• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PROFIL INDUSTRI PERBANKAN Triwulan III-2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PROFIL INDUSTRI PERBANKAN Triwulan III-2017"

Copied!
148
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

LAPORAN PROFIL INDUSTRI PERBANKAN

Triwulan III-2017

(3)
(4)

Kata Pengantar

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya laporan triwulanan pelaksanaan tugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini dapat diselesaikan dengan baik.

Secara umum laporan ini memuat berbagai informasi tentang kinerja perbankan, profil risiko perbankan, kebijakan pengembangan pengawasan perbankan nasional dan kebijakan pengembangan pengawasan terintegrasi, serta hasil pengawasan perbankan selama triwulan III-2017. Selain itu, laporan ini juga memuat informasi mengenai koordinasi OJK dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan, koordinasi OJK dengan lembaga lain yang terkait, serta asesmen oleh lembaga internasional seperti Financial Sector Assessment Program (FSAP) dan Mutual Evaluation Review (MER). Selanjutnya, disajikan pula pelaksanaan kebijakan perlindungan konsumen, literasi dan inklusi keuangan selama triwulan III-2017.

Pada triwulan III-2017, sejalan dengan perbaikan perekonomian global, ekonomi domestik juga tumbuh relatif baik yang utamanya ditopang oleh membaiknya pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto serta kinerja ekspor. Dari sisi perbankan, ketahanan perbankan yang tercermin pada permodalan masih tetap solid yang ditopang oleh membaiknya tingkat efisiensi sehingga turut mendorong perbaikan laba perbankan. Selain itu, profil risiko perbankan masih terjaga tercermin dari risiko kredit yang menurun serta risiko likuiditas dan risiko pasar yang relatif rendah.

Selain itu, kondisi industri BPR dan BPRS juga cukup baik dengan pertumbuhan kredit/pembiayaan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ketahanan BPR dan BPRS juga cukup solid didukung dengan perbaikan tingkat efisiensi, meskipun masih dibayangi dengan peningkatan risiko kredit/pembiayaan.

Di tengah kinerja sektor perbankan yang cukup baik, perbankan tetap harus menerapkan prinsip kehati-hatian mengingat terdapat beberapa sektor ekonomi yang masih belum solid. Pada saat yang sama, sektor perbankan juga diharapkan dapat membantu pelaku usaha di sektor riil antara lain melalui proses technical assistance, pemasaran produk, pendanaan UMKM, pengembangan efisiensi transaksi, dan lain-lain. Dengan demikian, perbankan akan lebih mampu meningkatkan peran fungsi intermediasi dalam mendukung pembangunan serta meningkatkan akses masyarakat terhadap jasa perbankan dalam rangka peningkatan sektor keuangan yang inklusif.

Akhirnya, kami berharap laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Jakarta, Desember 2017

Heru Kristiyana

(5)
(6)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... 1 Daftar Isi ... 3 Daftar Tabel ... 6 Daftar Grafik ... 8 Daftar Box ... 9 Ringkasan Eksekutif... 11 Info Grafis ... 13

Bab I Kinerja Industri Perbankan Nasional ... 17

A. Overview Perekonomian Global dan Domestik ... 17

B. Kinerja Perbankan Nasional ... 18

1. Kinerja Bank Umum ... 18

1.1 Aset ... 19

1.2 Sumber Dana ... 20

1.3 Penggunaan Dana ... 21

1.4 Rentabilitas ... 30

1.5 Permodalan ... 30

2. Kinerja Bank Syariah ... 30

2.1 Aset ... 31 2.2 Sumber Dana ... 31 2.3 Penggunaan Dana ... 32 2.4 Rentabilitas ... 34 2.5 Permodalan ... 34 3. Kinerja BPR Konvensional (BPRK)... 34 3.1 Aset ... 35 3.2 Sumber Dana ... 35 3.3 Penggunaan Dana ... 36 3.4 Rentabilitas ... 38 3.5 Permodalan ... 38 4. Kinerja BPR Syariah (BPRS) ... 38 4.1 Aset ... 38 4.2 Sumber Dana ... 39 4.3 Penggunaan Dana ... 39 4.4 Rentabilitas ... 40 4.5 Permodalan ... 40

Bab II Profil Risiko Perbankan ... 47

1. Risiko Kredit ... 47

1.1 Kualitas Kredit Perbankan ... 47

1.2 Risiko Kredit berdasarkan Peer Bank ... 48

1.3 Risiko Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan ... 49

1.4 Risiko Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi ... 50

(7)

4

2. Risiko Pasar ... 53

2.1 Risiko Nilai Tukar ... 53

2.2 Risiko Suku Bunga ... 54

3. Risiko Likuiditas ... 55

4. Tata Kelola Perbankan ... 58

Bab III Kebijakan dan Pengembangan Pengawasan Perbankan Nasional ... 63

1. Bank Umum ... 63 1.1 Pengaturan ... 63 1.2 Pengembangan Pengawasan ... 68 2. Perbankan Syariah... 69 2.1 Pengaturan ... 69 2.2 Pengembangan Pengawasan... 69

2.3 Pengembangan Perbankan Syariah ... 69

2.4 Pengembangan Produk dan Edukasi Perbankan Syariah (iB Campaign) ... 70

3. BPR ... 71

3.1 Pengaturan ... 71

3.2 Pengembangan Pengawasan ... 72

Bab IV Pengembangan Pengawasan Terintegrasi ... 75

1. Pengembangan Pengawasan Terintegrasi ... 75

2. Pengawasan Terintegrasi ... 76

3. Kegiatan Pengembangan Pengawasan Terintegrasi ... 76

Bab V Pengawasan Perbankan ... 79

1. Pemeriksaan Umum dan Pemeriksaan Khusus... 79

2. Perizinan Produk dan Aktivitas Bank ... 80

3. Layanan Keuangan tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) ... 81

4. Penegakan Kepatuhan Bank ... 82

4.1 Uji Kemampuan dan Kepatutan (Existing) ... 82

4.2 Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan (Tipibank) ... 83

4.3 Pemberian Keterangan Ahli dan/atau Saksi ... 83

4.4 Sosialisasi ... 84

5. Jaringan Kantor dan Kelembagaan Perbankan ... 84

5.1 Bank Umum ... 84

5.2 Bank Syariah ... 86

5.3 BPR ... 87

Bab VI Koordinasi Antar Lembaga... 91

1. Koordinasi dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan ... 91

1.1 Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)... 91

1.2 Koordinasi OJK dengan Bank Indonesia (BI) ... 92

2. Upaya OJK dalam rangka Fasilitasi Pengembangan Sektor Riil dan Implementasi APU dan PPT ... 93

2.1 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ... 93

2.2 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ... 94

(8)

Bab VII Asesmen Lembaga Internasional ... 101

1. Financial Sector Assessment Program (FSAP) ... 101

2. Mutual Evaluation Review ... 102

Bab VIII Perlindungan Konsumen, Literasi, dan Inklusi Keuangan ... 107

Perlindungan Konsumen... 107

1. Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Konsumen ... 107

1.1 Layanan Pertanyaan ... 109

1.2 Layanan Informasi ... 110

1.3 Layanan Pengaduan ... 110

2. Sosialisasi Sistem Pelaporan Edukasi dan Perlindungan Konsumen ... 110

3. Sosialisasi Strategi Perlindungan Konsumen Keuangan (SPKK) ... 111

4. Talkshow Perlindungan Konsumen ... 111

5. Sosialisasi Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan ... 111

6. Capacity Building Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa ... 112

7. Monitoring Laporan Penyelesaian Sengketa oleh Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa ... 112

8. Pilot Project Implementasi Pengawasan Market Conduct ... 113

9. Pemantauan Iklan Triwulan ... 113

10. Investor Alert Portal ... 114

Literasi dan Inklusi Keuangan ... 115

1. Simpanan Pelajar (SimPel/SimPel iB)... 115

2. Sistem Informasi Pusat Edukasi, Layanan Konsumen dan Akses Keuangan UMKM (PELAKU) ... 115

3. Kegiatan Coaching Clinic Tim Percepatan Akses Keuangan daerah (TPAKD) ... 115

4. ASEAN Working Committee on Financial Inclusion (WC-FINC) ... 116

5. Edukasi Keuangan ... 116

6. Training of Trainer (ToT) ... 117

7. Outreach Program Keuangan Syariah ... 118

8. Peluncuran e-Book “Mengenal Otoritas Jasa Keuangan dan Industri Jasa Keuangan” tingkat SMA dan Buku Seri Literasi Keuangan Segmen Profesional dan Pensiunan ... 118

9. Indonesian Banking Expo (IBEX) ... 119

10. Penandatanganan Surat Pernyataan Bersama (SPB) dan Diskusi Terbatas OJK – Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung ... 119

11. Sosialisasi POJK tentang Literasi dan Inklusi Keuangan ... 119

12. Focus Group Discussion “Bentuk Pengaturan Mekanisme Penanganan Pengaduan Konsumen di Sektor Jasa Keuangan” ... 120

Lampiran ... 123

Lampiran I. Rumus Indikator Kinerja Perbankan dan Penilaian Profil Risiko ... 123

Lampiran II. Daftar Kebijakan dan Pengaturan Perbankan yang diterbitkan pada Triwulan III-2017 ... 125

(9)

6

Daftar Tabel

Tabel 1 Indikator Bank Umum ... 19

Tabel 2 Tingkat Konsentrasi Aset Bank Umum ... 19

Tabel 3 Perkembangan Aset Bank Umum... 19

Tabel 4 DPK berdasarkan Kelompok Kepemilikan ... 21

Tabel 5 Penyebaran DPK berdasarkan Pangsa Wilayah Terbesar (Rp Miliar) ... 21

Tabel 6 Penggunaan Dana Bank Umum ... 21

Tabel 7 Kredit berdasarkan Jenis Mata Uang ... 22

Tabel 8 Konsentrasi dan Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi ... 24

Tabel 9 Konsentrasi Penyaluran Kredit UMKM ... 25

Tabel 10 Porsi Kredit UMKM berdasarkan Kelompok Bank (Rp Miliar) ... 26

Tabel 11 Target Penyaluran KUR 2017 ... 26

Tabel 12 Indikator Bank Umum Syariah ... 31

Tabel 13 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Sektor Ekonomi ... 32

Tabel 14 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Penggunaan ... 33

Tabel 15 Indikator Umum BPR Konvensional ... 34

Tabel 16 Penyebaran DPK BPRK ... 36

Tabel 17 Kredit BPRK berdasarkan Sektor Ekonomi (Rp Miliar) ... 37

Tabel 18 Kredit BPRK berdasarkan Lokasi Penyaluran ... 37

Tabel 19 Indikator Umum BPRS ... 38

Tabel 20 Perkembangan Kualitas Kredit (Rp Triliun) ... 47

Tabel 21 Rasio NPL Gross per Kepemilikan ... 48

Tabel 22 Perkembangan Nominal Kredit dan NPL per Kepemilikan ... 49

Tabel 23 Perkembangan Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan ... 49

Tabel 24 NPL Gross berdasarkan Jenis Penggunaan... 50

Tabel 25 NPL Gross Peer Bank berdasarkan Jenis Penggunaan ... 50

Tabel 26 NPL Gross Lokasi (Spasial) berdasarkan Sektor Ekonomi ... 53

Tabel 27 Perkembangan Parameter IRRBB ... 55

Tabel 28 Minimal Pemenuhan LCR ... 56

Tabel 29 Perkembangan LCR ... 56

Tabel 30 Rasio Likuiditas Aset Perbankan ... 57

Tabel 31 Komponen Aset Likuid ... 57

Tabel 32 Rasio Likuiditas Kewajiban Perbankan ... 58

Tabel 33 Rekapitulasi Transaksi PUAB ... 58

Tabel 34 Pengaturan Bank Umum yang diterbitkan pada Triwulan III-2017 ... 63

Tabel 35 Pengaturan Bank Perkreditan Rakyat yang diterbitkan pada Triwulan III-2017 ... 71

Tabel 36 Pemeriksaan Umum Bank ... 79

Tabel 37 Pemeriksaan Khusus Bank ... 80

Tabel 38 Produk dan Aktivitas Baru Perbankan ... 81

(10)

Tabel 40 Jumlah Track Record ... 82

Tabel 41 Statistik Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan ... 83

Tabel 42 Pemberian Keterangan Saksi/Ahli ... 84

Tabel 43 Jaringan Kantor Bank Umum ... 85

Tabel 44 FPT Calon Pengurus dan Pemegang Saham Bank Umum ... 86

Tabel 45 Jaringan Kantor Bank Umum Syariah ... 87

Tabel 46 Perizinan BPR ... 87

Tabel 47 Daftar Hasil Fit and Proper Test New Entry BPR ... 88

Tabel 48 NPL Kegiatan Usaha Program JARING (%) ... 94

Tabel 49 Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT) Triwulan III-2017 ... 96

Tabel 50 Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal Triwulan III-2017 ... 97

Tabel 51 Total Layanan Per Sektor ... 109

(11)

8

Daftar Grafik

Grafik 1 PDB menurut Pengeluaran (%yoy) ... 18

Grafik 2 Jumlah rekening dan DPK lebih dari Rp2 miliar ... 18

Grafik 3 Perkembangan Ekspor dan Impor (%yoy) ... 18

Grafik 4 Komposisi Sumber Dana Perbankan (%) ... 20

Grafik 5 Tren Pertumbuhan DPK Perbankan (yoy, %) ... 20

Grafik 6 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan ... 22

Grafik 7 Konsentrasi Pemberian Kredit 3 Sektor Terbesar (%) ... 22

Grafik 8 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi (yoy) ... 24

Grafik 9 Penyebaran Kredit UMKM berdasarkan Wilayah ... 26

Grafik 10 Tren Aset Perbankan Syariah ... 31

Grafik 11 Pertumbuhan DPK Bank Syariah (yoy) ... 32

Grafik 12 Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan Lokasi Bank Penyalur ... 33

Grafik 13 Laba dan ROA Perbankan Syariah ... 34

Grafik 14 Perkembangan Aset BPRK ... 35

Grafik 15 Perkembangan DPK BPRK ... 35

Grafik 16 Tren Aset BPRS ... 39

Grafik 17 Tren Pertumbuhan DPK BPRS ... 39

Grafik 18 Tren Rasio NPL Gross dan NPL Net ... 47

Grafik 19 Pertumbuhan Nominal Kualitas Kredit (yoy) ... 48

Grafik 20 Pertumbuhan CKPN (NPL) dan Nominal NPL (yoy) ... 48

Grafik 21 Perkembangan Nominal NPL berdasarkan Sektor Ekonomi (Rp Triliun) ... 50

Grafik 22 Tren Pertumbuhan Kredit Sektor Ekonomi (yoy) ... 51

Grafik 23 Tren NPL Gross Sektor Ekonomi ... 51

Grafik 24 Tren NPL Gross berdasarkan Lokasi (Spasial) ... 52

Grafik 25 PDN dan Pergerakan Nilai Tukar ... 53

Grafik 26 Jumlah Bank terhadap Range PDN ... 53

Grafik 27 Pertumbuhan Nilai Wajar dan Keuntungan Surat Berharga (Rp Miliar) ... 54

Grafik 28 Perkembangan Parameter IRRBB ... 55

Grafik 29 Perkembangan Likuiditas Perbankan ... 55

Grafik 30 Perkembangan Aset Likuid ... 57

Grafik 31 Jumlah BPR berdasarkan Pemenuhan Komposisi Jumlah Anggota Direksi dan Dewan Komisaris ... 59

Grafik 32 Wilayah Penyebaran Agen Laku Pandai ... 81

Grafik 33 Penyebaran Jaringan Kantor Bank Umum di Lima Wilayah di Indonesia ... 85

Grafik 34 Penyebaran Jaringan Kantor BUS di Lima Wilayah di Indonesia ... 87

Grafik 35 Jaringan Kantor BPR ... 88

Grafik 36 Realisasi dan NPL Program JARING ... 93

Grafik 37 Layanan Konsumen OJK per Sektor ... 108

Grafik 38 Lima Layanan Pertanyaan Terbanyak Sektor Perbankan berdasarkan Jenis Permasalahan ... 109

Grafik 39 Lima Layanan Informasi Terbanyak Sektor Perbankan berdasarkan Jenis Permasalahan ... 110

Grafik 40 Penyelesaian Sengketa LAPS Semester I-2017 ... 112

(12)

Daftar Box

Box 1 Kinerja dan Pola Penyaluran KUR 2017 ... 27 Box 2 Perkembangan Kredit berdasarkan Segmen Usaha Bank ... 40

(13)

10

(14)

Ringkasan Eksekutif

Sejalan dengan perbaikan perekonomian global, perekonomian domestik tumbuh cukup baik. Peningkatan ekonomi domestik pada triwulan III-2017 utamanya dipengaruhi oleh membaiknya pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto sejalan dengan inisiatif Pemerintah dalam pengembangan infrastruktur serta kinerja ekspor yang cukup menggembirakan seiring dengan perbaikan perekonomian dunia. Hal tersebut berdampak pada membaiknya kinerja perbankan yang terlihat dari relatif tingginya tingkat profitabilitas perbankan yang pada akhirnya memperkuat permodalan perbankan sehingga lebih mampu mengabsorbsi potensi risiko yang dihadapi.

Selain itu, sebagai tindak lanjut atas rekomendasi FSAP 2016/2017, untuk memperkuat struktur industri perbankan OJK terus berupaya menyelaraskan regulasi dan implementasi pengawasan perbankan nasional dengan standar internasional antara lain dengan memperkenalkan regulasi net stable funding ratio (NSFR). Regulasi mengenai NSFR tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa bank memiliki kecukupan likuditas memadai yang bersumber dari dana yang tidak rentan ditarik (stable) dari bank. Sementara itu, dalam rangka persiapan menghadapi Mutual Evaluation Review (MER), telah dilakukan pembahasan first draft Technical Compliance Annex (TC annex) yang berisi penilaian sementara TC Indonesia, dan persiapan on-site visit pada bulan November 2017. Terkait dengan implementasi Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK), OJK bersama dengan Lembaga terkait dalam KSSK secara rutin melakukan rapat berkala dalam memantau kondisi stabilitas sistem keuangan. Selain itu, untuk menguji efektivitas UU PPKSK, simulasi krisis dengan melibatkan anggota KSSK secara rutin dilaksanakan untuk memperkuat kesiapan dalam menghadapi potensi pemburukan kondisi sistem keuangan dan pelaksanaannya direncanakan pada bulan Oktober 2017.

Di bidang pengawasan perbankan, OJK terus berupaya meningkatkan mitigasi risiko dengan melakukan beberapa pemeriksaan khusus yang mencakup pemeriksaan modal, aktivitas operasional, GCG, fraud, teknologi informasi, dan kegiatan bank lainnya. Di sisi lain, penguatan regulasi juga dilakukan dengan menerbitkan lima peraturan baru termasuk mengenai NSFR. Selain itu, OJK juga menerbitkan 23 peraturan hasil konversi di bidang perbankan yang terdiri dari 14 POJK dan 9 SEOJK. Sementara itu, terkait pengawasan terintegrasi sektor jasa keuangan, sampai dengan triwulan III-2017 telah diterbitkan Roadmap Pengawasan Terintegrasi serta enhancement Sistem Informasi Pengawasan Terintegrasi.

Selanjutnya, pada pilar perlindungan dan edukasi konsumen, OJK terus berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan kepada masyarakat. Terkait hal tersebut, OJK telah membuat Sistem Informasi Pusat Edukasi, Layanan Konsumen dan Akses Keuangan UMKM (PELAKU) sebagai sarana penyampaian informasi keuangan, penanganan pengaduan, serta peningkatan akses keuangan khususnya sektor UMKM. Selain itu, dalam upaya perluasan akses keuangan, jumlah rekening dan PKS program SimPel OJK meningkat sehingga diharapkan dapat mendorong percepatan inklusi dan literasi keuangan kepada masyarakat.

(15)

12

(16)
(17)

14

(18)

Kinerja Industri

Perbankan Nasional

(19)

16

(20)

Bab I

Kinerja Industri Perbankan Nasional

Sejalan dengan perbaikan perekonomian global, ekonomi domestik juga tumbuh relatif baik yang utamanya ditopang oleh membaiknya pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto serta kinerja ekspor. Dari sisi perbankan, ketahanan perbankan yang tercermin pada permodalan masih tetap solid ditopang membaiknya tingkat efisiensi yang mendorong perbaikan laba perbankan.

A. Overview Perekonomian Global dan Domestik

Ekonomi global masih melanjutkan

perbaikan didorong oleh kuatnya

pertumbuhan ekonomi negara maju (Advanced Economies/AE) dan negara

berkembang (Emerging Market and

Developing Economies/EMDEs). Sejalan dengan hal tersebut, perdagangan global menunjukkan tanda-tanda peningkatan

terutama didorong oleh perbaikan

permintaan di negara maju. Perbaikan

perdagangan global berimbas pada

menurunnya hambatan bagi negara

pengekspor barang komoditas untuk terus tumbuh, terutama pada negara EMDEs. Sejalan dengan itu, kondisi keuangan global juga membaik ditandai oleh rendahnya volatilitas pasar keuangan dan perbaikan ekspektasi akan prospek pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut membuat capital inflow ke negara EMDEs semakin kuat pada semester pertama tahun 2017, setelah mengalami pelemahan pada tahun 2016. Namun demikian, beberapa faktor downside risk terhadap pertumbuhan global tetap perlu diwaspadai, diantaranya terkait dengan meningkatnya proteksionisme pada beberapa negara maju, ketidakpastian kebijakan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan

ketegangan geopolitik global khususnya antara AS dan Korea Utara.

Dari sisi domestik, pada triwulan III-2017 ekonomi tumbuh relatif belum solid dan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Meskipun demikian, capaian pertumbuhan pada periode laporan sebesar 5,06% (yoy) lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya maupun triwulan III-2016 sebesar 5,01% (yoy).

Laju ekonomi yang belum solid didorong oleh perlambatan pada Konsumsi Rumah Tangga (KRT) yang hanya tumbuh 4,93% (yoy), lebih rendah dari triwulan III-2016 yang tumbuh 5,01% (yoy). Terdapat indikasi bahwa penurunan konsumsi terjadi pada kelompok menengah-atas yang ditengarai terkait dengan penundaan kelompok ini dalam melakukan pembelian barang konsumsi tetapi sebaliknya menambah simpanan. Hal ini tercermin oleh kenaikan baik pada jumlah rekening maupun nominal simpanan di atas Rp2 miliar. Selain itu, perlambatan juga dipengaruhi oleh adanya indikasi pergeseran pola konsumsi dari kebutuhan non-leisure (makanan dan pakaian) ke kebutuhan leisure (rekreasi, hotel dan restoran). Hal ini juga tercermin dari perlambatan pada sub-pengeluaran

(21)

18

konsumsi rumah tangga (KRT) Makanan dan Minuman yang tumbuh 5,04% (yoy), melambat dibanding triwulan III-2016 sebesar 5,23% (yoy), sementara kenaikan terjadi pada sub-pengeluaran KRT Restoran dan Hotel yang tumbuh lebih tinggi menjadi 5,52% (yoy) dari 5,01% (yoy) pada triwulan III-2016.

Grafik 1 PDB menurut Pengeluaran (%yoy)

Sumber: OJK

Grafik 2 Jumlah Rekening dan DPK lebih dari Rp2 miliar

Sumber: OJK

Sementara itu, mesin penggerak

pertumbuhan berasal dari akselerasi Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) yang tumbuh relatif signifikan sebesar 7,11% (yoy), lebih tinggi dari triwulan III-2016 sebesar 4,24% (yoy). Akselerasi PMTB didorong oleh investasi

bangunan yang tumbuh 6,28% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2016 sebesar 4,96% (yoy). Hal ini sejalan dengan banyaknya proyek infrastruktur pemerintah dan proyek komersil swasta berupa properti rumah tinggal.

Faktor lain yang berperan positif terhadap pertumbuhan PDB yaitu berasal dari perbaikan kinerja ekspor. Nilai ekspor pada September 2017 tumbuh 15,60% (yoy), lebih tinggi dari September 2016 yang turun 0,07% (yoy). Perbaikan kinerja ekspor didorong oleh kenaikan ekspor nonmigas terutama ekspor industri pengolahan.

Grafik 3 Perkembangan Ekspor dan Impor (%yoy)

Sumber: OJK

B. Kinerja Perbankan Nasional 1. Kinerja Bank Umum

Kondisi bank umum pada triwulan III-2017 meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari tingkat keuntungan/laba (profitabilitas) yang cukup baik sejalan dengan membaiknya tingkat efisiensi perbankan serta kuatnya permodalan perbankan (Tabel 1).

(22)

qtq yoy yoy

Sep Des Mar Jun Sep TW III '17 TW III '16 TW III '17

Total Aset (Rp Miliar) 6.465.680 6.729.799 6.829.581 7.025.811 7.150.388 1,77% 5,18% 10,59% Kredit (Rp milyar) 4.212.377 4.377.195 4.369.967 4.491.186 4.543.588 1,17% 6,47% 7,86% DPK (Rp Miliar) 4.604.579 4.836.758 4.916.665 5.045.987 5.142.891 1,92% 3,15% 11,69% - Giro (Rp Miliar) 1.069.357 1.124.235 1.146.021 1.193.577 1.199.374 0,49% -2,70% 12,16% - Tabungan (Rp Miliar) 1.430.138 1.551.809 1.489.579 1.554.440 1.574.694 1,30% 11,51% 10,11% - Deposito (Rp Miliar) 2.105.083 2.160.714 2.281.065 2.297.970 2.368.823 3,08% 1,08% 12,53% CAR (%) 22,34 22,69 22,68 22,52 23,01 49 182 67 ROA (%) 2,32 2,17 2,45 2,42 2,42 (0,2) 7 10 NIM / NOM (%) 5,48 5,47 5,24 5,21 5,19 (2) 32 (29) BOPO (%) 81,70 82,85 80,68 79,48 79,22 (26) (78) (247) NPL / NPF Gross (%) 3,10 2,93 3,04 2,96 2,93 (3) 39 (17) NPL / NPF Net (%) 1,42 1,24 1,34 1,41 1,30 (11) 7 (12) LDR / LFR (%) 91,48 90,50 88,88 89,01 88,35 (67) 285 (314) Rasio 2016 2017 CR4 % CR20 % 2015 44,49 76,57 2016 46,36 77,23 Mar-17 45,73 76,54 Jun-17 46,10 76,51 Sep-17 46,00 76,41 Year Asset ∆ qtq ∆ qtq ∆ yoy ∆ yoy

Sep Jun Sep TW II'17 TW III'17 TW III'16 TW III'17

BUMN 2.487.925 2.737.346 2.792.047 39,05% 2,83% 2,00% 13,88% 12,22% BUSN Devisa 2.552.532 2.866.167 2.901.497 40,58% 6,10% 1,23% 7,86% 13,67% BUSN Non Devisa 89.187 80.236 85.228 1,19% 5,49% 6,22% -53,74% -4,44% BPD 554.140 616.845 636.197 8,90% 5,47% 3,14% -0,97% 14,81% Campuran 303.275 317.820 322.999 4,52% -2,61% 1,63% -2,75% 6,50% KCBA 478.620 407.398 412.417 5,77% -14,91% 1,23% -10,02% -13,83%

Total 6.465.680 7.025.811 7.150.385 100% 2,87% 1,77% 5,18% 10,59%

Kelompok Bank 2016 2017 Porsi

Tabel 1 Indikator Bank Umum

Sumber: SPI dan LHBU, September 2017

1.1 Aset

Aset bank umum tumbuh 10,59% (yoy) meningkat dari periode yang sama tahun

sebelumnya sebesar 5,18% (yoy).

Peningkatan tersebut antara lain didorong oleh meningkatnya pertumbuhan DPK serta meningkatnya modal. Selain itu, dari sisi komponen aset, penyaluran kredit juga tumbuh lebih baik dari tahun sebelumnya. Berdasarkan kelompok bank, kenaikan nominal aset terbesar terdapat pada BUSN Devisa yang tumbuh 13,67% (yoy), sedangkan pertumbuhan aset tertinggi terdapat pada BPD (Tabel 3). Sementara itu, BUSN Non Devisa dan KCBA mengalami penurunan aset sejalan dengan penurunan DPK kelompok ini. Selain itu, turunnya aset

pada kelompok KCBA juga dipengaruhi oleh integrasi satu bank pada kelompok KCBA ke dalam kelompok BUSN Devisa.

Berdasarkan concentration ratio (CR), 4 (empat) bank besar masih mendominasi aset industri perbankan dengan porsi sebesar 46,00%, sedangkan porsi 20 bank terbesar mencapai 76,41% (Tabel 2).

Tabel 2 Tingkat Konsentrasi Aset Bank Umum

Sumber: SPI September 2017, diolah

Tabel 3 Perkembangan Aset Bank Umum

(23)

20

1.2 Sumber Dana

Sumber dana perbankan masih di dominasi oleh DPK dengan porsi 89,75%, meningkat dibandingkan posisi Juni 2017 (89,30%, qtq) dan posisi September 2016 (88,99%, yoy). Selain DPK, sumber pendanaan bank juga dapat berasal dari kewajiban kepada bank lain (pinjaman dari bank lain), pinjaman yang diterima (dari non-bank), penerbitan surat berharga, kewajiban spot dan derivatif, kewajiban kepada Bank Indonesia (BI), setoran jaminan, dan lainnya (Grafik 4).

Grafik 4 Komposisi Sumber Dana Perbankan (%)

Sumber: SPI September 2017

Sumber dana perbankan pada September 2017 tumbuh 10,75% (yoy). Peningkatan tersebut utamanya dipengaruhi oleh DPK yang tumbuh 11,69% (yoy), meningkat dari pertumbuhan tahun sebelumnya (3,15%, yoy). Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh masuknya dana program tax amnesty tahap I dan tahap II pada triwulan IV-2016, yang tercermin pada meningkatnya pertumbuhan deposito dan giro masing-masing sebesar 12,53% (yoy) dan 12,16% (yoy). Selain itu, tabungan juga tumbuh baik sebesar 10,11% (yoy), meskipun sedikit melambat dari

periode yang sama tahun sebelumnya (11,51%, yoy) (Grafik 5).

Dilihat dari porsinya, DPK didominasi oleh deposito (46,06%) diikuti tabungan dan giro masing-masing sebesar 30,62% dan 23,32%.

Grafik 5 Tren Pertumbuhan DPK Perbankan (yoy %)

Sumber: SPI September 2017

Secara triwulanan, pertumbuhan DPK melambat dari 2,63% (qtq) pada triwulan

sebelumnya menjadi 1,92% (qtq).

Perlambatan terdapat pada tabungan dan giro yang hanya tumbuh masing-masing 1,30% (qtq) dan 0,49% (qtq), sedangkan deposito tumbuh 3,08% (qtq).

Berdasarkan kelompok bank, sebagian besar DPK masih dikuasai oleh kelompok BUSD (42 bank) sebesar 42,59%, diikuti kelompok BUMN (4 bank) sebesar 39,58%. Sementara itu, porsi DPK terendah terdapat pada BUSND yaitu hanya sebesar 1,22%. Dilihat dari pertumbuhannya, DPK BPD tumbuh tertinggi sebesar 17,50% (yoy) atau 4,48% (qtq) sejalan dengan masuknya dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Umum (DAU) ke BPD.

(24)

qtq qtq yoy yoy

Sep '16 Jun '17 Sep '17 TW II'17 TW III'17 TW III'16 TW II'17

BUMN 1.813.715 2.012.115 2.035.650 39,58 4,12% 1,17% 9,19% 12,24% BUSD 1.924.964 2.151.299 2.190.130 42,59 3,55% 1,81% 5,74% 13,78% BUSND 69.251 60.657 62.720 1,22 4,76% 3,40% -52,59% -9,43% BPD 439.188 493.929 516.035 10,03 6,39% 4,48% -7,14% 17,50% Campuran 158.268 175.075 175.399 3,41 -2,62% 0,19% 2,08% 10,82% KCBA 199.193 152.913 162.957 3,17 -25,31% 6,57% -4,49% -18,19% TOTAL 4.604.579 5.045.987 5.142.891 100 2,63% 1,92% 3,15% 11,69%

Kelompok Bank Nominal (Rp miliar) Porsi (%)

Sep '16 Jun '17 Sep '17

DKI Jakarta 2.301.830 2.538.233 2.571.542 50,00% Jawa Timur 439.361 475.879 494.587 9,62% Jawa Barat 388.346 416.135 424.699 8,26% Jawa Tengah 228.393 252.724 257.347 5,00% Sumatera Utara 197.732 211.832 217.815 4,24% Total DPK 5 Kota 3.555.662 3.894.803 3.965.990 77,12% Total DPK 4.604.579 5.045.956 5.142.891 Wilayah DPK % Pangsa terhadap total DPK

Sep Jun Sep TW II'17 TW III'17 TW III'16 TW II'17

a Kredit Yang Diberikan 4.243.803 4.526.435 4.580.521 65,58% 2,80% 1,19% 6,35% 7,93%

- Kepada Pihak Ketiga 4.212.377 4.491.186 4.543.588 65,05% 2,77% 1,17% 6,47% 7,86% - Kepada Bank Lain 31.427 35.249 36.934 0,53% 6,79% 4,78% -7,52% 17,52% b Penempatan pada Bank Lain 218.065 268.987 251.229 3,60% 20,03% -6,60% -18,72% 15,21% c Penempatan pada Bank Indonesia 613.307 675.031 668.959 9,58% 1,04% -0,90% -13,59% 9,07% d Surat Berharga 832.030 906.900 982.334 14,06% -3,95% 8,32% 22,43% 18,06% e Penyertaan 27.579 35.245 36.498 0,52% 2,23% 3,56% 17,45% 32,34% f CKPN Aset Keuangan 144.836 158.735 163.683 2,34% 0,06% 3,12% 24,83% 13,01% g Tagihan Spot dan Derivatif 16.636 11.155 10.185 0,15% -10,55% -8,70% -55,33% -38,78%

h Tagihan Lainnya 219.705 201.201 291.583 4,17% -13,98% 44,92% 1,70% 32,72% TOTAL 6.315.962 6.783.689 6.984.992 100% 1,57% 2,97% 4,55% 10,59%

porsi

Penggunaan Dana 2016 2017 qtq yoy

Tabel 4 DPK berdasarkan Kelompok Kepemilikan

Sumber: SPI September 2017

Secara spasial, DPK masih terpusat di lima provinsi (DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara) sebanyak 77,12%, dengan porsi yang tertinggi berada di DKI Jakarta (50,00%) (Tabel 5).

Tabel 5 Penyebaran DPK berdasarkan Pangsa Wilayah Terbesar (Rp Miliar)

Sumber: SPI September 2017, diolah

1.3 Penggunaan Dana

Alokasi dana terbesar adalah untuk penyaluran kredit sedangkan sisanya

digunakan untuk penempatan pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia, surat berharga, penyertaan, penyisihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan, tagihan spot dan derivatif, dan tagihan lainnya.

Penggunaan dana perbankan pada

September 2017 tumbuh 10,59% (yoy), meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55% (yoy). Hal

tersebut utamanya didorong oleh

peningkatan penyaluran kredit sebesar 7,93% (yoy). Adapun penggunaan dana lainnya ditempatkan ke dalam surat berharga, penyertaan, dan penempatan pada bank lain yang tumbuh relatif signifikan untuk menyerap dana idle yang tersedia.

(25)

22

Sep Sep TW III'17 TW III'16 TW III '17 Rupiah 3.617 3.886 1,06% 10,50% 7,44%

Valas 595 657 1,82%-12,86% 10,46%

Total 4.212 4.544 1,17% 6,47% 7,86%

Kredit 2016 2017 qtq yoy

Berdasarkan komposisi, 65,58% dana perbankan disalurkan dalam bentuk kredit. Porsi kredit tersebut sebagian besar disalurkan kepada pihak ketiga bukan bank (65,05%), sementara penyaluran kredit kepada bank lain hanya sebesar 0,53%. Penyaluran kredit kepada pihak ketiga tumbuh 7,86% (yoy), meningkat dari tahun

sebelumnya sebesar 6,47% (yoy).

Peningkatan kredit antara lain dipengaruhi oleh berlanjutnya ekspansi usaha meskipun masih terbatas.

Berdasarkan jenis mata uang, kredit kepada pihak ketiga umumnya disalurkan dalam bentuk rupiah dengan porsi 85,54% sedangkan kredit valas hanya sebesar 14,46%. Pada September 2017, penyaluran kredit rupiah tumbuh 7,44% (yoy) melambat dari 10,50% (yoy) pada September 2016, sedangkan penyaluran kredit valas tumbuh 10,46% (yoy) naik signifikan dari September 2016 yang terkontraksi 12,86% (yoy) sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ekspor.

Tabel 7 Kredit berdasarkan Jenis Mata Uang

Sumber: SPI September 2017

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit masih didominasi kredit produktif (71,83%), yang terdiri dari kredit modal kerja (KMK) sebesar 46,89% dan kredit investasi (KI) sebesar 24,94%, sedangkan kredit konsumsi (KK) tercatat sebesar 28,17%.

Indikasi peningkatan ekspansi usaha tercermin dari meningkatnya penyaluran

KMK sebesar 8,05% (yoy) yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya maupun tahun sebelumnya. Namun demikian, penyaluran KI masih melambat yang hanya tumbuh 5,39% (yoy). Sementara itu, KK tumbuh cukup tinggi sebesar 9,82% (yoy) meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 9,86% (yoy).

Grafik 6 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan

Sumber: SPI September 2017

5.3.1 Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi

Berdasarkan sektor ekonomi menurut non lapangan usaha, kredit perbankan masih didominasi oleh kredit rumah tangga sebesar 23,13%. Adapun berdasarkan sektor ekonomi menurut lapangan usaha, kredit

terbesar disalurkan pada sektor

perdagangan besar dan eceran (18,84%) serta sektor industri pengolahan (17,43%) (Grafik 7).

Grafik 7 Konsentrasi Pemberian Kredit 3 Sektor Terbesar (%)

(26)

Di tengah pertumbuhan kredit yang masih terbatas, secara nominal peningkatan kredit masing ditopang oleh penyaluran kredit ke sektor rumah tangga yang tumbuh 10,00% (yoy), meningkat dari September 2016 sebesar 7,81% (yoy). Peningkatan utamanya terdapat pada subsektor pemilikan rumah tinggal yang tumbuh 10,52% (yoy).

Sementara berdasarkan sektor lapangan usaha, peningkatan nominal kredit utamanya terdapat pada sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi. Penyaluran kredit ke sektor konstruksi tumbuh relatif tinggi sebesar 21,00% (yoy), lebih baik dibandingkan pertumbuhan September 2016 sebesar 19,66% (yoy). Tingginya kredit pada sektor konstruksi sejalan dengan berlanjutnya proyek pembangunan infrastruktur pemerintah yang utamanya didorong oleh kredit untuk bangunan jalan tol yang tumbuh 46,62% (yoy) menjadi Rp36,00T. Selain itu, dari sisi swasta juga turut andil yaitu pada kredit konstruksi gedung yang tumbuh 16,69% (yoy) menjadi Rp112,05T.

Kredit ke sektor pertanian tumbuh 11,40% (yoy), sedikit melambat dibanding September 2016 yang tumbuh 14,66 (yoy). Porsi kredit terbesar sektor pertanian berada pada subsektor Buah-Buahan, Kelapa Sawit dan Rempah-Rempah sebesar 78,24% dari total kredit pertanian. Dalam meningkatkan

akses keuangan bagi petani, OJK

mengeluarkan PROGRAM AKSI (Akselerasi-Sinergi-Inklusi Keuangan untuk Dukung Kedaulatan Pangan) sejak Maret 2017 untuk

bersinergi dengan program-program

pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR); Kredit Ketahanan Pangan dan Energi;

Kredit Usaha Pembibitan Sapi dan Kredit

Pengembangan Energi Nabati yang

bertujuan memberdayakan para petani. Kredit sektor perdagangan besar dan eceran masih dalam tren perlambatan. Pada periode Laporan, kredit ke sektor perdaganan besar dan eceran tumbuh 3,01% (yoy), melambat tajam dibanding September 2016 yang tumbuh 7,13% (yoy).

Perlambatan tersebut antara lain

disebabkan oleh lambanya ekspansi korporasi di tengah kondisi ketidakpastian perekonomian global dan domestik, yang tercermin dari undisbursed loan pada sektor ini yang tumbuh relatif tinggi sebesar 9,44% (yoy), dibanding tahun sebelumnya yang turun 2,13%.

Sektor industri pengolahan/manufaktur merupakan penerima kredit perbankan kedua terbesar setelah sektor perdagangan. Kredit ke sektor ini tumbuh 6,50% (yoy), membaik setelah pada September 2016 menurun 0,08% (yoy). Kredit ke sektor ini didominasi oleh subsektor industri makanan dan minuman disusul dengan subsektor industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia yang memiliki porsi masing-masing 21,15% dan 13,18% terhadap total kredit industri pengolahan.

Kredit ke sektor pertambangan masih terkontraksi meskipun proses pemulihan harga komoditas global mulai membaik. Kredit ke sektor ini turun 5,15% (yoy), lebih baik dibandingkan September 2016 yang turun 16,96% (yoy). Masih terkontraksinya sektor ini utamanya didorong oleh

penurunan kredit pada subsektor

pertambangan batubara yaitu turun 20,05% (yoy).

(27)

24

Jun '16 Sep '16 Jun '17 Sep '17

Lapangan Usaha

1 Pertanian, Perburuan dan Kehutanan 266,09 272,95 296,65 304,07 2,50% 14,66% 11,40% 6,69%

2 Perikanan 9,26 9,39 10,29 10,42 1,31% 12,52% 11,02% 0,23%

3 Pertambangan dan Penggalian 119,95 116,09 122,47 110,11 -10,09% -16,96% -5,15% 2,42% 4 Industri Pengolahan 745,52 743,52 784,68 791,85 0,91% -0,08% 6,50% 17,43% 5 Listrik, gas dan air 111,13 121,52 127,07 130,10 2,38% 29,23% 7,06% 2,86%

6 Konstruksi 192,66 205,04 234,15 248,10 5,96% 19,66% 21,00% 5,46%

7 Perdagangan Besar dan Eceran 819,93 831,02 845,29 856,05 1,27% 7,13% 3,01% 18,84% 8 Penyediaan akomodasi dan PMM 90,76 92,39 96,72 95,86 -0,89% 12,75% 3,76% 2,11%

9 Transportasi 177,59 168,31 173,98 174,53 0,31% -3,62% 3,69% 3,84%

10 Perantara Keuangan 179,55 176,86 212,05 208,69 -1,58% 9,23% 18,00% 4,59%

11 Real Estate 198,24 200,84 211,33 215,65 2,04% 13,22% 7,37% 4,75%

12 Adminsitrasi Pemerintahan 13,69 14,54 22,19 23,00 3,62% 18,57% 58,16% 0,51%

13 Jasa Pendidikan 8,43 8,48 9,25 9,53 3,06% 12,78% 12,37% 0,21%

14 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 16,24 16,18 17,45 17,64 1,11% 13,77% 9,02% 0,39%

15 Jasa Kemasyarakatan 56,27 56,89 60,22 62,17 3,24% -7,47% 9,27% 1,37%

16 Jasa Perorangan 2,66 2,58 2,68 2,65 -1,19% -2,21% 2,40% 0,06%

17 Badan Internasional 0,19 0,10 0,16 0,16 -2,88% 0,62% 58,45% 0,00%

18 Kegiatan yang belum jelas batasannya 12,04 10,14 3,25 3,07 -5,52% -10,80% -69,72% 0,07%

Bukan Lapangan Usaha

19 Rumah Tangga 944 955 1.034 1.051 1,62% 7,81% 10,00% 23,13% 20 Bukan Lapangan Usaha Lainnya 204,04 210,09 227,04 228,98 0,85% 8,64% 8,99% 5,04%

4.168

4.212 4.491 4.544 1,17% 6,47% 7,86% 100%

No Sektor Ekonomi yoy

TW III'16 qtq TW III'17 yoy TW III'17 Industri Porsi Kredit (Rp T)

Tabel 8 Konsentrasi dan Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi

Sumber: SPI September 2017

Grafik 8 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi (yoy)

Sumber: SPI September 2017 Sumber: SPI September 2017

5.3.2 Penyaluran Kredit UMKM

Porsi kredit UMKM tercatat sebesar 18,63% dari total kredit perbankan, meningkat dari triwulan sebelumnya (18,50%) maupun periode yang sama tahun sebelumnya (18,56%). Porsi tersebut sudah mencapai target minimal 15% terhadap total kredit

pada akhir tahun 2017 sebagaimana diatur dalam PBI No.14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

(28)

Sep '16 Jun '17 Sep '17 Sep '16 Jun '17 Sep '17 TW III'17 TW III'16 TW III'17

Pertanian, Perburuan dan Kehutanan

Baki Debet 64.040 73.104 74.983 8,19% 8,80% 8,86% 2,57% 9,58% 17,09%

NPL 2.720 2.693 2.562 4,25% 3,68% 3,42% -4,86% 6,49% -5,81%

Industri pengolahan

Baki Debet 79.206 89.894 89.868 10,13% 10,82% 10,62% -0,03% 4,82% 13,46%

NPL 3.456 3.408 3.278 4,36% 3,79% 3,65% -3,81% 23,42% -5,16%

Perdagangan besar dan eceran

Baki Debet 423.225 443.403 447.458 54,13% 53,37% 52,87% 0,91% 12,33% 5,73%

NPL 17.930 19.395 18.895 4,24% 4,37% 4,22% -2,58% 7,58% 5,38%

Lainnya

Baki Debet 215.435 224.400 233.985 27,55% 27,01% 27,65% 4,27% 5,31% 8,61%

NPL 10.028 12.220 12.173 4,65% 5,45% 5,20% -0,38% -3,15% 21,39%

Baki Debet UMKM 781.906 830.801 846.294 1,86% 9,30% 8,23%

NPL UMKM 34.134 37.716 36.908 4,37% 4,54% 4,36% -2,14% 5,43% 8,13%

Ket : Shaded area merupakan rasio NPL

Sektor Ekonomi Nominal (Rp M) Porsi Δ qtq Δ yoy

Berdasarkan kepemilikan bank, sebagian besar bank telah melampaui target minimal penyaluran kredit UMKM sebesar 15%, kecuali KCBA dan Bank Campuran yang masih di bawah 10%.

Berdasarkan sektor ekonomi, kredit UMKM terkonsentrasi pada sektor perdagangan besar dan eceran (52,87%), diikuti oleh industri pengolahan (10,62%), serta pertanian, perburuan dan kehutanan (8,86%).

Pada posisi September 2017, kredit UMKM tumbuh 8,23% (yoy), melambat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,30% (yoy). Perlambatan utamanya dipengaruhi

oleh melambatnya kredit di sektor perdagangan besar dan eceran yang hanya tumbuh 5,73% (yoy) dibandingkan tahun

sebelumnya sebesar 12,33% (yoy).

Sementara itu, kredit UMKM pada sektor industri pengolahan dan pertanian membaik yang mencerminkan tumbuhnya kegiatan usaha selama periode berjalan, di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang masih terbatas.

Secara triwulan, kredit UMKM tumbuh 1,86% (qtq) menjadi Rp846,3 triliun, melambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,93% (qtq).

Tabel 9 Konsentrasi Penyaluran Kredit UMKM

Sumber: SPI September 2017

Secara spasial, sebaran kredit UMKM sebagian besar terpusat di wilayah Jawa yaitu 57,86%, dengan yang terbesar di provinsi DKI Jakarta (14,25%) diikuti Jawa Timur (14,08%), Jawa Barat (12,77%), dan Jawa Tengah (11,16%). Setelah wilayah Jawa, kredit UMKM ke dua terbesar berada di wilayah Sumatera (19,23%) dengan porsi terbesar di Sumatera Utara yaitu 5,74%.

Porsi penyebaran UMKM di wilayah Jawa

dan Sumatera jauh berbeda bila

dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian tengah dan timur (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Maluku, dan Papua) yang hanya menikmati sebesar 22,91%, meskipun sedikit meningkat dari

tahun sebelumnya sebesar 22,67%.

(29)

26

1 BRI 9.500 61.500 200 71.200 20 BPD Sumut 900 100 - 1.000 2 Bank Mandiri 8.990 4.000 10 13.000 21 BPD Sumatera Barat 200 100 - 300 3 BNI 11.500 300 200 12.000 22 BPD Sumsel Babel 80 20 - 100 4 BCA 35 65 - 100 23 BPD Jawa Barat dan Banten 700 300 - 1.000 5 Bank Bukopin 300 - - 300 24 BPD Kalimantan Selatan 100 50 150 6 Maybank Indonesia 200 - 50 250 25 BPD Riau Kepri 250 50 300 7 Bank Sinarmas 50 10 25 85 26 BPD Nusa Tenggara Barat 70 30 - 100 8 Bank Permata 10 - - 10 27 BPD Lampung 50 100 - 150 9 BTPN 105 195 - 300 28 BPD Papua 35 15 - 50 10 OCBC-NISP 10 - - 10 29 BPD Bengkulu 25 - - 25 11 Bank Artha Graha 500 2.200 300 3.000 30 BPD Kalimantan Tengah 16 9 - 25 12 BRI Syariah - 500 - 500 31 BPD Jambi 7 13 - 20 13 BRI Agroniaga 130 - - 130 32 BPD Jateng 500 100 - 600 14 Bank CTBC - - 300 300 33 BPD Sulawesi Tenggara 100 66 - 166 15 BPD Bali 369 14 - 383 TOTAL Bank 35.218 70.040 1.085 106.343 16 BPD Kalimantan Barat 75 75 - 150 17 BPD NTT 150 100 - 250 18 BPD DIY 200 100 - 300 19 BPD Sulselbar 61 28 - 89 Target Penyaluran (Rp M) Total Target Penyaluran (Rp M)

Ritel Mikro TKI Ritel Mikro TKI

No NAMA LJK Target Penyaluran (Rp M) Total Target Penyaluran (Rp M) No NAMA LJK

Sep '17 TW III'17 TW III'17

BUMN 476.073 56,25% 0,85% 10,16%

BPD 66.444 7,85% 10,50% 17,12%

BUSN 295.490 34,92% 1,56% 6,01%

KCBA dan Campuran 8.286 0,98% 7,99% -42,06%

Total UMKM 846.294 100% 1,86% 8,23%

Kelompok Bank Porsi Δ qtq Δ yoy

Baki Debet (RpM) wilayah Indonesia Bagian Timur dan Tengah

antara lain disebabkan oleh masih banyaknya aktivitas kewirausahaan yang belum bankable.

Grafik 9 Penyebaran Kredit UMKM berdasarkan Wilayah

Sumber: SPI September 2017

Berdasarkan kelompok kepemilikan bank, sebagian besar kredit UMKM disalurkan oleh BUMN dengan porsi 56,25%, diikuti Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) (34,92%), BPD (7,85%), serta KCBA dan bank Campuran sebesar 0,98%. Kelompok BUMN mengalami peningkatan terbesar mencapai Rp43,9T atau tumbuh 10,16% (yoy),

sementara kredit UMKM pada kelompok KCBA dan Bank Campuran terkontraksi 42,06% (yoy) (Tabel 10). Meskipun demikian, secara triwulanan kredit UMKM pada kelompok KCBA dan Bank Campuran tumbuh 7,99% (qtq).

Tabel 10 Porsi Kredit UMKM berdasarkan Kelompok Bank (Rp Miliar)

Sumber: SPI September 2017

Untuk mendorong perkembangan sektor UMKM, Pemerintah menyelenggarakan program KUR. Target penyaluran KUR tahun 2017 tercatat Rp106,34 triliun, dengan alokasi plafon terbesar diberikan kepada tiga Bank BUMN (90,46%), dengan rincian masing-masing: BRI (66,95%); Bank Mandiri (12,22%); dan BNI (11,28%).

Tabel 11 Target Penyaluran KUR 2017

(30)

Sampai dengan September 2017, penyaluran KUR mencapai Rp69,68 triliun atau 65,52% dari target, dengan jumlah debitur sebanyak 3.098.388 debitur.

Berdasarkan sektor ekonomi, KUR

terbanyak di sektor Perdagangan (55,18%)

dan diikuti sektor Pertanian (23,53%). Berdasarkan wilayah penyaluran, KUR terkonsentrasi di Pulau Jawa; utamanya di Jawa Tengah (18,02%), Jawa Timur (17,17%), dan Jawa Barat (12,63%).

Box 1. Kinerja dan Pola Penyaluran KUR 2017

Pada tahun 2007, Pemerintah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema Imbal Jasa Penjaminan (IJP) dari Pemerintah melalui PT Askrindo dan Perum Jamkrindo. Dalam kurun waktu 2010 – 2014, realisasi penyaluran KUR rata-rata melampaui target yang ditetapkan oleh pemerintah. Dari target yang ditetapkan sebesar Rp100 triliun dalam waktu 5 tahun (2010-2014), KUR yang tersalurkan mencapai Rp178,45 triliun. Meskipun realisasi KUR berhasil melampaui target, hasil evaluasi pelaksanaan KUR skema IJP dan rekomendasi dari berbagai pihak yang dikoordinasikan oleh Komite Kebijakan* dan sejalan dengan pergantian pemerintahan dari Kabinet Indonesia Bersatu II (Pemerintahan Presiden SBY) kepada Kabinet Kerja (Presiden Jokowi) maka dilakukan perbaikan dan perubahan skema dalam pelaksanaan KUR dari skema IJP menjadi skema subsidi bunga.

Pada tahun 2015, Pemerintah menetapkan maksimum suku bunga KUR sebesar 12% p.a dan sekaligus berupaya mengeluarkan regulasi KUR IJP serta mengembangkan aplikasi pelaporan data KUR dari Bank kepada Kementerian Keuangan yaitu Sistem Informasi Kredit Program (SIKP). Selanjutnya, pemerintah menurunkan suku bunga KUR menjadi 9% p.a dalam rangka mendorong pembiayaan ke sektor UMKM pada tahun 2016 yang berlanjut hingga tahun 2017.

Sementara itu, berdasarkan sampel 7 (tujuh) bank penyalur KUR yang telah mencakup 95% dari total plafon KUR 2017, realisasi penyaluran KUR hingga bulan September 2017 telah mencapai Rp66,59 triliun atau 65,74% dari target Pemerintah dengan realisasi terbesar berada di Sektor KUR Mikro yaitu sebesar 71,37%.

(31)

28

Secara sektor ekonomi, sampai dengan bulan September 2017 penyaluran KUR masih terkonsentrasi pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran. Namun demikian, terdapat indikasi akan meningkatnya penyaluran KUR di sektor ekonomi lainnya. Peningkatan KUR pada sektor ekonomi selain sektor Perdagangan Besar dan Eceran sejalan dengan kebijakan pemerintah agar KUR 2017 diarahkan untuk mendorong sektor produksi. Porsi penyaluran KUR di sektor produksi (pertanian, perikanan, dan industri pengolahan) ditargetkan minimal sebesar 40% setelah tidak ada pengaturan mengenai hal ini pada tahun-tahun sebelumnya.

Porsi Penyaluran KUR berdasarkan Sektor Ekonomi 1.1 Penyaluran KUR

Secara spasial, penyaluran KUR terkonsenterasi di Pulau Jawa (52,10%), utamanya di Provinsi Jawa Tengah (18,14%), Jawa Timur (17,26%) dan Jawa Barat (12,48%). Hal tersebut sesuai dengan sebaran UMKM di Indonesia yang hingga saat ini masih terpusat di Pulau Jawa (57,86%) dengan penyaluran terbesar berada di DKI Jakarta (14,25%), Jawa Timur (14,08%) dan Jawa Barat (12,77%).

Persebaran Penyaluran KUR

Jika dilihat lebih spesifik ke sektor ekonomi, KUR di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih terkonsentrasi di sektor Perdagangan Besar dan Eceran. Selain itu, KUR di kedua provinsi tersebut juga banyak disalurkan ke sektor Pertanian, Perburuan dan Kehutanan serta Jasa-jasa.

6,28% 12,52% 2,61% 53,59% 1,60% 23,40% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 2015 2016 2017

Pertanian Perburuan dan Kehutanan Perikanan Perdagangan Besar dan Eceran Konstruksi Jasa-jasa Industri Pengolahan 45,86% 57,85% 24,96% 21,17% 15,69% 13,89% 7,27% 7,08% 6,23% 6,05% 0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 2015 2016 2017 Jawa Sumatera Sulampua Bali dan Nusa Tenggara 2.006 2.264 3.028 4.215 8.667 10.861 12.215 - 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 DKI Jakarta Bali Sumatera Utara Sulawesi Selatan Jawa Barat Jawa Timur Jawa Tengah

(32)

1.2 Risiko Kredit Penyaluran KUR

Secara Umum, NPL KUR masih relatif rendah meskipun dengan kecenderungan meningkat. Selain itu, rasio Kolektabilitas 2 baik dari segmen KUR Mikro maupun KUR Ritel relatif tinggi yang mengindikasikan potensi peningkatan NPL yang cukup besar.

Rasio NPL dan Kolektabilitas 2 KUR

Pada KUR Mikro, NPL tertinggi tercatat pada sektor jasa-jasa yaitu sebesar 1,6%, sedangkan pada KUR Ritel, NPL tertinggi tercatat di sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 2,30%.

Hasil kajian menyimpulkan bahwa penyaluran KUR saat ini masih terkonsentrasi pada Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, sejalan dengan penyaluran kredit terbesar perbankan secara keseluruhan berdasarkan lapangan usaha masih disalurkan pada sektor tersebut. Meskipun saat ini NPL KUR masih rendah namun berpotensi meningkat sejalan dengan relatif besarnya KUR kategori dalam perhatian khusus (kolektabilitas 2).

*Ket: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Koperasi dan UMKM, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Tenaga Kerja, Menteri BUMN, Sekretaris Kabinet, Kepala BPK, Kepala BNP2TKI 7,99% 10,42% 4,16% 54,85% 1,01% 21,28% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% Industri Pengolahan

Jasa-Jasa Konstruksi Perdagangan Besar Dan Eceran Perikanan Pertanian Perburuan Dan Kehutanan Jawa Tengah 2015 2016 2017 7,94% 12,55% 4,00% 49,36% 1,55% 24,27% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% Industri Pengolahan

Jasa-Jasa Konstruksi Perdagangan Besar Dan Eceran Perikanan Pertanian Perburuan Dan Kehutanan Jawa Timur 2015 2016 2017 0,56 1,14 0,09 0,76 1,30 1,80 0,32 1,48 0,59 0,66 0,62 3,19 2,94 1,22 3,10 4,69 4,20 1,04 4,51 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00

Mikro Ritel TKI Total Mikro Ritel TKI Total Mikro Ritel TKI Total

2015 2016 2017 Rasio Kol 2 Rasio NPL 0,63 0,45 0,00 0,65 0,69 0,33 0,56 1,34 1,60 1,53 1,44 1,49 0,76 1,30 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1,60 1,80 Industri Pengolahan

Jasa-jasa Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran Perikanan Pertanian Perburuan dan Kehutanan Total

Rasio NPL KUR Mikro

2015 2016 2017 1,34 0,64 0,00 1,26 0,79 0,67 1,14 1,09 1,26 1,68 2,30 1,21 0,73 1,80 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 Industri Pengolahan

Jasa-jasa Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran Perikanan Pertanian Perburuan dan Kehutanan Total

Rasio NPL KUR Ritel

2015 2016 2017

(33)

30

1.4 Rentabilitas

Rentabilitas bank umum pada September 2017 meningkat dengan tumbuhnya laba sebesar 14,59% (yoy). Hal tersebut tercermin pada naiknya rasio ROA menjadi 2,42% dari 2,32% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ROA berasal dari membaiknya efisiensi perbankan yang tercermin dari penurunan BOPO menjadi 79,22% (Juni 2017=79,48%; September 2016=81,70%).

Berdasarkan kelompok bank, ROA tertinggi berada pada KCBA sebesar 2,86%

sedangkan kelompok bank dengan

peningkatan laba tertinggi adalah BUSN Devisa dan BUMN masing-masing sebesar 24,19% (yoy) dan 17,61% (yoy).

1.5 Permodalan

Modal Bank Umum (tidak termasuk KCBA) terdiri dari modal inti (91,72%) dan modal pelengkap (8,28%). Modal inti didominasi oleh modal inti utama (Common Equity Tier 1/CET 1) yang pada September 2017 tumbuh 14,01% (yoy). Peningkatan CET 1 utamanya dipengaruhi oleh meningkatnya laba dan modal disetor yang masing-masing tumbuh 20,90% (yoy) dan 11,79% (yoy). Sementara itu, khusus untuk KCBA, permodalan diatur dalam bentuk Capital Equivalency Maintained Assets (CEMA). Porsi CEMA dalam total permodalan industri

perbankan tercatat sebesar 14,73%, sedikit turun dari tahun sebelumnya (15,91%). Secara total, dengan peningkatan modal inti dan pertumbuhan laba, modal bank umum (termasuk KCBA) tumbuh 11,52% (yoy). Disisi lain, total ATMR industri perbankan tumbuh 8,26% (yoy). Dengan pertumbuhan modal yang lebih tinggi dibanding ATMR, CAR bank umum pada posisi September 2017 tercatat sebesar 23,01%, meningkat 67 bps (yoy) dari tahun sebelumnya sebesar 22,34%.

Berdasarkan kelompok bank, CAR tertinggi berada pada kelompok KCBA, yaitu 53,21%, jauh di atas CAR industri (23,01%). Tingginya CAR KCBA antara lain karena mendapat dukungan pendanaan setara modal dari head office serta keharusan KCBA untuk menempatkan komponen permodalannya (CEMA) dalam Surat Berharga berkualitas tinggi dengan bobot risiko dalam ATMR cukup rendah.

2. Kinerja Bank Syariah

Kinerja bank syariah pada triwulan III-2017 secara umum membaik dibandingkan triwulan III-2016. Permodalan bank syariah masih solid, didukung oleh peningkatan efisiensi dan rentabilitas. Selain itu, risiko pembiayaan juga terjaga tercermin oleh menurunnya NPF gross.

(34)

qtq yoy yoy Sep Des Mar Jun Sep TW III '17 TW III '16 TW III '17 BUS dan UUS

Total Aset (Rp milyar) 331.763 356.504 358.742 378.198 395.093 4,47% 17,58% 19,09% Pembiayaan (Rp milyar) 235.004 248.007 250.536 265.317 271.576 2,36% 12,91% 15,56% Dana Pihak Ketiga (Rp milyar) 263.522 279.335 286.178 302.013 318.574 5,48% 20,16% 20,89% - Giro Wadiah (Rp milyar) 29.068 27.972 30.620 35.970 38.206 6,22% 40,58% 31,44% - Tabungan Mudharabah (Rp milyar) 78.354 85.188 85.841 86.939 90.470 4,06% 22,57% 15,46% - Deposito Mudharabah (Rp milyar) 156.100 166.174 169.717 179.103 189.898 6,03% 15,88% 21,65%

CAR (%) - BUS 15,43 16,63 16,98 16,42 16,16 -25 28 73 ROA (%) 1,04 0,95 1,53 1,49 1,41 -7 11 37 NOM (%) 1,12 1,03 1,70 1,65 1,56 -9 14 44 BOPO (%) 92,83 93,63 88,58 87,13 87,46 33 -80 -537 NPF gross (%) 4,31 4,16 4,29 3,99 3,88 -11 -42 -43 FDR (%) 89,18 88,78 87,55 87,85 85,25 -260 -573 -393 Rasio 2016 2017

Tabel 12 Indikator Umum Bank Syariah

Sumber: Statistik Perbankan Syariah (SPS), September 2017

2.1 Aset

Pada September 2017, pangsa aset bank syariah1 terhadap total aset industri perbankan secara perlahan meningkat, yaitu sebesar 5,53% (September 2016=5,13%). Aset bank syariah masih didominasi oleh BUS sebesar 69,84%. Sebagian besar aset bank syariah merupakan piutang sebesar 38,66%, diikuti pembiayaan bagi hasil (28,14%) dan penempatan pada Bank Indonesia (14,62%).

Aset bank syariah tumbuh 19,09% (yoy), meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 17,58% (yoy). Peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya DPK dan modal. Pada komponen aset, peningkatan tercermin pada meningkatnya pembiayaan bagi hasil dan surat berharga yang masing-masing tumbuh 30,89% (yoy) dan 67,52% (yoy).

Dalam pada itu, secara triwulanan aset bank syariah tumbuh 4,47% (qtq), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan pertumbuhan 5,42% (qtq).

1 Sampai dengan September 2017, bank syariah terdiri dari 13 BUS dan 21 UUS

Grafik 10 Tren Aset Perbankan Syariah

Sumber: SPS September 2017

2.2 Sumber Dana

Sumber dana (DPK) perbankan syariah didominasi oleh deposito mudharabah sebesar 59,61%, diikuti oleh tabungan mudharabah dan giro wadiah masing-masing sebesar 28,40% dan 11,99%.

Pada September 2017, DPK bank syariah tumbuh 20,89% (yoy), relatif stabil dibanding posisi September 2016 (20,16%, yoy). Hal tersebut ditopang oleh

meningkatnya pertumbuhan deposito

sebesar 21,65% (yoy), sementara tabungan dan giro mengalami perlambatan (Grafik 8). Secara triwulanan, DPK bank syariah tumbuh sebesar 5,48% (qtq) relatif stabil

(35)

32

Sep '16 Jun '17 Sep '17 TW II '17 TW III '17 TW III '16 TW III '17 Pertanian, Perburuan, Kehutanan 8.304 9.847 9.741 3,59 3,82% -1,08% 15,27% 17,31% Perikanan 1.386 1.350 1.370 0,50 -9,54% 1,50% 33,42% -1,19%

Pertambangan dan Penggalian 6.324 7.085 7.012 2,58 3,70% -1,03% 13,84% 10,89% Industri Pengolahan 18.703 20.558 20.422 7,52 2,51% -0,66% 15,02% 9,19% Listrik, Gas dan Air 7.455 7.857 7.733 2,85 -4,90% -1,57% 15,60% 3,74% Konstruksi 11.852 19.782 21.540 7,93 37,29% 8,89% -0,11% 81,74% Perdagangan Besar dan Eceran 28.982 30.450 31.600 11,64 3,85% 3,78% 15,68% 9,03% Akomodasi dan PMM 2.858 3.489 3.542 1,30 1,87% 1,52% 42,18% 23,94% Transportasi, Pergudangan & Komunikasi 10.705 11.028 10.019 3,69 6,18% -9,15% -15,76% -6,41%

Perantara Keuangan 19.025 19.385 19.564 7,20 7,07% 0,92% 2,00% 2,83% Real Estate, Usaha Persewaan, & Jasa Perusahaan 10.437 11.657 12.045 4,44 2,67% 3,32% 19,31% 15,40% Adm. Pmrnthn,Perthn&Jamsos 260 9 8 0,00 13,25% -9,66% 973,68% -96,82%

Jasa Pendidikan 3.702 4.390 4.693 1,73 6,89% 6,90% 28,38% 26,78% Jasa Kesehatan & Kesos 2.725 3.511 3.658 1,35 8,76% 4,17% 16,50% 34,21% Kemasyarakatan, Sosbud & lainnya 4.685 4.895 4.880 1,80 8,33% -0,30% -11,74% 4,17% Jasa Perorangan yang melayani RT 337 343 330 0,12 4,22% -3,95% 41,59% -2,12%

Badan Internasional & lainnya 1 - - 0,00 0,00% 0,00% 146,90% -100%

Kegiatan yang belum jelas 844 752 575 0,21 9,28% -23,54% -62,42% -31,91%

Rumah Tangga 93.198 106.214 110.233 40,59 4,47% 3,78% 25,07% 18,28% Bukan lapangan usaha lainnya 3.222 2.715 2.610 0,96 -5,16% -3,85% -36,08% -18,98%

TOTAL 235.005 265.317 271.576 100 5,90% 2,36% 12,91% 15,56% qtq (%)

Sektor Ekonomi Pembiayaan (Rp M) Porsi (%) yoy (%)

dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,53% (qtq), yang utamanya ditopang oleh pertumbuhan deposito sebesar 6,03% (qtq).

Grafik 11 Pertumbuhan DPK Bank Syariah (yoy)

Sumber: SPS September 2017

2.3 Penggunaan Dana

Alokasi penempatan (penggunaan) dana perbankan syariah didominasi untuk tujuan

pembiayaan. Pada September 2017,

pembiayaan perbankan syariah tumbuh 15,56% (yoy), meningkat dibandingkan posisi September 2016 sebesar 12,91% (yoy). Peningkatan tersebut utamanya dipengaruhi oleh pesatnya pertumbuhan pembiayaan sektor konstruksi yang tumbuh 81,74% (yoy). Selain itu, pembiayaan ke sektor rumah tangga juga masih menjadi sektor penyaluran pembiayaan tertinggi yang tumbuh 18,28% (yoy). Meskipun total pembiayaan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, namun terjadi perlambatan pertumbuhan pada dua sektor lapangan usaha terbesar yaitu sektor perdagangan besar/eceran dan industri pengolahan yang masing-masing tumbuh 9,03% (yoy) dan 9,19% (yoy) atau lebih lambat dari 15,68% (yoy) dan 15,02% (yoy) pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tabel 13 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Sektor Ekonomi

(36)

Sep '16 Jun '17 Sep '17 TW II'17 TW III'17 TW III '16 TW III ' 17 Modal Kerja 81.595 92.725 95.375 35,12 8,21 2,86 0,66 16,89 Investasi 56.991 63.664 63.358 23,33 5,55 -0,48 19,92 11,17 Konsumsi 96.420 108.929 112.844 41,55 4,21 3,59 21,19 17,03 Total 235.005 265.317 271.576 100 5,90 2,36 12,91 15,56 qtq (%) Nilai (Rp. Miliar) Porsi (%)

JENIS PENGGUNAAN yoy (%)

Dalam pada itu, pembiayaan ke sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan tumbuh lebih baik dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 17,31% (yoy) yang antara lain di pengaruhi oleh program AKSI Pangan yang dikhususkan untuk mendukung program kemandirian pangan nasional. Berdasarkan jenis penggunaan, pembiayaan bank syariah masih didominasi untuk tujuan konsumsi sebesar 41,55% diikuti modal kerja dan investasi masing-masing sebesar 35,12% dan 23,33% (Tabel 14). Pembiayaan investasi dan konsumsi tumbuh melambat, sementara pembiayaan modal kerja tumbuh

signifikan sebesar 16,89% (yoy)

dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 0,66% (yoy).

Secara triwulanan, penyaluran pembiayaan bank syariah tumbuh 2,36% (qtq) atau melambat dibandingkan posisi Juni 2017 yang tumbuh sebesar 5,90% (qtq). Perlambatan antara lain dipengaruhi oleh terjadinya kontraksi pembiayaan di sektor transportasi sebesar -9,15% (qtq) serta melambatnya pertumbuhan pembiayaan ke sektor konstruksi menjadi hanya 8,89% (qtq). Hal tersebut juga tercermin pada melambatnya pembiayaan modal kerja dan konsumsi, sementara pembiayaan investasi mengalami penurunan sebesar 0,48% (qtq).

Tabel 14 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Penggunaan

Sumber: SPS, September 2017

Kualitas pembiayaan bank syariah membaik, yang terlihat dari menurunnya rasio NPF gross sebesar 43 bps (yoy) menjadi 3,88% dari 4,31% pada September 2016.

Secara spasial, sebagian besar pembiayaan masih terpusat di wilayah Jawa sebesar 71,84%, khususnya DKI Jakarta (42,29%), Jawa Barat (11,69%), Jawa Timur (8,26%), dan Jawa Tengah (5,94%). Dominasi wilayah Jawa dalam pembiayaan syariah antara lain dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan jumlah jaringan kantor yang lebih banyak serta kondisi infrastruktur serta akses keuangan yang lebih baik dibandingkan di wilayah lainnya.

Grafik 12 Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan Lokasi Bank Penyalur

(37)

34

qtq yoy yoy

Sep Des Mar Jun Sept TW III'17 TW III'16 TW III '17

Total Aset (Rp milyar) 108.921 113.501 114.872 116.640 121.583 4,24% 11,75% 11,62%

Kredit (Rp milyar) 80.083 81.684 84.340 87.389 87.938 0,63% 7,82% 9,81%

Dana Pihak Ketiga (Rp milyar) 72.756 75.725 77.212 77.853 81.597 4,81% 13,54% 12,15%

- Tabungan (Rp milyar) 22.013 23.748 23.600 23.389 24.892 6,43% 14,20% 13,08% - Deposito (Rp milyar) 50.743 51.977 53.612 54.465 56.705 4,11% 13,26% 11,75% NPL Gross (%) 6,58 5,83 6,68 6,93 7,00 7 53 42 NPL Net (%) 4,17 4,20 4,88 4,59 5,17 58 37 100 ROA (%) 2,58 2,59 2,76 2,61 2,56 (5) (15) (2) LDR (%) 77,71 76,24 77,00 79,03 76,59 (244) (263) (112) CR (%) 15,93 19,01 15,25 15,10 17,14 204 2 121 BOPO (%) 82,04 81,19 80,81 81,39 81,07 (32) (23) (97) CAR (%) 22,45 22,77 23,72 22,49 22,69 20 113 24 Rasio 2016 2017 2.4 Rentabilitas

Rentabilitas bank syariah meningkat, tercermin dari rasio ROA sebesar 1,41% yang lebih tinggi dari 1,04% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal tersebut

dipengaruhi oleh meningkatnya

pembiayaan serta efisiensi bank syariah sehingga turut mendorong kenaikan laba sebesar 64,74% (yoy) dari Rp3,15 triliun pada September 2016 menjadi Rp5,20 triliun pada September 2017.

Grafik 13 Laba dan ROA Perbankan Syariah

Sumber: SPS September 2017

Membaiknya efisiensi bank syariah tercermin dari penurunan rasio BOPO menjadi 87,46% dibandingkan 87,13% pada posisi Juni 2017 maupun posisi September 2016 (92,83%). Perbaikan rentabilitas juga tercermin dari kenaikan NOM sebesar 44 bps menjadi 1,56% sebagai dampak dari meningkatnya pembiayaan.

2.5 Permodalan

Permodalan BUS terdiri dari modal inti dengan porsi 85,83% dan modal pelengkap 15,54%. Modal inti tumbuh 6,71% (yoy), yang ditopang oleh meningkatnya modal disetor dan laba BUS yang masing-masing tumbuh 7,09% (yoy) dan 29,26% (yoy). Dalam pada itu, modal pelengkap tumbuh sebesar 15,54% (yoy), sehingga permodalan BUS tumbuh sebesar 7,88% (yoy) atau naik Rp2,02T.

Di sisi lain, ATMR BUS tumbuh 2,96% (yoy), atau lebih rendah dari pertumbuhan modal. Dengan kenaikan modal yang lebih besar dari ATMR, CAR BUS pada September 2017 tercatat sebesar 16,16% atau meningkat dari 15,43% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

3. Kinerja BPR Konvensional (BPRK)

Kondisi BPR pada triwulan III-2017 cukup baik dengan pertumbuhan kredit yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ketahanan BPR relatif cukup solid didukung dengan perbaikan tingkat efisiensi,

meskipun masih dibayangi dengan

peningkatan risiko kredit.

Tabel 15 Indikator Umum BPR Konvensional

(38)

3.1 Aset

Dalam satu tahun terakhir, aset BPR tumbuh 11,62% (yoy), relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 11,75% (yoy). Pertumbuhan aset BPR tersebut masih cukup baik yang antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya DPK dan modal BPR meskipun relatif melambat.

Grafik 14 Perkembangan Aset BPRK

Sumber: SPI, September 2017

Berdasarkan sebaran, aset BPR lebih banyak di Pulau Jawa (56,67%) dengan Jawa Tengah dan Jawa Barat menjadi yang terbesar masing-masing dengan porsi 22,39% dan 14,30%. Dilihat dari pertumbuhannya, pertumbuhan aset BPR tertinggi berada di Maluku Utara sebesar 66,53% (yoy), meskipun dengan porsi yang sangat rendah, yakni 0,08% dari total aset BPR. Sementara dilihat dari nominal peningkatan aset tertinggi terdapat di Jawa Tengah sejalan dengan porsi aset terbesar di wilayah tersebut.

3.2 Sumber Dana

Komposisi sumber dana BPR masih didominasi oleh DPK dengan porsi 81,31%, diikuti pinjaman yang diterima (13,69%), antar bank pasiva (4,22%), dan kewajiban segera (0,78%).

DPK BPR tumbuh 12,15% (yoy), melambat dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 13,54% (yoy). Perlambatan utamanya terjadi pada deposito dan tabungan yang masing-masing hanya tumbuh 11,75% (yoy) 16=13,26%, yoy) dan 13,08% (yoy) (Sep-16=14,20%, yoy) (Grafik 15). Dilihat dari porsinya, deposito masih merupakan komponen DPK terbesar dengan porsi 69,49%.

Searah dengan aset, DPK BPR juga terkonsentrasi di Jawa (59,49%), diikuti oleh Sumatera (19,21%), Bali-Nusa Tenggara (12,98%), Sulampua (6,15%), dan Kalimantan (2,18%). Peningkatan DPK BPR terbesar terdapat di provinsi Jawa Tengah dan Bali yang masing-masing tumbuh 12,99% (yoy) dan 16,27% (yoy).

Grafik 15 Perkembangan DPK BPRK

Gambar

Tabel 3 Perkembangan Aset Bank Umum
Tabel 4 DPK berdasarkan Kelompok Kepemilikan
Tabel 8 Konsentrasi dan Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi
Tabel 12 Indikator Umum Bank Syariah
+7

Referensi

Dokumen terkait

dengan pembaruan baris data pada child table yang dengan pembaruan baris data pada child table yang terelasikan..  Restrict  mencegah proses pembaruan

Dalam rangka melaksanakan Penyelenggaraan SPAM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk BUMN dan/atau BUMD oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai

Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan produksi bahan pakan penyusun ransum ayam broiler yang dihasilkan oleh wilayah Kabupaten Majalengka dan mengetahui jumlah

 Menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.  Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau

Kajian yang dilakukan oleh Andri Ramadhan hanya fokus untuk menyelesaikan permasalahan sistem persamaan linear dalam bentuk riil dengan menggunakan

Berdasarkan uraian di atas, maka Komunikasi Antarpribadi dapat di definisikan sebagai proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antar individu yang satu (sebagai

Menurut Mahkamah Konstitusi pasal subpoena masih relevan sepanjang penggunaannya hanya untuk penyelidikan dengan hak angket, namun Mahkamah juga menyatakan Kepolisian

Faktor pembentuk preferensi konsumen dalam memilih Armor Kopi dalam penelitian ini ada sepuluh faktor yang terdiri dari Harga, Kualitas layanan, Kualitas produk (rasa dan varian),