1
RESUME WEBINAR NASIONAL SERI 1
DEWAN PIMPINAN PUSAT PERSATUAN INTELIGENSIA KRISTEN INDONESIA (DPP PIKI)
KRISIS EKOLOGI: MENE MUKAN DAN MEMBANGUN MODEL EKOTEOLOGI IND ONESIA YANG BERKESADARAN GLOBAL.
MINGGU, 1 AGUSTUS 2021 PUKUL: 13.00-17.00 WIB
Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI), bidang Teologi dan Ekumenisme telah menyelenggarakan Webinar Nasional Seri 1 pada hari Minggu, 1 Agustus 2021, pukul 13.00-17.00 wib. Seri Webinar Nasional ini, terlaksana dengan thema Krisis Ekologi: Menenukan dan Membangun Ekoteologi yang Berkesadaran Global. Webinar ini dihadiri oleh 148 orang peserta dari berbagai wilayah Indonesia.
SAMBUTAN PEMBUKAAN KETUA UMUM DPP PIKI DR BADIKENITA SITEPU:
Kegiatan ini dibuka ecara resmi oleh Ketua Umum DPP PIKI Dr. Badekenita Sitepu, yang menekankan bahwa alam semesta merupakan “oikos” atau rumah bersama bagi manusia dan ciptaan lainnya, namun kondisi yang sedang kita hadapi sekarang ini memperlihatkan realitas krisis ekologis, sehingga DPP PIKI terpanggil untuk menunjukkan perannya dalam upaya membangun kesadaran ekoteologis melalui pelaksanaan seri webinar nasional. Ketua Umum DPP PIKI mengingatkan tentang komitmen Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan yang saling terkait dan terintegrasi dalam setiap langkah gereja Kristen di dunia sebagaimana menjadi komitmen Dewan Gereja-gereja Dunia.
2
PAPARAN NARASUMBER 1 (KEYNOTE SPEAKER, WAKIL MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN
KEHUTANAN)
Keynote Speaker dalam webinar ini adalah Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, (ALue Dohong P,hD.) . Webinar ini dipandu oleh Dr.Margie de Wanna sebagai moderator.
Dalam pemaparan materinya, bapak Dohong menekankan 4 point penting dalam hubungan manusia dengan kerusakan ekologis, yaitu:
Pertama, Penciptaan Alam Semesta dan Manusia.
Narasumber meyoroti bahwa manusia sebagai mahkota ciptaan dari segala ciptaan lainnya menunjukkan sifat
dominasi yang cenderung mengeksploitasi alam. Pemateri menekankan bahwa Allah sesungguhnya menciptakan alam semesta, bukan hanya untuk kebutuhan manusia saja, tetapi juga untuk ciptaan lainnya. Justru manusia memiliki tanggungawab untuk memelihara seluruh ciptaan tersebut bahkan keberlanjutannya. Dalam hal ini pemateri menyebutnya sebagai sustainability message. Beliau juga menegaskan bahwa teks Alkitab yang menyebutkan “Maka Allah melihat semuanya baik” menjadi pegangan kita untuk berani mengatakan bahwa ciptaan Allah itu baik adanya dan hal itu menjadi daya dorong bagi kita untuk menciptakan kesadaran ekologis sekaligus untuk melaksanakan misi pemeliharaan alam semesta.
Kedua, Isu-isu Kekinian Terkait dengan Kerusakan Ekologis di Indonesia.
Wamen LKH ini membentangkan berbagai kerusakan ekologis di beberapa daerah Indonesia, khususnya persoalan lahan gambut di hutan Kalimantan. Beliau menekankan bahwa akar masalahnya terletak pada: satu, antroposentris manusia yang dilandasi oleh legitimasi teks Alkitab (Kejadian 1:28) tentang “kuasailah” dan “Tahlukkanlah”. Ia menegaskan thesis Lyn White bahwa Kekristenanlah yang paling bertanggungjawab terhadap lerusakan alam. Dua, pembangunan yang berorientasi kepada eksploitasi alam semesta dengan menekankan pada ukuran kemajuan dengan peningkatan nilai konsumsi dan nilai produksi, termasuk eksploitasi hutan dan tambang. Tiga, pengelolaan yang tidak berkelanjutan.Dalam hal ini pemateri melihat bahwa pembangunan yang hanya mampu memenuhi
kebutuhan manusia pada masa kini, tanpa perduli pada generasi berikutnya. Keempat, Perilaku yang tidak perduli atau rendahnya kesadaran manusia terhadap kelestarian lingkungan. Narasumber ini memberikan krititk bahwa kesadaran manusia masih diatur oleh pemerintah, artinya semuanya masih didasarkan pada “common control mechanism.” Beberapa akar masalah yang disebutkan oleh pemateri mengakibatkan kerusakan ekologis yang parah yang berdampak pada gangguan sosial, ekonomi, kesehatan, transfortasi dan aspek lainnya.
Ketiga, Pemerintah dan Kebijakan.
Pemateri memaparkan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani persoalan lingkungan hidup dalam berbagai bentuk kebijakan seperti: moratorium izin hutan supaya tidak ada lagi deforestasi di hutan alam primer dan lahan gambut, menjamin penghidupan masyarakat adat dan komunitas masyarakat di sekitar hutan, serta meminimalisir kebakaran hutan dan lahan, termasuk membentuk Badan Restorasi Gambut. Pemerintah juga telah memproduksi Kebijakan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan dengan teknologi modifikasi cuaca, bahkan melakukan patroli di lapangan secara rutin dan memperluas akses pengelolaan hutan lewat skema kehutanan sosial (hutan adat, hutan desa dan hutan rakyat). Kebijakan lain yang dilakukan pemerintah adalah menyediakan legalisasi asset lewat penerbitan sertifikat tanah yang dikelola masyarakat.
Keempat, Peran Strategis dan Kontribusi Para Cendikiawan Indonesia dalam Mengatasi Persoalan Ekologis.
Point terakhir yang disoroti oleh key note speaker ini adalah peran cendikiawan, termasuk cendikiawan Kristen, untuk menunjukkan tanggungjawabnya dalam meningkatkan kesadaran ekologis umat melalui khotbah-khotbah dan pengajaran yang berorientasi pada pemeliharaan alam semesta. Sebagai Cendekiawan Kristen Indonesia, PIKI dan
3 umat Kristen lainnya harus tampil menjadi penjaga moral yang terlibat secara praktis dalam perannya memelihara alam, dan menjadikan kelestarian lingkungan sebagai tanggungjawab profetis bersama.
PAPARAN NARASUMBER WALHI:
Pemaparan materi kedua oleh bapak Boy Jerry Even Sembiring (Manager Kajian Kebijakan Eksekutif Nasional WALHI) menyampaikan materinya dengan judul “Krisis Ekologi, Krisis Teologi, dan Tawaran Keadilan Sosial.” Beliau
memaparkan 3 relasi manusia dengan alam yang terdiri dari: Antroposentrisme yang menggambarkan superioritas manusia. Biosentrisme: superioritas spesies (living and non living)
Ekosentrisme: menekankan bahwa human, dan non human memiliki posisi yang setara dan berkeadilan (ecological justice).
Ketiga hal ini menjadi Green Theorical Frameworks yang bertujuan mewujudkan keadilan spesies dan keadilan ekologis sebagai hak seluruh entitas. Pemateri ini memberikan kritik tajam tentang krisis ekologi di era kapitalisme ini. Salah satu dampak antrofosensentris terhadap kerusakan lingkungan bukanlah persoalan illegal loging, “itu hanya bagian kecil saja” tuturnya. Namun akar masalahnya adalah pada logika kapitalisme. Beliau juga menyoroti bahwa varian capitalocence membuat jarak manusia dan alam semakin jauh. Hegemoni kekuatan negara dan bisnis termasuk orang-orang “the have” membuat mereka melakukan eksploitasi tanpa batas.
Pegiat Walhi ini memaparkan perlunya melakukan redefinisi, reposisi dan transformasi. Artinya, manusia perlu memaknai ulang bahwa manusia sebagai mahluk sosial, juga sebagai mahluk ekologis, sehingga orientasi ekonomi (economic man) menuju ecological man. Kita juga perlu memposisikan ulang dirinya dengan menggali sejarah konteks Indonesia dalam terang Pancasila yang berperikemanusiaan, dan menolak kapitalisme. Tetapi menjungjung tinggi ekonomi rakyat dengan prinsip usaha bersama, asas kekeluargaan dan kemakmuan rakyat. Narasumber ini mendorong bangsa ini untuk melek ekologi dan membangun masyarakat untuk sadar ekoteologi. Di samping itu, Ia menegaskan bahwa pemerintah wajib melaksanakan penegakan hukum terhadap criminal kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan dan menyerukan keugaharian hidup lewat implementasi gaya hidup sederhana. Dalam paparan akhirnya, beliau menekankan perlunya melakukan refleksi teologis terhadap “Doa Bapa Kami” tentang ungkapan Yesus “Berikanlah pada hari ini, makanan kami yang secukupnya” sebagai pedoman praksis bersama untuk hidup dengan mencukupkan diri.
PAPARAN NARASUMBER 3 DEWAN GEREJA SEDUNIA:
Narasumber ketiga dalam Seri Webinar Nasional ini adalah Pdt.Yolanda Pantou (Komisi Faith and Order World Council of Churches). Beliau memaparkan materi dengan judul Cultivate and Care: An Ecumenical Theology of Justice for and within Creation. Dalam paparannya Pdt. Yolanda Pantou membentangkan dokumen Faith and Order yang dalam pendahuluannya mengeksplorasi tentang degradasi, objektifikasi dan komersialisasi ciptaan Tuhan. Orang-orang yang paling terdampak adalah mereka yang hidup dalam kemiskinan, dan yang paling tragis adalah kehidupan generasi yang akan datang. Manusia adalah orang yang paling bertanggungjawab atas kehancuran iklim, dan agama-agama perlu menyatakan keprihatinan yang mendalam terhadap kerusakan alam dan perubahan iklim di bumi. Keprihatinan terhadap Lingkungan merupakan panggilan iman yang sangat mendesak demi eksistensi hidup bersama. Dokumen Faith and Order menegaskan bahwa keperdulian dan perlindungan bagi mereka yang rentan bahkan alam yang menjerit dalam keheningan harus dinyatakan sebagai ukuran kemanusiaan kita.
Selanjutnya pemateri ini menegaskan bahwa Kerusakan lingkungan hidup harus dilihat dalam tinjauan teologis. WCC menjadikan penciptaan sebagai thema teologis dalam pertemuan-pertemuan dari masa ke masa. Gereja-gereja dipanggil untuk membangun komitmen bersama terhadap isu keadilan, perdamaian dan integritas ciptaan. Secara
4 teologis, visi ekumenis gereja-gereja menegaskan bahwa penciptaan sebagai keseluruhan organic, yang saling
berhubungan, koheren dan komprehensif, sehingga gereja perlu membangun perspektif teologi yang relevan. Dengan mengutip kitab Kolose 1:16, Yolanda menegaskan bahwa Kekritenan kita harus terdorong untuk memberitakan Injil atas nama keadilan dan keutuhan ciptaan. Kita harus mengingat bahwa kita adalah ciptaan, sehingga perlakukan yang adil terhadap seluruh ciptaan harus dinyatakan, bukan karena ia bermanfaat bagi manusia, tetapi lebih karena ia memiliki nilai pada dirinya sendiri, maka menumbuhkan dan merawat seluruh ciptaan melibatkan aksi melindungi keanekaragaman hayati dan tradisi budaya.
Dalam paparan penutupnya, Pdt. Yolanda Pantou menegaskan bahwa keadilan ciptaan hanya mungkin terjadi ketika manusia bertobat (metanoia) dan melakukan tanggungjawab yang diberikan Tuhan kepada mereka melalui
keperdulian kepada ciptaan di bawah tuntutan Roh Kudus, dan melihat ciptaan sebagai anugerah berharga dari Allah yang kita sambut dengan rasa syukur. Pertobatan gereja-gereja akan melahirkan sebuah kesadaran bahwa kita telah menghianati rekonsiliasi sebagai puncak rencana Allah bagi ciptaan, dan kesadaran itu akan melahirkan
tanggungjawab bersama untuk memelihara keutuhan ciptaaan lewat praksis eko-ekklesiologi.
PENUTUP
Dalam setiap sesi tanya jawab, peserta mengajukan pertanyaan dengan antusias, baik dalam ruang chat, maupun bertanya langsung kepada narasumber. Ada catatan rekomendatif dari peserta yang mengusulkan bahwa Kekristenan dan PIKI ke depan, tidak hanya bersandar pada ekoteologis, tetapi juga melihat persoalan kerusakan ekologis dalam sistem sosial (Socio-ecological system), sebab dalam level sosial kita adapat melihat keterkaitan konteks yang lebih luas. Demikian resume singkat kegiatan Seri Webinar Nasional (1), terimakasih.
MODERATOR: PENDETA D R MARGIE DEWANA RIRIHENA