1 Dahlia Vera Aruan, Makalah Akhir Semester, Konsentrasi 1 dan Kontekstualisasi 1, Simon Rachmadi.
SAKRAMEN, CARA ALLAH MERENGKUH KERAPUHAN MANUSIA, MENURUT HENRY NOUWEN
PENDAHULUAN
Kerapuhan adalah bagian dari diri manusia, menyatu dengan identitas dan hakikat diri. Walaupun kesadaran itu dimiliki semua orang, kerapuhan tetap ditolak, diabaikan, dan ditekan. Gambaran diri yang ideal justru dijauhkan dari kerapuhan. Kerapuhan bagaikan sisi gelap yang sulit diterima dalam impian untuk menjadi sempurna. Kerapuhan menimbulkan rasa takut, terluka, malu, dan sakit yang begitu kuat sehingga acap kali manusia menolak kerapuhannya. Manusia disibukkan dengan prestasi, persaingan, yang dianggap sebagai cara untuk menentukan citra diri ideal dan jika hal tersebut tidak teraih maka yang muncul adalah penolakan, bahkan terhadap diri sendiri. Kerapuhan yang ditolak, diabaikan, dan ditekan akan membuat manusia semakin jauh dari pengenalan diri untuk membangun relasi yang sehat dengan dirinya, sesama, dan Allah.
Sakramen, cara Allah merengkuh kerapuhan manusia, judul yang saya pilih untuk menyelesaikan tugas akhir semester dalam mata kuliah konsentrasi satu dan kontekstualisasi satu. Melalui paper ini saya ingin menguraikan bahwa kerapuhan adalah bagian dari diri kita yang harus direngkuh dengan cinta Allah. Kerapuhan tidak diabaikan tetapi dirayakan dan Allah mengundang kita untuk merayakannya di dalam perayaan sakramen. Ketika kerapuhan diterima dan dirayakan dalam sakramen maka kerapuhan menjadi kekuatan yang
mengubahkan (transformasi), memberi pengharapan untuk melawan sikap fatalistik. Di dalam paper ini saya mencoba untuk menemukan cara yang begitu dekat, intim dengan kehidupan kekristenan untuk merangkul kerapuhan di dalam cinta Allah yaitu lewat perayaan sakramen. Perayaan sakramen yang setiap kali diselenggarakan adalah cara Allah
perayaan hidup di dalam kerapuhan. Pendekatan Nouwen didasarkan pada pengalamannya, hidup diantara mereka yang tertindas, miskin, menderita, dan disable, yang membuat
tulisannya bukan sekedar pendekatan ilmiah tetapi pengalaman riil yang begitu dekat dengan manusia.
KERAPUHAN
Apa itu kerapuhan? Bagaimana kita mengerti kerapuhan? Kristine A.Culp
menuliskan, di dalam bahasa Latin kerapuhan (vulnerability) akar katanya menunjuk pada luka-luka (wounds) dan melukai (wounding) (Culp 2010, 3). Menurutnya kekristenan tidak asing dengan kerapuhan dan telah menjadi bagian diskusi teologi (Culp 2010, 3). Menurut saya luka bukan saja dipahami dengan kelemahan fisik sebagai bentuk kerapuhan tubuh tetapi juga karena pengalaman yang mengecewakan, menyedihkan, kesepian, dan keterasingan. Mengacu pada pengalaman Nouwen yang hidup di antara komunitas disabel L’Arche, sesaat apa yang dipahami sebagai kerapuhan nampak begitu jelas dari kelemahan fisik para
penyandang disabel tetapi Nouwen mengajak kita untuk melihat lebih dalam dari sekedar apa yang nampak pada kondisi fisik. Kerapuhan mereka bukan sekedar ditandai dengan fisik yang lemah tetapi juga dengan pengalaman yang mendukakan, kehilangan, kesepian, dan penolakan. Hal ini diungkapkan Nouwen lewat perkenalan pertamanya dengan Adam dan penghuni komunitas disabel L’Arche lainnya.
Saya diminta merawat Adam, seorang laki-laki berumur dua puluh dua tahun yang tidak berbicara, tidak dapat berjalan sendiri, dan tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia bisa mengerti. Punggungnya bengkok, menderita serangan epilepsi setiap hari, dan kerap kali sakit di ususnya. Nouwen juga berkenalan dengan Michael, kakak Adam. Michael bisa berbicara sedikit, berjalan sendiri, bahkan bisa menyelesaikan beberapa tugas kecil tetapi ia menderita keterbelakangan mental yang berat dan terus-menerus memerlukan perhatian untuk melewati hari demi hari. Ada Tracy yang lumpuh total, tetapi mempunyai otak cemerlang. Susanne yang tidak hanya mengalami keterbelakangan mental, tetapi selalu diganggu oleh suara-suara batin yang tidak terkontrol. Ada Loretta yang, akibat kekurangannya, merasa dirinya tidak diinginkan oleh keluarga dan teman-temannya. (Nouwen 2002, 29-31)
atau menikah atau habis izin kerjanya, dan lain-lain (Nouwen 2002, 85). Rasa kehilangan yang membuat mereka rapuh, merasa sebagai pribadi yang tidak diinginkan. Hal yang sama juga dialami dan dirasakan Nouwen lewat pengalaman mendukakan, kesepian, kehilangan yang menjadikannya rapuh.
Tetapi sekarang saya tahu, penderitaan saya adalah milik saya sendiri dan tidak akan meningalkan saya. Sesungguhnya saya pun tahu, semua penderitaan itu adalah penderitaan yang berlangsung sangat lama dan sangat dalam. Tidak ada cara berfikir positif atau optimis apa pun yang dapat mengurangi itu. Gejolak masa muda untuk menemukan seseorang yang mencintai saya tetap ada. Kebutuhan yang tidak terpenuhi untuk diakui sebagai seorang muda yang dewasa tetap hidup dalam diri saya. Kematian ibu saya dan banyak anggota keluarga lainnya, juga teman-teman pada tahun-tahun terakhir ini menyebabkan kesedihan saya yang berkepanjangan. Di atas semuanya itu, saya merasakan penderitaaan amat dalam karena saya tidak dapat menjadi apa yang saya inginkan; juga karena saya telah berdoa begitu banyak kepada Tuhan, tetapi tidak mengabulkan apa yang paling saya dambakan. (Nouwen 2002, 32) Mgr.I Suharyo dalam pengantarnya menuliskan bahwa Nouwen berjuang memasuki
kehidupan L’Arche, berhadapan dengan kerapuhannya dengan perubahan drastis yang ia alami.
Buku hariannya The Road to Daybreak menunjukan betapa berat perjuangannya untuk melupakan masa lampaunya yang membuat namanya harum dan terkenal, untuk menghayati kehidupan baru di mana ia bukan apa-apa. Banyak bagian dari buku itu mengungkapkan kebingungan, ketakutan, kesepian, karena sebagian besar pengalamannya adalah pengalaman kegelapan. (Nouwen 2008, 15)
Pengalaman yang sama juga dirasakan Jean Vanier sebagai pendiri L’Arche. Membangun relasi dengan penyandang disabel membuat ia bersentuhan dengan kerapuhan yang ada dalam dirinya.
If, at times, some people with disabilities awakened a new tenderness in me, and it was a joy to be with them, at different moments others awakened my anger and defensiveness. I was frightened that they might touch my vulnerability. (Vanier 2013, 34)
Kerapuhan adalah sisi gelap yang peka dan sensitif untuk disentuh maka kecenderungan orang ingin menjauhinya, disimpan dalam rahasia hati yang tidak perlu diangkat, dibicarakan, dan diakui tetapi kemudian Vanier sendiri menyadari bahwa sisi gelap harus diangkat ke permukaan menuntut jawaban.
humbler. I discovered that I was frightened of my own dark places, always wanting to succeed, to be admired and ready with the right answers. I was hiding my poverty. (Vanier 2013, 34)
Menerima sisi gelap diri adalah cara yang bukan saja memulihkan diri tetapi juga berdampak memulihkan relasi yang lebih luas, relasi dengan sesama dan juga dengan Allah.
I had to learn to accept myself without any illusions. I had to discover how to forgive and discover my own need for forgiveness. Little by little, the weak and the powerless helped me to accept my own poverty, become more fully human and grow in inner wholeness. (Vanier 2013, 35)
Pengalaman demi pengalaman bersama dengan penyandang disabel membawa Vanier dan Nouwen bersentuhan dengan kerapuhan diri mereka. Sentuhan itu bukan sekedar
menyadarkan tetapi juga menuntun kepada keberanian untuk mengakui dan merengkuh kerapuhan sebagai bagian dari diri yang dicinta Allah. Pengalaman itulah yang kemudian melahirkan kedamaian batin sebagai cara berdamai dengan kegelisahan karena kerapuhan. Bagi Nouwen menjumpai sesama dalam penderitaan dan perjuangannya adalah perjalanan yang mendatangkan kedamaian.
Sekarang bagi saya menjadi jelas bahwa semakin Anda turun, semakin mata anda terbuka terhadap ketidakberdayaan manusia … Jalan kasih yang geraknya turun, jalan untuk sampai kepada orang-orang miskin, tidak berdaya, tertindas, menjadi jalan naik sampai kepada kegembiraan, damai sejahtera, dan hidup yang baru. (Nouwen 2008, 18)
Dengan demikian kedamaian batin dapat kita raih lewat pengalaman berjumpa dan merengkuh kerapuhan seiring dengan kesediaan kita menyambut kerapuhan orang lain. Kerapuhan bagian dari identitas setiap orang dan identitas itu menjadi retak ketika kerapuhannya ditolak. Nouwen mengatakan setelah bertahun-tahun saya sadar, bahwa perangkap paling besar dalam hidup kita bukanlah keberhasilan, popularitas atau kekuasaan, melainkan penolakan diri (Nouwen 2008, 47). Ia melanjutkan bahwa penolakan itu membuat ia mempersalahkan dirinya sendiri terhadap setiap kritik yang diajukan kepadanya. Sisi gelap dalam diri saya berkata,”Saya tidak berarti … pantas kalau saya disingkirkan, dilupakan, ditolak, dan ditinggalkan.” (Nouwen 2008, 48). Penolakan justru membuat kita sulit
dan menghasilkan kedamaian batin, kerendahan hati, dan penerimaan. Meneguhkan setiap pribadi sebagai pribadi yang dicinta dan dipanggil untuk mencinta dalam setiap relasi.
KETIKA KERAPUHAN MENJADI KEKUATAN
Kesadaran bahwa setiap orang memiliki kerapuhannya sering kali membuat kita bersikap mendua. Pertama, bersikap menerima kerapuhan sebagai bagian dari penciptaan diri seperti yang dituliskan di Alkitab. Alkitab menuliskan bahwa manusia sebagai ciptaan
diciptakan dari debu dan tanah, sebagai tanda kerapuhannya. Alkitab sarat dengan kisah kerapuhan manusia antara lain kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketidakberdayaan, pembuangan Israel, kesakitan, dan penolakan. Di tengah kejayaan seorang raja seperti Daud pun, Alkitab menunjukkan kerapuhannya yang jatuh dalam dosa perzinahan. Seorang rasul Tuhan yang amat terkenal seperti Paulus adalah seorang yang rapuh. Murid yang dikasihi Yesus, mengkhianati-Nya. Setiap tokoh di Alkitab diceritakan kisah kerapuhannya seiring dengan keberhasilannya. Kerapuhan manusia sejak awal telah diangkat, diterima, dan dijawab Allah lewat pengalaman demi pengalaman manusia dengan Allah dan sesama baik secara personal maupun komunal.
Kedua, menolak kerapuhan karena keinginan untuk menjadi hebat dalam segala hal. Manusia menyadari bahwa setiap ciptaan itu rapuh tetapi kesadaran itu justru mendorong orang
berjuang melawan kerapuhan dengan upaya meraih kesuksesan, popularitas, dan kemewahan materi. Di dalam diri manusia terdapat keinginan untuk menjadi sempurna (sekali pun itu tidak mungkin) dan kerapuhan dianggap sebagai halangan, hambatan untuk meraih
kesempurnaan itu. Dengan demikian ada usaha untuk menyembunyikan, mengabaikan, dan menekan kerapuhan.
First, ‘life before God’ indicates a locus of theological reflection, a field of sytematic inquiry. Second, ‘life before God’ designates the space of existence as encompassed and indwelt by the transforming reality of God. ‘Before God’ or coram Deo, ‘in the sight or presence of God,’ is phrase often associated with Martin Luther. This is a space constituted by the relation between God and cosmos and among God and creatures in their individuality, sociality, and interdependence. (Culp 2010, 4-6) Nouwen menawarkan lima langkah di masa-masa sulit untuk dapat merangkul kerapuhan diri yaitu pertama, keluar dari diri kita yang kerdil menuju dunia yang lebih besar; kedua,
melepaskan genggaman dengan rela; ketiga, melangkah dari fatalisme menuju pengharapan; keempat, dari manipulasi menuju kasih; dan kelima, dari kematian yang menakutkan menuju hidup yang bersukacita (Nouwen 2004, 5).
Nouwen menegaskan langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghadapi. Menghadapi berarti memberanikan diri untuk masuk dalam penderitaan dan berproses di dalamnya. Jalan keluar dari rasa kehilangan dan penderitaan adalah dengan memasuki dan melaluinya (Nouwen 2004,24). Dan berdasarkan pengalamannya, Nouwen mengatakan, saya cenderung tidak menyangkal penderitaan saya ketika mempelajari bagaimana Allah
memakainya untuk membentuk saya dan membawa saya lebih dekat kepada-Nya, melihatnya sebagai cara Allah untuk siap menerima-Nya (Nouwen 2004, 31). Langkah berikutnya adalah kesediaan untuk melepas dengan kerelaan. Sungguh suatu paradoks bahwa dalam kerelaan untuk melepaskan, kita justru akan menerima. Kita menemukan rasa aman di tempat berisiko yang sebelumnya tidak kita perkirakan (Nouwen 2004, 50).
Ia melanjutkan bahwa kenyakinan yang mengatakan bahwa kita seharusnya menggenggam erat-erat sesuatu yang kita butuhkan, justru akan menjadi sumber utama kesedihan kita. Sebaliknya, kerelaan untuk melepaskan harta benda, rencana, dan orang-orang, memampukan kita untuk memasuki suatu kehidupan baru, dengan segala resikonya. Dan, kita justru menemukan kebebasan yang tak terduga. (Nouwen 2004, 52)
Langkah ketiga adalah menolak fatalisme karena pengaruhnya yang akan membawa kita pada sikap menolak penyembuhan. Kita menjadi sandera dari keputusasaan yang memaksa kita berfikir bahwa tak ada lagi yang bisa dilakukan. Nouwen menegaskan fatalisme mendorong kita bersi-kukuh menggenggam perkara lama, membuat kita menjadi keras kepala dan tidak bersedia mempertimbangkan apa pun selain pengalaman kecil kita dan pada akhirnya
penuh pengharapan. Orang-orang beriman mengizinkan hal-hal baru terjadi dan bersedia memikul tanggung jawab yang timbul dari berbagai kemungkinan yang belum pernah terjadi (Nouwen 2004, 88). Beriman berarti berjalan dan berjuang bersama Allah. Langkah keempat, keluar dari kesedihan diri dan mendorong diri masuk dalam penderitaan orang lain dengan sikap berbelas kasihan. Sikap belas kasihan lebih dari perasaan simpatik terhadap penderitaan orang lain. Belas kasihan mempunyai akar kata yang sesungguhnya berarti “ikut menderita”; maka berbelaskasihan berarti berbagi dalam pergumulan ‘penderitaan’ orang lain (Nouwen 2004, 108). Di tengah penderitaan yang kita alami bukalah hati untuk ikut merasakan penderitaan orang lain bukan dengan cara lari dari penderitaan tetapi ikut menyelami rasa duka dan sakit yang dialami orang lain. Kesediaan untuk berbelas kasihan menempatkan diri sebagai berkat bagi orang lain dan itu menimbulkan perasaan dibutuhkan, diterima, baik bagi kita dan sesama. Tomas Merton seperti yang dikutip Nouwen mengatakan, semua perbuatan baik yang hendak Anda lakukan tidak berasal dari diri Anda sendiri, tetapi dari kemauan Anda untuk dipakai oleh kasih Allah dalam ketaatan iman (Nouwen 2004, 118).
Langkah kelima, kehidupan adalah latihan untuk menghadapi kematian.
Nouwen menjelaskan bahwa makna kefanaan yang sebenarnya: berlatih untuk menghadapi kematian, untuk memutuskan ikatan perbudakan dengan masa lalu, jadi kematian bukan lagi suatu hal yang mengejutkan, tetapi suatu gerbang terakhir yang menuntun kita untuk menjadi manusia seutuhnya. (Nouwen 2004, 151)
Mempersiapkan kematian bukan bentuk keputusasaan tetapi lewat kematian kita dapat melihat kehidupan dengan cara baru bahkan perjuangan melewati hari-hari menuju saat kematian. Belajar menghadapi kematian juga berarti menjalani hidup setiap hari dengan penuh kesadaran bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang kasih-Nya lebih kuat daripada maut (Nouwen 2004, 157). Kematian berarti sama artinya menyerahkan diri kita,
memercayakan diri kepada Allah (Nouwen 204, 171).
God desires to relate to us because it is in God’s very nature to do so. In the great mystical theology of the anonymous sixth-century writer Pseudo-Dionysius, which exercised such a powerful influence on the history of Christian spirituality, God is revealed in an outpouring into the cosmos and into human hearts of being, love, and creativity. (Sheldrake 1994, 36)
Yesus berhadapan dengan penderitaan, pengkhianatan, salib, menyelami kerapuhan manusia menjadi bagian dari pengalaman kerapuhan-Nya. Ia adalah Allah yang rapuh karena cinta-Nya kepada umat yang rapuh. Ketika kerapuhan dirangkul, ditebus dengan cinta Allah maka kerapuhan berubah menjadi kekuatan. Ketika kita melihat semua pengalaman kita ada di hadapan Allah maka kita merasakan cinta Allah, kita memberi makna terhadap kerapuhan sebagai cara Allah membentuk, mentrasformasi kehidupan kita. Hal senada dituliskan Nouwen dengan proses lima langkahnya. Tahapan Nouwen menolong kita untuk melihat lapisan demi lapisan mengelola pengalaman menyakitkan, mendukakan menjadi pengalaman yang menguatkan. Allah menjadi sumber kekuatan manusia untuk mengelola kerapuhannya. Allah yang mencinta dan di dalam cinta-Nya, Ia menolong manusia mengelola pengalaman paling menyakitkan menjadi kekuatan yang mengubah manusia. Kerapuhan diterima menjadi sebuah perayaan hidup dalam berelasi dengan Allah dan sesama, menjadi liturgi yang
mengiringi setiap perjuangan hidup.
ASING DAN KETERASINGAN
perumpamaan orang Samaria. Menderita, hampir mati, tapi diacuhkan karena ia ditempatkan sebagai orang asing, orang di luar komunitas. Selama seseorang menjadi orang asing, terasing dari komunitasnya maka ada jurang yang memisah kita untuk menyatu dengan kerapuhan orang lain. Keterasingan adalah hambatan untuk mengelola kerapuhan menjadi kekuatan. Kata asing dapat berdampak pada tindakan kekerasan. Jurgen Moltmann seperti dikutip oleh Kenith A. David menggambarkan dengan kengerian untuk sampai pada kesimpulan: “All self-isolation leads to violence” (David 1994, 93).
Today we often speak of ‘types of sinners,’ of ‘natural alliances,’ of ‘our kind of people,’ and of ‘national interest.’ These phrases indicate that we struggle to not only know who others are, but what kind of others they are. The phrases indicate that we live in a world of increasing classification and limited responsibilities. They indicate that the possibility of establishing our common humanity is eroding, that we have increased the number of people we perceive as enemies. (Sutherland 2006, 25) Pengamatan yang sama dituliskan Chuck and Kathie Crismier,
Even pastors now have a few friends; only 30 percent of them will admit having any friends at all. Many folks are experiencing what one sociologist called ‘crowded loneliness’-they are sorrounded by people but ‘lost in the crowd.’ There is an absence of heart connectedness, a deep feeling that no one knows my name, or even cares. (Crismier and Crismier 2005, 14)
Keterasingan menjadi hambatan untuk mengelola kerapuhan menjadi kekuatan. Keterasingan harus diatasi dengan keramahan (hospitality) untuk menyambut, menerima setiap orang dengan tangan dan hati yang terbuka. Keramahan adalah sikap kasih sekaligus keberanian untuk merengkuh kerapuhan setiap pribadi tanpa batas. Komunitas yang ramah menjadi tempat terbaik bagi setiap pribadi mengalami pertumbuhan. Nouwen menuliskan dalam bukunya Adam, Ia mengisahkan bagaimana Adam dan keluarga berjuang bersama untuk menemukan komunitas yang menyambut, merawatnya dengan keramahan, keterbukaan dalam cinta. Dibutuhkan waktu lebih dari 5 tahun bagi Adam untuk mencari rumah,
komunitas yang tepat bagi Adam, tempat di mana dia menghadirkankan karunianya dan hadir dalam komunitas yang unik (Nouwen 1997, 38). Ketika komunitas menciptakan penerimaan dan kehangatan maka kerapuhan dapat diubah (transformasi) menjadi kekuatan.
kondisi paling rapuh karena keterbukaan dapat melukai. Kesediaan untuk menjadi rapuh dalam rangka menyambut setiap orang adalah panggilan iman kekristenan seperti Yesus bersedia menjadi rapuh dalam cinta-Nya yang merangkul, menyambut, dan memulihkan. Letty M Russell mengingatkan bahwa jemaat adalah milik Kristus yang dipanggil untuk menyatakan kasih Kristus bagi dunia.
The ministry is not ours. Nor does it belong to the church. Rather the ministry of service to humankind is the ministry of God in Christ reconciling the world. The church is invited to participate in that ministry. (Russell 2009, 15)
Penerimaan harus menjadi semangat gereja karena kasih Kristus menjadi dasar dan penggeraknya. Ministry in such a church would be a roundtable ministry that seeks to be open to those at the margins of church and society (Russell 2009, 16). Kristus telah memulainya, mengutus Gereja untuk memelihara keramahan, penerimaan dalam hidup bersama. Gereja adalah komunitas di mana setiap orang di sambut, menjadi tempat kerapuhan dan sekaligus tempat bagi setiap orang bertumbuh. Community is a wonderful place, it is live-giving; but it is also a place of pain because it is a place of truth and of growth-the revelation of our pride, our fear, and our brokenness (Vanier 1992, 10-11). Vanier
merefleksikannya berdasarkan pengalamannya ketika ia hidup bersama dengan Raphael dan Philip, penyandang disabilitas, ia merawat mereka, membangun relasi dengan mereka dalam kerapuhannya. Dan dari sinilah kemudian didirikan komunitas L’Arche, tempat merawat para disabilitas, dan beberapa tempat di dunia (Vanier 1992, 11).
Keramahan bukan sekedar menerima tetapi juga memberi ruang bagi orang asing bertumbuh menurut caranya. Ruang yang memerdekakan orang asing menjadi dirinya sendiri. Keramahan artinya kesediaan kita menyambut setiap orang apa adanya, tanpa bermaksud mendikte atau mengubahnya menurut cara kita. Keramahan artinya mengizinkan setiap orang mendalami pengalaman bersama dengan Tuhan di dalam komunitas dan merasakan
pertumbuhan.
Menciptakan komunitas berasal dari inisiatif Allah. Allah adalah pihak pertama yang menghampiri manusia dalam keterasingan dan pemberontakannya. Allah adalah pihak yang berinisiatif menyambut setiap anak yang hilang dengan penerimaan. Allah memiliki hasrat membangun komunitas maka Ia meletakkan prinsip kasih sebagai dasarnya; Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22: 37-39). Dengan demikian manusia dipanggil untuk membangun
komunitas sebagai panggilan keramahan yang bersumber dari kasih Allah agar mereka yang terasing dapat menemukan diri, Allah dan sesama dalam kesatuan yang saling menopang.
SAKRAMEN MERENGKUH KERAPUHAN
Di dalam komunitas, perjumpaan Allah yang menyapa umat-Nya dirayakan, diingat, dipelihara lewat liturgi, persekutuan dan sakramen. Sakramen adalah tindakan keramahan, penerimaan Allah kepada manusia, merengkuh kerapuhan manusia. Di dalam Sakramen, Yesus mengundang kita masuk dengan cinta-Nya karena Ia selalu berinisiatif membangun relasi dengan umat-Nya.
I am always very moved as I read the gospel the ‘good news,’ and see how Jesus lives and acts, how he enters into relationship with each person: ‘Will you come with me? I Love you. Will you enter into communion with me?’ He calls each one he meets into a personal, intimate relationship with himself. (Vanier 1992, 10)
Sakramen dipelihara terus menerus agar menjadi semangat yang menyatakan penerimaan dalam keramahan di tengah kehidupan yang rapuh. Semua orang diterima tanpa batas. Sayangnya sakramen sering sekali dipahami sebagai pelayanan illahi yang tidak memiliki keterkaitan dengan yang duniawi, sekuler. Semua hal itu dijauhkan agar tidak mencemari kekuduskan sakramen. Sikap ini justru membuat sakramen menjadi asing dan terasing dari perayaan hidup. Leonardo Boff berpendapat bahwa sakramen dekat dengan kehidupan kita, ia tidak memisahkan antara yang kudus dan profan, kita dapat menjumpai Allah di dalam keseharian kita.
melihat dunia adalah sebuah sakramen Allah. Orang yang mampu menangkap dan menghargai sakramen kehidupan adalah orang yang sudah dekat atau malahan sudah masuk dalam kehidupan sakramen-sakramen. (Boff 2007, 14)
Seperti yang telah diungkapan Culp dan Nouwen di atas bahwa seluruh kehidupan dengan pengalamannya adalah cara kita bergaul dan mengenal Allah dan ditegaskan oleh Boff, bahwa pengalaman berjumpa dengan Allah adalah keseluruhan hidup kita dan itulah sakramen. Sakramen adalah perjalanan hidup dengan segala pengalaman-pengalamannya.
SAKRAMEN BAPTIS
Di dalam tradisi protestan, kita merayakan dua sakramen yaitu sakramen baptis dan perjamuan kudus. Sakramen baptis dimaknai sebagai bentuk penerimaan (inisiasi), seperti yang dituliskan Gerrish, Baptism is the sign of the initiation by which we are received into the fellowship of the church, so that, engrafted into Christ, we may be counted among God’s children (Gerrish 2002, 124). Peristiwa baptisan Yesus menjadi dasar dari penerimaan ini. Di dalam pembaptisan-Nya, Sang Bapa meneguhkan Anak bahwa Ia adalah pribadi yang dicinta, diterima Allah. Nouwen menegaskan perkataan Allah “Engkau Kukasihi” sebagai bentuk penerimaan dan sambutan Allah. Dengan cara ini Nouwen meneguhkan Fred, seorang wartawan yang kepadanya buku ini ditulis, sekaligus kepada semua orang bahwa kita adalah yang dikasihi Allah dan direngkuh dalam baptisan.
Ya, ada suara seperti itu, suara yang datang dari atas dan dari dalam yang berbisik lembut atau menyatakan dengan tegas: ‘Engkau Kukasihi, kepadamu Aku berkenan.” Tentu tidak mudah mendengar suara itu dalam dunia yang dipenuhi dengan hiruk pikuk yang berteriak, ‘Kamu tidak berguna, kamu jelek; kamu tidak berarti; kamu hina, kamu bukan siapa-siapa-kecuali kalau kamu dapat membuktikan sebaliknya. (Nouwen 2008, 47)
Baptisan adalah bentuk nyata dari penerimaan Allah kepada setiap individu dan di saat yang sama memasukan kita ke dalam sebuah persekutuan hidup bersama (komunitas). Kesatuan hidup bersama ini yang membuat kita dapat melihat pengalaman hidup kita menyatu dalam hidup berkomunitas.
Merton menegaskan bahwa persekutuan sejati dibangun dalam cinta yang membebaskan setiap pribadi menjadi dirinya sendiri. Persekutuan yang sejati, memberi ruang bagi setiap pribadi untuk menjadi dirinya, mengakui persoalan, dan keberanian untuk menghadapinya dengan kerendahan hati dan pengorbanan.
False unity is the work of force. It is violently imposed on devided entities which stubbornly refuse to be one. True unity is the work of love. It is the free union of beings that spontaneously seek to be one in the truth, preserving and elevating their separate selves by self-transcendence. False unity strives to assert itself by denial of obstacles. True unity admits the presence of obstacles, and of devisions, in order to overcome both by humility and sacrifice. (Merton 2004, 156)
Russell juga berpendapat bahwa baptisan adalah panggilan dari Allah untuk membangun persekutuan, terlibat di dalamnya. Baptism is the basic ordination of all Christians, and the ordination of a person as deacon, elder, or minister of Word and Sacrament is the way in which a particular community recognizes that person’s gift to equip the rest of us for ministry (Russell 2009, 17-18). Baptisan menyatukan umat menjadi kesatuan yang utuh, kesatuan yang menerima untuk berjuang bersama. Baptisan adalah tanda yang terlihat, menyentuh umat bahwa ia adalah pribadi yang dicinta Allah. Lewat tindakan baptisan; pencurahan air, memberkati, menjadi gesture yang ingin menyatakan engkau dicinta, kerapuhanmu disambut, engkau diberkati dan engkau disatukan. Baptisan menjadi cara terindah untuk merangkul kerapuhan manusia yang dilakukan Allah di dalam komunitas.
SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS
Calvin memaknai sakramen sebagai tanda-tanda yang kelihatan dari apa yang Allah berikan kepada kita di dalam Perjamuan Malam (Abineno 1990, 83). Abineno menggunakan istilah perjamuan malam dan memberikan maknanya yaitu,
Makna Perjamuan Malam merayakan Kristus yang diberikan untuk manusia sehingga kita memiliki-Nya dan Dia memiliki juga segala pemberian yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Perjamuan mendorong kita untuk hidup suci dan terutama untuk saling pengertian dan kasih seorang akan yang lain karena semua orang telah disatukan di dalam Dia menjadi satu tubuh. (Abineno 1990, 84-85)
Perjamuan kudus adalah perjamuan cinta kasih Allah yang dibagikan dalam hidup ciptaan-Nya. Perjamuan kudus adalah perjamuan keramahan, penerimaan tanpa batas. Perjamuan kudus menghapus setiap bentuk kategori yang dibuat manusia untuk
yang merangkul kerapuhan, kesedihan, penderitaan, kegagalan menjadi sebuah perayaan cinta di dalam cinta Allah yang meneguhkan dan menguatkan. Crismier menyatakan,
Baffling barrier abound, but they are not insurmountable. God has created and ordained the perfect key to unlock the door to racial barrier, status barriers,
misunderstanding barriers, revelation barriers, and, yes even faith barriers. Bread! Breaking bread together is the key. In a very real sense, until we break together, we are virtual strangers (Crismier 2005, 63)
Batas-batas yang memisahkan telah dirobohkan di meja perjamuan. Tindakan makan bersama dimaknai sebagai tindakan penerimaan. The connection between hospitality and food is well known and practiced in variety of culture; ‘secular parable’ of the Lord’s Supper abound (Newman 2007, 149). Budaya Indonesia juga akrab dengan undangan makan sebagai bentuk keramahan tuan rumah. Budaya ini dapat dikembangkan gereja dan diberi makna dalam menghayati perjamuan kudus yang terpecah, dibagikan, di antara komunitas. Komunitas merayakan pemeliharaan dan penerimaan Allah di dalam perjamuan kudus yang dilanjutkan dengan pengutusan umat untuk berpartisipasi di dalam karya penebusan Allah untuk
dibagikan di dalam kehidupan dengan pengharapan masa depan.
In the Lord’s Supper, then, we make ourselves willing participants in God’s
redemptive work even as we ask for God’s remembrance of us. God gathers us, God feeds us, and in so doing God remembers us, making us the body Christ as we await the eschatological consummation of God’s salvation. (Newman 2007, 153-154) Kenith A. David menuliskan 3 makna dari perayaan Perjamuan Kudus yaitu persahabatan (companionship), belas kasihan (compassion), dan saling memberi (reciprocity). Perjamuan kudus menjadi penanda relasi baru dibangun yaitu relasi
persahabatan. Yang asing, terasing, kini diundang masuk dalam relasi persahabatan yang dirayakan dengan makan bersama dari roti dan anggur yang sama.
Companionship is indispensable for true community. The word itself is derived from com + panis, ‘bread together.’ Companions are people who eat or share bread
together. At the heart of companionship is eating and drinking together, sharing a meal. This eating and drinking together contributes to togetherness, connectedness, interrelatedness, indeed the genuine love that exists within true community (David 1994, 96).
Komunitas adalah persahabatan antara orang-orang yang tidak menyembunyikan kegembiraan dan penderitaan mereka, tetapi membiarkannya terbuka bagi sesama dalam sikap berpengharapan. Di dalam komunitas kita berkata, ‘Hidup penuh dengan perolehan dan kehilangan, kegembiraan dan penderitaan, jatuh dan bangun-tetapi kita tidak harus menjalaninya sendiri. Kita ingin minum cawan kita bersama-sama.
Dengan demikian, kita merayakan kebenaran bahwa luka-luka kehidupan kita masing-masing, yang kelihatannya tidak dapat ditanggung jika dijalani sendirian, menjadi sumber penyembuhan apabila kita menjalaninya sebagai bagian dari persahabatan yang memberikan perhatian timbal balik.’ (Nouwen 2004, 58)
Secara khusus Nouwen menguraikan tindakan memegang cawan, mengangkat cawan dan meminum cawan sebagai pengalaman penerimaan. Memegang cawan, kesediaan untuk memegang penderitaan dengan kerelaan, bukan saja penderitaan diri sendiri tetapi juga penderitaan orang lain.
Cawan Yesus adalah cawan penderitaan, tidak hanya penderitaan-Nya sendiri, tetapi penderitaan seluruh umat manusia. Cawan itu penuh kecemasan fisik, mental, dan spiritual. Cawan itu adalah cawan penderitaan akibat kelaparan, siksaan, kesepian, penolakan, perasaan ditinggalkan, dan kecemasan yang sangat mendalam. Cawan itu adalah cawan yang penuh kepahitan. (Nouwen 2002, 34)
Penderitaan menjadi sebuah perayaan sukacita ketika dilalui di dalam penerimaan dan persahabatan untuk saling meneguhkan seperti apa yang di alami Nouwen merayakan perjamuan kudus di antara komunitas disable.
Saya ditantang untuk hanya menghubungkan sifat saya yang mudah terluka dengan sifat mereka yang tinggal bersama saya juga mudah terluka. Alangkah
membahagiakannya keadaan itu! Sukacita karena memiliki, karena mendapat bagian dari keserupaan. Ternyata, kegembiraan itu ada! Setiap orang yang berani menyelami penderitaan manusiawi kita secara mendalam akan menemukan pewahyuan sukacita yang tersembunyi seperti batu berharga di dalam dinding goa yang gelap. (Nouwen 2002, 44,45)
Dibalik penderitaan yang menghampiri setiap orang, Yesus menawarkan persahabatan dalam meja perjamuan kudus. Persahabatan yang menggerakkan kita untuk berbela rasa terhadap penderitaan sesama menjadi satu tubuh yang saling menguatkan dan mendukung.
Compassion is essentially a communal action. Literally, it means ‘passion together’; and since ‘passion’ is both suffering and loving, compassion means
‘together-suffering’ and together-loving.’ (David 1994, 98)
bukan dengan penyesalan atau tindakan kecerobohan tetapi karena cinta-Nya. Kesediaan untuk membuka tangan menjadi prinsip hidup komunitas kekristenan.
‘Opening the hand (to receive) while giving to one another’ is a stupendous principle of community. It enables human beings to live in harmony with each other, with nature, with God. Reciprocity is the essence of life and being in community-true community in the image and likeness of the divine trinitarian community, a genuine verbum visibile, ‘the visible sign of invisibel grace.’ (David 1994, 102)
Hal yang sama juga ditegaskan David ketika roti terpecah maka terbukalah kehidupan bagi yang lain. Kesediaan untuk terpecah, yang berarti menjadi rapuh, menjadi kekuatan, kegembiraan dalam hidup komunitas.
When bread is broken, the edge along the break are frayed and uneven and crumbs fall, probably ending up on the floor and being trampled upon. But from the broken bread emerges a strong fragrance. The inside of the bread is revealed; it is open for everybody to see. What had been a ‘closed shop’ is now open. (David 1994, 111-112) Roti yang terpecah, hidup yang rapuh, dibangun dalam keterbukaan menimbulkan
persahabatan yang pada akhirnya perayaan perjamuan kudus menjadi perayaan berkat. Nouwen menuliskan sebagai cawan berkat.
Kalau kita mengangkat cawan kehidupan kita dan saling berbela rasa dalam penderitaan dan sukacita kita, dalam kebersamaan yang mudah terluka, maka di sanalah perjanjian baru di antara kita terlihat. (Nouwen 2004, 69)
Allah memiliki hasrat untuk menyatu dengan manusia dan itu terus dinyatakan Allah lewat undangan perjamuan. Menyatukan Dia dengan umat yang dikasih-Nya dalam sebuah keintiman yang memberikan pengharapan akan hari depan.
God desire communion: a unity that is vital and alive, an intimacy that comes from both sides, a bond that is truly mutual. Nothing forced or ‘willed,’ but communion freely offered and receive. God goes all the way to make this communion possible. (Nouwen 1996, 69-70)
Communion creates community. Christ, living in them, brought them together in a new way. The Spirit of the risen Christ, which entered them through the eating of the bread and drinking of the cup, not only made them recognize Christ himself but also each other as members of a new community of faith. Communion make us look at each other and speak to each other, not about the latest news, but about him who walked with us. We discover each other as people who belong together because each of us now belongs to him. (Nouwen 1996, 75)
KOMUNITAS, SAKRAMEN, DAN KERAPUHAN
Manusia diperjumpakan dengan sesama, disatukan, dan dibangun di dalam komunitas. Komunitas yang dengan penuh kehangatan menyapa dan menerima setiap orang dengan utuh, dalam kerapuhan, kelemahan, ketidakberdayaannya, dalam keberhasilan, dan keahliannya. Membangun komunitas yang memberi tempat bagi setiap orang untuk bertumbuh menjadi dirinya sendiri, memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap orang untuk mengalami
perjumpaan dengan diri, sesama dan Allah di dalam keramahan. Hospitalitas menjadi komunitas saat tercipta suatu kesatuan yang dilandaskan pada pengakuan bersama akan kehancuran kita yang mendasar dan atas harapan bersama (Nouwen 1989, 89). Kita berjuang untuk menciptakan komunitas yang memberikan kesempatan kepada semua orang mengalami sentuhan kasih Kristus di dalam kerapuhannya. Vanier menyatakan bahwa hanya kasih Allah yang memampukan setiap orang berhadapan dengan kerapuhan, lukanya dan menjadi berkat. We must be touched by the Father in order to experience, as prodigal son did, that no matter how wounded we may be, we are loved. And not only are we loved, but we too are called to heal dan to liberate (Vanier 1992, 21).
Sentuhan kasih Allah dirayakan, diingatkan terus menerus dalam sakramen. Sambutan Allah kepada setiap orang sebagai pribadi yang dicinta dirayakan dalam sakramen baptisan. Perayaan komunitas di meja makan dengan rotiyang terpecah, anggur yang tercurah adalah perjamuan keramahan yang menyatukan kita dengan yang lain menjadi satu tubuh yang siap diutus membagi kasih, merangkul kerapuhan, dan saling menyembuhkan. Komunitas tempat di mana kegelapan disingkapkan.
Community is the place where are revealed all the darkness and anger, jealousies and rivalry hidden in our heart. Community is a place of pain, because it is a place of loss, a place of conflict, and a place of death. But it is also a place of resurrection. Finally as soon as the community of dicciples is born, Jesus sends them: ‘Go. Go and
Don’t take two tunics, don’t take any money, don’t take any food. Go with nothing. Go poorly and do the impossible’ (Vanier 1992, 29-30).
Di dalam komunitas kita berjalan dan berproses bersama untuk bertumbuh dari kegelapan dan keterasingan kita, dari keterlukaan dan ketidakberdayaan kita, membuka diri untuk disentuh cinta Allah dan menyentuh sesama dengan cinta. Kehancuran tidak disembunyikan tetapi diakui dan diterima.
Oleh karena itu komunitas Kristen adalah komunitas yang menyembuhkan bukan karena luka-luka menjadi kering dan rasa sakit diringankan, akan tetapi karena luka dan rasa sakit menjadi awal atau kesempatan tumbuhnya visi yang baru. Saling pengakuan menjadi saling memperdalam harapan, dan membagirasakan kelemahan mengingatkan semua orang akan datangnya kekuatan. (Nouwen 1989, 89)
Perjamuan kudus meragakan anggur yang tercurah, the wine is taken, blessed, and given. That is what happens around each table that wants to be a table of peace (Nouwen 1996, 66) Di meja perjamuan roti yang terpecah, dibagikan di antara komunitas; What else can you do when you share bread with your friends? You take it, bless it, break it, and give it. That is what bread is for: to be taken, blessed, broken, and given. (Nouwen 1996, 65). Di meja yang sama setiap orang merasakan sentuhan kasih Allah yang bersedia menjadi rapuh dalam kerapuhan manusia. Sentuhan yang menggerakkan umat untuk melihat sekitarnya dengan keterbukaan, merangkul dalam kehangatan untuk saling bertumbuh dalam perjalanan iman.
In Eucharist, Jesus gives all. The bread is not simply a sign of his desire to become our food; the cup is not just a sign of his willingness to be our drink. Bread and wine become his body and blood in the giving. (Nouwen 1996, 68)
Nouwen menegaskan bahwa,
Eucharist is recognition. It is the full realization that the one who takes, blesses, breaks, and gives is the One who, from the beginning of time, has desired to enter into communion with us. Communion is what God wants and what we want. It is the deepest cry of God’s and our heart, because we are made with a heart that can be satisfied only by the one who made it. God created in our heart a yearning for communion than no one but God can. (Nouwen 1996, 70-71)
Komunitas tempat kegelapan dan kerapuhan direngkuh dan dirayakan dalam perayaan sakramen agar kerapuhan diubah menjadi kekuatan yang mendatangkan berkat bagi
kehidupan bersama.
Kerapuhan direngkuh dalam cinta Allah lewat sakramen. Direngkuh agar manusia mengalami perubahan, pertumbuhan di dalam Tuhan. Direngkuh dalam komunitas yang bersedia menyambut setiap orang dalam kehangatan dan penerimaan. Direngkuh agar
kerapuhan berubah menjadi kekuatan yang mentransformasi kehidupan. Di dalam komunitas setiap orang dapat menjadi dirinya, berhadapan dengan kerapuhannya. Kerapuhan menjadi kekuatan yang membangun kehidupan dalam cinta Allah.
DAFTAR ACUAN
Abineno. J.L.Ch, Dr. 1990. Perjamuan Malam: Menurut ajaran para reformator. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Boff, Leonardo,OFM. 2007. Sakramen-sakramen dari hidup & hidup dari sakramen-sakramen: Perspektif teologi pembebasan tentang Sakramen. Terjemahan Dr. Konkrad Kembung, SVD. Jakarta: OBOR.
Crismier, Chuck and Kathie. 2005. The power of hospitality: An open heart, open hand and open home will change your world. Richmond, Virginia: elijah books.
Culp, Kristine A. 2010. Vulnerability and Glory: A theological account. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press.
David, Kenith A. 1994. Sacrament and struggle: Signs and instruments of grace from the downtrodden. Mission series. Geneva: WCC Publications.
Merton, Thomas. 2004. Thomas Merton: Essential Writings. Modern spiritual
masters series. Selected with an Introduction by Christine M. Bochen. Maryknoll, New York: Orbis Books.
Newman, Elizabeth. 2007. Untamed hospitality: Welcoming God and other strangers. The Christian practice of everyday life series. Michigan: BrazosPress
Nouwen, Henri J.M. 2008. Diambil, diberkati, dipecahkan, dibagikan: Spiritualitas ekaristi dalam dunia sekuler, Life of the beloved. Terjemahan Mgr. I Suharyo. Yogyakarta: Kanisius.
______. 2004. Kauubah ratapku menjadi tarian: Melalui masa-masa sulit dalam kehidupan dengan pengharapan. Terjemahan Liem Sien Gwan & Otniel Sintoro. Yogyakarta: Gloria Graffa.
______. 2002. Dapatkah engkau minum cawan itu? Terjemahan Lukas Sulaeman OSC, Suryanugraha OSC, M.Indrasanti. Yogjakarta: Kanisius.
______. 1997. Adam: God’s beloved. Marynoll, New York: Orbits Books.
______. 1996. With burning heart: A Meditation on the Eucharistic life. Maryknoll, New York: Orbits Books.
______. 1989. Yang terluka yang menyembuhkan: Pelayanan dalam masyarakat modern. Terjemahan Sr. Christina FMM., R Hardiyanto Pr. dan I. Suharyo Pr. Yogyakarta: Kanisius.
______. 1975. Reaching out: The three movements of the spiritual life. New York: Image Books.
Russell, Letty. M. 2009. Just hospitality: God’s welcome in a world of difference. Edited by J.Shannon Clarkson and Kate. M. Ott. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press.
Sheldrake, Philip S.J. 1994. Befriending our desires. Notre Dame. Ave Maria Press, Inc.
Sutherland, Arthur. 2006. I was a stranger: A Christian theology hospitality. Nashville: Abingdon Press.