Universitas Kristen Petra 9
2. ANALISIS DAN TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan Literatur Tentang Buku 2.1.1 Pengertian Buku
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua (152), buku adalah lembaran kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong, kitab, sedankan buku bacaan adalah buku untuk pelajaran memabaca (bagi anak sekolah), buku yang dibaca sebagai pengisi waktu. Buku dapat berupa acuan atau refrensi atau pedoman dalam melaksankan suatu, indormasi baik yang berupa ajaran atau pengetahuan, sejarah, hiburan, pernyataan, kebijaksanaan, nilai dan lainnya.
Buku memiliki arti yang sangat luas tergantung degnan jenisnya. Buku juga adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu unjungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. Seiring dengan perkembangan dalam bidang dunia informatika, kini dikenal pula istilah e-book atau buku elektronik, yang mengandalkan computer dan internet. Buku memiliki berbagai kelebihan dibandingkan media penyampai informasi secara audio visual, di mana buku dapat dimiliki secara nyata, dapat dibaca di mana saja dan kapan saja.
2.1.2 Fungsi dan Peranan Buku Dalam Kehidupan Sosial
Pada jaman modern yang serba elektronik, keberadaan buku masih dibicarakan sebagai sarana komunikasi yang tidak pernah usang dan tidak tergantikan karena memiliki beberapa keunikan yang tidak terdapat pada media lain.
Soepena Ps (hal.57) mengemukakan beberapa keunikan buku yang tidak dimiliki oleh media lain, yaitu : (a) Buku itu Mandiri, dimana untuk menggunakan buku orang tidak harus menyediakan listrik, walaupun listrik dapat diperoleh dari baterai dan nyatanya belum ada yang umur pemakainya tidak terbatas. Kehadiran buku tidak menuntut kehadiran alat elektronik, tetapi sebaliknya penggunaan alat elektronik selalu memerlukan buku panduan atau keterangan tertulis lainnya,
Universitas Kristen Petra 10
terutama pada saat masih baru dikenal. Makin canggih sebuah alat elektronika makin tebal buku panduannya dan juga makin penting keberadaan buku panduan tersebut, bahkan buku panduan tidak hanya terdiri dari satu jilid. Buku panduan tersebut bahkan disimpan dengan rapi dan aman agar pada saat dikemudian hari ada masalah dengan alat elektronika tersebut, dapat mudah diatasi dengan melihat buku panduan tersebut, (b) Buku itu Ringkas, dimana buku memiliki spesifikasi yang lebih kecil ukurannya dibandingkan alat elektronik bahkan ada kamus yang dapat dimasukan dalam kantong. Dengan buku orang dapat merasa lebih tenang dalam pekerjaannya, karena setiap saat selalu dapat menyimak apa yang ingin dicarinya dalam barang yang dapat diselipkan dalam tas atau bahkan dalam kantong, (c) Buku Dapat Bersifat Pribadi, dimana dalam hal-hal tertentu buku dapat dipandang sebagai penasehat pribadi. Penggunanya tidak malu, karena tidak merasa dilecehkan atau diperbodoh oleh buku waktu mencari jawaban dalam buku terhadap masalah yang dihadapinya. Disamping itu buku dapat disimak hampir dimana saja, karena tidak menarik perhatian orang banyak, sehingga si pengguna tidak merasa risih. Jika dikehendaki pada buku dapat ditambahkan catatan tangan sesuai keperluan. Catatan semacam ini biasanya bersifat pribadi, dalam arti hanya dipahami oleh pembuatnya sendiri akan tetapi memiliki arti yang khusus, (d) Buku itu Pasif, artinya pengguna tidak dipacu menurut kecepatan bunyi suara yang seperti dihasilkan recorder, tetapi pengguna secara bebas menentukan kecepatannya sendiri dalam membaca buku, bahkan kalau dianggap perlu buku dapat ditinggalkan dan dibiarkan terbuka sehingga pengguna tidak susah-susah mencari kembali pada bagian yang sama seperti yang ditinggalkan sebelumnya, (e) Urutan Membacanya Bebas, artinya bahwa dalam penataannya sebuah buku disusun secara sistematis, tetapi pengguna tidak dituntut harus selalu membaca dari awal. Pengguna bebas membaca pada bagian-bagian tertentu dalam buku tersebut dan aktivitas tersebut dapat dengan mudah dilakukan. Kemudahan dalam pemakaian semacam ini tidak akan dijumpai pada tape recorder yang berisi pidato seorang tokoh yang penting. Jangankan menandai dengan garis bawah pada bagian yang menarik, mencarinya kembali pun susah sekali. Bayangkan betapa sulitnya menggunakan buku pelajaran yang diubah bentuknya menjadi rekaman suara dalam tape recorder, (f) Buku itu
Universitas Kristen Petra 11
Lengkap , artinya tidak hanya berisi teks sebagai bahan intinya saja, tetapi juga ada nomor halamannya, ada daftar isinya, kadang-kadang juga berisi indeks dan atau glosarium. Dengan kata lain buku disusun menurut tujuan tertentu. Kelengkapan buku bergantung tujuan penulisan buku. Dalam buku yang berisi kumpulan cerpen atau puisi, misalnya indeks dan glosarium tidak diperlukan; tetapi buku ajar yang sarat dengan informasi intelektual, indeks dan glosarium sangat membantu pembacanya, (g) Buku sebagai sumber belajar. artinya Sifat buku sebagai sumber belajar sudah tidak perlu diragukan lagi. Di samping dapat disimak pelan-pelan menurut irama atau kemam puan si pengguna; buku dapat ditambahi dengan tanda atau coretan seperti garis bawah, atau catatan tangan di mana diperlukan. Kalau buku tertulis dalam bahasa asing, yang kurang dipahami secara lancar oleh penggunanya dapat ditambahkan catatan terjemahannya secara sederhana yang diambil dari kamus yang saat itu sama-sama dibuka. Kalimat pun dapat diulang-ulang untuk menyelami makna sebenarnya. Dikemudian hari kalau pengguna masih kurang ingat, catatan yang lama dapat membantunya.
Dibanding dengan penjelasan lisan, buku bersifat lebih stabil, dalam arti tidak berubah-ubah seperti penuturan lisan. Kalau dianggap perlu dapat diulang-ulang penyimakannya bahkan sam pai hafal. Perujukan lebih muda diikuti karena sifatnya yang visual atau tampak pada penglihatan sehingga kehadiran sumber rujukan di halaman lain tidak terlalu menyulitkan pemakai. Penggunaan buku lain sebagai sumber belajar dapat dilakukan dengan mudah bahkan buku lain ini dapat berarti dua atau tiga buku, misalnya kamus, tabel dan peta. Hal semacam ini susah dilakukan dengan alat elektronik tanpa buku.
2.1.3 Sejarah dan Perkembangan Buku
Pada zaman kuno, masyarakat mengandalkan tradisi menghafal secara lisan, penyampaian suatu berita, informasi, cerita memalui lisan dari mulut ke mulut, maka setelah semua informasi tersebut sudah terlalu banyak dan akhirnya mereka tidak dapat menghafalkannya lagi akhirnya mereka mulai terpikir untuk menuliskan agar dapat disimpan dan dibaca lagi dalam bentuk tulisan.
Pada awal tamadun, manusia telah menurunkan tulisan mereka diatas batu, papan dan juga diatas daun atau juga di atas kertas yang tersebut dari daun
Universitas Kristen Petra 12
papyrus (nama ilmiah: Cyperus Papyrus). Medium tulisan ini telah menjadi bentuk proto bagi buku. Buku pertama muncul dan dikenal dari terciptanya kertas papyrus pada tahun sekitar 2400 SM orang Mesir menciptakannya. Adapun kertas papyrus yang diturunkan tulisan ini digulungkan untuk menjadi “skrol” (scroll) dan ia diyakini adalah bentuk buku yang palinga awal.
Kira-kira pada tahun 2400 SM, bangsa Mesir telah memanfaatkan tanaman papyrus sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Papyrus
adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak tumbuh di tepian lembah Sungai Nil.
Mereka pada saat itu membuat kertas dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus papyrus, sebelum kertas seperti yang kita kenal sekarang ini ditemukan.
Begitu pula dengan di Negara Cina sebelum terciptanya kertas, para cendekiawan menurunkan tulisan mereka di atas lidi buluh dan mengikat lidi ini menjadi buku. Dengan menulis di atas lidi telah mempengaruhi system tulisan Cina sehingga orang Cina mengamalkan tulisan menegak sehingga pada awal modern Buku memasuki satu era yang baru apabila industri kertas menjadi mantap. Kertas dipercayai mencul di negeri Cina seawal-awalnya pada 200 SM, pencipta kertas, yang memicu lahirnya era baru dunia perbukuan itu bernama Cai Lun, yang berkebangsaan Cina. Hidup sekitar tahun 105 Masehi pada zaman Kekaisaran Ho Di di daratan Cina. Penemuan Cai Lun telah mengatarkan bangsa Cina mengalami kemajuan. Sehingga, pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia. Setelah itu, dunia perbukuan terus berkembang dengan ditemukanya mesin cetak untuk pertama kali oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Johann Gutenberg (1400-1468).
Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembutan buku yang dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinya kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg mampu menggandakan cetakan denga cepat dan jumlah banyak.
Universitas Kristen Petra 13
Gutenberg memulai pembutan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik cetak yang di temukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.
Sejak pertama kalinya ditemukan kertas hingga terciptanya buku, buku diartikan sebagai jaminan terhadap resiko kehilangan informasi tradisional lisan yang tidak memungkinkan untuk disimpan di dalam ingatan/memori dalam waktu jangka panjang. Selain itu juga dapat berupa catatan mengenai formula-formula magis, berbagai upacara dan ritual, hukum, catatan kerajaan/dinasti, pengalaman dalam bidang pengobatan dan pengamatan terhadap alam. Hal-hal itulah yang menjadi isi dari buku pada mulanya.
Cara pengerjaan berupa penulisan, penggandaan, dan penghiasan di jaman dahulu dikerjakan secara manual dengan tangan. Dan kesemuannya itu mendukung terjadinya kemajuan yang pesat dalam hal pembuatan buku serta publikasinya.
Buku bacaan dalam lingkup dunia, sudah semestinya telah mengalami perkembangan pada tahap di mana semua orang dapat menemukan apapun yang ingin mereka temukan dalam sebuah buku. Setiap hal dan tema telah dikelompokkan dengan rapid an disatukan dalam bentuk buku dan dipublikasikan atas dasar kebutuhan masyarakat dunia.
2.1.4 Bentuk dan Jenis Buku
Berikut adalah macam-macam jenis buku yang ada saat ini: • Novel
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita.Penulis novel disebut novelis.Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak.Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.
Universitas Kristen Petra 14
Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.Majalah adalah penerbitan berkala yang berisi bermacam-macam artikel dalam subyek yang bervariasi.
• Majalah
Majalah (bahasaInggris: magazine, periodical, glossies atau serials) adalah penerbitan yangdicetak menggunakan tinta pada kertas, diterbitkan berkala, misalnya mingguan, dwimingguan, atau bulanan. Majalah berisi bermacam-macamartikel dalam subyek yang bervariasi, yang ditujukan kepada masyarakat umum dan ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang. Biasanya, majalah didanai oleh iklan, harga penjualan, biaya berlangganan yang dibayar di awal, atau ketiganya.
Publikasi akademis yang menulis artikel padat ilmu disebut jurnal ilmiah. • Kamus
Kamus adalah sejenis buku rujukan yang menerangkan makna kata-kata. Ia berfungsi untuk membantu seseorang mengenal perkataan baru. Selain menerangkan maksud kata, kamus juga mungkin mempunyai pedoman sebutan, asal-usul (etimologi) sesuatu perkataan dan juga contoh penggunaan bagi sesuatu perkataan. Untuk memperjelas kadang kala terdapat jugailustrasi di dalam kamus. Biasanya hal ini terdapat dalam kamus bahasa Perancis.
Kata kamus diserap dari bahasa Arab qamus dengan bentuk ,)سﺱوﻭمﻡاﺍقﻕ( jamaknya qawamis. Kata Arab itu sendiri berasal dari kata Yunani Ωκεανός (okeanos) yang berarti 'samudra'. Sejarah kata itu jelas memperlihatkan makna dasar yang terkandung dalam kata kamus, yaitu wadah pengetahuan, khususnya pengetahuan bahasa, yang tidak terhingga dalam dan luasnya. Dewasa ini kamus merupakan khazanah yang memuat perbendaharaan kata suatu bahasa, yang secara ideal tidak terbatas jumlahnya.
• Komik
Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat
Universitas Kristen Petra 15
diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.
• Panduan
Disebut juga buku petunjuk, misalnya buku tentang beternak ayam, berkebun kelapa sawit, kiat memperoleh dan kiat menjalani beasiswa di luar negeri, dan sebagainya.
• Ensiklopedia
Ensiklopedia adalah sejumlah tulisan yang berisi penjelasan yang menyimpan informasi secara komprehensif dan cepat dipahami serta dimengerti mengenai keseluruhan cabang ilmu pengetahuan atau khusus dalam satu cabang ilmu pengetahuan tertentu yang tersusun dalam bagian artikel-artikel dengan satu topik bahasan pada tiap-tiap artikel yang disusun berdasarkan abjad, kategori atau volume terbitan dan pada umumnya tercetak dalam bentuk rangkaian buku yang tergantung pada jumlah bahan yang disertakan.
2.1.5. Basis Media Buku
Hal pertama yang menjadi acuan masyarakat dalam memilih sebuah buku ialah ditinjau dari cover (sampul) dan kemasan dari buku. Penerbit-penerbit buku pada umumnya hingga sekarang masih menggunakan standart desain buku yang meliputi judul buku, nama pengarang, serta gambar atau ilustrasi pendukung yang di gunakan sebagai salah satu daya tarik buku. Akan tetapi seiring dengan berkembangnya zaman ada penerbit-penerbit buku tertentu yang dalam mendesain
cover dan halaman buku keluar dari batasan - batasan umum buku. Jianping He berpendapat bahwa “Desain buku harus sesuai dengan konsep buku. Desainer harus memahami isi buku secara keseluruhan secara visual” (River 6). cover buku yang baik harus dapat menginformasikan kepada audience tentang apakah isi dari buku tersebut (River 9).
Universitas Kristen Petra 16
2.1.6 Elemen Buku Layout
Pada dasarnya layout dapat dijabarkan sebagai tata letak elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam media tertentu untuk mendukung konsep/pesan yang dibawanya. Elemen layout diantaranya:
Elemen teks dan tipografi
Teks merupakan salah satu elemen layout terpenting. Selain elemen visual, elemen teks juga memberi segala informasi yang dibutuhkan oleh target audience. Elemen teks diantaranya judul ,deck, byline, bodytext, subjudul, pull quotes, caption, callouts, kickers, initial caps, indent, lead Line, spasi, header & footer, running head, catatan kaki, nomor halaman, jumps, signature, nameplate, masthead.
Elemen-elemen teks dengan fungsinya masing-masing saling bekerjasama satu dengan lainnya. Judul menarik perhatian orang untuk membaca artikel tersebut, deck memberikan sedikit ulasan tentang isi bacaannya, byline memberitahukan siapa penulisnya, bodytext merupakan isi bacaan utama, subjudul membagi isi menjadi segemen-segmen sehingga tidak terlalu panjang dan melelahkan mata, dan seterusnya.
Elemen visual
Yang termasuk dalam kelompok elemen visual adalah semua elemen bukan teks yang terlihat dalam suatu layout. Elemen visual diantaranya foto, artworks, infographics, garis, kotak, inzet, poin. Kekuatan terbesar dari fotografi ada pada kredibiltasnya atau kemampuannya member kesan dapat dipercaya.
Artworks menyajikan informasi yang lebih akurat, kadang pada situasi tertentu ilustrasi menjadi pilihan yang lebih dapat diandalkan dibandingkan fotografi. Artwork meliputi ilustrasi, kartun, sketsa, dan lain-lain yang dibuat secara manual maupun dengan computer.
Infographic merupakan fakta-fakta dan data-data statistic hasil survey dan penelitian yang disajikan dalam bentuk grafik, table, diagram, bagan, peta, dan lain-lain.
Universitas Kristen Petra 17
Garis merupakan elemen desain yang dapat menciptakan kesan estetis pada suatu karya desain. Dalam layout, garis mempunyai sifat fungsional membagi suatu area, penyeimbang berat dan sebagai elemen pengikat system desain supaya terjaga kesatuannya.
Pada pokoknya tiap elemen layout yang tidak terlihat, baik berupa teks maupun visual saling bekerja sama untuk membangun sebuah layout dengan tujuan dan konsep-konsep yang dibawanya.
Elemen tidak terlihat (invisible element)
Elemen yang tergolong kedalam invisible element merupakan fondasi atau kerangka yang berfungsi sebagai acuan penempatan semua elemen layout lainnya. Selayaknya fondasi atau kerangka sebuah bangunan, elemn inilah yang dirancang terlebih dahulu oleh desainer, baru kemudian menyusul elemen-elemen teks dan visual. Dan sesuai namanya, invisible element ini nantinya tidak akan terlihat pada hasil produksi (tidak ikut dicetak).
Walau demikian elemen-elemn ini mempunyai fungsi yang sangat penting, apalagi bila layout akan menggunakan elemen teks yang banyak atau banyak halamannya. Dalam kondisi seperti itu invisible elements akan bermanfaat sebagai salah satu pembentuk unity dari keseluruhan layout. Invisible elements mencakup margin dan grid.
Margin menetukan jarak antara pinggir kertas dengan ruang yang akan ditempati oleh elemen layout. Margin mecegah agar elemen-elemen.layout tidak terlalu jauh ke pinggir halaman. Namun ada juga yang sengaja meletakkan elemen layout jauh ke pinggir halaman bila memang konsep desain tersebut mengharuskan demikian dan sudah melalui pertimbangan estetis sebelumnya.
Grid adalah alat bantu yang sangat bermanfaat dalam melayout. Grid mempermudah menentukan dimana harus meletakkan elemen layout dan mempertahankan konsitensi dan kesatuan layout terlebih untuk karya desain yang mempunyai beberapa halaman.
Universitas Kristen Petra 18
2.1.7. Kategori Teknik Cara Pembuatan Buku a. Persiapan Naskah
Naskah adalah wajib. Naskah yang dibutuhkan adalah naskah yang utuh. Naskah yang utuh adalah naskah yang urut membentuk sebuah kesatuan cerita. Di dalam naskah itu ada tema, plot/alur, tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang semuanya membingkai dalam kesatuan cerita. Sebaiknya baca dan baca kembali naskah sampai betul-betul bisa disimpulkan bahwa naskah itu layak diajukan ke penerbit.
b. Penyuntingan
Proses penyuntingan dilakukan dengan cara menyunting naskah, meliputi penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan, tata bahasa dan susunan cerita. Proses editing bisa dilakukan oleh diri sendiri maupun editor freelance yang bisa disewa, atau dapat menyerahkan semua proses editing ini pada pihak penerbit.
c. Layout
Layout disebut juga tampilan. Sebelum dicetak, sebuah naskah harus dibuat layout dulu, meliputi ukuran kertas, jenis kertas cover, jenis kertas isi, tebal halaman, bentuk font dan template yang digunakan. Jika anda mampu membuat layout buku, ini adalah sebuah keunggulan tersendiri. Dan tentunya akan meringankan beban biaya penerbitan nanti. Anda bisa menggunakan aplikasi seperti Microsoft Word.
d. Design Cover
Cover atau sampul buku merupakan bagian yang tidak bisa dianggap sepele, karena bagian inilah yang pertama kali dilihat oleh peminat/calon pembeli. Cover yang menarik pasti akan merangsang minat orang untuk membeli buku tersebut. Jadi, buatlah cover dengan design yang menarik dan mencerminkan isi buku. Anda bisa membuat desain cover dengan menggunakan aplikasi Corel Draw atau Photoshop.
e. Mengurus ISBN
Setiap buku yang akan diterbitkan, harus mendapat nomer identitas terlebih dulu dari kantor layanan ISBN. ISBN adalah singkatan dari International Standard Book Number. Untuk pengurusan ISBN di Indonesia bisa datang ke
Universitas Kristen Petra 19
kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (“Langkah-Langkah Self Publishing, Cara Menerbitkan Buku Sendiri”, par 8).
2.1.8 Kriteria Buku Yang Baik
Buku merupakan kebanggaan penerbit, bukan hanya karena isinya namun juga karena penampilannya. Berikut adalah Kriteria buku yang baik ditinjau dari desain dan produksi (Ensiklopesia Nasional Indonesia, 519-520) :
• Komposisi
Merupakan tahap pertama pembikinan buku, yang terdiri dari dua langkah : tata huruf (typesetting) dan rias halaman (make up). Langkah ketiga adalah membuat cetak coba (proof)untuk mengoreksi kesalahan.
• Tata Huruf
Meskipun peranti elektronik telah meningkatkan kecepatan dan efisiensi, namun hanya ada empat cara saja untuk mengubah kopi naskah menjadi bentuk yang dapat dicetak, yakni: menyusun cetakan logam dengan tangan, dengan mesin (mekanis), komposisi mesin ketik, dan komposisi fotografi. Komputer dan pita magnetic digunakan untuk melengkapi keempat metode dasar ini.
• Rias Halaman
Setelah cetakan selesai dipasang, unsure-unsur pada suatu halaman dirakit agar saling berhubungan dengan benar dan serasi. Dalam hal komposisi fotografi, rias halaman ini merupakan penyusunan film negatif dan positif.
• Cetak Coba
Biasanya dilakukan di atas kertas gulungan yang belum dipotong menurut halaman.
• Tipografi
Adalah teknik seni memilih dan menata huruf untuk percetakan, dan merupakan bagian terpenting dari desain buku. Ada dua hal yang harus diperhatikan oleh perancang : Kualitas cetak huruf dan kenyamanan membaca. Perancanag harus menjaga keseimbangan anatara semua faktor yang mempengaruhi kenyamanan baca: wajah huruf, ukuran hruf, panjang baris, tekstur kertas, pola halaman
Universitas Kristen Petra 20
(gambar, teks, garis pinggir dan hiasan), ruang antar baris, kontras antara huruf dan kertas dan kesesuaian banyakanya halaman dengan isi buku.
• Percetakan
Perancang buku harus mengetahui teknik apa yang aka digunakan untuk mencetak buku itu, jelasnya pembuat plat cetak. Ada dua masalah percetakan warna: warna itu sendiri dan proses warna. Masalah pertama mencangkuo apakah warna yang digunakan warna datar (warna garis) ataukah warna separo-nada, warna yang digunakan untuk mencetak setengah nada dalam suatu warna tunggal. Proses warna berarti menghasilkan ulang dalam warna-warni asli suatu lukisan atau potret berwarna.
• Penjilidan
Lebih rumit daripada yang diduga orang awam. Dalam proses pembuatan buku, penjilidtan memakan cukup banyak bagian waktu; terdapat misalnya 18 operasi yang berlainan dan melibatkan selusin bahan untuk menjilid sebuah buku bersampul tebal (hard cover), pungging kertas (paperback) dan cara mekanis lainnya ( misalnya penjilidan sengan kawat spiral)
Penjilidan dimulai dengan melipat kertas ini dapat dilakukan dengan mesin atau dengan tangan.Mesin cetak rotari mencetak dan melipat pada waktu yang hampir bersamaan. Kemudian ditempelkan lembar-lembar ujung pada berkas lipatan (signature)pertama dan terakhir; gambar-gambar lepas disisipkan pada tempat yang benar dan kemudian digabung menjadi buku.
Langkah berikutnya adalah perkuatan; umumnya ini dilaksanakan dengan menempelkan potongan kain sepanjang panggung berkas-lipatan pertama dan terakhir.Dapat pula digunakan jahitan jepit yang tersiri atas 2 atau 3 baris jahitan tambahan pada berkas pertama dan terakhir itu.
Setelah dijahit, buku dikempa pada tengkanan tinggi untuk memeras udara agar keluar dari antara kertas, memampatkan kertas dan memperoleh buku sebagai satu satuan padat.Selanjutnya punggung buku diolesi tipis-tipis perekat yang lentur (tidak mudah retak).Buku itu kemudian dirapikan dengan mesin potong kertas. Masih ada beberapa proses lain sebelum sampul tebal dipasang, dengan tujuan memperkuat buku, dan memungkinkan buku itu terbuka dan terbaring dengan datar. Sampul yang terbuat dari karton dan telah dibubuhi tulisan dan
Universitas Kristen Petra 21
hiasan serta perlindungan lain ditempelkan pada punggung bagian dalam buku dengan perekat. Langkah terakhir adalah memasang baju (jaket), baik dengan tangan atau dengan menggunakan mesin, memasukannya ke dalam kotak, dan mengemas.
Kesimpulan yang didapat, dalam membuat sebuah buku yang bagus harus memperhatikan setiap elemen-elemen yang ada didalamnya. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan detail seperti pemilihan jenis kertas yang digunakan baik untuk isi buku itu sendiri maupun bahan cover, tonewarna dan tipografi yang digunakan, foto/gambar pendukung, ilustrasi dan dekorasi pendukung, serta elemen-elemen utama yang langsung dinikmati oleh mata pembaca seperti jenis cetak yang digunakan, model penjilidtan dan desain buku keseluruhan . Hal tersebut terntunya telah diselaraskan sesuai dengan siapa target audiencenya dan merupakan bagian dari sebuah konsep perancangan.
2.1.9 Prosedur Proses Perancangan Buku
Sebelum merancang sebuah buku ada tahap-tahap yang harus diketahui dan dikuasai. Berikut adalah prosedur dan proses dalam merancang sebuah buku.
a. Mencari Ide Gagasan
Langkah pertama adalah mencari ide gagasan yang berkaitan dengan sesuatu yang berpotensi yang telah dikuasai penulis.
b. Menentukan Topik
Topik merupakan suatu pokok dari sebuah pembicaraan atau sesuatu yang akan menjadi landasan dalam penulisan sebuah buku.Syarat sebuah topic: • Topik yang dipilih harus menarik perhatian
• Dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca
• Topik yang dipilih harus mempunyai sumber acuan yang jelas atau real, dll
c. Menentukan Tema dan Target Pembaca
Sebuah buku harus jelas target pembacanya. Dengan menentukan tema maka secara otomatis desainer telah menentukan target pembaca. Setelah tema dan target pembaca ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah
Universitas Kristen Petra 22
fokus pada tersebut. Ini sangatlah penting karena dengan fokus pada tema membuat isi buku yang dibuat menjadi lebih terarah.
d. Tentukan Bentuk Buku
Langkah ini cenderung lebih kompleks. Karena kita harus memilih jenis bahan kertas, ukuran majalah, tampilan halaman depan, dll. Sekali lagi ini sangat berhubungan dengan target pembaca kita. Jangan sampai kita salah memutuskan tampilan dan bentuk majalah kita dimana nanti akan berakibat pada tidak disukainya majalah kita tersebut oleh target pembaca majalah kita.
e. Tentukan Format Layout
Menentukan jumlah halaman yang akan dibuat. Ukuran font standar untuk isi sebuah buku adalah 9-10 point, sedangkan untuk jenis hurufnya disesuaikan menurut kebutuhan artistik. Hindari Copy-Paste gambar secara langsung, gunakan fungsi Import/Export atau File Place.Pengaturan Margin, akan lebih dinamis dan cantik bila menggunakan standar margin yang umumnya telah digunakan media cetak, gunakan margin standar 1,5 cm.Gunakan resolusi 300 dpi pada settingan gambar berwarna maupun greyscale (hitam putih), hal ini dilakukan untuk menghindari gambar pecah/pudar saat proses cetak berlangsung.
f. Tentukan Deadline
Penulis harus bisa menentukan kapan buku dapart terbit dengan cara menentukan waktu deadline terlebih dahulu. Dengan menentukan deadline, maka penulis seperti membuat ‘janji mati’ dengan para pembaca bukuyang akan dibuat.
g.Isi Materi Buku & Jumlah Kolom
Isi materi buku harus selalu berhubungan dengan tema utama dan sangat bisa diterima oleh para target pembaca. Mengenai jumlah kolom, buatlah sedemikian rupa sehingga tidak terlalu boros halaman namun pembaca tidak disulitkan oleh bentuk kolom yang tidak reader friendly.
Universitas Kristen Petra 23
Sebuah buku yang dilengkapi dengan foto atau gambar akan tampak lebih menarik bila dibandingkan dengan buku yang polos tanpa foto atau gambar. Hindari rasa bosan pembaca karena bisa mengakibatkan berkurangnya atau bahkan hilangnya para pembaca buku.
i. Pemilihan Judul
Judul adalah sebuah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku,atau kepala berita. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik yang sesuai dengan topik dan tema. Judul diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.Syarat sebuah judul : • Asli : Jangan menggunakan judul yang sudah pernah ada, bila terpaksa
dapat dicarikan sinonimnya.
• Relevan : Carilah judul yang relevan dengan isi buku( harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut).
• Provokatif : Judul tidak boleh terlalu sederhana, sehingga(calon) pembaca sudah dapat menduga isi karangan anda, kalau(calon) pembaca sudah dapat menebak isinya tentu karangan anda sudah tidak menarik lagi.
• Singkat : Judul tidak boleh bertele-tele, harus singkat dan langsung pada inti yang ingin dibicarakan sehingga maksud yang ingin disampaikan dapat tercermin lewat judul.
• Menarik perhatian
• Logis : Pemilihan judul harus logis dan masuk akal, bisa diterima nalar pembaca.
j. Membuat Desain Halaman Depan (Cover)
Buat desain cover semenarik mungkin karena halaman depan (cover) merupakan hal pertama yang akan dilihat calon pembaca untuk baru kemudian memutuskan untuk membeli atau tidak buku tersebut.
k.Penyusunan Materi
Data yang telah dikumpulkan baik berupa tulisan ataupun gambar, disusun secara sistematis menurut alur cerita dari buku agar memudahkan
Universitas Kristen Petra 24
pembaca mengerti dan jelas akan pesan yang ingin disampaikan dari buku tersebut.
l. Proses Cetak
Setelah semua langkah diatas berhasil terselesaikan, maka selanjutnya adalah melakukan proses cetak. Teliti dahulu semua artikel termasuk ejaannya supaya tidak menghabiskan banyak waktu dalam proses editing. Wajib memperhatikan komposisi coloring CMYK dan dianjurkan tidak menggunakan coloring RGB, karena pada saat mencetak khusus warna mesin offset selalu menggunakan CMYK.
Dianjurkan dalam membuat majalah, gunakan program pagemaker, adobe inDesign, adobe illustrator. Format penyimpanan gambar PSD, TIFF, EPS dan WMF.
m. Pendistribusian
Setelah proses cetak selesai, maka langkah terakhir yang harus dilakukan adalah mendistribusikan buku. Penulis bisa bekerjasama dengan para agen dan distributor buku di beberapa kota yang kita anggap memiliki target pembaca yang potensial.
2.2 Tinjauan tentang Marmer Tulungagung 2.2.1 Tinjuan Tentang Kabupaten Tulungagung
Dikenal dengan sebutan kota penghasil marmer yang produknya telah menembus pasar dunia, menjadikan Kabupaten Tulungagung sebagai salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi bisnis sangat menjanjikan. Terletak 154 km di barat daya Kota Surabaya, daerah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri di bagian utara, Samudera Hindia di sebelah selatan, Kabupaten Blitar di bagian timur, serta Kabupaten Trenggalek di sebelah barat.
Secara administratif, Kabupaten Tulungagung terbagi menjadi 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan. Berada pada ketinggian 85 m di atas permukaan laut (mdpl), bagian barat laut Daerah Tulungagung merupakan kawasan pegunungan, bagian tengah didominasi oleh dataran rendah, dan bagian selatan merupakan daerah pegunungan yang menjadi rangkaian dari Pegunungan Kidul. (Panen Untung Dari Potensi Bisnis Kabupaten Tulungagung Par 1)
Universitas Kristen Petra 25
Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu kabupaten yang kaya akan potensi, terutama potensi-potensi alam. Dalam bidang pertanian, Tulungagung termasuk salah satu penghasil padi terbesar di Jawa Timur maupun nasional. Potensi pertanian lainnya adalah jagung, sayuran maupun buah-buahan. Kondisi geografis dan iklim daerah Tulungagung sangat mendukung dan kondusif untuk digunakan sebagai area pertanian maupun perkebunan. Disamping itu potensi dalam bidang industri juga termasuk besar, dengan produk andalan berupa barang-barang kayu dan hasil hutan lain, tekstil, makanan dan kerajinan marmer dimana Tulungagung adalah penghasil marmer terbesar di Indonesia. Bidang peternakan yang menjadi unggulan adalah peternakan ayam, baik ayam kampung maupun ayam petelur. Selain itu, Tulungagung terkenal dengan peternakan sapi walaupun secara skala belum sebesar peternakan ayam. Potensi lain berasal dari laut selatan Tulungagung dengan berbagai objek pariwisata dan hasil perikanan yang melimpah.
Potensi Tulungagung dalam Bidang Industri
Kabupaten Tulungagung merupakan daerah yang memiliki potensi industri cukup baik, terutama untuk industri berskala kecil. Dinas Perindustrian dan Perdagangan mencatat bahwa pada tahun 2008 terjadi kenaikan jumlah industri sebesar 0,99% dengan jumlah industri yang terbanyak pada kelompok barang kayu dan hasil hutan lainnya yaitu sebanyak 3.000 unit, industri ini banyak terdapat di Gondang, Sumbergempol dan Ngunut. (Profil Kabupaten Tulungagung Par 4)
Universitas Kristen Petra 26
Berikut ini disajikan peta tematik yang menunjukkan potensi industri terbesar dari tiap-tiap kecamatan di wilayah kabupaten Tulungagung
Gambar 2.2. Peta Tematik Persebaran Industri Kecil
Potensi Tulungagung Dalam Bidang Pertanian
Luasnya lahan pertanian yang dimiliki kabupaten Tulungagung merupakan salah satu faktor besarnya kapasitas produksi hasil pertanian. Selain itu posisi kabupaten Tulungagung yang dilewati aliran sungai Brantas serta iklim dan kondisi tanah yang sangat kondusif menjadikan Tulungagung sebagai salah satu lumbung hasil pertanian terutama di Jawa Timur. (Profil Kabupaten Tulungagung Par 5)
Universitas Kristen Petra 27
Gambar 2.3. Diagram Pertanian
Berikut ini disajikan peta tematik yang menunjukkan potensi pertanian terbesar dari tiap-tiap kecamatan di wilayah kabupaten Tulungagung:
Gambar 2.4. Peta Tematik Persebaran Hasil Pertanian
Potensi Tulungagung Dalam Bidang Peternakan
Kondusifnya iklim dan tersedianya lahan merupakan faktor yang mendukung perkembangan peternakan di wilayah kabupaten Tulungagung.
Universitas Kristen Petra 28
Beberapa ternak yang banyak dibudidayakan di Tulungagung antara lain ayam dan sapi. Disamping itu terdapar beberapa hewan ternak lain seperti kambing, kuda dan kerbau yang secara prosentase tidak terlalu besar. (Profil Kabupaten Tulungagung Par 6)
Gambar 2.5. Peta Tematik Persebaran Hasil Peternakan 2.2.2 Pengertian Marmer
Marmer adalah batu gamping yg telah mengalami metamorfosis, dan dapat dipakai untuk lantai, dinding, dsb; pualam (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Marmer sendiri berasal dari batuan kristalit kasar yang berasal dari batu gamping atau dolomit. Marmer yang murni berwarna putih dan terutama disusun oleh mineral kalsit. Marmer atau batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batu gamping. Pengaruh suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen menyebabkan terjadi rekristalisasi pada batuan tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non folia.
Dalam geologi marmer adalah jenis batuan metamorfose yang berasal dari batu gamping yang terkena proses metamorfose kontak maupun metamorphose
Universitas Kristen Petra 29
regional. Marmer sendiri bentuknya adalah mengkilap, batuannya dapat berupa batu gamping, granit, basalt marmer dan jenis lainya.
Disebut pula sebagai marbel, batu pualam, hasil proses metamorfose kontak atau regional dari jenis batu gamping. Oleh sebab itu jenis dari marmer sangat tergantung dari jenis batuan asal. Warna asli marmer adalah putih, tetapi terdapat warna pengotor yang justru membuat marmer menjadi menarik. Mineral pengotor antara lain grafit memberi warna hitam-coklat, pyrite memberi warna coklat-kemerahan. Kadang-kadang didapatkan juga dalam jumlah sedikit mineral lain yaitu dolomite, kuarsa mika, khlorit, plagioklas, epidote, diopsid, piroksen, tremolit, wolastonite, visuvianite, forsterite, olivine, talk, brucit, serpentin dan periklas. Disamping itu tingkat metamorose dari tingkat rendah hingga tinggi berawal dari zeolite facies hingga granulite facies dan ini tampak pada syatan petrografi.
Berdasarkan atas kegunaannya marmer dibagi menjadi 2 jenis yaitu marmer ordindiro untuk bangunan dan marmer statuario untuk seni pahat. Marmer apabila digergaji dan dipoles akan menunjukan gambaran yang bervariasi dan dikenal dengan istilah tekstur.
Berdasarkan atas teksturnya marmer di klasifikasikan sebagai berikut. Statuary marble : Tekstur lembut, putih bersih
Architectural marble : Warna, tekstur, mutu dan kekuatan bagus Ornamental marble : Warna indah dan bervariasi
Onix marble : Mengandung dolomite/ arorganit, transparan Cipdin marble : Mengandung mika dan talk
Ruin marble : Tekstur halus dan seginya tak teratur Breccia marble : Tekstur kasar dan persegi
Shell marble : Terdapat fosil
Keindahan marmer sangat ditentukan oleh tekstur, arah pemotongan terhadap pola tekstur, bentuk penggunaan dan teknik polsean (polishing). Disamping itu retakan rambut seiring terjadi pada marmer yang sudah dipoles dan ini akan menurunkan kualitas marmer. Untuk mengetahui adanya retakan rambut pada permukaan rambut, cairan warna akan merembes lewat pori-pori yang halus. Marmer tidak akan tahan terhadap asam/air hujan. Oleh sebab itu bahan yang
Universitas Kristen Petra 30
terbuat dari marmer seyogyanya terhindar dari sinar matahari atau air hujan agar polesan tahan lama.
Marmer terbentuk akibat metamorfose regional ataupun metamorfose kontak. Pada metamorfose kontak tingkat metamorfosenya bertahap makin rendah apabila menjahui intrusi batuan beku. Oleh karena itu masih terlihat tekstur asli dari batu gampingnya. Gradasi metamorfose yang demikian tidak didapatkan pada marmer yang terjadi sebagai akibat proses metamorfose regional. Tempat didapatkannya adalah
Sumatra : Daerah P. Nias dan Tapanuli
Jawa Barat : Daerah Palimanan di G. Kudo, G. kromong (marmer biru) Jawa Timur : daerah Panggul, Tulungagung, Campurdarat
Jawa Tengah : Daerah Banjarnegara di G. Kbutuh,bernal, Bukit Jiwo, G. Djokotua Bayat Klaten
Sulawesi : daerah sekitar Tonasa Irian Jaya
2.2.3 Sejarah dan Perkembangan Marmer Tulungagung
Sejarah dan Perkembangan Marmer Tulungagung tercatat ada empat moment sejarah perkembangan Industri marmer Tulungagung yakni :
1. DEKADE Pertama . ( Tahun 1962 sd tahun 1972)
Diawali sekitar tahun 1967, yakni pengerjaan seni marmer Tulungagung yang masih berkutat pada pemanfaatan traso, yakni butiran-butiran kecil yang dihasilkan dari penghancuran batu-batuan marmer dan batuan lainnya yang berwarna-warni. Tegnology ini biasa diaplikasikan untuk pembuatan motif-motif pada lantai pada saat itu. Pecahan-pecahan marmer dan batuan ini biasanya berkisar pada ukuran 0,2 sampai dengan 0,5 CM. Lantai dengan pengerjaan system ini sering disebut sebagai ubin motif Tulungagung. Selain diaplikasikan pada lantai ubin, traso ini juga dipergunakan untuk pembuatan motif pada bak mandi cetak, kijingan, pot bunga besar, ubin cetak dan lain-lainnya. Belum ada
technology belah batu atau penggergajian saat itu dan semuanya masih dilakukan masyarakat kami secara manual dan alat-alat sederhana.
Universitas Kristen Petra 31
batu bongkah marmer, akan tetapi masih sangat sederhana dan hanya menghasilkan bahan baku seukuran 40X60 CM saja. Balokan pada saat itu masih di belah dengan alat-alat “betel dan palu besar”, cara pembelahannya pun masih dengan cara dipukul berulang-ulang. Pada generasi pertama ini juga ditandai dengan istilah “mbodi” atau mempola sebuah kerajinan dengan betel atau tatah dan palu.
Sistem pemasaran kala itu masih dari mulut kemulut dan dipasarkan dengan cara keliling yakni system pemasaran door-to door, sehingga lambat laun marmer Tulungagung ini semakin dikenal masyarakat. Pada saat itu pertambangan marmer warisan dari Zaman Hindia Belanda sudah ada di Daerah Besole, yang saat itu masih termasuk dalam wilayah “Underdistric Wajak”. Namun pada saat itu pengelolaan daerah tambang marmer ini sangat-sangat tertutup untuk umum belum ada pengusaha lokal yang ikut mengusahakan disekitar pabrik tambang marmer Tulungagung ini. (Sejarah Kerjaninan Marmer Tulungagung Par 1)
2. DEKADE Kedua ( Tahun 1972 sd than 1982)
Generasi kedua ini ditandai dengan beberapa perkembangan teknik dalam pengolahan marmer, antaralain mulai dikenal technology bubut marmer, yang merupakan pemanfaatan bubut besi bekas dan rusak. Technology bubut marmer ini adalah technology pembubutan kerajinan marmer sebagaimana pengolahan kerajinan kayu, akan tetapi alat yang dipergunakan adalah bubut besi yang sudah rusak, aus komponennya dan sudah berkurang dalam hal presisi. Alat ini pertama kali dikenalkan oleh Kelompok Binaan Pemerintah ORDE BARU saat itu, mirip kayak UMKM saat ini, kelompok ini terkenal dengan nama “ARGO BINANGUN” kelompok ini mendapatkan program binaan pemerintah, berupa lahan dan juga perbengkelan, permodalan dan pembinaan-pembinaan teknik lainnya. Kelompok ini sekitar tahun 1975-1980 menjadi sentral pelatihan dan pendidikan tenaga-tenaga trampil pengolahan marmer, baik dari daerah Kecamatan Campurdarat, ataupun dari daerah lain, bahkan dari luar Jawa pun banyak sekali yang belajar tegnology pengolahan marmer ditempat ini.
Pada generasi kedua ini sudah mengenal showroom, yakni sebagai tempat warga pengrajin marmer untuk menampilkan dan mendisplaykan barang
Universitas Kristen Petra 32
dagangan mereka. Ukuran showroom kala itu hanya kisaran 20 M2 saja, ini sudah dikatakan sebagai showroom yang besar. Secara teknik barang yang dikerjakan sudah bertambah, seperti Vas bunga, kinangan, lampu hias atau sering disebut kap lampu, tea-set sederhana, meja bulat kecil (diameter 30CM-40CM saja). Selain pemasaran dengan mendisplaykan kerajinan di Showroom, warga pengrajin marmer juga memajangkan barang dagangan dan kreasi mereka di rumah-rumah mereka, sebagai benda aplikasi perabotan rumah tangga. Dalam generasi ini sudah dikenal pengadaan bahan baku dari luar daerah, yakni berupa onik dan marmer-marmer daerah lainnya. Pada waktu itu yang dikenal marmer-marmer Tasik, berasal dari Tasikmalaya Jawabarat, marmer bojonegoro dari daerah Bojonegoro, marmer Timor dari daerah Timor-Timur (sekarang Timor Leste), onik Bawean dari Kabupaten Gresik dan sebagainya.
Penggunaan marmer dan bahan onix dari daerah lain semakin memperkaya hasil kerajinan marmer Tulungagung pada saat itu. Akan tetapi biasanya pengiriman bahan baku dari daerah lain merupakan transportasi titipan atau bawaan pulang, setelah mengunjungi suatu daerah tertentu. Misalnya jika Truck atau kendaraan dari Jakarta misalnya pulang membawa bahan baku dari Tasikmalaya dan seterusnya. Belum terjadi pengadaan bahan baku secara langsung seperti saat ini, yang memang secara khusus untuk mengambil bahan dari luar daerah seperti saat ini.
Pada Generasi ini juga ditandai dengan mulai dikenalnya technology
pembelahan batu dengan mesin diesel, kala itu mesin belah ini hanya berdiameter sekitar 100CM saja, belum terdapat mesin gergaji belah yang memiliki diameter lebih dari 1 Meter, mesin penggerak gergaji ini hanya sebuah diesel. Mesin belah ini biasanya disebut Blit, blit ini memiliki banyak sekali potongan gigi baja, yang disebut sebagai segmen baja inta, segmen-segmen inilah yang dipakai untuk menembus kerasnya batu-batuan itu.
Pada waktu itu diperkenalkan ditahun 1980-an dan seiring dengan tegnology ini, mulai banyak dipergunakan tegnology Derek kaki tiga, Derek ini berfungsi untuk mengangkat batu-batuan yang besar, sekitar 1 sampai 2 ton.Pada tahun 1980-an ini batu-batuan besar sudah mulai banyak dikerjakan, kisaran besar
Universitas Kristen Petra 33
batu yang digarap pada waktu itu sudah mencapai bongkahan batu seberat 3 Ton lebih. (Sejarah Kerjaninan Marmer Tulungagung Par 2)
3. DEKADE Ketiga ( Tahun 1982_ 1992 )
Pada generasi ketiga ini sudah mulai dikenal disk grinder atau sering disebut sebagai skrap dalam bahasa lokal Tulungagung. Disk grinder ini mulai dikenalkan sebagai techology pengolahan marmer dan pembentuk bahan batuan menjadi barang-barang seni yang lain, yang tidak biasa dikerjakan dengan cara dibubut. Pada tahun 1983, technology pembuatan patung dan ornament marmer semakin tidak terbatas jumlah kreatifitasnya, termasuk pembuatan relief dan prasasti besar, karena pembuatan prasasti besar selalu memerlukan skrap atau disk grinder ini. Pada decade ini pelopor kerajinan patung marmer pada waktu itu dipelopori oleh Bapak Teguh Gondrong, beliau tercatat sebagai salah seorang seniman yang sangat idealis, sehigga banyak menghasilkan karya-karya seni, baik yang dikenal masyarakat ataupun yang sama sekali tidak laku dipasaran. Karya seni yang dikenal sepanjang masa adalah bentuk patung kuda meringkik, ini adalah sentuhan awal beliau ketika itu. Dan kemudian dengan serta merta para pengrajin lainnya mengadu peruntungan untuk mencetak ribuan bahkan jutaan kuda meringkik, tak terhitung memang berapa jumlah “Patung Kuda meringkik “ ini telah dihasilkan oleh seniman-seniman Tulungagung, yang dijual dipasaran local maupun pasaran internasional. Pada dekade ini banyak sekali muncul dan mengadu nasib seniman-senimna dari kota-kota sekitar, misalnya kota Blitar, Mojokerto, Pacitan dan adapula senimna-seniman berbakat yang ikut mewarnai khasanah seni patung dan relief dari kota Yogyakarta dan Solo. Memang perkembangan pesat Marmer Tulungagung ini banyak dihiasi dengan datangnya seniman-seniman dari luar kota. Kreatifitas-kreatifitas mereka tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah Kerajinan Marmer Tulungagung.
Technology pengerjaan relief berkembang saat para seniman dari Daerah Yogayakarta datang ke Tulungagung, mereka membawa kreatifitas baru dalam pengolahan batu untuk diaplikasikan dalam seni relief, seni relief yang dirilis kala itu bersama bapak Teguh Gondrong berjudul “Gapura Barong ” sampai akhirnya seni ini tidak ada yang laku sama sekali. Akhirnya banyak yang merubah
motif-Universitas Kristen Petra 34
motif mereka dengan bunga-bungaan, baru pada karya ornamental bunga ini seni relief lebih bisa diterima oleh konsumen pecinta marmer.
Perkembangan dibidang teknik pengerjaan, pada waktu decade ini telah dikenal gergaji batu besar, diameternya mencapai 1,3 Meter lebih, bisa menggergaji balok ukuran plat 90 CM. Dampak dari munculnya gergaji besar ini dibidang pengerjaan plat batu, muncul beberapa varian produk meja-meja besar, seperti “Meja Oshin“ dan Meja makan, diameter 90 CM. Dan kemudian muncul tegnology “gergaji Osrok” (sebutan orang local untuk gergaji horizontal tenaga bolak-balik, disebut Osrok karena suara yang ditimbulkan). Dengan munculnya gergaji Horizontal ini, bongkahan batu sebesar apapun bisa di belah dengan rapi. Utamanya dalam bentuk-bentuk plat batu, aplikasi gergaji horizontal ini adalah untuk pembuatan bahan meja makan besar untuk diameter diatas 1 Meter, meja bilyard dan meja customer service yang sangat panjang.
Technology ini diadopsi dari pengolahan marmerdi Italy, menurut cerita, orang Italy memberikan pesanan meja bilyard dalam ukuran yang besar yang bahan bakunya dari plat marmer, karena diyakini marmer tidak mudah pecah jika diaplikasikan sebagai lantai dasar meja bilyard ketimbang mempergunakan kaca. Dan pada waktu itu dia memperkenalkan technology Italy tersebut kepada masyarakat. Mengingat technology aslinya sangatlah mahal dan mencapai milyaran rupiah kala itu, para teknisi mesin didaerah memodifikasi dan menciptakan kreasi mesin sendiri dengan technology serupa dengan mempergunakan barang-barang bekas dari pasar loakan besi tua. Mesin penggeraknya pun hanya dari mesin kapal laut bekas yang didatangkan dari Surabaya.
Sistem pemasaran masyarakat pengrajin marmer pun mulai berkembang pesat. Pada decade ini pertama kali dikenal penjualan secara eksport, Turis-turis asing yang berkunjung di Bali, berburu kerajinan batu-batuan ini sampai kedaerah asli lokal penghasil kerajinan ini yakni Tulungagung sebagai kota Marmer. Pada decade ini penjual marmer dan onix semakin pesat berkembang, luas kerajinannya pun semakin tidak terukur besarnya. Para pengusaha-pengusaha sukses telah menyulap tempat mereka menjadi took-toko raksasa, yang menampung kerajinan-kerajinan raksasa pula.
Universitas Kristen Petra 35
Karena pesatnya perkembangan marmer di Tulungagung terjadi rivalitas-rivalitas antar pengusaha lokal, dengan ditandai munculnya patung-patung raksasa sebagai symbol dari keberuntungan mereka (patung Gajah, patung Kuda, patung Banteng, patung Sapi dan lain-lain. Ini adalah sebagai symbol prestice mereka sebagai salah seorang pemain besar didunia marmer ini. (Sejarah Kerjaninan Marmer Tulungagung Par 3)
4. DEKADE keempat ( 1992 sd tahun 2002 )
Perkembangan semakin pesat pada industry kerajinan marmer diantara tahun 1992-2002, yang ditandai dengan munculnya varian-varian penggabungan
technology olahan batu dengan technology olahan kerajinan yang lain. Perpasangan yang sempat mendapat perhatian besar kala itu adalah munculnya varian produk dari kerajinan Cor Logam dari daerah Klaten dan Sukoharjo Jawa Tengah. Varian produk kerajinan Cor Logam ini sangat digemari konsumen dan sangat laris dipasaran. Sampai dengan beberapa tahun komponen ini sangat diburu konsumen.
Karena jika dengan menyatukan technology kayu jati ukir Jepara, kerajinan meja berbahan marmer ini harganya bisa tiga kali lipat, misalnya sebuah meja kayu ukir disilangkan dengan plat batu marmer. Persilangan dengan ukiran Jepara tidak banyak diminati konsumen, selain harganya lebih mahal dan pada waktu itu jarang sekali warga Jepara yang mengungsi untuk mencetak kreasi disini, mungkin mereka mempunyai tradisi seni yang lebih tua, sehingga tidak banyak yang ingin mengembangkan persilangan ini di Tulungagung. Hasil yang diterima konsumen adalah adalah perkawinan technology cor logam dari daerah Klaten dan Sukoharjo.
Terdapat varian meja marmer saat itu misalnya: Meja Kacangan, Meja kacangan hati, meja rias, meja telephone kembang, meja dan kursi anggur, meja Oshin kaki logam, meja Isabella, meja Monalisa dan sebagainya. Sampai dengan saat ini masih terdapat perkawinan dua kerajinan ini secara sempurna, meskipun tidak seramai kala itu, perkawinan dua kerajinan ini masih banyak diburu konsumen, akan tetapi para pengrajin marmer intens sekali mengerjakan kerajinan
Universitas Kristen Petra 36
logam mereka sehingga yang dikembangkan saat ini hanya kelas halusan dan tidak kelas brown seperti saat itu.
Ada perkembangan yang sangat signifikan dan mencatat sebuah trend ditahun 2000-an ini yakni munculnya Varian produk marmer alur dan marmer Bakar. Dari sumber berita yang kami terima, mesin alur pertama kali dikenalkan oleh Aris dari daerah Buret, desa Sawo Kecamatan Campurdarat. Sebenarnya mesin ini adalah mesin gergaji biasa, akan tetapi pada pisau gergajinya mempergunakan puluhan pisau yang biasa dipasang pada diskgrinder, sehingga marmer yang di gergaji akan membentuk alur-alur sesuai dengan jumlah pisau diskgrinder yang ditanam.
Perkembangan marmer bakar hamper bersamaan dengan penemuan mesin alur ini. Yakni pengembangan varian dinding marmer, yang merubah warna alam marmer menjadi warna bahan yang terbakar. Hingga saat ini dua produk ini sangat digemari oleh Turis mancanegara.
Sekitar tahun 1998 diperkenalkan pengolahan batu dengan system chemist, yakni khususnya di barang-barang yang bermuatan huruf dan symbol. Dengan mempergunakan setting computer, maka akan dihasilkan huruf-huruf yang bervariasi dan beraneka ragam, sehingga technology pembuatan prasasti marmer kala itu mencatat perkembangan yang sangat berarti. (Sejarah Kerjaninan Marmer Tulungagung Par 4)
5. DEKADE kelima ( Tahun 2002 – Sekarang )
Dalam segi teknis pengerjaan marmer tidak ada perkembangan yang signifikan ditahun 2002 sampai dengan sekarang, akan tetapi ada pergeseran model design dan varian produk ditahun-tahun dalam decade ini. Munculnya tenaga designer ini merupakan trend terbaru dikalangan pengrajin. Pada tahun 2004-2007 banyak sekali varian produk lama yang tergeser, seiring banyaknya pembeli dari luar negeri yang datang membawa design kerajinan marmer sendiri untuk produk yang dipesannya. (Sejarah Kerjaninan Marmer Tulungagung Par 5)
“Kalau dulu para pengrajin berorientasi pada market, barang apa yang laris itulah yang diproduksi, akan tetapi pada tahun-tahun dalam decade ini, para pengrajin tinggal menunggu design order dan mereka dituntut untuk bisa mengerjakan design itu dengan tepat dan cermat. Ini disebabkan kebiasaan
Universitas Kristen Petra 37
customer luar negeri sangat-sangat konsen tentang ukuran dan detail produk. Berbeda dengan ditahun 90-an kita biasa menjumpai satu varian produk dengan selisih ukuran 0,5 bahkan 1 CM itu adalah biasa, akan tetapi sekarang ini kita akan hanya akan menemui satu varian dengan satu ukuran yang patent, bahkan tingkat toleransi selisih ukuran ini sangat kecil, semuanya dibawah 1,5 MM saja. Semua Tukang marmer atau pengrajin marmer dituntut lebih professional dibidangnya masing-masing dan dituntut lebih detail dalam pengerjaan barang produksinya.” kata Eko Yuwono.
Dampak dari pesanan-pesanan luar negeri, yakni untuk eksport quality ini antaralain :
1. Kwalitas pengerjaan semakin bagus. 2. Variasi design semakin tak terbatas. 3. Pengadaan bahan baku batuan import.
4. Semakin canggihnya technology teknis yang dapat dari orang-orang luar negri. Disisi lain yakni tentang pemasaran marmer, tidak hanya terbatas dengan took-toko saja akan tetapi sudah memanfaatkan technology internet marketing sebagai salah satu perkembangan yang sangat revolusioner dibidang pemasaran kerajinan marmer. (Sejarah Kerjaninan Marmer Tulungagung Par 6)
2.2.4. Proses Penambangan Marmer
Pembuatan Kerajianan Marmer di mulai dari batu besar yang diambil dari gunung. Yang dilanjutkan dengan pemecahan batu marmer sesuai dengan kerajinan yang akan dibuat. Setelah melakukan pemecahan batu yang sesuai, marmer dipoles menggunakan air, rempelas dan mesin bubut (dengan teknik berputar).
Proses pemecahan batu dengan cara dipasangkan kemesin bubut dan diukur sesuai ukuran yang akan dibuat kerajinan, setelah dipasang sesuai ukuran batu di grenda dengan pisau baja ( selain pisau baja tidak akan kuat untuk memotong atau menggrenda batu).
Universitas Kristen Petra 38
Sebagai contoh adalah pembuatan wastafel dari marmer, pengerjaan ini dilakukan dengan tiga tahap/bagian, yang pertama pembuatan kaki wastafel, badan wastafel dan bagian atas wastafel. Tiga bagian ini dikerjakan sendiri-sendiri untuk memudahkan pengrajin mengerjakannya. Jika semua bagian ini telah jadi menurut bentuknya masing-masing akan dilakukan pengeleman ketiga bagian wastafel. Bahan lem yang digunakan adalah pasir marmer bekas (pecahan-pecahan kecil), lem batu dan dicampur dengan kapas (softex). Menggunakan softex karena softex memili bahan perekat yang kuat, berbeda dengan kapas biasa yang tidak memiliki perekat yang kuat dan juga tidak bisa dicampur dengan pasir, lem dan batu. Setelah semua bagian tertempel dengan benar akan dilakukan finising/poles marmer.
2.3 Tinjauan Buku Pesaing 2.3.1. Tinjauan Aspek Bentuk
Buku pesaing yang ada adalah buku yang membahas tentang proses membuat desain kramik. Ada buku yang menggunakan bentuk kotak/persegi, rata-rata menggunakan ukuran 17 cm x 26cm. Dan ada pula yang menggunakan bentuk persegi panjang, serta ada pula yang ukuran kecil. Semua bentuk dari buku-buku yang ada di pasaran ini tentu memiliki tujuan tersendiri dalam pembuatan dan perencanaan bentuk bukunya, baik dari segi isi cerita, maupun berdasarkan target audiencenya.
2.3.2. Tinjauan Aspek Ide
Setiap buku memiliki karakteristik dan kelebihannya masing-masing, dimana buku mengenai kerajinan memiliki ragam jenis yang berbeda dari satu dengan yang lainnya. Diantaranya adalah sebagai berikut :
Universitas Kristen Petra 39
Gambar 2.6. SURFACE DISGN for CERAMICS Oleh Maureen Mills
Pada gambar diatas merupakan buku kerajinan yang membahas tentang proses pembuatan ceramics dengan desain yang bagus.
2.3.3. Tinjauan Aspek Visual
Dalam aspek visual, buku kerjinan memiliki kesamaan dalam visual, karena disesuaikan oleh target audience dari buku kerjinan tersebut. Kebanyakan menggunakan fotografi untuk menampilkan dan menejelaskan proses kerajinan. 2.3.4. Tinjauan Aspek Content-Message
Dalam aspek content-message, buku kerajinan juga memiliki pesan-pesan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, Hal ini dikarenakan perbedaan tujuan pembuatan buku kerajinan, karena kepentingan yang berbeda inilah yang menjadikan pesan dari sebuah buku kerajinan menjadi khas tersendiri dari setiap buku kerajinan.
Universitas Kristen Petra 40
2.3.5. Data Visual
Gambar 2.7. SURFACE DISGN for CERAMICS Oleh Maureen Mills
Universitas Kristen Petra 41
Gambar 2.9. Layout SURFACE DISGN for CERAMICS
Gambar 2.10. Layout SURFACE DISGN for CERAMICS
Universitas Kristen Petra 42
Gambar 2.12. Layout SURFACE DISGN for CERAMICS Oleh Maureen Mills
2.4 Analisis Data Lapangan 2.4.1 Analisis Profil Pembaca
Dalam perancangan ini target utama pembaca buku kerajinan marmer ini adalah orang dewasa berusia 30 -50 tahun, dalam usia tersebut mereka lebih tertarik mengenai seni dan budaya, gemar mengkoleksi barang-barang antik dari Indonesia. Selain itu masyarkat yang didalam usia tersebut lebih gemar membaca ataupun membeli buku sebagai bahan koleksinya, serta berwawasan luas, menghargai dan mencintai budaya serta produk bangsa Indonesia.
2.4.2 Analisis Kelemahan Dan Kelebihan 2.4.2.1 Kelemahan
Proses pembuatan marmer hampir memiliki kesamaan dengan proses pembutan batu-batu lainya. Sehingga alurnya akan memiliki kesamaan.
2.4.2.2 Kelebihan
Buku kerajinan ini bukan sekedar buku yang membahas tentang proses, buku ini membahas mulai dari potensi kota, sejarah, perkembangan dan yang tonjolkan adalah bagaimana hasil kerajinan marmer besole yang indah.
Universitas Kristen Petra 43
2.4.3 Analisis Prediksi Dampak Positif
Dampak positif yang dapat diberikan oleh buku kerajinan ini adalah kesadaran akan adanya seni budaya yang telah ada sejak lama dan telah berkembang. Selain itu dapat menjadikan buku sumber untuk generasi selanjutnya.
2.5. Kesimpulan Analisis
Dari hasil analisa yang dilakukan dengan analisis lapangan dan Analisis Buku kompetitor dapat disimpulkan bahwa buku ini berbeda dengan buku-buku yang sejenis., yaitu buku ini hanya membahas tentang Batu marmer, kisah dibalik pembuatan batu marmer dan kerjainan dan kebudayaan Batu Marmer. Sehingga buku ini dapat membantu masyarkat dan meberi informasi kepada masyarakat tentang perkembangan dan budaya kerajinan batu marmer Besole Tulungagung. 2.6. Usulan Pemecahan Masalah
Buku sampai saat ini merupakan media penyampaian informasi yang paling digemari ditengah munculnya media-media baru seperti eBook. Hal ini merupakan bukti bahwa buku memiliki daya tarik tersendiri terhadap pembacanya. Oleh karena itu penyampaian informasi tentang marmer Besole Tulungagung menggunakan media buku sebagai media untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang marmer Besole Tulungagung.
Buku ini dapat memberikan informasi yang sangat bermanfaat tentang marmer Besole Tulungagung kepada masyarakat dan dapat mengingatkan kembali bahwa marmer merupakan hasil kerajinan Indonesia yang masih kurang dimengerti oleh masyarakat dan hanya kalangan masyarakat tertentu yang memahami tentang batu marmer. Maka dengan adanya buku marmer Besole Tulungagung ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat yang membacanya.