A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan suatu ikatan yang suci (mi@th@aqan ghali@zan) antara seorang pria dan wanita sebagaimana yang disyariatkan oleh agama, dengan maksud dan tujuan yang luhur.1 Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqih berbahasa Arab disebut dengan dua kata, yaitu nika@h})حاكن( dan zawa@j )جاوز(.2 Kata na-ka-h}a banyak terdapat dalam Al-Qur’an dengan arti kawin, sebagaimana di dalam surat An-Nisa@’ ayat 3:3
Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat, dan jika kamu takut tidak akan berlaku adik, cukup satu orang.”
Demikian pula terdapat kata za-wa-ja dalam Al-Qur’an dalam arti kawin, diantaranya pada surat Al-Ahza@b ayat 37:
... 1
Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup,2003),7.
2
Amir syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam diIndonesia, (Jakarta:Kencana Prenada Media Grup, 2006), 35.
3 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah . (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro,
Artinya: Maka tatkala zaid telah mengakhiri keperluan (menceraikan) istrinya; kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) mantan istri-istri anak angkat mereka...4
Perkawinan merupakan sunnah Allah SWT yang bersifat alami dan berlaku umum pada setiap makhluk Allah SWT, baik manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan yang sengaja diciptakan dalam bentuk berpasang-pasangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Ya@si@n ayat 36:5 .
Artinya: “Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari pada apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT berpasang-pasangan tersebut berbentuk dari dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan yang berlainan bentuk fisik dan psikisnya. Perbedaan tersebut merupakan perbedaan yang ditimbulkan oleh alam maupun sejarah, tetapi perbedaan tersebut mengandung hikmah yang sangat tinggi sebagai ketentuan Allah SWT untuk saling mengenal, sehingga menimbulkan kecenderungan kepada lawan jenis. Untuk mengikat kedua jenis manusia yang berlawanan jenis ke dalam tingkatan yang sah, maka disyariatkan perkawinan sebagai suatu lembaga
4 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah ., 427. 5 Ibid, 442.
kehidupan yang sah melalui akad nikah yang merupakan lambang keutamaan, kesucian dan stempel resmi bahwa mereka sudah diperbolehkan bergaul dan terikat dalam hubungan yang murni dan suci.
Perkawinan merupakan suatu cara yang dipilih oleh Allah SWT sebagai jalan bagi manusia untuk berketurunan demi kelangsungan hidup manusia, setelah masing-masing pasangan siap melakukan peranannya yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan. Sahnya suatu perkawinan yaitu adanya suatu keadaan dimana perkawinan telah dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukun. Berdasarkan hukum Islam dan hukum Indonesia, yakni: adanya calon suami dan istri yag akan melakukan perkawinan, adanya wali dari pihak calon pengantin wanita, adanya dua orang saksi, dan si@ghat akad nika@h}.6 Perwalian adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan itu sendiri, karena seorang wali adalah orang yang harus ada pada saat dilangsungkannya suatu perkawinan.
Sebagai salah satu syarat sahnya perkawinan adalah adanya seorang wali, sebab itu wali menempati kedudukan yang sangat penting dalam perkawinan, seperti diketahui dalam praktiknya yang mengucapkan ikrar ijab adalah pihak perempuan dan yang mengucapkan ikrar qobul adalah pihak laki-laki, disinilah peranan wali yang sangat menentukan sebagai wakil dari pihak calon pengantin perempuan.7 Mengenai keberadaan wali yang sedemikian penting ini pernah di ungkapkan oleh Nabi Muhammad Saw
6 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat,...,46-47.
melalui hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi hadist, yang bermula dari Abu Musa Al-Asy’ari dan dari Aisyah ra dari Nabi Muhammad Saw bahwa beliau pernah bersabda:
.
Artinya : “Tidak ada nikah melainkan dengan adanya wali, siapa saja perempuan yang nikah tanpa memperoleh izin dari walinya maka nikahnya batal, batal, batal, kemudian jika perempuan itu tidak ada walinya maka penguasa (hakim) yang menjadi wali bagi perempuan yang tidak ada walinya itu.”8
Jika perempuan itu tidak ada walinya maka penguasa (hakim) yang menjadi pengganti bagi perempuan yang tidak ada walinya itu, pernyataan ayat hadist dari Nabi Muhammad Saw di atas cukup jelas, bahwa seorang wali tidak bisa diabaikan begitu saja bagi terselenggaranya suatu akad perkawinan yang tentu saja menghendaki hukum yang sah menurut pandangan syara’. Dalam hukum Islam terdapat beberapa macam-macam wali antara lain:
1. Wali nasab
Wali nasab adalah orang-orang yang terdiri dari keluarga calon mempelai wanita yang mempunyai hubungan darah dengan calon mempelai perempuan yaitu: ayah, kakek, saudara laki-laki, paman dan seterusnya.9
8
Muhammad bin Ali bin Muhammad As syaukani, Nailul Autar Syarah Muntahal Akbar, juz IV, (Beirut Darul Fikri, TT), 230.
9 Proyek pembinaan sarana keagamaan Islam, Zakat, dan Wakaf, Pedoman Pegawai Pencatat
2. Wali hakim
Wali hakim adalah pejabat yang diangkat oleh pemerintah, khusus untuk mencatat pendaftaran pernikahan dan menjadi wali nikah bagi perempuan yang tidak mempunyai wali atau perempuan yang akan menikah itu berselisih dengan walinya terhadap calon pengantin laki-laki.10
3. Wali maula
Wali maula yaitu wali yang menikahkan budaknya, artinya majikannya sendiri. Laki-laki boleh menikahkan perempuan yang berada dibawah perwaliannya bilamana perempuan tersebut rela menerimanya. perempuan di sini dimaksud adalah hamba sahaya di bawah kekuasaannya.
Bahwa dari urutan di atas wali nasab, namun adakalanya walinya ad{al sehingga pernikahan harus menggunakan wali yang lain, bisa menggunakan wali hakim atau wali maula. Wali dikatakan ad{al apabila alasan-alasan itu tidak dibenarkan oleh syara’.11 Namun, jika alasan-alasan itu dapat dibenarkan oleh syara’, misalnya anak gadis wali tersebut sudah dilamar orang lain atau lamaran ini belum dibatalkan, mempunyai cacat tubuh yang menghalangi tugas sebagai suami, dan sebagainya, maka wali tersebut tidak dapat dikatakan ad{al dan hak perwaliannya tidak berpindah ke wali hakim. Jadi, apabila calon mempelai memaksakan untuk melanjutkan dalam jenjang perkawinan dalam keadaan ini, yang mana alasan keengganan wali dapat dibenarkan syara’, maka akad nikahnya tidak sah, sebab hak kewaliannya
10 Masduqi, Fiqih, (Surabaya: Sahabat Ilmu, 1986), 57.
tetap berada pada wali tersebut. Penetapan wali hakim dilakukan setelah adanya putusan dari Pengadilan Agama tentang ad{al-nya wali.12
Adapun mengenai wali ad{al di jelaskan di dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 23 yang berbunyi:13
1. Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau ghaib atau ad{al atau enggan.
2. Dalam hal wali ad{al maka wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah setelah ada putusan Pengadilan Agama tentang wali tersebut.
Selain itu di jelaskan di dalam PERMENAG Nomor 2 Tahun 1987:14
1. Bagi calon mempelai yang akan menikah di wilayah Indonesia atau di luar
negeri atau wilayah ekstra teritorial Indonesia ternyata tidak memenuhi syarat atau mafqu@d atau berhalangan atau ad{al maka wali nikahnya dapat dilangsungkan dengan wali hakim.
2. Untuk menyatakan ad{al-nya wali sebagaimana tersebut ayat (1) pasal ini
ditetapkan dengan putusan Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal calon mempelai wanita.
3. Pengadilan Agama memeriksa dan menetapkan ad{al-nya wali dengan cara
singkat atas permohonan calon mempelai wanita dengan menghadirkan calon mempelai wanita.
12 Proyek pembinaan sarana keagamaan Islam, Zakat, dan wakaf, Pedoman Pegawai...,29. 13 Kitab Undang-undang hukum perdata, (surabaya: Gama Press, 2010), 427.
Perkara yang penulis teliti adalah putusan No. 0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. tentang wali ad{al. Dalam rangka melangsungkan
pernikahan, seorang perempuan mengajukan permohonan untuk
mengabulkan penetepan wali ad{al di Pengadilan Agama Nganjuk disebabkan wali nasabnya menolak untuk menjadi wali serta menolak menikahkan anak perempuannya dalam akad perkawinannya dikarenakan si calon suami seorang muallaf, khawatir kembali keagamanya semula. Maka penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan di dalam skripsi ini mengenai. “Studi analisis terhadap putusan No.0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. tentang wali ad{al dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula” (Perspektif fiqih 4 madzab).
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagaimana berikut:
1. Konsep perwalian menurut undang-undang wali ad{al dalam Islam. 2. Faktor-faktor yag melatarbelakangi wali enggan menikahkan putrinya. 3. Konsep peralihan wali nasab ke wali hakim (al-q@adl@i).
4. Pertimbangan hukum hakim Pengadilan Agama Nganjuk dalam
memutuskan perkara No. 0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. tentang ad{al-nya wali nikah karena calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali ke agamanya semula.
5. Dasar pertimbangan hukum hakim Pengadilan Agama Nganjuk dalam menetapkan perkara wali ad{al.
6. Tinjauan 4 madzab fiqih mengenai ad{al-nya seorang wali nikah.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas yang masih luas dan umum, maka penulis membatasi masalah dalam pembahasan ini sebagai berikut:
1. Pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara
No.0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. mengenai ad{al-nya seorang wali nikah dengan alasan “Calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula.
2. Tinjauan 4 madzab fiqih mengenai ad{al-nya seorang wali nikah dengan
alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara
No.0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. mengenai ad{al-nya seorang wali nikah dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula?
2. Bagaimana tinjauan 4 madzab fiqih mengenai ad{al-nya seorang wali nikah dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula?
D. Kajian Pustaka
Penelitian tentang wali ad{al sudah banyak peneliti temukan di penelitian-penelitian terdahulu, meliputi berbagai sudut pandang. Penelitian-penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1. “Tinjauan Hukum Islam terhadap penetapan perkara wali adhol di
Pengadilan Agama Yogyakarta”(studi terhadap penetapan No.: 0018/Pdt.P/2010/PA.YK. oleh Hani Maria Ulfa, tahun 2013. Skripsi ini memfokuskan pada pertimbangan hakim untuk memutuskan perkaranya di Pengadilan Agama Yogyakarta menggunakan hukum Islam saja.15 Hakim mempertimbangkan permohonan tersebut dengan alasan pemohon dengan calon suami pemohon umurnya sudah banyak 41 tahun untuk itu apabila tidak dilangsungkan pernikahan maka ditakutkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan.16
2. “ Analisis Hukum Islam terhadap putusan Pengadilan Agama Gresik No.
0051/Pdt.P/2010/PA.GS. tentang wali adlal karena penceraian kedua orang tua. oleh Fithna Nurul Lailiy, Tahun 2010. Skripsi ini menjelaskan
15
Hani Maria Ulfa, “Tinjauan Hukum Islam terhadap penetapan perkara wali „adal di Pengadilan Agama Yogyakarta”(studi terhadap penetapan No.: 0018/Pdt.P/2010/PA.YK”,(Skripsi-UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2013), 31.
kasus wali ad{al dengan alasan karena penceraiannya orang tua.17 Dalam putusan di atas pertimbangan hakim Pengadilan Agama Gresik mengabulkan permohonannya demi hukum karena kedua calon tidak ada halangan untuk melangsungkan perkawinan, serta diantara keduanya tidak melanggar hukum dikarenakan demi kemaslahatan umat dan kebaikan agar tidak terjerumus dari perbuatan maksiat (zina).18
3. “Analisis Hukum Islam terhadap penetapan hakim Pengadilan Agama
Sidoarjo tentang wali adlal dalam perkara No. 0025/Pdt.P/2010/PA.Sda. Oleh Baroatus Zamimah, Tahun 2011. Penulis ini mengonsentrasikan tulisannya pada bagaimana proses penyelesaian, pembuktian dan bagaimana pertimbangan majelis hakim Pengadilan Agama Sidoarjo dalam menetapkan perkara tersebut.19 Pengadilan Agama Sidoarjo mengabulkan permohonan pemohon dengan alasan keengganan wali merupakan alasan yang tidak dibenarkan syara’ yaitu ayah pemohon menuduh calon suami pemohon sudah menyantet adik perempuan pemohon yang sekarang lagi sakit seperti kesurupan. Hakim juga mempertimbangkan bahwa hubungan antara kedua pasangan tersebut
17 Fithna Nurul Laily, “Analisis Hukum Islam terhadap putusan Pengadilan Agama Gresik No.
0051/Pdt.P/2010/PA.Gs tentang wali adlal karena penceraian kedua orang tua”, (Skripsi IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2010),13.
18
Ibid, 85.
19 Baroatus Zamimah, “ Analisis Hukum Islam terhadap penetapan hakim Pengadilan Agama
sidoarjo tentang wali adhol dalam perkara no. 25/Pdt.P/2010/PA.Sda”, (Skripsi IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2011),11.
sudah sangat erat, sehingga tidak disahkan dalam suatu akad perkawinan maka ditakutkan timbul kemadharatan yang lebih besar.20
4. “Analisis Hukum Islam terhadap penetapan hakim Pengadilan Agama
Surabaya tentang wali adhal karena perbedaan marga (penetapan No. 376/Pdt.P/2008/PA.Sby. Oleh Ghin Hisma Suprapti, Tahun 2010. Skripsi ini lebih menfokuskan kajiannya pada penolakan wali berdasarkan kepercayaan terhadap ajaran untuk menjaga keutuhan marga dan kemurnian nasab.21 Dasar pertimbangan hakim Pengadilan Agama Surabaya dalam menetapkan wali ad{al tersebut keterangan akan ad{al-nya wali pemohon dari berbagai pihak terkait dan alat bukti tertulis.22
5. “ Kajian hukum Islam tentang wali ad{al karena alasan tidak mendapatkan
harta warisan di Pengadilan Agama Gresik (Studi kasus putusan Pengadilan Agama Gresik No. 23/Pdt.P/2006/PA.Gs.” Oleh M. Zainul Hasan, tahun 2009. Skripsi ini lebih fokus kajiannya mengenai ad{al-nya seorang wali nikah karena alasannya tidak sesuai dengan syara’ yaitu tidak mendapatkan harta warisan. Dasar pertimbangan hakim Pengadilan Agama Gresik dalam menetapkan wali ad{al tersebut keterangan akan
20 Baroatus Zamimah, “ Analisis Hukum Islam terhadap penetapan hakim Pengadilan Agama
sidoarjo tentang wali adhol dalam perkara no. 25/Pdt.P/2010/PA.Sda”,...,77.
21
Ghin Hisma Suprapti, “Analisis Hukum Islam terhadap penetapan hakim Pengadilan Agama surabaya tentang wali adhlal karena perbedaan marga (penetaan no. 376/Pdt.P/2008/PA.Sby.)”, (Skripsi IAIN Sunan Ampel, 2010), 8.
ad{al-nya wali pemohon dari berbagai pihak yang terkait dan alat bukti tertulis.23
Sedangkan permasalahan penelitian dalam skripsi penulis ini, lebih fokus pada masalah tinjauan 4 madzab fiqih mengenai ad{al -nya seorang wali nikah dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula”. Dalam penelitian ini peneliti lebih meninjau putusan Pengadilan Agama mengenai perkara tersebut menggunakan fiqih 4 madzhab.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan hal-hal yang dijadikan dasar pertimbangan hukum hakim
Pengadilan Agama Nganjuk dalam menetapkan putusan
No.0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. mengenai ad{al-nya seorang wali nikah dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula.”
2. Menganalisis tinjauan 4 madzab fiqih mengenai ad{al-nya seorang wali
nikah dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula.”
23 M. Zainul hasan, “Kajian hukum Islam tentang wali adlal karena alasan tidak mendapatkan
harta warisan di Pengadilan Agama Gresik (Studi kasus putusan Pengadilan Agama Gresik No. 23/Pdt.P/2006/PA.Gs. (Skripsi IAIN Sunan Ampel, 2009), 9.
F. Kegunaan Hasil penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sekurang-kurangnya dalam 2 hal, sebagai berikut:
1. Teoritis
Secara teoritis, peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan khazanah keilmuan Islam di bidang perkawinan terutama bidang keengganan wali, khususnya dalam studi kasus putusan No. 0034/Pdt.P/2016/PA Nganjuk tentang ad{al-nya wali nikah dengan alasan “Calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula”, dan penelitian ini dapat dijadikan sebagai literatur dan referensi, baik untuk peneliti maupun orang-orang yang menekuni hukum Islam dalam praktik mengenai wali ad{al.
2. Praktis
Secara praktis, peneliti berharap hasil penelitian ini dapat berguna dan manfaat bagi hakim Pengadilan Agama dan sebagai literatur atau bahan referensi serta studi banding Pengadilan Agama dalam memutuskan perkara-perkara yang sama begitu pula dengan pihak yang berkepentingan dan sebagai bahan peneliti selanjutnya terkait masalah wali ad{al.
G. Definisi Operasional
Untuk mempermudah pembaca dalam memahami penulisan penelitian ini, dan untuk berbagai pemahaman serta terhindar dari salah
pengertian terhadap istilah dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan sebagai berikut:
1. Studi analisis: studi tentang bahasa untuk memeriksa secara mendalam
struktur bahasa.
2. Putusan No.0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj.: pernyataan hakim yang dituangkan
dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan mengenai wali ad{al dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula”.
3. Fiqih 4 madzab: sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh
seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain.
Dari penjelasan di atas dapat penulis tegaskan,bahwa penelitian ini bermaksud untuk menguraikan tentang kajian hukum Islam, Melihat tentang dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan wali ad{al karena calon suami seorang muallaf khawatir kembali keagamanya semula dengan fiqih 4 madzab apakah menggunakan madzab Hanafi, madzab Syafi’i, madzab Maliki atau madzab Hambali.
H. Metode penelitian
Adapun penulisan dan pembahasan skripsi ini penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif, karena data yang dihasilkan nanti bukan data angka. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti, instrumen inti terletak pada peneliti, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif,
dan penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari generalisasi.24
1. Data yang dikumpulkan
Berdasarkan judul dan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka data yang dikumpulkan adalah sebagaimana berikut:
a. Data tentang dasar pertimbangan hukum hakim dalam menetapkan
perkara wali ad{al di Pengadilan Agama Nganjuk (perkara No.
0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj.
b. Data tentang 4 madzab fiqih mengenai ad{al-nya seorang wali nikah
dengan alasan “calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula.
2. Sumber Data
Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari
sumbernya.25 Sumber data primer tersebut adalah putusan No.
0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. dimana data ini penulis peroleh dari pihak yang menangani perkara tersebut yaitu hakim dan panitera di Pengadilan Agama Nganjuk tersebut.
24 Sugiyino, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008) 9. 25 Ibid, 15
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang dibutuhkan sebagai
pendukung data primer.26 Data ini bersumber dari referensi-referensi
dan literatur yang mempunyai korelasi dengan data penelitian ini.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Studi dokumen
Studi dokumen adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subyek penelitian, namun melalui dokumen atau
dilakukan melalui berkas yang ada.27 Dokumen yang diteliti adalah
putusan Pengadilan Agama Nganjuk tentang wali ad{al perkara No.
0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj.
b. Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog 2 orang atau lebih yang dilakukan
oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.28
Wawancara ini dilakukan langsung dengan ketua Pengadilan, hakim dan panitera di Pengadilan Agama Nganjuk untuk memperoleh data
tentang perkara yang diteliti yakni perkara wali ad{al putusan No.
0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj.
26 Ibid, 16.
27 M. Iqbal Hasan, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), 87 28 Ibid, 88.
4. Teknik Pengolahan Data
Untuk mensistematis data yang telah dikumpulkan dan mempermudah peneliti dalam melakukan analisis data, maka peneliti mengolah data tersebut melalui beberapa teknik, dalam hal ini data yang diolah merupakan data yang telah terkumpul dari beberapa sumber adalah sebagaimana berikut:
a. Editing, yaitu mengedit data-data yang sudah dikumpulkan.29 Teknik
ini digunakan oleh peneliti untuk memeriksa atau mengecek sumber data yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data, dan memperbaikinya apabila masih terdapat hal-hal yang salah.
b. Organizing, yaitu mengorganisasikan atau mensistematis sumber
data.30 Melalui teknik ini, peneliti mengelompokkan data-data yang telah dikumpulkan dan disesuaikan dengan pembahasan yang telah direncanakan sebelumnya mengenai Putusan Pengadilan Agama Nganjuk No. 0035/Pdt.P/2016/PA.Ngj.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan meyusun data secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,
29 Ibid, 90.
dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan keorang lain.31
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan menggunakan pola pikir deduktif yaitu mengemukakan dalil-dalil atau data-data yang bersifat umum yaitu tentang wali ad{al kemudian ditarik pada permasalahan yang lebih khusus
yaitu tentang wali ad{al dalam putusan perkara No. 0035/Pdt.P/2016/PA.Ngj.
I. Sistematika Pembahasan
Agar lebih mudah memahami dalam skripsi ini, maka penulis membagi skripi ini menjadi lima bab, yang saling berkaitan antara bab satu dengan bab yang lainnya. Dari masing-masing diuraikan lagi menjadi beberapa sub bab yang sesuai dengan judul babnya. Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab Pertama : Pendahuluan. Bab ini merupakan gambaran umum tentang skripsi yang berisikan latar belakang masalah, identifikasi dan
batasan masalah, rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan
penelitian,kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua : Bab ini membahas tentang wali ad{al. Secara umum
menurut hukum Islam meliputi menurut fiqih 4 Madzab mengenai apa yang
dimaksud wali ad{al , dasar hukum perwalian, macam-macam perwalian,
syarat-syarat menjadi wali, alasan-alasan dibolehkan dan menolaknya wali
ad{al dan dasar penetapan wali ad{al..
Bab Ketiga : Bab ini merupakan bab yang menguraikan data hasil penelitian, berisi tentang deskriptif pertimbangan hakim dalam putusan
Pegadilan Agama Nganjuk No. 0034/Pdt.P/2016/PA.Ngj. tentang ad{al-nya
seorang wali Nikah dengan alasan “Calon suami seorang muallaf dan khawatir kembali keagamanya semula”.
Bab keempat : Bab ini merupakan bab yang membahas analisis data. Dalam bab ini diadakan analisis terhadap data yang berhasil dikumpulkan dalam rangka mencari jawaban terhadap pertanyaan, sebagaimana yag dimuat dalam rumusan masalah pada bab satu.
Bab Kelima : Bab ini merupakan bab penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah mengadakan analisis terhadap data yang diperoleh, sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya, dan merupakan jawaban atas pertanyaan pada rumusan masalah.