Kontribusi Pendidikan Kewarganegaraan dalam Upaya
Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan di Era Globalisasi
ANDI SUHARDIYANTO, IWAN HARDI SAPUTRO1Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Abstrak Globalisasi menjadi sebuah isu yang menarik untuk dikaji. Hal ini karena secara tidak langsung pengaruh globalisasi telah mengakibatkan adanya perubahan pola dan model kehidupan masyarakat, dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang lebih modern dan terbuka. Munculnya globalisasi ini ditandai dengan adanya kemajuan di berbagai bidang kehidupan, baik di bidang komunikasi dan informasi. transportasi, ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, maupun di bidang-bidang lainnya. Kehadiran globalisasi memang memberikan dampak yang positif bagi kemajuan bangsa, namun demikian di sisi lain globalisasi juga membawa pengaruh negatif bagi bangsa Indonesia. Berkembangnya sikap dan budaya weternisasi (kebarat-baratan) merupakan bentuk pengaruh negatif globalisasi yang menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan pengaruh negatif globalisasi tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan bagi warga negara, termasuk dalam hal ini generasi muda. Penguatan nilai nilai kebangsaan ini dapat diimplementasikan melalui Pendidikan Kewarganegaraan.
Kata Kunci: Pendidikan Kewarganegaraan; Nilai-nilai Kebangsaan; Globalisasi.
Pendahuluan
Munculnya globalisasi tidak dipungkiri memberikan dampak positif bagi kemajuan bangsa. Kemajuan di berbagai bidang kehidupan seperti di bidang komunikasi dan informasi, transportasi, ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, maupun di bidang-bidang lainnya merupakan sebuah bukti bahwa
1 Alamat Korespondensi:
Jurusan Politik dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Semarang, Indonesia.
kehadiran globalisasi bukanlah suatu masalah. Bahkan, kemunculannya merupakan peluang bagi bangsa Indonesia, khususnya untuk meningkatkan daya saing di tingkat internasional. Namun demikian, selain memberikan dampak positif kemunculan globalisasi juga berdampak negatif bagi bangsa. Wujud dari pengaruh negatif globalisasi ini terlihat dengan adanya perubahan Halaman 9-14, Tahun 2017
10
perilaku sebagian besar masyarakat yang cenderung menyukai budaya barat dibandingkan budaya bangsa sendiri. Perubahan perilaku inilah yang kemudian melahirkan sikap dan budaya weternisasi (kebarat-baratan). Adanya dampak negatif seperti munculnya weternisasi ini bukan berarti halangan bagi bangsa Indonesia untuk tetap berkompetisi di era globalisasi. Dampak ini harus dijadikan tantangan, karena arus globalisasi yang semakin cepat dan sulit dikendalikan.
Salah satu kajian menarik terkait dengan hal di atas adalah kajian yang dilakukan Vaish (2010:61-62). Dalam bukunya yang berjudul
“Globalization of Language and Culture in Asia
the Impact of Globalization Processes on
Language” Vaish menjelaskan bahwa globalisasi
dalam beberapa dekade telah membawa mobilitas yang tinggi bagi masyarakat di dunia, bahkan skala dan kecepatannya belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Mobilitas yang dimaksud adalah terkait dengan peningkatan sumber daya manusia secara keseluruhan dengan perluasan informasi dan komoditas masyarakat, khususnya di negara Asia. Adanya perluasan informasi dan komoditas masyarakat ini jelas mempengaruhi berbagai aspek perilaku masyarakat, termasuk dalam penggunaan bahasa.
Kutipan penjelasan vaish tersebut adalah sebagai berikut.
“Globalization of economic, political and cultural activities in the past few decades has brought about high mobility of people around the world, the scale and speed of which seem unprecedented in history. Emerging economies in Asia, in particular, are further accelerating this movement. The increasing mobility of human resources along with the expansion of information and commodities is inevitably affecting various aspects of people’s behaviours, including the use of language...”
Dari penjelasan Vaish tersebut, dapat diketahui bahwa globalisasi memang membawa pengaruh besar, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif bagi negara Asia, termasuk Indonesia. Pengaruh positif globalisasi membawa dampak yang baik terhadap kemajuan bangsa. Sedangkan pengaruh negatif akan menjadi
ancaman terhadap keberlangsungan budaya bangsa dan negara Indonesia. oleh karena itu, untuk menangkal pengaruh negatif globalisasi berbagai usaha perlu dilakukan, salah satunya melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan bagi warga negara, termasuk dalam hal ini generasi muda. Penguatan nilai-nilai kebangsaan ini dapat diimplementasikan melalui pendidikan kewarganegaraan, sehingga fokus kajian ini adalah terkait dengan bagaimana kontribusi pendidikan kewarganegaraan dalam upaya penguatan nilai nilai kebangsaan di tengah tantangan globalisasi.
Beberapa penelitian terkait kontribusi pendidikan kewarganegaraan terutama dalam menjawab tantangan globalisasi telah dilakukan oleh beberapa peneliti, salah satunya Murdiono. Hasil penelitian Murdiono pada tahun 2014 menunjukkan bahwa terdapat beberapa nilai dasar dalam pendidikan kewarganegaraan untuk membangun wawasan global warga negara muda. Nilai-nilai dasar inilah yang dijadikan sebagai pijakan dalam pengembangan pendidikan kewarganegaraan global. Nilai-nilai dasar yang dikembangkan dalam pendidikan kewarganegaraan global bertujuan untuk membentuk warga negara yang memiliki berbagai karakteristik yang diperlukan di era global. Warga negara yang hidup di era global abad ke-21 akan menghadapi permasalahan-permasalahan yang semakain kompleks baik dalam skala lokal maupun global.
Lebih lanjut, dalam penelitiannya Murdiono menemukan temuan bahwa dalam konteks pendidikan kewarganegaraan global yang dikembangkan di Indonesia, nilai-nilai yang dikembangkan mengacu pada nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Negara dan nilai-nilai konstitusional UUD 1945. Semua nilai yang ada dalam Pancasila dapat dijadikan sebagai landasan dalam pengembangan pendidikan kewarganegaraan global di Indonesia. Nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan dapat dijadikan sebagai pijakan dalam pergaulan internasional. Nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan sebagai jangkar transendental bagi warga negara Indonesia, yakni nilai-nilai yang
11 dijadikan sebagai pegangan dan dasar pijakan
dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan
Pendidikan Kewarganegaraan di Tengah Globalisasi
Pendidikan kewarganegaraan berasal dari
gabungan dua kata “pendidikan” dan
“kewarganegaraan” yang keduanya saling berhubungan satu sama lain. Pendidikan sebagaimana ketentuan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan kewarganegaraan dalam pandangan Bakry (2014:3) berasal dari kata warga negara yang secara singkat berarti sekelompok manusia yang menjadi anggota suatu negara, yang mana jika dikaitkan dengan pendidikan kewarganegaraan dapat diartikan sebagai kesadaran dan kecintaan serta mampu dan berani membela bangsa dan negara. Oleh karena itu, lebih lanjut Bakry menjelaskan bahwa hakikat dari Pendidikan Kewarganegaraan adalah usaha sadar yang dilakukan dalam upaya menyiapkan peserta didik dalam mengembangkan kecintaan, kesetiaan, keberanian untuk berkorban membela bangsa dan tanah air Indonesia.
Dari penjelasan tersebut, maka dalam konteks Pendidikan kewarganegaraan, warga negara dituntut mampu hidup berguna dan bermakna serta mampu mengantisipasi perkembangan dan perubahan masa depannya, dengan didasari semangat perjuangan bangsa sebagai kekuatan mental spiritual, sehingga dapat menumbuhkan sikap dan perilaku heroik, perilaku patriotik, serta menumbuhkan kekuatan, kesanggupan, dan kemampuan untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia. Perjuangan bangsa yang dimaksud adalah perjuangan atas dasar semangat persatuan dan kesatuan serta nilai-nilai luhur Pancasila, sehingga warga negara mampu
menangkal pengaruh negatif dari globalisasi (Bakry 2014: 14-18).
Senada dengan pandangan Bakry, Sunarto, dkk (2015: 6-11) menyampaikan bahwa munculnya pendidikan kewarganegaraan tidak terlepas dari semangat bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan serta kadaulatan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Perjuangan bangsa ini dapat berupa perjuangan fisik maupun perjuangan non fisik. Namun demikian, dengan melihat kondisi saat ini, maka perjuangan non fisik jauh lebih diperlukan terutama dalam upaya menghadapi perkembangan lingkungan yang semakin mengglobal. Perjuangan non fisik ini merupakan perjuangan sesuai dengan profesi masing-masing yang dilandasi dengan nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia, sehingga memiliki wawasan dan kesadaran bernegara, sikap dan perilaku cinta tanah air dan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka bela negara demi utuh dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain penjelasan di atas, Peterson (2011: 145) menjelaskan bahwa pendidikan kewarganegaraan difokuskan pada tiga permasalahan besar, yaitu pluralisme, globalisasi, dan patriotisme. Kutipan pendapat Peterson tersebut adalah sebagai berikut.
“...In considering these, I focus on the three concerns of pluralism, globalization and patriotism, and point to the need for further investigation of the ways in which civic republicanism can conceive these concerns...”
Terkait dengan globalisasi, Peterson dalam pandangannya menyampaikan bahwa proses globalisasi berhubungan erat dengan pendidikan kewarganegaraan. Hal ini tidak terlepas dari semakin mengglobalnya dunia, sehingga diperlukan upaya pemerintah dan warga negara termasuk generasi muda dalam menghadapi tantagan globalisasi. Tantangan globalisasi ini tercermin dalam bentuk kemajuan media, sikap manusia, aksi sosial dan jaringan sosial. Oleh karena itu, secara lebih jelas pendidikan kewarganegaraan dapat dipahami sebagai upaya yang melibatkan generasi muda
12
dalam menangani tantangan perubahan zaman yang semakin kompleks akibat pengaruh globalisasi.
Penjelasan lain terkait dengan hakikat pendidikan kewarganegaraan juga disampaikan Cogan & Derricott (2012: 14) sebagai berikut.
“...And finally, citizenship education the underlying focal point of a study, was defined as ‘the contribution of education to the development of those charateristics of a citizen.”
Penjelasan Cogan dan Derricott
menunjukkan bahwa pendidikan
kewarganegaraan diarahkan pada pembentukan karakter warga negara, sehingga warga negara tersebut tidak hanya memiliki kemampuan di bidang pengetahuan saja, melainkan juga memiliki keterampilan, nilai, dan komitmen untuk memajukan bangsa dan negara. Dengan kata lain, pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk membangun character building (karakter bangsa).
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, maka kehadiran pendidikan kewarganegaraan di era globalisasi saat ini sangat diperlukan, guna mengembangkan dan melestarikan, serta mempertahankan nilai-nilai luhur yang berakar pada budaya bangsa yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, sehingga mampu menangkal pengaruh negatif globalisasi. Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan
Tidak dipungkiri, munculnya globalisasi memang memberikan dampak positif di berbagai sektor kehidupan. Berbagai kemajuan di bidang ekonomi, politik maupun sosial budaya merupakan bukti bahwa kehadiran globalisasi menjadi peluang bagi bangsa Indonesia. di bidang ekonomi, masyarakat akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena lapangan pekerjaan semakin terbuka. di bidang politik, munculnya globalisasi dapat meningkatkan kerjasama diplomatik antar negara, sehingga ketahanan politik semakin kuat. Sedangkan di bidang sosial budaya, globalisasi dapat memperluas pergaulan masyarakat melalui
2 Materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. hal. 110
akulturasi budaya. Hal lain yang dapat dinikmati masyarakat karena adanya globalisasi adalah kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta informasi. Saat ini masyarakat sangat mudah berkomunikasi dengan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Selain memberikan dampak positif, kehadiran globalisasi juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi bangsa Indonesia. Salah satu dampak negatif tersebut adalah lunturnya sikap dan budaya ke-Indonesiaan. Luntunya sikap dan budaya ke-Indonesiaan ini diakibatkan karena pengaruh westernisasi (sikap dan budaya kebarat-baratan). Pengaruh westernisasi jelas merupakan ancaman, karena kehadirannya secara tidak langsung merubah tatanan budaya bangsa Indonesia yang sudah sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.
Munculnya berbagai dampak negatif globalisasi adalah sebuah tantangan bagi bangsa Indonesia. Tantangan yang dimaksud adalah terkait dengan bagaimana bangsa Indonesia mampu mengurangi pengaruh negatif dari globalisasi tersebut. Sala satu cara yang bisa ditempuh untuk mengurangi pengaruh negatif globalisasi adalah melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan. Penguatan nilai-nilai kebangsaan perlu digelorakan kepada masyarakat khususnya generasi muda sebagai upaya menangkal kemungkinan munculnya pengaruh negatif globalisasi.
Penguatan nilai-nilai kebangsaan khususnya terkait dengan upaya menghadapi tantangan globalisasi dapat dilakukan dengan mempertahankan eksistensi dan integritas bangsa dan negara Indonesia. salah satu hal yang perlu dilakukan adalah aktualisasi nilai agama dan budaya luhur bangsa dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara baik melalui pendidikan formal, maupun nonformal serta pemberian contoh keteladanan oleh para pemimpin bangsa.2
Kontribusi Pendidikan Kewarganegaraan Seperti halnya kajian yang telah dibahas sebelumnya, keberhasilan pendidikan
13 kewarganegaraan memiliki kontribusi penting
dalam menjawab tantangan globalisasi. Keberhasilan pendidikan kewarganegaraan menurut Bakry (2014:11-12) dapat membuahkan sikap mental yang cerdas, dan penuh rasa tanggungjawab bagi warga negara. Sikap cerdas dan penuh rasa tanggungjawab ini disertai dengan perilaku yang: (1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghayati nilai-nilai filsafat hidup bangsa dan negara; (2) berbudi pekerti kemanusiaan yang luhur serta disiplin dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; (3) berjiwa nasionalisme yang kuat, mengutamakan persatuan dan kesatuan di atas kepentingan kelompok atau individu; (4) bersifat professional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara; serta (5) aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa, dan negara.
Implementasi kelima perilaku tersebut merupakan kekuatan untuk menangkal pengaruh negatif globalisasi. Melalui implementasi kelima perilaku ini, bekal ilmu pengetahuan dan teknologi warga negara akan dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan (nilai-nilai religius) dan nilai-nilai-nilai-nilai budaya bangsa, sehingga warga negara dapat hidup berguna dan bermakna serta mampu mengatisipasi sekaligus menjawab perkembangan dan perubahan zaman.
Selain melalui implementasi kelima perilaku di atas, dalam upaya menjawab tantangan globalisasi diperlukan sebuah paradigma baru tentang pendidikan yang kemudian juga terkait dengan pendidikan kewarganegaraan. Paradigma baru tentang pendidikan tersebut menurut pandangan Tilar (2000: 19-23) antara lain: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus
mampu mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat; (7) pendidikan harus mampu meng-Indonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi warga negara Indonesia.
Pemahaman tentang paradigma baru pendidikan tersebut merupakan hal yang sangat penting sebagai upaya persiapan masyarakat dan bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi yang serba kompetitif. Dalam rangka menghadapi era globalisasi yang serba kompetitif ini, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan kesadaran warga negara terhadap kesatuan dan persatuan bangsa. Usaha ini dilakukan melalui penghayatan dan pengamalan Pancasila, baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan non formal. Kesatuan antara keseluruhan fase-fase perkembangan peserta didik di dalam lingkungan kehidupannya semakin meluas di dalam era globalisasi memerlukan pula suatu perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif dan efisien. Berkaitan dengan perencanaan pendidikan tersebut maka otonomi penyelenggaraan pendidikan kita telah erupakan suatu keharusan sesuai pula engan tekad dan usaha kita untuk smakin memberdayakan masyarakat kita (Tilar, 1998: 23).
Dari penjelasan tentang paradigma pendidikan baru di atas, dapat disimpulkan bahwa paradigma baru tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan, yaitu membentuk masyarakat yang demokratis dan bertanggungjawab, sehingga mampu mempersiapkan warga masyarakat untuk berpikir kritis dan bertindak demokratis.
Penutup
Globalisasi bukanlah era yang harus dihindari. Globalisasi bagi bangsa Indonesia merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi. Berbagai pengaruh negatif globalisasi dapat dihindari dengan meningkatan nilai-nilai kebangsaan melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Peningkatan nilai-nilai kebangsaan yang dimaksud adalah penguatan kembali eksistensi Pancasila sebagai ideologi
14
bangsa. Penguatan eksistensi Pancasila ini dilakukan dengan mengaktualisasikan nilai-nilai agama serta budaya luhur bangsa dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara baik melalui pendidikan formal, maupun nonformal serta pemberian contoh keteladanan oleh para pemimpin bangsa.
Simpulan dari penjelasan tersebut
menunjukkan bahwa pendidikan
kewarganegaraan memiliki kontribusi terutama dalam menangkal pengaruh negatif globalisi. Hal ini karena dalam pendidikan kewarganegaraan warga negara dituntut mampu hidup berguna dan bermakna dengan didasari semangat perjuangan bangsa sebagai kekuatan mental spiritual, sehingga dapat menumbuhkan sikap dan perilaku heroik, perilaku patriotik, serta menumbuhkan kekuatan, kesanggupan, dan kemampuan untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia. Kata kunci inilah yang diyakini mampu memberikan kekuatan bagi warga negara dalam mengantisipasi perkembangan dan perubahan zaman.
Daftar Pustaka
Bakry, Noor, MS. 2014. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Cogan, J dan Derricot, R. 1998. Citizenship for the 21st Century International Perspective on Education. London: Kogan Page Limited.
Murdiono, Mukhamad. 2014. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Wawasan Global Warga Negara Muda. Cakrawala Pendidikan, Oktober 2014, Th. XXXIII, No. 3
Peterson, Andrew. 2011. Civic Republicanism and Civic Education the Education of Citizens. New York: Palgrave Macmillan. Pimpinan MPR. 2016. Materi Sosialisasi Empat
Pilar MPR RI Pancasila Sebagai Dasar dan Ideologi Negara UUD NRI Tahun 1945 Sebagai Konstitusi Negara serta Ketetapan MPR NKRI Sebagai Bentuk Negara Bhineka Tunggal Ika Sebagai Semboyan Negara. Jakarta: Sekretaris Jenderal MPR RI.
Sunarto. dkk. 2015. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Semarang: Unnes Press.
Tilaar, H.A.R. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia. Tilaar, H.A.R. 2000. Paradigma Baru Pendidikan
Nasional. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. Undang-undang Republik Indonesia No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Vaish, Viniti. 2010. Globalization of Language and Culture in Asia The Impact of Globalization Processes on Language. London: Continuum International Publishing Group.