Pkl

154 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PELAKSANAAN PEKERJAAN ABUTMEN 2 PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN OVER PASS TOL SEMARANG - SOLO

RUAS SEMARANG – BAWEN

SEKSI II : GEDAWANG – PENGGARON ( STA 4+324.8 )

Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Kelulusan Program Diploma III Jurusan Teknik Sipil

Politeknik Negeri Semarang

Disusun Oleh :

DELGA WIMAS IRVANO 3.12.07.3.07

PROGRAM STUDI KONSTRUKSI SIPIL

JURUSAN TEKNIK SIPIL

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2009

(2)

Laporan Praktek Kerja Lapangan dengan judul “ Pelaksanaan Pekerjaan Abutmen 2 Proyek Pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang - Solo Ruas Semarang – Bawen Seksi II : Gedawang – Penggaron STA 4+324.866“ ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing pada :

Hari :

Tanggal :

Ketua Program Studi Konstruksi Sipil

Warsiti, ST. MT NIP 196203121988032002

Dosen Pembimbing

Herry Ludiro Wahyono, ST NIP 196002111984031002

Mengetahui

Ketua Jurusan Teknik Sipil

Sukardi, ST

NIP 195506071988031001

(3)

iii Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan tugas akhir ini tanpa hambatan yang berarti.

Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan penulis sebagai sarana untuk mengetahui, membandingakan dan menambah wawasan tentang pengelola proyek di lapangan dengan segala kendala yang dihadapi, disamping itu juga sebagai sarana untuk menjalin komunikasi dan tukar pengalaman dengan kru lapangan, baik itu pekerja, staf ataupun pengawas lapangan.

Praktek Kerja Lapangan ini penulis laksanakan dari tanggal 22 Juli 2009 sampai 22 Agustus 2009 dan berlokasi di Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron ( STA 4 + 324.8 ).

Penyusunan Praktik Kerja Lapanganini dapat diselesaikan karena bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Drs. Sugiharto, MM selaku Direktur Politeknik Negeri Semarang, 2. Bapak Sukardi, ST selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri

Semarang,

3. Ibu Wasiti, ST. MT selaku Kepala Program Studi Konstruksi Sipil Politeknik Negeri Semarang,

4. Bapak Herry Ludiro Wahyono, ST selaku Dosen Pembimbing Praktik Kerja Lapangan,

(4)

iv Karya

6. Bapak Reza Irawan, ST selaku Highway Engineer PT. Waskita Karya, 7. Bapak Suyitno, Ir selaku Pelaksana Jembatan Over Pass Tol

Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron PT. Waskita Karya,

8. Semua pihak yang telah membantu sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam perencanaan dan penyusunan Praktik Kerja Lapangan ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan penyusun. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca, agar dalam waktu penyusunan dapat memperbaiki dan melengkapi kekurangannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Penulis berharap agar laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, Desember 2009

(5)

v

HALAMAN PENGESAHAN... ii

KATA PENGANTAR……….. iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR GAMBAR... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Praktek Kerja Lapangan……… 1

1.2 Maksud dan Tujuan Praktek Kerja Lapangan….……… 1

1.3 Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah….…………. 2

1.3.1 Ruang Lingkup Pekerjaan...………….……… 2

1.3.2 Pembatasan Masalah………..………. 3

1.4 Metodelogi Pengumpulan Data……..………. 4

1.5 Sistematika Pembahasan ………..………….. 5

BAB II MANAJEMEN PROYEK 2.1 Organisasi Proyek……….……….………. 6

2.1.1 Pemberi Tugas……….………… 7

2.1.2 Konsultan Perencana………..…………. 8

2.1.3 Konsultan Pengawas………...………. 9

2.1.4 Kontraktor Pelaksana…………....……….. 10

(6)

vi

2.2.2 Site Manager………..……….…. 15

2.2.3 Keuangan dan Administrasi………..….. 17

2.2.4 Logistik dan Peralatan……….…..……….. 17

2.3 Hubungan Kerja dan Koordinasi…………...………….. 18

BAB III TINJAUAN UMUM 3.1 Latar Belakang Proyek …………...………. 19

3.2 Tujuan Proyek……….……… 20

3.3 Lokasi Proyek………..……… 20

3.4 Data Umum………..…..………. 21

3.4.1 Data Kontrak………..………. 21

3.4.2 Data Teknis………. 21

3.5 Material dan Peralatan Teknis………...………… 23

3.5.1 Spesifikasi Teknis Material….……… 23

3.5.2 Sumber Bahan Material……...……… 29

3.5.3 Peralatan Mekanis……….……….. 29 3.6 Perencanaan Proyek…………..……….. 35 3.6.1 Uraian Umum………...………. 35 3.6.2 Survey Pendahuluan……… 36 3.6.3 Analisa Data……….…..………. 37 3.6.4 Perencanaan……….…..……….. 38 3.7 Pelaksanaan Proyek………. 40 3.7.1 Uraian Umum………..……… 40

(7)

vii rjaan Pengecoran……….. 71

rjaan Perawatan Beton………...…….. 78

si………..……….………… 82 BAB V R PU LAMPIRAN 3.8 Pembiayaan………..…..………. 42 3.9 Sistem Pembayaran………...……….. 42

BAB IV TINJAUAN KHUSUS PROYEK

4.1 Pendahuluan………..….………. 43

4.2 Pembuatan Abutmen Jembatan………….…….……… 43

4.2.1 Pekerjaan Galian Tanah………..……. 44

4.2.2 Pekerjaan Pondasi...………. 45

4.2.3 Pekerjaan Urugan Tanah ……….…...……..….. 48

4.2.4 Pekerjaan Pemadatan Tanah Pondasi... 49

4.2.5 Pekerjaan Penulangan……….. 49

4.2.6 Pekerjaan Skavolding dan Begisting……...…… 61 4.2.7 Peke

4.2.8 Pekerjaan Pembongkaran Bekesting………..…. 77 4.2.9 Peke

4.3 Kendala dan Solusi Proyek………....………. 81

4.3.1 Kendala Dalam Proyek……… 81

4.3.2 Solu

PENUTUP

5.1 Kesimpulan…….………..……….. 84

5.2 Saran………..……….. 85

(8)

viii

enset... 32

Gambar 3.2 Alat Berat Dum .………... 32

ambar 3.3 Alat Berat Excavator... 33

Gambar 3.1 G p Truck ……….. G Gambar 3.4 Alat Berat Water Tank... 34

Gambar 3.5 Alat Berat Truck Mixer... 34

Gambar 3.6 Concrete Vibrator... 35

Gambar 4.1 Pekerjaan Galian Tanah... 44

Gambar 4.2 Pekerjaan Galian Tanah Pondasi... 46

Gambar 4.3 Dimensi Lantai Kerja... 48

Gambar 4.4 Pekerjaan Urugan Tanah... 48

Gambar 4.5 Pekerjaan Penulangan Footing Abutmen... 50

Gambar 4.6 Detail Penulangan Footing Abutmen pada Gambar Kerja... 50

Gambar 4.7 Detail Penulangan Footing Abutmen... 51

Gambar 4.8 Tulangan Ulir Model Kait Miring... 52

Gambar 4.9 Penulangan pada Dinding Abutmen... 53

Gambar 4.10 Tulangan Susut pada Gambar Kerja... 54

Gambar 4.11 Detail Penulangan Dinding Abutmen... 54

Gambar 4.12 Tulangan Susut... 55

Gambar 4.13 Detail Tulangan Susut... 55

Gambar 4.14 Sambungan Tulangan Susut Besi Ulir... 56

(9)

ix

Gambar 4.17 Detail Penulangan Wing Wall Abutmen... 58

Gambar 4.18 Model Penyambungan Tulangan... 59

Gambar 4.19 Pekerjaan Penulangan pada Kepala Abutmen... 60

Gambar 4.20 Detail Penulangan Kepala Abutmen... 60

Gambar 4.21 Pemasangan Bekesting Pondasi... 64

Gambar 4.22 Penyusunan Bekesting Peri... 65

Gambar 4.23 Pemasangan Bekesting Peri pada Dinding Abutmen... 66

Gambar 4.24 Pemasangan Bekesting Peri... 66

Gambar 4.25 Detail Pemasangan Bekesting Peri... 67

Gambar 4.26 Pemasangan Bekesting Peri pada Kepala Abutmen... 68

Gambar 4.27 Pemasangan Bekesting Peri pada Wing Wall Abutmen... 70

Gambar 4.28 Pekerjaan Persiapan Pengecoran... 73

Gambar 4.29 Pengujian Slump... 75

Gambar 4.30 Pembongkaran Bekesting Abutmen... 78

(10)

Jembatan Over Pass Tol  Semarang‐Solo

Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi – II : Gedawang-Penggaron (STA 4+324.8)  

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Sesuai dengan kurikulum pendidikan Politeknik, Praktik Kerja Lapangan merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang.

Praktik Kerja Lapangan merupakan penyempurna dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang telah ditempuh pada semester 4 dan sekaligus merupakan usaha untuk memperluas pengetahuan serta pemikiran mahasiswa karena disadari bahwa pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah belum cukup memadai sebagai bekal terjun di lapangan pekerjaan yang sesungguhnya. Didalam Praktik Kerja Lapangan mahasiswa diharapkan dapat menerapkan teori-teori yang telah diperoleh di bangku kuliah ke dalam praktik di lapangan, sehingga dapat lebih memahami keadaan dan permasalahan di lapangan.

Keuntungan dari Praktik Kerja Lapangan ini adalah melatih mahasiswa untuk dapat mandiri, mengenal lingkungan, dan sistem kerja di proyek sebagai bekal untuk terjun di lapangan.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Praktik Kerja Lapangan secara umum bertujuan untuk mengembangkan kemampuan professional dan menerapkan ilmu

(11)

Jembatan Over Pass Tol  Semarang‐Solo

Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi – II : Gedawang-Penggaron (STA 4+324.8)  

pengetahuan dasar teknik, keahlian dan pelengkap secara terpadu, sistematis serta ilmiah dalam bentuk kerja nyata pada pelaksanaan pembangunan proyek secara berkelompok.

Tujuan khusus dari Praktik Kerja Lapangan ini adalah :

1. Melengkapi persyaratan program pendidikan Diploma III Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang

2. Membandingkan, menganalisa dan mengaplikasikan antara teori di bangku kuliah dengan keadaan di lapangan dan dapat memecahkan masalah yang ada di lapangan berdasarkan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki

3. Melihat langsung pelaksanaan pekerjaan dalam suatu proyek, baik dari segi teknis maupun non teknis

4. Membina kemandirian dalam mengamati dan mengumpulkan

data-data yang diperlukan secara aktif sehingga tidak canggung lagi nantinya jika terjun di lapangan

5. Memberi bekal pengetahuan dan pengalaman lapangan untuk

mengenal sikap kerja rekanan yang terlibat di lapangan

6. Mampu menyajikan laporan teknik yang memberikan gambaran

1.3 RUANG LINGKUP DAN PEMBATASAN MASALAH 1.3.1 Ruang Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan pada proyek pembangunan Jembatan Over Pass Tol

(12)

Jembatan Over Pass Tol  Semarang‐Solo

Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi – II : Gedawang-Penggaron (STA 4+324.8)  

meliputi :

a. Pekerjaan pada struktur bawah yang meliputi pekerjaan pondasi foot plat, pilar, dan abutmen

b. Pekerjaan pada struktur atas yang meliputi pekerjaan pemasangan gelagar, pekerjaan lantai jembatan dan pengaspalan jalan

c. Pekerjaan bangunan pelengkap jembatan yng meliputi tembok penahan, trotoar, dan lain-lain

Semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana, spesifikasi teknik dan syarat-syarat umum yang sesuai dengan petunjuk pemasangan dari direksi teknis.

1.3.2 Pembatasan Masalah

Dalam proyek Pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen, Seksi II : Gedawang-Penggaron ini, tidaklah dapat diikuti secara keseluruhan mengingat keterbatasan waktu yang disediakan untuk mengikuti Praktik Kerja Lapangan dari Politeknik Negeri Semarang.

Karena waktu yang singkat maka pembahasan masalah dalam laporan dibatasi pada pekerjaan yang dilaksanakan selama Praktik Kerja Lapangan yang meliputi :

1. Tinjauan secara umum

adalah pengamatan proyek secara umum yang meliputi keseluruhan proyek, pihak-pihak yang terkait dalam proyek, syarat-syarat administrasi dan syarat-syarat teknis

(13)

Jembatan Over Pass Tol  Semarang‐Solo

Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi – II : Gedawang-Penggaron (STA 4+324.8)  

2. Tinjauan proyek secara khusus

adalah tinjauan proyek secara detail yang berisi tentang uraian pekerjaan yang dilihat dan diamati pada waktu pelaksanaan Pratik Kerja Lapangan. Dalam hal ini penulis mengamati sebagian pekerjaan abutmen yang meliputi penulangan, pemasangan bekesting dan pengecoran dilihat dari segi kontraktor

1.4 METODOLOGI PENGUMPULAN DATA

Dalam penyusunan laporan ini, metode penelitian dan teknik pengumpulan data yang digunakan bersumber dari :

1. Data Primer

Data yang diambil di lapangan dengan cara :

a. Wawancara dari pengawas lapangan, staff kontraktor, staff konsultan dan pekerja di lapangan

b. Hasil konsultasi dan pengamatan langsung di lapangan c. Data-data dan dokumen proyek

2. Data Sekunder

Data yang diambil berdasar dari :

a. Ketentuan yang berlaku pada Proyek Pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II: Gedawang-Penggaron yang telah ditetapkan oleh Depertemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal svnt Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Tengah.

(14)

Jembatan Over Pass Tol  Semarang‐Solo

Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi – II : Gedawang-Penggaron (STA 4+324.8)  

b. Literatur-literatur yang dapat menunjang penyusunan laporan ini.

1.5 SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika dalam laporan ini adalah sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan

Menyajikan gambaran tentang latar belakang Paraktik Kerja Lapangan, maksud dan tujuan, ruang lingkup dan pembatasan masalah, metodologi pengumpulan data, serta sistematika pembahasan.

Bab II Manajemen Proyek

Menyajikan gambaran organisasi proyek, susunan organisasi proyek, serta hubungan kerja dan koordinasi.

Bab III Spesifikasi Tinjauan Umum Proyek

Menyajikan gambaran latar belakang proyek, tujuan proyek, lokasi proyek, data umum, material dan peralatan teknis, perencanaan proyek, pelaksanaan proyek, pembiayaan, serta sistem pembayaran.

Bab IV Spesifikasi Tinjauan Khusus Proyek

Menyajikan gambaran pendahuluan, pembuatan abutmen jembatan, pekerjaan pilar jembatan, serta kendala dan solusi proyek yang terjadi didalam proyek.

Bab V Penutup

Menyajikan gambaran kesimpulan dan saran dari laporan Praktik Kerja Lapangan.

(15)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 6 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

BAB II

MANAJEMEN PROYEK

2.1 ORGANISASI PROYEK

Keberhasilan suatu proyek dalam mencapai suatu tujuan sesuai dengan yang direncanakan, ternyata tidak hanya membutuhkan dana dan teknologi yang digunakan serta waktu yang tersedia. Akan tetapi harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mendukung dan membatasi serta sangat ditentukan oleh cara pengelolaan proyek tersebut.

Adapun faktor-faktor yang mendukung adalah keinginan untuk berkembang, pengamatan dan penelitian. Sedangkan faktor-faktor yang membatasi adalah seperti kebutuhan masyarakat dan situasi ekonomi.

Pada prisnsipnya menejemen proyek adalah suatu alat untuk mengelolah dan mengevaluasi pelaksanaan suatu proyek sehingga dapat berjalan dengan lancar, tepat waktu dan memberikan hasil optimal.

Dalam suatu proyek, khususnya proyek pembangunan Jembatan Over

Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II:

Gedawang-Penggaron terdapat beberapa unsur yang terlibat untuk mewujudkan proyek tersebut. Adapun unsur tersebut adalah :

1. Pemberi Tugas (Owner) 2. Konsultan Perencana

3. Konsultan Pengawas (Supervise) 4. Kontraktor Pelaksana (Penyedia Jasa)

(16)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 7 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

Hubungan antar unsur-unsur tersebut di atas dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang telah disepakati agar terjadi komunikasi yang baik dan terarah.

2.1.1 Pemberi Tugas (Owner)

Pemberi tugas adalah orang atau badan baik swasta ataupun pemerintah yang mempunyai gagasan untuk mendirikan bangunan. Owner memberi tugas untuk melaksanakan pekerjaan bangunan kepada orang atau badan yang dianggap mampu melaksanakannya dan mempunyai kesanggupan untuk menyediakan dana untuk merealisasikan proyek tersebut.

Dalam Proyek Pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II: Gedawang-Penggaron STA (4+324.8) yang bertindak sebagai Pemberi Tugas adalah Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Departemen Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Tengah dan dikuasakan kepada PT. TRANS MARGA JATENG yang merupakan gabungan antara PT. JASA MARGA dan PT. Sarana Pembangunan Jawa Tengah.

Tugas dan Kewajiban Pemberi Tugas :

1. Mempunyai wewenang penuh terhadap keseluruhan proyek

2. Menunjuk serta memberikan tugas kepada konsultan perencana untuk melaksanakan proyek tersebut

(17)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 8 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

4. Mengadakan kontrak dengan perencana, pengawas dan kontraktor yang memuat tugas, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing unsur secara jelas dan sesuai prosedur hukum

5. Menunjuk kontraktor pemenang tender untuk melaksanakan proyek tersebut

6. Menyediakan sejumlah dana yang diperlukan untuk terwujudnya suatu proyek

7. Menunjuk konsultan pengawas untuk mengawasi secara langsung

pelaksanaan proyek di lapangan

8. Mengeluarkan semua perintah kepada kontraktor melalui konsultan pengawas

9. Mengesahkan keputusan menyangkut mutu, waktu pelaksanaan, biaya, sanksi dan denda terhadap pelangar kontrak

10. Menetapkan pekerjaan tambahan atau pengurangan pekerjaan dengan pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh konsultan

2.1.2 Konsultan Perencana

Konsultan Perencana adalah suatu badan atau perorangan yang dipercaya dan ditunjuk oleh Pemberi Tugas (Owner), dimana badan ini mempunyai keahlian tertentu dan ahli dalam membuat perencanaan pekerjaan suatu proyek, gambar-gambar kerja beserta penaksirannya, serta dapat memberikan nasehat dan jasa lainnya yang berhubungan dengan

(18)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 9 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

perencanaan, persiapan dan pelaksanaan objek-objek dibidang teknik bangunan.

Konsultan Perencana mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:

1. Membuat perencanaan lengkap dari proyek yang akan dibangun

sebagai dasar pelelangan

2. Mengadakan penyelidikan awal yang meliputi pengumpulan data

lapangan serta data penyelidikan tanah

3. Memberi usulan-usulan dan saran-saran kepada pemberi tugas

sehubungan dengan pelaksanaan proyek ini

4. Memberi penjelasan kepada pelaksana dan pengawas lapangan bila ada hal-hal yang kurang jelas dalam gambar rencana

5. Membuat perencanaan ulang/revisi bilamana diperlukan

6. Bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil perencanaan yang telah dibuatnya apabila sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

2.1.3 Konsultan Pengawas ( Supervisi )

Konsultan Pengawas atau Direksi Lapangan adalah orang atau badan yang mengawasi secara langsung pelaksanaan pekerjaan bangunan agar sesuai dengan perencanaan. Bertindak sebagai konsultan pengawas pada proyek pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen, Seksi II : Gedawang-Penggaron adalah PT. CIPTA STRADA.

(19)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 10 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

Adapun Konsultan Pengawas mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:

1. Mengawasi pelaksanaan pembangunan sesuai dengan jadwal

pelaksanaan dan sebagai penasehat Pemberi Tugas

2. Menolak pekerjaan yang tidak sesuai dengan perencanan dan berhak memerintahkan untuk mengadakan pemeriksaaan khususnya terhadap bagian pekerjaan tertentu yang meragukan

3. Mengadakan surat-menyurat atas nama pemberi tugas di lapangan 4. Memberi laporan kemajuan pekerjaan proyek kepada Owner

5. Pengawas berhak memerintahkan kontraktor untuk mengeluarkan setiap

orang yang tidak berkepentingan dari tempat pelaksanaan proyek

6. Pengawas bertugas untuk dan atas nama pemilik dengan surat

perjanjian kontrak masih berlaku

2.1.4 Kontraktor Pelaksana (Penyedia Jasa)

Kontrkator Pelaksana adalah pihak yang diserahi tugas untuk melaksanakan pembangunan proyek oleh Pemberi Tugas melalui prosedur lelang dan segala pekerjaan yang dilaksanakan harus sesuai dengan kontrak (rencana kerja dan syarat-syarat, dan gambar), dengan biaya sesuai kontrak yang mereka sepakati.

Kontraktor mempunyai hak dan kewajiban sebagai berikut : 1. Mengasuransikan pekerjaan dan kecelakaan kerja bagi tenaga kerja 2. Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan kemajuan pekerjaan

(20)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 11 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

3. Menerima sejumlah biaya pelaksanaan pekerjaan dan pemberi tugas, sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak perjanjian pemborongan

4. Membuat/mengerjakan pekerjaan sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak perjanjian pemborong (gambar rencana, bestek, risalah pekerjaan)

5. Membuat dokumen mengenai pekerjaan yang telah dilaksanakan dan diserahkan kepada pemberi tugas

6. Melakukan perbaikan atas kerusakan-kerusakan atau

kekurangsempurnaan pekerjaan akibat kelalaian selama pelaksanaan dengan menanggung semua biayanya

7. Menyerahkan hasil pekerjaan apabila pekerjaan telah selesai

Adapun sebagai kontraktor pelaksana pada proyek pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron ini adalah PT. Waskita Karya :

(21)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 12

PEMILIK PROYEK PT. TRANS MARGA JATENG

Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8)  KONSULTAN PENGAWAS KONSULTAN PERENCANA PT.CIPTA STRADA PT.VIRAMA KARYA

Gambar 2.1. Hubungan kerja organisasi pengelolaan proyek Gambar 2.1. Hubungan kerja organisasi pengelolaan proyek

Gambar 2.2 Hubungan Kerja Gambar 2.2 Hubungan Kerja Keterangan : Keterangan : : Garis komando/perintah : Garis komando/perintah : Garis koordinasi : Garis koordinasi KONTRAKTOR PELAKSANA PT. WASKITA KARYA PEMILIK PROYEK PT. TRANS MARGA JATENG

KONSULTAN PENGAWAS KONTRAKTOR PELAKSANA

PT. WASKITA KARYA PT. CIPTA STRADA

(22)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 13 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

2.2 SUSUNAN ORGANISASI PELAKSANA PROYEK

Dalam pelaksanaan suatu proyek, perlu adanya suatu organisasi pelaksanaan yang merupakan tata kerja untuk menunjang keberhasilan proyek. Organisasi dalam arti badan dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama dalam suatu kelompok-kelompk kerja yang saling terkait, bertanggung jawab dan bekerja secara harmonis untuk mencapai tujuan tertentu.

Organisasi adalah merupakan alat yang vital dalam pengendalian dan pelaksanaan proyek. Organisasi Proyek dikatakan berhasil jika mampu mengendalikan tiga hal utama yaitu mutu, waktu dan biaya.

Suatu organisasi mempunyai ciri sebagai berikut: 1. Adanya sekelompok orang

2. Terjadi hubungan yang harmonis dalam suatu kerja sama

3. Terjadi kerja sama berdasar atas hak, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing dengan tujuannya

Dalam organisasi proyek diperlukan batasan-batasan tersebut sehingga dapat menghindari adanya tumpang tindih tugas, maupun pelemparan tanggung jawab, sehingga semua permasalahan yang timbul dapat ditanggulangi secara menyeluruh, terpadu dan tuntas.

Stuktur Organisasi Bagian Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2009 sebagai berikut :

(23)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 14 Ruas Semarang‐Bawen

(24)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 15 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

2.2.1 Project Manager

Project Manager merupakan wakil kontraktor utama yang berhak untuk menetukan policy/kebijaksanaan proyek dalam memilih dan mentapkan cara pelaksanaan seluruh pekerjaan yang paling menguntungkan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun tugas wewenang dari seorang Project Manager adalah sebagai berikut:

1. Bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan proyek; 2. Mengadakan pengawasan pada pelaksanakan; 3. Mengkoordinasikan semua pekerjaan;

4. Mengontrol kemajuan kerja terhadap rencana proyek; 5. Bertanggung jawab atas mutu dan pekerjaan.

2.2.2 Site Manager

Dalam pelaksanaan operasi manajemen konstruksi, site manager adalah pemimpin tertinggi suatu proyek di lapangan yang mewakili Project Manager. Ia adalah pelaksana harian dari Project Manager dalam semua hal yang bersifat teknis dan koordinasi (lapangan). Dalam melaksanakan kegiatannya bertanggung jawab langsung kepada Manager.

Tugas Site Manager adalah sebagai berikut : 1. Bidang Teknik

a. Menyusun rencana jadwal kerja pelaksanaan (master schedule) b. Menghitung atau memperkirakan jumlah bahan yang dibutuhkan

(25)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 16 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

c. Mempelajari hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan untuk

mengetahui apakah pekerjaan-pekerjaan tersebut telah diselesaikan sebagaimana mestinya

d. Mengawasi secara langsung pekerjaan proyek di lapangan e. Memimpin rapat-rapat mengenai kemajuan pekerjaan

f. Mencatat segala kemajuan pekerjaan dan melaporkannya kepada pemimpin proyek

g. Mengendalikan proyek dalam hal pengambilan keputusan

h. Mempertanggungjawabkan semua pekerjaan, baik dalam hal biaya, waktu maupun kualitas pekerjaan

i. Mengatasi dan menjaga mutu pekerjaan 2. Bidang Manajerial

a. Membentuk organisasi lapangan dan membuat batasan wewenang b. Mengatur penempatan personalia

c. Menjaga disiplin dan ketertiban kerja karyawan

d. Membuat dan mengawasi jadwal pelaksanaan pekerjaan e. Mengatur penggunaan alat, tenaga kerja dan bahan f. Membuat jadwal waktu pemesanan bahan-bahan

g. Membuat rencana kerja pelaksanaan baik bulanan maupun mingguan 3. Bidang Administrasi dan Keuangan

a. Menyusun biaya atau anggaran berkala yang berhubungan dengan masalah teknik pekerjaan

(26)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 17 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

c. Meneliti dan melaporkan anggaran biaya pekerjaan tambahan dan pengurangan pekerjaan

2.2.3 Keuangan dan Administrasi

Bagian administrasi dan keuangan merupakan unsur pelaksana proyek yang penting dalam kelancaran suatu proyek. Kegiatan ini sangat berpengaruh pada efisiensi, arus informasi dan dalam manajerial proyek.

Adapun tugas-tugasnya antara lain :

a. Mengurus pembayaran upah semua unsur proyek b. Mengatur surat-menyurat, arsip dan dokumentasi c. Mengurus pembelian dan pembayaran bahan/material

d. Mengatur, mengawasi dan melaporkan semua hal tentang keuangan proyek kepada Project Manager

2.2.4 Logistik dan Peralatan

Bagian logistik bertugas mengatur pengadaan material yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan, juga menyelenggarakan administrasi dan inventarisasi material.

Adapun tugas-tugasnya antara lain :

a. Bersama Site Manager membuat jadwal pengadaan bahan/material dan peralatan proyek

b. Melaksanakan inventarisasi, administrasi dan dokumentasi pemesanan dan pengadaan bahan/alat

(27)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 18 Ruas Semarang‐Bawen

Seksi‐II : Gedawang‐Penggaron (STA 4+324.8) 

c. Melakukan pembelian atau penyewaan bahan/alat yang telah diputuskan oleh pimpinan proyek sesuai dengan jadwal pengadaan bahan/alat dan prosedur perusahaan

d. Mengatur penyelenggaraan penggudangan, penyimpanan, pemeliharaan dan pemakaian bahan/alat

2.3 HUBUNGAN KERJA DAN KOORDINASI

Hubungan kerja antara unsur-unsur pokok pelaksana pembangunan adalah masing-masing pihak harus tunduk dan patuh kepada persyaratan atau peraturan yang telah disusun, baik secara adminiftratif maupun secara teknis demi kelancaran jalannya pelaksanaan suatu proyek.

Secara garis besar pola dasar hubungan kerja diatur sebagai berikut : 1. Antara pemilik proyek (owner) dengan konsultan terjalin ikatan kontrak:

a. Pemilik proyek memberikan jasa/biaya pengawasan kapada konsultan b. Konsultan memberikan jasa pengawasan kepada pemilik proyek 2. Antara pemilik proyek (owner) dengan kontraktor terjalin kontrak :

a. Pemilik proyek memberikan biaya pelaksanaan pekerjaan kepada kontraktor

b. Kontraktor memberikan atau menyerahkan hasil pekerjaan kepada pemilik proyek

3. Antara konsultan dengan kontraktor terjalin ikatan koordinasi :

a. Konsultan memberikan pelaksanaan persyaratan kepada kontraktor b. Kontraktor merealisasikan persyaratan

(28)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 19 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

BAB III

TINJAUAN UMUM PROYEK

3.1 LATAR BELAKANG PROYEK

Perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin maju dan

kompleks, menuntut adanya mobilisasi yang tinggi dari pelakunya. Hal ini menyebabkan adanya tuntutan dari masyarakat untuk meningkatkan sarana dan prasarana lalu lintas. Menyusul berkembangnya arus lalu lintas jika tidak diimbangi dengan pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan akan menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Sarana dan prasarana transportasi yang memadai untuk memberikan kelancaran, keamanan dan kenyamanan kepada masyarakat saat ini semakin dibutuhkan. Selain itu perkembangan sarana ini juga akan mendukung berkembangnya bidang lainnya seperti bidang ekonomi, sosial, dan budaya yang diiringi dengan meningkatnya kehidupan masyarakat kita. Untuk itu pembangunan prasarana lalu lintas yang memadai seperti peningkatan jalan, pembuatan jalan baru, peningkatan jembatan, pembuatan jembatan baru adalah perlu untuk dilakukan. Jalan raya dan jembatan merupakan bagian dari prasarana perhubungan di darat yang mempunyai kedudukan dan peranan yang penting dalam kegiatan suatu negara.

Umumnya permasalahan lalu lintas dewasa ini berkisar pada kemampuan jalan yang tidak sesuai dengan beban lalu lintas yang ada serta jembatan lama yang tidak memadai. Oleh karena itu agar jembatan tersebut

(29)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 20 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

dapat mendukung kegiatan sehari-hari maka diperlukan pembangunan jembatan baru disamping jembatan lama agar dapat diperoleh lalu lintas nyaman dan aman.

3.2 TUJUAN PROYEK

Dengan selesainya proyek Pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen, Seksi II : Gedawang-Penggaron ini, diharapkan dapat berfungsi sesuai dengan rencana, diantaranya :

a. Memperlancar arus lalu lintas di daerah tersebut, baik ekonomi maupun pertanian

b. Memperlancar arus transportasi pada daerah Gedawang dengan desa Jabungan karena dibawah jembatan akan dibangun jalan tol Semarang-Solo

c. Meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna jalan Gedawang ke Jabungan, demikian sebaliknya dari Jabungan ke Gedawang

3.3 LOKASI PROYEK

Lokasi Proyek Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron STA (4+ 324.8) yang menghubungkan antara desa Gedawang dengan desa Jabungan dan terletak di desa Gedawang dengan desa Jabungan kecamatan Gedawang Kabupaten Ungaran, Provinsi Jawa Tengah.

(30)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 21 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron   3.4 DATA UMUM

Proyek ini merupakan bagian dari proyek jembatan yang menghubungkan desa Gedawang dengan desa Jabungan. Jembatan ini dibangun karena pada bawah jembatan ini akan dibangun jalan tol Semarang-Solo. Karena akses penghubung jalan ini tidak ada maka dibangun jembatan sebagai pengganti jalan yang menghubungkan kedua desa tersebut. Proyek pembangunan Jembatan Over Pass Tol Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron merupakan salah satu program peningkatan sumber daya manusia. Tujuan proyek ini adalah untuk meningkatkan kenyamanan berlalu lintas dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

3.4.1 Data Kontrak

Proyek ini dilaksanakan oleh Penyedia Jasa PT. Trans Marga Jateng, konsultan supervisi PT. Cipta Strada dan konsultan perencana PT. Virama Karya and Asc. Dengan tanggal kontrak proyek 13 Mei 2009 dan Nomor Kontrak TMJ . KJP . / V / 2009 / 003. Jenis Kontrak Unit Price.

3.4.2 Data Teknis

Penanganan Jembatan :

a. Panjang/bentang jembatan 50 meter

b. Lebar jembatan 8 meter lebar perkerasan 6 m dengan 1 jalur dan 2 lajur c. Jembatan utama menggunakan balok prategang

(31)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 22 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

d. Jumlah balok terdiri atas 10 buah girder @ 25,6 m e. Mutu beton girder K- 600

f. Pondasi abutmen dan pilar menggunakan pondasi Foot Plat kedalaman 1-2 m

Dengan demikian data-data Proyek Pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron adalah sebagai berikut :

Nama proyek : Proyek Pembangunan Jembatan Over Pass Tol

Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron Povinsi JawaTengah.

Paket : Jalan Tol Semarang-Solo

Lokasi Proyek : Desa Gedawang

Ruas Jalan : Gedawang-Jabungan

Panjang Jembatan : 50 meter

Lebar Jembatan : 1.00 + 6.00 + 1.00 (8 meter)

Pondasi : Foot Plat

Abutmen : Beton bertulang kelas C-1

Pilar : Beton bertulang kelas C-1

Girder : Beton K -600

Konstruksi Jalan : Arah Gedawang dan arah Jabungan Tanggal Kontrak : 13 Mei 2009

Nomor Kontrak : TMJ . KJP . / V / 2009 / 003

(32)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 23 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

Sumber Dana : PT. Trans Marga Jateng

Penyedia Jasa : PT. Trans Marga Jateng Konsultan Perencana : PT. Virama Karya and Asc Konsultan Supervisi : PT. Cipta Strada

Kontraktor Pelaksana : PT. Waskita Karya Waktu Pelaksanaan : 395 hari kalender Masa Pemeliharaan : 1.089 hari kalender

3.5 MATERIAL DAN PERALATAN MEKANIS 3.5.1Spesifikasi Teknis Material

Bahan material yang akan dipakai dalam suatu proyek terlebih dahalu harus diuji kualitasnya., sehingga akan didapat material yang terjamin mutunya. Pengujian material harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh direksi. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan material antara lain :

1. Material harus memenuhi spesifikasi dan standar yang berlaku

2. Material harus sesuai dengan ukuran, kebutuhan, tipe, dan mutu yang dipersyaratkan dalam spesifikasi teknis atau yang secara khusus disetujui secara tertulis oleh direksi

3. Seluruh material untuk bangunan struktural harus berkualitas

Selain itu material tersebut harus disimpan sedemikian rupa sehingga mutunya terjamin dan terpaelihara serta sewaktu-waktu harus siap untuk digunakan dalam pekerjaan.

(33)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 24 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

a. Air

Air dengan kualitas sebagai air minum dapat digunakan tanpa pengujian. Air dengan kriteria diatas tidak selalu ada dan jika tidak ada diharuskan untuk mengamati dan menguji apakah air tesebut mengandung bahan-bahan yang dapat merusak beton ataupun baja tulangan. Air yang digunakan harus bersih dan bebas dari zat-zat yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa, gula, ataupun zat organik.

b. Sement Portland

Sement Portland merupakan bahan pengikat dalam campuran beton maupun dalam adukan spesi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penimpanan semen antara lain : 1. Semen yang baru dikirim ke lokasi harus segera ditempatkan dalam

gudang penyimpanan, dalam setiap pengiriman harus dipisahkan agar mudah diidentifikasi antara semen yang masih baru dan semen yang sudah lama

2. Semen harus dijaga agar tidak tercampur dengan bahan - bahan yang lain

3. Semen diletakkan di atas papan kayu dengan ketinggian 30 cm dari lantai gudang untuk menghindari kelembaban

4. Semen ditumpuk tanpa menyinggung dinding gudang dengan jarak bebas 50 cm

(34)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 25 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

5. Tiap tumpukan tidak boleh lebih dari 10 kantong untuk menghindari mengerasnya semen dibagian bawah karena tekanan

6. Gudang harus terlindung dari cuaca, memiliki ventilasi dan cukup lapang untuk membuat semen dalam jumlah cukup besar.

c. Agregat Halus

Suatu agregat dapat dikategorikan sebagai agregat halus bila mempunyai ukuran 0,15 – 5 mm. Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu.

Syarat-syarat untuk agregat halus menurut PBI 1971 N.I.-2, antara lain:

1. Terdiri dari butiran tajam dan keras, bersifat kekal artinya tidak mudah pecah atau hancur akibat pengaruh cuaca seperti terik matahari dan hujan

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat kering). Yang dimaksud dengan lumpur adalah butiran yang lolos saringan 0,063 mm. Bila kadar lumpur lebih dari 5 %, maka harus dicuci terlebih dahulu sebelum dipakai

3. Tidak boleh mengandung bahan organik terlalu banyak, yang harus dibuktikan dengan percobaaan warna dari abrams harder (dengan larutan NaOH)

(35)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 26 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

4. Harus terdiri dari butiran-butiran yang beraneka ragam besarnya dan apabila disaring harus memenuhi persyaratan :

• sisa di atas saringan 4 mm, harus minimum 2 % berat • sisa di atas saringan 1 mm, harus minimum 10 % berat

• sisa di atas saringan 0,25 mm, harus berkisar antara 80% dan 95% berat

5. Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton, kecuali dengan petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui

d. Agregat Kasar

Suatu agrgat dapat dikategorikan sebagai agregat kasar bila mempunyai ukuran butiran 5 mm – 40 mm, sedangkan yang lebih besar dari itu disebut sebagai batu. Agregat kasar atau split pada umumnya diperoleh dari pemecahan batu dengan stone crusher, namun bisa juga dari pemecahan secara manual.

Syarat-syarat agregat kasar sesuai PBI 1971 N.I. – 2, antara lain : 1. Terdiri dari butiran keras, tidak berpori.

2. Tidak mengandung lumpur lebih dari 1% terhadap berat kering, 3. Tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton,

4. Ukuran maksimum agregat tidak lebih besar dari ¾ jarak bersih minimum antar tulangan.

(36)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 27 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan mesin pengaus Los Angeles, tidak boleh terjadi kehilangan berat lebih dari 50 %. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan apabila diayak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

• Sisa diatas ayakan 31,5 mm, harus 0 % berat.

• Sisa diatas ayakan 4 mm, harus berkisar antara 90% - 98% berat. • Selisih antara sisa komulatif diatas dua ayakan berurutan adalah

maksimum 60% dan minimum 10%.

e. Batu Pecah/Belah

Batu pecah/belah beton siklop harus terdiri dari batu yang telah disetujui kualitasnya, keras dan awet, bebas dari retak, tidak porous dan tidak rusak oleh pengaruh cuaca. Batu harus bersudut runcing, bebas dari kotoran, minyak dan bahan lain yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan beton.

f. Baja Tulangan

Adapun syarat-ayarat dalam pemilihan dan penyimpanan baja tulangan antara lain :

1. Penimbunan di udara terbuka untuk jangka waktu yang lama dicegah 2. Mutu yang meragukan harus diperiksa di lembaga pemeriksaan

(37)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 28 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

3. Mutu harus dijamin oleh pabrik pembuatnya dengan sertifikat

4. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm dan tidak bersepuh seng

5. Harus disimpan sedemikian rupa untuk menghindari korosi atau kerusakan lainnya

g. Begisting

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan bahan sebagai begisting, antara lain :

1. Dapat terbuat dari kayu ataupun baja yang cukup kaku untuk

mempertahankan posisi yang diperlukan selama pengecoran, pemadatan, dan perawatan

2. Semua kayu harus padat dan bebas dari lengkung, puntir, getah, simpul yang besar dan lepas, tepi bergelombang, dan kerusakan lainnya yang mempengaruhi kekuatan maupun penampilan dari struktur akhir

h. Bahan Pembantu

Untuk memperbaiki mutu beton, sifat-sifat pengerjaan, peningkatan dan pengerasan, ataupun untuk maksud-maksud lain, dapat dipakai bahan-bahan pembantu. Jenis dan jumlah bahan pembantu yang dipakai harus disetujui oleh pengguna barang/jasa. Manfaat dari bahan pembantu harus dapat dibuktikan dengan hasil-hasil percobaan. Selama

(38)

bahan-Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 29 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

bahan pembantu dipakai, harus diadakan pengawasan yang cermat terhadap pemakaiannya.

3.5.2 Sumber Bahan Material

Dalam pemilihan material, selain syarat teknis kita juga harus memperhatikan kemudahan tersedianya material di lokasi proyek, karena menyangkut efisien waktu dan dana. Adapun sumber bahan material untuk pembangunan Jembatan Over Pass Tol Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II: Gedawang-Penggaron adalah sebagai berikut :

1. Air diambil dari sungai Gedawang (air sungai setempat)

2. Semen yang digunakan adalah Semen Gresik 50 kg dan Holcim 40 kg 3. Agregat halus/pasir berasal dari Muntilan dan Lokal

4. Agregat kasar/batu pecah berasal dari Muntilan dan Lokal

5. Baja tulangan dari PT. Krakatau Steel dengan diameter D13, D16, D19, D22, D25, serta dengan mutu U32

6. Kayu begisting peri yang digunakan berukuran 5/7, 7/10, 6/12 dan papan multiplek setebal 12 mm dan 18 mm

3.5.3Peralatan Mekanis

Peralatan untuk pelaksanaan proyek sangat diperlukan terutama dalam bidang keteknikan. Dalam menggunakan peralatan harus dipertimbangkan mengenai aspek ekonomis dan efektifitas kerja, sehingga dapat menunjang kelancaran pekerjaan.

(39)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 30 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

Yang dimaksud dengan penggunaan peralatan disini adalah penggunaan yang benar dari peralatan berdasarkan jenisnya pada lapangan atau pada bidang pekerjaan yang tepat. Dengan penggunaan peralatan yang tepat juga dapat memperpanjang jangka waktu usia pemakaian alat itu sendiri. Disamping itu, pemilihan peralatan hendaknya harus tepat, didasarkan pada pertimbangan produktifitas dan umur ekonois dari peralatan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan alat, untuk pemilihan alat pekerjaan, diantaranya :

1. Macam jenis pekerjaan (pembangunan, rehabilitasi, dan pemeliharaan) 2. Besarnya pekerjaan (berapa luas, berapa kilometer, dan kelas jalan) 3. Daerah pekerjaan (pegunungan, tanah rawa, tanah gambut)

4. Sifat proyek (menyangkut waktu penyelesaian)

Dari beberapa faktor diatas dapat ditentukan macam peralatan yang akan diperlukan dan jumlah masing-masing peralatan. Setelah ditentukan jenis dan jumlanya maka perlu ditentukan spesifikasi dari peralatan tersebut. Hal ini sangat penting untuk memperoleh peralatan yang baik, namun dengan harga yang relatif murah.

Dalam memilih peralatan yang ditinjau dari segi produsen/pabrik maka diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Reputasi dari pabrik yang membuat

b. Reputasi dari peralatan tersebut, dalam hal ini mengenai umur produksi c. Garansi penunjang (berupa tenaga ahli, onderdil, training)

(40)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 31 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

d. Standarisasi, sedapat mungkin dibeli dari pabrik yang pembuat peralatan yang sudah mempunyai standar mutu.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, maka pemilihan peralatan akan lebih mudah dilakukan dalam rangka memperoleh peralatan yang tepat, murah, dan awet. Mengingat pembangunan dari jembatan ini termasuk pekerjaan yang cukup berat, maka selain dikerjakan oleh tenaga manusia juga memanfaatkan bantuan peralatan mekanis. Tujuan dari penggunaan peralatan mekanis adalah :

1. Mempercepat selesainya suatu pekerjaan, mengingat volume pekerjaan yang cukup besar

2. Memperoleh suatu hasil pekerjaan yang lebih baik dan efisien

Pada pelaksanaan pekerjaan proyek Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron ini terdapat beberapa peralatan yang digunakan. Peralatan ini dapat digolongkan cara penggunaannya secara manual maupun dengan alat berat. Adapun peralatan yang dipergunakan antara lain :

a. Genset/Motor Diesel

Genset merupakan alat dengan system kelistrikan. Genset ini berupa generator dengan tenaga diesel, yang berfungsi sebagai tenaga listrik dari alat-alat berkapasitas kecil, misalnya air, mesin las listrik, , lampu penerangan, dan mesin beton molen.

(41)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 32

Gambar 3.1 Genset

a. Dump Truck

Alat ini digunakan untuk mengangkut material timbunan dari tempat asal/quary ke lokasi proyek. Di samping dump truk juga digunakan truk-truk biasa untuk mengangkut baja tulangan.

Gambar 3.2 Alat berat Dump Truck Ruas Semarang‐Bawen 

(42)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 33 b. Excavator ( Backhoe )

Alat ini digunakan untuk penggalian pada lokasi-lokasi abutment maupun pilar dalam pembuatan poer/pile cap. Selain itu excavator juga digunakan untuk perapian tebing pada timbunan oprit jembatan. Excavator yang dipakai adalah dengan kapasitas 0,8 m3 yang bejumlah 1 buah.

Gambar 3.3 Alat berat Excavator

c. Water Tank/Pompa Air

Pompa air digunakan untuk menyirami beton abutmen dan pilar jembatan serta menyirami jalan lalu lintas kendaraan truk yang mengangkut agregat halus agar tidak berdebu yang digunakan untuk galian dan timbunan jalan tol Semarang-Solo.

Ruas Semarang‐Bawen 

(43)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 34 Gambar 3.4 Alat berat Water Tank

d. Truck Mixer

Truck mixer digunakan untuk mengangkut adukan beton dari lokasi pencampuran (pabrik) PT. Beton Indotama Surya Semarang ke lokasi proyek. Selama dalam perjalanan, silinder tempat aduakan beton berputar terus agar adukan tersebut tidak mengeras.

Gambar 3.5 Alat berat Truck Mixer Ruas Semarang‐Bawen 

(44)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 35 e. Concrete Vibrator

Untuk mencegah terjadinya keropos pada beton, maka pada saat pengecoran harus disertai dengan proses pemadatan. Alat untuk pemadatan ini dinamakan concrete vibrator yang dioperasikan dengan energi listrik dari generator.

Gambar 3.6 Concrete Vibrator

3.4 PERENCANAAN PROYEK 3.4.1 Uraian Umum

Perencanaan adalah suatu kegiatan awal sebelum dilaksanakannya sebuah pekerjaan pada suatu proyek. Sebelum melaksanakan perencanaan, terlebih dahulu diadakan pengumpulan data teknis maupun nonteknis melalui survei di lapangan dan penelitian di laboratorium. Data-data yang diperoleh akan mendukung dilaksanakannya studi kelayakan dan perencanaan fisik proyek.

Ruas Semarang‐Bawen 

(45)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 36 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

Studi kelayakan merupakan salah satu faktor yang ikut mendukung apakah proyek tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Suatu perencanaan mempunyai kaitan kebelakang pada survey pendataan dan penyelidikan yang merupakan awal proyek, serta kaitannya ke depan berupa pelaksanaan, pengoperasian, pemakaian dan perawatan sebagai perwujudan dan pencapaian proyek.

Perencanaan yang dilaksanakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Konstruksi harus kokoh dan stabil b. Mutu pekerjaan terjaga dengan baik c. Biaya proyek harus seekonomis mungkin d. Waktu pelaksanaan proyek cepat

e. Penggunaan peralatan dan tenaga kerja yang efisien

Perencanaan struktur Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron meliputi perencanaan struktur atas dan perencanaan struktur bawah.

3.4.2 Survey Pendahuluan

Survey pendahuluan ini merupakan tinjauan ke lokasi/lapangan dimana proyek tersebut akan dilaksanakan. Dalam melakukan survey pendahuluan harus dilakukan secara teliti dan cermat, karena suatu kesalahan akan mengakibatkan kegagalan perencanaan suatu proyek. Survey yang dilakukan adalah untuk menentukan tipe dari konstruksi jembatan yang

(46)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 37 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

akan digunakan sesuai dengan kondisi saat ini dan dimasa yang akan datang. Survey yang akan dilakukan bertujuan untuk mendapatkan :

a. Data tanah, yang nantinya akan didirikan jembatan di atasnya, hal ini penting untuk menentukan tipe pondasi yang akan digunakan

b. Data lalu lintas, untuk memperhitungkan kelas jembatan

c. Data topografi dan geologi, untuk mengetahui karakteristik, topografi daerah perencanaan, geometrik jalan dan konstruksi dari jembatan

3.4.3 Analisa Data

a. Data Mekanika Tanah

Penyelidikan tanah merupakan bagian dari pekerjaan perencanaan suatu proyek, penyelidikan tanah disini untuk menentukan kedalaman tanah keras yang akan digunakan sebagai lapisan pendukung konstruksi pondasi serta untuk menentukan jenis pondasi yang sesuai dengan kondisi beban dan kondisi tanah serta untuk menentukan daya dukung tanah pada perencanaan pondasi.

b. Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium

Penyelidikan tanah yang dilaksanakan meliputi penyelidikan di lapangan dan laboratorium. Penyelidikan di lapangan meliputi pekerjaan boring dan pengambilan contoh tanah (sampling). Pada pekerjaan bor alat yang digunakan adalah bor mesin (Drilling Bore) dengan diameter 3 inchi.

(47)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 38 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

c. Data Topografi dan Geologi

Data topografi dan geologi berhubungan langsung dengan keadaan, bentuk dan kondisi di dalam maupun di permukaan tanah, sehingga data-data tersebut dapat digunakan untuk merencanakan geometrik dari jalan, bentuk konstruksi pada jembatan. Kondisi topografi disekitar jembatan merupakan dataran rendah.

3.4.4 Perencanaan

Perencanaan mutlak diperlukan dalam pembangunan jembatan. Perencanaan dilakukan mulai dari konstruksi pondasi sampai struktur atas. Perencanaan jembatan dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Perencanaan struktur bawah, terdiri dari pondasi, kepala jembatan (abutmen), dan pilar jembatan

b. Perencanaan struktur atas, terdiri dari balok pratekan, plat lantai jembatan, dan perkerasan jalan

Dalam hal ini penulis membahas struktur bagian atas serta bangunan pelengkap.

1. Konstruksi Pondasi

Pondasi berfungsi untuk meneruskan beban dari berat sendiri pondasi dan bangunan di atasnya ke lapisan tanah di bawahnya. Pondasi merupakan bagian konstruksi bangunan struktur bawah, dan untuk menentukan pemilihan tipe pondasi faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain: a. Beban yang harus dipikul

(48)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 39 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron   b. Keadaan tanah dasar c. Biaya pembuatan pondasi

d. Pemakaian peralatan-peralatan berat

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut diatas dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan pilihan tipe pondasi. Pada pembangunan Jembatan Over Pass Tol Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron menggunakan satu jenis pondasi yaitu pondasi Foot Plat. Pondasi Foot Plat direncanakan dan kemudian dipasang pada kedalaman 1-2 m dengan mutu beton kelas C-1 dan menggunakan tulangan D13, D16, D22, D25, danD32 dengan mutu baja tulangan BJTD – 40/fy = 400 MPa untuk footing pada abutmen. Kemudian untuk pondasi abutment sama seperti pada pondasi pilar.

2. Konstruksi Abutmen

Abutmen atau kepala jembatan merupakan struktur bangunan bawah suatu konstruksi jembatan. Abutmen mempunyai fungsi sebagai pendukung ujung-ujung jembatan, sebagai penerus gaya-gaya akibat beban dari bangunan atas ke pondasi, sebagai penahan tekanan tanah aktif, sebagai tempat perletakan gelagar jembatan, sebagai dinding penahan tanah agar tanah yang berada di belakang dinding abutmen tidak mengalami longsor. Dalam memilih jenis dan bentuk abutment perlu diperhatikan :

a. Tinggi pemadatan b. Macam tanah pondasi

(49)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 40 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

c. Besarnya beban yang bekerja

Tipe abutmen yang digunakan di Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron adalah tipe yang terbuat dari konstruksi beton bertulang dengan jenis pondasinya adalah Foot Plat dengan kedalaman 1 - 2 m. Abutmen menggunakan tulangan dengan diameter D13, D16, D19, D25, D32 dengan mutu baja tulangan BJTD – 40/fy = 400 MPa. Sedangkan mutu beton abutmen kelas C-1

2. Konstruksi Pilar (Pier)

Pilar berfungsi sebagai pendukung bangunan atas dan meneruskan beban ke pondasi. Ukuran tiang pada pilar jembatan ditentukan oleh pertimbangan praktis antara lain besarnya reaksi tumpuan, jarak yang diperlukan untuk perkembangan bangunan, serta jarak kerangka struktur atau girder. Pada jembatan ini terdapat satu buah pilar yang terbuat dari konstruksi beton bertulang dengan jenis pondasinya adalah dengan kedalaman 1-2 m . Adapun beton yang digunakan adalah beton dengan mutu kelas C-1. Pada pilar menggunakan tulangan dengan diameter D 13, D 16, D 22, D 25 dengan mutu baja tulangan BJTD – 40/fy = 400 MPa.

3.5 PELAKSANAAN PROYEK 3.5.1 Uraian Umum

Pelaksanaan pekerjaan merupakan realisasi segala rencana dan rancang bangun struktur yang telah dituangkan dalam bentuk tulisan dan

(50)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 41 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron  

gambar kerja. Pada proyek pembangunan Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron yang telah disetujui pimpinan proyek, pengawas dan pelaksana. Pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus memperhatikan rencana kerja yang akurat sesuai dengan kondisi lapangan dan sumber daya yang ada.

Dalam pembangunan proyek ini dilibatkan berbagai macam peralatan, material , dan sejumlah tenaga kerja yang cukup besar. Dengan demikian koordinasi pelaksanaan harus diatur secermat mungkin untuk menjaga terciptanya suatu pelaksanaan pekerjaan yang efisien. Hal ini sangat penting karena berpengaruh terhadap pencapaian target, baik teknis maupun waktu pelaksanaan pekerjaan.

Untuk itu diperlukan rencana penjadwalan yang behubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Penjadwalan tersebut berupa penggambaran dari suatu pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan, baik mengenai dimulainya pekerjaan, akhir pelaksanaan pekerjaan, maupun kualitas pekerjaan yang dicapai dalam waktu tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai pekerjaan yang tepat waktu dengan hasil yang sesuai didalam pelaksanaan.

3.5.2 Urutan pelaksanaan

Penulis menitikberatkan pekerjaan pada struktur bawah. Adapun urutan pelaksanaan pekerjaan bertujuan untuk mempermudah dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan Jembatan Tol Over Pass Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron

(51)

Jembatan Over Pass Tol Semarang‐Solo 42 Ruas Semarang‐Bawen 

Seksi‐II: Gedawang‐Penggaron   adalah sebagai berikut :

1. Pekerjaan persiapan 2. Pekerjaan pengukuran

3. Pekerjaan galian dan urugan tanah 4. Pekerjaan abutmen

5. Pekerjaan pilar

6. Pekerjaan dinding penahan tanah 7. Pekerjaan sturktur atas (balok girder) 8. Pekerjaan plat lantai dan pengaspalan 9. Pekerjaan sandaran Railling

3.6 PEMBIAYAAN

Proyek pembangunan jembatan dibiayai dari dana APBN

3.7 SISTEM PEMBAYARAN

Sistem pembayaran menurut kontrak adalah unit price yaitu pembayaran yang didasarkan pada angka perkiraan yang dihitung pada awal kontrak, untuk pelaksanaan pekerjaan yang sudah ditambahkan faktor resiko dan lain-lain yang berhubungan dengan pelaksanaan dan beban pekerjaan pada pemborong, yaitu besarnya nilai pembayaran berdasarkan prestasi dan volume fisik dari pekerjaan yang telah diselesaikan.

(52)

BAB IV

TINJAUAN KHUSUS PROYEK

4.1 PENDAHULUAN

Dalam peleksanaan Praktik Kerja Lapangan yang sangat singkat ini, maka disini penulis hanya memberikan laporan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan sesuai dengan waktu yang diberikan, sehingga penulis tidak dapat memberikan laporan pelaksanaan pekerjaan secara menyeluruh, dan waktu pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ini bertepatan dengan pekerjaan pekerjaan pembuatan abutmen. Untuk pekerjaan lain yang telah atau akan berlangsung tidak dilaporkan secara detail dalam laporan ini.

4.2 PEMBUATAN ABUTMEN JEMBATAN

Pembuatan abutmen pada Proyek Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II: Gedawang-Penggaron ini

menggunakan pondasi Foot Plat dengan kedalaman 1-2 m. Secara

keseluruhan baik pada abutmen 1, abutmen 2, dan pilar, proyek Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron menggunakan pondasi Foot Plat.

Secara keseluruhan pekerjaan abutmen meliputi : 1. Pekerjaan Galian Tanah

2. Pekerjaan Pondasi 3. Pekerjaan Urugan Tanah

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 43

Ruas Semarang-Bawen

(53)

4. Pekerjaan Pemadatan Tanah Pondasi

5. Pekerjaan Penulangan

6. Pekerjaan Begisting Peri

7. Pekerjaan Pengecoran

8. Pekerjaan Pembongkaran Bekesting

9. Pekerjaan Perawatan Beton

4.2.1Pekerjaan Galian Tanah

Galian yang dipakai dalam proyek Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron adalah jenis

galian biasa. Tempat pondasi Foot Plat digali dengan menggunakan

Excavator (Backhoe). Galian dilakukan sampai kedalaman yang telah

ditentukan sesuai dengan gambar rencana, sehingga nantinya areal penggalian siap untuk dipasang pondasi Foot Plat.

Gambar 4.1 Pekerjaan Galian Tanah

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 44

Ruas Semarang-Bawen

(54)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 45

Ruas Semarang-Bawen

Seksi-II: Gedawang-Penggaron (STA 4+324.866) 

Pada pekerjaan galian tanah kedalaman galian tidak sesuai dengan yang instruksikan. Kenyataan di lapangan galian tanah abutmen ini kedalamannya menyampai 1,76 m sedangkan yang direncanakan atau dalam gambar kerja kedalaman galian hanya 1,7 m. Ini dikarenakan pada pekerjaan galian tanah pondasi menggunakan alat berat Excavator yang sulit untuk

mendapatkan kedalaman yang direncanakan.

Jadi dengan menggunakan alat berat Excavator pada pekerjaan galian

tanah hanya bisa memperkirakan berapa kedalaman tanah yang direncanakan sehingga perlu ketelitian dalam menggali tanah dengan menggunakan Excavator.

4.2.2 Pekerjaan Pondasi

Pekerjaan pondasi dilakukan setelah penggalian dan penentuan titik-titik yang merupakan letak pondasi. Pekerjaan pondasi dikerjakan dengan

menggunakan alat Excavator untuk menggali tanah yang akan dibuat

pondasi. Pada proyek Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron ini menggunakan pondasi

Foot Plat dengan mutu beton Kelas C-1.

Setelah pekerjaan penggalian selesai maka proses pekerjaan pondasi dilakukan dengan urutan sebagai berikut :

a. Penggalian Tanah Pondasi

Penggalian tanah untuk pondasi digali sampai pada kedalaman yang telah ditentukan dan direncanakan yaitu kedalaman 1-2 m.

(55)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 46

Pekerjaan penggalian ini menggunakan alat berat Excavator dengan

volume bucket 0,8 m3.

Gambar 4.2 Galian Tanah Pondasi

Pekerjaan galian tanah pada kenyataan di lapangan dengan ada yang direncanakan tidak sesuai. Ini disebabkan karena kesulitan dalam penggalian tanah yang menggunakan alat berat Excavator dan hanya bisa

memperkirakan kedalaman yang sesuai dengan gambar kerja. Kedalaman

yang dicapai dengan menggunakan Excavator adalah 1,76 m sedangkan

dalam rencana kedalamannya hanya mencapai 1,7 m.

Jadi, Excavator dapat mempercepat pekerjaan menggai tanah

daripada menggali secara manual tetapi perlu adanya koordinasi dalam menggali tanah menggunakan Excavator.

Ruas Semarang-Bawen

(56)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 47

b. Pekerjaan Lantai Kerja

Setelah tanah digali pada kedalaman 1-2 m pekerjaan selanjutnya adalah pembuatan lantai kerja. Pada konstruksi beton bertulang yang langsung terleetak di atas tanah, maka dibawahnya harus dibuat lantai keja yang rata. Untuk peletakan pondasi yang lebih dalam harus diperhitungkan dengan tambahan ruang kerja dengan lebar peletakan 400 sampai 500 mm pada setiap sisi.

Gambar 4.3 Dimensi Lantai Kerja

Karena pada saat pengerjaan lantai dari penggalian tanah, pembuatan lantai kerja, dan pengecoran lantai kerja langsung diawasi oleh mandor dan pelaksana jembatan tersebut. Sehinggga dalam pengerjaan lantai kerja dapat dikerjakan ssuai dengan gambar kerja dan tidak ada pengurangan dalam tebal lantai kerja. Dalam pengecoran lantai kerja digunakan campuran nominal semen, pasir, dan kerikil (atau batu pecah) dalam perbandingan isi 1 : 3 : 5.

Ruas Semarang-Bawen

(57)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 48

Jadi tambahan lebar peletakan total 800 sampai 1000 mm. Dalam pembangunan proyek Jembatan Over Pass Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen Seksi II : Gedawang-Penggaron tebal lantai kerja 100 mm dengan panjang pondasi abutmen 9200 mm dan lebar 8200 mm. Didalam gambar kerja dan pengerjaannya didalam lapangan lantai kerja dikerjakan sesuai dengan gambar kerja. Karena itu juga dalam pengerjaan penulangan pada pondasi dapat dikerjakan sesuai dengan gambar kerja.

4.2.3Pekerjaan Urugan Tanah

Pekerjaan ini meliputi penimbunan tanah asli atau penimbunan kembali. Urugan tanah ini dilakukan dengan menggunakan alat berat

Excavator (backhoe) dengan volume bucket 0,8 m3.

Gambar 4.4 Pekerjaan Urugan Tanah

Ruas Semarang-Bawen

(58)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 49

Ruas Semarang-Bawen

Seksi-II: Gedawang-Penggaron (STA 4+324.866) 

4.2.4 Pekerjaan Pemadatan Tanah Pondasi

Setelah pengerjaan urugan tanah pondasi dengan menggunakan alat berat Excavator pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan pemadatan tanah

pada daerah sekitar pondasi. Ini dilakukan agar pada saat melakukan pemasangan skavolding dan pemasangan bekesting peri abutmen tanah tidak mengalami ambles pada saat pemasangan skavolding. Dalam pekerjaan pemadatan ini alat yang digunakan memakai stemper tangan. Karena pada pemadatan tanah pondasi abutmen ini memiliki ruang kerja yang cukup kecil sehingga stemper tangan ini sangat cocok untuk pekerjaan pemadatan pondasi.

Jadi tanah yang dipadatkan sekitar daerah pondasi sangat berguna sebagai lantai kerja bagi para pekerja dalam membangun abutmen. Serta dapat mempermudah dan aman dalam pemasangan skavolding dan bekesting peri abutmen. Alat pemadatannya juga memakai stemper tangan jadi pemadatan tanah sekitar pondasi tanah menjaid lebih padat.

4.2.5 Pekerjaan Penulangan

Pekerjaan penulangan pada pekerjaan abutmen ini meliputi pekerjaan penulangan untuk :

a. Pemasangan Tulangan Footing Abutmen

Pada pekerjaan pemasangan tulangan Footing abutmen

menggunakan tulangan yang berukuran D13, D16, D25, dan D32. Semua

(59)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 50

ulir/diprofilkan.Tulangan dipasang membentuk bangunan jajar genjang karena kondisi tanah yang mendukung untuk bentuk pondasi tersebut.

Footing abutmen dikerjakan dengan ketinggian 1700 mm dan kemiringan Footing 500 mm dari bawah pondasi dengan panjang pondasi 8000 mm.

Gambar 4.5 Pekerjaan Penulangan Footing Abutmen

Gambar 4.6 Detail Penulangan Footing Abutmen pada Gambar Kerja

Ruas Semarang-Bawen

(60)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 51

Pekerjaan penulangan pada Footing abutmen sudah sesuai dengan

gambar kerja yang telah direncanakan. Pada kenyataan di lapangan

penulangan telah sesuai karena sebelum pekerjaan Footing abutmen

tulangan yang akan digunakan telah dibengkokan oleh pekerja yang ahli. Pekerja yang akan membengkokkan tulangan biasanya telah melihat daftar tulangan yang akan dibengkokan yang diberikan oleh kontraktor.

Di lapangan kontraktor memberikan daftar tulangan yang akan dibengkokkan sesuai dengan apa yang akan dibangun pada proyek seperti tulangan abutmen, tulangan pilar. Daftar tulangan ini berguna untuk mempermudah dalam melakukan pembengkokan tulangan dan biasanya bentuk tulangan yang paling banyak diberi kode.

Gambar 4.7 Detail Penulangan Footing Abutmen

(Pedoman Pengerjaan Beton Berdasarkan SKSNI T-15-1991-03)

Pada buku Pedoman Pengerjaan Beton Berdasarkan SKSNI T-15-1991-03 dengan pengarang R. Sagel, P. Kole, Gideon Kusuma menyatakan kait-kait pada batang-batang tulangan dapat berupa kait

Ruas Semarang-Bawen

(61)

Jembatan Over Pas Tol Semaarng‐Solo 52

penuh, miring, atau lurus. Pada garis tengah kait dari batang ulir minimal harus 5D. Selanjutnya ujung lurus untuk kait penuh paling sedikit harus 4D dan untuk kait lurus dan miring 5D.

Ruas Semarang-Bawen

Seksi-II: Gedawang-Penggaron (STA 4+324.866) 

5 Ø

≥ 5 Ø

Gambar 4.8 Tulangan Ulir Model Kait Miring

Jadi pekerjaan penulangan pada pondasi abutmen di lapangan

maupun pada gambar keja tidak sesuai dengan Pedoman Pengerjaan

Beton Berdasarkan SKSNI T-15-1991-03. Dalam penulangan pondasi

memerlukan tulangan kait miring. Agar saat terjadi gempa tulangan tidak mengalami pergeseran yang cukup jauh dan juga bengkokan tulangan ini dapat menerima beban optimum. Serta agar tulangan tarik pada pondasi abutmen tidak bergeser kearah yang dapat merusak beton tersebut.

b. Penulangan Dinding Abutmen

Penulangan pada dinding abutmen dilakukan setelah pengecoran pada poer abutmen/footing selesai. Dinding abutmen menggunakan tulangan dengan diameter D13, D16, dan D25. Dengan tinggi dinding abutmen 9500 mm, lebar 1200 mm, dan panjang abutmen 9000 mm. Pekerjaan penulangan pada dinding abutmen sangat sulit karena pada pekerjaan penulangan abutmen ini memiliki ruang kerja yang sempit.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :