• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Desa Wisata Berbasis Konservasi dan Edukasi Pertanian Organik Arif Pujiyono

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengembangan Desa Wisata Berbasis Konservasi dan Edukasi Pertanian Organik Arif Pujiyono"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Desa Wisata Berbasis Konservasi dan Edukasi Pertanian Organik

Arif Pujiyono1), Darwanto1), Purbayu Budi Santosa1), Edy Yusuf1), dan Budi Raharjo2)

1

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Jalan H. Prof. Soedarto, S.H. Tembalang, Semarang 50275

2

Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Jalan H.Prof. Soedarto, S.H. Tembalang, Semarang 50275

Email : [email protected]; [email protected]

Abstract

Tourism is tour activities that it’s supported by public, government, local government, and entrepreuners. Rural tourism is the form of tourism that its developed by government. Government develop the rural tourism to attract tourist come to see the rural that it has a particular characteristic in every destinations. One of the particular characteristic is implementation of organic farming system. The purpose of research is analyze the develompent of rural tourism based on organic farming’s conservation and education. This research using descriptive qualitative methods to analyze. Beside that, this research use PRA’s method (Participatory Rural Appraisal) for developing rural tourism based on organic farming’s conservation and education. This method tries to ask public’s role for participation of rural tourism’development. The data in this research are compiled from indepth-interview with organic farm’s community and local public. The result shows that the potential of rural areas like implementation of organic farming system can be used to develop rural tourism. Beside that, organic farming is useful for conservation and education.

Keywords : rural tourism, PRA, organic farming, conservation, education

Abstrak

Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh masyarakat, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha. Desa wisata merupakan salah satu bentuk pariwisata yang dikembangkan pemerintah untuk menarik wisatawan untuk berkunjung ke desa-desa yang memiliki karakteristik khusus. Salah satu karakteristik khusus tersebut adalah penerapan sistem pertanian organik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengembangan desa wisata berbasis konservasi dan edukasi pertanian organik yang telah diterapkan. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. Sedangkan kegiatan pengembangan desa wisata menggunakan metode PRA

(Participatory Rural Appraisal). Metode ini menuntut masyarakat lokal untuk berperan aktif dalam upaya pengembangan desa wisata. Data disusun berdasarkan hasil wawancara secara mendalam dengan kelompok tani organik dan masyarakat sekitar. Hasil studi menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata dapat dirintis melalui potensi-potensi desa seperti pertanian organik yang telah diterapkan dalam sistem pertanian. Selain itu pertanian organik bermanfaat untuk dijadikan upaya konservasi dan edukasi.

(2)

PENDAHULUAN

UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyebutkan wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara sedangkan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah dan pengusaha. Pariwisata merupakan salah satu sektor yang berpotensi untuk berperan dalam upaya pembangunan perekonomian melalui penghapusan kemiskinan dan mengatasi pengangguran. Selain itu pariwisata juga memberikan dampak positif lainnya seperti konservasi sumber daya, upaya peningkatan kebudayaan, serta meningkatkan peranan masyarakat lokal.

Desa wisata merupakan salah satu bentuk pariwisata yang dikembangkan pemerintah untuk menarik wisatawan untuk berkunjung ke desa-desa yang memiliki karakteristik khusus. Adanya pembentukan dan pembangunan desa wisata ini akan meningkatkan sumber-sumber pendapatan desa. Selain itu dampak lain dari pembangunan desa wisata antara lain membuka lapangan kerja dan usaha bagi masyarakat lokal, meningkatkan wawasan dan cara berfikir masyarakat lokal, meningkatkan ilmu dan teknologi bidang kepariwisataan, mengembangkan dan melestarikan kesenian serta kebudayaan lokal, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan (Priasukmana & Mulyadin, 2001).

Potensi desa yang dapat dikembangkan menjadi desa wisata salah satunya adalah sistem pertanian organik. Sistem pertanian organik merupakan sistem pertanian yang menerapkan praktek-praktek kegiatan pertanian tanpa menggunakan senyawa-senyawa kimia seperti kegiatan pertanian pada umumnya. Penerapan sistem pertanian organik memelihara ekosistem yang tersedia melalui penggunaan bahan-bahan non kimia yang berasal dari hasil daur ulang residu tanaman dan hewan.

Desa Dlingo, Kabupaten Boyolali merupakan salah satu desa yang telah menerapkan sistem pertanian organik. Sistem pertanian organik yang telah diterapkan menghasilkan produk-produk beras organik yang berkualitas hingga memperoleh sertifikasi internasional. Teknik dan hasil produk sistem pertanian organik di Desa Dlingo dapat dimanfaatkan sebagai salah satu upaya pembangunan desa melalui desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan desa wisata berbasis konservasi dan edukasi pertanian organik khususnya di Desa Dlingo, Kabupaten Boyolali.

Desa Wisata

Kawasan pedesaan adalah wilayah mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi (PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional). Kawasan perdesaan yang memiliki karakteristik khusus yang dapat dijadikan sebagai daerah destinasi wisata disebut sebagai desa wisata. Darsono (2005) dalam Faris dan Rima (2014), karakteristik khusus tersebut dapat meliputi keaslian segi sosial budaya, adat-istiadat, keseharian, arsitektur tradisional, struktur tata ruang dan lain sebagainya yang dibentuk menjadi suatu integrasi komponen pariwisata.

(3)

kegiatan seni dan pengenalan warisan budaya, kegiatan edukasi dan lain sebagainya. Desa wisata sebagai suatu konsep pengembangan dan konservasi memiliki beberapa hal yang harus dilakukan antara lain (OECD, 1994):

1. Berlokasi di wilayah perdesaan

2. Secara fungsional desa, destinasi wisata dibangun berdasarkan potensi-potensi yang telah terdapat pada desa seperti usaha-usaha skala kecil, lingkungan terbuka, adanya kontak langsung dengan alam, warisan budaya, kelompok-kelompok tradisional dan kegiatan-kegiatan tradisional.

3. Bangunan dan pemukiman sesuai dengan kondisi perdesaan, umumnya bangunan dan pemukiman dibangun dengan skala kecil.

4. Adanya karakter tradisional, pertumbuhan yang lamban dan teratur, serta adanya komunikasi dengan masyarakat lokal.

5. Pengembangan sebaiknya dapat berdampak positif terhadap desa seperti adanya keberlanjutan karakter-karakter perdesaan serta pengembangan tidak merusak sumber daya alam yang terdapat di perdesaan. Selain itu desa wisaata diharapkan menjadi suatu alat untuk dilakukannya konservasi dan sustainability.

6. Adanya representasi dari lingkungan, perekonomian dan sejarah perdesaan tersebut.

Pertanian Organik

International Federation of Organic Agriculture Movements/IFOAM (2005) menjelaskan pertanian organik sebagai sistem produksi pertanian holistik dan terpadu dengan mengoptimalkan dan mengandalkan proses dan siklus ekologi sehingga dapat diperoleh hasil pertanian yang berkualitas baik untuk kesehatan dan mengurangi penggunaan beberapa input yang merugikan bagi kesehatan tubuh manusia maupun kelestarian lingkungan. IFOAM menjelaskan pula mengenai prinsip-prinsip dalam pertanian ogranik yang meliputi : 1) The Principle of Health 2) The Principles of Ecology, 3) The Principles of Fairness dan 4) The Principle of Care. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam pertanian organik tersebut dapat membantu upaya konservasi sumber daya alam. Konservasi sumberdaya alam adalah pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana serta kesinambungan ketersediaanya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya (UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup).

Sistem pertanian organik juga dijelaskan sebagai suatu sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik menekankan pada penerapan praktek-praktek manajemen yang lebih mengutamakan penggunaan input dari limbah kegiatan budidaya di lahan, dengan mempertimbangkan daya adaptasi terhadap keadaan/kondisi setempat. Jika memungkinkan hal tersebut dapat dicapai dengan penggunaan budaya, metode biologi dan mekanik, yang tidak menggunkan bahan sintesis untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam sistem (Peraturan Menteri Pertanian No. 64 Tahun 2013 tentang Sistem Pertanian Organik).

(4)

Organic 2010 berisi tentang berbagai kegiatan berupa pengembangan teknologi pertanian organik, pengembangan perdesaan melalui pertanian organik, pembentukan kelompok tani organik, pengembangan perdesan melalui pertanian organik dan pembangunan strategi pemasaran pangan organik (Mayrowani, 2012). Pengembangan pertanian organik juga menjadi salah satu agenda dalam Nawacita yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik dengan sub agenda yaitu peningkatan kedaulatan pangan dengan salah satu sasarannya adalah

pengembangan 100 desa pertanian organik dengan pembagian target yaitu : 1) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 600 desa, 2) Direktorat Jenderal Hortikultura

250 desa, dan 3) Direktorat Jenderal Perkebunan 150 desa (Kementrian Pertanian, 2016)

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan beberapa informasi yang berasal dari hasil wawancara secara mendalam. Pendekatan kualitatif merupakan metodologi penelitian dengan mengutamakan interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti dengan tujuan untuk memahami fenomena dalam konteks social secara ilmiah. Selain itu dipergunakan pula metode PRA (Particapatory Rural Appraisal) untuk upaya pengembangan desa wisata. PRA (Particapatory Rural Appraisal) merupakan metode dengan mengikutsertakan masyarakat secara aktif dalam kegiatan pengembangan desa wisata yang berbasis edukasi dan konservasi. PRA dijelaskan secara rinci oleh Robert Chambers dalam Panduan Pengambilan Metode RRA dan PRA oleh Departemen Kelautan dan Perikanan tahun 2006 sebagai sekumpulan pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat pedesaan dan atau pesisir untuk berperan aktif dalam meningkatkan dan mengkaji pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat lokal sehingga dapat menyusun rencana dan tindakan pelaksanaan yang sesuai.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pertanian Organik Desa Dlingo

Desa Dlingo merupakan salah satu desa di Kabupaten Boyolali yang menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan pertanian padi organik yang didukung oleh Dinas Pertanian Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Boyolali. Salah satu tujuan program tersebut adalah pengembangan usaha tani padi organik yang mampu mendukung konservasi lahan. Luas lahan seluas 65 hektar di Desa Dlingo telah diterapkan sistem pertanian organik sedangkan sisa lahan lainnya menerapkan sistem pertanian non-organik.

(5)

Sistem pertanian padi organik yang diterapkan di Desa Dlingo menggunakan bahan-bahan alami seperti penggunaan pupuk alami. Pembuatan pupuk alami menggunakan bahan baku kotoran sapi melalui serangkaian proses fermentasi menjadi pupuk cair organik yang siap pakai. Selain itu pemberantasan hama dilakukan secara alami sesuai dengan proses ekologi melalui rantai makanan. Masa panen padi organik hanya dua kali dalam setahun yang diselingi dengan satu kali masa panen tanaman palawija. Hal tersebut berbeda dengan masa panen padi non organik yang mampu mencapai 3 kali panen dalam satu tahun dengan harga jual yang lebih rendah dibandingkan harga jual beras organik. Appoli sebagai pihak pengepul juga membeli hasil padi organik petani dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil padi non-organik.

Kelompok tani organik di Desa Dlingo telah mencapai 10 kelompok tani organik dengan 3 kelompok tani organik yang telah mendapatkan sertifikasi pangan. Desa Dlingo juga telah memperoleh sertifikat pangan internasional untuk beras organik, sehingga sejak tahun 2013 produk beras organik diekspor ke Negara Jerman dan Belgia bekerjasama dengan petani padi organik dan Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli). Produk beras organik yang telah diekspor antara lain adalah beras Pandan, Merapi dan Rainforest Rice. Produk-produk tersebut dikemas dengan masing-masing netto 5 kg dan 1 kg.

Pengembangan Desa Wisata

Pengembangan Desa Dlingo menjadi desa wisata berbasis pada potensi alam desa salah satunya adalah pertanian. Pertanian Desa Dlingo yang telah mampu memproduksi beras organik menjadi salah satu daya tarik yang dapat dikembangkan sebagai desa wisata. Pengembangan desa wisata dilakukan melalui adanya sistem pertanian organik di Desa Dlingo yang menjadi salah satu upaya konservasi dan edukasi. Pengembangan desa wisata cenderung dilakukan dengan upaya partisipasi masyarakat setempat. Masyarakat yang tergabung dalam kelompok petani organik dibentuk suatu kelompok yang dinamakan PKBM (Program Kelompok Belajar Masyarakat) Pertanian Organik. Pembentukan kelompok ini adalah sebagai satu upaya dalam penguatan desa unggulan Desa Dlingo untuk dijadikan desa wisata yang berbasis konservasi dan edukasi. Selain itu langkah-langkah yang diperlukan untuk upaya pembentukan desa wisata antara lain adalah : 1) persiapan sumber daya manusia (SDM) dengan pembentukan kelompok kerja serta pelatihan keterampilan warga, 2) persiapan manajemen melalui penyusunan sistem dan cara kerja serta sistem keuangan, dan 3) persiapan fasilitas berupa sarana prasarana pendukung serta perbaikan dan penataan kawasan lingkungan desa. Pengembangan desa wisata dirintis dengan penyusunan rencana alur paket sederhana wisata Desa Dlingo yang dijelaskan pada Gambar 1di bawah.

(6)

Gambar 1. Alur Pengembangan Desa Wisata Dlingo

Edukasi dan konservasi pertanian menjadi suatu rencana paket sederhana wisata alam yang mendukung upaya pengembangan Desa Wisata Dlingo. Secara umum paket sederhana wisata alam berupa suatu perjalanan keliling desa pertanian organik disertai dengan edukasi pertanian organik. Selain itu terdapat pula sumber mata air yang berada di Desa Dlingo yang dapat menjadi satu daya tarik lain dari Desa Dlingo. Sumber mata air ini dikenal sebagai ngedok oleh masyarakat setempat. Sumber mata yang terdiri atas empat lokasi sumber mata air akan diberikan nama Umbul Ngedok Punakawan.

Gambar 2. Lahan Pertanian dan Sumber Mata Air di Desa Dlingo, Kabupaten Boyolali. Sumber : Hasil dokumentasi, 2015

Konservasi

Sumber : hasil wawancara, 2016 Persiapan sumber daya manusia

Persiapan manajemen

Persiapan fasilitas

Penyusunan rencana alur paket sederhana desa wisata

Edukasi

Sistem Pertanian Padi Organik

Teknik Pertanian Organik Persiapan Lahan Pertanian Organik

Pemilihan Bibit dan Persemaian

Pemeliharaan Pengairan, Pemupukan

Pemanenan Beras Organik

(7)

SIMPULAN

Desa wisata merupakan wilayah perdesaan yang memiliki kareakteristik-karateristik tertentu seperti keaslian segi sosial budaya, adat-istiadat, keseharian, arsitektur tradisional, struktur tata ruang dan lain sebagainya yang dibentuk menjadi suatu integrasi komponen pariwisata. Pengembangan desa wisata dapat dikembangkan dari berbagai sisi bukan hanya pada pariwisata yang berbasis pertanian tetapi dapat meliputi destinasi wisata yang menawarkan beberapa kegiatan seperti berpetualang, kegiatan olahraga, kegiatan seni dan pengenalan warisan budaya, kegiatan edukasi dan lain sebagainya. Desa Dlingo merupakan salah satu desa yang memiliki karakteristik khusus yang dapat dikembangkan sebagai desa wisata. Karakteristik khusus tersebut adalah adanya sistem pertanian organik. Sistem pertanian organik dapat dikembangkan menjadi suatu bentuk edukasi dan sekaligus sebagai upaya konservasi lahan pertanian di Desa Dlingo. Teknik pertanian organik memperhatikan persiapan lahan pertanian organik, pemilihan bibit dan persemaian, pemeliharaan pengairan dan pemupukan, pemanenan beras organik dan kegiatan pasca panen pertanian organik sehingga kualitas produk beras organik tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Ariesusanty, L. (2011). Indonesia : Country Report. Dipetik Agustus 26, 2016, dari Organic World: http://organic-world.net

Kementrian Pertanian. (2016, April 03). Dipetik Agustus 26, 2016, dari Kementrian Pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: http://tanamanpangan.pertanian.go.id

Mayrowani, H. (2012). Pengembangan Pertanian Organik di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi , 91-108.

OECD. (1994). Tourism Strategies and Rural Development. Paris: Organization for Economic Co-Operation and Development.

Departemen Kelautan dan Perikanan, (2006). Panduan Pengambilan Data dengan Metode Rapid Rural Appraisal (RRA) dan Participatory Rural Appraisal (PRA). Dipetik Agustus 30, 2016, dari http://www.coremap.or.id

Priasukmana, S., & Mulyadin, R. M. (2001). Pembangunan Desa Wisata : Pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah (Motto : Back to Village, Act Locally, Think Globally). Info Sosial Ekonomi, 37-44.

Gambar

Gambar 2. Lahan Pertanian dan Sumber Mata Air di Desa Dlingo, Kabupaten Boyolali.          Sumber : Hasil dokumentasi, 2015

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi adalah proses penerapan rancangan program yang telah dibuat pada bab sebelumnya atau aplikasi dalam melaksanakan sistem informasi pemrograman yang

pada warna tidak berpengaruh nyata, hal tersebut diduga karena penambahan konsentrasi karagenan dan tepung porang yang kecil sehingga tidak mempengaruhi

Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan pendirian BUMDes, maka berdasarkan pasal 78 PP 72 Tahub 2005 tentang Desa, dijelaskan bahwa Pemerintahan Kabupaten/Kota

Praktikan memberikan materi Bahasa Jerman dikelas XI IIS 1 yakni mengenai keluarga (Familie) kurang lebih selama 16 Jam Pembelajaran dan materi Bahasa Jerman kelas X

Dalam hal ini, BBPOM Aceh yang mengemban amanat sebagai Unit Pelaksana Teknis di lingkungan BPOM RI untuk mengawasi produk AMDK di wilayah Aceh, terutama

Setelah diberikan contoh pembuatan iklan produk, maka selanjutnya anda bisa merancang iklan dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang sudah dijelaskan di atas

Kayu sungkai yang merupakan jenis kayu daun lebar mempunyai sel pembuluh atau pori yang tersusun tata lingkar (ring porous hardwood) sehingga menimbulkan corak seperti parabola