• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME MATERI LATIHAN KADER MUDA LAKMUD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RESUME MATERI LATIHAN KADER MUDA LAKMUD"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME

MATERI LATIHAN KADER MUDA (LAKMUD)

DINAMIKA SEJARAH NAHDLATUL ULAMA DAN INTERNALISASI NILAI-NILAI PERJUANGAN ULAMA DALAM MEMBENTUK KARAKTER GENERASI MUDA

OLEH : MOH SAHRUN NIZAM

PENGURUS RANTING NAHDLATUL ULAMA (PRNU) BULUBRANGSI MAJELIS WAKIL CABANG NAHDLATUL ULAMA (MWCNU) LAREN

PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA (PCNU) LAMONGAN PENGURUS WILAYAH NAHDLATUL ULAMA (PWNU) JAWA TIMUR

(2)

1. Poin-Poin Dinamika Nahdlatul Ulama

Pada tahun 1916 Kyai Wahab mendirikan Madrasah "Jam'iyatul Nahdlotul Wathon" di Surabaya. Madrasah ini berkembang dengan pesat dan membuka cabang di Semarang, Malang, Sidoarjo, Gresik, Lawang, Pasuruan, dan lain-lain.

 Pada tahun 1919 berdiri " TASWIRUL AFKAR", sebuah madrasah dan forum diskusi keagamaan yang tujuan utamanyamemberi tempat untuk mengaji dan belajar serta untuk membela kepentingan Islam.

 Pada tahun 1924 berdiri organisasi"Syubhanul Wathon" (pemuda tanah air), organisasi ini mempunyai kegiatan membahas masalah agama, dakwah, peningkatan pengetahuan bagi anggotanya, dan lain-lain.Pada tahun 1926 akan disenggarakan Kongres Islam sedunia di Makkah yang diikuti perwakilan dari organisasi-organisasi Islam di dunia.

 Pada tahun 1924, Raja Saudi Arabia Abd Al-Aziz Ibn Saud yang beraliran wahabi merebut kekuasaan disemenanjung arab dari sultan syarief husein, termasuk 2 kota suci yakni mekkah dan madinah (Hijaz). Mereka melakukan hal-hal yang bertentanan dengan prinsip ASWAJA yaitu: membongkar situs-situs sejarah, makam para sahabat dan Rasulullah SAW dan hanya membolehkan mahdzab tunggal yaitu Wahabi (merupakan gerakan separatis yang berkedok memurnikan tauhid dan menjauhkan umat dari kemusyrikan). Doktrin-doktrin wahabi antara lain:

 Semua objek peribadatan selain Allah adalah palsu dan siapa saja yang melakukannya harus menerima Hukuman mati

 Orang yang berusaha emperoleh kasih tuhannya dengan cara mengunjungi kuburan orang-orang suci, bukanlah orang yang bertauhid tetapi termasuk musyrik.

 Bertawassul kepada nabi dan orang sholeh dalam berdoa kepada Allah termasuk perbuatan syirik

 Sehingga dibentuklah satu komite Hijaz untuk menyampaikan keberaten terkait hal-hal tersebut, karena pada saat itu harus ada organisasi formal untuk mewadahi aspirasi tersebut. Yaitu organisasi para ulama (Nahdlatul Ulama), yang kemudian surat tersebut dibawah Oleh KH. Wahab Chasbullah. (Lokasi Gedung PBNU pertama Jl. Bubutan No. 2 Surabaya).

(3)

 Meresmikan dan mengukuhkan Komite Hijaz dengan masa kerja sampai delegasi yang akan dikirim menemui Raja Ibnu Saud dan mengirim delegasi ke Kongres Islam di Makkah. Adapun yang dikirim ialah KH. Wahab Hasbullah dan Syeikh Ahamad Ghunaim al Mishri.

 Membentuk sebuah Jam'iyyah (Organisasi) yang bernama NAHDLATUL ULAMA' . Dengan tujuan untuk membina terwujudnya masyarkat Islam berdasarkan aqidah atau faham Ahlusunnah wal Jama'ah (ASWAJA).

KH. Hasyim Asyari menyusun Qanun Asasi yang dijadikan prinsip dasar Jammi’yah (NU) sebagai pedoman organisasi.yang didalamnya didahului dengan Mukaddimah. Jadi, kalo gak ada Qanun Asasi (Anggaan Dasar) maka NU tidak bisa mendapatkanhak badan Hukum (Rechtpersoon).

 Inti dari Qanun Asasi adalah sebagai berikut:  Iman dan Taqwa

 Persatuan dikalangan kaum muslimin  Kehidupan bermahdzab

 Era penjajahan kolonialisme Belanda, NU punya peran sangat besar melalui perjuangan Kyai-kyai, dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Jadi, dalam istilah Gus Mus: “Orang Indonesia yang beragama islam bukan sekedar orang islam yang kebetulan di Indonesia”. Maknanya kalo ada perlawanan penjajah yang akan menghancurkan rumahnya, gak usa ditanya itu sdah menjadi kewajiban kita sebagai bangsa Indonesia.

 Perang pasifik menyebabkan pihak colonial belanda terusir oleh tentara jepang, pihak jepang meminta rakyat Indonesia member hormat kepada kaisar Tenno Heika sebagai penjelmaan dari Dewa matahari dalam upacara yang disebut Seikere. Sehingga timbul banyak perlawanan utamanya dari Hadratus Syeikh Hasyim Asyari, yang kemudian di Hukum oleh pihak sekutu sampai salah satu tangannya disfungsi.  Menjelang pendirian Negara, beberapa tokoh NU ikut dalam BPUPKI dan PPKI,

salah satunya KH. Wahid Hasyim yang punya andil besar dalam Preambule UUD 1945, perumusan Pancasila dan pada 22 Juni 1945 panitia 9 merumuskan Piagam Jakarta.

 Soekarno, Moh. Hatta, Jendral Sudirman mengirimkan utusan ke Tambakberas jombang untuk bertemu Hadratus Syeikh, untuk menanyakan Hukum Membela tanah air, pada saat yang bersamaan Bung tomo juga sowan kepada Hadratus Syeikh terkat hal tersebut.

(4)

pada tanggal 22 Oktober 1945, NU mengeluarkan Resolusi Jihad fi Sabililah, yang berisi 3 butir rumusan kewajiban untuk mempertahankan tanah air, yang di hukumi Fardhu a’in sama dengan hukum sholat. Dimana dimedan perang KH Wahab Chasbullah sebagai komandan Umum dibantu oleh KH Abbas (buntet, Cirebon) dan KH Masykur (Malang).

 Maka meletuslah perang besar antara sekutu (NICA) dan rakyat Indonesia yang berkumpul di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 yang dipimpin langsung oleh Jenral Mallaby. Pada tanggal 30 Oktober terjadi gencatan senjata, namun pada sore hari terjadi insiden di jembatan merah yang menewaskan jendral mallaby sontak perjanjian senjata pun dibatalkan. Robert mansert sebagai pengganti jend. Mallaby, dan dikeluarkannya ultimatum agar seluruh rakyat Surabaya menyerahkan senjata rampasan paling akhir tanggal 10 November 1945.

 Tahun 1945, KH Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, beliau memperjuangkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bernegara melalui ideology dan konsep kenegaraan beliau juga penganut faham pluralistis.  Pada masa tersebut juga NU mendirikan Fatayat (24 April 1950) dan Muslimat (29

Maret 1946), sebagai wadah bagi kaum perempuan untuk ikut serta dalam pembangunan agama dan masyarakat serta cara berpakaian dan mempertahankan keluarga.

 Tahun 1955 partai NU mengikuti pemilu pertama dalam sejarah bangsa Indonesia, saat itu wadahnya masih Masyumi. Ada 3 tokoh yakni KH Wahid Hasyim (NU), KH Mas Mansyur (Muhamadiyah) dan Dr, Soekiman (Masyumi). Tapi, dalam hal ini NU banyaj disinggung, dikucilkan dan Kyai-kya NU tidak diajak bicara dan diskusi sehihngga NU keluar dari Masyumi. Setelah itu terjadi pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Indkator lain NU keluar dari Masyumi adalah perbedaan iseologi, mayoritas tokoh dari masyumi adalah oran-orang yang berpendidikan barat sedangkan para tokoh NU adalah oran-orang berpendidikan Timur atau Pesantren dan menganggap segi keilmuannya terlalu rendah.

 Pada saat itu NU member gelar Waliyyul amri daruri bi syauka kepada Presiden Soekarno yang dilandaskan pada kaidah-kaidah fiqh, dalam kejadian tersebut NU diklaim melakukan penjilatan kepemimpinan yang notabene NU masih memperjuangkan islam menjadi dasar Negara yang dilakukan tahun 1956-1959 didalam konstituante.

 Pada tahun 1965, tahun pemberontakan PKI, walaupun masalah NU dan PKI sudah berlangsung lama sebelum tahun 1965. Yakni pada tahun 1948 dalam pemberontakan di madiun yang menghabisi nyawa para kyai, yang kemudian dipuncaki pada G30SPKI.

(5)

kemenagan dalam pemilu. Pada saat itu Negara masih mewaspadai NU karena masih menginginkan Negara berasas islam.

 Pada tahun 1984, pada Muktamar ke-27 di Situbondo. NU memasuki babak baru, yakni NU kembali pada jati dirinya sebagai Jami’yah diniyah. Organisasi keagamaan yang memusatkan diri pada kegiatan dakwah dan pendidikan. NU kebali pada khittah 1926 yang dicetuskan oleh Hadratus Syeikh hasyim asyari dan menyatakan keluar dari partai politik dan menerima Pancasila. Diantara Tokohnya yaitu:

 KH Abdurrahman Wahid  KH As’ad Syamsul Arifin  KH Ma’shum Ali

 KH Ahmad Shiddiq  KH Idham Cholid

 Pada tahun 1994, pak harto ingin mencegah Gus Dur agar tidak terpilih sebagai ketua Tanfidziyah dalam Muktamar di Cipasung. Jadi, Pak harto itu tidak ingin NU dipimpim oleh orang NU, jadi, orang NU tidak boleh memilih orang NU. Namun, hal tersebut tak berhasil untuk menghalangi Gus Dur jadi ketua Tanfidziyah.

 Ketika PBNU dipimpin oleh Gus Dur, banyak kaum-kaum muda mempunyai wawasan yang luas dan mengajarkan ibadah social yang penuh keikhlasan. Jadi, dulu Gus Dur itu senang blusukan ke pesantren ke rakyat atau LSM tanpa tendensi Pencitraan. Dan Gus Dur menjadi busur atau ujung tombak dalam menghadapi pak harto dan rezim pemerintahan orde baru yang berujung pada peristiwa 1998. Hal tersebut dimulai dari rumah kediaman Gus Dur di Ciganjur dengan pertemuan bersama (Amien Rais, Megawati soekarnoputri dan Sri Sultan Hamengkubuwono) sebagai awal mula gerakan reformasi.

 Pada 19 Mei 1998, para tokoh NU dan tokoh-tokoh nasional diundang ke istana untuk dimintai pendapat tentang keadaaan Negara yang sangat genting. Pada masa tersebut juga pak harto resmi lengser dari pucuk kepemimpinan bangsa.

 Pada 23 Juli 1998, para ulama membentuk PKB sebagai wadah bagi warga NU untuk menyalurkan aspirasi politik kebangsaan. Jadi, tahun 1971 NU kembali ke khittah kok kemudian malah embuat partai ini kan kontradiksi, maka jawaban Gus Dur saat itu “yang di khittahkan adalah NU sebagai jami’yah bangsa”.

(6)

perombakan ataupun pencopotan menteri, namun, gus dur tetap pada pendiriannya karena demokrasi bukanlah pasar.

 Semakin banyaknya dan beratnya tekanan politik akhirnaya gus dur pun lengser dari jabatan presiden RI, karena paradigm beliau lebih baik lengser dan mempertahankan konstitusi dari pada jual beli atau obral kursi demokrasi. Perlu diketahui saat gus dur lengser tidak ada pertumpahan darah beda dengan era lengernya presiden soekarno dan soeharto yang banya memakan korban dari G30SPKI sampai korban Semanggi.

“Tidak masuk akal mempertahankan kekuasaan dengan pertumpahan darah”, walaupun pada saat itu banyak sekali lascar-laskar siap mati untuk membela gus dur, namu, gus dur tidak mengizinkan.

 Pada era modern seperti ini tantangan kader muda NU semakin berat karena melawan system westernisasi, globalisasi dan modernisasi yang perlahan mulai mengikis akidah dan moral generasi muda NU. Maka disini peran pesantren cukup sentral sebagai konservatorium atau wadah nasionalisme.

 Proses regenerasi dalam tubuh NU haruslah sesuai dengan nilai-nilai luhur yang sudah ada semenjak didirikannya jami’yah NU, sehinga orisinilitas agama, akidah dan kemasyarakatan tetap awet.

2. KE-NU-AN A. Aswajaisme

Berbagai literatur mencatat bahwa kelahiran Nahdlatul Ulama (dulu Nahdlatul Oelama = NO) tidak lepas dari bentuk pembelaan terhadap ajaran Islam Ahlussunah Waljama'ah yang telah berjalan sejak Islam masuk ke Indonesia. Islam yang dalam praktik ibadah menggunakan pendekatan metode madzhab telah berjalan dalam suasana yang kondusif, aman dan damai. Pendekatan madzhab ini mengisyaratkan bahwa untuk melakukan ijtihad harus memenuhi persyaratan tertentu. Orang yang tidak mampu memenuhi persyaratan maka dikategorikan kedalam taqlid. Masyarakat dengan

bimbingan para ulama pesantren menjalankan shalat Subuh berqunut, melakukan ziarah kubur, mengadakan tahlil, selawatan, manakiban, khoul, doa tawasul dan talqin mayit.

Praktik ibadah yang dilakukan umat Islam Ahlusunnah Waljama'ah dibawah bimbingan para kyai dan ulama pesantren ternyata mendapat kritikan adari kelompok yang menganggap dirinya sebagai Pembaharu. Mereka menuding bahwa masyarakat telah banyak melakukan khurafat dan bid'ah sehingga Islam tidak murni lagi. Mereka merasa berkewajiban untuk memurnikan Islam kembali. Kelompok yang merasa Pembaharu tersebut yaitu Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Persis. Mereka menentang keras ibadah yang dilakukan umat. Serangan kaum Reformis ini ditangkis oleh para kyai/ulama pesantren.

(7)

dari para kyai pesantren. Kekhawatiran para kyai pesantren sangat beralasan karena paham Wahabi tidak jauh dengan paham yang dianut oleh para pembaharu di Indonesia. KH. Wahab Hasbullah mohon kepada Central Comite Chilafat agar menekan Raja Saud untuk memberi kebebasan bermadzhab di Saudi Arabia. Usulan kyai pesantren merasa terpanggil untuk memperjuangkan tegaknya Islam Ahlusunnah Waljama'ah ini tidak digubris. Para kyai pesantren merasa terpanggil untuk memperjuangkan tegaknya Islam Ahlusunnah Waljama'ah di Indonesia. Akhirnya para kyai membentuk sebuah komite yang dinamakan "Komite hijaz". Komite inilah yang kemudian melayangkan surat permohonan agar raja Ibnu saud memberikan kebebasan bermadzhab serta melestarikan tempat-tempat bersejarah seperti kubur Nabi Muhammad SAW serta para sahabat. Ditengah kesibukan menyukseskan tugas Komite Hijaz tersebut lahirlah jam'iyah Nahdlatul Ulama tanggal 16 Rjab 1344 H bertepatan dengan 31 januari 1926 sebagai pihak yang berhak mengirim delegasi. Elas sudah bahwa kelahiran NU didorong untuk memperjuangkan Islam Ahlusunnah Waljama'ah di Indonesia. Statuten Nahdlatul Oelama (AD/ART 1926) fatsal 2 dikatakan, "Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitoe : Memegang dengan tegoeh pada salah satoe dari madzhabnja Imam ampat ………

B. Mabadi Khaira Umah

Konsep Mabadi Khaira Umah muncul pertama kali pada konggres NU XIII tahun 1935. Mabadi Khaira Umah sebenarnya sebuah gerakan moral yang harus dimiliki oleh warga NU untuk melaksanakan amar makruf nahi munkar. Berdasarkan analisis para kyai bahwa ketidakmampuan melaksanakan amar makruf nahi munkar dikarenakan lemahnya posisi ekonomi umat. Upaya menggerakkan ekonomi umat maka harus diupayakan semacam pembangunan karakter. Karakter cara berfikir, berucap dan bertindak akan sangat menentukan keberhasilan tujuan NU.

Adapun butir-butir Prinsip Khaira Umah yang harus diterapkan kepada Nahdiyin ada lima yang disebut Al-Mabadi Al-Khomsah :

a. As-Sidqu yang menanamkan kejujuran, kebenaran, kesungguhan dan keterbukaan. Referensi pada Surat At-Taubah : 119, Al-baqarah : 77, Al-Ahzab : 23, maryam : 41 dan 56 dan Hadits Rasulullah SAW.

b. Al-Amanah wal Wafakbil ahdi menanamkan sikap dapat dipercaya, setia dan tepat janji. Referensi Qur'an pada An-Nisa : 58, 59, 83, Maidah : 1, Al-Baqarah : 177 dan hadits-hadits Rasulullah SAW.

c. Al-Adalah menanamkan sikap objektif, proporsional dan taat asas. Referensi Al-Qur'an pada An-Nisak : 58, An-nahl : 90, Al-Hujurat : 9 dan hadis-hadis

Rasulullah SAW.

(8)

e. Istiqomah menanamkan sikap ajeg-jejeg, berkesinambungan dan

berkelanjutan. Referensi Al-Qur'an pada Hamim Sajdah : 30, As-Syura : 15, An-Nahl : 92 dan hadis Rasulullah SAW.

Selanjutnya lima prinsip ini diharapkan mampu membangun kekuatan NU sebagai jami'iyah bukan sekedar jamaah. Kualitas warga harus benar-benar meningkat sehingga dapat menggerakkan kekuatan ekonomi umat yang pada gilirannya akan memperkuat amar makruf nahi munkar.

C. Khittah NU

Sejak tahun 1955 sampai dengan tahun 1983, Nu kehilangan tujuan awalnya. NU tenggelam dalam hingar bingar politik yang mengutamakan meraih kekuasaan. Padahal sejak dilahirkan, NU berorientasi kepada amar makruf nahi munkar yang berjuang melalui penegakan moral. Keasyikannya dalam berpolitik telah menyebabkan berbagai program terbengkelai. NU semakin jauh dari jati dirinya. Muktamar NU ke-26 di Semarang 1973 membawa NU ke bentuk jam'iyah, namun sayang hal itu hanya terjadi pada tataran teoritis, sedangkan praktis operasional mengalami kemandekan. Disatu sisi NU kembali ke jam'iyah, tetapi disisi lain masih berpolitik secara institusi melalui PPP. Apalagi kepengurusannya masih banyak terjadi rangkap jabatan.

Baru tahun 1983 Munas Alim Ulama di Situbondo lebih tegas agar NU kembali Khittah 1926. Selanjutnya kembali khittah menjadi keputusan penting pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Kali ini NU benar-benar ingin lebih memfokuskan gerakan amar makruf nahi munkar. Secara kelembagaan, NU tidak lagi berpolitik praktis. Hak berpolitik sepenuhnya diserahkan kepada warga. NU sendiri secara institusi hanya bersentuhan dengan politik kebangsaan.

Khittah secara sederhana dapat dipahami sebagai landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun kelembagaan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Dasar-dasar keagamaan yang tetap dilaksanakan bahwa sumber ajaran Islam : Qur'an, As-Sunah, ijmak, Al-Qiyas. Pemahaman ajaran Islam menggunakan pendekatan metode madzhab. Bidang Aqidah mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Bidang Fiqih mengikuti salah satu madzhab Empat dan bidang tasawuf mengikuti Imam Junaidi Al-Baghdadi serta Imam Gozali.

Khittah berusaha membentuk masyarakat yang memiliki karakter :

1. Tawasut dan Iktidal yaitu sikap adil dan tegak lurus ditengah kehidupan beragama. Sikap ini menolak sifat tatoruf (ekstrim).

(9)

3. Tawazun yaitu sikap menyeimbangkan khidmah kepada Allah dan kepada sesama makhluk. Menyelaraskan kepentingan masalalu, masa kini dan masa datang.

4. Amar makruf nahi munkar yaitu sikap kepekaan untuk mendorong beramal baik dan menolak beramal buruk.

Dasar keagamaan dan sikap kemasyarakatan tersebut diatas diharapkan dapat membentuk prilaku umat sebagai berikut :

a. Menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran agama Islam.

b. Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. c. Menjunjung tinggi sifat keikhlasan, pengabdian dan perjuangan. d. Menjunjung tinggi persaudaraan, persatuan dan kasih sayang.

e. Meluhurkan kemuliaan akhlak, kejujuran dalam berfikir, bersikap dan bertindak.

f. Menjunjung tinggi loyalitas kepada agama, bangsa dan negara. g. Menjunjung tinggi nilai kerja dan prestasi sebagai ibadah. h. Menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

i. Selalu siap menyesuaikan diri dengan perubahan yang membawa manfaat. j. Menjunjung tinggi kepeloporan demi mempercepat laju masyarakat. k. Menunjung tinggi kebersamaan ditengah kehidupan berbangsa dan

bernegara.

Konsekuensi pemulihan khittah membawa perubahan yang signifikan terhadap kebijakan Nahdlatul Ulama. Dibidang organisasi ditegaskan bahwan Pengurus NU disemua tingkatan adalah Pengurus Syuriyah. Pengurus Syuriah pengendali, pemimpin dan pengelola NU. Syuriyah berhak menegur dan memberhentikan Pengurus

Tanfidziyah.

Konsekuensi NU terhadap Pancasila sebagai dasar negara bahwa NU

menganggap hal itu sudah tuntas sejak diterapkannya UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945. Pancasila sebagai dasar negara tidak bertentangan dengan agama Islam. Oleh karena itu, jangan dipertentangkan.

(10)

kelembagaan tidak terkait dengan kekuatan politik manapun. Muktamar NU ke-31 di Boyolali dibebaskan untuk menentukan hak politiknya sesuai hati nurani.

Upaya agar khittah dapat berjalan dengan baik maka dikeluarkan Peraturan PBNU Nomor : 015/A.II.04d/III/2005 tentang larangan perangkapan jabatan di lingkungan NU, larangan perangkapan jabatan dengan partai politik dan larangan perangkapan jabatan dengan jabatan politik (presiden, wapres, menteri, gubernur, wagub, bupati, wabup, walikota, wawalkot, anggota DPR/DPRD, anggota DPD). Surat Edaran Petunjuk Pilkada Nomor : 115/A.II.03/5/2005 bahwa Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PWNU/PCNU mutlak tidak diperbolehkan mencalonkan diri dalam proses Pilkada. Pengurus lain jika mencalonkan diri harus non aktif. Dalam Kesepakatan Bersama PCNU se-Jawa Tengah disebutkan antara lain bahwa NU tidak dalam

kepasitasnya untuk mencalonkan, memberi dukungan, menjadi tim sukses dan menolak pencalonan seseorang untuk menjadi Bupati, Wabup, Walikota dan Wawalkot.

3. SISTEM BERMADZHAB DALAM NU a. Pengertian Madzhab

Madzhab menurut bahasa berarti jalan, aliran, pendapat atau paham, sedangkan menurut istilah madzhab adalah metode dan hukum-hukum tentang berbagai macam masalah yang telah dilakukan, diyakini dan dirumuskan oleh imam mujtahid. Jadi, bermadzhab adalah mengikuti jalan berpikir salah seorang mujtahid dalam mengeluarkan hukum dari sumber Al-Qur’an dan hadits.

Setiap orang Islam diwajibkan mempelajari ajaran agamanya dan memahami hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits. Namun kenyataannya tidak setiap orang mampu memahami dan mengamalkan isi kandungan dari dua sumber tersebut. Hanya sebagian saja yang mampu melakukan hal tersebut, dengan beberapa persyaratan yang ketat agar hasil ijtihadnya benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya para imam-imam madzhab, yakni Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ibnu Hambali

b. Dasar Hukum Bermadzhab 1. Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an ada petunjuk yang menjadi dasar perintah kewajiban mengikuti madzhab, yakni perintah Allah, agar kita mentaati Allah dan Rasul-Nya serta Ulil Amri. Kata “Ulil Amri” adalah orang yang memimpin atau memerintah, dan termasuk di dalamnya para ulama (ahli Ilmu), secara lebih khusus kita diperintah untuk mengikuti jalan pikiran para ulama, yakni bermadzhab.

2. Al-Hadits.

Disebut dalam banyak hadits agar kita mengikuti golongan paham yang paling besar dari umat Islam. itu dikarenakan kelompok paling besar (mayoritas) kemungkinan sangat kecil sekali untuk membuat kesepakatan guna menyeleweng hukum-hukum Islam.

(11)

Ijma’ adalah kesepakatan pendapat para ahli mujtahid pada suatu zaman sepeninggal Rasulullah mengenai suatu ketentuan hukum syariah. Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma’ adalah merupakan metode penetapan hukum yang wajib diamalkan.

c. Sistem Bermadzhab

Bermadzhab pada masa sekarang ini tidak dapat dihindarkan lagi. Di kalangan Ahlussunah Wal jamaah bermadzhab merupakan suatu pilihan yang dilakukan oleh setiap muslim yang tidak berstatus sebagai mujtahid muthlaq. Pada dasarnya bermadzhab tidak bertentangan dengan sistem ijtihad dan sistem taqlid, tetapi justru untuk mengkombinasikan antara keduanya sesuai dengan proporsinya.

Dalam pandangan Ahlussunah wal jama’ah ada empat madzhab yang dianggap

mu’tabar yang dikenal dengan “Al Madzaahibul Arba’ah”. Empat madzhab, ini adalah madzhab yang dianut mayoritas umat Islam dunia, yang secara tegas membela dan mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Ada tiga kelompok dengan pandangan masing-masing terhadap madzhab, yaitu 1. Kelompok yang berkeyakinan bahwa bermadzhab merupakan satu-satunya cara

yang menjamin untuk memahami dan menjalankan ajaran atau hukum dari Al-Qur’an dan hadits.

2. Kelompok yang secara serius menghapus madzhab-madzhab dan sistem bermadzhab serta mengajak langsung memahami Al-Qur’an dan hadits.

3. Para ulama nahdlatul ulama telah berhalaqoh di ponpes Denanyar Jombang untuk merumuskan pokok-pokok pendirinya mengenai madzhab dan bagaimana bermadzhab itu.

Adapun hasil keputusannya adalah sebagai berikut

1. Sistem bermadzhab adalah cara yang terbaik untuk memahami dan mengamalkan ajaran atau hukum Islam dari Qur’an dan hadits.

2. Madzhab adalah :

a. Manhaj (metode) yang digunakan oleh seorang Mujtahid dalam menggali (Istimbath) ajaran / hukum Islam dari Al-Qur’an dan hadits.

b. Aqwal (ajaran/hukum) adalah hasil istimbath dari seorang mujtahid. 3. Bermadzhab adalah mengikuti suatu madzhab, dengan cara :

a. Bagi orang awam bermadzhab secara “qauli

b. Bagi orang yang punya perangkat keilmuan tetapi belum mencapai tingkat mujtahid mutlak mustaqil, bermadzhab secara manhaji

c. Bermadzhab manhaji dilakukan dengan istimbath jama’i dalam hal-hal yang tidak ditemukan “aqwalnya” (ajaran/hukum) dalam empat madzhab oleh para ahlinya.

(12)

4. TAQLID

a. Arti Taqlid

Taqlid adalah mengikuti pendapat seorang mujtahid yang diyakini pendapat dan pemikirannya, karena pendapat cemerlang tersebut bersumber dan sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits.

b. Hukum Taqlid

Berlaku taqlid dibenarkan oleh agama Islam sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui dalil-dalilnya”.

c. Taqlid Dalam perspektif NU

Taqlid bagi NU dengan pengertian yang telah didefinisikan di atas dan ditulis dalam berbagai kitab-kitab Syafi’iyah adalah mengambil atau mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil-dalilnya. Taqlid dalam perspektif NU adalah merupakan pengamalan ajaran agama Islam dengan cara mengikuti beberapa pendapat ulama (syafi’iyah) yang proses pembelajarannya melalui silsilah sanad yang langsung berturut-turut sampai kepada penulisnya bahkan sampai kepada imam Syafi’i.

5. ITTIBA’ , TARJIH DAN TALFIQ a. ITTIBA’

Ittiba’ adalah orang yang mengikuti pendapat mujtahid dengan mengetahui dalil-dalilnya. Orang demikian disebut muttabi’, yaitu orang yang tidak mampu berijtihad, tetapi mengetahui dalil-dalil para mujtahid. Mereka disebut pula “muhaqqiqun” yaitu orang yang mampu meneliti, memeriksa dan menyelidiki mana pendapat yang lebih kuat dan lemah. Dan mereka dapat memilih pendapat-pendapat yang sehat (sohih maqbul), dan meninggalkan pendapat yang lemah (dho’if). Karena itu selain Al-Qur’an, sunnah Nabi, qoul, dan amal para sahabat, serta hasil ijtihad beberapa tabi’in dan para imam madzhab, para muttabi juga menjadi hujjah dalam agama dan ilmu syari’ah

b. TARJIH

Tarjih adalah menguatkan salah satu dari dua dalil atas lainnya, sehingga diketahui yang lebih kuat, kemudian diamalkannya, dan disishkan yang lainnya atau tarjih berarti memenangkan salah satu diantara dua dalil yang bertentangan, karena ternyata yang satu lebih kuat daripada yang lainnya. Dalam tarjih, ada dua istilah yang perlu diketahui :

1.Yang lebih kuat disebut “rajih2.Yang lemah disebut “marjih

(13)

c. TALFIQ

Talfiq adalah beramal dalam suatu masalah menurut hukum yang merupakan gabungan dari dua madzhab atau lebih. Contohnya tentang wudlu, yaitu urusan niat dan mengusap kepala :

1. Menurut madzhab Hanafi, niat tidak wajib dan kepala harus diusap minimal seperempatnya.

2. Menurut madzhab Syafi’I, niat wajib dan kepala harus diusap sebagian kecil. 3. Menurut madzhab Maliki, niat wajib, dan kepala harus diusap seluruhnya. 4. Menurut madzhab Hambali, niat wajib dan kepala harus diusap seluruhnya.

Seandainya ada yang berwudlu tanpa niat (mengikuti madzhab Hanafi) dan hanya mengusap sehelai rambutnya (Syafi’i mengikuti madzhab), maka melakukan demikian disebut Talfiq. Madzhab Syafi’i tidak membenarkannya karena tidak niat. Madzhab Hanafi tidak membenarkannya karena kepada diusap kurang dari seperempatnya. Begitu pula madzhab Maliki dan Hambali, tidak membenarkannya karena tidak ada niat kepala tidak diusap seluruhnya.

6. Ta`arudh al-Adillah

Secara bahasa, kata ta`arudh berarti pertentangan antara satu dengan yang lain. Wahbah al-Zuhaily tidak setuju terhadap pendapat sebagaian kalangan yang menyamakan antara ta`arudh dengan tanaqudh. Menurut Wahbah antara kedua istilah ini terdapat perbedaan. Tanaqudh membawa implikasi batalnya satu dari dua dalil.

Sedangnkan ta`arudh hanya menghalangi berlaku hukum yang dimaksud suatu dalil tanpa menggugurkan keberadaan dalil tersebut. Kata al-adillah adalah bentuk plural dari kata dalil, yang berarti argumen, alasan, dan dalil. Kajian tentang ta`arudh al-adillah khusus dibahas dalam ilmu ushul fiqh ketika terjadi pertentangan secara lahir antara dua dalil yang sama kuatnya dalam menunjukkan suatu hukum.

Ada beberapa definisi ta`arudh al-adillah yang dikemukakan ahli ushul fiqh, diantaranya dikemukakan Khudhari Beik sebagai berikut :

رخلا ىضتقي مدع نييليلد نم لك ىضتقينأ ضراعتلا

Ta`arudh adalah dalil yang menunjukkan suatu hukum yang bertentangan dengan dalil yang lain.

MAHDZAB HANAFIYAH MAHDZAB SYAFI’IYAH

Nasakh Jam’u wal taufiq

Tarjih Tarjih

Jam’u wal taufiq Nasakh

Tasaqut al-Dalalain Tasaqut al-Dalalain

7. PRINSIP-PRINSIP AJARAN MADZHAB DALAM NU a. Ajaran Ahlus Sunnah Wal jama’ah di Bidang Aqidah

(14)

Beberapa contoh rumusan akidah Ahlus sunnah wal jama’ah adalah sebagai berikut :

1. Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, sifat wajib adalah sifat-sifat yang harus ada pada Allah SWT yang berjumlah 20, sifat mustahil adalah sifat-sifat yang tidak boleh ada pada Allah yang berjumlah 20, dan sifat jaiz bagi Allah yang berjumlah 1 (satu) yaitu Allah itu boleh menciptakan sesuatu atau tidak.

2. Ahli kubur dapat memperoleh manfaat atas amal sholeh yang dihadiahkan orang mukmin yang masih hidup kepadanya seperti bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan lain-lain.

3. Orang mukmin yang berdosa dan mati, nasibnya diakhirat terserah Allah, apakah akan diampuni atau mendapat siksa dahulu neraka yang bersifat tidak kekal.

4. Rezeki, jodoh, ajal, semuanya telah ditetapkan pada zaman azali. Perbuatan manusia telah ditakdirkan oleh Allah, tetapi manusia wajib berikhtiar untuk memilih amalnya yang baik.

5. Surga dan neraka serta penduduknya akan kekal selama-lamanya. b. Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Bidang Syari’ah

Dalam bidang syari’ah (fiqih) kaum Ahlus sunnah Wal jama’ah berpedoman pada empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali). Hal-hal yang perlu diketahui adalah :

1. Membaca sholawat berarti menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. 2. Menyentuh dan membawa Al-Qur’an harus suci dari hadats kecil dan besar. 3. Membaca tahlil, sholawat, surat yasin disunnahkan.

4. Membaca do’a qunut pada sholat shubuh disunnahkan.

5. Membaca Al-Qur’an di kuburan dibolehkan dan disunnahkan.

6. Sholat fardlu yang tertinggal atau lupa tidak dikerjakan wajib diqadla.

7. Ziarah kubur hukumnya sunnah bila bertujuan untuk mengambil pelajaran dan mengingat akhirat dan untuk mendo’akan orang Islam, dan lain-lain.

c. Ajaran Ahlussunnah Wal jama’ah di Bidang Akhlaq

Kaum Ahlus sunnah Wal Jama’ah dalam bidang akhlaq atau tasawuf mengikuti imam Abu Qasim Al-Junaidi dan Imam Ghozali berkata “bahwa tujuan memperbaiki akhlaq itu adalah untuk membersihkan hati dari kotoran hawa nafsu dan marah, sehingga hati menjadi suci bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya Tuhan”.

Menurut imam Junaidim ada tiga tingkat dasar dalam menempuh tarekat :

1. Takhali, yaitu mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela baik lahir maupun batin. 2. Tahali, yaitu mengisi diri dan membiasakan diri dengan sifat-sifat terpuji.

3. Tajalli, yaitu mengamalkan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

d. Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Bidang Sosial Kemasyarakatan dan Politik Dalam bidang sosial kemasyarakatan dan politik, kaum Ahlus Sunnah Wal jama’ah mampunyai prinsip dan ciri khas yang berbeda dengan golongan lain. Dalam beberapa hal ada persamaan pendapat dan dalam hal lainnya ada perbedannya. Hal ini tampak jelas dalam beberapa masalah, antara lain :

1. Masalah Khilafiyah

(15)

menyerahkannya pada umat dengan jalan bermusyawarah untuk memperoleh hasil yang terbaik dan bermanfaat.

Allah berfirman yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman Taatlah kamu sekalian kepada Allah dan kepada Rasul-nya dan ulil Amri dari kamu sekalian” (Qs. An-Nisa’ : 59). Yang dimaksud ulil amri adalah khalifah penguasa yang kepemimpinannya wajib diikuti oleh rakyatnya, kewajiban mentaati disini dengan syarat pemerintahan harus dijalankan atas dasar prinsip kebenaran dan berlaku adil. 2. Masalah Persaudaraan dan Perbedaan Pendapat

Pendirian Ahlussunnah Wal jama’ah bahwa semua muslim adalah bersaudara dan jika, terjadi perbedaan pendapat (perselisihan) diusahakan “islah” (berdamai), menurut prosedur yang telah ditetapkan. Jika terjadi perselisihan dan kesalahan hasur dicari jalan keluarnya dan diperbaiki menurut tata cara yang disepakati.

3. Masalah Dosa

Perbuatan dosa adalah perbuatan yang dilakukan tidak berdasarkan perintah agama dan bertentangan dengan ajaran agama ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpendirian bahwa setiap orang yang menyekini kebenaran syahadatain. Betapa besar dosanya, dia tetap dianggap sebagai muslim. Agar supaya kita tidak terjerumus dalam perbuatan dosa baik kecil maupun besar, maka perlu menyadari akibat perbuatan dosa yang kita lakukan. Dengan demikian kita dapat mengendalikan hawa nafsu dan berpikir lebih jauh setiap tindakan yang akan dilakukan dan akibatnya.

AQIDAH Abu Hasan Al-Asyari Al-Maturidi Adapun tokoh besar pengurus NU ialah :

a. KH. Hasyim Asy'ari (1871-1947) Jombang

b. KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) Jombang c. KH.Bisyri Sansoeri (1886 – 1962 ) Jombang

(16)

e. KH. Asnawi (1861-1959) Kudus f. KH. Ma'sum (1870-1972) Lasem g. KH. Nawawi, Pasuruan

h. KH. Nahrowi, Malang

i. KH. Alwi Abdul Aziz, Surabaya

9. NAMA DAN LAMBANG NU

Nahdlatul Ulama adalah organisasi social keagamaan (Jam'iyyah Diniyah Islamiyah) yang berhaluan (faham) Ahulusunnah wal Jamaah. Secara harfiah terdiri dari kata Nahdlah : Bangkit/Kebangkitan dan 'Ulama : Orang-orang yang ahli agama, Jadi Nahdaltul Ulama berarti kebangkitan para alim- ulama.Nama NU usulkan oleh KH. Alwi Abdul Aziz dari Surabaya. Lambang NU berupa :

a. Gambar bola Dunia atau Bumi yang mengingatkan manusia itu berasal dari tanah dan kembali ke tanah.

b. Dilingkari Tali Tersimpul yang melambangkan ukhuwah atau persatuan, dan ikatanya melambangkan hubungan dengan Allah SWT.

c. Dikelilingi sembilan Bintang,- Lima bintang di atas katulistiwa, satu bintang besar melambangkan Nabi Muhammad SAW, sedangkan empat bintang dibawahnya melambangkan empat shahabat (Khulafaur Rosyidin).- Empat bintang di bawah garis katulistiwa, melambangkan empat madzhab.- Disamping itu jumlah seluruh bintang sembalian juga melambangkan wali songo. Jadi Nabi SAW, Shahabat, Imam Madzhab, dan wali songo yang akan memberikan sinar dan petunjuk jalan yang benar.

d. Tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia. Semua jenis lambang tersebutdilatarbelakangi warna putih di atas warnahijau. Warna putih melambangkan kesucian dan warna hijau melambangkan kesuburan.Lambang ini diciptakan oleh KH. Ridwan Abdullah dari Surabaya setelah beliau melakukan shalat Istikharah.

10. SISTEM KEORGANISASIAN NU

Kepengurusan NU terdiri dari tiga bagian, yaitu ;

a. Mustasyar; Penasehat yang secara kolektif memberikan nasehat kepada pengurus NU menurut tingkatannya dalamrangka menjaga kemurnian, khothah nahdliyah, agama, dan menyelesaikan persengketaan.

(17)

c. Tanfidziyah; pelaksana harian organisasi NU yang bertugas :- Memimipin jalanya organisasi- Melaksanakan program NU- Memahami dan mengawasi kegiatan semua perangkat organisasi dibawahnya.- Menyampaikan laporan secara pereodik kepada syuriyah tentang pelaksanaan tugas.

11. TINGKAT KEPENGURUSAN

a. Pengurus Besar NU (PBNU)Pengurus besar adalah kepengurusan NU ditingkat pusat dan berkedudukan di Ibu kota negara Indonesia. Pengurus besar merupakan penganggung jawab kebijakandalam pengendalian organisasi dan pelaksanaan keputusan muktamar.

b. Pengurus Wilayah NU (PWNU) Pengurus Wilayah adalah kepengurusan ditingkat provinsi yang berkedudukan di Ibu kota Propinsi.

c. Pengurus Cabang NU (PCNU) Pengurus Cabang adalah kepengurusan NU ditingkat kabupaten/kota yang berkedudukan ditingkat kabupate

d. Pengurus Majlis Wakil Cabang (MWCNU) Pengurus MWC adalah kepengurusan ditingkat kecamatan atau daerah yang disamakan

e. Pengurus Ranting NU (PRNU) PengurusRanting ialah kepengurusan NU ditingkat Desa/Kelurahan atau daerah yang disamakan.

12. SISTEM PERMUSYAWARATAN

Lembaga permusyawaratan NU meliputi :

a. Muktamar Lembaga permusyawaratan tertinggi dalam NU, diadakan selambat-lambatnya sekali dalam lima tahun, dilaksanakan oleh PBNU yang dihadiri oleh Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Cabang seluruh Indonesia, serta para ulama dan undangan dari tenaga ahlu yang berkompeten. Muktamarmembahas persoalan-persoalan sosial dan agama, program pembangunan NU, laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar, menetaptkan AD/ART, serta memilih penguru PBNU yang baru.

b. Musyawarah Nasional alim Ulama Musyawarah alim ulama adalah musyawarah yang diselenggarakan para alim ulama oleh Pengurus Besar Syuriyah,satu kali dalam satu pereode untuk membahas masalah-masalah agama.

c. Konfensi Besar Konfrensi Besar dilaksanakan oleh pengurus Besar atas permintaan sekurang-kurangnya separuh dari jumlah pengurus Wilayah yang sah. Konfrensi Besar dilaksanakan untuk membahas keputusan muktamar, mengkaji perkembangan organisasi, dan membahas social keagamaan.

(18)

e. Konfrensi Cabang Konfrensi Cabang dilaksanakan lima tahun sekali yang dihadiri pengurus Cabang dan utusan dariPengurus MWC dan Ranting untuk membahas pertanggungjawaban pengurus Cabang menyusun program kerja, membahas masalah keagamaan dan social, serta memilih PCNU yang baru.

f. Konfrensi Majlis Wakil Cabang Konfrensi MWC lima tahun sekali yang dihadiri pengurus MWC dan ranting, untukmembahas pertanggungjawaban pengurus MWC, menyusun program kerja, membahas masalah keagamaan dan social, serta memilih pengurus MWC yang baru.

g. Rapat anggota Rapat anggota dilaksanakan lima tahun sekali yang dihadiri pengurus ranting untuk membahas pertanggungjawaban pengurus Ranting, menyusun program kerja, membahas masalah keagamaan dan social, serta memilih pengurus PRNU yang baru.

13. PERANGKAT ORGANISASI NU

a. Lembaga Perangkat organisasi yang berfungsi pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan satu bidang tertentu. Adapun lembaga-lembaga NU meliputi: - Lembaga Dakwah NU (LDNU)- Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (LP Ma'arif NU)- Lembaga Sosial Mabarut NU (LSMNU)- Lembaga Perekonomian NU (LPNU)- Lembaga Pembangunan dan Pengembangan Pertanian (LP2NU)- Rabithah Ma'ahid al Islamiah (RMI); Pengembangan bidang Pondok Pesantren- Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU)- Ha'iyah Ta'miril Masjid Indonesia (HTMI)- Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM)- Lembaga Seni Budaya NU (LSBNU)- Lembaga Pengembangan Tenaga Kerja NU (LPTKNU)- Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU (LPBHNU)- Lembaga Pencak Silat (LPS)-Jam'iyyah Qura wal Huffadz (JQH): Bidang Pengembanga Tilawah, Metode pengajaran dan penghafalan Al-qur'an.

b. Lajnah Perangkat Organisasi NU untuk melaksanakan program yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah NU meliputi:- Lajnah Falakiyah: bertugas menangani Hisab dan Ru'yah- Lajnah Ta'lif wa Nasyr: bertugas menangani penerjemah, penyusunan, dan penyebaran kitab-kitab. - Lajnah Auqaf: bertugas menghimpun, mengurus, dan mengelola tanah serta bangunan yang diwaqafkan.- Lajnah Zakat Infaq dan Shodaqoh: bertugas menghimpun, mengelola, dan mentsharafkan zakat, infaq dan sedekah.- Lajnah Bahtul Masail Diniyah: bertugas menghimpun, membahas, dan memecahkan masalah-masalah yang maudlu'iyah dan waq'iyah yang segera mendapatkan kepastian hokum. c. Badan Otonam Perangkat organisasi NUyang berkaitan dengan kelompok masyarakat

(19)

(GP Ansor): Badan Otonom yang menghimpun pemuda NU.- Ikatan pelajar NU (IPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri laki-laki.- Ikatan Pelajar putri NU (IPPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri perempuan.-Ikatan Sarjana NU (ISNU): Badan Otonom yang menghimpun para sarjana dan kaum intelek NU

14. KEANGGOTAAN NU

Keanggotaan NU dapat diklasifikasi menjadi :

a. Anggota Biasa Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam yang beragama Islam, menganut salah satu madzhab empat, baligh, mengetahui aqidah, asas, tujuan, usaha-usaha, dan sanggup melaksanakan semua keputusan NU.

b. Anggota luar Biasa Setiap orang beragama Islam, baliq, menyetujui akidah, asas, tujuan, usaha-usaha NU, namun yang bersangkutan berdomisili secara tetap di luar wilayah Indonesia.

c. Anggota Kehormatan Setiap orang yangbukan anggota biasa atau luar biasa yang dianggap telah berjasa kepada NU dan ditetapkan dalam keputusan pengurus besar.

15. Sejarah Komite Hijaz A Komite Hijaz.

Komite Hijaz adalah merupakan cikal bakal kelahiran NU, komite ini dibentuk dan dimotori oleh KH, Abdul Wahab Hasbullah, atas restu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dibentuknya komite Hijaz adalah untuk mengirimkan delegasi Ulama Indonesia yang akan mengha-dap raja Ibnu Su’ud tahun 1925. Misi yang di emban diantaranya tentang kekhawatiran para Ulama terhadap rencana raja yang akan melarang peribadatan menurut madzhab di Tanah Haram, dan lain sebagainya.

Semula utusan para Ulama adalah KH, R. Asnawi Kudus, namun karena beliau ketinggalan kapal dan tidak jadi berangkat, keberatan itu disampaikan melalui telegram. Dikarenakan telegram belum mendapatkan jawaban juga, akhirnya berangkatlah KH, Abdul Wahab Hasbullah sebagai utusan. Secara resmi utusan itu adalah,

1. KH, Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya).

(20)

Namun yang berangkat dari Indonesia hanya KH. Abdul Wahab Hasbullah. Misi yang di emban komite ini adalah menemui Raja Saudi (tanah Hijaz) Ibnu Sa’ud, untuk menyam-paikan pesan Ulama pesantren di Indonesia, yang meminta agar Raja tetap memberikan kebebasan berlakunya hukum-hukum ibadah dalam madzhab empat di Tanah Haram.

B. Munculnya Komite Hijaz.

Diantara penyebab munculnya komite Hijaz adalah jatuhnya Kholifah di Turki pasca Perang Dunia I, dan masuknya Ibnu Sa’ud yang ber-aliran Wahabi dengan menguasai Makkah yang menjadi sentral ibadah umat Islam. Ketika itu Saudi berkeinginan menegakkan kembali khilafah yang jatuh itu dengan menggelar konfe-rensi umat Islam se dunia, dan dipusatkan di Makah.

Utusan dari Indonesia yang diakui adalah : HOS. Cokroaminoto dan KH. Mas Mansur, tetapi ikut pula berangkat HM. Suja’ (Muhammadiyah), H. Abdullah Ahmad (Sumatera Barat)-H. Abdul Karim Amrullah (Persatuan Guru Agama Islam).

Kemudian KH. Abdul Wahab Hasbullah di coret keanggotaannya dengan alasan tidak mewakili orga-nisasi. Akhirnya para Ulama Pesantren membentuk tim tersebut dengan mengatas namakan Jam’iyah Nah-dlatul Ulama, meski secara resmi organisasinya belum didirikan.

Utusan para ulama pesantren dengan nama Komite Hijaz itu menunai hasil gemilang, raja menjamin kebebasan ber-amaliyah dalam madzhab 4 (empat) di Tanah Haram, dan tidak ada penggusuran ma kam Nabi Muhammad Saw, dan para Shahabatnya. Sepulang dari Makah KH. Abdul Wahab Hasbullah bermaksud membubarkan Komite itu karena di anggap tugasnya sudah selesai. Tapi keinginan itu dicegah oleh KH. Hasyim Asy’ari, komite tetap ber jalan, namun dengan tugas yang baru, yaitu membentuk organisasi Nahdlatul Ulama, sebagaimana isyarat yang diberikan oleh Syaikhona Cholil yang dikirimkan melalui salah seorang santrinya, KH. R As’ad Syamsul Arifin.

Sewaktu KH. Wahab Hasbullah akan mengumpulkan para Ulama di Surabaya, tampaknya intelejen Belanda sudah mencium tanda-tanda peristiwa besar akan terjadi di kota Surabaya. Karenanya me-reka tidak memberikan idzin pertemuan. Tetapi para Ulama tidak kehabisan cara untuk bisa menga-dakan pertemuan tersebut.

Dengan alasan acara “Tahlil” dalam rangka Haul Syaikhona Cholil Bangkalan, para Ulama berkumpul di rumah KH. Ridwan Abdullah di Jl. Bubutan VI Surabaya. Diluar rumah para undangan membaca Tahlil, sedangkan di dalam rumah para Kyai menggelar pertemuan untuk mendirikan jam’iyah NU. Selesai Tahlil itulah, tepatnya pada tgl. 16-Rajab-1344 H / 31-Januari-1926 lahirlah Jam’iyah NU.

C. Isi Rumusan Komite Hijaz

(21)

makam Nabi hendak dibongkar. Dalam kondisi seperti itu umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz.

Komite bertugas menyampaikan lima permohonan:

a. Memohon diberlakukan kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan mazhab tersebut di bidang tasawuf, aqoid maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudaha terkenal kebenarannya. Hal tersebut tidak lain adalah semata-mata untuk memperkuat hubungan dan persaudaraan umat Islam yang bermazhab sehingga umat Islam menjadi sebagi tubuh yang satu, sebab umat Muhammad tidak akan bersatu dalam kesesatan.

b. Memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat bersejarah yang terkenal sebab tempat-tempat tersebut diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah” dan firman Nya “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya dan berusaha untuk merobohkannya.” Di samping untuk mengambil ibarat dari tempat-tempat yang bersejarah tersebut.

c. Memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan demikian orang yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tiak dimintai lagi lebih dari ketentuan pemerintah.

d. Memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.

(22)

Karena untuk mengirim utusan ini diperlukan adanya organisasi yang formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang secara formal mengirimkan delegasi ke Hijaz untuk menemui Raja Ibnu Saud.

Maka dapat disimpulkan bahwa Komite Hijaz yang merupakan respon terhadap perkembangan dunia internasional ini menjadi faktor terpenting didirikannya oeganisasi NU. Berkat kegigihan para kiai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi dari umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah diterima oleh raja Ibnu Saud.

D. Surat Balasan Dari Raja Ibn Saud

Kerajaan Hijaz dan Nejad serta Daerah Kekuasaannya. No. 2028, Tanggal 24 Djulhijjah, 1346 Hijriyah

Dari Abdullah Aziz bin Abdurrahman keluarga Faishal kepada yang terhormat ketua NU di Jawa, Syeikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan penulisnya Syeikh Alwi bin Abdul Aziz, semoga Allah senantiasa memelihara mereka.

Setelah mengucapka Assalamu’alaikum Wr. Wb. Perlu dimaklumi bahwa surat saudara tertanggal 5 syawal 1346 sudah kami terima, apa yang tercantum didalamnya telah kami telaah, khususnya apa yang saudara-saudara tuturkan menunjukkan kepedulian terhadap urusan umat Islam. Juga delegasi yang saudara kirim yaitu Al-Haj Abdul Wahab dan Ustdz Syeikh Ghonaim Al-Amir selaku mustasyar NU telah menghadap kami dan telah menyampaikan pesan saudara kepada kami. Adapun mengenai urusan perbaikan Negara Hijaz adalah urusan internal dalam kerajaan dan pemerintahan. Tiadalah terlarang semua amalan yang menjadi kesenangan jama’ah baitullahiharam dan juga tidak terlarang seorang pun dari umat Islam yang ingin melaksanakan segala amal kebaikan.

Adapun kebebasan seseorang dalam mengikuti mahdzabnya, maka bagi Allah segala puji dan anugerahnya, memang umat Islam bebas merdeka dalam segala urusan, kecualidalam hal-hal yang terang diharamkan oleh Allah dan tidak ditemui pada seorang satu dali pu yang menghalalkan amalannya, tidak terdapat dalam Al-Qur’an, tidak terdapat dalam As-Sunnah, tidak terdapat dalam mahdzab orang-orang salaf yang soleh dan tidak terdapat pula pada fatwa para imam mahdzab yang empat. Apa saja yang sesuai dengan semua itu, kami mengamalkanya, melaksanakannya dan membantu pelaksanaannya. Sedamg apa saja yang bertentangan dengan hal-hal tersebut maka tidak wajib taat kepada makhluk yang bermaksiat kepada Allah.

(23)

Kami senantiasa memohon kehadirat Allah, agar memberikan pertolongan kepada semuanya diatas jalan kebagusan kebenaran dan hasil amal perbuatan yang baik.

Demikianlah penjelasan yang perlu kami sampaikan, mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi saudara-saudara sekalian.

Stempel & ttd

(Abdullah Aziz bin Abdurrahman Al-Su’ud) 16. Rumusan Reolusi Jihad NU

Pada 22 oktober 1945 seluruh delegasi NU sejawa & madura telah berkumpul di kantor pusat ansor di jalan pungutan surabaya. Kiyai hasyim langsung memimpin pertemuan tersebut dan kemudian dilanjutkan oleh kiyai wahab, setelah berdiskusi yg cukup panjang dan mendengarkan hasil istiqoroh para kiyai utama NU, esok siangnya tanggal 22 oktober 1945 pertemuan menghasilkan 3 rumusan penting yg kemudian dikenal dg instilah RESOLUSI JIHAD NU (Nahdatul Ulama).

Isi resolusi JIHAD NU :

1. SETIAP MUSLIM , TUA, MUDA DAN MISKIN SEKALIPUN WAJIB MEMERANGI ORANG KAFIR YANG MERINTANGI KEMERDEKAAN INDONESIA.

2. PEJUANG YANG MATI DALAM PERANG KEMERDEKAAN LAYAK DIANGGAP SYUHADA.

3. WARGA YANG MEMIHAK KEPADA BELANDA DIANGAP MEMECAH BELAH KESATUAN DAN PERSATUAN DAN OLEH KARENA ITU HASRUS DIHUKUM MATI.

Dokumen Resolusi Jihad ditulis dalam huruf Arab-Jawa atau disebutpegon ditandatangi oleh K.H Hasyim Asyari dan disebarluaskan keseluruh jaringan pesantren, tak terkecuali kepada komandan-komandan Laskar Hizbullah & Sabilillah diseluruh penjuru jawa dan madura. Dokument resolusi jihad juga dimuat dalam sejumlah media masa pergerakan pada masa itu, hanya berselang 3 hari pasca Resolusi Jihad dicetuskan, 6000 tentara sekutu mendarat di pelabuhan tanjung perak surabaya dengan persenjataan lengkap.

17. Analisa Diri

(24)

Tujuan

a. Mengenal kesadaran mendengar apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita b. Mengakui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan sendiri, sehingga mampu

memanfaatkan kekuatan dan menyadari kelemahannya c. Munculnya kesadaran untuk berpartisi aktif dalam latihan Proses sebuah interaksi dan interrelasi

a. sekelompok orang baru bertemu dan berkumpul, dalam permulaan suasana masih tertutup. Masing-masing orang akan mempertahankan keberadaannya seperti sekarang ini (status quonya). Tak lama kemudian masing-masig anggota mulai ingin tahu, dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Pada umumnya pertanyaan yang diajukan menyangkut data pribadi, siapa nama dan alamatnya dimana, sudah punya pacar atau belum, sudah kawin atau belum, motivasi mengikuti pertemuan dan sebagainya. Pada tahap ini mulaialah timbul perasaan tertarik diantara pada anggota kelompok.

b. Dari tanya jawab mereka, akhirnya timbul keinginan adanya hubungan yang lebih erat, karena mungkin ada yang akan saling menguntungkan, sehingga tanya jawab telah berlangsung lebih luas, tidak sekedar tentang pribadi mereka.

c. Tahap selanjutnya, merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Pembicaraan yang lebih dalam akan menimbulkan kepercayaan diri pada masing-masing orang yang terlibat dalam pembicaraan tersebut. Sehingga hubungan akan menjadi lebih mantap dan akrab yang pada akhirnya akan menimbulkan saling percaya antara satu dengan yang lain.

d. Proses interaksi dan interelasi dalam kelompok tersebut dapat digambarkan sebagai mana contoh berikut :

Tertutup Terbuka

>--- Status quo ! Bertanya ! Tertarik ! Percaya diri ! Saling percaya

Menurut Abraham Maslow

adalah Aktualisasi diri

dianggap sebagai kebutuhan

tertinggi manusia secara

mendasar baik

inner explor

atau

action

Menurut Abraham Maslow

adalah Aktualisasi diri

dianggap sebagai kebutuhan

tertinggi manusia secara

mendasar baik

inner explor

(25)

Konsolidasi

Konsolidasi

“ Seorang yang

mulia bukan

karena apa yang

dimilikinya tapi

karena

pengorbananny

a untuk

memberikan

manfaat bagi

Referensi

Dokumen terkait