Kondisi obyektif pengelolaan energi di Nusa Penida dapat dikemukakan berdasarkan tahapan pengelolaan yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian.
• Pada tahap perencanaan : sentralistik, sosialisasi program kepada masyarakat kurang komprehensif.
• Pada tahap pelaksanaan : (1) anggaran untuk pembangunan pembangkit listrik sumber energi terbarukan dialokasikan pada anggaran pemerintah pusat (APBN), (2) pelaksanaan pembangunan pembangkit oleh pemerintah pusat dan perwakilan di daerah, (3) serah terima pembangkit dari pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten, (4) penunjukan operator oleh pemerintah kabupaten, (5) penetapan harga beli listrik hasil PLTB dan PLTS oleh PLN mengacu kepada biaya pokok penyediaan listrik oleh PLN di wilayah Jawa-Bali.
• Pada tahap pengendalian : monitoring dan evaluasi tidak ada pendelegasian wewenang kepada pemerintah setempat (Kecamatan Nusa Penida).
Berdasarkan hasil observasi terhadap infrastruktur pada unit jaringan listrik dan kajian terhadap informasi mengenai kebijakan pengembangan sumber energi di Nusa Penida, tercermin bahwa orientasi pengelolaan energi di Nusa Penida sejauh ini adalah (1) meningkatkan jaminan pemenuhan kebutuhan listrik bagi industri pariwisata, dan (2) mengembangkan Desa Wisata Energi. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam jangka panjang telah diwacanakan pengembangan pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan bahan bakar batubara, dengan kapasitas sekitar 600 MW yang nantinya diharapkan selain memenuhi kebutuhan listrik di Nusa Penida, juga menyuplai daya ke jaringan listrik Jawa-Bali. Kelembagaan pengelolaan energi di Nusa Penida belum terbentuk secara sistematis. Secara garis besar kelembagaan yang ada dapat digambarkan seperti pada Lampiran 12. Untuk memperoleh elemen kunci pengelolaan energi di Nusa Penida, telah dilakukan kajian mengenai keterkaitan antar elemen tujuan dan kendala pengelolaan energi.
8.1. Orientasi Pengelolaan Energi di Nusa Penida
Hasil identifikasi elemen tujuan dalam sistem pengelolaan energi di Nusa Penida sebagai berikut :(1) desa wisata energi, (2) peningkatan pendapatan daerah,
(3) perluasan lapangan kerja, (4) pengembangan energi ramah lingkungan, (5) meningkatkan jaminan pemenuhan energi.
Berdasarkan hasil penelaahan pakar tentang keterkaitan antar elemen tujuan disusun matrik hubungan kontekstual seperti pada Tabel 8.1.
Tabel 8.1. Hubungan kontekstual tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida
Tujuan 1 2 3 4 5 Driver Power
1 1 1 0 1 0 3 2 0 1 0 0 0 1 3 1 1 1 1 0 4 4 1 1 0 1 0 3 5 1 1 1 1 1 5 Dependency 4 5 2 4 1
Matrik hubungan kontekstual antar elemen pada Tabel 8.1. menunjukkan bahwa elemen tujuan meningkatkan jaminan pasokan energi (T5) memiliki kekuatan menggerakkan empat elemen tujuan lainnya dan tingkat ketergantungannya paling rendah dibandingkan emapt elemen lainnya. Kekuaan penggerak yang relatif kuat juga dimiliki elemen tujuan perluasan lapangan kerja (T3) dan tingkat ketergantungannya juga relatif rendah dibanding tiga elemen lainnya.
Berdasarkan hubungan kontekstual antar elemen tersebut dapat digambarkan plot kekuatan penggerak dan ketergantungan masing-masing elemen tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida seperti pada Gambar 8.1.
Dari Gambar 8.1 terlihat bahwa koordinat elemen tujuan meningkatkan jaminan pemenuhan energi (T5) dan perluasan lapangan kerja (T3) berada pada sektor 4 (independent), mencerminkan bahwa pencapaian kedua tujuan tersebut akan menimbulkan multiflier effect terhadap tercapainya tiga tujuan lainnya. Elemen tujuan peningkatan pendapatan daerah berada pada sektor 2 (dependent), menunjukkan bahwa pencapaian tujuan tersebut sangat tergantung kepada pencapaian empat tujuan lainnya, terutama tujuan meningkatkan jaminan pemenuhan energi dan perluasan lapangan kerja. Elemen tujuan desa wisata energi (T1) dan pengembangan energi ramah lingkungan (T4) berada pada batas sektor 2 dan 3, mencerminkan bahwa disamping memiliki ketergantungan yang relatif tinggi, juga memiliki keterkaitan (linkage) dengan tujuan lainnya.
1, 4 2 3 5 0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6 Independent Linkage D r i v e r P o w e r Autonomous Dependent Dependence
Gambar 8.1. Plot driver power – dependence tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida
Berdasarkan kekuatan penggerak dan ketergantungan masing-masing elemen tujuan, dapat disusun struktur hirarki tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida seperti pada Gambar 8.2.
2
1 4
3
5
Gambar 8.2 Struktur hirarki tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida.
Dari Gambar 8.2. terlihat bahwa terdapat 4 hirarki tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida. Berdasarkan peringkat kekuatan penggerak (driver power) maka tujuan meningkatkan jaminan pemenuhan energi (T5) merupakan elemen kunci yang perlu dijadikan orientasi dalam pengelolaan energi di Nusa Penida. Tujuan perluasan lapangan kerja juga perlu diperhatikan karena memiliki kekuatan penggerak yang lebih kuat dibandingkan tiga elemen tujuan lainnya.
8.2. Kendala Pengelolaan Energi di Nusa Penida
Hasil identifikasi elemen kendala dalam sistem pengelolaan energi di Nusa Penida sebagai berikut : (1) aksesibilitas rendah, (2) tingkat pendidikan masyarakat rendah, (3) daya beli masyarakat rendah, (4) infrastruktur terbatas, (5) teknologi mahal, dan (6) biaya transportasi mahal.
Berdasarkan hasil penelaahan pakar tentang keterkaitan antar elemen kendala disusun matrik hubungan kontekstual seperti pada Tabel 8.2.
Tabel 8.2. Hubungan kontekstual tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida
Tujuan 1 2 3 4 5 6 Driver Power
1 1 1 0 0 1 1 4 2 0 1 0 0 0 0 1 3 0 1 1 0 1 0 3 4 1 1 0 1 1 1 5 5 0 0 0 0 1 0 1 6 0 0 0 0 1 1 2 Dependency 2 4 1 1 5 3
Matrik hubungan kontekstual antar elemen pada Tabel 8.2. menunjukkan bahwa elemen kendala infrastruktur terbatas (K4) memiliki kekuatan menggerakkan elemen kendala lainnya kecuali elemen kendala daya beli masyarakat rendah (K3). dan tingkat ketergantungannya paling rendah dibandingkan elemen lainnya. Kekuaan penggerak yang relatif kuat juga dimiliki elemen kendala aksesibilitas rendah (K1).
Berdasarkan hubungan kontekstual antar elemen tersebut dapat digambarkan plot kekuatan penggerak dan ketergantungan masing-masing elemen kendala pengelolaan energi di Nusa Penida seperti pada Gambar 8.3.
Dari Gambar 8.3 terlihat bahwa koordinat elemen kendala infrastruktur terbatas (K4) dan aksesibilitas rendah (K1) berada pada sektor 4 (independent), mencerminkan bahwa dengan mengatasi kedua kendala tersebut akan mendorong kemampuan mengatasi kendala lainnya. Elemen kendala tingkat pendidikan masyarakat rendah (K2), dan teknologi mahal (K5) berada pada sektor 2 (dependent), menunjukkan bahwa untuk mengatasi kendala tersebut sangat tergantung kepada keberhasilan mengatasi empat kendala lainnya, terutama kendala infrastruktur terbatas (K4) dan aksesibilitas rendah (K1). Elemen kendala daya beli masyarakat rendah (K3) berada pada batas sektor 1 dan 4 mencerminkan bahwa meskipun
ketergantungannya terhadap elemen lain relatif kecil, tetapi kekuatan penggeraknya tidak cukup kuat. Elemen biaya transportasi mahal (K6) berada pada batas sektor 1 dan 2 mencerminkan bahwa disamping kekuatan penggeraknya kecil, tingkat ketergantungannya juga relatif tinggi.
1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6 Independent Linkage D r i v e r P o w e r Dependent Autonomous Dependence
Gambar 8.3. Plot driver power – dependence kendala pengelolaan energi di Nusa Penida
Berdasarkan kekuatan penggerak dan ketergantungan masing-masing elemen kendala, dapat disusun struktur hirarki tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida seperti pada Gambar 8.4.
2 5
3 6
1
4
Gambar 8.4 Struktur hirarki kendala pengelolaan energi di Nusa Penida.
Dari Gambar 8.4. terlihat bahwa terdapat 4 hirarki kendala pengelolaan energi di Nusa Penida. Berdasarkan peringkat kekuatan penggerak dan ketergantungan, maka kendala infrastruktur terbatas (K4) merupakan elemen kunci yang perlu dijadikan prioritas dalam pengelolaan energi di Nusa Penida. Kendala
aksesibilitas rendah (K1) juga perlu diperhatikan karena memiliki kekuatan penggerak yang lebih kuat dibandingkan empat elemen kendala lainnya.
8.3. Rancangan Kelembagaan Pengelolaan Energi
Berdasarkan hasil kajian mengenai keterkaitan antar elemen tujuan dalam pengelolaan energi, maka perlu dilakukan reorientasi tujuan pengelolaan energi di Nusa Penida menjadi : (1) meningkatkan jaminan pemenuhan kebutuhan listrik di wilayah Nusa Penida, dan (2) memperluas penyediaan lapangan kerja. Berdasarkan tujuan tersebut, serta memperhatikan belum terbentuknya pola kemitraan antar pelaku, maka performa kelembagaan pengelolaan energi di Nusa Penida perlu ditingkatkan melalui pengaturan pola kemitraan seperti pada Lampiran 13.