BAB V
GAMBARAN PERKEMBANGAN USAHA TEH PTPN
5.1. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Teh Indonesia
Perkebunan teh yang diusahakan di Indonesia dibedakan atas tiga status menurut pengusahaannya yaitu Perkebunan Rakyat (Smallholders), Perkebunan Besar Swasta (PBS), dan Perkebunan Besar Negara (PBN) dalam hal ini yaitu PTPN.
Perkembangan luas areal perkebunan teh di Indonesia dalam kurun waktu 2001-2007 terus mengalami penurunan. Pada tahun 2001 luas areal perkebunan Indonesia tercatat 150.938 hektar, kemudian mengalami penurunan pada tahun 2002 menjadi 150.723 hektar atau sekitar 0,14 persen. Penurunan yang sangat signifikan terus terjadi dari kurun waktu 2003- 2007. Pada tahun 2003 luas areal perkebunan teh menurun dari tahun sebelumnya menjadi 143.620 atau sekitar 4,71 persen, dan terus menurun sampai akhirnya luas areal perkebunan teh Indonesia menjadi 134.00 pada akhir tahun 2007. Hal yang berbeda terjadi pada negara pesainnya seperti Vietnam. Vietnam yang merupakan pendatang baru dalam perdagangan teh Internasional terus memperluas areal perkebunan tehnya. Pada tahun 2001 luas areal perkebunannya hanya 82.000 hektar, luasnya terus meningkat dan menjadi 93.000 hektar pada tahun 2007
Tabel 4. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Teh pada Beberapa Negara Produsen Teh Dunia (Dalam Ha)
NEGARA 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 China (Mainlad) 1.140.700 1.134.200 1.207.300 1.262.310 1.351.900 1.431.300 1.613.300 India 509.806 515.832 519.598 521.403 556.807 568.000 576.000 Sri Lanka 188.971 187.971 188.199 188.702 188.480 188.554 188.570 Kenya 124.292 130.340 131.453 136.709 141.315 147.076 149.196 Indonesia 150.938 150.723 143.620 142.086 138.659 136.281 134.000 Vietnam 82.000 85.000 87.000 90.000 91.000 93.000 93.000 Bangladesh 49.313 49.500 50.000 51.265 51.000 52.000 52.300 Grand Total 2.248.021 2.255.568 2.329.173 2.394.479 2.521.166 2.618.217 2.808.373 Sumber : ITC( 2008)
Penurunan luas areal perkebunan teh Indonesia tersebut dikarenakan adanya penurunan pada luas areal perkebunan Besar Negara dan Perkebunan Besar Swasta. Hal itu terjadi dikarenakan kurang menariknya investasi dibidang perkebunan teh dibandingkan dengan investasi dibidang lainnya yang lebih menguntungkan, bahkan ada juga yang melakukan pengkonversian lahan perkebunan teh menjadi perkebunan lain, seperti untuk perkebunan kopi dan kelapa sawit (kepala bagian riset pemasaran KPB PTPN).
5.1.1. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Teh PTPN
Luas areal perkebunan teh PTPN pun terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, hal itu seiring dengan penurunan luas areal perkebunan teh yang ada di Indonesia. Luas areal perkebunan teh PTPN kurang lebih yaitu 35 persen dari total luas areal perkebunan teh yang ada di Indonesia.
Tabel 5. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Teh PTPN Tahun Luas Areal (Ha) Pertumbuhan (%) 2001 52828 2002 52753 -0,14 2003 50267 -4,94 2004 49730 -1,07 2005 48531 -2,47 2006 47698 -1,74 2007 46900 -1,7 Sumber : KPB, 2008
Pada tahun 2001 luas areal perkebunan teh PTPN adalah 52.828 hektar, luas itu menurun sekitar 0.14 persen pada tahun 2002 menjadi 52753 persen. Penurunan luas areal yang signifikan terjadi pada tahun 2003, penurunan itu mencapai 4.94 persen dari tahun sebelumnya atau menjadi sekitar 50.267 hektar. Kondisi penurunan itu terus terjadi sampai akhirnya pada tahun 2007 luas areal perkebunan teh PTPN menjadi 46.900 hektar.
Penurunan tersebut salah satunya terjadi karena alih fungsi lahan seperti yang terjadi pada PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 4, tahun ini merencanakan mengkonversikan lagi 500 hektar tanaman tehnya ke kelapa sawit dan menanam kembali (replanting) teh seluas 287 hektar.
5.2. Perkembangan Produksi Teh PTPN
Perkembangan produksi teh PTPN selama periode 2004-2009 cukup berfluktuatif dan cenderung menurun. Pada tahun 2005 produksi teh PTPN mengalami kenaikan sebesar 2,79 persen dari tahun sebelumnya, atau menjadi sekitar 86.905.133 kg. pada tahun 2006 terjadi penurunan jumlah produksi yang signfikan yaitu sebesar 21,69 persen, atau jumlahnya menjadi sekitar 71.410.793 kg. Menurut Kabag Produksi PTPN Pusat, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah terjadinya musim kemarau yang panjang pada tahun tersebut.
Pada tahun 2007 PTPN kembali meningkatkan produksinya, volume produksinya meningkat sebesar 14,18 persen dari tahun sebelumnya, atau
jumlahnya menjadi sekitar 83.210.328 kg. Peningkatan produksi tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya harga ekspor teh. Oleh karena itu PTPN berupaya meningkatkan produksinya demi mendapatkan keuntungan yang besar dari meningkatnya harga ekspor teh.
Namun pada tahun 2008 produksi teh PTPN kembali turun sebesar 4,65 persen dari tahun sebelumnya, atau jumlahnya menjadi sekitar 79.511.551. Penurunan tersebut diduga dipengaruhi secara tidak langsung oleh penurunan luas areal perkebunan milik PTPN dan tidak konsistensinya program intensifikasi yang dilakukan oleh PTPN.
Dalam lima tahun terakhir PTPN mulai gencar melakukan program intensifikasi pada semua kebun teh miliknya. Hal itu dilakukan sebagai cara untuk meningkatkan produksi ditengah terus menurunnya luas areal perkebunan teh milik PTPN. Akan tetapi pelaksanaan program tersebut tidak konsisten sehingga produksi teh PTPN tetap berfluktuasi dan cenderung menurun dari tahun ke tahunnya.
Tabel 6. Perkembangan Produksi Teh PTPN Tahun 2004-2009*
Tahun Produksi (Kg) Pertumbuhan (%)
2004 84475832 2005 86905133 2,79 2006 71410793 -21,69 2007 83210328 14,18 2008 79511551 -4,65 2009* 42219223 Sumber : KPB, 2009 * : Angka sementara
5.2.1 Perkembangan Produksi Teh PTPN Menurut Region
Produksi teh PTPN yang dihasilkan secara keseluruhan tidak tersebar merata di seluruh propinsi yang ada di Indonesia, hanya beberapa propinsi saja yang berpotensi menghasilkan komoditi teh yaitu propinsi yang memang memiliki iklim yang sesuai dengan tanaman teh. Perkembangan produksi teh PTPN tersebar di 12 Propinsi yaitu Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat (PTPN VI), Jambi,
Sumatera Selatan, Bengkulu (PTPN IV), lampung (PTPN VII), Jawa Barat (PTPN VIII), Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta (PTPN IX), Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan (PTPN XII).
Dari ke enam PTPN tersebut hanya tiga PTPN yang menguasai produksi teh PTPN yaitu PTPN VIII yang berpusat di Bandung, PTPN IV yang berpusat di Jambi, dan PTPN VI yang berpusat di Padang. PTPN VIII merupakan pengasil teh tebesar PTPN, PTPN tersebut berkontribusi rata-rata 70 persen terhadap jumlah produksi total PTPN dalam setiap tahunnya.
Produksi dari masing-masing PTPN tergantung dengan luas lahan PTPN yang dimilikinya, luas lahan tersebut dipengaruhi oleh keadaan demografi daerah tersebut. PTPN VIII yang berada di Jawa barat merupakan daerah yang keadaan demografinya cocok untuk perkebunan teh sehingga luas areal perkebunan teh di Jawa Barat lebih luas dibandingkan dengan daerah lain.
Dalam kurun waktu 2005-2008 produksi teh PTPN VIII sangat berfluktuasi dan cenderung menurun. Kenaikan hanya terjadi pada tahun 2007, kenaikannya 18,33 persen dari tahun sebelumnya yaitu dari 45.643 ton pada tahun 2006 menjadi 55.893 ton pada tahun 2007.
2005 2006 2007 2008 Jan-Jun '09 PTPN IV 13.332 11.915 12.049 10.380 4.752 PTPN VI 7.876 7.405 8.137 8.046 3.815 PTPN VII 2.043 2.200 2.421 2.812 1.266 PTPN VIII 58.213 45.643 55.893 53.579 30.170 PTPN IX 2.168 1.713 2.033 2.087 949 PTPN XII 3.273 2.533 2.678 2.607 1.268 JUMLAH 86.905 71.411 83.210 79.512 42.219 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000 T O N
Gambar 3. Produksi Teh PTPNPeriode Tahun 2005 Sampai Dengan Tahun 2009*
*) Angka sementara
5.3. Perkembangan Ekspor Teh PTPN
Perkembangan Ekspor teh PTPN selama periode tahun 2006-2009 cenderung mengalami fkuktuatif dari tahun ke tahun, tetapi sedikit mengalami perbaikan. Hal itu bisa dilihat dari peningkatan volume ekspor yang cukup signifikan dari tahun 2006 ke tahun 2007, yaitu ada peningkatan sebesar 21,74 persen atau jumlahnya menjadi 39.676.380 kg. Pada tahun tersebut salah satu produsen teh terbesar dunia yaitu Kenya sedang mengalami musim kering yang panjang, sehingga pasokan teh negara tersebut menjadi kurang. Oleh karena itu keadaan tersebut dimanfaatkan oleh negara kita untuk mengambil pasar yang tidak terisi oleh pasokan teh Kenya. Pada tahun 2008 jumlah kembali turun 11,81 persen dari tahun sebelumnya, atau jumlahnya menjadi sekitar 34.989.940 kg. Peningkatan kembali pada tahun 2009 yaitu 12,84 persen dari tahun sebelumnya, atau jumlahnya menjadi 39.482.670. Perbaikan dalam volume ekspor teh PTPN dalam kurun 3 tahun terakhir salah satunya dipicu oleh semakin meningkatnya harga teh itu sendiri.
Tabel 7. Perkembangan Volume Ekspor Teh PTPN Tahun 2006-2009 (Kg) Bulan/Tahun 2006 2007 2008 2009 Januari 2965020 2335450 4339180 4528600 Februari 3113740 2991210 3555060 2869540 Maret 2329440 3377660 3227200 2663380 April 2176900 2826040 3622280 4103000 Mei 3803820 3756420 3088920 3768720 Juni 3188540 3224080 3962160 4126160 Juli 3017020 4379340 4074780 4708760 Agustus 3325980 4040660 3474500 2724860 September 2027260 3542200 2237440 2569700 Oktober 1405200 4001640 2379720 2297460 Nopember 3319700 3221060 1748300 2482650 Desember 1787140 2380620 1380400 2639840 Total 32589760 39676380 34989940 39482670 Sumber: KPB, 2009
5.4. Harga Ekspor Teh PTPN
Harga ekspor teh PTPN adalah harga yang ditetapkan berdasarkan hasil pelelangan. Harga teh di pelelangan ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah mutu, jumlah persediaan dan penawaran teh, dan tren harga teh dunia.
Fluktuasi harga teh dapat dilihat dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Berdasarkan metode yang telah dipublikasikan oleh ITC, variasi harga dalam jangka pendek biasanya diukur dalam mingguan, jangka menengah diukur dalam bulanan, dan jangka panjang diukur dalam tahunan.
Tabel 8. Harga Rata-Rata Teh PTPN Per Bulan Tahun 2007-2009 (dalam US$Cts/Kg) Bulan / Tahun 2007 2008 2009* Januari 133,10 171,20 124,03 Februari 130,83 147,35 148,39 Maret 154,92 140,23 131,67 April 147,07 163,71 142,57 Mei 157,46 140,26 161,20 Juni 139,75 162,20 165,15 Juli 164,01 164,79 - Agustus 161,84 170,73 - September 152,45 168,10 - Oktober 164,22 140,68 - Nopember 141,78 122,93 - Desember 138,88 107,71 - Rata-rata 148,85 149,99 145,50 Sumber : KPB PTPN (2009), diolah
Harga rata-rata ekspor teh PTPN per tahun dalam kurun waktu 2007-2009 mengalami kenaikan. Pada tahun 2007 harga rata-rata teh PTPN adalah sebesar US$ 148,85 sen per kg, nilai tersebut meningkat pada tahun 2008 menjadi sebesar US$ 149,99 sen per kg. Pada tahun 2009 harga teh cenderung mengalami kenaikan meskipun pada awal tahun harga tehnya berada di kisaran US$ 124,03 sen per kg, tetapi pada bulan berikutnya harga teh mulai mengalami kenaikan.
Kenaikan harga tersebut sangat dipengaruhi dengan turunnya produksi teh di Kenya, India dan beberapa produsen lainnya. Turunnya produksi di negara produsen tersebut menyebabkan kurangnya pasokan di pasar teh Internasional, hal tersebut mengakibatkan harga teh terus merangkak naik.
5.5 Pelelangan Ekspor Teh PTPN
Komoditi teh yang diproduksi PTPN sebagian besar ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Perdagangan ekspor teh di pasaran internasional dikenal
melalui pelelangan. Di Indonesia, pelelangan untuk ekspor dilakukan oleh Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PTPN yang berlokasi di Jakarta.
Penjualan sistem pelelangan (Auction Sales) merupakan penjualan yang berdasarkan pada stok yang tersedia (ready stock) dan pemberian informasi dengan pemberian barang contoh (Tea Samples) dari jenis-jenis teh yang diproduksi. Adapun prosedur dalam melakukan lelang teh sebagai berikut :
1. Hasil produksi teh dari perkebunan akan dikemas dalam paper sacks atau karung, kemudian diberi nomor urut berupa nomor Lot dan nomor Chop. Setelah itu teh akan dikirim ke pelabuhan.
2. Pada saat yang bersamaan, perkebunan akam mengirim surat beserta contoh (Tea Samples) ke KPB.
3. Di Jakarta, KPB akan membuat dan menyusun katalog untuk partai teh yang akan dilelang berdasarkan nomor urut berupa Lot dan nomor Chop.
4. KPB akan memberikan tiap Chop dalam katalog yang terdiri dari sampel yang representatif mewakili jenisnya dan diserahkan kepada pembeli beserta katalognya, selambat-lambatnya empat belas hari sebelum lelang (Auction).
5. Pada hari pelelangan, pembeli mengajukan penawaraan secara langsung dan terbuka kepada pelaksana lelang, dalam suatu persaingan yang sehat untuk setiap Chop.
6. Penawaraan diajukan dalam US$ cent/kg dengan kondisi penyerahan Free Carrier-Container Yard Origin (FCA-CY Origin) pelabuhan muat. Artinya tanggung jawab penjual terbatas sampai penyerahan baraang dalam kontainer di pelabuhan muat dengan batas waktu bahwa teh yang dibeli pasti dibayar selambat-lambatnya 30 hari dan dikapalkan selambat-lambatnya 45 hari setelah tanggaal kontrak. 7. Penawaran dilakuakn secara kompetitif dengan kenaikan minimal satu
US$ cents.
8. Partai teh yang tidak terjual dalam pelelangan dapat ditawarkan kembali melalui lelang yang dilaksanakan pada minggu berikutnya. Syarat- syarat pembeli (trader) teh :
1. Company Profile
2. Akte Pendirian Perusahaan yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Ham
3. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) 4. Surat Ijin Tempat Usaha (SITU) 5. Nomor Pokok Waajib Pajak (NPWP) 6. Perushaan Kena Pajak (PKP)
7. Laporan Keuangan Perusahaan tahun terakhir dan setiap tahun diperbaharui.
8. Surat penunjukan sebagai agen pembeli (buying agent) dari Principal di luar negeri. Principal tersebut adalah perusahaan yang telah terdaftar pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan memiliki referensi Bank setempat.
9. Surat Jaminan yang menyatakan bahwa teh yang dibeli pasti akan dibayar lambat 30 hari dan dikapalkan selambat-lambatnya 45 hari setelah tanggal kontrak.
10. Jaminan dalam bentuk Bank Garansi atau Bank Deposit senilai minimal US$ 10.000
Pada dasarnya lelang teh di KPB Jakarta dibagi dalam dua sistem :
1. Auction Samples
Dalam sistem ini, calon pembeli diberikan contoh dari partai yang tersedia stoknya serta informasi yang adaa kaitannya dengan contoh tersebut yang berasal dari produsen teh yang bersangkutan. Misalnya informasi tentang mutu, jenis, dan harga.
2. Private Offer
Biasanya diperuntukan bagi pedagang yang membeli dalam jumlah yang relatif kecil. Cara pelaksanaannya dapat dibedakan dalam dua cara, yaitu :
a) On Sample, dimana dalam pelaksanaan lelang juga diperlihatkan contoh dari the yang akan dijual. Pemenang
dalam lelang the adalah pembeli yang sanggup menawar pada tingkat harga minimal sama dengan harga yang terjadi pada lelang utama (Auction Samples)
b) Forward Fair Average Quality (FFAQ), adalah cara pelelangan yang dilakukan tanpa contoh, namun kondisi teh yang akan diserahkan kemudian telah diberitahukan terlebih dahulu. Dalam penyerahan kemudian penyesuaian kembali dilakukan berdasarkan harga yang tercapai.
Keuntungan yang diperoleh dari sistem Auction Sales ini adalah :
1. Setiap pembeli mendapatkan kesempatan yang sama 2. Terbentuk kompetisi harga dalam lelang
3. Karena On Sample, para pembeli dapat memeriksa terlebih dahulu teh yang dijual, sehingga pengawasan mutu lebih terjamin.
4. Tempat lelang dapat dipakaai sebagai tempat dialog langsung antara produsen dan pembeli untuk memperoleh informasi timbal balik.
Pada Gambar 4 dapat dilihat sistem pemasaraan melalui pelelangan teh dari mulai pengepakan teh sampai kepada sistem pembayaran. Dalam sistem pelelangan ini dapat diketahui bahwa dari segi perputaran (turn over) untuk mendapatkan keuntungan terdapat satu kelemahan. Ketika perkebunan mulai melakukan pengepakan dan administrasi dan kemudian dikirim ke pelabuhan memerlukan waktu tujuh hari. Kemudian KPB menyusun dan menyerahkan katalog kepada calon pembeli empat belas hari sebelum pelelangan.
Gambar 4. Sistem Pelelangan Ekspor Teh PTPN
Pelelangan dilakukan berdasarkan pada stok produksi yang tersedia. Dalam setiap pelelangan jumlah produksi yang masuk untuk dijual adalah sejumlah satu kali produsen besar mengirim hasil produksinya. Jumlah teh yang terjual biasanya tergantung dari penawaran yang dilakukan oleh pembeli. Sisa dari teh yang tidak terjual pada lelang utama akan dijual diluar lelang utama, yaitu melalui Private Offer (KPB 2007).
Sekarang ini KPB sedang menyiapkan sistem lelang secara on line, hal ini dimaksudkan untuk menjaring peserta lelang yang lebih banyak, karena dengan sistem yang sekarang peserta lelang terbatas hanya para pemain lama dan jumlah peserta yang aktif hanya sekitar lima eksportir, yaitu london tea, lipton, sariwangi, dan lain-lain. Pelelangan KPB Pengepakan dan Administrasi Dikirim ke Pelabuhan
Menyusun katalog dan memberikan katalog kepada calon pembeli Perkebunan
Dibeli teh jenis tertentu
Pembayaran oleh pembeli