• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. Hal. ii iii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. Hal. ii iii"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

DAFTAR ISI

Hal

DAFTAR ISI ...

i

DAFTAR TABEL ……....……….………....

ii

DAFTAR LAMPIRAN ....……….………....

iii

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN...

1

BAB I GAMBARAN UMUM ………..

5

BAB II HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN ...

11

1.

Penatausahaan Aset Tetap tidak didukung data yang andal …………...………..

11

2.

Penyajian Investasi Dana Bergulir Hewan Ternak dan Pola PAD tidak dapat diuji dan

ditelusuri sebesar Rp7.329.566.450,00...………...

14

3.

Belanja Pemeliharaan dianggarkan dan direalisasikan melalui Belanja Modal serta

realisasi Belanja Jasa Konsultan tidak dikapitalisasi sebagai penambah Aset Tetap

masing-masing sebesar Rp1.814.242.018,00 dan Rp6.316.200.213,00...

17

4.

Pengelolaan Dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM dan Dana

Kapitasi PT Askes dilakukan tanpa melalui mekanisme APBD ...

19

5.

Pengelolaan Pendapatan dan Belanja pada Instalasi Farmasi RSUD Sumbawa

sebesar Rp1.500.096.800,00 dilakukan diluar mekanisme keuangan RSUD

Sumbawa...

22

6.

Pengadaan Aset Tetap dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun 2011 tidak

didukung dengan data yang lengkap dan akurat sebesar Rp6.184.806.200,00...

24

(3)

DAFTAR TABEL

Tabel 1

: Daftar Rekapitulasi per Jenis Aset yang Bernilai Rp1,00

Tabel 2

: Daftar Belanja Barang dan Jasa yang Direalisasikan Melalui Belanja

Modal

Tabel 3

: Daftar penerimaan dan pengeluaran dana Jamkesmas, Jamkesmas

NTB, Askes, dan SKTM pada RSUD Sumbawa

Tabel 4

: Daftar Penerimaan Hasil Klaim Dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas

NTB, SKTM, dan dana kapitasi Askes pada RSUD Sumbawa

Tabel 5

: Daftar penerimaan dan pengeluaran dana Jamkesmas, Jamkesmas

NTB, Askes, dan SKTM pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa

(4)

iii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

:

Daftar aset tetap yang bernilai Rp1,00

Lampiran 2.1

:

Data Tanah Milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa Telah

Bersertifikat per 31 Desember 2011

Lampiran 2.2

:

Data Tanah Milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa Dalam

Proses Sertifikasi per 31 Desember 2011

Lampiran 2.3

:

Data Tanah Milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa yang Belum

Bersertifikat per 31 Desember 2011

Lampiran 3

:

Data Tanah Milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa yang Tidak

Terdapat Harga Perolehannya

Lampiran 4

:

Data Tanah Milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa yang Telah

Berpindah ke Instansi Lain dan Masih Tercatat dalam Daftar

Inventaris BMD Kab. Sumbawa

(5)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN

ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah

memeriksa

Neraca Pemerintah Kabupaten Sumbawa per 31 Desember 2011 dan 2010, serta Laporan

Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. BPK telah

menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas Laporan Keuangan Pemerintah

Kabupaten Sumbawa tahun 2011 yang memuat opini wajar dengan pengecualian dengan

Nomor 138.A/S/XIX.MTR/05/2012 dan Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Terhadap

Peraturan Perundang-undangan Nomor 138.C/S/XIX.MTR/05/2012 tanggal 25 Mei 2012.

Sesuai Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), dalam pemeriksaan atas Laporan

Keuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa tersebut di atas, BPK mempertimbangkan

sistem pengendalian intern Pemerintah Kabupaten Sumbawa untuk menentukan prosedur

pemeriksaan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan dan tidak

ditujukan untuk memberikan keyakinan atas sistem pengendalian intern.

BPK menemukan kondisi yang dapat dilaporkan berkaitan dengan sistem pengendalian

intern dan operasinya. Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas

Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa yang ditemukan BPK adalah

sebagai berikut:

1.

Penatausahaan Aset Tetap tidak didukung data yang andal.

2.

Penyajian Investasi Dana Bergulir Hewan Ternak dan Pola PAD tidak dapat diuji

dan ditelusuri sebesar Rp7.329.566.450,00.

3.

Belanja Pemeliharaan dianggarkan dan direalisasikan melalui Belanja Modal serta

realisasi Belanja Jasa Konsultan tidak dikapitalisasi sebagai penambah Aset Tetap

masing-masing sebesar Rp1.814.242.018,00 dan Rp6.316.200.213,00.

4.

Pengelolaan Dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM dan Dana

Kapitasi PT Askes dilakukan tanpa melalui mekanisme APBD.

5.

Pengelolaan Pendapatan dan Belanja pada Instalasi Farmasi RSUD Sumbawa

sebesar Rp1.500.096.800,00 dilakukan diluar mekanisme keuangan RSUD

Sumbawa.

6.

Pengadaan Aset Tetap dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun 2011

tidak didukung dengan data yang lengkap dan akurat sebesar Rp6.184.806.200,00.

(6)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

2

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK merekomendasikan kepada Bupati

Sumbawa antara lain agar:

1. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada:

1)

Sekretaris Daerah selaku pengelola barang atas kelalaiannya dan selanjutnya

agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian secara optimal dalam hal

penilaian, pengamanan, dan penyimpanan Barang Milik Daerah (BMD).

2)

Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) atas

kelalaiannya dan selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan

pengendalian secara optimal dalam hal penilaian, pengamanan, dan

penyimpanan Barang Milik Daerah (BMD).

3)

Kepala SKPD Terkait atas kelalaiannya dan selanjutnya agar meningkatkan

pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi kinerja bawahannya.

4)

Kepala Bagian Aset atas kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih optimal

mengelola dan menatausahakan pengawasan Barang Milik Daerah (BMD).

5)

Kepala Sub Bagian Inventarisasi dan Pelaporan atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar lebih cermat mengelola dan menatausahakan pengawasan

Barang Milik Daerah (BMD).

6)

Seluruh Pengurus Barang SKPD atas kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih

cermat dalam melakukan prosedur penatausahaan, pemeliharaan dan

pengamanan Barang Milik Daerah sesuai peraturan yang berlaku.

2. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku:

1)

Kepala Dinas Peternakan atas kelalaiannya dan selanjutnya agar

meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi kinerja

bawahannya.

2)

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPM-PD)

atas kelalaiannya dan selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan

pengendalian dalam mengawasi kinerja bawahannya.

3)

Kepala Bidang Produktivitas dan Pengembangan Ternak atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam

mengawasi kinerja bawahannya.

4)

Kepala Bidang Pemerintahan Desa dan Kelurahan BPM-PD atas kelalaiannya

dan selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam

mengawasi kinerja bawahannya.

5)

Kepala Seksi Pengembangan dan Penyebaran Ternak Dinas Peternakan atas

kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih cermat dalam menatausahakan

dokumen perjanjian dana bergulir hewan ternak yang ada dalam

penguasaannya.

6)

Kepala Seksi Kelembagaan dan Kekayaan Desa BPM-PD atas kelalaiannya

dan selanjutnya agar lebih cermat dalam menatausahakan dokumen perjanjian

dana bergulir pola PAD yang ada dalam penguasaannya.

(7)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

3

3. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada:

1)

Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Sumbawa atas

kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih cermat dalam melakukan evaluasi

anggaran sesuai ketentuan tentang Belanja Modal Pemeliharaan dan Belanja

Jasa Konsultansi.

2)

Kepala SKPD atas kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih cermat dalam

mengusulkan anggaran Belanja Modal Pemeliharaan dan Belanja Jasa

Konsultansi.

4. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada:

1)

Direktur RSUD dan Kepala Dinas Kesehatan Sumbawa atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar lebih cermat dalam mengusulkan anggaran penerimaan dan

belanja daerah atas pelayanan kesehatan program Jamkesmas Pusat,

Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM dan Kapitasi PT Akses.

2)

Tim Pengelola RSUD Sumbawa dan Dinas Kesehatan atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar lebih cermat dalam mengusulkan anggaran penerimaan dan

belanja daerah atas pelayanan kesehatan program Jamkesmas Pusat,

Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM dan Kapitasi PT Akses.

5. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada:

1)

Direktur RSUD atas kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih cermat dalam

mengusulkan anggaran penerimaan dan belanja daerah atas pengelolaan

keuangan Instalasi Farmasi RSUD Sumbawa.

2)

Kepala Instalasi Farmasi RSUD Sumbawa atas kelalaiannya dan selanjutnya

agar lebih cermat dalam mengusulkan anggaran penerimaan dan belanja

daerah atas pengelolaan keuangan Instalasi Farmasi RSUD Sumbawa.

3)

Kepala Sub Bagian Keuangan RSUD Sumbawa atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar lebih cermat dalam mengusulkan anggaran penerimaan dan

belanja daerah atas pengelolaan keuangan Instalasi Farmasi RSUD Sumbawa.

6. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada:

1)

Sekretaris Daerah selaku Pengelola atas kelalaiannya dan selanjutnya agar

meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi kinerja

bawahannya.

2)

Kepala Dinas Pendidikan Nasional atas kelalaiannya dan selanjutnya

meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi kinerja

bawahannya.

3)

Pengelola dana BOS atas kelalaiannya dan selanjutnya lebih proaktif untuk

melakukan pengelolaan dan penatausahaan aset tetap dari dana BOS.

4)

Pengurus Barang atas kelalaiannya dan selanjutnya lebih proaktif untuk

melakukan pengelolaan dan penatausahaan aset tetap dari dana BOS.

(8)
(9)

BAB I

GAMBARAN UMUM SISTEM PENGENDALIAN INTERN

PADA PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA

Dalam rangka meningkatkan kinerja transparansi dan akuntabilitas pengelolaan

keuangan daerah, Kepala Daerah menyusun dan menyelenggarakan sistem pengendalian

intern di lingkungan pemerintahan daerah yang dipimpinnya. Pengendalian intern

merupakan proses yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai mengenai

pencapaian tujuan pemerintah daerah yang tercermin dari keandalan laporan keuangan,

efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan, serta dipatuhinya peraturan

perundang-undangan.

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) diatur dalam Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 58 ayat (1) dan ayat (2),

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern

Pemerintah.

Unsur sistem pengendalian intern dalam peraturan pemerintah dimaksud

mengacu pada unsur sistem pengendalian intern yang telah dipraktikkan di lingkungan

pemerintahan di berbagai negara, yang meliputi:

1.

Lingkungan pengendalian yang mengatur bahwa pimpinan instansi pemerintah dan

seluruh pegawai harus menciptakan dan memelihara lingkungan dalam keseluruhan

organisasi yang menimbulkan perilaku positif dan mendukung terhadap

pengendalian intern dan manajemen yang sehat.

2.

Pengendalian risiko dimana pengendalian intern harus memberikan penilaian atas

risiko yang dihadapi unit organisasi baik dari luar maupun dari dalam.

3.

Kegiatan pengendalian membantu memastikan bahwa arahan pimpinan instansi

pemerintah dilaksanakan. Kegiatan pengendalian harus efisien dan efektif dalam

pencapaian tujuan organisasi.

4.

Informasi dan komunikasi, dimana informasi harus dicatat dan dilaporkan kepada

pimpinan instansi pemerintah dan pihak lain yang ditentukan. Informasi disajikan

dalam suatu bentuk dan sarana tertentu serta tepat waktu sehingga memungkinkan

pimpinan instansi pemerintah melaksanakan pengendalian dan tanggung jawabnya.

5.

Pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja dari waktu ke waktu dan

memastikan bahwa rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya dapat segera

ditindaklanjuti.

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern diketahui

bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum sepenuhnya merancang dan

melaksanakan unsur-unsur sistem pengendalian intern sebagaimana yang dipersyaratkan

dalam peraturan perundang-undangan. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian berkaitan dengan bagaimana Pemerintah Kabupaten

Sumbawa dapat menciptakan lingkungan yang lebih teratur dan terarah dalam

rangka mencapai visi, misi, dan rencana strategi yang telah ditetapkan oleh

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

(10)

BPK PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

6

1)

Integritas dan nilai etika

Salah satu komponen yang dapat membuat lingkungan pengendalian yang

memadai adalah integritas dan nilai etika. Pemerintah Kabupaten Sumbawa

masih memiliki kelemahan dalam membuat lingkungan pengendalian yang

memadai yaitu Pemerintah Kabupaten Sumbawa tidak memiliki dokumentasi

terhadap pengambilan kebijakan yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku

dan Inspektorat hanya mendokumentasikan hasil pemeriksaan dari instansi yang

berwenang (BPK, BPKB, Irjen dan lain-lain).

2)

Komitmen terhadap kompetensi

Komitmen terhadap kompetensi mencakup kebijakan manajemen terhadap

tingkatan jabatan tertentu yang harus diisi oleh pegawai yang memiliki

pengetahuan dan keahlian sesuai dengan bidang atau posisi yang ditempatinya

sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih tepat. Berdasarkan hasil reviu

atas komitmen terhadap kompetensi dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut:

(1)

Analisa mengenai jenis pekerjaan dan perlu tidaknya pelatihan belum

optimal.

(2)

Ketentuan tingkat kompetensi yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan belum

optimal.

(3)

Belum optimalnya bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang personil

telah ditempatkan sesuai keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan pada

suatu pekerjaan.

3)

Gaya operasi dan filosofi manajemen

Gaya operasi dan filosofi manajemen mencakup tindakan manajemen

memberikan pemahaman kepada pegawai tentang pentingnya pemahaman

kondisi lingkungan kerja dan gaya kepemimpinan yang diterapkan. Pemerintah

Kabupaten Sumbawa masih memiliki kelemahan berupa tidak adanya

perlindungan aset terhadap akses dari pihak yang tidak berwenang dan pola

mutasi yang dilakukan tidak dibuat secara konsisten. Berdasarkan hasil evaluasi

diketahui hal-hal sebagai berikut:

(1)

Saldo Aset Tetap sebanyak 313 item tidak diketahui harga perolehannya.

(2)

Tanah Milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebanyak 13 persil dikuasai

instansi vertikal sebesar Rp2.700.300.000,00.

(3)

Tanah Milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebanyak 676 persil senilai

Rp126.427.698.582,00 belum bersertifikat.

(4)

Pengelolaan kendaraan dinas sebanyak 85 unit tidak tertib.

4)

Struktur organisasi

Struktur organisasi merupakan pengendalian awal agar pegawai melaksanakan

tugasnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Struktur Organisasi

Pemerintah Kabupaten Sumbawa pada tahun 2008 ditetapkan berdasarkan

Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2008.

5)

Tanggung jawab dan wewenang

Setiap pegawai memiliki tugas dan fungsi sebagaimana diatur dalam Peraturan

Bupati Sumbawa tentang Uraian Tugas Jabatan Struktural Perangkat Daerah

Kabupaten Sumbawa. Dengan demikian setiap pegawai memiliki tanggung jawab

(11)

dan wewenang dalam menjalankan tugasnya. Pemerintah Kabupaten Sumbawa

masih memiliki kelemahan berupa jumlah pegawai yang belum memadai

terutama dibidang pengolahan data dan fungsi akuntansi sesuai tingkat

kompleksitas entitas. Kelemahan ini terlihat antara lain sebagai berikut:

(1)

PPK pada SKPD belum berfungsi secara optimal sehingga verifikasi lebih

dominan dilakukan oleh Bidang Akuntansi.

(2)

Bagian Aset dan SKPD terkait belum sepenuhnya melakukan pendataan atas

Aset Tetap sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

6)

Kebijakan dan praktek SDM

Kompetensi pegawai meningkat sejalan dengan kebijakan yang dilakukan

manajemen mengenai SDM. Kebijakan SDM disusun secara jelas dan mudah

dipahami oleh seluruh pegawai mulai dari penerimaan, pelatihan, promosi,

perpindahan dan penggajian. Jumlah pegawai pada Bidang Akuntansi Dinas

Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) Kabupaten Sumbawa sebanyak

12 orang, yang terdiri atas 11 orang PNS dan 1 orang tenaga honorer, dengan

tingkat pendidikan 10 orang S1, 1 orang D III dan 1 orang SMA. Dengan

demikian, maka kualifikasi pegawai sebagian besar pada tingkat S1 (83,33%) D3

(8,33%) dan SMA (8,33%). Dengan melihat perbandingan antara beban kerja

yang ada, jumlah pegawai, dan tingkat pendidikan pegawai, maka pegawai pada

Bidang Akuntansi belum cukup memadai untuk melaksanakan semua prosedur

sistem akuntansi dan penyusunan laporan keuangan Pemerintah Kabupaten

Sumbawa.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa masih memiliki beberapa kelemahan antara lain

adalah sebagai berikut:

(1)

Pertemuan berkala antara atasan dengan pegawai guna melakukan reviu atas

kinerja pegawai dan pemberian saran-saran perbaikan yang telah dilakukan

masih belum optimal.

(2)

Mekanisme promosi pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumbawa

masih belum optimal.

7)

Pengawasan

Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah membentuk suatu entitas audit yaitu

Inspektorat Kabupaten Sumbawa sebagai entitas yang melakukan kegiatan

pengawasan atas entitas lain di lingkup Kabupaten Sumbawa. Namun demikian,

Inspektorat Kabupaten Sumbawa belum memiliki sumber daya manusia yang

andal dan belum menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Inspektur

Kabupaten Sumbawa bertanggung jawab langsung kepada Bupati Sumbawa.

2. Penilaian Risiko

Terdapat dua unsur penilaian risiko yang dievaluasi, yaitu:

1)

Identifikasi risiko,

2)

Analisis risiko.

Dari dua unsur di atas, Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum melakukan

identifikasi dan analisis dampak atas beberapa risiko yang mungkin terjadi dan perlu

diantisipasi dalam pengelolaan keuangan daerah yang meliputi kesalahan dalam

pencatatan dan penatausahaan dokumen, ketidakcocokan diantara catatan dan

(12)

BPK PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

8

pembukuan yang ada, penyajian informasi yang tidak akurat dan pelaporan yang

tidak tepat waktu. Hal tersebut terlihat mulai dari penganggaran, dimana dalam

APBD Kabupaten Sumbawa Tahun Anggaran 2011 masih terdapat realisasi belanja

yang tidak semestinya, pencatatan dan pelaporan persediaan dan aset tetap serta

investasi jangka panjang tidak didasarkan data yang andal, serta masih terdapat

pengelolaan kas di luar mekanisme APBD.

3. Kegiatan pengendalian

Aktivitas pengendalian berkaitan dengan bagaimana Pemerintah Kabupaten

Sumbawa mengelola sumber daya yang ada sehingga bisa membuat desain

pengendalian intern yang memadai agar dapat dijadikan indikator atau ukuran

pencapaian visi, misi, dan tujuan strategis yang ingin dicapai.

1)

Pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas

Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum melakukan penelahaan dan pengujian

atas suatu kinerja sehingga apa yang menjadi permasalahan tidak bisa

disampaikan kepada unit-unit terkait. Kelemahan terkait hal tersebut adalah:

(1)

Fungsi Kuasa BUD belum mendapat porsi pelimpahan wewenang yang

optimal dalam menjalankan perbendaharaan daerah. Hal ini tercermin pada

pendelegasian tupoksi yang masih terpusat pada BUD, antara lain

penempatan uang daerah dalam bentuk setara kas (

Deposito on Call/DOC

)

yang masih dilaksanakan oleh BUD, sehingga kelemahan pada monitoring

penerimaan daerah dari

DOC

seperti pengenaan pajak atas bunga deposito.

Hal tersebut seharusnya dapat diminimalisasi apabila Kuasa BUD

mendapatkan pelimpahan wewenang sehingga pengendalian internal atas

penerimaan daerah dapat lebih optimal.

(2)

Penatausahaan Aset Tetap tidak didukung data yang andal.

(3)

Belanja Pemeliharaan dianggarkan dan direalisasikan melalui Belanja Modal

serta realisasi Belanja Jasa Konsultan tidak dikapitalisasi sebagai penambah

Aset

Tetap

masing-masing

sebesar

Rp1.814.242.018,00

dan

Rp6.316.200.213,00.

(4)

Pengelolaan Dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM dan

Dana Kapitasi PT Askes dilakukan tanpa melalui mekanisme APBD.

(5)

Pengelolaan pendapatan dan belanja pada Instalasi Farmasi RSUD

Sumbawa sebesar Rp1.500.096.800,00 dilakukan diluar mekanisme

keuangan RSUD Sumbawa.

(6)

Pengadaan Aset Tetap dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun

2011 tidak didukung dengan data yang lengkap dan akurat sebesar

Rp6.184.806.200,00.

2)

Mereviu pengelolaan SDM

Sistem kompensasi pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa disesuaikan dengan

kemampuan keuangan daerah. Mekanisme promosi dan mutasi pada Pemerintah

Kabupaten Sumbawa belum jelas kriterianya.

3)

Mereviu pengelolaan informasi

Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum optimal melakukan reviu pengelolaan

informasi untuk memastikan tingkat keakuratan dan kelengkapan informasi. Hal

(13)

tersebut juga diketahui bahwa terdapat penyajian Investasi Dana Bergulir Hewan

Ternak

dan

Pola

PAD

tidak

dapat

diuji

dan

ditelusuri

sebesar

Rp7.329.566.450,00.

4)

Menetapkan

dan memantau indikator dan ukuran kinerja

Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum membuat indikator dan ukuran kinerja

untuk setiap bagian dan level dalam organisasi sampai kepada individu.

5)

Pemisahan fungsi

Kewenangan untuk mengendalikan seluruh aktifitas kunci telah dipisahkan yaitu

dengan melakukan pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam otorisasi,

pemberian persetujuan

(approval)

, pemrosesan, pencatatan, pembayaran/

penerimaan uang dan fungsi penyimpanan serta penugasan telah dilakukan

dengan memperhatikan efektifitas mekanisme

check and balance.

6)

Mereviu

otorisasi kepada personil tertentu dalam melakukan suatu transaksi

Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah memiliki otorisasi kepada personil

tertentu dalam melakukan suatu transaksi

7)

Mereviu pencatatan atas transaksi

Pengklasifikasian dan pencatatan belum meliputi seluruh siklus yaitu dari

otorisasi, inisiasi, pemrosesan sampai dengan klasifikasi final dalam pencatatan

secara keseluruhan.

8)

Membuat

pembatasan akses dan akuntabilitas terhadap sumber daya dan

catatan-catatan

Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum membuat standar, prosedur dan operasi

atas pembatasan akses sumber daya dan catatan-catatan yang telah ditetapkan.

9)

Pendokumentasian

Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah memiliki sistem pengendalian intern yang

handal dimana semua transaksi dan kejadian penting lainnya telah

didokumentasikan secara memadai

4. Informasi dan Komunikasi

Terdapat dua unsur informasi dan komunikasi yang dievaluasi, yaitu:

1)

Menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi

Pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah terdapat organisasi/satuan kerja yang

khusus mengelola infrastruktur teknologi informasi. Terdapat penggunaan Sistem

Informasi Manajemen Keuangan Daerah (SIMDA) yang pada entitas fungsinya

masih terbatas pada pencatatan transaksi laporan keuangan seperti penerbitan

SPP dan SPM, sedangkan pada DPPK selaku SKPKD SIMDA digunakan sebagai

sarana untuk pencairan SP2D.

2)

Mengelola, mengembangkan, dan memperbarui sistem informasi secara terus

menerus

Pertukaran informasi keuangan antara DPPK selaku SKPKD dengan

entitas-entitas lain selaku SKPD melalui SIMDA masih dilaksanakan secara

manual/

offline

. Masing-masing SKPD di Kabupaten Sumbawa sudah menyajikan

Laporan Keuangan SKPD berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan

(14)

BPK PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

10

Catatan atas Laporan Keuangan, namun belum dapat digunakan sebagai bahan

untuk menyusun laporan keuangan konsolidasi berupa Neraca, LRA, dan CaLK

Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Sedangkan bentuk komunikasi untuk

mengkomunikasikan informasi pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa adalah

berbentuk pedoman, kebijakan, prosedur, surat edaran, papan pengumuman, dan

arahan lisan.

5. Pemantauan dan pengendalian

Pemantauan atau monitoring berkaitan dengan bagaimana Pemerintah Kabupaten

Sumbawa menilai dan mengevaluasi secara berkelanjutan terhadap desain dan

aktivitas SPI yang dilakukan sehingga sesuai dengan yang diharapkan seperti yang

ditetapkan dalam visi, misi, dan tujuan strategis. Terdapat tiga unsur pemantauan dan

pengendalian yang dievaluasi, yaitu:

1)

Pemantauan berkelanjutan

Metode pemantauan tidak memberikan penekanan kepada pejabat pelaksana

dalam memantau efektivitas SPI sehingga pengujian kembali tidak dilakukan

terhadap aktivitas SPI dalam menjaga atau mendeteksi setiap masalah yang

muncul.

2)

Evaluasi terpisah

Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum mengevaluasi seksi atau bagian tertentu

pengendalian intern secara periodik sehingga tidak ada evaluasi kejadian-kejadian

tertentu yang cukup berpengaruh signifikan hal ini disebabkan karena belum

memiliki metodologi untuk mengevaluasi pengendalian intern

.

3)

Pengendalian audit

Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah mempunyai pemikiran untuk melakukan

konsultasi kepada auditor dalam rangka membantu proses penyelesaian audit

yaitu dengan melakukan konsultasi untuk tindak lanjut atas rekomendasi hasil

pemeriksaan. Namun hasil pemeriksaan BPK RI belum seluruhnya ditindaklanjuti

sesuai rekomendasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih kurang optimalnya

peran Inspektorat Kabupaten Sumbawa dan Majelis Pertimbangan TP/TGR

.

Berdasarkan hasil evaluasi Sistem Pengendalian Intern atas Sistem Akuntansi dan

Pelaporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa dapat diketahui bahwa SPI telah

dirancang cukup memadai, namun implementasinya masih kurang efektif dalam semua

unsur SPI dan perlu ditingkatkan di masa mendatang. Kelemahan-kelemahan tersebut

telah mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan yang secara rinci diuraikan

dalam Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern

.

(15)

BAB II

HASIL PEMERIKSAAN

ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Hasil pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern pada Pemerintah Kabupaten

Sumbawa Tahun Anggaran 2011 mengungkapkan sebanyak 6 (enam) temuan

pemeriksaan, dengan rincian sebagai berikut

:

1.

Penatausahaan Aset Tetap tidak didukung data yang andal

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Neraca (

Unaudited)

per 31 Desember

2011 menyajikan saldo Aset Tetap sebesar Rp1.706.631.865.366,90. Berdasarkan hasil

pemeriksaan diketahui hal-hal sebagai berikut:

1)

Harga perolehan Aset Tetap dinilai sebesar Rp1,00

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Rekapitulasi Daftar Mutasi Barang

Milik Daerah Tahun 2011 diketahui bahwa 223 item Aset Tetap belum dilakukan

penilaian berdasarkan harga perolehan dan disajikan dengan nilai Rp1,00 per unit

dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 1

Daftar Rekapitulasi per Jenis Aset yang Bernilai Rp1,00

No

Jenis

Jumlah

1

Tanah

10

2

Peralatan dan Mesin

132

3

Gedung Bangunan

31

4

Jalan, Irigasi dan Jaringan

4

5

Aset Tetap Lainnya

46

Jumlah

223

Berdasarkan hasil penelusuran daftar rincian aset tetap diketahui bahwa item-item

aset tetap tersebut di atas tersebar pada tiga SKPD yakni Dinas Pendidikan Nasional

sebanyak 200 unit, Dinas Kesehatan sebanyak 1 unit, dan Badan Penanggulangan

Bencana Daerah sebanyak 22 unit dengan rincian pada Lampiran 1.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengurus Barang tiga SKPD di atas

diketahui bahwa item-item aset tetap yang bernilai Rp1,00 tersebut tidak didukung

dengan dokumen pendukung seperti faktur pembelian, Berita Acara Serah Terima

(BAST) dan bukti kepemilikan lainnya, sehingga tidak bisa disajikan nilai

perolehannya.

2)

Aset Tetap-Tanah tidak didukung akurasi data dan bukti kepemilikan

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Neraca (

Unaudited)

per 31 Desember

2011 menyajikan saldo Aset Tetap-Tanah sebesar Rp333.419.620.209,00.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokumen kepemilikan tanah dan hasil pemeriksaan

fisik diketahui permasalahan sebagai berikut:

(1)

Aset Tetap-Tanah Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebanyak 1.129 persil

dengan nilai sebesar Rp333.419.620.209,00 diketahui bermasalah. Adapun

permasalahan adalah sebagai berikut:

(16)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

12

(1))

Sebanyak 281 persil bersertifikat atas nama Pemda dengan nilai sebesar

Rp143.294.386.504,00.

(2))

Sebanyak 172 persil sedang dalam proses pembuatan sertifikat di Badan

Pertanahan Nasional (BPN) dengan nilai Rp63.697.535.123,00.

(3))

Sebanyak 676 persil tidak bersertifikat dengan nilai sebesar

Rp126.427.698.582,00.

Aset Tetap-Tanah sebanyak 1.129 persil dengan rincian pada Lampiran 2.1-

Lampiran 2.3.

(2)

Dari Aset Tetap-Tanah sebanyak 1.129 persil, diketahui diantaranya sebanyak

90 persil tidak memiliki harga perolehan (disajikan senilai Rp0,00) dengan

rincian pada Lampiran 3.

(3)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bagian Aset Sekretariat Daerah

diketahui terdapat Aset Tetap-Tanah Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebanyak

13 persil tanah dengan nilai Rp2.700.300.000,00 telah berpindah kepemilikan

ke instansi vertikal dengan rincian pada Lampiran 4. Atas permasalahan ini,

Bupati Sumbawa telah mengajukan usulan penghapusan kepada Ketua DPRD

berdasarkan Surat Bupati Sumbawa Nomor 029/014/ASET/2012 tanggal 1 Mei

2012.

(4)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bagian Aset Setda Kabupaten

Sumbawa diketahui bahwa terdapat 2 persil Tanah Pemda sedang dalam

sengketa hukum yakni tanah di SDN 2 Sumbawa seluas 4.984 m

2

sudah

bersertifikat dengan nilai sebesar Rp1.046.640.000,00 dan SDN Kebayan seluas

900m

2

belum bersertifikat dengan nilai sebesar Rp234.000.000,00 dan sampai

dengan pemeriksaan berakhir tanggal 2 Mei 2012 belum terdapat amar putusan

dari pengadilan.

3)

Penatausahaan Aset Tetap Peralatan Mesin - Kendaraan bermotor tidak tertib

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Neraca (

Unaudited)

per 31 Desember

2011 menyajikan Aset Tetap – Peralatan dan Mesin sebesar Rp208.968.753.158,00

diantaranya sebanyak 239 unit kendaraan bermotor dengan nilai sebesar

Rp37.828.852.000,00 tanpa didukung identitas kendaraan bermotor yang lengkap

(No. Polisi, No. Rangka dan No. Mesin).

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik atas kendaraan bermotor sebanyak 239 unit

kendaraan bermotor diketahui bahwa sebanyak 154 unit diketahui keberadaannya

sedangkan 85 unit kendaraan bermotor tidak dapat ditunjukkan pada saat

pemeriksaan fisik. Sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 2 mei 2012,

sebanyak 85 unit kendaraan bermotor tersebut tidak dapat ditunjukkan sehingga

tidak dapat diverifikasi lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lebih lanjut terhadap bukti kepemilikan kendaraan

(BPKB) diketahui BPKB yang disimpan oleh Bagian Aset Setda Kabupaten

Sumbawa sebanyak 161 BPKB dan belum didistribusikan penyimpanannya di

masing-masing Pengguna Barang.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:

1)

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pada Pasal

49 yang menyatakan bahwa Barang Milik Negara/Daerah yang berupa tanah yang

(17)

dikuasai Pemerintah Pusat/Daerah harus bersertifikat atas nama Pemerintah

RI/Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

2)

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan

Pemerintah Nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

pada Penjelasan Umum poin b yang menyatakan bahwa penilaian barang milik

negara/daerah diperlukan dalam rangka mendapatkan nilai wajar atau nilai pasar

sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Nilai wajar atau nilai pasar atas barang

milik negara/daerah yang diperoleh dari penilaian ini merupakan unsur penting

dalam rangka penyusunan neraca pemerintah, pemanfaatan dan

pemindahtanganan Barang Milik Negara/Daerah.

3)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis

Pengelolaan Barang Milik Daerah pada:

(1)

Pasal 5 ayat (1) yang menyatakan bahwa Kepala Daerah sebagai pemegang

kekuasaan pengelolaan barang milik daerah berwenang dan bertanggungjawab

atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah.

(2)

Pasal 6 ayat (2) yang menyatakan Sekretaris Daerah selaku pengelola, berwenang

dan bertanggungjawab antara lain:

(1))

Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi barang milik daerah.

(2))

Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik

daerah.

(3)

Pasal

6

ayat

(3)

yang

menyebutkan

bahwa

Kepala

Biro/Bagian

Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah bertanggungjawab

mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada

masing-masing SKPD.

(4)

Pasal 51 yang menyatakan bahwa penetapan nilai barang milik daerah dalam

rangka penyusunan neraca Pemerintah Daerah dilakukan dengan berpedoman

pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

(5)

Lampiran VII. Penatausahaan poin 1. Umum huruf d yang menyatakan bahwa

dokumen kepemilikan selain tanah dan/ atau bangunan disimpan oleh pengguna.

4)

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 71

Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan pada paragraf 20 yang

menyatakan bahwa aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset

tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset

tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.

Permasalahan tersebut mengakibatkan:

1)

Nilai saldo Aset Tetap atas 313 item (223 unit/persil + 90 persil) tidak diketahui

harga perolehannya.

2)

Potensi kehilangan aset daerah atas 13 persil Aset Tetap-Tanah yang dikuasai

instansi vertikal sebesar Rp2.700.300.000,00.

3)

Aset Tetap-Tanah sebanyak 676 persil senilai Rp126.427.698.582,00 berpeluang

disalahgunakan dan diklaim oleh pihak lain.

4)

Aset Tetap-Peralatan dan Mesin berupa kendaraan bermotor sebanyak 85 unit tidak

dapat dipantau kondisi dan kepemilikannya, serta berpeluang disalahgunakan.

(18)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

14

Permasalahan tersebut disebabkan oleh:

1)

Sekretaris Daerah selaku pengelola kurang optimal dalam melakukan pengawasan

dan pengendalian dalam hal penilaian, pengamanan, dan penyimpanan Barang Milik

Daerah (BMD).

2)

Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) kurang optimal dalam

melakukan pengawasan dan pengendalian dalam hal penilaian, pengamanan, dan

penyimpanan Barang Milik Daerah (BMD).

3)

Kepala SKPD terkait kurang optimal melakukan pengawasan dan pengendalian

kepada bawahannya.

4)

Kepala Bagian Aset lalai dalam melakukan pengelolaan dan pengawasan Barang

Milik Daerah (BMD).

5)

Kepala Sub Bagian Inventarisasi dan Pelaporan lalai dalam melakukan pengelolaan

dan pengawasan Barang Milik Daerah (BMD).

6)

Seluruh Pengurus Barang SKPD lalai dalam melakukan prosedur penatausahaan,

pemeliharaan dan pengamanan Barang Milik Daerah sesuai peraturan yang berlaku.

Atas permasalahan tersebut Bupati Sumbawa menyatakan sependapat atas

permasalahan tersebut di atas dan akan melakukan perbaikan sesuai rekomendasi BPK.

BPK merekomendasikan Bupati Sumbawa agar memberikan sanksi sesuai

dengan ketentuan yang berlaku kepada:

1)

Sekretaris Daerah selaku pengelola barang atas kelalaiannya dan selanjutnya agar

meningkatkan pengawasan dan pengendalian secara optimal dalam hal penilaian,

pengamanan, dan penyimpanan Barang Milik Daerah (BMD).

2)

Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian secara optimal dalam

hal penilaian, pengamanan, dan penyimpanan Barang Milik Daerah (BMD).

3)

Kepala SKPD Terkait atas kelalaiannya dan selanjutnya agar meningkatkan

pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi kinerja bawahannya.

4)

Kepala Bagian Aset atas kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih optimal mengelola

dan menatausahakan pengawasan Barang Milik Daerah (BMD).

5)

Kepala Sub Bagian Inventarisasi dan Pelaporan atas kelalaiannya dan selanjutnya

agar lebih cermat mengelola dan menatausahakan pengawasan Barang Milik Daerah

(BMD).

6)

Seluruh Pengurus Barang SKPD atas kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih cermat

dalam melakukan prosedur penatausahaan, pemeliharaan dan pengamanan Barang

Milik Daerah sesuai peraturan yang berlaku.

2.

Penyajian Investasi Dana Bergulir Hewan Ternak dan Pola PAD tidak dapat diuji

dan ditelusuri sebesar Rp7.329.566.450,00

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Neraca (

Unaudited)

per 31 Desember

2011 menyajikan saldo Investasi Non Permanen sebesar Rp11.762.859.591,00 yang

terdiri dari Dana Bergulir Pola Pendapatan Asli Daerah pada 5 (lima) SKPD yaitu Dinas

Koperasi Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Peternakan, Dinas Kelautan dan

Perikanan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Badan Pemberdayaan Masyarakat

dan Pemerintahan Desa dengan total nilai sebesar Rp5.040.784.591,00 serta Dana

(19)

Bergulir berupa hewan ternak di Dinas Peternakan sebesar Rp6.722.075.000,00.

Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui hal-hal sebagai berikut:

1)

Saldo Investasi Non Permanen-Dana Bergulir Hewan Ternak tidak berdasarkan

harga perolehan dan tidak didukung dengan surat perjanjian.

Berdasarkan hasil penelusuran atas saldo Investasi Non Permanen-Dana Bergulir

berupa hewan ternak sebanyak 1.676 ekor dengan nilai sebesar Rp6.722.075.000,00

di Dinas Peternakan diketahui bahwa Dinas Peternakan tidak menatausahakan secara

tertib surat perjanjian antara SKPD dan penerima dana bergulir dan saldo dana

bergulir sebesar Rp6.722.075.000,00 tersebut tidak didasarkan atas harga perolehan

tetapi didasarkan harga pasar TA 2011 yang ditetapkan oleh Dinas Peternakan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola dana bergulir hewan ternak

yaitu Kepala Seksi Pengembangan dan Penyebaran Ternak Dinas Peternakan

diketahui bahwa pengelola kesulitan dalam memutakhirkan data penerima dana

bergulir hewan ternak dan belum melakukan penatausahaan dokumen secara

memadai.

Tim pemeriksa telah melaksanakan prosedur alternatif dengan melakukan cek

fisik hewan ternak ke kelompok penerima dana bergulir, namun jumlah dan harga

perolehan tidak dapat diverifikasi dan divalidasi atas hewan ternak yang diserahkan

ke kelompok penerima dana bergulir.

Sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 2 Mei 2012, pengelola dana

bergulir hewan ternak tidak dapat memberikan penjelasan dan dukungan data yang

valid untuk saldo yang tercatat di neraca per 31 Desember 2011.

2)

Saldo Dana Bergulir Pola PAD tidak didukung data dan surat perjanjian dengan

penerima dana bergulir.

Berdasarkan hasil penelusuran atas Saldo Investasi Non Permanen-Dana Bergulir

pola PAD sebesar Rp607.491.450,00 di Badan Pemberdayaan Masyarakat dan

Pemerintahan Desa (BPM-PD) diketahui saldo Investasi Non Permanen-Dana

Bergulir pola PAD tidak didukung data dan surat perjanjian dengan penerima dana

bergulir pola PAD.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Sekretaris BPM-PD Kabupaten Sumbawa

diketahui bahwa dana bergulir pola PAD tersebut disalurkan pada tahun 2003 yang

dialokasikan di seluruh desa di wilayah Kabupaten Sumbawa. Surat perjanjian dan

data penerima dana bergulir tersebut sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 2

Mei 2012 tidak diketahui keberadaannya.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:

1)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 terakhir telah diubah dengan

Permendagri Nomor 21 tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

pada pasal 10 yang menyatakan bahwa Kepala SKPD selaku pejabat pengguna

anggaran/pengguna barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf c

mempunyai tugas pada huruf i yaitu mengelola utang dan piutang yang menjadi

tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya.

2)

Buletin teknis Standar Akuntansi Pemerintahan No. 7 tentang Akuntansi Dana

Bergulir pada Bab V penyajian dan pengungkapan dana bergulir huruf A penyajian

dana bergulir paragraf 2 yang menyatakan bahwa Dana bergulir disajikan di neraca

sebagai investasi jangka panjang-investasi non permanen-dana bergulir. Pada saat

(20)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

16

harga perolehan dana bergulir, dana bergulir dicatat sebesar harga perolehan dana

bergulir.

Permasalahan tersebut mengakibatkan saldo Investasi Non Permanen Dana

Bergulir Hewan Ternak dan Pola PAD yang disajikan pada Neraca Pemerintah

Kabupaten

Sumbawa

per

31

Desember

2011

sebesar

Rp7.329.566.450,00

(Rp6.722.075.000,00 + Rp607.491.450,00) tidak dapat diyakini kewajarannya.

Permasalahan tersebut disebabkan oleh:

1)

Kepala Dinas Peternakan kurang optimal melakukan pengawasan dan pengendalian

dalam mengawasi penatausahaan investasi non permanen dana bergulir hewan

ternak.

2)

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPM-PD) kurang

optimal melakukan pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi penatausahaan

investasi non permanen dana bergulir Pola PAD.

3)

Kepala Bidang Produktivitas dan Pengembangan Ternak kurang optimal melakukan

pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi penatausahaan investasi non

permanen dana bergulir hewan ternak.

4)

Kepala Bidang Pemerintahan Desa dan Kelurahan BPM-PD kurang optimal

melakukan pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi penatausahaan investasi

non permanen dana bergulir Pola PAD.

5)

Kepala Seksi Pengembangan dan Penyebaran Ternak Dinas Peternakan kurang

cermat menatausahakan dokumen perjanjian dana bergulir hewan ternak yang ada

dalam penguasaannya.

6)

Kepala Seksi Kelembagaan dan Kekayaan Desa BPM-PD kurang cermat

menatausahakan dokumen perjanjian dana bergulir pola PAD yang ada dalam

penguasaannya.

Atas permasalahan tersebut Bupati Sumbawa menyatakan dana bergulir yang

dikelola oleh BPM-PD tidak didukung data yang akurat karena dokumen terkait dengan

dana bergulir tersebut tidak diketahui keberadaannya dan dana bergulir berupa hewan

ternak masih terdapat kelemahan dalam sistem pelaporan dan pemutakhiran data.

BPK merekomendasikan Bupati Sumbawa agar memberikan sanksi sesuai

dengan ketentuan yang berlaku:

1)

Kepala Dinas Peternakan atas kelalaiannya dan selanjutnya agar meningkatkan

pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi kinerja bawahannya.

2)

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPM-PD) atas

kelalaiannya dan selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian

dalam mengawasi kinerja bawahannya.

3)

Kepala Bidang Produktivitas dan Pengembangan Ternak atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi

kinerja bawahannya.

4)

Kepala Bidang Pemerintahan Desa dan Kelurahan BPM-PD atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam mengawasi

kinerja bawahannya.

(21)

5)

Kepala Seksi Pengembangan dan Penyebaran Ternak Dinas Peternakan atas

kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih cermat dalam menatausahakan dokumen

perjanjian dana bergulir hewan ternak yang ada dalam penguasaannya.

6)

Kepala Seksi Kelembagaan dan Kekayaan Desa BPM-PD atas kelalaiannya dan

selanjutnya agar lebih cermat dalam menatausahakan dokumen perjanjian dana

bergulir pola PAD yang ada dalam penguasaannya.

3.

Belanja Pemeliharaan dianggarkan dan direalisasikan melalui Belanja Modal serta

realisasi Belanja Jasa Konsultan tidak dikapitalisasi sebagai penambah Aset Tetap

masing-masing sebesar Rp1.814.242.018,00 dan Rp6.316.200.213,00

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Laporan Realisasi Anggaran (

Unaudited

)

per 31 Desember 2011 menganggarkan Belanja Barang dan Jasa sebesar

Rp140.632.729.464,01 dan telah direalisasikan sebesar Rp121.019.285.558 atau 86,05%.

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas realisasi Belanja Barang dan Jasa diketahui terdapat

sebesar Rp6.316.200.213,00 yang direalisasikan sebagai belanja konsultan perencana dan

konsultan pengawas yang merupakan komponen dari belanja modal.

Berdasarkan hasil pengujian mutasi tambah-kurang aset tetap pada neraca,

diketahui bahwa belanja konsultan perencana dan konsultan pengawas sebesar

Rp6.316.200.213,00 tersebut tidak dapat dirinci sesuai sub/jenis belanja modalnya,

sehingga nilai belanja konsultan perencana dan konsultan pengawas tersebut belum

masuk sebagai komponen penambah aset tetap.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Laporan Realisasi Anggaran (

Unaudited

)

per

31

Desember

2011

juga

menganggarkan

Belanja

Modal

sebesar

Rp208.794.645.691,80 dan telah merealisasikannya sebesar Rp171.627.492.281,00 atau

82,20%. Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui terdapat komponen belanja barang

yang direalisasikan melalui belanja modal dengan uraian pada tabel berikut ini:

Tabel 2

Daftar Belanja Barang dan Jasa yang Direalisasikan Melalui Belanja Modal

No

Nama SKPD

Jumlah (Rp)

Keterangan

1

Dinas Pekerjaan Umum

1.765.835.000,00

Direalisasikan untuk pemeliharaan rutin

2

Diskoperindag

48.407.018,00

Direalisasikan untuk pengadaan sembako pasar murah

Jumlah

1.814.242.018,00

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bagian Aset diketahui bahwa atas

perlakuan yang berbeda tersebut belum ditetapkan kebijakan yang jelas mengenai

prosedur kapitalisasi aset.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:

1)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, terakhir telah diubah dengan

Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

pada:

(1)

Pasal 52 ayat (1) menyatakan bahwa belanja barang/jasa sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 50 huruf b digunakan untuk menganggarkan pengadaan barang

dan jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dalam

melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah, termasuk barang

yang akan diserahkan atau dijual kepada masyarakat atau pihak ketiga.

(22)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

18

(2)

Pasal 53 ayat (1) menyatakan bahwa belanja modal sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 50 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam

rangka pengadaan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari

12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan dan ayat (2)

yang intinya menyatakan bahwa nilai aset tetap berwujud yang dianggarkan

dalam belanja modal sebesar harga beli/bangun aset ditambah seluruh belanja

yang terkait dengan pengadaan/pembangunan aset sampai aset tersebut siap

digunakan.

2)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pedoman

Penyusunan APBD Tahun 2009 pada Bab II Nomor 2 mengenai Belanja Daerah

terkait Belanja Langsung dijelaskan pada Point 5 tentang Belanja Modal menyatakan

bahwa untuk penganggaran belanja modal tidak hanya sebesar harga beli/bangun

asset tetapi harus ditambah seluruh belanja yang terkait dengan pengadaan/

pembangunan aset sampai aset tersebut siap digunakan.

3)

Buletin Teknis SAP 04 tentang Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah

pada Bab V poin C, Nomor 2, Huruf b tentang Konsep Nilai Perolehan yang

menyatakan bahwa Komponen belanja modal untuk perolehan aset tetap meliputi

harga beli aset tetap ditambah semua biaya lain yang dikeluarkan sampai aset tetap

tersebut siap untuk digunakan, misalnya biaya transportasi, biaya uji coba, dan

lain-lain. Demikian juga pengeluaran untuk belanja perjalanan dan jasa yang terkait

dengan perolehan aset tetap atau aset lainnya, termasuk di dalamnya biaya konsultan

perencana, konsultan pengawas, dan pengembangan perangkat lunak (software),

harus ditambahkan pada nilai perolehan.

Permasalahan tersebut mengakibatkan Belanja Modal dan Belanja Barang dan

Jasa Tahun Anggaran 2011 masing-masing sebesar Rp1.814.242.018,00 dan

Rp6.316.200.213,00 tidak menunjukkan kondisi yang sewajarnya.

Permasalahan tersebut disebabkan oleh:

1)

Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Sumbawa kurang cermat

dalam melakukan evaluasi anggaran sesuai ketentuan tentang Belanja Modal

Pemeliharaan dan Belanja Jasa Konsultansi.

2)

Kepala SKPD kurang cermat dalam mengusulkan anggaran Belanja Modal

Pemeliharaan dan Belanja Jasa Konsultansi.

Atas permasalahan tersebut Bupati Sumbawa menyatakan mengakui kekurangan

dalam hal penganggaran dan realisasi belanja modal yang hanya menganggarkan belanja

modal sebesar harga beli atau bangun aset, belum mencakup seluruh belanja terkait

dengan pengadaan aset sampai siap digunakan dan akan dilakukan perbaikan pada

penyusunan APBD untuk tahun mendatang.

BPK merekomendasikan Bupati Sumbawa agar memberikan sanksi sesuai

dengan ketentuan yang berlaku kepada:

1)

Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Sumbawa atas kelalaiannya

dan selanjutnya agar lebih cermat dalam melakukan evaluasi anggaran sesuai

ketentuan tentang Belanja Modal Pemeliharaan dan Belanja Jasa Konsultansi.

(23)

2)

Kepala SKPD atas kelalaiannya dan selanjutnya agar lebih cermat dalam

mengusulkan anggaran Belanja Modal Pemeliharaan dan Belanja Jasa Konsultansi.

4.

Pengelolaan Dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM dan Dana

Kapitasi PT Askes dilakukan tanpa melalui mekanisme APBD

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Laporan Realisasi Anggaran (

Unaudited

)

per 31 Desember 2011 menganggarkan pendapatan dan belanja daerah sebesar

Rp839.716.704.059,70 dan Rp880.344.049.379,36 Sampai dengan 31 Desember 2011

telah

direalisasikan

sebesar

Rp837.080.583.562,25

atau

99,69%

dan

Rp798.243.086.424,55 atau 90,68%.

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten

Sumbawa TA 2010, BPK melaporkan terdapat kelemahan sistem pengendalian intern

yaitu pengelolaan Dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB dan dana kapitasi

PT Askes dilakukan tanpa melalui mekanisme APBD. Atas temuan tersebut, BPK

menyarankan Bupati Sumbawa agar memerintahkan Pengguna Anggaran RSUD dan

Dinas Kesehatan serta TAPD untuk menganggarkan pendapatan dan belanja dana

Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB, dan dana kapitasi PT Askes dalam APBD.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah menindaklanjuti temuan tersebut dengan

menganggarkannya di dalam APBD Perubahan Tahun Anggaran 2011.

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan dana Jamkesmas pusat,

Jamkesmas NTB, SKTM, dan dana kapitasi PT Askes pada RSUD Sumbawa dan

Puskesmas di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa diketahui bahwa dana hasil

klaim atas pelayanan kesehatan pada RSUD Sumbawa dan Puskesmas tahun 2011 belum

seluruhnya dikelola melalui mekanisme APBD dengan penjelasan sebagai berikut:

1)

Pengelolaan dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas NTB (BKSPJK), SKTM, dan dana

kapitasi PT Askes pada RSUD Sumbawa

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pencatatan penerimaan dan penggunaan

dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM, dan dana kapitasi PT

Askes yang dikelola oleh bendahara pengelola Jamkesmas/Jamkesmas NTB/Askes

RSUD Sumbawa diketahui hal-hal sebagai berikut:

Tabel 3

Daftar penerimaan dan pengeluaran dana Jamkesmas, Jamkesmas NTB, Askes, dan SKTM

pada RSUD Sumbawa

No

Uraian

Total Penerimaan Klaim

Total Belanja

digunakan

langsung

Sisa Kas per

31/12/2011

Sisa Kas per

31/12/2010

Klaim tahun

2011

Jumlah

1

Jamkesmas

161.154.035,00

6.132.560.442,00

6.293.714.477,00

5.358.073.858,00

746.177,00

2

Jamkesmas NTB

115.284.043,00

1.594.827.209,00

1.710.111.252,00

1.708.554.722,00

1.556.530,00

3

Askes

54.797.037,00

1.905.333.000,00

1.960.130.037,00

1.959.894.798,00

235.239,00

4

SKTM

0.00

4.121.272.313,00

4.121.272.313,00

3.943.481.241,00

177.791.072,00

Jumlah

331.235.115,00

13.753.992.964,00 14.085.228.079,00

12.970.004.619,00

180.329.018,00

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas penerimaan hasil klaim pelayanan

kesehatan untuk Jamkesmas pusat, Jamkesmas NTB, SKTM, dan dana kapitasi PT

Askes diketahui bahwa penerimaan hasil klaim pelayanan kesehatan tahun 2011

sebesar Rp14.085.228.079,00.

(24)

BPK RI PERWAKILAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

20

Berdasarkan hasil penelusuran penerimaan hasil klaim pelayanan kesehatan

sebesar Rp14.085.228.079,00 tersebut terinci sebagai berikut:

Tabel 4

Daftar Penerimaan Hasil Klaim Dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas NTB, SKTM, dan

dana kapitasi Askes pada RSUD Sumbawa

No

Uraian

Jumlah

Ket

1

Tidak disetor ke kas daerah (tidak

melalui mekanisme APBD)

12.970.004.619,00

Penerimaan atas klaim bulan

Januari s.d September 2011

2

Disetor ke kas daerah (melalui

mekanisme APBD)

934.894.442,00

Penerimaan atas klaim bulan

Oktober s.d Desember 2011

3

Kas di Bendahara pengelola

180.329.018,00

Sisa penerimaan klaim yang

belum dipergunakan

Jumlah

14.085.228.079,00

2)

Pengelolaan dana Jamkesmas pusat, Jamkesmas NTB (BKSPJK), dana kapitasi PT

Askes, dan Bantuan Sosial Bagi Pasien Kurang Mampu (SKTM) pada Dinas

Kesehatan.

Pemeriksaan atas dokumen pada pengelola Jamkesmas, Jamkemas NTB

(BKSPJK) dan SKTM, serta Bendahara penerimaan Dinas Kesehatan yang

mengelola dana kapitasi PT Askes diketahui bahwa atas penerimaan dan penggunaan

dana jaminan kesehatan pada Dinas Kesehatan diungkapkan permasalahan sebagai

berikut:

Tabel 5

Daftar penerimaan dan pengeluaran dana Jamkesmas, Jamkesmas NTB, Askes, dan SKTM

pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa

No

Uraian

Penerimaan Klaim tahun 2011

Penggunaan Klaim tahun 2011

Sisa Kas per

31/12/2011

Tidak masuk ke

RKUD

Masuk ke RKUD

Digunakan

langsung

Melalui mekanisme

SP2D

1

2

3

4

5

6

7=(3+4) -

(5+6)

1

Jamkesmas

2.040.862.000,00

1.146.843.000,00

2.040.862.000,00

1.146.843.000,00

0,00

2

Jamkesmas

NTB

142.074.500,00

39.281.500,00

142.074.500,00

39.281.500,00

0,00

3

Askes

374.695.000,00

228.670.000,00

374.695.000,00

228.670.000,00

0,00

4

SKTM

303.924.500,00

303.924.500,00

0,00

TOTAL

2.861.556.000,00

1.414.794.500,00

2.861.556.000,00

1.414.794.500

0,00

Berdasarkan hasil wawancara dengan Anggota Tim Pengelola Jamkesmas,

Jamkesmas NTB/SKTM, dan Bendahara Penerimaan Dinas Kesehatan (Askes)

diketahui bahwa pada tahun 2011, pengelolaan dana Jamkesmas pusat, Jamkesmas

NTB dan dana kapitasi PT Askes tidak melalui mekanisme APBD sebesar

Rp2.861.556.000,00 dan digunakan langsung untuk belanja pelayanan kesehatan di

25 Puskesmas. Penerimaan dana hasil klaim atas pelayanan kesehatan tersebut tidak

disetorkan ke kas daerah dan seluruhnya digunakan langsung sebagai realisasi

belanja pada masing-masing Puskesmas. Realisasi penerimaan dan penggunaan

langsung dana Jamkesmas Pusat, Jamkesmas NTB, SKTM dan kapitasi PT Askes

(25)

oleh Puskesmas tersebut tidak dicatat sebagai realisasi pendapatan dan belanja dalam

Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kabupaten Sumbawa Tahun Anggaran

2011.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:

1)

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

pada:

(1)

Pasal 17 ayat (1), yang menyebutkan bahwa semua penerimaan dan pengeluaran

daerah baik dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa dianggarkan dalam APBD.

(2)

Pasal 110 yang menyebutkan bahwa semua transaksi penerimaan dan

pengeluaran daerah dilaksanakan melalui Rekening Kas Umum Daerah.

2)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah pada:

(1)

Pasal 122 ayat (1) yang menyebutkan bahwa semua penerimaan daerah dan

pengeluaran daerah dalan rangka pelaksanaan urusan pemerintah daerah dikelola

dalam APBD.

(2)

Pasal 122 ayat (3) yang menyebutkan bahwa penerimaan SKPD dilarang

digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh

peraturan perundang-undangan.

(3)

Pasal 127 ayat (1) yang menyebutkan bahwa semua pendapatan daerah

dilaksanakan melalui rekening umum kas daerah.

3)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2010 tentang Pedoman

Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2011, pada Lampiran pokok-pokok kebijakan

penyusunan APBD tentang pendapatan daerah, yaitu Dalam hal daerah telah

membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) seperti Rumah Sakit Daerah,

maka penerimaan rumah sakit tersebut dicantumkan dalam APBD sebagai jenis

pendapatan Lain-lain PAD Yang Sah, sedangkan bagi rumah sakit yang belum

menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD, maka penerimaan Rumah Sakit

tersebut termasuk pelayanan masyarakat miskin melalui Jaminan Kesehatan

Masyarakat (JAMKESMAS) dicantumkan dalam APBD sebagai jenis retribusi.

Permasalahan tersebut mengakibatkan:

1)

Realisasi pendapatan sebesar Rp13.150.333.637,00 (Rp14.085.228.079,00 -

Rp934.894.442,00), belanja sebesar Rp12.970.004.619,00 dan kas sebesar

Rp180.329.018,00 tidak menunjukkan kondisi yang sewajarnya pada LRA RSUD

Sumbawa TA 2011.

2)

Realisasi pendapatan dan belanja pada Laporan Realisasi Anggaran Dinas Kesehatan

Kabupaten Sumbawa TA 2011 tidak menunjukkan kondisi yang sewajarnya sebesar

Rp2.861.556.000,00.

Permasalahan tersebut disebabkan oleh:

1)

Direktur RSUD dan Kepala Dinas Kesehatan Sumbawa kurang cermat dalam

mengusulkan anggaran penerimaan dan belanja daerah atas pelayanan kesehatan

program Jamkesmas Pusat, Jamkesmas Provinsi NTB, SKTM dan Kapitasi PT

Akses.

Referensi

Dokumen terkait

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) merupakan salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak usia dini (0-8 tahun) yang dilakukan melalui pemberian

Dari hasil pembuatan aplikasi portfolio mahasiswa yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan yaitu secara umum aplikasi ini menghasilkan nilai guna yang

Sebagai analisis inilah pengelola dapat melakukan strategi daerah yang mempunyai potensi mendatangkan pemasaran Pesona Alam Sendang Kumitir agar tempat pengunjung

Tabel 8.1 MATRIKS RPIJM (Hasil Review) BIDANG CIPTA KARYA TAHUN 2017 S/D 2021.. MINAHASA

HARGO SUKSES MANDIRI dengan menggunakan aplikasi website e-marketing untuk menarik banyak pelanggan atau perusahaan lain untuk memakai jasa keamanan... 32 • WO Strategies

1.2.3 Apakah kadar timbal pada gorengan rakik udang tersebut memenuhi syarat atau tidak untuk dikonsumsi berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan Kepala BPOM

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh secara serempak maupun parsial antara produksi, luas lahan, kurs Dollar Amerika Serikat dan iklim

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis secara simultan (Uji F) terdapat pengaruh tidak signifikan antara produksi karet alam domestik, harga karet alam internasional,