Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (PSKP UGM) didirikan 1 Oktober 1996. Terletak di kota multikultural Yogyakarta, PSKP muncul untuk memberikan tanggapan kepada dua fenomena akhir 1990an, yaitu, pertama, pergeseran pola politik dan konfigurasi di tingkat internasional, dan kedua, peningkatan dramatis ketidakstabilan nasional dan munculnya separatis serta konflik komunal.
Berkaca pada isuisu tersebut, PSKP berupaya mengembangkan konsep baru dalam menangani masalah keamanan dan perdamaian, baik di tingkat lokal, nasional dan regionalinternasional. Sejak kelahirannya sampai sekarang PSKP berperan dalam menyebarkan dan pengarusutamaan perdamaian dan masalah keamanan, termasuk pembangunan, demokratisasi, hak asasi manusia, dan multikulturalisme.
Keseluruhan kegiatan PSKP berfokus pada risetaksi (action research), yang menggabungkan penyelidikan kritis dan keterlibatan konkret dalam penelitian ilmiah, mediasi, fasilitasi, pelatihan, dan lokakarya. Selain itu, sebagai lembaga akademis, PSKP juga mengembangkan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK). Program ini untuk menanggapi secara komprehensif isuisu pembangunan, stabilitas politik, dan fenomena desentralisasi (otonomi daerah).[]
Berawal dari beberapa perjalanan para peneliti PSKP yang diundang memfasilitasi training Manajemen Konflik di Kabupaten Halmahera Barat (Peace Through Development, West Halmahera). Training yang diselenggarakan pada bulan Desember 2008 dan Juni 2009, ditujukan pada para Kepala Desa serta sejumlah perwakilan dari kelompok kelompok masyarakat. Melalui kesempatan tersebut tim PSKP mengenali kompleksitas masalah yang dihadapi di 6 desa di wilayah Halmahera Barat, yang sudah beberapa saat menjadi sengketa dengan Kabupaten Halmahera Utara.
Kedua kabupaten tersebut samasama menerbitkan Peraturan Daerah yang mengklaim keenam desa tersebut masuk dalam wilayahnya. Enam desa tersebut adalah Dum Dum, Akesahu/Gamsungi, Akelamo, Tetewang, Bobane Igo, dan Pasir Putih. Dualisme pemerintahan yang berjalan di keenam desa tersebut membuat masyarakat di enam desa memiliki dua Kepala Desa.
Dalam kondisi tersebut, tidak jarang konflik muncul antar satu anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya. Berbagai macam penyelesaian sudah coba diupayakan, dengan menyampaikan aspirasi baik di tingkat Kabupaten, Propinsi, maupun di tingkat Nasional. Namun demikian, dualisme pemerintahan yang ada di keenam desa belum juga bisa diakhiri dan menimbulkan keresahan di masyarakat dan juga pamong desa.
Berangkat dari perbincangan dengan para Kepala Desa, pemuka agama, perwakilan dari pemuda, perempuan, serta kelompok masyarakat lainnya yang hadir dalam dua kali kesempatan training tersebut, tim PSKP mulai berpikir tentang perlunya menyediakan ruang dialog bagi warga 6 desa.
Sebagai pemikiran awal, tim PSKP menitikberatkan perlunya kohesi sosial tetap terjaga di masyarakat di tengah dualisme pemerintahan yang ada di desa. Ide ini mendapatkan support dari USAID, melalui Program SERASI.
Sementara itu konsultasi SERASI dengan Pemerintah Propinsi Maluku Utara, berkeinginan untuk menyelesaikan problem 6 desa hingga di tingkat nasional. Sehingga titik berat program yang semula membangun kohesi sosial, ditambahkan dengan program advokasi kebijakan.
Dengan perkembangan tersebut kemudian tim PSKP merumuskan program dalam 7 aktifitas yang dijalankan dalam jangka waktu 6 bulan. Dalam pelaksanaannya PSKP bekerjasama dengan mitra lokal yaitu
Lembaga Mitra Lingkungan (LML) Maluku Utara.
Dalam pelaksanaan aktifitas lapangan, program ini sempat mengalami vacuum
selama 2 bulan. Hal ini disebabkan masalah administrasi dan jeda kegiatan dimintakan oleh mitra lokal saat memasuki bulan Ramadhan. Dengan keterlambatan ini hanya 5 aktifitas yang terlaksana. []
Lembaga Mitra Lingkungan (LML) Maluku Utara
didirikan pada tahun 1998, oleh sejumlah aktivis mahasiswa asal Ternate yang kuliah di Makasar. Dengan keinginan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat, pada mulanya aktifitas difokuskan pada pengelolaan lingkungan hidup. Pada tahapan berikutnya, aktifitas LML Malut juga merambah berbagai isu seperti HAM, Demokratisasi, Gender serta Budaya. Secara keseluruhan, setelah lebih dari 10 tahun aktifitas LML diwarnai dengan aktifitas studi, pelatihan dan advokasi. Mulai dari survey sosial ekonomi masyarakat yang dilakukan di Ake Ara pada tahun 1998, pelatihan trauma konseling bagi korban kerusuhan Maluku Utara pada tahun 2001, hingga yang terakhir dengan pengem
bangan kewirausaahaan bagi kelompok marjinal di Kabupaten Halmahera Selatan pada tahun 2011. Dalam menjalankan aktifitasnya LML Malut banyak bekerjasama baik dengan mitra di tingkat lokal maupun tingkat nasional, baik dengan pemerintah daerah, Universitas maupun dengan NGO dan lembaga internasional. Tercatat sebagai mitra kerja LML Malut berbagai lembaga internasional seperti USAID, JICA, UNICEF, UNDP, serta berbagai lembaga/NGO seperti FIKORNOP Makassar dan Yayasan Nurani Dunia di Jakarta. Kerjasama dengan PSKP UGM melengkapi riwayat panjang LML Malut dalam upaya pemberdayaan masyarakat, dalam bentuk studi dan advokasi.[]
Program membangun kohesi sosial dan advokasi kebijakan diwujudkan dalam tujuh aktifitas:
1. Assessment di 6 desa,
2. Fasilitasi dialog antar warga 6 Desa, 3. Lokakarya menulis bagi guru dan siswa, 4. Pertandingan sepak bola,
5. Acara seni dan budaya,
6. Dialog dengan Pemerintah Daerah, dan 7. Dialog dengan Pemerintah Pusat.
Acara seni dan budaya serta dialog dengan Pemerintah Pusat, karena masalah waktu
dan administrasi, tidak sempat dilaksanakan.
Aktifitas seni dan budaya, olahraga, serta lokakarya menulis merupakan bagian dari upaya membuka ruang ruang kebersamaan di tengah masyarakat, yang telah diawali de
ngan dialog antara warga desa.Assessment
awal dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terutama bagi tim PSKP. Dialog dengan Pemerintah Daerah dan Pusat untuk menyampaikan hasil dari dialog warga sekaligus rekomendasi PSKP bagi penye
lesaian sengketa6 desa.[]
Metodologi
Tim assessment berjumlah 12 orang, 6 orang dari PSKP dan 6 orang dari LML. Yang kemudian dibagi menjadi tim yang masingmasing beranggotakan 2 orang untuk tinggal di satu desa dengan menginap di rumah penduduk setempat. Tim menemui narasumber, dari berbagai komponen mulai dari aparat pemerintah desa, pemuka masyarakat, perwakilan pemuda, guru, petugas kesehatan, dan juga warga.
Kemudian tim dibagi menjadi 2 untuk
assessment di tingkat kabupaten. Masing
masing tim tinggal di ibukota Kabupaten. Di tingkat Kabupaten ini wawancara juga dilakukan dengan anggota Dewan, dan beberapa pejabat yang mewakili instansi pemerintahan.
Informasi yang digali mencakup aspek
Governance, Kohesi Sosial, Sumberdaya, serta Kewargaan. Catatan dari assessment ini kemudian menjadi pijakan bagi Tim dalam merumuskan strategi bagi Dialog yang diselenggarakan satu bulan kemudian.[]
Assessment di 6 Desa
Dialog Antar Warga 6 Desa
8 - 10 Juni 2010
Dialog dikemas dalam sebuah Lokakarya yang diselenggarakan di Sofifi, dihadiri oleh perwakilan dari 6 desa: aparat pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, wanita, dan guru. Dialog ini difasilitasi oleh Tim gabungan dari PSKP dan LML.
Namun satu hari menjelang acara diselenggarakan, para Kepala Desa versi Halmahera Utara mendapatkan surat edaran yang membuat mereka secara mendadak membatalkan konfirmasi
kehadiran. Dari keenam Kepala Desa versi Halmahera Utara ini akhirnya hanya satu yang bergabung yaitu Kepala Desa Akesahu.
Dalam penyelenggaraan acara ini, masing masing desa diundang untuk mengirimkan wakilnya untuk bertanding bersama. Sejumlah 24 pemuda kemudian berkumpul dan dibagi dalam 2 tim.
Di masing masing tim terdapat perwakilan pemuda dari 6 desa. Acara yang berlangsung pada sore hari ini berjalan
dengan meriah, dengan sebelumnya secara resmi dibuka oleh Camat Jailolo Timur. Dalam kesempatan tersebut hadir juga Kepala Desa dari Bobane Igo, Pasir Putih, Akelamo, dan Akesahu.
Di Ternate sendiri, hingga di pelosok pelosok desa di Halmahera sepakbola merupakan olahraga yang sangat popular. []
Eksibisi Sepakbola
20 Juli 2010
20 Juli 2010
Peserta dari 4 SMP yaitu SMP Satap 2 Tetewang, SMP Makugawane Gamsungi/ Akesahu, SMP Satap 1 Akelamo, serta dari MTs Nurul Hidayah Bobane Igo sebagai tuan rumah.
Pada hari pertama, 10 guru yang berasal dari 4 SMP diberikan materi mengenai
menulis dan perdamaian serta teknik penulisan. Pada 2 hari berikutnya, para guru bersama dengan tim PSKP memberikan pelatihan kepada 25 siswa. Pada hari terakhir diberikan apresiasi kepada 5 siswa yang dinilai menghasilkan tulisan yang baik, setelah proses pelatihan selesai dilaksanakan. []
Lokakarya Menulis
untuk Guru dan Siswa SMP
Tim PSKP dan LML bertemu dengan unsur pimpinan DPRD. Tim menyampaikan rekomendasi kebijakan berkenaan dengan penyelesaian sengketa di 6 desa. Selain rekomendasi kebijakan dalam kesempatan tersebut disampaikan juga prosiding hasil Dialog antar warga 6 desa.
Pimpinan DPRD menyambut terbuka diskusi yang muncul dalam pertemuan tersebut, yang tidak saja mendiskusikan
mengenai penyelesaian sengketa adminis trasi namun juga berbagai hal menyangkut pendidikan, kesehatan, serta pengelolaan sumberdaya alam di 6 desa.
Selain dengan DPRD, sebenarnya Tim PSKP juga merencanakan untuk melaku kan pertemuan dengan Gubernur Kepala Daerah Maluku Utara. Namun demikian, aktifitas terakhir ini secara teknis banyak sekali menemukan kendala.[]
Dialog dengan
Pemerintah Daerah
Perjalanan dari Jogjakarta menuju Ternate bisa ditempuh dengan beberapa rute penerbangan. Dengan mempertimbangkan pada riwayat ketepatan waktu dari rute penerbangan yang ditawarkan, tim PSKP memilih jalur penerbangan ke Ternate via Jakarta dengan menumpang pesawat Batavia Air dan Garuda Indonesia. Biasanya perjalanan berangkat dilakukan dengan menumpang Batavia Air dari Jakarta. Dengan pilihan ini, tim PSKP berangkat dari Jogjakarta ke Jakarta dengan penerbangan terakhir di sore/malam hari. Sementara perjalanan pulang, menumpang penerbangan Garuda Indonesia hingga ke Jogjakarta.
Setelah menempuh perjalanan udara dari Jogjakarta menuju Jakarta dan kemudian Ternate, tim masih harus menempuh perjalanan laut menuju 6 desa tempat program dilaksanakan. Perjalanan dari Ternate ke Sofifi ditempuh dalam waktu 30 menit dengan memakai speedboat, dengan ongkos tiap orang sebesar 50 ribu rupiah. Satu buah speed berukuran sedang bisa memuat kurang lebih 10 orang.
Sesampai di Sofifi, tim harus meneruskan perjalanan dengan menyewa mobil yang tersedia di pelabuhan speed. Jarak dari Sofifi ke desa terjauh yaitu Dum Dum bisa ditempuh dalam 2 jam perjalanan darat, dengan jalanan yang relatif baik, beraspal. Secara umum, akses menuju desa cukup mudah dengan banyak kendaraan umum maupun sewa yang tersedia.
Secara keseluruhan, perjalanan laut dengan speedboat menjadi bagian paling menantang bagi anggota tim dari PSKP. Karena moda perjalanan laut bukan menjadi moda perjalanan yang setiap hari ditempuh oleh para anggota tim. Biasanya perjalanan ditempuh pada pagi hari, sebelum pukul 10 siang untuk menghindari ombak yang tinggi.
Pada aktifitas yang pertama yaitu assessment tim PSKP dan LML menyempatkan diri tinggal di rumah penduduk di enam desa. Dalam aktifitas aktifitas lainnya, tim PSKP dan LML tinggal di sebuah penginapan di Sofifi.
Satu kenangan manis bagi anggota tim ditemui dalam perjalanan terakhir dari program ini. Setelah selesai dengan proses dialog di DPRD Propinsi, tim memutuskan singgah di Tidore. Kemudian menyewa kendaraan untuk berkeliling pulau, serta singgah di Kasultanan Tidore. Tanpa dinyana saat itu Sultan ada di kediaman dan mengundang tim untuk berbincang bincang di teras istana. Pertemuan dengan Sultan ini mengakhiri kisah perjalanan tim di bumi Kie Raha, dan membawa pulang harapan tentang perubahan di propinsi ini. []
Tim Kerja
Buletin Program
Building Peace within Community
Developing Sosial Cohesion in Halmahera, North Maluku
Teks:Tri Susdinarjanti, Syarafuddin
Foto:Anggoro Wasthi, Dody Wibowo, Suparman, Syarafuddin, Tri Susdinarjanti, Wulan Kurniati
Tata Letak:Syarafuddin
Aplikasi:Scribus 1.4.0.rc3, GIMP 2.6.11, Inkscape 0.4.8, LibreOffice 3.3.1, openSUSE 11.4
© 2011 PSKP UGM
Tim Ahli
Prof. Dr. Mohtar Mas’oed, MAProf. Dr. Purwo Santoso, MA Muhadi Sugiono, MA