• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM F H A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM F H A"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM FHA

Disusun oleh :

Kelompok 3

Nadhilah N Shabrina 230110120093 Esti Lestiani 230110120096 Fahri Faturohman 230110120105

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akhir Praktikum Fisiologi Hewan Air ini. Tugas berupa laporan yang telah terselesaikan ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum mata kuliah Fisiologi Hewan Air.

Proses penyelesaian laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pihak yang telah terlibat dalam penyusunan laporan akhir kali ini. Semoga bantuan, kebaikan dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis selama penyelesaian makalah ini mendapat balasan yang tiada terkira dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Akhir kata, kami penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jatinangor, 29 Oktober 2013

(3)

Daftar isi

2.1 Biologi dan Morfologi Ikan Mas···7

2.1 Habitat···8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN···14

4.1 Hasil···14

Tabel 1. Data Praktikum FHA “Laju Pengosongan Lambung Kelompok” FPIK (perikanan B)···14

(4)

Tabel 3. Data Praktikum FHA “Laju Pengosongan Lambung” FPIK (kelautan)

···16

Tabel 4. Data waktu (t) praktikum FHA seluruh kelompok mahasiswa FPIK angkatan 2012···16

4.2 Pembahasan···17

BAB V SIMPULAN DAN SARAN···23

5.1 Simpulan···23

5.2 Saran···23

Lampiran···24

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pencernaan adalah suatu proses penyederhanaan makanan melalui mekanisme fisika dan kimia sehingga makanan berubah dari senyawa komplek menjadi senyawa sederhana untuk selanjutnya diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh dan digunakan pada proses metabolismesistem peredaran darah (Affandi, 2002). Salah satu organ yang berperan penting dalam proses pencernaan adalah lambung. Lambung yang merupakan segmen pencernaan yang mempunyai diameter terbesar dari segmen lainnya. Besarnya ukuran lambung ini berkaitan dengan fungsi lambung yakni penampung makanan dan mencerna makanan.

Pakan yang dikonsumsi oleh ikan akan mengalami proses digesti didalam sistem penncernaan sebelum nutrisi pakan dimanfaatkan untuk keperluan biologis ikan. proses digesti dalam sistem pencernaan akan melibatkan peran enzim –enzim pencernaan. Hasil proses digesti pakan yang berupa asam amino,asam lemak dan monosakarida selanjutnya akan di absorbsi oleh epitel intestin lalu di edarkan ke seluruh tubuh oleh sistemn sirkulasi. Laju pengosongan lambung pakan umumnya berkolerasi dengan laju metabolisme ikan pada kondisi temperatur air yang optimal bagi ikan maka laju metabolisme ikan meningkat dan meningkatnya laju metabolisme ikan ini harus diimbangi dengan pakan-pakan yang diperoleh dari lingkungannya pada umumnya ikan yang bersifat poikiloterm,maka pada temperature air yang meningkat nafsu makan ikan juga menurun.

(6)

lambung, laju pengosongan lambung dapat di ukur dari laju pengosongan lambung. Laju digesti atau laju pengosongan lambung selain dipengaruhi oleh temperatur air juga dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi. Perbedaan kualitas pakan akan perbedaan komponen penyusun, penyusunan akan dan perbedaan ini akan berakibat pada perbedaan laju dan kemampuan digesti pakan. Pakan ikan adalah merupakan campuran berbagai bahan pangan yang biasa diosebut dengan bahan mentah atau bahan baku yang baik bagi pertumbuhan ikan, baik yang bersifat nabati ataupun yang bersifat hewani, yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah untuk dimakan dan di cerna oleh tubuh ikan. Dengan kata lain pakan ikan adalah makanan yang khusus dibuat atau diproduksi agar mudah dan tersedia untuk dimakan. Pakan ikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan tubuh ikan. (sirregar,1995)

Laju Pengosongan Lambung menggunakan prinsip bahwa lambung yang pada awalnya penuh secara berangsur-angsur akan kosong kembali karena adanya proses pengangkutan makanan (chime) menuju usus melalui segmen pilorus untuk diserap oleh tubuh. Lama waktu yang digunakan untuk mengosongkan lambung ini dipengaruhi oleh jenis pakan dan faktor lingkungan. Tingkat kepenuhan lambung ini diekspresikan dalam nilai indeks kepenuhan lambung (ISC, index of stomach content). Nilai ISC untuk setiap jenis ikan berbeda, sehingga penentuan nilai ISC dengan metode laju pengosongan lambung sangat diperlukan dalam penentuan frekuensi pemberian pakan.

1.2 Tujuan Praktikum

(7)

1.3 Manfaat Praktikum

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi dan MorfologI Ikan Mas

Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compressed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dan dapat di sembulkan, di bagian mulut dihiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam (Susanto,2007).

(9)

Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m diatas permukaan laut, dengan suhu 20 oC-25 oC pH air antara 7-8 (Herlina,2002). Ikan ini merupakan ikan pemakan organisme hewan kecil atau renik ataupun tumbuh-tumbuhan (omnivore). Kolam yang di bangun dari tanah banyak mengandung pakan alami,ikan ini mengaduk Lumpur,memangsa larva insekta,cacing-cacing mollusca. (Djarijah,2001)

Jenis makan dan tambahan yang biasa di berikan pada ikan mas adalah bungkil kelapa atau bungkil kacang, sisa rumah pemotongan hewan, sampah rumah tangga dan lain-lain, sedangkan untuk makanan buatan biasanya di berikan berupa crumble dan pellet. (Cahyono,2000)

2.2 Habitat

Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Penyebarannya merata di daratan Asia juga Eropa sebagian Amerika Utara dan Australia. Pembudidayaan ikan mas di Indonesia banyak ditemui di Jawa dan Sumatra dalam bentuk empang, balong maupun keramba terapung yang di letakan di danau atau waduk besar. Budidaya modern di Jawa Barat menggunakan sistem air deras untuk mempercepat pertumbuhannnya.

(10)

banyak menyediakan pakan alaminya. Ceruk atau area kecil yang terdalam pada suatu dasar perairan adalah tempat yang sangat ideal untuknya. Bagian-bagian sungai yang terlindungi rindangmya pepohonan dan tepi sungai dimana terdapat runtuhan pohon yang tumbang dapat menjadi tempat favoritnya. Di Indonesia sendiri untuk mencari tempat memancing ikan mas bukanlah hal yang sulit. Karena selain telah dibudidayakan banyak empang yang sengaja dibuat demi memanjakan para penggemar mancing ikan mas.

2.3 Perkembangbiakan

Ikan Mas berkembang biak dengan bertelur, masa kawinnya pada daerah tropis pada saat awal musim hujan. Ikan Mas betina biasanya bertelur di dekat tumbuhan di dalam air di perairan dangkal yang tembus sinar matahari, telur-telur tersebut kemudian menempel pada dedaunan. Pada suhu yang hangat dan kondisi yang ideal telurnya akan menetas dalam 5 sampai 8 hari. Karena malasnya sang induk betina maupun jantan maka hasil yang menetas sangat sedikit dibanding telurnya. Para petani yang membudidayakan ikan ini biasanya memindahkan telur-telur yang telah menempel pada medianya ke kolam lain agar didapat hasil yang maksimal. Beberapa bulan kemudian ikan mas sudah layak dikonsumsi beratnya lebih kurang 250 gram. Untuk pancingan biasanya adalah ikan mas yang telah mencapai berat 500 gram ke atas.

2.4 Kebiasaan Makan

(11)

larva serangga dan organisma lainnya yang ada di perairan. Dia akan membuka mulutnya lebar-lebar dan kemudian menyedot makanannya seperti alat penghisap. Terkadang mengaduk-aduk dasar air dengan mulut dan badannya sehingga menimbulkan bayang kecoklatan pada perairan.

2.5 Laju Metabolisme

Metabolisme adalah semua reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makluk hidup, melipiti anabolisme untuk mensintesa senyawa-senyawa baru dan katabolisme yaitu penguraian senyawa-senyawa dalam sel hidup. Pada hewan sumber energi adalah makanan, tetapi energi dalam makanan tidak dapat digunakan sampai makanan itu dicerna dan diserap oleh system pencernaan (Fujaya, 2002).

Laju metabolisme dapat dipengaruhi oleh beberapa factor termasuk umur, jenis kelamin, status reproduksi, makanan dalam usus, stress fisiologis, aktivitas, musim, ukuran tubuh dan temperature lingkungan. Laju metabolism baku (standard metabolic rate) merupakan laju metabolism hewan manakala hewan tersebut sedang istirahat dan tidak ada makanan dalam ususnya. Ketika pengukuran laju metabolism tengah dilakukan, jarang sekali ikan berada dalam keaadaan diam, sehingga istilah laju metabolsme rutin sering dipakai untuk menunjukkan bahwa laju metabolism diukur dalam keaadaan selama level aktifitas rutin. (Nurman, 2008).

(12)
(13)

BAB III METODELOGI 3.1 Waktu dan Tempat

Hari / Tanggal : Kamis, 24 Oktober 2013 Waktu : Pukul 08.00 s/d selesai.

Tempat : Lab FHA

3.2 Alat dan Bahan

Dalampelaksanaanpraktikuminidigunakanalat-alatdanbahansebagaiberikut : 3.2.1 Alat :

 Wadah plastik, untuk tempat percobaan  Petri disk

 Separangkat alat bedah  Thermometer

 pH meter

 Timbangan sartorious dengan ketelitian 0.0001 g

3.2.2 Bahan :  Ikan mas  Pakan

3.3 Prosedur Praktikum

Persiapan : timbang sejumlah pakan yang diketahui kadar airnya.

Persiapan wadah dan adaptasi ikanterhadap pakan, sebelum perlakuan dipuasakan

(14)

menit kemudian) (disebut jam ke 0) diamil sampel ikan ditimbang bobot ikan dan isi saluran pencernaannya. Sisa ikan dibiarkan di dalam wadah tanpa diberi makan, kemudian diamati tiap jam sekali.(jam 9.15, jam 10.15 dst).

CARA PEMBEDAHAN DAN PENGAMBILAN SAMPEL

 Buka perut ikan dan dan uaraikan saluran cernanya dengan hati-hati

 Timbang tubuh ikan dan segmen saluran cernanya

 Buka segmen saluran cerna ikan , ukur pH tiap bagiannya

 Ambil massa pakan dalam lambung dan massa pakan dalam saluran cerna keseluruhan , kemudian timbang . gunakan alumunium foil untuk wadah sampel

(15)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Table 1. Data Praktikum FHA “Laju Pengosongan Lambung” FPIK (perikanan B) pada waktu (t = 0)

Kel. Berat Ikan Berat Saluran Cerna Berat Isi Saluran Jenis Pakan Ph

1. 15 gr 2 gr 0.06 gr

8. 27,43 gr 2,52 gr 0,84 gr Fitoplankton

9. 17,54 gr 2,40 gr 0,85 gr

10. 44,25 gr 5,57 gr 1,98 gr Tumbuhan

11. 33.09 gr 2,33 gr 1,36 gr Plankton

12. 34,58 gr 3,69 gr 1,97 gr

Fitoplankton

13. 28,63 gr 1,95 gr 0,92 gr

14. 17,43 gr 1,88 gr 1,43 gr

15. 20,47 gr 1,99 gr 0,34 gr Plankton

(16)

Table 2. Data Praktikum FHA “Laju Pengosongan Lambung” FPIK (perikanan A)

1. 17 gr 2,04 gr 0,09 gr Tumbuhan & pakan 2. 23 gr 2,03 gr 0,27 gr Fitoplankton & Pelet 3. 14gr 2,04 gr 0,16 gr Fitoplankton 4. 17 gr 0,68 gr 0,29 gr Hewan & Tumbuhan 5. 15 gr 1,74 gr 0,13 gr Fitoplankton 6. 11gr 0,96 gr 0,01 gr Fitoplankton 7. 9 gr 0,33 gr 0,01 gr Tumbuhan 8. 15 gr 2,2 gr 1,84 gr Tumbuhan 9. 19 gr 1,2 gr 0,77 gr Tumbuhan 10. 16,95 gr 1 gr 0,44 gr Tumbuhan 11. 14,7 gr 1,27 gr 0,25 gr Tumbuhan 12. 24,05 gr 3,91 gr 1,09 gr Tumbuhan 13. 15,70 gr 2,47 gr 0,78 gr Tumbuhan 14. 20,71 gr 3,36 gr 0,47 gr Tumbuhan & Hewan 15. 14,59 gr 1,68 gr 0,54 gr Tumbuhan 16. 18,32 gr 1,32 gr 0,12 gr Tumbuhan 17. 22,64 gr 2,35 gr 0,42 gr Tumbuhan 18. 11,63 gr 2,14 gr 0,50 gr Tumbuhan 19. 18,05 gr 1,37 gr 0,27 gr Tumbuhan 20. 14,70 gr 2,52 gr 0.28 gr Tumbuhan 21. 14,04 gr 2,5 gr 0,3 gr Tumbuhan 22. 15,80 gr 2,33 gr 0,41 gr Tumbuhan 23. 19,71 gr 2,34 gr 1,83 gr Tumbuhan 24. 11,7 gr 0,5 gr 0,1 gr Tumbuhan 25. 16,19 gr 1,75 gr 0,25 gr Tumbuhan 26. 14,43 gr 1,36 gr 0,26 gr Tumbuhan 27. 12,43gr 0,6 gr 0,12 gr Tumbuhan

Tabel 3. Data Praktikum FHA “Laju Pengosongan Lambung” FPIK (kelautan) pada waktu (t = 5)

NO Berat Ikan Berat Saluran Cerna

Berat Isi Saluran

Cerna Jenis Pakan

1 19 gr 1gr 0.24 gr Tumbuhan, pelet, plankton

2 15 gr 1 gr 0.5 gr Tumbuhan, pelet, plankton

(17)

4 14 gr 0,97 gr 0,18 gr Tumbuhan, pelet, plankton

5 7 gr 0.3 gr 0.06 gr Pelet dan pakan alami

6 139 gr 19 gr 0.919 gr hewan dan tumbuhan

7 17 gr 1 gr 0.14 gr fitoplankton, Tumbuhan

8 11 gr 1 gr 0.26 gr Tumbuhan, fitoplankton

9 3.3 gr 0.269 gr 0.101 gr Tumbuhan

10 19 gr 1.12 gr 0.13 gr Pelet

11 9 gr 0.23 gr 0.031 gr Plankton

12 19 gr 0.9 gr 0.29 gr Plankton

13 2.4 gr 0.2 gr 0.06 gr Tumbuhan

14 2.8 gr 0.3 gr 0.16 gr Zooplankton, fitoplankton

15 1.4 gr 0.72 gr 0.12 gr Plankton

16 2.8 gr 0.25 gr 0.97 gr Tumbuhan

17 22.64 gr 2.35 gr 0.42 gr Tumbuhan

18 17.55 gr 0.65 gr 0.45 gr Pelet

19 8.76 gr 0.44 gr 0.08 gr Plankton

20 3.87 gr 0.83 gr 0.23 gr Fitoplankton, pellet

21 17.71 gr 1.22 gr 0.81 gr Fitoplankton, pellet

Tabel 4. Data waktu (t) praktikum FHA seluruh kelompok mahasiswa FPIK angkatan 2012

t 0 (perikanan B) 2 (perikanan A) 5 (kelautan)

(18)

19. 1,37 gr 0,27 gr 0.08 gr

Laju pengosongan lambung dapat didefinisikan sebagai laju dari sejumlah pakan yang bergerak melwati saluran pencernaan per-satuan waktu tertentu, yang dinyatakan sebagai g/jam atau mg/menit. Faktor- faktor yang mempengarugi laju pengosongan lambung menurut Aris purnomo (2010) antara lain adalah sebagai berikut :

1. Pompa Pilorus dan Gelombang Peristaltik

Pada dasarnya, pengosongan lambung dipermudah oleh gelombang peristaltik pada antrum lambung, dan dihambat oleh resistensi pilorus terhadap jalan makanan. Dalam keadaan normal pilorus hampir tetap, tetapi tidak menutup dengan sempurna, karena adanya kontraksi tonik ringan. Tekanan sekitar 5 cm, air dalam keadaan normal terdapat pada lumen pilorus akibat pyloric sphincter. Ini merupakan penutup yang sangat lemah, tetapi, walaupun demikian biasanya cukup besar untuk mencegah aliran chyme ke duodenum kecuali bila terdapat gelombang peristaltik antrum yang mendorongnya.

(19)

Derajat aktivitas pompa pilorus diatur oleh sinyal dari lambung sendiri dan juga oleh sinyal dari duodenum. Sinyal dari lambung adalah derajat peregangan lambung oleh makanan, dan adanya hormon gastrin yang dikeluarkan dari antrum lambung akibat respon regangan. Kedua sinyal tersebut mempunyai efek positif meningkatkan daya pompa pilorus dan karena itu mempermudah pengosongan lambung. Sebaliknya, sinyal dari duodenum menekan aktivitas pompa pilorus. Pada umumnya, bila volume chyme berlebihan atau chyme tertentu berlebihan telah masuk duodenum. Sinyal umpan balik negatif yang kuat, baik syaraf maupun hormonal dihantarkan ke lambung untuk menekan pompa pilorus. Jadi, mekanisme ini memungkinkan chyme masuk ke duodenum hanya secepat ia dapat diproses oleh usus halus. Sebagai gantinya, peregangan dinding lambung menimbulkan refleks mienterik lokal dan refleks vagus pada dinding lambung yang meningkatkan aktivitas pompa pilorus. Pada umumnya, kecepatan pengosongan makanan dari lambung kira-kira sebanding dengan akar kuadrat volume makanan yang tertinggal dalam lambung pada waktu tertentu.

3. Hormon Gastrin

(20)

pompa pilorus sedangkan pada saat yang sama melepaskan pilorus itu sendiri. Jadi, gastrin kuat pengaruhnya dalam mempermudah pengosongan lambung. Gastrin mempunyai efek konstriktor pada ujung bawah esofagus untuk mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus selama peningkatan aktivitas lambung.

4. Refleks Enterogastrik

Sinyal syaraf yang dihantarkan dari duodenum kembali ke lambung setiap saat, khususnya bila lambung mengosongkan makanan ke duodenum. Sinyal ini mungkin memegang peranan paling penting dalam menentukan derajat aktivitas pompa pilorus, oleh karena itu, juga menentukan kecepatan pengosongan lambung. Refleks syaraf terutama dihantarkan melalui serabut syaraf aferen dalam nervus vagus ke batang otak dan kemudian kembali melalui serabut syaraf eferen ke lambung, juga melalui nervus vagus. Akan tetapi, sebagian sinyal mungkin dihantarkan langsung melalui pleksus mienterikus. Refleks enterogastrik khususnya peka terhadap adanya zat pengiritasi dan asam dalam chyme duodenum. Misalnya, setiap saat dimana pH chyme dalam duodenum turun di bawah kira-kira 3.5 sampai 4, refleks enterogastrik segera dibentuk, yang menghambat pompa pilorus dan mengurangi atau menghambat pengeluaran lebih lanjut isi lambung yang asam ke dalam duodenum sampai chyme duodenum dapat dinetralkan oleh sekret pankreas dan sekret lainnya. Hasil pemecahan pencernaan protein juga akan menimbulkan refleks ini, dengan memperlambat kecepatan pengosongan lambung, cukup waktu untuk pencernaan protein pada usus halus bagian atas. Cairan hipotonik atau hipertonik (khususnya hipertonik) juga akan menimbulkan refleks enterogastrik. Efek ini mencegah pengaliran cairan nonisotonik terlalu cepat ke dalam usus halus, karena dapat mencegah perubahan keseimbangan elektrolit yang cepat dari cairan tubuh selama absorpsi isi usus.

5. Umpan Balik Hormonal dari Duodenum – Peranan Lemak

(21)

penting memungkinkan pencernaan lemak yang lambat sebelum akhirnya masuk ke dalam usus yang lebih distal. Walaupun demikian, mekanisme yang tepat dimana lemak menyebabkan efek mengurangi pengosongan lambung tidak diketahui secara keseluruhan. Sebagian besar efek tetap terjadi meskipun refleks enterogastrik telah dihambat. Diduga efek ini akibat dari beberapa mekanisme umpan balik hormonal yang ditimbulkan oleh adanya lemak dalam duodenum.

6. Kontraksi Pyloric Sphincter

Biasanya, derajat kontraksi pyloric sphincter tidak sangat besar, dan kontraksi yang terjadi biasanya dihambat waktu gelombang peristaltik pompa pilorus mencapai pilorus. Akan tetapi, banyak faktor duodenum yang sama, yang menghambat kontraksi lambung, dapat secara serentak meningkatkan derajat kontraksi dari pyloric sphincter. Faktor ini menghambat atau mengurangi pengosongan lambung, dan oleh karena itu menambah proses pengaturan pengosongan lambung. Misalnya, adanya asam yang berlebihan atau iritasi yang berlebihan dalam bulbus duodeni menimbulkan kontraksi pilorus derajat sedang.

7. Keenceran Chyme

Semakin encer chyme pada lambung maka semakin mudah untuk dikosongkan. Oleh karena itu, cairan murni yang dimakan, dalam lambung dengan cepat masuk ke dalam duodenum, sedangkan makanan yang lebih padat harus menunggu dicampur dengan sekret lambung serta zat padat mulai diencerkan oleh proses pencernaan lambung. Selain itu pengosongan lambung juga dipengaruhi oleh pemotongan nervus vagus dapat memperlambat pengosongan lambung, vagotomi menyebabkan peregangan lambung yang relatif hebat, keadaan emosi, kegembiraan dapat mempercepat pengosongan lambung dan sebaliknya ketakutan dapat memperlambat pengosongan lambung.

(22)

oleh jenis pakan dan faktor lingkungan. Untuk menentukan nilai ISC dapat diperoleh dari rumus “volume materi lambung : volume lambung x 100%”. Dari data diatas dapat kita lihat bahwa nilai ISC terbesar ada pada pengamatan jam ke-4 yakni sebesar 15.29%. Tingginya nilai ISC ini dipengaruhi oleh tingginya nilai volume materi lambung yakni sebesar 0.26 ml. Hal ini diakibatkan pada jam ke-4, ikan mulai lahap memakan pakan yang disediakan setelah sebelumnya terjadi proses pengadaptasian setelah ikan mengalami perlakuan pemuasaan selama 24 jam. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ISC secara langsung adalah volume materi lambung serta volume maksimal lambung. Sedangkan kedua faktor tadi dipengaruhi oleh jenis pakan, faktor lingkungan seperti suhu, pH, tingkat kekeruhan, tingkat DO dll, dan juga tingkat stress ikan yang sebelumnya dipuasakan selama 24 jam.

(23)

BAB V Penutup 5.1 Simpulan

Ikan Mas dapat dikatagorikan sangat rakus. Memakan segala pakan yang terdapat di dasar air, pertengahan air dan permukaan air. Pakan alaminya meliputi tumbuhan air, lumut, cacing, keong, udang, kerang, larva serangga dan organisma lainnya yang ada di perairan.

(24)

Faktor- faktor yang mempengarugi laju pengosongan lambung menurut Arispurnomo (2010) antara lain adalah sebagai berikut : Pompa Pilorus dan Gelombang Peristaltik, Volume Makanan, Hormon Gastrin, Refleks Enterogastrik, Umpan Balik Hormonal dari Duodenum – Peranan Lemak, Kontraksi Pyloric Sphincter, Keenceran Chyme.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan berdasarkan data dari tiap kelompok seluruh mahasiswa FPIK 2012, saya dapat menyimpulkan bahwa berat isi saluran cerna itu tergantung oleh berat saluran cernanya itu sendiri. Karena, semakin berat saluran cernanya, maka semakin berat pula isi saluran cernanya.

5.2 Saran

 Alat yang digunakan oleh praktikan dalam praktikum khususnya dalam penimbangan, ketelitiannya harus lebih baik.

 Praktikan harus dapat memilih alat yang benar-benar sesuai dengan yang dibutuhkan dalam praktikum.

 Waktu yang diberikan untuk praktikum harus lebih banyak lagi, agar praktikan bisal lebih tenang dalam praktikum dan mampu menghasilkan data yang lebih akurat.

Lampiran

(25)

Penimbangan pakan ikan Pengeluaran pakan dari lambung

Pemtongan lambung ikan Penimbangan saluran cerna ikan

(26)

Dafatr Pustaka

Affandi, Ridwan dan Tang, Usman Muhammad. 2002. Fisiologi Hewan Air.Pekan baru. Universitas Riau Press.

http://itaapriani.blogspot.com/2012/04/laju-pengosongan-lambung.html. diakses

tanggal 28 oktober 2013 pukul 18:30 WIB

http://doi-selviani.blogspot.com/2013/04/laporan-fisiologi-hewan.html. diakses

(27)

Gambar

Table 1. Data Praktikum FHA “Laju Pengosongan Lambung” FPIK (perikanan B) pada waktu (t = 0)
Tabel 3. Data Praktikum FHA “Laju Pengosongan Lambung” FPIK (kelautan) pada waktu (t = 5)
Tabel 4. Data waktu (t) praktikum FHA seluruh kelompok mahasiswa FPIK angkatan

Referensi

Dokumen terkait