lahan tersebut kebanyakan berstatus kepemilikan bersama seperti tanah kaum, dan masalah tanah adalah masalah yang sensitif bagi manusia
pada umumnya dan masyarakat
Minangkabau khususnya (Irwandi,
2010). Dan pada kontrak unit price
bobot terbesar berada pada posisi X2 yaitu pengadaan pekerjaan tambah kurang (change order) dengan nilai bobot 0,1608 atau 16,08%, hal ini
disebabkan karena berdasarkan
pengalaman yang telah dilakukan oleh kontraktor, apabila mengalami kesulitan dalam pembebasan lahan, maka akan diadakan perubahan desain pada lahan yang baru, sesuai dengan kebutuhan
owner, dan itu akan berakibat penambahan durasi pekerjan proyek.
Apabila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suputra
dan Wiranatha (2009) di Kota
Denpasar, nilai bobot terbesar berada pada posisi X3 (lingkup kerja yang tidak lengkap, tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi, misalnya batas-batas lingkup kerja yang kurang jelas dalam hal material) dengan bobot sebesar 0,1820 atau 18,20%. Sementara
berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan, untuk X3 berada pada posisi
urutan ketiga untuk kontrak lumpsum
dan urutan kedua untuk kontrak unit
price. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan awal yang lebih baik dan sempurna apabila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan di Kota Denpasar.
Sedangkan posisi X1 (perbedaan kondisi site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak) yang menjadi bobot terbesar pada penelitian kami dari kontrak lumpsum, berada pada urutan
kedua pada penelitian yang dilakukan oleh Suputra dan Wiranatha (2009), hal ini disebabkan karena kondisi topografi wilayah pada Kabupaten Tanah Datar
mempunyai kontur daerah yang
berbukit- bukit, dibandingkan dengan Kota Denpasar yang relatif datar.
Pada kontrak unit price nilai bobot terbesar berada pada posisi X2 (pengadaan pekerjaan tambah kurang
(change order), sedangkan dari
penelitian sebelumnya posisi X2 ini berada pada urutan ketujuh, hal ini disebabkan karena pada Kab. Tanah Datar perencanaan yang dilakukan kurang baik, sehingga pada saat pelaksanaan proyek tidak diketahuinya bagaimana kondisi lapangan tersebut.
KESIMPULAN
Penelitian ini menyimpulkan
bahwa:
1. Hasil analisis metode AHP dengan
menggunakan software expert
choice, terdapat kriteria- kriteria
risiko yang memiliki pengaruh
signifikan terhadap masing- masing
jenis kontrak, seperti yang
Tabel 1. Bobot Risiko Kontrak Lumpsum
Tabel 2. Bobot Risiko Kontrak Unit Price
2. Urutan skala prioritas risiko yang
didapatkan dari hasil adalah yang mempunyai nilai bobot terbesar.
Pada kontrak lumpsum didapatkan
hasil yaitu perbedaan kondisi site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak mempunyai nilai bobot sebesar 0,1829 atau sebesar 18,29%, sedangkan pada kontrak
unit price didapatkan hasil pengadaan pekerjaan tambah kurang (change order) dengan nilai bobot sebesar 0,1608 atau 16,08%.
SARAN
1. Disarankan kepada kontraktor agar
berhati- hati dalam memilih jenis kontrak pada pekerjaan yang akan
dijalani, memperhatikan dengan
cermat gambar pelaksanaan dan kondisi lapangan, serta petunjuk teknis tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan, agar tidak adanya kesalahan dalam pembacaan gambar dan pelaksanaan pekerjaan.
2. Untuk penelitian lebih lanjut
diharapkan dapat dilakukan pada kawasan yang lebih luas seperti tingkat Provinsi Sumatera Barat, karena penelitian ini baru hanya
dilakukan setingkat Kabupaten
Tanah Datar.
DAFTAR PUSTAKA
Asiyanto. 2005. Manajemen Produksi
Untuk Jasa Konstruksi, Pradnya Paramita, Jakarta.
Khrisna, Praditya. 2012. Perubahan
Sosial Budaya. Balikpapan.
Irwandi. 2010. Pergeseran Hukum Adat
dalam Pemanfaatan Tanah Ulayat Kaum di Kecamatan Banu Hampu Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat.
Universitas Diponegoro.
No. Kriteria Bobot
1. Perbedaan kondisi site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak
0,1829
2. Pengadaan pekerjaan tambah kurang (change order)
0,1621
3. Lingkup kerja yang tidak lengkap, tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi, misalnya batas-batas lingkup kerja yang kurang jelas dalam hal material
0,1296
4. Sifat proyek dalam lingkup kerja yang masih baru atau belum pernah dilaksanakan sebelumnya, dengan tingkat kesulitan konstruksi tertentu
0,1177
5. Perubahan, penundaan schedule pekerjaan atas permintaan atau interupsi owner
0,0942
6. Kelemahan dalam pengendalian penerimaan pembayaran, misalnya pembayaran pekerjaan yang tidak tepat pada waktunya
0,0774
7. Kenaikan harga-harga di pasar 0,0659 8. Pekerjaan ulang (rework) yang disebabkan
oleh perubahan desain
10. Perubahan ruang lingkup pekerjaan 0,0478
No. Kriteria Bobot
1. Pengadaan pekerjaan tambah kurang (change order)
0,1608
2. Lingkup kerja yang tidak lengkap, tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi, misalnya batas-batas lingkup kerja yang kurang jelas dalam hal material
0,1507
3. Perbedaan kondisi site lapangan dengan yang tercantum dalam kontrak
0,1479
4. Sifat proyek dalam lingkup kerja yang masih baru atau belum pernah dilaksanakan sebelumnya, dengan tingkat kesulitan konstruksi tertentu
0,1342
5. Perubahan, penundaan schedule pekerjaan atas permintaan atau interupsi owner
0,1086
6. Kelemahan dalam pengendalian penerimaan pembayaran, misalnya pembayaran pekerjaan yang tidak tepat pada waktunya
0,0905
7. Kenaikan harga-harga di pasar 0,0718 8. Pekerjaan ulang (rework) yang disebabkan
oleh perubahan desain
Semarang.
Naresh. Malhotra K. 1993. Marketing Research An Applied Orientation, second edition, Prentice Hall International Inc, New Jersey.
Rahayu, P.H. 2001. Asuransi
Contractor’s All Risk sebagai Alternatif Pengalihan Risiko Proyek Dalam Industri Konstruksi Indonesia. Seminar Nasional Manajement Konstruksi
2001. Fakultas Teknik Universitas
Katolik Parahyangan. Bandung.
Retnoningsih, Dwi. Pemanfaatan
Aplikasi Expert Choice Sebagai Alat Bantu dalam Pengmbilan Keputusan (Studi Kasus: Pemilihan Program Studi di Universitas Sahid Surakarta).
Program Studi Teknik
Informatika. Universitas Sahid Surakarta.
Somantri, Agus. 2005. Studi tentang
Perencanaan Waktu dan Biaya Proyek Penambahan Ruang Kelas di Politeknik Manufaktur pada PT. Haryang Kuning. Fakultas
Bisnis dan Manajemen.
Universitas Widyatama.
Suputra, I Gusti Ngurah Oka. 2009
Analisa Perbandingan Resiko Biaya Kontrak Lump Sum Dan Kontrak Unit Price Dengan Metode AHP (Studi Kasus Kontraktor Di Kota Denpansar). Universitas Udayana, Denpasar. Wideman, Max. R. 1992. Project and
Program Risk Management: A Guide to Managing Project Risk
Opportunities. Project
Manajement Institute. America.
Wikipedia.http://id.wikipedia.org/wiki/