• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH PANNMED. (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwifery, Environment, Dentist)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ILMIAH PANNMED. (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwifery, Environment, Dentist)"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL ILMIAH

PANNMED

(Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwifery, Environment, Dentist)

VOL. 11, NO. 2, SEPTEMBER-DESEMBER 2016

TERBIT TIGA KALI SETAHUN (PERIODE JANUARI, MEI, SEPTEMBER)

Penanggung Jawab:

Dra. Ida Nurhayati, M.Kes.

Redaktur:

Drg. Herlinawati, M.Kes.

Penyunting Editor:

Soep, SKp., M.Kes. Ir. Zuraidah Nasution, M.Kes. Nelson Tanjung, SKM., M.Kes. Fauzi Romeli, SKM, M.Kes. Cecep Triwibowo, S.Kp., M.Kes.

Desain Grafis & Fotografer:

Nastika Sari Lubis, S.Kep., Ns. Julia Hasanah

Sekretariat:

Sumarni, SST Robert Boyke R. Sinaga

Mitra Bestari:

Dr. dr. Juliandi Harahap, M.A. (FK. USU Medan) Dr. Saryono, S.Kp., M.Kes. (FIKes Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto)

Alamat Redaksi:

Jl. Let Jend Jamin Ginting KM 13.5 Kelurahan Laucih Kec. Medan Tuntungan Telp: 061-8368633

Fax: 061-8368644

DAFTAR ISI

Editorial

Gambaran PH Saliva Terhadap Karies Gigi pada Siswa/i Kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan oleh Sri Junita Nainggolan, Nur Anjelina...74-76 Perbedaan Penggunaan Kepala Sikat Gigi Lurus dan Kepala Sikat Gigi Melengkung Terhadap Penurunan Indeks Plak pada Siswa-Siswi Kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan oleh Rawati Siregar, Jessi Sihotang...77-81 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pre-Eklamsia pada Hamil di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2014 oleh Fithriany, Fitri Susana, Cut Yuniwati...82-86 Gambaran Kebersihan Tangan dan Kuku dengan Infeksi Enterobiasis pada Siswa Sekolah Dasar di Kota Medan oleh Salbiah...87-92 Pengetahuan HIV/AIDS pada Remaja di Kelas XI SMA Negeri 1 Dolok Panribuan oleh Dodoh Khodijah…………...93-96 Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian Susu Formula dengan Terjadinya Karies Anak pada Usia 3-5 Tahun di Desa Sena Perumahan Cendana Asri Kec. Batang Kuis Tahun 2016 oleh Manta Rosma, Susy Adrianelly Simaremare...…...97-100 Tingkat Pengetahuan Orang Tua (Ibu) Tentang Makanan Kariogenik dengan Kejadian Karies Gigi Pada Siswa-Siswi Kelas III di SDN 060971 Medan oleh Rosdiana Tiurlan Simaremare...101-104 Gambaran Penggunaan Obat Kumur Ekstrak Tanaman Serai (Cymbopogon Nardus) Terhadap Penurunan Indeks Plak pada Mahasiswa KSO Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Medan oleh Intan Aritonang, Yetti Lusiani, Hasny...105-107 Hubungan Kehamilan Lewat Waktu dengan Kejadian Bayi Lahir Asfiksia di RSUP. H. Adam Malik Medan oleh Elizawarda...108-112

(2)

Hubungan Pengetahuan Nutrisi Ibu Hamil Terhadap Anemia di Rumah Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa Tahun 2015 oleh Risma Dumiri Manurung...113-116 Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Sistem Informasi yang Dimiliki Keluarga Terhadap Tindakan Penatalaksanaan Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Tuntungan Tahun 2016 oleh Soep...117-120

Diterbitkan oleh : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MEDAN Jl. Jamin Ginting KM. 13,5 Kel. Lau Cih Medan Tuntungan Kode Pos : 20136

(3)

PENGANTAR REDAKSI

Jurnal PANNMED merupakan salah satu wadah untuk menampung hasil penelitian Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Medan.

Jurnal PANNMED Edisi September-Desember 2016 Vol. 11 No. 2 yang terbit kali ini menerbitkan sebanyak 11 Judul Penelitian.

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Direktur atas supportnya sehingga Jurnal ini dapat terbit

2. Dosen-dosen yang telah mengirimkan tulisan hasil penelitiannya dan semoga dengan terbitnya jurnal ini dapat memberi semangat kepada dosen yang lain untuk berkreasi menulis hasil penelitian sehingga bisa diterbitkan ke Jurnal Pannmed ini.

Akhir kata, kami mengharapkan kritik serta saran yang membangun agar jurnal ini dapat menjadi jurnal yang berkualitas seperti harapan kita bersama.

(4)
(5)

GAMBARAN PH SALIVA TERHADAP KARIES GIGI PADA SISWA/I

KELAS IV SD NEGERI 065015 KEMENANGAN TANI

MEDAN TUNTUNGAN

Sri Junita Nainggolan, Nur Anjelina

Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes RI Medan

` Abstrak

pH is the level of acidity or base which is measured by using pH scale from 0 to 14 in which the lower the pH is, the more the acid in solution, and the higher the pH is, the more the base in solution. In ph 7, there is no acidity or base in solution which is called neutral. The objective of the research was to find out the description of pH Saliva and caries in Grade IV students at SD Negeri 065015 Kemenangan Tani, Medan Tuntungan, in 2016. The data were gathered by conducting direct examination on the respondents. The research was descriptive; it was conducted from Februariy until June. The population was 36 Grade IV students at SD Negeri 065015 Kemenangan Tani, Medan Tuntungan, in 2016. The result of the research showed that 17 respondents (47,2 %), had acid pH saliva, 7 respondents (19,4 %), had neutral pH, and 12 respondents (33,3%) had base Ph. 42 respondents had acid ph caries with the mean of 2,42, 6 respondents had neutral pH caries with the mean of 0,9, 19 respondents had base pH caries with the mean of 1,59, and 1 respondents was free from caries that had neutral pH. The conclusion was that Grade IV students at SD Negeri 065015 Kemenangan Tani, Medan Tuntungan had high acid pH and high caries.

Kata kunci :pH Saliva, Caries

PENDAHULUAN

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kesehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi kesehatan tubuh keseluruhan. Gigi merupakan salah satu bagian tubuh yang berfungsi untuk mengunyah, berbicara dan mempertahankan bentuk muka.

Saliva adalah cairan oral yang kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva dapat disebut juga kelenjar ludah atau kelenjar air liur. Semua kelenjar ludah mempunyai fungsi untuk membantu mencerna makanan (Kidd,1991).

Saliva terdapat sebagai lapisan setebal 0,1-0,01 mm yang melapisi seluruh jaringan rongga mulut, banyaknya air ludah normal adalah 1-2 ml/menit. Menurunnya pH air ludah (kapasitas asam) dan jumlah air ludah yang kurang menunjukkan adanya resiko terjadinya karies yang tinggi. Dan meningkatnya pH air ludah (basa) akan mengakibatkan pembentukan karang gigi. Kurang lebih 80% bau mulut timbul dari dalam rongga mulut. Air ludah atau saliva memegang peranan dalam masalah bau mulut, gigi berlubang dan penyakit rongga mulut/penyakit tubuh secara keseluruhan karena air ludah melindungi gigi dan selaput lunak di rongga mulut.

Karies gigi merupakan penyakit yang tersebar luas di seluruh dunia, serta telah ditemukan ribuan tahun sebelum Masehi pada gigi-gigi mummi pharao di

Mesir Kuno. Struktur elemen gigi dan fakta - fakta yang mempengaruhi terjadinya karies gigi, etiologi, serta cara untuk mencegah terjadinya karies gigi harusla dipahami secara jelas. Oleh karena itu kalau sudah berlubang, lubang pada gigi hanya dapat dihambat prosesnya dengan melakukan penambalan yang baik. Menurut penelitian di negara-negara Eropa, Amerika dan Asia termasuk Indonesia ternyata bahwa 80–90% dari anak-anak di bawah umur 18 tahun terserang karies gigi (Tarigan, 2014).

Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi.Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang, Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian. Penyakit ini telah dikenal sejak masa lalu, berbagai bukti telah menunjukkan bahwa penyakit ini telah dikenal sejak zaman perunggu, zaman besi, dan zaman pertengahan. Peningkatan prevalensi karies banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan. Kini karies gigi telah menjadi penyakit yang tersebar di seluruh dunia. Karies gigi disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasikarbohidrat termasuk sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Asam yang diproduksi tersebut mempengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitif pada pH rendah. Sebuah gigi akan mengalami demineralisasi dan remineralisasi. Ketika pH turun menjadi di bawah 5,5, proses demineralisasi menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Hal ini menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi.

(6)

Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran pH Saliva Terhadap Karies Gigi Pada Siswa/i Kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan.

Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui jenis pH saliva siswa/i Kelas IV SD

Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan 2. Untuk mengetahui Karies Gigi siswa/i Kelas IV SD

Negeri 065015.Kemenangan Tani Medan Tuntungan

Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah pengetahuan siswa/i SD Negeri 065015 Kemenangan

Tani Medan Tuntungan tentang Gambaran pH Saliva Terhadap Karies Gigi

2. Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi bahan informasiuntukpenelitianselanjutnya.

3. Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi bahan refrensi di Perpustakaan Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Medan Jurusan Keperawatan Gigi.

METODE

Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran (deskriptif) tentang suatu keadaan secara objektif. Penelitian ini dilakukan dengan Metode survei.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan.

Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan dari bulan April - Juni 2016.

Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). dalam penelitian ini populasi terdiri dari siswa/i kelas SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan yang berjumlah 36 orang.

Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti(Arikunto 2006) Apabila objek peneliti kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua, Jika jumlah subjek lebih dari 100 dapat diambil 10-15 % atau lebih. Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan yang berjumlah 36 orang.

Jenis Data

Jenis data yang digunakan ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung diperoleh atau diambil peneliti. Data sekunder adalah data yang dibutuhkan sebagai pelengkap didalam

penelitian. Dalam penelitian ini data diperoleh secara langsung dari siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan. Cara pengumpulan data dilakukan dengan Metode survey yaitu pengambilan data secara langsung dengan melakukan pemeriksaan kepada siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan

Tani Medan Tuntungan yang berjumlah 36 orang. Teknik pengukuran yang dilakukan dalam

pemeriksaan pH saliva dan karies gigi dengan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:

a. Alat terdiri dari: 1. Kaca mulut 2. Sonde 3. Pinset

4. Cangkir plastik 5. Handuk dan lap bersih 6. Handscon

7. masker

8. Formulir pemeriksaan b. Bahan terdiri dari:

1. Kertas lakmus 2. Air ludah (saliva)

Cara Pengumpulan Data

Dalam melakukan pemeriksaan peneliti membuat suatu tim yang terdiri dari 3 orang yaitu:

1. Orang pertama sebagai pemeriksa yang bertugas untuk memeriksa sampel. 2. Orang kedua dan ketiga sebagai orang

yang membantu untuk memanggil nama satu persatu untuk diperiksa serta

mencatat hasil pemeriksaan. Prosedur pemeriksaan

1. Peneliti bertugas sebagai pemeriksa dan sekaligus mencatat hasil pemeriksaan.

2. Sampel yang akan diperiksa diambil salivanya dengan meludahkan salivanya kedalam cangkir plastik yang telah disediakan, lalu kertas lakmus dicelupkan kedalam saliva dengan menggunakan pinset. Setelah itu kertas lakmus diangkat kembali menggunakan pinset kemudian disesuaikan dengan menggunakan indikator untuk mengetahui pH saliva.

3. Tulis hasil pemeriksaan pH Saliva.

4. Setelah didapat hasil pemeriksaan seluruhnya, lembaran pemeriksaan tersebut dikumpulkan dan dihitung serta disesuaikan dengan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan agar menghindari kekurangan data dan mempermudah pengolahan data tersebut.

Pengolahan Data

Hasil data yang di peroleh dalam pengisian kuesioner dan pemeriksaan langsung, diolah dan melakukan proses sebagai berikut:

1. Proses Editing

Proses Editing dilakukan dengan memeriksakan kuesioner yang telah diisi dengan tujuan agar data yang masuk dapat diolah secara benar sehingga pengolahan

(7)

data member hasil yang dapat menjelaskan masalah yang diteliti, kemudian data dikelompokan dengan menggunakan aspek pengukuran.

2. Proses Coding

Proses Coding dilakukan dengan merubah jawaban responden kedalam bentuk angka-angka sehingga mempermudah dalam bentuk pengolahan data.

3. Proses Tabulating

Proses tabulating dilakukan dengan memasukan data penelitian kedalam table untuk mempermudah analisa data, pengolahan data, serta pengambilan keputusan (Arikunto, 2006).

HASIL

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 36 orang siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan maka data yang terkumpul dapat dibuat dengan tabel distribusi frekuensi yaitu jenis pH saliva dan karies gigi.

Tabel 4.1 Disrtibusi Responden Berdasarkan Jenis pH Saliva pH Saliva Jumlah siswa/i (n) Persentase Asam 17 orang 47,2% Netral 7 orang 19,4% Basa 12 orang 33,3% Jumlah 36 orang 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jenis ph saliva siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan yang mempunyai pH Saliva Asam yaitu sebanyak 17 siswa/i (47,2 %), pH Saliva Netral yaitu sebanyak 7 siswa/i (19,4 %), dan pH Saliva Basa yaitu sebanyak 12 siswa/i (33,3%).

Tabel 4.2 Distibusi Responden Berdasarkan Karies Gigi

Karies gigi

pH Saliva Jumlah Rata-Rata

Asam 42 2,48

Netral 6 0,9

Basa 19 1,59

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa Karies gigi siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan yang mempunyai pH Saliva Asam memiliki 42 karies gigi rata-rata (2,42), pH Saliva Netral sebanyak 6 karies gigi rata-rata (0,9) dan pH Saliva Basa sebanyak 19 karies gigi rata-rata (1,59) dan 1 siswa Bebas Karies yang mempunyai pH Saliva Netral.

Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani

Medan Tuntungan yang berjumlah 36 siswa/i dengan rata-rata usia 10-11 tahun.

Dari Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan jenis pH Saliva yang bersifat Asam sebanyak 17 siswa/i (47,2%), jenis pH Saliva yang bersifat Netral Sebanyak 7 siswa/i (19,4%), dan pH Saliva yang bersifat Basa 12 siswa/i (33,3%). pH adalah tingkat keasaman atau kebasaan suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. keasaman dapat diukur dengan satuan pH, Skala pH berkisar 0-6 memiliki nilai pH asam dalam larutan, pada pH 7 memiliki pH netral tidak ada keasaman atau kebasaan larutan, dan 8-14 memeliki nilai pH basa dalam larutan.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah di lakukan dan pembahasan dapat disimpulkan bahawa pH saliva dan karies gigi pada siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani adalah sebagai berikut :

1. pH saliva pada siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan yang paling banyak adalah pH Asam sebanyak 17 siswa/i (47,2%)

2. pH saliva terhadap karies gigi pada siswa/i kelas IV SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan yang paling banyak adalah pH Asam 17 siswa/i dan memiliki jumlah karies gigi 42 dengan rata – rata (2,48) dan 1 siswa bebas karies yang memiliki pH Netral.

Saran

1. Diharapkan kepada pihak Sekolah SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan membuat suatu program UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) bekerja sama dengan Puskesmas setempat, agar diperoleh tingkat kebersihan gigi dan mulut pada siswa/i terutama dalam hal mencegah terjadinya karies gigi

2. Diharapkan kepada orang tua dan seluruh siswa/i SD Negeri 065015 Kemenangan Tani Medan Tuntungan lebih memperhatikan pola makan dan minuman, terutama dalam hal frekuensi mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat karena makanan tersebut dapat merusak jaringan keras gigi sehingga terjadinya karies yang cenderung meningkat.

(8)

PERBEDAAN PENGGUNAAN KEPALA SIKAT GIGI LURUS DAN

KEPALA SIKAT GIGI MELENGKUNG TERHADAP PENURUNAN

INDEKS PLAK PADA SISWA-SISWI KELASVI SD NEGERI 066038

KELURAHAN MANGGA KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN

Rawati Siregar, Jessi Sihotang

Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Medan

Abstrak

Saat ini banyak ditemukan di pasaran bentuk kepala sikat gigi yang rata dan melengkung. Hal ini bermanfaat untuk membantu menyingkirkan plak pada gigi selain dengan menggunakan teknik menyikat gigi yang baik dan benar. Untuk mengetahui gambaran umum tentang indeks plak dan perbedaan penggunaan kepala sikat gigi lurus dan melengkung pada siswa-siswi maka diadakan penelitian disekolah tersebut. Penelitian ini bersifat analitik dengan Metode quasi experiment (eksperimen semu) dengan rancangan pretest dan posttest yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan kepala sikat gigi lurus dan melengkung terhadap penurunan indeks plak. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang siswa-siswi. Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa indeks plak sebelum menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus untuk kriteria baik 2 orang, sedang 3 orang, buruk 10 orang. Sedangkan sesudah menyikat gigi diperoleh kriteria baik 7 orang, sedang 8 orang, buruk 0. Sebelum menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung diperoleh kriteria baik tidak ada, sedang 3 orang, buruk 12 orang, sedangkan sesudah menyikat gigi diperoleh kriteria baik 15 orang.Adapun kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah ada perbedaan antara menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus dan melengkung terhadap penurunan indeks plak pada siswa-siswi.

Kata kunci : Indeks plak, kepala sikat gigi lurus, kepala sikat gigi melengkung

Pendahuluan

Menurut Undang – Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Bab I Pasal 1 menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun social yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social maupun ekonomi. Tujuan pembangunan kesehatan yaitu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara social dan ekonomis.

Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (2011) menunjukkan angka kejadian masalah kesehatan gigi dan mulut mengalami kenaikan yang signifikan terjadi pada anak usia 3-5 tahun sebesar 81,2%. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010 menunjukkan bahwa prevalensi karies di Indonesia mencapai 60-80% dari populasi, serta menempati peringkat ke-6 sebagai penyakit yang paling diderita (www.depkes.go.id).

Kesehatan gigi dan mulut berperan besar pada kesehatan tubuh secara umum. Hal ini dikarenakan area gigi dan mulut merupakan awal dari dimulai proses pencernaan pada makanan. Apabila fungsi gigi dan mulut tidak optimal maka hal tersebut juga akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan dapat menimbulkan

penyakit-penyakit lain. Untuk itulah mengapa penting sekali memiliki kesehatan gigi dan mulut yang berkualitas. Salah satu indikator kesehatan gigi dan mulut adalah tingkat kebersihan rongga mulut. Hal tersebut dapat dilihat dari ada tidaknya deposit-deposit organik, seperti pelikel, materi alba, sisa makanan, kalkulus, dan plak gigi. Plak merupakan deposit lunak yang membentuk lapisan biofilm dan melekat erat pada permukaan gigi dan gusi serta permukaan keras lainnya dalam rongga mulut. Pengendalian plak adalah upaya membuang dan mencegah penumpukan plak pada permukaan gigi. Upaya tersebut dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi. Pembuangan secara mekanis merupakan metoda yang efektif dalam mengendalikan plak dan inflamasi gingival. Pembuangan mekanis dapat meliputi penyikatan gigi dan penggunaan benang gigi (www.pdgi-online.com, 2009).

Plak inilah yang menjadi fokus utama dalam menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut. Walaupun plak memiliki konsistensi yang lunak sehingga mudah dibersihkan dengan melakukan penyikatan gigi. Kebersihan gigi dan plak sangat penting, agar si plak ini tidak bertambah banyak dan tebal (Ramadhan A.G, 2010).

Menurut American Dental Association, sebuah sikat gigi harus menunjukkan beberapa hal. Diantaranya harus terbuat dari komponen yang aman untuk digunakan di dalam mulut, bulu sikat tidak boleh tajam, gagang sikat

(9)

harus teruji awet dalam penggunaan normal, bulu sikat tidak rontok dengan penggunaan normal. Ukuran kepala sikat harus sesuai dengan ukuran mulut sehingga dapat digunakan dengan nyaman. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai produsen sikat gigi membuat inovasi untuk membuat macam-macam bentuk permukaan bulu sikat gigi, ada yang berbentuk datar (rata), zigzag dan melengkung.

Saat ini banyak ditemukan di pasaran bentuk kepala sikat gigi yang rata dan melengkung. Hal ini bermanfaat untuk membantu menyingkirkan plak pada gigi selain dengan menggunakan teknik menyikat gigi yang baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penggunaan kepala sikat gigi lurus dan kepala sikat gigi melengkung terhadap penurunan indeks plak pada siswa/i SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui indeks plak sebelum menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus pada siswa-siswi kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

2. Untuk mengetahui indeks plak sebelum menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung pada siswa-siswi kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

3. Untuk mengetahui indeks plak sesudah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus pada siswa-siswi kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

4. Untuk mengetahui indeks plak sesudah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung pada sisa-siswi kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai informasi bagi sekolah untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi dan mulut siswa-siswi kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai

bahan referensi bagi peneliti berikutnya.

Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian quasi experiment atau eksperimen semu, dengan rancangan pretest dan posttest dengan kelompok control, yaitu pertama-tama dilakukan pengukuran pada kedua kelompok (kelompok eksperimen dan kelompok control), lalu dikenakan perlakuan dalam jangka waktu tertentu, kemudian dilakukan pengukuran untuk kedua kalinya.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di SD Negeri 066038, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

Waktu Penelitian

Waktu penelitian, dilakukan mulai dari bulan April 2016 sampai bulan Juni 2016.

H. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian adalah Siswa/I Kelas VI SD Negeri 066038, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan yang berjumlah 30 orang.

Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Arikunto, 2006). Peneliti mengambil sampel penelitian berjumlah 30 orang

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data skunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh sipeneliti. Data primer yang diambil oleh peneliti adalah data tentang indeks plak dengan teknik pemeriksaan langsung kemulut siswa/I yang menjadi sampel.

Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi tertentu. Dalam penelitian ini instansi yang digunakan adalah pihak sekolah yaitu data tentang siswa/i kelas VI SD Negeri 066038, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

 Sebelum dilakukan pemeriksaan, peneliti terlebih dahulu menjelaskan maksud dan tujuan peneliti datang ke SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

 Membagi responden menjadi 2 kelompok. Kelompok I berjumlah 15 siswa dan kelompok II berjumlah 15 siswa.

 Kelompok I dan II sama-sama dilakukan pemeriksaan indeks plak sebelum dan sesudah menyikat gigi. Kelompok I menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus. Kelompok II menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung.

 Pada bagian bawah lidah seluruh siswa-siswi ditetesi disclosing solution lalu siswa-siswi mengoleskan keseluruh permukaan gigi. Kemudian melakukan pemeriksaan indeks plak menggunakan bantuan kaca mulut dan sonde sebelum menyikat gigi untuk 30 orang siswa-siswi.

 Menginstruksikan responden untuk menyikat gigi

 Melakukan pemeriksaan indeks plak menggunakan bantuan kaca mulut dan sonde setelah menyikat gigi untuk 30 orang siswa-siswi.

Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer, selanjutnya data tersebut dianalisa secara analitik dengan menggunakan uji t-Test.

Hasil Penelitian Analisa Univariat

Data yang dikumpulkan adalah hasil penelitian yang dilakukan terhadap siswa/I kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan

(10)

Tuntungan. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan langsung ke mulut siswa/I yang menjadi sampel. Dari penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data siswa, skor indeks plak sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus dan melengkung. Setelah seluruh data terkumpul, maka dibuat analisa data dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi untuk sampel. Kemudian dilakukan pengolahan data secara statistik dengan menggunakan uji t-Test

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Siswa-siswi Kelas VI SD Negeri 066038

Jenis Kelamin n Persentase (%)

Laki-laki 12 40%

Perempuan 18 60%

Jumlah 30 100%

Dari tabel 1 dapat dilihat jumlah siswa-siswi berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 12 orang sedangkan untuk perempuan sebanyak 18 orang. Hal ini menyimpulkan bahwa lebih banyak perempuan daripada laki-laki pada siswa kelas VI SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan

Tabel. 2. Distribusi Frekuensi Indeks Plak Sebelum Menyikat Gigi dengan Kepala Sikat Gigi Lurus Kriteria Indeks Plak n Persentase(%)

Baik 2 13,4%

Sedang 3 20%

Buruk 10 66,6%

Jumlah 15 100%

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa dari seluruh siswa-siswi yang mempunyai kriteria indeks plak baik 2 orang, kriteria sedang 3 orang dan kriteria buruk 10 orang. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Indeks Plak Sesudah

Menyikat Gigi dengan Kepala Sikat Gigi Lurus Kriteria Indeks Plak n Persentase (%)

Baik 7 46,6%

Sedang 8 53,4%

Buruk 0 0%

Jumlah 15 100%

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa dari seluruh siswa-siswi yang mempunyai kriteria indeks plak baik 2 orang, kriteria sedang 8 orang.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Indeks Plak Sebelum Menyikat Gigi dengan Kepala Sikat Gigi Melengkung

Kriteria Indeks Plak n Persentase (%)

Baik 0 0%

Sedang 3 20%

Buruk 12 80%

Jumlah 15 100%

Dari table 4. dapat dilihat bahwa yang mempunyai kriteria indeks plak sedang 3 orang dan kriteria buruk 12 orang.

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Indeks Plak Sesudah Menyikat Gigi dengan Kepala Sikat Gigi Melengkung

Kriteria Indeks Plak n Persentase (%)

Baik 15 100%

Sedang 0 0%

Buruk 0 0%

Jumlah 15 100%

Dari tabel 5. dapat dilihat bahwa yang mempunyai kriteria baik 15 orang.

Tabel 6 Perbandingan Kriteria Skor Plak Sebelum dan Sesudah Menyikat Gigi dengan Kepala Sikat Gigi Lurus dan Kepala Sikat Gigi Melengkung Pada Siswa-siswi SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan

No Kriteria Indeks Plak

Kepala Sikat Gigi Lurus

Kepala Sikat Gigi Melengkung Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

n n n n

1 Baik 2 7 0 15 2 Sedang 3 8 3 0 3 Buruk 10 0 12 0 Jumlah 15 15 15 15

Dari tabel 6. dapat dilihat bahwa menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus dan kepala sikat gigi melengkung memiliki perbedaan dalam penurunan indeks plak setelah menyikat gigi yaitu sebesar 8.

K. Analisa Bivariat Dependent t-Test

Untuk menguji dua sampel yang berpasangan maka digunakan paired sample t-Test. Dimana dengan uji t-Test ini dapat diketahui apakah ada perbedaan menyikat gigi dengan menggunakan sikat gigi dengan kepala lurus dan melengkung terhadap penurunan indeks plak. Adapun hasil t-Test yang dilakukan dengan menggunakan Komputer adalah sebagai berikut :

Tabel 7. Paired Sample Statistic Indeks Plak Sebelum dan Sesudah Menyikat Gigi dengan Kepala Sikat Gigi Lurus

PERLAKUAN Df T P

Kepala Sikat Gigi Lurus

14 12,011

(1, 711 9 –1,0214) 0,000 Dari hasil uji t berpasangan diatas, maka dapat diambil kesimpulan dari dua sisi yaitu :

1. Berdasarkan Perbandingan t Hitung dengan t Tabel: - Jika t hitung < t Tabel → Hipotesis diterima

- Jika t hitung > t Tabel → Hipotesis ditolak

 Dari tabel diatas diketahui bahwa t hitung adalah 12,011, sedangkan t Tabel bisa dihitung menggunakan tabel t dengan cara : tingkat signifikat (a) adalah 5% dan df (degree of freedom) atau derajat kebebasan = n-1=15-1 = 14

 T-Tabel adalah 1,761

 Oleh karena t hitung > t tabel → Hipotesis ditolak 12,011 > 1,761 → Ho ditolak

(11)

Hasil perhitungan dari uji t-Test dependent terlihat bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak yang berarti ada perbedaan menggunakan sikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus terhadap penurunan indeks plak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menggunakan kepala sikat gigi lurus dapat menurunkan indeks plak

2. Berdasarkan Nilai Probabilitas :

- Jika probabilitas > 0,05 → Ho diterima - Jika probabilitas < 0,05 → Ho ditolak

 Dari tabel diatas diketahui bahwa probabilitas adalah 0,000. Oleh karena probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak atau bahwa menggunakan kepala sikat gigi lurus dapat menurunkan indeks plak.

Tabel 8. Paired Stample Statistic Indeks Plak Sebelum dan Sesudah Menyikat Gigi dengan Kepala Sikat Gigi Melengkung PERLAKUAN Df T P Kepala Sikat Gigi Melengkung 14 14,751 (1,2010 – 1,6097) 0,000

Dari hasil uji t berpasangan diatas, maka dapat diambil kesimpulan dari dua sisi yaitu :

1. Berdasarkan Perbandingan t Hitung dengan t Tabel : - Jika t hitung < t Tabel → Hipotesis diterima

- Jika t hitung > t Tabel → Hipotesis ditolak

 Dari tabel diatas diketahui bahwa t hitung adalah 14,751, sedangkan t Tabel bisa dihitung menggunakan tabel t dengan cara : tingkat signifikat (a) adalah 5% dan df (degree of freedom) atau derajat kebebasan = n-1=15-1 = 14

 T-Tabel adalah 1,761

 Oleh karena t hitung > t tabel → Hipotesis ditolak 14,751 > 1,761 → Ho ditolak

 Hasil perhitungan dari uji t-Test dependent terlihat bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak yang berarti ada perbedaan menggunakan kepala sikat gigi melengkung terhadap penurunan indeks plak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menggunakan kepala sikat gigi melengkung dapat menurunkan indeks plak

2. Berdasarkan Nilai Probabilitas :

- Jika probabilitas > 0,05 → Ho diterima - Jika probabilitas < 0,05 → Ho ditolak

 Dari tabel diatas diketahui bahwa probabilitas adalah 0,000. Oleh karenaOleh karena probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak atau bahwa menggunakan kepala sikat gigi lurus dapat menurunkan indeks plak.

L. Independent t-Test

Untuk menguji apakah ada perbedaan antara menggunakan kepala sikat gigi lurus dan melengkung terhadap penurunan indeks plak maka dilakukan t-Test independent. Adapun hasil dari t-Test independent yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Tabel 9. Independent Sample Test Indeks Plak Dengan Menggunakan Sikat Gigi Dengan Kepala Sikat Gigi Lurus dan Melengkung

PERLAKUAN Mean F Sign T df P Kepala Sikat Gigi Lurus 1,007 0,098 0,756 3,767 28 Kepala Sikat Gigi Melengkung 0,633

Dari tabel hasil pemeriksaan diketahui bahwa F hitung untuk uji sample t-Test independent dengan Equal Varians Assumsede adalah 0,098 dengan probabilitas > 0,05 maka Ho diterima atau kedua varians diasumsikan sama. Dari tabel diatas diketahui bahwa terhitung (diasumsikan kedua varians sama) adalah 0,098 dengan probabilitas 0,098 > 0,05, maka Ho diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara kepala sikat gigi lurus dan kepala sikat gigi melengkung terhadap penurunan indeks plak.

Pembahasan

Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 30

siswa-siswi SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan yang dipilih secara acak yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan kepala sikat gigi lurus dan kelompok kedua menggunakan kepala sikat gigi melengkung. Dari hasil penelitian awal yang telah dilakukan maka diketahui bahwa seluruh responden memiliki indeks plak dengan kriteria baik, sedang dan buruk yang berarti masih rendahnya tingkat kebersihan gigi dan mulut.

Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak diatas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal yang telah dilakukan terhadap seluruh sampeldiketahui bahwa kriteria indeks plak baik 7 orang, sedang 8 orang setelah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus. Sedangkan pemeriksaan setelah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung diketahui bahwa kriteria indeks plak baik 15 orang.

American Dental Association menganjurkan ukuran maksimal kepala sikat gigi orang dewasa 29x10 mm, anak-anak 20x7 mm dan balita 18x7 mm.

Banyak berbagai model sikat gigi yang ada di pasaran. Ada yang permukaan bulu sikatnya rata, zig-zag, saling silang, ada juga yang tangkai sikatnya fleksibel ataupun bersudut (Gilang A, 2010).

Dengan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus dan kepala sikat gigi melengkung mempunyai perbedaan yang bermakna dalam penggunaannya dalam menghilangkan plak.

(12)

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Kriteria indeks plak sebelum menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus adalah 2 orang dengan kriteria baik, 3 orang dengan kriteria sedang, 10 orang dengan kriteria buruk sedangkan sesudah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus adalah 7 orang dengan kriteria baik, 8 orang dengan kriteria sedang. Kriteria indeks plak sebelum menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung adalah 3 orang dengan kriteria sedang, 12 orang dengan kriteria buruk sedangkan sesudah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung adalah 15 orang dengan kriteria baik.

2. Kriteria indeks plak sesudah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus adalah 7 orang dengan kriteria baik sedangkan sesudah menyikat gigi dengan kepala sikat gigi melengkung adalah 15 orang dengan kriteria baik.

3. Ada perbedaan antara sikat gigi dengan kepala sikat gigi lurus dan kepala sikat gigi melengkung dalam hal penyingkiran plak pada 30 orang siswa-siswi SD Negeri 066038 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan.

Saran

Dengan selesainya penelitian ini disarankan :

1. Penggunaan sikat gigi harus sesuai dengan syarat-syarat sikat gigi yang baik dan benar disertai dengan teknik menyikat gigi yang baik dan benar.

2. Pemeliharaan kesehatan gigi disarankan agar dilakukan sejak usia dini untuk mempertahankan fungsi gigi sebagai pengunyahan dan estetika

Daftar Pustaka

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta.

Besford John. 1996. Mengenal Gigi Anda. Jakarta: Arca. Hongini,S.Y dan M Aditiawarman. 2012. Kesehatan Gigi

& Mulut. Bandung: PRC.

Machfoedz Ircham dan A Yetti Zein. 2005. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-anak dan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya.

Panjaitan Monang. 1995. Etiologi Karies Gigi dan Penyakit Periodontal. Medan: USU PRESS. Pintauli Sondang dan T Hamada. 2012. Menuju Gigi &

Mulut Sehat Pencegahan dan Pemeliharaan. Medan: USU PRESS.

Putri M.H. dkk. 2013. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: EGC.

Ramadhan A.A. 2010. Serba SerbiKesehatan Gigi & Mulut. Jakarta Selatan: Bukune.

Sariningsih Endang. 2012. Merawat Gigi Anak Sejak Usia Dini. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Srigupta,A.A. 2004. Perawatan Singkat Perawatan Gigi &

Mulut. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Tarigan Rasinta. 2014. Karies Gigi. Jakarta: EGC. www.cerminduniakedokteran.com, 2009. www.pdgi-online.com, 2009.

www.depkes.go.id

(13)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRE-EKLAMSIA

PADAHAMIL DI POLI KEBIDANAN RUMAH SAKIT TINGKAT II

ISKANDAR MUDA BANDA ACEH TAHUN 2014

Fithriany

1

, Fitri Susana

2

, Cut Yuniwati

3

1

Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

2

Universitas Ubudiyah Indonesia

3

Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Abstract

Based the data obtained in Poly Midwifery of Grade II Hospital of IskandarMuda Banda Aceh, obtained that in 2013, of amount of pregnancy was 3.787, found 44 persons (1,16%) of pregnant mother have hypertension, as many 106 (2,79%) of pregnant mothers have severe pre-eklampsia and 2 (0,05%) of pregnant mothers have eklampsia. Whereas period of 2014, of 3.188 of pregnant mothers who came to visit to Poly Midwifery of Grade II Hospital of IskandarMuda Banda Aceh, was 49 (1,53%) have hypertension, as many 126 persons (3,95%) have severe pre-eklampsia and as many 4 persons (0,15%) have eklampsia.Purpose of Study: To find out factors related to pre-eklampsia in pregnant mother in Poly-Midwifery of Grade II Hospital of IskandarMuda Banda Aceh, period of January up to December 2014. Method of Study: This study is in analytical survey by cross sectional approach, it was conducted in May 27th up to June 1st, 2015, population in this study was whole pregnant mothers who came to visited to Poly-Midwifery of Grade II Hospital of IskandarMuda Banda Aceh, January up to December 2014 periods, amounted to 3.188 persons, where sampling technique was using random sampling that taken randomly was 97 persons, the data is processed and analysed using chi-square (x2) test.Results of Study: There was correlation age to pre-eklampsia in pregnant mother with p=0,017 (p<0,05), there was correlation parity to pre-eklampsia in pregnant mother with p=0,021 (p<0,05), there was correlation history of hypertension to pre-eklampsia in pregnant mother with p=0,035 (p<0,05)Conlusion and Suggestion: There was correlation between age, parity and history of hypertension to pre-eklampsia in pregnant mother, expected to midwife for can give midwifery care to pregnant mother by pre-eklampsia so that may decrease the illness and death rates effect of pre-eklampsia.

Keywords : Age, Parity, History of Hypertension, Pre-eklampsia

PENDAHULUAN

Angka Kematian ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu negara dan status kesehatan masyarakat, dan bila AKI ini masih tinggi disuatu negara berarti sistem pelayanan obstetri di negara terdebut masih buruk, dan memerlukan perbaikan (Ambarwati dan Rismintari, 2009). Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar dibidang kesehatan. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012, diperoleh hasil yang sangat mengejutkan, dimana AKI melonjak sangat signifikan dari 228/100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2007 menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup, kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pelayanan obstetri kembali pada kondisi tahun 1997. Ini berarti kesehatan ibu justru mengalami kemunduran selama 15 tahun. Sedangkan untuk provinsi Aceh AKI ibu mencapai

158/100.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, 2013.

Kematian ibu terjadi karena berbagai penyebab. Penyebab langsung kematian ibu terjadi akibat perdarahan mencapai 28%, eklamsia 24%, infeksi 11%, dan lain-lain (33%), sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu terjadi karena Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada kehamilan (37%), dan anemia pada kehamilan (40%) (Depkes RI, 2010).

Pre-eklamsia dan eklamsia merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortilitas ibu dan janin. Di dunia angka kejadian pre-eklamsia berkisar antara 5-15% dari seluruh kehamilan (Rahajuningsih, 2005). Pipkin dalam Betty (2012) juga mengemukakan menurut perkiraan 50.000 wanita pertahun meninggal dunia karena eklampsia. Sedangkan di negara maju angka kejadian pre-eklampsia berkisar 6-7% dan pre-eklampsia 0,1-0,7%. Di Indonesia, angka kematian ibu akibat pre-eklampsia di Indonesia juga cukup tinggi yaitu berkisar antara 9,8% sampai 25% (Amelda, 2009).

(14)

Pre-eklamsi dalam kehamilan dapat menimbulkan dampak negatif bagi ibu dan janin, diantaranya solusio plasenta, hipofibrinogenmia, hemolisis, perdarahan otak, kelainan mata, edema, paru-paru, nekrosis hati, sindroma HELLP (Hemolisis, Elevated Liver Enzymes, dan Low Platelet). Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan kematian janin intra-uterin (Wiknjosastro, 2007).

Penyebab pasti dari pre-eklampsia sampai kini masih belum diketahui, sehingga pre-eklampsia disebut sebagai “the disease of theories” dalam (Betty, 2012). Namun, berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Cooper dan Fraser (2009), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian pre-eklamsi yaitu keadaan sosial yang buruk, usia dan paritas ibu, riwayat gangguan hipertensi dalam keluarga, riwayat hipertensi terdahulu, dan adanya gangguan medis lainnya (penyakit ginjal, diabetes melitus, dan gangguan tromboembolisme).

Pre-eklamsia kemungkinan juga dapat disebabkan oleh faktor lain yang lebih dominan dari karakteristik, namun insiden ini sangat dipengaruhi oleh paritas yang berkaitan dengan ras dan etnis, sedangkan faktor resiko lain yang berkaitan dengan pre-eklamsia adalah kehamilan multiple, riwayat hipertensi kronik, usia ibu lebih dari 35 tahun, dan obesitas (Cuningham, 2005).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Langelo (2011), diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian pre-eklampsia; ada hubungan antara paritas dengan kejadian pre-eklampsia, ada hubungan pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan kejadian pre-eklampsia, dan ada hubungan antara riwayat hipertensi dengan kejadian pre-eklampsia.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Asitah (2009), diperoleh hasil bahwa angka kejadian pre-eklamsia pada kehamilan menurut umur ditemukan pada kelompok umur 20-35 tahun sebanyak 73%, pre-eklamsia ditemukan pada paritas primipara sebanyak 82%, pre-eklamsia ditemukan pada usia kehamilan trimester ke III sebanyak 94%, dan pre-eklamsia ditemukan pada ibu hamil dengan riwayat kehamilan terdapat pada resiko tinggi sebanyak 67%.

Berdasarkan study Pendahuluan di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh pada tahun 2013, dari jumah kehamilan sebanyak 3.787 kehamilan, dijumpai sebanyak 44 orang (1,16%) ibu hamil mengalami hipertensi, sebanyak 106 orang (2,79%) ibu hamil mengalami pre-eklamsia berat dan 2 orang (0,05%) ibu hamil mengalami eklamsi. Sedangkan periode pada tahun 2014, dari 3.188 orang ibu hamil yang datang berkunjung ke Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Kesdam, sebanyak 49 orang mengalami hipertensi (1,53%), sebanyak 126 orang (3,95%) mengalami pre-eklamsia berat dan sebanyak 4 orang (0,15%) mengalami eklamsi. Menunjukkan bahwa angka kejadian pre-eklamsia di Rumah Sakit Tingkat II Kesdam meningkat setiap tahunnya.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui hubungan umur, paritas dan riwayat hipertensi dengan pre-eklamsia pada ibu hamil di

Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2014.

METODE

Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional, yang dilakukan sejak bulan Januari sampai dengan Juli 2015 di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang berkunjung ke Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh, periode Januari sampai dengan Desember 2014, berjumlah 3.188 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling.Besarnya sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:

)

(

1

N

d

2

N

n

95

,

96

88

,

32

3188

88

,

31

1

3188

)

01

,

0

(

3188

1

3188

)

1

,

0

(

3188

1

3188

2

n

n

n

n

n

n = 97 orang Keterangan : N: Besar populasi n : Besar sampel

d : Tingkat kepercayaan (ketepatan yang diinginkan) sebesar 90 %

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang diperoleh dari buku register atau rekam medik di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh, pada periode Januari sampai dengan Desember 2014.

Analisa data pada penelitian ini dilakukan analisa statistik dengan uji Chi-square. Dengan batas kemaknaan (α = 0,05) atau Convident Internal (CI=95%).

HASIL

Kejadian Pre-eklamsia

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Kejadian Pre-Eklamsia Pada Ibu Hamil di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda

AcehTahun 2014

No Kejadian pre-eklamsia Frekuensi %

1 Ya 60 61,9

2 Tidak 37 38,1

(15)

Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 97 responden, sebagian besar responden mengalami pre-eklamsia sebanyak 61,9%

Umur

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Umur Ibu Hamil

yang MengalamiPre-eklamsidi Poli

Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II

Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2014

No Umur Frekuensi %

1 Berisiko 34 35,1

2 Tidak berisiko 63 64,9

Jumlah 97 100

Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 97 responden, sebagian besar umur responden berada pada kategori tidak berisiko sebanyak 64,9%.

Paritas

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi ParitasIbu Hamil yang Mengalami Pre-eklamsi di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II

Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2014

No Paritas Frekuensi %

1 Berisiko 55 56,7

2 Tidak berisiko 42 43,3

Jumlah 97 100

Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 97 responden, sebagian besar paritas responden berada pada kategori berisiko sebanyak 56,7%

Riwayat hipertensi

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Riwayat Hipertensi Ibu Hamil yang Mengalami Pre-eklamsi di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II

Iskandar Muda Banda AcehTahun 2014 No Riwayat Hipertensi Frekuensi %

1 Ada 46 47,4

2 Tidak ada 51 52,6

Jumlah 97 100

Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa responden yang memiliki riwayat hipertensi dan tidak memiliki riwayat hanya ada sedikit perbedaan, yang tidak memiliki riwayat hanya52,6%.

Hubungan umur ibu hamil dengan kejadian pre-eklamsi

Tabel 4.5 Hubungan Umur Ibu Hamil Dengan

Kejadian Pre-eklamsi di Poli Kebidanan RumahSakit Tingkat IIIskandar Muda

Banda AcehTahun 2014 No Umur

Kejadian Pre-eklamsia Total p- Value 95% CI Ya Tidak f % f % f % 1 Berisiko 27 79,4 7 20,6 34 100 0,017 0,05 2 Tidak berisiko 33 52,4 30 47,6 63 100

Berdasarkan Tabel 4.5 diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki umur pada kategori berisiko lebih banyak mengalami pre-eklamsi yaitu79,4%, dibandingkan responden yang memiliki umur pada kategori tidak berisiko dan mengalami kejadian pre- eklamsi hanya 52,4%. Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%, diperoleh nilai p=0,017 (p<0,05), menunjukkan bahwa ada hubungan umur dengan pre-eklamsia pada ibu hamil di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh.

Hubungan paritas ibu hamil dengan kejadian pre-eklamsi

Tabel 4.6 Hubungan Paritas Ibu Hamil Dengan

Kejadian Pre-eklamsi di Poli

KebidananRumah Sakit Tingkat II

Iskandar Muda Banda AcehTahun 2014 No Paritas

Kejadian Pre-eklamsia Total p- Value 95% CI Ya Tidak f % f % f % 1 Berisiko 40 72,7 15 27,3 55 100 0,021 0,05 2 Tidak berisiko 20 47,6 22 52,4 42 100

Berdasarkan Tabel 4.6 diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki paritas pada kategori berisiko dan mengalami pre-eklamsi 72,7%. Sedangkan pada responden yang memiliki paritas pada kategori tidak berisiko dan mengalami pre-eklamsi hanya 47,6% Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan Chi-Square diperoleh nilai p=0,021 (p<0,05), menunjukkan bahwa ada hubungan paritas dengan pre-eklamsia pada ibu hamil di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh.

Tabel 4.7 Hubungan Paritas Ibu Hamil Dengan Kejadian Pre-eklamsi di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda

Banda AcehTahun 2014 No Riwayat Hipertensi Kejadian Pre-eklamsia Total p- Value 95% CI Ya Tidak f % f % f % 1 Ada 34 73,9 12 26,1 46 100 0,035 0,05 2 Tidak ada 26 51 25 49 51 100

Berdasarkan Tabel 4.7 diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki riwayat hipertensi dan mengalami pre-eklamsi sebanyak 73,9% dibandingkan dengan yang tidak mengalami pre-eklamsi hanya 26,1%. Responden yang tidak ada riwayat hipertensi dan mengalami pre-eklamsi 51% sedangkan yang tidak mengalami pre-eklamsi 49%. Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan Chi-Square diperoleh nilai p=0,035 (p<0,05), menunjukkan bahwa ada hubungan riwayat hipertensi dengan pre-eklamsia pada ibu hamil di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh.

(16)

PEMBAHASAN

1. Hubungan umur dengan kejadian pre-eklamsia pada ibu hamil

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Rejeki (2010), bahwa secara statistik ada hubungan yang signifikan umur dengan pre-eklamsi

Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Achsin dan Ngatimin (2008) juga mengemukakan bahwa wanita yang belum berusia 20 tahun atau berusia diatas 35 tahun saat kehamilan pertama kemungkinan akan munculnya eklamsia (keracunan kehamilan). Salah satu penyakit yang tercatat sebagai penyebab kematian maternal. Ibu yang berusia tua dapat berisiko lebih besar untuk mengalami komplikasi kehamilan, disebabkan karena kelainan kromosom yang lebih tinggi terutama sindrom down. Wanita yang berusia 35 tahun cendrung untuk mempunyai masalah kronis seperti tekanan darah tinggi yang dapat mempengaruhi kehamilan dibandingkan dengan wanita yang lebih muda.

Teori ini juga didukung oleh Solihah (2008) juga mengemukakan semua ibu hamil bisa terkena pre-eklamsia. Namun yang lebih berisiko adalah ibu hamil untuk pertama kali, ibu dengan kehamilan kembar, penderita diabetes, memiliki hipertensi sebelum hamil, punya masaah ginjal dan ada riwayat pre-eklamsia dalam keluarga atau pernah menderita pre-eklamsia pada kehamilan sebelumnya, atau kehamilan pertama dibawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun.

2. Hubungan paritas dengan kejadian pre-eklamsia pada ibu hamil

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Utami (2007), bahwa ibu yang memiliki paritas yang beresiko memiliki 3,3 kali untuk mengalami pre-eklamsi

Faktor paritas memiliki pengaruh terhadap persalinan dikarenakan Ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan selama masa kehamilannya terlebih pada ibu yang pertama kali mengalami masa kehamilan (Langelo, 2011).

Teori ini juga didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Achsin dan Ngatimin (2008) juga mengemukakan bahwa wanita yang belum berusia 20 tahun atau berusia diatas 35 tahun saat kehamilan pertama kemungkinan akan munculnya eklamsia (keracunan hamil). Salah satu penyakit yang tercatat sebagai penyebab kematian maternal. Ibu yang berusia tua dapat berisiko lebih besar untuk mengalami komplikasi kehamilan, disebabkan karena kelainan kromosom yang lebih tinggi terutama sindrom down. Wanita yang berusia 35 tahun cendrung untuk mempunyai masalah kronis seperti tekanan darah tinggi yang dapat mempengaruhi kehamilan dibandingkan dengan wanita yang lebih muda.

3. Hubungan riwayat hipertensi dengan kejadian pre-eklamsia pada ibu hamil

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Utami (2007), bahwa ibu yang mempunyai riwayat hipertensi memiliki peluang 7 kali untuk mengalami pre-eklamsi

Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Rukiyah dan Yulianti (2011) mengemukakan faktor resiko yang dapat meningkatkan terjadinya pre-eklamsia adalah riwayat tekanan darah tinggi sebelum kehamilan, riwayat mengalami pre-eklamsia sebelumnya, riwayat pre-pre-eklamsia pada ibu atau saudara perempuan.

Teori ini juga didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Cuningham (2005) mengemukakan ibu hamil dengan riwayat hipretensi sebelumnya terjadi apabila ibu mengalami hipertensi kronik sebelum kehamilan. Hipretensi kronik adalah terdapat hipertensi persisten, tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg sebelum kehamilan, atau sebelum 20 minggu. Wanita dengan penyakit vaskuler kronik, yang pertama kali diperiksa pada usia kehamilan 20 minggu, sering kali memperlihatkan tekanan darah yang normal. Namun selama trimester ketiga tekanan darah dapat kembali ke tingkat hipertensif semua, sehingga timbul masalah diagnostik dalam menentukan hipertensi yang bersifat kronik atau dipicu oleh kehamilan. Hipertensi kronik ini menyebabkan hipertrofi ventrikel dan dekompensatia kordis, cedera serebrovaskuler atau kerusakan intrinsik ginjal, yang berisiko menimbukan pre-eklamsia, yang mungkin jumpai hampir 25% diantara para wanita ini. Pada sebagian wanita, hipertensi kronik yang sudah ada sebelumnya akan semakin memperburuk setelah usia gestasi 24 minggu Apabila disertai oleh proteinuria, akan muncul lebih dini daripada pre-eklamsia murni serta cenderung cukup parah dan disertai dengan hambatan pertumbuhan janin

KESIMPULAN

Ada hubungan umur, paritas dan riwayat hipertensi dengan pre-eklamsia pada ibu hamil di Poli Kebidanan Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Banda Aceh

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati dan Rismintari, 2009. Asuhan Kebidanan (Nifas). Jakarta : Mitra Cedikia.

Amelda, 2009. Pre-eklamsi. http://etc.ugm.com (dikutip tanggal 23 Januari 2015).

Asitah, N, 2009. Gambarankasus pre-eklamsiapadaibuhamil di RumahSakit Dr.Pirngadi.MedanJurnalPenelitianUniversitas Sumatera Utara.

Achsin, A & Ngatimin, R, 2008. Untukmu ibu tercinta, Cetakan ke 1, Jakarta Timur: Prenada media.

(17)

Betty, 2012. Hubungan Karakteristik Ibu Dengan Kejadian Pre-Eklamsia Di Rsui Yakssi Sragen. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Kebidanan Estu Utomo Boyolali.

Cooper dan Fraser, 2009. Myles Buku Ajar Bidan. Jakarta : EGC.

Cunningham, 2005. Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC

Depkes RI, 2010. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA), Jakarta : Departemen Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia.

Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, 2013. Profil Kesehatan Provinsi Aceh. Banda Aceh.

Langelo, 2011. Faktor Risiko Kejadian Preeklampsia di RSKD Ibu Dan Anak Siti Fatimah Makassar tahun 2011-2012. Makassar : Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin

Prawirohadjo, 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo.

Rahajuningsih, D, 2005. Disfungsi Endotel pada pre-eklamsia, journal Makara, Kesehatan, Vol. 9, No.2,

Desember 2005: 63-69 (dikutip tanggal 23 Januari 2015

Rejeki, 2010. Perilaku Patuh Perawatan Ibu Primigravida Dengankejadian Preeklamsi Berat Eklamsia di RSUD Soewondo Kendal. http://jurnal.unimus.ac.id (dikutip tanggal 23 Januari 2015).

Rukiyah dan Yulianti, 2011. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta : Trans Info Media. Rumah Sakit Tingkat II Kesdam, (2015). Register Rekam

Medik Ruang Bersalin. Banda Aceh.

Solihah, L, 2008. Panduan Lengkap Hamil sehat, cetakan ke x. Jogjakarta : Tiga Serangkai.

Utami, 2007. Faktor-Faktor Risiko Preeklampsia Pada Kehamilan (Studi di RSUP Dr. Soeradji

Tirtonegoro Klaten).

http://srirezkiamelia.com/(dikutip tanggal 23 Januari 2015).

(18)

GAMBARAN KEBERSIHAN TANGAN DAN KUKU

DENGAN INFEKSI ENTEROBIASIS PADA SISWA SEKOLAH DASAR

DI KOTA MEDAN

Salbiah

Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak

Enterobius vermicularis adalah Nematoda usus yang sering dijumpai pada anak-anak, penyakitnya disebut Enterobiasis. Penularannya dapat terjadi pada suatu keluarga atau kelompok-kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama. Keadaan higiene perorangan yang kurang akan meningkatkan prevalensi infeksi kecacingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Higiene Tangan Dan Kuku dan Infeksi Enterobiasis Pada Siswa SDN 060818 Jalan M. Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota. Metode yang digunakan adalah Metode survey deskriptif dengantekhnik anal swab. Populasi penelitian adalah sebanyak 125 siswa. Sampel penelitian berdasarkan rumus sebanyak 40 siswa. Pengumpulan data diambil dari kuesioner dan pemeriksaan swab. Pengolahan data dilakukan secara manual dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi. Hasil wawancara melalui kuesioner ditemukan 21 siswa (52,5%) yang higiene perorangannya dalam kategori baik dan 19 siswa (47,5%) yang higiene perorangannya buruk. Pemeriksaan telur cacing atau cacing dilaboratorium didapatkan sebanyak 16 siswa (40%) yang positif terinfeksi Enterobius Vermicularis dan 24 siswa (60%) yang negatif. Berdasarkan jenis kelamin siswa, siswa laki-laki yang terinfeksiyaitu sebanyak 11 siswa (27,5%), dan siswa perempuan sebanyak 5 siswa (12,5%) yang terinfeksi Enterobius vermicularis. Berdasarkan kelas yang positif terinfeksi E.Vermicularis, kelas I 4 siswa (10%), kelas II 6 siswa (15%), kelas III 2 siswa (5%), kelas IV 3 siswa (7,5%), kelas V 1 siswa (2,5%)..

Kata kunci :Higiene Perorangan Tangan dan Kuku, Infeksi E. Vermicularis

A. PENDAHULUAN 1. Pendahuluan

Infeksi cacing merupakan penyakit parasit yang endemik di Indonesia. Sebanyak 60–80% penduduk Indonesia, terutama di daerah pedesaan menderita infeksi cacing terutama infeksi cacing perut. Hal ini disebabkan banyak sekali faktor yang “melindungi” kehidupan parasitnya. Telah banyak upaya untuk pemberantasan penyakit ini, akan tetapi sampai sekarang masih belum terlihat hasil yang memuaskan. Dari banyaknya faktor yang menunjang kehidupan penyakit infeksi kecacingan ini, faktor sosial ekonomi yang masih rendah bagi kebanyakan masyarakat Indonesia merupakan salah satu faktor penting. (Natadisastra,2014).

Penyakit kecacingan ini disebabkan banyak faktor, antara lain kondisi alam dan lingkungan, iklim, suhu, kelembapan serta juga hal-hal yang berhubungan dengan orang(masyarakat) yang disebabkan kekurangan mengertian, pendidikan yang kurang, sosial ekonomi rendah yang muncul, antara lain sebagai keadaan sanitasi lingkungan kurang baik, kepadatan penduduk, hygiene perorangan kurang baik serta kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik misalnya buang air besar dimana saja; penggunaan air yang kurang baik untuk mencuci alat makan maupun air untuk minum; tidak mencuci tangan sebelum makan, tidak mencuci dengan baik sayuran atau buah-buahan sebelum dimakan, kebiasaan anak main di

tanah serta hal-hal lainnya yang kesemuanya akan sangat menunjang tumbuh berkembangnya infeksi cacing di Indonesia (Natadisastra,2014).

Enterobiasis adalah penyakit infeksi yang tersebar luas di seluruh belahan dunia, baik di negara-negara maju maupun berkembang. Cacing ini menginfeksi

sekitar 500 juta penduduk dunia. Enterobius vermicularis adalah salah satu jenis cacing usus yang masih tinggi infeksinya di Indonesia (Soedarto,2011). Enterobius vermicularis telah diketahui sejak dulu dan telah banyak dilakukan penelitian mengenai biologi, epidemiologi dan gejala klinisnya. Manusia adalah satu- satunya hospes dan penyakitnya disebut enterobiasis atau oksiuriasis. Parasit ini kosmopolit tetapi lebih banyak ditemukan di daerah dingin dari pada di daerah panas (Sutanto,dkk,2008). Cacing ini relative tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi besar. Gejala klinis kebanyakan bersumber pada iritasi dii daerah sekitar anus, perineum, dan vagina oleh migrasi cacing betina yang hamil, jarang disebabkan oleh aktivitas cacing di dalam usus. Menimbulkan rasa gatal di sekitar anus disebut pruritus ani. Metode yang paling baik digunakan adalah Metode Scotch adhesive tape swab menurut Graham (Natadisastra,2014).

Studi di Amerika Serikat menyatakan bahwa ada sekitar 20-42 juta orang yang terinfeksi, dengan prevalensi tertinggi pada anak-anak dan kontak dalam keluarga (Lohiya dalam Laras, 2008). Penelitian di beberapa negara berkembang menunjukkan prevalensi sebesar 14% - 19%

(19)

(Chaisalee dalam Laras, 2008). Di Indonesia dikatakan angka prevalensi E. vermicularis pada berbagai golongan manusia yaitu sebesar 3% - 80%, dengan kelompok usia terbanyak yang terinfeksi adalah kelompok usia antara 5-9 tahun (Yuliati dalam Laras, 2008). Penelitian di Pekalongan Jawa Tengah pada dua SD didapatkan hasil 62,96% dari 54 siswa dan 74,31% dari 109 siswa yang menderita enterobiasis (Hendratno dalam Andhika, 2013). Pada Penelitian Andhika (2013) di Surabaya yang meneliti kejadian enterobiasis pada siswa SD di daerah tertinggal yaitu Kenjaren, didapatkan posotif 86,7% dari 15 siswa dan negatif 33,3% dari 27 siswa yang menderita enterobiasis.

Penyakit kecacingan menyerang semua golongan umur dan jenis kelamin, namun paling sering ditemukan pada anak usia pra sekolah dan sekolah dasar (usia antara 5-10 tahun). Diare , badan kurus, kekurangan cairan (dehidrasi), anemia serta badan lemas, lesu, perdarahan kecil pada lambung, lubang anus terasa gatal dan mata sering berkedip-kedip merupakan gejala awal yang ditimbulkan oleh adanya infeksi cacing. Kejang-kejang pada seluruh anggota gerak, perut membuncit dank eras akibat adanya timbunan gas (kembung) merupakan tanda bahwa racun telah menyebar ke seluruh tubuh. Anemia gizi merupakan masalah sangat penting, dampak yang ditimbulkan mempengaruhi tingkat kecerdasan dan produktivitas (Waris dan Rahayu, 2011).

Dari survey Pendahuluan yang telah dijumpai, sekolah SD Negeri 060818 Jalan M. Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota, memiliki lingkungan sekolah yang kurang bersih. Sekolah dengan lokasi yang sempit dan keadaan higienis sanitasi lingkungan yang buruk serta keadaan sosial ekonomi yang rendah. Melihat pola bermain anak-anak sehari-hari dengan kontak langsung oleh tanah dan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu ketika hendak makan makanan dari kebiasaan jajan sembarangan di tempat-tempat penjual makanan di pinggir jalan yang tidak tertutup dengan baik. Kemungkinan besar lingkungan di daerah sekolah tersebut terdapat telur cacing.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian Pendahuluan di atas, penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran higiene tangan dan kuku dengan kejadian infeksi Enterobiasis pada anak SDN Jalan M.Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota?”

3. Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimanakah gambaran higiene tangan dan kuku dengan kejadian infeksi Enterobiasis pada anak SDN 060818 Jalan M.Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota.

Tujuan Khusus

- Untuk mengetahui prevalensi infeksi Enterobiasis yang disebabkan oeleh cacing Enterobius Vermicularis pada siswa SDN 060818 Jalan M.Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota.

- Untuk mengetahui tingkat infeksi Enterobiasis yang disebabkan oleh cacing Enterobius

vermicularis pada siswa SDN 060818 Jalan M.Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota berdasarkan jenis kelamin.

- Untuk mengetahui tingkat infeksi Enterobiasis yang disebabkan oleh cacing Enterobius vermicularis pada siswa SDN 060818 Jalan M.Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota berdasarkan kelas.

- Untuk mengetahui gambaran higiene perorangan siswa yang meliputi :kebiasaan cuci tangan, pemakaian alas kaki, dan kebersihan tangan dan kuku.

4. Manfaat Penelitian

- Hasil penelitian ini diharapkan menambah wawasan bagi penulis dan memberikan informasi kepada anak-anak terutama siswa yang berada di sekitar SDN tersebut mengenai tingkat infeksi kecacingan atau Enterobius vermicularis.

- Memberikan informasi kepada dinas kesehatan setempat tentang intensitas kecacingan agar dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk mengurangi penyebaran penyakit kecacingan - Sebagai penambah wawasan dan penerapan

ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam bidang parasitologi tentang infeksi Enterobius vermicularis.

B. METODE

1. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis dan Desain Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian survey deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran keadaan higiene tangan dan kuku dengan infeksi Enterobiasis pada siswa.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 060818 Jalan M. Nawi Harahap Kematan Medan Kota. Pemeriksan telur cacing dilakukan di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Medan pada bulan Juli – September 2016.

3. Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh siswa-siswi SD Negeri M. Nawi Harahap Kecamatan Medan Kota yaitu sebanyak 125 anak, dan sampel berjumlah 40 siswa.

4. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer untuk mengetahui higiene tangan dan kuku siswa yang diperoleh melalui wawancara dalam bentuk kuesioner dan data tentang infeksi E. Vermicularis diperoleh melalui pemeriksaan anal swab di laboratorium.

5. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan secara manual dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi.

Gambar

Tabel 4.1  Disrtibusi  Responden  Berdasarkan  Jenis  pH  Saliva   pH Saliva  Jumlah  siswa/i (n)  Persentase  Asam  17 orang  47,2%  Netral  7 orang  19,4%  Basa  12 orang  33,3%  Jumlah  36 orang  100%
Tabel 4.  Distribusi  Frekuensi  Indeks  Plak  Sebelum  Menyikat  Gigi  dengan  Kepala  Sikat  Gigi  Melengkung
Tabel 9. Independent Sample Test Indeks Plak Dengan  Menggunakan Sikat Gigi Dengan Kepala Sikat  Gigi Lurus dan Melengkung
Tabel 4.1  Distribusi  Frekuensi Kejadian Pre-Eklamsia  Pada  Ibu  Hamil  di  Poli  Kebidanan  Rumah  Sakit  Tingkat  II  Iskandar  Muda  Banda  AcehTahun 2014
+7

Referensi

Dokumen terkait