• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Earning management di penelitian ini terdiri dari (1) earning management

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Earning management di penelitian ini terdiri dari (1) earning management"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pengantar

Earning management di penelitian ini terdiri dari (1) earning management

akrual yang terdiri dari akrual diskresioner jangka pendek dan akrual diskresioner jangka panjang, (2) manajemen aktivitas nyata yang terdiri dari abnormal arus kas operasi dan abnormal biaya diskresioner dan di hubungkan dengan kinerja saham perusahaan yang melakukan aktivitas IPO. Berikut ini dijabarkan definisi dan tinjauan peneliti terdahulu yang dikaitkan dengan teori pendukung.

2.1.1.1. Earning management

Earning management dapat didefinisikan sebagai “intervensi manajemen

dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi tujuan pribadi” Schipper, 1989 dalam Subramanyam dan Wild (2010). Definisi lain menyebutkan: “earning management merupakan upaya-upaya manajemen dalam menggunakan pertimbangannya dalam menyusun laporan keuangan sehingga dapat menyesatkan para pengambil keputusan dalam menilai kinerja perusahaan atau dapat mempengaruhi kontrak-kontrak pendapatan yang telah ditetapkan berdasarkan angka-angka laporan keuangan (Healy dan Wahlen, 1998).

(2)

Menurut Sugiri (1998) manajemen laba atau earning management dapat dibagi menjadi dua definisi yaitu (1) definisi sempit, earning management erat kaitannya dengan pemilihan metode akuntansi dan perilaku manajer dalam menentukan besarnya laba seputar komponen discretionary accruals yaitu komponen akrual yang berada dalam kebijakan manajemen atau manajer untuk melakukan intervensi dalam proses pelaporan keuangan, (2) definisi luas merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan atau mengurangi laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan/penurunan profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.

Definisi-definisi di atas menjelaskan bahwa earning management merupakan tindakan dari manajer untuk memperbaiki kinerja dari perusahaan, baik manajer dan perusahaan akan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Terdapat berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya earning management (Subramanyam dan Wild, 2010) antara lain meningkatkan kompensasi, menghindari persyaratan utang, memenuhi ramalan analysis, dan mempengaruhi harga saham. Menurut Scott (2009) yang menjadi motivasi dilakukannya manjemen laba adalah motivasi bonus, motivasi kontrak, motivasi politik, motivasi pajak, penggantian direktur dan mengkomunikasikan informasi ke investor. Lain halnya menurut Watts dan Zimmerman (1990) Teori akuntansi positif (Positif Accounting Theory) mengusulkan tiga hipotesis motivasi earning management, yaitu: (1) hipotesis program bonus (the

bonus plan hypotesis), (2) hipotesis perjanjian hutang (the debt covenant hypotesis),

(3)

Einsenhardt dalam Wibisono (2004) menjelaskan bahwa teori agency menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu (1) mementingkan diri sendiri (self

interest), (2) daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3) menghindari resiko (risk-averse). Dalam teori keagenan ini,

manajemen selalu berusaha untuk memaksimumkan fungsi utilitasnya. Mengingat manajemen memiliki keleluasaan untuk memilih salah satu kebijakan akuntansi dari prinsip yang berlaku umum, maka wajar saja jika kemudian muncul pemikiran bahwa manajemen akan memilih metode akuntansi yang secara spesifik akan membantu manajemen dalam meraih tujuannya.

Sejalan dengan agency teory bahwa management akan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan dengan investor di pasar modal yang lebih dikenal dengan kondisi

asymmetric information. Jika manajemen ingin memaksimumkan nilai untuk

pemegang saham saat ini (current stockholder), bukan pemegang saham baru, maka ada kecendrungan (1) jika perusahaan memiliki prospek yang cerah, manajemen tidak akan menerbitkan saham baru tetapi menggunakan laba di tahan, dan (2) jika prospek kurang baik, manajemen menerbitkan saham baru untuk memperoleh dana (Atmaja, 2008).

Tiga jenis strategi dalam earning management (Subramanyam dan Wild, 2010) yaitu (1) Increasing Income, meningkatkan laba yang dilaporkan pada periode kini untuk membuat perusahaan dipandang lebih baik. (2) Big Bath, dilakukan melalui penghapusan (Write-Off) sebanyak mungkin pada satu periode. Periode yang

(4)

dipilih biasanya periode dengan kinerja yang buruk (sering kali pada masa resesi di mana perusahaan lain juga melaporkan laba yang buruk) atau pada saat terjadi perubahan manajemen, merger ataupun restrukturisasi. (3) income smoothing, manajer meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangi fluktuasinya, dengan cara tidak melaporkan bagian laba pada periode yang baik dan menciptakan cadangan laba kemudian melaporkan laba tersebut pada saat periode buruk.

Rahayu (2009) ada dua cara yang dilakukan perusahaan seputar earning

management yaitu (1) manipulasi akuntansi/manipulasi laba akrual, merupakan

selisih antara kas masuk bersih dari hasil operasi perusahaan dengan laba yang dilaporkan dalam laporan rugi/laba, yang dapat bersifat non discretionay accrual dan

discretionay accrual. (2) manipulasi non akuntansi/ manipulasi aktivitas nyata,

perbedaan praktik operasi yang dilakukan dengan praktik operasi normal perusahaan di motivasi oleh keinginan manajemen untuk memberikan pemahaman yang salah kepada stakeholder agar mereka percaya bahwa tujuan pelaporan keuangan telah di capai sesuai dengan praktik operasi normal perusahaan. Tindakan tersebut tidak selalu memberikan kontribusi terhadap nilai perusahaan meskipun memungkinkan para manajer untuk memenuhi tujuan pelaporan. Beberapa metode manipulasi aktivitas nyata seperti diskon harga, pengeluaran discretionary, dan juga tindakan optimal dalam keadaan ekonomi tertentu (Roychowdhury, 2006).

Beberapa penelitian memberikan bukti tentang adanya earning management untuk tujuan pasar modal yaitu: Hastoro dan Yuliana (2010) penerapan earning

(5)

management sangatlah penting terutama pada periode sebelum IPO. Sokarina (2006) Earning management yang diproksikan dengan akrual diskresioner berpengaruh

negative terhadap return saham. (Beneish dan Vargus, 2002) yang menunjukkan bahwa persistensi income-increasing accrual lebih rendah jika diikuti oleh abnormal

insider selling terindikasi dilakukannya earning management oportunistik untuk

mendapatkan keuntungan dari pembelian atau penjualan saham.

2.1.1.2. Manipulasi Laba Akrual

Metode akrual merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya earning management. Metode akrual ini merupakan selisih antara kas masuk bersih dari hasil operasi perusahaan dengan laba yang dilaporkan dalam laporan laba rugi. Terdapat dua konsep akrual yaitu: discretionary accrual (akrual diskresioner) yaitu pengakuan akrual laba atau beban yang bebas tidak diatur dan merupakan pilihan kebijakan manajemen dan non discretionary accrual (akrual non diskreoner) adalah pengakuan akrual laba yang wajar, yang tunduk pada suatu standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Akrual diskresioner merupakan salah satu ukuran dari earning management sehingga biasanya digunakan untuk mendeteksi adanya earning management. Akrual diskresioner terdiri dari akrual diskresioner jangka pendek dan akrual diskresioner jangka panjang (Whelan dan McNamara 2004). Menurut (Dechow, 1994) Akrual diskresioner jangka pendek memiliki waktu yang relatif pendek misalnya satu tahun atau kurang dari satu tahun (satu periode akuntansi) dan merupakan akrual yang

(6)

melibatkan akun modal kerja dan menggambarkan perubahan dalam akun aktiva lancar dan utang lancar, sedangkan akrual diskresioner jangka panjang memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun (satu periode akuntansi) dan akrual diskresioner jangka panjang meliputi depresiasi, revaluasi aktiva, dan penyesuaian nilai wajar atas instrumen keuangan. Menurut Teoh et al. (1998) total akrual dibagi dalam akrual diskresioner jangka pendek atau disebut juga working capital accruals (WKA) dan akrual diskresioner jangka panjang atau disebut juga non-working capital accruals (NWKA). Alasannya karena para manajer memiliki beberapa pertimbangan yang besar pada beberapa akun tertentu dibanding lainnya. Whelan dan McNamara (2004), mengatakan kegunaan relatif atas komponen akrual diskresioner tergantung pada interval return yang akan diuji. Akrual jangka pendek yang waktunya kurang dari atau sampai satu tahun maka akrual tersebut paling relevan untuk interval return satu tahun, sedangkan akrual jangka panjang akan menjadi relevan pada interval return yang meningkat karena mempunyai periode waktu yang lebih panjang. Hasil penelitian ini menunjukkan akrual jangka pendek dan akrual jangka panjang mempunyai pengaruh yang berbeda khususnya terhadap relevansi informasi laba dan nilai buku.

Motivasi manajemen akrual dalam sudut pandang agency theory dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori: opportunistic dan signaling (Beaver, 2002). Pada motivasi opportunistic, manajemen cenderung menyajikan laba lebih tinggi daripada yang sesungguhnya, karena berhubungan dengan kompensasi. Sementara pada motivasi signaling, manajemen cenderung manyajikan laba yang mempunyai

(7)

kualitas karena berhubungan dengan evaluasi kinerja dan selanjutnya digunakan sebagai sinyal kepada pemegang saham.

Menurut Dechow dan Ilia (2001), Sejumlah studi menggunakan model kebijakan akrual untuk meneliti manipulasi dari akrual dalam mencapai tujuan

earning management. Pendekatan yang paling banyak digunakan dalam pengujian earning management adalah model yang dikembangkan oleh Jones, dan dikenal

dengan model Jones 1991. Menurut ( Jones, 1991 dalam Rahayu, 2009) metode jones 1991 yaitu melakukan firm‐specific regression yang berarti akrual diskresioner diperoleh dengan membandingkan akrual tahun t, saat terjadinya manipulasi laba, dengan rata‐rata. Pada prinsipnya pendekatan yang digunakan tidak jauh berbeda. Perbedaan penggunaannya biasanya tergantung pada konteks dimana penelitian tersebut dilakukan. Tetapi, secara umum penelitian tentang earning management menggunakan pengukuran berbasis akrual dalam mendeteksi ada atau tidaknya manipulasi.

Penelitian sebelumnya yang mengungkapkan adanya earning management melalui akrual pada penawaran saham tambahan dilakukan oleh Teoh et al. (1998) bahwa perusahaan yang melakukan penawaran dengan cara menaikkan laba memiliki

return saham yang rendah setelah periode penawaran tersebut. Purnomo dan Pratiwi

(2009) kemampuan menghasilkan laba suatu perusahaan dapat mendorong pihak manajemen untuk melakukan modifikasi laba baik dengan cara income increasing ataupun accrual incomedecreasing accrual, namun pengaruh tersebut cenderung

(8)

lemah. Sedangkan Utomo dan Bachruddin (2005) menyatakan bahwa Penerapan

earning management yang terjadi pada saat penawaran perdana saham yang tidak

didukung kenaikan laba bersih dan arus kas dari operasi, bisa jadi karena issuers tidak ingin earning management yang diterapkan terdeteksi, dengan mendistorsi laporan keuangan pada prospektus. Peningkatan laba bersih dan arus kas dari kegiatan operasi pada periode-periode setelah penawaran perdana saham tetapi tidak dibuktikan adannya penerapan earning management disebabkan karena sifat accruals itu sendiri, dan kemungkinan adanya kewajiban pembayaran dividen kepada para pemegang saham. Spohr (2002) mengatakan earning management dilakukan dengan akrual tetapi tidak terjadi sebelum IPO.

2.1.1.3. Manipulasi Laba Aktivitas Nyata

Teknik earning management melalui metode manipulasi aktivitas nyata di definisikan oleh Roychowdhury (2006) sebagai perbedaan praktik operasi yang dilakukan dengan praktik-praktik operasi normal, yang dimotivasi oleh keinginan manajemen untuk memberikan pemahaman yang salah kepada pemegang saham agar mereka percaya bahwa tujuan pelaporan keuangan tertentu telah dicapai sesuai praktik operasi normal perusahaan. Perbedaan yang dilakukan ini tidak memberikan kontribusi terhadap nilai perusahaan meskipun dengan tindakan ini memungkinkan manajer mencapai tujuan pelaporan. Metode earning management aktivitas nyata dapat dicontohkan seperti memberikan diskon harga, penurunan pengeluaran diskresioner, yang mungkin merupakan tindakan normal pada kondisi ekonomi

(9)

tertentu, namun jika manajer melakukan aktivitas ini secara lebih ekstensif daripada aktivitas normal berdasarkan situasi ekonominya, dengan tujuan untuk mencapai target laba, maka tindakan seperti ini masuk dalam kategori earning management aktivitas nyata.

Praktik earning management oleh perusahaan melalui manipulasi aktivitas nyata dimotivasi oleh keinginan manajer untuk menyesatkan pemegang saham dalam kepercayaan tertentu bahwa tujuan laporan keuangan telah terpenuhi dalam operasi normal. Adapun yang menjadi motivasi utama atas manipulasi aktivitas nyata adalah waktu (timing) earning management. Dimana manipulasi aktivitas nyata dapat dilakukan kapan saja selama periode akuntansi, maka hal ini sulit untuk dideteksi oleh auditor dan earning management akrual terbatas pada prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).

Roychowdhury (2006) ada tiga aktivitas yang bisa dilakukan untuk melakukan earning management melalui aktivitas nyata yaitu: (1) Manipulasi Penjualan, usaha melakukan peningkatan penjualan secara temporer dengan memberikan kredit atau diskon harga sehingga volume penjualan meningkat. Diskon harga akan menyebabkan arus kas masuk besar tetapi arus kas masuk per penjualan kecil, diskon bersih dari tambahan penjualan lebih rendah dari arus kas operasi normal perusahaan sehingga marjin turun. (2) Melakukan produksi besar-besaran, tujuan dilakukannya produksi besar-besaran agar harga pokok penjualan lebih rendah. Semakin banyak produksi maka biaya akan naik tetapi harga rata-rata lebih rendah sehingga marjin lebih besar. (3) mengurangi biaya diskresioner, biaya yang dapat

(10)

dikurangi adalah biaya iklan, biaya penelitian dan pengembangan, dan biaya penjualan umum dan administrasi. Biaya ini pada akhir periode menyebabkan rekening utang berkurang dibawah normal dan berdampak pada akrual abnormal yang positif sehingga biaya berkurang dan laba naik. Manajer mengurangi biaya riset dan pengembangan yang lebih, jika memiliki kepemilikan institusional yang rendah (Bushee, 1998)

Sejalan dengan Roychowdhury (2006) dan Cohen, et. al (2004) tiga metode yang harus dipertimbangkan untuk mempelajari manipulasi aktivitas nyata yaitu tingkat abnormal arus kas dari operasi (CFO), biaya discretionary (DISEXP) dan biaya produksi (PROD).

Penelitian tentang metode aktifitas nyata ini diteliti antara lain

Roychowdhury (2006) menemukan bahwa manajer menawarkan diskon harga, memberikan diskon besar menjelang akhir tahun fiskal untuk meningkatkan penjualan. Peningkatan volume penjualan yang dihasilkan kemungkinan akan hilang ketika perusahaan kembali pada harga lama. Tindakan ini pada kenyataannya, menggerakkan profitabilitas masa depan dalam periode berjalan. Akibatnya,

Thomas dan Zhang (2002) memberikan bukti manipulasi kegiatan riil melalui over produksi (PROD) dimana manajer menghasilkan barang lebih dari jumlah yang diperlukan untuk memenuhi penjualan dan tingkat target normal persediaan untuk menurunkan HPP, yang mengakibatkan peningkatan laba yang dilaporkan. Meskipun marjin keuntungan meningkat, tetapi diikuti juga dengan timbulnya biaya-biaya baru dan lebih rendah dari CFO normal.

(11)

profitabilitas masa depan mungkin dirugikan oleh manajemen penjualan. Secara keseluruhan, perusahaan biasanya dirugikan ketika manajer memanipulasi laba melalui aktivitas nyata. Pertama, ketika manajer memanipulasi laba untuk memenuhi target pendapatan, kontrak mengharuskan perusahaan untuk memberikan imbalan finansial yang lebih besar untuk para manajer. Kedua, manajer lebih sering mencurahkan waktunya untuk memanipulasi dan sedikit mereka curahkan untuk kegiatan produktif. Ketiga, Bar-Gill dan Bebchuk (2003) menunjukkan bahwa kemungkinan memanipulasi aktivitas nyata memiliki biaya ekonomi riil. Artinya, perusahaan mungkin tidak mengejar proyek-proyek yang efisien untuk memaksimalkan nilai perusahaan.

Konsekuensi dilakukannya manipulasi aktivitas nyata yang dijabarkan oleh Gunny (2005), Empat aktivitas utama earning management aktivitas nyata yang digunakan adalah: a) mengurangi biaya diskresioner riset dan pengembangan, b)mengurangi biaya diskresioner penjualan dan biaya administrasi dan umum, c)melakukan timing penjualan aktiva tetap untuk menaikkan laba, dan d)overproduction, diskon harga atau keringanan kredit untuk menaikkan penjualan atau mengurangi biaya produksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa earning

management aktivitas nyata berhubungan sangat signifikan dengan laba dan arus kas

masa depan yang rendah. Selain itu, aktivitas earning management aktivitas nyata secara ekonomis signifikan menurunkan kinerja operasi perusahaan. Sedangkan menurut Zang (2007) menduga bahwa manajer perusahaan menggunakan earning

(12)

menggantikan. Penelitian ini menemukan bahwa earning management akrual cenderung menurun dan earning management aktivitas nyata naik setelah penyelesaian penuntutan perkara hukum perusahaan. Akan tetapi kedua teknik

earning management tersebut berhubungan positif dengan insentif atas melakukan earning management. Oktorina (2008) berhasil menemukan bukti bahwa perusahaan

melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasi dan mempengaruhi kinerja pasar pada kelompok 50 perusahaan terbaik menurut Swa100 yang memiliki total aktiva diatas Rp 1 triliun dan EVA terbaik pada periode tahun 2001 sampai dengan 2006. Lain halnya dengan Annisaa’rahman dan Hutagaol (2007) yang mengatakan bahwa earning management ditemukan melalui akrual tetapi tidak pada aktivitas nyata dan earning management mempengaruhi kinerja saham setelah IPO.

2.1.1.4. Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offerings/IPO)

Initial public offerings (IPO) atau penawaran saham perdana merupakan

proses penjualan saham suatu perusahaan kepada masyarakat umum untuk pertama kalinya (Jogiyanto, 2003). Undang-undang No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal mendefinisikan penawaran umum sebagai kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Adapun yang dimaksud sebagai efek adalah surat berharga yaitu surat pengakuan hutang , surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif,

(13)

kontrak berjangka atas efek dan setiap derivatif dari efek. Sementara itu, perusahaan publik didefinisikan sebagai perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang- kurangnya Rp. 3 milyar atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan Peraturan Pemerintah. Harga saham yang di jual di pasar perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara perusahaan emiten dan penjamin emisi (underwriter), sedangkan di pasar sekunder ditentukan oleh mekanisme pasar (permintaan dan penawaran). Apabila penentuan harga saham saat IPO secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan harga saham saat IPO dibanding dengan harga yang terjadi di pasar sekunder di hari pertama, maka terjadi underpricing. Sebaliknya apabila penentuan harga saham saat IPO secara signifikan lebih tinggi dibanding dengan harga yang terjadi dipasar sekunder di hari pertama, maka terjadi

overpricing. Underpricing dan overpricing merupakan dua hal yang selalu terjadi

pada saat penawaran saham perdana.

Asimetri informasi antara pihak manajemen dan investor potensial sangat tinggi ketika perusahaan belum melakukan IPO. Hal ini disebabkan karena informasi perusahaan yang belum go public relatif sulit diperoleh investor. Ketika perusahaan melakukan IPO, investor potensial hanya mengandalkan informasi dari prospektus. Menurut Rao dalam Teoh et al. (1998) tidak terdapat media lain yang menyediakan informasi perusahaan yang sedang melakukan IPO, kecuali prospektus yang disyaratkan Pengawas Pasar Modal. Kelangkaan informasi perusahaan sebelum IPO, memaksa investor potensial hanya mengandalkan prospektus sebagai sumber

(14)

informasi mengenai perusahaan. Padahal prospektus hanya menyediakan laporan keuangan selama tiga tahun sebelum IPO dan informasi non keuangan (Teoh et al. 1998). Kondisi ini memberikan kesempatan bagi manajemen untuk melakukan

earning management supaya meningkatkan kemakmurannya, yaitu mengharapkan

harga saham akan tinggi pada saat IPO.

Kebanyakan teori yang menjelaskan Harga Penawaran Perdana (IPO) yang

underpriced didasarkan pada asumsi bahwa terjadi perbedaan informasi antara

berbagai pihak terhadap nilai saham yang baru tersebut. Salah satu dari teori tersebut menganggap bahwa underwriter secara signifikan mempunyai informasi yang lebih baik daripada issuer (Baron & Holmstrom, dalam Ronni, 2003). Oleh karena

underwriter memiliki informasi yang lebih lengkap, underwriter akan mampu

meyakinkan issuer bahwa harga yang rendah lebih baik jika issuer tidak pasti terhadap nilai sahamnya sendiri. Perspektif ini didasarkan pada anggapan bahwa meskipun issuer mengetahui lebih banyak karakteristik bisnisnya, tetapi underwriter lebih mengetahui harga pasar sebab underwriter melakukan survei pasar, melakukan investigasi terhadap issuer, mendapatkan informasi dari issuer dan juga punya pengalaman dalam pengeluaran saham baru (Ibbotson, Sindelar, Ritter, dalam Ronni, 2003)

Teori yang lainnya dalam menjelaskan underpricing IPO adalah sebagai

Signaling Equilibrium Phenomenom (Allen dan Faulhaber, Grinbaltt dan Hwang; dan

Welch dalam Ronni, 2003). Dasar fundamental dari teori ini adalah perusahaan yang baik atau bagus dapat memberikan signal (tanda) tentang tipe atau kondisi

(15)

perusahaannya dengan melakukan penetapan IPO yang underpricing. Sementara perusahaan yang jelek atau buruk tidak mau melakukan underpricing karena tidak bisa menutupi kerugian akibat underpricing. Motivasi dari pengiriman signal lewat

underpricing adalah asumsi bahwa keuntungan masa datang dari underpricing IPO

lebih besar dari kerugiannya.

Beberapa penelitian seputar IPO antara lain Friedlan (1994) menemukan bukti bahwa perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat menaikkan laba akuntansi perioda satu tahun sebelum IPO. Jain dan Kini (1994) menyatakan bahwa terdapat penurunan kinerja operasional perusahaan setelah IPO. Penurunan tersebut menunjukkan indikasi telah terjadi earning management menjelang IPO. Hal ini dilakukan dengan cara menggeser pendapatan perioda yang akan datang ke perioda sekarang atau menggeser biaya perioda sekarang ke perioda yang akan datang, sehingga laba perioda sekarang dilaporkan tinggi. Joni dan Jogiyanto (2008) menemukan earning

management di sekitar IPO, yaitu perioda dua tahun sebelum IPO dan lima tahun

setelah IPO. Perusahaan melakukan earning management dengan menurunkan nilai laba perioda t-2 (mean reversing), kemudian earning management dilakukan dengan menaikkan nilai laba pada perioda t-1. Perusahaan juga melakukan earning

management dengan menaikkan nilai laba perioda lima tahun setelah IPO. Hastoro

dan Yuliana (2010) menemukan bukti bahwa tingkat earning management pada perioda sebelum IPO lebih tinggi dibandingkan dengan perioda setelah IPO.

(16)

2.1.1.5. Kinerja Perusahaan

Ukuran kinerja perusahaan yang diteliti adalah kinerja saham/pasar (return saham), yaitu kinerja perusahaan yang dinilai dari nilai pasarnya. Kinerja pasar mencerminkan seberapa baik kinerja perusahaan dipandang oleh pihak eksternal. Kinerja ini terefleksikan dari kinerja sahamnya. Jika kinerja saham baik, berarti pasar atau pemodal menilai bahwa perusahaan mempunyai prospek yang bagus, demikian juga sebaliknya. Ang, 1997 dalam Wibisono (2004) menyatakan bahwa tanpa adanya keuntungan yang dapat dinikmati dari suatu investasi tentunya investor tidak mau berinvestasi.

Penilaian kinerja perusahaan bertujuan untuk menilai kemampuan manajemen dalam menjalankan perusahaan. Banyak penelitian sebelumnya yang mendokumentasikan mengenai kinerja pasar jangka panjang dan jangka pendek perusahaan yang melakukan panawaran saham baik perdana maupun saham tambahan. Salah satu dampak dari earning management adalah terjadi penurunan kinerja perusahaan yang terjadi pasca penawaran saham (Teoh et al., 1998). Yohanes dan Kartika (2004) meneliti perusahaan yang melakukan IPO dari tahun 1998 sampai tahun 2000 menyatakan bahwa dalam jangka pendek saham perusahaan mengalami

underpricing sedangkan kinerja saham jangka panjang terjadi penurunan

(underperformed).

Jain dan Kini (1994) menyatakan terjadi penurunan kinerja operasi perusahaan setelah IPO. Penurunan kinerja ini merupakan indikasi adanya earning

(17)

ke perioda sekarang atau menggeser biaya sekarang ke perioda yang akan datang. Prastiwi dan Kusuma (2001) yang meneliti kinerja IPO perusahaan di Indonesia pada perioda 1994 sampai dengan 1997 menemukan bukti bahwa kinerja IPO pada jangka pendek adalah positif dan pada jangka panjang adalah negatif.

2.1.1.6. Earning management dan Kinerja Saham Saat Penawaran Saham

Hubungan earning management dengan penurunan kinerja saham telah diteliti oleh Teoh et al. (1998) yang menemukan bahwa perusahaan yang melaporkan akrual positif pada saat penawaran saham tambahan mengalami kinerja saham yang buruk setelah 3 tahun penawaran dan semakin besar akrual diskresioner yang dimiliki oleh perusahaaan, semakin buruk kinerja saham jangka panjang yang dialami perusahaan.

Beberapa penelitian yang telah menguji earning management dan kinerja perusahaan pada saat penawaran saham perdana antara lain: Syaiful (2004) menemukan penurunan kinerja operasi yang rendah setelah IPO, rendahnya kinerja tersebut dipengaruhi oleh earning management. Sedangkan Hastoro dan Yuliana (2010) mengatakan bahwa kinerja perusahaan akan mengalami penurunan setelah IPO dibandingkan dengan sebelum IPO. Joni dan Jogiyanto (2008) menemukan bahwa earning management perioda t-2 sebelum IPO berhubungan dengan return saham dengan menggunakan kecerdasan investor sebagai variabel pemoderasi. Koefisien hubungan earning management dengan return saham yang mempertimbangkan faktor kecerdasan investor bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa earning management yang tinggi menyebabkan nilai harga saham rendah

(18)

ketika mempertimbangkan faktor kecerdasan investor. Hasil ini konsisten dengan penelitian Balsam et al. (2002) yang menyatakan bahwa earning management berhubungan dengan return saham untuk investor yang cerdas (kepemilikan institusi ≥ 40%).

2.2. Review Peneliti Terdahulu (Theorical Mapping)

Penelitian tentang earning management, kinerja perusahaan pada saat IPO,

earning management dengan akrual dan aktivitas nyata telah banyak dilakukan baik

peneliti di dalam maupun luar negeri. Secara umum diketahui adanya dampak

earning management yang dilakukan pada saat IPO terhadap kinerja saham jangka

panjang dan jangka pendek dengan beberapa metode, juga ditemukan adanya motivasi earning management pada saat perusahaan melakukan IPO, dan juga terdapat perbedaan kinerja setelah dan sebeum penawaran saham.

Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema penelitian ini akan dijabarkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu No. Peneliti Judul penelitian Variable

penelitian Hasil 1. Annisaa’ rahman dan Yanthi Hutagaol (2007) Earnings Management melalui Accruals dan Real Activities Manipulation pada Initial Publik Offerings dan Kinerja

Jangka Panjang (Studi Empiris pada Bursa Efek Jakarta

Earning management,

kinerja jangka panjang saat IPO

Earning management

ditemukan melalui akrual tetapi tidak pada aktivitas nyata dan earning

management

mempengaruhi kinerja saham setelah IPO.

(19)

2. Lanjutan… Ayudi Sokarina (2006) Pengaruh earning management terhadap return saham Earning management, return saham

Earning management yang

diproksikan dengan akrual diskresioner berpengaruh negative terhadap return saham 3. Messad D. Beneish dan Mark E. Vargus (2002) Insider trading, earning quality and accrual mispricing Insider trading, income increasing accrual, income descreasing accrual Persistensi income-Increasing accrual lebih rendah jika diikuti oleh abnormal insider selling terindikasi dilakukannya earning management

portunistik untuk mendapatkan keuntungan

dari pembelian atau

penjualan saham 4. Siew Hong Teoh, Ivo Welch, T.J. Wong (1998) Earnings management and the long-run market performance of initial public offerings Earning management, long-run market performance, IPO Perusahaan yang melakukan penawaran dengan cara menaikkan laba memiliki return saham yang rendah setelah periode penawaran 5. Budi S. Purnomo dan Puji Pratiwi (2009) Pengaruh Earning Power Terhadap Praktek Earning management (Earning management) Earning power, earning management Kemampuan menghasilkan laba suatu perusahaan dapat

mendorong pihak manajemen untuk melakukan modifikasi laba

baik dengan cara income

increasing ataupun accrual incomedecreasing accrual,

namun pengaruh tersebut cenderung lemah 6. Riyanto Moelyo Utomo dan Bachruddin (2005) Analisis earning management pada penawaran perdana saham di bursa efek Jakarta nilai discretionary accruals, data keuangan yang terdiri dari laba bersih dan arus kas dari kegiatan operasi

Penerapan earning management yang terjadi

pada saat penawaran perdana saham yang tidak didukung kenaikan laba bersih dan arus kas dari operasi, bisa jadi karena

issuers tidak ingin earning

management yang

diterapkan terdeteksi, dengan mendistorsi laporan keuangan pada prospektus. Peningkatan laba bersih dan arus kas dari kegiatan operasi pada periode-periode setelah penawaran perdana saham tetapi tidak dibuktikan adannya

(20)

Lanjutan…

penerapan earning

management disebabkan

karena sifat accruals itu sendiri, dan kemungkinan

adanya kewajiban pembayaran dividen kepada para pemegang saham.

7. Jonas Sphor (2002)

Earning management

and IPOS evidence from Finland

Earning management,

IPO

Earning management

dilakukan dengan akrual tetapi tidak terjadi sebelum IPO 8. Jacob K. Thomas dan Huai Zhang (2002)

Inventory changes and future returns

Inventory change, SAR

Manipulasi kegiatan riil melalui overproduksi (prod) dimana manajer menghasilkan barang lebih dari jumlah yang diperlukan untuk memenuhi penjualan dan

tingkat target normal persediaan untuk menurunkan HPP, yang

mengakibatkan

peningkatan laba yang dilaporkan. Meskipun marjin keuntungan meningkat, tetapi diikuti juga dengan timbulnya biaya-biaya baru dan lebih rendah dari CFO normal.

9. Sugata Roychowdhury (2006) Earnings Management through Real Activities Manipulation Earning management Manajer menawarkan diskon harga, memberikan diskon besar menjelang akhir tahun fiskal untuk meningkatkan penjualan. Peningkatan volume penjualan yang dihasilkan kemungkinan akan hilang ketika perusahaan kembali pada harga lama

10.

Oren bar-gill dan Lucian arye bebchuk (2003) Misreporting corporate performance Misreporting, financing and investment decisions Kemungkinan memanipulasi aktivitas nyata memiliki biaya ekonomi riil

11. Katherine Gunny (2005)

What Are the Consequences of Real Earnings Management? Real earning management, Evidence on RM Earning management aktivitas nyata berhubungan sangat signifikan dengan laba dan arus kas masa depan yang

(21)

Lanjutan…

rendah dan aktivitas

earning management

aktivitas nyata secara ekonomis signifikan menurunkan kinerja operasi perusahaan 12. Amy Y. Zang (2007) Evidence on the Tradeoff between Real Manipulation and Accrual Manipulation Evidence earning management,

real and accrual manipulation

Manajer perusahaan menggunakan earning management akrual dan earning management

aktivitas nyata untuk saling menggantikan 13. Megawati Oktorina dan Yanthi Hutagaol. (2008)

Analisis Arus Kas Kegiatan Operasi dalam Mendeteksi Manipulasi Aktivitas Riil dan Dampaknya Terhadap Kinerja Pasar

Aktivitas nyata, cash flow, kinerja pasar

Bahwa perusahaan melakukan manipulasi aktivitas nyata melalui arus kas kegiatan operasi dan mempengaruhi kinerja pasar

14. John M. Friedlan (1994) Accounting Choices of Issuers of Initial Public Offerings Accounting-based, IPO Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat menaikkan laba akuntansi perioda satu tahun sebelum IPO

15. Yohanes dan Andi Kartika

Analisis perbedaan kinerja saham jangka pendek dan jangka panjang pada perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia Kinerja saham jangka pendek dan jangka panjang, IPO

Dalam jangka pendek saham perusahaan mengalami underpricing

sedangkan kinerja saham jangka panjang terjadi penurunan

(underperformed).

16.

Bharat A. Jain dan Omesh Kini (1994) The post-issue Operating performance of IPO firms Kinerja operasi, poss issue

Bahwa terdapat penurunan kinerja operasional perusahaan setelah IPO

17. Joni dan H. M Jogiyanto (2008) Hubungan Earning management Sebelum

IPO dan Return Saham dengan Kecerdasan Investor sebagai Variabel Pemoderasi Earning management, return saham, kecerdasan investor Menemukan earning management di sekitar IPO,

yaitu perioda dua tahun sebelum IPO dan lima tahun setelah IPO

18. Handoko A. Hastoro dan anatias Yuliana (2010) Earning management di sekitar penawaran harga saham perdana (initial public offerings.IPO) pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI Earning management, kinerja perusahaan (ROA) Tingkat earning management pada perioda

sebelum IPO lebih tinggi dibandingkan dengan perioda setelah IPO

(22)

19. Lanjutan… Saiful (2004) Hubungan earning management (earning management) dengan

kinerja operasi dan

return saham disekitar

IPO

Earning management,

kinerja return

saham, IPO

Penurunan kinerja operasi yang rendah setelah IPO, rendahnya kinerja tersebut dipengaruhi oleh earning

management 20. Arum prastiwi dan Indra Wijaya Kusuma (2001)

Analisis kinerja surat berharga setelah penawaran perdana (IPO) di Indonesia Kinerja jangka pendek dan kinerja jangka panjang, IPO

Kinerja IPO pada jangka pendek adalah positip dan pada jangka panjang adalah negative 21. Steven balsam Et al. (2002) Accruals management, investor sophistication, and Equity valuation: evidence from 10-q filings Accruals management, investor sophistication, and Equity valuation Earning management

berhubungan dengan return saham untuk investor yang cerdas (kepemilikan institusi ≥ 40%)

Earning management terdiri dari laba akrual dan laba aktivitas nyata, laba

akrual terdiri dari diskresioner akrual jangka pendek dan dikresioner akrual jangka panjang dan metode laba aktivitis nyata terdiri dari arus kas operasi, biaya produksi dan biaya diskresioner. Earning management ini dihubungkan dengan kinerja saham pada saat penawaran saham IPO. Dalam penelitian ini earning management melalui aktivitas nyata tidak mengikutsertakan biaya produksi, hal ini disebabkan karena penelitian ini akan mengikut sertakan semua jenis perusahaan yang melakukan IPO dari berbagai bidang perusahaan baik bidang keuangan dan non keuangan (industri).

Referensi

Dokumen terkait

Tulisan ini mencoba mem- bahas dan mendiskusikan teori kedaulatan Tuhan menurut persepsi al-Maududi sebagai salah satu pemikiran politiknya yang dianggap tidak realistis, namun

Di dalam kajian ini, pengkaji menggunakan Model Polya untuk meninjau persepsi dalam penyelesaian masalah dengan menggunakan aktiviti pembelajaran origami bagi

(14) Strategi untuk pengembangan kawasan strategis untuk mendukung kesejahteraan wilayah serta keterpaduan pembangunan nilai strategis kawasan dalam penataan ruang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi antara auditor, pendidik akuntansi, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation gap dalam

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan ini dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai serta prinsip-prinsip pendidikan akhlak yang terkandung dalam metode dakwah

Pada era globalisasi seperti sekarang ini, terjadi perkembangan yang sangat signifikan dalam berbagai bidang kehidupan. Adanya perkembangan dalam berbagai ilmu

Pada tahun 2010, penulis diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), kemudian penulis

Untuk memastikan usaha penswastaan disalurkan kepada bahagian keutamaan yang bersesuaian untuk mengoptimumkan impak perlaksanaan dasar dalam bentuk pencapaian objektif-