• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PENGANTAR PROFESI KEPENDIDIKAN S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PENGANTAR PROFESI KEPENDIDIKAN S"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PENGANTAR PROFESI KEPENDIDIKAN

DISUSUN OLEH:

NAMA : FERY SUMATOYO ENDRI WAHYONO KELOMPOK : 2

MATA KULIAH : PROFESI KEPENDIDIKAN DOSEN PENGAMPU : MURSILAH, S.E

PROGRAM STUDY : PENDIDIKAN EKONOMI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) NURUL HUDA SUKARAJA

(2)

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ... i DAFTAR ISI ... ii KATA PENGANTAR ... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 1 1.3 Tujuan Penulisan ... 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Visi Pendidikan ... 2 2.2 Keberhasilan Pendidikan Dewasa ini ... 5 2.3 Masalah Yang Perlu Diatasi ... 6

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan ... 10 3.2 Saran ... 10

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah hirabbil ‘aalamiin kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pengantar Profesi Kependidikan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas kelompok dalam mata Kuliah Profesi Kependidikan pada semester II di STKIP Nurul Huda Tanah Merah tahun Akademik 2015/2016. Makalah ini membahas tentang: Visi Pendidikan, Keberhasilan Pendidikan Kita Dewasa ini, dan Masalah Yang Perlu Diatasi Dalam Dunia Pendidikan.

Namun kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk menyempurnakan makalah ini.

Akhirnya penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfat bagi kemajuan pendidikan kita semua, Amiin...

Belitang, Maret 2016

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidilan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama,kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Untuk mewujudkan cita-cita ini, diperlukan perjuangan seluruh lapisan masyarakat.

Pendidikan merupakan pilar tegaknya bangsa; Melalui pendidikan lah bangsa akan tegak mampu menjaga martabat. Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1. Apa itu Visi Pendidikan?

2. Bagaimana Keberhasilan Pendidikan Kita Dewasa ini? 3. Masalah Apa Yang Perlu Diatasi Dalam Dunia Pendidikan?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah: 1. Mengetahui Visi Pendidikan.

2. Mengetahui Keberhasilah Pendidikan Kita Dewasa ini.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Visi Pendidikan

Hendaknya diarahkan untuk menyesuaikan terhadap perubahan paradigma tersebut. Pelaksanaan pendidikan selama ini yang banyak diwarnai dengan pendidikan sarwa negara ( State Driven ) dimasa yang akan datang harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (Putting Customers first ). Pendidikan harus mengenali siapa pelanggannya, dan dari pengenalan ini pendidikan memahami apa aspirasi dan kebutuhan merek, baru ditentukan sistem pendidikan, macam kurikulumnya, dan pengajarnya.

Dimasa depan demokrasi dalam bidang pendidikan harus menjadi rujukan bagi praktik demokrasi di Indonesia. Kita harus mampu hidup dalam suasana schooling and working I democraticstate. Visi ini harus ditempuh melalui system pendidikan kita diwaktu-waktu yang akan datang. Visi pendidikan yang berikutnya yang perlu pula memperoleh perhatian ialah meletakan information technology yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan.

Sehubungan dengan situasi yang disebutkan di atas, sekaligus sebagai dorongan permasalahan di bidang pendidikan, maka visi pendidikan hendaknya diarahkan untuk menyesuaikan terhadap perubahan paradigma tesebut. Pelaksanaan pendidikan selama ini yang banyak diwarnai dengan pendekatan sarwa negara ( statedriven ) di masa yang akan datang harus berorientasi pada aspirasi masyarrakat (puttingcustomersfirst). Pendidikan harus mampu mengenali siapa pelanggannya, dan dari pengenalan ini pendidikan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya ( needassessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, baru ditentukan sistem pendidikan, macam kurikulumnya, dan persyaratan pengajarnya.

(6)

kepada satuan di bawah atau di daerah. Berperannya masyarakat dalam bidang pendidikan menunjukkan bahwa negara bukan satu-satunya penyelenggara pendidikan. Desentralisasi dan otonomi pendidikan merupakan isu masa depan yang harus diwujudkan dalam visi pendidikan di masa-masa yang akan datang. Di masa depan demokrasi dalam bidang pendidikan harus menjadi rujukan bagi praktik di Indonesia. Kita harus mampu hidup dalam suasana schoolingandworking in democraticstate. Visi ini harus ditempuh melalui sistem pendidikan kita diwaktu-waktu yang akan datang. Pendidikan mulai dari tingkat dasar harus ditanamkan dan diajarkan pemahaman demokrasi dan bagaimana praktik demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum mengajar harus mencerminkan praktik demokrasi pada setiap pokok pelajaran di sekolah. Esensi demokrasi yang di dalamnya terkandung pemahaman perbedaan pendapat harus ditanamkan pada kurikulum dan proses pengajarannya.

Visi pendidikan berikutnya yang perlu memperoleh perhatian ialah meletakkan informationtechnology, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan. Hal ini berarti mulai dari jaringan tingkat pendidikan rendah sampai perguruan tinggi merupakan jalur linier pendidikan, pengenalan, pemahaman, dan pengamalan ilmu dan teknologi di lembaga pendidikan. Sehingga bangsa Indonesia tidak akan ketinggalan dengan percaturan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di belahan dunia luar Indonesia.

Dengan memperhatikan visi pendidikan masa depan tersebut dan juga memperhatikan prospek otonomi daerah seperti yang telah dijelaskan, maka proses dan sistem pendidikan di negara kita harus melakukan repositioning . Dengan kata lain, kita tidak bisa mempertahankan sistem lama yang telah ketinggalan bersamaan dengan munculnya paradigma baru pendidikan.

(7)

sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Dalam rangka mewujudkan Visi Pendidikan Nasional dan sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Misi Pendidikan Nasional adalah:

a. Mengupayakan perluasan danpemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.

b. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.

c. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.

d. Meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas lembaga pendidikan dan pengelolanya sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap,dan nilai berdasarkan standar nasional dan global.

e. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks NKRI.

Adapun yang menjadi tujuan Pendidikan Nasional menurut Undang-Undang Sisdiknas adalah:

a. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.

b. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.

c. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.

(8)

keterampilan, pengalaman, sikap,dan nilai berdasarkan standar nasional dan global.

e. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks NKRI.

2.2 Keberhasilan Pendidikan Dewasa ini

Secara kuantitatif kita dapat mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia telah mengalami kemajuan. Indikator keberhasilan pendidikan ini dapat dilihat dari peningkatan kemampuan baca tulis masyarakat sebagai dampak dari program pemerataan pendidikan. Namun demikian, keberhasilan dari segi kualitatif pendidikan di Indonesia belum berhasil membangun karakter bangsa yang cerdas, kreatif, apalagi unggul.

(9)

2.3 Masalah Yang Perlu Diatasi

Pendidikan sebagai suatu sistem pencerdasan anak bangsa, dewasa,ini dihadapkan pada berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Berkenaan dengan hal itu, kita pun memiliki agenda masa depan untuk membuat tatanan internal baru dalam tubuh bangsa Indonesia. Reformasi wujud pertaubatan kita secara total terhadap berbagai kesalahan yang kita lakukan selama ini.

Memperhatikan berbagai kondisi pendidikan dewasa ini, maka hal yang perlu dikedepankan yaitu :

a. Bagaimana memberdayakan lembaga pendidikan agar menjadi lembaga human investment .

b. Hal-hal apa yang perlu dilakukan agar otonomisasi penyelenggaraan pendidikan dapat dilakukan dengan baik.

Dua hal ini merupakan persoalan yang memerlukan pencerahan dari berbagai pakar dan praktisi serta akademisi pendidikan.

2.3.1 Berbagai Masalah yang Berpengaruh pada Pendidikan

Dewasa ini bangsa Indonesia dilanda berbagai krisis, baik krisis ekonomi, krisis moneter, krisis politik, maupun krisis kepercayaan. Hal ini mengundang berbagai gejolak dalam masyarakat, misalnya kurang terjaminnya kemanan diri apalagi di daerah pertikaian antasuku, antaragama yang dikhawatirkan menjadi awal kehancuran dan runtuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gejolak lain adalah munculnya tuntutan masyarakat dalam berbagai demonstrasi yang menuntut hak dan keadilan. Berbagai tuntutan dan demonstrasi ini seakan menjadi fenomena yang lumrah di negara kita.

(10)

disatukan oleh corak budaya yang sama, ekonomi yang sama, bahkan substansi kehidupan yang nyaris sama yang disebut globalisasi. Istilah global seolah mengajak kita berhadapan dengan suatu media globe yang akan terlihat seluruh daratan dan lautan, negara, serta pulau yang tidak dibatasi oleh sesuatu apapun. Demikian globalisasi, yang dalam perspektif perjalanannya menawarkan sebah fenomena baru di rentang sejarah peradaban manusia. Dahulu peradaban manusia tidak dapat diketahui, sekarang dengan perkembangan teknologi di era globalisasi, apa yang terjadi di belahan bumi timur terakses kemana-mana dalam batas waktu relatif singkat. Ini menjadi tugas kita agar dapat memecahkan berbagai masalah yang berkembang di era globalisasi melalaui pendidikan.

Berkenaan dengan hal tersebut, kita memiliki agenda masa depan ,untuk membuat tatanan internal baru dalam tubuh bangsa Indonesia yaitu reformasi. Reformasi menjadi bentuk pertaubatan kita secara total terhadap berbagai kesalahan yang kita lakukan selama ini. Reformasi harus berjalan hikmat, sistematis, dan tepat pada sasaran yang diinginkan. Reformasi berarti perubahan dengan tetap meperhatikan pendahulu kita. Apapun bentuknya, pembangunan merupakan jalan menuju sebuah perubahan, dan dalam konteks sosiologis perubahan harus berjalan seiring dengan berbagai sistem yang menjadi komponen perubahan itu sendiri.

Apabila pendidikan diposisikan sebagai alat memecahkan masalah bangsa sekarang ini, hal ini tidak efektif. Dengan kata lain terjadi keterlambatan memposisikan pendidikan sebagai alat untuk mengatasi masalah. Dikatakan demikian karena untuk mengarahkan pendidikan kita yang dapat mengatasi masalah bangsa selama ini diperlukan produk pendidikan yang bukan otoritarisme, melainkan pendidikan yang dibangun pada budaya bangsa Indonesia yang mendunia atau kita meminjam istilah tokoh pendidikan KiHadjar Dewantoro, pendidikan harus dibangun dengan strategi Tri-Kon yaitu Konvergen, Konsentris, dan Kontinuitas.

(11)

negara-negara maju, maka sebaiknya ada adopsi nilai yang dipinjam dari budaya barat, meskipun demikian perlu diadakan filter penggunaannya. Strategi konvergensi paling banyak dipengaruhi oleh pergolakan dunia yang apabila tidak diantisipasi dengan baik, dapat menjadi ancaman terhadap kelangsungan pendidikan di Indonesia. Apalagi kita mencermati wacana sosial saat ini, tampaknya tiga bentuk masyarakat sebagaimana disebut-sebut dalam Buku Alvin Tofler benar-benar menjadi kenyataan yaitu masyarakat agraris, masyarakat industri, dan masyarakat informasi. Model-model masyarakat itu membawa kosekuensi logis manakala terjadi pergeseran dari satu bentuk masyarakat ke bentuk lainnya.

Konsentris, maksudnya bahwa untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia haruslah bertolak dari kebudayaan yang meng-Indonesia sehingga nilai-nilai luhur bangsa tetap tertanam dalam generasi bangsa.

Kontinuitas, maksudnya bahwa pendidikan di Indonesia haruslah dilakukan secara terus-menerus.

Agar pengembangan pendidikan dengan strategi Tri-Kon dapat berjalan, pelaksanaan otonomi pendidikan merupakan tawaran yang perlu diterapkan dan dikembangkan dengan baik.

Khusus menyongsong era globalisasi yang makin tidak terbendung, terdapat beberapa hal yang secara khusus memerlukan perhatian dalam bidang pendidikan. Santoso S. Hamijoyo mengemukakan lima strategi dasar dalam era globalisasi tersebut yaitu:

(12)

menurunnya kualitas hidup dan hancurnya sistem pendukung kehidupan manusia.

 Pendidikan untuk pengembangan sistem nilai.

(13)

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan

 Pelaksanaan Visi pendidikan selama ini hanya banyak diwarnai dengan pendekatan sarwa negara ( state driven ). Dan diharapkan di masa yang akan datang harus berorientasi pada aspirasi masyarrakat (putting customers first).

 Secara kuantitatif pendidikan di Indonesia telah mengalami kemajuan, namun secara kualitatif pendidikan di Indonesia belum berhasil membangun karakter bangsa yang cerdas, kreatif, apalagi unggul.

 Memperhatikan berbagai kondisi pendidikan dewasa ini, maka hal yang perlu dikedepankan yaitu : Bagaimana memberdayakan lembaga pendidikan agar menjadi lembaga human investment, dan hal-hal apa yang perlu dilakukan agar otonomisasi penyelenggaraan pendidikan dapat dilakukan dengan baik.

3.2 Saran

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Uno, H.Hamzah B. 2010. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara

fentinovianti10.blogspot.co.id/2015/03/makalah-suatu-uraian-pengantar-profesi.html?m=1

https://gusfumi.wordpress.com/2010/10/20/uraian-pengantar-profesi-kependidikan/

Referensi

Dokumen terkait

Tidak adanya kebijakan perusahaan terkait penggunaan internet di tempat kerja dengan kombinasi kebijakan lain (membawa perangkat keras pribadi dan cara kerja baru) yang ada

Pada tabel 2 di atas memiliki perbedaan dengan tabel 1, dimana pada tabel 2 ini partisipan yang kedua disebut sebagai Range pada kata a goal karena kata a goal di

Pengalaman Lapangan (PPL) adalah semua kegiatan intrakurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

 Contoh berikut merupakan kasus yang serupa dengan kasus yang sudah dibahas untuk while dan do..while... public static void

Selanjutnya, data dari observasi, interview, dan teks hasil kerja siswa menunjukkan beberapa kelebihan dan hambatan dalam pengimplementasian program

Apakah terdapat hubungan antara kadar gula darah sewaktu dengan kadar enzim Troponin I pada pasien infark miokard akut non-diabetik di RSUP Dr

Strategi pencegahan dan kawalan am yang telah diambil adalah menubuhkan bilik gerakan, memberitahu wabak kepada agensi-agensi kerajaan dan swasta, menyelia kakitangan vektor

terakhir untuk kakak perempuan saya dengan keputusan tersebut bertujuan untuk membalas jasa dan kebaikan. mereka karena mereka lah saya bisa membuat