• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI SAAT PUBLIC

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI SAAT PUBLIC"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI SAAT PUBLIC SPEAKING PADA MAHASISWA DENGAN PENDEKATAN KONSELING ISLAMI

Ulfa Ariyanti Rizky Pradita Ashari

Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Jl Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202 Purwokerto 53182

Email : [email protected]

ABSTRAK

Public speaking adalah komunikasi dimana seseorang harus berdiri dan menentukan, menjelaskan, mendukung, atau memberikan argumentasi yang menentang sebuah gagasan atau seseorang. Melaksanakan public speaking tidaklah mudah, dimana seseorang wajib untuk memerhatikan audiens dan selalu dituntut untuk tampil efektif di berbagai situasi. Maka dari itu, tidaklah mengherankan apabila seseorang sering mengalami kecemasan saat berbicara di depan umum, tidak terkecuali mahasiswa. Kecemasan berbicara di depan umum juga dipengaruhi oleh beragam aspek, salah satunya adalah kepercayaan diri, yang memiliki makna meyakinkan pada kemampuan dan penilaian diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif.

Kata Kunci : Kepercayaan Diri, Public Speaking.

ABSTRACT

Public speaking is communication where one must stand up and define, explain, support or argue against an idea or a person. Implement public speaking is not easy, where one is obliged to pay attention to the audience and are always required to perform effectively in various situations. Therefore, it is not surprising that someone often experience anxiety when speaking in public, not least the students. Public speaking anxiety is also influenced by a variety of aspects, one of which is confidence, which has a convincing meaning in ability and judgment ourselves in doing the task and select an effective approach.

(2)

Pendahuluan

Semua orang dituntut untuk memiliki kemampuan berbicara di depan umum, selain keahlian mengungkapkan pikirannya secara tertulis. Kemampuan mengungkapkan pikiran secara lisan memerlukan kemampuan penguasaan bahasa yang baik agar mudah dimengerti oleh orang lain dan membutuhkan pembawaan diri yang tepat. Kemampuan mahasiswa berbicara di depan umum lebih banyak menggunakan metode diskusi kelompok dan presentasi. Akan tetapi, mahasiswa seringkali merasa cemas untuk mengungkapkan pikirannya secara lisan, baik pada saat diskusi kelompok, saat mengajukan pertanyaan pada dosen, ataupun ketika harus berbicara di depan kelas saat mempresentasikan tugas. Kondisi tersebut ditandai dengan ketakutan dalam menunjukkan performansi maupun situasi interaksionalnya dengan orang lain. Kondisi tersebut berdampak terhadap kualitas kehidupan individu, mempengaruhi fungsi sosial dan relasi dengan komunitasnya. Beberapa faktor yang menyebabkan kecemasan dalam berbicara di depan umum, cenderung menyebabkan individu yang bersangkutan merekam di pikiran bawah sadarnya baik secara visual, auditori, kinestetik, maupun hal-hal yang berdampak terhadap kepercayaan dirinya saat berbicara di depan umum.

Tinjauan Teori

1. Pengertian Konseling

Kata konseling (counseling) berasal dari kata counsel yang diambil dari bahasa Latin yaitu counselium, artinya “bersama” atau “bicara bersama”. Pengertian “berbicara bersama-sama” dalam hal ini adalah pembicaraan konselor (counselor) dengan seorang atau beberapa klien (conselee). (Latipun, 2008).

(3)

sistem self klien sebagai tujuan konseling akibat dari struktur hubungan konselor dengan kliennya. (Latipun, 2008).

Menurut Daulay (2014), bimbingan dan penyuluhan atau yang biasa disebut konseling adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan-kesulitan rohaniah dalam lingkungan hidupnya, agar orang tersebut mampu mengatasi dirinya sendiri sehina timbul pada diri pribadinya suatu cahaya harapan kebahagiaan hidup saat sekarang dan masa depannya.

2. Pengertian Konseling Islami

Konseling islami adalah suatu aktifitas memberikan bimbingan, pelajaran, dan pedomankepada individu yang meminta bimbingan (klien) dalam hal bagaimana seharusnya seorang klien dapat mengembangkan potensi akal fikirannya, kejiwaannya, keimanan dan keyakinan serta dapat menanggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan benar secara mandiri yang berparadigma kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW. (Adz-Dzaky, 2002).

Menurut Rajab (2015), konseling islam merupakan bantuan terarah daripada seorang konselor terhadap klien yang menghadapi masalah, sehingga klien tersebut boleh menjalani hidup dengan lebih baik dan bahagia sesuai dengan panduan dan petunjuk Qur’an dan al-Sunnah. Oleh itu, Konseling Islam dapat diformulasikan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan kesedaran individu bagi meraih kebahagiaan hidup di dunia dan juga di akhirat.

3. Ciri Khas Konseling Islam

Adz Dzaky (2002) menyebutkan ciri khas konseling islam yang sangat mendasar adalah, sebagai berikut :

a. Berparadigma kepada wahyu dan ketauladanan para Nabi, Rasul, dan ahli warisnya. b. Hukum konselor memberikan konseling kepada konseli klien dan konseli/klien yang

meminta bimbingan kepada konselor adalah waib dan suatu keharusan bahkan merupakan ibadah.

(4)

agama (kafir), melanggar agama dengan sengaja dan terang-terangan (zhalim), menganggap enteng dan mengabaikan agama (fasiq).

d. Sistem konseling islam dimulai dengan pengarahan kepada kesadaran nurani dengan membacakan ayat-ayat Allah, setelah itu baru melakukanproses terapi dengan membersihkan dan mensucikan sebab-sebab terjadinya penyimpangan, kemudian setelah tampak cahaya kesucian dalam dada (qalb), akal fikiran dan kejiwaan, baru proses pembimbingan dilakukan dengan mengajarkan pesan-pesan Al-Qur’an dalam mengantarkan individu kepada perbaikan-perbaikan diri secara esensial dan diiringi dengan Al-Hikmah, yaitu rahasia-rahasia dibalik segala peristiwa yang terjadi di dalam hidup dan kehidupan.

e. Konselor sejati dan utama adalah mereka yang dalam proses konseling selalu dibawah bimbingan atau pintu pimpinan Allah dan Al-Qur’an.

4. Teori-Teori Konseling dalam Islam

ننعع للعضع ننمعبب مملععنأع وعهم كعبلعرع نلعإب نمسعحنأع يعهب يتبللعابب منهملندباجعوع ةبنعسعحعلنا ةبظععبونمعلناوع ةبمعكنحبلنابب كعبلبرع لبيببسع ىلعإب عمدنا نعيدبتعهنمملنابب مملععنأعوعهموع هبلبيببسع

Artinya : "Serulah (manusia) kepada jlan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (16: 125)

Berdasarkan ayat diatas, maka disini para ahli mengidentifikasi bahwa ayat tersebut mengandung beberapa teori dalam bimbingan dan konseling.

a. Teori Al-Hikmah

(5)

ilmu dengan pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, pepatah, dan Qur’an dan Al-Karim.

Ciri khas dari teori Al-Hikmah adalah :

 Adanya pertolongan Allah SWT secara langsung atau melalui malaikat-Nya.

Diagnose menggunakan metode ilham (intuisi) dan kasysyaf (penyingkapan batin).

 Adanya ketauladanan dan keshalihan konselor.

 Alat terapi yang digunakan adalah nasehat-nasehat dengan menggunakan teknik

Ilahiyah, yaitu dengan doa, ayat-ayat Al-Qur’an dan menerangkan esensi dari problem yang sedang dialami.

 Teori Al-Hikmah ini biasanya khusus dilakukan untuk terapi penyakit yang berat dan

klien tidak dapat melakukannya sendiri, tetapi melalui bantuan terapis, seperti penyimapangan perilaku karena adanya interfensi setan atau iblis dalam kejiwaan seseorang. Dalam kasus ini bukan menggunakan konseling tetapi psikoterapi.

b. Teori Al-Mau’izhoh Al-Hasanah

Yaitu teori konseling dengan cara mengambil peajaran-pelajaran atau I’tibar-I’tibar dari perjalanan kehidupan para Nabi, Rasul dan para Auliya-Allah. Bagaimana Allah membimbing dan mengarahkan cara berfikir, cara berperasaan, cara berperilaku serta menanggulangi berbagai problem kehidupan.

5. Kepercayaan Diri

Percaya diri merupakan aspek kepribadian manusia yang berfungsi penting untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Agar tidak terdapat kesimpangsiuran makna, penulis akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan percaya diri dalam penelitian ini yaitu suatu sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Sehingga dengan alasan ini, ia akan mampu melakukan tindakan sesuai dengan apa yang ia inginkan, rencanakan dan harapkan. Bertitik tolak dari definisi ini penulis akan meneliti konsepsi umum tentang percaya diri dan mencari padanan kata yang terungkap dalam Al-Qur'an.

(6)

petunjuk untuk kebaikan dan kepentingannya, baik dalam kehidupan individu maupun sosial; menunjukkan kepada mereka jalan terbaik, guna mewujudkan jati dirinya, mengembangkan kepribadiannya dan meningkatkan dirinya menuju kesempurnaan insani, sehingga mampu mewujudkan kebahagiaan bagi dirinya, di dunia dan akhirat. Al-Qur'an sebagai rujukan pertama juga menegaskan tentang percaya diri dengan jelas dalam beberapa ayat-ayat yang mengindikasikan percaya diri seperti: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Fusshilat: 30).

Dari ayat di atas nampak bahwa orang yang percaya diri dalam al-Qur'an di sebut sebagai orang yang tidak takut dan sedih serta mengalami kegelisahan adalah orang orang yang beriman dan orang-orang yang istiqomah. Banyaknya ayat-ayat lain yang menggambarkan tentang keistimewaan kedudukan manusia di muka bumi dan juga bahkan tentang keistimewaan umat Islam, yang menurut penulis merupakan ayat-ayat yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan rasa percaya diri

Pembahasan

(7)

tanpa menonjol-nonjolkan kelebihan serta menutup-nutupi kekurangan. Ini disebabkan orang-orang yang percaya diri telah benar-benar memahami dan mempercayai kondisi dirinya, sehingga telah bisa menerima keadaan dirinya apa adanya. Allah SWT berfirman dalan Qs Yusuf

ayat 78, Artinya :

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Q.S Yusuf: 87)

Siapakah orang-orang yang percaya diri dan tidak putus asa itu, dan kepada siapakah yang berhak memberi perintah agar percaya diri dan tidak putus asa tersebut? Perlu kita ketahui bersama bahwa sesungguhnya agama islam memerintahkan kepada kita semua agar kita percaya diri dan tidak putus asa dalam mencari rahmat dan hidayah Allah SWT. Kita sebagai manusia wajib ikhtiar kepada Allah SWT karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Sebagaimana pesan Nabi Yakub As kepada anak-anaknya dalam mencari saudaranya Yusuf serta Bunyamin. Pada ayat tersebut diatas pesan nabi Yakub As bukan saja memerintahkan kepada anak-anaknya untuk terus berharap dan percaya diri serta tidak putus asa dalam mencari saudaranya, tetapi ada pesan kepada kita semua agar percaya diri dan tidak putus asa dalam mencari rahmat Allah SWT. Kata “Rauh” dari ayat tersebut lebih dalam makna dan takaranya serta lebih banyak kandunganya, didalamnya mengandung naungan tempat beristirahat dari musibah yang mencekik dengan apa yang menghibur jiwa. Maka dari itu orang-orang yang beriman selalu berhubugan dengan Allah, raga dan bathin mereka selalu disirami dengan ruh Allah yang menghidupkan dan menyemangatinya. Mereka itu tidak pernah putus asa dari rahmat Allah, walaupun mereka diliputi oleh segala musibah yang menghampirinya, karena mereka dalam ketenangan kepercayaan terhadap Allah SWT. Dari ayat diatas juga penulis berpendapat bahwa Yakub sebagai orang tua yang tentunya banyak memiliki pengalaman dan kesabaran juga ilmu yang tinggi. Apabila ia berfikir atau mempunyai gambaran sebagai orang yang penakut dan pesimis, maka gambaran tersebut akan mempengaruhi seluruh potensi dirinya yang ada sebagai seorang yang penakut. Ketakutan dan keputus asaan seseorang dalam mencari rahmat Allah adalah karena ketidak mampuan dan ketidak yakinan orang tersebut dalam menghadapi masalah tersebut.

(8)

Konsep Percaya Diri dalam Al-Qur’an adalah suatu sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Percaya diri dalam Al-Qur'an bertitik tolak dari konsepsi yang mulia terhadap manusia yaitu sebagai Khalifah Allah, sebaik-baiknya makhluk ciptaan, dan makhluk yang bebas berkehendak. Konsep percaya diri dalam al-Qur'an dimulai dengan memiliki konsep diri yang jelas bagaimana ciri-ciri fisik, sifat-sifat, hoby, kekuatan, kelemahan, dan mengetahui kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan kedudukan. Kemudian, setelah memiliki konsep diri yang jelas bahwa individu itu adalah seorang muslim yang memiliki ciri-ciri fisik, sifat, dan karakter yang khas ia harus berpikir positif terhadap diri, situasi dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Setelah itu, setiap manusia harus yakin bahwa dirinya memiliki potensi yang diberikan oleh Allah sebagai makhluk pilihan terbaik yang diciptakan-Nya.

Keyakinan ini, tidak cukup jika hanya keyakinan tanpa adanya tindakan yang membuktikan semua itu melainkan dibuktikan dengan tindakan (iman dan amal). Dalam melakukan tindakan hendaknya dengan usaha yang maksimal sesuai dengan potensi yang dimiliki. Apapun hasil yang didapatkan melalui tindakan yang dilakukan asalkan sesuai dengan keinginan, cita-cita dan harapan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Maka, berdoa dan tawakal kepada Allah karena ia akan menenangkan jiwa.

(9)

Ririn. 2013. “Hubungan Antara Keterampilan Komunikasi Dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum”. Jurnal ilmiah konseling. Padang: Universitas Negeri Padang. Vol 2. No. 1.

Haryanthi, dan Tresniasari. 2012. “Efektivitas Metode Terapi Ego State Dalam Mengatasi Kecemasan Berbicara di Depan Publik Pada mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta”. Jurnal unair. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. Vol. 14. No. 1. Andrianto. 2008. “Kecemasan Presentasi Ditinjau Dari Keterampilan Komunikasi Dan

Referensi

Dokumen terkait

diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk.. mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri

Setiap orang akan bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya, artinya apabila konsep diri seseorang positif, maka individu akan cenderung mengambangkan sikap-sikap

Hasil dari penelitian ini untuk menjelaskan tingkat kepercayaan diri remaja pemain band serta mengetahui usaha-usaha yang dilakukan remaja pemain band agar dapat percaya diri di atas

Kepercayaan diri adalah suatu sikap yang dimiliki oleh seorang individu menyangkut keyakinan, kesanggupan, dan keberanian terhadap kemampuan diri sendiri untuk

Kepercayaan diri siswa percaya diri merupakan sikap individu dalam hal ini siswa yang yakin akan kemam puan dirinya atau mempunyai pandangan yang positif terhadap dirinya,

Percaya diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun

Sikap percaya diri, yakin aka11 berhasil perlu ditanamkan kepada siapapun untuk mendorong agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optima1:Dengan

Dokumen ini membahas tentang cara meningkatkan kepercayaan diri dengan mengidentifikasi ciri-ciri individu yang percaya diri dan dampak dari ketidakpercayaan