CAMPUR KODE BAHASA GURU DALAM PROSES BELAJAR
MENGAJAR DI MTsN LUBUK BUAYA PADANG
ARTIKEL ILMIAH
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA I)
RAHMI MAULIDA
NPM 11080216
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
HALAMAN PERSETUJUAN ARTIKEL ILMIAH
CAMPUR KODE BAHASA GURU DALAM PROSES BELAJAR
MENGAJAR DI MTsN LUBUK BUAYA PADANG
Nama
: Rahmi Maulida
NPM
: 11080216
Program Studi
: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Institusi
: SekolahTinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(STKIP) PGRI Sumatera Barat
Padang, Oktober 2016
Disetujui Oleh:
Pembimbing I
Pembimbing II
HALAMAN PENGESAHAN ARTIKEL ILMIAH
CAMPUR KODE BAHASA GURU DALAM PROSES BELAJAR
MENGAJAR DI MTsN LUBUK BUAYA PADANG
Nama
: Rahmi Maulida
NPM
: 11080216
Program Studi
: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Institusi
: SekolahTinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(STKIP) PGRI Sumatera Barat
Padang, Oktober 2016
Disahkan Oleh:
Pembimbing I
Pembimbing II
Putri Dian Afrinda, M.Pd.
Suci Dwinitia, M.Pd.
Diketahui Oleh:
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
MIXED CODE LANGUAGE TEACHERS IN TEACHING AND LEARNING IN MTSN LUBUK BUAYA PADANG
By
Rahmi Maulida1, Putri Dian Afrinda, M.Pd2, and Suci Dwinitia, M.Pd3, 1 Student major indonesian deparment and indonesia literature 2,3 Lecture indonesia deparment and indonesia literature STKIP PGRI
West Sumatra ABSTRACT
In the world of education, code-mixing can still be met, especially in interaction and learning in schools. The presence of elements of the regional languages in commucation Minangkabau language teacher during the learning process into the background in this study. The purpose of research, namely, (1) to describe the form of units of language are experiencing mixed code language teachers in teaching and learning in MTsN Lubuk Buaya Padang, (2) to describe the type of code-mixing language teacher who often appear in teaching and learning in MTsN Lubuk Buaya Padang , (3) to describe the cause of the mixed code language teachers in teaching and learning in Lubuk Buaya MTsN Padang.
The research is a qualitative descriptive method and background of this research is MTsN Lubuk Buaya Padang. Entries research is mixed code language teachers in teaching and learning in Lubuk Buaya MTsN Padang. The presence of investigators is as an observer of people who did not mix code. The informants of this research is the Indonesian teachers who teach in the classroom VII.2, VII.6, VIII.6 and which amounted to three people. The main instrument of this study is the researchers themselves. Technique of legitimacy of the data used is persistence / constancy observations.
The results showed that the shape of the language units experiencing mixed code is in the form of the insertion of the elements of intangible word, phrase, baster, clause. Mixed type code found is the kind of code-mixing in and out. The cause of code-mixing for the identification of varieties, as well as the desire to explain and interpret the causes of code-mixing. Based on data in its entirety concluded that the form of code-mixing is frequently used code-mixing in the form of the insertion of the elements of intangible word, kind of mixed code is widely available in this study is a kind of code-mixing in, as well as the desire to explain and interpret the cause of interference codes that are widely available in mixed code language teachers in teaching and learning in Lubuk Buaya MTsN Padang.
CAMPUR KODE BAHASA GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI
MTsN LUBUK BUAYA PADANG
Rahmi Maulida1, Putri Dian Afrinda, M.Pd2, dan Suci Dwinitia, M.Pd3, 1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
2,3Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Dalam dunia pendidikan, campur kode masih dapat kita temui, khususnya dalam interaksi belajar mengajar di sekolah. Terdapatnya unsur-unsur bahasa daerah yakni bahasa Minangkabau di dalam komuikasi guru pada saat proses belajar mengajar menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Tujuan penelitian yaitu, (1) untuk mendeskripsikan bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang, (2) untuk mendeskripsikan jenis campur kode bahasa guru yang sering muncul dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang, (3) untuk mendeskripsikan penyebab terjadinya campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif dan latar penelitian ini adalah MTsN Lubuk Buaya Padang. Entri penelitian adalah campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Kehadiran peneliti adalah sebagai pemerhati orang yang melakukan campur kode. Adapun informan dari penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas VII.2, VII.6, dan VIII.6 yang berjumlah tiga orang. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik pengabsahan data yang digunakan adalah ketekunan/keajegan pengamatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur yang berujud kata, frase, baster, klausa. Jenis campur kode yang ditemukan adalah jenis campur kode ke dalam dan ke luar. Penyebab terjadinya campur kode karena identifikasi ragam, serta karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan merupakan penyebab terjadinya campur kode. Berdasarkan data secara keseluruhan disimpulkan bahwa bentuk campur kode yang sering digunakan adalah campur kode berupa penyisipan unsur-unsur yang berujud kata, jenis campur kode yang banyak terdapat dalam penelitian ini adalah jenis campur kode ke dalam, serta keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan merupakan penyebab terjadinya campur kode yang banyak terdapat dalam campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang.
I. PENDAHULUAN
Bahasa adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia. Manusia yang terampil mengolah, menata, dan menggunakan bahasa dengan baik dan benar akan dapat menjalani kehidupannya dengan lebih baik dan lebih berkualitas. Dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, keinginan, dan lain-lain sebagainya. Semua kegiatan manusia yang dilakukan sehari-hari tidak terlepas dari penggunaan bahasa sebagai komunikasinya. Penggunaan bahasa tersebut juga terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Dalam ranah pendidikan, bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar (PBM). Bahasa menjadi media yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Melalui bahasa, siswa dapat memahami apa yang disampaikan guru. Melalui bahasa pula, siswa dapat mengatasi kesulitannya dalam proses pembelajaran. Dibutuhkan proses mengajar bahasa Indonesia yang kreatif dan bervariasi agar siswa mampu menanggapi kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini karena dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dituntut dari seorang pengajar tidak hanya teori saja, melainkan juga keterampilan siswa dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Eksistensi penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran memang perlu dipertahankan. Namun ada beberapa hal yang harus diingat bahwa berdasarkan aspek linguistik, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang bilingual (dwibahasa) yang menguasai lebih dari satu bahasa, yaitu bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing (Nababan, 1989:27). Masyarakat yang dwibahasa akan mengalami kontak bahasa sehingga melahirkan campur kode.Nababan (1989:28), memaparkan bahwa campur kode adalah pencampuran dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam satu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa.Di dalam campur kode ada bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode. Pateda (dalam Nursaid dan Maksan, 2002:122), mejelaskan enam ujud satuan bahasa yang mengalami canpur kode; 1) penyisipan unsur-unsur yang berujud kata, 2) penyisipan unsur-unsur yang berujud frase, 3) penyisipan unsur-unsur yang berujud bentuk baster, 4) penyisipan unsur yang berupa perulangan kata, 5) penyisipan unsur-unsur yang berujud ungkapan atau idiom, 6) penyisipan unsur-unsur-unsur-unsur yang berujud klausa.
Campur kode juga terbagi menjadi dua jenis, campur kode ke dalam (inner code mixing) dan campur kode ke luar (out code mixing) (Nursaid dan Maksan, 2002:112).Campur kode juga terjadi dikarenakan ada alasan dan penyebab terjadinya. Suwito (1983:77), memaparkan bahwa penyebab terjadinya campur kode yaitu; 1) identifikasi peranan, 2) identifikasi ragam, dan 3) keinginan untuk menjelaskan dan memaparkan. Dalam dunia pendidikan, campur kode masih dapat kita temui, khususnya dalam interaksi belajar mengajar di sekolah.Hal ini bisa terjadi karena warga sekolah menguasai lebih dari satu bahasa.Dari observasi awal di sekolah MTsN Lubuk Buaya Padang ditemukan bahwa dalam proses belajar mengajar masih terdapat unsur-unsur bahasa daerah yakni bahasa Minangkabau di dalam komunikasi guru pada saat proses belajar mengajar. Misalnya, “Kamu (guru menunjuk salah seorang murid), tugas yang ibuk suruh kerjakan tadi alah dikarajoan?”(Kamu, tugas yang ibuk suruh kerjakan tadi
sudah dikerjakan?). Dari kalimat tersebut diketahui bahwa terjadi campur kode ke dalam dari bahasa Indonesia ke bahasa Minangkabau. Hal ini bukan sesuatu yang mustahil terjadi mengingat latar belakang siswa yang sebagian besar menguasai bahasa Minangkabau sebagai bahasa pertama (bahasa ibu). Seorang pendidik diharapkan menjadi contoh teladan bagi siswa dalam berkomunikasi.Guru sebagai tenaga pendidik dituntut memperdalam pengetahuannya mengenai keterampilan berbahasa yang baik dan benar, serta sesuai dengan situasi tuturan yang seharusnya. Hal ini karena situasi sangat mempengaruhi ragam bahasa yang dilakukan. Penggunaan bahasa yang komunikatif dalam proses belajar mengajar sangat penting demi tercapainya hasil pembelajaran yang berkualitas. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran guru dalam menyampaikan materi pelajaran dengan bahasa yang komunikatif tanpa penyerapan unsur-unsur bahasa lain yang nantinya akan membingungkan pemahaman siswa. Berkaitan dengan peristiwa kebahasaan campur kode yang ditemukan, maka penelitian ini akan berhubungan dengan campur kode yaitu “Campur Kode Bahasa Guru dalam Proses Belajar Mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang”. II. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Moleong (2006:6) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, misalnya perilaku persepsi motivasi dengan cara mendeskripsikan bentuk kata-kata dan bahasa pada satu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian
kualitatif digunakan agar mendapatkan gambaran yang luas dan mendalam. Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan yang teliti secara rinci dan dibentuk dengan kata-kata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Moleong (2006:11) metode deskriptif adalah metode yang dilakukan dengan jalan menganalisis data yang sudah dikumpulkan berupa kata-kata lisan (ujaran) langsung dari objek yang diamati.
III.HASIL PENELITIAN A. Temuan Penelitian
Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa, dibantu dengan alat perekam dan pengamatan terhadap bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang yang dilakukan pada tanggal 31 Maret 2016 sampai dengan 1 April 2016. Selain itu bahasa guru juga diidentifikasi sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode, jenis campur kode, dan penyebab terjadinya campur kode. Identifikasi dilakukan pada setiap bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang.
1. Campur Kode Berujud Kata
Penyisipan unsur-unsur campur kode berujud kata dapat dilihat pada beberapa data berikut ini.
a beda novel jo buku yang lainnyo? (D-10)
Berdasarkan data 10 (D-10) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata pada kata a dan jo. Kata a dan jo pada bahasa daerah Minangkabau bearti “apa” dan “tidak” dalam bahasa Indonesia.
tolong ambiak novel di dalam dus dakek meja ibuklah! (D-15)
Dalam data 15 (D-15) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata pada kata ambiak dan dakek. Kata ambiak dan dakek dalam bahasa daerah Minangkabau sama artinya dengan “ambil” dan “dekat” pada bahasa Indonesia.
kemudian setelah dari Padang lalu ke MAN Insan Cendekia, dari MAN Insan Cendekia
lanjuiek ke Kairo, dari Kairo dia melanglangbuana ke Mesir dan lain sebagainya. (D-28) Berdasarkan data 28 (D-28) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata pada kata lanjuiek. Kata lanjuiek dalam bahasa daerah Minangkabau sama artinya dengan “lanjut” pada bahasa Indonesia. Kalau iko menceritakan, kalau
iko? (D-32)
Pada data 32 (D-32) campur kode yang terjadi adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata pada kata iko. Kata iko dalam bahasa daerah Minangkabau sama artinya dengan “ini”
pada bahasa Indonesia.
2. Campur Kode Berujud Frase
Penyisipan unsur-unsur campur kode berujud frase ini dapat dilihat pada beberapa data berikut ini.
Nah, dari segi tema buku ko lai bisa wak cari temanya. (D-39)
Berdasarkan data 39 (D-39) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase pada frase ko lai. Frase ko lai dalam bahasa daerah Minangkabau sama artinya dengan “ini ada” pada bahasa Indonesia.
Bagaimana seorang itu dikatakan tokoh utama atau tokoh sentral, kalau inyo se yang banyak masuk dalam cerita. (D-72)
Pada data 72 (D-72) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase pada frase inyo se. Frase inyo se dalam bahasa daerah Minangkabau sama artinya dengan “dia saja” pada bahasa Indonesia.
Unsur intrinsik apo se yang ibuk jalehan tadi buek di bawahnya unsur intrinsik kemudian jelaskan di bawahnya. (D-120).
Berdasarkan data 120 (D-120) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase pada frase apo se. Frase apo se dalam bahasa daerah Minangkabau sama artinya dengan “apa saja” pada bahasa Indonesia.
3. Campur Kode Berujud Baster (Hibridis)
a beda novel jo buku yang lainnyo? (D-10)
Dalam data 10 (D-10) ditemukan bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud baster (hibridis) pada kosakata lainnyo. iko pengarangnyo Syekh Ibrahim dan H. Darsono. (D-26)
Pada data 26 (D-26) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud baster (hibridis) pada kosa kosakata pengarangnyo.
misalnyo Rehan, Rehan waktu dulu, waktu kecil dia sekolah di Solok, sampai di MTs Solok kemudian pindah ke kota Padang. (D-27)
Dalam data 27 (D-27) ditemukan bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud baster (hibridis) pada kosakata misalnyo.
4. Campur Kode Berujud Klausa
Pada temuan penelitian ditemukan hanya satu data bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode berujud klausa saja. Seperti terlihat pada uraian berikut.
Kinibuek bara dapeknyo dek awak, tidak harus betul langsung. (D-166)
Berdasarkan data 166 (D-166) terdapat campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud klausa pada klausa kini buek bara dapeknyo dek awak. Klausa kini buek bara dapeknyo dek awak dalam bahasa daerah memiliki arti “sekarang buat berapa dapatnya oleh kita” dalam bahasa Indonesia.
5. Jenis Campur Kode
a. Campur Kode ke Dalam (inner code mixing)
Berdasarkan temuan penelitian, ditemukan jenis campur kode ke dalam dari masing-masing bentuk campur kode berujud kata, frase, baster (hibridis), dan klausa pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Jenis campur kode ke dalam tersebut terlihat dari beberapa data pada uraian berikut .
Bagaimana seorang itu dikatakan tokoh utama atau tokoh sentral, kalau inyo se yang banyak masuk dalam cerita. (D-72)
Berdasarkan data 72 (D-72) jenis campur kode adalah campur kode ke dalam pada bentuk campur kode berujud frase. Campur kode yang terjadi antara bahasa Indonesia dengan penyisipan bahasa daerah Minangkabau berujud frase inyo se.
misalnyo Rehan, Rehan waktu dulu, waktu kecil dia sekolah di Solok, sampai di MTs Solok kemudian pindah ke kota Padang. (D-27)
Dalam data 27 (D-27) jenis campur kode adalah campur kode ke dalam pada bentuk campur kode berujud baster (hibridis). Campur kode yang terjadi antara bahasa Indonesia dengan penyisipan bahasa daerah Minangkabau berujud baster (hibridis) misalnyo.
b. Campur Kode ke Luar (out code mixing)
Jenis campur kode ke luar ini berdasarkan temuan penelitian hanya ditemukan dalam bentuk campur kode berujud kata sebanyak dua data pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Jenis campur kode ke luar tersebut terlihat dari uraian berikut ini.
alhamdulillah akhirnya kita ketemu lagi e dalam keadaan sehat semua anak-anak ibuk? (D-188)
Berdasarkan data 188 (D-188) jenis campur kode adalah campur kode ke luar yaitu antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Penyisipan campur kode dengan jenis campur kode ke luar tersebut terdapat pada kosa kata alhamdulillah dalam bahasa Arab yang berarti “segala puji bagi Allah” dalam bahasa Indonesia.
iya double namanya? (D-214)
Berdasarkan data 214 (D-214) jenis campur kode adalah campur kode ke luar yaitu antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Penyisipan campur kode dengan jenis campur kode ke luar tersebut terdapat pada kosa kata double dalam bahasa Inggris yang berarti “dua kali lipat”
dalam bahasa Indonesia.
6. Penyebab Terjadinya Campur Kode a. Identifikasi ragam
Berikut ini beberapa contoh data campur kode dengan penyebab terjadinya karena identifikasi ragam.
alhamdulillah akhirnya kita ketemu lagi e dalam keadaan sehat semua anak-anak ibuk? (D-188)
Penyebab terjadinya campur kode pada data 188 (D-188) adalah identifikasi ragam pada bentuk campur kode berujud kata.
iya double namanya? (D-214)
Penyebab terjadinya campur kode pada data 214 (D-1214) adalah identifikasi ragam pada bentuk campur kode berujud kata.
b. Keinginan Untuk Menjelaskan dan Menafsirkan
Berikut ini beberapa data campur kode dengan penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
kemudian setelah dari Padang lalu ke MAN Insan Cendekia, dari MAN Insan Cendekia
lanjuiek ke Kairo, dari Kairo dia melanglangbuana ke Mesir dan lain sebagainya. (D-28) Penyebab terjadinya campur kode pada data 28 (D-28) dikarenakan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan pada bentuk campur kode berujud kata.
jadi kalau awak minum ubek jangan melampaui dosis. (D-147)
Penyebab terjadinya campur kode pada data 147 (D-147) dikarenakan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan pada bentuk campur kode berujud kata.
B. Analisis Data
1. Campur Kode Berujud Kata, Jenis, dan Penyebab terjadinya Campur Kode
Pada campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata, penyebab terjadinya campur kode yang banyak ditemukan adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, sedangkan penyebab terjadinya campur kode karena identifikasi peran hanya beberapa data saja yang ditemukan. Penyebab terjadinya campur kode karena identifikasi peranan tidak ditemukan pada campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata ini. Berikut ini analisis data campur kode berujud kata beserta jenis campur kode dan penyebab terjadinya campur kode.
a beda novel jo buku yang lainnyo? (D-10)
Berdasarkan data 10 (D-10) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata a dan jo dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata a dan jo merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “apa” dan “dengan” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru menjelaskan pelajaran mengenai novel, kemudian guru bertanya kepada siswa tentang perbedaan novel dan buku.
tolong ambiak novel di dalam dus dakek meja ibuklah! (D-15)
Dalam data 15 (D-15) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata
ambiak dan dakek dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata ambiak dan dakek merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “ambil” dan “dekat” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru menyuruh salah seorang siswanya keruangan guru untuk mengambil novel yang akan dijadikan contoh pelajaran ketika itu.
kemudian setelah dari Padang lalu ke MAN Insan Cendekia, dari MAN Insan Cendekia
lanjuiek ke Kairo, dari Kairo dia melanglangbuana ke Mesir dan lain sebagainya. (D-28) Berdasarkan data 28 (D-28) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata lanjuiek dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata lanjuiek merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “melanjutkan” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru menjelaskan pelajaran kepada siswa dengan cara bercerita tentang khayalan perjalan hidup salah seorang siswanya.
Kalau iko menceritakan, kalau iko? (D-32)
Pada data 32 (D-32) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata
iko dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata iko merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “ini” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru bertanya perbedaan novel dengan buku paket kepada siswa dengan cara memperlihatkan langsung novel dan buku paket tersebut di depan siswanya. bisa. Nah, dari segi tema buku ko lai bisa wak cari temanya. (D-39)
Bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode pada data 39 (D-39) adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan pada kata wak
dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata wak merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “kita” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru bertanya kepada siswa tentang bisa atau tidaknya mencari tema dari buku yang diperlihatkan guru kepada siswa.
Misalnya tokoh utamonyo Rehan Aulia teman akrabnya berarti masuk dikatakan tokoh bawahan. (D-71)
Dalam data 71 (D-71) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata
utamonyo dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata utamonyo merupakan bahasa daerah
Minangkabau yang berarti “terpenting” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru menjelaskan pelajaran mengenai tokoh dengan menjadikan siswanya sebagai contoh dalam pelajaran mengenai tokoh.
supayo pembaca paham kemudian ada nilai-nilai kebaikan yang bisa diambil dalam ceri,
cerita. (D-101)
Bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode pada data 101 (D-101) adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan pada kata
supayo dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata supayo merupakan bahasa daerah Minangkabau
yang berarti “supaya” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru bertanya kepada siswa tentang bisa atau tidaknya mencari tema dari buku yang diperlihatkan guru kepada siswa. lai
Rehan Majib pernah mendengar gaya bahasa hiperbola? Hiperbola? (D-108)
Pada data 108 (D-108) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata
lai dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata lai merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “ada” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru bertanya kepada seorang siswa tentang gaya bahasa hiperbola.
Unsur intrinsik apo se yang ibuk jalehan tadi buek di bawahnya unsur intrinsik kemudian jelaskan di bawahnya. (D-120)
Berdasarkan data 120 (D-120) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata jalehan dan buek dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata jalehan dan buek merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “jelaskan” dan “lakukan” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menyuruh siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan saat itu.
Jadi ado panah-panahnya, ada arah-arahnya. (D-122)
Bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode pada data 122 (D-122) adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan pada kata
berarti “ada” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru meunjuk gambar yang ada di dinding kelas tentang struktur anggota kelas dan menjelaskan kepada siswa kalau tugas yang diberikan saat itu strukturnya seperti gambar tersebut.
Walaupun ndak nampak dek guru dari sinan, tapi ananda keluar itu tau umumnya delapan limanya kesini keluarnya, ya kan? (D-124)
Dalam data 124 (D-124) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata sinan dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata sinan merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “sana” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menasehati siswa agar tidak keluar lagi dari kelas pada saat proses belajar tengah berlangsung. Masing-masing punya LKS punya buku paket, baco buku paket wak. (D-130)
Pada data 130 (D-130) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata
baco dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata baco merupakan bahasa daerah Minangkabau yang
berarti “baca” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menyuruh siswa untuk membaca LKS yang mereka siswa.
Sekarang siapkan oleh Rehan, lah Rehan? (D-134)
Bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode pada data 134 (D-134) adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan pada kata
lah dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata lah merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “sudah” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa setelah proses pembelajaran selesai.
Maka dari itu, coba perhatikan! Karna hasil, maka materi itu diulang baliak. (D-137) Berdasarkan data 137 (D-137) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata baliak dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata baliak merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “kembali” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru memberitahukan hasil dari ujian siswa dan guru tersebut menyuruh siswa untuk mengulang kembali ujian saat itu.
jadi, kalau awak mubazir atau boros menggunakan kata, sarupo kata banyak ini. (D-143) Dalam data 143 (D-143) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata awak dan sarupo dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata awak dan sarupo merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “kita” dan “serupa” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menjelaskan kepada siswa untuk tidak boros menggunakan kata.
jadi kalau awak minum ubek jangan melampaui dosis. (D-147)
Bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode pada data 147 (D-147) adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan pada kata
ubek dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata ubek merupakan bahasa daerah Minangkabau yang
berarti “obat” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menjelaskan kepada siswa bagaimana atuaran dalam minum obat.
siapa lagi, sia yang ndak juo mangarati, siapa yang belum mengerti ini? (D-181)
Dalam data 181 (D-181) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata sia dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata sia merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “siapa” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru bertanya kepada siswa tentang siapa saja yang belum mengerti tentang pelajaran saat itu.
alhamdulillah akhirnya kita ketemu lagi e dalam keadaan sehat semua anak-anak ibuk? (D-188)
Pada data 188 (D-188) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata
alhamdulillah dalam bahasa asing yaitu bahasa Arab. Kata alhamdulillah merupakan bahasa Arab
yang berarti “segala puji bagi Allah” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke luar. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena identifikasi ragam. Campur kode ini terjadi ketika guru membuka pelajaran dengan menanyakan kepada siswa bagaimana keadaannya disaat itu.
Belum dicigok ya, belum. (D-197)
Dalam data 197 (D-197) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata cigok dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata cigok merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “lihat” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru bercanda kepada siswa tentang hasil ujian siswa yang belum dilihat oleh guru tersebut.
sama dengan tugas yang kapatang tugas yang kemarin. (D-198)
Berdasarkan data 198 (D-198) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata kapatang dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata kapatang merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “kemaren” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menjelaskan tentang tugas yang dikerjakan saat itu sama dengan tugas yang sebelumnya telah diberikan oleh guru tersebut.
iya double namanya? (D-214)
Bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode pada data 214 (D-214) adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan pada kata
double dalam bahasa asing yaitu bahasa Inggris. Kata double merupakan bahasa Inggris yang berarti “dua kali lipat” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke luar. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena identifikasi ragam. Campur kode ini terjadi ketika guru menjelaskan kembali kata-kata yang sebelumnya telah diucapkannya kepada siswa.
Manga dicabut? (D-220)
Berdasarkan data 220 (D-220) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata manga dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata manga merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “kenapa” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru marah kepada salah seorang siswa karena mencabut kartu yang ada dihandphone siswa yang dimintanya saat itu.
Kalau eksplanasi ada bara? (D-227)
Berdasarkan data 227 (D-227) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata bara dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata bara merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “berapa” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi
adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang pelajaran saat itu.
Apo sayang? (D-231)
Dalam data 231 (D-231) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan adalah pada kata apo dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata apo merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “apa” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru bertanya kembali kepada siswa yang sebelumnya telah bertanya kepada guru tersebut.
Rizki, Rizki kerjakan observasi, bisuak kerjakan eksplanasi. (D-232)
Bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode pada data 214 (D-214) adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Campur kode berujud kata yang ditemukan pada kata bisuak dalam bahasa daerah Minangkabau. Kata bisuak merupakan bahasa daerah Minangkabau yang berarti “besok” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode yang terjadi adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi ketika guru menyuruh siswa mengerjakan tugas yang diberikan saat itu.
2. Campur Kode Berujud Frase, Jenis Campur Kode, dan Penyebab Terjadinya Campur Kode
Jenis campur kode berujud frase ini semuanya adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode berujud frase adalah karena keinginan menjelaskan dan menafsirkan. Berikut ini analisis dari campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud frase.
Bagaimana seorang itu dikatakan tokoh utama atau tokoh sentral, kalau inyo se yang banyak masuk dalam cerita. (D-72)
Berdasarkan data 72 (D-72) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah Minangkabau. Campur kode tersebut terdapat pada frase inyo se. Penggunaan dua kata inyo dan se menghasilkan makna baru tetapi tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Frase inyo se dalam bahasa daerah memiliki arti “dia saja” dalam frase bahasa Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Supayo baa pembaca disampaikan pesan oleh pengarang? (D-100)
Berdasarkan data 100 (D-100) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase supayo baa. Penggunaan dua kata supayo dan baa menghasilkan makna baru tetapi tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Frase supayo baa dalam bahasa daerah memiliki arti “supaya bagaimana” dalam frase
bahasa Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Unsur intrinsik apo se yang ibuk jalehan tadi buek di bawahnya unsur intrinsik kemudian jelaskan di bawahnya. (D-120)
Pada data 120 (D-120) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase apo se. Frase apo se dalam bahasa daerah sama artinya dengan “apa saja” dalam frase bahasa Indonesia. Penggunaan dua kata pada frase apo se tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Apo ko, dalam kalimat ko hemat pemakaian katanya tidak? (D-145)
Pada data 145 (D-145) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase apo ko. Frase apo ko dalam bahasa daerah sama artinya dengan “apa ini” dalam frase bahasa Indonesia. Penggunaan dua kata
pada frase apo ko tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Sesuai pola kalimat ada yang SP ada SPO ada SPK, sesuai dengan itu jelas, jaleh dibaco, enak dibaca. (D-166)
Pada data 166 (D-166) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase jaleh dibaco. Frase jaleh dibaco dalam bahasa daerah sama artinya dengan “jelas dibaca” dalam frase bahasa Indonesia.
Penggunaan dua kata pada frase jaleh dibaco tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Dari tadi maheboh se kalian. (D-174)
Berdasarkan data 174 (D-174) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase maheboh se. Penggunaan dua kata maheboh dan se menghasilkan makna baru tetapi tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Frase maheboh se dalam bahasa daerah memiliki arti “meribut saja” dalam frase bahasa Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
bagus, karajoan tu! (D-231)
Berdasarkan data 231 (D-231) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase karajoan tu. Penggunaan dua kata karajoan dan tu menghasilkan makna baru tetapi tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Frase karajoan tu dalam bahasa daerah memiliki arti “kerjakan itu” dalam frase bahasa
Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Ko indak, rambut panjang-panjang. (D-238)
Berdasarkan data 238 (D-238) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase ko indak. Penggunaan dua kata ko dan indak menghasilkan makna baru tetapi tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Frase ko indak dalam bahasa daerah memiliki arti “ini tidak” dalam frase bahasa Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Apa yang ndak mangarati? (D-247)
Berdasarkan data 247 (D-247) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud frase. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Campur kode tersebut terdapat pada frase ndak mangarati. Penggunaan dua kata ndak dan mangarati menghasilkan makna baru tetapi tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Frase ndak mangarati dalam bahasa daerah memiliki arti yaitu “tidak mengerti”
dalam frase bahasa Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
3. Campur Kode Berujud Baster (Hibridis), Jenis Campur kode, dan Penyebab Terjadinya Campur Kode
Berikut ini analisis dari campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud baster (hibridis), jenis campur kode dan penyebab terjadinya campur kode.
a beda novel jo buku yang lainnyo? (D-10)
Dalam data 10 (D-10) ditemukan bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud baster (hibridis). Campur kode berujud baster (hibridis) yang ditemukan adalah pada kosa kata lainnyo. Kosakata lainnyo memiliki bentuk kata dasar bahasa Indonesia yaitu kata “lain.” Kata “lain” dalam bentuk dasar bahasa Indonesia diberi afiks (imbuhan) berupa sufiks (imbuhan diakhir kata dasar) nyo dalam bahasa daerah Minangkabau. Sufiks nyo dalam bahasa daerah memiliki arti “nya” dalam bahasa Indonesia. Jenis
campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode adalah karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru menjelaskan pelajaran mengenai novel, kemudian guru bertanya kepada siswa tentang perbedaan novel dan buku.
iko pengarangnyo Syekh Ibrahim dan H. Darsono. (D-26)
Pada data 26 (D-26) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud baster (hibridis). Campur kode berujud baster (hibridis) terdapat pada kosakata pengarangnyo. Kosakata pengarangnyo memiliki bentuk kata dasar bahasa Indonesia yaitu kata “pengarang.” Kata “pengarang” dalam bentuk dasar bahasa Indonesia diberi afiks (imbuhan) berupa sufiks (imbuhan diakhir kata dasar) nyo dalam bahasa daerah. Sufiks nyo
dalam bahasa daerah memiliki arti “nya” dalam bahasa Indonesia. Jenis cammpur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru menyebutkan nama pengarang dari novel yang diperlihatkan guru tersebut di dalam kelas.
misalnyo Rehan, Rehan waktu dulu, waktu kecil dia sekolah di Solok, sampai di MTs Solok kemudian pindah ke kota Padang. (D-27)
Dalam data 27 (D-27) ditemukan bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud baster (hibridis). Campur kode berujud baster (hibridis) terdapat pada kosakata
misalnyo. Kosakata misalnyo memiliki bentuk kata dasar bahasa Indonesia yaitu kata “misal.”
Kata “misal” dalam bentuk dasar bahasa Indonesia diberi afiks (imbuhan) berupa sufiks (imbuhan diakhir kata dasar) nyo dalam bahasa daerah. Sufiks nyo dalam bahasa daerah memiliki arti “nya” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru bercerita dengan menjadikan salah seorang siswanya sebagai contoh cerita.
bisa, bisa ndak secara keseluruhan kita tentukan temanyo? (D-40)
Pada data 40 (D-40) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berujud baster (hibridis). Campur kode berujud baster (hibridis) ditemukan pada kosakata temanyo. Kosakata temanyo memiliki bentuk kata dasar bahasa Indonesia yaitu kata “tema.” Kata “tema”
dalam bentuk dasar bahasa Indonesia diberi afiks (imbuhan) berupa sufiks (imbuhan diakhir kata dasar) nyo dalam bahasa daerah. Sufiks nyo dalam bahasa daerah memiliki arti “nya” dalam bahasa Indonesia. Jenis campur kode adalah campur kode ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode karena keingnan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Campur kode ini terjadi pada saat guru bertanya kepada siswa apakah buku yang dicontohkan guru di depan kelas tersebut bisa dicari temanya secara keseluruhan.
4. Campur Kode Berujud Klausa
Campur kode berujud klausa ditemukan hanya satu data saja pada campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Berikut ini analisis dari campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud klausa, jenis campur kode, dan penyebab terjadinya campur kode.
Kinibuek bara dapeknyo dek awak, tidak harus betul langsung. (D-166)
Pada data 166 (D-166) terdapat campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud klausa dengan jenis campur kode ke dalam. Pada awalnya guru menggunakan bahasa daerah yang didalamnya terdapat unsur-unsur campur kode berujud klausa kemudian melanjutkannya dengan bahasa Indonesia. Campur kode berujud klausa dari bahasa daerah tersebut yaitukini buek bara
dapeknyo dek awak. Klausa kini buek bara dapeknyo dek awak dalam bahasa daerah sama artinya
dengan “sekarang buat berapa dapatnya oleh kita” dalam bahasa Indonesia. Ketentuan gabungan dari beberapa kata atau frasa yang bisa dikatakan layak menjadi suatu klausa setidaknya harus memiliki subjek atau predikat yang memiliki makna jelas. Klausa “sekarang buat berapa dapatnya oleh kita” telah terbukti bisa dikatakan menjadi suatu klausa, sebab klausa tersebut telah memiliki subjek, predikat, dan makna yang jelas. Penyebab terjadinya campur kode pada data 136 (D-136) karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Hal ini nampak karena campur kode juga menandai sikap dan hubungannya terhadap orang lain.
C. Pembahasan
Berdasarkan temuan data dan analisis didapati campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata merupakan jenis campur kode yang banyak terdapat pada campur kode bahasa
guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Dikatakan bentuk campur kode berupa kata yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang karena bentuk bahasa yang digunakan guru tersebut hanya berupa satuan bahasa yang terkecil atau satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri. Menurut Pateda (dalam Nursaid dan Marjusman Maksan, 2002:122) penyisipan unsur- unsur yang berujud kata, misalnya (saya benar-benar surprise melihat kedatangannya). Contoh tersebut merupakan bentuk campur kode satuan bahasa berupa kata. Berikut pembahasan dari beberapa temuan data yang berupa penyisipan unsur-unsur campur kode berujud kata.
Kalau iko menceritakan, kalau iko? (D-32)
Pada data 32 (D-32) bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata iko dalam bahasa daerah Minangkabau. Dalam bahasa Minangkabau kata iko sudah merupakan satuan bahasa terkecil dan dapat berdiri sendiri begitu juga dalam bahasa Indonesia dan memiliki arti “ini.” Pateda (dalam Nursaid dan Maksan, 2002:122) memberikan contoh penyisipan unsur-unsur yang berujud kata, misalnya (saya benar-benar surprise melihat kedatangannya). Jadi, sesuai dengan contoh dari Pateda tersebut, bisa dilihat data 11 (D-11) termaksud campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata pada penyisipan kode dari bahasa daerah yang berbentuk kata iko ke dalam bahasa Indonesia. Di dalam temuan penelitian dan analisis juga didapati adanya campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud frase pada campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang sebanyak. Dikatakan bentuk campur kode yang digunakan berupa frase karena bentuk campur kode tersebut tidak menduduki subjek dan predikat atau bersifat non predikatif. Menurut Pateda (dalam Nursaid Maksan, 2002:122) penyisipan unsur-unsur yang berujud frase, misalnya (iyo bana, saya benar-benar belum membaca surat itu). Pada pembahasan dari campur kode berupa penyispan unsur-unsur berujud frase ini diambil beberapa contoh data berikut ini.
Bagaimana seorang itu dikatakan tokoh utama atau tokoh sentral, kalau inyo se yang banyak masuk dalam cerita. (D-72)
Data 72 (D-72) merupakan data dari campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud frase. Dari penjelasan sebelumnya yang mengutip contoh dari pendapat ahli, dapat dianalisis bahwa pada data 72 (D-72) penyisipan unsur-unsur campur kode berujud frase terdapat pada frase
inyo se. Kosakata yang terdapat dalam campur kode berujud frase merupakan kosakata yang berasal dari bahasa daerah. Penggunaan dua kata inyo dan se menghasilkan makna baru tetapi tidak memiliki hubungan subjek dan predikat. Frase inyo se dalam bahasa daerah memiliki arti “dia saja” dalam frase bahasa Indonesia. Campur kode berujud baster (hibridis) juga ditemukan pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Dikatakan bentuk campur kode berujud baster (hibridis) karena terdapatnya afiks-afiks dari bahasa daerah atau bahasa asing ke dalam bentuk dasar bahasa Indonesia. Chaer (2007:53) menjelaskan bentuk baster ialah peristiwa pembentukan bahasa dengan bentuk dasar bahasa Indonesia dengan afiks-afiks dari bahasa daerah atau bahasa asing. Bentuk baster (hibridis) pada campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN lubuk Buaya Padang ditemukan sebanyak 10 baster (hibridis). Berikut ini beberapa contoh data dari pembahasan campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud baster (hibridis).
iko pengarangnyo Syekh Ibrahim dan H. Darsono. (D-26)
Pada data 26 (D-26) campur kode yang ditemukan adalah berupa penyisipan unsur-unsur berujud baster (hibridis). Chaer (2007:53) menjelaskan bentuk baster ialah peristiwa pembentukan bahasa dengan bentuk dasar bahasa Indonesia dengan afiks-afiks dari bahasa daerah atau bahasa asing. Sesuai dengan pendapat Chaer tersebut bisa dilihat bahwa kosakata pengarangnyo pada data 26 (D-26) memiliki bentuk kata dasar bahasa Indonesia yaitu kata “pengarang.” Kata “pengarang” dalam bentuk dasar bahasa Indonesia diberi afiks (imbuhan) berupa sufiks (imbuhan diakhir kata dasar) nyo dalam bahasa daerah. Sufiks nyo dalam bahasa daerah Minangkabau memiliki arti “nya” dalam bahasa Indonesia. Klausa merupakan gabungan dari beberapa kata atau frasa yang mengandung unsur subjek dan predikat. Bentuk unsur bahasa seperti ini juga terdapat pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Menurut Chaer (2007:231) klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkontruksi predikatif. Artinya, di dalam kontruksi itu ada komponen berupa kata atau frasa yang terbukti sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan.
Kinibuek bara dapeknyo dek awak, tidak harus betul langsung. (D-166)
Pada data 166 (D-166) terdapat campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud klausa. Campur kode berujud klausa dari bahasa daerah tersebut yaitu kini buek bara dapeknyo dek awak. Klausa kini buek bara dapeknyo dek awak dalam bahasa daerah sama artinya dengan “sekarang
buat berapa dapatnya oleh kita” dalam bahasa Indonesia. Ketentuan gabungan dari beberapa kata atau frasa yang bisa dikatakan layak menjadi suatu klausa setidaknya harus memiliki subjek atau predikat yang memiliki makna jelas. Klausa “sekarang buat berapa dapatnya oleh kita” telah terbukti bisa dikatakan menjadi suatu klausa, sebab klausa tersebut telah memiliki subjek, predikat, dan makna yang jelas. Selain bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata, frase, baster (hibridis), perulangan kata, dan klausa terdapat juga jenis campur kode ke dalam dan jenis campur kode ke luar yang ditemukan pada campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Jenis campur kode ke dalam merupakan jenis campur kode yang banyak terdapat pada campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Jenis campur kode ke dalam yaitu pencampuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ataupun sebaliknya. Menurut Nursaid dan Maksan (2002:112) jika melakukan campur kode komunikan mencampurkan bahasa pertama (bahasa utama misalnya bahasa Indonesia) dengan bahasa kedua (bahasa lain misalnya bahasa Minangkabau) bearti campur kode yang dilakukan disebut campur kode ke dalam (inner code mixing). Terdapatnya penggunakan campur kode ke dalam yang ditemukan pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang karena pada umumnya latar belakang siswa yang berada di MTsN Lubuk Buaya Padang adalah menguasai bahasa Minangkabau sebagai bahasa pertama (bahasa ibu). Pada pembahasan ini akan diuraikan beberapa data yang menunjukkan jenis campur kode ke dalam.
Misalnya tokoh utamonyo Rehan Aulia teman akrabnya berarti masuk dikatakan tokoh bawahan. (D-71)
Dalam data 71 (D-71) jenis campur kode adalah campur kode ke dalam pada bentuk campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Pada awalnya guru tersebut menggunakan bahasa Indonesia kemudian mencampurkan dengan bahasa daerah dalam bentuk kata utamonyo dan mengakhirinya kembali dengan bahasa Indonesia. Kata utamonyo dalam bahasa daerah sama artinya dengan “utamanya” dalam bahasa Indonesia. Data 71 (D-71) dikatakan jenis campur kode ke dalam karena telah sesuai dengan pendapat Nursaid dan Maksan (2002:112) yang mengatakan bahwa jika melakukan campur kode komunikan mencampurkan bahasa pertama (bahasa utama misalnya bahasa Indonesia) dengan bahasa kedua (bahasa lain misalnya bahasa Minangkabau) bearti campur kode yang dilakukan disebut campur kode ke dalam (inner code mixing). Jenis campur kode ke luar juga ditemukan pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Menurut Nursaid dan Maksan (2002:112) jika dalam melakukan campur kode komunikan mencampurkan bahasa pertama (bahasa utama, misalnya bahasa Indonesia) dengan bahasa kedua (bahasa lain, misalnya bahasa Inggris) berarti campur kode yang dilakukan disebut campur kode ke luar (out code mixing). Jenis campur kode ke luar ini hanya ditemukan pada bentuk campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata. Berikut ini pembahasannya.
alhamdulillah akhirnya kita ketemu lagi e dalam keadaan sehat semua anak-anak ibuk? (D-188)
Berdasarkan data 188 (D-188) jenis campur kode adalah campur kode ke luar yaitu antara bahasa Arab dengan bahasa indonesia. Menurut Nursaid dan Maksan (2002:112) jika dalam melakukan campur kode komunikan mencampurkan bahasa pertama (bahasa utama, misalnya bahasa Indonesia) dengan bahasa kedua (bahasa lain, misalnya bahasa Inggris) berarti campur kode yang dilakukan disebut campur kode ke luar (out code mixing). Sesuai dengan pendapat di atas, maka terlihat pada data 188 (D-188) telah terjadi campur kode dengan jenis campur kode ke dalam pada penyisipan unsur-unsur campur kode yang berujud kata. Pada awalnya guru tersebut menggunakan bahasa Arab (sebagai bahasa kedua) kemudian melanjutkannya dengan bahasa Indonesia (sebagai bahasa pertama). Kata alhamdulillah dalam bahasa Arab sama artinya dengan “segala puji bagi Allah”
dalam bahasa Indonesia. Penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan merupakan yang paling banyak terdapat pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Menurut Suwito (1983:77) ada dua tipe yang melatarbelakangi terjadinya campur kode, yaitu: (1) tipe yang berlatar belakang pada sikap (actitudinal type) dan, (2) tipe yang berlatar belakang kebahasaan (linguistic type). Atas dasar latar belakang sikap dan
kebahasaan yang saling bergantung maka dapat diidentifikasikan beberapa alasan atau penyebab terjadinya campur kode yaitu: (a) identifikasi peranan, ukuran untuk identifikasi oleh peran adalah sosial, registral, dan eduksional, (b) identifikasi ragam, ditentukan oleh bahasa mana seorang penutur melakukan campur kode yang bersifat hierarki status sosialnya, dan (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, nampak karena campur kode juga menandai sikap dan hubungannya terhadap orang lain. Salah satu data penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan seperti berikut ini.
kemudian setelah dari Padang lalu ke MAN Insan Cendekia, dari MAN Insan Cendekia
lanjuiek ke Kairo, dari Kairo dia melanglangbuana ke Mesir dan lain sebagainya. (D-28) Berdasarkan data 28 (D-28) tampak penyebab terjadinya campur kode karena keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Menurut Suwito (1983:77) ada dua tipe yang melatarbelakangi terjadinya campur kode, yaitu: (1) tipe yang berlatar belakang pada sikap (actitudinal type) dan, (2) tipe yang berlatar belakang kebahasaan (linguistic type). Atas dasar latar belakang sikap dan kebahasaan yang saling bergantung maka dapat diidentifikasikan beberapa alasan atau penyebab terjadinya campur kode yaitu: (a) identifikasi peranan, ukuran untuk identifikasi oleh peran adalah sosial, registral, dan eduksional, (b) identifikasi ragam, ditentukan oleh bahasa mana seorang penutur melakukan campur kode yang bersifat hierarki status sosialnya, dan (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, nampak karena campur kode juga menandai sikap dan hubungannya terhadap orang lain. Penyebab terjadinya campur kode pada data 28 (D-28) dikarenakan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Hal tersebut tampak dari bahasa guru yang menjelaskan pelajaran dengan cara bercerita kepada siswa, namun terselip serpihan campur kode berujud kata yaitu kata lanjuiek dalam bahasa daerah yang berarti lanjut dalam bahasa Indonesia. Penyebab terjadinya campur kode karena identifikasi ragam hanya ditemukan beberapa data saja pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Berikut ini salah satu data penyebab campur kode karena identifikasi ragam.
alhamdulillah akhirnya kita ketemu lagi e dalam keadaan sehat semua anak-anak ibuk? (D-188)
Dalam data 188 (D-188) penyebab terjadinya campur kode adalah karena identifikasi ragam. Sesuai dengan pendapat Nursaid dan Marjusman Maksan sebelumnya yang menjelaskan bahwa salah satu penyebab terjadinya campur kode karena identifikasi ragam, ditentukan oleh bahasa mana seorang penutur melakukan campur kode yang bersifat hierarki status sosialnya. Pada data 188 (D-188) tersebut tampak awalnya guru menggunakan bahasa Arab alhamdulillah dalam berkomunikasi dengan siswa kemudian melanjutkannya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Kata
alhamdulillah dalam bahasa Arab sama artinya dengan “segala puji bagi Allah” dalam bahasa
Indonesia. Campur kode yang dilakukan guru tersebut memperlihatkan status sosialnya sebagai seorang guru yang juga bisa mempergunakan bahasa arab dalam proses belajar mengajar.
IV. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Berdasarkan temuan penelitian, analisis, dan pembahasan yang diuraikan pada bab IV dapat disimpulkan bentuk satuan bahasa yang mengalami campur kode yang ditemukan adalah berupa penyisipan unsur-unsur yang berujud kata, frase, baster, dan klausa. Sedangkan campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud perulangan kata, serta campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud ungkapan atau idiom tidak ditemukan dalam penelitian ini. Campur kode berupa penyisipan unsur-unsur berujud kata merupakan campur kode yang banyak ditemukan pada campur kode bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang. Jenis campur kode yang terdapat pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang yaitu jenis campur kode ke dalam dan jenis campur kode ke luar. Jenis campur kode yang sering terdapat dalam bahasa guru tersebut adalah jenis campur kode ke dalam. Penyebab campur kode yang terjadi pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang adalah karena identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Penyebab terjadinya campur kode karena identifikasi peranan tidak ditemukan dalam penelitian ini. Keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan merupakan penyebab terjadinya campur kode yang banyak terdapat dalam campur kode pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang.
B. Saran
Berdasarkan simpulan hasil penelitian, dapat disarankan kepada guru bahasa Indonesia untuk dapat mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada saat proses belajar mengajar berlangsung, begitu juga dengan siswa agar terjalinnya komunikasi yang tepat antara guru dan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Selanjutnya, bagi peneliti lain agar dapat skripsi ini dijadikan sebagai bahan rujukan dan perbandingan dalam melakukan penelitian selanjutnya. Bagi peneliti sendiri, dapat menambah wawasan tentang campur kode, terutama campur kode pada bahasa guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Lubuk Buaya Padang.
V.KEPUSTAKAAN
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nababan. 1989. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Nursaid dan Marjusman Maksan. 2002. Sosiolinguistik. Padang: FBSS UNP