• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gab? Udah selesai? Hei iya udah kok. Cuma lagi ngobrol-ngobrol

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gab? Udah selesai? Hei iya udah kok. Cuma lagi ngobrol-ngobrol"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

”…”

“…Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala Tetap dipuja-puja bangsa…”

“Kareeeen…” “Ya, Kak?”

“Ada waktu nggak? Bisa ngobrol bentar?” “Oh, bisa banget kok, Kak.”

“Ya udah, disini aja ya. Gue cuman mau nanya, lo waktu SMA pernah gabung tim paduan suara juga ya?”

“Iya, Kak. Dari SMP juga udah gabung di paduan suara kok, Kak.”

“Hmm…pantesan suara lo oke. Tapi ngomong-ngomong lo ikutan les vocal juga?”

“Hmm…gue nggak pernah ikutan les vocal tuh, Kak. Emang kenapa ya, Kak?”

“Lo serius nggak pernah ikutan les vocal? Teknik

vocal lo tuh bagus banget loooh! Kok bisa sih? Gue yang

ikutan les vocal aja nggak sebagus itu tekniknya.”

“Ah, Kak Gaby bisa aja nih. Biasa aja kok, Kak. Lagian selama gue gabung di tim paduan suara kan gue juga belajar banyak tentang teknik vocal, Kak.”

“Iya sih, tapi suara lo tuh emang bagus banget, Ren. Lo jelas punya modal buat bisa bertahan disini. Apalagi kalo Mba Dina udah ngedenger suara lo, lo pasti

(2)

bakal langsung kepilih buat ikutan lomba paduan suara sampai ke tingkat internasional.”

“Tingkat internasional, Kak? Kak Gaby serius? Gue nggak pernah ikutan lomba paduan suara sampe tingkat internasional. Palingan juga tingkat nasional, ngewakilin sekolah.”

“Gue serius, Ren. Terakhir lomba juga gue ikutan yang tingkat Asia Tenggara kok. Pokoknya gue yakin banget, lo pasti bakal bertahan lama disini. Yaaa…asal lo rajin latihan dan mau ngebaur sama semuanya aja.”

“Pasti, Kak. Gue suka banget sama paduan suara, jadi gue juga bakal serius banget buat latihan.”

“Gab? Udah selesai?”

“Hei…iya udah kok. Cuma lagi ngobrol-ngobrol aja.”

“Ya udah, kita pulang sekarang yuk!”

“Ayo! Ren, gue pulang duluan ya. Makasih loh buat obrolan singkatnya. Mudah-mudahan lo betah ya gabung disini.”

“Iya, sama-sama, Kak. Gue pasti bakal betah kok.”

Kriiiiiiing… “Hallo?”

“Karen, lo udah selesai latihan belum sih?” “Udah kok, Ca.”

“Lah terus kok lo belum keluar juga? Gue daritadi nungguin di depan tempat lo latihan nih. Orang-orang udah pada keluar tapi gue belum nyium bau nyong-nyong lo.”

(3)

“Iiih…gue nggak pernah pake minyak

nyong-nyong tau! Tadi gue diajak ngobrol sama senior gue.

Sekarang gue keluar deh.” Tuuuuut…

***

“Selamat makan Kareeeen…” Wajah Caca bener-bener mupeng ngeliat batagor yang ada di hadapannya. Ia pun nggak nunggu waktu lagi untuk sesegera mungkin memasang kuda-kuda untuk mengambil sendok dan garpu diatas piringnya, sesaat setelah pesanannya datang.

“Eeeiiits! Tunggu!” Tanpa belas kasih, gue langsung menghadang niat Caca untuk melahap habis makanannya itu.

“Lo kenapa sih, Ren?” Wajah mupeng yang semula terpasang kental tiba-tiba aja berubah ragu, dengan kuda-kuda yang masih sama.

“Nih pake!” Gue nyuruh Caca untuk memakai

hand-sanitizer yang baru aja gue keluarin dari dalam tas

gue.

“Ya ampun, Ren. Gue kan makannya pake sendok, nggak pake tangan kosong. Jadi ngapain gue pake begituan?” Yaaa…Caca menolak permintaan gue dengan kuda-kuda yang masih sama.

“Aduh Caca, meskipun lo makannya pake sendok, bukan berarti kuman-kuman itu nggak akan masuk ke makanan lo. Nanti kalo kuman-kumannya nyebar, terus jalan ke sendok lo, kan mereka bisa masuk ke makanan yang mau lo makan.”

(4)

“Tapi kan tangan gue bersih, Ren. Niiiih…” Caca menyodorkan kedua telapak tangannya ke depan mata gue, dengan kuda-kuda yang tentunya sudah berubah.

“Bersih kan menurut lo, kalo diliat pake mikroskop pasti kumannya banyak banget deh. Lagian lo tuh tinggal make hand-sanitizer doang repot banget sih, Ca.”

“Aaah…Lo tuh yang repot!” Kali ini bukan cuma kuda-kuda Caca aja yang berubah, tapi bentuk bibirnya juga udah berubah jadi lebih maju.

“Hmm…ya terserah lo. Kalo nanti lo sakit gara-gara kuman atau bahkan virus, gue nggak mau tau yaaa…”

“Heuh! Terserah lo deh!” Caca menutup pembicaraannya dan langsung mengambil hand-sanitizer gue. Setelah menuangkan lima tetes, Caca kembali memasang kuda-kuda dan langsung melahap mantap makanannya.

“Permisi, Mba. Ini mi goreng pesanannya.” Salah seorang pramusaji café mengantarkan pesanan gue yang memang datang lebih lama dari pesanan Caca. Pramusaji itu memakai celemek berwarna hitam putih dengan rambut agak kemerahan yang diikat dan poni rata sebatas alis. Café sederhana dan minimalis yang terletak ditengah kota Bandung ini memang sering menjadi pilihan penggila makanan di Bandung. Selain tempatnya yang strategis,

menu makanan dan minumannya yang beragam dengan

harga yang sangat terjangkau membuat berbagai kalangan tidak segan untuk menghabiskan waktunya ditempat ini.

“Makasih ya…” Belum sempat gue

(5)

mata gue terpaksa harus terbelalak melihat bagaimana cara dia menyodorkan sendok dan garpu untuk gue. “Saya nggak mau pake sendok sama garpu yang itu!”

“Maaf, Mba, tapi kenapa ya? Sendok dan garpu ini nggak kotor kok.”

“Apanya yang nggak kotor? Kamu nggak liat jari-jari kamu itu ada dimana?” Gue mengajukan pertanyaaan yang sebenarnya sudah sangat gue ketahui jawabannya dengan nada yang agak tinggi. “Jari-jari kamu ada di tempat untuk nampung makanannya.” Sadar melihat reaksinya yang seolah tidak mengerti, gue pun menjawab pertanyaaan yang sudah gue ajukan sendiri.

“Oh…maaf, Mba.” Pramusaji itu meminta maaf dengan raut wajah yang masih sedikit keheranan. “Sebentar, saya ganti.” Sesaat kemudian ia melanjutkan

perkataannya tanpa meninggalkan raut wajah

keheranannya dan sesegera mungkin berjalan ke arah dapur.

“Kasian tau, Ren.” Caca yang sedari tadi sangat lahap menyantap batagornya ikut berkomentar sambil melihat arah jalan pramusaji itu.

“Lebih kasian kalo gue sakit. Emangnya pramusaji tadi mau tanggung jawab?”

“Ya kan lo bisa bersihin sendok sama garpunya pake tissue, Ren.”

“Kalopun dibersihin pake tissue, kuman dari tangan do’i masih tetep ada.”

“Hmm…iya deh.” Caca kembali menyantap makanannya sesaat sebelum pramusaji tadi datang menghampiri gue.

(6)

“Ini sendok dan garpu yang baru, Mba. Sekali lagi saya mohon maaf.” Kali ini ia menyerahkan sendok dan garpu dari tangan kanannya ke atas meja dengan kondisi yang penuh balutan kertas tissue.

“Nah, gini dong. Kan enak jadinya. Kamu sehat, saya juga sehat. Makasih ya.” Seulas senyum yang gue tawarkan juga hanya dibalas dengan senyuman dari pramusaji itu.

Setelah meneteskan hand-sanitizer yang masih berdiri manis diatas meja ke kedua telapak tangan gue, gue pun nggak berpikir panjang lagi untuk segera membaca doa sebelum makan dan segera menyantap makanan gue guna mengobati lara di perut gue ini.

***

2

The Beginning of You

“Baiklah anak-anak, minggu depan saya akan mengadakan kuis mengenai materi yang saya sampaikan hari ini. Saya harap kalian benar-benar mempelajari materi yang telah saya sampaikan tadi, sehingga nilai kuis yang kalian hasilkan pun akan maksimal. Terima kasih atas perhatiannya, selamat siang.”

Pak Teo, dosen mata kuliah Kewarganegaraan gue

menutup pertemuan sekaligus perkuliahan yang

berlangsung hari ini. Jam di tangan kiri gue masih menunjukkan pukul 12.30 siang.

“Temen-temen, bentar dong! Jangan pada keluar dulu! Gue ada pengumuman nih.” Yudha, salah seorang

(7)

teman sekelas gue langsung berkoar di depan kelas sesaat setelah Pak Teo lenyap dari pandangan.

“Hari ini ada pertandingan basket putra antara fakultas kita sama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Pertandingannya dimulai jam satu di stadion. Gue harap lo semua dateng ya. Soalnya tim yang punya supporter paling heboh juga bakal dikasih hadiah hiburan. Gue tunggu yaaa! Makasih loooh…”

Anak-anak kelas langsung heboh ketika

mengetahui bahwa hari ini ada pertandingan basket antara fakultas kita sama FISIP. Maklumlah, namanya juga mahasiswa tingkat pertama, masih aktif banget buat ngikutin berbagai kegiatan kampus, apalagi kalau udah pertandingan olah raga antar fakultas.

“Ayo, Ren!” Caca langsung menarik tangan kiri gue dengan semena-mena tanpa sedikitpun sadar kalo gue masih beresin buku yang berantakan diatas meja gue.

“Aduh! Mau kemana, Ca?” Pertanyaaan singkat yang gue ajukan ke Caca sama sekali nggak mengubah kesibukan gue akan buku-buku yang berserakan di hadapan gue.

“Pake nanya lagi lo. Ya ke stadionlah, Ren.” “Nonton basket maksud lo?” Seketika pandangan gue tidak lagi fokus ke buku-buku yang berserakan itu, kali ini tanpa ragu gue memindahkan fokus dimata gue ke matanya Caca.

“Kagak! Nonton sirkus! Ya iyalah nonton basket.” “Ah, nggak mau ah, Ca.”

“Kok nggak mau? Lo nggak mau ngedukung tim fakultas kita?”

(8)

“Gue dukung lewat doa aja ya.”

“Aaah…apa-apaan sih lo, Ren. Ayo dong! Lagian masih jam segini juga, emang lo mau kemana sih?”

“Nggak kemana-mana kok.” Gue menjawab pertanyaaan Caca sambil kembali membereskan buku-buku gue yang kali ini udah masuk dan tertata rapi di dalam tas gue.

“Terus kenapa lo nggak mau nonton?”

“Caca, lo tau kan yang nonton basket tuh pasti banyaaaak bangeeet? Dan lo juga tau kan yang nonton basket tuh pasti bakal heboooh bangeeet? Dan lo juga pasti tau kan kalo semua yang nonton basket tuh pasti bakal keringetaaan bangeeet?”

“Jangan bilang lo nggak mau nonton basket karena lo nggak mau keringetan?!” Caca mengajukan pertanyaaan dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa diapun tidak ingin mendengar jawabannya.

“Gue bukannya nggak mau keringetan. Gue cuman nggak mau kalo keringet orang itu nyampur di badan gue. Belum lagi kalo ada yang bau ketek, hiiii…nggak banget deh, Ca.” Jawab gue sambil mengangkat bahu dan sedikit mengeluarkan lipatan di kening gue.

“Astaga Kareeeen!” Caca menanggapi pernyataan gue dengan menutup mukanya menggunakan kedua tangannya. “Lo yakin nggak mau nonton basket?” Caca masih berusaha keras untuk mengajak gue.

(9)

“Anak-anak basket kan biasanya ganteng-ganteng, Ren. Apalagi anak-anak FISIP. Mereka kan terkenal ganteng-ganteng. Yakin nggak mau nonton?”

“Yakiiin… Lagian ganteng sama so’ ganteng itu beda loh, Ca”

“Bukan cuman ganteng loh, Ren. Mereka juga pasti tinggi-tinggi. Udah gitu badannya pasti berotot semua. Lo masih yakin nggak mau nonton?”

“Yakiiiiin!”

“Aaah…ya udah deh, gue nonton bareng anak-anak kelas aja. Nggak asik lo!” Caca langsung meninggalkan gue sendirian tanpa pamit.

Sudah sekitar setengah jam yang lalu gue berpisah sama Caca. Dari tadi gue cuman jalan sendirian keliling kampus bak seorang anak yang rumahnya kena gusur dan keluarganya hilang entah kemana, luntang-lantung sendirian. Gue benar-benar nggak ada kerjaan, bingung mau ngapain, bingung mau kemana. Sekarang masih jam 13.15 siang. Kalo jam segini gue udah pulang ke rumah, gue bisa diketawain sama pintu. Aduuuuh…ngapain dong gue?

Bingung mau ngapain, akhirnya gue memutuskan untuk nelpon Caca dan ngajak dia ke mall. Mall pasti bakal bikin dia lebih tertarik dibandingin basket. Sesegera mungkin gue merogoh ke dalam tas dan menemukan

handphone gue disana. Gue menekan tombol pintas

menuju menu phonebook dan mencari nama “Caca” disana. Sadar bahwa sudah menemukan nama yang gue cari, tanpa ragu gue pun langsung menekan tombol tanda ingin menelepon.

(10)

Hanya nada suara datar itu yang terus terdengar di telinga gue. Sadar nada itu sudah bertahan terlalu lama, gue menutup telepon dan langsung menghubungi Caca lagi.

Tuuut…tuuut…tuuut…tuuut…tuuut…

Masih nada yang sama yang terdengar di telinga gue. Kali ini gue mencoba untuk menunggu lebih lama sampai nada datar itu berganti menjadi suara cempreng

bak kaleng rombengnya Caca.

Tuuut…tuuut…tut..tut..tut..tut..

Masih nada yang sama namun dengan irama yang lebih cepat. Telepon gue nggak diangkat sama Caca. Pasti dia lagi sibuk ngeliatin anak-anak basket deh.

Referensi

Dokumen terkait