BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
The House of Bernarda Alba (La Casa De Bernarda Alba) karya Federico Gracia Lorca, ditulis di Spanyol dan diselesaikan pada tanggal 19 Juni
1936, dua bulan sebelum kematian Federico Gracia Lorca, dan
diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Carida Suich, lalu
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ramadhan KH dengan
judul Rumah Bernarda Alba. Naskah ini merupakan naskah trilogi Cinta Segitiga, dimana kematian melayang di atas seluruh pemain.
Bagian kedua “kesalahan bukan milikku/kesalahan milik bumi”
Yerma, konflik mematikan dalam pernikahan tandus. Bagian ketiga The
House of Bernarda Alba, Rumah Bernarda Alba ditulis sebelum kematian Federico Gracia Lorca pada tahun 1936 dan diterbitkan pada tahun 1945, dimana pada tahun 1963 di Spanyol terjadi perang antara saudara sehingga telah menginspirasi para ahli sejarah, penyair, penulis dan pembuat film mengangkat cerita tersebut termasuk Federico Gracia Lorca membuat naskah ini.
Naskah Rumah Bernarda Alba adalah naskah drama rumah tangga
yang bertema tentang psikologis, dimana konfliknya dimulai oleh
Bernarda seorang ibu yang menjadi sosok penguasa dari kelima anak ‐
anaknya. Kelima anak Bernarda tersebut memperebutkan harta
peninggalan almarhum ayah mereka, yang membuat keluarga Bernarda
semakin kacau dan banyak perselisihan.
Hal ini mengakibatkan psikologis mereka tertekan, Bernarda
melarang anak‐anaknya keluar rumah selama delapan tahun itu
dikarenakan masih berkaitan dengan perkabungan suaminya, kebiasan
itu dilakukan juga oleh orang tuanya dulu. Tidak lama setelah kematian
suaminya Bernarda akan menikahkan Angustias denga Pepe El Romano,
Angustias berusia 39 tahun dia adalah anak satu‐satunya dari suami pertamanya, kelima saudara tirinya iri karena dia memiliki harta paling banyak dari peninggalan ayahnya dan Pepe El Romano adalah laki‐laki
muda dan tampan berumur 25 tahun dia merupakan dari golongan yang
sedikit berada dibanding laki‐laki lain di desanya.
Konflik semakin kuat setelah Adela diam ‐ diam memiliki hubungan
gelap dengan Pepe, Adela sering menemui Pepe setiap malam, dan
perbuatannya diketahui oleh Poncia, Martiro kakak Adela pun diam ‐ diam jatuh hati terhadap Pepe, dia juga mengetahui hubungan gelap
Adela, sampai pada akhir cerita Adela dan Martirio bertengkar hebat
pada suatu malam dan Martirio mengungkapkan semua rahasia Adela
selama ini, Adela yang sedang mengandung anak dari hasil hubungannya dengan Pepe memilih gantung diri untuk mengakhiri hidupnya. Dari
cerita diatas penulis menyimpulkan konflik antar saudara mampu
mengakibatkan kematian.
Melihat latar belakang dari naskah drama Rumah Bernarda Alba menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi penulis untuk menggarapnya. Naskah ini penuh dengan metafor dan konfliknya sangat simpel, sehingga tidak menyulitkan penonton dalam memahami cerita ini.
Naskah ini juga bisa menggambarkan keadaan zaman sekarang
karena, sudah banyak contoh pembunuhan antar saudara, perebutan
harta warisan, perjodohan dan hubungan diluar nikah. Kemudian penulis jatuh cinta pada tokoh Adela, dimana sosok dan karakter adela sebagai anak terakhir Bernarda yang memiliki semangat dibandingkan dengan
keempat kakaknya, dan memiliki keinginan untuk lari dari sistem
kekangan seorang ibu.
Penulis mendapatkan referensi arti nama Adela dimana diartikan dalam bahasa Spanyol adalah Adela kata kerja “Adelantar” yang berarti
simbol warna hijau dari gaun yang dikenakan oleh Adela yaitu yang berarti Kematian dalam Spanyol. Penulis sangatlah tertantang karena harus berperan sebagai sosok yang pemberani di usianya yang sangat muda, Adela mempertahankan kisah cintanya bersama Pepe yang tidak lain adalah lelaki yang akan di nikahi kakaknya Angustias.
B. RUMUSAN IDE PEMERANAN
Tokoh Adela dipilih penulis untuk tugas akhir karya seni
pemeranannya, Adela adalah tokoh pemberontak dan keinginannya tidak bisa dilarang, ia memiliki obsesi, bergerak maju dalam hidup dan menolak penindasan yang terjadi dalam hidupnya. Selain penulis tertarik pada sosok Adela yang sangat pemberani, penulis juga memilih untuk melakukan pendekatan fisik, kesamaan karakter dan perbandingan usia Adela yang berumur 20 tahun yang tidak terlampau jauh dengan penulis. Harapan dengan memainkan tokoh Adela karakter dan fisik yang akan disajikan akan bisa dekat dan visualnya bisa lebih menarik.
Naskah Rumah Bernarda Alba merupakan naskah yang beraliran
realis, Drama realis merupakan upaya aktor ‐ aktor mengucapkan kata‐ kata dan berakting dalam rangka mengingatkan penonton. Di sinilah
tantangannya, apa yang bisa dilakukan seorang pemeran untuk dapat
dengan baik mempresentasikannya di peristiwa panggung. Maka sebagai
dasar gagasan, konsep garap ini sangat membantu untuk memetakan apa yang akan dibuat oleh penggarap dan melihat kemungkinan tumbuhnya gagasan baru dalam pelaksanaan proses garapan nanti.
Dalam pencapaian proes penggarapan pemeranan, penulis memakai metode akting Stanislavsky. Metode latihan Mainingen yang didasari pada teori “kesatuan kesadaran” dimana Stanislavsky memusatkan diri pada
pelatihan akting dengan pencarian laku secara psikologis. Dalam
tulisannya yang terkenal The Method, ia berusaha menemukan akting realis mampu meyakinkan penonton bahwa apa yang dilakuakan aktor adalah akting yang sebenarnya.
C. SUMBER/REFERENSI
Dalam menentukan rumusan ide, tentu saja harus dilandasi dengan teori ‐ teori pendukung lainnya sebagai nilai objektivitas padasebuah kajian. Yang dapat dijadikan referensi tidak hanya buku‐buku bacaan melainkan media ‐ media lain yang secara faktual teruji kebenarannya. Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan referensi
yang penilis ambil dalam penulisannya seperti seberapa penting referensi ini dalam mendukung kajian baik secara teknis pemanggungan maupun
penyusunan penulisan dan ada atau tidaknya bahasanya yang mengupas
lebih detail tentang hal ‐ hal yang sifatnya memperkuat gagasan dalam
naskah. Maka untuk memperluas pemahaman terhadap isi naskah dan
jalan pikiran pengarang dipilihlah referensi sebagai berikut:
1. Menjadi Aktor (Pengantar Seni Peran Untuk Pentas dan
Sinema) ; 35‐217, karya Suyatna Anirun, tahun 1998.
Buku ini merupakan salah satu buku pelajaran teater yang
digunakan di berbagai perguruan tinggi yang
menyelenggarakan pendidikan teater dan kesenian pada
umumnya. Buku ini berisi uraian teoritis yang dapat menjadi
tuntutan para pembaca dalam mempraktekkan pengetahuan
pemeranan. Buku ini dirasa penting dikarenakan akan menjadi
salah satu acuan metode yang digunakan oleh penulis dalam bermain peran. Setelah mampu menganalisa naskah dan tokoh,
buku inilah yang kemudian menjadi pegangan dalam
mengembangkan analisa‐analisa tersebut dalam sebuah bentuk
2. Stanivslasky, dalam Sommith Mitter (Sistem Pelatihan Aktor) karya Sommith Metter Mspi dan arti, tahun 2002, halaman 5‐6. Buku ini dibuat Sommith Mitter untuk pelatihan akting di kalangan seniman teater maupun seni pertunjukan lainnya.
3. Diktat perkuliahan “Pengetahuan Teater” karya Yoyo C.
Durachman, B.A. dan Willy F. Sembung, B.A. tahun 1985/1986, halaman 5‐3.
D. TUJUAN DAN MANFAAT
1. Tujuan
Tujuan dari penulisan konsep garap ini merupakan upaya dari
sebuah pencarian, atau pemetaan sebuah ide/gagasan. Juga menjadi
pedoman dan pertanggung jawaban dari kreativitas penggarap
(pelaku seni). Sebuah penciptaan/karya seni merupakan
penggejawantahan dan manifestasi pelaku seni dari persentuhannya
dengan berbagai fenomena yang muncul dan berkembang
disekitarnya. Demikian halnya dengan upaya sang kreator dalam
menggarap suatu naskah yang akan dipentaskan, dia akan
tersebut. Bertujuan untuk mempermudah proses dan memperkaya temuan estetika pemanggungan.
Sebagai seorang pelaku seni terkhusus pada ruang intitusi seni, selain dapat mempertanggung jawabkan bentuk dan visual karyanya diatas pentas, juga harus dapat membuktikan dengan analisa dan kajian karya seninya melalui bentuk secara lisan dan tulisan‐tulisan yang lebih bersifat ilmiah. Berangkat dari kegelisahan seorang
pemeran dalam mengangkat sebuah tema, maka dengan drama
Rumah Bernarda Alba ini penilis memposisikan diri sebagai aktor
untuk memberikan ruang kepada masyarakat (apresiator) untuk
dapat memberikan katarsis terhadap pola pikir.
2. Manfaat
Konsep garap ini adalah tulisan yang berisi tiga hal besar yang berkait dengan naskah, tafsir naskah, dan tafsir pertunjukan. Konsep garap ini disusun dengan tujuan sebagai pedoman penggarapan, pemetaan gagasan dan sebagai bentuk pertanggung jawaban. Dalam penyusunan konsep garap ini, penulis mengharapkan adanya respon yang baik dari para pembaca. Penulis meyakini betul bahwa manfaat terbaik dari sebuah karya tulis adalah bagaimana pembaca mampu
menafsirkan kedalaman bentuk perbuatan dan mengajukan saran serta kritik guna perbaikan kedepannya.