DESA DIGITAL: PELUANG UNTUK MENGOPTIMALKAN
PENYEBARLUASAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
Endra Wij aya, Ricca Anggraeni, dan Rifkiyati Bachri
Fakult as Hukum Universit as Pancasila Jakart a
E-mail: kolaseen@yahoo. com; cha2_khan@yahoo. com; rif ki_yat i@yahoo. com
Abst ract
Law can be one medi um t o achi eve soci al wel f ar e. As soon as t he l aw i s f or med, i ncl udi ng t he one in t he f or m of l egi sl at ion, i t must be di sseminat ed. The di ssemi nat i on accor di ng t o Regul at ions Number 12 Year 2011 about t he For mat ion of Legi sl at i on is per f or med by t he Gover nment in t he st at e gazet t e of t he Republ i c of Indonesi a or t he News of t he Republ i c of Indonesi a t hr ough t he elect r oni c or pr int ed medi a so t hat t he communi t y wi l l f i nd out and under st and t he cont ent and i nt ent of t he l egi sl at ion. Ideal l y, t he di ssemi nat i on of legi sl at i on i s per f or med evenl y t o al l of t he societ y, st ar t i ng f r om t he cent r al l evel t o t he r egions and even t o t he r ur al ar ea. Di git al vi l l age pr ogr am, connect ed wit h t he int er net access, i s a good oppor t uni t y whi ch can be empower ed t o opt i mize t he di ssemi nat i on of legi sl at i on up t o t he r ur al ar ea.
Key wor ds : pr omul gat ion of l aw, use of i nt er net , di git al vi l l age
Abst rak
Hukum dapat menj adi sal ah sat u sar ana unt uk mewuj udkan kesej aht er aan masyar akat . Seger a set el ah hukum i t u di bent uk, t er masuk yang ber upa per at ur an per undang-undangan, maka hukum har us di sebar l uaskan. Penyebar l uasan menur ut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 t ent ang Pembent ukan Per at ur an Per undang-Undangan di l akukan ol eh Pemer i nt ah mel al ui Lembar an Negar a Republ i k Indonesi a at au Ber i t a Negar a Republ i k Indonesi a mel al ui medi a elekt r oni k at au medi a cet ak agar masyar akat menget ahui dan memahami i si ser t a maksud dar i per at ur an per undang-undangan t er sebut . Ideal nya, penyebar l uasan per at ur an per undang-undangan di l akukan secar a mer at a kepada sel ur uh masyar akat , yai t u mul ai dar i t i ngkat pusat sampai ke daer ah, bahkan sampai ke pelosok desa. Pr ogr am desa di gi t al , yang t er hubung dengan akses i nt er net , mer upakan pel uang yang bai k yang dapat di ber dayakan unt uk mengopt imal kan penyebar l uasan per at ur an per undang-undangan hi ngga ke pelosok desa.
Kat a kunci : penyebar l uasan per at ur an per undang-undangan, pemanf aat an i nt er net , desa di git al
Pendahuluan
Kehidupan manusia di dunia t elah mema-suki era globalisasi. Era globalisasi ini t idak bisa lepas dari t eknologi inf ormasi berupa i nt er net ,
yang penggunaannya j uga semakin meluas. Bahkan George Rit zer menyebut i nt er net
seba-gai “ f enomenon dan sebuah cont oh yang baik sekali dari proses globalisasi” . Lebih lanj ut me-nurut Rit zer, globalisasi dapat dipahami seba-gai “ penyebaran kebiasaan-kebiasaan yang mendunia, ekspansi hubungan yang melint asi
Gagasan awal dari art ikel ini t el ah dipr esent asikan ol eh
par a penul is pada kegi at an Seminar Nasional Teknol ogi Berkel anj ut an 2011 (SNATEK 2011), di Univer sit as Jende-ral Soedir man, Purwokert o, 15 Okt ober 2011.
benua, organisasi dari kehidupan sosial pada skala global, dan pert umbuhan dari sebuah ke-sadaran global bersama” .1 Globalisasi memberi-kan j alan unt uk memperoleh t eknologi dan in-f ormasi, t et api unt uk dapat meningkat kan ke-mampuan ini perlu t et ap dibangun daya adap-t asi dan kreaadap-t iviadap-t as masyarakaadap-t sebagai subj ek-nya.
Walaupun t erdapat beberapa dampak ne-gat if yang t erkait dengan penggunaan t eknologi inf ormasi khususnya int er net , namun di sisi
lain, dampak posit if dari t eknologi inf ormasi ini
1
j uga t idak bisa disepelekan. Hal it u t ent unya berhubungan erat dengan sif at dari t eknologi inf ormasi yang mengusung ket erbukaan sehing-ga inf ormasi dalam bent uk apapun, sebanyak apapun j umlahnya, dalam wakt u yang singkat dapat dengan mudah menyebar ke seluruh pen-j uru dunia (prinsip many-t many dan one-t o-many).2 Dengan kat a lain, meminj am pernyat a-an Kenichi Ohmae, kemaj ua-an t eknologi inf or-masi membuat dunia j adi t anpa bat as (memun-culkan gl obal vi l l age).3
Dampak posit if dari t eknologi inf ormasi j uga dirasakan dalam bidang hukum, sepert i adanya upaya penyebarluasan perat uran per-undang-undangan melalui media elekt ronik berbasis i nt er net . Penggunaan media elekt
ro-nik berbasis i nt er net unt uk menyebarluaskan
perat uran perundang-undangan di Indonesia t ent unya dapat menj adikan proses penyebar-luasan it u lebih t erprogram, berkesinambung-an, dan merat a. Proses penyebarluasan pera-t uran perundang-undangan yang seperpera-t i ipera-t u, menurut Jimly Asshiddiqie, disebut sebagai pr o-mul gat i on of l aw. Dan j ust ru pr oo-mul gat ion of l aw it ulah yang seharusnya dilakukan saat ini
dalam menghadapi keadaan “ membanj irnya perat uran” (hyper -r egul at ion) yang sedang t
er-j adi di masyarakat di Indonesia.4
Berdasarkan lat ar belakang t ersebut , ma-ka t ulisan ma-kali ini ama-kan berupaya unt uk menj e-laskan ket erkait an ant ara f akt or perkembangan t eknologi inf ormasi, proses penyebarluasan per-at uran perundang-undangan, dan pot ensi yang ada di dalam program desa digit al. Fokus pem-bahasannya diarahkan unt uk mengungkapkan (melihat ) peluang yang dapat disediakan oleh program desa digit al dalam proses
penyebar-luasan perat uran perundang-undangan di
Indonesia.
2 Prayudi. “ Int ernet Pol i t ik: Anal isis Hi st ori s Peran Tek-nol ogi Media Baru dal am Demokrat isasi Indonesi a” , Jur -nal Par adi gma, Vol . 11 No. 3, 2007, hl m. 142.
3
Legiant o Ahmad, “ Learning Organizat ion (Sebuah Kebu-t uhan bagi Pemer inKebu-t ahan Daerah Era OKebu-t onomi)” , Jur nal Pamong Pr aj a, Ed. 1, 2004, hl m. 18.
4
Jiml y Asshi ddiqie, 2005, Hukum Tat a Negar a dan Pi l ar -Pi l ar Demokr asi : Ser pi han Pemi ki r an Hukum, Medi a, dan Hak Asasi Manusi a, Jakart a: Konst it usi Press, hl m. 183 dan 196.
Pembahasan Digit alisasi
Digit alisasi dapat diart ikan sebagai se-buah proses menyimpan seluruh sif at dan in-f ormasi dari t eks, suara, gambar, at au mul t i -medi a dalam sebuah st r i ng elekt ronik dari nol
dan sat u bit -bit .5 Digit alisasi memungkinkan merubah segala sesuat u menj adi bent uk yang bisa disimpan di berbagai media digit al, sepert i
compact di sc, har d di sk, sert a f l ash di sk, dan
bisa dit ransf er ke berbagai t empat di seluruh dunia dengan hanya memakan wakt u yang sangat singkat melalui j aringan t elekomunikasi yang berupa i nt er net (i nt er nat ional net wor k).6
Berdasarkan pengert ian t ersebut , maka dapat dipahami bahwa sebenarnya digit alisasi berkait an erat dengan proses menyimpan dan ment ransf er inf ormasi secara elekt ronik mela-lui media komput er, t anpa mengenal bat asan wakt u dan t empat . Set iap inf ormasi dapat de-ngan relat if mudah dan cepat unt uk disimpan sert a dit ransf er ke berbagai t empat di belahan dunia. Hal inilah yang kemudian menj adi po-t ensi yang luar biasa dari media i nt er net .
Digit alisasi dengan media i nt er net
seba-gai suat u f enomena yang t erj adi dalam masya-rakat dapat membawa dampak negat if dan posit if bagi masyarakat t ersebut . Dampak negat if -nya, ant ara lain, dapat dilihat pada hadirnya t ayangan-t ayangan yang bersif at asusila yang dapat dengan mudah diakses oleh set iap orang, bahkan anak-anak. Int er net dapat j uga
diguna-kan sebagai media “ berbuat nakal” bagi pihak-pihak t ert ent u yang ingin mengusik ket ert iban umum, sepert i halnya yang t erj adi pada kasus
hacki ng t erhadap websi t e Komisi Pemilihan
Umum <www. t np. kpu. go. id> pada t ahun 2004.7
5 Nico Andri ant o, 2007, Good e-Gover nment : Tr anspar an-si dan Akunt abi l i t as Publ i k mel al ui e-Gover nment , Mal ang: Bayumedia, hl m. 31.
6 Ibi d. , hl m. 32.
-Melalui i nt er net pula, inf ormasi dari
ber-bagai belahan di dunia dapat dengan cepat di-t erima oleh masyarakadi-t , bahkan di-t idak j arang inf ormasi it u mengandung isu suku, agama, ras, dan aliran yang j ust ru berpot ensi menyulut konf lik, sehingga dapat mengancam kedaulat an bangsa dan negara. Sedangkan dampak posit if dari digit alisasi dirasakan di seluruh segi kehidupan masyarakat apabila mampu dimanf aat -kan secara opt imal, ant ara lain, dapat dilihat pada pemanf aat an media i nt er net dalam
bi-dang pendidikan, sepert i unt uk menyelenggara-kan proses belaj ar-mengaj ar secara elekt ronik melalui i nt er net (e-l ear ning).8 Dengan e-l ear n-i ng n-inn-i bahkan memungkn-inkan para pesert a
pro-ses belaj ar-mengaj ar yang let aknya saling ber-j auhan t et ap dapat melaksanakan akt ivit as belaj ar-mengaj ar mereka,9 seakan-akan mere-ka berada dalam suat u kelas.
Penyelenggaraan hukum dan pemerint ah-an, yang t ent u j uga berart i berkait an dengan upaya penegakan hukum secara luas, maka di-git alisasi j uga dapat dimanf aat kan sebagai me-dia unt uk penyebarluasan perat uran perun-dang-undangan, mengawasi kinerj a para pej a-bat pemerint ah, dalam hal menyelenggarakan pembangunan, pelayanan kepada masyarakat , dan penet apan kebij akan.10
Desa Digit al dalam Perspekt if Hukum Memahami Desa Digit al
Negara Kesat uan Republik Indonesia t idak hanya t erdiri dari daerah at au wilayah provinsi. Daerah at au wilayah provinsi it u t erbagi lagi dalam daerah at au wilayah kabupat en/ kot a
l ihat Dedy Nur hi dayat , “ Eksaminasi t erhadap Perkar a Pi dana Terkai t Pembobol an Sit us Komi si Pemil ihan Umum” , Jur nal Hukum Teknol ogi , Vol . 2 No. 1, Agust us 2005, hl m. 29-47.
8 Arif Suryant o Put ro, “ Tinj auan Pemanf aat an Int er net Sehat pada Masyar akat di Kot a Yogyakar t a” , Jur nal Penel i t i an Pos dan Inf or mat i ka, Vol . 1 No. 1 Sept ember 2011, hl m. 74.
9 Ahmad Syahi d, “ Pemanf aat an Int er net dal am Pendi di -kan dan Pembel aj ar an” , Jur nal Iqr a, Il mu Pendi di kan & Kei sl aman, Vol . 4 No. 2 Jul i 2008, hl m. 258 dan 261. 10
Yunus Jackson Obeng, “ Penggunaan Medi a Int er net da-l am Pengaw asan Masyar akat t erhadap Prakt ek Birokrasi di Kot a Kupang (St udi t erhadap Pener apan El ect r oni c Gover nment mel al ui Websi t e kot akupang. go. i d pada Tahun 2005)” , Jur nal Admi ni st r asi Pemer i nt ahan Dae-r ah, Vol . II No. 6, 2005, hl m. 143-144.
yang t erbagi lagi dalam sat uan pemerint ahan t erendah, yait u desa. Keberadaan wilayah desa di Indonesia sebagai sat uan pemerint ahan t e-rendah t idak bisa diabaikan, karena keberadaan desa t elah dikenal sej ak zaman keraj aan-ke-raj aan nusant ara sebelum kedat angan Belan-da.11 Sehingga dari perspekt if hist oris, dapat dikat akan bahwa desa ini sebenarnya merupa-kan “ embrio bagi t erbent uknya masyarakat polit ik dan pemerint ahan di Indonesia” .12
Hasil penelit ian t elah menunj ukkan pula bahwa j umlah desa di Indonesia ialah sebanyak 65. 189 (enam puluh lima ribu serat us delapan puluh sembilan) desa, sedangkan kelurahan hanya berj umlah 7. 878 (t uj uh ribu delapan rat us t uj uh puluh delapan).13 Art inya, bahwa wilayah Negara Kesat uan Republik Indonesia 89%nya merupakan pemerint ahan desa, dan ha-nya sekit ar 11%ha-nya pemerint ahan kelurahan yang bersif at perkot aan.14 Berdasarkan dat a it u, maka kedudukan desa j elas sangat pent ing art inya unt uk mencapai t uj uan pembangunan nasional, yait u kesej aht eraan, at aupun sebagai lembaga yang bisa memperkuat st rukt ur peme-rint ahan Indonesia.
Menurut Soerj ono Soekant o, desa meru-pakan ist ilah dari bahasa Jawa unt uk menunj uk kepada suat u j enis masyarakat hukum adat di Jawa.15 R. Soepomo berpendapat bahwa desa di Jawa adalah suat u persekut uan hukum, sebab t erdiri dari suat u golongan manusia yang mem-punyai t at a susunan t et ap, memmem-punyai pengu-rus, mempunyai wilayah dan hart a benda, ber-t indak sebagai kesaber-t uan ber-t erhadap dunia luar, sert a t idak mungkin dibubarkan.16
11 Muhadam Labol o, “ Format Baru Pemeri nt ahan Desa (Nagar i, Gampong, Kampung dan Lembang) dal am Un-dang-undang No. 32 Tahun 2004” , Jur nal Pamong Pr aj a, Ed. 4, 2006, hl m. 42.
12 Di dik Sukriono, “ Konsep Pemer int ahan Desa dal am Pol i -t ik Hukum” , Jur nal Law Enf or cement , Vol . 2 (1) Apr il -Sept ember 2008, hl m. 34.
13 Hanif Nur chol i sh, 2011, Per t umbuhan dan Penyel engga-r aan Pemeengga-r i nt ahan Desa, Jakaengga-rt a: Eengga-rl angga, hl m. 2. 14
Loc. ci t 15
Kushandaj ani , “ Ot onomi Desa dan Impl ikasi UU. No. 32 Tahun 2004 t erhadap Penyel enggaraan Pemer int ahan Desa: Tel aah Normat i f dan Sosiol ogis” , Jur nal Hukum dan Di nami ka Masyar akat , Vol . 3 (2) April 2006, , hl m. 38.
16
Hanif Nurcholis mendef inisikan desa se-bagai suat u wilayah yang didiami oleh sej umlah penduduk yang saling mengenal at as dasar hubungan kekerabat an dan/ at au kepent ingan polit ik, sosial, ekonomi, dan keamanan yang dalam pert umbuhannya menj adi kesat uan ma-syarakat hukum berdasarkan adat sehingga t er-cipt a ikat an lahir bat in ant ara masing-masing warganya, umumnya warganya hidup dari per-t anian, mempunyai hak mengaper-t ur rumah per-t angga sendiri, dan secara administ rat if berada di bawah pemerint ahan kabupat en/ kot a.17 Se-dangkan di dalam sist em pemerint ahan daerah di Indonesia, menurut UU No. 32 Tahun 2004 t ent ang Pemerint ahan Daerah, desa didef ini-sikan sebagai kesat uan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan unt uk mengat ur dan me-ngurus kepent ingan masyarakat set empat , ber-dasarkan asal-usul dan adat ist iadat set empat yang diakui dalam sist em pemerint ahan nasio-nal dan berada di daerah kabupat en/ kot a.
Pengat uran yang t erdapat dalam undang-undang t ersebut j uga mengindikasikan bahwa desa sebagai sat uan masyarakat hukum adat yang memiliki kewenangan unt uk mengat ur dan mengurus kepent ingan masyarakat nya, memili-ki peluang unt uk mengembangkan pot ensi-po-t ensinya.18 Tent unya inilah semangat yang se-cara garis besar diusung oleh UU No. 32 Tahun 2004, yait u semangat agar t iap-t iap daerah dapat mengat ur dan mengurus dirinya sesuai dengan kondisi lokal mereka sendiri.19
Unt uk memperkuat desa, pemerint ah ke-mudian mengeluarkan Perat uran Ment eri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 t ent ang Tat a Cara Penyerahan Urusan Pemerint ahan Kabupat en/ Kot a kepada Desa. Dalam perat uran it u dij elas-kan bahwa urusan pemerint ahan kabupat en/ kot a yang dapat diserahkan kepada desa ada 31
17 Nurchol i sh, op. ci t .
18 Arf a’ i dan Ayu Desi ana, “ Anal i si s Yur idis t ent ang Susun-an dSusun-an KedudukSusun-an BadSusun-an Permusyawar at Susun-an Desa seba-gai Lembaga Legi sl at if dal am Pemer int ahan Desa menu-rut Per at ur an Pemeri nt ah Nomor 72 Tahun 2005 t en-t ang Desa” , Jur nal For um Akademi ka, Vol . 15 No. 1 Apr il 2007, hl m. 158.
19
Nasokah, “ Impl ement asi Regul at or y Impact Assessment (RIA) sebagai Upaya Menj ami n Part i si pasi Masyarakat dal am Penyusunan Perat uran Daer ah” , Jur nal Hukum, Vol . 15 No. 3, Jul i 2008, hl m. 444.
(t iga puluh sat u) urusan, beberapa di ant aranya ialah: urusan bidang pert anian dan ket ahanan pangan, bidang kehut anan dan perkebunan, bidang pendidikan dan kebudayaan, bidang pe-kerj aan umum, bidang penerangan (inf ormasi) dan komunikasi, sert a bidang pemberdayaan masyarakat desa.20
Namun di sisi lain, dengan banyak pot ensi yang t erkandung pada suat u desa, pada kenyat aannya belum t ent u mampu menj adikan desa t ersebut sej aht era, apabila pot ensi yang t erkandung di dalamnya t idak bisa dikelola secara opt imal, apalagi masih dit ambah dengan t erj adinya kesenj angan dalam penerimaan in-f ormasi ant ara desa dan kot a. Art inya, keadaan t ersebut menj adikan desa t adi t idak mampu memperoleh keunt ungan secara ekonomis bagi masyarakat nya. Dengan demikian, dapat di-pahami bahwa salah sat u f akt or penyebab sua-t u desa belum sampai ke sua-t ahap sej ahsua-t era ialah karena desa t ersebut masih belum mampu berkreat ivit as dan berinovasi t erhadap penggu-naan t eknologi dan inf ormasi yang disesuaikan dengan kebut uhan sert a peluang lokal di desa it u.21
Kendala sepert i t ersebut di at as, kemudi-an memicu pemerint ah, khususnya Kement erikemudi-an Komunikasi dan Inf ormasi (Kominf o), unt uk menj adikan t eknologi dan inf ormasi sebagai pi-lar bangsa, penghasil devisa baru, sebagai pe-nyerap t enaga kerj a, menj adi alat mencerdas-kan bangsa dan alat demokrasi sert a menj aga Negara Kesat uan Republik Indonesia, t ermasuk desa-desa yang ada di dalamnya. Diupayakan-lah kemudian agar desa-desa it u memiliki akses
20
Lihat penj el asan mengenai set t i ng yuri dis kewenangan desa dar i Tri Wi dodo W. Ut omo dan Andi Wahyudi , “ Penat aan Kewenangan (Urusan) Pemer int ahan Desa dan Pengembangan St andar Pel ayanan Minimal (SPM)” , Jur nal Bor neo Admi ni st r at or , Vol . 4 No. 2, 2008, hl m. 1314-1317.
t erhadap t eknologi dan inf ormasi, sekaligus menyiapkan masyarakat nya agar mampu meng-gunakan t eknologi t ersebut .22 Sehingga pada perkembangan selanj ut nya, lahirlah program desa digit al di beberapa daerah di Indonesia, yang landasannya dapat dit elusuri mulai dari UUD 1945, t erut ama Pasal 28C ayat (1) dan Pasal 28F. Pasal 28C ayat (1) mengat ur bahwa set iap orang berhak mengembangkan diri me-lalui pemenuhan kebut uhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manf aat dari ilmu penget ahuan dan t eknologi, seni dan budaya, demi meningkat kan kualit as hidupnya dan demi kesej aht eraan umat manusia. Pasal 28F UUD 1945 mengat ur bahwa set iap orang berhak unt uk berkomunikasi dan memperoleh inf ormasi unt uk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, sert a berhak unt uk men-cari, memperoleh, memiliki, menyimpan, me-ngolah, dan menyampaikan inf ormasi dengan menggunakan segala j enis saluran yang t er-sedia.
UU No. 12 Tahun 2011 t ent ang Pemben-t ukan PeraPemben-t uran Perundang-Undangan, serPemben-t a Perat uran Presiden Nomor 1 Tahun 2007 t en-t ang Pengesahan, Pengundangan, dan Penye-barluasan Perat uran Perundang-Undangan t elah mengisyarat kan j uga bahwa unt uk melakukan proses penyebarluasan perat uran perundang-undangan diperlukan sarana berupa sist em inf ormasi berbasis i nt er net . Kemudian, t
erda-pat Keput usan Presiden Nomor 20 Tahun 2006 t ent ang Dewan Teknologi Inf ormasi dan Komu-nikasi Nasional. Selain it u, secara implisit , ke-waj iban pemerint ah unt uk menyebarluaskan in-f ormasi melalui pemanin-f aat an j aringan t eknologi inf ormasi t elah pula diat ur dalam Inst ruksi Pre-siden No. 3 Tahun 2003 t ent ang Kebij akan dan St rat egi Nasional Pengembangan E-Gover
n-ment .23 Bahkan dengan diat urnya urusan bidang
penerangan (inf ormasi) dan komunikasi sebagai
22 Tat iek Mariyat i, “ Pembangunan Desa dengan Meman-f aat kan St r at egi Pemerat aan Akses Int ernet dan Penye-bar an Inf ormasi” , Jur nal Pos dan Tel ekomuni kasi , Vol . 7 No. 3, Sept ember 2009, hl m. 35 dan 38.
23
El y Suf iant i, “ Apl ikasi EGover nment dal am Meningkat -kan Kual it as Pel ayanan Publ ik pada Beberapa Pemerin-t ah Daerah KoPemerin-t a/ KabupaPemerin-t en di Indonesia” , Jur nal Il mu Admi ni st r asi , Vol . 4 No. 4, Desember 2007, hl m. 363.
salah sat u urusan yang dapat diserahkan kepa-da desa unt uk diselenggarakan kepa-dalam Perat uran Ment eri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006, maka hal it u secara t idak langsung t elah pula menyediakan landasan hukum sekaligus peluang bagi perwuj udan program desa digit al.
Begit upun dengan UU No. 14 Tahun 2008 t ent ang Ket erbukaan Inf ormasi Publik, yang ke-t enke-t uan Pasal 7 nya dapake-t j uga dipahami seba-gai landasan yuridis lainnya yang t erkait erat dengan pelaksanaan program desa digit al. Pada int inya, Pasal 7 t ersebut mewaj ibkan badan publik, ant ara lain sepert i lembaga legislat if , eksekut if , dan yudikat if , unt uk menyediakan, memberikan dan/ at au menerbit kan inf ormasi publik yang berada di bawah kewenangannya kepada pemohon inf ormasi publik, selain in-f ormasi yang dikecualikan sesuai dengan ket en-t uan, dan unen-t uk kewaj iban ien-t u, badan publik dimaksud dapat memanf aat kan sarana dan/ at au media elekt ronik dan nonelekt ronik.24
Secara konsept ual, program desa digit al merupakan program unt uk menj adikan desa sebagai wilayah pembangunan yang memberda-yakan masyarakat dengan sarana t eknologi in-f ormasi yang memadai.25 Jadi, ada 2 (dua) kat a kunci yang sekaligus menj adi unsur pent ing di dalam konsep desa digit al t ersebut , yait u: pem-berdayaan masyarakat desa, dan t eknologi in-f ormasi. Menurut Rusbiyant i Sripeni, pemberda-yaan masyarakat desa pada hakekat nya meru-pakan upaya unt uk menggali pot ensi-pot ensi desa yang sudah ada dan selalu perlu dit ingkat -kan, sehingga desa it u menj adi desa unggulan sesuai dengan kondisi dan kebut uhan mereka.26
24 Susy El l a, “ Pemanf aat an E-Gover nment dal am Menj a-wab Tant angan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 t ent ang Ket erbukaan Inf ormasi Publ ik” , Jur nal Wacana Ker j a, Vol . 13 No. 2, 2010, hl m. 187.
25 Sukma Dw i Pri ardi, 2011, “ Peran St rat egi s Perbankan dal am Mendukung Terwuj udnya Desa Digit al di Indo-nesi a” , di muat dal am Buku Pr ogr am Semi nar Nasi onal Teknol ogi Ber kel anj ut an 2011, Purwokert o: Universi t as Jenderal Soedirman, Dewan Teknol ogi Inf or masi dan Komunikasi Nasional , sert a Masyarakat Tel emat ika Indonesi a, hl m. 22. Bahkan menurut Mar iyat i, program desa digi t al ini pot ensi al j uga unt uk membant u pet ani dal am meningkat kan hasil pert ani an mereka. Lihat Mar iyat i , l oc. ci t . , hl m. 34-36.
26
er-Desa digit al j uga menj adi salah sat u pro-gram dari PT. Telkom yang mengemban visi unt uk menj adikan t eknologi inf ormasi dan t e-lekomunikasi sebagai nilai t ambah ekonomi daerah. Menurut Tri Dj at miko, Kadivre IV PT. Telkom Jawa Tengah dan Daerah Ist imewa Yog-yakart a, t uj uan dari program desa digit al ini ialah agar masyarakat yang ada di pedesaan dapat mengakses inf ormasi yang set ara dengan masyarakat perkot aan.27
Perwuj udan program desa digit al ini me-lalui t ahap-t ahap, yang secara garis besarnya t erdiri dari t ahap membangun j aringan t eleko-munikasi berupa t elepon, t ahap memperkenal-kan dan menyediamemperkenal-kan t eknologi komput er, t a-hap memperkenalkan dan menyediakan akses
i nt er net , hingga sampai ke t ahap desa yang
bersangkut an dapat membuat dan mengelola sit usnya sendiri (memiliki websit e), sepert i
yang t elah dilakukan oleh Desa Ciburial, Keca-mat an Cimeyan, Kabupat en Bandung, Jawa Ba-rat , dengan sit us <www. desaciburial. com>. Ke-mudian yang t erkini t erdapat pula program dari pihak pemerint ah yang erat kait annya dengan program desa digit al. Kement erian Kominf o saat ini sedang melaksanakan Program Inf or ma-t i on and Communi cama-t ion Technology (ICT) Pura,
yait u sebuah gerakan yang melibat kan segenap pemangku kepent ingan di bidang t eknologi in-f ormasi unt uk bersama-sama memet akan sert a menghit ung indeks kesiapan kabupat en-kabupa-t en dan koen-kabupa-t a-koen-kabupa-t a di Indonesia dalam mengha-dapi era masyarakat digit al yang berbasis t ek-nologi inf ormasi.28
Inisiat if baru ini dilaksanakan berdasar-kan Keput usan Direkt ur Jenderal Penyelengga-raan Pos dan Inf ormat ika Nomor 194/ KEP/
hadap Kesej aht er aan Kel uarga” , Jur nal Sosi al , Vol . 9 No. 2, Sept ember 2008, hl m. 50-51.
27 Suara Mer deka, 2011, “ Kandat el Semar ang Resmikan 7 Desa Digit al ” , di muat dal am <ht t p: / / desadigit al . my8-bit . com/ berit a. php?i d=1>, diakses pada 29 Sept ember 2011, 12. 35 WIB.
28 Kement eri an Komunikasi dan Inf ormat ika, 2011, “ Siaran Pers Nomor 73/ PIH/ KOMINFO/ 11/ 2011 t ent ang Persai -ngan Ant ar Pemda dal am Memper ebut kan Penghargaan Bergengsi ICT Mel al ui ICT Pura 2011” , di muat dal am <ht t p: / / kominf o. go. id/ berit a/ det ail / 1867/ Si aran+Pers +No. +73-PIH-KOMINFO-11-2011+t ent ang+Persaingan+ Ant ar+Pemda+Dal am+Memperebut kan+Penghargaan+Be rgengsi+ICT+Mel al ui+ICT+Pur a+2011+>, di akses pada 27 November 2011, 17. 03 WIB.
PPI/ KOMONFO/ 07/ 2011 t ent ang Tim Pelaksana Program ICT Pura. Program ICT Pura didorong at as kebut uhan yang t elah mendesak bagi Pemerint ah Indonesia unt uk segera memiliki suat u kumpulan dat a indikat or di bidang t ek-nologi inf ormasi yang lengkap, t ermut akhir dan t erukur hingga ke t ingkat kabupat en dan kot a.29
Sehubungan dengan Program ICT Pura t ersebut , sej auh ini, Kement erian Kominf o t e-lah menyelenggarakan berbagai program nasio-nal sebagai bent uk usaha nyat a dalam memenu-hi kebut uhan hak masyarakat Indonesia unt uk memperoleh akses t eknologi inf ormasi, yait u di ant aranya ialah dengan melaksanakan Program Desa Berdering, Desa Punya Int er net , Pusat
La-yanan Int er net Kecamat an, hingga Nusant ar a Int er net Exchange.30
Kini dapat dikat akan bahwa keberadaan desa digit al t elah mengalami perkembangan. Menurut penulis, perkembangan desa digit al it u dapat dipengaruhi set idaknya oleh beberapa f akt or. Per t ama, t ingkat pendidikan
masyara-kat Indonesia, khususnya mereka yang berada di desa-desa. Apabila pendidikan mereka sema-kin baik, t ent unya hal ini dapat pula menj adi-kan mereka semakin “mel ek t eknologi inf
orma-si” . Secara t eoret is, unt uk sampai ke t ahap
mel ek t eknologi inf ormasi, maka harus diawali
dulu dengan apa yang disebut dengan “mel ek
inf ormasi” (i nf or mat ion l i t er acy). Oleh karena
it u, maka keadaan mel ek t eknologi inf ormasi
ini j elas menempat kan pendidikan sebagai f ak-t or (kunci) uak-t amanya.31 Kedua, akses t erhadap
t eknologi inf ormasi. Saat ini, t eknologi inf or-masi sudah menj adi sesuat u yang umum, yang cenderung dapat dengan mudah diakses (di-j angkau) dan dipela(di-j ari oleh sebagian anggot a masyarakat .32 Ket i ga, keseriusan upaya dari
pemerint ah unt uk semakin memperkenalkan
29 Ibi d. 30 Ibi d.
31 Abdul Rahman Harahap, “ Tingkat Pemahaman Masya-rakat t erhadap Apl ikasi Komput er dan Int ernet ” , Jur nal Penel i t i an Komuni kasi dan Pembangunan, Vol . 11 No. 1, April 2010, hl m. 134-135.
32
t eknologi inf ormasi kepada masyarakat , yang hal ini t idak lain akan bermuara pada upaya mewuj udkan t at a kelola pemerint ahan yang baik yang berbasiskan t eknologi inf ormasi (good e-gover nment ).33
Beberapa cont oh desa digit al, ant ara lain dapat dit emukan pada Desa Candirej o (Keca-mat an Borobudur, Kabupat en Magelang, Jawa Timur), Desa Nyat nyono (Kecamat an Ungaran, Kabupat en Semarang, Jawa Tengah), Desa Sam-pali, Desa Sumber Karya, sert a Desa Terang Bu-lan (Sumat era Ut ara), Desa Bukit Sangkal (Su-mat era Selat an), Desa Lamj abat (Banda Aceh), dan Desa Lampisang (Aceh Besar).
Desa Digit al dan Peluangnya dalam Meng-efektifkan Penegakan Hukum pada Tingkat Akar Rumput (Grass Root )
Pembent ukan hukum merupakan saah sat u t ahap dalam proses panj ang unt uk meng-at ur masyarakmeng-at . Tahap pembent ukan hukum masih harus diikut i oleh pelaksanaannya secara nyat a. Pelaksanaan inilah yang disebut dengan penerapan hukum at au penegakan hukum. Un-t uk dapaUn-t menj alankan hukum, maka diperlu-kan rangkaian panj ang unsur-unsur yang men-j adi f akt or penunmen-j ang men-j alannya hukum t ersebut , mulai dari perat uran at au ket ent uan hukum-nya, orang-orang yang akan melaksanakanhukum-nya, sarana at au f asilit as pendukungnya, bahkan sampai f akt or kesediaan at au kesadaran dari orang-orang it u unt uk menj alankan hukum.34
Menurut Soekant o, ada beberapa f akt or yang dapat mempengaruhi penegakan hukum di masyarakat . Per t ama, f akt or hukumnya sendiri,
yang dapat berupa undang-undang at aupun put usan pengadilan. Kedua, f akt or penegak
hu-kum, yait u pihak-pihak yang membent uk mau pun melaksanakan isi hukum. Ket i ga, f akt or
sa-rana at au f asilit as yang mendukung penegakan hukum. Sarana at au f asilit as it u, ant ara lain, dapat meliput i sumber daya manusia yang ber-pendidikan dan t erampil, peralat an yang me-madai sert a organisasi yang baik. Keempat ,
f akt or masyarakat , yait u lingkungan di t empat
33
Lihat misal nya pada Suf iant i, l oc. ci t . , dan El l a, l oc. ci t . 34
Sat j i pt o Rahardj o, 1980, Hukum dan Masyar akat , Bandung: Angkasa, hl m. 69.
hukum t ersebut berlaku at au dilaksanakan. Sa-lah sat u bagian dari f akt or ini adaSa-lah pendapat masyarakat mengenai hukum. Terdapat kecen-derungan pada masyarakat , bahwa hukum it u diart ikan sebagai pet ugas (penegak hukum). Salah sat u akibat dari pendapat it u adalah, bahwa baik at au buruknya hukum akan selalu dikait kan dengan perilaku penegak hukum. Apabila buruk perilaku penegak hukumnya, maka masyarakat akan berpendapat hukumnya j uga buruk. Begit u j uga sebaliknya. Kel i ma,
f akt or kebudayaan, yait u sebagai hasil karya, cipt a, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Fakt or ke-budayaan ini mempunyai lingkup pengert ian yang sangat luas. Fakt or kebudayaan meliput i nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Termasuk j uga dalam f akt or kebudayaan ini, menurut Soekant o, ada-lah f akt or kesadaran hukum. 35 Kelima f akt or yang mempengaruhi penegakan hukum t ersebut saling berkait an sat u dengan yang lainnya. Fak-t or-f akFak-t or iFak-t u merupakan inFak-t i dari upaya pene-gakan hukum, sekaligus j uga merupakan t olok ukur dari ef ekt ivit as penegakan hukum.36
Agak berbeda halnya dengan Ward Beren-schot dan Adriaan Bedner, mereka j ust ru ber-pendapat bahwa penegakan hukum yang berke-adilan dipengaruhi oleh f akt or-f akt or sepert i masalah ket idakset araan sosial dalam masyara-kat , koneksi yang baik (backi ng), uang,
kesa-daran hukum, penget ahuan t ent ang prosedur di kepolisian sert a pengadilan (prosedur berperka-ra at au beberperka-racaberperka-ra), dan kapasist as unt uk memo-bilisasi orang.37 Fakt or-f akt or it u t ampaknya memang lebih nyat a t erj adi dalam prakt ik pe-negakan hukum sehari-hari di masyarakat Indo-nesia.
35 Lihat dal am Sigit Ir iant o, “ Kedudukan yang Sama di Depan Hukum (Equal i t y bef or e t he Law) dal am Pe-negakan Hukum di Indonesia” , Jur nal Hukum dan Di na-mi ka Masyar akat , Vol . 5 No. 2, Apr il 2008, hl m. 212. 36
Ibi d. 37
Dilihat dari perspekt if f akt or-f akt or yang dapat mempengaruhi penegakan hukum di masyarakat t ersebut , maka perihal keberadaan desa digit al ini set idaknya dapat dipahami se-bagai berikut . Per t ama, apabila dihubungkan
dengan f akt or hukumnya sendiri, yang salah sa-t u consa-t ohnya dapasa-t berupa perasa-t uran perun-dang-undangan, maka keberadaan desa digit al ini dapat berpeluang menj adi desa yang di dalamnya arus inf ormasi mengenai perat uran perundang-undangan dapat dengan mudah di-akses (diket ahui) oleh masyarakat .38 Dengan demikian, keberadaan desa digit al ini j uga da-pat ikut menj adi salah sat u solusi bagi masalah keadaan ket idakset araan sosial dalam masyara-kat Indonesia, yang di dalamnya t erkandung pu-la masapu-lah ket idakset araan (kesulit an) masya-rakat kecil dalam mengakses hukum yang ber-keadilan (access t o j ust i ce).
Kedua, hal t ersebut di at as berart i akan
memudahkan (membant u) pula pihak penegak hukum dalam melakukan sosialisasi perat uran perundang-undangan kepada masyarakat secara lebih merat a. Ket i ga, selain membawa dampak
posit if bagi f akt or penegak hukum, kemudahan akses inf ormasi yang disediakan pada sebuah desa digit al akan berpeluang mendorong proses kesadaran hukum masyarakat yang ada di da-lam desa digit al t ersebut . At au set idaknya, akan berpengaruh secara posit if t erhadap ke-adaan “mel ek hukum” dari individu-individu
yang hidup di dalam desa digit al it u.
Penyebarluasan Peraturan Perundang-unda-ngan melalui Desa Digit al
Sat j ipt o Rahardj o berpendapat , bahwa hukum, t ermasuk perat uran perundang-unda-ngan, j uga merupakan kebut uhan manusia un-t uk mencapai kesej ahun-t eraan (memberi kebaha-giaan kepada rakyat dan bangsa).39 Jadi, dia t i-dak hanya semat a-mat a digunakan unt uk
38 Lihat James Robert Pual il l in, “ Penguat an Kel embagaan Desa” , Jur nal Admi ni st r asi Pemer i nt ahan Daer ah, Vol . 1 No. 10, 2010, hl m. 28.
39
Umbu Lil y Pekuwal i , “ Eksi st ensi PERDA dal am Mewuj udkan Kesej aht er aan Masyar akat ” , Jur nal Hukum Yust i si a, Vol . XXI No. 79 Januari-Apr il 2010, hl m. 105, dan Ot ong Rosadi, “ Art i Pent ing Program Legisl asi Daer ah bagi Pencapaian Tuj uan Ot onomi Daer ah” , Jur nal Wacana Par ami t a, Vol . 7 No. 1 2007, hl m. 43.
capai keadilan, kedamaian, dan kepast ian hu-kum (j ust i ce, peacef ul l , and l egal cer t ai nt y).
Oleh karena it u, hukum t ersebut menj adi sa-ngat perlu unt uk dit egakkan di t engah-t engah masyarakat . Terkait dengan hal t ersebut , maka masyarakat t empat di mana hukum (perat uran perundang-undangan) akan dit erapkan perlu mendapat kan pemahaman yang baik mengenai hukum it u melalui proses yang disebut penye-barluasan hukum (sosialisasi). Alasan sederha-nanya ialah, bahwa bagaimana mungkin rakat akan t aat t erhadap hukum apabila masya-rakat it u t idak diperkenalkan dan diberikan pe-mahaman yang baik mengenai isi hukum t adi?40
Jadi, proses penyebarluasan hukum se-dikit banyak dapat memberikan pengaruh kepada implement asi perat uran perundang-un-dangan yang t elah disahkan.41 Sehubungan de-ngan proses penyebarluasan hukum, t ermasuk perat uran perundang-undangan, di masyarakat , menarik kiranya unt uk mencermat i pendapat yang disampaikan oleh Asshiddiqie. Dengan mengadopsi pendapat dari Richard Susskind, Asshiddiqie membedakan proses penyebarluas-an hukum menj adi 2 (dua) macam proses, yait u yang disebut sebagai publ i cat i on of l aw dan pr omul gat ion of l aw.42
Menurut Asshiddiqie, publ i cat i on of l aw
mengacu pada kegiat an unt uk menerbit kan se-cara f ormal produk hukum, sepert i put usan pe-ngadilan (voni s), penet apan administ rasi (be-schi kki ng), dan pengat uran (r egel ing),
sedang-kan pr omul gat ion of l aw mengacu pada kegiat
-an unt uk menyebarluask-an produk-produk hu-kum t adi ke t engah-t engah masyarakat secara meluas. Pr omul gat ion of l aw menghendaki agar
40 Bandingkan (sej al an) dengan Nasokah, l oc. ci t . , hl m. 448. Lihat j uga pendapat Bagir Manan t erkait perihal part isipasi publ ik dal am proses l egisl asi ini , namun da-l am kont eks daerah. Manan menj eda-l askan, bahw a “ Me-ngikut ser t akan pihak-pihak l uar DPRD dan pemer int ah daer ah sangat pent ing unt uk … (ii) menj amin Perda sesuai dengan kenyat aan yang hi dup dal am masyar akat ; (ii i) menumbuhkan r asa memil iki (sense of bel ongi ng), rasa bert anggung j awab at as Per da t er sebut ” . Lihat Prapt anugraha, “ Part isipasi Masyarakat dal am Pembent ukan Per at ur an Daer ah” , Jur nal Hukum, Vol . 15 No. 3, Jul i 2008, hl m. 470.
41
Iza Rumest en R. S. , “ Model Ideal Part isipasi Masyarakat dal am Pembent ukan Per at uran Daer ah” , Jur nal Di nami ka Hukum, Vol . 12 No. 1 Januar i 2012, hl m. 144. 42
penyebarluasan produk hukum ke masyarakat dilakukan secara t erprogram, berkesinambung-an, dan merat a. Tuj uannya ialah agar masyara-kat menget ahui dan memahami mengenai pro-duk hukum it u.43 Unt uk di masa yang akan da-t ang, masih menuruda-t Asshiddiqie, pr omul gat ion of l aw inilah yang perlu unt uk dipacu
pelaksa-naannya.
Menyebarluaskan perat uran perundang-undangan pada hakekat nya merupakan suat u proses yang dimaksudkan agar khalayak ramai menget ahui perat uran perundang-undangan dan mengert i (memahami) isi sert a maksud-maksud yang t erkandung di dalamnya (Penj elasan Pasal 88 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 t ent ang Pembent ukan Perat uran Perundang-Undangan). Jadi, penyebarluasan perat uran perundang-undangan memiliki t uj uan agar ma-syarakat mengert i dan memahami maksud yang t erkandung dalam perat uran perundang-unda-ngan, sehingga mereka dapat melaksanakan isi (ket ent uan) perat uran perundang-undangan it u.44 Mengenai siapa yang dimaksud dengan masyarakat t ersebut , ialah t erdiri dari pihak Lembaga negara, kement erian, lembaga peme-rint ah nonkement erian, pemepeme-rint ah daerah, sert a pihak t erkait lainnya; dan masyarakat di lingkungan nonpemerint ah lainnya. 45
Penyebarluasan (sosialisasi) perat uran perundang-undangan t ersebut merupakan t ugas yang harus dilakukan oleh pihak pemerint ah, baik Pemerint ah Pusat maupun Pemerint ah Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat , Dewan Per-wakilan Rakyat Daerah, dan Dewan PerPer-wakilan Daerah (Pasal 88, Pasal 90, Pasal 92, dan Pasal 94 UU No. 12 Tahun 2011, sert a Pasal 29 Pera-t uran Presiden Nomor 1 Tahun 2007 Pera-t enPera-t ang Pe-ngesahan, Pengundangan, dan Penyebarluasan Perat uran Perundang-Undangan).46
Menurut Abdul Gani Abdullah, f ungsi pe-nyebarluasan sebenarnya t idak t ermasuk dalam
43 Ibi d.
44 Mar ia Fari da Indrat i, 2007, Il mu Per undang-Undangan: Pr oses dan Tekni k Pembent ukannya, Yogyakart a: Kani si us, hl m. 162.
45
Ibi d. , hl m. 163. 46
Abdul Gani Abdul l ah, “ Pengant ar Memahami Undang-Undang t ent ang Pembent ukan Per at uran Perundang-Undangan” , Jur nal Legi sl asi Indonesi a, Vol . 1 No. 2 Sept ember 2004, hl m. 10.
proses pembent ukan perat uran perundang-un-dangan, walaupun hal t ersebut t erkait dengan t eori f i ct iel eer yang masih dianut dalam f rasa
penut up sebuah undang-undang, yait u “ agar set iap orang menget ahuinya” , karena pada umumnya masyarakat menget ahui adanya un-dang-undang bukan dari Lembaran Negara at au Lembaran Daerah melainkan dari pemberit aan di media massa at au publikasi khusus perun-dang-undangan.47
Secara t eknis, penyebarluasan perat uran perundang-undangan dapat dilakukan melalui media elekt ronik, sepert i t elevisi, radio, at au j uga melalui media cet ak dan cara lainnya (Penj elasan Pasal 88 dan Penj elasan Pasal 92 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, sert a Pasal 29 Perat uran Presiden Nomor 1 Tahun 2007). Selain it u, unt uk mengimbangi perkem-bangan yang t erj adi secara pesat di bidang t ek-nologi inf ormasi, pemerint ah j uga menyeleng-garakan sist em inf ormasi perat uran perundang-undangan yang berbasis i nt er net .48
Selain t uj uan dari penyebarluasan perat -uran perundang-undangan sebagaimana t elah dij elaskan di at as, harus dipahami pula bahwa adanya penyebarluasan perat uran perundang-undangan, secara implisit , sebenarnya j uga me-ngandung harapan adanya f eedback dari
masya-rakat t erhadap perat uran perundang-undangan yang sedang dit erapkan t ersebut . Karena pat ut diingat bahwa akan selalu t erj adi int eraksi yang dinamis, hubungan t arik-menarik ant ara hu-kum, t ermasuk perat uran perundang-undangan, dengan masyarakat .49 Oleh karena it ulah, maka penyebarluasan perat uran perundang-undangan j uga membut uhkan “ saluran yang int erakt if ” , yang t idak hanya dapat “ memberit akan secara sepihak” berlakunya suat u perat uran perun-dang-undangan t api sekaligus j uga dapat men-j adi sarana bagi masyarakat yang akan me-nyampaikan t anggapan (f eedback) mereka t
er-hadap perat uran perundang-undangan t adi. Bahkan, hukum sebagai suat u sist em akan
47 Ibi d. 48
Indr at i, op. ci t . , hl m. 165. 49
j adi mat i ket ika dia t idak “ berhadapan” dengan
f eedback. Feedback dapat dipahami sebagai
kont rol sosial t erhadap hukum, yang dapat be-rupa krit ik at au penghargaan.50 Dengan kont rol sosial inilah hukum sebagai suat u sist em akan selalu dalam gerak yang dinamis di masyarakat . Apabila t erdapat kekurangan pada dirinya, hu-kum melalui proses yang ada bisa direvisi, agar selalu dapat mengimbangi dinamika masyara-kat . Namun apabila dia sudah baik, maka kebe-radaannya di masyarakat akan t erus dipert a-hankan.
Feedback dalam t eori komunikasi t
ernya-t a memiliki f ungsi yang sangaernya-t penernya-t ing. Me-nurut John Fiske, f ungsi ut ama dari adanya
f eedback ialah unt uk membant u komunikat or
(pihak yang menyampaikan pesan at au inf orma-si) agar dapat menyesuaikan pesannya dengan kebut uhan dan respon dari penerimanya.51 Apa-bila pendapat dari Fiske it u coba diadopsi ke dalam kont eks proses penyebarluasan perat ur-an perundur-ang-undur-angur-an, maka: per t ama, yang
berperan sebagai komunikat or ialah pihak-pihak yang memiliki t ugas unt uk melakukan penye-barluasan perat uran perundang-undangan, yai-t u Pemerinyai-t ah Pusayai-t , Pemerinyai-t ah Daerah, De-wan Perwakilan Rakyat , DeDe-wan Perwakilan Rak-yat Daerah, dan Dewan Perwakilan Daerah (Pasal 88, Pasal 90, Pasal 92, dan Pasal 94 UU No. 12 Tahun 2011, sert a Pasal 29 Perat uran Presiden Nomor 1 Tahun 2007 t ent ang Pengesa-han, Pengundangan, dan Penyebarluasan Pera-t uran Perundang-Undangan); kedua, penerima
inf ormasinya ialah masyarakat ; ket iga,
sedang-kan inf ormasinya ialah berupa hukum at au pe-rat uran perundang-undangan yang hendak dise-barluaskan kepada masyarakat , yang diharap-kan set elah dit anggapi (diberidiharap-kan f eedback),
maka apabila dia memang sudah t idak lagi sesuai dengan dinamika kebut uhan masyarakat ,
50 Bagus Sarnawa dan Johan Erwin Ishar yant o, “ Hukum Negara dan Komunit as Lokal : St udi Komunikasi Hukum dal am Pemberdayaan Masyar akat Nel ayan di Kabupat en Gunungki dul ” , Jur nal Medi a Hukum, Vol . 14 No. 2 Desember 2007, hl m. 192.
51
John Fiske, 2007, Cul t ur al and Communi cat i on St udi es: Sebuah Pengant ar Pal i ng Kompr ehensi f , Bandung: Jal asut ra, hl m. 35.
hukum at au perat uran perundang-undangan it u dapat direvisi.
Sehubungan dengan proses penyebarluas-an perat urpenyebarluas-an perundpenyebarluas-ang-undpenyebarluas-angpenyebarluas-an t ersebut , desa digit al yang t elah t erhubung dengan j ari-ngan i nt er net t ent unya sangat berpot ensi unt uk
menj adi wadah bagi berlangsungnya proses penyebarluasan perat uran perundang-undangan yang kondusif , yang di dalamnya j uga t erkan-dung hubungan (int eraksi) yang dinamis ant ara hukum dan masyarakat .52 Apalagi j ika desa it u sudah sampai pada t ahap membangun dan me-miliki sit usnya sendiri (meme-miliki websi t e), maka
sit us t adi, dengan menyediakan menu yang in-t erakin-t if yang dapain-t digunakan menanggapi ain-t au memberi masukan mengenai masalah hukum, dapat dimanf aat kan menj adi semacam “ ruang khalayak (publ i c space)” bagi masyarakat .
Perkembangan t eknologi inf ormasi, yang salah sat unya berupa t eknologi i nt er net ,
j elaslah memungkinkan ant ara media inf ormasi (berit a), mat eri inf ormasi, t ermasuk mat eri mengenai hukum, dan pengirim sert a penerima inf ormasi unt uk berhubungan secara int ensif dan saling mengisi, bahkan saling menanggapi (berdebat ).53 Ruang khalayak (publ i c space) it u
sendiri dapat diart ikan sebagai ruang yang se-lalu t erbuka unt uk dimasuki oleh semua orang. Menurut Iris Marion Young, ciri khas yang selalu dilekat kan dengan ruang khalayak t ersebut ialah bahwa ruang ini memberikan kesempat an yang memungkinkan berlangsungnya aksi komu-nikat if ant arberbagai anggot a masyarakat yang memiliki berbagai macam kepent ingan, ident i -t as, nilai, dan cara berpikir -t erhadap sua-t u hal, t ak t erkecuali t erhadap masalah hukum.54 Bah-kan, menurut Jürgen Habermas, di dalam ruang
52
Bandingkan (sej al an) dengan pendapat yang menyat a-kan bahwa “ … menguat a-kan posisi i nt er net sebagai se-buah medi a komunikasi el ekt roni s yang memungkinkan t erj adinya kont ak dan komunikasi sebagai syar at mut -l ak t erj adi nya int eraksi sosi a-l ” . Lihat Donny Budi Ut oyo, Vol . 2 No. 1 Agust us 2005, “ Kaj ian Sosial Komuni t as Ma-ya: Hacker/ Cr acker ” , Jur nal Hukum Teknol ogi , hl m. 55.
53
Manunggal K. War daya, dan Ahmad Komar i, Vol . 11 No. 2 Mei 2011, “ Revol usi Media, Jurnal isme Gl obal , dan Hukum Pers Indonesi a” , Jur nal Di nami ka Hukum, hl m. 356.
54
khalayak ini komunikasi (diskusi) yang t erj adi ialah komunikasi yang diselenggarakan dengan mengedepankan prinsip keset araan (int eraksi ant ara “ yang set ara” dengan “ yang set ara” at au disebut j uga dengan homoioi ).55
Dengan demikian, ada beberapa pot ensi f ungsi yang dapat diemban oleh sebuah desa digit al dalam kait annya dengan proses penye-barluasan perat uran perundang-undangan. Per -t ama, menj adi sarana bagi masyaraka-t di
pelo-sok desa unt uk dapat mengakses sumber inf or-masi mengenai keberadaan perat uran per-un-dang-undangan, sehingga pada akhirnya me-reka dapat menget ahui dan memahami isi sert a maksud dari perat uran perundang-undangan t ersebut . Ini berart i, bahwa perwuj udan prog-ram desa digit al sebenarnya sangat sej alan de-ngan konsep pr omul gat i on of l aw yang
meng-hendaki proses penyebarluasan hukum (pera-t uran perundang-undangan) berj alan secara t erprogram, berkesinambungan, dan lebih me-rat a. Kedua, menj adi wadah bagi
berlangsung-nya proses int eraksi yang dinamis ant ara hukum dan masyarakat . Ini berart i, selain masyarakat diberit ahukan mengenai keberadaan perat uran perundang-undangan, masyarakat it u sebenar-nya j uga dapat menanggapi perat uran perun-dang-undangan t adi. Salah sat u manf aat dari bent uk-bent uk t anggapan sepert i it u ialah un-t uk dij adikan bahan masukan bagi revisi peraun-t u-ran perundang-undangan yang bersangkut an di kemudian hari. Oleh karena it u, melalui prog-ram desa digit al inilah sebenarnya i nt er net
me-mainkan f ungsi i nf or mat ion and debat enya
se-bagai media. Fungsi i nf or mat ion and debat e
di-maksud berart i media i nt er net harus mampu
memberikan saluran komunikasi ant ara pihak pemerint ah dan rakyat .56 Unt uk it u, media i
55 Unt uk pembahasan t erkait hal t ersebut , dapat dil ihat pada Eni Khair ani , Vol . 2 (5) 2007, “ Ruang Publ ik Pol it is: Komunikasi Pol it is dal am Masyarakat Maj emuk” , Jur nal Idea, hl m. 2-4, dan Ngorang Phil i pus, Vol . 12 No. 61 Jul i 2006, “ Masyar akat Demokrat is Menurut Jurgen Haber mas” , Jur nal Pendi di kan dan Kebudayaan, hl m. 520-522 dan 529.
56
Fungsi i nf or mat i on and debat e yang mel ekat pada media ini di ungkapkan ol eh James Curran. Lihat Idham Hol ik, “ Komunikasi Pol it ik dan Demokr at i sasi di Indonesi a: Perubahan Fase Demokrasi dar i Konsol idasi Menuj u Pemat angan” , Jur nal Semi ot i ka (Wacana dan Medi a), Vol . 2 Juni 2008, hl m. 3.
t er net harus memf asilit asi ruang dialog yang di
dalamnya rakyat dapat mengident if ikasi perma-salahan, t ermasuk masalah hukum, mendiskusi-kannya, dan mengaj ukan solusinya. Ket i ga,
menj adi sarana yang dapat memudahkan ma-syarakat unt uk melakukan pengawasan t erha-dap implement asi perat uran perundang-unda-ngan, baik implement asinya it u oleh masyara-kat nya sendiri maupun oleh pihak penguasa (badan at au pej abat publik). Dengan dapat nya masyarakat mengakses perat uran perundang-undangan melalui i nt er net , apabila mereka
memang krit is, maka mereka akhirnya mampu menilai apakah isi suat u perat uran perundang-undangan it u t elah dij alankan dengan maksimal at au t idak dalam prakt iknya (f akt anya) di lapa-ngan.57
Dari pot ensi f ungsi yang t elah dipaparkan t ersebut di at as, apabila dihubungkan dengan f akt a yang sempat penulis amat i, t erut ama pada desa-desa digit al yang t elah memiliki sit usnya sendiri, maka dapat dikat akan bahwa desa-desa digit al it u masih belum mengopt imal-kan sist em yang t elah mereka bangun. Terut ama, penulis belum melihat adanya pemanf aat -an y-ang maksimal t erhadap sit us mereka unt uk lebih digunakan sebagai wadah bagi berlang-sungnya proses int eraksi yang dinamis ant ara hukum dan masyarakat .58
Koment ar at au t anggapan dari para pe-ngunj ung sit us masih banyak yang t ert uj u pada hal-hal lain di luar masalah hukum at au per-at uran perundang-undangan. Hal sepert i ini da-pat menj adi t ant angan t ersendiri bagi penge-lola sit us desa digit al. Mereka t ent unya perlu melakukan pembenahan yang pada akhirnya da-pat mendorong kegairahan masyarakat , t
57
Bandingkan (sej al an) dengan pendapat dar i Tr i Harnowo yang menyat akan bahw a “ . . . Pengawasan publ ik t idak hanya sampai pada t ahap dit el urkan perat uran perundang-undangan t et api j uga pada t ahap impl ement asi. Sebagai mana bahwa perundang-undangan hanyal ah merupakan kal imat -kal i mat mat i di mana yang t er pent ing adal ah penerapannya…” Lihat Tr i Harnowo, “ Teori Regul asi: Bagaimana Per at uran Perundang-Undangan Sebenarnya Terbent uk?, Kaj i an Hukum Ekonomi dan Bi sni s PPH, No. 59 Desember 2004, hl m. 31.
58
ut ama bagi yang t inggal di desa digit al t erse-but , agar mau lebih memanf aat kan secara op-t imal sisop-t em yang ada sebagai “ saluran yang in-t erakin-t if ” dalam proses penyebarluasan perain-t ur-an perundur-ang-undur-angur-an, sebagaimur-ana t elah dij elaskan di at as.
Penut up
Terdapat ket erkait an yang erat ant ara perkembangan t eknologi inf ormasi, khususnya yang berwuj ud i nt er net , proses penyebarluasan
perat uran perundang-undangan, dan program desa digit al. Ket iganya bisa saling bersinergi se-hingga pada akhirnya dapat mendat angkan manf aat bagi kehidupan masyarakat .
Desa digit al memungkinkan masyarakat di desa yang bersangkut an lebih mudah unt uk mengakses inf ormasi mengenai hukum, t erma-suk perat uran perundang-undangan. Hal ini ber-art i bahwa dengan keberadaan desa digit al se-benarnya semakin membuka peluang unt uk mengopt imalkan sosialisasi (proses “ memasya-rakat kan” ) perat uran perundang-undangan se-cara lebih merat a. Dengan demikian, kebera-daan desa digit al ini sebenarnya j uga memiliki pengaruh yang posit if bagi upaya penegakan hukum di Indonesia.
Namun penyebarluasan perat uran perun-dang-undangan di desa digit al masih belum berj alan secara ef ekt if (maksimal), hal ini di-karenakan desa-desa digit al belum mampu mengopt imalkan sist em yang mereka bangun. Jaringan i nt er net yang ada umumnya hanya
digunakan unt uk keperluankeperluan yang sif at -nya “ hiburan” , sepert i mengakses f acebook, t wi t t er , onl i ne game, dan onl i ne shop.59 Pada-hal apabila desa digit al dapat memanf aat kan j aringan i nt er net yang ada sebagai ruang publik
(publ i c space) unt uk menyebarluaskan perat
ur-an perundur-ang-undur-angur-an sert a f orum int eraksi ant ara masyarakat desa dan hukum, maka t en-t unya penegakan hukum akan dapaen-t pula en-t er-laksana dengan lebih baik.
Daft ar Pust aka
59
Bandingkan (sej al an) dengan Simamor a, l oc. ci t . , hl m. 31.
Abdullah, Abdul Gani. “ Pengant ar Memahami Undang-Undang t ent ang Pembent ukan Perat uran Perundang-Undangan” . Jur nal Legi sl asi Indonesi a Vol. 1, No. 2 Tahun
2004;
Ahmad, Legiant o. “Lear ni ng Or gani zat i on
(Se-buah Kebut uhan bagi Pemerint ahan Dae-rah Era Ot onomi)” . Jur nal Pamong Pr aj a.
Edisi 1 t ahun 2004;
Amin. “ Fenomena Kemiskinan di Indonesia (Akar Masalah dan Alt ernat if Solusinya)” .
Jur nal Regi on. Vol. 1, No. 1 Tahun 2009;
Andriant o, Nico. 2007. Good e-Gover nment : Tr anspar ansi dan Akunt abi l i t as Publ i k mel al ui e-Gover nment . Malang:
Bayu-media;
Arf a’ i dan Ayu Desiana. “ Analisis Yuridis t en-t ang Susunan dan Kedudukan Badan Permusyawarat an Desa sebagai Lembaga Legislat if dalam Pemerint ahan Desa menurut Perat uran Pemerint ah Nomor 72 Tahun 2005 t ent ang Desa” . Jur nal For um Akademi ka. Vol. 15, No. 1 t ahun 2007;
Asshiddiqie, Jimly. 2005. Hukum Tat a Negar a dan Pi l ar -Pi l ar Demokr asi : Ser pi han Pemi ki r an Hukum, Medi a, dan Hak Asasi Manusi a. Jakart a: Konst it usi Press;
Berenschot , Ward et al , ed. 2011. Akses t er ha-dap Keadi l an: Per j uangan Masyar akat Mi ski n dan Kur ang Ber unt ung unt uk Me-nunt ut Hak di Indonesi a. Jakart a: HuMa,
KITLV-Jakart a, Epist ema Inst it ut e, dan Van Vollenhoven Inst it ut e;
Damayana, Git a Put ri. “ Media Sosial sebagai Alt ernat if Ruang Publik dalam Pembent u-kan Hukum” . Jur nal Hukum Jent er a. Vol.
VI, No. 21 Tahun 2011;
Ella, Susy. “ Pemanf aat an E-Gover nment dalam
Menj awab Tant angan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 t ent ang Ket erbukaan In-f ormasi Publik” . Jur nal Wacana Ker j a.
Vol. 13, No. 2 Tahun 2010;
Fiske, John. 2007. Cul t ur al and Communi cat ion St udi es: Sebuah Pengant ar Pal i ng Kom-pr ehensi f . Bandung: Jalasut ra;
Harahap, Abdul Rahman. “ Tingkat Pemahaman Masyarakat t erhadap Aplikasi Komput er dan Int ernet ” . Jur nal Penel it i an Komuni -kasi dan Pembangunan. Vol. 11, No. 1
Ta-hun 2010;
Pembangunan Desa Tert inggal” . Jur nal Regi on Vol. 2, No. 2 Tahun 2010;
Harnowo, Tri. “ Teori Regulasi: Bagaimana Pe-rat uran Perundang-Undangan Sebenarnya Terbent uk?. Kaj i an Hukum Ekonomi dan Bi sni s PPH. No. 59 t ahun 2004;
Holik, Idham. “ Komunikasi Polit ik dan Demo-krat isasi di Indonesia: Perubahan Fase Demokrasi dari Konsolidasi Menuj u Pema-t angan” . Jur nal Semiot i ka (Wacana dan Medi a). Vol. 2 Tahun 2008;
Indrat i, Maria Farida. 2007. Il mu Per undang-Un-dangan: Pr oses dan Tekni k Pembent ukan-nya. Yogyakart a: Kanisius;
Iriant o, Sigit . “ Kedudukan yang Sama di Depan Hukum (Equal i t y bef or e t he Law) dalam
Penegakan Hukum di Indonesia” . Jur nal Hukum dan Di nami ka Masyar akat . Vol. 5,
No. 2 Tahun 2008;
Kement erian Komunikasi & Inf ormat ika. 2011. “ Siaran Pers Nomor 73/ PIH/ KOMINFO/ 11/ 2011 t ent ang Persaingan Ant ar Pemda dalam Memperebut kan Penghargaan Ber-gengsi ICT Melalui ICT Pura 2011” . Di-muat dalam <ht t p: / / kominf o. go. id/ >, di-akses 27 November 2011, 17. 03 WIB;
Khairani, Eni. “ Ruang Publik Polit is: Komunikasi Polit is dalam Masyarakat Maj emuk” . Jur -nal Idea Vol. 2, No. 5 t ahun 2007;
Kushandaj ani. “ Ot onomi Desa dan Implikasi UU. No. 32 Tahun 2004 t erhadap Penyeleng-garaan Pemerint ahan Desa: Telaah Nor-mat if dan Sosiologis” . Jur nal Hukum dan Di nami ka Masyar akat Vol. 3, No. 2 t ahun
2006;
Kusumawij aya, Marco dan Muj t aba Hamdi. “ Me-rawat Khalayak dan Ruang Khalayak” .
Jur nal Pr i sma Vol. 30, No. 1 t ahun 2011;
Labolo, Muhadam. “ Format Baru Pemerint ahan Desa (Nagar i , Gampong, Kampung dan Lembang) dalam Undang-Undang No. 32
Tahun 2004” . Jur nal Pamong Pr aj a Edisi 4
t ahun 2006;
Mariyat i, Tat iek. “ Pembangunan Desa dengan Memanf aat kan St rat egi Pemerat aan Akses Int ernet dan Penyebaran Inf ormasi” . Jur -nal Pos dan Tel ekomuni kasi . Vol. 7, No. 3
Tahun 2009;
Nasokah. “ Implement asi Regul at or y Impact As-sessment (RIA) sebagai Upaya Menj amin
Part isipasi Masyarakat dalam Penyusunan Perat uran Daerah” . Jur nal Hukum. Vol.
15, No. 3 t ahun 2008;
Nurcholish, Hanif . 2011. Per t umbuhan dan Pe-nyelenggar aan Pemer i nt ahan Desa.
Ja-kart a: Erlangga;
Nurhidayat , Dedy. “ Eksaminasi t erhadap Per-kara Pidana Terkait Pembobolan Sit us Komisi Pemilihan Umum” . Jur nal Hukum Teknologi . Vol. 2, No. 1 Tahun 2005;
Obeng, Yunus Jackson. “ Penggunaan Media In-t er neIn-t dalam Pengawasan MasyarakaIn-t
t erhadap Prakt ek Birokrasi di Kot a Ku-pang (St udi t erhadap Penerapan El ec-t r oni c Gover nmenec-t melalui Websi ec-t e koec-t a-kupang. go. i d pada Tahun 2005)” . Jur nal Admi nist r asi Pemer int ahan Daer ah. Vol.
II, Ed. Ke-6 Tahun 2005;
Pekuwali, Umbu Lily (2010). “ Eksist ensi PERDA dalam Mewuj udkan Kesej aht eraan Masya-rakat ” . Jur nal Hukum Yust i si a (Vol. XXI,
No. 79), 105-112;
Philipus, Ngorang. “ Masyarakat Demokrat is Me-nurut Jurgen Habermas” . Jur nal Pendi di -kan dan Kebudayaan. Vol. 12, No. 61
2006;
Prapt anugraha. “ Part isipasi Masyarakat dalam Pembent ukan Perat uran Daerah” . Jur nal Hukum. Vol. 15, No. 3 Tahun 2008;
Prayudi. “ Int ernet Polit ik: Analisis Hist oris Pe-ran Teknologi Media Baru dalam Demo-krat isasi Indonesia” . Jur nal Par adi gma.
Vol. 11, No. 3 Tahun 2007;
Priardi, Sukma Dwi. 2011. “ Peran St rat egis Per-bankan dalam Mendukung Terwuj udnya Desa Digit al di Indonesia” . Dimuat dalam
Buku Pr ogr am Seminar Nasional Teknol o-gi Ber kel anj ut an 2011. Purwokert o:
Uni-versit as Jenderal Soedirman, Dewan Tek-nologi Inf ormasi dan Komunikasi Nasional, sert a Masyarakat Telemat ika Indonesia;
Pualillin, James Robert . “ Penguat an Kelemba-gaan Desa” . Jur nal Admi ni st r asi Pemer i n-t ahan Daer ah. Vol. 1, No. 10 Tahun 2010;
Put ro, Arif Suryant o. “ Tinj auan Pemanf aat an
Int er net Sehat pada Masyarakat di Kot a
Yogyakart a” . Jur nal Penel it i an Pos dan Inf or mat i ka. Vol. 1, No. 1 Tahun 2011;
Rahardj o, Sat j ipt o. 1980. Hukum dan Masya-r akat . Bandung: Angkasa;
---. “ Hukum Progresif (Penj elaj ahan Suat u Gagasan” . Kaj i an Hukum Ekonomi dan Bi sni s PPH. No. 59 Tahun 2004;
Er a Gl obal i sasi . Yogyakart a: Universit as
At ma Jaya;
Rosadi, Ot ong. “ Art i Pent ing Program Legislasi Daerah bagi Pencapaian Tuj uan Ot onomi Daerah” . Jur nal Wacana Par amit a. Vol.
7, No. 1 Tahun 2007;
R. S. , Iza Rumest en. “ Model Ideal Part isipasi Masyarakat dalam Pembent ukan Perat ur-an Daerah” . Jur nal Di nami ka Hukum. Vol.
12, No. 1 Tahun 2012;
Sarnawa, Bagus dan Johan Erwin Isharyant o. “ Hukum Negara dan Komunit as Lokal: St udi Komunikasi Hukum dalam Pember-dayaan Masyarakat Nelayan di Kabupat en Gunungkidul” . Jur nal Medi a Hukum. Vol.
14, No. 2 Tahun 2007;
Simamora, Nani Grace. “ Ket ert arikan Masyara-kat dalam Mengakses Inf ormasi IPTEK dengan Menggunakan Media KOMINFO: Tinj auan Empirik” . Jur nal Penel i t i an Pos dan Inf or mat i ka. Vol. 1, No. 1 Tahun
2011;
Sripeni, Rusbiyant i. “ Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Pelat ihan Ket erampilan dan Kont ribusinya t erhadap Kesej aht eraan Keluarga” . Jur nal Sosi al . Vol. 9, No. 2
Tahun 2008;
Suara Merdeka. 2011. “ Kandat el Semarang Res-mikan 7 Desa Digit al” . Dimuat dalam
<ht t p: / / desadigit al. my8bit . com/ berit a. p hp?id=1>, diakses pada 29 Sept ember 2011, 12. 35 WIB;
Suf iant i, Ely. “ Aplikasi E-Gover nment dalam
Meningkat kan Kualit as Pelayanan Publik pada Beberapa Pemerint ah Daerah Kot a/ Kabupat en di Indonesia” . Jur nal Il mu Admi nist r asi . Vol. 4, No. 4 Tahun 2007;
Sukriono, Didik. “ Konsep Pemerint ahan Desa dalam Polit ik Hukum” . Jur nal Law En-f or cement . Vol. 2, No. 1 Tahun 2008;
Syahid, Ahmad. “ Pemanf aat an Int ernet dalam Pendidikan dan Pembelaj aran” . Jur nal Iqr a, Il mu Pendi di kan dan Kei sl aman.
Vol. 4, No. 2 Tahun 2008;
Ut omo, Tri Widodo W. dan Andi Wahyudi. “ Pe-nat aan Kewenangan (Urusan) Pemerin-t ahan Desa dan Pengembangan SPemerin-t andar Pelayanan Minimal (SPM)” . Jur nal Bor neo Admi nist r at or . Vol. 4, No. 2 Tahun 2008;
Ut oyo, Donny Budi. “ Kaj ian Sosial Komunit as Maya: Hacker / Cr acker ” . Jur nal Hukum Teknologi . Vol. 2, No. 1 Tahun 2005;