34567
A G U S T U S 2 0 1 626 September–2 Oktober
Perkawinan
—Asal Mula dan Tujuannya
HALAMAN 3
3-9 Oktober
Membangun Perkawinan
yang Bahagia
The Watchtower(ISSN 0043-1087) Issue 12 August 2016 is published monthly with an addi-tional issue published in January, March, May, July, September, and November by Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.; L. Weaver, Jr., President; G. F. Simonis, Secretary-Treasurer; 1000 Red Mills Road, Wallkill, NY 12589-3299, and in Indonesia by Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia, PO Box 2105, Jakarta 10001. Periodicals Postage Paid at Brooklyn,
34567
AUGUST 2016Vol. 137, No. 12 INDONESIAN
ARTIKEL PELAJARAN
˝
Perkawinan—Asal Mula dan Tujuannya
˝
Membangun Perkawinan yang Bahagia
Di artikel pertama, kita akan belajar tentang asal mula perkawinan. Kita akan membahas pedoman untuk perkawinan menurut Hukum Musa dan standar yang Yesus tetapkan bagi orang Kristen. Artikel kedua akan membahas peranan suami dan istri menurut Alkitab.
Publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari pekerjaan pendidikan Alkitab sedunia yang didukung sumbangan sukarela.
Kecuali disebutkan sumbernya, semua kutipan ayat diambil dari
PERNIKAHAN adalah hal yang umum. Tapi, ba-gaimana asal mulanya dan apa tujuannya? Dengan mengetahui hal ini, kita akan punya pandangan yang benar tentang perkawinan dan berkatnya.
1, 2. (a) Bagaimana asal mula perkawinan? (b) Apa yang disadari pria dan wanita pertama mengenai perkawinan? (Lihat gambar di awal artikel pada edisi standar.)
Perkawinan
—Asal Mula dan Tujuannya
”Allah Yehuwa berfirman, ’Tidak baik apabila manusia terus seorang diri. Aku akan menjadikan
seorang penolong baginya.’ ”—KEJ. 2:18.
NYANYIAN: 36, 11
APA JAWABAN SAUDARA?
Mengapa dapat dikatakan bahwa perkawinan adalah karunia dari Allah?
Jelaskan sejarah perkawinan dari zaman Adam sampai Yesus.
Apa saja yang perlu dipertimbangkan orang Kristen sewaktu memutuskan akan menikah atau tidak?
Allah menciptakan manusia pertama, Adam, dan memintanya menamai binatang-binatang. Adam memperhatikan bahwa semua binatang punya pa-sangan, ”tetapi bagi manusia tidak ditemukan se-orang penolong sebagai pelengkap dirinya”. Maka, Allah membuat Adam tertidur nyenyak, meng-ambil tulang rusuknya, dan menciptakan seorang wanita. Lalu, Yehuwa membawa wanita itu kepa-da Akepa-dam untuk menjadi istrinya. (Baca Kejadian
2:20-24.) Jadi, perkawinan adalah karunia dari
Yehuwa.
2 Ribuan tahun kemudian, Yesus mengulangi
apa yang Yehuwa katakan di Taman Eden, ”Se-orang pria akan meninggalkan bapaknya dan ibu-nya dan akan berpaut pada istriibu-nya, dan keduaibu-nya akan menjadi satu daging.” (Mat. 19:4, 5) Kare-na Allah mengambil tulang rusuk Adam untuk menciptakan wanita pertama, pasangan itu pasti menyadari bahwa hubungan mereka sangat dekat.
Yehuwa tidak pernah menginginkan suami dan istri bercerai atau memiliki lebih dari satu teman hidup dalam waktu bersamaan.
PERKAWINAN ADALAH BAGIAN DARI TUJUAN YEHUWA
3 Adam senang dengan istrinya, yang ia namai
Hawa. Hawa adalah pelengkap dan penolongnya. Adam dan Hawa akan berbahagia sebagai suami dan istri. (Kej. 2:18) Salah satu tujuan penting dari perkawinan adalah untuk memenuhi bumi. (Kej. 1:28) Anak-anak akan menyayangi orang tua mereka. Tapi, mereka akhirnya akan pergi untuk menikah dan membentuk keluarga sendiri. Manu-sia akan memenuhi bumi dan membuat seluruh bumi menjadi firdaus.
4 Perkawinan pertama menjadi rusak ketika
Adam dan Hawa tidak menaati Yehuwa. Setan Si Iblis, ”ular yang semula”, menipu Hawa. Ia
3. Apa salah satu tujuan penting dari perkawinan? 4. Apa yang terjadi dengan perkawinan yang pertama?
mengatakan bahwa Hawa bisa memiliki pengeta-huan istimewa serta bisa memutuskan apa yang baik dan jahat dengan memakan buah dari ”pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Hawa tidak menghormati Adam sebagai kepala ke-luarga karena ia tidak bertanya dulu kepadanya se-belum memutuskan untuk makan buah itu. Dan, Adam tidak menaati Allah karena ia tidak meno-lak buah itu, tapi malah ikut memakannya.—Pny. 12:9; Kej. 2:9, 16, 17; 3:1-6.
5 Sewaktu Yehuwa bertanya kepada mereka,
Adam menyalahkan istrinya. Dia menjawab, ”Wa-nita yang kauberikan untuk mendampingi aku, dia memberi aku buah dari pohon itu, maka aku makan.” Lalu, Hawa menyalahkan ular yang te-lah menipunya. (Kej. 3:12, 13) Adam dan Hawa berdalih atas ketidaktaatan mereka. Yehuwa pun menghukum para pemberontak itu. Ini menjadi
5. Apa yang dapat kita pelajari dari tanggapan Adam dan Hawa terhadap Yehuwa?
peringatan bagi kita! Agar perkawinan berhasil, suami istri harus menaati Yehuwa dan bertanggung jawab atas perbuatan masing-masing.
6 Tidak soal apa yang Setan lakukan di Eden,
Yehuwa memastikan agar manusia memiliki ha-rapan. Harapan ini ada dalam nubuat pertama di Alkitab. (Baca Kejadian 3:15.) Menurut nu-buat itu, Setan akan diremukkan oleh ”benih” dari ”wanita itu”. Banyak makhluk roh yang me-layani di surga punya hubungan yang akrab dengan Allah. Mereka bagaikan istri bagi Yehuwa. Dia akan mengutus salah satu dari mereka untuk ”me-remukkan” Iblis. Hasilnya, manusia yang taat bisa menikmati apa yang dihilangkan pasangan manu-sia pertama, yaitu kesempatan untuk hidup kekal di bumi sesuai dengan tujuan Yehuwa.—Yoh. 3:16.
7 Pemberontakan Adam dan Hawa berdampak 6. Apa arti dari Kejadian 3:15?
7. (a) Apa yang terjadi dengan perkawinan sejak Adam dan Hawa memberontak? (b) Apa yang Alkitab minta dari suami istri?
buruk atas perkawinan mereka dan semua perka-winan setelahnya. Misalnya, Hawa dan semua wa-nita akan merasakan sakit bersalin yang hebat. Wanita akan menuntut perhatian dari suaminya, tapi suaminya akan menguasai istrinya, bahkan ada yang menganiaya istrinya seperti yang kita li-hat sekarang. (Kej. 3:16) Yehuwa ingin agar suami menjadi kepala keluarga yang pengasih. Dan, Ia ingin agar istri tunduk kepada suaminya. (Ef. 5:33) Jika pasangan Kristen mau bekerja sama, ba-nyak masalah bisa diatasi.
PERKAWINAN DARI ZAMAN ADAM SAMPAI AIR BAH
8 Sebelum Adam dan Hawa mati, mereka
me-miliki anak-anak. (Kej. 5:4) Lalu, putra sulung mereka yang bernama Kain menikahi wanita yang berkerabat dengannya. Lamekh, keturunan Kain, adalah pria pertama yang disebutkan dalam
8. Bagaimana perkawinan pada zaman Adam sampai Air Bah?
Alkitab yang punya dua istri. (Kej. 4:17, 19) Dari zaman Adam sampai Nuh, hanya sedikit yang menyembah Yehuwa, yaitu Habel, Henokh, dan Nuh serta keluarganya. Alkitab mengatakan bah-wa pada zaman Nuh, ”putra-putra dari Allah yang benar mulai memperhatikan bahwa anak-anak pe-rempuan manusia itu elok parasnya. Lalu mere-ka mengambil istri-istri, yaitu semua yang meremere-ka pilih”. Tapi, perbuatan ini tidak wajar. Mereka menghasilkan keturunan yang jahat dan bertubuh raksasa, yang disebut Nefilim. Pada masa itu, ”ke-jahatan manusia sangat banyak di bumi dan setiap kecenderungan niat hatinya selalu jahat semata-mata”.—Kej. 6:1-5.
9 Yehuwa menyatakan bahwa Ia akan
membi-nasakan semua orang jahat dengan banjir besar. ”Nuh, seorang pemberita keadilbenaran” mem-peringatkan orang tentang itu. (2 Ptr. 2:5) Tapi,
9. Apa yang Yehuwa lakukan terhadap orang jahat pada zaman Nuh, dan apa pelajarannya bagi kita?
mereka mengabaikan peringatan Nuh karena ter-lalu sibuk dengan hidup mereka, termasuk soal menikah. Yesus menyamakan zaman Nuh dengan zaman kita. (Baca Matius 24:37-39.) Saat ini, ke-banyakan orang tidak peduli dengan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Kita menyampaikan ka-bar baik ini sebelum dunia yang bejat dihancur-kan. Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari zaman Air Bah? Kita hendaknya tidak menganggap soal menikah dan memiliki anak menjadi begitu pen-ting sehingga kita lupa bahwa hari Yehuwa sudah dekat.
PERKAWINAN DARI ZAMAN AIR BAH SAMPAI ZAMAN YESUS
10 Nuh dan tiga putranya hanya punya satu
istri. Tapi setelah Air Bah, banyak pria punya lebih dari satu istri. Di banyak kebudayaan, kebejatan
10. (a) Di banyak kebudayaan, bagaimana pandangan orang terhadap kebejatan seksual? (b) Bagaimana perka-winan Abraham dan S ara menjadi teladan?
seksual sudah umum dan bahkan menjadi bagian dari tradisi agama. Ketika Abraham dan Sara pin-dah ke Kanaan, mereka tinggal di antara masyara-kat amoral yang tidak menghormati perkawinan. Yehuwa menghancurkan kota Sodom dan Gomora karena masyarakatnya sangat amoral. Abraham berbeda dengan orang-orang itu. Dia adalah kepa-la keluarga yang baik, dan Sara adakepa-lah istri tekepa-ladan yang tunduk kepada suaminya. (Baca 1 Petrus 3:
3-6.) Abraham memastikan bahwa Ishak,
putra-nya, menikahi wanita yang menyembah Yehuwa. Ishak juga berbuat yang sama terhadap Yakub, putranya. Belakangan, putra-putra Yakub menjadi nenek moyang dari 12 suku Israel.
11 Belakangan, Yehuwa membuat perjanjian
de-ngan bangsa Israel. Ia memberi mereka Hukum Musa untuk melindungi suami istri. Misalnya, ada hukum tentang perkawinan, termasuk poligami. Agar ibadat mereka bersih, orang Israel tidak
boleh menikah dengan yang tidak seiman. (Baca
Ulangan 7:3, 4.) Jika ada masalah serius dalam
perkawinan, para tua-tua akan membantu. Dan juga, ada hukum tentang ketidaksetiaan, kecembu-ruan, dan kecurigaan. Meski perceraian diizinkan, ada aturan yang melindungi setiap pasangan. Con-tohnya, suami bisa menceraikan istrinya karena ”sesuatu yang tidak pantas”. (Ul. 24:1) Alkitab ti-dak menjelaskan apa saja yang termasuk ”titi-dak pantas”. Tapi, suami tidak boleh memakai alasan sepele untuk menceraikan istrinya.—Im. 19:18.
JANGAN PERNAH MENGKHIANATI TEMAN HIDUP
12 Pada zaman nabi Maleakhi, banyak orang
Yahudi menceraikan istri mereka dengan berba-gai alasan agar bisa menikahi wanita yang lebih muda atau yang tidak seiman. Pada zaman Yesus,
12, 13. (a) Pada zaman Maleakhi, bagaimana beberapa suami memperlakukan istri mereka? (b) Pada zaman sekarang, jika orang yang terbaptis berselingkuh dengan teman hidup orang lain, apa akibatnya?
orang Yahudi masih menceraikan istri ”atas dasar apa pun”. (Mat. 19:3) Allah Yehuwa membenci perceraian yang tidak sesuai dengan hukum-Nya.
—Baca Maleakhi 2:13-16.
13 Sekarang, pengkhianatan dalam
perkawin-an tidak berterima bagi umat Yehuwa. Tapi, bisa jadi ada seorang terbaptis yang sudah menikah berzina dan bercerai agar nantinya bisa menikahi orang lain. Jika tidak bertobat, dia akan dipecat agar sidang tetap bersih. (1 Kor. 5:11-13) Un-tuk diterima kembali di sidang, orang itu harus ’menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobat-an’. (Luk. 3:8; 2 Kor. 2:5-10) Tidak ditentukan be-rapa lama waktu harus berlalu agar seseorang bisa diterima kembali. Malah, dibutuhkan satu atau be-berapa tahun untuk membuktikan bahwa orang itu sungguh-sungguh bertobat agar bisa diteri-ma kembali. Dan setelahnya pun, dia diteri-masih harus ”berdiri di hadapan kursi penghakiman Allah”
untuk membuktikan pertobatannya.—Rm. 14: 10-12; lihat The Watchtower 15 November 1979, hlm. 31-32.
PERKAWINAN KRISTEN
14 Bangsa Israel berada di bawah hukum Musa
selama lebih dari 1.500 tahun. Hukum itu me-lindungi umat Allah. Misalnya, hukum itu berisi prinsip-prinsip yang berguna untuk menyelesaikan masalah keluarga, dan membimbing mereka kepa-da Mesias. (Gal. 3:23, 24) Setelah Yesus mati, Hu-kum itu berakhir dan Allah membuat pengaturan baru. (Ibr. 8:6) Beberapa hal yang diizinkan da-lam Hukum Musa tidak lagi berlaku bagi orang Kristen.
15 Orang Farisi pernah bertanya kepada Yesus
tentang perkawinan. Yesus menjawab bahwa Allah
14. Apa tujuan dari Hukum secara keseluruhan?
15. (a) Apa standar perkawinan dalam sidang Kristen? (b) Apa saja yang harus dipertimbangkan orang Kristen jika ia ingin bercerai?
mengizinkan orang Israel bercerai di bawah Hu-kum Musa meski itu bukan kehendak-Nya sejak awal. (Mat. 19:6-8) Jawaban Yesus memperlihat-kan bahwa standar Allah yang semula untuk per-kawinan menjadi standar bagi orang Kristen pada zaman sekarang. (1 Tim. 3:2, 12) Karena suami istri adalah ”satu daging”, mereka harus selalu hidup bersama. Mereka bisa tetap bersatu jika me-reka mengasihi Allah dan saling mengasihi. Pa-sangan yang bercerai tanpa alasan perzinaan tidak boleh menikah lagi. (Mat. 19:9) Seseorang bisa saja mengampuni teman hidupnya yang amoral yang sudah bertobat. Itulah yang dilakukan nabi Hosea dan Yehuwa. Hosea mengampuni istrinya yang berzina, Gomer. Dan, Yehuwa mengampuni orang Israel yang bertobat. (Hos. 3:1-5) Selain itu, jika seseorang mendapati bahwa teman hidupnya berzina dan masih berhubungan seks dengan te-man hidupnya yang bersalah, itu berarti bahwa dia
telah mengampuni teman hidupnya itu. Jadi, tidak ada lagi dasar Alkitab untuk bercerai.
16 Yesus berkata bahwa amoralitas seksual
ada-lah satu-satunya alasan bagi orang Kristen un-tuk bercerai. Lalu, ia menyebutkan tentang ”mere-ka yang memiliki ”mere-karunia” untuk melajang. Yesus berkata, ”Biarlah dia yang dapat meluangkan tem-pat untuk itu meluangkan temtem-pat untuk itu.” (Mat. 19:10-12) Banyak yang memilih untuk tidak menikah sebab mereka ingin berfokus melayani Yehuwa. Keputusan mereka harus dipuji!
17 Seseorang perlu memikirkan baik-baik
apa-kah ia akan meniapa-kah atau tidak. Ia perlu memutus-kan apakah ia bisa melajang. Rasul Paulus menya-rankan agar orang melajang. Tapi dia juga berkata, ”Karena meluasnya percabulan, biarlah setiap pria mempunyai istrinya sendiri dan setiap wanita
16. Apa yang Yesus katakan tentang melajang?
17. Apa yang perlu dipikirkan seseorang sewaktu memu-tuskan apakah ia akan menikah atau tidak?
mempunyai suaminya sendiri.” Paulus menambah-kan, ”Jika mereka tidak mempunyai pengenda-lian diri, biarlah mereka menikah, karena lebih baik menikah daripada berkobar dengan nafsu.” Jadi, seseorang mungkin memutuskan untuk me-nikah agar terhindar dari kebiasaan bermasturbasi atau perbuatan amoral karena keinginan seksual-nya yang kuat. Meski begitu, usia juga perlu di-pertimbangkan. Paulus berkata, ”Jika seseorang berpikir bahwa ia berlaku tidak patut terhadap ke-perawanannya, jika itu sudah melewati mekarnya masa remaja, dan beginilah yang seharusnya dila-kukan, biarlah ia melakukan apa yang ia inginkan; ia tidak berbuat dosa. Biarlah mereka menikah.” (1 Kor. 7:2, 9, 36; 1 Tim. 4:1-3) Jangan sam-pai seseorang merasa harus menikah hanya karena keinginan seksual yang kuat yang dirasakan oleh banyak anak muda. Dia mungkin belum cukup de-wasa untuk memikul tanggung jawab perkawinan.
18 Pria dan wanita Kristen yang akan menikah
harus sudah terbaptis dan mengasihi Yehuwa de-ngan sepenuh hati. Mereka juga harus benar-benar saling mencintai sehingga ingin menjalani kehi-dupan bersama. Yehuwa akan memberkati mere-ka mere-karena meremere-ka menaati nasihat untuk menimere-kah ”dalam Tuan”. (1 Kor. 7:39) Dan, jika mereka te-rus mengikuti nasihat Alkitab, perkawinan mereka akan bahagia.
19 Sekarang, kita hidup pada ”hari-hari
ter-akhir”. Banyak orang tidak memiliki sifat-sifat yang dibutuhkan agar perkawinan mereka bahagia. (2 Tim. 3:1-5) Di artikel berikutnya, kita akan membahas prinsip-prinsip Alkitab yang bagus agar orang Kristen bisa menikmati perkawinan yang ba-hagia, meski ada banyak tantangan. Dengan begi-tu, orang Kristen bisa terus melangkah di jalan yang menuju kehidupan abadi.—Mat. 7:13, 14.
18, 19. (a) Apa syarat bagi orang Kristen yang akan menikah? (b) Apa yang akan dibahas di artikel berikutnya?
SAAT pengantin pria bertemu pengantin wanita pada hari pernikahan, kebahagiaan mereka tak terlukis-kan. Semasa berpacaran, cinta mereka tumbuh su-bur sehingga mereka ingin menikah dan berjanji un-tuk saling setia. Setelah menikah dan mulai hidup
1. Meski perkawinan biasanya diawali dengan kebahagia-an, apa yang harus siap dihadapi suami istri? (Lihat gambar di awal artikel pada edisi standar.)
Membangun Perkawinan
yang Bahagia
”Hendaklah kamu masing-masing . . . mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri; . . . istri harus memiliki
respek yang dalam kepada suaminya.”—EF. 5:33.
NYANYIAN: 87, 3
APA JAWABAN SAUDARA?
Tanggung jawab apa saja yang Allah berikan kepada suami dan istri?
Mengapa kasih dan kelembutan sangat penting dalam perkawinan?
Bagaimana Alkitab bisa membantu jika ada masalah dalam perkawinan?
bersama, mereka perlu membuat perubahan agar te-tap bersatu. Yehuwa, Pencipta perkawinan, ingin agar suami istri bahagia. Maka, Ia memberikan nasihat yang bijaksana dalam Alkitab. (Ams. 18:22) Meski begitu, Alkitab memberi tahu bahwa manusia tidak sempurna yang menikah akan menghadapi masalah, atau ”kesengsaraan dalam daging mereka”. (1 Kor. 7:28) Bagaimana suami istri dapat memperkecil ma-salah? Dan, bagaimana orang Kristen dapat memba-ngun perkawinan yang bahagia?
2 Alkitab mengajar kita bahwa kasih adalah sifat
yang penting. Dalam perkawinan harus ada bebera-pa jenis kasih. Misalnya, mereka perlu memperlihat-kan kasih sayang dan cinta. Dan, jika mereka punya anak, kasih kepada anggota keluarga semakin pen-ting. Tapi, yang dapat membuat perkawinan benar-benar bahagia adalah kasih yang berdasarkan prinsip Alkitab. Rasul Paulus menjelaskan jenis kasih ini dengan berkata, ”Hendaklah kamu masing-masing
2. Jenis kasih apa saja yang perlu diperlihatkan suami istri?
secara perorangan juga mengasihi istrinya seperti di-rinya sendiri; sebaliknya, istri harus memiliki respek yang dalam kepada suaminya.”—Ef. 5:33.
LEBIH MEMAHAMI TANG GUNG JAWAB SUAMI DAN ISTRI
3 Paulus menulis, ”Suami-suami, teruslah kasihi
istrimu, sebagaimana Kristus juga mengasihi si-dang jemaat dan menyerahkan dirinya baginya.” (Ef. 5:25) Pada zaman sekarang, orang Kristen meniru Yesus dengan saling mengasihi seperti Yesus menga-sihi murid-muridnya. (Baca Yohanes 13:34, 35; 15: 12, 13.) Cinta di antara suami istri harus sangat kuat sehingga mereka rela mati demi teman hidupnya. Tapi, sewaktu ada masalah besar, ada yang tidak mau berkorban demi teman hidupnya. Apa yang dapat membantu mereka? Kasih yang berdasarkan prinsip, yaitu kasih yang ”menanggung segala sesuatu, perca-ya segala sesuatu, mempunperca-yai harapan akan sega-la sesuatu, bertekun menanggung segasega-la sesuatu”.
Kasih seperti itu ”tidak berkesudahan”. (1 Kor. 13: 7, 8) Suami istri harus ingat bahwa mereka telah ber-ikrar untuk saling mencintai dan saling setia. Kalau mereka selalu ingat hal ini, mereka akan selalu me-minta bantuan Yehuwa dan menyelesaikan masalah apa pun bersama-sama.
4 Paulus menjelaskan tanggung jawab suami dan
istri sebagai berikut, ”Hendaklah istri-istri tunduk kepada suami mereka sebagaimana kepada Tuan, karena suami adalah kepala atas istrinya sebagai-mana Kristus juga adalah kepala atas sidang jema-at.” (Ef. 5:22, 23) Ini tidak berarti bahwa seorang suami lebih baik daripada istrinya. Yehuwa mengang-gap peran istri sangat berharga. Ini terlihat dari kata-kata-Nya, ”Tidak baik apabila manusia terus seorang diri. Aku akan menjadikan seorang penolong bagi-nya, sebagai pelengkap dirinya.” (Kej. 2:18) Seorang
4, 5. (a) Bagaimana seorang istri seharusnya meman-dang peranannya dalam keluarga? (b) S ebagai kepala keluarga, apa tanggung jawab suami? (c) Penyesuaian apa yang perlu dibuat oleh sepasang suami istri?
istri perlu menolong suaminya untuk menjadi kepa-la keluarga yang baik. Sebagai ”kepakepa-la atas sidang jemaat”, Yesus mengasihi sidangnya. Suami harus meniru Yesus dengan mengasihi istrinya. Dengan be-gitu, istrinya akan merasa aman sehingga ia lebih mudah menghormati dan mendukung suaminya.
5 Istri Fred yang bernama Cathy mengakui,
”Se-belum menikah, semua hal saya urus sendiri. Setelah menikah, saya harus membuat penyesuaian dan bel-ajar untuk mengandalkan suami saya. Ini tidak sela-lu mudah. Tapi, karena mengikuti nasihat Yehuwa, hu-bungan kami lebih dekat lagi.”[1] Fred berkata, ”Saya
selalu sulit membuat keputusan. Setelah menikah, ini lebih sulit lagi karena saya harus memikirkan istri saya. Tapi, dengan berdoa meminta bimbingan Yehuwa dan mendengarkan saran istri saya, semakin mudah bagi saya untuk membuat keputusan. Saya merasa kami benar-benar tim yang kompak!”
6 Hubungan suami istri bisa erat jika mereka
6. Bagaimana kasih menjadi ”ikatan pemersatu yang sempurna” sewaktu ada masalah dalam perkawinan?
’terus bersabar seorang terhadap yang lain dan meng-ampuni satu sama lain dengan lapang hati’. Kare-na tidak sempurKare-na, mereka berdua pasti membuat kesalahan. Tapi, mereka dapat belajar dari kesalahan mereka, belajar mengampuni, dan memperlihatkan kasih yang berdasarkan prinsip Alkitab. Kasih seperti ini adalah ”ikatan pemersatu yang sempurna”. (Kol. 3:13, 14) Kasih ini ditunjukkan dengan bersabar, berbaik hati, dan ”tidak mencatat kerugian”. (1 Kor. 13:4, 5) Jika ada perbedaan pendapat, mereka harus berupaya untuk segera menyelesaikannya pada hari itu juga. (Ef. 4:26, 27) Mereka harus rendah hati dan berani untuk bisa mengatakan ”Maaf ya, aku sudah buat kamu sedih”. Jika ini dilakukan, suami istri bisa menyelesaikan masalah dan menjadi semakin dekat.
PENTINGNYA KELEMBUTAN
7 Alkitab memberikan nasihat yang bagus agar
7, 8. (a) Nasihat apa yang Alkitab berikan tentang hubungan seks dalam perkawinan? (b) Apa yang Alkitab katakan tentang bermesraan dalam perkawinan?
suami istri punya pandangan yang benar tentang hu-bungan seks. (Baca 1 Korintus 7:3-5.) Suami istri harus mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan satu sama lain. Jika seorang suami tidak lembut ke-pada istrinya, sang istri bisa jadi sulit menikmati hu-bungan seks. Suami harus memperlakukan istri ”se-suai dengan pengetahuan”. (1 Ptr. 3:7) Hubungan seks tidak boleh dipaksakan, tapi harus terjadi seca-ra wajar. Pria sering kali lebih cepat teseca-rangsang dari-pada wanita. Tapi, hubungan seks seharusnya dilaku-kan ketika keduanya sama-sama siap.
8 Alkitab tidak memberikan aturan khusus
kepa-da suami istri tentang apa yang boleh kepa-dan tikepa-dak bo-leh dalam hal bermesraan dan berhubungan seks. Tapi, Alkitab menyebutkan pria dan wanita yang ber-mesraan. (Kid. 1:2; 2:6) Suami istri perlu saling bersikap lembut dan ini bisa ditunjukkan dengan bermesraan.
9 Jika kita sangat mengasihi Allah dan sesama,
9. Mengapa kita tidak boleh menaruh minat seksual terhadap siapa pun yang bukan teman hidup kita?
kita tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun membahayakan perkawinan kita. Ada yang telah melemahkan atau bahkan merusak perkawinan reka karena kecanduan pornografi. Kita perlu me-nolak pornografi dan tidak menaruh minat seksual kepada orang lain. Kita juga tidak akan melakukan apa pun yang bisa memberi kesan bahwa kita meng-goda lawan jenis, karena itu tidak pengasih. Ingatlah bahwa Allah mengetahui semua pikiran dan tindak-an kita. Dengtindak-an mengingat ini, kita aktindak-an semakin ingin menyenangkan Allah dan tetap setia kepada te-man hidup kita.—Baca Matius 5:27, 28; Ibrani 4:13.
SEWAKTU MASALAH MUNCUL
10 Sewaktu masalah serius tidak bisa diatasi, ada
pasangan yang memutuskan untuk berpisah atau bercerai. Di beberapa negeri, lebih dari 50 persen
10, 11. (a) S eberapa banyak pasangan yang bercerai? (b) Apa kata Alkitab tentang p erpisahan? (c) Apa yang akan membantu suami istri agar tidak cepat-cepat berpisah?
pasangan bercerai. Tentu saja, hal ini tidak umum di antara umat Allah. Tapi, semakin banyak pasangan Kristen menghadapi masalah serius dalam perkawin-an mereka.
11 Alkitab memberikan perintah ini, ”Seorang
istri tidak [boleh] pergi dari suaminya; tetapi jika ia benar-benar harus pergi, hendaklah ia tetap tidak me-nikah atau jika tidak, rukun kembali dengan suami-nya; dan seorang suami janganlah meninggalkan is-trinya.” (1 Kor. 7:10, 11) Ada pasangan yang merasa bahwa masalah mereka begitu berat sehingga harus berpisah. Tapi, Yesus tidak menganggap enteng per-pisahan. Setelah mengulangi apa yang awalnya Allah katakan tentang perkawinan, Yesus menambahkan, ”Apa yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk hendaknya tidak dipisahkan manusia.” (Mat. 19:3-6; Kej. 2:2-4) Yehuwa ingin agar suami dan istri tetap bersama. (1 Kor. 7:39) Ingatlah bahwa kita semua bertanggung jawab kepada Yehuwa. Jadi, segeralah selesaikan masalah sebelum menjadi lebih parah.
12 Mengapa beberapa pasangan mengalami
masa-lah serius? Ada yang merasa perkawinan mereka ti-dak sesuai harapan sehingga mereka kecewa atau marah. Sering kali, masalah muncul karena cara se-seorang dibesarkan atau mengungkapkan perasaan tidak sama. Kadang ada ketidakcocokan dengan mer-tua dan ipar serta perbedaan pendapat dalam meng-gunakan uang dan membesarkan anak. Tapi, kita se-nang bahwa kebanyakan pasangan Kristen sanggup mengatasi masalah mereka karena mau mengikuti bimbingan Allah.
13 Suami istri boleh berpisah karena alasan
terten-tu. Beberapa di antaranya adalah situasi ekstrem se-perti teman hidup sengaja tidak dinafkahi, mendapat penganiayaan fisik yang hebat, dan tidak bisa beriba-dat kepada Yehuwa. Jika ada masalah besar, suami istri harus meminta bantuan penatua. Para pena-tua punya banyak pengalaman dan dapat membantu
12. Apa saja yang dapat membuat suami istri ingin ber-pisah?
mereka menerapkan nasihat Allah. Dan jika suami istri berdoa meminta roh kudus, mereka bisa meng-ikuti prinsip Alkitab dan memperlihatkan sifat-sifat Kristen.—Gal. 5:22, 23.[2]
14 Alkitab memperlihatkan bahwa ada alasan
yang kuat bagi suami istri untuk tetap bersama-sama meski salah satu tidak menyembah Yehuwa.
(Baca 1 Korintus 7:12-14.) Teman hidup yang tidak seiman ”disucikan” karena menikah dengan hamba Allah. Anak mereka yang di bawah umur dianggap ”kudus” sehingga mendapat perlindung-an rohperlindung-ani dari Allah. Paulus menasihati pasperlindung-angperlindung-an Kristen, ”Istri, bagaimana engkau tahu bahwa eng-kau tidak dapat menyelamatkan suamimu? Atau, hai, suami, bagaimana engkau tahu bahwa engkau ti-dak dapat menyelamatkan istrimu?” (1 Kor. 7:16) Ada banyak suami dan istri Kristen yang berha-sil membantu teman hidup mereka menjadi hamba Yehuwa.
14. Apa kata Alkitab kepada suami dan istri Kristen yang teman hidupnya bukan penyembah Yehuwa?
15 Rasul Petrus menasihati para istri Kristen
un-tuk tunduk kepada suami mereka ”agar jika ada yang tidak taat kepada firman itu, mereka dapat dime-nangkan tanpa perkataan melalui tingkah laku istri mereka, karena telah menjadi saksi mata dari tingkah lakumu yang murni yang disertai respek yang da-lam”. Seorang istri tidak perlu terus berbicara ten-tang imannya kepada sang suami. Kemungkinan besar, dia bisa membantu suaminya menerima kebe-naran jika dia memperlihatkan ”roh yang tenang dan lembut, yang sangat bernilai di mata Allah”.—1 Ptr. 3:1-4.
16 Bagaimana jika teman hidup yang tidak seiman
memutuskan untuk berpisah? Alkitab berkata, ”Jika orang yang tidak percaya itu pergi, biarlah ia per-gi; dalam hal demikian seorang saudara atau sau-dari tidak terikat, tetapi Allah telah memanggil kamu
15, 16. (a) Nasihat apa yang Alkitab berikan untuk istri Kristen yang suaminya bukan hamba Allah? (b) Bagaimana status dan sikap seorang Kristen ”jika orang yang tidak percaya itu pergi”?
kepada kedamaian.” (1 Kor. 7:15) Ini tidak berarti bahwa teman hidup yang beriman bebas menikah lagi berdasarkan Alkitab. Dia juga tidak perlu memaksa teman hidupnya untuk tetap tinggal. Perpisahan bisa menghasilkan kedamaian sampai taraf tertentu. Dan, hamba Yehuwa itu bisa berharap bahwa setelah be-berapa waktu, teman hidupnya yang tidak seiman mungkin ingin kembali, dan memperbaiki perkawin-an mereka. Suatu saat mungkin dia menjadi hamba Yehuwa.
APA YANG TERPENTING DALAM PERKAWINAN?
17 Kita hidup di bagian akhir dari ”hari-hari
ter-akhir”. Karena itu, kita mengalami ”masa kritis yang sulit dihadapi”. (2 Tim. 3:1-5) Jadi, kita ha-rus punya hubungan yang erat dengan Yehuwa seba-gai perlindungan. ”Waktu hanya tinggal sedikit,” tu-lis Paulus. ”Mulai saat ini hendaklah orang yang beristri menjadi seolah-olah tidak beristri, . . . dan
17. Apa yang harus menjadi hal terpenting bagi pasangan Kristen?
Bukawww.jw.org/id,
atauscan kode
5
orang yang menggunakan dunia ini, seperti orang yang tidak menggunakannya sepenuhnya.” (1 Kor. 7: 29-31) Paulus tidak memaksudkan bahwa teman hi-dup harus diabaikan. Tapi, karena kita hihi-dup pada hari-hari terakhir, ibadat kepada Yehuwa harus men-jadi yang terpenting dalam hidup kita.—Mat. 6:33.
18 Pada masa yang sulit ini, ada banyak
perkawin-an yperkawin-ang gagal. Apakah perkawinperkawin-an kita bisa bahagia? Tentu bisa, asalkan kita tetap akrab dengan Yehuwa dan umat-Nya, menerapkan prinsip Alkitab, dan mau dibimbing roh kudus Yehuwa. Dengan begitu, kita menghormati ”apa yang telah Allah letakkan di ba-wah satu kuk”.—Mrk. 10:9.
18. Apakah perkawinan orang Kristen bisa bahagia?
CATATAN:
[1] (paragraf 5) Nama-nama telah diubah.
[2] (paragraf 13) Lihat buku ”Tetaplah Berada dalam
Kasih Allah”, apendiks ”Pandangan Alkitab tentang