SANTAN ANTI-ANTI
RAJIBUS NARI MASDA
JURUSAN SENDRATASIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PERSETUJUAN PEMBIMBING
SANTAN ANTI-ANTI
RAJIBUS NARI MASDA
Artikel ini disusun berdasarkan skripsi Rajibus Nari Masda untuk persyaratan wisuda periode Maret 2018 dan telah diperiksa/disetujui oleh
kedua pembimbing.
Padang, Februari 2018
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. Wimbrayardi, M.Sn. Harisnal Hadi, M.Pd.
Abstrak Berbahasa Indonesia dan Inggris Abstrak
Tujuan karya ini adalah mengolah kembali dari sesuatu yang sudah ada untuk diwujudkan dalam kekaryaan yang utuh, menarik, dan berwajah baru. Gagasan karya ini adalah menyajikan dan mengolah pola ritem salah satu repertoar talempong pacik yang ada di Jorong Sawah Jantan ke dalam beberapa unsur dan teknik menggarap musik yang ada pada teori musik barat seperti unisono, hoketing, interloking, kanon, dan kontrapung serta menggunakan nada C, Des, Es, Ges, Bes, dan B sebagai pendukung dalam karya. Nada Bes dan C pada unit talempong nomor duo, nada B dan Des pada unit talempong nomor satu, nada Es pada unit talempong tumbuang boruak dan lonciang-lonciang, dan nada Ges pada unit talempong giriang-giriang. Karya musik Santan Anti-anti di garap dalam bentuk komposisi baru dari yang telah ada dengan menyajikan dan mengolah pola-pola ritem yang terdapat pada talempong pacik gua Anti-anti ke beberapa instrumen musik yang pengkarya inginkan. Mengembangkan dan memadukan antar pola ritem ke beberapa instrumen musik. Karya ini dimainkan oleh 9 pemain musik, diantaranya empat orang pemain talempong, satu orang pemain canang, satu orang pemain gandang katindiak, satu orang pemain gitar akustik, satu orang pemain bass akustik, dan satu orang pemain biola.
Kata kunci : Santan Anti-anti Abstract
The purpose of this paper is to cultivate back from something that already existed for realized in kekaryaan the whole, interesting, and new-faced. The idea of this paper is to present and manipulate patterns of rhythm one repertoire talempong pacik are there in Jorong Sawah Jantan into different elements and techniques of farming out music that exists on the theory of Western music like unisono, hoketing, interloking, Canon, and counterpoint as well as use of tone C, Des, Ges, Ice, Bes, and B as supporters in the works. Bes and C tone on the unit talempong duo number, tone B and Des on the unit number one, talempong Ice tone on the unit boruak and lonciang tumbuang talempong-lonciang Ges, and tone on the unit talempong giriang-giriang. Musical works Santan Anti-Anti at work on a new composition in the form of existing with presents and manipulate rhythm patterns found on the gua talempong pacik Anti-anti to some musical instruments composer want. Develop and integrate between rhythm patterns to some of the musical instruments. The work is played by the 9 player music, including four players talempong, one person or player, one player gandang katindiak, one player's acoustic guitar, acoustic bass player of one person, and one violinist. Keywords: Santan Anti-anti
1
SANTAN ANTI-ANTI
Rajibus Nari Masda1, Wimbrayardi2, Harisnal Hadi3 Program Studi Pendidikan Sendratasik
FBS Universitas Negeri Padang Abstract
The purpose of this paper is to cultivate back from something that already existed for realized in kekaryaan the whole, interesting, and new-faced. The idea of this paper is to present and manipulate patterns of rhythm one repertoire talempong pacik are there in Jorong Sawah Jantan into different elements and techniques of farming out music that exists on the theory of Western music like unisono, hoketing, interloking, Canon, and counterpoint as well as use of tone C, Des, Ges, Ice, Bes, and B as supporters in the works. Bes and C tone on the unit talempong duo number, tone B and Des on the unit number one, talempong Ice tone on the unit boruak and lonciang tumbuang talempong-lonciang Ges, and tone on the unit talempong giriang-giriang. Musical works Santan Anti-Anti at work on a new composition in the form of existing with presents and manipulate rhythm patterns found on the gua talempong pacik Anti-anti to some musical instruments composer want. Develop and integrate between rhythm patterns to some of the musical instruments. The work is played by the 9 player music, including four players talempong, one person or player, one player gandang katindiak, one player's acoustic guitar, acoustic bass player of one person, and one violinist.
Keywords: Santan Anti-anti
A. Pendahuluan
Sawah Jantan merupakan sebuah jorong yang terdapat di Kenagarian Taruang-taruang Kecamatan IX Koto Sungai Lasi Kabupaten Solok. Kehadiran talempong pacik di Jorong Sawah Jantan memberikan suasana baru bagi masyarakat setempat, hal ini dapat dilihat dari fungsi talempong pacik sebagai pengiring pencak silat yang pada awalnya hanya berupa gerakan-gerakan pencak
1
Mahasiswa penulis Skripsi Prodi Pendidikan Sendratasik untuk wisuda periode Maret 2015 2
Pembimbing I, dosen FBS Universitas Negeri Padang 3
2
dan silat saja, dengan kehadiran talempong pacik memberikan kesemarakan dalam pertunjukan pencak silat. Selain itu, kehadiran talempong pacik sudah menjadi fenomena bagi masyarakat setempat sebagai penanda bahwa sudah ada suatu kegiatan dalam masyarakat seperti: perhelatan adat dan nagari, gotong royong, mairiak padi (kegiatan memisahkan buah padi dari tangkai tampuknya dengan menggunakan kaki), malam berkesenian serta pertunjukan seni tari tikam bunuah. Begitu terdengar suara talempong pacik, masyarakat sudah tahu bahwa telah ada dan dimulainya suatu kegiatan serta berbondong-bondong untuk menghadiri, menyaksikan, dan menikmati alunan-alunan bunyi talempong sekaligus mengobati rasa lelah bekerja mereka dengan kesenian rakyat.
Penyajian talempong pacik di Sawah Jantan masih mengandung unsur magis. Peristiwa ini terjadi sebelum pertunjukan, dimana salah seorang tuo talempong memberikan ramuan-ramuan pada talempong dan gandang dengan limau puruik, limau kapeh, limau lunggo, sitawa, sidingin, bungo rampai dan sodah. Hal ini dipercayai selain penangkal niat buruk orang lain terhadap talempong beserta pemainnya dan juga untuk memanggil siapa saja yang mendengar serta memberikan bunyi yang menyentuh atau disebut masyarakat setempat sebagai parindu. Selain itu, talempong Pacik tersebut juga tidak boleh dipegang dan dimainkan oleh perempuan, hal ini selain menjaga kodrat perempuan juga dipercaya dapat mempengaruhi bunyi yang dihasilkan.
Musik menurut Jamalus (1988:1) dalam Indra Saputra (2016:7) adalah suatu hasil karya bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik, yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk/ stuktur lagu, dan ekspresi sebagai satu kesatuan.
3
Menurut Jamalus (1998:7) irama adalah rangkaian gerak yang menjadi unsur dasar musik dan tari. Irama dalam musik terbentuk dari sekelompok bunyi dan diam dengan durasi atau lama waktu berbunyinya, membentuk pola irama, dan bergerak menurut pulsa dalam ayunan birama. Irama dapat dirasakan, kadang-kadang dirasakan dan dilihat, atupun dirasakan dan didengar ataupun dilihat.
Pono Banoe (2003:55) menyatakan birama atau sukat adalah ruas-ruas yang membagi kalimat lagu ke dalam ukuran-ukuran yang sama, ditandai dengan lambang hitungan atau bilangan tertentu. Pono Banoe (2003:406) mengatakan bahwa tangga nada adalah urutan nada yang disusun secara berjenjang (tangga). Dalam kamus musik, Pono Banoe (2003:414) mengatakan bahwa timbre adalah warna suara. Warna suara dapat dibedakan dengan ragam alat dan bahan pembuatannya.
B. Metodologi Karya
Gagasan karya Santan Anti-anti adalah menyajikan dan mengolah jalinan
pola ritem salah satu repertoar talempong pacik “Anti-anti” yang terdapat di Jorong Sawah Jantan ke dalam beberapa unsur dan teknik menggarap musik yang ada pada teori musik barat, seperti unisono, hoketing, interloking, kanon, dan kontrapung serta menggunakan nada C, Des, Es, Ges, Bes, dan B yang diadopsi dari teori musik barat sebagai pendukung dalam karya dimana, nada Bes dan C pada unit talempong nomor duo, nada B dan Des pada unit talempong nomor satu, nada Es pada unit talempong tumbuang boruak dan lonciang-lonciang, dan nada Ges pada unit talempong giriang-giriang. Enam nada tersebut merupakan tonggak dalam membuat melodi dan harmoni pada karya Santan Anti-anti.
4
Karya seni ini di garap dalam bentuk komposisi musik baru dari yang telah ada dengan menyajikan dan mengolah pola-pola ritem yang terdapat pada
talempong pacik gua Anti-anti ke beberapa instrumen musik yang pengkarya
inginkan, terutama talempong dan gandang katindiak. Mengolah pola ritem yang ada pada masing-masing unit talempong dengan mengembangkan dan memadukan antar pola ritem tersebut ke dalam beberapa instrumen musik, seperti: biola, gitar akustik, gitar bass akustik, talempong, canang, dan gandang katindiak dengan menggunakan teknik unisono, hoketing, interloking, kanon, dan kontrapung.
C. Pembahasan
1. Tahap Observasi dan Eksplorasi a. Observasi
Pada mulanya, pengkarya tidak begitu tertarik (bukan berarti tidak menarik) dengan repertoar talempong pacik Anti-anti, meskipun sudah sering
mendengarnya, namun tidak begitu mengubrisnya. Pengkarya hanya sekedar
mendengar beragam bunyi-bunyian gua talempong pacik dan menikmati beberapa pertunjukkan maupun latihan kesenian rakyat yang rutin diadakan setiap malam minggu. Namun, setelah menyimak dan menganalisa jalinan antar pola ritem yang dimainkan oleh seniman tradisi di Sawah Jantan (tanah kelahiran pengkarya), di sana muncul ketertarikan sehingga timbul rangsangan untuk mengetahui nama lagu atau gua talempong tersebut. Beberapa minggu berikutnya (ketika pulang kampung) pengkarya datang kembali ke tempat pertunjukkan sekaligus tempat latihan tersebut. Sesampainya disana, pengkarya menikmati beberapa repertoar
5
lagu yang sengaja dibunyikan berulang-ulang karena waktu itu memang jadwal untuk latihan (pengkarya juga mempelajari lagu tersebut saat itu), ketika istirahat, pengkarya menanyakan gua talempong pacik Anti-anti dan mempelajarinya kepada Bapak Armizal Podo Garang (generasi ke-3), beserta yang hadir Bapak Agusnir, Bapak Nuar Gindo Baro, Bapak Syamsul Bahri, Uda Herromi Syam, Uda Menrova, Uda Armen Nofri dan Jafrinaldi. Karena tidak semua unit sempat di pelajari, pengkarya meminta kesediaan para seniman tradisi di Sawah Jantan untuk memainkan utuh, lalu pengkarya merekamnya dengan menggunakan telephon genggam Nokia 110. Setelah selesai latihan dan pulang sudah larut malam (latihan dimulai setelah sholat isya) lalu pengkarya pulang dengan penasaran. Sampainya dirumah, pengkarya mendengarkan hasil rekaman untuk dianalisa, dan berhasil menyelesaikannya sebelum tidur meskipun masih diatas coretan kertas buram. Esok hari, sebelum kembali lagi ke padang (untuk kuliah (sedang) semester lima), pengkarya mentransposnya ke program sibelius.
b. Ekplorasi
Setelah melakukan observasi, pengkarya mencoba mengeksplor jalinan pola
ritem pada masing-masing unit talempong dengan cara menganalisa kembali bentuk pola ritem yang dihasilkan untuk memudahkan langkah kerja pengkarya. Dalam hal ini, pengkarya mengklasifikasian pola ritem yang sama. Misalnya, pada pola ritem awal talempong satu atau pambuek lagu (sebelum lagu atau pola pukulannya diganti) yang juga dimainkan oleh talempong lonciang-lonciang dimana, ketukan ke-3 nya sama dengan talempong nomor satu (setelah pola ritem diubah) pada ketukan ke-2 di bar pertama dan ke tiga dan ketukan ke-2 dan ke-4
6
pada bar kedua (jalinan pola ritem terdapat tiga bar dalam meter 4/4) serta terdapat juga pada talempong nomor duo atau penyempurna lagu atau paningkah pada ketukan ke-3 pada bar pertama dan ke dua, serta ketukan ke-1 dan ke-3 pada bar ketiga. Seperti yang terlihat pada gambar berikut.
Dari jalinan pola ritem antar unit talempong pacik diatas, pengkarya mencoba mentranspos tiap unit pola ritem ke instrumen musik perkusi non melodis yang berbeda. Hal ini pengkarya cobakan pada program musik sibelius. Karena kurang puas, pengkarya mentransposnya ke instrumen perkusi melodis. Sedangkan pola ritem yang sama antar unitnya, dijadikan beberapa kali pengulangan untuk dijadikan sebuah kalimat melodi.
2. Tahap Eksperimen
Pada tahap eksperimen, pengkarya melakukan beberapa percobaan seperti: a. Pola ritem.
1) Menganalisa pola ritem pada tiap unit talempong pacik. 2) Mencari pola ritem yang sama antar unit talempong pacik. b. Meter atau Birama.
1) Menentukan meter (4/4).
7 c. Menukar aksen.
Pada meter 4/4, terdapat empat ketukan dalam satu bar / 1 2 3 4 /, maka di tukar menjadi, :
1) / 2 3 4 1 / 2) / 3 4 1 2 / 3) /4 1 2 3 /
d. Memperbesar dan memperkecil nilai pola ritem. e. Memberi nada.
Pada tahap ini, pengkarya mencoba memberi nada pada pola ritem dengan jarak antar nada 1, 1, ½, 1, 1, 1, ½ (mayor) dan 1, ½, 1, 1, ½, 1, 1 (minor), setelah didengar, pengkarya tidak puas dengan hasilnya, lalu mengotak-atik kembali keduabelas nada untuk mencari scale yang cocok, dan pada akhirnya, pengkarya menggunakan enam nada yang berjarak ½, 1, 1½, 2, ½, ½ dengan nada C sebagai nada dasarnya, yaitu C, Des, Es, Ges, Bes, B, dan C.
3. Tahap Pembentukkan
Dalam tahap pembentukan, ada dua cara yang pengkarya lewati, yaitu: a. Menyiapkan bahan latihan.
1) Menganalisa pola ritem untuk memudahkan pengkarya dalam mengkompos.
2) Mengklasifikasi pola ritem.
3) Mentransposisi antar unit pola ritem yang dilakukan pada program musik sibelius.
8 5) Pemberian nada.
6) Menentukan tempo.
7) Mengatur akor dan harmoni. 8) Menyusun sesuai ide dan konsep.
9) Merevisi kembali bahan yang sudah ada agar sesuai dengan ide, konsep, dan waktu.
10)Memberikan bahan atau partitur kepada pendukung karya 11)Menceritakan ide dan konsep karya kepada pendukung karya. 12)Menentukan dan menetapkan jadwal latihan.
b. Latihan.
1) Sebelum latihan dimulai, masing-masing pendukung karya diberi waktu beberapa menit untuk menguasai pola ritem dan nada yang digunakan yang terdapat pada partitur.
2) Setelahnya, menggabungkan antar instrumen. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga pendukung karya bisa merasakan apa yang dimainkannya. 3) Merevisi kembali apa yang sudah dicobakan dan mendiskusikannya
dengan pendukung karya tentang kendala yang dialami ketika latihan, seperti kurang tepatnya penggunaaan tempo sehingga menganggu teknik permainan.
Penggunaan Instrumen/Media
Ketepatan penggunaan instrumen musik berperan sangat penting dalam sebuah karya musik, sehingga apa yang ada dalam imajinasi dan konsep komposernya tersalurkan dengan tepat. Beberapa instrumen musik yang di
9
gunakan dalam karya “Santan Anti-anti” antara lain: talempong, canang, gandang katindiak, violin, gitar akustik, bass akustik.
Hambatan dan Solusi
Hambatan yang pengkarya temukan selama proses karya Santan Anti-anti adalah perbedaan aktifitas antar pendukung karya sehingga penentuan jadwal latihan cukup sulit untuk ditetapkan. Dalam hal ini pengkarya menimbang semua kegiatan yang telah terjadwal oleh seluruh pendukung karya, mengkalkulasikan waktu yang tersisa, sehingga pengkarya menemukan solusi untuk jadwal latihan yang rutin diadakan setiap hari senin-kamis pukul 20:00 WIB sampai pukul 23:00 WIB. Selain itu, hambatan juga ditemukan untuk tempat latihan, solusinya pengkarya memperkirakan jarak tempuh seluruh pemain, selanjutnya mencari tempat latihan yang jaraknya tidak dekat dan juga tidak jauh bagi masing-masing pemain, sehingga pengkarya menemukan tempat dan lansung di izinkan oleh Buk Erdawati S.Pd selaku pimpinan sanggar seni Indah Di Mato yang beralamat di jalan puruih I.
Hambatan terakhir adalah instrumen yang digunakan. Dalam hal ini, peran sanggar seni Indah Di Mato sangat membantu pengkarya dalam mewujudkan karya seni musik Santan Anti-anti dan juga tidak kalah membantunya Komunitas Seni Nan Tumpah yang telah bersedia meminjamkan beberapa instrumen musik kepada pengkarya.
Karya musik Santan Anti-anti dibagi menjadi tiga bagian, meskipun demikian, karya ini tetap menjadi satu kesatuan. Tiga bagian tersebut adalah:
10 1. Bagian I
Pada bagian pertama karya Santan Anti-anti adalah menyajikan repertoar talempong pacik Anti-anti ke dalam tempo dan dinamika yang berbeda-beda. Menukarkan tiap unit pola ritem yang ada pada masing-masing unit talempong ke instrumen talempong dan gandang dengan menggunakan teknik yunisono, hoketing, dan interloking serta memanfaatkan nada yang ada pada tiap unit talempong untuk membuat akord.
2. Bagian II
Pada bagian kedua, karya Santan Anti-anti fokus kepada pengolahan ritem unit talempong Lonciang-lonciang, Tumbuang Boruak dan Giriang-giriang ke teknik unisono dan interloking. Selanjutnya, pola ritem talempong Lonciang-lonciang ketukan ke-3 dan ke-4 direpetisi untuk dijadikan sebuah kalimat melodi dimana nadanya diadopsi dari musik barat yang terdapat pada masing-masing unit talempong, lalu dimainkan dengan teknik unisono, kanon, dan kontrapung pada instrumen bass akustik, gitar akustik, dan biola.
3. Bagian III
Pengkarya akan menyajikan perlapangan (augmentation) dan penyempitan (diminuation) pola ritem yang terdapat pada masing-masing unit talempong ke seluruh instrumen seperti talempong, canang, gandang katindiak, violin, gitar bass akustik, dan gitar akustik dengan menggunakan teknik unisono, hoketing, interloking, kanon, dan kontrapung.
11 D. Simpulan dan Saran
Santan Anti-anti merupakan salah satu repertoar talempong pacik (anti-anti) yang ada di Sawah Jantan yang sangat menarik untuk diolah menjadi karya musik baru dengan menggunakan unsur musik dan tekhnik garapan yang ada pada musik barat. Khususnya dengan mempersempit dan memperlapang nilai not yang terdapat pada pola ritem yang ada ditiap unit talempong lalu menggabungkannya, menukar letak aksennya, merepetisi pada beberapa bagian pola untuk dijadikan sebuah frase anteseden dan frase konsekuen sehingga menjadi sebuah kalimat melodi, lalu kalimat tersebut dimainkan dengan tekhnik kanon dan kontrapung serta membalikkan nada tanpa mengubah pola ritemnya.
Karya Santan Anti-anti dimainkan oleh sembilan orang pemain dengan formasi empat orang pemain talempong, satu orang pemain canang, satu orang pemain gandang katindiak, satu orang pemain biola, satu orang pemain bass, dan satu orang pemain gitar.
Dengan adanya karya “ Santan Anti-anti” semoga menjadi salah satu acuan bagi penyair bunyi dimanapun berada, khususnya mahasiswa seni musik di lingkungan jurusan sendratasik yang masih semangat untuk mempalajari musik. Agar bisa mengaplikasikan ilmu musik yang dipelajari dengan menjadikan repertoar musik tradisi sebagai pondasi dalam berkarya, sehingga akan melahirkan karya-karya baru yang akan menambah perpendaharaan musik bagi kreatornya dan referensi bagi masyarakat seni musik khususnya.
Catatan : artikel ini disusun berdasarkan skripsi penulis dengan pembimbing I Drs. Wimbrayardi, M.Sn. dan pembimbing II Harisnal Hadi, M.Pd.
12 Daftar Rujukan
Aloysius Suwardi, “Rekayasa Instrumen dalam Penciptaan Musik Inovatif”. Makalah dalam Simposium Nasional: “Pengembangan Ilmu Budaya”, tahun 2007
Banoe, Pono. (2003). Kamus Musik. Yogyakarta, Kanisius.
Hajizar. 2005. Mengenal Musik Tradisional Talempong Pacik Di Minangkabau. Padang Panjang.
Jamalus. 1998. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Suharso dan Ana Retnoningsih. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang, Widya Karya.
Made Sukerta, P. (2011). Metode Penyusunan Karya Musik (Sebuah Alternatif). Surakarta, ISI Press Solo.
Rahayu Supanggah. Bothekan Karawitan II, 2007.
Suka Hardjana Corat-Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini, 2002. Vincent, Mc Dermont Mengubah Musik Biasa Menjadi Luar Biasa, 2013.