• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU ETIS DALAM ISLAMIC MARKETING. Fajar Budiman, SE.,MPd.E STAI-YAPTIP Pasaman Barat Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERILAKU ETIS DALAM ISLAMIC MARKETING. Fajar Budiman, SE.,MPd.E STAI-YAPTIP Pasaman Barat Abstrak"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

44 PERILAKU ETIS

DALAM ISLAMICMARKETING

Fajar Budiman, SE.,MPd.E STAI-YAPTIP Pasaman Barat

[email protected]

Abstrak

Seorang pengusaha – dalam pandangan Islam – tidak hanya sekedar mencari keuntungan, melainkan mencari keberkahan yaitu kemantapan usaha dengan memperoleh keuntungan yang wajar dan mendapat ridha Allah SWT. Target yang dicapai seorang pedagang muslim dalam melakukan bisnis tidak sebatas keuntungan materil, tetapi juga keuntungan immaterial (spiritual). Kebendaan yang profan (intransenden) baru bermakna apabila diimbangi dengan kepentingan spiritual yang transenden (ukhrawi). Dalam melaksanakan kegiatan ekonomi, Islam melarang segala perbuatan yang dapat merugikan orang lain. Begitu pula halnya dalam kegiatan pemasaran. Oleh sebab itu, penerapan etika dirasa penting dalam kegiatan pemasaran.

Kata “etika” tidak berdiri sendiri, melainkan dibatasi dengan penambahan kosakata “Islam” lalu menjadi “etika Islam”, maka dengan sendirinya konotasinya akan megacu pada etika dan norma-norma serta ajaran Islam. Dalam hal ini tidak berbeda dari akhlak berbisnis yang dikembangkan dalam Islam.

Kata kunci: Etika, Pemasaran, Islam

PENDAHULUAN

Seorang pengusaha – dalam pandangan Islam – tidak hanya sekedar mencari keuntungan, melainkan mencari keberkahan yaitu kemantapan usaha dengan memperoleh keuntungan yang wajar dan mendapat ridha Allah SWT. Target yang dicapai seorang pedagang muslim dalam melakukan bisnis tidak sebatas keuntungan materil, tetapi juga keuntungan immaterial (spiritual). Kebendaan yang profan (intransenden) baru bermakna apabila diimbangi dengan kepentingan spiritual yang transenden (ukhrawi).1

1 Muhammad Djakfar, Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2007), h. ix

(2)

Dalam melaksanakan kegiatan ekonomi, Islam melarang segala perbuatan yang dapat merugikan orang lain. Begitu pula halnya dalam kegiatan pemasaran. Oleh sebab itu, penerapan etika dirasa penting dalam kegiatan pemasaran (Mardani, 2017)2. Dalam hal ini etika berfungsi sebagai pemberi nilai atau menetapkan perbuatan manusia - apakah termasuk perbuatan baik, buruk, mulia, hina, berguna, dan lain-lainnya (Sukarno, 2013)3. Disini perilaku yang beretika bisa bekerja sebagai pengaman bagi organisasi atau bisnis.

Pada Faktanya, untuk kondisi saat ini tidak sedikit kegiatan pemasaran yang mengabaikan etika untuk menarik minat konsumennya. Iklan atau promosi bohong dari suatu produk banyak beredar di masyarakat yang berdampak pada kerugian pihak tertentu. Diantaranya Banyak perusahaan menggunakan kata green dan mengeksploitasi kepekaan konsumen dengan menyatakan bahwa produknya bisa didaur ulang (recyclable), dapat terurai oleh tanah dan air (degradable), aman bagi lapisan ozon, produk tidak mengandung bahan pengawet, tidak mengandung monosodium glutamat, produk hemat energi, atau mencantumkan label “ditanggung halal”. Namun demikian, dari banyak perusahaan yang mencantumkan green label, health label dan halal label, sedikit yang mengandung kebenaran dan kejujuran dalam mencantumkan label tersebut dalam produknya. Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dan Majelis Ulama Indonesia belum melakukan riset yang mendalam terhadap label-label produk yang beredar di masyarakat. Umumnya mereka melakukan pemeriksaan dan sertifikasi pada waktu awal produk baru dibuat. Beberapa merek produk yang diproduksi oleh perusahaan terkenal, ternyata dalam perjalanannya melakukan pelanggaran misalnya mengandung bahan pengawet berlebihan, kita juga melihat bagaimana perusahaan-perusahaan funiture dan mebeler yang telah memperoleh sertifikat Iso 9000, ternyata masih saja menggunakan kayu curian, melakukan

2

Ratna Purnama Sari,dkk, Pengaruh Etika Pemasaran Islam Terhadap Kepuasan Nasabah Bank Syariah. AL-INFAQ:Jurnal Ekonomi Islam, vol. 9 No. 2, Desember 2018. h. 132

(3)

46 penebangan hutan secara liar, atau melakukan ilegal loging sehingga banyak hutan-hutan di Indonesia habis dan menjadi gundul.4

Secara umum etika bisnis merupakan acuan cara yang harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, etika bisnis memiliki prinsip-prinsip umum yang dijadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan bisnis yang dimaksud. Di Indonesia tampaknya masalah penerapan etika perusahaan yang lebih intensif masih belum dilakukan dan digerakan secara nyata. Pada umumnya baru sampai tahap pernyataan-pernyataan atau sekedar “lips-service” belaka. Karena memang enforcement dari pemerintah pun belum tampak secara jelas. Setiap perusahaan ketika menjalankan bisnisnya diwajibkan untuk berjalan berdasarkan etika bisnis, dimana dalam etika bisnis tersebut terdapat prinsip dalam berbisnis. Dimana prinsip tersebut menjadi pedoman dan mempunyai standar baku sebagai pencegah adanya ketimpangan atau kecacatan etika moral dalam operasi perusahaan.5

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) yakni penelitian yang menelaah data-data yang bersumber dari bahan-bahan kepustakaan.6

PEMBAHASAN

1. Konsep Pemasaran Syariah

Bisnis tidak dapat di pisahkan dari aktivitas pemasaran. Sebab pemasaran merupakan aktivitas perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan atas program-program yang di rancang untuk menghasilkan transaksi pada target pasar, guna memenuhi kebutuhan perorangan atau kelompok berdasarkan asas saling menguntungkan, melalui pemanfaatan produk, harga, promosi dan

4

Syaifuddin, Menyoal Etika Pemasaran Dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Akademika; Vol. 14. No.1 Februari 2016, h. 51.

5 Syaifuddin, Menyoal Etika Pemasaran Dan Tanggung Jawab..., h. 50.

(4)

distribusi. Dengan adanya pemasaran konsumen tidak perlu lagi memenuhi kebutuhan pribadi secara sendiri-sendiri dengan melakukan pertukaran antara konsumen dengan pelaku pemasaran sehingga akan ada banyak waktu konsumen untuk kegiatan yang dikuasai atau disukai.

Pemasaran dalam pandangan Islam merupakan suatu penerapan disiplin strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Ide mengenai Pemasaran Syariah ini sendiri ditelurkan oleh dua orang pakar di bidang Pemasaran dan Syariah. Mereka adalah Hermawan Kertajaya, dan Muhammad Syakir Sula. Mereka memberikan definisi untuk Pemasaran Syariah (Marketing Syariah) adalah sebagai berikut:

Sharia Marketing is a strategic business discipline that directs the process of creating, offering, and changing value from one initiator to its stakeholders, and the whole process should be in aaccordance with muamalah principles in Islam.7

Hermawan Kertajaya dan Muhammad Syakir Sula memberikan dua tujuan utama dari Marketing Syariah atau Pemasaran Syariah, yaitu: a. Me”marketing”kan syariah

Dimana perusahaan yang pengelolaannya berlandaskan syariah Islam dituntut untuk bisa bekerja dan bersikap profesional dalam duniabisnis. Juga dibutuhkan suatu program pemasaran yang komprehensifmengenai nilai dan value dari produk-produk

syariah agar dapat diterimadengan baik, sehingga tingkat pemahaman masyarakat yang masih memandang rendah terhadap diferensiasi yang ditawarkan olehperusahaan yang berbasiskan syariah.

b. Men”syariah”kan Marketing

Dengan mensyariahkan marketing, sebuah perusahaan tidakakan serta merta menjalankan bisnisnya demi keuntungan pribadi sajatetapi juga

(5)

48 karena usaha untuk menciptakan dan menawarkan bahkandapat merubah suatu values kepada para stakeholder utamanya (Allah SWT, konsumen, karyawan, pemegang saham). Sehingga perusahaan tersebut dapat menjaga keseimbangan laju bisnisnya dan menjadi bisnis yang sustainable.

2. Etika dalam Islamic Marketing

Etika dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip moral yang membedakan yang baik dari yang buruk. Etika adalah bidang ilmu yang bersifat normatif karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukan oleh seorang individu.8 Etika adalah bagian dari filsafat yang membahas secara rasional dan kritis tentang nilai, norma atau moralitas.9

Etika sering juga disebut sebagai ihsan (berasal dari kata Arab hasan, yang berarti baik). Definisi ihsan dinyatakan oleh nabi dalam hadist berikut: “ihsan adalah engkau beribadat kepada Tuhanmu seolah-olah engkau melihat-Nya sendiri, kalaupun engkau tidak melihat-Nya, maka ia melihatmu.”. Dengan demikian, melalui ihsan seseorang akan selalu merasa bahwa dirinya dilihat oleh Allah SWT. Karena Allah SWT mengetahui sekecil apapun perbuatan yang dilakukan seseorang, walaupun dikerjakan di tempat tersembunyi.10

Jika kata “etika” tidak berdiri sendiri, melainkan dibatasi dengan penambahan kosakata “Islam” lalu menjadi “etika Islam”, maka dengan sendirinya konotasinya akan megacu pada etika dan

8 Muhammad, Etika Bisnis Islam (Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2004), h. 34.

9 Veithzal Rivai, dkk, “Islamic Business and Economic Ethics, Mengacu pada Al-qur’an dan Mengikuti Jejak Rasulullah SAW dalam Bisnis, Keuangan, dan Ekonomi (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 32.

10 Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), h. 13.

(6)

norma serta ajaran Islam. Dalam hal ini tidak berbeda dari akhlak berbisnis yang dikembangkan dalam Islam (Baidan dan Aziz, 2014).11 Adapun beberapa nilai etika pemasaran Islam yang merujuk pada sifat Rasulullah dan prinsip etika dalam Al-Qur’an, diantaranya sebagai berikut:

12

1) Jujur (Shiddiq)

Shidiq Artinya memiliki kejujuran dan selalu melandasi ucapan, keyakinan, serta perbuatan berdasarkan ajaran Islam. Tidak ada satu ucapan pun yang saling bertentangan dengan perbuatan. Jujur merupakan sarana mutlak untuk mencapai kebaikan tatanan masyarakat. Seorang pemasar sekalipun tidak boleh melakukan kebohongan atau terlalu melebih-lebihkan atas produk yang dijual hanya demi mengejar target penjualan. Dalam kerja dan usaha, kejujuran ditampilkan dalam bentuk kesungguhan dan ketepatan waktu, janji, pelayanan, pelaporan, mengakui kelemahan serta kelebihan produk untuk kemudian dilakukan perbaikan terhadapnya. Memelihara kejujuran akan mendorong seorang pemasar untuk berlaku adil. Keadilan diartikan dengan memberikan hak kepada seseorang yang berhak menerimanya tanpa kurang dan menerima hak tanpa lebih. Tidak seorangpun boleh mengambil alih hak orang lain secara tidak sah atau batil.

2) Cerdas dan Bijaksana (Fathanah)

Sifat fathanah berarti mengerti, memahami, dan menghayati secara

mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya. Fathanah

menekankan kecerdasan tidak hanya keilmuan dunia tetapi juga akhirat (ajaran agama). Kecerdasan tersebut haruslah dipergunakan dengan bijaksana, tidak untuk memanipulasi orang lain tetapi sebaliknya dapat membawa kebaikan bagi orang lain. Seorang

11 Ratna Purnama Sari,dkk, Pengaruh Etika Pemasaran...., h. 134-135 12 Ratna Purnama Sari,dkk, Pengaruh Etika Pemasaran...., h. 134-135

(7)

50 pemasar harus paham tentang seluruh produk yang ditawarkan juga harus dapat menjaga amanah yang diberikan atas pembelian produk tersebut. Selain itu, pemasar dituntut berlaku adil, baik dalam pelayanan maupun penawaran harga produk kepada nasabah tanpa membedakan agama, ras, dan status sosial.

3) Dapat Dipercaya (Amanah).

Amanah memiliki makna tanggung jawab dalam melaksanakan setiap

tugas dan kewajiban. Amanah ditampilkan dalam keterbukaan,

kejujuran, pelayanan prima dan ihsan (berupaya menghasilkan yang terbaik) dalam segala hal.

4) Argumentatif dan Komunikatif (Tabligh).

Tabligh bermakna menyampaikan, mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam. Seorang pemasar harus memposisikan dirinya tidak hanya sebagai representasi dari perusahaan namun turut pula sebagai juru dakwah dalam pengembangan ekonomi syariah. Masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang ekonomi syariah, dan itulah yang menjadi tugas bagi seorang pemasar untuk menjelaskan dengan baik dan benar, sekaligus menjual produk syariah yang akan ditawarkan.

5) Konsisten (Istiqomah)

Konsisten yakni bersungguh-sungguh memelihara, mempercayai, mengamalkan tuntunan-tuntunan-Nya, baik yang menyangkut prinsip

ajaran maupun rinciannya, baik secara pribadi maupun

penyampaiannya kepada masyarakat tanpa menghiraukan gangguan dan kecaman orang lain.

Pemasaran yang menerapkan nilai-nilai etika Islam akan memenuhi empat karakteristik, diantaranya yaitu:13

(8)

1) Ketuhanan (rabbaniyah)

Karakteristik pemasaran Islam yang tidak dimiliki pemasaran konvensional yang dikenal selama ini adalah sifatnya yang religius (diniyyah) (Rivai, 2012). Pemasaran Islam selalu berdiri pada batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, menjauhi daerah yang diharamkan Allah dan semaksimal mungkin meninggalkan daerah syubhat dalam setiap kegiatannya. Perbuatan syubhat artinya suatu wilayah yang samar-samar, atau grey area (wilayah abu-abu) yang tidak jelas halal haramnya, dengan kondisi ini seseorang mudah terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan maksiat (Ibdalsyah dan Tanjung, 2014). Ketidakjelasan tersebut dapat membuat hati tidak tenang dan merasa tidak aman akibat adanya keraguan yang memungkinkan terjerumus kedalam perkara yang haram. Seorang pemasar Islami selalu meyakini bahwa hukum-hukum syariat yang bersifat ketuhanan merupakan hukum yang paling adil, sehingga akan mematuhinya dalam setiap aktivitas pemasaran yang dilakukan. Seorang pemasar Islami meskipun ia tidak mampu melihat Allah, ia akan selalu merasa bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Penciptaan produk, penetapan harga, promosi, dan proses distribusi akan selalu memperhatikan setiap tindakan yang dilarang oleh Allah SWT yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Sehingga ia akan mampu menghindari segala macam perbuatan yang menyebabkan orang lain tertipu atas produk-produk yang dijualnya. Dengan konsep ini seorang pemasar Islami akan sangat hati-hati dalam perilaku pemasarannya dan berusaha untuk tidak merugikan orang lain.

2) Etika (akhlaqiyyah)

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Yusuf Qardhawi bahwa hal yang membedakan antara sistem Islam dengan sistem agama lain adalah antara ekonomi dan akhlak tidak pernah terpisah sama sekali, seperti halnya tidak pernah terpisah antara ilmu dengan akhlak, antara politik dengan akhlak dan antara perang dengan akhlak. Akhlak adalah

(9)

52 daging dan urat nadi kehidupan Islam (Harahap, 2011). Begitu pula dengan kegiatan pemasaran, pemasaran syariah mengedepankan masalah akhlak. Pemasaran syariah adalah konsep pemasaran yang sangat mengedepankan nilai-nilai moral dan etika tanpa peduli dari agama manapun, karena hal ini bersifat universal (Al Arif, 2012). Ketiadaan etika dapat mengakibatkan sebuah perusahaan terjatuh, dan kehancuran yang tidak hanya berdampak pada pelakunya namun juga seluruh pihak yang terkait dengannya. Seorang pemasar syariah harus menjunjung tinggi etika dalam melakukan aktivitas pemasarannya salah satunya dengan tidak memberikan janji manis yang tidak benar serta selalu mengedepankan kejujuran dalam menjelaskan tentang kualitas produk yang sedang ditawarkan.

3) Realistis (al-waqi’yyah)

Pemasaran Islam bukanlah konsep yang ekslusif, fanatis, modernitas, dan kaku, melainkan konsep pemasaran yang fleksibel karena senantiasa mengikuti perkembangan dan kebutuhan pada zamannya yang didasarkan pada fiqh muamalah kontemporer, sebagaimana keluasan dan keluwesan syariah islamiah yang melandasinya (Rivai, 2012). Pemasaran Islami bukanlah berarti para pemasar itu harus berpenampilan ala bangsa Arab dan mengharamkan dasi. Namun pemasar Islami haruslah tetap berpenampilan bersih, rapi, dan bersahaja apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakan.

4) Humanistis (insaniyyah)

Karakteristik humanistis berarti bahwa syariat diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara. Syariat Islam adalah syariat humanistis, diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa mempedulikan ras, warna kulit, kebangsaan, dan status. Sehingga pemasar Islami harus bersikap universal (Rivai, 2012). Setiap nasabah yang membutuhkan pelayanan bank syariah harus dilayani tanpa memandang apakah seorang muslim ataupun non muslim apakah dari status sosial yang rendah atau status

(10)

sosial yang tinggi semuanya harus dilayani dalam industri perbankan syariah. Selain itu, karakter humanistis menunjukkan posisi antara bank dan nasabah. Posisi bank dan nasabah berada pada tingkatan yang sama yaitu mitra sejajar dan posisi antara bank dan nasabah diikat oleh persaudaraan. Nasabah dalam konsep pemasaran Islam bukanlah objek belaka namun bertindak pula sebagai subyek dalam aktivitas pemasaran. Sehingga pemasar Islami sebagai ujung tombak perbankan harus mampu merangkul nasabah agar dapat menjadi kunci kemajuan bank (Al Arif, 2012).

KESIMPULAN

Pratik pemasaran yang ditanamkan pada etika yang didasari prinsip-prinsip dasar agama yang kuat, dapat memainkan peranan penting dalam meningkatkan perilaku bisnis di manapun. Kepatuhan terhadap pratik-pratik etika seperti itu dapat meningkatkan standar perilaku dan kehidupan yang sama antara pedagang dan konsumen. Sikap seperti itu menjamin etika pemasaran Islam memiliki kapasitas yang sangat besar untuk menembus hati nurani manusia, dan mampu mempengaruhi perilaku para pelaku pemasaran dari dirinya sendiri.

Dengan demikian, mengadopsi etika pemasaran Islam memastikan tertanamnya benih keharmonisan dan menciptakan keadilan dalam masyarakat, sehingga meningkatkan martabat, dan menegakkan hak-hak manusia. Dengan menerapkan etika pemasaran Islam dapat menyelesaikan fungsi pemasaran dengan beretika sehingga pihak-pihak yang terkait dengan proses pemasaran tidak menjadi korban manipulasi pemasaran.

DAFTAR RUJUKAN

Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013)

Muhammad, Etika Bisnis Islam (Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2004)

(11)

54 Muhammad Djakfar, Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang

Press, 2007)

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996

Ratna Purnama Sari,dkk, Pengaruh Etika Pemasaran Islam Terhadap Kepuasan Nasabah Bank Syariah. AL-INFAQ:Jurnal Ekonomi Islam, vol. 9 No. 2, Desember 2018.

Syaifuddin, Menyoal Etika Pemasaran Dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Akademika; Vol. 14. No.1 Februari 2016, h. 51.

Veithzal Rivai, dkk, “Islamic Business and Economic Ethics, Mengacu pada Al-qur’an dan Mengikuti Jejak Rasulullah SAW dalam Bisnis, Keuangan, dan Ekonomi (Jakarta: Bumi Aksara, 2012)

Referensi

Dokumen terkait