TugasAkhir
55
BAB IV
ANALISA DFR (
Digital Fault Recorder
)
4.1 Pembacaan Data Rekaman
Format output rekaman dapat berupa softcopy maupun hardcopy. Data berikut lebih banyak akan menjelaskan bagaimana cara melakukan pembacaan DFR melalui software, disamping juga akan menjelaskan secara singkat bagaimana pembacaan hasil record berupa hardcopy.
4.1.1 Pembacaan Rekaman Hardcopy
Hasil rekaman berupa hardcopy masih diperlukan sebagai back-up apabila peralatan komunikasi gagal, probabalitas kegagalan pengambilan data secara remote (download) umumnya banyak terdapat pada DFR type II dan DFR type IDM. Permasalahan yang umum terjadi adalah permasalahan sistem komunikasi, berupa kegagalan sistem komunikasi ethernet / TCP-IP, DFR pada posisi Manual, bahkan Indikasi CPU Fail, Off-line.
Kondisi dimana masih adanya peralatan DFR yang belum bisa di download secara langsung, maka cara pembacaan rekaman hardcopy tidak bisa diabaikan. Berikut adalah pemahaman tentang pembacaan rekaman secara hard copy.
1. Record Header.
Terdapat 24 karakter identifikasi Station.
2. Tanggal (Bulan/Hari/Tahun atau Hari/Bulan/Tahun).
3. Waktu dalam Jam, menit dan detik sampai 1 milli detik (1 ms) 4. Total jumlah Record sejak pencatat (counter) terakhir di reset 5. Tingkat tampilan tinggi (High scan rate) yang digunakan untuk
mencetak grafik analog pada diagram kecepatan yang lebih tinggi (lebar gelombang yang dicetak lebih panjang)
Tugas Akhir
6. Tingkat tampilan rendah (Low scan rate) yang digunakan untuk mencetak grafik analog yang lebih rendah (lebar gelombang yang dicetak lebih pendek).
7. Event Traces
Grup pertama dari tujuh garis dikiri adalah jejak (traces) yang menunjukan sensor dan signal pemicu (trigger) eksternal. 8 jejak atau titik di garis ini menunjukan suatu bentuk gelombang pemeriksaan menyeluruh (checksum) kesalahan (error), ini adalah pengecekan sendiri (self-check) yang berarti bahwa kemungkinan data yang salah dicetak pada sample ini.
8. Untuk 32 garis berikutnya ( 4 grup dari 8 ) menunjukan 32 eksternal event input, ini berfungsi untuk memonitor berbagai macam relai dan peralatan on/off lainnya.
9. Analog Traces
Nomor 1 sampai 16, jejak analog dicetak dengan titik sumbu nol. Sebuah analog pada alat digital (ADC) menyediakan informasi amplitude pada microprocessor built-in yang menghitung tiap saluran (channel) dari sumbu nol. Untuk setiap sample dari ADC, microprocessor menginstruksikan printer dot matrix untuk mencetak satu baris titik-titik kecil. Dalam kepadatan triple yang telah direkam sebelumnya, terdapat 216 rows titik yang tercetak per-inch yang mempunyai resolusi tinggi oscillographs.
10. Autorange Factors
Faktor jarak otomatis dicetak di awal tiap sumbu analog, di atas nomor channel. Jarak otomatis berfungsi untuk mengurangi factor 2, 4 atau 8 defleksi dari puncak ke puncak yang dicetak di oscilograph untuk channel (saluran) analog yang amplitudonya menjadi cukup besar untuk dicetak di atas jejak lain. Ketika pengguna telah memilih untuk tidak menggunakan fitur outorange, “/1”, “/2”,”/4”
Tugas Akhir
atau “/8” dicetak untuk menunjukan skala factor lonjakan jejak yang digunakan.
11. Fault Line
Sebuah garis horizontal menyilang tiap saluran dari rekaman gangguan, ini menandakan akhir dari data sebelum gangguan (prefault) dan permulaan data gangguan.
12. Grid Scale
Nomor skala dari 1 sampai 960 dicetak di akhir record. Nomor-nomor ini tertulis untuk axis positions pada printout. Analog dan event axes mungkin ditempatkan kembali menggunakan PRINTER. 13. Time Trace
Time trace pada sisi kanan dari record mempunyai waktu minor tiap 10 ms dan waktu major tiap 100 ms.
14. Event Change Marks
Tanda lonjakan pada sebelah kanan jejak waktu menunjukan waktu pada saat kejadian (event) atau input sensor berubah. Gunakan sebuah penggaris, sebuah garis mungkin digambar menyilang suatu record dari titik dimana satu kejadian (event) berubah (hitam ke putih atau vice versa). Hal ini akan menunjukan hubungan waktu antara perbedaan analog, kejadian (event) dan aktifitas sensor.
Penempatan dari garis gangguan pada rekaman output sangat bervariasi, tergantung apakah sebuah kejadian atau sensor input berubah atau tidak. Untuk suatu sensor-triggered fault, garis gangguan akan menjadi 14,2 msec dari event trigger. Waktu ini allows for debouncing dari event.
Sejumlah besar tanda perubahan event mungkin terjadi pada awal record. Hal ini disebabkan kesalahan memilih dari pernyataan event (normally open
Tugas Akhir
Gambar 32. Record Format 1
2 9 3 5 10 11 6 4 14
Tugas Akhir
HardCopy
Gambar 33. Hard Print DFR
Besarnya arus hubung singkat adalah besarnya hasil ukur dikali CT, atau hasil ukur dikali full scale deviation dibagi 10,82. Misal hasil ukur 0.5cm, ratio CT 2000/1, calibrasi 1A/cm, maka besarnya arus gangguan adalah 0.5*CT=1000 A (1 kA).
Besarnya tegangan adalah besarnya hasil ukur dikali VT, atau hasil ukur dikali full scale deviation dibagi 10,82. Misal hasil ukur 1cm, ratio VT 500kV/100, calibrasi 1A/cm, maka besarnya tegangan adalah 1*VT=500 kV.
0.5cm
1cm
Durasi waktu gangguan jumlah cycle gelombang, (puncak-puncak) atau (lembah-lembah) dikali 20ms.
Misal jumlah cycle 5, maka durasi gangguan adalah 5*20=100ms.
Tugas Akhir
Di dalam menentukan besarnya arus hubung singkat dan perubahan besarnya tegangan diperlukan data parameter setup atau ratio CT contoh data parameter setup DFR
Gambar 34. Hard Print Parameter DFR
ANALOG PARAMETER EVENT PARAMETER SENSOR PARAMETER
Tugas Akhir
4.1.2 Pembacaan Rekaman Softcopy.
Pembacaan data rekaman dapat juga dilakukan melalui hasil download data DFR. Pembacaan umumnya dilakukan dengan media/tool software relay Hathaway.
Gambar 35. Pembacaan Data Rekaman
- Terjadi gangguan 1Phasa (S-N)
- Terjadi kenaikan arus antara phasa S-N (sebesar 22 kA)
- Terjadi pembalikan arus antaraphasa S dengan N.
- Ada sensor kerja oleh external initiate.
- Penyamaan bentuk gelombang melalui trace setting, proses penyamaan trace tidak mempengaruhi besarnya nilai arus dan nilai tegangan. Klick kanan pada semua tegangan atu semua arus yang ingin disamakan gelombangnya. Selanjutnya pilih trace setting untuk menyamakan scalanya.
TEGANGAN
ARUS
Tugas Akhir
Gambar 36. Gelombang Trace Setting
- Pilih apply untuk untuk semua bay.
Gambar 37. Penentuan Setting Trace
- Menentukan besarnya nilai arus atau nilai tegangan (peak maupun rms) dengan menggeser kursor. Apabila kursor digeser, maka besaran arus maupun tegangan akan ikut berubah.
Tugas Akhir
- Untuk melakukan/menggeser kursor yang lain maka klik tanda - Untuk melakukan perubahan kenilai RMS dapat di klick
Gambar 38. Penentuan Nilai RMS
- Untuk menentukan durasi besarnya arus dapat dilakukan dengan menggeser kusor merah dah biru secara bergantian, kemudian nilainya dapat dilihat dibagain bawah.
Tugas Akhir
- Untuk melihat kondisi Event yang bekerja, baik dari status CB, indikasi relay, maupun input event yang ditarik ke DFR.
Gambar 40. Kondisi Event yang Bekerja
- Penentuan lokasi gangguan berdasarkan pengolahan arus dan tegangan, Namun penggunaan metode ini untuk gangguan 1 phasa/hight resistance fault locator ini kurang akurat. Pilih Calculation Chanel pada menu “tool”, kemudian pilih waveform source. Pilih arah bay yang menjadi lokasi yang dikalkulasi.
Gambar 41. Penentuan Lokasi Gangguan
- Terjadi perubahan Binary Input Event Status CB dan Relay. - Sensor bekerja Under voltage dan Overcurrent bekerja.
Tugas Akhir
Masukkan Nilai Impedansi dan Panjang penghantar, kemudian klick OK, maka akan muncul lokasi gangguan.
Gambar 42. Lokasi Gangguan
- Proses pengolahan data melalui calculation cannel. Proses pengolahan lain juga dapat dilakukan apabila ingin melihat data analog dari proses pengolahan analog yang tersambung ke DFR. Pilih Calculation Chanel pada menu “tool”, Pilih Besaran analog yang akan diamati, kemudian pilih waveform source. Pilih arah bay yang menjadi lokasi yang akan dikalkulasi.
Tugas Akhir
Maka akan muncul besaran analog hasil kalkulasi.
Tugas Akhir
GANGGUAN IBT-2GITET CIBINONG
Gambar 45. Hasil record gangguan GITET Cibinong
SEBELUM GANGGUAN
1. Tegangan bay Saguling-2 :
VA:260kV, VB:262kV, VC:262kV.
Arus bay Saguling-2 :
IA:1.137kA, IB:1,130kA, IC:1,137kA, Tegangan 500 kV Bay Saguling2 Arus 500 kV Bay Saguling2 Tegangan IBT 2 sisi 150 kV Arus IBT 2 sisi 150 kV
Tugas Akhir
2. Tegangan bay IBT-2 sisi 150 kV :
VA:78,2kV, VB:78,7kV, VC:78,5kV.
Arus bay IBT2 sisi 150 kV :
IA:1.465kA, IB:1,447kA, IC:1,449kA,
SAAT GANGGUAN
3. Tegangan bay Saguling-2 :
VA:209,8kV, VB:259,0kV, VC:254,9kV.
Arus bay Saguling-2 :
IA:1.267kA, IB:1,068kA, IC:1,130kA,
4. Tegangan bay IBT-2 sisi 150 kV :
VA:11,3kV, VB:69,6kV, VC:69,4kV.
Arus bay IBT-2 sisi 150 kV : IA:6,743kA,
IB:1,486kA, IC:2,672kA,
Berdasarkan record terlihatbahwa drop tegangan yang paling besar terjadi di sisi 150kV, ini menunjukan bahwa gangguan terjadi disisi 150kV. Karena
Tugas Akhir
tengangan di sisi 150 kV hilang atau drop. Sedangkan arus disisi 150kV phasa A naik hanya 5kA dan langsung drop.
Gambar 46. Trafo IBT yang terjadi gangguan disisi sekunder
Saat gangguan Arus sisi 500 kV tidak menunjukan pembalikan arah, sedangkan arus sisi 150 kV mengalami pembalikan hal ini menunjukkan bahwa gangguan terjadi di internal CT differential (saling menjumlahkan), dari kedua informasi record tersebut maka dapat disimpulkan bahwa lokasi gangguan adalah gangguan internal berada diarea sisi 150 kV dengan besar arus gangguan ±23,2 kA selama ±40 ms (sedangkan arus sebelum gangguan sebsar 1,5 kA) atau setara dengan 12.5 Inominal (Iset diff >> 8.5 Inominal). Berdasarkan event relay perintah Triping tidak langsung hilang, hal ini dimungkinkan karena ketika proses pembukaan PMT arus tidak langsung hilang.