PENTINGNYA PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA DALAM
PEMBELAJARAN BAHASA DAN KEGUNAANNYA DI KEHIDUPAN
Diajukan untuk memenuhi tugas Ulangan Akhir Semester Dosen pengampu : H.R Herdiana, Drs., MM.
Disusun oleh:
SUSI SAKINAH 2D 2108130016
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselesaikannya makalah ini yang berjudul Pentingnya pemerolehan bahasa pertama dalam pembelajaran bahasa serta kegunaannya dalam kehidupan. Karena tanpa restu dan urapan tanganNya sudah barang tentu penulis tak mampu menyelesaikan makalah ini dengan kekuatan sendiri.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terkait dalam penyelesaian makalah ini. Dalam makalah ini saya bahas mengenai pemerolehan bahasa, pemerolehan bahasa pertama dan kedua.
Saya sebagai penulis mengetahui betul masih banyak sekali kesalahan yang terdapat dalam tulisan makalah ini karena saya masih seorang pelajar dan pemula dalam tulis-menulis yang masih jauh dari baik dan banyak kekurangan. Penulis meminta maaf dan mengharapkan betul kritik dan saran yang membangun dari semua pihak yang membaca guna kemajuan dan kebaikan makalah ini ke depannya.
Ciamis, 13 Juni 2015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI...ii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...1 B. Rumusan Maslah...1 C. Tujuan dan Manfaat...2 BAB II LANDASAN TEORI
A. Pengertian Akusisi Bahasa...3 B. Konsep Pemerolehan Bahasa...4 C. Pembelajaran Bahasa...5 BAB III PEMBAHASAN
Pentingnya Pemerolehan Bahasa Pertama dalam Pembelajaran Bahasa dan Kegunaannya dalam Kehidupan...8
BAB IV SIMPULAN
A. Simpulan...12 B. Saran...12 DAFTAR PUSTAKA
BAB I
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan setiap orang tentu saja tidak terlepas dari bahasa. Pertama kali seorang anak memperoleh bahasa yang didengarkan langsung dari sang ibu sewaktu anak tersebut terlahir ke dunia ini. Kemudian seiring berjalannya waktu dan seiring pertumbuhan si anak maka ia akan memperoleh bahasa selain bahasa yang diajarkan ibunya itu baik bahasa kedua, ketiga ataupun seterusnya yang disebut dengan akuisisi bahasa (language acquisition) tergantung dengan lingkungan sosial dan tingkat kognitif yang dimiliki oleh orang tersebut melalui proses pembelajaran.
Pemerolehan Bahasa merupakan sebuah hal yang sangat menajubkan terlebih dalam proses pemerolehan bahasa pertama yang dimiliki langsung oleh anak tanpa ada pembelajaran khusus mengenai bahasa tersebut kepada seorang anak (Bayi). Seorang bayi hanya akan merespon ujaran ujaran yang sering didengarnya dari lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran ibuya yang sangat sering didengar oleh anak tersebut.
Dalam proses perkembangan, semua anak manusia yang normal paling sedikit memperoleh satu bahasa alamiah. Dengan perkataan lain setiap anak yang normal atau pertumbuhan yang wajar, memperoleh suatu bahasa yaitu bahasa pertama atau bahasa asli, bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupan di dunia ini. Walaupun tidak disangkal adanya kekecualian misalnya secara fisiologis (tuli) ataupun alasan-alasan lain. Peranan PB1 merupakan sesuatu yang negative terhadap PB2. Dengan perkataan lain, PB1 mendapat angina untuk turut campur tangan dalam belajar PB2, seperti adanya ciri-ciri PB1 yang ditransfer ke dalam PB2.
Oleh karena itu, maka masalah pemerolehan bahasa akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pemerolehan bahasa?
2. Apa dan bagaimana pemerolehan bahasa pertama? 3. Apa dan bagaimana pemerolehan bahasa kedua?
4. Bagaimana peranan bahasa pertama terhadap pemerolehan bahasa kedua?
1. Memberikan pemaparan mengenai pemerolehan bahasa kepada masyarakat pembaca. 2. Memberikan pemaparan mengenai pemerolehan bahasa pertama
3. Memberikan pemaparan mengenai pemerolehan bahasa kedua.
4. Memberikan pemaparan tentang hubungan antara bahasa pertama dan pembelajaran bahasa (bahasa kedua)
BAB II
A. Pengertian Akuisisi Bahasa (Pemerolehan Bahasa)
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang luas. Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka serta pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa.
Semua manusia yang sehat, berkembang secara normal, belajar menggunakan bahasa. Anak-anak memperoleh bahasa atau bahasa yang ada disekitarnya bahasa manapun yang mereka terima secara penuh selama masa kanak-kanak. Perkembangannya secara esensial sama antara anak-anak yang mempelajari bahasa isyarat atau bahasa suara. Proses belajar ini dikenal dengan akuisisi bahasa pertama, karena tidak seperti pembelajaran lainnya ia tidak membutuhkan pembelajaran langsung atau kajian secara khusus. Dalam The Descent of Man naturalis Charles Darwin menyebut proses tersebut dengan, "keinginan insting untuk memperoleh suatu seni".
B. Konsep Pemerolehan Bahasa
Dari proses pemerolehannya, bahasa bisa dipilah menjadi bahasa ibu atau bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing. Penamaan bahasa ibu dan bahasa pertama mengacu pada sistem linguistik yang sama. Yang disebut bahasa ibu adalah adalah bahasa yang pertama kali dipelajari secara alamiah dari ibunya atau dari keluarga yang memeliharanya. Biasanya bahasa ibu sama dengan bahasa daerah orang tuanya. Akan tetapi pada masa sekarang, banyak orang tua yang berbicara dengan anaknya menggunakan bahasa Indonesia tidak menggunakan bahasa daerah asal kedua orang tuanya sehingga bahasa Indonesia itulah yang dikuasai anak , maka bahasa Indonesia itu walaupun bukan bahasa daerah ibu atau bapaknya, adalah bahasa ibu anak tersebut.
Bahasa ibu lazim disebut bahasa pertama, karena bahasa itulah yang pertama dipelajari anak. Meskipun tidak selalu bahasa pertama yang dikuasai anak sama dengan bahasa pertama yang dikuasai ibunya. Atau, si anak belajar bahasa pertama tidak dari ibunya tetapi dari orang tua asuhnya.
Jika kemudian hari anak tersebut mempelajari bahasa lain, maka bahasa lain tersebut disebut bahasa kedua. Tidak jarang seorang anak mempelajari bahasa lainnya lagi sehingga ia bisa menguasai bahasa ketiga, maka bahasa tersebut disebut bahasa ketiga. Begitu seterusnya.
Yang disebut bahasa asing akan selalu merupakan bahasa kedua bagi seorang anak. Istilah bahasa asing ini sebenarnya lebih bersifat politis mengingat namanya diambil dari negara atau bangsa lain pemilik bahasa tersebut. Dari sisi urutan pemerolehan, bahasa Inggris bisa saja adalah bahasa kedua, bahasa ketiga, atau bahasa ke sekian. Akan tetapi karena bahasa Inggris berasal dari negara asing menurut orang Indonesia, maka istilah bahasa asing lebih populer digunakan untuk mengklasifikasikan bahasa Inggris dibanding disebut bahasa kedua.
Istilah "pemerolehan" terpaut dengan kajian psikolinguistik ketika kita berbicara mengenai anak-anak dengan bahasa ibunya. Dengan beberapa pertimbangan, istilah pertama dipakai untuk belajar B2 dan istilah kedua dipakai untuk bahasa ibu (B1). Faktanya, belajar selalu dikaitkan dengan guru, kurikulum, alokasi waktu, dan sebagainya, sedangkan dalam pemerolehan B1 semua itu tidak ada. Ada fakta lain bahwa dalam memperoleh B1, anak mulai dari nol; dalam belajar B2, pebelajar sudah memiliki bahasa. Dengan "mesin" pemerolehan bahasa yang dibawa sejak lahir anak mengolah data bahasa lalu memproduksi ujaran-ujaran. Dengan watak aktif, kreatif, dan inofatif, anak-anak akhirnya mampu menguasai gramatika bahasa dan memproduksi tutur menuju bahasa yang diidealkan oleh penutur dewasa. Anak memiliki motivasi untuk segeramasuk ke dalam lingkungan sosial, entah kelompok sebaya (peer group) atau guyup(community).
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung didalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999;Musfiroh, 2002)
C. Pembelajaran Bahasa
Pembelajaran bahasa ini adalah istilah lain untuk proses pemerolehan bahasa kedua (B2). Digunakan istilah pembelajaran bahasa karena diyakini bahwa bahasa kedua dapat dikuasai hanya dengan proses belajar, dengan cara sengaja dan sadar.
Ellis (1986:215) menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran bahasa yaitu:
1. Tipe naturalistic bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa kesengajaan. Pembelajaran terjadi di dalam lingkungan masyarakat.
2. Tipe formal di dalam kelas, berlangsung di dalam kelas dengan guru, materi, dan alat-alat bantu belajar yang sudah dipersiapkan.
a. Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa
Istilah pemerolehan bahasa dipakai untuk membahas penguasaan bahasa pertama di kalangan anak-anak karena proses tersebut terjadi tanpa sadar, sedangkan pemerolehan bahasa kedua (Second Language Learning) dilaksanakan dengan sadar. Pada anak-anak, error (kegalatan) dikoreksi oleh lingkungannya secara tidak formal, sedangkan pada orang dewasa yang belajar B2, kegalatan diluruskan dengan cara berlatih ulang.
b. Hipotesis mengenai Pemantau (Monitor)
Pembelajaran berfungsi sebagai pemantau. Pembelajaran tampil untuk menggantikan bentuk ujaran sesudah ujaran dapat diproduksi berdasarkan sistem.
Konsep tentang Pemantau cukup rumit dan ditentang oleh Barry McLaughlin karena gagal dalam hal ketidaktuntasan Pemantau dalam melakukan pemantauan terhadap pemakaian B2. Penerapan Pemantau dapat menghasilkan efektifitas jika pemakai B2 memusatkan perhatian pada bentuk yang benar.
Syarat memahami kaidah merupakan syarat paling berat sebab struktur bahasa sangat rumit. McLaughlin menyatakan bahwa : (1) Monitor jarang dipakai di dalam kondisi normal pemakaian dan dalam pemerolehan B2, (2) Monitor secara teoritis merupakan konsep yang tak berguna.
c. Hipotesis Input (Masukan)
Si-Belajar B2 dianggap mengalami suatu perkembangan dari tahapan i (kompetensi sekarang) menuju tahapan i + l. Untuk menuju tahapan i+l dituntut suatu syarat bahwa Si-Belajar sudah mengerti mengenai masukan yang berisi i+l itu.
d. Hipotesis Filter Afektif
Bagaimana faktor-faktor afektif mempunyai kaitan dengan proses pemerolehan bahasa. Konsep ini dikemukakan oleh Dulay dan Burt (1977).
e. Hipotesis Analisis Kontrastif
Menurut Hipotesis ini sistem yang berbeda dapat menghasilkan masalah, sedangkan sistem yang sama atau serupa menyediakan fasilitas atau memudahkan Si-Belajar memperoleh B2. Namun Hipotesis ini ternyata juga dianggap kurang efektif karena di dalam banyak kasus sistem yang berbeda justru tidak menimbulkan masalah dan sebaliknya.
f. Interlanguage
g. Tahapan Perkembangan Bahasa-antara
Secara ringkas teori tahapan perkemba-ngan bahasa antara menurut Corder (1973) dapat dirangkum sebagai berikut.
Tahapan Kegalatan Acak
Tahapan kebangkitan
Tahapan Sistematik
Tahapan Stabilisasi
h. Bahasa Pidgin
BAB III PEMBAHASAN
PENTINGNYA PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN KEGUNAANYA DALAM KEHIDUPAN
Manusia sebagai mahluk social yang setiap saatnya melakukan interaksi dan komunikasi memerlukan bahasa sebagai alat komunikasinya. Oleh sebab itu, pemerolehan bahasa sangat menentukan hubungan social dengan masyarakat lainnya.
Poerwo (1989) berpendapat bahwa bayi sejak lahir sampai usia sekitar satu tahun dianggap belum punya bahasa atau belum berbahasa. Tangisan bayi ketika lahir tidak dimasukkan ke dalam proses berbahasa karena bahasa itu memiliki makna dan dapat dimengerti oleh orang lain, sedangkan tangisan bayi menurut ilmiahnya tidak memiliki makna dan tidak dapat dimengerti.
Kemampuan berbahasa seseorang ditentukan oleh pemerolehan bahasa pertama dan bahasa keduanya. Pemerolehan bahsa pertama berperan penting dalam pemerolehan bahasa kedua. Menurut pandangan kaum behaviorisme mengatakan bahwa proses pemerolehan bahsa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Pada perkembangannya, semakin tinggi intelegensi anak, semakin banyak pula ia membutuhkan ragam bahasa yang bisa diterima oleh otaknya agar ia bisa mengkomunikasikan pesan yang beragam. Sampai pada tahap-tahap pembelajaran yang lebih tinggi, pemerolehan bahasa memegang peranan penting. Pemerolehan bahasa kedua dan selebihnya merupakan terusan dari pemerolehan bahasa pertama. Jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan bahasa yang beragam dan sehat, maka ia akan memiliki kemampuan berbahasa yang tinggi pula, akan tetapi jika anak tumbuh di lingkungan tidak sehat dalam budaya dan bahasanya, maka anak tersebut kemungkinan besarnya akan terkucil dalam hal berbahasa dan komunikasi sosialnya pun akan lebih rendah disbanding anak yang tinggal di lingkungan bahsa yang sehat.
Tahap perkembangan artikulasi. Pada tahap ini, dari lahir sampai usia 14 bulan, anak mengaami perkembangan dalam menghasilkan bunyi yang belum memiliki arti.
Tahap perkembangan kata dan kalimat. Pada tahap ini, anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata. Kata pertamanya itu ditentukan oleh penguasaan artikulasinya. Ketika penguasaan artikulasi baik, maka pengucapan kalimat dua kata, tiga kata akan lebih mudah apalagi masa menjelang sekolah.
Salah satu kecerdasan anak juga ditentukan oleh kemampuannya dalam berbahasa. Oleh karena itu, pemerolehan bahasa yang baik dan sehat serta lingkungan yang memadai akan menunjang kecerdasan dan penguasaan lebih menyeluruh terhadap pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya.
Perbandingan Pembelajaran Bahasa dengan Pemerolehan Bahasa
Pembelajaran Bahasa
1. Berfokus pada bentuk-bentuk bahasa
2. Keberhasilan didasarkan pada penguasaan bentuk-bentuk bahasa
3. Pembelajaran ditekankan pada tipe-tipe bentuk dan struktur bahasa aktivitas dibawah perintah guru
4. Koreksi kesalahan sangat penting untuk mencapai tingkat penguasaan
5. Belajar merupakan proses sadar untuk menghafal kaidah, bentuk, dan struktur
6. Penekanan pada kemampuan produksi mungkin dihasilkan dari ketertarikan pada tahap awal
Pemerolehan Bahasa
1. Berfokus pada komunikasi penuh makna
2. Keberhasilan didasarkan pada penggunaan bahasa untuk melaksanakan sesuatu 3. Materi ditekankan pada ide dan minat anak aktivitas berpusat pada anak 4. Kesalahan merupakan hal yangwajar
5. Pemerolehan merupakan proses bawah sadar dan terjadi melalui pemajanan dan masukan yang dapat dipahami anak
Sofa (2008) juga mengemukakan bahwa proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (B1) pada anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik ditambahkan, bahwa pemerolehan bahasa pertama (B1) sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif yakni pertama, jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik. Kedua, pembicara harus memperoleh ‘kategori-kategori kognitif’ yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa-bahasa alamiah, seperti kata, ruang, modalitas, kausalitas, dan sebagainya. Persyaratan-persyaratan kognitif terhadap penguasaan bahasa lebih banyak dituntut pada pemerolehan bahasa kedua (PB2) daripada dalam pemerolehan bahasa pertama (PB1).
bentuk-bentuk bahasa yang dianggap ada. Ia belajar pula bahwa ada bentuk-bentuk-bentuk-bentuk yang tidak dapat diterima anggota masyarakatnya, ia tidak selalu boleh mengungkapkan perasaannya secara gamblang.
Pemerolehan bahasa mempunyai suatu permulaan yang tiba-tiba ( mendadak). Kemerdekaan bahasa mulai sekitar usia satu tahun di saat anak-anak mulai menggunakan kata-kata lepas atau kata-kata terpisah dari sandi linguistik untuk mencapai aneka tujuan sosial mereka. Sedangkan penertian lain perolehan bahasa yaitu, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi mesin/motor, sosial, dan kognitif pra-linguistik (McCraw, 1987).
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan
Kemampuan berbahasa seseorang ditentukan oleh pemerolehan bahasa pertama dan bahasa keduanya. Pemerolehan bahsa pertama berperan penting dalam pemerolehan bahasa kedua. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa melalui bahasa khusus bahasa pertama(B1), seorang anak belajar untuk menjadi anggota masyarakat. B1 menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan perasaan, keinginan, dan pendirian, dalam bentuk-bentuk bahasa yang dianggap ada. Ia belajar pula bahwa ada bentuk-bentuk yang tidak dapat diterima anggota masyarakatnya, ia tidak selalu boleh mengungkapkan perasaannya secara gamblang.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Psikolingusitik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Moeliono, Anton. 1985. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di Dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan.
Poerwo, Banbang Kaswati. 1991. Perkembangan Bahasa Anak Pragmatik dan Tata Bahasa. Dalam Dardjowidjojo.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa.
(http://jasonwalkerpanggabean.blogspot.com/2013/09/makalah-pemerolehan-bahasa-dan.html)
Diakses pada 09 Juni 2015