1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Saat ini International Financial Reporting Standards (IFRS) merupakan isu hangat yang sedang marak diperbincangkan di berbagai negara. IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang disusun sebagai solusi dalam permasalahan perbedaan standar-standar lokal di masing-masing negara. Sedangkan, manfaat aktual dari pengadopsian wajib IFRS di berbagai negara masih menjadi perdebatan di antara akademisi dan praktisi. Para pendukung IFRS menyatakan bahwa dengan mengadopsi IFRS daya banding laporan keuangan dapat ditingkatkan sehingga memungkinkan perusahaan multinasional untuk melewati lintas batas negara. Tujuan IFRS itu sendiri adalah memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan untuk periode-periode yang dimaksudkan dalam laporan keuangan mengandung informasi yang berkualitas tinggi mengenai aktivitas perusahaan.
Indonesia secara efektif telah mengkonvergensi IFRS ke dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) pada tahun 2009 dengan melalui tiga tahap; tahap pertama adalah tahap adopsi pada tahun 2007 sampai 2010, tahap kedua adalah tahap persiapan akhir pada tahun 2011, dan tahap ketiga merupakan tahap implementasi yang dilakukan pada tahun 2012.
Pengaruh aktivitas perusahaan terhadap lingkungan telah mendapatkan perhatian yang besar dari publik. Pertumbuhan perhatian publik terhadap
lingkungan alam di seluruh dunia telah menjadi salah satu perkembangan yang paling penting dalam beberapa dekade terakhir ini. Banyaknya kasus kerusakan lingkungan yang terjadi seperti kasus semburan lumpur panas yang disebabkan oleh PT. Lapindo Brantas yang bermula tahun 2006, PT. Newmont Minahasa Raya yang telah melakukan pencemaran lingkungan di Teluk Buyat menjadikan hal tersebut sebagai sorotan penting bagi masyarakat. Globalisasi telah membantu menghubungkan lebih dekat antara masyarakat dengan nasib lingkungan mereka daripada sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, masalah lingkungan semakin melampaui batas-batas nasional dan menimbulkan tantangan serius bagi kelangsungan hidup planet ini. Perkembangan akan hukum lingkungan semakin efektif dan sistem hukum di seluruh dunia telah demikian menjadi penting untuk mengarahkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi ke jalur kelestarian lingkungan.
Sebagai hasil globalisasi keuangan, pelaporan keuangan internasional dan standar audit semakin menjadi instrumen penting yang saling terintegrasi. Hal ini telah diamati baik di London dan KTT Pittsburg oleh para pemimpin G20 pada tahun 2009. Para pemimpin G20 memperkuat pengaruh Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) di mana mereka menyerukan penerapan standar akuntansi global pada tahun 2011. Pada akhir tahun 2008, terdapat lebih dari 100 negara yang telah mengadopsi IFRS (Cabrera 2008; Barth et al., 2008). KTT paralel lain adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merupakan puncak khusus terhadap lingkungan yang diadakan pada tanggal 22 September 2009. KTT PBB menggarisbawahi hubungan antara lingkungan dan keuangan dalam
KTT tersebut. Sebagai konsekuensi, tanggung jawab perusahaan menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas pada tanggung jawab ekonomik kepada investor dan kreditor, tetapi juga pada tanggung jawab sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Di Indonesia, berbagai peraturan mengenai pengelolaan lingkungan diterbitkan, di antaranya UU No. 23 tahun 1997 dan yang berskala internasional adalah ISO 14001 yang menetapkan suatu sistem manajemen lingkungan secara menyeluruh. Bahkan, UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, melalui pasal 74, mengatur secara khusus mengenai kewajiban perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan tanggung jawab lingkungan tersebut. Bagi dunia bisnis, kewajiban untuk melaksanakan peraturan dan perundang-undangan terkait dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan tersebut menimbulkan biaya-biaya yang tidak kecil. Dari sudut pandang akuntansi, tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan merupakan tanggung jawab yang unik, terutama yang berkaitan dengan pengukuran dan pelaporannya. Spicer (1978) berpendapat bahwa pengukuran kinerja sosial memerlukan: (a) spesifikasi faktor-faktor atau komponen yang dapat secara tepat dikatakan sebagai kinerja sosial dan lingkungan perusahaan; (b) pengukuran kinerja sosial untuk setiap faktor atau komponen; (c) simpulan dari ukuran-ukuran ini ke dalam suatu indeks tertentu.
Permasalahan lingkungan saat ini telah menjadi sorotan masyarakat terkait dengan penurunan kualitas lingkungan yang berdampak pada penurunan kualitas hidup masyarakat. Ja’far dan Arifah (2006) menyatakan bahwa saat ini
permasalahan lingkungan telah menjadi perhatian yang serius bagi para konsumen, investor, maupun pemerintah. Bahkan, investor asing kini cenderung mempersoalkan masalah mengenai pengadaan bahan baku dan bagaimana proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan yang terhindar dari permasalahan lingkungan, seperti: kerusakan tanah, rusaknya ekosistem, polusi air, polusi udara, dan polusi suara. Lebih lanjut, pemerintah saat ini juga mulai memikirkan bagaimana kebijakan ekonomi makronya terkait dengan pengelolaan lingkungan dan konservasi alam.
Spicer (1978) berpendapat, bahwa timbulnya perhatian masyarakat yang cukup besar terhadap konsekuensi sosial dan lingkungan dari aktivitas perusahaan cukup memberikan alasan tentang perlunya mempertimbangkan dua faktor ke dalam model penentuan keputusan investasi. Pertama, faktor sanksi keras yang mungkin akan diterima oleh perusahaan sebagai akibat terganggunya lingkungan/ kerusakan lingkungan. Kedua, faktor hilangnya kepercayaan investor untuk melakukan investasi pada perusahaan-perusahaan yang diperkirakan menjadi penyebab kerusakan lingkungan. Tidak berbeda dengan pendapat Spicer di atas, Roth dan Keller (1997) juga berpendapat bahwa kesuksesan perusahaan paling tidak ditentukan oleh tiga faktor, yaitu kualitas, profitabilitas, serta tanggung jawab sosial dan lingkungan. Oleh karena itu, manajer dan akuntan perlu memahami bagaimana ketiga faktor tersebut saling berinteraksi sehingga dapat mengembangkan strategi bagi perusahaan untuk berkompetisi di masa depan dan memenangkan persaingan.
Ketidakpuasan masyarakat tentang pengelolaan lingkungan yang dilakukan perusahaan menyebabkan perusahaan perlu melakukan perbaikan pada pola pengelolaan corporate social responsibility-nya dimana hal tersebut merupakan bentuk diseminasi perusahaan yang mana memerlukan pengungkapan lingkungan yang dicantumkan di dalam laporan tahunan (annual report) perusahaan dan laporan keberlanjutan (sustainability report) perusahaan. Environmental disclosure merupakan pengungkapan informasi yang berkaitan dengan lingkungan di dalam laporan tahunan perusahaan (Suratno et al., 2006). Brown dan Deegan (1998) mengatakan bahwa environmental disclosure penting untuk dilakukan karena melalui pengungkapan lingkungan hidup pada laporan tahunan perusahaan, masyarakat dapat memantau aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosialnya. Dengan cara demikian, perusahaan akan memperoleh manfaat positif yaitu perhatian, kepercayaan, dan dukungan dari masyarakat.
Beberapa literatur telah menguji mengenai masalah hubungan pengadopsian IFRS terhadap kualitas akuntansi. Pada literatur tersebut, pelaporan keuangan dianggap berkualitas jika laporan informasi yang disajikan atau diungkapkan dalam laporan tersebut dapat digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi secara benar yang berarti bahwa pelaporan keuangan harus merefleksikan kondisi ekonomi perusahaan yang sesungguhnya dan relevansi nilai dari laporan tersebut tinggi. Literatur yang lainnya menguji mengenai hubungan antara corporate governance dengan environmental disclosure. Sedangkan pengujian mengenai hubungan pengadopsian IFRS terhadap tingkat
environmental disclosure masih jarang dilakukan dimana IFRS mewajibkan perusahaan melakukan pengungkapan yang lebih banyak mengenai aktivitas perusahaan.
Penelitian ini menguji apakah pengadopsian dari standar akuntansi internasional dalam hal ini IFRS dapat mempengaruhi tingkat environmental disclosure perusahaan. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Dampak Pengadopsian International Financial Reporting Standards (IFRS) terhadap tingkat environmental disclosure.”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, pertanyaan penelitian ini adalah: Apakah pengadopsian International Financial Reporting Standards (IFRS) berdampak positif terhadap peningkatan tingkat environmental disclosure pada perusahaan?
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk melakukan pengujian perbedaan tingkat environmental disclosure pada periode sebelum dan setelah pengadopsian IFRS.
2. Untuk memperoleh pembuktian mengenai dampak positif dari adanya pengadopsian IFRS terhadap tingkat environmental disclosure perusahaan.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dari hasil yang didapatkan sebagai berikut:
1. Manfaat Bagi Akademisi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penelitian-penelitian di bidang akuntansi dan dapat dijadikan bahan referensi untuk materi perkuliahan.
2. Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi peneliti selanjutnya karena penelitian-penelitian yang menghubungkan pengaruh antara pengadopsian (International Financial Reporting Standard) IFRS dengan tingkat environmental disclosure belum ada.
1.5. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah sesuai dengan latar belakang penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan penelitian.
BAB II KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Dalam bab ini akan diuraikan tentang kajian literatur mengenai teori-teori yang relevan dengan penelitian dan hasil penelitian-penelitian terdahulu sebagai dasar untuk pengembangan hipotesis penelitian.
BAB III METODA PENELITIAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang metoda yang digunakan dalam penelitian ini, termasuk sumber dan jenis data, identifikasi variabel dan pengukurannya serta metode analisis yang digunakan untuk pengujian hipotesis.
BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang hasil analisis penelitian yang meliputi deskripsi objek penelitian, pengumpulan data, statistik deskriptif, pengujian normalitas data, pengujian hipotesis, dan pembahasan penelitian.
BAB V PENUTUP
Sebagai bab terakhir dari penelitian ini, diuraikan simpulan yang merupakan penyajian singkat apa yang diperoleh dalam pembahasan, keterbatasan dari penelitian ini, dan saran untuk penelitian selanjutnya.