ANALISA PERFORMANSI JARINGAN BERDASARKAN PARAMETER KEY PERFORMANCE INDIKATOR 3RD CARRIER CELL PADA
JARINGAN 3G
Dian Widi Astuti1, Dyan Tri Utomo2
Abstrak - Operator telekomunikasi selalu bersaing untuk meningkatkan kualitas layanan teknologi komunikasi yang dimilikinya, untuk itulah operator telekomunikasi melakukan upgrade software dan hardware. Pada penelitian ini operator menambahkan jumlah cell 3G dengan frekuensi yang berbeda. Perlu diperhatikan adalah ketika operator berhasil menaikkan kapasitas, performansi dari KPI yang lain ada yang menurun. Sehingga diperlukan sebuah tindakan lebih lanjut untuk mengembalikan nilai KPI tersebut ke dalam standar normal jaringan. Pada penelitian ini, analisa yang dilakukan adalah untuk memastikan salah satu Node B di kota Medan sukses terimplementasi 3rd carrier baik secara konfigurasi maupun performansi jaringannya. Penurunan nilai KPI pada awal setelah
implementasi pasti terjadi karena frekuensi 3rd carrier lebih agresif dibanding yang lainnya. Perlu dilakukan optimasi dengan menggunan script yang terdapat pada software Operation and Maintanance M2000 PT. Huawei Tech
Investment, dengan melihat terlebih dahulu index KPI dan parameter pendukung lainnya seperti dari Congestion.
Dari hasil penelitian ini didapatkan nilai kenaikan untuk parameter KPI untuk data service yang tinggi dan Congestion yang hilang.
Kata kunci : KPI, Accessibility, Retainability, Mobility, Congestion PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan teknologi smartphone yang canggih dan penambahan jumlah pengguna
smartphone yang meningkat pesat
Email: [email protected] 1,2Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik
maka traffic menjadi meningkat pesat sehingga akan mengancam keandalan jaringan operator jika jaringan tidak diperbaharui. Sebagai salah satu solusinya yaitu meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data user dengan implementasi penambahan
channal/carrier baru. Oleh karena
itu, peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul "Analisa key
performance indicator (KPI) 3rd carrier cell pada jaringan 3G".
Rumusan Masalah
Carrier baru atau 3rd carrier yang
diimplementasi umumnya menggunakan value konfigurasi
default yang sangat dimungkinkan
dapat mengganggu performance
carrier lainnya dalam 1 Node B
terutama traffic yang tidak balance karena penambahan carrier ini ditujukan untuk menambah kapasitas data. Oleh karena itu, peneliti akan membahas, bagaimana solusi untuk mengatasi masalah tersebut agar 3rd carrier dapat sukses terimplementasi?
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa 3rd carrier agar dapat sukses terimplementasi pada
jaringan sistem seluler 3G di Indonesia sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Indonesia. DASAR TEORI Perkembangan sistem telekomunikasi bergerak (selular) Perkembangan teknologi telekomunikasi terutama teknologi selular sudah di mulai sejak pertengahan tahun 90-an dengan mengusung teknologi Generasi Pertama (1G) dengan menggunakan teknologi Advance Mobile Phone
System (AMPS). Teknologi AMPS
ini pertama kali digunakan oleh pihak militer di Amerika Serikat. Dalam kurun waktu 10 tahun sejak lahirnya AMPS sudah terjadi perkembangan yang sangat pesat dengan berbagai penemuan atau inovasi teknologi komunikasi dan pada akhir tahun 90-an munculah teknologi Generasi Kedua (2G). Perbedaan utama dari teknologi 1G dan 2G adalah 1G masih menggunakansistem analog sedangk an 2G sudah menggunakan sistem digital. 2G sudah dapat melakukan short message service
(SMS) tidak hanya panggilan suara
saja. Seiring dengan perkembangannya sistem 2G dapat mentransmisikan paket data untuk internet. Teknologi lanjutan ini dinamakan General Packet Radio
Service (GPRS) atau bisa disebut 2,5
G. GPRS memiliki kecepatan akses data sampai 115 Kbps. Perkembangan teknologi selanjutnya adalah 2,75 G. Sistemnya disebut
Enhanched Data Rates for GSM Evolution (EDGE). EDGE ini
kecepatannya dapat mencapai 384 Kbps. Selanjutnya teknologi berkembang lagi dari UMTS sampai LTE.
Parameter KPI
KPI adalah indikator yang menunjukan performansi dari sebuah jaringan seluler. Penetapan nilai KPI digunakan selama melakukan perencanaan dan optimalisasi jaringan. Diawali dengan target KPI yang akan digunakan dalam perancangan, formula yang digunakan, identifikasi output jaringan, serta merumuskan dan menghitung KPI untuk optimalisasi jaringan.
Accessibility
Radio Resource Control Success Rate (RRC SR)
Parameter ini dapat digunakan untuk mengevaluasi nilai keberhasilan signaling yang dilakukan user. RRC
Success Rate didapatkan dari
keberhasilan user melakukan signaling dibagi dengan seluruh signaling yang ada pada waktu tersebut dikalikan 100%, seperti pada persamaan 2.1 di bawah ini :
∗
100% (2.1)
Call Setup Success Rate Circuit Switch (CSSR CS)
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan user dalam menduduki kanal untuk layanan circuit switch hingga user melakukan pembicaraan. CSSR CS didapatkan dari panggilan yang berhasil dibagi dengan semua percobaan panggilan dikali 100%, seperti pada persamaan 2.2.
∗
∗ 100% (2.2)
Call Setup Success Rate Packet Switch (CSSR PS)
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan user
dalam menduduki kanal untuk layanan packet switch hingga user melakukan panggilan. CSSR PS didapatkan dari panggilan untuk data yang berhasil dibagi dengan semua percobaan panggilan untuk data dikali 100%, seperti pada persamaan 2.3.
∗
∗ 100% (2.3) Call Setup Success Rate High Speed Downlink Access (CSSR HSDPA)
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan user dalam menduduki kanal dengan layanan HSDPA hingga user melakukan panggilan pada layanan yang digunakan. CSSR HSDPA didapatkan dari panggilan yang berhasil dibagi dengan semua percobaan panggilan dikali 100% digunakan pada layanan HSDPA, seperti pada persamaan 2.4
∗
∗ 100% (2.4) Retainability
Call Drop Rate Circuit Switch (CDR CS)
Parameter ini digunakan untuk mengevaluasi panggilan yang gagal pada layanan circuit switch yang
sedang berlangsung sebelum user mengakhiri sambungan. Panggilan gagal terjadi akibat adanya keadaan tidak normal pada RNC yang disebabkan oleh RAB release request dikali 100%, seperti pada persamaan 2.5
∗ 100%
(2.5)
Call Drop Rate Packet Switch (CDR PS)
Parameter ini dapat digunakan untuk mengevaluasi rasio panggilan yang gagal yang ada di layanan packet switch yang sedang berlangsung sebelum user mengakhiri sambungan. Panggilan gagal terjadi akibat adanya keadaan tidak normal pada RNC yang disebabkan oleh RAB release request dikali 100%, seperti pada persamaan 2.6
∗ 100%
(2.6)
Call Drop Rate HSDPA (CDR
HSDPA)
Parameter ini dapat digunakan untuk mengevaluasi rasio panggilan yang gagal yang ada di layanan HSDPA yang sedang berlangsung sebelum
Panggilan gagal terjadi akibat adanya keadaan tidak normal pada
RNC yang disebabkan oleh RAB
release request dikali 100%, seperti persamaan 2.7 _ _ ∗ 100% (2.7) Mobility
SHO Success Rate
Parameter KPI ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laju keberhasilan Soft Handover dalam suatu site yang berbeda, termasuk softer handover. Nilai SHO SR didapatkan dari nilai keberhasilan SHO dibagi dengan percobaan SHO yang ada dikalikan 100%, seperti pada persamaan (2.8) ∗ 100% (2.8) ISHO CS
Parameter KPI ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laju keberhasilan handover layanan
circuit switch (CS) untuk 2
teknologi yang berbeda. Pada persamaan 2.9, keberhasilan inter system handover CS dibagi dengan
percobaan inter system handover layanan CS dikalikan 100%.
∗ 100%
(2.9)
ISHO PS
Parameter KPI ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laju keberhasilan handover layanan
packet switch (PS) untuk 2 teknologi
yang berbeda. Keberhasilan inter system handover PS dibagi dengan percobaan inter system handover layanan PS dikalikan 100%, seperti pada persamaan (2.10)
∗ 100%
(2.10)
Pengumpulan Data Performance - Lihat data site basic
- Buka NMS M2000
- Login ke server RNMDN06 - Masukkan counter-counter raw
data ke query data M2000
- Masukkan formula di tools Ms. Access
- Query raw data, simpan lalu olah data di tools Ms. Access
Tabel Site Basic
Analisa Data Performance
Berikut adalah data lengkap hasil penelitian:
Dari hasil penelitian diatas berikut masalah yang ditemukan dan solusinya:
# Sebelum CR Optimization 1 (CR 1) Masalah pertama: Pada tanggal 31 Mei pukul 12.00 terlihat trend kenaikan Traffic data khususnya.
Traffic PS DL F2 naik hampir 100%
sehingga menyebabkan drop call mengalami kenaikan. ISHO PS (3G ke 2G) pun menjadi tidak stabil karena handover yang dilakukan mengalami drop service terlebih dahulu.
Masalah kedua: Pada tanggal 1 Juni pukul 01.00 drop PS tidak stabil. Hal ini dikarenakan F3 gagal melakukan SHO dan DRD F2 down. Solusi:
- Cek jumlah user dan congestion - Setelah dicek dapat dipastikan
masalah pertama yang terjadi diakibatkan oleh PS UL CE & Code Congestion pada F3 sehingga traffic menjadi teralihkan ke carrier lainnya. Pada tanggal 29 sebelum implementasi juga ketika jumlah user naik site ini juga mengalami congestion yang tinggi.
- Balancing traffic load antar frekuensi yang berbeda dengan parameter optimasi Blind
Handover. Blind Handover
mengakibatkan Traffic yang masuk akan otomatis tersebar di setiap cell yang memiliki relasi beda frekuensi. Pengaturan fitur DRD Ec/No threshold juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas DRD sehingga tidak terjadi drop akibat DRD yang gagal dan handover sistem yang buruk.
- Perlambat inter frequency selection
cell F3
# Setelah CR Optimization 1 (CR 1) & Sebelum CR Optimization 2 (CR 2) Masalah pertama: Sama seperti hari sebelumnya, pada tanggal 1 Juni pukul 12.00 terlihat trend
kenaikan Traffic data khususnya. Total Payload HSDPA & PS UL meningkat. Drop tidak setinggi tanggal sebelumnya karena cell-cellnya sudah dioptimasi dan Traffic menjadi lebih balance. ISHO & IFHO ketika Traffic padat pun menjadi tidak stabil.
Masalah kedua: Pada tanggal 2 Juni pukul 02.00 drop PS tidak stabil. Hal ini dikarenakan F3 gagal melakukan SHO dan DRD F3 down. Solusi:
- Cek update user & congestion - Setelah dicek dapat dipastikan
masalah pertama yang terjadi msaih diakibatkan oleh Code Congestion pada F3 meskipun lebih kecil dari kemarin
- Traffic sudah balance, pengaturan fitur DRD Ec/no threshold F3 tidak meningkatkan kualitas DRDnya sehingga tidak terjadi drop akibat DRD yang gagal dan
handover sistem yang buruk.
Maka yang harus dilakukan adalah menghapus fitur DRD pada F3, menonaktifkan blind handover F3, menambah agresivitas inter frequency selection F1 & F2, serta
menaikan quality minimum selection F3.
# Hasil akhir
Setelah CR 2 pada tanggal 2 Juni 2014 dieksekusi pukul 08:00, hampir semua KPI menjadi lebih baik karena Traffic sudah balance dan congestion berhasil dihilangkan. CSSR PS & HSDPA F3 down pada tanggal 3 Juni pukul 04.00. Hal tersebut normal terjadi karena kondisi cell sedang idle. ISHO CS & PS tidak stabil pada tanggal 4 Juni pukul 13.00 karena PS DL Payload mengalami kenaikan. Hal tersebut terjadi karena pada CR 2 dilakukan pembatasan kualitas dan level sinyal dari user sehingga user yang tidak memenuhi kriteria akan
dihandover ke 2G system. Trend Traffic & Payload Node B ini
selalu meningkat ketika mendekati
weekend karena merupakan tempat
perbelanjaan. KESIMPULAN
1. Implementasi 3rd carrier cell untuk Node B PC254G_3G_ MEDAN_FAIR_PLAZA, pada dasarnya sama dengan Node B lainnya yaitu untuk meningkatkan kapasitas dan mengurangi congestion.
2. Cell 3rd carrier yang diimplentasi menyebabkan congestion dan drop call baik untuk service voice & data. Hal ini dikarenakan cell 3rd carrier
(F3) yang lebih agresif dibanding
cell lainnya. ARFCN 3rd carrier yang paling rendah dibanding
ARFCN F1 & F2, maka secara
tidak langsung cell ini adalah cell yang pertama kali dipilih UE untuk konektivitasnya.
3. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, balancing traffic dilakukan dengan cara mengaktifkan parameter Blind
Handover agar traffic yang
masuk dapat otomatis berbagi terhadap relasi cell yang berbeda frekuensi.
4. Pengaturan DRD Ec/No
Threshold dan agresivitas
selection cell juga dilakukan agar
fitur DRD dan selection dapat maksimal.
5. Meskipun traffic Node B sudah
balance, F3 masih tidak stabil KPI-nya. Hal konkret yang
dijadikan solusi adalah dengan cara menghapus fitur DRD dan menonaktifkan fitur Blind Handover F3 dan meningkatkan
agresivitas selection cell F1 &
F2. Penguatan level quality selection cell F3 ditambahkan
agar hanya UE yang dengan level dan kualitas sinyal tertentu yang dapat dicover F3 sehingga meminimalisir terjadinya drop. DAFTAR PUSTAKA
[1] Huawei. 2013. Hedex Library
2013. China : Huawei
[2] Sharing Session 3rd Carrier
Planning and Optimization Strategy. 2013. Jakarta :
Huawei
[3] Sharing Session OSS KPI
Formula. 2013. Jakarta :
Huawei
[4] Wardhana, Lingga. 2011.
2G/3G RF Planning and Optimization for Consultant.
Yogyakarta : Nulis Buku [5] Dahlman, et al. 2007. 3G
Evolution : HSPA and LTE for Mobile Broadband. England:
Academic Press.
[6] Kreher, Ralf. 2006. UMTS
Performance Measurement – A Practical Guide to KPIs for the UTRAN Environment. USA:
John Wiley & Sons Inc.
"Multi-Carrier HSPA Evolution". Stockholm: Ericsson.
[8] Hidayat, Rahmat. 2010. "Jurnal Penggelaran Teknologi HSPA+".