BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang,
Provinsi Sumatera Utara dan dilaksanakan mulai bulan Juni 2016 – Agustus 2016. Pemilihan
Lokasi ini dikarenakan, kecamatan Percut Sei Tuan berbatasan langsung dengan kota Medan
di sebelah selatan dan barat. Selain itu, Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki sepuluh
perguruan tinggi dan jumlah penduduknya melebihi beberapa kabupaten dan kota di
Sumatera Utara.
3.2 J enis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei. Menurut Kerlinger dalamRiduan
(2007: 49) penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun
kecil tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel sehingga ditemukan
kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan antarvariabel sosiologi maupun psikologis.
Jenis penelitian berdasarkan jenis data dan analisis adalah penelitian kuantitatif.
Menurut Sugiyono (2008: 35) penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menganalisis data
kuantitatif (data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang dikuantitatifkan) dengan
menggunakan statistika sebagai alat uji.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh pemuda yang berdomisili di Kacamatan Percut
Sei Tuan. Menurut Badan Pusat Statistik jumlah penduduk menurut kelompok umur 15-29
tahun berjumlah 121.456jiwa atau 26persen dari jumlah penduduk Kecamatan Percut Sei
Tuan.Angka ini menunjukkan penduduk Percut Sei Tuan didominasi oleh penduduk usia
muda.Perhitungan sampel menggunakan rumus perhitungan Frank Lynch (Irawan, 2006) :
n=N𝑑𝑑N𝑧𝑧2 + 𝑧𝑧2.p(1-p)2.p(1-p) Keterangan :
n= banyaknya sampel
N= jumlah populasi
Z= nilai nominal dari variabel (1,96) tingkat kepercayaan 90 %
P= harga patokan (0,5) D= sampling eror (0,1) Maka, n = 121456(0,01) + 3,84𝑥𝑥0,25121456(3,84)𝑥𝑥0,25 n = 1214,26 + 0,96116597,76 n = 116597,76 1215,22
n = 95,94 atau dibulatkan menjadi 96
3.4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a. Wawancara (interview) dan daftar pertanyaan (questionaire) diberikan kepada responden
penelitian.
b. Studi dokumentasi dengan mempelajari data-data yang berasal dari kantor camat Percut
sei tuan dan website Badan Pusat Statistik
3.5. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah:
a. Data primer yakni data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya yaitu melalui
daftar pertanyaan dan wawancara.
resmi yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik dan Kantor Camat Percut Sei Tuan
3.6. Identifikasi dan Definisi Oper asional Var iabel Penelitian
3.6.1. Identifikasi Var iabel
Variabel-variabel dalam penelitian atas enam variabel bebas yakni variabel kebutuhan akan prestasi (X1), variabel efikasidiri (X2), variabel ketersediaan informasi kewirausahaan
(X3),variabel kepemilikan jaringan sosial (X4), variabel akses kepada modal (X5) danvariabel
demografis (X6) dan satu variabel terikat yakni variabel minta kewirausahaan (Y1).
3.6.2. Definisi Oper asional Var iabel
Definisi operasional variabel untuk semua variabel bebas dan variabel terikat pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan Akan Prestasi (X1)
Kebutuhan akan prestasi adalah kebutuhan seseorang untuk menguasai
suatukeahlian, mencapai prestasi dan standar yang tinggi.
2. Efikasi diri (X2)
Efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan suatu pekerjaan atau mendapatkan prestasi tertentu.
3. Ketersediaan Informasi Kewirausahaan (X3)
Ketersediaan informasi kewirausahaan adalah tersedianya informasi yang dibutuhkan dan
mendukung kegiatan kewirausahaan secara memadai.
4. Akses Kepada Modal (X4)
Akses kepada modal adalah kemampuan wirausaha untuk mendapatkan modal untuk
menjalankan usahanya.
5. Kepemilikan Jaringan Sosial (X5)
Kepemilikan jaringan sosial adalah hubungan formal dan informal antara seorang
terbentuk satu jaringan kerjasama yang memungkinkan seorang wirausaha atau calon
wirausaha untuk mendapatkan akses kepada sumber daya yang diperlukan dalam
pendirian, perkembangan dan kesuksesan usahanya.
6. Demografis (X6)
Demografis adalah faktor yang berhubungan dengan struktur kependudukan yang
meliputi pengalaman kerja sebelum menjadi wirausaha dan pendidikan kewirausahaan.
7. Minat Kewirausahaan (Y1)
Minat kewirausahaan adalah kecenderungan atau ketertarikan seseorang untuk melakukan
kegiatan kewirausahaan dengan senang hati dan dengan keberanian mengambil resiko.
Tabel 3.1 Defenisi Oper asional Var iabel Penelitian
No Var iabel Definisi Oper asional Indikator Skala
Pengukur an
1 Kebutuhan Kebutuhan seseorang 1. Menyukai tantangan Skala Likert Akan Prestasi untuk menguasai suatu 2. Bisa mengambil pelajaran\
(X1) keahlian, mencapai dari kegagalan
prestasi dan standar yang 3. Tidak suka mencari
tinggi. kambing hitam
4. Berorientasi sukses
5. Kreatif
2 Efikasi Diri Keyakinan seseorang 1. Kepercayaan akan Skala Likert (X2) terhadap kemampuan kemampuan diri sendiri
dirinya untuk melakukan 2. Mampu mencapai cita-cita sesuatu pekerjaan atau 3. Mampu mencapai prestasi
mendapatkan prestasi Tinggi
tertentu. 4. Mampu mencapai prestasi
seperti orang lain
3 Ketersediaan Tersedianya informasi 1. Akses informasi Skala Likert Informasi yang dibutuhkan dan 2. Informasi bisnis
Kewirausahaan (X3)
mendukung kegiatan
kewirausahaan secara 3.
Pelatihan, seminar dan kuliah
memadai Kewirausahaan
4. Informasi positif
Tentang
Kewirausahaan
4 Akses kepada Kemampuan wirausaha 1 Relasi yang baik dengan Skala Likert modal (X4) untuk mendapatkan modal Peilik modal
untuk menjalankan 2 Pengetahuan tentang sumber
usahanya. Modal
3 Memiliki modal sendiri
5 Kepemilikan Hubungan formal dan 1. Pergaulan yang luas Skala Likert jaringan sosial informal antara seorang 2. Suka berteman/bergaul
(X5) wirausaha atau calon 3. Menjadi anggota
orang lain yang Organisasi mendukungnya sehingga 4 Jaringan sosial yang luas
terbentuk satu jaringan
kerjasama yang
memungkinkan seorang
wirausaha atau calon
wirausaha untuk
mendapatkan akses
kepada
sumber daya yang
diperlukan dalam
pendirian, perkembangan
dan kesuksesan usahanya.
6 Demografi (X6) Faktor yang 1 Pengetahuan dan pendidikan Skala Likert
berhubungan dengan Kewirausahaan
struktur kependudukan 2 Manfaat pengetahuan dan seperti tingkat dan jenis Pendidikan kewirausahaan pendidikan, pengetahuan 3 Pengalaman kerja pengalaman kerja,dan 4 Pengalaman usaha sendiri
pengalaman usaha
7 Minat Kecenderungan atau 1 Senang berwirausaha Skala Likert Kewirausahaan ketertarikan seseorang 2 Ingin berpenghasilan tinggi
(Y1) untuk melakukan 3 Ingin bisa mengatur waktu
kegiatan kewirausahaan Dan diri sendiri
dengan senang hati dan 4 Suka membuat sesuatu untuk
dengan keberanian dijual
mengambil resiko. 5 Berani mengambil resiko
3.7.Metode Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data
kuantitatif, untuk memperkirakan dalam bentuk angka pengaruh dari beberapa variabelbebas
secara simultan maupun secara parsial terhadap variabelterikat. Oleh karena itu, setiap alternative jawaban yang dipilih responden atas pertanyaan pada angket akan diberikan skor
atau bobot nilai.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji deskriptif dengan
melihat skor rata-rata dan analisis regresi berganda. Uji deskriptif memaparkan data dan
angka yang diperoleh dari pengamatan di lapangan, kemudian disajikan dalam bentuk tabel.
Data analisis dikemukakan untuk mengetahui mean (rata-rata) kemudian ditarik kesimpulan
berdasarkan angka yang diperoleh. Berikut nilai skor rata-rata dan interpretasinya menurut
Tabel 3.2 Dasar Inter pr etasi Skor Item Kuisioner
No Nilai Skor Inter pr etasi
1 0 < NS ≤ 1 Berada pada daerah sangat negatif 2 1 < NS ≤ 2 Berada pada daerah negatif 3 2 < NS ≤ 3 Berada pada daerah tengah-tengah 4 3 < NS ≤ 4 Berada pada daerah positif
5 4 < NS ≤ 5 Berada pada daerah sangat positif
Analisis regresi digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat apakah masing-masing variabel bebas berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel terikat apabila nilai variabel bebas
mengalami kenaikan atau penurunan. Analisis regresi berganda yaitu regresi yang
menggunakan lebih dari satu variabelbebas (bebas). Model regresi linier berganda, sebagai
berikut :
Y = a + b1x1 + b2x2 +b3x3 +b4x4 +b5x5 +b6x6 + e
Dimana :
Y = Minat Wirausaha Pemuda
X1 = Kebutuhan akan prestasi
X2 =Efikasi Diri
X3 = Ketersediaan Informasi Kewirausahaan
X4 = Sumber Modal
X5 = Kepemilikan Jaringan
X6 = Demografi
b1-b6 = koefisien regresi
e = error term (kesalahan pengganggu)
Pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat diuji dengantingkat kepercayaan
(convidence interval) 95% atau α = 0,05. Uji hipotesis dengan menggunakan uji simultan (Uji F), dan uji parsial (Uji t).
a. Uji secara simultan (Uji-F)
Uji signifikansi parameter simultan (Uji-F) untuk mengetahui apakah semuavariabel
bebas yaitu Kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, ketersediaan informasi, akses modal,
kepemilikan jaringan, dan demografi berpengaruh secara overall (simultan) terhadap variabel
terikat yaitu minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan dengan tingkat
keyakinan 95% (α =5%).
Kriteria pengujian hipotesis yang digunakan untuk uji simultan adalah:
H0 : b1, b2, b3, b4, b5, b6 = 0, artinya Kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, ketersediaan
informasi, akses modal, kepemilikan jaringan, dan demografisecara simultan tidak
berpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.
H1 : b1, b2, b3, b4, b5, b6 ≠ 0, artinya Kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, ketersediaan
informasi, akses modal, kepemilikan jaringan, dan demografisecara simultan berpengaruh
signifikan terhadap minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.
Alat uji yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis denganmenguji uji
statistik F, dengan ketentuan jika Fhitung > Ftabel pada α=5% maka Hoditolak dan H1
diterima, dan sebaliknya jika Fhitung < Ftabel pada α=5% maka H0diterima dan H1 ditolak.
b. Uji Secara Parsial (Uji t)
Uji signifikansi parameter individual (Uji-t) untuk mengetahui seberapa jauh
pengaruh variabel bebas yaitu Kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, ketersediaan informasi,
akses modal, kepemilikan jaringan, dan demografisecara individual terhadap variabel terikat
yaitu minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan dengan tingkat keyakinan 90%
Kriteria pengujian hipotesis untuk uji parsial adalah:
Ho : bi = 0, artinya Kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, ketersediaan informasi, akses
modal, kepemilikan jaringan, dan demografisecara parsial tidak berpengaruh signifikan
terhadap minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.
H1 : bi ≠ 0, artinya Kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, ketersediaan informasi, akses modal,
kepemilikan jaringan, dan demografi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap minat
wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.
Dimana, i = 1, 2, 3, 4, 5, 6
Alat uji yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis dengan menguji uji
statistik t, dengan ketentuan jika thitung> ttabel pada α=5% maka H0 ditolak dan H1 diterima,
dan sebaliknya jika thitung< ttabel pada α=5% maka H0 diterima dan H1 ditolak.
3.8. Uji Validitas dan Reliabilitas Instr umen
Uji validitas dan reliabilitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan terhadap 96
pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan yang dijadikan sampel penelitian.
3.8.1. Uji Validitas Instr umen
Suatu instrumen pengukuran dikatakan valid jika instrumen itu dapat mengukur
construct sesuai dengan harapan peneliti. Uji validitas dilakukan dengan membandingkan
nilai correlated item - total correlation pada setiap butir pertanyaan terhadap nilai r variabel.
Sunyoto (2009: 72) menyatakan jika nilai correlated item -total correlation rhitung> nilai
rtabeldan nilainya positif, maka butir pertanyaan padasetiap variabel penelitian dinyatakan
valid.
3.8.2. Uji Reliabilitas Instr umen
Sunyoto (2009: 67) menyatakan bahwa butir pertanyaan disebut reliabel atau handal
lanjut Sunyoto (2009: 68) menyatakan bahwa pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan
cara pengukuran sekali saja (one shot) atau pengukuran ulang (repeated measure). Penelitian
ini menggunakan metode one shot di mana kuesioner diberikan hanya sekali saja kepada
responden dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain untuk mengukur
korelasi antarjawaban pertanyaan. Pengukuran reliabilitasnya menggunakan uji statistik
Cronbach Alpha. Menurut Sunyoto (2009: 68) suatu konstruk dikatakan reliabel jika
memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60.
3.9. Pengujian Asumsi Klasik
3.9.1. Uji Nor malitas
Sunyoto (2009: 84) menyatakan bahwa tujuan melakukan uji normalitas adalah untuk
menguji apakah data dalam sebuah model berdistribusi normal atau tidak. Jika data tidak
berdistribusi normal, maka hasil analisis akan menjadi bias. Lebih lanjut Sunyoto (2009: 89)
menyatakan bahwa untuk menguji normalitas dapat dilakukan dengan cara membuat normal
probability plot yang membandingkan data riil dengan data distribusi normal secara
kumulatif. Suatu data dikatakan mempunyai distribusi normal jika garis riil mengikuti garis
diagonal. Uji normalitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 17.
3.9.2. Uji Multikolinear itas
Sunyoto (2009: 79) menyatakan bahwa uji asumsi klasik multikolinearitas dipakai
untuk mengukur tingkat asosiasi/keeratan hubungan/pengaruh antarvariabel bebas/variabel
bebas. Sunyoto (2009: 7) lebih lanjut menyatakan bahwa untuk mendeteksi adanya
multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan varianceinflation factor (VIF), jika
nilai tolerance < 0,10 dan nilai VIF > 10 maka terjadimultikolinearitas dan sebaliknya jika
nilai tolerance> 0,10 dan nilai VIF < 10, maka dikatakan tidak terjadi multikolinearitas.
Sunyoto (2009: 82) menyatakan bahwa uji heteroskedastisitas dipakai untuk menguji
sama atau tidaknya varians dari residual observasi yang satu dengan observasi yang lain. Jika
residualnya mempunyai varians yang sama maka disebut terjadi homoskedastisitas dan
sebaliknya jika variansnya tidak sama/berbeda dikatakan terjadi heteroskedastisitas.
Persamaan yang baik adalah jika tidak terjadi heteroskedastisitas. Sunyoto (2009: 83) lebih
lanjut menyatakan bahwa uji heteroskedastisitas pada program SPSS dilakukan dengan
membuat grafik scatterplot antara Zprediction (ZPRED) yang merupakan variabel bebas dan
nilai residualnya (SRESID) yang merupakan variabel terikat. Dikatakan terjadi
homoskedastisitas jika pada grafik scatterplot titik-titik hasil pengolahan data antara ZPRED
dan SRESID menyebar di bawah atau di atas titik nol pada sumbu Y dan tidak mempunyai
pola yang teratur. Sebaliknya jika titik-titik tersebut mempunyai pola yang teratur, baik
menyempit, melebar maupun bergelombang maka dikatakan terjadi heteroskedastisitas.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1. Sejarah Singkat Kecamatan Percut Sei Tuan
Di masa penjajahan Pemerintahan Belanda pada sekitar abad 19, wilayah Kecamatan
Percut Sei Tuan sekarang ini terdiri dari dua Kerajaan Kecil yaitu Kerajaan Percut dan
Kerajaan Sei Tuan yang merupakan Protektorat Kesultanan Deli sampai awal Proklamasi
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wilayah Kecamatan Percut Sei Tuan adalah merupakan Pusat Pemerintahan dan Pusat
Tanaman tembakau Deli yang terbesar dengan julukan‘’DolLand’’.Di masa Pemerintahan
Kerajaan Percut dan kerajaan Sei Tuan digabung menjadi satu wilayah Kecamatan Percut Sei
Tuan yang saat ini dikepala oleh seorang Camat yang bernama H. Syafrullah, S.Sos. MAP.
Hingga sekarang memimpin kecamatan dan menjadi penerus sejarah di kecamatan khususnya
di Kecamatan Percut Sei Tuan.
4.1.2 Letak dan Luas Wilayah
Kecamatan Percut Sei Tuan mempunyai luas 190,79 km2 yang terdiri dari 18 Desa
dan 2 Kelurahan. Lima Desa merupakan desa pantai dengan ketinggian dari permukaan air
laut berkisar dari 10-20 m dengan curah hujan rata-rata 24,3 %.
Kecamatan Percut Sei Tuan membentang suasana alam yang begitu asri dan lumayan
sejuk dengan ciri khas daerah ini. Jika ditelusuri dengan seksama, banyak areal perumahan
penduduk dengan pola rumah yang klasik, modernis dan minimalis dengan jenis rumah toko
(ruko) dan rumah sederhana.Selain itu, gedung - gedung tinggi dan pajak-pajak yang berada
di Kecamatan Percut Sei Tuan menjadi pemandangan setiap pejalan kaki dan pengendara
ketika melewatinya.
ditempuh dengan waktu maksimal 90 hingga 120 menit jika mengendarai sepeda motor dan
mobil, baik pribadi atau angkutan kota (angkot). Perjalanan menuju kantor Bupati Deli
Serdang dari kantor Kecamatan Percut Sei Tuan sekitar 3 Km. Hal ini dikarenakan posisi
antara kantor Kecamatan dengan kantor Bupati Deliserdang relative dekat sehingga
memakan waktu lebih kurang 60 hingga 90 menit apabila jalan dalam keadaan sepi dan
lancar. Namun jika dalam perjalanan menemui kemacaetan, waktu menuju kantor Bupati
Deliserdang bisa mencapai 150 menit.
Pada dasarnya Kecamatan Percut Sei Tuan berada diantara Kecamatan-Kecamatan
yang ada di Kabupaten Deliserdang dan dikelilingi oleh Kota Medan dengan batas-batas
wilayah yang berdampingan dengan wilayah yang terbesar di Propinsi Sumatera Utara yakni
Kota Medan sebagaimana dapat dilihat berdasarkan tabel berikut :
Tabel 4.1Batas wilayah Kecamatan Percut Sei Tuan
No Arah Berbatasan dengan
1. Sebelah Utara Selat Malaka
2. Sebelah Selatan Kota Medan
3. Sebelah Barat Kecamatan Labuhan Deli dan Kota Medan
4. Sebelah Timur Kecamatan Batang Kuis dan Pantai Labu
Seperti Kecamatan-kecamatan yang lain, Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki 18
Desa dan 2 kelurahan dengan jarak masing-masing kelurahan saling berdekatan dan
membutuhkan waktu tidak begitu lama, sekitar 30 sampai 60 menit. Jumlah keluasan dari
keseluruhan kelurahan - kelurahan yang ada pada Kecamatan Percut Sei Tuan ini 170.79
Untuk lebih jelasnya, luas wilayah kecamatan dari tiap - tiap kelurahan yang akan
menjadi sampel penelitian peneliti adalah Desa Medan Estate dapat dilihat pada data - data
yang akurat pada tabel yang akan disajikan berikut ini:
Tabel 4.2 Luas wilayah Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, Percut Sei Tuan dalam Angka 2015
No Kelurahan/Desa Luas (km2) Persentase Berdasarkan Luas Kecamatan (%) 1 Amplas 3.10 1.81 2 Kenangan 1.27 0.74 3 Tembung 5.35 3.13 4 Sambirejo timur 4.16 2.44 5 Sei rotan 5.16 3.02 6 Bandar klippa 18.48 10.82 7 Bandar khalipah 7.25 4.24 8 Medan estate 6.90 4.04 9 Laut Dendang 1.70 1.00 10 Sampali 23.93 14.01 11 Bandar Setia 3.50 2.05 12 Kolam 5.98 3.50 13 Saentis 24.00 14.05 15 Cinta damai 11.76 6.89 16 Pematang lalang 20.10 11.77 17 Percut 10.63 6.22 18 Tanjung rejo 19.00 11.12 19 Tanjung selamat 16.33 9.56 20 Kenangan baru 0.72 0.42 - Jumlah 170.79 100.00
4.1.3. Pemukiman
Dalam hal pola pemukiman, Kecamatan Percut Sei Tuan terbagi dalam 18 Kelurahan
dan 2 Desa, Dilihat dari fisik bangunan rumah penduduk Desa Medan Estate (kurang lebih 65
persen) sudah permanen, yaitu rumah dindingnya terbuat dari tembok, lantainya sudah
disemen/keramik dengan atap rumah dari genteng. Rumah ini biasanya dimiliki oleh orang
yang keluarganya memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pedagang.
Namun juga ada rumah penduduk Desa Medan Estate (kurang lebih 35 persen masih
semi permanen yaitu rumah yang terbuat dari kayu dengan atap genteng.
4.1.4. Kondisi Demografis
Sebagai Kecamatan yang terletak di tengah - tengah Kabupaten Deliserdang.
Kecamatan Percut Sei Tuan termasuk Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk yang
sangat padat, menurut data terakhir yang penulis peroleh pada tahun 2014, penduduk
Kecamatan Percut Sei Tuan berjumlah 426.429 jiwa di mana penduduk terbanyak berada di
desa Tembung yakni sebanyak 56.073 jiwa dan jumlah penduduk terkecil di desa Pematang
Lalang yakni sebanyak 1.717 jiwa.
Secara umum penduduk Kecamatan Percut Sei Tuan terdiri dari berbagai macam
suku dan agama dengan penduduk mayoritas dengan suku Batak Mandailing, Batak
Simalungun dan Jawa dan beragama Islam, di samping itu ada juga terdapat suku-suku lain
seperti Padang, Melayu, Sunda dan Tionghoa. Pada umumnya masyarakat Kecamatan
Percut Sei Tuan dihuni oleh masyarakat pendatang yang merantau ke Medan dan kemudian
menikah dan menjadi warga tetap di Kecamatan Percut Sei Tuan itu sendiri.Para masyarakat
yang merantau itu kebanyakan yang datang dari luar Sumatera Utara. Suku Jawa, Padang,
Tabel 4.3Jumlah Penduduk, Luas Kelurahan, Kepadatan Penduduk (/km) Menurut Kelurahan Tahun 2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, Percut Sei Tuan dalam Angka 2015
Jika ditinjau dari segi jenis kelamin maka penduduk Kecamatan Percut Sei Tuan
dikelompokkan pada dua jenis kelamin sebagaimana lazimnya jenis yaitu berupa jenis
kelamin laki-laki dan perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
No Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk Luas Wilayah (km2) Kepadatan Penduduk (km2) 1 Amplas 9.357 3.10 3.018 2 Kenangan 24.779 1.27 19.511 3 Tembung 56.073 5.35 10.480 4 Sambirejo timur 27.576 4.16 6.628 5 Sei rotan 28.512 5.16 5.468 6 Bandar klippa 38.621 18.48 2.090 7 Bandar khalipah 42.756 7.25 5.897 8 Medan estate 17.068 6.90 2.476 9 Laut Dendang 16.637 1.70 9.768 10 Sampali 30.791 23.93 1.287 11 Bandar Setia 22.767 3.50 6.505 12 Kolam 16.090 5.98 2.691 13 Saentis 17.987 24.00 749 14 Cinta Rakyat 14.227 1.48 9.613 15 Cinta damai 5.250 11.76 446 16 Pematang lalang 1.717 20.10 36 17 Percut 14.859 10.63 1.398 18 Tanjung rejo 10.342 19.00 544 19 Tanjung selamat 5.824 16.32 357 20 Kenangan baru 25.465 0.72 35.368 - Jumlah 426.429 353.588 1.853
Tabel 4.4Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun 2014
Sumber : Badan Pusat Statistik, Percut Sei Tuan dalam Angka 2015
Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kecamatan Percut Sei Tuan
yang berjenis kelamin perempuan dan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tidak jauh
beda dengan jumlah keseluruhan penduduk Kecamatan Percut Sei Tuan.Selisih jumlah
penduduk berjenis kelamin laki-laki dan perempuan hanya terpaut 2.312 jiwa
No Desa/Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Amplas 4.805 4.552 9.357 2 Kenangan 12.015 12.764 24.779 3 Tembung 28.363 27.710 56.073 4 Sambirejo timur 14.020 13.556 27.576 5 Sei rotan 14.144 14.071 28.215 6 Bandar klippa 19.553 19.068 38.621 7 Bandar khalipah 21.650 21.106 42.756 8 Medan estate 8.259 8.827 17.086 9 Laut Dendang 8.438 8.199 16.637 10 Sampali 15.104 15.687 30.791 11 Bandar Setia 11.104 11.044 22.767 12 Kolam 8.172 7.918 16.090 13 Saentis 9.167 8.820 17.987 14 Cinta Rakyat 7.266 6.961 14.227 15 Cinta damai 2.639 2.611 5.050 16 Pematang lalang 896 831 1.717 17 Percut 7.573 7.286 14.859 18 Tanjung rejo 5.314 5.028 10.342 19 Tanjung selamat 2.968 2.856 5.824 20 Kenangan baru 12.336 13.129 25.465 - Jumlah 214.336 212.024 426.429
4.1.5. Tingkat Pendidikan
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat sebab tingkat
pendidikan menjadi satu ukuran maju tidaknya masyarakat tersebut sehingga semakin tinggi
tingkat pendidikan suatu masyarakat maka akan semakin berkembanglah peradaban sampai
pada perkembangan taraf kehidupan dan gaya hidup.
Selain itu pendidikan juga memiliki peran penting dalam proses pemberdayaan
sumber daya manusia (SDM) yang handal, sebab dengan SDM yang handal maka proses
pembangunan pun akan lebih bisa berjalan baik dan lancar.
Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat Kecamatan Percut Sei Tuan
termasuk masyarakat yang sudah maju dalam bidang pendidikan, hal ini dibuktikan dengan
rata-rata anggota masyarakatnya telah menempuh pendidikan formal berbagai tingkat
pendidikan, baik itu pendidikan pada tingkat dasar, menengah pertama, menengah atas,
bahkan juga telah sampai pada pendidikan tinggi baik pada jenjang sarjana starata satu (S1)
dan banyak masyarakatnya sudah mulai minat untuk melanjutkan pendidikan hingga Pasca
Sarjana (S2), hal ini ditandai jenjang pendidikan dengan fasilitas Taman Kanak-Kanak (TK)
sampai perguruan tinggi.
4.1.6. Mata Pencaharian Masyarakat
Masyarakat dan ekonomi adalah ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan
artinya masyarakat dan ekonomi adalah akan selalu berkaitan, hal ini karena kemakmuran
atau maju mundurnya suatu masyarakat dapat diukur salah satunya dari segi taraf
perekonomiannya dan masyarakat adalah kaum pelaku ekonomi artinya perekonomian tidak
akan ada bila masyarakatnya tidak ada.
Tingkat perekonomian masyarakat banyak ditentukan dari segi usaha atau mata
pencahariannya, semakin maju suatu usaha maka akan semakin makmur pulalah para pelaku
Dari data yang ada mayoritas penduduk Kecamatan Percut Sei Tuan memenuhi
kebutuhan hidupnya melalui wirausaha (wiraswasta) dan perdagangan yang merupakan mata
pencaharian pokok masyarakat setempat. Meskipun demikian minat mereka untuk
memperoleh penghasilan yang lebih besar dan baik tetap menjadi prioritas masyarakat ini,
hanya saja terkadang pendidikan agama untuk masa sekarang di kawasan ini masih terbilang
dianaktirikan, mungkin dikarenakan aktifitas kesibukan dunia yang melatarbelakangi semua
itu.
Namun selain bertani dan berdagang, masyarakat Kecamatan Percut Sei Tuan ada
juga yang memiliki mata pencaharian sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, buruh dan
lain-lain. Akan tetapi ada juga data yang menunjukkan sedikit penduduk yang masih
pengangguran. Secara jelasnya masyarakat Kecamatan Percut Sei Tuan adalah masyarakat
yang mandiri di tengah-tengah jantung kotaMedan.
4.2 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah pemuda yang berusia 17 – 29 tahun di
kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Yang berjumlah 96 orang. Untuk
mengetahui kondisi profil/karakteristik responden dapat dilihat dari gambaran umum
responden penelitian. Dalam pembahasan berikut dikemukakan karakteristik responden yang
diklasifikasi berdasarkan jenis kelamin, suku, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan jumlah
tanggungan.
4.2.1 Jenis Kelamin
Berdasarkan analisis deskriptif dari kuisioner yang dikumpulkan diperoleh keterangan
berdasarkan jenis kelamin.Jumlah responden berdasarkan jenis kelamin seimbang, terdapat
4.5.Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 Laki-laki 48 50
2 Perempuan 48 50
Jumlah 96 100,00
Sumber: Diolah dari Data Penelitian Primer, 2016 4.2.2 Suku
Dilihat berdasarkan suku/etnis, responden penelitian terdiri dari enam suku, yaitu
Jawa, Batak, Melayu, Aceh, Padang, dan Banjar. Distribusi responden yang terbanyak adalah
bersuku Jawa, disusul kemudian berturut-turut suku Batak, Melayu, Aceh, Padang, dan
Sunda.
4.6 Karakteristik Responden berdasarkan Suku
No Suku Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 Jawa 42 44 2 Batak 31 32 3 Melayu 14 15 4 Aceh 4 4 5 Padang 3 3 6 Banjar 2 2 Jumlah 96 100,00
Sumber: Diolah dari Data Penelitian Primer, 2016
4.2.3 Tingkat Pendidikan
Pendidikan responden terdiri dari SD, SMP, SMA, D-III, S-1 dan S-2. Responden
penelitian ini didominasi oleh yang berpendidikan S-1 sedangkan yang berpendidikan SD
4.7 Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 Sekolah Dasar (SD) 1 1
2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 3
3 Sekolah Menengah Atas (SMA) 34 35
4 Diploma - III 1 1
5 Strata Satu (S-1) 55 57
6 Strata Dua (S-2) 2 2
Jumlah 96 100,00
Sumber: Diolah dari Data Penelitian Primer, 2016 4.2.4 Jenis Pekerjaan
Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan ditunjukkan oleh tabel 4.8. Dari
data tersebut, dapat diketahui bahwa guru adalah jenis pekerjaan mayoritas responden.
4.8 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Pekerjaan
No Jenis Pekerjaan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 Guru 32 33 2 Wirausaha 23 24 3 Mahasiswa 22 23 4 Pelajar 6 6 5 Karyawan Swasta 6 6 6 Belum Bekerja 6 6 7 Pegawai Negeri 1 1 Jumlah 96 100,00
4.2.5 Jumlah Penghasilan
Karakteristik responden berdasarkan jumlah penghasilan ditunjukkan oleh tabel 4.9.
4.9Karakteristik Responden berdasarkan jumlah penghasilan
No Jumlah Penghasilan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 < Rp. 1.000.000 39 41
2 Rp 1.000.000 ≤ x ≤ Rp 2.000.000 41 43
3 Rp 2.000.000 ≤ x ≤ Rp 3.000.000 11 11
4 >Rp. 3.000.000 5 5
Jumlah 96 100,00
Sumber: Diolah dari Data Penelitian Primer, 2016
4.2.6Jumlah Tanggungan
Karakteristik responden berdasarkan jumlah tanggungan ditunjukkan oleh tabel 4.10.
Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa responden didominasi oleh pemuda yang belum
memiliki tanggungan.
4.10 Karakteristik Responden berdasarkan jumlah tanggungan
No Jumlah Tanggungan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
1 Belum memiliki tanggungan 74 77
2 1 orang 14 15
3 2 orang 4 4
4 3 orang 4 4
Jumlah 96 100,00
4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas Instr umen
Uji validitas dan reliabilitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan terhadap 96
pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan yang dijadikan sampel penelitian.
4.3.1. Uji Validitas Instr umen
Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai correlated item - total correlation pada setiap butir pertanyaan terhadap nilai r variabel. Sunyoto (2009: 72) menyatakan jika nilai correlated item -total correlation rhitung> nilai rtabeldan nilainya positif,
maka butir pertanyaan padasetiap variabel penelitian dinyatakan valid. Nilai rtabel pada df =
n-2 = 96 -n-2 = 94 dan α = 0,05 adalah 0,168. Uji Validitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 17. Hasil uji validitas terhadap 96 responden ditunjukkan oleh tabel berikut :
Tabel 4.11 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Kebutuhan Akan Prestasi
Butir Pertanyaan Corrected
Item-Total Correlation Keterangan
Saya menyukai tantangan .482 Valid.
Saya bisa mengambil pelajaran dari kegagalan .474 Valid.
Saya mampu menghadapi hambatan .459 Valid.
Saya kreatif .513 Valid.
Saya bertanggung jawab .311 Valid.
Tabel 4.12 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Efikasi Diri
Butir Pertanyaan Corrected
Item-Total Correlation Keterangan
Saya percaya akan kemampuan diri sendiri .397 Valid.
Saya mampu mencapai cita-cita .527 Valid.
Saya mamapu mencapai prestasi tinggi .568 Valid.
Saya mampu mencapai prestasi seperti orang lain .574 Valid.
Saya mampu menghadapi kritik .387 Valid.
Tabel 4.13 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Informasi Kewirausahaan
Butir Pertanyaan Corrected
Item-Total Correlation Keterangan
Saya memiliki akses informasi wirausaha .640 Valid.
Saya sering memperoleh informasi bisnis .730 Valid.
Saya pernah mengikuti pelatihan dan seminar wirausaha .615 Valid.
Tabel 4.14 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Kepemilikan Jaringan
Butir Pertanyaan Corrected
Item-Total Correlation Keterangan
Saya memiliki pergaulan luas .480 Valid.
Saya suka berteman/bergaul .495 Valid.
Saya menjadi anggota organisasi .408 Valid.
Saya memiliki lingkungan pergaulan usaha .715 Valid.
Saya didukung untuk memulai usaha .705 Valid.
Tabel 4.15 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Akses Modal
Butir Pertanyaan Corrected
Item-Total Correlation Keterangan
Saya memiliki relasi yang baik dengan pemilik modal .735 Valid.
Saya memiliki pengetahuan tentang sumber modal .659 Valid.
Saya memiliki modal sendiri .720 Valid.
Tabel 4.16 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Demografi
Butir Pertanyaan Corrected
Item-Total Correlation Keterangan
Saya memiliki pengetahuan dan pendidikan kewirausahaan .709 Valid.
Saya mengetahui manfaat pengetahuan dan pendidikan kewirausahaan .597 Valid.
Saya memiliki pengalaman kerja .523 Valid.
Saya memiliki pengalaman menjalankan usaha sendiri .796 Valid.
Tabel 4.17 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Minat Wirausaha
Butir Pertanyaan Corrected
Item-Total Correlation Keterangan
Saya senang berwirausaha .731 Valid.
Saya ingin berpenghasilan tinggi .537 Valid.
Saya ingin bisa mengatur waktu dan diri sendiri .549 Valid.
Saya suka membuat sesuatu untuk dijual .738 Valid.
4.3.2. Uji Reliabilitas Instr umen
Sunyoto (2009: 67) menyatakan bahwa butir pertanyaan disebut reliabel atau handal
jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan bersifat konsisten dari waktu ke waktu.
Pengukuran reliabilitasnya menggunakan uji statistik Cronbach Alpha. Menurut Sunyoto
(2009: 68) suatu konstruk dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60..
Tabel 4.18 Hasil Pengujian Reabilitas Instrumen Kebutuhan Akan Prestasi
Butir Pertanyaan Cronbach's
Alpha Keterangan
Saya menyukai tantangan .943 Reliabel
Saya bisa mengambil pelajaran dari kegagalan .944 Reliabel
Saya mampu menghadapi hambatan .944 Reliabel
Saya kreatif .943 Reliabel
Saya bertanggung jawab .945 Reliabel
Tabel 4.19 Hasil Pengujian Reabilitas Instrumen Efikasi Diri
Butir Pertanyaan Cronbach's
Alpha Keterangan
Saya percaya akan kemampuan diri sendiri .944 Reliabel
Saya mampu mencapai cita-cita .943 Reliabel
Saya mamapu mencapai prestasi tinggi .943 Reliabel
Saya mampu mencapai prestasi seperti orang lain .943 Reliabel
Saya mampu menghadapi kritik .944 Reliabel
Tabel 4.20 Hasil Pengujian Reabilitas Instrumen Informasi Kewirausahaan
Butir Pertanyaan Cronbach's
Alpha Keterangan
Saya memiliki akses informasi wirausaha .942 Reliabel
Saya sering memperoleh informasi bisnis .941 Reliabel
Saya pernah mengikuti pelatihan dan seminar wirausaha .942 Reliabel
Saya memperoleh informasi yang positif tentang wirausaha .943 Reliabel
Tabel 4.21 Hasil Pengujian Reabilitas Instrumen Kepemilikan Jaringan
Butir Pertanyaan Cronbach's
Alpha Keterangan
Saya memiliki pergaulan luas .943 Reliabel
Saya suka berteman/bergaul .943 Reliabel
Saya menjadi anggota organisasi .944 Reliabel
Saya memiliki lingkungan pergaulan usaha .941 Reliabel
Saya didukung untuk memulai usaha .941 Reliabel
Tabel 4.22 Hasil Pengujian Reabilitas Instrumen Akses Modal
Butir Pertanyaan Cronbach's
Alpha Keterangan
Saya memiliki relasi yang baik dengan pemilik modal .941 Reliabel
Saya memiliki pengetahuan tentang sumber modal .942 Reliabel
Tabel 4.23 Hasil Pengujian Reabilitas Instrumen Demografi
Butir Pertanyaan Cronbach's
Alpha Keterangan
Saya memiliki pengetahuan dan pendidikan kewirausahaan .941 Reliabel
Saya mengetahui manfaat pengetahuan dan pendidikan kewirausahaan .942 Reliabel
Saya memiliki pengalaman kerja .943 Reliabel
Saya memiliki pengalaman menjalankan usaha sendiri .940 Reliabel
Tabel 4.24 Hasil Pengujian Reabilitas Instrumen Minat Wirausaha
Butir Pertanyaan Cronbach's
Alpha Keterangan
Saya senang berwirausaha .941 Reliabel
Saya ingin berpenghasilan tinggi .943 Reliabel
Saya ingin bisa mengatur waktu dan diri sendiri .943 Reliabel
Saya suka membuat sesuatu untuk dijual .941 Reliabel
4.4. Pengujian Asumsi Klasik
4.4.1. Uji Nor malitas
Uji normalitas dapat dilakukan dengan cara membuat normal probability plot. Suatu
data dikatakan mempunyai distribusi normal jika garis riil mengikuti garis diagonal. Uji
normalitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 17, dan ditunjukkan hasilnya pada
Gambar 4.1
4.4.2. Uji Multikolinear itas
Uji multikolinearitas dipakai untuk mengukur tingkat asosiasi/keeratan
hubungan/pengaruh antarvariabel bebas/variabel bebas. Sunyoto (2009: 7) lebih lanjut
menyatakan bahwa untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai
tolerance dan varianceinflation factor (VIF), jika nilai tolerance < 0,10 dan nilai VIF > 10
maka terjadimultikolinearitas dan sebaliknya jika nilai tolerance> 0,10 dan nilai VIF < 10,
maka dikatakan tidak terjadi multikolinearitas.
Tabel 4.25 Hasil Uji Multikolinearitas
Tabel 4.25 menunjukkan bahwa tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai
tolerance kurang dari 0,10 yang artinya tidak terjadi korelasi antarvariabel bebas. Hasil
perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan bahwa tidak ada nilai
VIF variabel bebas yang memiliki nilai VIF > 10. Disimpulkan bahwa tidak terjadi
multikolinearitas antarvariabel bebas dalam model penelitian ini.
4.4.3. Uji Heter oskedastisitas
Sunyoto (2009: 82) menyatakan bahwa uji heteroskedastisitas dipakai untuk menguji
sama atau tidaknya varians dari residual observasi yang satu dengan observasi yang lain. Jika
Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) Kebutuhan Prestasi .638 1.567 Efikasi Diri .597 1.674 Ketersediaan Informasi .404 2.475 Jaringan .333 3.002 Akses Modal .322 3.106 Demografi .403 2.482
residualnya mempunyai varians yang sama maka disebut terjadi homoskedastisitas dan
sebaliknya jika variansnya tidak sama/berbeda dikatakan terjadi heteroskedastisitas.
Persamaan yang baik adalah jika tidak terjadi heteroskedastisitas.Sunyoto (2009: 83) lebih
lanjut menyatakan bahwa uji heteroskedastisitas pada program SPSS dilakukan dengan
membuat grafik scatterplot antara Zprediction (ZPRED) yang merupakan variabel bebas dan
nilai residualnya (SRESID) yang merupakan variabel terikat.
Gambar 4.2 Hasil Uji Heter oskedastisitas
Dikatakan tidak terjadi homoskedastisitas jika pada grafik scatterplot titik-titik hasil
pengolahan data antara ZPRED dan SRESID menyebar di bawah atau di atas titik nol pada
sumbu Y dan tidak mempunyai pola yang teratur. Sebaliknya jika titik-titik tersebut
mempunyai pola yang teratur, baik menyempit, melebar maupun bergelombang maka
dikatakan terjadi heteroskedastisitas. Model yang baik adalah model yang tidak mengalami
Berdasarkan Gambar 4.2, terlihat bahwa tidak terdapat pola yang jelas dan teratur
baik menyempit, melebar maupun bergelombang. Titik-titik menyebar di atas maupun di
bawah 0 pada sumbu Y, maka dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.5 Analisis Uji Deskriptif
4.5.1 Analisis Statistik Minat Wirausaha
Uji deskriptif memaparkan data dan angka yang diperoleh dari pengamatan di
lapangan, kemudian disajikan dalam bentuk tabel. Data analisis dikemukakan untuk
mengetahui mean (rata-rata) kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan angka yang diperoleh.
Nilai skor rata-rata dan interpretasinya menurut Arikunto (2006) dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 4.26 Analisa Statistik Variabel Terikat
Descriptive Statistics
N Mean
Minat Wirausaha 96 4.0625
Valid N (listwise) 96
Nilai rata-rata pada variabel terikat adalah 4,06 hal ini berarti minat wirausaha pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan berada pada daerah sangat positif.
4.5.2 Analisis Statistik Jenis Kelamin terhadap Minat Wirausaha
Hasil Uji deskriptif Jenis Kelamin terhadap Mindat Wirausaha diperlihatkan oleh
Tabel 4.27. Tabel tersebut menjelaskan bahwa Minat wirausaha pemuda laki-laki berada pada
daerah sangat positif, sedangkan perempuan berada pada daerah positif. Dengan demikian,
minat berwirausaha laki-laki lebih tinggi daripada perempuan pada pemuda di Kecamatan
Percut Sei Tuan.
Temuan penelitian ini mendukung hasil penelitian Azhar et al (2010), yang
menyatakan bahwa jenis kelamin berkorelasi positif dengan minat berwirausaha. Indarti dan
Tabel 4.27 Analisa Statistik Jenis Kelamin terhadap Minat Wirausaha
Descriptive Statistics
N Mean (Y)
Laki-Laki 48 4.29
Perempuan 48 3.83
kuat dibandingkan mahasiswa perempuan untuk berwirausaha. Secara umum, sektor
wiraswasta adalah sektor yang didominasi oleh kaum laki-laki (Indarti dan Rostiani,
2008:10). Temuan penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Papzan et al (2012) yang
menyatakan tidak ada hubungan gender dengan minat berwirausaha.
4.5.3 Analisis Statistik Suku terhadap Minat Wirausaha
Literasi yang mengaitkan hubungan antara suku atau etnis terhadap minat wirausaha
masih terbatas. Dalam penelitian ini, Hasil uji deskriptif suku terhadap minat wirausaha
diperlihatkan dalam Tabel 4.28.
Tabel 4.28 Analisa Statistik Suku terhadap Minat Wirausaha
Descriptive Statistics
N Mean (Y)
Jawa 42 4.31
Batak 31 3.67
Melayu 14 3.98
Tabel tersebut menjelaskan bahwa Minat wirausaha pemuda suku Jawa berada pada
daerah sangat positif, sedangkan Batak dan Melayu berada pada daerah positif. Dengan
demikian, minat berwirausaha suku Jawa adalah yang paling tinggi diikuti Melayu dan Batak
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Wiwik et al (2011), yang menemukan
bahwa suku Jawa memiliki minat wirausaha lebih tinggi dibandingkan suku Batak. Meskipun
demikian, Wiwik (2011), menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan minat wirausaha
jika ditinjau dari segi suku atau etnis.
4.5.4 Analisis Statistik Tingkat Pendidikan terhadap Minat Wirausaha
Charles Screibe menyatakan bahwa keberhasilan kegiatan seorang usahawan
ditentukan oleh : pendidikan formal (15%) dan nilai-nilai sikap mental dan kepribadian
seseorang (85%). Sumahamijaya menyatakan, keberhasilan ditentukan oleh kesediaan jerih
payah (25%), pendidikan sekolah formil (15%) serta pengembangan pribadi (60%) (Asri
Laksmi Riani, 2005 : 25). Menurut Klien dan Maher mengatakan makin tinggi tingkat
pendidikan akan mempengaruhi tingkat kebutuhan individu tersebut. Individu yang
pendidikannya rendah dalam hal ini menuntut pemenuhan kebutuhan pokok atau dasar dalam
memperjuangkan kehidupannya. Sedangkan individu yang mempunyai pendidikan yang
tinggi akan menuntut perbaikan taraf kehidupan (Asri Laksmi Riani, 2005 : 42).Dalam
penelitian ini, Hasil uji deskriptif tingkat pendidikan terhadap minat wirausaha diperlihatkan
dalam Tabel 4.29
Tabel 4.29 Analisa Statistik Tingkat Pendidikan terhadap Minat Wirausaha
Descriptive Statistics
N Mean (Y)
SMA 34 4.11
S-1 55 4.01
Hasil penelitian, menjelaskan bahwa minat wirausaha pemuda dengan tingkat
pendidikan SMA dan S-1, kedua-duanya berada pada daerah sangat positif. Meskipun
demikian, minat wirausaha pemuda SMA lebih tinggi dibanding S-1 di Kecamatan Percut Sei
bahwa banyak lulusan perguruan tinggi belum mampu berwirausaha. Mahasiswa cenderung
berpikir bagaimana caranya mereka bisa diterima bekerja sesuai dengan gelar kesarjanaannya
dan dengan gaji yang sesuai ketika menyelesaikan kuliahnya. Mereka berpendapat lebih baik
menganggur daripada mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya. Lebih
lanjut Masrun menyatakan bahwa penduduk yang mempunyai pendidikan tinggi justru
kurang berminat menjadi wirausaha, tercatat hanya 10% yang berminat menjadi wirausaha.
Mereka yang pendidikannya rendah justru 49% yang berminat menjadi wirausaha.
4.5.5 Analisis Statistik Jenis Pekerjaan terhadap Minat Wirausaha
Hasil uji deskriptif Jenis Pekerjaan terhadap Minat Wirausaha diperlihatkan oleh
Tabel 4.30. Tabel tersebut menjelaskan bahwa minat wirausaha pemuda para wirausahawan
dan mahasiswa berada pada daerah sangat positif, sementara guru berada pada daerah positif
di Kecamatan Percut Sei Tuan. Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan minat wirausaha
para wirausahawan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa dan guru secara berurutan.
Tabel 4.30 Analisa Statistik Jenis Pekerjaan terhadap Minat Wirausaha
Descriptive Statistics
N Mean (Y)
Guru 32 3.97
Wirausaha 23 4.19
Mahasiswa 22 4.03
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Tisnawari (2012) yang menyatakan bahwa
pengalaman kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat kewirausahaan. Lebih lanjut,
Minniti dan Bygrave (2001) mengatakan bahwa pengalaman berwirausaha, berhasil maupun
tidak, menyediakan peluang untuk menguasai sejumlah keahlian dan untuk berhubungan
dengan stakeholder yang positif dari wirausahawan lain. Keahlian dan hubungan tersebut
memiliki efek positif terhadap rencana dan minat individu untuk berwirausaha. Beberapa
berwirausaha mampu memprediksi minat berwirausaha di masa mendatang. Pengalaman
berwirausaha secara langsung juga dapat meningkatkan kemampuan manajemen,
pengembangan produk, penetrasi pasar, serta inovasi usaha baru.
Selain itu, hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Wiwik et al (2011) yang
menyatakan bahwa minat wirausaha mahasiswa atmajaya sangat tinggi. Berbeda dengan
penelitian Herwin (2014) yang menyatakan bahwa Minat Wirausaha mahasiswa Fakultas
Ekonomi Bisnis Universitas Negeri Gorontalo masih rendah. Minat berwirausaha mahasiswa
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaraya pendidikan kewirausahaan dan dukungan
akademik.
4.5.6 Analisis Statistik Jumlah Penghasilan terhadap Minat Wirausaha
Hasil uji deskriptif jumlah penghasilan terhadap minat wirausaha diperlihatkan oleh
Tabel 4.31. Tabel tersebut menjelaskan bahwa minat wirausaha pemuda berpenghasilan
kurang dari Rp. 1.000.000 dan antara Rp.1.000.000 hingga Rp.2.000.000 berada pada daerah
positif,sementara itupemuda yang berpenghasilan antara Rp 2.000.000 hingga Rp 3.000.000
berada pada daerah sangat positif. Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
hubungan positif antara jumlah penghasilan dan minat wirausaha pemuda di Kecamatan
Percut Sei Tuan
Tabel 4.31 Analisa Statistik Jumlah Penghasilan terhadap Minat Wirausaha
Descriptive Statistics
N Mean (Y)
< Rp 1.000.000 39 3.96
Rp 1.000.000≤x>Rp 2.000.000 41 3.97
Literasi yang membahas hubungan antara jumlah penghasilan dan minat wirausaha
masih sangat terbatas. Namun, dalam penelitian Suhartini (2011) disimpulkan bahwa
pendapatan berpengaruh terhadap minat wirausaha. Seseorang tertarik untuk menjadi
wirausaha dikarenakan ekspektasi pendapatan yang diperolehnya jika sukses melebihi
pendapatannya dalam kondisi eksisting.
4.5.7 Analisis Statistik Jumlah Tanggungan terhadap Minat Wirausaha
Hasil uji deskriptif jumlah tanggungan terhadap minat wirausaha diperlihatkan oleh
Tabel 4.32. Tabel tersebut menjelaskan bahwa minat wirausaha pemuda yang memiliki
tanggungan satu orang dan yang belum memiliki tanggungan berada pada daerah sangat
positif. Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara jumlah
tanggungan dan minat wirausaha pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan
Tabel 4.32 Analisa Statistik Jumlah Tanggungan terhadap Minat Wirausaha
Descriptive Statistics
N Mean (Y)
Belum meiliki tanggungan 74 4.01
1 orang 14 4.12
Jumlah tanggungan keluarga akan menentukan pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan
untuk melakukan wirausaha. Semakin banyak tanggungan dalam keluarga turut
mempengaruhi kebutuhan konsumsi dan pendapatan. Berwirausaha akan memberikan
peluang untuk meningkatkan pendapatannya.
4.6 Pengujian Hipotesis
4.6.1. Uji-F (Uji Signifikansi Simultan)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji hipotesis yang menyatakan variabel Efikasi
mempunyai pengaruh signifikan secara simultan terhadap variabel minat wirausaha pemuda.
Kriteria pengujian hipotesis untuk uji serempak (simultan) adalah sebagai berikut:
1. H0 artinyavariabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan,
Akses Modal, dan Demografi secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap
variabel minat kewirausahaan pemuda Di kecamatan Percut sei tuan.
2. H1artinyavariabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan,
Akses Modal, dan Demografi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
variabel minat kewirausahaan pemuda Di kecamatan Percut sei tuan.
Pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat diuji dengan membandingkan
Fhitung dan Ftabel pada tingkat kepercayaan (confidence interval) 95% atau α = 5%.
Fhitung dapat dilihat pada Tabel 4.33
4.33 Hasil Uji Simultan (Uji-F)
Berdasarkan Tabel 4.33 dapat diketahui bahwa variabel Efikasi Diri, Kebutuhan
Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal, dan Demografi secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap variabel minat kewirausahaan pemuda di Kecamatan Percut
Sei Tuan. Hal tersebut dapat diketahui, karena Fhitung lebih besar dibanding Ftabel pada
tingkat interval kepercayaan (confidence intercal) 95% atauα = 0,05. Fhitung sebesar
19,205 sedangkan Ftabel sebesar 2,20. maka Fhitung> Ftabel. Dan signifikansi lebih kecil
dari 0,05. Maka, keputusannya Ho ditolak dan H1 diterima.
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 33.642 6 5.607 19.205 .000a
Residual 25.983 89 .292
Total 59.625 95
a. Predictors: (Constant), Demografi, Efikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal
4.6.2 Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda yaitu regresi yang menggunakan lebih dari satu variabel
bebas (bebas). Tabel 4.34 menunjukkan hasil regresi melalui pengolahan data dengan
bantuan software SPSS 17.
4.34 Hasil Estimasi Regresi
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .254 .500 .508 .613 Kebutuhan Prestasi .127 .132 .084 .960 .340 Efikasi Diri .170 .128 .120 1.321 .190 Ketersediaan Informasi .204 .109 .205 1.863 .066 Jaringan .134 .146 .111 .917 .362 Akses Modal .091 .108 .104 .843 .402 Demografi .289 .106 .302 2.737 .007
a. Dependent Variabel: Minat Wirausaha
Pengolahan data tersebut menghasilkan suatu model regresi linear berganda sebagai
berikut :
Y= 0,254 + 0,127 X1 + 0,170 X2 + 0.204 X3 + 0,134 X4 + 0,091 X5 + 0,289 X6 + e
Persamaan regresi linier berganda digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat secara simultan maupun secara parsial yang bertujuan untuk
menguji hipotesis yang diajukan. Hasil regresi berganda dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Konstanta sebesar 0,254 menyatakan bahwa jika variabelbebas dalam penelitian ini tidak
ada atau nol, maka minat wirausaha pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan tetap ada,
namun nilainya sangat kecil yaitu 0,254.
b. Kebutuhan akan prestasi memiliki nilai positif dengan nilai 0,127. Hal ini berarti efikasi
diri memiliki hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.
hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.
d. Ketersediaan Informasi memiliki nilai positif dengan nilai 0,204. Hal ini berarti
Ketersediaan Informasi memiliki hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.
e. Kepemilikan Jaringan memiliki nilai positif dengan nilai 0,134. Hal ini berarti
Kepemilikan Jaringan memiliki hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.
f. Akses Modal memiliki nilai positif dengan nilai 0,091. Hal ini Akses Modal memiliki
hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.
g. Demografi memiliki nilai positif dengan nilai 0,289. Hal ini berarti Demografi memiliki
hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.
4.6.3. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (Adjust R Square) menunjukkan seberapa besar variabel bebas
menjelaskan varibel terikat. Nilai R Square adalah nol sampai satu. Apabila nilai R Square
semakin mendekati satu, maka variabel-variabel bebas memberikan semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variabel terikat.
4.35 Hasil Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .751a .564 .535 .54032 1.662
a. Predictors: (Constant), Demografi, Efikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal b. Dependent Variabel: Minat Wirausaha
Berdasarkan Tabel 4.35 diperoleh R square (R2) sebesar 0,564 yang artinya
variabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal,
dan Demografi secara serempak mampu menjelaskan variabel minat kewirausahaan sebesar
Faktor lain yang belum diteliti cukup banyak antara lain penelitian Basu (2009)
menemukan bahwa faktor etnisitas dan pekerjaan mempengaruhi minat kewirausahaan.
Kebijakan dan peraturan pemerintah juga merupakan faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan jiwa kewirausahaan. Penelitian oleh Mazzarol et al dalam Saud et .al. (2009)
menemukan bahwa faktor demografi pengalaman kerja, usia, jender, status sosio-ekonomi,
agama mempengaruhi minat mendirikan usaha.
4.6.4. Uji-t (Uji Parsial)
Pengujuan hipotesis secara parsial menggunakan uji t dua sisi (t test). Uji-t dilakukan
bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial masing-masing mempunyai
pengaruh signifikan atau tidak terhadap variabel terikat. Kriteria pengujian hipotesis untuk
uji-t adalah sebagai berikut:
1. H0 artinya variabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan,
Akses Modal, dan Demografi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap
variabel minat kewirausahaan pemuda Di kecamatan Percut sei tuan
2. H1 variabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses
Modal, dan Demografi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel minat
kewirausahaan pemuda Di kecamatan Percut sei tuan
Untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, maka
digunakan uji t (t test). Jika thitung < ttabel, maka H0 diterima dan H1ditolak dan jika thitung > ttabel,
Tabel 4.36 Hasil Uji Parsial (Uji-t)
1. Pengujian terhadap variabel Kebutuhan Prestasi
Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 0,960 sedangkan ttabeldengan tingkat
kepercayaan 95% atau α = 0,05 diperolehsebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung
<ttabel, maka H1 ditolak dan H0diterima. Hal ini berarti bahwa variabel kebutuhan prestasi
tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut
Sei Tuan.
2. Pengujian terhadap variabel Efikasi Diri
Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 1,321 sedangkan ttabel dengan tingkat
kepercayaan 95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel,
maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabelefikasi diri tidak
berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei
Tuan.
3. Pengujian terhadap Ketersediaan Informasi
Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 1,863 sedangkan ttabel dengan tingkat
kepercayaan95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .254 .500 .508 .613 Kebutuhan Prestasi .127 .132 .084 .960 .340 Efikasi Diri .170 .128 .120 1.321 .190 Ketersediaan Informasi .204 .109 .205 1.863 .066 Jaringan .134 .146 .111 .917 .362 Akses Modal .091 .108 .104 .843 .402 Demografi .289 .106 .302 2.737 .007
H1ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabelketersediaan informasitidak
berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei
Tuan.
4. Pengujian terhadap variabel Jaringan
Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 0,917 sedangkan ttabel dengan tingkat
kepercayaan 95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka
H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel jaringan tidak berpengaruh
signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.
5. Pengujian terhadap variabel Akses Modal
Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 0,843 sedangkan ttabel dengan tingkat
kepercayaan95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka
H1ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel akses modal tidak berpengaruh
signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.
6. Pengujian terhadap Demografi
Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 2,737 sedangkan ttabel dengan tingkat
kepercayaan 95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung >ttabel,
maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa variabel demografi berpengaruh
signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.
4.7 Pembahasan
Hasil Uji Statistik menunjukkan bahwa minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut
Sei Tuan berada pada daerah sangat positif. Kesimpulan ini merupakan skor nilai rata-rata
variabel minat kewirausahaan pada uji deskriptif. Para pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan
memiliki kecenderungan atau ketertarikan melakukan kegiatan kewirausahaan baik itu
dibidang pangan, pertanian, peternakan, maupun jasa. Responden dalam penelitian ini, 24
usaha penggemukan kambing, menjual pisang bakar bandung, bertani jagung, jasa pangkas
dan jahit. Dengan berwirausaha mereka bisa mengatur waktu dan diri sendiri, sekaligus
berpotensi memiliki penghasilan tinggi.
Berdasarkan hasil estimasi regresi, seluruh variabel yang diteliti; kebutuhan akan
prestasi, efikasi diri, ketersediaan informasi, kepemilikan jaringan, akses modal, dan
demografi memiliki hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.Bahkan dalam uji
simultan, seluruh variabel memberikan pengaruh signifikan terhadap minat wirausaha
pemuda di Kecamatan Percut Sei tuan. Hal ini berarti seluruh variabel memiliki kontribusi
berbanding lurus terhadap minat wirausaha pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan.
Pemerintah Kabupaten Deli Serdang telah mencanangkan program kewirausahan bagi
para pemuda dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Tentunya hal ini,
tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah saja, namun menjadi tanggung jawab
khususnya para pemuda. Dalam penelitian ini, telah dibuktikan bahwa minat wirausaha tidak
hanya dipengaruhi oleh factor lingkungan; ketersediaan informasi, kepemilikan jaringan, dan
akses modal, melainkan juga factor internal baik itu kepribadian; efikasi diri dan kebutuhan
akan prestasi, dan modal manusia atau demografi; pengalaman dan pengetahuan. Dengan
demikian dalam menunjang keberhasilan program kewirausahaan pemuda, Pemerintah dan
Pemuda harus bersinergi dalam mewujudkannya. Para pemuda harus membenahi
kepribadian, pengetahuan, dan pengalamannya. Sementara Pemerintah harus memfasilitasi
dengan membuka akses informasi wirausaha, menyediakan modal wirausaha, dan
memberikan pendidikan kewirausahaan.
Berdasarkan hasil uji Parsial disimpulkan bahwa efikasi diri, kebutuhan prestasi,
ketersediaan informasi, kepemilikan jaringan, dan akses modaltidak berpengaruh signifikan
terhadap variabel minat kewirausahaan pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten
kewirausahaan pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
Kebutuhan akan prestasi memiliki hubungan positif dan tidak berpengaruh signifikan
terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan. Hasil tersebut sesuai
dengan Penelitian Indarti et alyang menemukan bahwa variabel kebutuhan akan prestasi tidak
mempunyai pengaruh yang positif terhadap minat kewirausahaan mahasiswa Indonesia dan
Norwegia, sebaliknya pada penelitian Setiyorini (2009) ditemukan bahwa motivasi
berprestasi pada mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta mempunyai pengaruh yang
positif terhadap minat kewirausahaan mahasiswa. Berprestasi tidak hanya dapat dicapai
dengan berwirausaha, namun juga dengan bekerja pada instansi tertentu. Kepribadian yang
butuh terhadap prestasi adalah orang-orang yang memiliki motivasi untuk
mengaktualisasikan dirinya. Dan banyak cara untuk mengaktualisasikan diri, meskipun
diantaranya adalah dengan berwirausaha.
Efikasi diri memiliki hubungan positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap
minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.Hal ini berbeda dengan hasil
penelitian Betz dan Hacket (1986) dalam Indarti dan Rotiani (2008) yang mengatakan bahwa
semakin tinggi tingkat efikasi diri seseorang pada kewirausahaan di masa-masa awal
seseorang dalam berkarir, semakin kuat intensi kewirausahaan yang dimilikinya.
Wijaya (2007) menyatakan bahwa efikasi diri mempengaruhi seseorang pada tercapai
atau tidaknya tujuan yang ditetapkan. Responden penelitian ini terdiri atas para pemuda yang
31 orang diantaranya sudah berprofesi baik sebagai guru, karyawan swasta, dan pegawai
negeri sipil. Keyakinan pada diri mereka tumbuh untuk tujuan sesuai profesi mereka. Selain
itu, responden yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar berjumlah 39 orang.Orientasi
pendidikan menghasilkan lulusan untuk bekerja pada perusahaan bukan untuk menjadi
wirausaha.Hingga efikasi diri pada mahasiswa dan pelajar tersebut tidak memberikan
Faktor ketersediaan informasi memiliki hubungan positif dan tidak berpengaruh
signifikan terhadap keinginan berwirausaha. Hasil penelitian berbeda denganhasil penelitian
Diana (2010) yang menyatakan ketersediaan informasi mempengaruhi keinginan
berwirausaha para pengusaha grosir di jalan Bandung. Sebaliknya, hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Ali Sutanto (2005) yang menyatakan bahwa tidak ada
pengaruh signifikan antara ketersediaan informasi terhadap keinginan berwirausaha.
Hasil penelitian menunjukan kepemilikan jaringan memiliki hubungan positif dan
tidak berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei
Tuan. Hasi ini sesuai dengan penelian Ani Murwani (2013) yang menyimpulkan bahwa
kesiapan instrument (akses modal, jaringan, dan infomrasi) tidak berpengaruh signifikan
terhadap minat kewirausahaan mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed). Responden
yang sebagian besar berada dilingkungan kerja dan lingkungan sekolah/universitas terlebih
lagi belum memiliki tanggungan menjadikan mereka merasa nyaman dengan pekerjaannya
dan belum harus atau merasa cukupdengan penghasilan yang dimiliki.
Akses modal memiliki hubungan positif dan tidakberpengaruh signifikan terhadap
minat wirausaha pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel akses modal
memiliki nilai skor rata-rata 3,03. Hal ini berarti bahwa akses modal pemuda di kecamatan
percut sei tuan berada pada daerah netral. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang
diungkapkan Suryana (2010:5) dalam kewirausahaan, modal tidak selalu identik dengan
modal yang berwujud (tangible) seperti uang dan barang, tetapi juga modal yang tidak
berwujud (intangible) seperti modal intelektual, modal sosial, modal moral dan modal mental
yang dilandasi agama. Lebih lanjut, hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Eko
Yuliawan (2015) bahwa akses modal tidak berpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha
Minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan tumbuh, meskipun dengan
keterbatasan akses modal. Meskipun demikian, ketersediaan akses modal tidak bisa dianggap
sebagai factor yang patut diabaikan dalam memulai wirausaha. Minat dalam penelitian ini
lebih pada ketertarikan seseorang untuk melakukan wirausaha. Oleh sebab itu, tersedianya
akses modal tentu akan mempermudah terealisasinya wirausaha terlebih bagi para pemuda
yang memiliki minat wirausaha.Hal ini sesuai dengan hasil analisis regresi yang
menunjukkan adanya hubungan positif antara akses modal dan minat wirausaha.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa demografi; pendidikan, pengetahuan, dan
pengalamanmemiliki hubungan positif dan berpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha
pemuda di kecamatan precut Sei Tuan.. Hasil penelitian ini sesuai yang dilakukan oleh Nisa
(2015) yang meneliti tentang factor-faktor yang memengaruhi minat usaha fashion wanita di
Pasar Petisah Medan, yang menunjukkan bahwa faktor pendidikan adalah salah satu faktor
yang memengaruhi. Dan hasil penelitian Melviana (2016) yang menunjukkan bahwa
pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat memulai usaha di sekitar
Swalayan Super Tasbih Medan. Agar wirausaha menjadi efektif, seseorang harus banyak belajar melalui pendidikan maupun pengalaman. Karena pendidikan akan melahirkan
pengetahuan, dan pengalaman akan melahirkan pengajaran.
Perencanaan pembangunan wilayah dipahami sebagai suatu upaya merumuskan dan
mengaplikasikan kerangka teori ke dalam kebijakan ekonomi dan program pembangunan
yang di dalamnya mempertimbangkan aspek wilayah dengan mengintegrasikan aspek sosial
dan lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan yang optimal dan berkelanjutan (Iwan
Nugroho dan Rokhmin Dahuri, 2004).
Ada tiga tahapan dalam pembangunan wilayah, yakni perkembangan industri,
efesiensi industry, dan keunggulan wilayah (Drabenstott, 2006). Dalam tahapan pertama,