• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abstrak. Keywords: Communication Strategies, Former Terrorist Prisoners, Decalalized, Peacock Circle Foundation. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Abstrak. Keywords: Communication Strategies, Former Terrorist Prisoners, Decalalized, Peacock Circle Foundation. A. Latar Belakang"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

1

Strategi Komunikasi Yayasan Lingkar Perdamayan Dalam Melaksanakan Deredekalisasi Terhadap Mantan Narapidana Teroris

By Imam Safii1

[email protected]

Abstrak

This paper presents itself as a criticism of the war on terrorism in Indonesia by taking action and enforcing the law, mobilizing the police apparatus especially Detachment88 and carrying out executions of radical perpetrators. It turns out that the handling has not solved the problem of terrorism that occurred in Indonesia. It could even give birth to a new terrorism from the family of the naples as well as the ex-Napites from prison due to their grudges. So from this the need for handling a soft power approach is to strive for the de-radicalization of ex-convicted terrorists in the hope of preventing the emergence of new terrorists in the next era. The Circle of Peace Foundation is a foundation founded by Ali Fauzi along with former terrorists. This foundation is one of the foundations in the field of Flow Integrity control with the aim of changing the mindset of families of ex-terrorist convicts - former Islamic terrorists are friendly rather than angry and keep them away from destructive attitudes. Ali Fauzi as the chairman gathered a number of ex-combatants and invited them together to echo the values of world trade. The purpose of this study is to find out about the communication strategies of the Foundation's circle of peace actions in carrying out de-alienation of ex-convicted terrorists. Decalcalized by this circumference foundation, the Soft Power Apoach model is a soft method which is then implemented with a communication strategy. So the results obtained from the communication strategy of the circle of peacekeeping circles are by establishing reliable communicators and partners in their fields, setting targets of de-decalalized programs, namely changing structuralist mindset towards constructive, compiling peaceful messages and choosing social media as a means of disseminating decalecalized information implemented by foundations peramayan circle.

Keywords: Communication Strategies, Former Terrorist Prisoners, Decalalized, Peacock Circle Foundation

A. Latar Belakang

1

(2)

2

Upaya penangkapan dan pembinaan terhadap para narapidana teroris yang dilakukan oleh lembaga kemasyarakatan belumlah menuai hasil yang maksimal. Hal ini terbukti sebagaimana dilaporkan oleh International Crisis Group (ICG) tahun 2007 dengan judul Deradicalisation and Indonesian Prisons bahwasanya telah terjadi sebuah kasus di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan Bali dimana pelaku utama Bom Bali yaitu Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlash dapat mempengaruhi narapidana lain dan sipir.2 Ahmed adalah seorang narapidana beragama Hindu yang dapat dipengaruhi dan kemudian dihukum lantaran kasus germo dan narkoba pada tahun 2001. Disisi lain terjadinya interaksi dari trio bomber dengan narapidana lain, adalah mereka yang menjadi jamaah aktif masjid, Ahmad misalnya salah seorang yang simpatik dengan sikap Amrozi. Singkatan dari Aman Abdurrahman dia seorang teroris garis keras yang kemudian berhasil merekrut tiga orang narapidana yang pada sebelumnya tidak memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan yang mengarah pada perbuatan radikal.

Pasca eksekusi hukuman mati atas perbuatan pelaku bom Bali, Amrozi bin Nurhasyim, Mukhlas alias Ali Ghufron, dan Imam Samudra alias Abdul Azis sebagai penanganan hard power approach ternyata belum juga menjadikan tindakan teroris ini berakhir. Adanya eksekusi tersebut merupakan bagian kecil dari couter gerakan teroris, dikatakan Rumadi dalam tulisan artikelnya bahwa eksekusi Amrozi ini ibarat mengobati penyakit dengan memberikan obat generik yang hanya menghilangkan rasa sakitnya saja dan sewaktu-waktu penyakit ini akan kambuh kembali.3 Sebab akar dari gerakan terorisme adalah persoalan mindset dan idiologi berfikir yang harus dirubah bukan masalah fisik atau jiwa yang direnggut. Terbukti pada tiga tahun terahir saja masih banyak tindakan teroris yang terjadi di Indonesia seperti halnya yang terjadi pada tanggal 14 Januari 2016 yang dikenal dengan Bom Thamrin disusul dengan Bom Mapolresta Solo, 4 Jawa Tengah pada tanggal 05 Juli 2016, disusul dengan Bom Molotof di Kalimantan Timur pada tanggal 13 Nofember 2016, disusul dengan Bom terminal bus kampong Melayu pada malam tanggal 24 Mai 2017, disusul dengan

2

Ulfah Khaerunisa Yanuarti, Counter Terrorism bagi Pelaku Tindak Pidana Terorisme di Indonesia,(Uin Depenegoro Semarang, 2014), 03

3

Rumadi, Terorisme Pasca Eksekusi Amrozi CS, Lihat pada WWW. Gusdur Net di akses pada 17 Agustus 2018

4

Pada kasus tragedy Mako brimob ada lima Brimog yang dibunuh oleh narapidana teroris. Badriyanto, 7 Serangan Teroris di Indonesia Tiga tahun terahir No 5 diwarnai Drama. https//news.okezone.com.red, di akses pada 17 Agustus 2018

(3)

3

Tragedi Mako Brimob pada tanggal 08 Mai 2018 , serta disusul dengan ledakan bom di tiga gereja di Surabaya tepatnya pada tanggal 13 Mai 2018 kemarin.

Melihat realitas di atas ternyata Perang melawan terorisme dengan melakukan penindakan dan penegakkan hukum, menggerakkan aparat kepolisian khususnya Densus88 serta melakukan eksekusi hukuman mati belumlah menyelesaiakn masalah terorisme. Bahkan bisa jadi melahirkan terorisme baru dari keluarga napiter serta para eks Napiter dari penjara disebabkan rasa dendam dari mereka. Maka dari hal inilah perlunya penangananan soft power approach yaitu mengupayakan deradikalisasi terhadap eks narapidana teroris dengan harapan mencegah kemunculan teroris-teroris baru pada era selanjuntnya. Tak lain soft power aproach yang bisa di upayakan dalam penanganan radikalisme agama disini adalah sebagaimana bahasa tesisnya Max Weber “Agama dengan seperangkat ajaranya adalah spirit untuk menentukan harmoni dalam artian pembendung munculnya faham radikal baru dalam kehidupan sosial masyarakat.5 Dikatakan juga oleh Mustafa6 selaku ketua ikatan pondok pesantren di Jawa Barat bahwa kurang efektifnya langkah yang dilakukan untuk memutus mata rantai terorisme selama ini adalah dengan pendekatan yang cenderung militeristik yang hanya mengedepankan proses hukum, proses ini pada dasarnya hanya memutus poros tengah namun belum menelisik jauh dan meng-optimalkan pendekatan lain seperti pendekatan ekonomi, sosial, lebih-lebih dengan pendekatan Agama.Untuk itu perlu kiranya ada sebuah wadah atau lembaga kemasyarakatan yang kiranya menampung keberadaan eks narapidana teroris serta tempat pulang mereka sebelum bergaul ketengah masyarakat luas, tentunya sebagai upaya deradikalisasi agama agar kemunculan teroris yang ada di Indonesia tidak bermunculan lagi.

Salah satu yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan keluarga mantan teroris serta tempat pulangnya para mantan teroris sebelum bergaul dengan masyarakat luas adalah Yayasan Lingkar Perdamayan yang ada di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan. Sebagaimana dikatakan Saiful Aris salah satu eks napiter yang ada diyayasan ini :

5

Silfia Hannani, Menggali Interaksi Sosiologi dan agama, ( Bandung : Humaniora, 2012), 27

6

Suyanto, Deredakalisasi Agama Melalui Pendidikan Multikultural-Iksklusif : Studi Pada Pondok Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo. (PROFETIKA, Jurnal Studi Keislaman Vol 15 No 2 Desember 2014), 02

(4)

4

Yayasan ini didirikan oleh Ali Fauzi bersama para mantan teroris. Yayasan ini menjadi salah satu yayasan yang bergerak di bidang control Flow Integrity (CFI) dengan tujuan mengubah mindset keluarga mantan narapidana teroris serta para mantan teroris kejalan Islam ramah bukan marah dan menjauhkan mereka dari sikap-sikap distruktif seperti pengeboman misalnya. Ali Fauzi selaku ketua YLP mengumpulkan sejumlah eks kombatan seperti Anis Yusuf misalnya salah satu orang Indonesia yang terkenal sebagai pimpinan teroris dunia Osama Bin Laden, Iqbal Hussein Thoyib, seorang perencana bom ke Mabes Polri dan lain-lain. Pada saat ini yayasan ini memiliki 60 pengurus di seluruh Indonesia.7

Ada beberapa upaya yang telah dilakukan oleh yayasan Lingkar perdamayan, diantara upaya yang dilakukan oleh yayasan ini sebagaimana dilaporkan Hanif Manshuri dalam artikelnya yaitu mengadakan Workshop penguatan skill ekonomi kaum muda melalui pelatihan jurnalistik tepatnya pada Minggu tanggal 28 januari 2018 yang melibatkan sekitar 75 peserta eks Narapidana teroris.8 Yayasan ini juga menggelar pembinaan terhadap anak-anak eks napiter di alam terbuka waktu itu tepatnya pada tangggal 25 Juni sampai dengan tanggal 26 juni 2018 di lereng gunung Walerang Malang Jawa Timur dengan melibatkan para eks napiter.9 Langkah selanjutnya yang akan dilakukan yayasan sebagaimana di katakan Anas Yusuf selaku dewan penasehat YLP, yayasan ini akan melakukan keliling dari penjara satu kepenjara lain. Mereka (pengurus YLP) akan mengajak dialog para eks napiter yang ada diNusantara ini.

Badan Nasional Penanggulangan Tererisme (BNPT) turut berpartisipasi dan mendukung terhadap program deredekalisasi yang dilaksanakan oleh yayasan ini diantaranya adalah dengan berupaya mendirikan pembangunan tempat ibadah masjid plus taman pendidikan Al-Quran (TPA). Komjen Pol Suhardi Alius selaku kepala BNPT RI, menyebutkan bahwa pembangunan TPA plus dan renovasi Masjid Baitul Muttaqin, akan menjadi pohon harapan. Lebih jauh, Suhardi menambahkan, di TPA

7

Ali fauzi Dkk Dirikan Yayasan Lingkar Perdamayan Di Lamongan. Hasil Wawancara dengan Bapak Hadi Ismanto selaku warga Desa Tenggulun. ( 20 Agustus, 2018).

8

Hanis Mashuri, Tak Kantongi Izin acara Yayasan Lingkar Perdamayan Dibubarkan, http://surabaya.tribunnews.comdi akses pada 17 Agustus 2018

9

Hanif Mashuri, Yayasan-lingkar-perdamaian-lamongan-gelar-program-deradikalisasi-libatkan-mantan-napiter,

(5)

5

plus dapat mendidik para generasi penerus menjadi anak-anak yang berguna bagi Bangsa. Di antaranya, senantiasa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dari upaya cara-cara lunak (sofe power approach) yang dilakukan oleh Yayasan Lingkar Perdamayan ini, banyak dari Negara luar yang melakukan kunjungan ke yayasan ini diantaranya adalah sepeti yang dilakukan oleh pemerintah Jepang tepatnya pada tanggal 31 Juli 2018 kemarin. 10Mereka terharu bisa melihat langsung puluhan mantan teroris yang kini justru gigih dalam menggaungkan nilai-nilai perdamaian. Delegasi Jepang pun siap belajar banyak dari Indonesia untuk melakukan cara-cara lunak (soft power approach) untuk menangani terorisme di negaranya.Mereka ingin melihat yang sudah didengar dan melihat langsung serta ingin komunikasi langsung dengan pelakunya Ali Fauzi, teman-temannya, dan keluarganya. Intinya mereka ingin lihat secara riil yang telah terjadi tentang dinamika Deredekalisasi yang dilakukan oleh Yayasan ini terhadap para eks napiter.

Berdasarkan fenomena di atas, adanya upaya deradikalisasi yang dilakukan oleh yayasan Lingkar perdamayan terhadap eks napiter, maka perlu kiranya di ketehaui adanya Strategi komunikasi yang dilakukan oleh yayasan ini sebagai model soft power approach berupa pembinaan khusus hingga kegiatan seminar, talkshow, workshop, dan pelatihan yang dilakukan oleh YLP semua tidaklah lepas dari aktivitas komunikasi. Maka demi tercapainya komunikasi yang di harapkan serta menghilangkan miss communication perlu adanya strategi komunikasi yang dilakukan oleh yayasan ini. Strategi komunikasi merupakan panduan dari perencanaan dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan bisa berbeda sewaktu-waktu tergantung dari situasi dan kondisinya. Tidak sedikit program pemerintah ataupun non pemerintah yang gagal hanya karena kurang tepatnya strategi komunikasi yang dilakukan. Dari inilah peran penting dari adanya strategi komunikasi yang dilaksanakan secara terororganisir secara baik. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk

10

Pemerintah-jepang-kunjungi-yayasan-lingkar-perdamaian-di-desa-tenggulun-lamongan Lihat pada

(6)

6

melakukan penelitian yang berfokus pada strategi komunikasi yang dilakukan Yayasan Lingkar Perdamayan sebagai upaya deredekalisasi terhadap mantan Narapidana teroris. Adapun pertanyaan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana Strategi tindakan komunikasi yang dilakukan Yayasan Lingkar Perdamayan Terhadap mantan narapidana teroris dalam melakukan deredekalisasi.

B. Teori Relefan

Untuk menghilangkan ambiguitas pada pemahaman beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini maka perlu kiranya definisi konsep dari judul yang penulis angkat diantaranya adalah :

1. Strategi Komunikasi

Secara terminologi yang dikatakan komunikasi dalam buku yang ditulis oleh Onong Uchyana diartikan sebagai sebuah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan, dari madia kepada audience, dengan tujuan merubah sikap, pendapat dan prilaku baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media yang ada.11 Sedangkan Harold Lasswell dalam buku yang ditulis oleh Dedy Mulyana, mengungkapkan, cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: “Who Says What Which Channel To Whom With What Effect?, siapa, ? mengatakan apa ?, dengan saluran apa ?, kepada siapa, dengan pengaruhnya bagaimana?.

Selanjutnya terkait defenisi strategi dalam buku yang berjudul Strategic Management in Action Stephanie K. Marrus menyatakan bahwa strategi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penentuan cara pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut kiranya dapat tercapai.12

Gunter Buntele & Howard Nothhaft Dalam International Journal of Strategic Communication, dikatakan tentang strategi komunikasi di ranah publik disebutkan bahwa Strategi komunikasi dalam ranah publik menyatakan bahwa ketertarikan dalam bidang strategi komunikasi juga berarti memiliki ketertarikan dalam kepentingan di

11

Onong Uchyana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 23.

12

(7)

7

masyarakat pada umumnya dalam beberapa cara.13 Situasi dan kondisi masyarakat pada umumnya harus dilihat secara jeli dalam menentukan strategi komunikasi, dalam penentuan strategi komunikasi juga hars melihat adanya strategi komunikasi yang telah dirancang disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.

Sebagaimana ungkapan yang dikutip Effendy tentang tujuan sentral dari strategi komunikasi menurut R. Wayne Pace Brent D. Peterson dan M. Dallas Burnett dalam bukunya Techniques for Effective Communication ada tiga diantaranya adalah:

1) To secure understanding, yaitu menimbulkan pengertian setelah pesan disampaikan. Memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang telah diterimnyaanya.

2) To estabilish acceptance, pembinaan setelah seorang komunikan menerima pesan dari komunikator maka dia harus dibina.

3) To motivate action, dalam arti upaya pemberian motivasi kepda seorang komuniken yang dilakukan oleh seorang komunikator. 14

Strategi komunikasi merupakan bagian dari proses komunikasi. Oleh karena itu sebagaimana yang elemen yang di ungkapkan oleh Harod D Lasweel adapun penetapan perencanaan strategi komunikasi kembali berdesarkan elemen olehnya, yakni who says what, to whom through what channels, and what effect. Maka dari itu, strategi yang dijalankan dalam perencanaan komunikasi harus diawali dengan langkah-langkah sebagaimana berikut ini : Menetapkan komunikator, menetapkan target sasaran dan analisis kebutuhan khalayak, menyusun pesan, dan menilih dan menetapkan media dan saluran komunikasi.15

2. Deredekalisasi

Setelah membahas makna counter terrorism maka selanjutnya untuk mengsingkronisasikan antara teori ke teori maka pembahasan selanjutnya adalah tentang deradikalisasi. Kata Deradikalisasi selama ini sebagai kontra dari kata radikal

13

Gunter Buntele & Howard, Nothhaft., Strategic Communication and the Public Sphere form a European Perspective, International Journal of Strategic Communication, (Vol.4 No.2, 2010 ), 93-116.

14

, Ibid,. Onong Uchyana, 32 15

(8)

8

dengan makna mencegah tidak keras. Farid Septian dalam tulisannya mengatakan bahwa :

“Kata deradikalisasi sendiri berasal dari bahasa Inggris deradicalisation yang kata dasarnya adalah radical. Kata radikalisasi sering digunakan untuk menggambarkan proses dimana individu mentransformasi pandangan mereka terhadap dunia dari kondisi suatu masyarakat yang cenderung “normal” menuju masyarakat yang cenderung “ekstrim”. Dalam beberapa kasus, individu tersebut kemudian akan melibatkan diri mereka dalam tahap berikutnya yaitu melakukan tindakan-tindakan kekerasan.16

Sedangkan menurut Golose terkait Makna deradikalisasi adalah

segala upaya untuk menetralisir paham-paham radikal melalui pendekatan interdispliner, seperti hukum, psikologi, agama, dan sosial budaya bagi mereka yang dipengaruhi atau ter-ekspose paham radikal dan atau pro-kekerasan. Dalam hal ini mereka termasuk: napi, mantan napi, individu militan radikal yang pernah terlibat, keluarga, simpatisannya, dan masyarakat umum. Deradikalisasi terorisme diwujudkan dengan program reorientasi motivasi, re-edukasi, resosialisasi, serta mengupayakan kesejahteraan sosial dan kesetaraan dengan masyarakat lain bagi mereka yang pernah terlibat terorisme maupun bagi simpatisan. Program deradikalisasi harus bisa melepaskan ideologi-ideologi dalam diri teroris, atau menghentikan penyebaran ideologi itu. Sehingga dalam pelaksanaannya (deradikalisasi) perlu dilakukan bersamaan dengan deideologi. Deideologi ini kunci utama dalam penyadaran serta proses reorientasi ideologi teroris untuk kembali ke ajaran yang benar.17

Makna sepadan sebagaimana dikatakan oleh Golose, yaitu yang di ungkapkan oleh Amirsyah dia mengungkapkan bahwa deradikalisasi adalah segala jerih upayah yang dilakukan dalam rangka menetralisir adanya beberapa faham radikal dengan beberapa pendekatan diantaranya seperti dengan pendekatan agama, soaial, politik, budaya. Sedangkan dalam pada tataran konteks terorisme disebabkan munculnya faham

16

Farid Septian, pelaksanaan deradikalisasi narapidana terorisme di lembaga pemasyarakatan kelas i cipinang, (Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 7 No.I Mei 2010), 108

17

(9)

9

keberagamaan radikal deredekalisasi di maknai sebagai faham yang mampu meluruskan faham-faham lain dengan berdasarkan pemahaman agama yang bersifat moderrat. 18

Berdasarkan makna ketiga tokoh di atas maka deradikalisasi ini seyogyanya bukan hanya ada pada konsep-konsep tanpa adanya internalisasi dari konsep-konsep tersebut sebab perubahan dari sifat yang normal ke ekstrim inilah nantinya akan menjadi bumerang ditengah kehidupan masyarakat. Masyarakat akan terganggu dengan munculnya faham-faham ekstrimisme atau kata lain disebut sebagai teroris yang dianggap menakut-nakuti dengan beberapa cara yang mengerikan mulai dengn meledakan tempat ibadah, diskotik, hingga tempat-tempat umum yang natinya menjadikan orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban kebiadaban mereka. Namun perlu di ingat berdasarkan pengertian di atas maka tindakan yang dilakukan “Deradikalisasi” kepada para eks-Napiter ataupun keluarga napiter adalah dengan beberapa pendekatan yang sifatnya “Soft Power” : cara-cara lunak dengan tanpa kekerasan, meng eksekusi misalnya seperti yang telah dilakukan kepada tri Bom Bali. Maka tindakan-tindakan demikan “hard power” hanya melahirkan teroris-teroris baru disebabkan dari adanya sifat dendam dari pihak keluarga yang telah ditinggalkan, kita berbicara radikalisasi-teroris berarti berbicara masalah ideologi maka kalau berbicara ideology tidak cukup dengan menjatuhkan jiwa seseorang dengan tanpa berfikir terhadap hal-hal selanjutnya yang akan terjadi. Tujuan utama dari deradikalisasi ini adalah untuk merubah seseorang namun dengan tanpa kekerasan term diantaranya adalah dengan menjauhkn mereka dari hal yang bersifat destruktif 19 seperti pengeboman misalnya.

Deredakilasasi ini dapat kita fahami sebagai langkah untuk merubah ideolog-ideologi kelompok radikal atau yang kita kenal teroris secara derastis. Namun pada tataran praktiknya program ini di anggap oleh kelompok radikal dengan sebuah bentuk jihad ataupun Islamisasi.20 Harapan perubahan secara drastis di atas bukan hanya

18

Amirsyah, Meluruskan Salah Paham Terhadap Deradikalisasi Pemikiran, Konsep dan Strategi Pelaksanaan, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2012), hal. 35-36.

19

http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/muncul-spanduk-kecam-bnpt-menjelang-dialog-antara-jihad-dan-terorisme.html, dan

http://arrahmah.com/read/2011/10/28/16055-para-tokoh-dan-aktivis-islam-kritik-sikap-bnpt-yang-selalu-menyerang-islam.html. Diakses pada tanggal 02 Maret 2019

20

http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/muncul-spanduk-kecam-bnpt-menjelang-dialog-antara-jihad-dan-terorisme.html, dan

http://arrahmah.com/read/2011/10/28/16055-para-tokoh-dan-aktivis-islam-kritik-sikap-bnpt-yang-selalu-menyerang-islam.html. Diakses pada tanggal 02 Maret 2019

(10)

10

dimaksudkan seorang hamba terbebas dari tindakan kekeraan namun pada ranah pelepasan diri terhadap kelompo ( teoris) sebelumnya yang menjadi tempat bersemayam meeka selama ini. Maka kalimat sederhana dari deredakalisasi ini ini adalah menjauhkan seorang dari perbuatan-perbuatan destruktif dan memutuskan mereka dari kelumpok yang mengajak mereka pada tataran destruktif atau yang kiata kenal dengan teroris, menakut-nakuti sebagian orang hingga menyebakna ketakuna pada pablik akibat perbuatan mereka.

C. Metodologi Penelitian

Terkait metode yang digunakan dalam penelitian ini penulis mencoba mendiskripsikan mulai dari jenis penelitian, sumber data, tehnik analisa data dan pengecekan keabsahan data. Maka dari itu kamis diskrisikan sebagaimana berikut :

1. Jenis penelitian

Adapun jenis penelitian di Yayasan Lingkar perdamayan yang ada di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan ini adalah bersifat kualitatif. Dikatakan Patton bahwa metode kualitatif digunakan untuk memahami fenomena mapun gejala-gejala yang sedang terjadi secara alamiah (natural) dalam keadaan-keadaan yang sedang terjadi secara alamiah.21 Dengan menggunakan metode ini maka data yang di dapat akan lebih lengkap, lebih radikal, kredibel, dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Dengan metode kualitatif maka akan bisa mendapatkan data yang lebih tuntas dan pasti sehingga mempunyai kredibilitas yang tinggi.22 Penelitian kualitatif secara universal bisa digunakan untuk penelitian terkait kehidupan masyarakat, sejarah, perilaku, fungsionalisasi, organisasi, aktifitas sosial dan sebagainya.23

Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaiman strategi komunikasi yang dilakukan oleh Yayasan Lingkar Perdamayan dalam deredekalisasi Agama terhadap Eks Napiter tentunya sebagai upaya dalam meng Counter adanya kemunculan-kemunculan kekerasan baru yang meng atas namakan agama dengan beberapa indikator sebagaimana berikut :

21

Rulam Ahmadi, Metodologi Penelitinaloan Kualitatif, (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2014), 15-16.

22

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: alfabeta, 2015), 181.

23

(11)

11 a. Memilih komunikator24

b. Menentukan target sasaran c. Menyusun pesan

d. Pemilihan media 2. Sumber Data

Data primer dan sekunder adalah Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini. Data primer diperoleh dengan melalui observasi secara langsung dan wawancara mendalam kepada objek penelitian pengurus Yayasan Lingkar Perdamayan utamanya adalah ketua yayasan ini yaitu Ali Fauzi serta para pengurus lain yang bergabung dalam naungan yayasan ini dengan visi dan misi yang sama yaitu menghadirkan Islam ramah bukan marah serta berusaha mengembalikan citra label buruk yang selama ini melekat pada Eks Napiter menjadi kebangaan bagi Negara kesatuan ripublik Indonesia (NKRI).

Adapun cara purposive sampling adalah cara yang digunakan dalam peneletian ini dalam penentuan informan, penelitian ini menggunakan teknik dengan mewawancarai orang-orang yang dianggap tahu dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mengetahui seluk beluk subjek penelitian. Diantaranya adalah: Ketua Yayasan Lingkar Perdamayan, Pengurus Yayasan Lingkar Perdamayan, Eks Napiter yang ada di yayasan ini, Keluarga Napiter yang berada di Yayasan ini, dan masyarakat desa Tenggulun Kecamatan Sulukoro Kabupaten Lamongan.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari data-data resmi yang ada kaitannya dengan kaitannya dengan judup penelitian yang penulis lakukan. Bisa dari data-data resmi berupa laporan tertulis yang didapat dari jurnal, buku serta hasil penelitian terdahulu yang ada sangkut pautnya dengan penelitian yang penulis angkat, atau dari beberapa kabar yang beredar di di media social.

3. Teknik Analisis Data

Dikatakan Neuman bahwa analisis data ialah suatu pencarian pola-pola dalam data, yang meliputi perilaku yang muncul, objek-objek dan badan pengetahuan a body of knowledge25 Analisis data di dalam penelitian ini dilaksanakan melalui tiga kegiatan yang terjadi secara bersamaan diantaranya reduksi data, penyajian data dan penarikan

24

Sebaimana hadis nabi yang mempunyai arti “Berbicaralah dengan manusia dengan kadar pemahaman mereka”. Dalam artian semua harus disesuaikan dengan kadar kemampuan sesorang serta pesan yang disampaikanpun juga harus sesuai dengan kebutuhan seorang komunikan.

25

(12)

12

kesimpulan atau verifikasi.26 Sebagai seorang peneliti analisis data yang digunakan dalam penelitian ini model miles dan huberman seperti gambar 1.1 sebagai berikut:

4. Pengecekan Keabsahan data

Pemeriksaan keabsahan data didasarkan atas ukuran tertentu. Ukuran tersebut terdiri atas derajat kepercayaan (kredibilitas), keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Masing-masing ukuran tersebut menggunakan teknik pemeriksaan sendiri-sendiri. Adapun ukuran derajat kepercayaan pemeriksaan data dilakukan dengan:

a. Teknik perpanjangan keikutsertaan b. Triangulasi,

c. Kecukupan refensial, d. Pengecekan anggota

e. Kriteria kebergantungan dan kepastian pemeriksaan dilakukan dengan teknik auditing.27

D. Yayasan Lingkar Perdamayan

Sebelum masuk pada sub tema strategi komunikasi yayasan lingkar perdamayan maka peneliti akan mencoba memperkenalkan tentang yayasan lingkar perdamayan. Adapun yayasan lingkar perdamayan adalah yayasan yang ada di DesaTenggulung, Sulokoro, Lamongan Jawa Timur. Desa ini adalah desa yang berada di Lamongan bagian utara, selain itu desa tenggulun ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah desa yang terpencil, bisa dilihat dari adanya jarak dengan kecamatan Solokura hanya berkisar -+ 2 Km, membutuhkan waktu yang tidak cukup lama untuk sampai kekecamatan ini yaitu kurang leb ih sekitar 10 menit. Jarak dengan kota Lamongan yang tergolong pusat perkonomian masyarakat Lamongan kurang lebih 42 KM, sedangkan jarak dari Ibukota Provinsi yakni 72 KM. Secara geografis letak desa Tenggulun ini berbetasan dengan beberapa desa yang ada di kabupaten Lamongan. Diantara batasan dari desa tenggulun

26

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, 246.

27

(13)

13

ini adalah : Sebelah utara desa Payaman, Sebelah selatan desa Taman Prijek Laren, Sebelah barat desa Tebluru dan Sebelah timur desa Solokuro.

Berdasarkan tuturan kepala desa Tenggulun tenggulun desa ini terkenal setelah adanya pengeboman yang dilakukan oleh Amrozi dkk pada kasus bom Bali 1 hingga bom bali 2. Dari sejarah hitam inilah kemudian lahir adanya kebencian terhadap desa Tenggulun yang ber efek terhadap28 susahnya penerimaan terhadap TKW dan TKI sebagai warga Lamongan yang akan bekerja keluar negeri demi memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu bagi setiap warga tenggulun yang akan melakukan rekreasi ke Bali mereka akan tertolak sebab tindak radikal yang dilakukan oleh Amrozi dan kawan-kawan pada kasus kedua bom di atas ( Bom Bali 1 dan 2).

Selanjutnya juga dialami oleh Anak Amrozi cs Mahendra dia mengungkapkan bahwa

Saya menanggung beban sebagai putra teroris. Tidak hanya ditinggal ayah yang harus lama meringkuk di penjara dan kemudian dieksekusi mati. Sejumlah pamannya juga terlibat mulai dari merancang teror, menyiapkan bahan peledak, merakit bom sampai meledakkannya. Mukhlas alias Ali Ghufron dan Imam Samudera dieksekusi mati berbarengan dengan Amrozi. Pada awalnya saya tak mendapatkan kesulitan dari stigma sebagai keluarga teroris, karena di sekolah tidak ada yang tahu bahwa Amrozi adalah ayah saya. Kalau ada masalah di sekolah, saya meminta bantuan orang lain untuk bertindak selaku “wali murid”. Di lingkungan rumah saya masyarakat juga tidak bersikap memusuhi keluarga saya. Saya kaget dan bertanya-tanya, mengapa mereka melakukan tindakan radikal. Perasaan yang sama seperti yang dialami saya ini dan keluarga lainnya. Almarhum embah saya Nurhasyim, adalah sosok cukup berpengaruh di desa ini (Tenggulun). Bisa dikatakan, warga di sini belajar agama dari keluarga saya secara turun temurun. Pada tahun 1992, keluarga saya mendirikan Pesantren Al Islam yang dipimpin dua anak tertua dari embah saya (Nurhasyim), Ustad Chozin dan Ustad Jafar Shodiq.Namun ketika terungkapnya kasus terorsime yang melekat pada keluarga saya, sayapun seolah terkungkung hampir diseluruh instansi menolak kehadiran saya, ketika saya mengajukan proposal/lamaran pekerjaan ditolak.29

Berdasarkan tuturan kedua orang di atas baik dari yang dituturkan oleh kepala desa Tenggulun hingga yang dituturkan oleh Amrozi, merupakan dampak negative yang sangat susah dihilangkan pada diri mereka. Cemooan, cacian mengitari meeka. Hingga pada akhirnya stigma ini harus segera dihilangkan agar mampu mengenbalikan nama

28

Wawancara, Bpk Suyono, 12 Mai 2019

29

(14)

14

baik desa ini (tenggulun) pada konsep desa yang penuh cinta dan perdamayan. Seiring dengan berjalannya waktu label yang merekat pada desa ini hingga yang di alami oleh mahendra dan beberapa anak-anak lain keluarga mantan narapidana teroris label inipun mulai terkikis hal ini terbukti dengan diterimanya Mahendra yang sudah bekerja pada CV. Attaubah yang bergerak dibidang Konstruksi. Dia menyatakan bahwa “Saya bekerja di sini, perusahaan keluarga yang kami dirikan bersama dengan paman. Saya menjadi general manager. Usaha bersama ini sempat vakum. Belakangan aktif, mendapatkan sejumlah pekerjaan di bidang konstruksi, termasuk dalam pembangunan TPA dan renovasi masjid yang difasilitasi BNPT yang sumber dananya dari dermawan.”30

Disisi yang lain juga keperhatinan terhadap keluraga-mantan narapidana tororis menggelitik Ali Fauzi. Pada awalnya Ali fauzi seorang mantan perakit Bom Filipina adalah orang yang sangat benci terhadap NKRI, polisi hingga jajaran penjaga keamanan negara. Polisi baginya adalah seorang yang togut, penghianat terhadap agama. Oleh sebab itu bagi Ali Fauzi polisi harus dibantai/dibunuh dengan tindak kekerasan sebab menghianati terhadap agama. Seiring dengan berjalannya waktu sebuah penyakit yang menimpa Ali fauzi ketua yayasan Lingkar perdamayan ini. Dia (Ali Fauzi) muntah darah dan kemudian dibawah kerumah sakit dan akhirnya dibawa oleh seorang polisi tadi. Dari proses decoding yang kemudian melahirkan agama yang bersifat humanis pada diri Ali fauzi maka muncullah statemen bahwa ternyata tidak semua polisi itu adalah orang yang sewenang-wenang berbuat tanpa nilai dan etika. Terbukti diwaktu Ali fauzi sakit parah yang membawa dia hingga yang membiayai dia selama dia sakit adalah seorang polisi.31

Berangkat dari keperhatinan inilah kemudian muncul sebuah ide dari Ali Fauzi untuk mendirikan sebuah yayasan yang diperuntukkan untuk deredekalisasi di Lamongan yayasan ini kemudian diberi nama dengan nama Yayasan Lingkar perdamayan. YLP adalah yayasan yang bergerak dibidang Counter terhadap gerakan radikal-terorsme yang ada di kecamatan Lamongan pada umumnya. Yayasan ini didiriakan dengan adanya keperhatinan dari nasib yang di alami oleh keluarga para eks-napiter yang kian bermacam-macam. Masyarakat Tenggulun adalah masyarakat yang

30

Wawancara, Mas Mahendra 13 Mai 2019

31

(15)

15

setiap harinya bergelut dengan keluarga Eks-napiter penerimaan mereka terhadap keluarga eks-napiter berdasarkan data diatas jauh berbeda dari sebelum kasus terungkapnya tindakan terorisme oleh para terorisme yang notabene berasal dari desa Tenggulun, Sulokoro, Lamongan Jawa Timur. Keluarga Eks-Napiter menjadi keluarga yang terisolasi dari pergaulan, masyarakat setempat mengangap mereka sebagai perusak nama baik kampung. Selain itu nasib yang di alami oleh anak-anak mereka ( eks-Napiter) juga mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan, Seperti halnya yang di alami oleh Mashendra, dia melamar pekerjaan sudah kemana-mana namun tidak satupun lembaga institusi pemerintah menerima dia untuk bekerja disana. Wacana di atas contoh dampak positif yang di tanggung oleh keluarga eks-Napiter yang kemudian menggelitik Ali Fauzi seorang mantan kombatan tepatnya didesa Tenggulun, Sulokoro, Lamongan jawa timur. Dia bersama para rekannya sebagai Eks-Napiter dan para mantan kombatan merasa mempunyai nasib yang sama sehingga berinesiatif mendirikan yayasan ini. Yayasan ini diberi nama yayasan lingkar perdamayan oleh Ali Fauzi dinisbatkan dengan traggedi masa lalu yang selalu melakukan tindakan radiakal yang meng atasnamakan agama. Ali fauzi sebagai ketua beserta para mantan narapidana teroris lain mendirikan gerakan, pengajian berama. Pengajian ini dilakanakan sebagai bukti konkrit dari adanya program dari LPM hingga lppm. Sejarah kelam yang telah dilalui mereka yaitu sama-sama melakukan tindakan denstruktif berdasarkan landasan agama. Hal inilah yang memicu Ali Fauzi dan kawan-kawan pada akhirnya memberi nama yayasan ini dengan nama Yayasan lingkar perdamayan. Pada awalnya mereka yang bergabung diyayasan Lingkar perdamayan ini dibantu oleh seperangkat jajaran pengurus desa yang pada waktu itu diwakili oleh kepala desa tenggulun Perubahan citra desa Tenggulun memang tak bisa dilepaskan dari pergeseran paham yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Al Islam. Pendiri Ponpes sekaligus kakak kandung Amrozi, Mohammad Chozin mengakui bahwa Ponpes yang didirikannya pada tahun 1992 lalu memang sempat berhaluan radikal. Dulunya di sini memang pengajaran mengarah pada gerakan yang seperti itu. Bahkan, bendera merah putih, budaya 17 Agustusan, serta kegiatan berkaitan dengan NKRI tidak bisa masuk di Ponpes Al Islam.

Seiring dengan berjalannya waktu semua berubah drastis ketika dua adik Chozim, Amrozi dan Ali Ghufron terlibat dalam bom Bali dan dieksekusi mati. Kurikulum yang tadinya berhaluan radikal kini berubah menjadi hafalan Al Quran.

(16)

16

Sehingga sekarang bisa menerima adanya peringatan kemerdekaan, upacara hingga pengibaran bendera merah putih, Sebagaimana yang di ujar Chozim bahwa ini sejalan dengan pemerintahan Indonesia. Pesantren tersebut kini memang layaknya pondok pada umumnya. Tak ada lagi simbol-simbol radikalisme di sana. Dua bangunan utama dan satu musala di tempat itu kini menjadi pusat hafalan Quran. Adapun santri yang menimba ilmu di tempat tersebut merupakan pelajar SMP hingga SMA. Jumlahnya tak banyak, hanya berkisar 100-an santri. Uniknya mayoritas santri justru berasal dari luar Tenggulun.

Ali Fauzi dan Sumarno yang memilih kembali ke jalur perdamaian. Mereka mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang mengatasi permasalahan para napi terorisme yang baru keluar dari penjara. Ali yang juga merupakan adik Amrozi sendiri adalah mantan pelaku teror di Filipina. Sedangkan Sumarno terlibat dalam kasus bom Bali I. Ali Fauzi dengan para alumni berkumpul dan melakukan diskusi tentang apa yang bisa berkontrubsi untuk negeri ini. kemudian mereka mengambil nama lingkar perdamaian sebagai nama komunitas, karena dulu kita lama di lingkar konflik, ingin mengubah itu. Adapun yang menjadi Harapan Ali Fauzi dkk adalah banyak mantan napiter dan mantan kombatan bisa mengubah mindset-nya dari radikal, destruktif, marah menuju humanis, konstruktif dan ramah.

Adapun Visi misi Yayasan ini adalah :

1. Visi yayasan lingkar perdamayan adalah merawat ukuwah merajut perdamayan dan

2. Misi yayasan lingkar perdamayan adalah menyediakan komunitas baru bagi mantan napiter dan kombatan agar mereka tidak kembali lagi ke komunitas lama.

3. Tujuan dari didirikanya YLP adalah sebagai alternative dari tempat pulang pertama kali para mantan narapidana teroris sebelum bergaul dengan masyarakat luas32

Yayasan lingkar perdamayan (YLP) sebenarnya sudah memulai kinerjanya pada tahun 2012 lalu namun mulai diresmikan pada tahun 2016. Perjalanan institusi ini

32

Mereka dirubah minsednya, dibantu ekonominya, diberikan fasilas hingga keterampilan-keterampilan hingga harapan akhirnya mereka kembali kekampung, desa mereka tidak terkucilkan oleh masyarakat sekitar mereka.

(17)

17

tidaklah sebentar kalau kita melihat tahunnya, namun eksistensi didalam melakukan deredekalisasi inilah yang perlu di apresiasi oleh masyarakat Tenggulun khususnya, sebab telah mengubah citra desa ini jelek menuju yang terbaik. Kalau ditanya terkait deredekalisasi ini sejauh mana harus dilakukan, maka sangat penting sekali kiranya sebagaimana di ungkapkan oleh Ali fauzi bahwa faham radikal yang kemudian identik dengan teroris ini berkaitan dengan minsed , kalau kita ibaratkan ini adalah penyakit komplikasi yang penanganannya tidaklah mudah. Mereka ( para eks Napaiter) masuk pada jejaring teroris itu tidaklah mudah begitupun ketika mereka akan keluar dari garis tersebut memang membutuhkan perjuangan yang betul-betul konsisten, nah salah satu upaya didalam mengubah minsed itu berdasrkan paparan di atas adalah dengan mendirikan institusi atau lembaga, lembaga tersebut adalah yayasan yang kemudian diberi nama dengan yayasan lingkar perdamayan. Maka langkah yang pertama kali dilakukan oleh Ala fauzi dan kawan-kawan yang tergabung dalam yayasan ini adalah dengan mengubah pemikiran objek dari yayasan ini yaitu para kaum radikal dengan diajak dialog, yang awalnya mereka (kaum radikal) menganggap bahwa polisi itu togut, polisi adalah syetan, polisi adalah musuh yang harus dibinasakan dengan tindakan radikal mereka menuju pada buah pemikiran terbalik. Mereka (kaum radikal) hingga pada akhirnya mengakui akan keberadaan NKRI dan apa-apa yang mendasari cinta terhadap Negara persatuan ripublik Indonesia serta dibuktikannya mereka dengan melaksanakan peringatan upacara 17 Agustus, penghormatan terhadap bendera merah putih hingga pada akhirnya mereka kembali kepangkuan ibu pertiwi dengan menggaungkan nilai-nalai humanis.33

E. Strategi Komunikasi Yayasan Lingkar Perdamayan Dalam Melaksanakan

Deredekalisasi Terhadap Mantan Narapidana Teroris

Selanjutnya kita akan mendiskripsikan tentang bagaimana Strategi Komunikasi Yayasan Lingkar Perdamayan Dalam Menangani Mantan Narapidana Teroris yang ada dibawah naungan yayasan ini. Setiap masalah yang kita hadapi tentu membutuhkan adanya strategi didalam penanganannya, begiteupun dengan masalah tindakan radikal yang memang membutuhkan langkah strategi yang sangat jeli, sebab hal ini bila mana tidak ditangani secara jeli dan serius maka khawatir akan muncul kembali dan membuat

33

(18)

18

keresahan di masyarakat luas. Terkai makna strategi dapat dimaknai sebagai langkah-langkah. Defenisi strategi dalam buku yang berjudul Strategic Management in Action Stephanie K. Marrus menyatakan bahwa strategi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penentuan cara pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut kiranya dapat tercapai.34 Oleh sebab iitu didalam meng implementasikan strategi ini perlu kiranya saya paparka beberpa hal terpenting dalam emplementasi dari strategi komunikasi YLP.

Adapun yang pertama adalah Memilih Komunikator. Berbicara komunikator merupakan ujung tombak didalam kesuksesan terlaksananya sebuah komuniikasi. Seorang komunikator tidak jauh beda halnya dengan seorang pimpinan dalam terlaksananya acara. Begitupun dengan sebuah lembaga, agar lembaga menjadi sebuah lembaga yang mampu memberikan pelayanan maksimal bagi yang dibinanya, begitupun dengan yayasan Lingkar perdamayan. Yayasan ini memilih orang-orang khusus didalam membina para mantan narapidana teroris sebagaimana yang dituturkan oleh Ali Fauzi selaku ketua Yayasan Lingkar perdamayan ini dia menuturkan bahwa :

Yayasan lingkar perdamayan adalah yayasan yang bergerak di bidang counter gerakan terorisme. Berbicara masalah terorisme ini berbeda dengan permaalahn kasus narapidana lain seperti pelecehan seksual, Narkoba, hingga korupsi. Permaslahan yang di hadapi oleh mantan narapidana teroris berkaitan dengan ideology suci yang harus dibela, Mereka (para teroris) rela mati sebab memperjuangakan agama, mereka menganggap apa yang telah dilakuakan mereka adalah karena li iklai kalimatillah : sebab meninggikan kalimat-kalimat Allah. Oleh sebab itu perlu penanganan khsus dalam menangani para eks napiter yang ada di Yayasan lingkar prdamayan. Saya ( Ali Fauzi ) adalah mantan kombatan Filipina yang kemudian membina para Eks naanganpiter yang paling sulit dari penaanganan eks napiter ini adalah bagaimana merubah minsed yang selama ini mereka anggap sebagai ideology kemudian mereka sadar bahwa pola, langkah mereka selama ini adalah keliru.35Mereka (eks napiter) berada di yayasan ini dibina, diberikan pelatihan keterampilan, hingga mereka berbaur dengan masyarakat dan membantu kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat seperti gotong royong membangun jebatan, rumaah, membersihkan lingkungan dan lain-lain.

Tak cukup rasanya kalau hanya pendampingan secara indifidu, sebagaimana yang dilakukan oleh Ali Fauzi di atas namun perlu kiranya menghadirkan dari pihak

34

Husein Umar, Strategic Management in Action. (Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama, 2001), 31.

35

(19)

19

eksternal yayasan lingkar perdamayan demi terwujudnya manusia-manusia humanis setelah radikal pada yayasan ini. Sebagaimana dituturkan oleh Mahendra selaku anak dari Amrozi, dia menyatakan bahwa :

Di Yayasan lingkar perdamayan ini tak cukup hanya penanganan internal namun penanganan secara eksternalpun juga perlu dilakukan. Salah satu penanganan secara eksternal yaitu kami ppernah menghadirkan dari beberapa nara sumber lain. Tujuan kami ( pengurus YLP) adalah bagaimana mereka juga bisa mempuni didalam tulis menulis atau yang kita kenal dengan kegiatan jurnalistik. Kami pernah mengadakan kegiatan ini bersama para mantan narapidana teroris. Kegiatan jurnalistik ini kami buat sesederhana dan di kemas dengan sandiwara antara para eks napiter, ketua yayasan lingkar perdamayan dan aparat ke amanan Lamongan. Sandiwara tersebut menampilkan action polisi yang seolah akan membubarkan kegiatan peatihan jurnalistik yang dilakukan terhadap para mantan narapidana teroris. Polisi menuduh bahwa kegiatan pelatihan jurnalistik ini tidak mendapatkan izin dari aparat ke amaan Lamongan (polisi), ketika suasana sudah mulai memanas diantara aparat kemanan dan para eks Napiter maka ali Fauzi m ju dan membeiakn keterangan kalau apa yang terjadi mulai tadi itu adalah sandiwara belaka. Hingga teriakan diruangan YLP pun mulai reda. .36

Dalam membina para mantan narapidana teroris memang perlu seorang komunikator atau pendidik yang memang betul-betul tahu akan dunia mereka ibarat orang akan menangkap seorang maling maka. Begitupun didalam membina para mantan narapidana teroris. Telah dikatakan di atas bawah terkait kasus terorisme ini adalah ideology suci yang berbeda dengan kasus lain seperti narapidana narkotika, korupsi, ataupun kasus pemerosaan hingga pelecehan seksual. Oleh sebab kehadiran Ali Fauzi sebagai ketua yayasan lingkar perdamayan merupakan hal yang sangat tepat sebab Ali sendiri telah berpengalaman bagaimana dirinya dicuci otaknya kemudian menjadi radikal hingga rela terjun ke daerah-daerah konflik seperti halnya di Afganistan, Palestina dan lain-lain , kemudian bagaimana pada akhirnya dia sadar dan menemukan jati dirinya bahwa Selma ini perbuatan radikalnya adalah hal yang salah dan tidak mungkin diteruskan. Dari hal inilah kemudian Ali Fauzi beseta para mantan kombatan Poso dan Ambon ber inesiatih mengumpulkan para mantan narapidana teroris berada di dibawah naungan yayasan lingkar perdamayan. Maka tak cukup dari itu tentunya mereka para mantan narapidana teroris setelah mereka keluar dari penjara mereka seolah kehilangan keluarga, sanak famili terutaama pekerjaan mereka yang nantinya

36

(20)

20

menjadi penopang hidup mereka, maka mereka pun perlu diberikan pembinaan, pelatihan seperti halnya di atas pelatihn jurnalistik dan menghadirkan narasumber dari eksternal yayasan lingkar perdamayyan serta dihadiri pula oleh pihak keamanan polisi dari kabupaten Lamongan.

Langka yang kedua adalah menetapkan Target. Adapun yang menadi target dari didirikannya yayasan lingkar perdamayan adalah menubah minsed para mantan narapaidana teroris dari ideology marah mejai ideology ramah, dari ideology destruktif menjadi konstruktif, dari mereka yang menjauh dari tatanan kehiduan di NKRI bagaimana mereka kembali ke pangkuan ibu pertiwi.Untuk mencapai targget ini bermacam upaya yang dilakukan oleh yayasan lingkar perdamayan langkah utama adalah melakukan komunikasi dengan pelaku tindak pidana kasus teroris yang kemudian bergabung dalam yayasan lingkar perdaayan.

Salah satu penyebab kenapa mereka masuk pada dunia teroris. tak lain yang menjadi alasan mereka adalah mereka ( para Eks Napiter dicuci otaknya hingga yang awalnya mereka Islam ramah hingga berubah total menjadi Islam garis keras.

Salah seorang teroris menuturkan tentang bagaiman langkah atau pertanyaan yang di ajukan padanya dan kemuadia dia berubah menajdi radikal. salah satunya adalah dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan yang membuat dia tidak sengaja seolah digiring pada Islam garis keras. Sebagaimana di ungkapkan oleh Nasyir Abbaas salah satu mantan narapidana teroris yang sudar sadar dan kembali kepangkuan ibu pertiwi dia menuturkan bahwa :

Saya dulu menjadi teroris pada usia 18 tahun pada waktu itu saya pertama kali ikut berperang di afganistan. Disana saya di ajari bagaimana memegang senjata hingga merakit Bom. Pada awalnya saya bertemu dengan Abu Bakar Basyir dari pertemuaninilah kemudian saya seolah sapi yang dicucuk hidungnya hingga tidak berdaya seolah robot yang bergerak dengan remot control. Saya tidak tahu pada waktu itu apakkah jalan saya ini benar atau keliru.

Ada beberapa trik pertanyaan dari mereka (Islam garis keras) yang kemudian mampu merubah minsed seseorang salah satunya adalah mereka merubah minsed dengan cara mengajukan pertanyaan tentang hakikat agama. Semisal anak santri yang sudah bebrapa bulan di bina oleh kiai. Lalu mereka di tanya tentang siapa yang paling mulia antara prisiden Jokowi dan Nabi Muhammad, mana mulya antara UUD dan kitab suci Al Quran. Dari pertnyaan inilah maka sepontan mereka tidak sadar nantinya digiring untuk berfikiran radikal. Maka

(21)

21

tentunya dengan jawaban-jawaban bahwa nabi Muhammad lebih mulia dari bpk Jokowi, Al quran lebih mulia dari pada UUD 1945.37

Dari penuturan di atas tampak jelas bahwa mereka melakukan tindakan radikal sebab telah dicuci otaknya. Bayangkan saja ketika perbandingan yang sangat jauh kemudian ditanyakan kepada mereka. Nami Muhammad dibandingkan kemuliannya dengan Prisiden RI, UUD 1945 dibandingkan dengan kesucian Al Quran adalah hal yang sebenarnya bukan sepantasnya dibuat perbandingan. Namun pertanyaan-pertanyaan inilah yang mampu menggiring mereka kea rah radikal. Radikal utama disebabbkan paradigm berfikir maka program deredekalisasi yang dilakukan oleh yayasan lingkar perdamyan menargetkan agar mereka sadar bahwa tindakan yang dilakukan mereka selama ini adalah salah. Kensepsi yang melekat bahwa polisi adalah bugat, polisi adalah mahluk yang harus dibinasakan sebagaimana yang di alami oleh Ali Fauzi sendiri yang kemudian merubah minsed ini semua. Tergat selanjutnya setelah mereka dirubah minsednya mereka senantiaa dibina dan dijaga, tidak sekedar itu harapan kedepannya adalah bagaimana mereka (mantan narapidana teroris) setelah dibina di yayasan lingkar perdamayan mereka kembali kekampung, rumah mereka masing-masing dan sudah bisa diterima tanpa menerima cemooan dari keluarga hingga masyarakat sekitar mereka.

Setelah mereka mulai sadar bahwa selama ini apa yang mereka lakukan itu salah maka langka selanjunya selalu memberikan pelayanan terhadap mereka (para mantan narapidana teroris) dengan bermacam kegiatan edukasi seperti pelatihan jurnalistik yang bertujuan melatih mereka bisa menulis, serta pelatihan membuat kue dan memelihara hewan kedua program ini ditunjukan sebagai penopang kehidupan mereka nantinya setelah mereka pulang keruma mereka masing-masing. Mereka (para mantan narapidana teroris) setelah beberapa tahun mendekam dipenjara ada yang delapan tahun, ada yang sepuluh tahun, hingga lima belas tahun maka kehidupan ekonomi mereka pun bermula dari nol. Maka edukasi pelatihan-pelatihan inilah sebagai modal dan bekal mereka nantik.

3737

Statedmen yang diucapkan oleh mantan narapidana teroris dan sekarang sudah sadar dan berbaur dengan masyarakat luas.

(22)

22

Adapun yang ketiga adalah menyusun Pesan. Dalam teori teori penggunaan bahasa yang diungkapkan oleh Hafied Cangara, yakni over power’em theory, glamour theory, dan don’t tel’em theory yayasan lingkar perdamayan mengaplikasikan glamour theory dengan menghadirkan tokoh-tokoh sukses sukses serta tokoh-tokoh yang betul-betul pro terhadap eksistensi dari didirikannya myayasan lingkar perdmayan. Ali Fauzi sebagai pendiri selalu memberikan motifasi-motifasi perdamayan kepada para mantan narapidana teroris. Ali bercerita bahwa dirinya sempat mempunyai pemikiran yang sama dengan mereka. Ali berfikiran bahwa polisi dan segenap jajaran keamanan Negara adalah togut dan melakan penghianatan terhadap agama dan bangsa. Konsep bahwa polisi jahat, polisi togut ini terkikis ketika dirinya dulu sakit hingga muntah darah dan dia pada waktu itu ditolong oleh seorang polisi. Hal inilah yag serig Ali Fauzi ceritakan kepada mereka hingga dari pesan yang sifatnya informatif-edukatif ini diterima oleh para mantan narapidana teroris yang berda di yayasan lingkar perdamayan.

Dalam buku yang ditulis oleh Hafied Cangara dengan judul Perencanaan dan Strategi Komunikasi disebutkan bahwa ada tiga jenis sifat pesan, yakni pesan yang bersifat informatif, persuasif, dan edukatif. Sifat pesan informasi adalah menjelaskan Sesutu kepada orang lain, jenis pesan informasi ini teragi menjadi dua yaitu informasi secara aktual dan informasi secara umum. Selanjutnya pesan yang sifatnya persuasif mempunyai proposisi bahwa adanya hasil yang diterima sumber atas pesan yang dia sampaikan kepada komunikan, dalam artian perubahan pada diri komunika yang menjadi skala prioritasnya. Ketiga adalah pesan yang bersifat edukatif maka yang menjadi titik tekan dari model jenis pesan ini adalah pada unsur kognitif, afektif, dan psikomotorik.38 Dalam model penyampaian pesan tidak cukup hanya sekedar faham atau tahu ( kognitif) tapi bagaimana pesan itu mampu dipahami hinga menadi malaka dalam diri seseorang (efektif) selanjunya pesan yang diterima itu dikatakan benar berhasil manakala pesan itu di praktikkan pada tataran kehidupan nyata (psikomotorik).

Berdasrkan wacana di atas dapat dikatakan n tbahwa pesan-pesan yang dismpaikan oleh yayasan lingkar perdamayan melewati ketua yayasan lingkar perdamayan hingga menghadirkan tokoh-tokoh dari luar sudah mengandung ketiga nilai

38

H. Hafied Cangara, Perencanaan & Strategi Komunikasi. (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2013), 116-120

(23)

23

jenis di atas missal kalau kita berbicara jenis pesan informatif, Ali Fauzi sebagai pendiridibantu oleh para kombatan sering meng informasikan kepada jamaah yang ada di Yayasana lingkar perdamayan untuk selalu menjaga kedamayan, keutuhan NKRI menolak berita hoax hingga kemarin meng informasikan kepada anggota yayasan lingkar perdamayan serta seluruh pekti denanduduk Tenggulun untuk mengikuti upacara di peringatan HUT RI. Selanjutnya pesan –pesan dari yayasn lingkar perdamayan inipun termasuk kategori edukatif, hal ini terbukti dengan di adaknnya pendampingan, kegiatan seminar-seminar Ilmiyah, pelatihan peternakan hewan, hingga pembuatan kue yang sengaja diberikan kepada para mantan nara pidana teroris.

Selanjutnya sebagai strategi komunikasi yang terakhir adalah pentingnya Pemilihan Media. Hafied Cangara menyebutkan bahwa untuk sasaran masyarakat yang luas, pesan sebaiknya disampaikan melalui media massa. Pilihan media yang digunakan dalam Pembinaan ini juga juga dengan media sosial seperti berita-berita yang ditulis diwebset hingga youtube. Hal ini dilakukan agar dunia tahu bagaimana upya yayasan lingkar perdamayan ini betul-betul ada dan di implementsikan. Jadi dengan upaya ini slogan bagi bagi desa Tenggulun sebagaimana yang di ungkapkan kepala desa Tenggulun bahwa desa Tenggulun adalah desa hitam, desa tenggulun saragnya teroris terkikis dengan berdirinya yayasan lingkar perdamayan di desa ini. Yayasan ini sering didatangi oleh para wartawan, mereka para wartawan meraa tergugah untuk meliput beberapa kegiatan yang di adalakn yayasan ini bekerjaama dengan instansi-instansi setempat. Setelah itu berita-berita itu disbarkan di media sosial.

(24)

24 Penutup

Untuk mempermudah membaca dalam pembahasan ini maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Yayasan lingkar perdamayan adalah yayasan yang didirikan oleh Ali Fauzi bersama para mantan teroris. Yayasan ini menjadi salah satu yayasan yang bergerak di bidang control Flow Integrity dengan tujuan mengubah mindset keluarga mantan narapidana teroris - para mantan teroris kejalan Islam ramah bukan marah dan menjauhkan mereka dari sikap-sikap distruktif. Ali Fauzi selaku ketua mengumpulkan sejumlah eks kombatan dan mengjak mereka bersama-sama menggaungkan nilai-nilai perdaayan dunia.

2. Startegi komunikasi tindakan yayasan lingkar perdamayan telah sesuai dengan teori-teori komunkasi yaitu bagaimna menetapkan memilih dan memilah komunkator yang handal yang betul-betul kompenten di bidunianya seprti oleh ketua yayasn lingkar perdamayan yang diketuai sendiri sebab Ali fauzi adalah orang yang sama-sama mempunyai sejarah kelam dan tahu bagaimana psikologi mereka para (mantan narapidana teroris). Selanjutnya menentuan target sarsaran yang menjadi sasaran utama didirikannya yaysan lingkar perdamayan adalah merubah minsed radikal menjadi minsed yang humanis. Pola fikir yang marah menjadi ramah. Menyusun pesan-pesan perdamayan demi membangnu negeri menciptakan wajah perdamayan dunia. Tidak cukup itu saja maka perlu kiranya media yang memberikan informasi bahwa Tenggulun yang dulunya adalah sarangnya teroris sekarang drastic berubah menjadi desa, pusat deredekalisasi. Maka terkait hal ini perlu adanya media informasi yaitu dengan menggunakan media websett ataupun berita-berita di youtube tentang desa tenggulun dan eksistensi dari yayasan linkar perdamayan.

(25)

25

Daftar Pustaka

Ahmadi, Rulam, Metodologi Penelitinaloan Kualitatif, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2014

Amirsyah, Meluruskan Salah Paham Terhadap Deradikalisasi Pemikiran, Konsep dan Strategi Pelaksanaan, Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2012

Buntele, Gunter & Howard, Nothhaft., Strategic Communication and the Public Sphere form a European Perspective, International Journal of Strategic Communication, Vol.4 No.2, 2010

Cangara, H. Hafied, Perencanaan & Strategi Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada 2013

Farid Septian, pelaksanaan deradikalisasi narapidana terorisme di lembaga pemasyarakatan kelas i cipinang, (Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 7 No.I Mei 2010

H. Hafied,. Perencanaan & Strategi Komunikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada 2013

Hannani, Silfia, Menggali Interaksi Sosiologi dan agama, Bandung : Humaniora, 2012

Husein Umar, Strategic Management in Action. (Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama, 2001

J. Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kuantitatif. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya , 2014

Khaerunisa,Yanuarti, Ulfah. Counter Terrorism bagi Pelaku Tindak Pidana Terorisme di Indonesia,Uin Depenegoro Semarang, 2014

Rumadi, Terorisme Pasca Eksekusi Amrozi CS, Lihat pada WWW. Gusdur Net di akses pada 17 Agustus 2018

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: alfabeta, 2015

Sujarweni, V. Wiratna, Metodologi Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2014

Suyanto, Deredakalisasi Agama Melalui Pendidikan Multikultural-Iksklusif : Studi Pada Pondok Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo. PROFETIKA, Jurnal Studi Keislaman Vol 15 No 2 Desember 2014

Uchyana, Onong, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003

Umar, Husein, Strategic Management in Action. (Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama, 2001

(26)

Referensi

Dokumen terkait