Relevansi Migrasi dengan Dinamika Sosial-Ekonomi sebagai Parameter Keterlibatan dalam Uni Eropa
Ketidakstabilan atau kurangnya kapabilitas sebuah pemerintahan negara dalam mencapai kesejahteraan masyarakatnya, menjadi salah satu alasan dibalik tingginya tingkat migrasi di negara tersebut. Berfokus pada ekonomi, perkembangan hubungan antar negara mempermudah masyarakat untuk bermigrasi ke negara yang dirasa menyediakan kesempatan perbaikan ekonomi, untuk mengeliminasi kemiskinan dan mencapai perkembangan umat manusia yang berkelanjutan. Hubungan antara tingkat migrasi dan perkembangan ekonomi menyentuh aspek remitansi, komunitas diaspora, formasi modal, dan struktur sosial, baik pengirim maupun penerima migran.1 Menyimpulkan data dari The British Broadcasting Corporation, kontribusi migran terhadap kondisi fiskal Benua Eropa didasari oleh tolak-ukur kapabilitas dari sosial-ekonomi, terhadap gelombang kumulatif migran dan gross domestic product. Penulis akan berfokus pada empat negara Benua Eropa, yakni Republik Slovenia, Republik Ceko, Konfederasi Swiss, dan Islandia.
Perubahan alur migrasi mempengaruhi kondisi negara-negara Eropa. Setelah Bulgaria memperketat alur migrasi, alur tersebut berubah dan salah satunya adalah melalui Croatia dan Slovania menuju Austria, Jerman, Swiss, dan Skandinavia.2 Slovenia mengalami kirisis ekonomi dalam sektor keuangan publik, terutama sosial-ekonomi. Tidak sedikit migran yang menetap di Slovenia menyebabkan penurunan drastis kesempatan kerja bagi masyarakatnya, lemahnya daya saing masyarakat terhadap migran yang mampu memenuhi persyaratan kapabilitas kerja di Slovenia kemudian mendukung rendahnya rasio ketenagakerjaan di negara tersebut. Mengkombinasikan data migran Slovenia oleh UNICEF dan International Organization for Migrant untuk Eropa, penulis menemukan peningkatan GDP per kapita sebesar 9.004, dan peningkatan Human Development Index sebesar 0.05% di Slovenia pada periode tahun 2000-2010, sebagai hasil dari respon Slovenia terhadap krisis migran berupa pengurangan kuota kerja migran sebesar 24% dalam periode yang sama.
Ceko sebagai negara penerima migran mendapati keuntungan arus migran dalam bentuk peningkatan tingkat kesuburan, yang berkontribusi positif terhadap Natural Increase Index negara tersebut. Terbukanya Ceko bagi migran sejak tahun 2001 berdampak pada
1 Remittances Unit, World Bank, “Impact of Migration on Economic and Social Development: A Review of Evidence and Emerging Issues,” 2010, Washington D.C., World Bank Research and Publications.
jumlah migran sejak tahun 2001 hingga 2007 yang peningkatannya hingga 450.000 migran.3 Hal ini menyebabkan peningkatan pada indeks kesuburan dan jumlah penduduk, namun efek samping dari peningkatan ini yakni semakin ketatnya persaingan dalam bursa kerja. Para migran dari negara barat kerap kali mendapatkan akses pendidikan lebih baik di negara Ceko. Memperhitungkan umur penduduk, rata-rata umur penduduk Ceko ialah 40 tahun, sedangkan mayoritas migran ada pada umur 30an tahun, yang berarti penduduk Ceko lebih mendekati penghujung umur produktif, dan memberikan kesempatan bagi migran untuk mendapatkan pekerjaan dengan periode umur produktif yang lebih panjang. Data menunjukan bahwa pada tahun 2002 migran dari barat dapat menempati jabatan yang sama hingga 10 tahun masa kerja, sedangkan penduduk setempat hanya selama 8-9 tahun masa kerja pada jabatannya.4
Swiss tidak memiliki permasalah serius terkait migran, dengan memperhitungkan penutupan akses migran sebagai respon dari krisis ekonomi Swiss pada tahun 2008. Menganut asas protectionism, penulis beranggapan bahwa respon ini berorientasi pada perlindungan masyarakat domestik Swiss, dalam ranah mikroekonomi, produktifitas dan pertumbuhan, efisiensi dalam pengeluaran sektor publik, dan keberlangsungan stabilitas sosial-ekonomi. Pada masa krisis ekonomi 2008, pemerintah Swiss dan beberapa negara The Organization for Economic Co-operation and Development mengaplikasikan pengetatan arus migran, yakni i) menyesuaikan batas numerik; ii) memperkuat pasar tes pekerja; iii) membatasi probabilitas untuk mengubah status dan pembeharuan izin; iv) menerapkan kondisi pelengkap untuk alirat non-discretionary; dan v) mendukung pengembalian migran.5
Krisis migran di Islandia bermula dari pembaharuan pemerintahannya, yang bertujuan pemberdayaan migran, namun tidak sesuai ekspektasi, meledaknya arus migran menyebabkan krisis ekonomi di Islandia dalam bentuk pengangguran dan hutang warga negara akibat tertutupnya akses perbaikan ekonomi. Ketika gerbang terhadap migran dibuka, persentasi alur migran meningkat sebesar 7%. Sebagai penanggulangan , pemerintah Islandia menutup arus migran dari Romania dan Bulgaria agar mengstabilkan aspek-aspek sosial ekonomi negaranya.6 Namun kebijakan ini hanya berdampak positif pada pengurangan arus,
3 Marketa Arltova, Jitka Langhamrova, “Migration and Ageing of The Population of The Czech Republic and The EU Countries,” Prague Economic Papers, 1, 2010, pg. 64-65.
4 Daniel Munich, “A Tumultuous Decade Employment Outcomes of Immigrants in The Czech Republic,” Washington, DC and Geneva: Migration Policy Institute and International Labour Office, 2014.
5 Jonathan Chaloff, Jean, Jean-Christophe Dumont, dan Thomas Liebig, “The Impact of The Economic Crisis on Migration and Labour Market Outcomes of Immigrants in OECD Countries,” Research Report OECD (2010), International Migration Outlook, Paris, pg. 41.
tidak pada tingkat edukasi Islandia, dengan pada faktanya bahwa pelamar asylum per kapita pada tahun 2015 dapat menurun hingga dibawah 5%, namun foreign-born student memiliki askses pendidikan yang lebih baik pada periode tahun 2003-2012.7 Penulis mengindikasikan adanya gejala xenophobia dalam masyarakat Islandia, dimana mereka merasa terancam secara finansial dan keamanan dari eksistensi para migran.
Mengingat hukum atau peraturan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa bersifat hampir mengikat, setiap kebijakan atau aturan yang dikeluarkan terkait migrasi, akan berpengaruh pada dinamika ekonomi dan politik setiap anggota negaranya. Melihat kebijakan migrasi oleh U.E., dapat dinilai bahwa adanya mispresepsi dalam memprediksi masa depan ketika kebijakan ini diadakan, pada faktanya negara-negara anggota – khususnya negara berkembang – U.E. mengalami krisis, terutama dalam bidang ekonomi. Krisis dimulai dari pengadaan Schegen Agreement yang meleluasakan perpindahan manusia antar negara anggota, yang belum tentu memiliki kapabilitas penampungan migran.8 Swiss adalah salah satu contoh negara Eropa yang tidak bergabung dalam U.E. dan mengalami kesuksesan dalam mengatur migran, bahkan mengadakan perjanjian dengan U.E. terkait migran. Perjanjian tersebut meliputi pembatasan kuantitatif migran dan mobilitas masyarakat U.E., dan masyarakat Swiss sendiri pun menolak hadirnya migran di negara mereka dalam jumlah yang tinggi.9
Slovenia adalah negara dengan dinamika politik dan ekonomi yang kurang baik, dan perlu pengadaan reformasi. Pada faktanya, sebelum bergabung dengan U.E., Slovenia memiliki hutang pemerintah publik terhradap GDP sebesar 20%, dan sekarang menjadi 60%.10 Persentase ini menunjukan meningkatnya pendanaan tambahan dan investasi untuk perbaikan ekonomi, yang dapat diindikasikan bahwa sektor ekonomi semakin percaya kepada pemerintah Slovenia itu sendiri. Kemudian, pada tahun 2004 Slovenia secara resmi bergabung dengan U.E., dengan tujuan untuk menjadi negara yang lebih stabil, memiliki kekuatan dalam pengambilan keputusan dala hubungan internasional, mendapatkan
7 Lidia Farre dan Ryuichi Tanaka, “Refugees and Economic Migrants: Facts, Policies and Challenges,” 2016, London, Centre for Economic and Policy Research.
8 Shubham Poddar, “European Migrant Crisis: Financial Burden or Economic Opportunity?” (2016). Social Impact Research Experience (SIRE). 43.
9 Sergio Carrera, Elspeth Guild dan Katharina Eisele, “No Move without Free Movement: The EU-Swiss Controversy over Quotas for Free Movement of Persons,” (2015), Brussels, Centre for European Policy Studies.
keuntungan ekonomi terkait adanya free trade agreement yang mempermudah aktifitas ekonomi antar negara anggota U.E.11
Ceko bergabung dengan U.E. dengan orientasi perbaikan ekonomi, mengingat Ceko tidak memiliki kodisi ekonomi yang baik, situasi populasi negara tersebut pun tidak berada pada kondisi yang memadai. Ekspektasi pemerintah setelah bergabung dengan U.E. pada tahun 2004 adalah perbaikan ekonomi, stabilisasi kondisi politik domestik negara, dan mendapatkan posisis yang kuat dalam pengambilan keputusan.12
Islandia pada faktanya membutuhkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara U.E., menimbang dari sudut pandang Teori Ekonomi Klasik, yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan perdagangan internasional dan kesejahteraan masyarakat, diperlukan adanya kerjasama lintas-batas negara dalam bidang tersebut. U.E. tentu menyediakan wadah demikian, dengan hadirnya European Free Trade Area dan European Economic Area yang juga diikuti oleh Islandia. Terdapat beberapa alasan implisit mengapa, menurut penulis, Islandia lebih baik untuk tidak bergabung dengan U.E., yakni kapabilitas Islandia yang mampu bertahan dari segi pertahanan dan stabilitas politik tanpa harus bergabung dengan U.E. Menurut sejarah dan dapat dilihat hingga sekarang, Islandia memiliki comparative advantage dalam bidang militer dan sumber daya (hydro dan geothermal power).13
Swiss tetap menjalin beberapa kerjasama tertentu dengan U.E., yakni dalam bidang perpindahan manusia, modal ekonomi, keamanan, perpajakan, edukasi dan aglikultur yang diatur dalam perjanjian bilateral I dan II. Sejatinya, Swiss merasa tidak perlu adanya kerjasama lebih dalam, dengan memperhitungkan aspek kehilangan akan hak penentuan pendapat masyarakat (referenda) dan inisiatif penduduk, juga Swiss merasa akan tercapainya perkembangan ekonomi yang stabil dengan perjanjian yang telah terjalin tanpa harus menjadi bagian dari U.E.14
Menarik kesimpulan, alur dan arus migrasi memiliki dampak yang signifikan terhadap dinamika sosial, politik dan ekonomi sebuah negara, baik positif ataupun sebaliknya. Kebijakan alur dan arus migrasi sebuah negara dapat ditentukan baik oleh kepemerintahan itu sendiri, maupun oleh integrasi geo-politik organisasi regional. Slovania, Ceko, Swiss dan Islandia mengalami dampak yang berbeda, dipengaruhi oleh keterlibatan atau ketidak-11 The Government Public Relations and Media Office, “Slovenia European Union Member by 1 May 2004,” (2004).
12 Standard Eurobarometer 72, “National Report Executive Summary Czech Republic,” (2009), European Commission.
13 Hilmarsson, “Iceland and Economic Integration: In or Outside the European Union?"