Port
Reception
Facilities
Daftar Isi
1 Pendahuluan
2 Klasifikasi Limbah
3 Kriteria Pelabuhan
4 Pengelolaan RF
4 Persyaratan Limbah B3
Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 MARPOL 73/78
Latar Belakang
• Perlindungan dan pelestarian lingkungan maritim, khususnya pencegahan pencemaran dari kapal, telah
menjadi isu internasional sejak era 1950-an1:
• International Convention for the Prevention of Pollution of the Sea by Oil, 1954 (OILPOL 54) adalah
konvensi internasional pertama yang mengatur pencemaran minyak dari kapal.
• International Convention for the Prevention of Pollution from Ships, 1973, as modified by the Protocol of 1978 relating thereto (MARPOL 73/78), yang kemudian diamandemen oleh Protocol of 1997, adalah konvensi internasional pengganti OILPOL 54 yang berlaku hingga saat ini.
• MARPOL 73/78 membatasi jenis dan jumlah limbah dari kapal yang dapat dibuang ke laut. Untuk mencegah kapal melakukan pembuangan limbah secara illegal, MARPOL 73/78 mewajibkan adanya
reception facility di pelabuhan untuk menampung limbah dari kapal yang tidak dapat dibuang ke laut.
• Reception Facility didefinisikan sebagai segala bentuk fasilitas tetap, terapung atau bergerak yang dapat menampung limbah MARPOL dari kapal.
“Any fixed, floating or mobile facility capable of receiving MARPOL residues/wastes from ships and fit for
that purpose”. Sumber: MEPC.1/Circ.671 Guide to Good Practice for Port Reception Facility Providers and
Users, IMO (2009).
• Penerapan MARPOL 73/78 di Indonesia disahkan dalam Keppres 46/1986 dan Perpres 29/2012. Ketentuan mengenai reception facility diatur dalam Permen LH 05/2009 tentang Pengelolaan Limbah di Pelabuhan.
MARPOL 73/78
• MARPOL 73/78 merupakan konvensi yang terbentuk dari beberapa konferensi yang diselenggarakan oleh
International Maritime Organization (IMO). Perincian kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
Konferensi Tahun Konvensi yang dihasilkan
International Conference on Marine Pollution
1973 • International Convention for the Prevention of Pollution from Ships
• Protocol I (Provision concerning Reports on Incidents Involving Harmful Substances)
• Protocol II (Arbitration) International Conference on
Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP Conference)
1978 • International Convention for the Prevention of Pollution from Ships, 1973, as modified by the Protocol of 1978 relating thereto (MARPOL 73/78)
• Annex I – Oil
• Annex II – Noxious Liquid Substances in Bulk
• Annex III – Harmful Substances Carried by Sea in Packaged Form
• Annex IV – Sewage
• Annex V – Garbage International Conference of
Parties to the MARPOL 73/78 Convention
1997 • Protocol of 1997 to amend MARPOL 73/78 • Annex VI – Air Pollution
Permen LH 05/2009
• Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Limbah di Pelabuhan
adalah peraturan terkini yang mengatur implementasi MARPOL 73/78 di Indonesia. • Pokok pikiran dalam peraturan ini:
• Pasal 1 menguraikan istilah dan definisi yang digunakan dalam peraturan ini • Pasal 3 mengatur prosedur penyerahan limbah dari kapal ke pelabuhan • Pasal 4 mengatur prosedur notifikasi penyerahan limbah
• Pasal 5 menyebutkan jenis limbah yang diatur dalam peraturan ini • Pasal 6 mengatur sertifikat penyerahan limbah
• Pasal 7 menyebutkan kriteria pelabuhan yang harus menyediakan fasilitas pengelolaan limbah • Pasal 10 mengatur pelaporan neraca limbah
• Peraturan ini ditetapkan sebelum ratifikasi Annex III-VI MARPOL 73/78, sehingga mewajibkan fasilitas pengelolaan limbah untuk Annex I dan Annex II saja.
Klasifikasi Limbah
1 Annex MARPOL
2 Limbah Annex I
Annex MARPOL
Annex Ketentuan RF Mulai berlaku Keterangan
Annex I
Oil
Regulation 12 2 Oktober 1983 Annex WAJIB
• Harus dipenuhi oleh negara yang meratifikasi konvensi • Diratifikasi dalam Keputusan
Presiden No. 46 Tahun 1986 Annex II
Noxious liquid substances (NLS) in bulk
Regulation 7 6 April 1987
Annex III
Harmful substances in packaged forms
Tidak diatur 1 Juli 1992 Annex PILIHAN
• Annex yang dapat ditolak oleh negara yang meratifikasi konvensi (sesuai Article 14 MARPOL 73/78)
• Ditolak dalam Keppres
46/1986
• Diratifikasi dalam Peraturan
Presiden No. 29 Tahun 2012 Annex IV Sewage Regulation 10 27 September 2003 Annex V Garbage Regulation 7 31 Desember 1988 Annex VI Air pollution Regulation 17 19 Mei 2005
Sumber: IMO, 2006. MARPOL 73/78 Consolidated Edition. London: IMO.
Catatan:
1. Limbah Annex III tidak ditampung dalam RF.
Limbah Annex I
Jenis limbah Volume
(estimasi) Keterangan
Annex I Limbah berminyak
Dirty ballast water
Single hull Tanker 30% DWT Air ballast kotor dari tangki kapal tanker berlambung tunggal atau atau tanker dengan segregated ballast tank (SBT).
Tanker with SBT 10 % DWT
Oily tank washings (slops) 4-8% DWT Air bercampur minyak dari kegiatan pencucian tangki kapal tanker.
Oily bilge water 1-10 m3 Air bercampur minyak yang terkumpul pada ruang
bilga
Oily residues (sludge)
Liquid oil residues 0,2-1% DWT Limbah berminyak yang dihasilkan dari operasi kapal
seperti sisa pemurnian, hasil penyaringan minyak,
limbah yang terkumpul di baki tumpahan (drip trays) dan limbah sisa pelumas.
Sludge 2-3% DFC
Scale & sludge from tank cleaning
(oily solids) 0,01-0,1% DWT
Limbah berminyak berbentuk padatan yang tersisa dari kegiatan pencucian tangki kapal tanker.
Sumber: IMO, 1999. Comprehensive Manual on Port Reception Facilities. London: IMO.
Catatan:
1. Limbah Annex III tidak ditampung dalam RF.
Limbah Annex II dan Annex V
Jenis limbah Volume(estimasi) Keterangan
Annex II Cairan kimia berbahaya dalam bentuk curah
NLS water mixture from tank washing
Category X 0,2-3% DWT
Air bercampur limbah dari kegiatan pencucian tangki kapal tanker.
Category Y 0,1-1,2% DWT
Annex V Sampah
Domestic waste
Cargo ships 1,5 kg/pax Semua jenis sampah dari akomodasi
penumpang/awak kapal, misalnya sampah makanan, sampah medis, plastik, kaleng, botol, kertas, kardus,
dll.
Passenger ships 3,0 kg/pax
Operational waste
Cargo associated
waste
-Limbah sisa kegiatan bongkar muat kargo, misalnya palet, dunnage, shoring, lining dan strapping.
Maintenance waste - Limbah sisa perawatan mesin dan dek kapal, misalnya suku cadang bekas, karat, cat, dll. Cargo residues - Limbah sisa kargo yang tidak diatur oleh Annex
lainnya.
Sumber: IMO, 1999. Comprehensive Manual on Port Reception Facilities. London: IMO.
Catatan:
1. Limbah Annex III tidak ditampung dalam RF.
Kriteria Pelabuhan yang harus dilengkapi RF
1 Kriteria Umum
2 Menurut MARPOL
Kriteria Pelabuhan yang harus dilengkapi RF
Jenis limbah MARPOLke Reception Facility
Pelabuhan Curah Cair
Fasilitas Perbaikan Kapal Fasilitas Pencucian Tangki
Pelabuhan Lainnya Catatan
Annex I
Oil Semua
Oily bilge water
Oil residue (sludge) WAJIB dilengkapi RF menurut Permen LH
05/2009
Annex II
Noxious liquid substances (NLS) in bulk
Semua Tidak ada
Annex III Harmful substances in packaged forms Tidak ada DAPAT dilengkapi RF menurut Permen LH 05/2009 Annex IV Sewage Semua Annex V Garbage Semua Annex VI
Air pollution Semua Tidak ada
Sumber: IMO, 2006. MARPOL 73/78 Consolidated Edition. London: IMO.
Catatan:
1. Limbah Annex III tidak ditampung dalam RF.
Kriteria Pelabuhan RF menurut MARPOL (1/3)
Annex I Regulation 12
1. Subject to the provisions of regulation 10 of this Annex, the Government of each Party undertakes to
ensure the provision at oil loading terminals, repair ports, and in other ports in which ships have oily
residues to discharge, of facilities for the reception of such residues and oily mixtures as remain from oil tankers and other ships adequate to meet the needs of the ships using them without causing undue delay
to ships.
2. Reception facilities in accordance with paragraph (1) of this regulation shall be provided in:
a. all ports and terminals in which crude oil is loaded into oil tankers where such tankers have
immediately prior to arrival completed a ballast voyage of not more than 72 hours or not more than 1,200 nautical miles;
b. all ports and terminals in which oil other than crude oil in bulk is loaded at an average quantity of more than 1,000 metric tons per day;
c. all ports having ship repair yards or tank cleaning facilities;
d. all ports and terminals which handle ships provided with the sludge tank(s) required by regulation 17 of this Annex;
e. all ports in respect of oily bilge waters and other residues, which cannot be discharged in accordance with regulation 9 of this Annex; and
f. (f) all loading ports for bulk cargoes in respect of oil residues from combination carriers which cannot be discharged in accordance with regulation 9 of this Annex.
Kriteria Pelabuhan RF menurut MARPOL (2/3)
Annex II Regulation 7
The Government of each Party to the Convention undertakes to ensure the provision of reception facilities according to the needs of ships using its ports, terminals or repair ports as follows:
a. cargo loading and unloading ports and terminals shall have facilities adequate for reception without
undue delay to ships of such residues and mixtures containing noxious liquid substances as would remain for disposal from ships carrying them as a consequence of application of this Annex; and
b. ship repair ports undertaking repairs to chemical tankers shall have facilities adequate for the reception of residues and mixtures containing noxious liquid substances.
Annex IV Regulation 10
The Government of each Party to the Convention undertakes to ensure the provision of facilities at ports and
terminals for the reception of sewage, without causing undue delay to ships, adequate to meet the needs of the
ships using them.
Annex V Regulation 7
The Government of each Party to the Convention undertakes to ensure the provision of facilities at ports and terminals for the reception of garbage, without causing undue delay to ships, and according to the needs of the ships using them.
Kriteria Pelabuhan RF menurut MARPOL (3/3)
Annex VI Regulation 17
The Government of each Party to the Protocol of 1997 undertakes to ensure the provision of facilities adequate to meet the:
a. needs of ships using its repair ports for the reception of ozone depleting substances and equipment containing such substances when removed from ships;
b. needs of ships using its ports, terminals or repair ports for the reception of exhaust gas cleaning residues from an approved exhaust gas cleaning system when discharge into the marine environment of these residues is not permitted under regulation 14 of this Annex;
without causing undue delay to ships, and
c. needs in ship breaking facilities for the reception of ozone depleting substances and equipment
containing such substances when removed from ships.
Kriteria Pelabuhan RF menurut Permen 05/2009 (1/3)
1. Pengelola dapat menerima dan/atau mengelola limbah yang berasal dari kegiatan rutin operasional kapal
dan/atau kegiatan penunjang pelabuhan.
2. Limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. minyak; Annex I
b. material cair dan/atau padat berbahaya dalam bentuk curah; Annex II c. kemasan bekas bahan berbahaya; Annex V
d. limbah cair domestik; Annex IV e. sampah; Annex V
f. emisi; Annex VI
g. limbah elektronik; dan/atau
h. limbah bekas kapal.
3. Pengelola dapat menyediakan fasilitas pengelolaan limbah untuk seluruh atau sebagian jenis limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Pasal ini meyebutkan semua jenis limbah MARPOL 73/78 yang harus dilengkapi RF, dan membolehkan pelabuhan untuk memilih jenis limbah yang akan dikelola.
Kriteria Pelabuhan RF menurut Permen 05/2009 (2/3)
Pasal 7 Ayat 1
Setiap pelabuhan umum dan pelabuhan khusus wajib menyediakan fasilitas pengelolaan limbah yang berasal dari usaha dan/atau kegiatan kapal.
Pasal 7 Ayat 2
Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan bagi pelabuhan umum dan pelabuhan khusus yang memenuhi kriteria:
a) pelabuhan tempat minyak mentah dimuat ke dalam kapal tanker minyak yang: 1) mempunyai prioritas melakukan ballast paling lama 72 (tujuh puluh dua) jam; 2) lego jangkar pada DLKP dan DLKR Pelabuhan Laut; dan/atau
3) telah menempuh perjalanan minimal 1.200 (seribu dua ratus) mil laut.
b) pelabuhan tempat kapal memuat minyak selain minyak mentah curah dengan tingkat rata-rata lebih dari 1.000 (seribu) metrik ton perhari;
c) pelabuhan yang mempunyai sarana dan prasarana:
1) perbaikan kapal;
2) pembersihan tangki kapal tanker pengangkut minyak; dan/atau 3) pembersihan tangki kapal tanker pengangkut bahan kimia;
Kriteria Pelabuhan RF menurut Permen 05/2009 (3/3)
Pasal 7 Ayat 2 (lanjutan)
d) pelabuhan yang mempunyai sarana dan prasarana untuk menangani kapal yang dilengkapi dengan tangki
lumpur minyak;
e) pelabuhan yang menangani air kotor berminyak dan jenis-jenis residu lainnya yang tidak dapat dibuang ke media lingkungan; dan/atau
f) pelabuhan untuk pemuatan kargo curah dan kegiatannya terkait dengan residu minyak yang tidak dapat dibuang ke media lingkungan hidup.
Pasal ini mewajibkan penyediaan fasilitas pengelolaan limbah bagi pelabuhan yang memenuhi kriteria sesuai
Pengelolaan RF
1
Pola Transfer Limbah
2
Moda Pengumpulan Limbah
3
Wadah Pengumpul
4
Pola Pengelolaan Limbah
Estimasi Limbah
5
Pola Pengelolaan Limbah
Annex I Oil Annex V Garbage Annex VI Air Pollution Annex II Noxious Liquids Annex IV Sewage• Pengumpulan dan penampungan sementara dikelola Operator Pelabuhan • Pengelolaan lanjutan dapat diserahkan kepada pihak ketiga
• Digolongkan ke dalam limbah B3 dalam Permen LH 03/2007 • Persyaratan teknis sesuai Kepka Bapedal 01/1995
• Pengumpulan dan penampungan sementara dikelola Operator Pelabuhan • Pengelolaan lanjutan biasanya diserahkan kepada Dinas Perkotaan
(Municipal Service)
• Persyaratan teknis sesuai Perda setempat
• Belum ada peraturan/pedoman terperinci dalam IMO dan Undang-Undang
RF untuk Annex I dan Annex II perlu perhatian khusus karena digolongkan ke dalam LIMBAH B3
RF untuk Annex V (Sampah) sama dengan pengelolaan sampah perkotaan
RF untuk Annex IV dan Annex VI belum ada pedoman dari IMO dan Undang-Undang
Pola Transfer Limbah MARPOL di Pelabuhan
Kapal sumber limbah
Tongkang Transfer limbah di kolam
pelabuhan Kendaraan pengumpul Transfer limbah di dermaga 3R (Reduce, Reuse, Recycle) DLKR ATAU DLKP PELABUHAN (PASAL 8 PERMEN LH 05/2009) Universal Shore Connection
PORT RECEPTION FACILITY
Kendaraan pengangkut Final Disposal MODA PENGUMPUL Tangki Timbun Gudang Drum/Bulk Container Bak/Kontainer Sampah AREA PENYIMPANAN
Moda Pengumpulan Limbah
Faktorpembanding
Pengumpulan di laut Pengumpulan di darat Pengumpulan lewat pipa
layan
Lokasi transfer Kolam pelabuhan Dermaga Dermaga
Kapasitas Besar (10-1.000 m3) Kecil (5-25 m3) Sedang (tergantung pompa)
Biaya Mahal Murah Sedang
Mobilitas Rendah Tinggi Tidak ada
Aplikasi Semua jenis limbah – satu tongkang dapat terdiri atas beberapa tangki untuk limbah yang berbeda
Semua jenis limbah – satu truk untuk satu jenis
limbah, tergantung perlengkapan.
Hanya limbah cair encer (dirty ballast, bilge water, tank washing)
Infrastruktur dan
peralatan pendukung
• Tugboat (jika bukan
self-propelled) • Dermaga
• Pipa penyalur • Pompa & Genset
• Jalan akses
• Garasi
• Tempat cuci • Pompa & Genset
•
Universal shore
connection
• Pompa & Genset
Kendaraan Pengumpul di Laut (1/3)
Tongkang pengumpul Limbah Annex I (minyak)
Kendaraan Pengumpul di Laut (2/3)
Tongkang dan perahu pengumpul Limbah Annex V (sampah)
Annex II
Annex I Annex V
Kendaraan Pengumpul di Laut (3/3)
Tongkang pengumpul limbah kombinasi
Kendaraan Pengumpul di Darat
Atas: mobile tank untuk limbah cair; Bawah: Truk untuk limbah padat dan cair.
Wadah Pengumpul (1/6)
Faktor pembanding Tangki Timbun Bulk Container Drum
Standar relevan API 650, NFPA 30 IMDG Code, NFPA 30 IMDG Code, NFPA 30
Kapasitas Besar Sedang (1000 liter) Kecil (200 liter)
Biaya Mahal Sedang Murah
Dirty ballast water Ya Tidak Tidak
Tank washings Ya Tidak Tidak
Oily bilge water Ya Ya Tidak
Oil Residue/Sludge Ya Ya Ya
Mobilitas Tidak ada Tinggi
Infrastruktur dan peralatan
pendukung
• Sistem tangki dan pondasi
• Secondary containment (bak sekunder, 110% kapasitas tangki) • Pompa & Genset • Peralatan darurat
kebakaran dan tumpahan
• Gudang penyimpanan
• saluran dan bak penampung ceceran limbah, 110% kapasitas kemasan terbesar
• Palet • Forklift
• Peralatan darurat kebakaran dan tumpahan
Wadah Pengumpul (2/6)
Tangki Timbun di RF Pelabuhan Tanjung Priok
Wadah Pengumpul (3/6)
Tangki Timbun di RF Pelabuhan Tanjung Perak
Wadah Pengumpul (4/6)
Tangki Timbun di RF Pelabuhan Belawan
Wadah Pengumpul (5/6)
Drum
kapasitas 200 liter
Intermediate Bulk Container (IBC)
kapasitas 1000 Liter
Wadah Pengumpul (6/6)
Intermediate Bulk Container di RF Pelabuhan Tanjung Perak
Estimasi Limbah Annex I (1/3)
Volume limbah dalam
Statistik Pelabuhan
Data Wawancara Kapal
Estimasi berdasarkan
persentase DWT kapal
Biasanya volume limbah dari kapal tidak terekam
dalam statistik pelabuhan
Akurat, namun butuh waktu panjang untuk
pengumpulan data real
Volume limbah dihitung berdasarkan data statistik
pelayanan kapal yang biasanya terekam dengan
baik
1
2
3
Estimasi Limbah Annex I (2/3)
Data Ship Call
Data time series memuat:
• GT Kapal
• Waktu kunjung
• Jenis Muatan
• GT kapal tahunan
• GT kapal per jenis muatan
• Kunjungan kapal per jenis muatan • Proyeksi trafik
Pengolahan
data
Total GT per jenis kapal pada
akhir tahun layan
Volume Minyak
Pelumas
Bekas
Total KW per
jenis kapal
pada akhir
tahun layan
Total DWT per
jenis kapal
pada akhir
tahun layan
Volume
Sludge/Oil
residu
Konversi
data
Estimasi Limbah Annex I (3/3)
Tipe buangan
Estimasi
Keterangan
Kadar Minyak
Dirty ballast
water
30% DWT
Tanker berlambung tunggal
(1)0.01%
100 ppm
(3)10% DWT
Tanker dengan segregated
ballast tank
(1)Oily bilge water
1-10 m3/kapal
Tanker
(1)2%
20.000 ppm
(3)Oily tank
washings
4-8% DWT
Tanker
(1)3%
30.000 ppm
(3)Liquid oil
residue
0,2-1% DWT
Tanker
(1)30%
300.000 ppm
(3)Oily solids
0,01-0,1% DWT
Tanker
(1)Sludge
2-3% DFC
Kapal bertenaga mesin
(1)2 m
3/kapal
Kapal >=4000 GT
(2)1 m
3/kapal
Kapal <4000 GT
(2)Minyak pelumas
bekas
1,5 m
3
/1.000 kW
Kapal bertenaga mesin
(3)Persyaratan Limbah B3
1
Penyimpanan Wadah
2
Konstruksi Bangunan
3
Wadah Pengumpul
Persyaratan Lahan Penyimpanan
4
Tata Letak Lahan
4
Wadah Pengumpul Limbah B3 (1/2)
Persyaratan Pra Pewadahan
1. Karakteristik limbah yang akan ditampung harus diketahui dengan pasti.
2. Limbah yang karakteristiknya tidak diketahui harus diuji di laboratorium uji yang telah diakui pihak berwenang
3. Bentuk dan bahan wadah harus sesuai dengan karakteristik limbah
Persyaratan Umum Pewadahan
1. Wadah harus dalam kondisi baik, tidak rusak, dan bebas dari pengkaratan serta kebocoran.
2. Bentuk, ukuran dan bahan wadah mempertimbangkan segi keamanan dan kemudahan dalam
penanganannya.
3. Wadah dapat terbuat dari bahan plastik (HDPE, PP atau PVC) atau bahan logam (teflon, baja karbon, SS304, SS316 atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi
dengan limbah yang disimpannya.
Prinsip Pewadahan
• Limbah yang tidak saling cocok tidak boleh disimpan secara bersama-sama dalam satu kemasan; • jumlah pengisian limbah dalam kemasan harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya
pengembangan volume limbah, pembentukan gas atau terjadinya kenaikan tekanan.
• Limbah yang sudah tersimpan dalam wadah dalam kondisi yang tidak layak harus dipindahkan ke wadah lain yang memenuhi syarat
• Wadah harus ditandai sesuai jenis limbah yang ditampungnya
• Setiap kegiatan pewadahan harus dilaporkan sebagai bagian dari kegiatan pengelolaan limbah
Wadah Pengumpul Limbah B3 (2/2)
Tatacara Pewadahan Limbah dalam Kemasan
Kemasan (drum, tong atau bak kontainer) yang digunakan harus:
• Dalam kondisi baik, tidak bocor, berkarat atau rusak; • Terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik
limbah B3 yang akan disimpan;
• Mampu mengamankan limbah yang disimpan di dalamnya;
• Memiliki penutup yang kuat untuk mencegah terjadinya tumpahan saat dilakukan pemindahan atau pengangkutan
Tatacara Pewadahan Limbah dalam Tangki
• Rancang bangun tangki harus disetujui badan yang
berwenang (Bapedal)
• Dilengkapi penampungan sekunder (
secondary
containment
):• Pelapisan di luar tangki • Tanggul (
vault, berm
), atau • Tangki berdinding ganda • Sistem deteksi kebocoran• Pemeriksaan tangki dilakukan minimal 1 kali sehari
Keterangan:
A adalah kemasan drum penyimpan limbah B3 cair
B adalah kemasan drum untuk limbah B3 sludge
atau padat.
Penyimpanan Wadah Limbah B3 (1/2)
Penyimpanan Wadah dalam bentuk Kemasan
Penyimpanan kemasan limbah B3 dengan menggunakan rak Pola penyimpanan kemasan drum di atas palet dengan jarak
minimum antar blok
Penyimpanan Wadah Limbah B3 (2/2)
Penempatan Wadah dalam bentuk Tangki
• Di sekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang menuju bak penampung.
• Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dan kapasitas maksimum volume tangki.
• Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.
Sirkulasi udara dalam ruang penyimpanan limbah B3
Konstruksi Bangunan Penyimpanan Limbah B3 (1/4)
Persyaratan Lokasi Bangunan Penyimpanan
• Merupakan daerah bebas banjir
• Jarak dengan fasilitas umum minimal 50 meter.
Persyaratan Umum Konstruksi Bangunan Penyimpanan
• rancang bangun dan luas yang sesuai dengan jenis limbah
• terlindung dari masuknya air hujan • dibuat tanpa plafon
• Dilengkapi dengan: • Ventilasi udara • Sistem penerangan • Penangkal petir
• Label/tanda sesuai ketentuan
• Lantai harus kedap air, landai ke arah saluran menuju bak penampungan
Konstruksi Bangunan Penyimpanan Limbah B3 (2/4)
Bangunan Penyimpanan Limbah Mudah Terbakar
a. Bangunan yang berdampingan dengan gudang lain dibuat tembok pemisah tahan api, berupa: • tembok beton bertulang, tebal minimum 15 cm; atau
• tembok bata merah, tebal minimum 23 cm; atau
• blok-blok (tidak berongga) tak bertulang, tebal minimum 30 cm. b. Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api pada butir a.
c. Bangunan yang terpisah dengan bangunan lain harus berjarak minimum 20 meter. d. Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala.
e. Konstruksi atap dibuat ringan, dan mudah hancur bila ada kebakaran. f. Penerangan harus tidak berisiko menimbulkan percikan listrik
g. lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan dengan sakelar (stop contact) harus
terpasang di sisi luar bangunan h. Dilengkapi dengan:
• sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran; • persediaan air untuk pemadam api;
• hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran.
Konstruksi Bangunan Penyimpanan Limbah B3 (3/4)
Bangunan Penyimpanan Limbah Mudah Meledak
• Bangunan penyimpanan harus memiliki lantai, dinding dan atap yang kuat terhadap ledakan. • Bangunan harus sedemikian sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke dalam ruangan
• Konstruksi lantai dan dinding harus lebih kuat dari konstruksi atap sehingga jika terjadi ledakan yang kuat, maka ledakan akan mengarah ke atas (tidak ke samping)
• Ruang pengumpulan dilengkapi dengan pencatat suhu dan pengatur suhu
• Sistem ventilasi udara dirancang untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruangan • Penerangan harus tidak berisiko menimbulkan percikan listrik
• lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan dengan sakelar (stop contact) harus terpasang di sisi luar bangunan.
Konstruksi Bangunan Penyimpanan Limbah B3 (4/4)
Bangunan Penyimpanan Limbah Korosif, Reaktif atau Beracun
• Konstruksi dinding harus dibuat mudah untuk dilepas sehingga penanganan limbah dalam keadaan darurat lebih mudah untuk dilakukan
• konstruksi bangunan (atap, lantai dan dinding) harus terbuat dari bahan yang tahan korosi dan api/panas • Sistem ventilasi udara dirancang untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang pengumpulan • Memiliki sistem penerangan yang memadai untuk operasional penggudangan atau inspeksi rutin
• Jika menggunakan lampu, maka lampu penerangan harus dipasang minimum 1 meter di atas kemasan dengan sakelar (stop contact) harus terpasang di sisi luar bangunan.
Lahan Penyimpanan Limbah B3
Lokasi Lahan
• Luas lahan minimal 1 (satu) hektar;
• merupakan daerah bebas banjir tahunan;
• Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu:
• 150 meter dari jalan utama atau jalan tol; 50 meter dari jalan lainnya;
• 300 meter dari fasilitas umum, perairan dan daerah yang dilindungi seperti cagar alam, hutan lindung, kawasan suaka, dll.
Fasilitas Tambahan di Lahan Penyimpanan
• Laboratorium
• Fasilitas pencucian
• Fasilitas bongkar muat
• Kolam penampungan darurat • Peralatan penanganan tumpahan