4.1. Perumusan Standar dan Peraturan oleh BSN, BPOM, dan CAC
Setiap lembaga mempunyai cara yang berbeda dalam perumusan suatu peraturan dan standar. Paling tidak di Indonesia lembaga pemerintah yang berwenang dalam perumusan dan pemberlakuan suatu standar keamanan pangan ada 2 yaitu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Selain dilihat prosedur perumusan dan pemberlakuan suatu standar pangan pada lembaga di tingkat nasional tersebut, di dalam pembahasan ini juga akan dilihat perumusan standar di tingkat internasional oleh Codex Alimentarius Commission (CAC).
4.1.1. Perumusan Standar oleh BSN
Perumusan standar di BSN dimulai dengan penyusunan konsep oleh konseptor dari perorangan atau gugus kerja yang ditunjuk oleh panitia teknis (PT) atau subpanitia teknis (SPT). Konseptor dapat berasal dari dalam maupun luar anggota PT/SPT. Panitia teknis terdiri atas beberapa orang yang merupakan perwakilan dari lembaga pemerintah, industri (produsen), konsumen, dan akademisi (pakar). Panitia teknis pada umumnya diketuai oleh seorang dari perwakilan lembaga pemerintah yang terkait dengan standar yang akan dibahas. Misalnya untuk standar yang terkait dengan bahan tambahan pangan dan kontaminan, panitia teknis diketuai oleh pejabat atau staf dari direktorat standardisasi produk pangan BPOM RI dengan sekretariat bertempat di kantor BPOM RI.
Hasil dari penyusunan konsep adalah Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) 1. RSNI 1 kemudian dibahas di dalam rapat teknis yang harus dihadiri oleh semua anggota panitia teknis atau dengan jumlah yang memenuhi kuorum dan adanya keterwakilan dari masing-masing lembaga pemerintah, industri, konsumen, dan akademisi. Rapat teknis dihadiri oleh tenaga ahli standardisasi (TAS) sebagai pengendali mutu yang ditugaskan oleh BSN untuk memantau pelaksanaannya. TAS harus memastikan bahwa pelaksanaan rapat
teknis dihadiri oleh seluruh perwakilan lembaga dan pengambilan keputusan di dalam rapat tersebut telah memenuhi prinsip konsensus.
Hasil dari rapat teknis adalah RSNI 2. Jika di dalam rapat teknis telah terjadi konsensus dari semua perwakilan lembaga yang hadir, maka akan langsung diperoleh RSNI 3. RSNI 3 kemudian diajukan kepada BSN untuk dilakukan jajak pendapat. Jajak pendapat dilakukan kepada anggota PT/SPT dan anggota Masyarakat Standardisasi Indonesia (MASTAN) kelompok minat yang relevan. Hasil dari jajak pendapat adalah RSNI 4 atau Rancangan Akhir SNI (RASNI). Jika saat jajak pendapat tidak diperoleh suara yang seluruhnya menyetujui, maka dihasilkan RSNI 4 yang perlu diperbaiki dan dilakukan jajak pendapat kembali hingga diperoleh keputusan yang merupakan kesepakatan bersama dengan minimal 2/3 suara setuju dan maksimal ¼ suara tidak setuju dengan alasan yang jelas. RASNI kemudian diberikan kepada BSN untuk ditetapkan sebagai SNI.
Mekanisme perumusan suatu standar yang saat ini berlaku di Badan Standardisasi Nasional (BSN, 2007a) dapat dilihat pada Gambar 5.
4.1.2. Perumusan Peraturan dan Pemberlakuan Wajib Standar oleh BPOM
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang merupakan salah satu instansi teknis menurut PP No. 102/2000 tentang Standardisasi Nasional, berwenang dalam memberlakukan wajib suatu SNI yang dituangkan dalam suatu peraturan melalui surat keputusan (SK) kepala BPOM RI. Saat ini, BPOM RI juga menetapkan suatu peraturan berupa ketentuan, pedoman, dan kode praktis yang terkait dengan keamanan pangan tanpa melalui prosedur yang ditetapkan oleh BSN.
Penyusunan suatu peraturan, pedoman, dan kode praktis di BPOM RI dimulai dengan melakukan pengumpulan materi dan kajian pustaka. Kemudian dilakukan pemetaan dan kaji banding dengan peraturan yang berlaku baik di dalam maupun luar negeri. BPOM RI kemudian mengundang narasumber dan stakeholder untuk memberikan masukan dan dimintai pendapatnya. Pembahasan draf peraturan, pedoman, dan kode praktis dilakukan sebanyak 3 kali untuk
meng-Penyusunan Standar
PELAKSANA & PESERTA HASIL PROSES Penyusunan konsep Rapat teknis RSNI1 RSNI2 Rapat konsensus
Perbaikan RSNI2 RSNI3
Jajak pendapat disetujui Perbaikan RSNI3 RASNI RSNI4 Penetapan + penomoran Pemungutan suara disetujui RASNI SNI Publikasi Rapat teknis DT Konseptor dan PT/SPT PT/SPT dan TAS QC QC PT/SPT dan TAS PT/SPT BSN, MASTAN, PT/ SPT BSN PT/SPT BSN, MASTAN, PT/ SPT BSN BSN BSN PT Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya 100% <100% Keterangan: PT : Panitia Teknis SPT : Sub Panitia Teknis
TAS :Tenaga Ahli Standardisasi sebagai pengendali mutu yang ditugaskan oleh BSN untuk memantau pelaksanaan rapat teknis
BSN : Badan Standardisasi Nasional MASTAN : Masyarakat Standardisasi Indonesia RSNI : Rancangan Standar Nasional Indonesia DT : Dokumen Teknis
hasilkan rumusan yang baik (BPOM, 2010). Mekanisme perumusan suatu peraturan dan pemberlakuan wajib standar yang saat ini berlaku di BPOM RI dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Mekanisme Perumusan Suatu Peraturan dan Pemberlakuan Wajib Standar di BPOM RI (BPOM, 2010)
Instansi teknis (misal BPOM RI, Kemenkes, Kementan, KKP, Kemenperin, Kemenhut) dapat memberlakukan wajib SNI yang terkait dengan kesehatan masyarakat, keamanan, keselamatan atau pelestarian lingkungan hidup dan/atau pertimbangan ekonomi. Intansi teknis dapat memberlakukan wajib keseluruhan atau sebagian dan/atau sebagian parameter di dalam suatu SNI.
Jika instansi teknis, misalnya BPOM RI ingin memberlakukan wajib SNI, maka perlu mengajukan usulan kepada BSN terlebih dahulu. Usulan tersebut diberikan setahun sebelum rencana penetapan regulasi teknis yang akan
memberlakukan wajib SNI. BSN memasukkan usulan pemberlakuan regulasi teknis di dalam Program Nasional Regulasi Teknis. Kemudian perumusan regulasi teknis dilakukan oleh instansi teknis dengan memperhatikan berbagai faktor agar regulasi tersebut efektif dijalankan dan tidak memberikan hambatan yang berarti bagi perkembangan dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional. Draf regulasi teknis yang akan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan notifikasi kepada World Trade Organization (WTO) untuk mendapatkan tanggapan dari anggota WTO. Notifikasi dilakukan melalui BSN. Jika draf regulasi teknis tersebut dianggap tidak memberatkan bagi negara anggota WTO, instansi teknis dapat menetapkan regulasi teknis tersebut.
Regulasi teknis kemudian dapat diimplementasi dengan mempertimbangkan waktu bagi pelaku usaha untuk menyesuaikannya. Waktu implementasi regulasi tersebut minimal 6 bulan setelah ditetapkan. Setelah diimplementasikan, instansi teknis melakukan pengawasan pra pasar, pasar, dan didukung dengan pengawasan oleh masyarakat. Misalkan untuk BPOM RI, melakukan pengawasan pra pasar pada saat registrasi produk dari pelaku usaha. Pengawasan pasar dilakukan melalui surveilan. Pengawasan oleh masyarakat dapat dilakukan oleh lembaga konsumen.
Setelah beberapa waktu pemberlakuan berjalan, regulasi teknis perlu dievaluasi dan dikaji ulang mengenai efektifitas pelaksanaannya. Evaluasi dan kaji ulang minimal dilakukan setelah 5 tahun regulasi teknis berjalan. Jika ada hal yang perlu diperbaiki, maka instansi teknis dapat menyusun kembali draf regulasi teknis yang baru atau perbaikan regulasi teknis yang lama agar dapat diimplementasi secara efektif.
Tata cara pemberlakuan SNI secara wajib
Waktu Pelaksana
Proses
Rencana SNI yg akan diberlakukan secara wajib tahun X+1
Kompilasi rencana SNI yg akan diberlakukan secara wajib tahun X+1
Publikasi rencana SNI yg akan diberlakukan secara wajib tahun X+1
Masukan thd rencana SNI yg akan diberlakukan secara
wajib tahun X+1 Rapat musyawarah penyelesaian
duplikasi wewenang
Program Nasional Regulasi Teknis tahun X+1
Penyampaian Program Nasional Regulasi Teknis tahun X+1 kpd Instansi Teknis Publikasi Program Nasional Regulasi Teknis
tahun X+1
Perumusan Rencana Regulasi Teknis dan persiapan infrastruktur pendukungnya
Notifikasi Rancangan Regulasi Teknis ke WTO
Penetapan Regulasi Teknis
Pemberlakuan Regulasi Pembahasan thd tanggapan Negara anggota WTO Masukan terkait duplikasi kewenangan Masukan tdk terkait duplikasi kewenangan Ada tanggapan Instansi Teknis BSN c.q. Pusat yang terkait dengan penerapan standar BSN
Pejabat Es. I dari instansi terkait Pihak yang berkepentingan BSN BSN BSN Instansi Teknis Notification body Instansi Teknis Instansi Teknis
Selambatnya bulan April tahun X
Minggu kedua bulan Mei tahun X
14 hari setelah publikasi
Tergantung kesiapan Instansi Teknis
Peling singkat 60 hari setelah disampaikan kepada sekretariat WTO
Paling singkat 6 bulan setelah ditetapkan Tidak ada tanggapan
Tidak ada masukan
Berdasarkan keputusan kepala Badan Standardisasi Nasional dalam Peraturan Kepala BSN Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pedoman Standardisasi Nasional Nomor 301 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Secara Wajib, setiap intansi teknis seperti BPOM yang akan memberlakukan standar secara wajib harus mengikuti prosedur seperti Gambar 7 dan Gambar 8.
Beberapa contoh standar yang diberlakukan wajib di bidang pangan dan pertanian oleh instansi teknis dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7. Di sektor industri makanan dan minuman terdapat 440 SNI, dan 428 SNI di antaranya memiliki relevansi dengan CAFTA (China-ASEAN Free Trade Agreement) sementara 12 SNI lainnya tidak terkorelasi (BSN, 2010). Dari 428 SNI makanan dan minuman tersebut, 9 SNI di antaranya telah ditetapkan sebagai SNI wajib melalui regulasi pemerintah, dengan perincian pada Tabel 6.
Tabel 6. Regulasi Teknis Pemberlakuan Wajib SNI Bidang Pangan (BSN, 2010)
No SNI Regulasi Pemerintah
1 SNI 01-3751-2006, Tepung Terigu
Peraturan Menteri Perindustrian No. 49/M-IND/PER/7/2008
2 SNI 01-3747-1995, Kakao Bubuk
Peraturan Menteri Perindustrian No. 45/M-IND/PER/5/2009 diubah menjadi No. 157/M-IND/PER/11/2009
3 SNI 01-3553-2006, Air
Minum dalam Kemasan
Peraturan Menteri Perindustrian No. 69/M-IND/PER/7/2009
4 SNI 01-3556-1994, Garam
Konsumsi Beryodium Surat Keputusan Menteri Perindustrian No. 29/M/SK/2/1995 5 SNI 01-3140.22006, Gula
Kristal Rafinasi
Peraturan Menteri Perindustrian No. 27/M-IND/PER/2/2010
6 SNI 01-3140.12001, Gula
Kristal Mentah (raw sugar) Keputusan Bersama No. 03/Kpts/KB.410/1/2003 7 SNI 01-6993-2004, Bahan
Tambahan Pangan Pemanis Buatan - Persyaratan Penggunaan dalam Produk Pangan
Surat Keputusan Kepala BPOM No.00.05.5.1.4547
8 SNI 01-0222-1995, Bahan Tambahan Makanan
Peraturan Menteri Kesehatan No.722/ Menkes/PER/XI/88
9 SNI 01-0219 -1987, Kodeks Makanan Indonesia
Surat Keputusan Kepala BPOM No.HK.00.05.5.00617 dan Keputusan Menteri Kesehatan No.
Di sektor industri pertanian dan produk pertanian terdapat 121 SNI, dan 117 SNI di antaranya memiliki relevansi dengan CAFTA sementara 4 SNI lainnya tidak terkorelasi (BSN, 2010). Dari 121 SNI pertanian dan produk pertanian tersebut, 81 SNI di antaranya telah ditetapkan sebagai SNI wajib melalui 21 regulasi pemerintah seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Regulasi Teknis Pemberlakuan Wajib SNI Bidang Pertanian (BSN, 2010)
No Nomor Regulasi Tentang
1 UU No. 12 Tahun 1992 Sistem budidaya tanaman
2 UU No. 16 Tahun 1992 Karantina hewan, ikan dan tumbuhan
3 UU No. 18 Tahun 2004 Perkebunan
4 UU No. 18 Tahun 2009 Peternakan dan kesehatan hewan 5 UU No. 22 Tahun 1983 Kesehatan masyarakat veteriner 6 UU No. 82 Tahun 2000 Karantina hewan
7 UU No. 14 Tahun 2002 Karantina tumbuhan 8 Keputusan Bersama No.
881/MENKES/
SKB/VIII/1996 dan Nomor 711/Kpts/ TP.270/8/1996
Batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian
9 Peraturan Menteri No. 58/Permentan/
OT.140/8/2007
Pelaksanaan sistem standardisasi nasional di bidang pertanian
10 Keputusan Menteri No. 469/Kpts/ HK.310/8/2001
Tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina
11 Keputusan Menteri No. 380/Kpts/ OT.130/ 10/2005
Penunjukan direktorat jenderal pengolahan dan pemasaran hasil pertanian sebagai otoritas kompeten (competent authority) pangan organik 12 Keputusan Menteri No.
381/ Kpts/OT.140/ 10/2005
Pedoman sertifikasi kontrol veteriner unit usaha pangan asal hewan
13 Keputusan Menteri No. 37/ Kpts/HK.060/ 1/2006
Persyaratan teknis dan tindakan karantina tumbuhan untuk pemasukan buah-buahan dan sayuran buah segar ke dalam wilayah negara RI
14 Peraturan Menteri No. 18/ Permentan/ OT.140/2/2008
Persyaratan dan tindakan karantina
tumbuhan untuk pemasukan hasil tumbuhan hidup berupa sayuran umbi lapis segar 15 Peraturan Menteri No. 22/
Permentan/ OT.140/4/2008
Organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis karantina pertanian
16 Peraturan Menteri No. 35/Permentan/
OT.140/7/2008
Persyaratan dan penerapan cara pengolahan hasil pertanian asal tumbuhan yang baik (good manufacturing practices)
No Nomor Regulasi Tentang
Permentan/ OT.140/
10/2008 segar asal tumbuhan
18 Peraturan Menteri No. 27/ Permentan/ PP.340/5/2009
Pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan
19 Peraturan Menteri No. 38/Permentan/
PP.340/8/2009
Perubahan peraturan menteri pertanian nomor: 27/ Permentan/PP.340/5/2009 tentang pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan
20 Peraturan Menteri No. 20/Permentan/
OT.140/4/2009
Pemasukan dan pengawasan peredaran karkas, daging, dan/atau jeroan dari luar negeri
21 Peraturan Menteri No. 09/Permentan/
OT.140/2/2009
Persyaratan dan tatacara tindakan karantina tumbuhan terhadap pemasukan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina ke dalam wilayah negara RI
4.1.3. Perumusan Standar oleh CAC
Peran Codex Alimentarius Commission (CAC) penting terutama setelah penandatanganan tentang perdagangan dan pengukuran sanitary pada General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) (Rees & Watson, 2000). Pada tahun 1994 Indonesia telah meratifikasi persetujuan pembentukan World Trade
Organization (WTO) dan menjadi salah satu negara anggotanya. Untuk itu,
produk Indonesia yang akan diekspor ke luar negeri, terutama ke negara anggota WTO, harus memenuhi standar Internasional. Standar internasional yang menjadi acuan adalah standar Codex dari CAC. Jika terjadi perselisihan perdagangan antar negara anggota WTO, maka standar yang menjadi acuan adalah standar Codex. Untuk itu, pengetahuan dan keterlibatan Indonesia di dalam perumusan standar Codex juga sangat diperlukan.
Di dalam penelitian ini akan dibahas mengenai mekanisme penyusunan standar internasional yang ditetapkan oleh Codex Alimentarius Commission (CAC). Prinsip-prinsip perumusan standar oleh CAC tersebut akan menjadi acuan dalam membandingkan dengan perumusan dan pemberlakuan wajib standar oleh otoritas di Indonesia (BSN dan BPOM). Mekanisme perumusan standar di Codex Alimentarius Commission (CAC) adalah sebagai berikut (CAC, 2010):
1. CAC memutuskan untuk menyusun suatu standar dan memberikan tugas kepada suatu komite untuk membahas. Keputusan untuk menyusun suatu standar dapat berasal dari “codex committee”
2. Sekretariat melakukan persiapan untuk menyusun suatu usulan rancangan standar menggunakan bahan dari “codex committee”
3. Usulan rancangan standar dikirim ke pemerintah negara serta organisasi internasional untuk mendapatkan komentar seperlunya
4. Sekretariat menyampaikan usul-usul yang diterima kepada “codex committee” 5. Usulan rancangan standar disampaikan ke CAC, melalui sekretariat untuk
disetujui sebagai rancangan standar yang resmi
6. Rancangan standar disampaikan ke berbagai pemerintah dan organisasi internasional
7. Sekretariat menyampaikan kembali ke “codex committee”
8. Rancangan standar disampaikan kembali ke CAC untuk diterima dan disahkan menjadi CODEX STANDARD
Berdasarkan prosedur yang berlaku di CAC, beberapa bagian berperan dalam perumusan standar. Diagram perumusan standar di CAC dapat dilihat pada Gambar 9.
Tabel 8. Analisis Gap Perumusan Standar BSN, BPOM, dan CAC Berdasarkan Teori dan Naskah Peraturan No Kategori Perumusan Standar Secara Teoritis yang
Diterapkan CAC*
Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Rekomendasi
BSN** BPOM***
1 Transparan Prosedur perumusan standar dapat diakses di website:
http://www.codexalimentarius.net/ Prosedur perumusan standar dapat diakses di website: http://bsn.or.id/ dan telah ditetapkan oleh kepala BSN
Prosedur perumusan peraturan
(pemberlakuan standar) belum diketahui secara luas oleh pihak yang berkepentingan
Perumusan standar atau peraturan di BPOM perlu diketahui oleh semua pihak misalnya melalui publikasi di website
2 Terbuka Adanya keterlibatan negara anggota, NGO internasional, pakar dari JECFA/JEMRA/JMPR Setiap delegasi negara anggota dapat mengirim
delegasi yang merupakan perwakilan dari industri, organisasi konsumen, dan lembaga akademisi.
Mengakomodir kepentingan produsen, konsumen, pakar, dan regulator; serta MASTAN (Masyarakat
Standardisasi Nasional)
Adanya keterlibatan dari BPOM, perwakilan industri, konsumen, dan akademisi dalam penyusunan peraturan (standar) -3 Konsensus dan Tidak Memihak
Persetujuan standar melalui konsensus
Setiap tahapan draf standar harus dipastikan telah mencapai konsensus sebelum diajukan ke tahap selanjutnya
Rapat konsensus hanya dapat dilakukan apabila rapat mencapai kuorum
Belum secara eksplisit
dijelaskan BPOM perlu merumuskan prosedur konsensus dalam penetapan standar/peraturan dan prosedur tersebut didokumentasikan dengan baik dan disahkan melalui keputusan kepala BPOM 4 Efektif dan
Relevan oDukungan
Ilmiah
Didukung oleh lembaga bersama FAO/WHO di bidang penelitian, yaitu JMPR (Joint FAO/WHO Meetings on Pesticide Residues), JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives), dan JEMRA (Joint FAO/WHO Expert Meetings on Microbiological Risk Assessment)
Lembaga penelitian internasional lain dapat berperan memberikan masukan dan saran dalam penyusunan standar
Dukungan ilmiah berasal dari individu/pakar perorangan, tanpa ada lembaga khusus yang diminta memberikan saran dan dukungan ilmiah dalam penyusunan standar.
Dukungan ilmiah berasal dari individu/pakar perorangan dan tim mitra bestari
Perlu dilakukan optimalisasi peran tim atau lembaga yang khusus mengkaji kriteria dalam standar secara ilmiah, terutama sebagai pengkaji risiko
Tabel 8. Analisis Gap Perumusan Standar BSN, BPOM, dan CAC Berdasarkan Teori dan Naskah Peraturan
Keterangan: *Berdasarkan CAC (2006) dan CAC (2007) **Berdasarkan BSN (2007a) ***Berdasarkan BPOM (2010) No Kategori Perumusan Standar Secara Teoritis yang
Diterapkan CAC*
Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Rekomendasi BSN** BPOM*** o Penggunaan ilmu pengetahuan dan faktor-faktor yang sah lainnya dalam penyusunan standar
Standar pangan, pedoman, dan rekomendasi lain dari CAC harus didasarkan pada prinsip analisis ilmiah yang kuat
Perlu dilakukan pernyataan resmi dalam dokumen BSN dan BPOM bahwa standar yang ditetapkan berdasarkan data ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan
5 Koheren Mempertimbangkan peraturan yang berlaku secara regional, seperti UE (Uni Eropa)
Sedapat mungkin harmonis dengan standar internasional yang telah ada (mengadopsi satu standar internasional yang relevan)
Melalui Pemetaan dan Kaji Banding (Nasional, Regional, Internasional) -6 Berdimensi Pengembangan
Mengoptimalkan peran negara berkembang dalam perumusan standar
Mempertimbangkan kepentingan UMKM dan daerah dengan
memberikan peluang untuk dapat
berpartisipasi dalam proses perumusan SNI.
Secara eksplisit belum dicantumkan mengenai faktor tertentu yang dijadikan sebagai dimensi pengembangan dalam pemberlakuan standar
BPOM perlu menetapkan faktor yang menjadi dimensi pengembangan
Perumusan standar/peraturan di Indonesia perlu
memperhatikan kepentingan dan usulan daerah
Perwakilan industri berasal dari asosiasi yang juga merepresentasikan kepentingan UMKM
4.1.4. Analisis Gap Perumusan Standar Secara Teoritis dan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku
Setelah dijelaskan mengenai perumusan standar dan peraturan yang berlaku di Indonesia oleh BSN dan BPOM RI, kemudian dibandingkan dengan perumusan standar secara teoritis (ideal) yang diberlakukan oleh CAC. Perbandingan tersebut dituangkan dalam analisis gap yang dapat dilihat pada Tabel 8.
4.2. Pelaksanaan Perumusan Standar
Sebagai tahap awal, pada penelitian ini dilakukan cara untuk mengetahui gambaran tentang permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia yang mengakibatkan rendahnya tingkat implementasi standar. Cara yang dilakukan adalah melaksanakan focus group
discussion (FGD) dan penyebaran kuesioner.
4.2.1. Focus Group Discussion
Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk mengetahui gambaran
tentang permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia. FGD yang telah dilakukan pada tanggal 6 Desember 2010 di SEAFAST Center IPB Baranangsiang, Bogor dihadiri oleh perwakilan pemerintah, industri, lembaga konsumen, dan akademisi.
Tujuan FGD adalah menjaring masukan dari pihak industri dan konsumen terhadap kebijakan pangan yang telah dikeluarkan oleh BPOM RI dan masukan untuk mekanisme penyusunan peraturan dan regulasi pangan yang mampu menghasilkan standar dan peraturan dengan tingkat keberterimaan yang tinggi serta dapat melindungi konsumen dan sekaligus mendorong pertumbuhan industri pangan. Beberapa masukan dari perwakilan pemerintah (BPOM, BSN, Kementan, KKP, Kemenperin), Industri (GAPMMI, PIPIMM, ASRIM), Lembaga Konsumen (YLKI), dan akademisi (SEAFAST Center – LPPM IPB) secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Hasil Focus Group Discussion (FGD) tentang Kebijakan Pangan
Kelompok Tanggapan terhadap Kebijakan Pangan
Pengkategorian Berdasarkan Prinsip Perumusan dan Pengembangan Standar*
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Pemerintah Standar diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada konsumen dan menciptakan perdagangan
pangan yang jujur dan bertanggung jawab √
Standar pangan dituntut untuk science & risk based √
Perumusan dan pemberlakuan standar pangan perlu cepat tanggap dan antisipasi terhadap inovasi √ √ Perumusan dan pemberlakuan standar pangan perlu kemitraan atau jejaring dengan pakar √
Standar pangan perlu pertimbangan antara harmonisasi peraturan dan kemampuan produsen √ √ BPOM akan melakukan upaya peningkatan dalam hal tata laksana, sumber daya manusia, sarana
prasarana, dan kebutuhan data mengenai keadaan dan masalah kesehatan masyarakat serta studi paparan
untuk mendukung perumusan dan pemberlakuan standar dan peraturan pangan √ √
Industri Pemberlakuan standar dan peraturan yang belum disahkan secara resmi melalui keputusan kepala BPOM √ √ Penyusunan standar dan peraturan pangan kurang melibatkan industri √
Kurangnya sosialisasi standar dan peraturan pangan √
Ada standar dan peraturan pangan yang tidak memperhatikan kondisi Indonesia √
Pemahaman dan koordinasi SDM BPOM terhadap standar dan peraturan pangan masih lemah Tidak terkait perumusan Tim mitra bestari dan pakar kurang menguasai persoalan saat perumusan standar dan peraturan pangan √ Adanya peraturan pangan yang tidak konsisten, misal antara SNI dan peraturan BPOM RI √ (Tanggapan dan masukan dari Industri secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 5)
Tabel 9. Hasil Focus Group Discussion (FGD) tentang Kebijakan Pangan(Lanjutan)
*Keterangan: Prinsip Perumusan dan Pengembangan Standar (1) = Transparan
(2) = Terbuka
(3) = Konsensus dan Tidak Memihak (4) = Efektif dan Relevan
(5) = Koheren
(6) = Berdimensi Pengembangan
Kelompok Tanggapan terhadap Kebijakan Pangan
Pengkategorian Berdasarkan Prinsip Perumusan dan Pengembangan
Standar*
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Konsumen Penerapan standar pangan oleh industri masih rendah √
Sosialisasi standar dan peraturan pangan oleh pemerintah kurang maksimal √
Perlu program untuk mempermudah produsen mensertifikasi produk yang comply dengan standar pangan √ Penerapan sanksi bagi yang melanggar peraturan pangan masih lemah (-) Tidak terkait perumusan
Pemerintah lemah dalam pengawasan pangan (-) Tidak terkait perumusan
Akademisi Adanya standar dan peraturan pangan yang terlalu longgar √
Adanya standar dan peraturan pangan yang terlalu ketat √
Standar dan peraturan pangan belum menerapkan prinsip analisis risiko √
Perumusan dan penetapan standar dan peraturan pangan perlu menerapkan prinsip RIA √ √ Total
Jumlah 3 2 1 12 3 3 24
Hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan pada tanggal 6 Desember 2010 memperlihatkan bahwa permasalahan utama yang menjadi kendala dalam kebijakan pangan adalah pada saat perumusan peraturan dan standar. Masalah perumusan peraturan dan standar menjadi penyebab munculnya masalah-masalah lain, seperti rendahnya penerapan oleh pelaku usaha, sulitnya pengawasan dikarenakan keterbatasan infrastruktur (laboratorium uji), dan rendahnya tingkat sosialisasi yang hanya mengandalkan satu institusi (pemerintah). Jika dilihat berdasarkan prinsip perumusan dan pengembangan standar, hasil FGD dari keempat kelompok (pemerintah, industri, konsumen, dan akademisi) menunjukkan bahwa penerapan prinsip efektif dan relevan masih rendah.
Perumusan kebijakan pangan yang menjadi masalah utama adalah mengenai standar yang diberlakukan wajib dan ditetapkan oleh BPOM RI. Banyak standar pangan SNI yang diberlakukan wajib dan peraturan yang dituangkan dalam surat keputusan (SK) kepala BPOM RI menjadi bermasalah dalam penerapannya oleh industri.
Jika dilihat berdasarkan kategori prinsip dan pengembangan standar pada Tabel 9, terlihat bahwa penerapan prinsip yang paling bermasalah adalah prinsip efektif dan relevan (50%). Hal ini perlu menjadi perhatian utama dalam memperbaiki perumusan dan pengembangan standar dan peraturan pangan, agar standar dan peraturan yang dihasilkan dapat diterapkan oleh pelaku usaha secara efektif.
4.2.2. Survei
Berdasarkan informasi dari hasil Focus Group Discussion (FGD), diperoleh kesimpulan bahwa permasalahan utama yang menjadi kendala kebijakan pangan adalah mengenai pengembangan standar keamanan pangan, khususnya terkait dengan perumusan standar dan peraturan. Untuk itu, perlu dilakukan penggalian informasi yang lebih mendalam mengenai permasalahan perumusan dan pengembangan standar dan peraturan tersebut. Penggalian informasi tersebut
dilakukan melalui survei. Pada survei yang dilakukan, kata “Standar” termasuk (standar) SNI dan peraturan keamanan pangan.
Survei dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada 4 kelompok besar responden, yaitu pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga konsumen. Masing-masing responden diberikan pertanyaan yang sama mengenai penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia, yaitu prinsip transparan, terbuka, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, dan prinsip berdimensi pengembangan. Penilaian umum masing-masing kelompok responden terhadap penerapan prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Penilaian Umum Kelompok Responden terhadap Penerapan Prinsip-Prinsip Perumusan dan Pengembangan Standar
Pada Gambar 10 terlihat bahwa nilai rata-rata penilaian seluruh responden untuk setiap prinsip perumusan dan pengembangan standar berada pada nilai sekitar 0,5 dari nilai minimal 0 (kurang) dan maksimal 1 (sangat baik). Artinya, rata-rata seluruh responden memberikan penilaian antara baik dan cukup untuk penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar (transparan, terbuka, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, dan berdimensi pengembangan). Hal ini menunjukkan bahwa penerapan dari prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan tersebut belum sepenuhnya dinilai baik
oleh rata-rata responden, karena posisi penilaiannya masih berada di tengah-tengah skala.
Gambar 10 juga memperlihatkan bahwa beberapa kelompok responden memberikan penilaian yang berbeda terhadap penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia. Pada umumnya kelompok responden pemerintah memberikan penilaian yang baik terhadap penerapan seluruh prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan (transparan, terbuka, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, serta berdimensi pengembangan).
Nilai yang berbeda dengan pemerintah terlihat pada penilaian dari responden industri dan lembaga konsumen. Responden dari kelompok industri dan lembaga konsumen masing-masing memberikan penilaian yang hampir separuh lebih rendah dibandingkan dengan penilaian dari responden Pemerintah.
Data-data di atas memberikan gambaran bahwa persepsi responden terhadap penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar saat ini berbeda antar kelompok responden. Pemerintah memberikan penilaian yang relatif baik terhadap penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar. Akan tetapi kelompok industri dan konsumen menilai penerapan prinsip-prinsip tersebut belum diterapkan secara optimal yang terlihat dari penilaiannya yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pihak pemerintah sudah merasa benar dan sesuai dalam menyusun dan mengembangkan standar pangan di Indonesia, sedangkan pihak industri dan konsumen merasa prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar belum dilaksanakan dengan baik.
Jika dilihat perbedaan penilaian antara kelompok responden pemerintah dan industri, penilaian terhadap prinsip Transparan dan Efektif dan Relevan memiliki perbedaan yang paling besar. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa penerapan dari prinsip Transparan dan Efektif dan Relevan belum dijalankan dengan baik saat perumusan dan pengembangan standar terutama bagi kelompok industri.
A. Prinsip Transparan
Codex Alimentarius Commission memberikan rekomendasi bahwa kajian risiko harus dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan oleh semua pihak termasuk pemerintah, industri dan konsumen. Keseragaman kajian harus dilakukan dengan proses yang terbuka dan kemudahan untuk diakses oleh pemerintah dan semua organisasi yang berkepentingan dan tahapannya harus diketahui oleh masyarakat umum (Randel, 2000).
Gambar 11. Pengetahuan Responden tentang Tahapan Proses Pembuatan Standar Gambar 11 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden mengetahui tahapan proses pembuatan standar. Beberapa responden (18,33% dari 60 responden) belum mengetahui tahapan proses pembuatan standar, termasuk beberapa lembaga pemerintah, industri, dan konsumen. Jika dilihat masing-masing kelompok responden, maka 13,04% pemerintah, 8,33% industri, 0% akademisi, dan 37,5% lembaga konsumen menyatakan belum mengetahui proses pembuatan standar. Kelompok responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan belum mengetahui proses pembuatan standar adalah responden dari daerah (Tabel 10). Responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan tidak mengetahui proses pembuatan standar 100% dari instansi daerah. Hal ini dapat menjadi perhatian untuk lebih meningkatkan sosialisasi mengenai proses perumusan standar keamanan pangan di Indonesia kepada semua stakeholder, termasuk instansi yang berada di daerah.
Tabel 10. Pengetahuan Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah tentang Tahapan Proses Pembuatan Standar
Pertanyaan: Apakah Anda mengetahui proses pembuatan standar?
Jawaban
Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak
Responden Pemerintah
Daerah 8 3 11 27,27
Keseluruhan 20 3 23 13,04
% Daerah terhadap Keseluruhan 40,00 100,00 47,83
-Responden Lembaga Konsumen
Daerah 0 3 3 100,00
Keseluruhan 5 3 8 37,50
% Daerah terhadap Keseluruhan 0,00 100,00 37,50
-Meskipun sebagian besar responden (81,67% dari 60 responden) menyatakan bahwa mereka mengetahui tahapan proses pembuatan standar, tetapi masih banyak responden yang menyatakan sulit untuk mendapatkan informasi prosedur perumusan standar tersebut. Tingkat kemudahan responden memperoleh informasi mengenai prosedur perumusan standar dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Tingkat Kemudahan Responden Memperoleh Informasi Prosedur Perumusan Standar Pertanyaan: Seberapa mudah Anda mendapatkan informasi prosedur penyusunan suatu standar?
Kelompok Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total
Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Sangat mudah 5 21,74 0 0 2 28,57 2 25 9 14,75
2= Mudah 14 60,87 9 39,13 2 28,57 4 50 29 47,54
3= Sulit 4 17,39 13 56,52 3 42,86 1 12,5 21 34,42
4= Sangat sulit 0 0 1 4,35 0 0 1 12,5 2 3,279
Total 23 100 23 100 7 100 8 100 61 100
Tabel 11 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (47,54% dari 61 responden) menyatakan bahwa untuk mendapatkan informasi prosedur perumusan suatu standar mudah. Akan tetapi dengan jumlah yang cukup besar juga (34,43% dari 61 responden) responden menyatakan bahwa untuk mendapatkan informasi tersebut sulit. Sebagian besar yang menyatakan bahwa untuk memperoleh informasi prosedur perumusan standar masih sulit adalah dari responden kelompok industri. Bahkan jumlah responden industri yang menyatakan bahwa
memperoleh informasi prosedur penyusunan standar masih sulit (56,52% dari 23 responden) lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan yang menyatakan mudah (39,13% dari 23 responden).
Berbeda dengan kelompok responden industri, kelompok responden pemerintah yang menyatakan sangat mudah dan mudah memperoleh informasi prosedur penyusunan standar jumlahnya lebih besar (21,74% dan 60,87% dari 23 responden) dibandingkan dengan responden yang menyakatan sulit dan sangat sulit (17,39% dan 0% dari 23 responden). Kondisi tersebut dapat dijadikan indikator bahwa penyampaian informasi mengenai prosedur pembuatan standar belum berjalan secara optimal, khususnya kepada industri.
Padahal informasi mengenai prosedur penyusunan standar sangat berguna bagi pelaku usaha (industri) yang akan menerapkan standar. Jika informasi prosedur penyusunan ini diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan, terutama pelaku usaha, diharapkan keterlibatan mereka di dalam penyusunan standar menjadi besar. Keterlibatan yang besar dari pelaku usaha dalam penyusunan dan konsensus standar diharapkan dapat meningkatkan keberterimaan dan penerapan standar yang dihasilkan.
Dari responden yang menyatakan bahwa mereka mengetahui tahapan proses pembuatan standar perlu diketahui juga cara dan media yang dimanfaatkan untuk memperoleh informasi tersebut. Gambar 12 memperlihatkan sumber informasi yang digunakan oleh responden untuk memperoleh inforasi mengenai prosedur penyusunan standar.
Gambar 12 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (40,91% dari 66 jawaban responden) menjawab bahwa sumber informasi perumusan standar diperoleh dari website/internet. Hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk meningkatkan keterbukaan informasi perumusan standar akan lebih efektif jika dilakukan melalui website/internet.
Gambar 12. Sumber Informasi Perumusan Standar
Urutan kedua responden menjawab bahwa informasi prosedur penyusunan standar diperoleh dari instansi tempat responden bekerja, dengan jumlah 30,30% dari 66 jawaban responden. Sebagian besar yang menjawab hal tersebut adalah responden kelompok pemerintah. Hal ini dapat dipahami karena pemerintah merupakan lembaga yang berwenang dalam mengkoordinasi perumusan standar dan sebagai regulator yang memberlakukan standar. Sebagian responden yang lain menjawab informasi prosedur penyusunan standar diperoleh melalui surat dari intansi terkait dan perorangan dengan masing-masing jumlah 21,21% dan 1,51% dari total 66 jawaban responden.
B. Prinsip Terbuka
Terbuka adalah salah satu prinsip yang harus dipenuhi di dalam perumusan dan pengembangan suatu standar. Terbuka dapat diartikan bahwa di dalam menyusun dan menetapkan suatu standar keamanan pangan, semua stakeholder harus dilibatkan. Pihak pemerintah, industri, akademisi, dan konsumen harus terlibat di dalam perumusan dan penetapan standar keamanan pangan. Semua stakeholder diberi kesempatan yang sama dalam menyampaikan aspirasi dan suara dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar.
Gambar 13. Keterlibatan Responden sebagai Panitia Teknis Perumusan Standar Gambar 13 di atas memperlihatkan bahwa sebagian besar responden yang berpartisipasi dalam survei ini pernah dilibatkan sebagai panitia teknis penyusunan suatu standar (60% dari 60 responden), meskipun masih banyak responden yang merasa belum dilibatkan sebagai panitia teknis perumusan standar (40% dari 60 responden). Hal ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui lebih jauh mengenai pelaksanaan perumusan dan penetapan standar di tingkat panitia teknis berdasarkan informasi dari responden yang berpartisipasi dalam survei ini.
Gambar 14. Partisipasi Responden dalam Memberikan Masukan terkait Pembuatan Suatu Standar Pangan
Gambar 14 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (81,36% dari 59 responden) pernah dimintai/memberikan masukan terkait dengan pembuatan suatu standar. Dalam jumlah yang lebih kecil (18,64% dari 59 responden) menyatakan bahwa mereka tidak pernah dimintai masukan terkait dengan pembuatan suatu standar. Jika dilihat per kelompok responden, 23,81% pemerintah, 17,39% industri, 0% akademisi, 25% lembaga konsumen menyatakan tidak pernah dimintai masukan terkait pembuatan suatu standar.
Sebagian besar kelompok responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan tidak pernah dimintai masukan terkait pembuatan standar berasal dari daerah (Tabel 12). Responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan tidak pernah dimintai masukan terkait pembuatan standar masing-masing sebesar 80% dan 100% berasal dari instansi di daerah
Tabel 12. Partisipasi Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah dalam Memberikan Masukan terkait Pembuatan Standar Pangan
Pertanyaan: Apakah Anda/instansi Anda pernah dimintai masukan terkait
pembuatan suatu standar pangan yang terkait bidang Anda?
Jawaban Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak Responden Pemerintah Daerah 5 4 9 44,44 Keseluruhan 16 5 21 23,81
% Daerah terhadap Keseluruhan 31,25 80,00 42,86
-Responden Lembaga Konsumen
Daerah 1 2 3 66,67
Keseluruhan 6 2 8 25,00
% Daerah terhadap Keseluruhan 16,67 100,00 37,50
-Gambar 15 memperlihatkan jumlah responden yang pernah dan tidak pernah mengusulkan pembuatan standar pangan jumlahnya hampir berimbang. Setiap kelompok responden ada yang pernah mengusulkan pembuatan standar pangan. Akan tetapi jumlah responden yang pernah mengusulkan pembuatan suatu standar pangan jumlahnya lebih kecil (45,61% dari 57 responden) dibandingkan dengan jumlah responden yang tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar pangan (54,39% dari 57 responden). Sebagian besar kelompok responden industri (65,22% dari 23 responden) menyatakan tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar pangan.
Gambar 15. Peran Responden dalam Mengusulkan Pembuatan Standar Pangan Tingkat partisipasi dari semua stakeholder di dalam mengusulkan pembuatan suatu standar pangan sangat penting, terlebih untuk para pelaku usaha (industri) di bidang pangan yang nantinya akan menerapkan standar tersebut. Jika melihat Gambar 15 terlihat bahwa kelompok responden industri sebagian besar tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar. Hal ini akan menjadi salah satu indikator penyebab rendahnya tingkat penerapan suatu standar. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat para pelaku usaha merasa bahwa standar yang dibuat adalah tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Tabel 13. Peran Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah dalam Mengusulkan Pembuatan Standar Pangan
Pertanyaan: Apakah Anda/instansi Anda pernah mengusulkan
pembuatan suatu standar pangan?
Jawaban Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak Responden Pemerintah Daerah 5 4 9 44,44 Keseluruhan 12 7 19 36,84
% Daerah terhadap Keseluruhan 41,67 57,14 47,37
-Responden Lembaga Konsumen
Daerah 0 3 3 100,00
Keseluruhan 3 5 8 62,50
% Daerah terhadap Keseluruhan 0,00 60,00 37,50
-Selain itu, kelompok responden pemerintah juga masih banyak yang tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar. Kelompok responden pemerintah
ini pada umumnya berada di daerah yaitu sebesar 57,14% (Tabel 13). Hal ini menjadi tantangan dalam pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia. Keterlibatan dan usulan dari daerah sangat diperlukan dalam mempertimbangkan suatu standar, sehingga dapat diaplikasikan dengan mudah oleh semua pihak termasuk bagi instansi pemerintah yang ada di daerah.
C. Prinsip Konsensus dan Tidak Memihak
Prinsip konsensus dan tidak memihak dapat diartikan bahwa standar yang ditetapkan merupakan hasil kesepakatan di antara semua stakeholder dan mempertimbangkan asas keadilan dalam penetapannya. Gambar 16 dan Tabel 14 menunjukkan pendapat responden dari kelompok pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga konsumen tentang pelaksanaan prinsip konsensus dan tidak memihak di dalam penetapan suatu standar pangan.
Gambar 16. Keterlibatan Responden dalam Pengambilan Keputusan Saat Penetapan Standar
Gambar 16 memperlihatkan bahwa dengan jumlah yang hampir sama responden yang menyatakan bahwa mereka pernah dan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam penetapan suatu standar pangan dengan jumlah masing-masing 56,67% dan 43,33% dari 60 total responden. Responden kelompok pemerintah (sebagian besar berada di daerah, Tabel 14) yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut juga jumlahnya masih
relatif besar. Responden pemerintah dan lembaga konsumen yang merasa belum dilibatkan dalam pengambilan keputusan suatu standar pangan masing-masing sebesar 81,82% dan 100% dari instansi di daerah. Ke depan efektifitas peran semua stakeholder dalam pengambilan keputusan dalam penetapan suatu standar sangat diperlukan untuk menghasilkan standar yang baik dan dapat diterapkan dengan efektif.
Tabel 14. Keterlibatan Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah dalam Pengambilan Keputusan Saat Penetapan Standar
Pertanyaan: Apakah Anda/instansi Anda pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan suatu standar pangan?
Jawaban Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak Responden Pemerintah Daerah 1 9 10 90,00 Keseluruhan 11 11 22 50,00
% Daerah terhadap Keseluruhan 9,09 81,82 45,45
-Responden Lembaga Konsumen
Daerah 0 3 3 100,00
Keseluruhan 5 3 8 37,50
% Daerah terhadap Keseluruhan 0,00 100,00 37,50
-Jumlah responden yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan suatu standar dan jumlah responden yang terlibat sebagai panitia teknis perumusan standar hampir sama. Total responden yang menyatakan pernah terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar sebanyak 56,67% dari 60 responden (Gambar 16), sedangkan total responden yang menyatakan pernah terlibat sebagai panitia teknis perumusan standar sebesar 60% dari 60 responden (Gambar 13). Hal ini menunjukkan konsistensi dari data yang diperoleh, yaitu responden yang tidak terlibat sebagai panitia teknis juga tidak akan terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar.
Sekitar 60% responden dari total 60 responden yang menyatakan pernah terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar pangan, kemudian diberikan pertanyaan lanjutan. Pertanyaan tersebut terkait dengan pelaksanaan proses pengambilan keputusan. Tabel 15 menunjukkan pendapat responden terhadap pelaksanaan pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar.
Tabel 15. Pendapat Responden terhadap Pelaksanaan Pengambilan Keputusan Saat Penetapan Standar
Pertanyaan 1 : Apakah aspirasi Anda diterima/diakomodasi dalam pengambilan keputusan? Kelompok
Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total
Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Ya 9 75 1 7,69 3 60 2 33,33 15 41,67
2= Sebagian 3 25 12 92,31 2 40 3 50 20 55,55
3= Tidak 0 0 0 0 0 0 1 16,67 1 2,78
Total 12 100 13 100 5 100 6 100 36 100
Pertanyaan 2 : Seberapa besar pengaruh Anda/Instansi Anda dalam pengambilan keputusan? Kelompok
Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total
Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Sangat besar 5 41,67 0 0 0 0 2 33,33 7 19,44
2= Besar 4 33,33 1 7,69 1 20 2 33,33 8 22,22
3= Cukup besar 2 16,67 8 61,54 3 60 1 16,67 14 38,90
4= Kecil 1 8,33 4 30,77 1 20 1 16,67 7 19,44
Total 12 100 13 100 5 100 6 100 36 100
Pertanyaan 3 : Menurut Anda bagaimana proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan? Kelompok
Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total
Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Berimbang 10 90,91 6 46,15 2 40 3 60 21 61,76
2= Tidak berimbang 1 9,09 7 53,85 3 60 2 40 13 38,24
Total 11 100 13 100 5 100 5 100 34 100
Tabel 15 pada Pertanyaan 1 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (55,56% dari 36 responden) menyatakan bahwa hanya sebagian aspirasi mereka diterima atau diakomodasi dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar. Responden yang menyatakan hal tersebut sebagian besar dari kelompok industri (92,31% dari 13 responden kelompok industri). Hal ini berbeda dengan kelompok pemerintah yang menyatakan bahwa aspirasi mereka diterima (sepenuhnya) di dalam pengambilan keputusan dalam penetapan suatu standar (75% dari 12 responden kelompok pemerintah). Perbedaan persepsi ini akan menjadi penghambat dalam penerapan standar. Kelompok industri menganggap bahwa standar yang dibuat adalah bukan hasil kesepakatan yang adil dikarenakan tidak semua aspirasinya diterima di dalam pengambilan keputusan
dalam penetapan standar tersebut. Untuk itu, mekanisme dan pelaksanaan dalam pengambilan keputusan perlu diperbaiki agar semua stakeholder yang terlibat tidak ada yang merasa tidak atau kurang diperhatikan dalam menyampaikan aspirasinya.
Tabel 15 pada Pertanyaan 2 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (38,89% dari 36 responden) menyatakan bahwa pengaruh mereka di dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar cukup besar. Responden yang menyatakan bahwa pengaruhnya kecil dan cukup besar dalam pengambilan keputusan penetapan standar sebagian besar dari responden kelompok industri (30,77% dan 61,54% dari 13 responden kelompok industri). Sebagian besar responden kelompok pemerintah menyatakan bahwa pengaruhnya sangat besar dan besar di dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar (41,67% dan 33,33% dari 12 responden kelompok pemerintah). Perbedaan penilaian tersebut juga dapat memperlihatkan persepsi ketidakadilan di dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar, terutama bagi kalangan industri/pelaku usaha.
Tabel 15 pada Pertanyaan 3 memperlihatkan pendapat responden terhadap proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar. Meskipun secara total sebagian besar responden (61,76% dari 34 responden) menyatakan bahwa proporsi setiap instansi sudah seimbang, tetapi jika dilihat per kelompok responden akan terlihat penilaian yang berbeda. Sebagian besar kelompok responden industri menyatakan bahwa saat ini proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan penetapan suatu standar tidak berimbang. Dari total 13 responden kelompok industri, 53,85% menyatakan tidak berimbang, sedangkan 46,15% yang menyatakan berimbang.
Hal sebaliknya dinyatakan oleh responden kelompok pemerintah yang hampir seluruhnya menyatakan bahwa proporsi pengambilan keputusan sudah berimbang. Dari total 11 responden, 90,91% kelompok responden pemerintah menyatakan berimbang, sedangkan hanya 9,09% yang menyatakan tidak berimbang. Hal tersebut menunjukkan perbedaan persepsi lagi antara responden kelompok pemerintah dan kelompok industri.
D. Prinsip Efektif dan Relevan
Prinsip efektif dan relevan dapat diartikan bahwa standar yang dibuat harus dapat digunakan dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan para pelaku usaha. Kesiapan pelaku usaha di dalam menerapkan standar yang dibuat harus diperhatikan agar standar dapat digunakan secara efektif.
Gambar 17. Pengetahuan Responden terhadap SNI produknya
Gambar 17 memperlihatkan bahwa hampir semua responden (92,73% dari 55 responden) mengetahui standar SNI untuk produk yang dihasilkannya. Sebanyak 100% dari 23 responden kelompok industri mengetahui SNI produknya. Hal ini menjadi indikator awal kemungkinan semua responden, terutama pelaku usaha (industri) untuk menerapkan standar pangan yang telah ditetapkan. Akan tetapi, pengetahuan responden (industri) akan SNI produknya belum tentu akan berimplikasi pada penerapan SNI tersebut pada produk yang dihasilkan responden (industri). Tingkat penerapan standar oleh responden (industri) dapat dilihat pada Gambar 18, Gambar 19, dan Gambar 20.
Gambar 18. Pendapat Responden Mengenai Penerapan Standar
Gambar 18 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (65,38% dari 52 responden), termasuk pelaku usaha (industri) telah menerapkan standar yang dikeluarkan oleh BSN/BPOM. Akan tetapi jika dilihat per kelompok responden, terlihat masih banyak pelaku industri (30,43% dari 23 responden) menyatakan hanya sebagian standar yang dikeluarkan/ditetapkan BPOM dan BSN diterapkan di instansinya. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan standar yang dikeluarkan BPOM dan BSN belum sepenuhnya efektif diterapkan oleh pelaku usaha. Kondisi rendahnya penerapan standar pangan terutama yang telah dikeluarkan oleh BSN dapat dilihat kajian BSN (2009).
Gambar 19 memperlihatkan bahwa hampir semua responden (90,38% dari 52 responden) menyatakan bahwa penerapan standar memberikan manfaat bagi diri atau instansinya. Hanya sebagian kecil (9,62% dari 52 responden) terutama dari responden kelompok industri dan akademisi yang menyatakan bahwa penerapan standar memberikan manfaat sebagian (tidak sepenuhnya). Sebanyak 17,39% dari 23 responden kelompok industri menyatakan bahwa penerapan standar hanya sebagian memberikan manfaat.
Gambar 20. Pendapat Responden Mengenai Hambatan dalam Penerapan Standar Kajian BSN (2009) menunjukkan bahwa penerapan penerapan standar pangan SNI yang bersifat sukarela masih rendah, untuk itu perlu dicari faktor-faktor yang menjadi penghambat di dalam penerapan standar pangan SNI tersebut. Gambar 20 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (53,33% dari 60 responden) menyatakan bahwa kesiapan lab uji adalah faktor penghambat utama di dalam penerapan standar (keamanan) pangan. Selain itu, faktor biaya dan teknologi juga menjadi penghambat dalam penerapan suatu standar (keamanan) pangan dengan jumlah responden masing-masing 33,33% dan 13,33% dari total 60 responden.
Jika dilihat secara khusus pada jawaban kelompok responden industri sebagai kelompok yang akan menerapkan standar, terlihat bahwa sebanyak 58,62%, 31,03%, 10,35% dari 29 jawaban responden kelompok industri berturut-turut memberikan jawaban faktor kesiapan lab uji, biaya, dan teknologi yang
menjadi penghambat di dalam penerapan standar. Untuk itu, di dalam menyusun dan menetapkan suatu standar (keamanan) pangan faktor tersebut (kesiapan lab uji, biaya, dan teknologi) dan terutama faktor kesiapan lab uji harus diperhatikan agar standar yang dibuat efektif diterapkan oleh pelaku usaha.
Menurut Othman (2006) infrastruktur labororatorium yang memadai sangat dibutuhkan untuk mendukung kegiatan monitoring, surveilan, dan penegakan peraturan dalam meningkatkan sistem keamanan pangan. Kesiapan laboratorium meliputi peralatan pada laboratorium pengawasan pangan, analis yang terlatih, dan implementasi Sistem Jaminan Mutu yang sesuai dengan standar internasional. Tantangan terbesar bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam meningkatkan kemampuan laboratorium pengawasan pangan adalah dengan memperkecil nilai limit of detection (LOD) pada alat laboratorium yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan zat yang dilarang menurut peraturan.
Gambar 21. Pendapat Responden Mengenai Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Perumusan Standar
Gambar 21 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa faktor perdagangan, kesehatan, kesiapan teknologi, gizi, dan lingkungan
sangat penting dan penting diperhatikan dalam perumusan standar. Lebih dari 50% pada setiap faktor, responden menyatakan bahwa faktor-faktor tersebut sangat penting dipertimbangkan dalam perumusan standar. Responden sepakat bahwa faktor utama yang perlu diperhatikan adalah kesehatan (98,28% dari 58 responden).
E. Prinsip Koheren
Prinsip koheren dapat diartikan bahwa standar yang disusun harus memperhatikan standar atau peraturan lain baik yang berlaku di dalam maupun luar negeri. Hal ini untuk menjamin bahwa tidak terjadi tumpang-tindih (overlap) standar atau peraturan di dalam negeri. Selain itu, diharapkan adanya harmonisasi standar yang dibuat dengan standar di luar negeri dan standar yang berlaku secara internasional seperti standar Codex.
Gambar 22. Pendapat Responden Mengenai Penerapan Prinsip Koheren dengan Standar di Dalam Negeri
Gambar 22 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (41,38% dari 58 responden) menyatakan bahwa otoritas pembuat standar sudah baik di dalam memperhatikan standar lain di dalam negeri saat perumusan suatu standar. Akan tetapi, responden yang menyatakan cukup dan kurang juga jumlahnya cukup besar masing-masing 32,76% dan 18,96% dari 58 responden.
Masih banyak responden kelompok industri yang menyatakan bahwa otoritas pembuat standar kurang memperhatikan standar lain di dalam negeri dalam perumusan standar. Sebanyak 50% dan 31,82% dari 22 responden kelompok industri berturut-turut memberikan jawaban “cukup” dan “kurang” dalam menilai pertimbangan regulasi atau standar lain yang berlaku di dalam negeri saat perumusan standar. Penilaian sebaliknya diberikan oleh kelompok responden pemerintah, sebanyak 13,64% dan 63,64% dari 22 responden kelompok pemerintah berturut-turut memberikan jawaban “sangat baik” dan “baik” dalam menilai pertimbangan regulasi atau standar lain yang berlaku di dalam negeri saat perumusan standar.
Penilaian responden dari kelompok industri pada survei di atas sesuai dengan hasil FGD yang mengungkapkan bahwa beberapa standar keamanan pangan di dalam negeri memiliki kesamaan dan tumpang-tindih seperti SK BPOM tentang Cemaran Kimia dan Mikrobiologi dan SNI produk pangan yang dikeluarkan BSN. Selain itu, permasalahan standar Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.722/Menkes/PER/XI/88 tentang Bahan Tambahan Makanan dan SK BPOM yang akan merevisi Permenkes tersebut juga masih memiliki ketidakharmonisan standar.
Gambar 23. Pendapat Responden terhadap Aturan Internasional/Regional yang Sering Menjadi Rujukan dalam Penetapan Standar
Gambar 23 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (74,65% dari 71 jawaban responden) menyatakan bahwa Codex merupakan aturan internasional utama yang menjadi rujukan di dalam pembuatan standar keamanan pangan di Indonesia. Standar Codex Alimentarius Committee (CAC) adalah standar internasional yang perlu menjadi acuan dalam menetapkan standar di tingkat nasional. Jika ada perselisihan perdagangan antar negara, terutama anggota WTO (World Trade Organization) karena terkait dengan standar keamanan pangan, maka standar CAC yang akan menjadi acuan dalam penyelesaian perselisihan tersebut. Hal ini telah menjadi kesepakatan bersama antara negara-negara anggota WTO (Randel, 2000).
Gambar 24. Pendapat Responden terhadap Aturan Negara Lain yang Sering Menjadi Rujukan dalam Penetapan Standar
Gambar 24 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (52,05% dari 60 responden) menyatakan bahwa peraturan negara Amerika Serikat merupakan peraturan yang sering menjadi rujukan di dalam pembuatan standar keamanan pangan. Peraturan atau standar dari Amerika Serikat ini selain merupakan negara tujuan ekspor produk pangan dari Indonesia, Amerika Serikat juga merupakan negara yang memiliki andil besar dalam menetapkan standar keamanan pangan di CAC. Selain itu, peraturan atau standar dari negara tujuan ekspor juga perlu dipertimbangkan dalam perumusan suatu standar di Indonesia (28,77% dari 60 responden menyatakan demikian).
Menurut Randel (2000) setiap negara memiliki standar yang berbeda, hal ini tidak dapat dihindari. Untuk itu, diperlukan harmonisasi dan adanya saling pengakuan oleh setiap negara pada standar yang dibuat negara lain. Masalah harmonisasi standar ini juga dialami oleh Indonesia. Standar yang ditetapkan di Indonesia diharapkan dapat memperlancar perdagangan internasional, produk dalam negeri dapat diekspor ke negara lain, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat. Standar yang ditetapkan di Indonesia diharapkan dapat diterima oleh negara lain, terutama di negara tujuan ekspor produk dari Indonesia dan negara asal impor produk pangan ke Indonesia.
F. Prinsip Berdimensi Pengembangan
Indonesia masih dianggap sebagai negara yang masih berkembang. Di dalam mengembangkan standar keamanan pangan, kondisi potensi dan kemampuan negara Indonesia perlu dipertimbangkan. Untuk itu, dimensi pengembangan dalam perumusan standar di Indonesia perlu diperhatikan dengan melihat faktor-faktor yang ada di dalam negeri. Menurut Marovatsanga (2000) beberapa permasalahan yang dihadapi oleh negara berkembang termasuk Indonesia di dalam pengembangan peraturan atau standar di bidang pangan adalah:
Ketidakcukupan dan ketidaksesuaian peraturan dengan kebutuhan
Tidak cukupnya sumber daya dan/atau ketidakmampuan memaksimalkan sumber daya yang tersedia
Kegagalan mengembangkan strategi pengawasan pangan nasional dan rendahnya penerapan serta manajemen program dan aksi
Ketidakcukupan laboratorium dan lembaga inspeksi Ketidakcukupan jumlah personal teknis yang terlatih
Rendahnya koordinasi antara badan pengawas, pemerintah, akademisi, industri, dan konsumen di dalam menyesuaikan dengan standar internasional
Lemahnya kemauan politik dan komitmen terhadap keamanan pangan dan standar
Kondisi tersebut menjadi perhatian di dalam mengembangkan standar keamanan pangan di Indonesia. Pada Gambar 25 dan Gambar 26 diperlihatkan pendapat responden dari pemerintah, industri, akademisi, dan konsumen mengenai faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan di dalam perumusan standar. Faktor-faktor tersebut meliputi pengembangan pangan berbasis bahan baku lokal, pengembangan UMKM, dan peningkatan daya saing produk Indonesia.
Gambar 25. Pendapat Responden Mengenai Pentingnya Faktor-Faktor Tertentu sebagai Penerapan Prinsip Berdimensi Pengembangan di dalam Perumusan Standar
Gambar 25 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden setuju bahwa pengembangan pangan berbasis bahan baku lokal, pengembangan UMKM, dan peningkatan daya saing produk Indonesisa adalah hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam perumusan suatu standar keamanan pangan. Sebagian responden menyatakan bahwa pengembangan pangan berbasis sumber daya lokal pengembangan UMKM, dan peningkatan daya saing produk Indonesia sangat penting diperhatikan dengan masing-masing jumlah 85,25% dari 61 responden, 75% dari 60 responden, dan 98,35% dari 61 responden.
Pengembangan pangan berbasis bahan baku lokal perlu diperhatikan dalam perumusan dan penetapan standar di bidang pangan. Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.
Pemberdayaan kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perlu diperhatikan dalam pengembangan suatu standar. Mengingat sebagian besar pelaku usaha yang memproduksi pangan termasuk kelompok UMKM ini. Berdasarkan data dari BPS (2009) menunjukkan bahwa lebih dari 99% jenis usaha pangan yang diusahakan masyarakat Indonesia memiliki skala usaha kecil dan rumah tangga. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengambil kebijakan terutama perumus standar untuk memperhatikan kepentingan UMKM yang jumlahnya sangat besar. Di sisi lain, hasil kajian Othman (2006) yang meneliti kondisi keamanan pangan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menyatakan bahwa UMKM di Asia Tenggara memiliki tingkat apresiasi yang rendah terhadap penerapan good hygienic practices (GHP), good agricultural
practices (GAP), dan good manufacturing practices (GMP). Hal ini menjadi
tantangan bagi para perumus kebijakan (standar) pangan di Indonesia untuk lebih memperhatikan kepentingan UMKM dan terus membina mereka agar dapat menerapkan standar keamanan pangan.
Gambar 26. Perankingan Beberapa Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Perumusan Standar
Berdasarkan Gambar 26 di atas terlihat bahwa urutan total ranking dari yang paling kecil berturut-turut adalah faktor perlindungan kesehatan konsumen/masyarakat, perlindungan produk dalam negeri, kesiapan laboratorium uji, dan kesiapan adopsi teknologi. Hal ini memperlihatkan bahwa setiap kelompok responden setuju bahwa faktor yang utama dan pertama dipertimbangakan di dalam perumusan standar adalah perlindungan kesehatan masyarakat.
4.2.3. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku dan Pelaksanaannya
Hasil Focus Group Discussion (FGD) dan survei merupakan gambaran dari pelaksanaan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar dan peraturan. Gambaran dari pelaksanaan perumusan dan pengembangan standar dan perturan tersebut dibandingan dengan dokumen yang telah ditetapkan oleh BSN dan BPOM RI. Hasil analisis gap antara perumusan standar dan peraturan berdasarkan dokumen yang berlaku dan pelaksanaannya dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku di BSN dan BPOM dibandingkan dengan Pelaksanaannya
No Kategori Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Pelaksanaan Prosedur Perumusan Standar Berdasarkan Hasil FGD dan Survei Rekomendasi BSN BPOM 1 Trans-paran Prosedur perumusan standar dapat diakses di website: http://bsn.or.id/dan telah ditetapkan oleh kepala BSN Prosedur perumusan peraturan (pemberlakuan standar) belum diketahui secara luas oleh pihak yang
berkepentingan
FGD: pihak industri menyatakan masih banyak kebijakan yang dikeluarkan BPOM tidak melalui prosedur yang baku dan tidak diketahui oleh pengguna (industri)
18,33% total responden (13,04% pemerintah(i), 8,33% industri, 0%
akademisi, 37,5% lembaga konsumen(i)) menyatakan tidak mengetahui prosedur perumusan standar
Terjadi perbedaan persepsi antara kelompok responden pemerintah dan industri mengenai kemudahan dalam memperoleh informasi perumusan standar:
3,28% total responden (0% pemerintah, 4,35% industri, 0% akademisi, 12,5% lembaga konsumen) menyatakan sangat sulit untuk mendapatkan informasi perumusan standar
34,43% total responden (17,39% pemerintah, 56,52% industri, 42,86% akademisi, 12,5% lembaga konsumen) menyatakan sulit untuk mendapatkan informasi perumusan standar
47,54% total responden (60,87% pemerintah, 39,13% industri, 28,57% akademisi, 50% lembaga konsumen) menyatakan mudah untuk mendapatkan informasi perumusan standar
14,75% total responden (21,74% pemerintah, 0% industri, 28,57% akademisi, 25% lembaga konsumen) menyatakan sangat mudah untuk mendapatkan informasi perumusan standar 40,91% total responden (40,74% pemerintah, 36,84% industri, 62,5%
akademisi, 33,33% lembaga konsumen) menyatakan bahwa mengetahui prosedur penyusunan standar dari informasi website.
Otoritas pembuat standar dapat memberikan informasi prosedur perumusan standar dan kebijakan lainnya, sehingga semua pihak dapat mengikuti perkembangan dan terlibat di dalamnya Media yang dapat digunakan
untuk penyebaran informasi perumusan standar adalah melalui internet/website